Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Tragedy, hurt/comfort, fantasy
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian atau pun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya! Yang tetep bandel saya kutuk ngejomblo seumur hidup!
Golden Cage
Chapter 33 : Dewi Kegelapan Kaguya
By : Fuyutsuki Hikari
Obito dan Sai tengah duduk menikmati arak dan buah persik yang terlihat begitu ranum saat Sasuke dan Naruto datang ke tenda yang ditempati keduanya. Udara memang menurun drastis siang ini hingga membuat keduanya memutuskan untuk menghangatkan tubuh dengan arak.
"Kalian menikmati buah persik tanpa mengundang kami?" Ada nada mencela yang terselip dalam suara Naruto saat mengatakannya. Obito dan Sai hanya tersenyum kering sementara Sasuke memapah istrinya lalu membantunya duduk di sebrang meja Sai.
"Baunya begitu menggoda," sambung Naruto nyaris meneteskan air liur. Buah persik sangat sulit ditemukan, dan biasanya dinikmati pada waktu-waktu tertentu, saat pesta atau perayaan besar di istana.
Sai tersenyum hangat, lalu menyodorkan satu piring emas berisi potongan buah persik pada Naruto. "Habiskan!" serunya membuat kedua mata Naruto berbinar, bahagia.
Obito menuangkan arak lalu menyodorkannya pada Naruto. Pria itu mengernyit, sedikit heran saat Naruto menolah cawan arak yang ditawarkannya. "Hari ini sangat dingin ada beberapa hal yang harus kita rayakan," tukasnya.
Cawan arak itu segera diraih oleh Sasuke, disesapnya minuman itu pelan. "Jangan memaksanya jika tidak mau," kata Sasuke tanpa ekspresi. Pria itu menatap Naruto, "Kau mau teh?"
Naruto mengangguk dengan antusias. Wanita itu tidak berkata karena mulutnya penuh dan sibuk mengunyah buah persik manis yang disuguhkan olehnya. Sasuke tersenyum lalu menyeduh teh untuk istrinya.
Sai termenung lama lalu mendesah berat sebelum bicara dengan nada tidak percaya, "Aku masih tidak percaya jika Mukade berniat menghabisi Putri Ino. Bukankah Putri Ino cucu kandungnya?"
Naruto tersedak hebat mendengarnya. Hingga detik ini ia juga tidak bisa percaya jika Mukade tega berniat membunuh cucunya sendiri hanya demi kekuasaan sesaat di dunia. Ia masih tersedak hebat saat dengan lembut Sasuke menyodorkan gelas teh dan membantu wanita itu untuk minum sembari menepuk pelan punggung Naruto penuh perhatian.
"Ino beruntung karena salah satu prajurit kaisar berhasil mencium ketidakberesan pada gerak-gerik Kabuto," kata Naruto setelah batuknya mereka. Ia menghapus air mata dengan lengan baju lalu kembali menggigit potongan buah persik yang lain.
"Atau kaisar sudah mencium rencana itu sebelumnya dan menunggu waktu tepat untuk menangkap tersangka," Sasuke menimpali ucapan Naruto, cepat. Walau Naruto memintanya untuk melupakan kemungkinan itu, tapi tetap saja Sasuke tidak bisa mengenyahkan kemungkinan itu dari dalam benaknya. "Tidak mungkin satu kebetulan jika kaisar menempatkan salah satu prajurit wanita terbaiknya disisi Putri Ino."
Sasuke masih saja kesal setiap kali mengingatnya, terlebih saat bayangan Naruto yang nyaris meregang nyawa saat melawan penjahat-penjahat itu melintas dalam benaknya. Gigi Sasuke gemeretak, ekspresinya terlihat dingin. Pria itu meneguk arak dalam cawannya dalam satu tegukan besar lalu meletakkan cawan kosong di atas meja dengan keras.
"Kurasa setelah ini, akan lebih baik jika kita segera kembali ke Ame," sambung Sasuke sembari menatap wajah kedua kakaknya bergantian. "Kita tidak memiliki urusan lagi dengan Konoha."
Naruto terlihat tidak setuju, namun ia tidak mengatakan apa pun.
"Bukankah itu terdengar tidak sopan?" tanya Obito, tenang. Menghadapi Sasuke yang tengah kesal bukanlah perkara mudah. Ia harus bisa bersikap tenang untuk bisa menembus kekerasan hati adik bungsunya itu.
