137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
Fifty Shades of Darker
Chapter 36
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
(Ada beberapa MARGA yang diganti demi kepentingan cerita)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya EL James 'Fifty Shades of Darker'.
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
"Greta, Tuan Cho bicara dengan siapa?" kulit kepalaku mencoba untuk meninggalkan tempat ini, kepalaku terasa berdenyut penuh ketakutan, dan bawah sadarku berteriak padaku untuk mengikutinya. Tapi aku membuat kesan seolah-olah tak peduli.
"Oh, itu Nyonya Kim, Kim Elena. Dia memiliki tempat ini bersama Tuan Cho." Tampaknya Greta senang sekali menceritakan ini.
"Nyonya Kim? " Aku pikir Nyonya Park sudah bercerai. Mungkin dia menikah lagi dengan orang bodoh yang malang.
"Ya. Dia biasanya tidak di sini, tapi salah satu teknisi kami hari ini sakit, jadi dia menggantikannya."
Mereka masih asyik berdiskusi. Kyuhyun berbicara cepat dengannya, dan Elena terlihat khawatir, sambil mengangguk, meringis, dan menggelengkan kepala.
Mengulurkan tangan, dia mengusap lengan Kyuhyun menenangkan sambil menggigit bibirnya. Mengangguk lagi, dan Elena melirikku dan memberiku senyum kecil yang meyakinkan. Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah kaku. Aku pikir aku terguncang.
Bagaimana dia bisa mengajakku ke sini?
Dia membisikkan sesuatu pada Kyuhyun, dan sekilas Kyuhyun melihatku kemudian berbalik kembali padanya dan menjawabnya. Elena mengangguk, dan aku hanya menduga dia berharap Kyuhyun berhasil, karena kemampuan membaca bibirku tidak berkembang sama sekali. Fifty Shades berbalik ke arahku, kegelisahan terukir jelas di wajahnya.
Sedangkan wanita itu berbalik menuju ruang belakang, menutup pintu di belakangnya.
Kyuhyun mengerutkan kening. "Gwenchana?" Tanyanya, tapi suaranya tegang, waspada.
"Tidak juga. Kau tak ingin memperkenalkan aku?" Suaraku terdengar dingin, kaku.
Mulutnya menganga, dia terlihat bagaikan aku telah menarik karpet dari bawah kakinya. "Tapi aku pikir. . ."
"Untuk seorang pria yang cerdas, kadang-kadang. . ." Kata-kataku gagal keluar. "Tolong, aku ingin pergi sekarang."
"Kenapa?"
"Kau tahu kenapa." Aku memutar mata.
Dia menatap ke arahku, matanya terbakar. "Maafkan aku, Ming. Aku tak tahu dia di sini. Dia tak pernah di sini. Dia sudah membuka cabang baru ditempat lain, dia biasanya berada disana. Seseorang sakit hari ini."
Aku berbalik dan menuju pintu.
"Kami tak perlu Franco, Greta," bentak Kyuhyun begitu kami keluar dari pintu.
Aku harus menekan dorongan untuk lari. Aku ingin lari cepat dan menjauh. Aku juga memiliki dorongan yang sangat kuat untuk menangis. Aku hanya perlu untuk menjauh dari semua kekacauan ini.
Kyuhyun berjalan tanpa kata disampingku saat aku mencoba untuk merenungkan semua yang keluar dari pikiranku. Aku memeluk diriku sendiri, aku terus menunduk. Dengan bijak, ia tak berusaha untuk menyentuhku. Pikiranku yang bergejolak dengan pertanyaan yang belum terjawab. Apa dia mau memberikan pengakuannya?
"Kau biasa mengajak subs-mu kesana?" Teriakku.
"Beberapa dari mereka, ya," katanya pelan, nadanya terpotong.
"Chengmin?"
"Ya."
"Tempat itu sepertinya masih sangat baru."
"Karena belum lama direnovasi."
"Aku paham. Jadi Nyonya Elena bertemu dengan semua subs-mu."
"Ya."
"Apakah mereka tahu dia?"
"Tidak, tidak satu pun dari mereka tahu. Hanya kau."
"Tapi aku bukan sub-mu."
"Tidak. Kau jelas-jelas bukan."
Aku berhenti dan menatapnya. Matanya melebar, takut. Bibirnya ditekan menjadi garis keras tanpa kompromi. "Bisakah kau melihat bagaimana kacaunya ini?" Aku silau menatapnya, suaraku pelan.
"Ya. Aku minta maaf." Dan ia terlihat sangat menyesal.
"Aku ingin memotong rambutku, sebaiknya di suatu tempat di mana kau tidak meniduri baik itu staf atau pelanggannya."
Dia tersentak.
"Sekarang, jika kau mengijinkanku."
"Kau tidak pergi, kan?" Tanyanya.
"Tidak, aku hanya ingin memotong rambut sialan ini. Di suatu tempat yang aku bisa menutup mataku, ada orang yang mencuci rambutku, dan melupakan semua masalahku."
Dia mengacak-acak rambutnya. "Aku bisa meminta Franco datang ke apartemenku, atau tempatmu," katanya pelan.
"Dia sangat menarik."
Dia berkedip. "Ya."
"Apakah dia masih menikah?"
"Tidak. Dia sudah bercerai sekitar lima tahun yang lalu."
"Mengapa kau tak bersamanya?"
"Karena hubungan di antara kami sudah berakhir. Aku sudah pernah mengatakan ini." Tiba-tiba alisnya berkerut. Dia mengambil ponsel dari saku jaketnya. Pasti hanya bergetar karena aku tidak mendengar nada deringnya. "Ya," bentaknya, lalu mendengarkan.
Kami berdiri di trotoar, dan aku memandang ke arah anakan pohon pinus di depanku, daunnya berwarna hijau masih baru tumbuh.
Keramaian orang-orang melewati kami, tenggelam didalam pekerjaan rumah tangga mereka pada Sabtu pagi. Tidak diragukan sedang merenungi kehidupan pribadi mereka sendiri. Aku ingin tahu apakah mereka termasuk si penguntit yang mantan submisif, mantan Dom yang mempesona, dan seorang pria yang tidak memiliki konsep tentang privasi di bawah hukum Korea Selatan.
"Tewas dalam kecelakaan mobil? Kapan?" Kyuhyun memotong lamunanku.
Oh tidak. Siapa? Aku mendengarkan lebih dekat.
"Itu dua kali si brengsek itu bisa tidak datang. Dia harus tahu. Apakah dia sama sekali tidak punya perasaan padanya?" Kyuhyun menggeleng dengan muak. "Ini mulai masuk akal. . . tidak. . . jelaskan mengapa, bukan di mana." Kyuhyun melirik sekeliling kami seakan mencari sesuatu, dan aku mengikuti seperti tindakannya.
