I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
Memo
By parkcheonn
Lagu yang dipilih: You
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Baekhyun menyukainya. Ah, bukan, Baekhyun hanya tidak berani mengakui bahwa perasaannya lebih dari sebatas suka. Karena kenyataannya ia mencintai remaja lelaki yang juga berada di kelas yang sama dengannya itu. Park Chanyeol, si tampan yang tidak banyak bicara, tapi sangat populer di seluruh angkatan. Dan kini berkali-kali lebih tampan ketika ia berhasil membuat kehebohan di sepenjuru sekolah hanya karena rambutnya yang dicat blonde saat memasuki awal semester beberapa minggu yang lalu. Alasan itu juga yang membuat Baekhyun semakin gencar mencari cara untuk menjadi kekasih Chanyeol.
Semua dimulai ketika Baekhyun mendapat ide konyol dari serial cerita wattpad yang ia baca. Liburan kenaikan kelas yang ia habiskan untuk membaca cerita online dari aplikasi orange itu memberinya inspirasi untuk mendekati lelaki pujaan hatinya dengan cara yang sama. Pada dasarnya Baekhyun adalah seorang yang berotak picisan, hingga tanpa ragu ia meraih kertas memo dan bolpoin. Kemudian menuliskan sesuatu di sana.
Chanyeol, aku menyukaimu. Aku tak bisa mengekspresikannya setiap hari betapa aku menyukaimu~
-Snow^^
Baekhyun tersenyum puas pada hasil tulisannya pada kertas berwarna merah muda tersebut. Matanya kemudian menerawang membayangkan rencananya berhasil dan ia akan berkencan dengan Park Chanyeol sang pujaan hatinya. Menjadi sepasang kekasih, lalu berpegangan tangan di bus yang penuh sesak, dan berciuman di balik rak perpusatakaan… Baekhyun tanpa sadar terkikik dan menghentakkan kakinya karena malu sendiri. Astaga, Baekhyun tak sabar untuk itu!
"Chanyeol, Chanyeol~ kuharap kita berjodoh!"
Baekhyun tak bisa tidur nyenyak malam itu. Ia tak sabar untuk ke sekolah besok, tapi jangan lupakan bahwa Chanyeol yang terus berputar-putar di mimpinya hingga Baekhyun tak bisa membedakan mana mimpi dan yang mana realita.
-o0o-
Menjadi sebuah keberuntungan Baekhyun berhasil mendapat tempat duduk tepat berada di samping Chanyeol semester ini. Dan tentu akan memudahkannya untuk memasukan secarik kertas memo ke dalam tas Chanyeol secara diam-diam. Tapi tetap saja itu tidak mudah ketika ia harus menunggu kelas kosong agar tidak ketahuan teman-teman sekelasnya. Misi yang hanya Baekhyun lakukan seorang diri mungkin akan terlihat konyol jika terbongkar.
Orang mana yang akan percaya dengan hal picisan seperti ini?
Hanya Baekhyun.
Ketika kelas berangsur kosong, Baekhyun bergerak cepat menuju tempat duduk Chanyeol dan menyelipkan memo pada bagian sisi depan tasnya. Ia letakkan pada tempat yang mudah terlihat dan menggabungkannya diantara alat tulis milik Chanyeol.
Baekhyun berdecak puas. Setelah merapikan letak tas Chanyeol ia berbalik dan hampir terpekik karena keberadaan seoonggok gadis berkepang dua di belakangnya.
"Yak! Kau membuatku kaget, Yerin." Baekhyun merengut kesal.
Gadis imut yang bernama Yerin itu mengembungkan pipinya, kedua tangannya berkacak pinggang seraya menatap Baekhyun curiga.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tatapan tajam Yerin membuat Baekhyun tergagap. Bagaimana mungkin ia memberi tahu yang sebenarnya? Tidak ada yang tahu kalau ia menyukai Chanyeol, termasuk Yerin sahabatnya.
"A-aku, tadi ada kecoa di tas Chanyeol, dan aku harus mengusirnya."
Alasan yang cukup masuk akal.
"Tapi, bukannya kau takut kecoa?"
Skakmat.
Baekhyun tidak memikirkan itu sama sekali.
"Bahkan kau akan langsung lari ketika melihat serangga itu." Yerin skeptis.
Bertindak tanpa rencana adalah kebiasaan Baekhyun. Dan dari kebiasaan itu ia sering terjebak karena ulahnya sendiri. Lalu sekarang bagaimana, Byun? Jika ketahuan tamatlah reputasimu.
"K-kalau yang mati a-aku tidak takut. Makanya a-aku berani menyingkirkannya. Selama dia tidak mengejarku, tidak apa."