"Aku tidak peduli," tukas Sasuke membuat Obito menghela napas keras. "Lebih cepat kita kembali ke Ame akan lebih baik—"
"Sayangnya kita tidak bisa melakukannya, Sasuke," Obito memotong, mengingatkan dengan kesabaran tinggi. "Apa kau lupa jika banyak prajurit Ame yang keracunan akibat ulah Kabuto? Mereka semua nyaris meregang nyawa dan harus mendapatkan perawatan. Satu-satunya tempat paling dekat untuk merawat mereka adalah Konoha."
Suara gemeretak gigi terdengar keras. Sasuke dengan jelas memperlihatkan kemarahannya, namun ia tidak bisa menampik karena ucapan Obito benar adanya. Saat ini kesehatan prajurit Ame harus menjadi perhatian utamanya dan kembali ke Konoha menjadi jalan satu-satunya untuk hal itu.
Sai mengambil sepotong buah persik dan berkata, "Menurut kalian apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Sasuke dan Obito mengangkat satu alisnya tinggi, sementara Naruto kembali menikmati buah persiknya hingga tidak menangkap ucapan Sai. Dengan tenang Sai menggigit kecil buah persiknya, selesai mengunyah dan menelan ia kembali bicara, "Masalah kematian Raja Mukade di tangan Kaisar Minato," sambungnya. "Bagaimana jika Rouran melakukan pemberontakan untuk balas dendam?"
Obito menggelengkan kepala. "Rouran tidak bisa menuntut apa pun atas kematian Raja Mukade," katanya, tenang. Ia melirik sekilas pada Sai yang mengernyit, tidak mengerti. "Raja Mukade berusaha membunuh Kaisar Minato, dan dia tewas karena bertarung dengan kaisar, itu kematian yang adil."
"Seharusnya kematiannya lebih menyakitkan," sahut Sai, tidak setuju. "Setelah kejahatan yang dilakukannya selama ini, kematian Raja Mukade terlalu mudah."
Sasuke menyesap araknya pelan, sebelum menimpali dengan nada tenang, "Kaisar Minato sangat pintar. Dia sudah berpikir jauh mengenai hal itu. Akan menjadi masalah jika Kaisar Minato menyiksa Raja Mukade terlebih dahulu. Kerajaan lain akan merasa terancam karena kaisar tega melakukan hal itu pada ayah mertuanya sendiri, namun dengan alasan usaha pembunuhan kaisar dan mati saat bertarung, kerajaan lain maupun Rouran tidak bisa menuntut Kaisar Minato atas kematian Raja Mukade."
Obito buru-buru berdiri. "Kaisar Minato memiliki cara lain untuk mempermalukan Raja Mukade hingga alam baka," suaranya terdengar berat. "Kaisar Minato tidak main-main saat mengatakan akan memperlakukan jenazah Raja Mukade seperti seorang budak paling rendah."
Ia menggelengkan kepala pelan. Obito berpunggung tangan, tatapannya tertuju pada Naruto mendongak dan menatapnya lekat. "Kupikir hukuman untuk Raja Mukade jauh lebih kejam daripada yang diterima Kabuto." Ia mengangkat bahunya ringan, "Rasa malu itu akan ditanggung Mukade hingga kehidupan selanjutnya."
Keheningan kembali meraja setelahnya. Keempatnya larut dalam lamunan masing-masing.
.
.
.
Di tempat lain, prosesi pengorbanan yang dilakukan Sara untuk Kaguya masih berlangsung. Tanpa rasa jijik wanita itu mengeluarkan satu per satu jantung wanita muda yang sudah dibunuhnya. Sara tidak tahu darimana kekuatan itu berasal, mungkin dendam dan amarah dalam dirinya yang membuatnya mampu melakukan hal keji itu. Entahlah.
Udara disekitar gua menurun tajam. Hari sudah siang, namun kegelapan masih menyelimuti wilayah itu. Sinar matahari tidak mampu menembus rapatnya awan hitam yang menggulung di atas wilayah itu.
Di kejauhan, kilat menyambar-nyambar disambung suara keras petir yang terdengar begitu menakutkan, namun Sara bergeming, seolah tidak terganggu bahkan saat tumbuhan-tumbuhan disekitarnya mulai membeku dan udara dingin semakin menusuk, hingga menusuk tulang.
Sara bernapas pendek-pendek. Udara dingin membuat napasnya berembun. Tinggal dua korban lagi dan ritual pertama akan diselesaikannya. Sara tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya setelah ini, yang jelas sang dewi tidak mudah untuk dipuaskan.
"Empat puluh jantung serta darah ini hamba persembahkan untuk Anda—Dewi Kaguya!" ucapnya setelah berhasil mengeluarkan empat puluh jantung wanita muda itu. Bau anyir tercium semakin kuat, sementara darah para korban membuat basah gaun hitam yang dikenakan oleh Sara.
