King of Shinobi
By…Ksatria
Rate : M
Genre : Adventure, Family, Romance, Mysteri
Disclaimaer : Bukan punya saya
Pair :Naruto x ?
Warning : Masih pemula dan cerita abal, gaje dan banyak lagi….
Chapter 34:
Summary : Naruto adalah anak yang di abaikan oleh kedua orang tuanya dan di anggap aib bagi seluruh desa Konoha sejak dia berumur kurang dari 4 tahun, setelah insiden terjadinya penyerangan pria bertopeng dengan mensumonkan kyubi ekor Sembilan pada Konoha dan disegel oleh Namikaze Minato kedalam tubuh Menma kakak dari Naruto dan mereka yang dipuji oleh warga desa dianggap sebagai keluarga pahlawan desa. Naruto yang berusaha mendapat perhatian mereka, kini merekalah yang menyesal atas perbuatan mereka dan ingin memulai kembali bersama Naruto untuk membuat keluarga yang bahagia.
"jadi begitu ya, aku akan mati..." ucap Naruto pelan mesikpun wajah datarnya tetap tidak hilang.
"Naruto..." gumam Jiraya yang merasa sedih sekaligus bersalah karena dirinya yang membuat Naruto menderita sampai memiliki impian yang sama seperti Madara.
"hehhhhh, ya, tidak masalah, hidup atau mati aku juga tidak perduli..." ucap Naruto lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Mendengar perkataan Naruto, mata Jiraya membulat begitu kaget seolah perkataan tersebut adalah keputusasaan. "jangan konyol Naruto, kau harus tetap hidup, tidak perduli seperti apapun itu..."
"jadi, tetap lah hidup meskipun harus membuang impianmu, Naruto..." ucap Jiraya pelan merasa sedih.
"jangan bercanda, aku hidup karena impianku, dan yang berhak menentukan ku hidup hanya lah diriku..." ucap Naruto tersenyum tipis dengan perasaan semangat.
"tenang saja, aku tidak akan mati sebelum mencapai impianku, jika aku mati maka itu sudah menjadi takdir bagiku dan aku tidak akan menyesalinya sama sekali, sampai jumpa lagi besok, aku akan datang lagi untuk latihan..." ucap Naruto pergi meninggalkan tempat sambil tersenyum dengan perasaan penuh semangat seolah, perkataan Ogama Sannin membuatnya berpikir untuk segera bertindak.
^Di Perjalanan^
Malam hari yang di terangi bulan bersinar terang, hembusan angin yang dingin menusuk sampai ketulang. Di perjalanan terlihat tiga orang sedang melangkahkan kakinya. "kenyangnya..." ucap seorang bocah berambut kuning jabrik yang tidak lain adalah Naruto sambil mengelus perutnya yang buncit karena kekenyangan.
"aaahhhhaaaaa, aku sangat lelah hari ini..." ucap seorang bocah berambut hitam berkulit pucat yang tidak lain adalah Sai sambil mengeluh dengan berjalan lunglai karena kelelahan.
"apa kamu baik-baik saja...?" tanya seorang bocah perempuan berambut merah berkacamata yang tidak lain adalah Karin.
"t-tenang saja, aku baik-baik saja..." jawab Sai yang langsung bersemangat kembali seolah tidak ingin membuat Karin khawatir.
"dasar, baru latihan segitu sudah lelah..." ucap Naruto datar.
"apa katamu...?apa kau tidak tahu bagaimana aku latihan begitu keras...?bukan saja sama Ebisu sensei, aku juga latihan sendiri, dasar baka..." ucap Sai kesal karena di katain seperti itu.
"sudah-sudah, kalian jangan ribut..." ucap Karin menenangkan mereka.
"ku harap aku juga bisa masuk ke tahap ketiga..." ucap Karin pelan sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan agak sedih.
Melihat ekspresi Karin, Sai mengerti perasaan Karin dan langsung mencoba menghiburnya. "maaf, karena aku kamu kalah, tapi kita masih bisa bersama kok..." ucap Sai mencoba menghibur Karin.
"tidak apa-apa, maaf aku masih mengungkit masalah pertarungan kita..." ucap Karin tersenyum membuat kedua pipi Sai memerah.
"sudah lah, yang berlalu biarlah berlalu, yang penting kamu tidak terluka parah..." ucap Naruto yang berhenti sesaat menenangkan mereka yang masih membahas masalah pertarungan mereka.
