Ayah bilang, salah satu hal yang ia lakukan selama di Paris bersama Allison dulu, dalam rangka menghibur diri soal istrinya adalah dengan tidak berhubungan dengan siapa-siapa, yakni orang-orang yang ada di Beacon Hills. Ia bilang itu cara yang bagus untuk menenangkan dirinya sendiri, untuk tidak terlalu memikirkan atau pun mengingat hal-hal buruk terutama soal Gerard. Tapi waktu itu Allison katanya tidak bisa menahan diri, akhirnya ia chatting denganku dan Lydia, hanya pada kami berdua. Oh, jadi itu alasan kenapa ia juga tidak menghubungi Scott sama sekali waktu ia di sana, aku dan Scott waktu itu berpikir bahwa mungkin Allison sedang berusaha untuk move on. Sekarang aku jadi tahu alasan lainnya ia tidak menghubungi Scott dulu.

Jadi selama aku di Paris dengan ayah dan Isaac, aku mengikuti jejak ayah, tidak menghubungi siapa-siapa, mereka yang ada di Beacon Hills. Sebelum pergi pun, aku sempat memberitahu mereka untuk jangan menghubungiku—lewat apa pun: email, surat, telepon, pesan, chatting, dan sebagainya—kecuali kalau benar-benar penting. Ini akan sangat berat untukku, aku tahu betul itu. Apa lagi, selama ini aku bertemu muka dan berinteraksi dengan, terutama, Scott, mama, Stiles, dan Derek. Tapi ternyata selama sebulan lebih aku di Paris, aku berhasil tidak menghubungi mereka sama sekali, mereka pun tidak menghubungiku.

Sekarang aku jadi paham betapa sulitnya Scott untuk berusaha tidak menghubungi Allison waktu ia di Paris. Scott berusaha keras untuk tidak menelepon, mengirim pesan, atau pun mencari tahu kabar gadis itu lewat aku—seperti tanya langsung padaku atau, dia pernah mengaku, ia pernah kepikiran untuk mengintip ponselku untuk melihat pesan dari Allison. Yah, sekarang aku mengerti perasaannya. Setiap kali aku melihat ponsel, tanganku gatal, ingin memencet nomor Scott, atau mama, atau Stiles, atau Derek.

Memang aku sudah pernah mengalami hal yang kurang lebih seperti ini dengan Derek. Waktu pemuda itu pergi mencari Boyd dan Erica, ia bilang agar aku jangan menghubunginya. Saat itu aku belum jatuh cinta padanya, aku masih berusaha suka padanya, jadi aku tidak begitu masalah. Tapi sekarang aku jadi merasa tersiksa karena melarang diri untuk tidak menghubunginya.

Setiap hari Senin sampai Jumat, sesuai perkataan Mr Thomas, guru-guru mengirimi email padaku dan Isaac yang berisi materi pembelajaran hari itu, serta latihan soal. Aku mengerjakannya sebaik mungkin, tapi Isaac seakan malas-malasan. Ayah pernah tanya pada pemuda tersebut suatu hari tentang tugas sekolah yang dikirim padanya, tapi Isaac bilang mungkin ia tidak ingin kembali ke sekolah, mungkin itu alasannya ia malas-malasan. Tapi omong-omong tentang email, tiap kali aku buka kotak masuk di email-ku, aku selalu berusaha untuk jangan sampai menulis email untuk siapa pun di Beacon Hills—kecuali email balasan jawaban tugas yang mereka berikan.

Namun, suatu hari, setelah aku mengirim jawaban tugasku pada Mr Yukimura, aku melihat ada email masuk dari Stiles. Aku menyerngit melihatnya, apalagi kulihat judul email itu 'SANGAT PENTING', huruf kapital semua. Jadi langsung kubuka email itu.

'SANGAT PENTING!
Aku kangen kamu, Val, seriusan. Ini penting, kan?
'

Dadaku jadi hangat, dan mau tak mau aku jadi tersenyum kecil melihatnya. Oh, Stiles, kenapa baru sekarang kau seperti ini?

.

.

Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon yang baik, rated M hanya lebih kepada bahasa yang agak menjurus. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.

.

The Sister
Chapter 36

by Fei Mei

.

.

Pintu kamarku diketuk, jadi aku langsung beranjak dari kursi dan membuka pintu. Kulihat ada ayah di depan kamar. Ia tersenyum kecil padaku.

"Valion, kau sudah selesai dengan tugasmu?" tanyanya, aku mengangguk. "Baiklah, ayo makan siang, aku dan Isaac sudah beli makanan."

Aku mengerucutkan bibirku. "Ayah, aku sudah bilang jangan sering-sering beli makanan jadi. Kita bisa beli bahan makanan dan aku bisa masak untuk kita bertiga."

"Hei, kita ke sini untuk berlibur, ingat?" kata ayah sambil terkekeh pelan. "Kau telah melanggar konteks liburan itu sendiri dengan mengerjakan tugas sekolah dan latihan memanah. Aku tidak ingin sampai memintamu masak juga saat kita sedang berlibur. Nah, ayo, Isaac tadi bilang ia sudah sangat kelaparan."

Kuanggukkan kepalaku, keluar kamar dan ikut ayah ke ruang makan. Isaac sudah menunggu di sana dengan tiga piring berisi makanan di atas meja.

"Akhirnya, astaga, aku keroncongan!" kata Isaac.

Aku menyengir sambil duduk di kursi. "Kenapa kau tidak makan duluan saja tadi?"

"Karena tidak sopan?" jawabnya dengan nada bertanya, lalu mulai makan.

Kami beriga pun makan tanpa mengobrol apa-apa. Usai makan, Isaac mengambil piring dan alat makan kotor untuk dicuci. Ya, ayah bilang ia tidak mau membiarkanku mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih seorang diri, jadi ia membuat jadwal. Untuk hari ini, Isaac kebagian mencuci piring.

Isaac pergi ke dapur untuk cuci piring, sedangkan aku dan ayah masih di ruang makan. Ayah berdehan, membuatku melirik padanya.

"Valion, kau ingin dengar soal ibu kandungmu?" tanya ayah.

Aku menyerngit. "Kenapa tiba-tiba ... ?"

"Yah, aku sudah janji bahwa aku akan cerita padamu tentang Victoria," kata ayah. "Tapi kalau kau berubah pikiran, tidak apa."

Kugelengkan kepalaku pelan. "Aku mau dengar, terutama bagian dia yang adalah seorang Veela."

Ayah tersenyum. "Victoria adalah setengah Veela. Orang yang setengah Veela atau kurang dari setengah, kemampuannya tidak akan selengkap atau sesempurna Veela yang utuh. Kau punya kemampuan untuk menyembuhkan luka luar dan mungkin menenangkan orang lain, serta mengendalikan angin lewat emosimu. Tapi Victoria tidak seperti itu. Kemampuannya lebih pada kecerdasan mengatur strategi, dan ... kau tahu kalau Veela itu manusia burung, kan?"

Aku mengangguk. "Dr Deaton bilang kalau seorang Veela marah, maka wajahnya akan berubah jadi seperti rupa burung."

"Ya, begitu. Victoria seperti itu. Veela memang panjang sabar, tapi sejak ... sejak kami menitipkanmu pada Melissa, Victoria harus menahan diri untuk lebih sabar lagi, walau kadang sangat sulit untuknya. Makanya tidak jarang wajahnya terlihat begitu dingin, keras, atau malah menyeramkan," kata ayah.

"Gerard mengizinkanmu menikah dengan ... dengan ibu?" tanyaku bingung. "Gerard tidak tahu bahwa ibu seorang supranatural?"

"Ia curiga, tapi tidak pernah punya bukti," jawab ayah. "Jadi dengan berat hati ia membiarkanku menikah dengan Victoria, sambil berusaha mencari bukti bahwa istriku adalah seorang Veela. Untungnya, kemampuan menyusun strategi Victoria sangat baik, dan ia memang pemimpin yang baik juga, jadi Gerard sulit mencari letak kesalahannya."

"Ketika Kate dibunuh Peter, Gerard bilang bahwa ia tidak ingin pakai Code lagi, ia ingin semua makhluk supranatural dibunuh. Aku tahu, itu maksudnya termasuk Victoria juga. Tapi Gerard masih tidak punya bukti bahwa istriku seorang supranatural. Maka sewaktu Victoria digigit Derek, Gerard pun mengambil kesempatan itu untuk menyuruh istriku bunuh diri."

"Oke, lalu waktu itu kau pernah bilang tentang ... tentang aku seorang Veela, makanya kalian menitipkanku pada mama, kalian tahu aku Veela bahkan sejak aku lahir?" tanyaku.

Ayah mengangguk. "Victoria tahu lebih dulu. Ia bisa membedakan mana yang Veela, mana yang tidak. Sewaktu Allison lahir, Victoria sempat khawatir kalau ia akan jadi Veela, tapi untungnya tidak. Sedangkan saat kau lahir, ia bisa langsung tahu kau Veela. Jadi saat itu kami mengawatirkan dua hal tentangmu. Pertama tentang anak kedua kami adalah perempuan—kau ingat tentang tidak boleh ada dua anak perempuan di satu keluarga Pemburu. Kedua tentang kau seorang Veela. Jika anak kedua kami adalah laki-laki, walau Veela, kami masih bisa menutupinya. Tapi kau perempuan, Veela pula, Gerard bisa langsung membunuhmu waktu tahu itu. Jadi, ya, dengan sangat berat hati, kami harus mengungsikanmu pada keluarga yang menurut kami normal, biar kau hidup sebagai anak yang normal."