Sara berlutut sembari mengangkat baki berisi empat puluh jantung wanita muda itu tinggi. Kepalanya menunduk dalam. "Mohon Dewi Kegelapan menerima persembahan hamba!" sambungnya tenang.
Kesepuluh prajurit yang datang bersama Sara hanya bisa berdiri terpaku. Mereka tidak menyangka jika permaisuri yang terlihat begitu lembut itu mampu melakukan pekerjaan keji dengan kedua tangannya yang halus.
Para prajurit itu bahkan harus menahan mual setiap kali Sara mengeluarkan jantung para korbannya. Dalam hati mereka menegaskan untuk tidak pernah mengkhianati sang permaisuri atau akan bernasib sama seperti keempat puluh gadis yang mereka culik dari desa-desa terdekat di Konoha.
Suara geraman kasar kembali terdengar. Menyeruak diantara rapatnya pohon-pohon tinggi yang mengapit sisi kiri dan kanan gua. Secara ajaib baki yang berisi empat puluh jantung itu menghilang hingga Sara terbelalak karenanya.
Tubuh wanita itu terhuyung saat bumi bergetar hebat. Aura kegelapan terasa begitu pekat dari mulut gua. Perlahan Sara menyunggingkan sebuah senyum penuh kemenangan. Mungkin Dewi Kaguya tersentuh oleh persembahannya.
Beberapa saat kemudian sebuah bayangan hitam mulai terbentuk di depan mulut gua. Bayangan itu perlahan membentuk sesuatu yang sangat besar dan hidup. Siluman?
Sara merasakan ketakutan mulai menjalar dari ujung kaki dan merambat naik hingga ujung kepalanya. Benaknya mulai bertanya-tanya makhluk apa yang ada dihadapannya saat ini?
Seiring berjalannya waktu, bayangan hitam itu mulai membentuk diri. Sara terperanjat, sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat makhluk itu mengibaskan delapan ekornya yang mirip tentakel gurita. Tubuh makhluk itu berwarna merah pucat dengan kepala seperti sapi.
Kedua mata makhluk itu terlihat lebih besar daripada mata makhluk normal lainnya. Dengusan napasnya membuat udara beku disekitar Sara meningkat drastis. Tubuh wanita itu seperti terpaku, membuatnya membeku dan terlihat kosong.
Tidak lama berselang makhluk itu berjalan pelan ke arah Sara. Bumi kembali bergetar. Aura kegelapan yang menyelimuti makhluk itu terasa berat, seolah ingin menghempas tubuh siapapun yang ada di dekatnya, lalu mencabik-cabiknya hingga menjadi potongan-potongan kecil.
Makhluk itu bernama Hachibi, abdi setia Kaguya. Hachibi menghembuskan napasnya yang berapi. Kedua mata makhluk itu memerah, dia tersenyum keji saat melihat kesepuluh prajurit yang mengawal Sara melarikan diri ke segala arah.
Hachibi mengibaskan satu tentakelnya, hingga tercipta sebuah angin besar yang langsung menggulung tubuh kesepuluh prajurit itu dan menghancurkannya. Darah kesepuluh prajurit itu menetes layaknya air hujan. "Tidak ada tempat untuk seorang pengecut!" suara Hachibi menggelegar sebelum membawa Sara dan Utatane masuk ke dalam gua yang gelap dimana tubuh Kaguya bersemayam lemah.
.
.
.
Sesuai dengan janjinya, Minato memerintahkan empat orang prajurit berkudanya untuk menarik jenazah Mukade ke empat penjuru mata angin. Dalam satu tarikan, tubuh raja tua itu terbagi menjadi empat bagian.
Di atas punggung kudanya Minato menatap pemandangan itu dengan sorot mata dingin. Tidak ada kilatan belas kasihan dikedua netranya. Sebaliknya, Minato mendapat kepuasan tersendiri karena berhasil membunuh musuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
Tidak ada yang boleh menyakiti putra-putrinya. Minato tidak akan memaafkan siapapun yang berusaha menyakiti buah hatinya. Dalam hidupnya ia sudah kehilangan selir kesayangannya, dan kehilangan waktu bersama Naruto. Karenanya kali ini ia tidak akan mengizinkan siapapun untuk merengut kebahagiaan yang mulai kembali datang dalam hidupnya.
Persetan dengan Sara. Wanita itu harus belajar menerima kenyataan jika ayah kandungnya tidak lebih dari seorang penjahat. Pria tua itu bahkan tega ingin membunuh Ino—cucu kandungnya sendiri hanya karena Ino menyaksikan kejahatan Mukade.
