Un… aku pernah janji sama salah satu readerku kalau akan mengupdate jumat malam. Tapi karena ada suatu hal yang mendadak dan sama sekali gak aku inginkan, makanya updatenya diundur. Maafkan, ya…
Mohon dukungannya…
Chapter 35
Beberapa hari telah berlalu sejak kecelakaan pesawat yang dipiloti Hiroyuki Haruno. Tidak ada yang selamat dalam kecelakaan mengerikan itu, termasuk pilot dan awak pesawat. Pesawat naas itu mengalami kerusakan mesin yang parah saat hendak mendarat di Bandara Internasional Iwagakure, yang menyebabkan pesawat gagal mendarat dan terbakar setelah tergelincir sejauh dua kilometer dari landasan.
Setidaknya itulah yang selalu mereka dengar dari berita di surat kabar dan televisi.
Kabarnya bangkai pesawat itu nyaris hancur sehingga mereka kesulitan untuk mengidentifikasi para korban. Baru setelah beberapa hari sampai akhirnya jenazah para korban bisa diambil oleh keluarga masing-masing. Sungguh mengenaskan ketika mengetahui ada beberapa tubuh yang sudah tidak utuh, nyaris tidak bisa dikenali. Tapi tidak begitu dengan Hiroyuki Haruno, sang pilot.
Nyaris tidak ada luka di tubuh pria itu kecuali beberapa luka bakar kecil di kedua lengannya. Wajahnya yang bersih tak bercela tampak tenang dan damai, seperti sedang tertidur. Tapi itu semua tidak lantas mengurangi duka yang dialami istri dan anak perempuannya. Luka yang ditinggalkannya begitu mendalam dan menyakitkan bagi kedua wanita itu.
Azami Haruno, wanita yang biasanya selalu tampil tegar, tidak lagi kuasa menutupi kesedihannya karena kepergian sang suami yang begitu dicintainya. Sakura yang melihat itu semua, mencoba menjadi batu karang yang barangkali dibutuhkan ibunya untuk bersandar, tetapi gagal. Ia bahkan lebih rapuh. Lebih hancur…
"…kami turut prihatin, Nyonya Haruno…" gadis itu bisa mendengar seorang pria perwakilan Konoha Airlines berkata dengan suara rendah pada ibunya sesaat setelah pemakaman Hiroyuki. Dari sudut mata zamrudnya yang berkabut karena air mata, Sakura melihat ibunya hanya mengangguk lemah dan menggumamkan terimakasih sementara orang-orang itu menyampaikan rasa belasungkawa mereka. Dan setelah mereka pergi, wanita itu kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Kakashi yang merangkulnya, terisak.
Sakura kembali mengalihkan pandangannya ke gundukan baru di tanah pemakaman itu. Memandang ke arah nisan batu dengan ukiran nama sang ayah di atasnya dengan tatapan hampa. Sama seperti yang dirasakannya saat itu, hampa. Seakan ada lubang besar menganga di dalam hatinya. Cairan bening dan panas bergulir lagi dari sudut matanya.
Perlahan, orang-orang yang turut menghadiri pemakaman mulai meninggalkan tempat itu. Azami berseikeras tinggal beberapa lama lagi sebelum akhirnya berhasil dibujuk oleh Kakashi untuk pulang.
"Sakura?" Kakashi menoleh pada keponakannya, tapi Sakura tidak menjawabnya. Suara Kakashi baginya seperti berasal dari tempat yang sangat jauh, tidak berarti.
"Tidak apa-apa, Pak Hatake," Sakura bisa mendengar suara Naruto samar-samar. "Dia bersama kami. Kami akan mengantarnya nanti."
Kakashi mengangguk, lalu membimbing Azami yang masih terisak meninggalkan tanah pemakaman menuju sedannya yang terparkir tak jauh dari sana.
"Sakura…" Sakura merasakan remasan lembut di bahunya beberapa lama berselang setelah Kakashi pergi. Ia pun menoleh, untuk mendapati Ino berdiri di sampingnya. Rupanya gadis pirang itu juga masih ada di sana. Mata birunya juga sembab dan ada bekas air mata di pipinya yang mulus. Gadis itu tersenyum kecil. "Yuk, kita pulang…" ajaknya lembut pada Sakura.
"Kenapa, Ino?" tanya Sakura dengan suara tercekat. Air matanya semakin menderas. "Padahal ayah sudah janji akan pulang… Padahal dia sudah janji akan menghabiskan waktu lebih banyak denganku… Padahal…"
"Sakura…" bisik Ino serak. Ia lalu merengkuh sahabatnya itu, menariknya dalam pelukan erat. "Ikhlaskan saja, Sakura… Ikhlaskan…" suaranya terdengar parau sementara ia juga mulai menangis.
Tangis miris Sakura pecah di bahu Ino. Melihat kedua gadis yang bersahabat sejak kecil itu menangis bersama, Naruto dan Sasuke—yang juga bertahan di sana untuk menemani Sakura—bertukar pandang. Tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.
Naruto memalingkan wajah untuk menatap Sakura sekali lagi. Mata biru langitnya yang biasanya selalu bercahaya tampak suram dan memerah. Ia sama sekali tak menyangka, melihat Sakura dengan kondisi seperti ini akan membuat hatinya terasa sakit.
Sementara di sampingnya, ekspresi Sasuke tampak keras dan bingung. Ia belum pernah menghadapi situasi semacam ini dan tidak tahu harus berbuat apa selain tinggal untuk mendampingi salah satu sahabatnya itu melewati masa sulit ini.
-
-
-
Naruto menatap kursi yang biasa diduduki Sakura di kantin sambil menghela napas berat. Sudah beberapa hari ini—tidak, tepatnya sejak kabar tentang kecelakaan pesawat itu—bangku itu kosong. Ramen yang sudah mulai dingin di depannya pun ia biarkan saja. Rasanya nafsu makannya menghilang.