"Tapi hidupku tidak normal sama sekali sejak Scott kena gigit Peter ... " gumamku.

"Yang itu benar-benar di luar rencana. Tapi, yah, kami tahu cepat atau lambat seiring berjalannya waktu, semakin bertambah umurmu, kemampuanmu sebagai Veela akan semakin terlihat, kami hanya tidak tahu kapan," aku ayah.

"Kalau begitu ... kenapa tidak dari sejak kau menikah dengan Victoria saja kau memutuskan keluar dari komunitas Pemburu? Kenapa setelah istrimu meninggal dulu baru kau memutuskan untu berhenti?"

"Percayalah, di detik aku tahu Victoria seorang Veela, aku tidak ingin jadi Pemburu lagi," kata ayah sambil menggeleng pelan. "Tapi Gerard menentang keinginanku. Jadi aku memberinya pilihan: kalau ia melarangku menikah dengan Victoria, aku tidak akan jadi Pemburu. Kalau ia tetap ingin aku jadi Pemburu, maka ia harus setuju aku menikah dengan Victoria."

"Oh, itu yang tadi kau bilang Gerard terpaksa merestui kalian?" tanyaku.

Ayah mengangguk. "Dan, yah, sepertinya itu saja yang bisa kuceritakan. Ada yang ingin kau tanya? Bagian cerita mana yang belum puas?"

"Kalau kau mengizinkan dirimu untuk bersama Victoria yang adalah makhluk supranatural, kenapa kau melarang Allison berhubungan dengan Scott saat kalian tahu ia manusia serigala?" tanyaku sambil menyerngit.

"Ah, itu karena Gerard. Aku pribadi tidak begitu masalah, karena kulihat sendiri Scott pemuda yang baik. Aku tahu kalau Gerard tahu tentang identitas Scott, ia akan membunuhnya. Allison akan sedih, dan Victoria akan marah sampai wajahnya berubah jadi seperti burung lalu berujung Gerard tahu identitasnya sebagai Veela. Terlalu bahaya."

Aku mengangguk pelan. "Lalu ... eh, bagaimana dengan aku dan Derek? Kau tidak melarang? Maksudku, Gerard masih hidup, kan?"

Ayah menghela. "Kau Mate Derek. Walau aku lebih tidak setuju dibanding Allison dengam Scott, tapi kau tetap Mate Derek. Menghalangi seorang supranatural dengan Mate-nya bisa menimbulkan bencana. Derek bisa membunuhku dan siapa pun yang menghalanginya untuk datang padamu."

Kuanggukkan kepalaku, tanda paham.

.

.

Isaac benar-benar tidak ingin pulang ke Beacon Hills. Jadi setelah dua bulan lebih kami di Paris, hanya aku dan ayah yang memutuskan untuk pulang ke sana. Aku tidak memberitahu siapa-siapa soal ini, tentang kepulangan kami, terutama pada Derek, karena aku ingin menjadikan ini kejutan padanya.

Tapi kupikir ayah terburu-buru sekali ingin pulang. Maksudku, kemarin malam tiba-tiba ia mengetuk pintu kamarku, bilang bahwa kami akan segera terbang naik pesawat ke Beacon Hills siang ini. Jadinya aku hanya punya waktu semalaman untuk mengepak barang-barangku—berharap tidak ada yang ketinggalan, sekalipun ada yang ketinggalan bisa minta tolong Isaac untuk mengirimkannya, sih. Namun, ya, ayah terkesan begitu tergesa-gesa, kuyakin ada sesuatu di Beacon Hills. Aku tidak tanya apa, mungkin baru akan kutanyakan begitu kami tiba di Beacon Hills. Makanya sambil menyiapkan tasku, aku memastikan Crossbow-ku dalam keadaan baik dan siap dipakai.

Aku dan ayah menghabiskan waktu di pesawat selama beberapa jam. Kami tiba kembali di Beacon Hills saat sudah agak gelap. Dengan wajah cemas ayah membantuku membawa barang-barang masuk ke dalam mobilnya. Saat kami masuk ke dalam mobil dan ayah mulai mengendarainya keluar dari area bandara dengan agak mengebut, barulah aku tanya.

"Ada apa sampai kita harus pulang hari ini?" tanyaku.

Ayah menghela. "Scott mengirimiku pesan."

Aku menyerngit. "Pesan apa?"

"Dia menggigit seorang anak, lalu minta bantuanku untuk jaga-jaga kalau anak itu kabur," jawab ayah.

"Scott punya Beta sekarang?"

Ayah mengangguk.

Aku jadi merenung sendiri. Aku benar-benar tidak mencari tahu kabar Scott dan yang lainnya di Beacon Hills. Aku baru tahu Scott punya Beta. Lalu bagaimana dengan yang lain? Apa Lydia sudah punya pacar baru sekarang? Dengan Stiles mungkin? Apa papa masih di Beacon Hills? Bagaimana kabar mama? Apa Derek merindukanku?

Derek. Selama aku di Paris, aku paling merindukan dia. Yang paling mengesalkan adalah, setiap seminggu sekali atau lebih, aku bermimpi buruk tentang Derek. Tidak begitu kuingat mimpinya tentang apa, tapi aku tahu itu mimpi yang sangat buruk. Aku tinggal berharap bahwa itu hanya bunga tidur biasa.

"Sekolah," celetukku begitu saja.

"Apa?" tanya papa bingung.

"Eh, kupikir aku ingin kau menurunkanku dulu di sekolah," kataku.

"Valion, tidak ada orang di sekolah malam-malam begini," kata ayah.

Aku menggeleng. "Aku merasa aku harus ke sana sekarang. Kau bisa turunkan aku di sana, lalu langsung pergi ke Lake House."

Ayah diam sejenak, akhirnya bicara lagi. "Aku tidak tahu Deaton pernah memberitahu ini padamu atau tidak ... tapi, Veela punya kemampuan meramal, atau sejenisnya. Makanya, jika ada Veela dalam suatu Pack, Veela tersebut akan sangat dijaga."

"Aku bukan cenayang," dengusku pelan.

Ayah terkekeh pelan.

Ia menuruti keinginanku untuk turun di sekolah. Ayah tidak membawa mobilnya masuk gerbang, jadi aku turun di depan gerbang dengan Crossbow-ku—ini membuat ayah bingung tapi ia membiarkanku—, kemudian ia membawa mobilnya pergi.

Sambil berlari kecil aku masuk gerbang sekolah. Sebelum masuk gedung, aku menyempatkan diri untuk mengambil sebongkah batu kecil ukuran genggaman tanganku, baru setelahnya membuka pintu gedung dan masuk ke dalam sana. Aku melihat ada Derek, Sheriff, dan seorang pria yang tak kukenal ada di koridor. Kulihat Derek sedang berusaha menyerang pria tak kukenal itu.

Akhirnya aku tahu apa fungsi batu di tanganku—itu untuk menarik perhatian pria itu biar bisa ditahan Derek. Jadi dengan keras aku melempar batu itu ke pria tersebut, mengenai bahunya, lalu buru-buru menodong Crossbow untuk jaga-jaga. Ia menoleh dan melihat aku—alias aku berhasil mengalihkan perhatiannya. Baru ia hendak melangkah menghampiriku, Derek menyekap tangannya, menahannya. Aku segera berlari kecil menghampiri mereka.

"Diamlah," suruh Sheriff pada pria yang ditahan Derek. Waktu kudekati mereka, baru kusadari pria tersebut tidak memiliki mulut sama sekali. "Apa pun yang kau katakan, itu bisa dan akan digunakan untuk persidangan nanti."

Kulihat mata Derek terbelalak, tapi bukan padaku, melainkan pada yang dibelakangku. Seseorang dari mendorongku dari belakang, sehingga aku terjatuh di samping. Seseorang, tepatnya Peter, datang dan menarik lelaki tak bermulut itu dan menghajarnya di lantai.

"Tidak, Peter, jangan!" pinta Derek.

Tapi Peter tidak berhenti. Aku memekik sendiri saat Peter mencakar tubuh lelaki itu, sampai korbannya tidak bergerak lagi. Aku meneguk ludah dengan susah payah saat melihat tangan Peter penuh darah.

Derek menghampiriku, membantuku berdiri, menanyakan kalau kakiku sakit. Setelah itu ia menoleh pada pamannya. "Kami punya cara yang lebih baik."

Sang paman tidak menoleh, ia malah melangkah pergi sambil mengelap tangannya. "Aku lebih suka pakai yang biasa."

Setelah menyaksikan Peter pergi, aku menggeleng pelan lalu menoleh pada Derek dan Sheriff bergantian. "Apa yang terjadi? Siapa pria yang tidak punya mulut itu?"

