Balasan Review

.

Naruto bisa terbang ketika menggunakan chakra choumei? Kita akan lihat nanti yah,… aku juga menghindari Naruto yang sudah over power.

Untuk Senju Arashi, aku mau nanya, kamu nyaranin apa MEMERINTAHKANKU? Kenapa aku harus melakukan apa yang kau inginkan? Jika merasa lebih hebat, buat fict sendiri dan lakukan sesuai mau mu, entah kau akan mengisi percakapan bagaimana itu hak mu. Ini adalah fictku dan jalan ceritanya, kapan dan bagaimana aku menguraikan ceritanya harus terserah aku Karena aku AUTHORNYA. Jika anda tidak suka, tidak usah baca. Aku bukan pesuruh anda yang bisa anda perintahkan untuk membuat dongeng untuk menina bobokan anda. Tapi thanks untuk dukungannya

Pakura di sini masih hidup, dan mengenai akan menjadi bagian dari tim kecil Naruto, aku masih memikirkannya. Naruto tidak akan memiliki elemen uap.

Tentang update, akan ku usahakan seminggu sekali, tapi aku tidak janji karena padatnya kuliahku sekarang.

Mengenai rencana Kzekage. Hummpph.. masih samar pastinya dan biar waktu yang mengungkapnya.

Makanya bro.. bikin akun lah, public cerita juga dan sama-sama kita ramaikan fanfiction Indonesia. Ajak juga teman-temannya yang lain. Masa fict Indonesia semakin sedikit dan memudar hanya karena flamer tidak berarti.

Banyak yang menanyakan tentang Naruto akan memaafkan ortunya atau tidak, akan kembali ke keluarganya atau tidak. Ku tegaskan lagi, sakit itu jika kau ingin sesuatu tapi yang kau inginkan tidak ada lagi di depanmu. Seperti itu yang akan ku buat pada keluarga Naruto, bukan hanya sekedar pergi karena kecewa di abaikan lalu balas dendam, tapi karena alasan yang lebih hidup dari itu.

Tentang Karin dan bagaimana dengannya, sudah ada bayangan dalam chap ini.

Aku juga heran, kenapa begitu banyak yang menyudutkanku karena tidak up yah? Padahal banyak author lain yang memiliki cerita bagus tapi tidak di tekan bahkan di maki sepertiku? Ini masalah yang aneh. Padahal tidak ada yang mengenaliku.

Wah.. banyak yang minat ma naruxhina yah.. katanya sih mainstream, tapi kalo ceritanya di buat lebih hidup dan berbeda dari yang lain, apa masih mainstream? Romeo dan Juliet juga adalah cerita pasangan yang mainstream, tapi kenapa kisahnya di anggap kisah terromantis sedunia yah?

Tentang akung.. hahaha aku jga bingung tentang itu.. Gomenasai….

Sebenarnya alurnya ini juga sudah kupotong karena berhubung NS sebentar lagi akan selesai (Untuk Volume I) dan aku tidak ingin jarak keduaceritaku terlalu jauh. Bila perlu akan kubuat barengan.

Untuk para reader yang merasa tidak di balas, berarti pertanyaan anda masih belum bisa di ungkapkan atau akan terjawab di chap ini. Terima kasih atas dukungan kalian semua.

Naruto bukan kepunyaanku, dan ada banyak typo di fictku ini. Nanti kalo typo sudah tidak ada, kalian tidak tau bagaimana mereview fictku heheheh (hanya alasan sih.. asllinya malas )

.

Sebelumnya…

.

"HAHAHAHA.. NAMIKAZE NARUTO.. KAU BERADA DALAM GENGGAMANKU" teriak Gaara senang, ketika mangsanya jatuh dalam jebakan buatannya. Pasir miliknya melilit kaki Naruto dan menjalar ke arah betis, kemudian ke paha dengan cepat dan membungkus tubuh Naruto yang dalam keadaan shok tidak menyangka akan serangan ini.

"Ti-tidak…TIDAK.." teriak Karin berdiri dengan cepat dari belakang Naruto,

Sementara itu, Hinata yang mengaktifkan Byakugannya, melebarkan kedua matanya, terkejut akan apa yang ia lihat. "na-Naruto-Kun.." gumamnya, menggerakkan tubuhnya bergerak ke kiri, dan berlari ke arah Naruto.

"Hinata.. Tunggu.. apa yang terjadi?" tanya kiba bingung, menarik lengan rekannya itu, menahannya agar tidak bergerak..

"Na-Naruto-kun dalam bahaya.. lelepaskan aku.. Kiba.." runtuk Hinata.

.

.

Konspirasi

.

.

Di tempat lain, tempat rahasia Naruto.

Matahari terik menyinari tempat itu, gubuk kumuh kecil tempat bocah blonde membaringkan tubuhnya setelah kelelahan melawan salah satu ninja kelas S ber kedok krimal yang tidak bisa di kalahkan oleh ninja sekaliber dirinya. Bisa kabur darinya membawa barang berharga milik sannin itu bukanlah hal yang bisa di lakukan oleh semua orang. Jika saja ia tidak memiliki Sharingan dan mangekyou, pastilah sekarang ini ia akan terbenam di dalam tanah.

Orochimaru bukanlah lawan yang bisa di pandang sebelah mata, ia adalah seorang sannin yang pernah menjadi kadidat Hokage. Pengalamannya dalam pertarungan dan tekhnik-tekhnik yang ia miliki bukanlah kacang-kacangan dan bisa di samakan dengan Shinobi biasanya.

Perlahan bola mata ungu violet membuka, menatap langsung ke pintu ruangan yang di tinggalkan dalam keadaan terbuka, sehingga matahari bisa menyelinap masuk. Pandangan yang awal mulanya buram itu perlahan fokus, sampai akhirnya meraih kejernihan yang ia inginkan.

'Ouh.. dimana aku?' pikir sosok blonde itu memperhatikan ke sekelilingnya. 'oh.. aku lupa.. rupanya aku di sini' lanjutnya lagi, menggerakkan tubuhnya untuk duduk di atas lantai bangunan kumuh itu.

'Belum pernah rasanya aku selelah ini sebelumnya. Belum pernah aku merasakan kehabisan chakra seperti ini sebelumnya. Mangekyou ini memakan chakra jauh lebih banyak di bandingkan aku berlatih..' pikirnya lagi, memegangi mata kirinya. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah gulungan yang tergeletak tidak jauh dari ia duduk.