Yerin sejenak diam mencerna pengakuan dari Baekhyun. Sedang remaja laki-laki mungil itu menggigit bibirnya gugup dengan hati berharap agar sahabatnya tersebut percaya.
"Apa jangan-jangan orang setampan Chanyeol adalah pria jorok?"
Pertanyaan polos Yerin seketika membuat Baekhyun menoleh cepat padanya. "Hah?"
"Astaga, aku tidak percaya Chanyeol ternyata sejorok itu. Kupikir wajahnya yang tampan tanpa cela itu menjadikannya pribadi yang suka menjaga kebersihan. Tapi ternyatahei, apa yang kau lakukan?!"
Baekhyun langsung menyeret Yerin keluar kelas sebelum gadis itu benar-benar tidak bisa mengontrol mulutnya. Seketika Baekhyun merasa bersalah karena membodohi Yerin dan membuat Chanyeol terlihat buruk di mata sahabatnya. Bagaimana pun juga ini di luar misi.
"Sudahlah lupakan dan berhenti mengoceh. Lebih baik ayo kita ke kantin!"
Tapi yang terpenting, Baekhyun sudah berhasil memasukkan suratnya ke tas Chanyeol.
Sekarang tinggal menunggu langkah selanjutnya! –Baekhyun.
-o0o-
Terhitung sudah seminggu Baekhyun selalu menyelipkan memo pada tas Chanyeol. Sebenarnya ia tidak ingin mengharapkan lebih─hanya fantasinya saja yang berlebihan─karena keinginan Baekhyun sebenarnya adalah Chanyeol mengetahui ada seseorang yang memiliki perasaan benar-benar tulus padanya. Bukan hanya kekaguman semata yang sering didapatkan lelaki itu dari orang sekitarnya, bukan juga karena daya tarik dan semua kelebihan yang dimilikinya.
Baekhyun menyukai Chanyeol apa adanya.
Ia mencintai Chanyeol setulus hatinya
Ketika semua alasan menjadi sulit dijabarkan dengan ucapan, Baekhyun memilih menyukai Chanyeol dalam diam. Ketika dulu yang ia lakukan hanya menatap dan bermimpi untuk menjadi kekasih Chanyeol, sekarang tidak lagi, lembaran-lembaran memo yang ia kirimkan setiap hari sudah menjadi langkahnya untuk mendekati Chanyeol.
Chanyeol, aku mencoba lebih keras untuk mengontrol perasaan ini. Tapi sepertinya aku sangat serakah, karena sekarang aku mencintaimu~
-Snow^^
Jika tidak berhasil, mungkin ini akan menjadi yang terakhir kali Baekhyun mengirimkan memo. Chanyeol seolah tidak mengubrisnya, sedang lembaran warna-warni itu hampir ia temukan setiap hari di dalam tasnya. Setidaknya Baekhyun bersyukur Chanyeol tidak membuangnya, entahlah, yang ia lihat setiap hari hanya kernyitan bingung dari remaja tampan itu atas semua yang dilakukan Baekhyun, dan setelahnya Baekhyun tak mengetahui kemana surat-suratnya berakhir.
Tapi tidak untuk hari ini…
"Ada yang tahu siapa pemilik memo ini? Aku menemukannya setiap hari di dalam tasku."
Baekhyun tidak pernah memprediksi bahwa Chanyeol akan berdiri di depan kelas seraya menunjukkan memo biru yang ia selipkan hari ini. Di hadapan seluruh teman-teman sekelasanya, Chanyeol berada di sana bersama memo berisi tulisannya.
"Siapa di kelas ini yang bernama Snow?"
Suasana kelas berubah berisik sedang Baekhyun ingin mengubur dirinya menghilang dari tempat ini. Sungguh, Baekhyun hanya asal memilih nama Snow di dalam surat itu, bukan sesuatu yang khusus. Tapi entah kenapa ini menjadi petaka untuknya hari ini.
"Chanyeol, bisa kulihat suratnya?"
Suara Yerin dari arah kursi depan mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Baekhyun. Remaja mungil itu mendadak berubah panik dan seketika mendapatkan firasat buruk setelah ini.
"ASTAGA, BUKANKAH INI TULISAN TANGAN BAEKHYUN?!"
Terkutuklah mulutmu, Fuck Yerin!
Lantas semua orang menatapnya dan Baekhyun ingin mengeluarkan seluruh umpatan namun tertahan. Gadis bodoh itu, seketika Baekhyun menyesal menjadikan Yerin sahabatnya. Kesialan apa yang telah ia lakukan di masa lalu hingga harus terjebak pada situasi ini?
"A-APA MAKSUDMU? AKU TIDAK MENULIS APAPUN?!"