"Seorang pembunuh," jawab Sheriff. "Ia nyaris membunuh satu keluarga sekaligus—sudah dibunuhnya ayah, ibu, dan kakak laki-laki, tapi yang bungsu sempat berhasil kabur. Kemarin malam ia membunuh si bungsu di rumah sakit."

"Dan ia sempat menancapkan kapak yang mengandung Wolfsbane ke dada Peter tadi siang," kata Derek.

Aku mengangguk. "Berarti tadi Peter membalaskan dendamnya, dengan membunuh pria itu?" Derek menjawabnya dengan anggukkan.

"Oke, aku akan panggil Parrish untuk mematikan bom di ruangan itu—"

Aku termegap. "Ada bom di sekolah?!"

Sheriff menghela. "Ya, di ruang itu," jawabnya sambil menunjuk dengan dagunya. "Tidak apa, aku akan telepon Parrish. Terimakasih sudah membantuku, Derek. Val, senang melihatmu di Beacon Hills lagi."

Aku tersenyum kecil pada Sheriff. Habis itu Derek menggandengku keluar dari gedung sekolah. Ditariknya aku ke tempat parkir, ia langsung memasukkanku ke mobilnya. Derek menyuruhku duduk di bangku depan, dan ia tidak langsung menutup pintunya. Aku tahu maksudnya, ia akan menciumku.

Benar juga, ia menempelkan bibirnya pada bibirku. Awalnya itu adalah ciuman yang lembut, tapi lama-lama jadi liar. Tangan Derek merayap ke belakangku dan pantatku. Aku kangen sensasi remasan tangannya di pantatku. Setelah ia menarik bibirnya dariku, kami sama-sama terengah. Derek tidak menjauhkan wajahnya dariku, wajah menawannya masih tetap ada di hadapanku.

"Kau membuatku gila," ujarnya sambil terengah.

Aku terkekeh kecil. "Aku kangen kamu."

"Aku sangat kangen padamu, tapi aku menuruti keinginanmu yang tidak ingin dihubungi selama di sana kecuali kalau benar-benar penting," kata Derek, ia menggeleng pelan. "Astaga, aku sangat mencintaimu."

"Kau mau membawaku ke tempatmu?" godaku sambil menyengir.

Derek mengangguk. "Aku akan menandaimu, Val—aku sudah bilang pada Scott kalau aku akan menandaimu sebagai Mate-ku begitu kau pulang ke sini."

Aku tercengang. "Kau akan, eh, menandaiku? Malam ini?"

Ia mengangguk lagi. "Kalau kau mau, kalau kau tidak berubah pikiran, ya, aku akan menandaimu."

"A-aku tidak berubah pikiran. Aku, eh, tetap ingin kau menandaiku ... " gumamku. "T-tapi ... eh, adakah hal yang perlu kutahu lagi tentang, eh, penandaan seorang Mate?"

"Yah, makhluk supranatural lain akan bisa melihat tanda padamu, mereka akan tahu kau milikku. Baumu dan aku akan tercium sama persis. Lalu—oh," kata Derek tiba-tiba menghentikan perkataannya, menggaruk belakang lehernya.

"Lalu apa?" tanyaku.

Derek menggeleng. "Kau tidak akan suka yang selanjutnya ... " gumam Derek.

"Apa?" tanyaku lagi.

"Ada efek sampingnya," kata Derek dengan tidak nyaman. "Setelah penandaan itu, sesuatu akan terjadi dalam dua puluh empat jam. Kau, atau aku, atau kita berdua, akan mengalami yang namanya Mating Heat. Itu adalah kondisi di mana seseorang sangat ingin disentuh oleh Mate-nya. Tubuhnya akan sangat sensitif oleh sentuhan Mate-nya, akan sangat mudah terangsang, sampai mungkin akan minta disentuh terus, atau malah ia akan menyentuh Mate-nya. Tidak akan terus-terusan selama dua puluh jam. Mungkin itu hanya akan muncul sekali saja, atau dua kali, atau kita bisa bergantian, pokoknya dalam dua puluh empat jam."

Aku termegap kecil dan wajahku menghangat. "Oh ... "

"Kalau hanya aku, aku mungkin masih bisa menahan diri dari mendatangimu minta disentuh atau malah menahan diri dari langsung menyentuhmu. Tapi kalau kau, aku tidak akan bisa menahan diriku sendiri kalau kau datang dan memintaku untuk menyentuhmu. Akan lebih parah lagi kalau kita berdua sama-sama ingin disentuh," jelas Derek. "Kau masih bisa bilang tidak untuk ini, aku tidak apa."

Aku menggeleng. "A-aku juga tidak apa, aku tidak berubah pikiran."

Derek tersenyum kecil sambil menyelipkan rambutku di belakang telinga. "Jangan memaksakan dirimu."

Kugelengkan lagi kepalaku, lalu menatap lurus matanya. "Aku mau kau menandaiku."

Ia mencium lembut keningku, habis itu tangannya lepas dariku. "Kau masih punya waktu untuk berubah pikiran sebelum kita benar-benar telanjang di ranjangku." Kugigit bibirku dan ia menyengir.

Derek menutup pintu mobil, lalu naik ke bangku pengemudi. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat sampai rumahnya. Aku mengetik pesan di ponselku, memberitahu ayah kalau aku akan menginap di tempat Derek. Baru aku akan menyimpan ponselku lagi, tiba-tiba perutku bunyi. Langsung saja aku menggigit bibir, merasa malu, dan merasa wajahku menghangat.

Pemuda yang duduk di sampingku langsung tertawa. "Val, kau belum makan malam?"

"Belum ... " gumamku sambil menunduk dalam-dalam.

"Baiklah," katanya sambil agak terkekeh. "Kita bisa makan dulu, mungkin sekalian kau bisa menceritakan padaku tentang kau di Paris." Aku mengangguk. "Bagaimana kalau lasagna?"

Itu makanan kesukaanku! "Derek, aku, cinta, kamu," kataku sambil menyengir lebar.

Derek tertawa lagi. "Astaga, kalau tahu ternyata mengajakmu makan lasagna bisa membuatmu menyatakan cinta padaku, seharusnya dari dulu aku mengajakmu."

Mau tak mau aku jadi tertawa bersamanya.

.

.

"D-Derek!" desahku. "Oh—AAAHH!"

Derek semakin menggenjot gemas penisnya dalamku. Memang kami bercinta terakhir kali adalah sekitar dua bulan lalu, tapi rasanya itu sudah sangat lama. Mungkin Derek pun merasa demikian, makanya ia dengan gemas langsung menyentuhku begitu kami tiba di kamarnya.

Tadi ia langsung membantuku melepas pakaiannya dan bajunya sendiri sambil melahap mulutku. Begitu ia merebahkanku di ranjang, Derek memainkan buah dadaku—aku paling suka sensasi saat ia mengisap putingku. Memang geli, tapi rasanya nikmat. Gawat, inikah yang dinamanya kecanduan? Dan Derek, seakan tahu aku suka aksinya, ia memainkan putingku lebih lama dari yang lain.

Ia pun sudah mengaduk vaginaku dengan jarinya, lalu dengan lidahnya juga. Jari sudah, lidah sudah, makanya ia melepas celana panjangnya dan kini penisnya ada dalamku.

Perlahan Derek membantuku untuk bangun dan bersandar di ujung ranjang, tapi ia tidak menarik keluar kejantanannya. Sambil menggoyang pelan pinggangnya, ia mencium bibirku.

"Val, rasanya akan sakit—lebih sakit dari waktu aku mengambil keperawananmu," kata Derek sambil terengah.

Aku mengangguk lemah. "Aku tidak apa."

Lalu Derek membenamkan kepalanya di leherku. Mencium-cium kecil di sana, sesekali mengisap juga. Aku mendesahkan namanya terus, sambil menyiapkan diri untuk menerima gigitan di bahuku. Derek mencium turun dari leherku menuju bahu—aku tahu waktunya sudah akan semakin dekat.

"Siap-siap ... " katanya, "kita keluarkan sama-sama, oke?" aku mengangguk lemah, entah ia lihat atau tidak. "Satu, dua, tiga—"

"AAAAAHHHH!"

Aku memekik keras. Jelas saja, aku klimaks bersama dengan Derek, ditambah lagi pemuda itu juga menggigit bahuku dengan taring manusia serigalanya. Ia menarik keluar taringnya dari kulitku, begitu juga kejantanannya. Derek mengusap pelan pipiku yang basah bercampur keringat dan air mata.

"Hei," gumamnya. "Kau baik-baik saja?" Aku mengangguk pelan sambil terus mengisak. "Aku sudah bilang ini akan sakit, kan?"

Aku mengangguk lagi. "Aku tidak apa."

"Biar kuambil sakitmu, ya?"

Kugelengkan kepalaku. "Aku bisa tahan," kataku sambil tersenyum kecil.

Ia mengangguk lalu mencium keningku. Kemudian ia bangkit dari ranjang, mengenakan celana boxer-nya, membawa kaosnya padaku dan duduk di sampingku. Kupakai kaosnya yang kebesaran di tubuhku.

"Aku tidak menyangka kita benar-benar melakukan ini," gumamnya sambil tersenyum. "Aku tidak menyangka aku benar-benar menandaimu."

