Akatsuki no Yona

Chapter 35 – Because You Smile to Me

.


Kilas balik selesai, tapi masih ada satu hal yang belum jelas.

Yun mengangkat tangan "bagaimana kalian bisa sampai ke masa lalu?".

"oh, itu ulahku" ujar Hakuren mengangkat tangan dan memberitahu, setelah mengumpulkan 4 gadis kembar itu bersama Yahiko, Yuria, Nari, Zen, Bam dan Hwaryun di satu tempat, Hakuren yang menemukan cara untuk kembali ke masa lalu mengirim mereka semua kembali ke masa lalu setelah bertanya pada si kembar "jika kalian diberikan kesempatan untuk bertemu dengan ayah kalian, apa kalian akan menerima kesempatan itu?".

"tentu saja kami menjawab iya, tapi ternyata di belakangnya ada jebakan" gerutu Hanna.

"jebakan apaan?" tanya Hakuren.

"menyegel setengah kekuatan mereka dan membuat jiwa raga mereka kembali ke masa kanak-kanak itu jebakan namanya" jawab Yahiko.

"itu karena kakakku tak ingin jika kalian jatuh ke tangan orang yang salah dan kekuatan kalian disalahgunakan... anggap saja salah satu bentuk kasih sayang kakakku pada..." ujar Nari yang terpotong karena Hakuren menutup mulutnya "diam, Ri, diam...".

"kenapa kau lakukan ini semua?" tanya Yona.

Hakuren tertawa sinis "kenapa, ya... sederhana, mungkin karena aku ingin melihat senyuman dan tawanya yang tulus, sekali lagi di depanku".

Ruri menyeringai "kau bilang kau membenci ayahmu, tapi nyatanya tindakanmu berkata lain, Hakuren... akui saja, kau lakukan ini semua untuk menolong ayahmu, kan? bahkan setelah semua yang terjadi, apa kau tak memikirkan kemungkinan kalau aku akan membunuh ayah kalian agar ayahku tetap hidup? bukankah kau tahu, aku wanita yang bisa melakukan hal kejam jika demi orang yang kusayangi".

"sayangnya aku tak senaif adikku Nari... kalau aku sih, takkan menahanmu atau melarangmu melakukannya, terlepas dari kenyataaan bahwa aku tak ingin melawanmu karena kau terlalu mengerikan untuk dijadikan lawan, Ruri... sekarang, setelah tahu kalau memang dia yang salah, aku bahkan tak peduli jika dia mati dibunuh" ujar Hakuren mengangkat bahu.

"kakak?!" pekik Nari menoleh ke arah Hakuren.

"tapi... aku tak ingin melihatmu mengotori tanganmu..." ujar Hakuren menatap lurus Ruri.

Ruri menutupi kedua matanya, terkekeh dan menatap Hakuren tajam "lihat siapa yang bicara? Masih punya muka untuk menemuiku setelah apa yang terjadi? dengan senang hati, sekarang juga akan kukirim kau ke tempat ibumu sesuai ucapanku".

"Ruri, berhenti!?" ujar Jae Ha menahan Ruri dengan memeluknya dari belakang.

"lepaskan aku, paman?!" protes Ruri yang tak bisa mengayunkan Tsu Quan Dao karena Jae Ha menahan tangannya.

"mana bisa!? Dinginkan kepalamu?!" ujar Jae Ha meminta Hak dan Kija membantunya.

Sama seperti saat di Sensui, Kija merasa ragu mengulurkan tangannya dan Hak tentu saja diam dengan ekspresi seolah berkata 'kenapa aku harus menahannya?' di samping Yona yang jelas terlihat bingung.

Lily ikut panik "Yahiko, hentikan dia".

"aku tak bisa turun tangan kali ini" ujar Yahiko.

Hakuren memegang wajah Ruri "apa sudah tak ada lagi pintu maaf darimu?".

Tanpa ragu, Ruri menendang Hakuren dengan mata berkaca-kaca "jangan bercanda?! kau pikir aku bisa memaafkan... orang yang telah membunuh ayahku?!".