Tidak ada yang menarik perhatianku. Hanya ada orang yang berbelanja, lalu lintas, dan pohon.
"Dia berada di sini," lanjut Kyuhyun. "Dia sedang mengawasi kita. . . Ya. . . Bukan. Dua atau empat, jam 20.47 . . . Aku belum mulai membicarakan itu." Secara langsung Kyuhyun melihat arahku.
Mulai membicarakan apa? Aku mengerutkan kening padanya dan dia memandangku dengan hati-hati.
"Apa. . . ," Bisiknya dan memucat, matanya melebar. "Aku tahu. Kapan? . . . Baru-baru ini? Tapi bagaimana? . . . Tidak ada pemeriksaan latar belakang? . . . Aku mengerti. Alamat email, alamat rumah, dan foto jika kau punya. . . jam 20.47 , dari sore ini. Kerja sama dengan Yesung." Kyuhyun menutup telepon.
"Ada apa?" Tanyaku, putus asa.
Apakah dia akan menceritakan padaku? "Itu tadi Joongki."
"Siapa Joongki?"
"Penasihat keamananku."
"Oke. Jadi apa yang terjadi?"
"Chengmin meninggalkan suaminya sekitar tiga bulan yang lalu dan lari dengan seorang pria yang tewas dalam kecelakaan mobil empat minggu yang lalu."
"Oh."
"Psikiaternya itu seharusnya tahu bahwa dia lari," katanya marah. "Menyedihkan, apapun itu. Ayo." Dia mengulurkan tangannya, dan secara otomatis aku menyambutnya tapi aku menariknya lagi.
"Tunggu sebentar. Kita berada di tengah-tengah diskusi, tentang kita. Tentang dia, Elena-mu."
Wajah Kyuhyun mengeras. "Dia bukan Elena-ku. Kita bisa bicara tentang hal ini di tempatku."
"Aku tak ingin ke tempatmu. Aku ingin memotong rambutku!" Aku berteriak. Jika aku hanya bisa fokus pada satu hal ini. . .
Dia mengambil ponsel dari sakunya lagi dan memanggil sebuah nomor. "Greta, ini Cho Kyuhyun. Aku ingin Franco ke tempatku jam satu. Bilang pada Nyonya Kim. . . Baik." Dia menutup teleponnya. "Dia akan datang jam satu."
"Kyuhyun. . . !" Aku menyembur, putus asa.
"Sungmin, Chengmin jelas menderita sakit jiwa. Aku tak tahu apakah itu kau atau aku yang dia incar, atau berapa lama dia siap untuk pergi menjauh. Kita akan balik ke tempatmu, ambil barang-barangmu, dan kau bisa tinggal denganku sampai kita berhasil menemukannya."
"Mengapa aku harus melakukan itu?"
"Karena aku bisa menjagamu supaya kau aman."
"Tapi-"
Dia melotot ke arahku. "Kau akan tinggal di apartemenku meskipun aku harus menyeretmu ke sana."
Aku menganga padanya. . . ini sudah melampaui keyakinan.
"Aku pikir kau bereaksi terlalu berlebihan."
"Aku tidak. Kita bisa melanjutkan kembali diskusi ini di tempatku. Ayo."
Kulipat tanganku dan membelalak padanya. Ini sudah semakin jauh. "Tidak," Kataku dengan keras kepala. Aku harus membuat pendirian.
"Kau berjalan sendiri atau aku yang akan menggendongmu. Aku tak keberatan dengan cara manapun, Sungmin."
"Kau tak akan berani." Aku cemberut padanya. Tentu saja dia tidak akan membuat kekacauan di jalanan, kan?
Dia setengah tersenyum padaku, tapi senyumnya tak mencapai matanya. "Oh, sayang, kita berdua tahu, jika kau mengajukan tantangan, aku akan merasa sangat senang untuk mengambilnya."
Kami saling memelototi dan tiba-tiba tangannya ke bawah, mengelilingi pahaku, dan mengangkatku. Sebelum aku tahu itu, aku sudah berada di atas bahunya.
"Turunkan aku!" Aku berteriak.
Oh, rasanya lega bisa menjerit. Dia mulai melangkah sepanjang jalan, mengabaikan aku. Tangannya menggenggam dengan kuat sekitar pahaku, dia memukul keras pantatku dengan tangannya yang bebas.
"Kyuhyun!" Aku berteriak. Orang-orang pada melihat. Mungkinkah kejadian ini bisa menjadi sangat memalukan? "Aku akan jalan! Aku akan jalan."
Dia menurunkan aku ke bawah, bahkan sebelum dia berdiri tegak, aku menghentakkan kakiku menuju apartemenku, mendidih, mengabaikan dia. Tentu saja, dia di sampingku saat ini, tapi aku terus mengabaikannya. Apa yang akan aku lakukan? Aku sangat marah, tapi aku bahkan tidak yakin apa yang membuat aku marah, ada begitu banyak.
Saat aku dalam perjalanan pulang, aku membuat daftar dalam hati:
1. Mengangkat diatas bahu, tidak bisa diterima untuk siapa pun yang berusia diatas enam tahun.
2. Mengajakku ke salon yang dia miliki dengan mantan kekasihnya, bagaimana dia bisa jadi sebodoh itu?
3. Tempat yang sama dia mengajak submisif-nya, sama bodohnya dengan di tempat kerja.
4. Bahkan tidak sadar bahwa ini adalah ide yang buruk dan dia seharusnya menjadi pria yang cerdas.
5. Memiliki mantan pacarnya yang gila. Bisakah aku menyalahkan dia untuk itu? Karena aku sangat marah. Ya, aku bisa.
6. Mengetahui nomor rekening bank-ku itu juga termasuk setengah penguntit.
7. Membeli SIP, dia mempunyai uang lebih banyak daripada akalnya.
8. Bersikeras aku tinggal dengan dia, ancaman dari Chengmin pasti lebih buruk daripada ketakutannya . . .
Dia tidak menyinggung itu kemarin. Oh tidak, kenyataan akhirnya terungkap. Sesuatu telah berubah. Apa itu bisa? Aku berhenti, dan Kyuhyun juga ikut berhenti. "Apa yang terjadi?" Kataku mendesaknya.
Dia mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Dengan Chengmin."
"Aku sudah cerita padamu."
"Tidak, kau belum menceritakan. Ada sesuatu yang lain. Kemarin kau tidak memaksaku pergi ke tempatmu. Jadi apa yang terjadi?"
Dia bergeser tidak nyaman.