Aku tersenyum juga. Kucium lembut bibir Derek. "Aku mencintaimu," gumamku pelan.

"Aku juga mencintaimu," balasnya. "Nah, ayo istirahat."

.

.

Derek menghujani banyak kecupan di bibirku saar terbangun di pagi hari. Dia bilang itu untuk mengganti setiap ciuman selama dua bulan ini. Mungkin ia merindukan desahanku atau apa, tapi sambil mengecupku ia menggodaku untuk mendesah, seperti meremas pelan buah dadaku atau memilin putingku—akhirnya aku pun mendesah.

Perlahan kudorong tubuhnya. Derek menatapku dengan bingung. "Kau harus mengantarku pulang," kataku pelan sambil tersenyum kecil. "Pulang ke rumah McCall."

Ia menyerngit. "Kenapa?"

"Derek, aku belum bertemu mama dan Scott sejak pulang ke sini—aku bahkan belum memberitahu mereka. Oke, mungkin Scott tahu aku pulang karena semalam ia bertemu ayah, tapi aku kangen Scott juga," kataku lembut. "Dan lagi ... karena sekarang aku sudah di Beacon Hills, aku harus masuk sekolah hari ini."

Derek mengerang. "Oh, ayolah, kau baru kembali ke sini, Val, kau bisa kembali ke sekolah besok, gurumu akan memakluminya!"

Sambil terkekeh geli aku mencium lembut bibirnya. "Aku kangen masuk kelas, Derek. Dan ... yah, aku sudah kehilangan beasiswaku untuk kuliah, aku tidak ingin sampai jumlah absenku jebol."

Ia menghela dan akhirnya mengangguk juga. "Omong-omong kau bilang semalam Scott bertemu ayahmu?"

Aku mengangguk. "Sebenarnya ayah tiba-tiba mengajakku pulang karena Scott mengirim pesan padanya. Katanya ia telah menggigit seorang anak, takut anak itu lari, jadi minta bantuan ayah."

"Scott punya Beta sekarang?" tanyanya sambil menyerngit.

"Begitulah yang kudengar," jawabku. "Kau tidak tahu?" Ia menggeleng. "Oke, jadi aku sudah cerita tentang Paris, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi padamu selama aku tidak ada."

"Tidak ada yang menarik," katanya tanpa melihat padaku. "Kalau kau ingin aku mengantarmu pulang, kita harus segera membersihkan diri," katanya sambil menyengir, "aku bisa membantumu mandi."

Aku termegap dan wajahku memanas. Derek terkekeh, ia memelukku dari belakang dan mencium kecil-kecil leherku.

"D-Derek!"

"Hm?"

"Kau, eh, mengalihkan pembicaraan ... " gumamku.

Ia menghentikan aksi di leherku, tapi tidak melepaskan pelukannya. Derek menghela, lalu menaruh dahinya di bahuku. "Aku ada di Meksiko selama kau tidak ada."

Aku menyerngit. "Apa yang kau lakukan di Meksiko?"

"Kate menangkapku ... Kate, Kate Argent, dia masuk ke tempat ini dan mengurungku di suatu tempat di Meksiko," jawabnya pelan.

"Kate? Tapi dia ... dia sudah tewas, kan? A-aku datang saat penguburannya ... " cicitku.

Kurasakan kepalanya mengangguk di bahuku. "Kita semua mengiranya tewas saat Peter mencakar lehernya, tapi ternyata cakaran itu membuatnya jadi makhluk supranatural, ia menjadi Werejaguar. Ia menangkapku, dan ... ia mengubahku jadi remaja lagi."

Lagi-lagi aku menyerngit. "Mengubahmu jadi remaja?"

"Scott dan yang lain datang untuk menyelamatkanku. Saat mereka menyelamatkanku, aku sudah jadi remaja umur enam belas tahun. Tidak hanya tubuh dan umurku saja, tapi ingatan yang kumiliki saat itu adalah ingatan saat aku berumur enam belas. Aku tidak mengenali Scott, Lydia, dan yang lainnya. Aku tidak tahu di mana keluargaku saat datang ke rumah, tidak tahu bahwa api sudah melahap habis rumahku. Yang pasti, di umur itu adalah saat aku masih percaya pada Kate."

Aku menoleh pelan padanya. "Jadi itu adalah masa kau suka Kate?" tanyaku pelan. "Kau menciumnya saat ia mendatangimu yang ... yang tidak tahu bahwa ia psikopat?"

Matanya menemui mataku dengan tatapan sedih. "Dia menciumku. Dulu aku menikmatinya. Tapi yang seminggu lalu itu ... walau aku tidak ingat tentangmu, aku bisa merasa ada yang salah dengan ciumanku dan Kate, aku tidak suka ciumannya."

Aku menggeleng pelan. "Oke, jadi selama dua bulan aku merindukanmu di Paris, sebenarnya selama itu kau bahkan tidak ingat tentangku?"

Derek mengambil satu tanganku, diciumnya pelan punggung tangan itu. "Aku tidak ingat tentangmu, ya. Tapi walau begitu, aku merindukanmu. Hatiku merindukanmu walau tidak ingat. Aku rindu ciumanmu yang selalu inosen, tapi aku tidak ingat siapa gadis itu, kutahu itu bukan Kate. Aku rindu seorang gadis bertubuh kecil yang begitu pas di pelukanku saat tidur, tapi aku tidak ingat siapa. Aku tahu aku sedang sangat mencintai seorang gadis, tapi aku tidak tahu siapa gadis itu."

Ia menarik wajahku, kali ini ia mencium bibirku. Saat bibir kami terpisah, aku melihat matanya sedang menatapku lurus-lurus dengan sayang.

"Waktu aku dijadikan remaja lagi, aku memang tidak ingat soal aku yang dewasa," kata Derek lembut. "Tapi saat aku kembali jadi seperti ini lagi, aku ingat apa yang terjadi dan yang kurasakan saat aku dijadikan remaja. Dengar, Stiles mengungsikanku ke rumah Scott untuk sementara. Di ruang tengahnya, aku melihat foto-foto, dan ada beberapa foto seorang gadis saat ia masih kecil, saat ia sekolah dasar, saat ia sudah remaja. Kutanya Stiles siapa gadis itu, ia jawab: 'Namanya Val, itu adik Scott'. Kau tahu apa komentarku mengenai foto itu? Kubilang bahwa gadis di foto itu, alias kamu, adalah gadis yang sangat manis. Aku tidak tahu aku pernah bilang ini padamu atau tidak, tapi sejauh ini, seumur hidupku, hanya kau satu-satunya gadis yang kubilang manis. Otakku saat itu mungkin tidak ingat, tapi alam bawah sadarku ingat. Karena aku mencintaimu," jelasnya panjang lebar.

Langsung saja aku memeluk tubuhnya. "Aku mencintaimu juga," gumamku.

Derek membalas pelukanku, tapi tidak lama kemudian tangannya terlepas dari tubuhku. Kurasakan ia menegang, jadi aku melepas pelukanku dan menatapnya bingung.

"Val, mungkin kau bisa minta Scott menjemputmu," katanya.

"Kenapa?" tanyaku.

"Aku, eh, sepertinya sedang tidak bisa bersamamu. Aku akan sangat menganggumu, aku tidak bisa mengantarmu dengan seperti ini."

Aku menyerngit. "Maksudnya?"

"Efek sampingnya, Val," katanya sambil agak mendesis. Derek agak terengah dan wajahnya seakan menahan sesuatu.

"Efek samping—oh," gumamku.

Wajahku memanas saat tidak sengaja melihat celana Derek, ada gundukan di sana. Ia terengah dan berusaha mengatur nafasnya. Itukah yang disebut Heat? Kudekati wajahnya dan kucium lembut bibirnya. Derek langsung menarik wajahnya mundur dariku dan menggeleng.

"Val, kalau kau meladeniku sekarang, mungkin kau akan terlambat sekolah," desah Derek.

Kulirik jam dinding yang baru akan menunjukkan jam enam pagi. Seingatku waktu kemarin aku melihat jadwal kelas untuk hari ini, tertulis bahwa jam pertamaku kosong, berarti aku langsung masuk jam pelajaran kedua alias jam sembilan. Mungkin aku masih bisa di sini sekitar satu jam lagi. Maksudku, tidak mungkin Heat Derek berlangsung berjam-jam, kan?

"Aku masih bisa di sini sebentar lagi," gumamku pelan.

Derek mengangguk pelan. "Val, Val, bantu aku," desahnya.

"Apa? Bantu apa?"

"Aku membutuhkanmu," kali ini ia agak mendesis. Ia mengambil satu tanganku, dibawanya untuk menyentuh kejantanannya dari luar celana. Pipiku menghangat. Derek ingin aku menyentuh kejantanannya. "Val ... kumohon?"

Aku mengangguk pelan. Kuhampiri kejantanannya. Celana boxer yang jadi penghalang itu kulepas perlahan, lalu aku bisa melihat penis Derek sudah menegang bahkan sudah agak basah di ujungnya. Kuteguk ludah dengan susah payah. Tambah lagi, aku merasa selangkanganku ikut-ikutan lembab.