"Ayahanda, apa proses kremasi jenazah Raja Mukade akan tetap dilaksanakan?" Kurama berusaha meluluhkan hati ayahnya yang membeku. Bagaimanapun Mukade berstatus sebagai ayah mertua dari Kaisar Konoha, apa yang akan dikatakan dunia jika Kaisar Minato memperlakukan Raja Mukade seperti seorang budak paling rendah?
"Tidak ada yang akan berubah, Kurama," jawab Minato dingin. "Kremasi jenazahnya dan kirim abunya pada Raja Rouran yang baru," sambungnya masih dengan ekspresi dan nada bicara yang sama. "Aku ingin abu Mukade dikirim besok pagi sebelum fajar menyingsing."
Minato menjeda. Ia mengendarai kudanya pelan, diikuti oleh Kurama di sampingnya serta Kakashi dan Iwashi di belakangnya. "Aku sudah mengirim surat pada Kimimaro mengenai kejahatan Mukade terhadapku," terangnya. "Aku sangat yakin jika Kimimaro lebih menggunakan logikanya dan mengedepankan keadilan tanpa memandang status diantara dirinya dan Raja Mukade."
Kurama mengangguk pelan, namun masih terlihat gelisah. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana histerisnya Permaisuri Sara saat mendengar mengenai kematian ayahnya.
"Menurut laporan, Kimimaro sudah mengeksekusi pejabat-pejabat korup dan mulai membenahi system pemerintaha Rouran. Aku berharap banyak padanya," kata Minato. "Ternyata alasan Kimimaro diasingkan oleh Mukade karena dia sering menentang kebijakan istana yang menarik pajak tinggi dari rakyat Rouran."
Minato mendesah, terlihat menyesal. "Seharusnya aku mengetahui hal ini sejak lama dengan begitu rakyat Rouran tidak akan begitu menderita seperti sekarang. Kenapa aku baru mengetahuinya di saat-saat terakhir?"
Kurama tidak menjawab. Seumur hidupnya ia baru satu kali bertemu dengan Kimimaro, itupun saat ia masih sangat muda, dan terakhir kali ia mendengar kabar mengenai Kimimaro adalah saat dia diasingkan oleh Mukade ke luar istana dan setelahnya kabar mengenai Kimimaro tidak pernah terdengar lagi.
Minato menepuk bahu putranya. Ia menyunggingkan sebuah senyum bangga saat netranya bersirobok dengan Kurama. "Pada saatnya nanti kau akan menggantikanku di atas takhta. Seorang pemimpin harus mendengar jeritan rakyatnya. Kau harus memimpin lebih baik daripada aku!"
"Ayahanda—"
Minato kembali menepuk bahu Kurama. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi kau harus mengingat nasehatku tadi."
Kurama mengangguk patuh.
"Apa kau juga memikirkan reaksi Permaisuri Sara?" Minato kembali bertanya, seolah bisa membaca pikiran putra sulungnya. "Seharusnya dia bersyukur karena aku membunuh seseorang yang berusaha menyakiti putrinya," lanjut Minato.
Minato menghentikan laju kudanya saat menatap langit bagian timur Konoha. Pria itu menyipitkan mata, terkejut melihat pemandangan tersebut. Tangannya membelai lembut leher kuda tunggangannya yang bergerak gelisah untuk menenangkannya.
"Kakashi?!" panggilnya kemudian. Kakashi segera menjalankan kudanya dan berhenti di samping kanan kuda kaisar. "Apa kau sudah mengirim seseorang untuk melihat apa yang terjadi di sisi hutan timur?"
"Lapor, Yang Mulia, hamba sudah memerintahkan Ebisu dan Konan untuk memeriksa kondisi di wilayah timur," lapornya.
Minato menoleh lewat bahunya. "Apa Ayame ikut bersama Ebisu?"
"Benar," jawab Kakashi. "Ebisu akan mengantar Nona Ayame ke rumah persinggahan terlebih dahulu lalu melanjutkan perjalanan ke wilayah timur," sambungnya membuat Minato mengangguk pelan.
Udara yang menurun drastis sejak pagi membuat Minato sedikit resah. Pria itu bisa mencium aroma kegelapan yang menari-nari di udara. Kegelisahan binatang tunggangannya membuat pria itu semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.
"Kita harus segera kembali ke istana," putus Minato. "Setelah para prajurit dan dayang yang terkena racun membaik, kita akan segera kembali ke istana," tegasnya.
.
.
.
Aroma kuat rempah-rempah serta obat-obatan menusuk indra penciuman Shikamaru saat pria itu masuk ke dalam tenda tabib khusu untuk prajurit pria. Pandangannya menyisir ke seluruh penjuru dan berhenti saat menatap punggung Temari yang membelakanginya.
