Chanyeol melemparkan ponselnya ke atas kasur setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Luhan.

Dia tak peduli dengan apa yang akan perempuan itu lakukan.

Chanyeol melepaskan bajunya dan menggantinya dengan yang baru dia ambil dari dalam lemari kemudian berjalan keluar kamarnya menuju dapurnya untuk mengambil minum.

Matanya melirik ke arah beranda ketika dia meminum air mineral yang telah di ambilnya dan dia diam sesaat lalu menurunkan gelas itu dan meletakkannya diatas meja makan.

Chanyeol berjalan menuju pintu yang menghubungkan beranda luar dan dapurnya, lalu membuka pintu itu dan berjalan menuju sebuah pot panjang berisi bunga baby breath yang berada disana.

Dia berpikir bunga baby breath di dalam pot itu tumbuh dengan baik dan sengingatnya, dia tak pernah merawat bunga itu sejak terakhir kalinya dia terpaksa harus merawat bunga itu karena sesuatu hal.

"Dia merawat bunga ini?" Tanya pada dirinya sendiri.

Bunga kecil yang tak ada artinya di bandingkan bunga yang lain dan hanya sering digunakan sebagai pelengkap untuk sebuah buket bunga.

Biasa saja. Tak ada yang istimewa.

Benar-benar tak ada yang indah dari bunga itu.

"Dan perempuan menyedihkan itu menyukainya."

Chanyeol langsung berbalik dan pergi menjahui pot itu kemudian berjalan menuju kamarnya dan meraih ponselnya yang masih membuka pesan yang Luhan kirimkan.

Gue aja yang mengakhiri ini semua

Dan dia membalas pesan itu.


Baekhyun menarik nafasnya dalam kemudian perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat.

Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan fokus pandangannya dan dia dapat melihat langit-langit ruangan berwarna putih yang diterangi oleh sebuah lampu yang sangat terang.

Sekali lagi dia berkedip dengan pelarhan, kemudian dia menggeraakkan kepalanya ke samping kanannya.

Seorang dokter terlihat menghampirinya diikuti beberapa suster yang langsung mengecek keadaannya.

"Nona Byun, anda bisa mendengar saya?"

Baekhyun berkedip perlahan lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus ke arah langit-langit ruang itu.

"… tolong ikuti jari saya …"

Baekhyun mengikutinya dengan perlahan.

"... bagaimana? …"

"…. baik dok, semuanya …"

"… segera hubungi keluarganya …"

Ah, hah, kenapa berisik sekali?

Baekhyun berusaha untuk mempertahankan kesadarannya, namun matanya terasa berat.

Dia mengerjap beberapa kali dengan perlahan lalu dia menutupkan kedua matanya pada akhirnya.

Kenapa mataku terasa sangat berat ya?

"Sudah bangun ya?"

Gelap.

Apakah itu tadi, Chanyeol?


Jinki berlari dengan cepat, tak peduli dengan sekertarisnya yang sedang kesuahan untuk mengerjanya dari belakang.

Dia membuka pintu kamar rawat Baekhyun dengan cepat dan saat itu dia berhenti untuk mengatur nafasnya yang satu-satu.

"Papa." Baekhyun tersenyum lebar ketika melihat Jinki berada di hadapannya. "Kenapa Papa kelelahan seperti itu?"

Jinki tersenyum tipis lalu berlari untuk memeluk tubuh anaknya itu. "Baekhyun, Baekhyun-ku." Dia terus mengulang menyebut nama anaknya itu dan manangis diantara panggilannya. "Maafkan Papa, maafkan Papa."

Baekhyun tak mengerti apa yang terjadi, namun dia membalas pelukan Papanya dan berkata, "Tidak," dia menggelengkan kepalanya, "tidak apa, tidak apa."

"Papa sangat mencintaimu, tolong jangan melakukan hal seperti itu lagi, tetaplah hidup."

Baekhyun hanya bisa tersenyum tipis dan dia tak membalas perkataan itu.

"Tetaplah hidup, Papa mohon."

Maafkan aku.


Kibum menjatuhkan ponselnya setelah mendengar kabar tentang Baekhyun dari Jinki.

Dia menangis dengan keras lalu berusaha mengumpulkan barang-barangnya yang ada di kamar dan pergi menuju rumah sakit yang telah diberitahu oleh Jinki.

"Mom? Ada apa?" Jae Ah mendorong kursi rodanya masuk kedalam kamar Kibum dan menatap penuh penasaran apa yang dilakukan ibunya itu.

Kibum langsung berhenti memasukkan barang-baranganya, dia memutar tubuhnya dan menatap datar Jae Ah.

"Baekhyun kini sedang bersama Papa, dan Mom ingin menemuinya."

Jae Ah tersenyum dengan lebar lalu berseru riang, "Aku juga ingin ikut! Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan dia, aku juga ingin menemuinya Mom. Aku juga kangen Papa, aku ingin menemuinya."

"Bisakah kamu berhenti?"

"Ya?" Jae Ah terekjut mendengar perkataan Kibum. Dahinya berkerut dalam namun berusaha tenang dengan ekspresi yang dia tunjukkan.

"Bisakah kamu berhenti sekarang?"

"Aku tak mengerti Mom, apa maksud-" Kibum meraih vas bunga yang ada di atas meja samping tempat tidurnya lalu melemparnya dengan kuat ke arah Jae Ah yang berhasil di hindari oleh perempuan itu dengan berdiri dari kursi rodanya. "Mommy! Kenapa Mom melempar vas bunga itu padaku?!"

Kibum tersenyum miring, "Kakimu sepertinya sembuhnya cepat ya Jae Ah? Ah, seharusnya aku melempar vas bunga itu padamu dari dulu agar kamu bisa berdiri dan berjalan kembali dengan menggunakan kedua kakimu itu. Senang melihatnya bahwa kamu sudah bisa seperti dulu lagi."