FADE IN TO SERIES (REMAKE)
Series 3 - Fade Into Always
ChanSoo Version
.
.
Original Story By. Kate Dawes
.
.
Cast :
Park Chanyeol
Do Kyungsoo (GS)
Xi Luhan (GS)
Kim Suho
Kim Kai
.
.
Genre :
Romance
.
.
Bab 9
.
.++
Keesok harinya orang tuaku tiba pada sore hari dengan Minseok dan bayinya, keponakanku yang baru. Yang lebih tua tinggal di rumah dengan kakak iparku karena dia terkena flu pada saat akan berangkat. Minseok nyaris tidak datang karena anaknya yang sakit itu, tapi dia menjadi tenang ketika ibu mertuanya datang untuk tinggal di rumah mereka selama beberapa hari.
Mereka berkendara dari Ohio sehingga mereka semua kelelahan pada saat mereka sampai ke hotel tempat mereka menginap. Hanya berjarak sepuluh menit dari apartemenku dan aku menuju ke sana ketika Minseok menelepon dan mengatakan Dad sedang check-in kamar.
Kami duduk melingkar selama beberapa saat dan sebagian besar fokus kami pada bayi Minseok, tentu saja. Aku tidak bisa percaya dia terlihat sangat berbeda setelah tidak bertemu dengannya selama beberapa bulan.
Dad sedang duduk di kursi dan terkantuk-kantuk, tapi langsung tersentak bangun ketika muncul topik mengenai makanan. Kami memutuskan untuk mencari makanan yang praktis serta murah, dan hanya pergi ke sebuah restoran franchise.
"Orang disini berkendara seperti orang gila," kata Dad.
Mom setuju dan mengatakan itu mungkin pengaruh obat-obatan.
"Orang-orang juga memakai obat- obatan di Ohio, kau tahu," kataku.
Dad memelototiku dengan tatapan seperti ketika aku masih kecil dan seharusnya diam bukannya menunjukkan fakta sederhana yang tidak sesuai dengan pendapat yang sudah ditetapkan oleh orang tuaku.
"Kami hanya di sini selama beberapa hari," kata Minseok. "Bisakah kita tidak beradu argumen?" Dia seperti seorang diplomat, tapi aku tahu dia setuju dengan pendapat mereka. Dia mengikuti pola pikir mereka dalam menjalani kehidupannya dan berpikir seperti yang mereka lakukan, tapi kami masih memiliki ikatan persaudaraan yang tak ada seorangpun bisa memutuskannya dan jika dia punya rencana untuk mengkritikku dengan pedas saat aku meninggalkan Ohio, dia akan menunggu sampai kami sendirian.
Setelah makan malam kami berkeliling kota LA sebentar. Minseok ingin melihat kota ini lebih banyak lagi, dan kupikir ibuku juga menyetujuinya, meskipun ia tampak enggan saat duduk disamping Minseok ketika ayahku mengatakan di luar sudah gelap dan kami tidak akan bisa melihat apa-apa.
"Dad, seluruh kota diterangi dengan cahaya lampu," kata Minseok.
Ayah menunjukkan alasan lain supaya tidak usah berkeliling. "Well, sudah terlalu malam."
"Baru jam 7:40," kata ibuku. "Dengan perbedaan waktu itu, tempat kita bahkan masih belum jam lima."
Ayahku mendesah. "Baiklah, tapi kita tetap menutup jendela dan pintu terkunci."
Minseok dan aku saling memandang di kursi belakang dan memutar mata kami.
Tak lama kemudian, kembali ke hotel, kami semua berada di kamar orang tuaku. Minseok dan bayinya tinggal di kamar sebelah, dan kedua kamarnya terhubung oleh sebuah pintu.
Inilah saatnya ayahku mulai melemparkan petuahnya dengan serius, mengatakan padaku kalau aku seharusnya benar-benar berpikir tentang pulang kerumah, ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan disana, disanalah teman-temanku berada, dll. Dan, hanya untuk menambahkan rasa bersalahku, ia berkata, "Apa yang akan kau lakukan jika terjadi sesuatu pada salah satu dari kami?"
"Apa maksudmu?"
Ayahku mengangkat bahu. "Bila terjadi kecelakaan. Salah satu dari kami jatuh sakit. Apapun itu. Kau begitu jauh."
"Tidak butuh waktu lama dengan pesawat," kataku.
"Itu tidak murah."
Dia benar, tentu saja. Itu tidak murah untuk membeli tiket penerbangan langsung pada hari itu juga dari LA ke Ohio. Apa dia tidak tahu, dan yang aku tak bisa beritahukan pada mereka, bahwa aku tidak harus membeli tiket. Chanyeol akan menerbangkanku pulang dalam sekejap.