Dan menyangkal adalah satu-satunya cara agar Baekhyun bisa melepaskan diri.
Yerin mendekatinya, "Tapi, Baek, ini benar-benar seperti tulisan tanganmu?"
Baekhyun menggeleng keras dan menghindar, "Apa-apaan, bahkan tulisan tanganku lebih bagus dari itu?"
"Tapi"
"Satu-satunya cara untuk membuktikan adalah mengetesnya."
Suara bariton Chanyeol dan langkah tenang remaja tampan itu menengahi perdebatan mereka. Baekhyun dapat merasakan tatapan tajam Chanyeol menghujamnya hingga membuat lehernya meremang. Kini Chanyeol berdiri tepat di hadapannya, memandangnya dalam untuk pertama kali, dan Baekhyun membeku sedang benaknya menjerit menyerukan ketampanan Chanyeol yang tidak manusiawi.
"Byun Baekhyun, jika kau menyangkal tulisan itu bukan milikmu, maka kau harus membuktikannya."
Kalimat itu terkesan datar tapi seakan mampu menghempas Baekhyun pada batu karang. Seluruh tatapan teman sekelasnya seolah menunjukkan ia seorang tertuduh. Baekhyun tak tahu bahwa perbuatannya akan menimbulkan masalah sepelik ini.
"Aku..," Baekhyun menelan ludahnya, "Baiklah."
Baekhyun merebut memo itu dari Yerin, lalu meraih bolpoin dan menuliskan kalimat yang sama pada lembaran kertas itu. Ia menggigit bibirnya gugup, sedang jemarinya gemetar pada genggaman bolpoin di tangannya. Beruntung Baekhyun dapat menyelesaikan tulisannya tanpa kesalahan.
Ia menyerahkannya pada Yerin.
Mata gadis itu memicing mengamati tulisan Baekhyun, "Benar, ini memang sedikit berbeda dari tulisan Baekhyun."
Baekhyun mendengus, "Apa gunanya kau jadi temanku jika membedakan tulisanku saja tidak bisa?"
Yerin melotot. "Hei, aku, kan, tidak tahu!"
"Jadi itu bukan darimu?" suara Chanyeol kembali menghentikann perdebatan mereka.
Baekhyun membuang muka, menghindari Chanyeol. "Tentu saja bukan!"
Sesaat Chanyeol terdiam, sedang Baekhyun berusaha mengendalikan degup jantungnya karena gugup. Ia gugup karena Chanyeol masih di sana dan menatapnya.
"Baiklah, aku mengerti." Chanyeol kembali pada raut datarnya. "Maaf atas ketidaknyamananmu."
Dan kalimat itu menjadi yang terakhir sebelum remaja jangkung itu berbalik meninggalkan Chanyeol dan Yerin masih terdiam. Meningglkan kelas yang suasananya telah berangsur kembali menjadi semula. Seketika Baekhyun merasa bersalah karena telah berbohong.
"Maafkan aku, Baekhyun-ah," Yerin memegang tangannya. "Aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf karena telah menuduhmu, bagaimana?"
Tanpa di sangka, Baekhyun melepaskan tangan Yerin. Gadis itu tampak bingung melihat perubahan air wajah Baekhyun.
"Tidak apa, tapi sekarang aku tidak lapar." Baekhyun tersenyum tipis. "Pergilah, aku ingin menyelesaikan catatanku yang tertunda."
Yerin awalnya ragu tapi akhirnya mengangguk setelah Baekhyun tersenyum meyakinkan. Sesudah kepergian gadis itu, Baekhyun tersisa seorang diri di dalam kelas. Remaja mungil itu terdiam di posisinya, sedang benak berubah gusar hingga Baekhyun memilih duduk untuk menenangkan diri.
Dengan pikiran yang terus mengulang perdebatan tadi, Baekhyun bergerak cepat meraih sticky notes di dalam tasnya. Sesaat ia terdiam sebelum akhirnya menuliskan sesuatu dengan perasaan mantap.
Beri aku kesempatan sebanyak hari ini.
Maka Baekhyun tanpa ragu kembali menyelipkan kertas itu ke dalam tas Chanyeol.
-o0o-
"Chanyeol, aku menyukaimu. Maukah kau jadi kekasihku?"
"Sebenarnya aku yang menulis semua surat itu, maaf sudah berbohong."
"Bisakah kitaAISHHH!"
Baekhyun mengacak rambutnya frustasi dan menghentakkan kedua kakinya di depan cermin kamarnya. Penampilannya yang kini tampak manis─hoodie hitam kebesaran dan celana training putihterlihat kontras dengan wajah kusutnya. Jam sudah hampir menunjukan jam 3 dan satu jam yang akan datang adalah jadwal pertemuannya dengan Chanyeol.