Sebuah senyuman ia lepaskan saat itu, ketika ia mengingat dari mana asal gulungan itu, terlebih bagaimana ia mengambilnya. Sebuah sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, terniang di dalam kepalanya.

'Aku bisa membayangkan bagaimana gilanya si phidophile itu, tidak bisa melakukan apa-apa ketika kontrak Kuchiyesenya di rebut di depan matanya sendiri' sebuah seringaian ia lepaskan di tengah wajah lesu yang ia pajang.

Ia lalu bergerak lagi, sepertinya akan berdiri. 'Ouh… tubuhku serasa remuk..' pikirnya sebelum memaksa otot-ototnya untuk mengikuti perintah otaknya. Akhirnya ia bisa berdiri, meluruskan kedua tangannya, merentangkannya dan menarik napas panjang di sertai pejaman matanya.

'Aku butuh ramen.. Ramen yang banyak' Pikrinya membuka kembali kedua matanya. 'tapi sebelumnya aku harus membersihkan tubuhku terlebih dahulu sebelum bau ini menjadi racun dan membunuhku' lanjutnya, melangkah ke arah ruangan kecil di pojok gubuk kumuhnya itu.

.

.

Padang Pasir suna, Kuburan Monster

"NARUTO/KUN" terdengar suara teriakan Karin dan Hinata yang bersamaan melompat akan menghentikan serangan Gaara. Tapi tidak seperti yang mereka bayangkan, Karena sebuah seringaian evil sudah terlihat di wajah Jinchuriki Suna itu.

Sabaku Sōsō" gumamnya sambil menggerakkan telapak tangannya, seolah akan meremuk pasir yang telah ia ciptakan membungkus Naruto.

"TIDAK.." kembali kedua gadis itu berteriak keras, dengan raut wajah super khawatir. Karin dengan sensorik yang aktif, begitu juga Hinata yang tidak melepaskan pengawasan Byakugannya dari Naruto.

Brukkk..

Suara itu terdengar bersamaan dengan di aktifkannya Jutsu Gaara. Jinchuriki itu menyipitkan kedua matanya, ketika ia menemukan sesuatu yang janggal. Seharusnya ia sudah bermandikan darah Naruto saat ini, tapi yang ia dapati hanyalah pecahan kayu yang telah remuk di dalam pasirnya.

'Kawarimi..?' pikir Gaara terkejut, yang langsung menebarkan pengasannya mencari keberadaan Naruto. Kedua gadis yang tadinya khawatir, berhenti bergerak, setelah mengetahui yang mereka khawatirkan ternyata tergantikan oleh sebuah jutsu pengganti saja.

"mencari sesuatu?" suara Naruto terdengar dari belakang Gaara. Pemilik rambut merah pendek itu melebarkan kedua matanya terkejut, kemudian membalikkan wajahnya. Bersamaan dengan itu, Naruto sudah menggerakkan kepalang tangannya yang sudah ia persiapkan sebelumnya sebagai ucapan selamat datang kembali.

"hentikan ini kalau kau mampu Tanuki.." gumam Naruto sambil menggerakkan tinju kanannya yang sedikit lagi akan menyentuh rahang Gaara. Pasir pelindung Jinchuriki itu muncul, menghalau serangan itu, melindungi sang majikan. Tapi tidak sesuai dengan perkiraannya.

Naruto hanya menyeringai, sementara Gaara terkejut, melebarkan kedua matanya ketika melihat apa yang akan terjadi. Kepalang tangan itu mendorong pasir, memberikan tekanan kuat sampai akhirnya menembusnya dan di hentikan oleh rahang kiri Gaara.

Bruk….

Pukulan itu mengenainya dengan telak, melemparkan Gaara ke belakang dengan keras dan cepat, terpantul beberapa kali di atas pasir, menjadikan badannya sebagai rem untuk menghentikan laju terjangan tubuhnya karena sebuah serangan Naruto.

"GA-GAARA.." teriak Temari khawatir melihat adik bungusnya terlempar sejauh itu dengan keras, sekitar 10 meter.

"Ba-bagaimana bisa pukulan itu me-menembus perisai Ga-Gaara?" gumam Kankuro terkejut, tidak menyangka kalau hanya dengan sebuah kepalang tangan saja, sudah mampu mengoyak perlindungan pasir adiknya.

"Syukurlah Naruto-kun sempat menggunakan Kawarimi.." gumam Hinata lembut, berhenti di tempat dengan tangis bahagia.

"Hinata.. kau bodoh, kembali dan bersembunyi bersamaku sebelum mereka menyadari kalau kita ada di sini" ungkap Kiba yang muncul di belakang wanita pemilik rambut lavender itu, menyeret paksa rekan setimnya itu kembali ke balik batu. Kebetulan mereka saat itu berada di belakang Agak jauh, jadi mereka tidak ketahuan.

"Huh.. kupikir ia akan mati seperti rekanku,,, syukurlah.." ungkap Karin, berdiri menggunakan lututnya, tersenyum menatap Naruto.

"Aku senang masih sempat menggunakan tekhnik yang sebenarnya tidak ingin ku pelajari ini padamu, tanuki" gumam Naruto, terlihat bercanda menatap kepalang tangan kanannya sendiri yang baru saja di hadiahi ke rahang Gaara.

"hahaha.." terdengar tawa Gaara, cukup pelan. Naruto mengerutkan keningnya bingung mendengar Jinchuriki yang tertawa setelah di hadiahi Human strengthnya. "kau sungguh sangat menghiburku, Namikaze Naruto.." lanjutnya, bergerak dari posisi terlentangnya, perlahan berdiri.

'Apa itu? perisai? ' pikir Naruto penasaran, ketika melihat adanya retakan di wajah Gaara, retakan seperti keramik yang akan hancur, di sertai seringaian Gaara yang semakin mengerikan saja. Ada sebuah retakan besar, seperti bekas kepalang tangan Naruto di wajah kiri bocah berambut merah itu.

"Kau benar-benar menghiburku,, ibu mengingnkan darahmu, Namikaze…" kembali lagi Gaara berbicara dengan raut wajah menyeramkan. Pasir-pasir pelindung Gaara yang tadinya di tinggalkan karena terlempar serangan Naruto, perlahan bergerak kembali ke pemiliknya. Tidak sampai di situ saja, pasir-pasir itu seolah di sedot masuk ke kulit Gaara, memperbaiki retakan-retakan di wajah Jinchuriki itu, mengembalikan semua seperti sedia kala, seperti tidak terjadi apa-apa saja.