"Kyuhyun! Katakan padaku!" Aku membentak.
"Kemarin dia berhasil memperoleh senjata berizin."
Oh sial. Aku menatap dia, berkedip, dan merasakan darah mengalir dari wajahku saat aku menyerap berita ini. Mungkin aku akan pingsan. Menduga Chengmin ingin membunuh dia? Tidak.
"Itu berarti dia baru saja membeli pistol," bisikku.
"Ming," katanya, suaranya penuh keprihatinan. Ia menempatkan tangannya di pundakku, menarikku mendekat dengannya. "Aku pikir dia tak akan melakukan sesuatu yang bodoh, tapi aku hanya tak ingin mengambil risiko denganmu."
"Aku tidak. . . bagaimana denganmu?" Bisikku. Dia mengernyit ke arahku, dan aku membungkus lenganku di sekelilingnya dan memeluknya dengan keras, wajahku di dadanya. Dia tampaknya tidak memikirkan itu.
"Ayo kita kembali," bisiknya, ia menunduk dan mencium rambutku, dan hanya itu. Semua kemarahanku langsung musnah, tapi masih belum terlupakan. Hilang karena beberapa ancaman berbahaya yang ditujukan pada Kyuhyun. Sebuah pemikiran yang tidak nyaman.
.
.
.
Dengan serius aku mengemas, memasukkan ke koper kecil dan menempatkan Mac-ku, Smartphone, iPad-ku, dan Charlie Tango dalam ransel.
"Charlie Tango dibawa juga?" Tanya Kyuhyun.
Aku mengangguk dan dia memberiku senyuman kecil yang ramah. "Jonghyun akan kembali hari Selasa," aku bergumam.
"Jonghyun?"
"Saudara Eunhyuk. Ia tinggal di sini sampai dia menemukan tempat di Seoul."
Kyuhyun menatap kosong ke arahku, tapi aku melihat kebekuan yang menyusup ke matanya. "Yah, itu bagus bahwa kau akan tinggal denganku. Memberi dia ruang lebih banyak," katanya pelan.
"Aku tak tahu kalau dia punya kunci. Aku nanti harus kembali."
Kyuhyun menatap ke arahku tanpa ekspresi tapi tidak mengatakan apa-apa. "Itu sudah semuanya."
Dia mengambil koperku, dan kami berjalan keluar pintu. Saat kami berjalan memutar ke belakang gedung menuju tempat parkir, tanpa sadar aku melihat dari atas bahuku. Aku tidak tahu apakah perasaan paranoid telah mengambil alih atau apakah ada seseorang benar-benar sedang mengawasiku.
Kyuhyun membuka pintu penumpang Audi dan menatapku dengan penuh harap.
"Apakah kau mau masuk?" Tanyanya.
"Aku pikir aku yang akan mengemudi."
"Tidak aku yang akan mengemudi."
"Apa ada yang salah dengan cara mengemudiku? Jangan bilang kau sudah tahu apa aku lulus tes mengemudiku. . . Aku tak akan terkejut dengan kecenderunganmu sebagai penguntit."
Mungkin dia tahu bahwa aku hanya salah sedikit pada saat tes tulis.
"Masuk ke mobil, Sungmin," bentak dia dengan marah.
"Oke." Aku buru-buru masuk kedalam.
Ada seseorang digelapan mengawasi kami. Yah, seseorang bermuka pucat dengan rambut dan mata yang benar-benar mirip denganku dan mungkin betul-betul bersenjata api dengan sembunyi-sembunyi.
Kyuhyun keluar menuju ke jalan raya.
"Apa semua submisif-mu berambut sama?"
Dia mengerutkan kening dan melirikku cepat. "Ya," ia bergumam.
Kedengarannya tidak pasti, dan aku berpendapat dia sedang berpikir.
"Aku hanya ingin tahu."
"Sudah kubilang. Aku lebih suka berambut cokelat."
"Nyonya Park tidak berambut cokelat."
"Mungkin itu sebabnya," gumamnya.
"Dia membuatku tidak menyukai pirang selamanya."
"Kau bercanda," aku terkesiap.
"Ya. Aku hanya bercanda," ia menjawab, kesal.
Aku memandang keluar jendela tanpa ekspresi, mencari-cari yang berambut cokelat dimana-mana, meski tak satupun dari mereka adalah Chengmin. Jadi, dia hanya suka berambut cokelat. Aku ingin tahu mengapa?
.
.
.
Di dalam lift Kyuhyun menatap ke arahku. "Masih marah padaku?" Dia bertanya masalahnya dengan terus terang.
"Sangat."
Dia mengangguk. "Oke," katanya, dan menatap lurus ke depan.
Yesung yang menunggu kita saat kita masuk serambi. Bagaimana dia selalu tahu? Dia mengambil koperku.
"Apakah Joongki sudah menghubungi?" Tanya Kyuhyun.
"Ya, Sir."
"Dan?"
"Semuanya sudah diatur."
"Bagus. Bagaimana dengan putrimu?"
"Dia baik-baik saja, terima kasih, Sir."
"Bagus. Kami menunggu penata rambut yang akan datang jam satu, Franco."
"Nona Lee," Yesung mengangguk padaku.
"Hai, Yesung. Kau punya seorang anak perempuan?"
"Ya Nona."
"Berapa umurnya?"
"Umurnya tujuh tahun."
Kyuhyun menatap ke arahku dengan tidak sabar.
"Dia tinggal dengan ibunya," Yesung mengklarifikasi.
"Oh, begitu."
Yesung tersenyum padaku. Ini tak terduga. Yesung adalah seorang ayah?
Aku mengikuti Kyuhyun ke ruang besar, penasaran dengan informasi ini. Aku melihat sekeliling. Aku tidak pernah di sini sejak aku meninggalkannya.
"Apa kau lapar?"
Aku menggelengkan kepala.
Kyuhyun menatap ke arahku sebentar dan memutuskan untuk tidak berdebat. "Aku harus menelepon beberapa orang. Anggaplah seperti di rumah sendiri."
"Ne."
Kyuhyun menghilang ke ruang kerjanya, meninggalkan aku berdiri di dalam galeri karya seni yang sangat banyak yang dia sebut rumah dan bertanya-tanya apa yang harus kulakukan dengan diriku sendiri.
Pakaian!
Mengambil ranselku, aku berjalan ke lantai atas, ke kamar tidurku dan memeriksa lemari pakaian. Masih penuh dengan pakaian, semua baru dengan label harga masih menempel.
Tiga gaun malam model gaun panjang, gaun untuk koktail ada tiga, dan tiga lagi untuk pakaian sehari-hari. Semua ini pasti mahal harganya.