"Kija, Shina, bantu aku?! Tenaganya kuat sekali?!" pinta Jae Ha yang menahan Ruri, andai Jae Ha tak menahan kedua tangannya mungkin Ruri sudah menampar bahkan menghajar Hakuren.

"Zen, Bam, tahan ayah kalian~" pinta Hanna.

"baik, tuan putri" ujar Zen menahan Kija dan Bam menahan Shina.

Hanna memegang wajah Zen "kau panggil aku apa tadi? sudah kubilang, tak perlu seformal itu pada kekasihmu sendiri".

"HAH!?" ujar Kija dan Hak melongo.

Saat Nari menahannya, Hakuren menyeka darah di ujung bibirnya yang berdarah akibat ditendang Ruri sekuat tenaga "bukan untuk ayahku, tapi untukku sendiri?! terhadapmu yang bahkan tak mengenal sosok ayahmu akibat perbuatan ayahku, apalagi yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku dan meminta maaf padamu sebagai gantinya selain mengganti bagian masa kecilmu yang hilang?!".

"tunggu... karena itu kau kembalikan kami ke masa kanak-kanak kami? Agar kami mengenal ayah kami di masa kanak-kanak kami?" ujar Umi mengerutkan kening.

"Jae Ha, lepaskan saja..." ujar Hak merebut Tsu Quan Dao dari tangan Ruri.

Setelah Jae Ha melepaskan Ruri, Ruri langsung menampar Hakuren "apa perlu kuulangi kata-kataku saat itu? jika kau memang ingin aku memaafkanmu, kau hanya perlu memenuhi satu permintaanku... menghilanglah... jangan pernah lagi muncul di hadapanku...".

Hakuren menggenggam tangan Ruri "itu sama saja kau memintaku mati dan bagiku itu lebih buruk dari kematian?!".

Ruri menepis tangan Hakuren dan memegang tangannya yang gemetar "berterima kasihlah karena aku tak langsung membunuhmu setelah kau mencoba mendekatiku dengan maksud balas dendam pada ibuku... untuk pertama kalinya aku sangat bersyukur dengan kekuatanku, tapi bukankah aku sudah bilang terakhir kali kita bertemu, jangan pernah muncul di hadapanku lagi atau aku akan membunuhmu... rasanya sangat menyakitkan jika kau berada di dekatku... aku ingin semua hal yang berhubungan denganmu menghilang?! Lenyaplah!?".

Melihat Ruri mengatakan hal itu sambil menahan air matanya, Hakuren memeluknya erat dan menciumnya sehingga mereka yang ada disitu terbelalak.

"lebih baik jika kau memiliki kenangan buruk tentangku... dengan begitu kau takkan bisa melenyapkanku dari ingatanmu..." ujar Hakuren memegang wajah Ruri, ekspresi kerasnya yang dingin berubah tersipu merah karena melihat wajah Ruri, mata Ruri yang terbelalak menatapnya berurai air mata dengan pipi yang memerah membuatnya merasa wajah Ruri yang berurai air mata justru terlihat sangat cantik dan manis "jika kau ingin ada yang disalahkan, salahkan aku... kau boleh membenciku, jika dengan membenci seseorang bisa menghilangkan kesepianmu maka bencilah aku sebanyak yang kau mau, tapi jangan minta aku menghilang dari hadapanmu...".

Yahiko merebut Ruri dan memukul Hakuren sekuat tenaga sambil memeluk Ruri dari belakang "kau membuat nafsu membunuhku membuncah, Hakuren...".

"Yahiko, tahan amarahmu..." ujar Yuria.

"bagaimana aku tak marah? tunanganku dicium laki-laki lain di depanku?!" teriak Yahiko.

"akhirnya diumumkan juga..." ujar Umi bertepuk tangan.