"hehe.. kau memilki kemampuan mengendalikan pasir yang menarik. Tidak hanya menggunakannya sebagai penyerang dan pelindung, tapi juga sebagai pelapis kulitmu agar tidak terluka. Sangat menarik." Ungkap Naruto yang malah tertarik bukanya takut dengan kemampuan Jinchuriki ekor 1 itu.

Bersama Temari dan Kankuro

"aku baru melihat orang yang malah tertarik dengan tampang menyeramkan Gaara" komen Temari tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Kankuro menganggukkan kepalanya setuju. "Si Naruto itu bukan orang yang bisa di kategorikan orang biasa. Aku bahkan ragu kalau ia memiliki rasa takut di dalam tubuhnya" balas Kankuro yang rupanya dari tadi mengamati Naruto.

Bersama Naruto

"Jadi, bagaimana kalau kita melanjutkan permainan kita, Chibi?" tanya bocah itu tidak melepaskan seringaian bahagia di wajahnya.

"Hehehe.. Kau bocah menarik, Namikaze…" Gaara berhenti sejenak dan menggerakkan tangannya melakukan segel Ram. "TAPI AKU AKAN MENGHAPUS KEBERADAANMU DI SINI" Lanjutnya dengan teriakan keras.

Kali ini pasir yang menyerang Naruto bukan hanya dalam jumlah kecil saja seperti pertama, melainkan sudah lebih besar 3 kali lipat. Gerakannya tetap sama, berbentuk seperti gelombang di pantai yang di puja oleh para pemain ski, perlahan menerjang bocah berambut blonde itu.

Naruto melompat kebelang, menghindari serangan itu, lalu ke kiri dan kekanan, menghindari segala serangan yang di lancarkan Gaara. Semua serangan itu hanya bisa menyentuh permukaan pasir saja, melewati Naruto

'Bila ku perhatikan, pasir yang menyerangku hanya pasir yang ada dalam gentongnya saja. Jika ia bisa mengendalikan pasir secara menyeluruh, sama saja masuk ke dalam kandang singa yang sedang kelaparan' pikir Naruto, sambil bergerak menghindari serangan Gaara, mencoba mencari celah mana yang menjadi kelemahan Gaara dan akan ia masuki.

Ia bergerak ke kiri, membiarkan pasir melewatinya. Gelombang pasir kembali muncul dan menyerangnya. Ia kembali bergerak ke kanan. Melakukan pola zigzag menghindari serangan Gaara, terus belari mendekati pengendali pasir itu.

Rupanya kelincahan Naruto tidak menyenangkan bagi pihak lainnya. Gaara yang semakin kesal karena serangannya selalu bisa di hindari dan lawan yang semakin mendekatinya, membuatnya semakin kesal saja.

Ia menambahkan jumlah chakra, memperkuat kuda-kudanya, sehingga jumlah pasir yang ia kendalikan semakin besar. Alhasil, tercipta gelombang pasir di hadapannya selebar kisaran 5 meter dengan tinggi gelombang sekitar 7 meter. Naruto berhenti sejenak, memikirkan cara terbaik untuk melewati terjangan jutsu Gaara yang satu ini.

'Pengendalian chakra yang menarik' pikirnya menatap gelombang pasir yang akan menerjangnya itu sambile melakukan beberapa segel tangan. Belum sempat ia melakukan jutsunya, untuk kedua kalinya, ia merasakan sesuatu menyentuh kakinya dan kali ini ia langsung mengetahuinya.

'Gawat..' pikirnya terkejut, mendapati pasir yang berbentuk lengan sudah menahan kakinya dan menarikya paksa, sehingga ia terjatuh kasar ke atas pasir menggunakan punggungnya. Rupanya serangan besar yang ia ciptakan sebagai pengecoh saja, sementara itu Gaara menyelipkan pasir buatannya menyerang lewat bawah.

"MATI KAU…" teriak Gaara Horor memerintahkan gelombang yang ia buat sebelumnya untuk menerjang bocah blonde itu. dengan sigap Naruto mengambil kunai di kantong perlengkapan shinobinya, mengalirkan chakra petir dan api kesukaannya, membentuk pedang chakra, lalu memotong lengan pasir yang melilit kakinya.

Karin yang melihat itu hanya bisa menahan napas saja, tidak tau apa yang akan terjadi, yang jelas jika saja serangan itu bisa mengenainya maka tamatlah riwayat Naruto, itulah yang ada dalam kepalanya.

Jarak ujung pasir semakin dekat dan semakin dekat dengan Naruto yang tidak mungkin lagi sempat melompat menghindari besarnya gelombang meskipun kakinya sudah terlepas. Tangan kirinya dengan cepat di perintahkan melakukan segel ram mempersiapkan tindakan pencegahan yang akan ia lakukan.

'untung saja aku sempat melakukannya' pikir bocah blonde itu, mengingat kembali ketika ia mengangkat Karin tadi, ia sempat menandai punggung pakaian wanita itu dengan segel hiraishinnya.

Hiraishin No jutsu' pikir Naruto. Kulitnya sudah menyentuh terjangan pasir, jika di lihat dalam gerakan lambat, dan bersamaan dengan itu, ia menghilang dalam jutsu yang membuat ayahnya di takuti di dunia itu.

BOOOMMMM.. ledakan besar menggema ketika ratusan kilo pasir menerjang permukaan pasir.

"TIDAK…." Teriak Karin Histeris, karena yang ia lihat Naruto sudah di tenggelamkan oleh gelombang besar itu. sementara Gaara menyeringai dan dua saudaranya menatap Naruto iba.

'tidak ada yang bisa menghalangi Gaara dari mangsanya, itulah yang terjadi selama ini' pikir Kankuro menatap tempat yang tadinya di tempati Naruto sudah rata dengan pasir lainnya. sebuah anggukan di berikan Temari, seolah bisa membaca isi kepala saudaranya itu.

Tidak berhenti di situ saja. Gaara melompat ke pasir yang tadi ia kendalikan, mendarat di atasnya dan menempelkan telapak tangan kanannya ke permukaan pasir itu, memberikannya tekanan.

"MATILAH NAMIKAZE….. SABAKU TAISO" Tercipta gelombang kejut, menekan keras ke permukaan pasir yang langsung mengeras dan tercipta sedikit getaran akibat jutsu itu sudah sangat jelas kalau Gaara memang berniat menghancurkan Naruto tanpa ragu sedikitpun.