Aku memeriksa label salah satu gaun malam, tiga juta won. Ya ampun. Aku merosot ke lantai. Ini bukan aku. Aku meletakkan kepalaku di tanganku dan mencoba untuk memproses beberapa jam sebelumnya. Sangat melelahkan.
Mengapa, oh mengapa aku jatuh cinta pada seseorang yang jelas-jelas sinting, tampan, sialan seksi, lebih kaya dari orang yg sangat kaya, dan gila? Aku mengeluarkan ponselku dari ransel dan menelepon ibuku.
"Minnie, Sayang! Sudah begitu lama. Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Oh, Eomma tahu. . . "
"Apa yang salah? Masih belum berhasil memahami Kyuhyun?"
"Eomma, ini rumit. Aku pikir dia itu gila. Itulah masalah."
"Ceritakan tentang hal itu. kadang-kadang kita tidak tepat membaca gelagat pria."
Kyuhyun muncul di ambang pintu. "Ternyata kau di sini. Aku pikir kau sudah kabur." Jelas dia merasa lega.
Aku mengangkat tanganku keatas yang mengindikasikan bahwa aku sedang menelepon. "Mian, Eomma, aku harus pergi. Nanti aku akan menelepon lagi."
"Oke, sayang. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu, Eomma." Aku menutup telepon dan menatap Fifty.
Dia mengerutkan kening, tampak canggung dan aneh. "Mengapa kau bersembunyi di sini?" Tanya dia.
"Aku tidak sembunyi. Aku merasa putus asa."
"Putus asa?"
"Untuk semua ini, Kyuhyun." Aku melambaikan tanganku ke arah pakaian.
"Bisakah aku masuk kesitu?"
"Ini lemarimu." Dia mengernyit lagi dan duduk dibawah, bersila, menghadap kearahku.
"Itu hanya pakaian. Jika kau tak menyukainya aku akan mengembalikannya."
"Kau membelinya sangat banyak. Kau tahu?"
Dia berkedip padaku dan mengelus dagunya. "Aku tahu. Aku berusaha melakukannya," bisiknya.
"Kau berusaha dengan keras."
"Seperti denganmu juga, Nona Lee."
"Mengapa kamu melakukan ini?"
Matanya melebar dan kembali terlihat khawatir. "Kau tahu kenapa."
"Tidak, aku tak tahu."
Dia mengacak-acak rambutnya. "Kau seorang wanita yang membuat frustasi."
"Kau bisa memiliki submisif rambut coklat yang menyenangkan. Seseorang mengatakan, 'mau seberapa tingginya?' setiap kali kau menyuruhnya melompat, tentu saja asalkan dia diijinkan untuk bicara. Jadi mengapa aku, Kyuhyun? Aku benar-benar tak mengerti."
Sejenak dia menatap padaku, dan aku tak tahu apa yang dia pikirkan. "Kau membuatku melihat dunia dengan cara berbeda, Sungmin. Kau tidak menginginkan uangku. Kau memberiku. . . harapan," katanya lembut.
Apa? Tuan Samar-samar sudah kembali.
"Harapan dari apa?"
Dia mengangkat bahu. "Lebih." Suaranya pelan dan tenang. "Dan kau benar. Aku terbiasa dengan wanita yang selalu melakukan apa yang kukatakan. Saat aku menyuruh, mereka melakukan persis apa yang kuinginkan. Ini membuatku cepat bosan. Ada sesuatu tentang kau, Sungmin, yang memanggilku secara mendalam yang tak kumengerti. Seperti suara panggilan sirene. Aku tak bisa menolakmu, tapi aku tak ingin kehilangan dirimu." Dia mendekat dan meraih tanganku. "Tolong jangan lari, aku ingin kau memiliki sedikit kepercayaan dan sedikit kesabaran pada diriku. Kumohon."
Dia terlihat begitu rentan. . . Astaga, itu mengganggu. Menyangga di atas lututku, aku membungkuk ke depan dan mencium lembut bibirnya. "Oke. Kepercayaan dan kesabaran, aku bisa hidup dengan itu."
"Baik. Karena Franco sudah ada di sini."
.
.
.
Franco berperawakan kecil, gelap, dan gay. Aku menyukai dia. "Rambut yang indah!" bicaranya penuh semangat agak berlebihan, mungkin aksen Italia yang dibuat-buat. Aku yakin dia berasal dari Baltimore atau tempat lain, tapi semangatnya menular padaku.
Kyuhyun mengarahkan kami berdua ke kamar mandinya, lalu buru-buru keluar, dan masuk kembali membawa kursi dari kamarnya.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua," gumamnya.
"Grazie, Tuan Cho." Franco menoleh padaku.
"Baik, Sungmin. Apa yang akan kita lakukan dengan rambutmu?"
.
.
.
Kyuhyun duduk di sofanya, sedang meneliti sepertinya lembaran kertas pekerjaannya. Mengalun lembut musik mellow klasik terdengar di ruang keluarga.
Kyuhyun mendongak dan tersenyum, mengalihkan perhatianku dari musik itu.
"Lihat! Aku sudah bilang padamu dia akan menyukai potongan ini," kata Franco dengan antusias.
"Kau tampak cantik, Ming," kata Kyuhyun memuji.
"Pekerjaanku disini sudah selesai," seru Franco.
Kyuhyun berdiri dan berjalan mendekati kami. "Terima kasih, Franco."
Franco berbalik, memelukku dengan erat, dan mencium kedua pipiku. "Jangan biarkan orang lain memotong rambutmu, Sungmin yang manis!"
Aku tertawa, sedikit malu dengan keakraban itu.
Kyuhyun mengantarkan dia ke pintu ruang depan dan tidak lama kembali lagi.
"Aku senang rambutmu tetap panjang," katanya sambil berjalan ke arahku, matanya cerah. Dia mengambil sehelai rambutku di antara jari-jarinya.
"Begitu lembut," bisiknya, menatap ke arahku. "Apa kau masih marah padaku?"
Aku mengangguk dan dia tersenyum. "Apa tepatnya yang membuatmu marah padaku?"
Aku memutar mata. "Kau ingin daftarnya?"
"Ada daftarnya?"
"Sangat panjang."
"Bisakah kita membicarakannya di tempat tidur?"
"Tidak!" Aku cemberut padanya dengan kekanak-kanakan.
"Setelah selesai makan siang. Aku lapar, dan itu bukan hanya makanan," dia memberikan senyum tidak senonoh.
"Aku tidak akan membiarkan kau mempesonaku dengan sexpertise-mu."
Dia menahan senyumnya. "Secara spesifik apa yang mengganggumu, Nona Lee? Katakan saja."
