"Forehead! Lihat ini!" seru Ino seraya memperlihatkan layar laptopnya pada Sakura. Ia tersenyum begitu lebar hingga mengingatkan Sakura akan sosok kuchisake-onna, sosok hantu urban Jepang.

Sakura sedang duduk di kedai kopi yang terletak di dalam gedung kantornya untuk menikmati segelas kopi sekaligus sepotong kue di sore hari sepulang kerja. Kebetulan Ino sedang ingin mencoba kedai kopi yang sama sekaligus menyelesaikan pekerjaannya sehingga memutuskan untuk bertemu di kedai kopi bersama Sakura.

"Astaga! Apa yang kau lakukan? Kau bilang sedang memiliki deadline desain dari klienmu?"

Ino mengubah posisi laptopnya sehingga layar laptopnya kini menghadap ke arah Sakura yang duduk di seberangnya.

"Lihat berita ini! Sebagai fans berat Shu, aku merasa sangat bahagia."

Sakura meringis melihat tindakan Ino. Wanita itu sama sekali tidak tahu jika ia telah menjadi kekasih Sasuke. Dan seandainya Ino sampai mengetahuinya, Sakura tak bisa membayangkan seperti apa reaksi wanita itu.

"Kau lebih memilih Shu ketimbang deadline pekerjaanmu, pig?"

Ino tersenyum lebar, "Tentu saja. Melihat Shu dan mendengar lagu Black Ash memberi energi tambahan agar aku bisa menyelesaikan deadline. Lagipula sebenarnya deadlineku juga sudah hampir selesai, tuh."

Sakura memutuskan untuk menatap layar laptop Ino. Dan ia terkejut sekaligus tersenyum lebar ketika membaca headline dari portal berita online terkemuka.

Sasuke sama sekali tak pernah memberitahunya soal kelanjutan kasus pemfitnahan terhadap dirinya, dan diluar dugaan ternyata hasilnya sangat baik.

Sakura masih tak percaya dengan berita menyatakan bahwa direktur T Company telah menjadi terdakwa atas kasus pemusnahan terhadap karyawan, kondisi pabrik yang tidak memenuhi standar kelayakan, pemfitnahan hingga mencemarkan nama baik orang lain, bahkan perencanaan terhadap kasus pembunuhan terhadap anaknya sendiri yang berasal dari hubungan di luar nikah menurut hasil persidangan.

"Bagaimana mungkin kasus seperti itu bisa diselesaikan begitu cepat? Apa ini hoaks?" Sakura terlihat ragu dengan pernyataan di berita tersebut.

Ino mengendikkan bahu, "Entahlah. Mungkin kinerja kepolisian Jepang semakin baik?"

Sakura mengendikkan bahu. Ia juga tidak tahu bagaimana detilnya karena Sasuke tak menceritakan detil padanya meski lelaki itu tampaknya tahu sesuatu.

"Mungkin saja."

"Memangnya Shu-kun tidak bilang padamu?"

Sakura menggelengkan kepala, "Tidak. Dia sama sekali tidak bilang apapun padaku."

Ino menatap sahabatnya lekat-lekat. Sampai detik ini ia masih merasa iri, bagaimana bisa sahabatnya begitu beruntung hingga bisa memiliki koneksi langsugn dengan Shu. Padahal ia dan para fans lainnya sudah merasa senang ketika bisa datang ke konser Black Ash dan bertemu langsung dengan Shu.

"Rasanya kau beruntung sekali, sih. Bagaimana bisa kau memiliki teman-teman yang populer seperti Shu dan Rui? Mungkin aku harus sering-sering menempel denganmu agar keberuntunganmu tertular padaku."

Sakura tertawa mendengar ucapan Ino. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa Ino menjadi sasaeng fans Shu.

"Sebetulnya apa yang membuatmu tergila-gila pada Shu, sih? Memangnya apa bagusnya dia?"

Ino mendengus kesal, "Kecilkan suaramu, baka. Fans Shu bisa membunuhmu kalau mereka mendengarnya."

Sakura benar-benar tak habis pikir dengan banyak orang yang begitu mengagumi Sasuke. Barangkali perasaan yang ia miliki terhadap Sasuke berbeda dengan para fans itu karena ia sudah begitu lama mengenal Sasuke dan sudah mengetahui setiap sisi dari lelaki itu. Seandainya Sakura tak mengenal Sasuke, mungkin saja ia akan bertindak sama seperti salah satu fans yang tergila-gila dengan Sasuke.