Sasuke, yang duduk di meja yang sama juga tidak banyak bicara. Meskipun ini tidak membuat perbedaan yang begitu mencolok mengingat Sasuke memang sedikit bicara, tapi kali ini terasa berbeda. Tidak seperti biasanya, tatapannya tampak seringkali menerawang. Seperti Naruto, mata onyx-nya berkali-kali mengarah ke bangku Sakura yang kosong.
Sungguh aneh melihat meja itu sunyi, pikir Ino yang sedari tadi memperhatikan keduanya dari bangkunya sendiri. Walaupun ia tidak selama yang lain menyaksikan kebersamaan ketiganya, namun ia mengerti ada yang hilang di sana. Tidak ada suara keras Naruto yang menceritakan lelucon. Tidak ada suara dalam Sasuke yang mencemooh. Terlebih, tidak ada Sakura yang rupanya telah menjadi semacam 'jembatan' bagi keduanya.
Ino menatap kedua cowok itu dengan tatapan sedih selama beberapa saat lagi sebelum beranjak dari bangkunya. Gadis itu mengangkat nampan makan siangnya, lalu dengan mengacuhkan panggilan teman-teman perempuannya, ia melangkah melintasi kantin untuk menghampiri meja tempat Naruto dan Sasuke duduk.
"Hai, guys," sapanya seraya meletakkan nampannya di atas meja dan duduk di kursi yang biasa diduduki Sakura. Kedua cowok itu menoleh sekilas ke arah gadis pirang itu sebelum kembali memalingkan wajah. Ino tersenyum paham. "Well, sepertinya mendung di luar juga sudah turun di meja ini, ya?"
Tak ada seorang pun dari keduanya menanggapi selama beberapa saat, sebelum akhirnya Naruto berkata parau, "Aku mengkhawatirkan Sakura."
Sasuke menghela napas, memainkan gelas limun di antara jemarinya yang panjang. "Hn."
"Semua orang mengkhawatirkannya," sahut Ino, tersenyum sedih. "Aku tidak pernah melihatnya seterpukul itu sejak Kak Himeko meninggal." Ia terdiam sejenak. "Padahal dulu, ketika Kak Hime meninggal, Sakura masih mau bicara padaku. Tapi sekarang dia bahkan tidak mau ditemui siapa pun—atau bicara pada siapa pun—Dia bahkan tidak mau menjawab teleponku waktu aku menelepon ke rumahnya."
"Kau juga?" Naruto menoleh lagi pada Ino. Alisnya terangkat.
"Tentu saja. Dan kurasa kau juga sudah mencoba menghubunginya, Naruto?" gadis itu balik bertanya.
Naruto menghela napas berat. "Yeah. Aku dan Sasuke sudah mencoba menghubunginya. Tapi Sakura seperti menghindari kami. Dia tidak mau menerima telepon, tidak membalas sms…" jeda sejenak sementara ia mereguk limunnya, "Aku bahkan ragu ia membuka email yang kami kirim. Kami benar-benar kehilangan kontak dengannya sejak pemakaman ayahnya."
"Dia juga tidak datang ke restoran," kata Ino, "Bibi Azami memberitahuku, Sakura menolak makan dan mengurung diri terus dalam kamarnya."
Sasuke menggeram pelan, tampak gusar. "Cewek bodoh itu, benar-benar…" tapi ia tidak melanjutkan kalimatnya. Antara kesal dan cemas menghadapi kelakuan baru Sakura kali ini.
"Sakura itu sangat dekat dengan ayahnya," kata Ino seraya menatap Sasuke, "Ini pastilah teramat berat baginya. Dulu kakaknya… sekarang ayahnya… Kau mengerti, kan? Kuharap kau tidak menghakiminya—"
"Aku tidak menghakiminya!" Sasuke menukas. "Aku hanya… mengkhawatirkannya," tambahnya lebih pelan. Lalu ia menundukkan wajahnya, seolah sedang menyembunyikan emosi yang mendadak terpeta di sana.
Ino melempar senyum tipis padanya. "Kalian sudah mencoba ke rumahnya?" tanyanya kemudian seraya menatap kedua cowok di meja itu bergantian.
Naruto menggeleng pelan. "Pertandinganku tinggal dua hari lagi. Aku nyaris tidak ada waktu." Ia lalu mengerling Sasuke, "Tapi Sasuke pernah ke sana sekali. Iya kan, Sasuke?"
"Hn," cowok itu menjawab muram.
"Dan katanya Sakura tidak mau menemuinya," kata Naruto. "Kudengar Sakura malah meminta kami tidak usah memedulikannya lagi."
"Oh, Sakura…" keluh Ino seraya mendorong nampan makan siangnya menjauh, lalu menjatuhkan kepalanya ke atas lengannya yang terlipat di atas meja, tampak sedih. "Sampai kapan dia mau begitu terus?"
"Aku tidak tahu…" bisik Naruto muram. Tapi yang jelas, ia tidak bisa membiarkan Sakura terus-menerus tenggelam dalam kedukaan seperti ini. Ia kembali menoleh pada Sasuke, dan ketika pandangan mereka bertemu, mereka sepakat bahwa mereka harus melakukan sesuatu.
Tapi masalahnya… apa?
-
-
-
BMW hitam Itachi sudah terparkir di depan garasi ketika Sasuke pulang sore harinya. Tumben, pikir Sasuke seraya melangkahkan kaki menaiki undakan depan rumahnya, biasanya Itachi selalu pulang setelah Sasuke sudah di rumah.
"Aku pulang," Sasuke memberitahukan kedatangannya sambil membuka pintu depan. Detik berikutnya, Rufus sudah menyalak ribut dan menyerbu ke arahnya. Retriever tampan itu melompat-lompat girang, hendak menjilati telinga tuan tercintanya. Sasuke dengan mudah menghalaunya, dan setelah memberi anjingnya garukan singkat di belakang leher, ia segera melepas sepatunya dan masuk.
Itachi sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dengan suara keras ketika Sasuke masuk. Pria muda itu masih mengenakan kemeja kerjanya. Jasnya tersampir sembarangan di punggung kursi dan dasinya masih ada di kerah kemejanya, terikat longgar.
"Baru pulang, Kak?" tanya Sasuke sambil berjalan menuju tangga menuju kamarnya.