Oke. "Apa yang menggangguku? Yah, kau menginvasi data-data pribadiku, bahkan kau mengajakku ke tempat di mana mantan simpananmu bekerja dan kau membawa semua kekasihmu yang ingin wax kesana. Kau menyeretku di jalan seperti aku seorang anak berusia enam tahun dan untuk melengkapi semua itu, kau membiarkan Nyonya Park-mu menyentuhmu!" Suaraku meningkat menjadi lebih tinggi.
Dia mengangkat alisnya, dan selera humornya langsung hilang. "Hanya itu Daftarnya. Untuk lebih jelasnya sekali lagi, dia bukan Nyonya Park-ku."
"Dia bisa menyentuhmu," aku mengulangi.
Dia mengatupkan bibirnya. "Dia tahu di mana."
"Apa artinya itu?"
Dia mengacak-acak rambutnya dan menutup matanya sebentar, seolah dia mencari beberapa petunjuk dari Tuhan. Dia menelan ludah. "Aku dan kau tidak memiliki aturan. Aku tak pernah memiliki hubungan tanpa aturan, dan aku tak pernah tahu di mana kau akan menyentuhku. Itu membuatku gugup. Sentuhanmu benar-benar..." Dia berhenti, mencari kata-kata. "Ini hanya berarti lebih. . . Jauh lebih banyak."
Lebih? Jawabannya benar-benar tak terduga, aku merasa seperti dilempar, dan ada sedikit kata dengan makna yang sangat besar menggantung diantara kami lagi.
Sentuhanku berarti. . . lebih.
Sialan. Bagaimana aku bisa untuk menolak ketika ia mengatakan hal ini?
Mata onyxnya mencari-cari reaksiku lewat mataku, mengawasi, gelisah. Secara coba-coba aku meraihnya dan kecemasan bergeser menjadi tanda bahaya.
Kyuhyun mundur ke belakang dan aku menjatuhkan tanganku.
"Batas keras," segera dia berbisik seperti kesakitan, wajahnya terlihat panik.
Aku tidak bisa tidak merasakan kekecewaan yang menekanku. "Bagaimana perasaanmu jika kau tidak bisa menyentuhku?"
"Tidak enak dan ada yang kurang," katanya segera.
Menggelengkan kepalaku, aku memberinya sedikit senyuman, senyum menenangkan kemudian dia rileks. "Suatu hari, kau harus memberitahuku persis mengapa ini adalah batas keras, kumohon."
"Ya, suatu hari," bisiknya, dalam sekian detik sepertinya dia mulai bangkit lagi dari kerentanannya. Bagaimana dia bisa berubah begitu cepat? Dia orang yang paling tidak bisa diduga yang aku tahu. "Jadi, sisa daftarmu. Menginvasi data-data pribadimu," mulutnya digerak-gerakkan sambil merenungkan ini. "Karena aku tahu nomor rekening bankmu?"
"Ya, itu sangat keterlaluan."
"Aku memeriksa latar belakang semua submisifku. Aku akan menunjukkan padamu." Dia berbalik dan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Dengan patuh aku mengikutinya, bingung.
Dari lemari arsip yang terkunci, ia menarik sebuah map. Tulisan ketikan pada label: LEE SUNGMIN.
Sialan. Aku memelototi dia.
Dia mengangkat bahu meminta maaf. "Kau bisa menyimpannya," katanya pelan.
"Yah, ya ampun, terima kasih," tukasku. Aku membolak-balik isinya.
Dia memiliki salinan akte kelahiranku, batas kerasku, NDA, kontrak. Astaga, nomor jaminan sosialku, rangkuman pengalaman kerja.
"Jadi, kau tahu aku kerja di toko Shim?"
"Ya."
"Itu bukan suatu kebetulan. Kau tidak sekedar mampir?"
"Tidak."
Aku tak tahu apakah harus marah atau merasa tersanjung. "Ini benar-benar brengsek. Kau tahu itu?"
"Aku tidak melihatnya seperti itu. Apa yang aku lakukan, aku harus hati-hati."
"Tapi ini data-data pribadi."
"Aku tidak menyalahgunakan informasi. Siapapun bisa mendapatkan itu jika mereka memiliki setengah pikiran untuk itu, Sungmin. Untuk memiliki kontrol aku membutuhkan informasi. Begitulah caraku mengontrol seseorang." Dia menatap kearahku, ekspresinya ketat dan tidak terbaca.
"Kau menyalahgunakan informasi. Kau memasukkan uang tiga puluh juta won yang tidak aku inginkan ke account-ku."
Mulutnya menekan ke dalam garis keras. "Sudah kubilang. Memang segitu Yesung berhasil menjualkan mobilmu. Luar biasa, aku tahu, tapi kau merobeknya."
"Tapi Audi. . . "
"Sungmin, apakah kau tahu berapa banyak uang yang aku dapatkan?"
Mukaku memerah, tentu saja tidak. "Mengapa aku harus tahu? Aku tak perlu tahu uang yang ada rekening bank-mu, Kyuhyun."
Matanya melunak. "Aku tahu. Itulah salah satu hal yang aku sukai darimu."
Aku menatap dia, terkejut. Sukai dari aku?
"Sungmin, aku memperoleh uang sekitar seratus juta won per jam."
Mulutku menganga. Itu adalah jumlah uang yang benar-benar gila. "Tiga puluh juta won bukanlah apa-apa. Mobil, buku Tess, pakaian, itu bukan apa-apa." Suaranya lembut.
Aku menatap dia. Dia benar-benar tidak tahu. Luar Biasa. "Seandainya kau jadi aku, bagaimana perasaanmu tentang semua. . . pemberian ini datang kepadamu?" Tanyaku.
Dia menatapku dengan pandangan kosong, dan itu dia, masalahnya sederhana - empati atau kurangnya empati itu. Keheningan membentang diantara kami.
Akhirnya, ia mengangkat bahu. "Aku tak tahu," katanya, dan ia tampak benar-benar bingung.
Hatiku membengkak. Ini dia, tentu saja inilah inti dari Fifty Shades-nya. Dia tidak bisa menempatkan dirinya pada posisiku. Nah, sekarang aku tahu.
"Rasanya tidak menyenangkan. Maksudku, kau sangat murah hati, itu membuatku tidak nyaman. Aku sudah sering mengatakan ini berulang kali."
Dia mendesah. "Aku ingin memberimu dunia, Sungmin."
"Aku hanya menginginkan kau, Kyuhyun. Tidak dengan semua kekayaanmu."
"Mereka bagian dari kesepakatan. Bagian dari aku."