"aku mengerti kau sulit percaya padaku karena kesalahanku tapi jika kau memang membenciku dan tak bisa memaafkanku atau mempercayaiku lagi..." ujar Hakuren menyerahkan pedangnya ke tangan Ruri, mundur sambil merentangkan tangannya "bunuhlah aku... aku tak keberatan mati di tangan gadis yang kucintai...".

"aku marah bukan karena aku merasa dikhianati olehmu tapi karena aku tak terima... apa salah ayah dan ibuku sampai harus mengalami hal itu? dan kau yang terlalu mirip dengan ayahmu, mengingatkanku atas apa yang terjadi pada mereka berdua" ujar Ruri menyembunyikan wajahnya.

"jangan samakan aku dengan ayahku... lebih baik aku mati ketimbang melepaskan orang yang kusayangi".

"tapi pada faktanya, kau selalu membuatnya menangis... dia kujaga sejak kecil bukan untuk diserahkan pada orang yang hanya bisa membuatnya menangis" ujar Yahiko mengelus kepala Ruri.

Yona memegang lengan Ruri dari belakang "hentikan... tak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pembunuh...".

"sebelum kau mati, jawab pertanyaanku dan akan kupikirkan cara untuk menghabisimu sesuai jawabanmu..." ujar Hak menutupi kedua mata Ruri dari belakang dan mengambil pedang di tangan Ruri "aku ingin tahu sejauh apa keseriusanmu? jika kau hanya memaksakan perasaanmu secara sepihak maka levelmu tak ada bedanya dengan bocah egois...".

"aku tahu, kekuatannya membuatnya dijauhi tapi aku sadar kalau dia tetap gadis biasa saat aku sadar kalau dia juga bisa merasa kesepian... melihatnya yang bisa memahami segalanya dengan cepat dan tawa polosnya yang seolah tanpa kekhawatiran, membuatku paham kalau hatinya tulus dan aku ingin dia bisa selalu tersenyum".

"nyatanya kau selalu membuatnya menangis" gerutu Yahiko.

"jika aku masih hidup saat itu dan kubilang kalau aku takkan merestuinya?".

"akan kubawa dia kabur jika dia menginginkannya, terserah jika orang mengataiku bodoh tapi aku tak akan menyerah soal perasaanku, karena aku hanya akan menyerah jika dia memintaku menyerah dan dia bisa lebih bahagia bersama orang lain".

"lalu, bagaimana denganmu, Yahiko?".

"ibarat bunga yang bersinar saat mekar di tengah kegelapan, itulah bunga langka terindah yang pernah mekar dari semua bunga... keberanian dan kebaikan hati, Ruri memiliki keduanya dan itu membuatnya terlihat seperti bunga yang mekar di tengah kubangan lumpur kehidupan... sejak kecil, dari luar Ruri terlihat baik-baik saja karena ketegarannya, meski hatinya terluka, dia bisa berpura-pura tak ada masalah dan meski dibenci, pasti Ruri pasrah saja, itu sebabnya aku merasa tak bisa membiarkannya... aku ingin melindunginya... meski dia tak meminta atau menginginkannya, meski seluruh dunia berbalik memusuhiku, aku akan tetap melindunginya karena sampai taraf itulah aku membutuhkannya..." ujar Yahiko yang mengecup ubun-ubun Ruri.

"kau puitis..." gumam Ruri menutupi wajahnya yang memerah, detak jantungnya tak beraturan karena Yahiko memeluknya dari belakang.

"tahan kelakuan kalian di hadapan orang tua kalian" ujar Lily menjitak kepala Yahiko "hebat juga putrimu, bisa membuat dua laki-laki ini mabuk kepayang".

"yang hebat itu putramu, dia sangat memerhatikan Ruri sejak kecil, ya" ujar Yona tertawa.

"ibu sama anak seleranya sama, ya" celetuk Yun.

"betul" angguk Jae Ha.

"menurutku kau malah mirip ibumu, karena aku tak naif seperti ibumu" ujar Hak.

"hei!? kau menghinaku, ya!?" protes Yona mengguncang-guncang Hak.