Itachi menoleh. "Yeah," sahutnya dengan seringai aneh—yang membuat adiknya mengernyitkan dahi.
Tapi Sasuke memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing saat itu. Barangkali masalah di kantor, atau baru ditegur ayah mereka—atau sedang bertengkar dengan pacarnya? Mengangkat bahu, Sasuke melanjutkan langkahnya ke kamar. Setelah menaruh tasnya, ia segera menyambar handuk dan menuju kamar mandi.
Sementara menikmati pancaran air hangat dari shower, Sasuke kembali memikirkan Sakura yang tengah dirundung duka sekali lagi, memikirkan kembali apa yang sebaiknya diperbuatnya untuk membuat gadis itu kembali ceria. Tapi tidak ide yang cukup baik melintas di otaknya. Sejauh ini ia dan Naruto sudah melakukan apa yang mereka bisa. Menelepon setiap malam, mengirim pesan singkat bernada pemberi semangat, mengirimkan email, bahkan datang ke rumahnya. Tapi semua itu sama sekali tidak ditanggapi oleh Sakura.
Benar-benar tidak ada tanggapan. Kecuali kalau teriakannya menyuruh Sasuke pergi saat ia mendatangi rumahnya beberapa hari lalu dihitung sebagai tanggapan. Sasuke menghela napas. Kalau saja ia tidak sedang mencemaskan keadaan gadis itu, Sasuke pastilah sudah tersinggung dan marah besar.
Ia juga mulai mencemaskan Naruto. Sudah beberapa hari ini, sahabat pirangnya itu tampak lesu dan tidak bersemangat, termasuk dalam latihan. Kemampuannya di lapangan menurun drastis, seakan ia sudah tidak tertarik lagi dengan pertandingan. Padahal ia adalah penyeranginti dan pertandingan tinggal dua hari lagi. Kalau Naruto seperti itu terus, Sasuke hampir yakin karibnya itu terancam dicopot dari posisinya yang sekarang.
Jangan sampai deh, pikirnya. Tapi dengan Temujin yang terus-terusan memarahi dan meneriakinya seperti tadi siang, Sasuke khawatir itu malah membuat Naruto semakin tidak bersemangat lagi. Ia pastilah begitu mengkhawatirkan Sakura sampai seperti itu.
Kalau begitu, satu-satunya cara mengembalikan semangat Naruto adalah membuat Sakura kembali seperti dulu. Tapi bagaimana caranya?
Akh, tiba-tiba saja Sasuke merasa tidak berguna… Mengapa otaknya yang katanya jenius itu selalu tumpul setiap kali memikirkan hal-hal semacam ini?
Sasuke menyudahi acara mandinya. Ia mengeringkan tubuhnya dan segera berganti pakaian.
Itachi masih dalam posisinya semula ketika Sasuke turun. Ia masih memelototi layar televisi dengan tampang kusut. Betapa kagetnya Sasuke ketika ia melihat tangan kakaknya itu memegang sepuntung rokok yang tinggal setengah. Dan sebungkus lagi di meja di sebelah asbak. Sasuke tahu betul kakaknya itu benci merokok. Mengapa? Sasuke bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat Itachi yang sangat menjunjung tinggi hidup sehat itu tiba-tiba merokok?
Sebagai adik yang baik, Sasuke sudah barang tentu mencemaskan kakaknya. Ah, sepertinya tambah seorang lagi yang dicemaskannya sekarang, kan? Sempurna…
"Ada apa?" Sasuke menanyai kakaknya sambil duduk di sofa di sampingnya. Ia mengambil remote di meja dan mengecilkan volumenya, sebelum memandang kakaknya. "Kau kelihatan kacau, Kak."
Itachi tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa, menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Banyak pikiran," ujarnya dengan nada muram.
"Masalah kantor?" tebak Sasuke dengan nada yang diusahakannya tidak terdengar terlalu tertarik, sambil mengganti chanel televisi.
Itachi tertawa muram. "Tidak juga," sahutnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah meja untuk mematikan rokoknya di asbak. "Kau sudah makan?" Itachi jelas sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sasuke memandang kakaknya sambil mengernyit. "Belum," jawabnya setelah beberapa lama.
"Bagaimana kalau kita makan di luar, eh?" usul Itachi kemudian. "Sudah lama kita tidak makan di luar, kan?"
Sasuke menimbang-nimbang beberapa saat. Dan ketika ia memandang tampang penat Itachi sekali lagi, menurutnya kakaknya itu memang butuh refreshing barang sebentar. Dan Sasuke sendiri juga jelas membutuhkannya.
"Oke," sahutnya akhirnya.
Itachi tersenyum. "Kalau begitu aku mau ganti baju dulu." Dan pria itu pun beranjak ke kamarnya.
---
"Mau makan di mana?" tanya Sasuke dari belakang roda kemudi ketika BMW mereka meluncur meninggalkan Crimson Drive tidak lama kemudian.
Itachi, yang kali ini duduk di bangku penumpang di sebelah adiknya, tidak langsung menjawab. Sambil menghela napas, matanya memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. "Terserah kau sajalah," sahutnya setelah beberapa saat. "Tapi sebelumnya, bisakah kau putar-putar dulu? Yah, keliling Konoha atau apalah…"
"Hn." Sasuke melirik kakaknya sekilas sebelum kembali berkonsentrasi ke jalan di depannya, lalu membelokkan mobil ke arah kota.
Sementara mereka melewati deretan bangunan yang semakin merapat, Sasuke terus mengira-ngira apa sebenarnya yang sedang terjadi pada kakaknya. 'Banyak pikiran' macam apa yang membuatnya terus-terusan menghela napas dan bermuka masam seperti itu? Dan yang paling membuat cemas—sampai merokok segala? Pasti bukan masalah pekerjaan, Sasuke membatin. Pasti masalah lain, karena Sasuke tahu betul kakaknya itu paling pantang dibuat stress oleh urusan kantor. Segalanya selalu dibawa santai.