"Naruto..." ucap Karin dengan wajah memerah padam.
"si-sialan kau Naruto..." pikir Sai yang cemburu pada Naruto karena mampu membuat Karin bertingkah seperti itu.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan pulang mereka dari Warung Ramen Ichiraku, sambil mengobrol di perjalanan. Untuk sesaat Naruto masih memikirkan ramalan dari Ogama Sannin.
Pagi hari yang cerah di temani oleh suara merdu dari burung-burung yang terbang. Sinar mentari telah terbit dan menghangatkan tubuh, angin segar yang menggoyangkan dedaunan dan rerumputan hijau dengan tetesan air embun jatuh ke tanah. Suara aliran air sungai yang jernih begitu deras hingga terdengar seperti nyanyian bagi para pemancing.
^Kediaman Namikaze^
Di halaman perkarangan rumah, Menma sedang berlatih cukup keras bersama dengan Minato setelah melepas kan segel yang membuat chakra Menma menjadi tidak stabil.
Kushina dan Naruko sedang membawakan cemilan makan pagi sambil menyiapkan sarapan pagi.
"hmmmp, Nii-chan berlatih sangat keras..." ucap Naruko yang melihat kakaknya Menma sedang berlatih. Sedangkan Kushina hnaya menatap senyum terhadap Naruko berkata seperti itu.
Minato dan Menma yang sedang berlatih, melihat ke arah Kushina dan Naruko membawakan cemilan, langsung menghampiri nya. "arigatou, Naruko..." ucap Menma sambil mengelus kepala Naruko.
"hmmmmp..." ucap Naruko mengangguk sambil tersenyum.
"Nii-chan sangat hebat..." ucap Naruko.
"tentu saja..." ucap Menma yang tersenyum pada Naruko.
"Kaa-chan, Tou-chan, kemana Naruto nii...?kenapa dia tidak pulang-pulang...?" tanya Naruko tertunduk sedih.
Mendengar pertanyaa Naruko membuat Minato dan Kushina serta Menma ikut tertunduk sedih, karena kebahagian yang mereka rasakan juga seharusnya ikut berbagi bersama Naruto.
"t-tenang saja, Naruto sedang menjalankan latihan untuk pertandingan selanjutnya, ia pasti akan pulang..." jawab Minato menenangkan Naruko dengan senyuman agar tidak membuat Naruko khawatir.
"tapi, kenapa Naruto nii tidak latihan di sini saja bersama Tou-chan..." tanya Naruko yang tertunduk sedih.
"i-itu karena, Naruto sedang berlatih bersama senseinya, pasti cukup berat latihannya..." jawab Minato beralasan untuk menenangkan Naruko.
"ahhhhaaaa, Naruto nii-chan..." gumam Naruko menghela nafas kecewanya.
Sedangkan Kushina hanya dapat mendengar perkataan itu sambil menahan tangisannya. Karena ia juga merasa sangat sedih akan ketiadaan Naruto di rumahnya sendiri dan tidak menikmati kebahagian ini.
Tidak lama percakapan dan obrolan itu berlangsung, seorang pria berambut putih runcing panjang sampai ke pinggang di ikat ekor kuda yang tidak lain adalah Jiraya muncul dari kepulan asap tebal.
"yo, apakah latihannya semakin membaik...?" tanya Jiraya langsung menyapa.
"Sensei..." ucap Minato yang cukup terkaget dengan kemunculan Jiraya secara tiba-tiba dan langsung menyapa.
"maaf-maaf, kalau mengagetkan kalian, jadi bagaimana perkembangannya...?" ucap Jiraya berbalik bertanya sambil tersenyum tertawa kecil.
"sudah membaik, untuk sekarang Menma sudah mencapai perkembangannya..." jawab Minato memberi tahu.
"bagaimana dengan keadaan Naruto...?" tanya Kushina yang langsung menghampiri Jiraya dengan tatapan memaksa.
"t-tenang dulu..." ucap Jiraya pada Kushina yang berkeringat dingin karena tatapan penuh penekanan.
"Naruto baik-baik saja, dan dia sudah sangat berkembang..." jawab Jiraya menjelaskan.
"yokata..." ucap Kushina dengan perasaan lega.
"Se-Sensei kapan Naruto datang kesini...?" tanya Kushina.
"belum tahu, hanya saja aku tidak sempat untuk membicarakan hal itu..." jawab Jiraya yang mulai berkeringat dingin dengan tatapan evil Kushina.