Kugelengkan kepalaku, lalu mulai memegang penis Derek dengan dua tangan. Entah dia kaget atau apa, tapi saat aku mulai menyentuhnya, ia agak sedikit terlunjak pelan. Derek mendesah dan mendesis saat aku mulai mengocoknya.

"Lebih cepat, Val, ayo," pintanya.

Aku mengangguk, menuruti keinginannya. Kukocok penisnya yang licin itu dengan lebih cepat. Tiba-tiba cairannya tersemprot sedikit ke wajahku. Aku kaget.

"Astaga, maaf—aku minta maaf, Val—oh, astaga—" desah Derek.

Kuputuskan untuk memasukkan penis itu dalam mulutku. Kuhisap cairannya, lalu mencium kecil-kecil kejantanannya. Tangan Derek menggapai kepalaku, ia membelai rambut di kepalaku.

"Gadis pintar—ukh, Val, astaga—kau pintar—bangunlah," desisnya. Aku mendongak padanya, ditariknya tanganku dan ia menyuruhku duduk di tubuhnya. Selangkanganku basah, aku tidak ingin mengenai tubuhnya, jadi aku hanya bertumpu di lututku saja. "Buka kaos itu dan masukkan penisku dalammu."

Aku mengangguk lagi. Langsung saja kulepas kaosnya, setelah itu aku memundurkan tubuhku sampai puncak penis Derek terasa di mulut vaginaku. Kami sama-sama mendesah pelan saat kedua area itu tersentuh. Kedua tangan Derek ada di pinggangku, aku mulai memasukkan penis itu dalamku. Setelah masuk, aku mulai menaik-turunkan tubuhku, merasakan sensasi kejantanannya. Tangan Derek pindah perlahan dari pinggangku menuju buah dadaku, diremasnya itu.

"Val, aku akan keluar—" kata Derek. Dan tepat setelah ia mengatakan itu, ia benar-benar mengeluarkan cairannya dalam tubuhku. Tepat setelahnya, aku pun keluar juga.

Kami sama-sama terengah. Aku tidak tahu Heat Derek sudah selesai apa belum, tapi penisnya masih tertanam dalam tubuhku. Derek perlahan bangun, kini ia merebahkan tubuhku di bawahnya, tanpa menarik keluar penisnya dariku. Ia mencium bibirku, sambil kemudian menggoyangkan pinggangnya, membuatku mendesah di mulutnya. Setelah itu ia mencabut keluar kejantanannya, mengecup keningku.

"Ap-apa, eh, sudah selesai?" tanyaku pelan.

"Heat-nya untuk saat ini sudah, tapi ... aku masih ingin menyentuhmu," ujarnya sambil menyengir.

"E-eh?"

Kali ini Derek yang menuju selangkanganku. Ia mencium vaginaku, lalu kurasakan lidahnya ada di sana. Aku mendesah saat ia menjilat di sana. Tapi tidak lama kemudian ponselku berdering. Derek mendecak dan beranjak dari ranjang untuk mengambil ponsel itu. Ia mengoper ponsel tersebut, bilang itu dari Scott.

Dengan cepat aku menerima panggilan telepon itu. "Scott?"

"Val! Astaga, aku kangen sekali!" kata Scott dari seberang.

"Aku kangen padamu juga, Scott, serius," balasku sambil agak terkekeh.

"Kutebak kau ada di tempat Derek?"

"Ya, aku sedang dengan Derek."

"Kapan kau mulai sekolah? Besok?"

"Hari ini, tapi jam pertamaku kosong."

"Kau mau kujemput di tempat Derek? Tidak, tidak, aku ingin menjemputmu di sana, ingin cepat-cepat bertemu denganmu. Stiles apalagi. Kami akan menjemputmu."

"Stiles ada di denganmu sekarang?"

"Ya, ya, dia sangat rewel bilang ingin segera bertemu denganmu. Jadi kapan kami bisa menjemputmu?"

"Setengah jam lagi."

"Oke, sampai ketemu setengah jam lagi."

Lalu teleponnya putus bersamaan dengan kurasakan bibir Derek menempel di bahuku, tepatnya di area ia menggigitku semalam. Omong-omong tentang gigitan itu, bahuku sudah tidak terasa sakit sama sekali. Waktu aku menoleh melihat bahu itu, ternyata bekasnya masih ada.

"Jadi kita punya waktu setengah jam untuk mandi?" tanyanya sambil terus menciumi bahu lalu leherku.

"Aku punya waktu setengah jam untuk mandi," koreksiku sambil menyengir pelan.

"Val, lebih cepat kalau mandi berdua, apalagi aku bisa membantumu mandi," katanya.

Aku terkekeh pelan. "Aku sudah cukup besar untuk mandi sendiri, Derek. Dan entah kenapa kupikir kalau mandi berdua, mungkin satu jam tidak akan cukup dalam sana."

Derek menarik wajahku lalu mencium lembut bibirku. Habis itu ia menyengir. "Mau taruhan?" Aku menyerngit. "Kalau kita mandi berdua tidak sampai dua puluh menit, kita akan bercinta lagi malam ini di sini. Kalau lebih dari dua puluh menit, yah, terserah kau mau minta apa."

"Aku bisa minta apa saja?" ulangku.

"Apa saja," yakin Derek sambil menyengir.

"Baiklah."

Ia mengambil ponsel, dan menarikku masuk ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, kulihat ia menyalakan stopwatch di ponselnya. Derek menyalakan keran shower, menarikku untuk ikut tersiram air bersamanya. Ia membasuh tubuhku, mengeramasi rambutku sambil sesekali menggodaku dengan meremas pelan buah dadaku atau memilin puting, atau malah mencium bibirku. Saat memberiku sabun, ia mengambil kesempatan itu untuk meremas gemas buah dadaku dengan tangannya yang licin karena sabun. Dengan tangan itu juga kemudian ia membersihkan bagian selangkanganku. Ia meremas pelan di sana, sesekali menggodaku dengan menyentuh mulut vaginaku dengan jarinya. Aku mendesah terus selama ia memandikanku.

Waktu giliranku untuk memberinya sabun, wajahku memanas sendiri saat aku harus menggosok penisnya. Derek mendesah nikmat, padahal bukan itu tujuanku, aku tidak berniat membuatnya mendesah begitu.

Selesai keramas dan pakai sabun, kami bilas lagi dengan air shower, dan Derek lagi-lagi curi-curi kesempatan untuk membuatku mendesah. Setelah akhirnya selesai, kami mengelap dengan handuk dan berpakaian—tentu saja aku pakai pakaian semalam karena tidak ada baju ganti. Habis itu Derek mengambil ponselnya, menunjukkan stopwatch-nya yang baru ia hentikan setelah pakai baju.

"Sembilan belas menit," kata Derek sambil menyengir. Kuteguk ludah dengan susah payah. Ia menaruh ponsel itu di meja, lalu mencium cepat bibirku. "Sepertinya malam ini kita akan bercinta lagi." Pipiku memanas. Kubuang muka sambil menggigit bibir. Derek terkekeh pelan sambil menepuk pelan puncak kepalaku. "Aku becanda, Val. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, aku tidak mau memaksamu, ingat?"

Aku tersenyum kecil.

Lalu aku mendengar suara seseorang, dua orang tepatnya, memanggilku dari ruang tengah, kukenali itu sebagai suara Scott dan Stiles. Langsung saja aku tersenyum lebar dan berlari kecil keluar kamar.

Di ruang tengah aku langsung melihat Scott dan Stiles. Keduanya tersenyum lebar juga padaku. Aku langsung masuk ke dalam pelukan mereka berdua. Yep, kami berpelukan bertiga, baru setelahnya Scott memelukku sendiri, habis itu Stiles juga.

"Val, kau terima email-ku, kan?" tanya Stiles. Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Email? Kau kirim pesan apa?" tanya Scott.

Stiles menyengir. "Kubilang kalau aku sangat kangen padanya."

"Kita seharusnya hanya menghubunginya kalau benar-benar penting!" kata Scott.

"Hei, itu kan amat sangat penting!" kata Stiles tidak mau kalah.

Scott menoleh padaku. "Val, katakan kalau kau tidak membalas email itu. Kalau kau membalasnya, aku akan sangat kesal—karena tahu begitu aku juga ingin mengirimimu email begitu."

Aku terkekeh. "Aku tidak membalasnya. Hanya kubaca, lalu kututup lagi."

"Oh, ayolah, aku kangen kamu! Sini kupeluk lagi," kata Stiles.

Aku masih terus terkikik. Stiles menarik tanganku dan memelukku erat sekali lagi. Ia tidak berhenti memelukku sampai suara dehaman keras terdengar. Aku menoleh dan melihat Derek dengan wajah masam menghampiri kami. Dengan cepat Derek melepaskan tangan Stiles dariku.

"Val pacarku," desis Derek pada Stiles.

"Yah, Val sahabatku, lalu?" tantang Stiles. Oke, aku jadi merasa de javu.

"Derek, kau sudah menandainya?" tanya Scott pelan.

"Semalam," jawab Derek sambil memeluk pinggangku. Kugigit bibirku sambil merasakan hangat di pipi.