"Kak, sebenarnya ada apa denganmu?" Sasuke tidak tahan lagi untuk tidak bertanya ketika mereka sudah memasuki kota Konoha yang benderang.
"Ada apa denganku apanya?" Itachi bertanya balik sambil mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap sang adik.
"Ada apa denganmu? Maksudku, kelakuanmu agak aneh, tahu—dan kau merokok. Padahal aku tahu kau bukan perokok, Kak," ujar Sasuke, mengerling kakaknya sekilas.
Seringai tipis muncul di wajah kakaknya, dilanjutkan dengan tawa kecil. "Yah… maaf soal rokok itu. Kau tidak suka baunya, ya?" Jelas sekali Itachi sedang mengelak.
Sasuke balas menyeringai. Bukan itu sebenarnya masalahnya, Kak, pikirnya. Dan ketika ia mengerling lagi ke arah Itachi, kakaknya itu sudah kembali memandang ke jendela dengan wajah muram. Sasuke menghela napas pelan. Sepertinya Itachi enggan membicarakan masalahnya, setidaknya untuk sekarang ini.
"Sasuke, apa yang kau lakukan kalau pacarmu menuduhmu selingkuh?" celetuk Itachi kemudian.
"Apa?" Sasuke mengerjap bingung. Mengapa kakaknya tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu? "A-apa maksudmu?"
"Jawab saja pertanyaanku," desak Itachi sambil menatap Sasuke. "Apa yang akan kau lakukan. Kukira dengan banyak cewek-cewek yang mengejarmu, kau pasti banyak pengalaman, kan?"
Apanya yang banyak cewek-cewek yang mengejar? Seperti sendirinya tidak saja. Dan apa maksudnya dengan 'banyak pengalaman'? Satu-satunya pengalamanku yang berhubungan dengan cewek adalah ditolak Hinata—dan aku enggan mengungkit-ungkit itu, Sasuke membatin jengkel.
"Aku tidak tahu," jawab Sasuke kemudian. "Kenapa menanyakan pertanyaan seperti itu pada orang yang jelas-jelas lebih tidak berpengalaman dibanding kau, sih?"
Itachi tertawa. "Ah, ya. Sori, aku lupa, kau kan tidak pernah pacaran," ujarnya dengan nada mengejek.
Sialan!
Itachi mengambil napas dalam-dalam. "Sebenarnya…" dan saat berikutnya Itachi sudah mencurahkan semua masalah yang dialaminya pada sang adik. Rupanya Itachi sedang bertengkar dengan pacarnya karena ulah seseorang yang tidak senang atas hubungan mereka. Ulah orang itu dengan sukses telah membuat gadis Itachi itu salah paham dan menuduh pria itu ada main dengan wanita lain. Dan sampai sekarang mereka belum ada kontak—karena gadis itu tidak mau menemui Itachi bahkan menolak semua telepon dan pesannya.
Kedengarannya seperti Sakura, pikir Sasuke. Hanya saja masalahnya berbeda.
"Menurutmu bagaimana caranya supaya Hana mau mendengarkan penjelasanku, eh?" tanya Itachi, lebih pada dirinya sendiri. "Apa yang harus kulakukan? Aku masih sangat menyayanginya…"
Sasuke mendengus. Baru kali ini ia mendengar kakaknya bicara dengan nada seperti itu. Rupanya masalah asmara itu benar-benar pelik, bahkan seorang jenius seperti Itachi pun sampai dibuat pusing seperti ini.
Tapi lebih dari itu, ini juga kali pertamanya Itachi membicarakan hal semacam ini pada sang adik. Entah mengapa ini membuat Sasuke—sedikit banyaknya—merasa senang, seakan Itachi sudah benar-benar menganggapnya, sudah tidak melihatnya seperti anak kecil lagi. Meskipun sayang sekali Sasuke merasa kali ini ia tidak bisa membantu kakaknya itu.
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa bantu," ujarnya kemudian.
Itachi tertawa kecil. "Tidak apa, Sasuke. Kau mau mendengarkanku saja, itu sudah cukup membantu." Ia lalu mengulurkan tangan, mengacak-acak rambut adiknya.
"Hei! Hentikan, Kak!" Sasuke mencoba menyingkirkan tangan Itachi dari kepalanya.
"Kalau kau bagaimana?" tanya Itachi selang beberapa saat.
"Bagaimana apanya?" Sasuke balik bertanya bingung.
"Kau ada masalah juga, kan?" Itachi menatapnya. "Jangan kira aku tidak tahu, Sasuke. Sejak ayah Sakura meninggal…" kalimatnya tiba-tiba terputus. Ekspresi wajahnya berubah. "Bicara soal Sakura, bagaimana kabarnya sekarang?"
"Itulah…" sahut Sasuke muram. "Dia tidak datang ke sekolah sejak kecelakaan itu. Sepertinya Sakura amat terpukul. Dia tidak mau menemui kami, bahkan tidak menjawab telepon dan pesan yang kami kirim. Kami sedang mencari cara bagaimana supaya dia bisa… yah, kalau kau mengerti maksudku, Kak."
"Gadis malang," komentar Itachi sambil menggelengkan kepala.
"Dan sekarang Naruto juga mulai ketularan. Padahal pertandingan sepak bolanya tinggal dua hari lagi."
"Kau pasti sangat mencemaskan mereka eh, Sasuke?" ujar Itachi seraya melirik adiknya, menepuk bahunya.
"Entahlah," Sasuke mengangkat bahunya. Tentu saja aku mencemaskan mereka!
Mobil mereka berhenti di lampu merah. Sepasang kekasih berjalan melewati mobil mereka sambil bergandengan tangan dan tertawa-tawa. Sasuke mendengar Itachi mengeluh pelan—pemandangan barusan pastilah mengingatkannya pada masa-masa indah yang dihabiskannya dengan gadisnya sebelum hubungan mereka kacau seperti sekarang. Demi mengalihkan perhatian sang kakak, Sasuke berinisiatif menyalakan tape mobil. Ia mengeraskan volume-nya dan lantunan 'Save Me' milik Remmy Zero yang menghentak langsung memenuhi mobil itu.