Dia berhenti membahas masalah itu, mungkin sedang memikirkan serangkaian serangan berikutnya. Mom duduk diam saja sementara aku dan ayahku membahas masalah kami yang tinggal berjauhan, tapi ketika ibuku bicara, ayahku diam.
"Kuharap, kau belum pernah pergi ke Las Vegas?"
"Aku pergi ke sana setiap akhir pekan."
Mom menatapku kaget. Dad memelotot kearahku.
"Aku bercanda," kataku.
Minseok menyerahkan bayinya padaku, sambil menatap dan tersenyum kearahku. Aku balas tersenyum, berpikir betapa menyenangkannya karena memiliki setidaknya satu saudara yang tidak menghakimiku.
.
.
.++
"Mereka hanya mengkhawatirkanmu," kata Minseok beberapa saat kemudian.
"Aku tahu, tapi sangat menjengkelkan."
"Aku juga mengkhawatirkanmu, tahu. Apalagi setelah semua yang terjadi dengan Kai."
"Dia sudah menghilang," kataku. "Dan aku ragu dia akan kembali."
Kami berada di kamar hotel yang bersebelahan. Mom dan Dad sudah tidur, bayi Minseok juga sudah terlelap, dan waktu semakin mendekati pukul 11:00.
"Aku tahu, tapi serius, Minseok, bukankah kau lebih suka tinggal di sini? Maksudku, kau sudah melihat kota ini. Tidak pernah semenit pun terasa membosankan disini."
"Mungkin aku suka yang berbau membosankan."
Kata-katanya tidak bisa dibenarkan. Dan hal seperti itu bisa membuatku merasa semakin sedih untuknya. Ya, aku bersikap menghakimi, tapi aku sudah terlalu lama menjadi pihak yang menerima penghakiman.
Minseok berkata, "Jadi, apa yang terjadi dengan Luhan?"
Ya Tuhan. Topik ini. Salah satu yang tidak ingin kubicarakan. Salah satu alasan yang akan menegaskan kembali bahwa dia dan orang tuaku membenarkan tentang masalah ini mungkin akan menjadi adegan yang terburuk bagiku. Salah satu alasan yang akan memberi mereka kesan yang salah tentang bagaimana indahnya kehidupan ini ketika kau menganggap segalanya bersama Chanyeol.
Aku berkata, "Aku hampir tak pernah melihatnya. Dia selalu bekerja di restoran itu atau pergi untuk panggilan casting." Nah. Aku telah berbohong. Tapi aku harus melakukannya. Dan itu berhasil. Dia ganti ke topik lain.
"Apa yang kau lakukan ketika kau libur?" Tanya dia.
Aku bisa saja menjawab jujur dengan satu kalimat yang tiba-tiba muncul di benakku: Ketika aku tidak bekerja, aku mengerjai Chanyeol. Tapi itu adalah lelucon kecil yang harus kusimpan untuk diriku sendiri.
Aku memberinya respons secara umum, hang out dengan teman-teman, masih berusaha untuk melihat seluruh penjuru kota dan sekelilingnya, pergi ke gym.
"Apa kau sudah bertemu dengan seorang cowok?"
Cowok. Aku terlihat sangat ragu-ragu, sedikit terlalu lama karenanya jelas sekali aku harus memberikan jawaban itu.
Kami berbaring di tempat tidur. Aku tidur terlentang, ia tengkurap, ketika dia merasakan aku punya sesuatu yang menarik untuk dikatakan, dia berguling miring menghadap ke arahku.
"Ohhh, Kau punya. Cepat katakan."
Jadi aku menceritakannya. Bahkan tentang perjalanan ke Napa. Tapi tidak kuceritakan saat aku ke New York.
"Dan...ingat ketika aku mengatakan padamu bahwa ada seseorang yang telah menyelamatkanku dari Kai malam itu di pintu apartemenku?"
"Ya. Seorang tetangga, tapi...apakah orang ini yang kau maksud?"
Aku mengangguk.
"Wow."
"Aku tahu. Dan aku minta maaf aku berbohong kepadamu tentang dia."
"Jangan khawatir tentang hal itu. Jadi, film apa yang sudah ia buat?"
Aku bilang padanya, dan Minseok sudah pernah menontonnya dua diantaranya. Dia sangat menyukai salah satu film itu, ia memiliki DVD-nya di rumah.
Sejenak dia terdiam. Lalu kemudian, "Wow," tapi kali ini lebih lembut, seakan-akan dia sedang mencoba untuk membayangkan seperti apa kehidupan adiknya. "Kau tampak bahagia, tapi...tapi juga tidak."
Sial. Dia bisa membacaku dengan baik.