"a-akan ku bicarakan saat latihan..." ucap Jiraya yang berkeringat dingin.
"baiklah..." ucap Kushina dengan tatapan evilnya lalu pergi bersama Naruko.
"ahhhhaaaa..." hela nafas Jiraya yang sudah lega.
"maaf Sensei..." ucap Minato.
"sudah lah, aku datang kemari ada yang ingin ku beri tahu sesuatu..." ucap Jiraya yang mulai dengan serius.
"kemampuan Naruto sudah sangat berkembang, bisa di katakan ia dapat melampaui ku hanya dalam 2 tahun..." ucap Jiraya yang duduk sambil memakan cemilan.
"sebegitu berkembangnya dia..." gumam Minato pelan.
"Naruto..." ucap Menma kaget mendengar penuturan Senseinya.
"semenjak dia mengatakan hal yang sama dengan pemikiran Madara, dan kemampuan miliknya yang masih misterius, ia saat ini di awasi sangat ketat oleh Tetua Konoha dan Petinggi lainnya..." ucap Minato memberi tahu.
"jadi begitu, impiannya sama seperti Madara..." gumam Jiraya yang mulai mengerti maksud dari Ogama Sannin.
"hmmmpp..." ucap Minato mengangguk.
"sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku katakan dan ini menyangkut dengan Naruto..." ucap Jiraya serius. Begitu juga dengan Minato dan Menma, yang agak terkejut dengan perkataan Jiraya tentang Naruto.
"Naruto bisa menggunakan Jutsu Kuchiyose, tapi bukan itu yang ingin ku katakan yang sebenarnya, secara rinci, Naruto dapat menggunakan Jutsu Kuchiyose dan memanggil Ogama Sannin..." ucap Jiraya yang membuat kaget Minato dan Menma.
"setelah dapat memanggil Ogama Sannin, Naruto mendapatkan sebuah peringatan dari ramalan Ogama Sannin..." ucap Jiraya yang membuat Minato dan Menma semakin terkejut.
"ramalan...?maksudmu Sensei...?" tanya Minato dalam kagetnya.
"dalam ramalan itu, Naruto harus melupakan impiannya, jika tidak ia akan mati dalam waktu dekat..." ucap Jiraya yang membuat Minato dan Menma bertambah terkejut dengan penuturannya.
"itu tidak mungkin kan...?" gumam Menma yang sangat terkejut seolah tidak percaya akan semua itu.
"kau pasti bercanda kan, Sensei...?itu tindak mungkin, Naruto akan mati secepat itu...?" ucap Minato dalam keterkejutannya.
"itu bisa saja, karena impian Naruto yang sama seperti Madara, bukan hanya semua orang yang ada di Konoha atau Negara lain saja yang akan menjadi musuhnya, tapi duniapun ikut memusuhinya..." ucap Jiraya menjelaskan semua itu sesuai dengan analisanya.
Minato dan Menma hanya dapat terdiam dalam keterkejutannya serta keheningan. Yang ada dalam pemikiran mereka adalah ketakutan akan kehilangan seseorang yang sangat berharga dan itu untuk kedua kalinya, bahkan untuk selama-lamanya.
Kushina yang belum tahu kabar tersebut, masih memasak di dapur bersama Naruko dengan senyum gembira. "tidak lama lagi, Naruto akan datang..." gumam Kushina yang sedang mengaduk masakannya.
"hmmmmp, Naruko tidak sabaran lagi..." ucap Naruko tersenyum senang sambil menaruh piring di atas meja.
Dengan kabar tersebut keheningan bercampur kegembiraan sesaat membawa hal yang tidak terduga. Terjadinya kesalah pahaman itu menjadi sebuah keguncangan. Telah tersiar kabar dari mulut kemulut. Pergerakan Anbu Elite Konoha dari para Petinggi dan Tetua Konoha mulai mengawasi Naruto dengan sangat ketat.
^Ruang Bawah Tanah^
"tidak kusangka kalau dia memiliki keinginan seperti itu..." ucap seorang pria tua dengan perban yang menutupi mata kanannya dengan tanda luka silang di dagunya dan tongkat ditangan kanannya. Tidak lain adalah Danzo.
"hmmmmp, saya sendiri mendengar nya Danzo-sama..." ucap seorang Anbu bertopeng beruang bercorak yang menunduk di hadapan Danzo.