Oh, ini semakin tak jelas arahnya. "Bagaimana kalau kita makan?" Aku bertanya.
Ketegangan diantara kami semakin menarik. Dia mengernyit. "Tentu."
"Aku akan memasak."
"Bagus. Karena tidak ada makanan di dalam lemari es."
"Apa akhir pekan Nyonya Kim libur? Jadi akhir pekan kebanyakan kau makan potongan daging dingin?"
"Tidak."
"Eoh?"
Dia mendesah. "Submisif-ku yang memasak, Sungmin."
"Oh, tentu saja." Mukaku memerah. Bagaimana mungkin aku bisa begitu bodoh? Aku tersenyum manis padanya. "Ingin makan apa, Sir?"
Dia menyeringai. "Apapun yang nyonya masak," katanya muram.
.
.
.
Memeriksa kulkas yang isinya mengesankan ini, aku memutuskan memasak omelet. Bahkan ada kentang dingin, sempurna. Memasaknya akan cepat dan mudah.
Kyuhyun masih di ruang kerjanya, tidak diragukan sedang menginvasi pribadi orang bodoh, yang tidak curiga data-data pribadinya sedang dipermainkan. Suatu pemikiran yang tak menyenangkan dan meninggalkan rasa pahit di mulutku. Pikiranku terguncang. Dia benar-benar tidak mengenal batas.
Aku butuh musik jika aku mau memasak, dan aku akan memasak bukan ala submisif! Aku berjalan mencari iPod dock di samping perapian dan mengambil iPod Kyuhyun.
Setelah menyalakan musik dengan keras, aku kembali ke dapur dan mengambil mangkuk, membuka lemari es, dan mengambil telur. Aku memecahkan, menuangkannya dan mulai mengocok, sambil menari selama mengocok telur.
Membuka kulkas sekali lagi, aku mengambil kentang, ham, dan – Ya! - kacang polong dari freezer. Semua bahan ini akan ku olah. Mengambil panci, aku meletakkannya di kompor, menuangkan sedikit minyak zaitun, dan kembali mengocok.
Aku berhenti mengocok telur. Dia mengatakan salah satu yang dia suka dariku. Apakah itu berarti ada hal yang lain? Aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak melihat 'wanita tua' itu – benar-benar tersenyum dengan tulus, senyum menggelikan.
Tangan Kyuhyun diselipkan di sekitar tubuhku, membuatku melompat.
"Pilihan musik yang menarik," bisiknya sambil mencium di bawah telingaku. "Rambutmu baunya harum." Dia mengendus rambutku dan menghirup dalam-dalam.
Hasrat seakan diluruskan dalam perutku. Tidak, aku mengangkat bahu dari pelukannya. "Aku masih marah padamu."
Dia mengernyit. "Berapa lama kau akan begini terus?" Ia bertanya, melepas tangannya berpindah ke rambutnya.
Aku mengangkat bahu. "Setidaknya sampai aku sudah makan."
Bibirnya berkedut geli. Berbalik, dia mengambil remote control dari meja dan mematikan musiknya.
"Apakah kau yang memasukkan lagu itu pada iPodmu?" Aku bertanya.
Dia menggelengkan kepala, ekspresinya muram, dan aku tahu itu karena dia , si Gadis Hantu.
"Apakah menurutmu dia berusaha mengatakan ingin kembali padamu?"
"Yah, dengan melihat ke belakang, mungkin," katanya pelan.
"Kenapa lagunya masih di situ?"
"Aku suka semua jenis lagu. Tapi jikaitu membuatmu marah, aku akan menghapusnya."
"Tidak, tidak apa-apa. Aku suka memasak sambil mendengarkan musik."
"Musik apa yang ingin kau dengarkan?"
"Buatlah surprise untukku." Dia menyeringai ke arahku dan berjalan mendekati iPod dock sementara aku kembali ke kocokan telurku.
Beberapa saat kemudian musik mengalun dengan merdu, suara yang menggetarkan jiwa dari Nina Simone memenuhi ruangan. Ini salah satu lagu favorit Kangin Appa: "I Put a Spell on You."
Mukaku memerah, berbalik dan menganga pada Kyuhyun. Apa dia mencoba mengatakan sesuatu padaku? Sudah lama dia menanamkan mantranya padaku. Oh. . . tatapannya berubah, keriangannya telah berganti, matanya gelap, intens.
Aku menatapnya, perlahan-lahan terpesona, dia seperti predator, dia mendekatiku mengikuti irama pelan dari musik yang menggoda. Dia bertelanjang kaki, mengenakan kemeja putih yang tidak dimasukkan, celana jeans, dan tampak membara.
Nina menyanyikan, "You're mine" saat Kyuhyun sudah didepanku, niatnya sangat jelas.
"Kumohon, Kyuhyun," bisikku, tanganku mengocok semakin cepat.
"Mohon apa?"
"Jangan lakukan ini."
"Lakukan apa?"
"Ini."
Dia berdiri di depanku, menatap ke arahku. "Kau yakin?" Dia menarik nafas dan dia mengambil kocokan dari tanganku dan meletakkannya kembali di mangkuk dengan telur.
Hatiku sudah berada di mulutku. Aku tidak ingin ini tapi aku menginginkannya – sangat. Dia membuatku sangat frustasi. Begitu panas dan diinginkan. Aku memutuskan tatapanku menjauh dari tampilannya yang mempesona.
"Aku menginginkan kau, Sungmin," bisiknya. "Aku menyayangimu dan aku membenci itu, dan aku suka berdebat denganmu. Ini sangat baru. Aku perlu tahu bahwa kita akan baik-baik saja. Ini satu-satunya cara yang aku tahu."
"Perasaanku padamu tidak berubah," bisikku.
"Aku tak akan menyentuhmu sampai kau mengatakan ya," katanya lembut. "Tapi sekarang, setelah tadi pagi benar-benar menyebalkan, aku ingin menenggelamkan diriku padamu dan melupakan semuanya kecuali kita."
Oh. . . Kita. Sebuah kombinasi magis, sedikit meyakinkan, kata ganti yang menutup kesepakatan. Aku mengangkat kepalaku untuk menatap wajah tampannya yang serius.
"Aku akan menyentuh wajahmu," aku mengambil napas, dan sekilas melihatnya terkejut yang tercermin di matanya sebelum dia menyetujui.
Kuangkat tanganku, aku membelai pipinya. Dia menutup matanya dan menghembuskan napas, wajahnya bersandar diatas sentuhanku. Dia membungkuk perlahan-lahan, dan secara otomatis aku mengangkat bibirku untuk mendekatinya. Bibir kami sudah hampir menyentuh.