Shikamaru mendesah pelan. Ia merasa tidak beruntung karena harus bertemu dengan Temari saat ini. Wanita itu sangat merepotkan, dan Shikamaru tidak menyukainya.
Temari menoleh lewat bahunya saat mendengar pergerakan di belakang punggungnya. Ia menatap Shikamaru yang menggosokkan kedua tangannya, lalu kembali fokus memeriksa seorang prajurit Ame yang warna wajahnya masih sepucat kapas.
"Kenapa Anda ada di sini?"
Temari kembali menoleh, mengikuti pergerakan Shikamaru yang berjalan menuju rak obat-obatan lalu membuka botol dan membauinya. "Memangnya aku harus kemana?" Temari balik bertanya dengan satu alis diangkat tinggi.
Ia mencuci tangan di sebuah baskom perak, lalu melap dengan kain roknya.
Jorok, pikir Shikamaru, namun pria itu tidak menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya.
Temari merinding karena udara dingin. Ia melihat Shikamaru berjongkok, berkutat dengan kayu-kayu kering untuk menyalakan sebuah api unggun untuk menghangatkan tenda berukuran besar itu. "Apa di Konoha selalu seperti ini?" tanya Temari lagi. Ia mengangkat bahu saat Shikamaru menatapnya. "Maksudku perubahan cuaca secara mendadak."
"Entahlah. Saya berasal dari Ame," jawab Shikamaru singkat hingga membuat Temari berdecak, terlihat kesal. "Kenapa Anda tidak segera kembali ke Suna?"
Jemari Temari mengitari mulut gelas tehnya pelan. Wanita itu mengibaskan tangan, "Aku tidak mungkin pulang saat situasi begitu genting di tempat ini." Ia mendongakkan kepala. Lalu menaikkan satu kakinya ke atas kursi.
Melihat perilaku tidak sopan itu Shikamaru hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Ia berpikir jika Temari terlalu dimanjakan oleh Raja Suna hingga membuat wanita itu bersikap semaunya.
"Kalian membutuhkan bantuanku di sini," sambungnya saat Shikamaru menatapnya dengan kedua mata menyipit. "Terlebih saat ini Putri Naruto—" Temari berdeham. Ia pura-pura menyesap air tehnya nikmat.
"Ada apa dengan Putri Naruto?" tanya Shikamaru, penasaran.
Temari memaki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa ia nyaris membocorkan rahasia mengenai kehamilan Naruto pada Shikamaru? Ingin sekali Temari memukul mulutnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sasuke jika pria itu tahu jika Shikamaru lebih tahu dulu mengenai kehamilan Naruto daripada dirinya.
Pasti akan menjadi masalah rumit, pikir Temari.
"Jadi?"
"Jadi apa?" beo Temari. "Tentu saja karena Putri Naruto masih syok atas percobaan pembunuhan terhadapnya. Apalagi?" tambahnya dengan nada ketus.
Temari mendengus pelan. Ia duduk disebuah kursi lalu menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Tatapannya menerawang. Sejak tadi malam ia sangat sibuk mengobati prajurit dan dayang yang menjadi korban Kabuto hingga membuatnya bolak-balik antara tenda tabib untuk pasien wanita dan tenda tabib untuk pasien pria.
Ruangan itu kembali hening untuk waktu singkat.
"Hei, Shikamaru, apa kau sudah menikah?"
Pertanyaan itu membuat Shikamaru merinding ngeri. Kenapa Temari harus melontarkan pertanyaan tidak sopan itu padanya?
"Belum," jawab Shikamaru pendek. Pria itu kembali merinding saat mendengar desahan lega dari mulut Temari. Shikamaru menepuk-nepuk kedua tangannya setelah berhasil menyalakan api unggun. Pria itu hendak melarikan diri dari tempat itu, namun sayangnya Temari memerintahkannya untuk duduk minum teh bersamanya.
"Bagaimana jika aku mengajukan sebuah lamaran pernikahan untukmu?"
Shikamaru tersedak hebat. Wanita ini gila. "Apa Anda sedang bertanya?"
Temari menggelengkan kepala pelan. Sebagai anggota klan Sabaku, Temari sudah terbiasa untuk mengungkapkan keinginannya secara langsung begitupun dengan masalah hati. Ia merasa cocok dengan Shikamaru dan bertekad untuk menjadikan pria itu sebagai suaminya.
"Aku sangat serius dengan ucapanku," balas Temari. Ia bertopang dagu, menatap lekat Shikamaru yang berdeham dan memalingkan muka. "Apa kau sudah ditunangkan dengan wanita lain?"