"ya, aku tahu itu, aku juga tidak terkejut lagi dengan hal itu, karena dia sendiri memiliki hubungan dengan Shisui, tapi hal itu membuat aku tidak menyangka kalau dia akan memiliki pemikiran yang sama seperti Madara..." ucap Danzo dengan tatapan serius.
"apa yang harus kami lakukan Danzo-sama...?" tanya Anbu bertopeng kucing dengan corak.
"awasi saja dulu, bila sesuatu hal yang mencurigakan langsung habisi..." jawab Danzo dengan tatapan tajamnya beranjak dari tempatnya.
"ha'i..." jawab ketiga Anbu itu.
"kita tidak membutuhkan Madara kedua di Konoha ini..." ucap Danzo lalu menghilang dengan sunshinnya, begitu juga dengan ketiga Anbu itu.
^Di Perjalanan^
Sakura sedang berjalan-jalan. "haruskah aku membawakan bunga...?" gumam Sakura yang berhenti di suatu tempat toko.
"cantik sekali..." gumam Sakura memasuki toko bunga dan melihat bunga-bunga yang terpajang di toko.
"oh tidak..." gumam Sakura yang meilhat penjaga toko itu ternyata teman baiknya sekaligus rival abadinya tidak lain adalah Ino.
"oh, tidak biasanya kau datang kesini untuk membeli bunga kami..." ucap Ino dengan santainya.
"t-tidak, kenapa kau peduli...?selain itu, tidak biasanya kau mengurus toko..." ucap Sakura yang seperti biasa, lalu keliling mencari bunga yang cocok untuk di beli.
"aku akan memilih dengan cepat..." pikir Sakura.
"orang tidak suka bunga yang berakar ketika mereka sedang di rumah sakit karena mereka tidak menginginkan 'akar' di rumah sakit, jadi potonglah bagian pentingya saja..." ucap Ino yang membuat kaget Sakura untuk sesaat karena tahu yang dipikirkan oleh Sakura.
"a-ap yang kau katakan...?" ucap Sakura gugup dengan wajah memerah.
"bermain konyol tidak ada gunanya, kau ingin melihat Sasuke, kan...?" ucap Ino.
"Kaa-san, aku mau keluar sebentar..." ucap Ino dengan suara cukup keras pada Okaa-sannya.
"I-Ino..." ucap Sakura terkaget karena Ino mau ikut bersamanya.
"aku tidak akan membiarkan mu menjadi orang pertama yang berkunjung, aku ikut denganmu, seseorang akan sembuh jika dikunjungi..." ucap Ino.
"kampret, dasar Ino babi..." pikir Sakura kesal karena rencananya gagal.
"aku ambil bunga ini, setangkai 'Mawar' cinta..." ucap Ino mengambil bunga mawar.
"itu terlalu dibuat-buat, lalu aku ambil ini, 'Bunga Bakung', Setangkai Bunga Agung Yang Tidak Menyerah Pada Dingin Saat Musim Dingin, Melainkan Berharap Agar Musim Semi Dan Menunggu Akan Kehadirannya Yang Agung Dengan Harapan Agar Cepat Keluar Dari Rumah Sakit Secepat Mungkin..." gumam Sakura mengambil bunga bakung sambil membayangkan keindahan bunga itu.
"kau sudah mendapat cukup pengalaman..." ucap Ino.
"aku sudah bilang kalau aku tidak akan kalah dari mu..." ucap Sakura dengan suara keras dan lantang.
"oh, ya, ya, jadi satu bunga bakung, kan..." ucap Ino.
"uh, aku perlu dua..." ucap Sakura, lalu mengambil satu bunga bakung lagi.
"kenapa...? satu tidak apa-apa..." tanya Ino.
"tidak, satu lagi untuk Lee..." jawab Sakura.
^Di Jalan^
Setelah memilih dan mengambil bunga, Sakura dan Ino segera pergi ke rumah sakit, namun di perjalanan mereka mendengar suara kebisingan yang mereka kenal.
"sepuluh pesanan Kalbi..." teriak seseorang dari toko tersebut.
Didalam toko tersebut terlihat Chouji sangat bersemangat memakan daging panggang miliknya di temani Shikamaru dan Asuma. "kau yakin bisa makan, menontonmu hanya membuatku sakit..." ucap Shikamaru.
"ini punyaku, kan...?jangan makan sedikit pun, Shikamaru..." ucap Chouji yang begitu bersemangat.
"aku tidak akan memakan sedikitpun..." ucap Shikamaru.