"Ya atau tidak, Sungmin?" Bisiknya.
"Ya."
Dengan lembut bibirnya menyentuhku, membujuk, memaksa bibirku membuka saat tangannya memeluk diriku, menarikku supaya semakin mendekat padanya. tangannya naik keatas punggungku, jarinya meremas rambut di belakang kepalaku dan menarik-narik dengan lembut, sementara tangan satunya membelai punggungku, memaksaku menempel padanya. Aku mengerang pelan.
"Tuan Cho." Yesung menambahkan suara seperti batuk dan Kyuhyun segera melepaskan aku.
"Ya, Yesung," katanya, suaranya dingin.
Kesimbanganku masih belum sempurna aku berbalik dan melihat Yesung berdiri dengan tidak nyaman di ambang pintu ruang keluarga.
Kyuhyun dan Yesung saling menatap, saling berkomunikasi tanpa terucapkan diantara mereka. "Ruang kerjaku," kata Kyuhyun agak keras, dan Yesung segera berjalan melintasi ruangan.
"Kita teruskan nanti," bisik Kyuhyun padaku sebelum mengikuti Yesung keluar dari ruangan.
Aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan. Sialan. Bisakah aku menolak dia untuk satu menit saja? Aku menggeleng, jijik pada diriku sendiri, berterima kasih atas interupsi Yesung, meskipun memalukan. Aku ingin tahu kenapa Yesung harus mengganggu tadi.
Apa yang dia lihat? Aku tak ingin untuk memikirkan masalah itu. Makan siang. Aku akan membuat makan siang. Aku menyibukkan diri mengiris kentang.
Sepuluh menit kemudian, mereka muncul, saat omelet sudah siap.
Kyuhyun tampak serius saat melirikku. "Aku akan briefing mereka jam sepuluh," katanya pada Yesung.
"Kami akan siap," jawab Yesung dan meninggalkan ruang keluarga. Aku meletakkan dua piring yang sudah hangat dan meletakkannya di meja dapur.
"Makan siang?"
"Ya, silahkan," kata Kyuhyun saat ia duduk di salah satu kursi bar. Sekarang dia menontonku dengan hati-hati. "Ada masalah?"
"Tidak." Aku cemberut. Dia tidak memberitahuku. Aku menyajikan makan siang dan duduk sampingnya, pasrah berada dalam ketidaktahuan.
"Rasanya enak," gumam Kyuhyun memuji sambil menggigitnya. "Apakah kau ingin segelas anggur?"
"Tidak, terima kasih." Pikiranku harus tetap jernih di sekitarmu, Cho.
Memang rasanya enak, meskipun aku tidak begitu lapar. Tapi aku harus makan, tahu kalau Kyuhyun akan cerewet jika aku tidak makan.
Kyuhyun memandangku dengan hati-hati seolah-olah ia berada di wilayah yang belum terjamah. "Apakah kau sudah memutuskan apa yang akan kau kenakan nanti malam? Atau apa aku perlu membantu memilihkan pakaian untukmu?"
"Mm. . . belum. Apakah kau yang memilih semua pakaian itu?"
"Tidak, Sungmin, aku tidak melakukan itu. Aku memberikan daftarnya dan ukuranmu ke pembelanja pribadi di butik langgananku. Mereka yang menyesuaikan. Hanya perlu yang kau tahu, aku telah memerintahkan keamanan tambahan untuk malam ini dan beberapa hari mendatang. Chengmin tidak stabil dan belum ditemukan disuatu tempat di jalan-jalan Seoul, aku berpikir itu merupakan tindakan pencegahan yang bijaksana. Aku tak ingin kau pergi tanpa pendamping. Oke?"
Aku berkedip padanya. "Oke."
"Bagus. Aku akan briefing mereka. Aku tak akan lama."
"Mereka sudah di sini?"
"Ya." Mengambil piringnya, Kyuhyun menempatkannya di bak cuci piring dan langsung menghilang dari ruangan.
Aku mengambil piringku, segera mencucinya, dan kembali ke kamar tidurku sambil membawa berkas LEE SUNGMIN. Menuju lemari pakaian, aku mengeluarkan tiga gaun malam panjang. Nah, Sekarang yang mana?
.
.
.
Aku berbaring di tempat tidur sambil menatap Mac-ku saat Kyuhyun masuk. "Apa yang sedang kau lakukan?" Ia bertanya dengan lembut.
Sejenak aku merasa panik, bertanya-tanya apakah aku harus membiarkan dia melihat websiteku di: Gangguan kepribadian ganda. Gejala-gejala.
Berselonjor di sampingku. Dia melihat halaman website dengan geli. "Kenapa membuka situs ini?" Tanya dia acuh tak acuh. Kekasaran Kyuhyun telah hilang, Kyuhyun yang main-main sudah kembali. Bagaimana aku bisa mengimbangi ini?
"Penelitian. Pada kepribadian yang rumit." Aku berusaha terlihat tanpa ekspresi.
Bibirnya berkedut dengan senyum ditekan. "Sebuah kepribadian rumit?"
"Kelinci percobaanku."
"Aku sekarang menjadi kelinci percobaan? Kegiatan sambilan. Mungkin penelitian ilmiah. Disaat aku berpikir aku adalah segalanya. Nona Lee, kau melukai hatiku."
"Bagaimana kau tahu itu adalah kau?"
"Tebakan Liar." Dia menyeringai.
"Memang benar bahwa kau adalah satu-satunya orang yang kacau, bergairah, gila kontrol yang aku tahu, secara intim."
"Kupikir aku adalah satu-satunya orang yang kau kenal secara intim." Dia melengkungkan alis.
Aku memerah. "Ya. Itu juga."
"Apakah kau sudah sampai pada kesimpulan?"
Aku berbalik dan menatap dia. Dia berbaring miring di sampingku dengan kepala bertumpu pada sikunya, ekspresinya lembut dan geli. "Aku pikir kau membutuhkan terapi intensif."
Dengan lembut dia menyelipkan rambutku di belakang telinga. "Aku pikir aku membutuhkanmu. Ini." Dia memberiku lipstik.
Aku mengerutkan kening padanya, bingung. Ini warna merah pelacur, sama sekali bukan warna kesukaanku.
"Kau ingin aku memakai ini?" Aku menjerit pelan.
Dia tertawa. "Tidak, Sungmin, tidak kecuali kau mau. Aku tak yakin itu warna kesukaanmu," katanya datar. Dia duduk di atas tempat tidur bersila dan menarik bajunya ke atas kepalanya. Oh. "Aku menyukai idemu dengan memetakan daerah yang boleh disentuh."