"HAHAHAHA.. AKU MENGHABISIMU, AKU MENGHBISINYA, AKU MENGAKHIRI KEBERADAANMU, NAMIKAZE NARUTO. AKU SUDAH MEMBUKTIKAN KEBERADAANKU DENGAN MEMBUNUHMU.. HAHAHHA" terdengar ikrar kebanggaan sabaku No Gaara yang merasa sudah berhasil menghabisi Naruto.

Kedua saudaranya menatap Gaara dengan tatapan aneh, tatapan jijik karena ulahnya itu. bagaimanapun juga, membunuh bukanlah hal yang patut di banggakan oleh siapapun, dan ia melakukannya. Ia merasa sangat bahagia karena telah berhasil menghabisi Naruto, hal yang membuat kedua saudaranya semakin jijik melihatnya.

"Tidak… aku tidak bisa merasakan chak"- Karin berhenti berkata-kata ketika ia merasakan sesuatu di belakangnya, sesuatu yang menghentikan tangisnya, digantikan sebuah ekspresi terkejut, sangat terkejut. Perlahan ia menggerakkan wajahnya kebelakang, ingin melihat langsung apayang ia rasakan.

"Aku akui kalau kau memang hebat, Gaara" suara Naruto terdengar, menghentikan selebrasi sang Jinchuriki yang sudah berada di atas angin. Ekspresi bahagia, tawa bahagia berhenti seketika di gantikan perasaan terkejut karena suara yang berasal dari belakangnya itu. perlahan ia mnggerakkan wajahnya kebelakang, di ikuti rasa terkejut dua sabaku lainnya yang sudah melihat sebelumnya.

"Ka-kau.. ba-bagaimana kau.." gumam Gaara gugup.

"Tidak semudah itu menghilangkan keberadaan seorang Naruto di dunia ini, Ichibi…" lanjut Naruto yang terlihat berdiri tegak di belakang Karin tanpa tergores sedikitpun. Angina memainkan perannya, menggerakkan rambut blonde berantakannya, menambah nuansa kegagahan anak Yondaime Hokage yang satu ini.

"bagaimana mungkin?" itulah yang keluar dari mulut Karin, dan dua sabaku lainnya, menatap Naruto di sana. Mereka melihat sendiri bagaimana gelombang pasir mengubur bocah blonde ini, lalu di tambah dengan tekanan jutsu terakhir Gaara. Sangat mustahil melihat Naruto berdiri kokoh seperti sekarang ini.

"Butuh lebih dari itu untuk membunuhku, Gaara.. butuh lebih dari itu" gumam Naruto tenang, menatap pria berambut merah yang sudah sangat kesal padanya.

"Ka-kau…. KAU… BAGAIMANA MUNGKIN KAU SELAMAT DARI SERANGANKU TADI.." teriak sang Jinchuriki depresi, menerima kenyataan kalau ia tidak berhasil menghabisi lawannya.

"sederhana… " respon Naruto pelan, melangkah mendekati Gaara, melewati Karin. "karena aku tidak akan mati sebelum meraih cita-citaku. Itu adalah jalan Ninjaku dan aku tidak akan pernah menarik perkataanku" lanjutnya sangat yakin kalau jalan hidupnya akan sesuai dengan apa yang ia katakan atau yang ia inginkan.

Rupanya perkataan itu membuat Gaara semakin tidak terkendali. Dengan liarnya ia memerintahkan pasirnya kembali membentuk gelombang Tsunami yang lebih besar dari sebelumnya. Gelombang dengan tujuan yang sama, ingin menghancurkan Naruto. Si blonde lain dengan tenang menatap gelombang tinggi di depannya, tanpa ada rasa takut sedikitpun.

'Jika aku menghindarinya, maka Karin yang akan menjadi korbannya' pikirnya analisis, melilrik gadis berambut merah di belakangnya. Kedua bola mata Karin sudah melebar ketakutan, menatap gelombang pasir yang pasti akan menghancurkannya, jika saja ia terkena.

"Tidak usah takut, Karin.." gadis itu sedikit terkejut mendengarkan perkataan Naruto. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak sekalipun… " Karin semakin bingung, bercampur terpesona dengan sikap Naruto ini, "Karena seorang Uzumaki, tidak akan pernah meninggalkan Uzumaki lainnya" lanjutnya, sambil melakukan segel tangan dengan cepat.

'tidak akan… ,meninggalkanku? Tidak akan meninggalkanku?' kalimat ini terniang di kepala wanita pemilik rambut merah itu. tidak pernah ada yang mengatakan ini dalam hidupnya, semenjak orang tuanya meninggal. Selama ini, ia hanya di manfaatkan saja oleh desanya, memanfaatkan kemampuan yang ia miliki tanpa memikirkan nasibnya. Sekarang ada satu orang yang jelas-jelas mengatakan hal seperti itu, sudah barang pasti ia terkejut.

Suiton : Daibakufu No Jutsu" gumam Naruto mengutarakan Jutsunya. Perlahan titik-titk air bermunculan di depan Naruto, titik-titik yang semakin bertambah banyak dan cepat, menyatu di depan bocah itu dan membentuk sebuah gelombang yang bisa mengimbangi besar gelombang pasir ciptaan Gaara. Semuanya terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan detik saja.

"tidak mungkin… bagaimana mungkin ada orang yang bisa menciptakan air dari ketiadaan seperti itu?" ungkap Kankuro tidak percaya akan penglihatannya sendiri.

"ha-hanya satu orang yang bisa melakukannya… Senju Tobirama saja" komen Temari, menyaksikan secara langsung, dua gelombang berbeda bertemu dan bertubrukan di udara. Ledakan kecil tercipta, ini karena pasir yang menyerap air, bukannya memantul seperti pertemuan dua Jutsu lainnya.

"Pasir memang kuat, tapi pasir akan kalah bila melawan air" ungkap Naruto, memperhatikan pasir Gaara yang perlahan jatuh ke atas pasir seperti lumpur. Pasir memang menyerap air, akibatnya menjadi berat dan tidak akan bisa lagi di kendalikan karena bentuknya bukan lagi murni pasir melainkan sudah terdapat air di dalamnya. "Kau tidak akan pernah bisa menang melawanku, bahkan dalam mimpi sekalipun". Lanjutnya dengan suara penuh keyakinan.