Sedangkan Asuma sedang membuka dompetnya yang sudah kosong karena uangnya untuk membayar makan Chouji.
"ada apa dengan kalian, makan barbeque di tengah hari..." ucap Ino dari jendela toko.
"Ino dan Sakura..." ucap Shikamaru.
"Shikamaru, apa tidak sebaiknya kau melakukan beberapa latihan khusus atau sesuatu untuk persiapan ujian terakhir...?" tanya Ino.
"aku, setiap harinya, sangat gigih..." ucap Shikamaru dengan wajah membosankannya dan keluhannya.
"sedangkan Asuma hanya tertawa kecil. "sebenarnya, Chouji sudah bergabung dengan kami dalam pelatihan khusus..." ucap Asuma menjelaskan.
"benarkah...?jadi kau mengikutinya...?" ucap Ino yang merasa kurang yakin dengan tingkah Chouji seperti itu.
"yup, sebagai gantinya, dia akan mentraktir aku sebanyak barbeque yang bisa aku makan..." ucap Chouji yang begitu senang.
"aku mengerti..." ucap Ino yang tahu akan sifat Chouji seperti itu.
"oh, aku tidak seharusnya bertahan pada babak final..." ucap Shikamaru yang mengeluh.
"jangan konyol, ada banyak orang yang ingin berpartisipasi, tetapi tidak bisa..." ucap Asuma.
"itu benar..." ucap Sakura yang juga tidak terima dengan keluhan Shikamaru.
"dari apa yang telah aku dengar, bahwa mereka melakukan beberapa hal yang sangat sulit, lihatlah ke arah Team Guy dan Kurenai..." ucap Asuma.
"a-apa itu...?" ucap Shikamaru agak kegugupan.
"meskipun kita telah sampai sejauh ini, untuk mengalahkan secara total tidak akan menjadi sangat keren..." ucap Asuma.
"ya ampun, membosankan sekali..." ucap Shikmaru dengan nada mengeluh.
^Dalam Hutan^
Terlihat Tenten yang begitu antusias berlatih, ada banyak kunai yang menancap di tanah dan pohon. "apapun kondisinya, kita telah melampaui batas seorang manusia..." ucap Tenten yang begitu kelelahan.
"jadi aku telah menggunakan terlalu banyak chakra..." ucap Neji lalu terbaring ke tanah dengan kawah kecil terbentuk akibat jutsunya.
"Neji, apa kau baik-baik saja...?" tanya Tenten langsung menghampiri Neji.
^Di Tempat Pelatihan^
Kiba terus berlari dengan kunai di tangan kanannya siap menyerang lawannya, serta kurenai juga berlari ke arah Kiba dengan kedua kunai di tangan kanan dan kirinya. Shino mempersiapkan serangga miliknya yang sudah mulai tersebar. Hinata hanya dapat menononton di balik pohon yang tidak jauh dari mereka.
^Rumah Sakit Konoha^
"jadi kalian ingin melihat Sasuke Uchiha...?Cuma lima menit, aku tidak bisa mengizinkanmu berkunjung lebih dari pada itu, tubuhnya masih perlu beristirahat..." ucap Perawat itu memberitahu.
"ha'i..." ucap Sakura.
"Sasuke-kun, kau mempunyai pengunjung, dua gadis muda yang manis, hah..." ucap Perawat itu setelah mengetuk pintu dan masuk ke dalam, lalu begitu terkejut saat pasiennya sudah tidak ada di dalam kamar.
"Sasuke-kun, Sasuke-kun..." ucap Perawat itu, lalu mencari ke sudut ruangan dan membuka lemari.
"bajunya menghilang..." ucap Perawat itu kaget saat semua pakaian milik Sasuke telah tidak ada di dalam lemari pakaian.
"apa...?" kaget Sakura dan Ino.
"ini bahaya, dia dalam kondisi yang belum baik untuk jalan-jalan keluar, Dokter, Dokter..." ucap Perawat itu lalu berteriak keluar memanggil Dokter.
"Sasuke-kun kemana dia pergi..." pikir Sakura penuh dengan kekhawatiran.
^Tebingan Batu^
Terlihat Kakashi memanjat tebingan batu yang curam dengan tangan kanannya saja. Sedikit demi sedikit. "sial, tubuhku lemas, akankah aku berhasil dalam waktu...?" pikir Kakashi, lalu tanpa sengaja pijakan batu hancur dan terjatuh, namun dapat di tahan dengan tangan kanannya yang memegang tonjolan batu tersebut.