"...maafkan aku" ujar Ruri menundukkan kepala di depan Hak.

"tidak perlu merasa bersalah padaku... kuakui kau punya kemiripan denganku, tapi kau juga memiliki kebaikan hati ibumu... tak perlu merasa bersalah atas perasaanmu yang terlanjur ada karena selamanya perasaan tak bisa disalahkan" ujar Hak mengelus kepala Ruri dan tersenyum "kau sudah berjuang keras selama ini...".

Ruri langsung memeluk erat Hak sambil menangis setelah mendengar ucapan Hak "aku selalu... ingin bertemu denganmu... ayah...".

"bukan hanya kau saja yang berpikir begitu, kak" ujar Umi memeluk Hak dari belakang.

"kakak curang, curi start duluan..." sahut Hanna memeluk Hak dari samping.

"iya, kami juga mau!?" ujar Rui menangis dan memeluk Hak.

"sesak, oi..." protes Hak.

"biarin..." sahut ke-4 putrinya serentak.

"tak apa, kan? tadi kan denganku sudah, sekarang giliranmu" ujar Yona tertawa.

"duh, aku pasti nangis jika putriku bilang begitu padaku" ujar Jae Ha menangis terharu.

"itu sudah nangis, ayah" ujar Hwaryun tertawa.

"ah, aku memang tak mempermasalahkan soal perasaanmu tapi bukan berarti aku mau merestui hubunganmu dengan anak dari pria itu..." ujar Hak tersenyum dengan aura angker sambil memegang bahu Ruri.

"maaf, Ruri, tapi kali ini ibu setuju dengan ayahmu~" ujar Yona dengan ekspresi yang sama.

Ruri menundukkan kepala, maklum dengan reaksi orang tuanya dan tersenyum saat mendengar nasihat Yona "aku paham, ibu, ayah...".

"aku adiknya secara pribadi lebih setuju kalau kak Ruri bersama Yahiko..." ujar Umi dibarengi anggukan kepala Hanna dan Rui.

"kurasa tindakanmu memanggil Yahiko untuk menghentikan kak Ruri yang hampir membunuh Hakuren sudah tepat" ujar Hanna mengelus kepala Rui.

Hakuren tersenyum "mungkin segalanya akan lebih mudah jika aku bisa melepaskanmu dan seharusnya aku tak menyukaimu seperti ini... kau juga tak perlu terluka jika sejak awal aku mempercayakanmu pada Yahiko, tapi... karena aku tahu ini akan jadi yang terakhir, aku tak ingin lari atau berbohong lagi".

"apa maksud..." ujar Ruri terhenti karena Hakuren memeluknya erat "aku bersyukur karena bisa bertemu denganmu... meski aku tak bisa bersamamu lagi, tersenyumlah dan berbahagialah bersama Yahiko...".

"ganjaran dari jurus untuk membawa kita ke masa lalu dan mengembalikan kita adalah nyawa si pengguna jurus... dalam hal ini, nyawa kakakku..." ujar Nari.

"Yahiko, jaga Ruri baik-baik..." ujar Hakuren melepaskan Ruri dan menoleh ke arah Nari "Nari, aku duluan...".

Nari tersenyum dan meneteskan air mata "nanti kalau kau ketemu ibu duluan, titip salamku".

"iya... selamat tinggal..." ujar Hakuren menutup mata perlahan sambil meneteskan air mata, tubuhnya memudar dan berubah menjadi kumpulan burung merpati yang terbang ke langit.

Ruri terduduk lemas "memangnya... siapa yang minta kau untuk mengorbankan nyawa, dasar bodoh?!".

Saat Yahiko menepuk bahunya, Ruri menangis di dekapan Yahiko yang memeluknya erat "aku benci ini... kenapa air mata ini selalu keluar jika aku mengetahui ada kematian di dekatku... tak peduli kawan atau lawan...".

"itulah kelembutan hatimu... jangan anggap itu kelemahanmu..." ujar Yahiko menepuk-nepuk punggung Ruri.

