Rahasia itu sudah sejak lama terkubur di dalam ruang musik nomor 3 di sayap barat. Romansa seorang pria dan seorang gadis. Menari-nari di atas tebing curam. Dipikir berulang-ulang pun, rahasia itu tetap saja bukanlah sesuatu yang baik. Pria itu mungkin tidak peduli, tapi rasa bersalah terus menggegoroti hati si gadis.

Sejumput rambut blonde yang terjepit di telinga dan pita hitam di rambut adalah hal yang paling diingatnya. Musim semi yang dingin dan beku di dini hari yang berembun. Air mata yang mengalir dari sepasang permata biru pucat, tak menunjukkan rasa dan kata-kata. Waktu itu hatinya terlalu hampa untuk memberikan perasaannya untuk dilihat dunia. Waktu itu, ia terlalu terluka untuk peduli terhadap apa pun lagi.

Romansa menjadi kenangan. Pria itu tak peduli apa pun lagi. Wajah sang gadis berubah buram dan tidak jelas. Pada akhirnya, ia tak mampu mengingat seperti bentuk matanya, bibirnya, hidungnya, alisnya...wajahnya. Kekosongan telah menjadi hal nyata dan eksistensinya.

Senyumnya dingin dan hampa.

"Kau dengar itu? Eternity... ya, Eternity."

Tak ada lagi perasaan yang tersisa.

"100 tahun aku abadi untukmu."

Musim dingin ke seratus yang pertama.

"Sesuai permintaan terakhirmu."

Salju-salju yang menghujani di tahun ke seratus.

"Gadis," gumamnya lirih,

"kau sangat egois."

xxx

.

.

Four Souls

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

Pandora Hearts © Jun Mochizuki

Line 36: Grieving Truth II

.

.

xxx

Hermione mengambil satu langkah ke belakang, terkejut bukan main ketika mendapati siapa yang berada di samping Raven. Tangannya mendadak lembab dan basah oleh keringat dingin. Kedua matanya siaga memerhatikan pemuda yang masih mengelus sayap Raven, dan bertingkah seolah ia tidak melihat Hermione di sana (tapi, tentu saja, Hermione lebih tahu bahwa pemuda itu sudah menyadarinya lebih cepat dari dugaannya). Gadis itu menarik nafas dalam-dalam.

"Apa yang kau lakukan di sini," nada suaranya bergetar dan terasa pahit, "wadah Roh Tanah?"

Jack menelengkan kepala ke arahnya. Dengan senyum simpul alami di wajahnya. Hermione tertegun, menangkap sorot mata teduh yang asing di permata emeraldnya.

"Seperti yang kau lihat, aku sedang memanjakan Raven," katanya. Hermione mengerutkan alis tidak percaya. Kemudian, pemuda itu melanjutkan, "Aku sudah lupa kapan terakhir kali kita bicara tanpa amarah dan kebencian." Hermione merapatkan bibirnya, menyadari bahwa perkataannya benar.

Jack membalikkan badannya, sepenuhnya menatap gadis itu.

"Karena kau saat ini tidak sibuk—" (Hermione hendak memprotes) "—mau berbincang sebentar?"

Hermione terdiam, menatap wadah Roh Tanah dengan tatapan menilai. Lalu ia menjatuhkan tatapannya, tiba-tiba merasa lelah dan ingin beristirahat. Mungkin ini pilihan yang tepat, biarpun dia masih ketakutan karena pemuda itu tidak punya keraguan untuk membunuhnya. Tapi, semua ketakutan, rasa bersalah, dan juga perasaan terasing karena dibiarkan untuk tetap berada dalam ketidaktahuan kini membuatnya merasa memikul beban yang berat. Mungkin ini pilihan yang tepat, agar semuanya menjadi jelas dan dia tak perlu merasa sendiri lagi.

Hermione memejamkan matanya erat, dan dengan gerakan kaku, ia menganggukkan kepalanya. Semua gerak-geriknya memberikan kesan terpaksa.