"Aku penasaran, tahu."

Ino menarik nafas dan menghembuskan perlahan, "Memangnya siapa yang tidak mengagumi sosok lelaki keren seperti Shu? Tubuhnya seksi, tinggi, wajahnya tampan, jago bermain drum dan piano. Dia tipikal lelaki bad boy yang keren, tapi bertanggung jawab dengan keluarga. Sempurna sekali, kan? Ya Tuhan!"

Ino memekik di akhir kalimat. Ia tersenyum hanya dengan membayangkan Shu di dalam imajinasinya dan membuat Sakura meringis karena malu sekaligus risih.

Sakura berpikir jika ia harus segera menyadarkan Ino sebelum wanita itu bertindak seperti salah satu fans gila. Ia pernah mendengar soal sasaeng fans salah satu boyband di Korea yang menguntit idola mereka dengan taksi dan meminta detektif untuk mendapatkan celana dalam bekas idola mereka. Sungguh mengerikan.

"Shu tidak sekeren yang kau bayangkan, tahu."

Ino menatap Sakura dengan tatapan tidak percaya, "Masa, sih? Jujur, aku membayangkan dia sebagai sosok lelaki yang ahli di tempat tidur."

Sakura tak dapat menahan diri untuk tertawa saat mendengar ucapan Ino. Ia memang belum melakukannya dengan Sasuke, tetapi ia yakin jika Sasuke sebenarnya masih tak memiliki pengalaman dalam hal itu.

"Dia bahkan tidak pernah berpacaran, tahu."

"Ya ampun. Kau polos sekali, sih. Memangnya harus memiliki pacar untuk melakukan hal semacam itu? Jaman sekarang, orang bahkan bisa melakukan seks dengan orang yang tidak dikenal."

"Orang sedingin Shu tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Lagipula kurasa dia tidak punya waktu untuk melakukannya," sahut Sakura dengan nada yang terdengar meyakinkan meski ia sendiri merasa ragu.

"Mengapa tidak? Meskipun keluarganya seperti itu, hidupnya tidak mungkin seputur latihan, konser dan keluarganya, kan? Pasti dia juga memiliki waktu luang. Apalagi dia seorang pria dewasa yang menarik, mana ada wanita yang tidak mau bercinta dengannya?"

"Setahuku kehidupannya benar-benar begitu, kok. Kau sudah mendengar soal anggota band yang memiliki jadwal latihan gila-gilaan, kan? Sasuke-kun benar-benar tipe lelaki yang memikirkan keluarganya hingga sering menanyakan soal keluarganya setiap kami chatting saat tur."

Ino mendelik dan menyeringai kemudian, "Kau bilang 'Sasuke-kun'? Kenapa wajahmu mendadak berseri-seri? Jangan-jangan…"

Ino memutus ucapannya dan menatap Sakura lekat-lekat.

Sakura menyadari arah pembicaraan Ino dan berpura-pura tidak mengerti. Ia bahkan tak sadar jika sudut bibirnya terangkat secara refleks ketika membahas kekasihnya yang imut dan menggemaskan.

"Apa?"

"Kau jadian dengan Shu, ya?"

"Kau gila, pig?!" pekik Sakura tiba-tiba tanpa berpikir. Ia begitu terkejut dengan ucapan Ino hingga bereaksi secara spontan.

Untunglah jarak antar meja di kedai kopi cukup jauh dan suara Sakura tidak terlalu kencang sehingga tak ada orang yang menoleh padanya.

"Oh, ayolah. Ekspresi wajahmu sejak tadi mencurigakan, tahu. Lagipula kau ini sangat mudah untuk dibaca."

Wajah Sakura memerah dan ia memutuskan untuk jujur pada sahabatnya. Ia percaya jika Ino akan menjaga rahasianya, seperti yang dilakukan wanita itu selama bertahun-tahun mereka bersahabat.

Sakura menganggukan kepala dengan pelan, "Rahasiakan ini, ya. Kami memang baru jadian."

Ino segera bangkit berdiri dan memeluk Sakura dengan erat hingga Sakura terkejut, "Selamat, ya. Aku benar-benar bahagia Shu mendapatkan wanita sepertimu."