Nari menyiapkan tasbih dan Kum Kang Jae di kedua tangannya "sejak awal keberadaan kita di masa lalu pasti akan mengubah masa depan, itu sebabnya harus ada satu orang yang tinggal untuk memastikan kalau kita semua akan tiba di masa depan yang baru dan sekarang, waktunya menunaikan tugasku... memulangkan kita semua...".

Setelah Nari merafalkan mantra, tubuh mereka, sisa sepuluh orang yang datang dari masa depan memudar, berubah menjadi kumpulan sinar yang berkelip seperti kunang-kunang. Tiap anak memberikan salam perpisahannya pada orang tuanya masing-masing.

Saat Yona menangis, Rui memeluknya dan tersenyum "jangan khawatir, kita pasti bertemu lagi di masa depan, ibu... kali ini, bersama ayah...".

"ayah, satu pesan ibu... kali ini tepati janjimu, jangan menyusulku terlalu cepat dan rawat anak-anak kita dengan baik, akan kutendang kau dari akhirat ke neraka kalau kau mati lagi kali ini... hal sama berlaku untuk paman Hak, katanya ibu takkan memaafkanmu jika membuat bibi Yona menangis lagi" ujar Nari memeluk Soo Won dan tersenyum sebelum menghilang.


Yona mendapatkan kembali tahtanya dan kembali ke rumahnya tercinta. Soo Won masih ada di penjara, seharusnya ia mendapatkan hukuman mati atas perbuatannya pada raja Il tapi Yona tak menginginkannya "sulit menentukan hukuman untuknya jika mengingat ia dikenal sebagai raja yang baik selama ini...".

"kenapa menghela napas begitu?" ujar Hak muncul dari belakang, meletakkan teh untuk Yona yang disiapkan Min Soo.

"calon pengantin, masa cemberut begitu?" goda Lily yang muncul dan meletakkan oleh-oleh berupa Sakuramochi yang ia bawa dari Sensui "silakan menikmati~ tenang saja, aku juga sudah bawa stok mochi pengantin* untuk kalian berdua, permisi".

"Lily!?" pekik Hak dan Yona.

Persiapan pernikahan mereka berdua memang sedang berjalan (setelah muncul anak-anak dari masa depan itu, jadi terbongkar oleh semua). Hakuren dan Nari yang masih bayi (baru setahun bulan November ini) dibawa ke Fuuga karena Mundok ingin merawatnya, tentu saja Agni yang masih ada di Kouka membantunya. Kyo Ga dan Joo Doh tetap menjadi jenderal suku Api dan suku Langit setelah Yona mengampuni mereka meskipun Joo Doh saat itu sudah berniat seppuku untuk menebus kesalahannya tapi Lily menamparnya (lagi) bolak-balik.

"daripada memilih mati, lebih baik tebus kesalahan yang kau buat pada Yona, pria bodoh?!".

"ini ketiga kalinya anda menampar saya, nona Lily..." ujar Joo Doh mengelus wajahnya yang sakit akibat ditampar dan tersenyum "tapi, yah... terima kasih...".

Joo Doh yang mengantarkan dokumen perjanjian kerja sama yang baru dengan kerajaan Xing untuk ditandatangani Yona bertanya "nampaknya putri Kou Ren dan putri Tao meminta anda pergi bersamanya ke Fuuga nanti untuk ziarah ke makam mendiang permaisuri Aina, apa anda keberatan?".

"kenapa tidak? Sekalian nanti kita minta mereka bawa pulang Agni" ujar Yona menyerahkan dokumen dan sempat menahan Joo Doh yang hendak beranjak "Lily baru saja tiba, kenapa tak kau sapa dia?".

"tapi kaget juga, bisa-bisanya Lily dengan jenderal Joo Doh..." ujar Hak menghela napas.

"tak apa, kan? toh, Yahiko anak yang manis~ dia lebih mirip Lily ketimbang Joo Doh".