I feel my wings have broken in your hands
I feel the words unspoken inside
When they pull you under
And I would give you anything you want
Well all I wanted
All my dreams have fallen down
Crawling around
Somebody save me
And two warm hands break right through me
Somebody save me
I don't care how you do it
Just stay, stay
Come on..
I've waiting for you…
Sembari menunggu lampu lalu lintas menyala hijau, Sasuke kembali memperhatikan kakaknya. Jemari panjang Itachi mengetuk-ngetuk pegangan pintu mobil, tapi iramanya tidak singkron dengan lagu yang sedang mereka dengarkan, lebih lambat. Itachi pasti sedang kepikiran lagi pada pacarnya, pikir Sasuke.
Suara klakson dari mobil di belakang mereka mengalihkan perhatian Sasuke dari kakaknya. Rupanya lampu lalu lintas sudah hijau. Sasuke cepat-cepat melajukan mobilnya lagi mengikuti barisan panjang mobil-mobil lain di depannya. Konoha memang kota sibuk, ia membatin, sampai malam seperti ini lalu lintas masih juga padat.
"Arah mana?" tanya Sasuke ketika mobil mereka mendekati perempatan. Tapi Itachi seperti tidak mendengarkannya. "Kak Itachi!" Sasuke menepuk lengan kakaknya, membuat pria muda itu tersentak.
"Eh? Apa?"
"Arah mana?" ulang Sasuke, mengendikkan kepala ke depan.
"Oh, kiri saja. Kita ke Konoha Square," Itachi menunjuk ke belokan ke kiri. "Kita makan malam di sana saja."
"Hn." Sasuke kemudian membelokkan mobilnya ke arah yang ditunjuk sang kakak.
Konoha Square adalah semacam pusat keramaian yang terkenal di Konoha. Pusatnya adalah monumen lambang Konoha berukuran raksasa yang dikelilingi oleh air mancur cantik dan lapangan berumput yang sangat bersih tempat kau bisa duduk-duduk. Tepat di sebelah taman terdapat deretan restoran outdoor di mana kau bisa menyantap makanan lezat sambil menikmati udara segar. Di sisi lainnya terdapat distrik pertokoan yang menjual berbagai macam barang, terutama barang-barang fashion yang digemari para wanita. Konoha Central Park juga terletak tidak jauh dari sana. Tempat itu biasanya sangat ramai di setiap akhir pekan. Tapi berhubung saat itu bukan akhir pekan, jadi suasananya jauh lebih tenang.
Kakak beradik itu memilih salah satu restoran yang menyediakan hidangan seafood setibanya di Konoha Square dan duduk di bagian outdoor. Pemandangan dari sana sangat bagus. Mereka bisa melihat monumen Konoha dengan air mancurnya yang memendarkan cahaya dari lampu sorot dengan sangat cantik. Terlebih dengan taburan bintang yang menjadi latar belakangnya. Alunan live music dari para musisi jalanan yang mengadakan pertunjukkan tidak jauh dari tempat mereka juga semakin menyemarakkan suasana.
"Aku dan Hana sering kemari," kata Itachi setelah pelayan yang mencatatkan pesanan mereka pergi. Sasuke mengalihkan perhatiannya dari rombongan pemusik dan menatap Itachi. Pria itu tersenyum tipis. "Dia suka seafood."
"Sakura dan Naruto suka segala macam makanan. Mereka pemakan segala," gumam Sasuke pelan, yang tidak didengar oleh Itachi.
Pesanan mereka datang tidak lama kemudian. Itachi terus saja mengoceh tentang pacarnya itu sementara mereka makan—yang didengarkan sambil lalu oleh Sasuke. Ia terlalu asyik mendengarkan musik yang mengalun samar-samar di antara suara orang-orang yang lewat. Ia ingat Naruto juga dulu pernah memberI live music di restoran Sakura dengan almarhum Tuan Haruno. Ia ingat bahwa hari itu kedua sahabatnya itu banyak tersenyum dan tertawa. Ah, rasanya rindu sekali mendengar tawa mereka lagi seperti saat itu…
"…kami selalu membicarakan segala macam hal. Dia sangat cerewet, tidak pernah kehabisan bahan obrolan," suara Itachi masuk lagi ke dalam indera pendengaran Sasuke, mengalihkan perhatiannya lagi. Itachi mengambil waktu mengunyah makanannya pelan-pelan dan menelannya sebelum melanjutkan pelan, nyaris berbisik, "Aku benar-benar merindukan saat itu…"
"Bunga," celetuk Sasuke tiba-tiba. Matanya barusan tidak sengaja menangkap seorang pria bermantel cokelat sedang memberikan setangkai mawar merah pada wanita muda—yang kemungkinan besar adalah kekasihnya—di dekat air mancur. Wanita itu tampak gembira sekali. "Cewek biasanya suka bunga, kan? Beri saja dia bunga."
"Bunga, ya?" Itachi menghela napas. "Aku sudah pernah coba, tapi tidak berhasil…"
"Bunga yang banyak," kata Sasuke lagi. Kali ini ia teringat drama televisi yang pernah ditontonnya saat ibunya memaksa ditemani menonton televisi saat masih di Oto. Di drama itu, tokoh laki-laki memenuhi rumah tokoh wanita dengan buket bunga hanya untuk minta maaf. Agak konyol, menurutnya, tapi berhasil. Barangkali dengan Itachi juga berhasil. "Kirimi dia bunga yang banyak, kalau perlu beli semua bunga di toko untuknya."
Itachi terbengong sejenak, lalu tertawa. "Waduh, ternyata adikku ini punya pikiran yang romantis seperti itu juga, ya?" kekehnya sambil geleng-geleng kepala.
"Apanya yang 'waduh'?" tukas Sasuke tersinggung. "Aku serius. Aku pernah melihat di televisi—"
Itachi mengangkat alisnya tinggi. "Di televisi? Jangan-jangan kau menonton drama picisan—"
Wajah Sasuke langsung berubah merah. "Bukan aku!" bantahnya, "Ibu yang nonton. Jangan menertawakanku!"