"Hanya saja aku sangat yakin dia serius denganku, tapi aku takut perasaanku lebih mendalam daripada perasaannya. Kau tahu?"
"Apa kau pernah membicarakan itu dengannya?"
"Oh, Tuhan tidak."
"Kenapa tidak?"
Aku mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Ketika aku berpikir tentang hal ini, dadaku terasa sesak dan perutku bergejolak.
"Aku tak ingin mendorongnya terlalu cepat," kataku.
Dia mengangguk. "Jadi, kau tidur dengannya?"
"Ya." Aku memejamkan mataku.
"Kalau begitu sudah serius."
Kadang-kadang Minseok benar-benar bisa berpikir rasional dan berwawasan luas. Kadang-kadang dia benar-benar bisa menjadi naif. Dan kadang-kadang dia bisa menggabungkan kedua hal itu pada waktu yang hampir bersamaan.
"Aku tak tahu," kataku.
"Bagaimana tampangnya?"
Aku mengeluarkan teleponku dari tas untuk mencari gambar di Google. Aku mematikan suaranya sepanjang malam, dan ketika menggeser layarku, aku melihat sms dari Chanyeol yang telah kulewatkan.
Bunyinya: Aku akan datang untuk menjemputmu.
"Tunggu," kataku pada Minseok. "Aku harus membalas sms seseorang."
"Dia?"
"Ya."
Aku mengirim sms: Apa!?
Chanyeol: Hanya bercanda dan itu sudah dua jam yang lalu.
Aku: Lagipula, kau tidak akan bisa menemukanku.
Chanyeol: Kau meremehkanku.
Aku: Aku tahu. Itu adalah kebiasaan buruk.
Chanyeol: Silahkan terus melakukannya. Akan jadi lebih mudah untuk mengesankanmu.
Aku: Jadi kau benar-benar tidak akan datang untuk menjemputku?
Chanyeol: Tidak. Aku cukup bermimpi saja malam ini.
Aku: Awwww.
Chanyeol: Apa kau baru saja melihat anak anjing?
Aku: Apa?
Chanyeol: 'Awwww '? Orang-orang mengatakan itu ketika mereka melihat anak anjing atau bayi. Aku berharap kau akan mengatakan 'Aku akan menebusnya untukmu'.
Aku: Aku akan menebusnya untukmu.
Chanyeol: Awwww.
Aku: Haha! Aku harus kembali bicara dengan kakakku. Dengan senyum di wajahku mungkin Minseok akan mengasumsikan sesuatu yang terburuk.
Chanyeol: Dia pasti lebih bijak. Besok aku ingin bicara denganmu. Merindakanmu.
Aku: Aku juga.
Aku menutup sms dan membuka browser, membuka Gambar di Google dan menemukan foto Chanyeol.
"Sini. Inilah dia."
Aku menyerahkan teleponku ke kakakku.
Dia menatap foto itu, kemudian menatapku, lalu melihat lagi ke fotonya. "Aku tidak percaya. Kau bertemu dengan cowok keren ini?"
Aku mengangkat alis. "Astaga, terima kasih."
"Tidak, tidak. Aku tidak bermaksud seperti itu." Dia tertawa terbahak-bahak. "Penyampaianku salah. Hanya saja...wow, dia sangat tampan."
"Dan menyenangkan, dan lucu, dan baik hati, pemurah, menarik, menggairahkan, kreatif."
Dia menyela: "Jujur?"
"Ya. Well, kecuali untuk satu hal ini." Aku menceritakan padanya tentang Zi Tao.
"Meskipun aku paham kenapa dia tidak segera memberitahumu."
"Aku tahu. Aku tidak bersikap adil padanya ketika hal itu terjadi. Tapi kami bisa melewatinya."
Dia menyerahkan kembali telepon kepadaku. "Aku tak senang mengatakan ini, tapi aku benar-benar cemburu."
"Oh, hentikan."
"Dia bukan Jongdae. Omong-omong soal Jongdae, aku harus menelepon dan tahu bagaimana keadaan disana."
Sementara dia menelepon, aku melihat foto Chanyeol, kemudian ke sms yang baru saja kami kirim. Sialan, aku sudah terlalu jatuh cinta padanya, dan aku sangat jatuh cinta hingga tak akan bisa mundur lagi.
Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigiku sementara ia telah selesai menelepon. Aku mulai merasa lelah dan tak bisa menunggu lagi untuk segera tidur. Meskipun dengan semua pembicaraan tentang Chanyeol, dicampur dengan sedikit pembicaraan mengenai Kai, dan bagaimana ketakutanku yang muncul dari persembunyiannya secara acak, kuharap aku tak akan mendapatkan salah satu mimpi buruk itu lagi sementara aku tidur di ruangan yang sama dengan kakakku.
.
.
.++
TBC