"Hahaha.. Namikaze Naruto, kau sungguh lawan yang susah di tebak…" gumam Gaara, tidak memperdulikan rasa percaya diri lawannya. "Aku semakin ingin membunuhmu…" lanjutnya menyeringai evil, menunjukkan niatnya yang semakin menggila untuk menghabisi nyawa lawannya.

"kenapa kau begitu suka membunuh? Apa yang kau dapat dari membunuh lawanmu?' tanya Naruto penasaran, menatap pemilik rambut merah pendek itu.

"Kenapa? " respon gaara pelan. "Jika aku bertanya padamu, kenapa kau melindungi gadis itu? kau bahkan baru mengenalinya dan kau langsung melindunginya?" Naruto menatapnya datar, seolah tidak mengerti apa maksud Gaara. "Kau bisa menghindari seranganku tadi, tapi malah memilih menghabiskan chakramu demi melindunginya. KENAPA KAU MELINDUNGI ORANG LAIN? KENAPA KAU TIDAK HIDUP DEMI DIRIMU SENDIRI"

Naruto diam sejenak, memikirkan masa lalunya dimana tidak ada yang mendekatinya. Ia mengingat bagaimana masa lalunya yang perih, disaat ia membutuhkan seseorang untuk bersandar, tapi tidak ada yang mau menjadi tumpuannya. Ketika ada seseorang yang ingin di jadikan tempat bersandar, ia pergi meninggalkannya seorang diri dalam kematian.

"karena aku tau," Jawab Naruto menatap Gaara tajam. "bagaimana rasanya di tinggalkan seorang diri di saat kita membutuhkan sandaran" lanjutnya serius.

Karin, Kankuro dan Temari tersentak menatap Naruto bersamaan. Mereka tau jelas kalau apa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah fakta. Ia juga pernah di tinggalkan karena itu ia tau bagaimana rasanya hidup seorang diri.

"karena itu, aku tidak akan meninggalkan orang lain yang dekat denganku, sekalipun aku akan di benci atau di bunuh karena itu" lanjutnya mengepal erat kedua tangannya.

"Na-Naruto-kun.." gumam Karin dan Hinata yang melihat langsung mimic bibir Naruto.

"HAHAHAHAHA…. KAU SALAH NAMIKAZE NARUTO… KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJADI APAPUN JIKA KAU HIDUP UNTUK ORANG LAIN. HIDUPLAH UNTUK DIRIMU SENDIRI DAN BUKTIKAN KEBERADAANMU DI DUNIA INI" Komen Gaara berteriak keras mengutarakan pendapatnya tentang hidup.

Naruto menggerakkan kakinya, mengambil kuda-kudanya. "kalau begitu, tunjukan padaku kalau jalan yang kau pilih memang benar. Kalau jalan yang kau pilih bisa mambuatmu lebih kuat dariku.." ungkap bocah blonde itu. berbeda dengan sebelumnya, kali ini Naruto terlihat sanga serius, jauh lebih serius dari sebelum-sebelumnya.

Sang Jinchuuriki meresponnya dengan seringaian evil. "Baik.. akan kutunjukan padamu…. AKAN KUTUNJUKAN PADAMU KEBERADAANKU" dengan itu pasir perlahan keluar dari gentong di belakang tubuhnya, pasir yang langsung bergerak menyerang Naruto.

Kunai di tangan kanan bocah blonde itu telah di aliri chakra, membentuk pedang chakra berwarna merah ke orengan. Dengan mudahnya ia menepis serangan pasir itu, lalu berlari ke arah Gaara, menerjang sang jinchuuriki.

Serangan demi serangan pasir Gaara lancarkan, namun semua itu bisa di tempis, di tebas habis oleh pedang yang di bentuk dari perpaduan chakra api dan petir bocah itu. ia terus berlari mempertipis jarak antaranya dan gaara.

Melihat Naruto yang semakin mendekatinya, Gaara melakukan serangkaian segel tangan, lalu ia menempelkan telapak tangannya di atas pasir.

Ryusa Bakuryu" gumam sang Jinchuuriki. Perlahan pasir di depannya bergerak mengangkat tinggi ke udara dengan skala luas. Temari dan Kankuro yang mengetrahui Jutsu itu, melompat kebelakang, sepertinya pengaruh Jutsu ini sangatlah besar.

Tercipta gelombang pasir seperti Tsunami berlipat-lipat dari Jutsunya yang tadi dan siap menenggelamkan Naruto. 'sial… Karin dalam bahaya'pikir bocah blonde itu, berhenti bergerak, lalu membalikan tubuhnya ke belakang, menatap Karin yang tercengan melihat Tsunami pasir di depan matanya.

Pasir itu tidak berhenti, malah langsung menerjang Naruto yang langsung menghilang dalam kilatan petir. Ia terpaksa menggunakan Shunshin no Jutsu, muncul di depan Karin, kemudian menggendongnya bridal style. Karin tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah atas kemungkinan yang mungkin akan terjadi padanya. Sebuah senyuman Naruto berikan saat itu, dan bersamaan, ia menjatuhkan Kunainya.

"Aku akan membawamu ke tempat yang aman bersamaku" ungkap Bocah itu hangat, memecah rasa takut yang menghantui wanita pemilik rambut merah itu. Ketika Naruto melirik kebelakang, ia sudah mendapati gelombang Tsunami sudah berada di atas kepala mereka, dan siap mengubur mereka.

'Hiraishin No Jutsu' Pikir Naruto, menghilang sebelum pasir mengubur mereka hidup-hidup. Jutsu luar biasa dengan skala besar yang Gaara ciptakan bahkan mampu meratakan sebuah Desa. Terakhir Gaara kembali menempelkan telapak tangannya dan melakukan hal yang serupa seperti yang pertama ia lakukan, menekan permukaan pasir.

.

DI tempat lain.

"Zabuza-sama" suara lembut seorang wanita memanggil tuannya yang tengah asyik membaca surat kabar di sebuah sofa hitam dalam ruangan elit. Sepertinya ruangan itu adalah ruang tamu. (Ruang tamu markas Gatou.)

"Ada apa haku.." tanya Zabuza, menatap gadis yang berada di depannya itu,

"menurutmu, berapa lama lagi Naruto-kun akan mengunjungi kita?" tanya wanita itu penasaran. Ia mengenakan kimono putih cantic, bertindak selayaknya seorang bangsawan, bersama Zabuza di tempat itu yang juga mengenakan Kimono berwarna perak.