"Aku tidak menertawakanmu," kata Itachi. Padahal dari wajahnya, jelas sekali ia setengah mati menahan tawa. Tapi ekspresi geli itu berubah ketika ia mulai memikirkan usul adiknya. "Kau tahu, Sasuke? Meskipun sedengarannya agak konyol, tapi sepertinya idemu itu boleh juga."
Dan itulah yang mereka lakukan setelah menyelesaikan acara makan malam mereka dan membayar tagihan. Kedua kakak beradik itu langsung meluncur ke Yamanaka's Flowers Shop—toko bunga terbesar di penjuru Konoha. Toko bunga itu terletak di pinggiran Konoha, tidak jauh dari Konoha High.
Bau harum segera tertangkap oleh indera penciumannya begitu Sasuke dan kakaknya menginjakkan kaki di toko bunga yang luas itu. Sasuke mengedarkan pandangannya dan mendapati bunga-bunga beraneka macam dan warna memenuhi ruangan itu. Bibirnya sedikit tertarik, pemandangan ini mengingatkannya pada kebun mawar milik ibunya di rumah mereka di Oto.
"Selamat datang," sambut suara seorang gadis penjaga toko. "Ada yang bisa kami bantu?" gadis itu bertanya ramah.
Dan saat berikutnya Itachi segera mengutarakan tujuannya datang ke tempat itu; memesan seratus buket bunga mawar merah untuk dikirim besok pagi. Sementara kakaknya mengurus semua yang diperlukan—dengan seorang florist yang terkaget-kaget mendengar jumlah buket yang dipesan—Sasuke berkeliling toko untuk melihat-lihat. Ia tengah mengagumi deretan bunga lili putih yang besar ketika suara seorang gadis mengagetkannya.
"Lili putih yang besar itu namanya Cassablanca (1). Cantik, ya?"
Sasuke menoleh dan terkejut ketika melihat gadis berambut pirang yang dikenalnya. "Kau?"
"Halo, Sasuke," balas Ino Yamanaka sambil tersenyum manis. Gadis itu mengulurkan tangan untuk menyentuh kelopak Cassablanca yang besar. "Kenapa terkejut begitu melihatku, hm?" tanyanya, tertawa kecil melihat tampang kaget Sasuke.
"Sedang apa kau di sini malam-malam?" tanya Sasuke setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
Ino memberinya tatapan aneh. "Apa yang kau bicarakan? Aku tinggal di sini. Apa kau tidak melihat?" gadis itu menunjuk papan nama besar di bagian belakang toko, "Yamanaka's Flowers Shop. Aku Ino Yamanaka. Toko ini milik orang tuaku."
"Oh!" kata Sasuke, merasa bodoh karena tidak menyadarinya sebelumnya. "Sori."
Ino tersenyum lagi. "Tidak apa-apa," ujarnya. Mereka terdiam selama beberapa saat. "Hei, orang yang di sana itu kakakmu, ya?" Ino bertanya kemudian sambil mengerling ke arah gerai, di mana Itachi tampak sedang sibuk menulis sesuatu.
"Hn," sahut Sasuke, mengangguk.
"Banyak sekali dia memesan mawar," kata Ino sambil memandang Sasuke, ekspresinya ingin tahu. "Apa kalian mau ada acara khusus yang memerlukan banyak mawar?"
"Tidak juga," jawab Sasuke. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Lalu untuk apa?"
Sasuke menatap Ino dengan alis terangkat. Cewek ini benar-benar ingin tahu segala, mirip seperti Sakura, pikirnya agak jengkel. "Kurasa itu urusannya, bukan urusanmu."
Kali ini giliran alis Ino yang terangkat. Tapi detik berikutnya tawanya pecah. "Ternyata benar apa yang dikatakan Sakura, kau sangat dingin seperti es," komentarnya.
"Terserah," Sasuke berpaling dan berjalan ke deretan yang memajang beraneka macam anggrek.
Ino mengikuti di belakangnya. "Kau sudah menghubungi Sakura lagi?" gadis itu bertanya.
Gerakan Sasuke yang hendak menyentuh kelopak sebuah anggrek bulan yang cantik terhenti sejenak. "Belum," sahutnya, menarik kembali tangannya dan dimasukkannya lagi ke dalam saku.
"Aku sudah, tapi seperti kemarin-kemarin, Sakura tidak mau mengangkat," Ino terdengar menghela napasnya. Ia terdiam lagi sejenak. "Hei, aku punya ide!" serunya kemudian.
Mau tak mau Sasuke menoleh juga padanya. "Ide? Untuk Sakura?"
"Tentu saja. Apa lagi?" gadis itu tertawa kecil. "Aku berpikir kalau kita barangkali harus mengiriminya bunga. Sakura suka sekali bunga, barangkali dengan itu bisa menghiburnya. Apalagi kalau bunga itu pemberian seseorang yang… er… spesial."
Sasuke memikirkan kata-kata Ino beberapa saat, tampak agak bingung. "Apa maksudmu dengan seseorang yang spesial?" tanyanya.
Ino menghembuskan napas keras, lalu membasahi bibirnya dengan gugup. "Itu… kau tahu kan siapa cowok yang istimewa untuk Sakura?"
Ah, Sasuke mulai mengerti. "Maksudmu kau mau meminta Neji untuk mengirimi Sakura bunga?"
"Bukan begitu," sahut Ino cepat-cepat, "Akan sangat aneh kalau kita memintanya begitu. Dia tidak akan mau. Maksudku… yah, barangkali saja dia mau, tapi… Neji kan tidak terlalu dekat dengan Sakura." Gadis itu tampak bingung sendiri."Maksudku, bagaimana kalau kita mengirimkan bunga untuk Sakura atas nama Neji?"
Sasuke mendengus kecil. "Itu sama saja dengan penipuan."
"White lie, Sasuke! Bohong untuk kebaikan kan tidak ada salahnya," kata Ino. "Ayolah, kau mau, kan? Demi Sakura…" bujuknya.
"Kenapa aku? Kenapa tidak kau saja?" Sasuke mengernyitkan dahi, jelas sangat enggan kalau harus menipu begitu.