Jika kau ingin melihatku, datanglah besok jam 4 ke taman dan kau akan mengetahui siapa aku~
-Snow^^
Dan itu menjadi alasan Baekhyun berlatih berbicara dan tersenyum dengan menawan di depan kaca hari ini. Baginya ini adalah kesempatan terakhir, maka Baekhyun ingin melakukannya dengan sebaik-baiknya. Sebuah keberuntungan Chanyeol mengumumkan memo yang ia selipkan, itu artinya Chanyeol tidak menyangkal keberedaannya.
Setelah memantapkan tekad dan merapikan penampilannya, Baekhyun sekali lagi menatap pantulan dirinya di depan cermin. Tersenyum semanis mungkin sebelum berbalik keluar dari kamarnya.
-o0o-
Baekhyun mendudukan dirinya di ayunan. Sore itu, taman tampak sepi dan hanya ada beberapa orang yang melakukan rutinitas di sana. Baekhyun melirik arlojinya dan menemukan jarum jam panjang telah menunjukkan lewat dua puluh menit dari pukul empat. Ia mengerucutkan bibirnya seraya menyapu jalan setapak taman yang tampak lenggang.
"Chanyeol akan datang, bukan?"
Merasa bosan, Baekhyun memilih menggerakkan ayunan hingga ia tampak seperti anak kecil yang tengah bermain sore itu. Hingga tanpa sadar ia menghabiskan waktu di sana untuk menunggu kehadiran sang pujaan hatinya. Baekhyun hanya tidak tahu bahwa ia seperti menunggu sesuatu yang tanpa kepastian.
Ketika kepalanya terantuk tiang ayunan karena hampir tertidur, Baekhyun sadar langit yang jingga telah menandakan hari yang hampir petang. Baekhyun menatap sekitarnya yang masih sama sepinya, tanpa tanda-tanda kehadiran Chanyeol.
Baekhyun menghembuskan napas panjang dengan sorot mata sendu. Hatinya terasa sakit ketika yang ia dapati hanya menunggu tanpa tujuan yang jelas. Tentu saja, Chanyeol tidak akan datang, bahkan mungkin memo yang ia selipkan belum di baca. Jadi apa yang ia harapkan?
Baekhyun perlahan menunduk, di susul aliran bening yang tanpa sadar menetes dari matanya.
Bahkan hari ini aku berkencan dengan airmata sebagai kekasihku.
Di taman itu, akhirnya Baekhyun terisak seorang diri. Mengasihani kencan yang ia idamkan mendapat perlakuan seperti. Semua menjadi terasa sia-sia. Mungkin mundur untuk mencintai Chanyeol adalah yang ia harus lakukan sekarang.
Seseorang yang begitu sulit ia capai, bagaimana bisa?
"Baekhyun-ah..."
Baekhyun seolah mendapat kesadarannya kembali setelah mendengar suara itu. Tapi, seperti ilusi ia anggap itu hanya bagian dari mimpinya. Chanyeol mana mungkin
"Hei, Baekhyun-ah,"
Suara itu begitu nyata hingga Baekhyun sontak berbalik ke asalnya. Dan sungguh mengejutkan kini yang ada di belakangnya adalah Chanyeol. Benar-benar Chanyeol.
"K-kau.."
"Maafkan aku terlambat menemuimu, aku ketiduran." Dan pria itu terkekeh dengan tampannya.
Seketika Baekhyun menangis lebih keras. Berharap semua bukan hanya mimpi ketika Chanyeol benar-benar ada di depannya.
"C-Chanyeol, ini bukan mimpi, kan?"
Chanyeol tertawa dan berjongkong mensejajarkan tubuhnya pada Baekhyun.
"Aku senang akhirnya kau mengakuinya. Terimakasih, Baekhyun-ah."
Baekhyun mengerjapak matanya bingung sedang air mata masih memenuhi matanya. Tanpa menyadari Chanyeol terhibur dengan itu.
"Aku tahu semuanya, memo itu, dan kau yang menyukaiku. Tanpa perlu kau lakukan, aku juga menyukaimu. Tapi aku ragu karena kau sering diam tidak seperti yang lain, maafkan aku dan terimakasih."
Baekhyun terdiam, tapi kemudian menangis lagi terlalu tidak percaya. Chanyeol juga menyukainya? Astaga, Baekhyun bahagia sekali. Chanyeol yang melihat itu menarik Baekhyun ke dalam pelukannya.
"Byun Baekhyun, maukah kau jadi pacarku?"
"Ya, aku mau!"
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