"Apa maksudnya menandai?" tanya Stiles.

"Menandai Val sebagai Mate-ku, berarti dia menjadi milikku," kata Derek.

"Ap—tapi—"

Scott menepuk Stiles biar pemuda itu menutup mulutnya."Nah, ayo pulang, Val, mama di rumah," kata Scott.

Aku mengangguk. Kucium pipi Derek lalu mengambil tas di sofa, setelah itu ikut keluar bersama Scott yang menarik Stiles.

.

.

Saking kangennya, aku dan mama berpelukan sambil berlinang air mata. Oke, mungkin kami berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi? Walau ia bukan orangtua kandungku, tapi ia tetap adalah mamaku, dan aku sangat-sangat kangen padanya meski aku hanya pergi sekitar dua bulan.

Mama bilang, begitu Scott memberitahunya bahwa aku sudah di Beacon Hills, ia langsung berusaha masak sebaiknya untuk pagi ini—makanya tadi Scott sampai meneleponku. Jadinya aku langsung menaruh tasku di kamar—oh, astaga bau kamar ini! Aku kangen dengan kamar ini! Dan ranjangnya, oh, aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang. Scott terkekeh melihatku, tapi ia ikutan rebah di sampingku, Stiles ikutan juga.

"Aku ingat saat kita kemping dulu, kita tidur dengan posisi begini," kata Stiles.

"Yah, itu gara-gara kau dan Scott yang rebutan ingin tidur di tenda yang sama denganku," kataku sambil terkekeh geli.

"Val, kau takut gelap saat itu, jadi aku ingin menemanimu tidur," ujar Scott membela diri.

"Hei, aku juga ingin menemaninya!" kata Stiles tidak mau kalah.

"Oke, oke, baiklah," kataku geli sambil beranjak dari ranjang. "Kalian berdua keluar dari kamarku sekarang, aku mau ganti baju, biar bisa sarapan dan kita ke sekolah."

Scott mengangguk. Ia mencium pipiku dan tersenyum. Stiles menghampiriku untuk menciumku juga, tapi tangannya langsung ditahan Scott, kakakku langsung menariknya agar mereka keluar dari kamar dan menutup pintu.

Aku tertawa kecil melihatnya. Tawaku reda saat aku tiba-tiba kangen sendiri dengan hal-hal seperti itu. Hal-hal yang dulu pernah terjadi di antara aku, Stiles, dan Scott, sewaktu aku belum mengenal Derek. Sejak aku bertemu Derek, semuanya berubah secara cepat, dan aku tidak yakin aku yang sekarang masih seinosen saat Scott belum digigit Peter.

.

.

Oke, kutahu baru dua bulan aku tidak menapakkan kaki di gedung sekolah ini. Tapi khusus untuk ruangan perpustakaan, ruangan yang pernah menjadi tempat langgananku itu, rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sana. Kapan terakhir kali aku masuk ke sana? Hmm, kalau tidak salah waktu masih jaman Kanima, kan? Waktu Erica kena serang Kanima saat kami sedang menyortir buku gara-gara dihukum Mr Harris?

Oh, oh, tidak, setelah kejadian Kanima itu aku masih sekali lagi masuk perpustakaan, yakni waktu Jennifer Blake alias Darach minta tolong untuk mengambilkan buku karena aku asistennya—yang berujung nyaris diculiknya aku oleh para ngengat.

Yah, mungkin gara-gara kejadian Darach dan Kanima itulah yang membuatku tidak berani kemana-mana sendirian lagi. Tapi tidak mungkin juga aku membuntuti Scott kemana-mana, atau siapa pun harus menjagaku ke mana pun aku pergi, kan? Contohnya sekarang, karena aku ikut Scott berangkat ke sekolah padahal jam pertamaku kosong, aku jadi harus menghabiskan waktu sekitar satu jam seorang diri. Stiles sudah masuk ke kelas pertamanya, sedangkan Scott bilang ia ingin pemanasan di lapangan. Jadi, ya, aku berniat untuk pergi ke perpustakaan saja.

Saat aku berjalan di sekitar koridor, tiba-tiba aku bertabrakan dengan seseorang. Oke, ini jadi serasa de javu—terakhir kali aku bertabrak di koridor adalah dengan Isaac. Kali ini tidak mungkin aku menabraknya lagi, karena pemuda itu tidak kembali ke Beacon Hills.

Aku terjatuh di lantai, yang kutabrak pun juga. Tas dan buku di tanganku juga jatuh, menambah suara bukti kami jatuh.

"M-maaf!" kata orang yang bertabrakan denganku. Ia segera bangun dan mengambilkan buku-bukuku yang berserakkan di lantai.

"Aku juga minta maaf," gumamku sambil ikut merapikan yang terjatuh.

Setelah beres, ia membantuku berdiri. Kulihat ia seorang pemuda, tingginya sedikit di atasku. Kulitnya putih bersih dan tampang wajahnya manis. Ia tercengang melihatku. Oh, aku tahu apa yang ia ingin katakan.

" ... kau cantik," ujarnya pelan.

Aku hanya memaksakan senyum kecil mendengarnya. Habis, sejak Dr Deaton memberitahuku tentang Veela, aku jadi merasa hambar mendengar pujian semacam itu—kecuali dari orang-orang terdekatku.

"Val—Val, kau tidak apa?" Itu suara Scott, dengan cepat ia menghampiriku dari belakang.

Kutolehkan wajahku padanya, ia menatapku dengan cemas sambil memegang lenganku. "Aku tidak apa, aku hanya tidak sengaja menabraknya," jawabku lembut sambil tersenyum pada kakakku lalu pada pemuda manis di sana.

Scott menoleh pada pemuda itu. "Liam, kau baik-baik saja?"

Pemuda itu mengangguk pelan. Aku menyerngit. Liam? Apa dia Liam Dunbar yang Scott cerita sebagai Beta-nya?

"Val, ini Liam, Beta-ku," kata Scott padaku, lalu ia menoleh pada Liam lagi. "Liam, ini Val, adikku, dia seumuran denganmu tapi jadi kakak kelasmu."

Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan besar meraih pinggangku, menarikku untuk menghadap wajahnya. Langsung kutemukan wajah Derek di hadapanku. Aku terkejut. Kenapa bisa ada dia di sini? Ia menyengir kemudian mencium lembut bibirku.

"Kenapa kau bisa di sini?" gumamku sambil tersenyum kecil.

"Scott memintaku datang, memperlihatkan aku seperti apa Beta-nya,' jawabnya.

"K-kau tidak pernah beritahuku siapa laki-laki itu," ujar Liam dengan sedikit gemetar. "Dia pacarnya? Pacar adikmu seorang, eh, sama sepertimu?"

Kulihat Scott mengangguk. "Liam, ini Derek Hale. Waktu awal aku kena gigit, ia jadi seperti mentorku. Val adalah Mate-nya, dan adikku ini ... " Scott berhenti sebentar, menoleh padaku seakan minta izin untuk memberitahunya.

Tapi sebelum aku memberi tanda bahwa aku beri izin atau tidak, aku lebih ingin memberitahu Liam sendiri. "Aku seorang Veela."

Liam menyerngit. "Veela? Seperti di Harry Potter?"

Aku mengangguk. "Manusia burung, makhluk yang sangat sering mendapat pujian cantik. Makanya sebelum kau bilang aku cantik, aku sudah bisa menebak apa yang ingin kau katakan."

Ia mengangkat bahu. "Habisnya kau memang cantik," ujarnya.

Kudengar geraman pelan dari sebelahku, geraman Derek. Langsung saja aku memegang lembut lengannya.

"Segeralah pergi ke kelas, Liam," kata Scott.

Liam mengangguk dan pergi. Habis itu Scott mengiringku masuk ke ruang loker. Derek sudah tidak menggeram lagi. Scott duduk di salah satu kursi di depan loker, Derek ikut duduk di sebelahnya kirinya, dan aku di sebelah kanannya.

Kakakku itu menghela. "Seharusnya semester ini aku bisa fokus untuk sekolah lagi," kata Scott sambil menggenggam erat tanganku. "Tapi Kate kembali, dan aku dapat seorang Beta. Dan lalu ada Deadpool."

Aku menyerngit. Kalau soal Kate, Derek sudah memberitahuku. Tapi Deadpool? Derek, Scott, dan Stiles tidak pernah menyinggung-nyinggung soal itu.

"Deadpool?" tanyaku.

Scott langsung menegang dan ia menoleh padaku. "Eh, tidak, itu—"

"Ada Deadpool?" ulangku.

"Scott ... " ujar Derek pelan.

Scott menghela lagi sambil meraih sesuatu dari dalam jaketnya. "A-aku tidak bermaksud merahasiakan ini darimu, Val, sungguh, aku hanya tidak ingin kau merasa takut." Ia memberikanku secarik kertas yang terlipat.

Kuraih kertas itu dan kulebarkan. Diujung atas ada tulisan 'Kunci: ALLISON'. Aku menyerngit. Ada sejumlah nama di sana, dengan angka-angka di sebelahnya. Dari sekitar sepuluh atau lebih nama di sana, aku hanya kenal beberapa di antaranya. Ada Lydia dengan angka 20. Lalu Scott, 25. Derek 15. Kira, 6. Dan ada namaku di paling bawah. Tapi namaku bukan McCall, melainkan Argent: Cavalion Argent, 4.