Shikamaru terlihat bingung. Ia tidak bisa berbohong, tapi terikat dengan seorang putri seperti Temari tidak pernah bisa dibayangkannya. Sejenak ia meragu, namun akhirnya ia menjawab dengan jujur, "Belum."
Senyum Temari terkembang. "Bagus. Kalau begitu tidak akan ada masalah jika aku melamarmu." Wanita itu menjeda untuk mengambil napas dan kembali berkata tenang, "Tenang saja, Shikamaru, aku mudah untuk dicintai," tukasnya membuat Shikamaru menatapnya dengan mulut terbuka lebar.
.
.
.
Sara mengerjapkan mata, menatap ruangan besar berdinding batu alam dan berpenerangan temaram itu dengan tatapan takut. Ada empat buah obor batu yang terpasang di dinding gua yang menjadi satu-satunya cahaya dalam ruangan pengap itu.
Tubuh Sara gemetar saat Utatane meletakkan tangan keriputnya di atas punggung tangan Sara. Permaisuri menoleh, lalu meremas tangan tua itu kuat, seolah hal itu bisa menghilangkan ketakutannya saat ini.
Sara tidak tahu dimana ia sekarang karena Hachibi pun menghilang. Wanita itu hanya bisa menebak-nebak jika saat ini ia berada di dalam tempat persemayaman Kaguya.
"Permaisuri…?!"
Suara itu terdengar begitu lembut. Namun Sara tidak tahu kenapa tubuhnya meremang dan jantungnya berdetak semakin cepat. Ia bisa merasakan tubuh Utatane membeku di sampingnya, wanita tua itu lalu bersujud penuh penghormatan.
"Ah, rupanya abdimu bisa mengenaliku, Permaisuri."
Sara langsung ikut bersujud. Wanita itu menundukan kepalanya dalam setelah tahu siapa yang menjadi lawan bicaranya saat ini.
Suara gemerisik kain terdengar di kejauhan. Tidak lama berselang seorang wanita bermata tiga, dengan kulit pucat dan pakaian serba putih berjalan dari balik kegelapan lalu mendudukkan diri di atas sebuah takhta batu berukuran besar.
Dengan keberanian yang tersisa, Sara mengangkat kepalanya. Ia sangat terkejut saat mendapati jika Kaguya dalam keadaan buta. Ketiga matanya berwarna putih tanpa pupil. "Hamba datang untuk meminta bantuan Anda, Dewi," ujarnya kemudian dengan suara mantap yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. "Mohon Anda membantu hamba untuk menghancurkan Kaisar Minato dari Konoha."
Kaguya tertawa keras mendengarnya. Wanita itu mengibaskan tangan diudara dan secara ajaib satu buah jantung manusia segar tergeletak di depan Sara. "Aku sudah menerima jantung yang kau persembahkan untukku. Rasanya sangat nikmat," pujinya seraya menjilat bibir bawahnya.
Kaguya kembali mengibaskan tangannya hingga muncullah sebuah cawan berisi darah segar di hadapan Sara. "Darah yang kau persembahkan pun sama lezatnya. Aku menginginkan lebih banyak."
Sara kembali bersujud sebanyak tiga kali. "Hamba akan memberikannya lebih banyak pada Anda, apabila Dewi bersedia membantu hamba untuk balas dendam pada Minato," janjinya.
Kaguya membaringkan diri lalu menopang kepalanya dengan satu tangan. Senyumannya mengembang, terlihat begitu jahat. "Apa kau pikir persembahanmu cukup untuk membuatku membantumu?"
Sara tidak bisa menjawab. Wanita itu membisu, suaranya tersangkut di tenggorokannya. Sementara disisinya Utatane masih bersujud.
"Minum darah itu sebagai simbol jika kau menyerahkan diri pada kegelapan!" seru Kaguya. Ia kembali bergerak, merubah posisi tidurnya hingga terlentang. "Lalu santap jantung itu. Habiskan tanpa sisa!" perintahnya mutlak.
Sara menelan dengan susah payah. Rasa mual menyerang perutnya dengan hebat. Ia bahkan nyaris muntah saat mengangkat cawan besi berisi darah segar itu ke mulutnya. Namun ia sudah tidak bisa mundur. Semua harus dilakukannya demi takhta dan balas dendam.
Dalam satu tarikan napas dia meminum darah segar itu. Sara terbatuk saat tetesan terakhir darah melewati tenggorokannya. Napasnya terengah, dengan kasar ia melap mulut dengan punggung tangannya.
Kaguya terlihat begitu menikmati hal itu. Persembahan Sara membuat kekuatan segel feniks yang membelenggunya sejak empat puluh ribu tahun yang lalu sedikit mengendur.