Lalu Kakashi mulai memusatkan chakranya kembali, dan mulai menaiki bebatuan curam itu, sedikit demi sedikit mulai menaiki dan hampir sampai. "heh, kau akhirnya berhasil kesini..." ucap Kakashi melihat Sasuke telah tiba di atas tebingan itu.
^Rumah Sakit Konoha^
Kembali ke rumah sakit, Sakura dan Ino masih duduk di tangga kecil dengan menghela nafas kecewanya sambil memegang bunga di tangan mereka.
"kami akan mencari Sasuke-kun, tetapi jika kebetulan kalian melihatnya, silahkan hubungi kami..." ucap Perawat itu yang telah menghampiri mereka berdua.
"ha'i..." ucap Sakura dan Ino.
"dan juga, kalian ingin melihat Lee-kun, bukan..." ucap Perawat.
"ya..." ucap Sakura dan Ino.
"dia juga dalam kondisi yang belum baik untuk bergerak, jadi harap di percepat kunjungannya..." ucap Perawat itu memberi tahu.
TOK...TOK...TOK...
"Lee-kun, kau mempunyai pengunjung, dua gadis muda yang manis, hah..." ucap Perawat itu setelah masuk dan kaget karena melihat pasiennya sudah tidak berada di tempatnya.
"hah..." kaget Sakura dan Ino yang juga melihat Lee tidak ada di kamarnya.
"benarkah, bahkan Lee-kun..." ucap Perawat itu yang mulai sangat khawatir dan panik.
"Lee-kun, Lee-kun..." teriak Perawat itu terus mencari Lee kesudut ruangan.
"Lee-san.." gumam Ino merasa khawatir.
"lihat..." ucap Sakura yang menunjuk ke arah jendela.
Mendegar perkataan Sakura, Ino pun melihat ke arah jendela yang di tunjuk oleh Sakura. Terlihat Lee sedang latihan push up dengan satu tangan.
"Lee-kun..." ucap Perawat itu yang melihat Lee sedang berlatih push up dari jendela.
"Sakura, ayo..." ucap Ino, yang langsung turun begitu juga dengan Perawat yang sudah berlari keluar.
"okey..." ucap Sakura yang juga ikut keluar.
"200 push up, jika, aku tidak bisa melakukannya, 100 jongkok satu kaki, 190..." ucap Lee yang push up dengan satu tangan.
"Lee-kun, hentikan..." ucap Perawat itu yang sudah berada di tempat Lee.
"191..." ucap Lee yang berhitung, dengan susah payahnya berpush up tanpa memperdulikan perkataan perawat.
"Lee-kun..." ucap Perawat itu mencoba menghentikan Lee.
"tolong jangan sentuh aku, jangan, ganggu, latihan ku..." teriak Lee yang tidak suka latihannya di ganggu.
Melihat kegigihan Lee, Sakura menjadi sangat prihatin.
'aku perlu dua...'
'kenapa...?satu tidak apa-apa...'
'tidak, satu lagi untuk Lee-san...'
'apa kau sudah mendegarnya Sakura, tentang Lee...?'
'apa...?'
'Lee, itu, luka-lukanya serius dan ia tidak bisa lagi melanjutkan sebagai seorang shinobi...'
Semua ingatan tentang pembicaraan di toko buga itu teringat kembali. "195, 196, 197, 198..." ucap Lee yang terus menghitung sambil mengingat lawan dan teman nya. Dengan susah payahnya Lee terus melakukan push up dengan satu tangan. "aku belum selesai..." ucap Lee.
'tidak ada nilai dalam usaha seseorang yang tidak percaya pada dirinya...' ucapan Senseinya teringat kembali di dalam pikiran Lee. Dan terus melanjutkan push upnya. "199, satu kali lagi, sekali lagi..." ucap Lee yang begitu berusaha dengan gigih namun pada akhirnya jatuh terbaring dengan kondisi tidak sadarkan diri.
"Lee-kun..." ucap Perawat itu langsung menghampiri Lee dan memeriksanya. Begitu juga dengan Sakura dan Ino yang sangat khawatir.
"aku akan pergi mengambil tandu, tolong awasi dia..." ucap Perawat itu langsung bergegas mengambil tandu.
"ha'i..." ucap mereka berdua.
Sakura dan Ino pun langsung menghampiri Lee yang terbaring tidak sadarkan diri.