"Uh, apa maksudnya angka di sebelah nama kita?" tanyaku pelan.

"Itu ... eh, hargamu," jawab Scott pelan.

"Aku seharga empat Dollar?" tanyaku bingung. Ya ampun, aku murah sekali ...

"Empat juta Dollar," koreksi Derek.

"Oke, jadi ini Deadpool-nya?" tanyaku, Scott mengangguk. "Deadpool, ini daftar orang-orang yang akan dibunuh, dan yang membunuh kita akan mendapat bayaran sesuai angka di sebelahnya?" Scott mengangguk lagi. "Oh, ya ampun, dan aku seharga empat juta. Empat, itu angka mati."

"Bukannya angka mati itu tiga belas?" tanya Derek bingung.

"Dalam bahasa Mandarin dan Jepang, angka empat dibacanya mirip dengan kata 'mati'," jelasku.

"Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, kami akan melindungimu, kau akan baik-baik saja," kata Scott lembut dengan yakin.

Kusodorkan kertas Deadpool itu kembali pada Scott. "Dari mana kalian dapat ini? Bagaimana orang yang membuat ini, eh, membuat daftarnya?"

"Kami dapat itu dari Lydia," jawab Scott. "Ia menuliskan catatan matematika untuk Malia, saat Stiles lihat itu bukanlah catatan matematika melainkan kode. Lydia memasukkan kode itu dalam laptopnya dan butuh semacam kata sandi untuk menjadi kuncinya. Lydia mendapat kuncinya, yaitu nama Allison, sewaktu kami di Lake House kemarin."

"Karena dia Banshee?" tebakku.

Scott mengangguk. "Lalu ia memasukkan nama Allison sebagai kuncinya, kami pun mendapat daftar ini, ini lembar pertamanya, masih ada yang kedua dan ketiga tapi kami tidak tahu apa kuncinya. Kami tidak tahu bagaimana siapa pun dia membuat daftar ini. Nama-nama di sini adalah orang-orang supranatural di Beacon Hills. Ia menggunakan uang 117 juta Dollar yang dicurinya dari ruang penyimpanan keluarga Hale."

Aku menyerngit lagi. Derek mengangguk. "Aku membawa Kate ke ruang penyimpanan itu minggu lalu, Val, ingat?" tanya Derek dan aku mengangguk. "Ia menginginkan triskele untuk mengontrol kekuatannya sebagai Werejaguar. Peter datang dan bilang yang kuberikan pada Kate itu palsu. Aku keluar begitu mendengar Scott menggeram. Habis itu Peter bilang ada yang pakai bom asap dan mengambil koper uang di brankas."

"Mungkin orang suruhan Kate?" tanyaku.

Kakakku mengangkat bahu. "Entahlah."

"Bagaimana orang yang membuat daftar ini tahu aku seorang Argent?" gumamku. "Dan ini daftar supranatural yang tinggal di Beacon Hills, kan? Bagaimana kalau seandainya aku sama seperti Isaac, memutuskan untuk tetap tinggal di Paris dan tidak kembali ke sini. Ia seperti bisa tahu aku akan kembali ke Beacon Hills."

"Menurutmu mungkin Benefactor mengenalmu, makanya ia bisa menebak dengan benar?" tanya Derek.

"Benefactor?"

"Oh, ya, orang yang membayar para pembunuh ini menyebut dirinya sebagai Benefactor," ujar Scott.

Derek menghela. "Jika semua nama kita ada di daftar itu, maka itulah yang harus jadi fokus kita." Ia menghela lagi pada Scott. "Menurutmu Lydia bisa mendapat kunci kedua?"

"Ia sedang mencobanya," gumam Scott, ia menoleh padaku. "Kelas pertamamu nanti apa?"

"Ekonomi," jawabku lalu menghela. "Hari pertamaku masuk sekolah, langsung bertemu dengan Pelatih. Sempurna."

Scott menyengir. "Jangan sedih, aku dan Stiles juga ada di kelas itu nanti. Mau ke perpustakaan dulu sambil menunggu?"

Aku mengangguk. Kami bertiga bangkit dari kursi. Kupeluk Derek dulu dan ia mencium puncak kepalaku sebelum aku pergi dengan Scott ke perpustakaan.

.

.

Scott bilang malam ini akan ada pertandingan Lacrosse. Mungkin itulah sebabnya Pelatih Finstock mengajar di kelasnya sambil membawa stik Lacrosse, dan memberi materi ekonomi dengan Lacrosse sebagai perumpamaannya. Tapi menurutku, dari gaya bicaranya, Pelatih sepertinya agak cemburu dengan sekolah yang menjadi lawan kami malam ini, katanya peralatan tim lawan lebih lengkap daripada kami. Kakakku mungkin sadar akan itu juga, aku melihatnya terkikik pelan di depanku.

Stiles duduk di sebelah Scott. Ia tidak terkikik seperti kakakku, Stiles sibuk melihat foto-foto korban pembunuhan. Di perpustakaan tadi Scott memberitahuku lebih lanjut tentang Deadpool dan pembunuh bayaran. Salah satu pembunuh bayarannya adalah lelaki tanpa mulut yang semalam dibunuh Peter. Dibilang salah satu itu karena ada lelaki semalam menggunakan kapak untuk membunuh targetnya, sedangkan Scott bilang ada korban lain yang kepalanya terpotong, dan ada korban lagi semalam yang terbunuh karena tertusuk. Menurutku itu jelas adalah tiga pembunuh bayaran yang berbeda.

Pelatih masih memberi perumpamaan mengenai tim Lacrosse lawannya sambil berjalan di sekitar meja muid. Begitu ia tiba di meja Stiles, ia memukul pelan meja pemuda itu untuk ditarik perhatiannya. Stiles agak terlunjak kaget, tapi mungkin akhirnya ia sadar kalau saat ini ia ada dikelas Pelatih.

"Kau tahu, Stilinski," kata Pelatih, "kalau aku bisa memberimu nilai untuk betapa kau menggangguku, kau akan dapat A+."

"Uh, terimakasih, Pelatih," ujar Stiles.

"Singkirkan gambar-gambar itu!" suruh Pelatih.

Tapi bukannya Stiles langsung menurut, dengan cepat ia menarik stik Lacrosse dan melihat ke ujungnya, setelah itu melihat foto di mejanya.

"Stilinski!" bentak Pelatih sambil menarik stiknya. "Apa-apaan kau?!" tanyanya, lalu berhasil menarik stik Lacrosse itu dari tangan Stiles. "Jangan jawab itu," kata Pelatih lalu ia berjalan meninggalkan meja Stiles.

Stiles melirik aku dan Scott bergantian. "Seorang pemain Lacrosse," katanya pelan.

Aku termegap pelan. Aku tahu maksudnya—yang melakukan pembunuhan terhadap siapa pun yang ada di foto itu adalah seorang pemain Lacrosse, ia ada di tim.

Jadi setelah kelas ini selesai, Scott langsung menghubungi Kira, kami berempat langsung datang ke ruang Pelatih. Stiles sempat bilang bahwa Kira sudah bergabung dengan tim Lacrosse. Wow, mungkin dia adalah perempuan pertama yang berhasil dipilih Pelatih Finstock untuk bergabung di timnya. Hebat.

Oke, kami masuk ke ruang Pelatih dan langsung memeriksa setiap stik Lacrosse sekolah yang ada di ruangan ini. Mungkin ada sekitar dua puluh atau lebih stik yang disimpan, kami harus melihat ujungnya, mencari semacam senjata tersembunyi yang bisa dipakai untuk membunuh.

"Ini—ini tidak berguna," dengus Scott pelan setelah kami memeriksa semua stik Lacrosse dengan tanpa hasil. "Kebanyakan pemain punya stiknya sendiri."

"Sudah pasti pelakunya punya stik sendiri, ia tidak mungkin mau ambil resiko seseorang menemukannya kalau stik itu ditaruh di sini," gumamku.

"Mungkin daripada mencoba mencari stik Lacrosse dengan pisau yang tersembunyi, kita bisa mencoba untuk membatalkan pertandingannya?" usul Kira.

"Aku setuju, tetap bermain di saat tahu ada seorang pembunuh berkeliaran di lapangan sama saja cari mati," kataku.

"Justru pertandingannya itu adalah cara terbaik untuk menangkap basah dia," kata Scott.

"Tapi bagaimana kalau ia tertangkah basah karena tangannya sudah penuh dengan darah orang yang ia tusuk sampai mati, yang, omong-omong bisa saja salah satu dari kalian berdua?" tanya Stiles.

"Atau Liam," kata Scott. "Yah, kita tidak punya keseluruhan daftar dan dia bisa saja ada di dalamnya."

"Kita tidak tahu apa-apa tentang daftar itu," ujar Stiles.

"Tentang bagaimana dibuat, bagaimana itu diperbarui. Maksudku siapa yang mengambil sensus supranatural? Bagaimana mereka tahu soal aku?" tanya Kira.