"Siapa yang tau.. Gaki itu hanya mengatakan untuk melakukan latihan dan mengurus bisnis ini karena kita akan membutuhkan banyak uang nantinya di masa depan. Ia tidak pernah mengatakan kalau ia akan mengunjungi kita atau apapun itu" respon Zabuza yang kini tidak lagi mengenakan topengnya.

"Ouh.." hanya itu respon haku, respon kecewa pastinya.

Zabuza menurunkan Korannya sejenak, menatap sosok yang sudah di anggap adiknya itu. "kau merindukannya yah?" godanya.

Spontan wajah haku memerah. "Bu-bukan begitu.. e-eto.. ano.. hum,.." gumammnya tidak jelas, bingung akan mengataka apa. "Aku hanya ingin mengatakan kalau sebentar lagi barang pesanannya sudah selesai di buat" akhirnya ia menemukan alasan yang tepat.

"Secepat itu? tidak mudah melakukan hal yang ia inginkan" respon Zabuza datar, kembali melanjutkan bacaannya.

"Orang yang di tunjuknya adalah orang hebat yang telah membuat Shinobi terkenal, jadi tidak masalah seberapa sulitnya, pasti akan mudah di selesaikan, terlebih orang itu adalah orang yang membuat benda yang sama sebelumnya" terang Haku terkesan sedikit ceria.

"Begitu yah.. aku juga penasaran seperti apa nanti jadinya pesanannya." Ungkap Zabuza

"Hai.. pastinya akan menjadi barang terbaik yang pernah ada di dunia ini." Ujar Haku ceria membagangkan apa yang Naruto inginkan.

"hai.. tidak pernah terpikirkan di kepalaku sebelumnya melakukan hal yang ingin ia lakukan. Harus kuakui kalau Gaki itu memiliki pemikiran yang menarik." Komen Zabuza sedikit tersenyum.

"Tentu saja.. jika tidak, mana mungkin anda mau me"-

Bruk..

Perkataan haku di potong oleh suara benda jatuh di sekita mereka. insting shinobi kedua insan ini langsung bertindak, berdiri di tempat, melakukan sikap kuda-kuda waspada akan adanya serangan, menatap ke arah asal suara.

"YO.. " suara Naruto menyapa ramah kedua anggotanya. Ia muncul di depan meja kerja di ruangan itu, dengan membawa Karin dalam gendongannya. "Lama tidak bertemu, Zabuza, Haku-chan.." lanjutnya perlahan menurunkan Karin.

"Naruto-kun?" sapa Haku balik, namun terdengar agak ragu. 'siapa wanita itu? aku bahkan tidak pernah di gendong seperti itu, tapi ia sudah di perlakukan seperti itu' lanjutnya dalam benak langsung menyorot Karin.

'Oh Kami.. sepertinya aku yang akan menjadi bulan-bulanan emosinya' pikir Zabuza mengetahui Mood haku yang sudah berubah ketika melihat Naruto membawa wanita beramanya.

"Di-dimana kita, Naruto-kun?" tanya Karin melangkah ke samping Naruto, perlahan mendekatkan tangan kanannya, lalu memegangi lengan kiri Naruto.

"Kita berada di tempat aman, kau tenang saja yah, Karin." Jawab Naruto, memegangi lembut tengan Karin, kemudian melepaskannya dari lengannya. "Zabuza, Haku, tolong jaga Karin untukku. Ia adalah orang yang penting bagiku."

"Tunggu dulu Naruto-" Belum selesai Haku berbicara, Naruto sudah kembali menghilang dengan Hiraishinnya."..kun.." lanjut Haku lemah. Matanya kemudian menatap Karin yang sedikit canggung dengan kedua orang baru ia lihat.

"Urus dia haku.. akum au keluar mengecek pabrik sejenak" ungkap Zabuza, menghilang dengan shunshinnya.

'Sial.. enak sekali main pergi meninggalkan aku dengannya' pikir haku kesal. 'tapi jika Naruto-kun mengatakan kalau ia adalah orang yang penting untuknya, berarti aku harus menjaganya dengan baik. Aku tidak ingin di salahkan karena kesalahan sekecil apapun' lanjutnya, memaksa tersenyum manis ke Karin.

"Uhm… hello.. aku Haku, Yuki Haku. " sapa pengguna kekkei genkai Hyuton itu.

"Aku Ka-karin.. Uzumaki.. Karin" balas wanita pemilik rambut merah.

'Uzumaki yah.. kini aku tau kenapa ia mengatakan bahwa wanita ini adalah orang yang penting baginya' pikir haku.

.

Konohagakure, Kantor Hokage

"Apa kau sudah mendapatkan laporan dari Kakashi?" terdengar suara Sandaime di dalam ruangan itu. ia berdiri di tempat kesukaannya, tepi jendela, memegang pipa tembakau yang sangat familiar dengannya.

"masih belum juga" respon sang Blonde kage sambil menyelesaikan beberapa pekerjaannya sebagai seorang Hokage. "Ini berarti semua masih dalam keadaan aman dan tidak ada tanda-tanda aneh seperti yang di curigai"

Sebuah gumpalan asap keluar dari dalam mulut Sandaime. "Paling tidak untuk saat ini kita masih bisa berpikir seperti itu." gumamnya pelan. "Apa kau tidak merasakan adanya sesuatu yang aneh pada Kazekage?" lanjutnya melirik Yondaime.

"Maksud anda?" tanya Minato bingung, menghentikan pekerjaannya dan menaruh perhatian ke Seniornya dalam hal memimpin neGaara itu.

"maksudku, Sebelumnya Kazekage mengatakan kalau ia akan menggiring pasukan pemberontak yang kemungkinan besar akan muncul jika Naruto berhasil memancing chakra biju ekor satu ke arah Konoha. Seolah ia memilih perbatasan Suna dengan Konoha sebagai arena pertarungan mereka." ungkap Sandaime analisis.

Minato menggerakkan tubuhnya ke sandaran kursi kagenya. "Jika ia meminta pihak Konoha untuk ikut ambil bagian dalam pertempuran, kemungkinan aku akan mencurigainya. Tapi, kenyataannya Kazekage mengatakan kalau ini adalah permasalah desanya dan tidak ingin di campuri oleh siapapun" ujar Minato mencoba menghubungkan kecurigaan Sandaime dengan fakta yang ia miliki.