"Sakura sudah hafal tulisan tanganku," Ino berkilah, "Dia akan tahu kalau aku yang menulis. Sementara kau kan belum terlalu lama di sini. Barangkali dia belum hafal tulisanmu."
"Kenapa tidak ditulis dengan komputer saja?" tanya Sasuke tak mau kalah.
Ino membuka handak membuka mulutnya untuk membantah Sasuke, namun sepertinya ia tidak berhasil menemukan kata-kata yang tepat. Tentu saja yang dikatakan Sasuke masuk akal. Hanya saja egonya terlalu tinggi saat itu dan ia sedang tidak ingin dibantah, terlebih oleh cowok yang baru dikenalnya ini. Maka dengan pandangan sebal, gadis itu berseru marah, "Kau ini teman macam apa sih? Tega sekali membiarkan temanmu bersedih terus seperti itu!" Dan ia segera berbalik menuju gerai, meninggalkan Sasuke yang tercenung.
Teman macam apa maksudnya? Sasuke membatin gusar. Tentu saja ia tidak setega itu membiarkan temannya berkubang dalam duka terus-menerus. Ia juga sedang memikirkan cara supaya Sakura bisa kembali ceria lagi… Tapi… barangkali yang dikatakan Ino ada benarnya juga. Tidak ada salahnya berbohong demi kebaikan, bukan?
Dengan pikiran seperti itu, Sasuke berjalan mendekati gerai, tempat Ino sedang membantu salah satu florist yang sedang merangkai buket bunga. "Baiklah. Beri aku sebuket bunga yang bagus," katanya dengan suara rendah.
Ino mengangkat wajahnya dari pita yang sedang diguntingnya, tersenyum penuh kemenangan pada cowok itu—Sasuke memutar bola matanya—"Bagaimana dengan mawar putih? Sakura suka mawar putih…"
"Sesukamu lah," gumam Sasuke. Ia melirik ke arah Itachi yang sepertinya belum selesai menulis sementara Ino pergi mengambilkan bunga.
Itachi mengangkat kepalanya dari memo yang sedang ia tulis, tampak berpikir. Lalu pria itu menoleh pada adiknya, menatapnya sejenak, lalu nyengir. Seakan baru saja mendapatkan ide, ia kembali menunduk dan melanjutkan menulis.
"Ini bunganya," kata Ino tak lama kemudian sambil meletakkan sebuket mawar putih cantik di atas gerai. Ia lalu merogoh ke dalam laci di bawah gerai, mengeluarkan secarik kartu memo yang biasanya disertakan dengan bunga berwarna merah hati dan mengulurkannya pada Sasuke. "Tulis sesuatu, Sasuke."
Sasuke mengambil kartunya dan bolpoint yang tergeletak di atas gerai. Sejenak, ia tampak berpikir, kalau ia jadi Neji, apa kira-kira yang akan ditulisnya? Yang jelas bukan sesuatu yang puitis dan gombal karena Neji bukan tipe cowok seperti itu. Barangkali sesuatu yang singkat dan simpel, mengingat Neji bukan orang yang banyak bicara. Hm…
"Sudah?" tanya Ino selang beberapa menit.
"Yeah." Sasuke mengangsurkan kartu itu pada Ino. "Bagaimana?"
Ino menunduk untuk membaca apa yang telah ditulis Sasuke. "Tulisanmu bagus," komentarnya sambil tersenyum.
"Aku mencoba meniru tulisan Neji," gumam Sasuke.
"Kalian sudah lama kenal, kalau begitu?" tanya Ino ingin tahu.
Sasuke memutar bola matanya. "Sudahlah, itu tidak penting. Baca saja," tukasnya.
Ino mencibirnya, lalu mengangkat kartu itu dan membacanya,
'To: Sakura Haruno
Setiap orang pasti pernah mendapat musibah, Sakura.
Tapi itu tidak lantas membuat kita terus-terusan berkubang dalam kesedihan, bukan?
Teman-temanmu semua mencemaskanmu.
Kami menunggumu kembali ke sekolah secepatnya.
Neji Hyuuga.'
"Hm… lumayan," komentar Ino. "Lebih bagus kalau kau memasukkan beberapa kata-kata romantis." Gadis itu melempar cengiran pada cowok di depannya—yang tampaknya mengacuhkan komentar terakhirnya tadi—lalu mengikatkan kartunya dengan hati-hati di buketnya.
Sasuke baru saja akan membuka dompetnya untuk membayar bunganya ketika Ino berkata lagi, "Bunga ini gratis dariku." Ia tersenyum. "Anggap saja kita patungan."
"Hn." Sasuke memasukkan kembali dompetnya ke saku belakang celananya sementara Ino berjalan mengitari gerai dengan membawa buket itu dan menghampiri salah satu karyawan yang baru saja sampai mengantarkan karangan bunga.
"Misumi, tolong kau antar bunga ini ke alamat ini ya," Sasuke bisa mendengar Ino berkata pada pria itu sambil menyerahkan buket mawar putih di tangannya beserta secarik kertas yang telah ditulisi alamat Sakura.
"Baik," pria itu menyahut. Dan setelah ia menaruh buket bunga itu dengan aman di motornya, ia segera melesat pergi.
Sang putri pemilik toko bunga itu masih berdiri di pintu depan tokonya, mengawasi sampai motor Misumi menghilang di tikungan, ketika ia melihat ayah ibunya muncul di ujung jalan sambil bergandengan tangan dan tertawa-tawa. Ino meletakkan kedua tangannya di pinggul, bibirnya mengerucut. "Papa! Mama! Kalian berdua dari mana saja sih?! Meninggalkan toko begitu saja!"
Inoichi Yamanaka, pria paruh baya berambut pirang panjang yang adalah ayah Ino, tertawa melihat wajah kesal sang putri. "Jangan cemberut begitu, Darling. Kami hanya mencoba menu kue baru di coffe shop sebelah. Iya kan, Ma?" ia melirik sambil merangkul istrinya yang tertawa-tawa kecil.