Aku menatap dengan tatapan kosong. Memetakan daerah yang boleh disentuh?
"Daerah yang boleh dan tidak boleh disentuh," katanya memberi penjelasan.
"Oh. Aku hanya bercanda."
"Aku tidak."
"Kau ingin aku menggambarkannya dengan lipstik?"
"Pada akhirnya ini akan dibersihkan."
Ini berarti aku bisa menyentuhnya dengan bebas. Senyum kecil keheranan tampak di bibirku, dan aku menyeringai padanya.
"Bagaimana dengan sesuatu yang lebih permanen seperti di rajah?"
"Aku bisa membuat tato." Matanya menyala penuh humor.
Cho Kyuhyun bertato? Tubuhnya yang indah ditandai dengan banyak tato? jangan sampai!
"Jangan ditato!" Aku tertawa untuk menyembunyikan rasa ngeriku.
"Kalau begitu pakai lipstik." Dia menyeringai.
Mematikan Mac, aku mendorongnya ke samping. Rasanya sangat menyenangkan.
"Ayo." Dia memegang tangannya padaku. "Duduklah diatasku."
Aku menekuk kakiku, menjadi posisi duduk, dan merangkak mendekatinya. Dia berbaring di tempat tidur namun lututnya tetap ditekuk. "Bersandarlah pada kakiku." Aku merangkak di atasnya dan duduk mengangkang seperti yang diinstruksikan. Matanya yang melebar dan hati-hati. Tapi dia juga geli. "Sepertinya kau sangat antusias melakukan ini," komentarnya dengan masam.
"Aku selalu bersemangat untuk semua informasi, Tuan Cho, dan itu berarti kau akan rileks, karena aku akan tahu di mana batas-batasnya."
Dia menggelengkan kepalanya, seakan tak percaya bahwa dia membiarkan aku menggambar seluruh tubuhnya. "Buka lipstik itu," ia memberi perintah.
Oh, dia benar-banar menjadi seorang bossy, tapi aku tak peduli.
"Ulurkan tanganmu."
Aku memberikan tanganku yang lain padanya.
"Tangan satunya yang memegang lipstik." Dia memutar matanya ke arahku.
"Apakah kau memutar mata padaku?"
"Ya."
"Itu sangat tidak sopan, Tuan Cho. Aku kenal beberapa orang yang melakukan kekerasan karena seseorang memutar matanya." Aku mengulurkan tanganku yang memegang lipstik, dan tiba-tiba dia duduk jadi hidung kami saling menyentuh.
"Siap?" Dia bertanya dengan lirih, mengguman pelan, itu membuat tegang semuanya dan menegang dalam diriku. Oh wow.
"Ya," bisikku.
Kedekatannya sangat menggoda, tubuhnya yang mendekat mengencang, aroma Kyuhyun bercampur dengan wanginya sabun mandiku. Dia menuntun tanganku hingga lekuk bahunya.
"Tekan ke bawah," dia mengambil nafas, dan mulutku menjadi kering saat ia mengarahkan tanganku turun, dari atas bahunya, sekitar siku lengannya kemudian menuruni bagian dadanya.
Lipstiknya meninggalkan jejak, garis warna merah darah di belakangnya. Dia berhenti di bagian bawah tulang rusuk ini lalu mengarahkan aku melintasi perutnya. Dia menegang dan menatap, wajahnya tanpa ekspresi, menatapku, tetapi di balik pandangan kosong, aku melihat dia menahan diri. Keengganannya nampak ditahan dengan tegas, garis rahangnya mengencang, dan ketegangan terlihat di sekitar matanya. Saat melintas di tengah perutnya dia bergumam.
"Bagian atas di sisi yang lain." Dia melepaskan tanganku. Aku meniru garis yang telah aku gambar di sebelah kirinya.
Kepercayaan yang dia berikan padaku memabukkan tapi marah karena faktanya aku bisa merasakan sakitnya. Ada tujuh luka bekas yang kecil disekelilingnya berwarna putih bertebaran di dadanya, dan itu sangat dalam, terasa menyakitkan untuk melihat ini, kejahatan atas penodaan tubuh yang indah ini. Siapa yang melakukan ini terhadap seorang anak kecil?
"Lihatlah, aku bisa menggambarnya," bisikku, menahan emosiku.
"Tidak, kau tidak bisa," jawab dia, dan dengan jari telunjuknya menelusuri garis sekitar pangkal lehernya. Aku mengikuti garis jarinya dengan warna merah.
Selesai, aku menatap ke dalam matanya.
"Sekarang punggungku," bisiknya.
Dia bergeser jadi aku harus turun darinya, kemudian ia berbalik di atas tempat tidur dan duduk bersila diatas punggungnya.
"Ikuti garis seperti didadaku, semua garis mengelingi sisi yang lain." Suaranya lirih dan serak.
Aku lakukan seperti yang dia katakan, sampai garis merah melintasi tengah punggungnya, aku menghitung bekas luka ditubuhnya yang indah. Semuanya ada sembilan. Sialan. Aku harus melawan keinginan yang sangat besar untuk mencium masing-masing bekas luka itu dan menghentikan air mata menggenang di mataku. Jenis hewan apa yang melakukan hal ini?
Kepalanya sedang menunduk, dan tubuhnya tegang saat aku menyelesaikan rangkaian garis di sekeliling punggungnya.
"Sekitar lehermu juga?" Bisikku.
Dia mengangguk, dan aku menggambar garis lain bergabung dengan garis pertama tadi disekitar pangkal leher bawah rambutnya.
"Selesai," bisikku, dia seperti mengenakan rompi kulit aneh dengan warna pelacur-merah membara.
Bahunya merosot karena dia rileks, perlahan ia berbalik menghadapku lagi. "Mereka adalah batas-batasnya," katanya perlahan, matanya gelap dan matanya melebar. . . dari rasa takut? Dari nafsu? Aku ingin melemparkan diri padanya, tapi aku menahan diri dan menatap dia dengan bertanya-tanya.
"Aku bisa hidup dengan itu. Saat ini aku ingin melemparkan diriku padamu," bisikku.
Dia memberiku senyum nakal dan mengulurkan tangannya, mengisyaratkan permohonan. "Yah, Nona Lee, aku milikmu."
Aku menjerit dengan gembira kekanak-kanakan dan melontarkan diriku ke lengannya menjatuhkannya ke tempat tidur. Dia berputar, membiarkan dirinya tertawa kekanak-kanakan penuh kelegaan bahwa cobaan itu telah berakhir. Entah bagaimana, aku berakhir dibawah tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sekarang, melanjutkan yang tadi," dia mengambil nafas dan mulutnya menciumku sekali lagi.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