"Ayo, naik."

Hermione sontak mengangkat wajahnya, melotot pada pemuda itu. Sementara wadah Roh Tanah tampak mengacuhkannya dengan mengisyaratkannya naik ke punggung Raven. Hermione menggeretakkan giginya.

"Bukan tempatmu untuk mengaturku tentang Raven." Raven adalah milikku, batinnya posesif. Namun, Jack bertingkah seolah tidak mendengarnya dan (tidak tahu diri!) telah duluan berada di punggung tunggangannya. Hermione mengeluarkan geraman tertahan dari ujung tenggorokannya. Jack menaikkan alisnya melihat gadis itu masih keras kepala di tempatnya. Dengan enggan, Hermione menurutinya. Kemudian, duduk di belakang, seolah ia adalah tamu.

Selama itu, tak ada pembicaraan di antara mereka berdua.

Semilir angin yang dingin membuat kedua mata Hermione terasa pedis dan berair. Ia segera menyekanya ketika sadar bahwa Raven terbang merendah. Ia mengintip ke bawah.

Tampak pohon Dedalu Perkasa merapatkan dahan-dahannya, kedinginan karena salju dan angin dari kepakan sayap Raven. Hermione segera meloncat turun tanpa menunggu Raven mendarat sepenuhnya. Ia bahkan tidak menatap gagak raksasa itu saat Jack membelainya dan membebaskannya untuk pergi.

Raven melebarkan sayapnya, kemudian terbang pergi. Hermione membelalak. Ia lantas membalikkan badannya dan menatap tajam tunggangannya yang telah jauh. Tunggangan macam apa yang tidak patuh pada tuannya? Hermione menggeram. Raven bahkan tak meminta perhatiannya.

Gadis itu mendadak ingin merajuk. Ia menurunkan wajahnya dan terkejut mendapati wadah Roh Tanah menatapnya. Senyum simpulnya kini terkesan sedih dan dalam.

"Pansy pernah bertanya," pemuda itu meletakkan tangannya dengan lembut di batang Willow, "apa yang diberikan Roh Tanah padaku."

Kedua permata coklat melebar. Tiba-tiba mengerti pembicaraan ini akan mengarah kemana. Akan tetapi, wadah Roh Tanah tak pernah menceritakan tentang dirinya. Hermione mengira anggapannya salah.

Namun, laki-laki itu menatapnya dengan segala emosi yang bercampur di permata emeraldnya.

"Hermione," katanya pelan, "aku akan menceritakan tentang masa laluku."

Hermione hanya diam menatapnya. Kini ia menyadari emosi apa saja yang tampak di kedua matanya. Keengganan.

Karena, wadah Roh Tanah bukanlah orang yang dengan mudah berbicara tentang dirinya. Dan Hermione tidak berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Karena, dia juga ingin tahu. Dia telah bosan berada dalam ketidaktahuan yang menyesakkan pernafasannya.

xxx

"Aku berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki manor luas dan beberapa estate yang tersebar. Ayahku termasuk orang yang sibuk, dan ibuku meninggal ketika melahirkan adikku. Aku adalah anak pertama sekaligus ahli waris yang sah dan adikku sama sekali tak dibagi sepeser pun dari warisan itu.

"Aturan keluargaku cukup rumit. Aku tidak bisa menyalahkan para leluhur yang paranoid terhadap perang di masa lalu atau persaingan kotor untuk merebut kekayaan. Tapi, aku sangat ingin merubahnya walaupun itu sudah tidak mungkin. Biarpun begitu, apapun yang terjadi sekarang lebih baik daripada sebelumnya.

"Mereka membagi antara hak dan kewajiban terhadap anak laki-laki pertama dan kedua. Hak untuk anak pertama, kewajiban untuk anak kedua," pemuda itu mengulum bibirnya, merasa ironis ketika mendapati dirinya mengatakan hal yang sama seperti Oscar lakukan bertahun-tahun yang lalu, "aku adalah pewaris, dan adikku adalah... bayangan."