Dada Sara naik turun, napasnya memburu. Kedua tangannya bergetar hebat saat mengangkat jantung segar yang harus disantapnya. Sara meneteskan air mata saat menggigit jantung segar itu.
Wajah cantiknya kini dipenuhi oleh darah segar. Sara menjerit sejadinya, sebelum mengambil gigitan kedua dan mengunyahnya cepat lalu menelannya rakus. Wanita itu seperti bukan lagi dirinya setelah gigitan ketiga. Sara bahkan tidak sadar kapan ia menghabiskan jantung segar itu, yang diketahuinya ia menjilat sisa-sisa darah ditangannya dengan antusias.
"Bagus! Bagus!" puji Kaguya senang. Ia menjeda, membuat ruangan besar temaram itu terasa lebih menakutkan karena aura hitam yang dikeluarkan oleh Kaguya. "Pengorbananmu masih belum selesai, Sara. Masih ada dua hal yang kuinginkan darimu."
"Mohon Dewi mengatakannya," tukas Sara serak.
Kaguya tersenyum, dan menjawab. "Bunuh abdi setiamu!"
.
.
.
Ketegangan begitu terasa di balairung Ame, sore ini. Fugaku mengetatkan rahangnya saat seorang prajurit membacakan laporan kecil yang diikatkan pada kaki seekor burung elang. Burung elang itu merupakan burung yang selalu dibawa Sasuke saat berburu, namun ia jarang mengeluarkannya jika tidak benar-benar terdesak.
Sasuke sengaja mengirim burung elang tersebut untuk menyampaikan laporan pada Fugaku karena berpikir laporan yang dikirimnya akan lebih cepat sampai ditangan Fugaku daripada jika ia mengirim seorang prajurit untuk mengantarnya.
"Seseorang berusaha membunuh Naruto saat diperkemahan?" beo Fugaku, marah. Mikoto yang mendengarnya langsung merasa tubuhnya lemas seketika. Pikiran-pikiran buruk menguasai benaknya. Tubuh wanita itu mendadak demam karena tegang.
"Aku akan berangkat ke Konoha untuk menjemput ketiga putraku dan menantuku!" putusnya geram. Fugaku sangat marah karena hal itu terjadi tepat di depan hidung Minato.
Kepercayaan Fugaku pada Minato hilang sudah. Minato tidak bisa melindungi Naruto—putrinya. Jadi tidak ada salahnya jika Fugaku mengambil Naruto kembali ke sisinya.
"Siapkan seribu prajurit untuk menemani perjalananku ke Konoha!" seru Fugaku pada seorang jenderal besar yang segera membungkuk hormat dan berjalan mundur sebelum berbalik pergi untuk melaksanakan perintah sang kaisar.
Tidak lama berselang, Itachi bergerak maju dan memberi hormat. "Mohon Yang Mulia mengizinkan ananda ikut serta."
"Tidak!" tolak Fugaku tanpa berpikir dua kali. "Kau tidak akan pergi kemanapun, Putra Mahkota. Kau akan berada di sini dan menjaga takhta selama aku pergi ke Konoha!"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi!" bentak kaisar keras. Para pejabat dan petinggi istana segera bersujud mendengar kemarahan kaisar sementara Itachi tetap berdiri di tempatnya dengan kepala membungkuk dalam. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam benakmu?" raung Fugaku murka.
Fugaku berdiri dari atas takhtanya. Ia lalu berjalan menuruni satu per satu anak tangga menuju ke tempat Itachi berdiri saat ini. "Ingat, kau sudah menentukan pilihanmu," katanya, mengingatkan. "Kau sudah bersumpah atas Langit dan Bumi untuk mengutamakan kepentingan rakyat Ame."
Itachi jatuh berlutut. Pria itu memejamkan mata. Ia tahu jika perasaannya pada Kurama adalah hal terlarang. Namun Itachi masih belum bisa melepaskan diri dari perasaan itu.
"Dia hanya akan membencimu, sementara Langit dan Bumi akan mengutukmu!" bentak Fugaku. Pria itu mengibaskan tangannya di udara, memerintahkan para pejabat dan petinggi istana meninggalkan balairung Ame.
"Jangan pernah berpikir jika Kurama memiliki perasaan yang sama denganmu. Kau harus tahu dimana menempatkan hatimu!" ujarnya setelah para pejabat, petinggi dan Mikoto meninggalkannya berdua bersama Itachi di balairung.
Itachi tidak menjawab.
"Kesalahan pada satu waktu menjadi kesedihan selama hidup(1)."