"yah, meskipun masih ada sedikit dilema, jauh lebih baik daripada membiarkan Ruri jatuh ke pelukan Hakuren..." gerutu Hak.

"sepertinya kau akan jadi ayah yang bad mood saat pernikahan putrinya nanti" ujar Yona yang tertawa geli.

"mereka aja belum lahir?!".

"tentu saja, rencananya kan tunggu Yahiko lahir dulu, lagipula aku sudah janjian dengan Lily".

Menggunakan status Aina sebagai putra kandung tuan putri Maya, sepupu Kou Ren dan Tao alias putri kerajaan Xing, hubungan baik dengan kerajaan Xing bisa terjalin dan Yona berniat mengatur pertemuan Hak dengan Kaisar Kai saat ini, Yue. Kekaisaran Kai Selatan dan Utara kini telah bersatu dengan Yue dan Yohime sebagai Kaisar dan Permaisuri yang dipilih rakyat. Jae Ha dan Yun yang diutus sebagai pembawa pesan baru saja kembali, memberi kabar baik bahwa Kaisar dan permaisuri bersedia menemui Yona (pasca pernikahannya tentunya).

"Yona?!" ujar Lily masuk kamar dan menggenggam kedua tangan Yona "bisa beri jenderal Joo Doh cuti beberapa hari?".

"untuk?" tanya Yona.

"dia sudah melamarku dan katanya mau ke rumahku" jawab Lily dengan mata berbinar.

"KYA!? Selamat, Lily!?" ujar Yona memeluk Lily.


Setahun kemudian, Lily melahirkan anak laki-laki yang sehat saat langit berawan di siang hari di tengah musim gugur "namanya Yahiko".

Saat Yahiko berusia beberapa bulan, di awal musim dingin Yona mengandung anak-anaknya yang lahir pada tanggal 7 bulan 7 di musim panas tahun berikutnya.

Hak yang duduk di samping Yona menunjuk satu-satu anaknya yang lahir "namanya... putri sulung Ruri, putri kedua Umi, putri ketiga Hanna dan putri bungsu Rui".

"Yona yang memberi namanya, ya... tapi apa artinya?" tanya Yun.

Ruri adalah nama warna batu Lapis Lazuli yang terkalung sebagai liontin yang diberikan Yona pada Hak, dengan harapan agar anak yang lahir bisa melindungi dan memberi keberuntungan pada orang-orang sekitarnya.

Umi adalah laut yang sesuai dengan warna matanya dan rambut hitamnya yang bergelombang seperti ombak laut, sesuai sifatnya yang tenang seperti laut, nama ini Yona dapat dari tempat ia pertama kali bertempur, di lautan.

Hanna adalah 'bunga' yang mekar seperti tanda lahir berwarna merah di tubuh Hanna, sesuai warna rambutnya dan matanya yang bagaikan bunga merah dan biru yang mekar.

Rui adalah air mata, dengan harapan agar anak yang lahir dapat menjadi anak yang lembut dan bisa mengerti penderitaan orang lain.

"nama yang bagus" ujar Hak mencium kening Yona "istirahatlah, kau pasti lelah...".

Yona tersenyum melihat anak-anaknya yang terbaring di sampingnya "senang bisa bertemu kalian lagi, anak-anakku...".

Sesuai takdir yang telah digariskan di atas kertas,

Ruri berjodoh dengan Yahiko

Umi (meski sempat ada ganjalan) akhirnya diizinkan menjalin hubungan dengan Tae Yeon

Hanna yang menjalin hubungan dengan Zen? tentu saja tak ada masalah dari kedua orang tuanya

tapi belum ada yang tahu, kalau Rui yang kelak akan menikah dengan pangeran Kekaisaran Kai, pangeran Hisui, kelak akan melahirkan Shin, Kaisar yang akan menyatukan 5 kerajaan ditambah Kekaisaran Kai dan kerajaan Kouka menjadi daratan China.


*Mochi pengantin = mochi berwarna putih yang dimakan sepasang pengantin selama 3 hari pasca menikah.