"Dan kue-nya benar-benar enak, Sayang," ujar wanita yang rambut pirangnya lebih terang dari rambut suaminya sambil mengedipkan mata birunya pada sang putri. "Kau harus coba kapan-kapan."
"Tidak, terimakasih. Aku sedang diet," kata Ino sambil memutar bola matanya. Ia menghela napas dan berbalik masuk kembali ke dalam toko. Kedua orang tuanya ini kelakuannya seperti pasangan yang masih pacaran saja, pikirnya. Lihat saja sweter kembaran yang mereka pakai. Ayahnya memakai sweter yang bertuliskan 'I Love My Wife' dan ibunya memakai 'I Love My Husband'. Benar-benar manis.
"Bunganya sudah diantarkan," beritahu Ino pada Sasuke ketika gadis itu menghampirinya di gerai.
"Hn." Sasuke menganggukkan kepala. Ia melirik ke arah meja kasir, di mana kakaknya sedang membayar pesanan buketnya dan sedang disapa dengan penuh antusias oleh Tuan dan Nyonya Yamanaka. Alisnya naik saat melihat sweter kembaran yang dipakai kedua orangtua Ino. Sepertinya itu mengingatkannya pada sesuatu yang lucu karena saat berikutnya sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis.
Tepat saat itu, telepon dinding di belakang gerai berdering. Ino bergegas mengangkatnya. "Halo? Yamanaka's Flowers Shop, bisa dibantu?"
"Sasuke!" Perhatian Sasuke langsung teralih begitu mendengar suara Itachi memanggilnya. Pria itu memberi isyarat bahwa ia sudah selesai. Sasuke mengangguk, lalu menoleh pada Ino.
"Aku pulang dulu," beritahunya pelan.
Ino menutup corong bicara dengan tangannya. "Oke. Sampai ketemu di sekolah, Sasuke," katanya sebelum kembali beralih pada teleponnya.
"Terimakasih sudah berkunjung, Tuan Uchiha!" seru Nyonya Yamanaka ketika kakak beradik Uchiha itu berjalan meninggalkan toko.
"Kau beli bunga juga, Sasuke?" Itachi bertanya padanya ketika keduanya baru saja masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak lebih sumringah dari sebelumnya.
"Tidak juga," jawab Sasuke sambil memasukkan persneling. Saat berikutnya BMW hitam itu sudah meluncur di jalanan Konoha yang semakin lengang seiring dengan malam yang semakin larut. "Ino yang kirim sebenarnya, aku hanya membantunya menulis kartu ucapan. Untuk Sakura, kau tahu, kan?" Sasuke menambahkan ketika melihat Itachi mengerutkan dahi dengan ekspresi tidak mengerti. "Dia pikir barangkali dengan mengiriminya bunga atas nama Neji, Sakura bisa—"
"Neji? Memangnya apa hubungannya Sakura dengan Neji?" tanya Itachi penasaran.
"Bisa dibilang Sakura naksir Neji," sahut Sasuke dengan nada malas.
"Ow!" kata Itachi, nyengir. "Seleranya boleh juga, eh?"
Sasuke memutar matanya.
"Kalau begitu masalah Sakura setidaknya sudah ada pemecahannya. Lalu bagaimana dengan Naruto?"
"Dia—" Sasuke tiba-tiba tersentak, seakan baru teringat sesuatu. "Kak, sepertinya kita harus putar balik ke kota." Dan tanpa menunggu tanggapan sang kakak, Sasuke membelokkan mobilnya dengan tajam kembali ke arah kota.
"Oi! Hati-hati dong kalau mau belok!"
-
-
-
Dan kakak beradik itu baru tiba kembali di Crimson Drive menjelang tengah malam.
---
TBC…
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto, Lagu 'Save Me' Ost-nya Smallville © Remy Zero.
Putz' Note :
(1) Cassablanca, aku ambil dari manga Sailor Moon volume 6 (kalo gak salah). Cassablanca adalah bunga lili putih yang besar, bunga kesukaan Rei (Raye), Sailor Mars.
Rufus gak ada waktu Itachi dan Sasuke jalan-jalan keluar. Anggap aja dia udah ditaruh di rumah-rumahannya, sekalian jaga rumah bisi ada maling… ^^
Uci-chan : Sesuatu yang spesial di balik novel romance-nya Sasuke? Ada deeeeh~ hehehe…
Chika-chan : Emang diriku mah gak bisa angsty sih.. huhu… ya jadinya begitu, seadanya sajah.
Hakara Sin : Wah, udah repot-repot mbaca dari chapter awal banget. Thanks banget ya.. jadi tersanjung 6, nih… -lho? Kok kaya judul sinetron?-
Emi-chan : Haduh.. merendah nih, Emi-chan, imouto-ku yang imut-imut –disambit karena ngaku-ngaku- tulisanmu bagus banget kok. Malah aku yang iri karena gak bisa berdeskrip-ria secanggih dirimu. ^^
Kakkoii-chan : Di pikiranku sih iya, mereka masih keturunan –atau reinkarnasi- ninja-ninja itu. Um… kalo soal rambutnya Neji, aku rasa gak sepanjang yang di canon. Gondrong sih, tapi lebih pendek. Dan tetep dikucir rapi.
Lawra-chan : Soal pairing, bisa dilihat nantiiiiii banget. Hehehe… Makasih sudah membaca!
Mayura : Ah, dirimu sudah lama sekali tak berkunjung… -peluk-peluk- Makasih ya dah berkunjung lagi… -peluk-peluk-
Aika-chan : Aaaah… bagian itu udah kadung ditulis tuh. Soal Sasu menderita atau enggak, bisa tebak sendiri yah… kalo dijelasin sekarang, gak seru atuh..
Antlia : Aaaargh! Dirimu kemana ajaaaa?? –ditakol Antlia- Iya dong, harus ada runyam-runyamnya biar seru. Hehehe… Eh? Suka SasuHina ya?
Teh Bella : Kalo ketemu hantu, jadinya horror dong, Teh.. hihi… XD
Buat semua periviewku tercinta, makasih banyak yah…