Sakura membalas pelukan Ino dengan erat sebelum saling melepaskan pelukan masing-masing dan Ino kembali ke tempat duduknya.

"Tenang saja. Aku tak akan merebut Shu darimu, kok. Lagipula aku hanya sekedar fans, tidak lebih."

Sakura tersenyum. Ia sudah sangat mengenal karakter Ino dan ia tahu wanita itu tak akan merebut lelaki milik sahabatnya. Lagipula sekalipun Ino ingin merebut Sasuke, belum tentu Sasuke tertarik pada Ino. Lelaki itu adalah tipikal orang yang akan bersikap dingin pada siapapun yang tidak disukainya.

"Aku tahu, pig."

"Aku benar-benar senang, lho. Rasanya begitu menyenangkan ketika idola dan sahabatku berbahagia."

Sakura tersenyum sebelum berkata, "Sebetulnya Sasuke-kun itu lelaki yang sangat polos. Aku tidak bohong."

Ino menatap Sakura dengan atensi penuh, "Oh, ya? Polos bagaimana?"

"Dia belum pernah pacaran dan bahkan bertanya pada anggota band lain mengenai apa yang harus dilakukan saat pacaran dan cara mengetahui wanita yang sedang ngambek karena berpikir aku marah padanya. Padahal aku sama sekali tidak bermaksud begitu."

"Oh, ya? Ya ampun, benar-benar berbeda dengan bayanganku."

"Tidak cuma itu. Ketika kami makan bersama, tiba-tiba dia bertanya apakah aku ingin melakukan seks?"

Ino meringis, "Saat makan? Benar-benar tidak sabar sekali."

Sakura menggeleng, "Bukan begitu. Dia bertanya karena mempraktikan saran dari Naruto dengan cara yang salah. Padahal Naruto cuma berkata kalau dia sebaiknya bertanya padaku apakah aku ingin melakukan seks dalam hubungan kami, dan dia langsung bertanya begitu."

Ino tertawa geli seketika. Image Sasuke sebagai lelaki keren yang 'berpengalaman' runtuh seketika saat mendengar cerita Sakura. Kini ia membayangkan Sasuke sebagai sosok lelaki yang sangat polos dan seperti remaja yang baru puber tanpa sedikitpun pengalaman.

Sejujurnya Ino lebih memilih sosok lelaki dewasa yang keren dan berpengalaman, bukan yang polos seperti Sasuke. Dan ia merasa jika Sasuke bukanlah tipenya setelah ia mengetahui soal lelaki itu.

Ponsel Sakura berdering dan ia menatap nama sang penelpon serta mengangkatnya, "Halo."

Terdengar suara Sasuke di seberang telepon, "Kau dimana?"

"Di kedai kopi di dalam gedung kantorku. Memangnya kenapa?"

"Kau sendiri?"

Terdengar suara berisik di seberang telepon. Sakura dapat mendengar suara Naruto dan Kiba di seberang telepon.

"Tidak. Aku sedang bersama Ino. Kau sendiri sedang bersama si Naruto baka dan Kiba?"

"Hn. Aku juga bersama personil Black Ash lainnya. Ajak saja temanmu itu ke restoran Cloud Nine. Bilang saja ruangan atas nama Shu pada pelayan."

Sakura mengernyitkan dahi, "Kau tidak keberatan kalau aku mengajaknya? Aku takut kau merasa tidak nyaman dengannya."

"Anggap saja ucapan terima kasih untuk dukungan gadis itu. Lagipula teman-temanku juga akan senang."

"Baiklah. Aku akan tiba setengah jam lagi."

Sasuke mematikan telepon tanpa menjawab ucapan Sakura. Namun Sakura sudah terbiasa dengan sikap lelaki itu. Ia tahu jika Sasuke bukanlah tipe orang yang mengungkapkan kepedulian dengan kata-kata.

Sakura menatap Ino dan berkata, "Habiskan minumanmu. Setelah ini ikut denganku, yuk."

Ino mengernyitkan dahi, "Hah? Memangnya kau mau kemana? Sasuke-kun tercinta mengajakmu pergi kencan mendadak?"

Sakura menggelengkan kepala, "Dia sedang bersama teman-temannya dan meminta kita untuk menemuinya."