"Dan soal aku. Bagaimana mereka bisa tahu keluarga asliku?" dengusku.

"Mereka tahu tentang semua orang," desah Scott.

"Menurutku Kira dan Val benar," kata Stiles," kita harus menghentikan pertandingannya."

"Aku tidak takut," tegas Scott.

"Begitu juga denganku," kata Kira tidak mau kalah.

Aku menggeleng. "Aku ingin mengatakan yang sama dengan kalian, tapi aku tidak bisa. Dengar, aku baru kembali ke Beacon Hills dan namaku langsung ada di Deadpool. Sejujurnya, aku bukan takut, aku ngeri."

"Val, kita akan menjaga satu sama lain, kau akan baik-baik saja," ujar Scot lembut.

Kugelengkan kepalaku lagi. "Aku tidak selamanya bersama denganmu Scott, atau dengan yang lain. Bagaimana kalau mereka menyerangku saat aku sedang sendiri? Aku tidak punya kemampuan untuk menyerang balik. Bagaimana kalau, eh, saat kalian sedang di lapangan Lacrosse, semua perhatian ada di lapangan, ternyata ada pembunuh bayaran lain yang sedang mengincarku di bangku penonton?"

Scott memegang pipiku dengan kedua tangannya, mengelus pelan dengan ibu jarinya. "Val, kau akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja. Janji," kata kakakku dengan lembut.

"Yah, aku ketakutan juga dan bahkan aku tidak ada di daftar," kata Stiles memecah momenku dengan Scott. "Sobat, mereka adalah pembunuh profesional. Itu profesi mereka. Salah satu dari mereka punya tali yang memotong kepala. Siapa tahu apa lagi yang mereka punya."

Yep, pemikiran Stiles sama sepertiku. Bedanya namanya tidak ada di daftar, sedangkan aku ada.

Scott memutuskan agar kami mencari ke ruang loker. Kubilang bahwa habis ini aku ada kelas lagi, jadinya hanya Scott dengan Stiles dan Kira saja yang ke ruang loker, sedangkan aku ke kelas selanjutnya.

Saat aku menghampiri tangga untuk turun, aku bertemu dengan Lydia yang sedang berjalan ke tangga yang sama sambil menelepon lewat ponselnya. Di sebelahnya ada seorang gadis yang wajahnya seperti tidak asing buatku, kalau tidak salah namanya Malia. Tapi kenapa gadis itu ada di sekolah ini?

"Lydia!" panggilku seraya berlari kecil menghampirinya.

Gadis berambut pirang stroberi itu menoleh padaku. Wajah letihnya langsung melempar senyum begitu melihatku. "Val!" balasnya, kami pun berpelukan sebentar. "Kukira kau tidak akan langsung masuk sekolah, aku sudah berencana mengunjungimu sepulang sekolah!"

Aku terkekeh. "Yah, batalkan rencana itu, kau sudah bertemu denganku sekarang." Ia terkekeh juga. Kulirik Malia yang menatapku dengan tampang tidak suka. "Um, Malia, kan?" tanyaku sambil tersenyum kecil untuk memastikan. Gadis Werecoyote itu memutar bola matanya dan membuang muka, bahkan aku bisa mendengar suara dengusannya. Dengan bingung aku melirik Lydia.

Lydia berdeham lalu menarikku pelan untuk menuruni tangga, Malia pun ikut turun tangga. "Eichen House bilang Meredith tidak boleh dapat pengunjung tanpa izin dari anggota keluarganya," kata Lydia.

Meredith. Kugali ingatanku tentang siapa pun itu yang bernama Meredith. Yang bisa kuingat adalah seorang gadis yang Stiles kenal di Eichen House. Stiles bilang gadis itu seorang Banshee, dan pernah membantu mereka untuk mencari tahu ke mana Nogitsune membawa Lydia pergi. Mungkin sekarang Lydia berusaha menghubunginya untuk meminta bantuan gadis itu lagi. Dan kalau dugaanku benar, mungkin ini ada sesuatu tentang Deadpool.

"Itu tidak akan mudah karena seluruh keluarganya sudah mati," kata Malia.

Lydia menghela. "Sempurna," dengusnya pelan.

"Oke, mungkin kita bisa kembali ke ruang seni? Atau ruang musik?" tawar Malia.

Kawanku yang Banshee ini langsung menghadap Malia. "Aku tidak akan membunyikan senar piano selama dua jam untuk mendapat inspirasi supranatural," ujar Lydia.

Aku menggeleng pelan. "Dua jam? Um, aku tahu ini sangat penting, tapi kau butuh istirahat—kalian butuh istirahat," gumamku.

Malia mendengus padaku, lalu menoleh pada Lydia lagi. "Baiklah. Apa lagi yang biasa Banshee lakukan?"

"Kau pikir aku tahu?" tanya Lydia kesal. "Aku tidak bisa melakukannya begitu saja. Aku tidak seperti kalian. Aku tidak punya cakar, atau mata yang dapat berubah warna, atau kekuatan super. Aku hanya punya suara-suara di kepalaku."

Usai mengatakan itu, Lydia menarik tanganku lagi, pergi meninggalkan Malia. Gadis yang kami tinggalkan itu tidak menyusul kami—aku tidak tahu ini hal baik atau tidak. Tapi kalau aku tidak salah lihat, aku sempat melihat mata Lydia agak berkaca-kaca, aku tidak yakin penglihatanku benar.

"Lyds, kau baik-baik saja?" tanyaku pelan.

Ia menggeleng lalu menghela. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Val. Aku merasa aku harus tahu tentang kata kunci kedua dan ketiga—apa Scott dan Stiles sudah memberitahumu?"

Aku mengangguk. "Scott memperlihatkanku lembar pertamanya tadi."

"Aku merasa ini tugasku untuk mencari tahu soal Deadpool ini—entah kenapa aku merasa begitu," ujar Lydia. "Tapi sejak semalam, sejak aku mendengar bisikan tentang nama Allison, aku sudah tidak dapat nama yang lain lagi. Aku ke ruang lukis, ke ruang musik, nihil."

"Lydia, kau butuh istirahat," ujarku pelan sambil tersenyum kecil. "Aku tahu ini hal penting, tapi kau jangan memaksakan diri. Walau hanya beberapa jam, kau bisa ... kau tahu, meliburkan diri sebagai seorang Banshee?"

Akhirnya Lydia membalas senyumku. "Kau tahu, aku sangat senang kau kembali ke sini."

Aku tersenyum lebar, lalu senyumku pudar saat aku ingat tentang betapa dinginnya Malia terhadapku. Oke, pertama kali aku bertemu dengan gadis itu adalah ketika ia datang ke rumahku untuk menyerahkan pedang dan foto mama Kira ke Scott. Saat itu menurutku ia tidak tahu sopan santun, tapi kumaklumi karena Scott bilang gadis itu sudah lama tidak menjadi manusia. Nah, sekarang kenapa dia jadi seperti memusuhiku?

"Eh, Lydia, apa aku melakukan kesalahan pada Malia?" tanyaku. Lydia menyerngit. "Aku merasa seakan dia tidak senang padaku."

Ia menaikan bahunya. "Kupikir dia cemburu padamu."

Sekarang aku yang menyerngit. "Aku? Cemburu kenapa?"

"Selama kau tidak di sini, Stiles sering meyebut namamu," kata Lydia. "Val ini, Val itu, dan sebagainya. Waktu di Meksiko, Stiles pernah bilang padanya agar jangan main pergi meninggalkan kami begitu saja. Malia bilang ia tidak akan meninggalkan Stiles, tapi ia akan meninggalkan yang lain. Stiles langsung bilang bahwa ia tidak boleh main meninggalkanmu, Val, kau tidak boleh seorang diri dan harus ada yang menjagamu. Kupikir Malia tambah cemburu."

"Kau yakin Stiles bilang begitu?" tanyaku pelan.

"Yakin seribu persen. Aku ada di sana saat Stiles mengatakannya. Kalimat yang ia ucapkan, ia seakan bilang bahwa kau adalah satu-satunya yang tidak ingin ia tinggalkan," jawab Lydia.

Aku menghela nafas berat. Sungguh, kenapa baru sekarang Stiles seperti ini? Atau sebenarnya dari dulu ia seperti itu tapi aku baru melihat dan mendengarnya sekarang, atau apa? Kenapa di saat aku merasa sudah bahagia dengan Derek, Stiles tiba-tiba serasa ingin menarikku padanya?

"Val, aku tahu ini terdengar aneh," gumam Lydia. "Tapi ... apa kau masih suka Stiles?"

Kutatap Lydia dengan ragu. Aku tidak tahu maksud pertanyaan itu, dan aku tidak tahu jawaban pastinya. Apakah aku masih punya sepercik rasa suka pada pemuda itu?

Aku menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Lyds. Aku tidak tahu," jawabku lemah.

.

.

~TBC~

Next: #ValTheVeela

.

.

A/N: Tidak berniat menjadikan ini fict trilogi, tapi jika Tyler Hoechlin kembali ke TW dan jadi aktor reguler lagi, maka fict ini jadi trilogi.