"tetap saja, dari semua tempat yang bisa ia pilih, kenapa ia memilih perbatasan Konoha sebagai tempat peperangan mereka?" tanya Sandaime obyektif.

"Jika di pikirkan, kurasa aku bisa mengerti alasan Kazekage memilih tempat itu" komen minato pelan. "Sebelumnya, ia telah meminta izin untuk menempatkan pasukannya bersiaga di sekitar wilayah desa. Tujuannya adalah, mereka akan melakukan penyergapan pada musuh yang kemungkinan akan muncul sesuai target mereka.

Jika seperti itu, maka pasukan pemberontak akan di serang dari dua arah. Pasukan pertama yang telah standby akan menghalang sampai akhirnya pasukan utama muncul. Taktik sederhana yang tidak bisa di lakukan di tempat lain di kawasan neGaara aingin karena tidak adanya wahana untuk bersembunyi, seperti pepohonan lebat kawasan Konoha" Minato menyelesaikan penjelasan logisnya dengan sebuah tarikan napas panjang.

"Aku tidak menyangka kalau Kazekage akan berpikir sejauh itu." gumam Sandaime pelan, menghisap pipa tembakaunya.

"Sebagai seorang Kage, ia harus memikirkan keamanan warganya juga. Jika ia menyeret pasukan pemberontak ke arah desa, ini berarti sama saja ia mengorbankan warganya, meskipun dari segi posisi mereka untung besar" gumam Minato membayangkan posisi strategis desa Suna, bila pasukan pemberontak terjebak di dalam. Namun di sisi lain desa akan hancur karena pertarungan, juga pasti akan jatuh korban nyawa tak berdosa.

"dalam perang, memang wajar memikirkan warga desa. Sekilas keputusannya memang benar." Komen Sandaime pelan. " lalu, bagaimana dengan nasib anaknya, Jinchuriki ekor satu. Apa ia akan di biarkan mengamuk begitu saja sampai pasukan pemberontak berhasil mendapatkan biju dalam tubuhnya?" lanjutnya tenang.

"Karena itulah ia meminta bantuan Naruto yang sudah terbukti berhasil menjinakkan biju tanpa harus menyakiti Jinchuurikinya. Bagaimanapun juga kesalahan anaknya, tidak akan ada ayah yang tega membunuh anaknya sendiri, meski itu demi desa" ungkap Minato berlagak seperti figure ayah terbaik.

"Tapi banyak orang tua yang mengabaikan anak mereka" komen Sandaime ketus. Bola mata biru Minato langsung meliriknya tajam.

"Kau menyinggungku atas apa yang terjadi pada Naruto?" tanya si blonde itu sangat serius.

"aku tidak pernah menyinggung siapapun juga, aku hanya membicarakan fakta saja" komen Sandaime, berbalik menatap si blonde itu. "Tapi bila kau tersinggung, berarti kau adalah salah satu dari mereka. aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain kasihan padamu" lanjutnya sedikit emosional, mengingat kembali bagaimana Naruto di perlakukan.

"Aku tidak perlu menjelaskan apapun karena kau tau sendiri bagaimana keadaan yang kuhadapi, Sandaime-sama" tegas Minato. "Aku tidak bisa mengurus urusan desa, lalu anak-anakku secara tuntas. Terlebih kau tau sendiri status Menma yang tidak mungkin di biarkan sendiri di balik tekanan statusnya"

"Status apa yang kau maksudkan?" tanya Sandaime penasaran. "Sepengetahuan dan sejauh yang kulihat, status JInchuuriki, wadah Kyubi yang orang ketahui adalah Naruto, bukan Menma seperti yang kau katakan. Naruto yang menanggung penderitaan karena fisik yang ia miliki, Naruto menanggung penderitaan karena kalian yang mengabaikannya demi alasan tai tidak jelas, ramalan bodoh atau apapun itu" Sandaime mengeluarkan semua unek-unek di dalam dirinya, emosi dengan sikap Minato. Ia sangat kecewa dengan perlakuan keluarga itu pada sosok yang ia anggap sebagai cucu.

"tunggu dulu, kenapa kita jadi membahas Naruto? Kenapa kita tidak kembali ke permasalahan sebelumnya tentang Kazekage." Tanya Minato, tidak sedang ingin membahas masalah anaknya yang satu itu.

"Kenapa katamu?" gumam Sandaime, melangkah mendekati kage itu, berhenti di depannya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Hokage. "Kau tidak sadar sudah berapa banyak utangmu pada Naruto bukan? Kau tidak sadar sudah seberapa sering kau memanfaatkannya? Akan ku perjelas.

Sejak lahir kau sudah memanfaatkannya, dengan alasan ramalan bodoh yang sudah menghantuimu bahkan kau melawan orang yang mengaku Uchiha madara itu. sejak awal kau sudah tau kalau selama ini Naruto yang di anggap sebagai jinchuuriki dan yang di kucilkan, tapi kau menutup mata dan telingamu, mengabaikan semua itu, menganggapnya angin lalu.

Sejak awal kau sudah memanfaatkan Naruto, membiarkan ia merasa di abaikan, lalu mencari cara sendiri bagaimana ia akan menunjukkan dirinya hebat di matamu,dan kau berhasil. Kau lihat sekarang, kekuatannya bahkan jauh di atas Menma yang kau puja-puja. Kekuatannya sekarang bahkan jauh di atas yang kau pikirkan, kau bahkan tidak tau sedikitpun tentangnya. Kau benar-benar berhasil" Minato terdiam tanpa bisa mengucapkan satu patah katapun.

"Dan sekarang kau memanfaatkannya untuk menangkap sosok yang kau tidak ketahui, sementara ia mengenal Naruto. Lagi-lagi kau memanfaatkannya, mempermainkan kehidupannya seolah kau bukan ayahnya. " Sandaime membalikan badannya, tidak kuasa menahan emosi yang hanya bisa ia luapkan dari air mata.

"ingatlah ini, suatu saat nanti, kau, Kushina dan Jiraiya, kalian semua akan menyesal pernah melakukan ini pada Naruto" dengan itu ia berpaling dan menjauhi ruangan Hokage., meninggalkan Minato seorang diri yang hanya bisa termangu bisu.

'separah itukah aku kepada Naruto?' pikirnya mencoba mengolah lagi setiap kalimat yang keluar dari dalam mulut Sandaime. 'aku hanya tidak ingin mellihat Menma terjebak dalam tekanan Kyubi, hanya itu. aku tidak pernah berniat membeda-bedakan anakku' tapi kenyataannya Minato telah melakukannya meski ia tidak sadari. Karena ia tidak sadari, maka tidak ada penyesalan dalam hidupnya,

Paling tidak untuk sekarang;…..