"hay, kenapa anak laki-laki, memaksakan diri mereka sendiri dan begitu egois...?" ucap Sakura yang merasa sedih.
"jangan tanya kan itu padaku, kau tahu, aku ini perempuan..."
ucap Ino.
"gomen..." ucap Sakura.
Malam hari yang di terangin bulan, angin terus berhembus. Terlihat Dosu sedang ketakutan tengah melawan sesosok yang begitu sangat mengerikan. "s-siapa kau...?" ucap Dosu, melihat serangan yang begitu besar datang ke arahnya dan menghantamnya langsung.
"ahhhaaa...hhhaaa...hhhhaaaa..." terlihat Gaara dari Desa Suna begitu kelelahan.
Dua sososk bayangan yang terlihat jauh sedang menatap pertarungan yang tidak seimbang itu.
"luar biasa, jadi itu wujud sebenarnya..." ucap seorang pria itu.
"tapi, apa itu baik-baik saja...?dia adalah seorang ninja dari Desa Otto..." ucap seorang pria Dari Desa Suna yang memakai penutup kain di sebelah kiri wajahnya.
"tidak apa-apa, dia sudah lama mengemban tugasnya, aku pikir dia adalah kelinci percobaan dalam rangka melihat, kekuatan anak itu yang bernama Sasuke atau siapalah itu..." ucap seseorang pria berkacamata.
Dari balik tiang seorang pria sedang melihat dan menguping secara tidak sengaja. "kenapa, dia bersama Ninja Suna itu..." ucap seorang pria itu yang tidak lain adalah Hayate.
"tidak, itu tidak perlu lagi, sebenarnya, aku sudah di perintahkan untuk merebut Sasuke, tapi aku gagal..." ucap pria berkacamata tidak lain adalah Kabuto.
"apa yang kau katakan...?" tanya pria dari Desa Suna.
"itu benar..." ucap Kabuto yang menceritakan semua itu.
"lalu, jika mereka tahu kalau kau mengadakan pertemuan rahasia di sini bersamaku, rencana untuk menghancurkan Desa Konoha dan semuanya akan sia-sia..." ucap pria dari Desa Suna.
Hayate yang mendengar di balik tiang sangat terkejtut. "aku mendengar bahwa kau adalah tangan kanannya Orochimaru, terungkap pada mereka dan acuh tak acuh datang untuk bertemu denganku, kau harus menjadi orang bodoh..." ucap pria dari Desa Pasir.
"ya, tepatnya, identitasku yang sebenarnya tidak diketahui, aku membiarkan mereka mencari tahu, aku ingin tahu sejauh mana Desa Konoha akan bertindak, bahkan setelah itu tidak akan terlambat untuk merebut Naruto dan Sasuke..." ucap Kabuto.
"jika kalian gagal, kami akan segera mundur, ini adalah rencana yang pada awalnya di timbulkan oleh Desa Otto, jadi, Desa Suna tidak terlibat sampai saat terakhir, ini adalah kehendak Kazekage-sama..." ucap pria dari Desa Suna.
"apa maksud semua ini...?" pikir Hayate yang merasa curiga.
"baiklah, ini adalah rencana yang dilakukan dari Desa Otto..." ucap Kabuto menyerahkan gulungan rahasia.
"okey..." ucap pria dari Desa Suna lalu menyambut gulungan rahasia itu.
"dan tolong, beritahu mereka tentang rencana ini secepat mungkin..." ucap Kabuto.
"ya, aku tahu..." ucap pria dari Desa Suna.
"oke, aku pergi..." ucap Kabuto yang beranjak ingin pergi.
"berpikir kalau negara sekutu kami Desa Suna telah bekerja sama dengan Desa Otto, aku harus menceritakan tentang ini kepada Hokage-sama secepatnya..." pikir Hayate yang hendak pergi namun tertahankan oleh ucapan Kabuto.
"hhmmmmpp, ngomong-ngomong aku akan mengurus dan membereskannya..." ucap Kabuto yang membuat Hayate terdiam dalam ketakutannya.
"tidak, biar aku saja yang melakukannya, sebagai anggota Desa Suna dari Negara Kaze, aku harus melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk sekutuku, selain itu, ini hanya seorang tikus kecil, itu mudah saja..." ucap pria dari Desa Suna.
Mendengar hal itu Hayate pergi dengan sunshin miliknya, begitu juga dengan pria dari Desa Suna pergi dengan meninggalkan kepulan asap.