Ino tersenyum seketika dan jantungnya berdetak jauh lebih keras. Ia tak mengira bisa bertemu dan berinteraksi dengan sang idola secara langsung.

.

.

Sasuke mendesah melihat kelakuan teman-temannya yang sangat berisik. Beberapa botol alkohol diletakkan di atas meja dengan dua botol alkohol yang sudah kosong meski ia baru berada di restoran selama lima belas menit.

Sebetulnya Sasuke sedang ingin pergi bersama ibunya untuk merayakan hasil keputusan pengadilan jika dirinya benar-benar korban fitnah dari direktur T Company. Namun keempat anggota bandnya mendadak datang ke rumahnya dan memaksanya untuk ikut pergi makan-makan sebagai perayaan. Dan ibunya malah menyuruhnya pergi dengan alasan ingin pergi berjalan-jalan bersama temannya.

Pada akhirnya Sasuke menyerah dan terpaksa mentraktir teman-temannya untuk makan malam di salah satu restoran all you can eat sesuai permintaan mereka dan memesan private room demi menjaga privasi mereka.

Pintu ruangan mendadak terbuka dan salah seorang pelayan mengantar Sakura serta seorang wanita berambut pirang dan bermata biru yang terlihat cantik.

Wanita berambut pirang itu segera menarik atensi para personil Black Ash lainnya yang terang-terangan tersenyum padanya, sedangkan tatapan wanita itu tertuju sepenuhnya pada Sasuke.

Mendadak wanita berambut pirang itu membungkukkan badan dalam-dalam dan berkata dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, "Aku tak menyangka bisa bertemu dengan kalian yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi maupun konser. Terima kasih atas kerja keras kalian. Aku benar-benar mengagumi dan mendukung kalian sepenuh hati."

Sakura tak tahu apa yang harus ia lakukan selain menepuk punggung wanita itu. Ia segera berkata, "Ini Yamanaka Ino, sahabatku. Selama ini dia begitu mendukung Sasuke-kun, bahkan saat rumor tidak jelas itu menyebar, lho."

Ino tak bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Perasaannya membuncah dan hormon endorfin di dalam dirinya seketika melonjak drastis.

Para personil Black Ash menatap Sasuke dan ia hanya terdiam. Sasuke benar-benar tak tahu harus bagaimana dalam situasi seperti ini. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang akan membuat Sakura merasa cemburu.

"Cepat katakan sesuatu, teme. Bilang kalau kau berterima kasih atas dukungannya dan kau senang bertemu dengannya," bisik Naruto dengan suara pelan.

Sasuke menatap Naruto dan Naruto membalas tatapannya serta menganggukan kepala, pertanda jika Sasuke memang harus mengatakannya.

"Terima kasih telah mendukung kami. Senang bertemu denganmu, Yamanaka-san."

Ino mengangkat kepala dan mengusap air matanya serta bertemu pandang dengan Sasuke maupun personil Black Ash lainnya yang tersenyum padanya.

Sakura mengajak Ino untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Wanita itu berhadapan dengan Sasuke, sedangkan Ino duduk bersebelahan dengan Sakura dan berhadapan dengan Naruto.

Naruto tersenyum pada Ino dan berkata, "Kau gugup, ya? Tidak usah merasa gugup. Kami malah merasa senang dengan kedatanganmu, kok."

Ino hanya mengangguk pelan. Ia terlalu gugup untuk menjawab meski biasanya ia bukanlah tipikal orang yang mudah gugup.

Sejak tadi Sai terus memandang Ino, bahkan sejak wanita itu masuk ke dalam ruangan. Ia tak bisa melepaskan pandangannya terhadap Ino yang menarik atensinya.

"Kau cantik, Ino," ucap Sai tanpa sadar.

Seketika para personil Black Ash menoleh saat mendengar suara Sai. Kiba dan Naruto tampak sangat terkejut, namun seketika menyeringai.

"Hey, Neji. Sebaiknya kau tukar tempat dengan Ino, deh," seru Kiba pada Neji yang duduk berhadapan dengan Sai.

Sai terkejut dengan apa yang ia ucapkan dan merasa gugup seketika. Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya tanpa ia sadari.

"Oh, oke. Kau tidak keberatan kalau aku duduk di sebelah kekasihmu kan, Sasuke?"