Fugaku menjeda untuk meredakan kemarahannya. Seharusnya ia melakukan sesuatu sejak lama untuk memutus ikatan Itachi dan Kurama. Seharusnya Fugaku menjodohkan Itachi dengan seorang wanita dari kerajaan lain agar putra sulungnya itu belajar untuk mencintai orang lain. Hal itu menjadi penyesalan Fugaku hingga saat ini.
Ia tahu jika hal yang dipaksakan pada Itachi akan menyakiti hati putra sulungnya itu, namun itu terpaksa dilakukannya agar Itachi tidak masuk ke dalam lubang gelap tak berdasar.
"Sadarlah, Itachi!" bisik Fugaku dengan nada lebih lembut. "Dosa atas perilaku menyimpangmu sudah membuat malu leluhur dan keturunan Uchiha," sambungnya membuat Itachi menitikan air matanya. "Jika kau memang mencintainya, maka cintailah dia secara diam-diam. Bawalah rahasia mengenai perasaanmu untuk Pangeran Kurama hingga ke liang lahat," tukas Fugaku dengan desahan napas berat yang mengikutinya.
Dalam keheningan itu Itachi menumpahkan air matanya. Itachi bersumpah: air mata ini akan menjadi air mata terakhir yang diteteskannya untuk cinta bertepuk sebelah tangannya pada Kurama. Setelah ini seperti apa yang dikatakan ayahandanya: Itachi akan membawa rahasia hatinya hingga ke dalam liang lahat.
.
.
.
Malam kembali datang menggantikan siang. Kabut pekat kini menyelimuti wilayah perkemahan yang didirikan oleh prajurit Konoha. Dikejauhan, kilat masih menyambar-nyambar. Naruto bahkan bersumpah bisa mendengar dahsyatnya suara petir.
Sasuke membungkus tubuh istrinya dengan mantel wol hangat untuk melawan dingin yang meremukkan tulang. Pria itu tidak mengatakan apa pun saat Naruto kembali menolak secawan arak untuk menghangatkan tubuhnya.
Naruto bersikeras jika ia sudah merasa hangat tanpa bantuan minuman keras itu. Sasuke tidak banyak bicara dan memilih untuk mempercayai alasn yang dikemukakan oleh istrinya itu.
"Apa kau sakit?" tanyanya kemudian saat Naruto meringis sembari memegang bahu kanannya.
"Tanda feniksku terasa panas sejak kemarin," jawab Naruto dengan senyum lemah. Ia memperlihatkan tanda berbentuk burung suci itu pada Sasuke. Keduanya terbelalak karena simbol suci itu terlihat bercahaya.
Naruto menatap Sasuke lekat. "Pertanda apa ini?" tanyanya terdengar khawatir.
Sasuke tidak langsung menjawab. Ia membopong tubuh istrinya lalu membaringkannya di atas ranjang empuk mereka. Dikecupnya kening Naruto lembut. "Jangan terlalu dipikirkan," katanya, terdengar menenangkan.
Naruto menekuk keningnya dalam, terlihat tidak setuju. "Masalahnya, wilayah timur Konoha terlihat begitu gelap. Kilat terus menyambar dan suhu udara menurun drastis. Aku bahkan bisa mendengar suara gemuruh anin dikejauha. Apa menurutmu ini tidak aneh?"
Hening.
Suara helaan napas panjang terdengar keras dari mulut Naruto. Ekspresinya terlihat begitu cemas. "Cahaya matahari bahkan sangat redup sejak kemarin, seolah kegelapan perlahan menguasai cahaya di tanah Konoha. Ada yang salah. Aku sangat yakin, Sasuke."
Naruto bergerak untuk mendudukkan diri. Ia menggenggam kedua tangan Sasuke erat. "Aku memiliki firasat buruk jika sesuatu yang jahat tengah mengintai kita, Sasuke."
Sasuke mengangguk pelan. Ia meraih tubuh Naruto ke dalam pelukannya. "Jangan cemas! Semuanya akan baik-baik saja." Perlahan ia melepas pelukannya, lalu membantu Naruto kembali membaringkan diri.
Sasuke tersenyum. Dibelainya pipi Naruto dengan punggung tangannya. Ia mendaratkan sebuah kecupan dibibir Naruto yang terkatup rapat. Pria itu tersenyum semakin lebar saat rona merah menjalar dikedua pipi istrinya.
"Tidurlah! Aku akan menjagamu!" bisik Sasuke lembut untuk mengantar Naruto ke alam mimpi.
.
.
.
TBC
Keterangan :
Pepatah China
Sampai jumpa dichap berikutnya!
#WeDoCareAboutSFN