.

Sunagekure.

Puncak Menara yang ada di tengah kuburan Monster, terlihat sang Yondaime Kazekage berdiri dengan pakaian yang biasa ia kenakan, melipat kedua tangan di depan dadanya, bersikap arrogan, menatap ke sekeliling tempat tandus yang hanya di isi oleh padang pasir tak bernyawa itu.

'memusnahkan dua burung dengan menggunakan satu batu.. strategi yang menarik' pikir Kazekage itu.

"Kazekage-sama" suara Pakura terdengar dari belakang pria berambut merah pendek itu.

"ada apa, Pakura?" tanyanya datar tanpa menatap ke sosok yang tengah berlutut menghadapnya itu.

"Semua divisi telah bersiap di tempatnya. Mangsa sudah bisa di lacak dan siap bergerak" ungkapnya melaporkan keadaan sekarang.

"Bagaimana dengan divisi intel, apa sudah ada kabar?" tanya sang Kazekage , tetap menatap jauh ke depan.

"semua juga sudah sesuai rencana. Target sudah terkunci dan mangsa sudah dalam posis menyergap buruan" jawab konoichi tingkat tinggi di Sunagakure itu.

"Bagus.. bagaimana dengan koordinat utama? Apa sudah ada laporan?" tanyanya lagi, sedikit melirik wanita itu.

"mereka hanya tinggal menunggu perintah saja. Semua sudah pada posisi hanya tinggal menunggu signal dari anda" jawab wanita itu sedikit membungkukkan badannya.

"keadaan sekarang bagaimana? Jangan biarkan ada pergerakan sebelum keadaan benar-benar dalam kendali sepenuhnya" terang Kazekage.

"Gaara-sama dan Namikaze Naruto saat ini sudah dalam keadaan bertarung. Memang belum ada laporan dari divisi intel akan adanya tanda-tanda Gaara-sama menggunakan chakra Shukaku, namun sepertinya sebentar lagi sudah –"perkataannya terpotong tak kala mendengarkan sesuatu dari earphone yang ia kenakan

"Ada apa?" bisiknya.

"positif.. chakra Shukaku sudah mulai terasa" jawab sosok intel menggunakan via earphone yang sama.

"Ada apa, Pakura?" tanya Yondaime Kazekage.

"Chakra shukaku sudah bisa di rasakan, meski masih dalam skala kecil, tapi kuotanya semakin meningkat" lapor Pakura.

Sebuah seringaian terlihat dari wajah sang Kazekage. "Bagus.. bersabar sebentar lagi dan tunggu aba-aba dariku." Ungkapnya menyeringai lebar.

"bagaimana dengan Gaara-sama? Apa yang harus kami lakukan padanya?" tanya Pakura khawatir.

"lakukan seperti rencana sebelumnya. Saat ini, hanya Namikaze Naruto yang bisa melakukan apa yang bisa kulakukan terhadap anak itu. pastikan semua standby pada posisi menunggu kemunculan pasukan pemberontak." Instruki sang komanda utama.

"hai.. aku mengerti" dengan itu Pakura menghilang via shunshin, meninggalkan Kazekage seorang diri.

"Sebentar lagi, langkah pertama yang selama ini telah kurencakan akan di jalankan.. tunggu saja, Yondaime.." gumam Kazekage penuh ambisi di dalam kepalanya.

.

Bersama Gaara dan dua saudaranya.

"HAHAHAH.. RASAKAN KAU NAMIKAZE.. AKU SUDAH MEMBUKTIKAN KALAU AKULAH YANG MENJADI PEMENANGNYA, HAHAHA" Terdengar tawa mengerikan Gaara, berdiri di atas pasir keras yang ia duga kuburan Naruto.

"Apa Gaara berhasil melakukannya?"suara tanya Temari, penasaran akan apa yang sudah di lakukan oleh saudaranya.

"Aku tidak melihat Namikaze itu melarikan diri atau menghindari serangan Gaara, jadi kupikir.-"

"masih terlalu dini untuk mengumumkan siapa pemenangnya, Gaara.." suara Naruto yang muncul via Hiraishin, di sertai sedikit gumpalan asap di sekelilingnya. Ia muncul dengan pose berdiri, melipat kedua tangan di depan dadanya, tidak jauh dari arah Kiri sabaku No Gaara.

"APA.." ungkap Temari shok, melebarkan kedua matanya, tidak menyangka Naruto akan muncul dengan cara aneh seperti itu.,

"Ba-bagaimana ia bisa a-ada di te-tempat itu?" tambah Kankuro dalam ke tidak tahuannya.

Sementara Gaara, menghentikan tawa bahagiannya, di gantikan raut wajah geram karena untuk ke dua kalinya ia sudah di permainkan oleh bocah blonde yang satu ini.

"Kau, BAGAIMANA KAU MASIH HIDUP.." tanyanya murka tidak ingin menerima kenyataan.

"Sudah kukatakan…" gumam Naruto, jongkok di tempat ia berdiri, lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam pasir. "Aku tidak akan mati.. sebelum aku menggapai mimpiku" lanjutnya menarik kembali tangannya dimana Kunai yang tadi ia jatuhkan sudah ada di dalam genggamannya.

"kau… "Geram Gaara semakin menjadi-jadi.."KAU…" lanjutnya dengan meninggikan suaranya.

"hai.. aku siap untuk pertarungan terakhir, Gaara.. sekarang aku sudah tidak memiliki beban lagi, aku akan menunjukkan, siapa Namikaze Naruto yang sebenarnya.." ungkap bocah itu, melepaskan tekanan chakra yang mampu membuat gelombang perputaran udara di sekitarnya.

Bukannya takut atau khawatir karena chakra yang Naruto keluarkan, bocah berambut merah itu malah menyeringai lebar, semakin liar dan semakin menyeramkan dari sebelumnya. Perelahan pasir yang ada di dalam gentongnya merambat ke tubuh bagian kanan bocau itu, melapisi tubuh itu, membentuk wajah baru setengah wajah dan tubuh Mini Shukaku.

"BUAT AKU HIDUP… Namikaze…."

T.B.C

RnR You.. thanks udah mau mampir mengunjungi Fictku

Absen dulu.. ADA ANAK SULAWESI NGGAK?