"Tidak."

Ino hanya tersenyum tipis mendengar pujian Sai. Wajahnya merona merah dan ia terpaksa bangkit berdiri ketika Neji sudah berdiri di belakangnya, menunggunya agar meninggalkan kursi dan pindah ke kursi yang sebelumnya diduduki Neji.

Sakura tersenyum pada sahabatnya yang kini bangkit berdiri dan meninggalkan kursinya. Dan ia melirik Neji yang tersenyum tipis, sedangkan Kiba dan Naruto sengaja berdehem keras-keras.

Sakura menatap Sasuke yang bahkan tidak menatapnya sama sekali ketika mereka sedang duduk berhadapan. Sakura tahu kalau Sasuke sendiri merasa gugup dan canggung saat ini.

"Wah, wah. Dua orang sedang gugup saat ini," ucap Kiba sambil menyeringai dan menatap Sasuke serta Sai secara bergantian.

"Astaga! Aku mulai merasa diriku seperti obat nyamuk sekarang. Kau punya kenalan, Neji?"

Neji menggeleng, "Kalau aku memiliki kenalan, pasti aku sudah memiliki pacar sekarang."

Kiba menatap Naruto dan berkata, "Aku punya kenalan. Anjingku Akamaru sedang butuh pasangan, nih. Kau mau?"

Naruto meringis dan menepuk punggung Kiba keras-keras, "Brengsek kau!"

Kiba hanya tersenyum dan ia melirik Sasuke serta berkata, "Aduh. Leader-san dingin sekali dengan kekasih sendiri? Seharusnya kau menyapa kekasihmu. Kalau perlu, cium dia."

Wajah Sakura memerah seketika, begitupun dengan Sasuke yang semakin gugup.

"Cepat cium!" seru Naruto dengan keras. "Kalau tidak, kau harus menghabiskan semua bir di meja, teme!"

"Cium!" teriak Kiba lagi.

Seketika para personil Black Ash mulai berteriak-teriak dan menyuruh Sasuke untuk mencium Sakura. Bahkan Ino dan Sai pun mulai ikut menyoraki mereka.

Wajah Sakura terlihat semakin merah, begitupun dengan Sasuke yang gugup meski wajahnya tampak datar.

"Oi. Bukankah kau bilang ingin menjadi kekasih yang romantis? Cepat lakukan, teme," seru Naruto.

Kini Naruto bangkit berdiri dan menarik Sasuke untuk berdiri dari kursinya. Dengan perasaan tidak nyaman, Sasuke bangkit berdiri dan berjalan ke arah Sakura yang duduk di hadapannya.

Sasuke meletakkan satu tangan di atas puncak kepala Sakura sedangkan ia sedikit membungkuk dan mengecup kening Sakura dengan singkat sebelum kembali ke tempat duduknya.

"Apa-apaan itu? Singkat sekali!" seru Naruto dengan jengkel.

Sasuke berdecih kesal, "Aku tidak akan memberi hiburan gratis untuk kalian."

Wajah Sakura memerah bagaikan kepiting rebus dan ia berkata dengan jengkel, "Kau pikir aku dan Sasuke-kun pasangan di film drama? Tentu saja kami tidak akan memberikan tontonan gratis pada kalian!"

Naruto menyeringai dan menatap rekan-rekannya, "Lihat. Mereka serasi sekali, kan? Aku jadi tak sabar menunggu mereka menikah. Lebih tepatnya, menunggu makan gratis, sih."

Naruto mengakhiri ucapannya seraya terkekeh. Para personil Black Ash lainnya, juga ino, ikut mengiyakan ucapan Naruto.

Sasuke menatap Sakura lekat-lekat tanpa berkata apapun. Namun ia jelas terlihat sangat gugup karena mencium kening kekasihnya, terlebih lagi di depan banyak orang.

Jantung Sasuke berdebar semakin keras ketika ia melihat ekspresi malu-malu gadis merah muda itu. Menurutnya Sakura terlihat manis dan ia tak ingin melepaskan pandangannya dari sang kekasih.

-TBC-


Author's Note :


Fanfict ini akan tamat di chapter depan & selanjutnya akan dibuat epilogue. Kemungkinan besar epilogue akan diupdate bersamaan dengan chapter terakhir.