Dengan kecepatan penuh, Hayate berlari, dari atap ke atap. Namun terhalang oleh pria dari Desa Suna yang langsung menyerang Hayate dengan kunai, dengan cepat pula Hayate menghindarinya dengan bersalto ke belakang.
"heh, ternyata kau, tuan pengawas ujian..." ucap pria dari Desa Suna.
"cih..." mendecih Hayate yang begitu gemetaran.
"apa yang kau lakukan disini sendirian...?" tanya pria dari Desa Suna.
"nampaknya aku tidak punya pilihan, meskipun harus bertarung..." ucap Hayate yang mengeluarkan tanto di punggungnya.
Handseal satu tangan telah terangkat, dan Hayate langsung menyerang pria dari Desa Suna, dengan tantonya.
Jutsu Konoha Mikazuki No Mai
Ucap Hayate menyerang pria dari Desa Suna dengan kecepatan yang luar biasa, lalu melompat ke udara dan langsung menebaskan pedangnya ke pundak pria dari Desa Suna.
"aku tidak dapat menariknya keluar..." pikir Hayate yang tidak dapat menarik pedangnya.
"jutsu ini adalah, Mikazuki No Mai, mampu menguasai itu pada usia yang muda, seperti yang di harapkan, Desa ini penuh dengan ninja berbakat, kemampuanmu dengan pedang yang hebat, namun pedang sejatinya adalah unsur yang bisa di hentikan, namun pedang Kaze No Kuni tidak bisa di hentikan oleh siapapun..." ucap pria dari Desa Suna, yang memegang pedang Hayate sambil memuji.
Tangan nya di angkat sedikt ke atas, dan angin muncul di sekitar Hayate serta menebasnya dengan cepat.
Setelah cukup menghabisinya, ia di tinggalkan dengan penuh luka dan darah yang terus mengalir deras dari luka tersebut.
Sesosok bayang muncul dan menghampiri tubuh Hayate yang penuh dengan luka. Sesosok itu mulai menyembuhkan luka kecil terlebih dahulu. "lukanya terlalu dalam, aku perlu mengoperasikan nya terlebih dahulu, dia juga kehilangan banyak darah..." pikir sesosok bayangan itu.
Hayate mulai sadar sedikit demi sedikit. "Sensei, apa yang terjadi padamu...?" tanya sesosok bayangan itu.
Hayate melihat sesosok bayangan itu, melepaskan topengnya. "Naruto, kau kah itu..." tanya Hayate pelan, dan hanya di balas anggukan.
"yokata, Naruto segeralah tinggalkan Konoha, kau...kau sedang di incar..." ucap Hayate pelan.
"apa yang terjadi...?siapa yang melakukan ini padamu...?" tanya Naruto tanpa memperdulikan perkataan Hayate.
"Naruto, itu tidak penting, kau harus segera pergi, Desa Konoha tidak lama lagi akan di serang..." ucap Hayate memberitahu tanpa memberi kan jawaban dari pertanyaan Naruto.
"yang lebih penting adalah keselamatanmu Sensei, aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakitimu, tidak akan kubiarkan mereka lari begitu saja, setelah melukaimu seperti ini..." ucap Naruto dengan tatapan tajam nan dingin, mata sharinganya pun telah muncul secara otomatis dan terus berputar. Melihat emosi Naruto yang memuncak dan matanya yang berubah, membuat Hayate semakin terkejut.
Esok pagi yang cerah dengan sinar mentari bersinar terang, telah di penuhi dengan burung gagak berkeliaran terbang kemana-mana. Tidak jauh dari kumpulan burung gagak yang berterbangan di atas atap, lima Anbu Elite memakai topeng telah berada di atas tempat para gagak berkerumunan. Yang di lihat oleh para Anbu itu tidak lah lain adalah mayat dari Hayate dengan luka sabetan dan darah kering dari tubuhnya. Salah seorang Anbu yang memakai topeng porselen yang menyerupai seekor kucing dengan tiga garis merah, satu garis vertikal di dahi dan dua garis horizontal, satu di pipi masing-masing, berambut panjang lurus berwarna violet ungu sampai ke pinggang berjongkok mengambil pedang milik Hayate.
"Hayate, apa yang terjadi...?" gumam Anbu itu sambil memegang pedang milik Hayate.
To Be Continue...
Terima kasih atas reviewnya…
Maaf lama update, karena harus memperbaiki chapter sebelumnya….
ARIGATOU GOZAIMASU…
LOG OUT