"Bayangan?"

Laki-laki itu sedikit memalingkan wajahnya, mengernyitkan kedua alisnya. "Adikku akan...membersihkan jalanku." Hermione menatapnya heran.

"Demi kesuksesanku."

Hermione membisu, berusaha mencerna maksud ucapan laki-laki itu. Kedua matanya lantas membesar tak percaya, "maksudmu, membu...!" Gadis itu kehilangan kata-kata.

"Ya, membunuh. Adikku tidak mungkin mampu melakukannya!" Hermione tersentak saat nada suara laki-laki itu berubah emosional. "Adikku adalah anak yang lemah dan sakit-sakitan. Aku tak akan membiarkan dia melakukannya. Karena itu, aku menukar segalanya dan menjadikannya sebagai ahli waris."

"Karena itu, kau..." tangan wadah Roh Udara gemetar, "sangat...pandai menggunakan..."

Laki-laki itu mengulum senyum tipis, "Aku harus membunuh. Lagipula, itulah hasil yang diinginkan oleh ayahku. Aku sudah dipersiapkan untuk itu semua.

"Pewaris-pewaris itu mati di tanganku. Aku tidak peduli apakah mereka orang baik, dermawan, pahlawan, atau sebaliknya." Ia menoleh menatap lawan bicaranya, "aku bahkan tidak peduli apakah mereka memiliki orang tersayang seperti halnya aku pada adikku."

Hermione tercekat.

"Aku hanya mementingkan keselamatan adikku dan aku berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja selama dia masih tersenyum dan sehat. Aku tidak akan peduli sekotor apa pekerjaan yang harus kulakukan."

Wadah Roh Udara menyentuh lehernya, "Kau juga tidak ragu..." Pemuda di sampingnya tidak melihatnya, atau pun mendengar gumaman lemahnya.

"Aku tidak peduli dan tidak akan ragu. Kemudian, waktu berjalan dan aku sudah melewati tahun. Kupikir, semuanya akan berjalan lancar. Tak akan ada musibah yang terjadi. Aku sudah melakukan sebisaku, dan seharusnya adikku tetap hidup. Seharusnya semua itu tidak terjadi.

"Tapi, aku bukan Tuhan. Sejak awal, aku tidak bisa mengendalikan takdir. Adikku, malam itu, meninggal dalam genangan darahnya sendiri. Bukan hanya adikku, tapi juga seluruh pelayan, dan keluargaku. Mereka diserang ketika aku dan kelompokku tidak berada di tempat.

"Roh Tanah memilih saat yang tepat untuk menemuiku. Dia bersedia mengubah masa lalu asalkan," katanya, "aku membayarnya dengan keberadaanku."

"Kebera...daan..." Hermione merasa melihat dirinya sendiri.

"Artinya," katanya lagi, "aku tidak pernah ada."

Pemuda itu menengadah ke langit, "Tapi, aku tidak pernah menyesal. Adikku hidup dan itu yang terpenting." Kemudian, ia menatap Hermione, "Aku tidak pernah menyesalinya, karena hukum ambil-beri ini tidak keluar dari logikaku. Semuanya setimpal."

Hermione membuka mulutnya. Tanpa bisa ia hentikan, pertanyaan itu telah meluncur keluar dari pita suaranya. "Kau hanya berbicara tentang adikmu. Ada apa dengan ayahmu?" Aakh! Dasar aku bodoh, kutuknya.

Tatapan laki-laki itu berubah seolah ada gejolak di dalamnya.

"Aku," mulainya, "tidak pernah mengerti ayahku. Aku berada dalam anggapan bahwa ayahku adalah orang yang dingin. Dan apa yang kupikirkan hanyalah kebenciannya padaku. Tapi, kupikir semua itu salah. Ayahku hanya membimbingku." Ia melempar senyum kecil, " ayahku meninggal untuk melindungi adikku. Kupikir, ayahku memang menyayangi kami berdua." Seperti yang Uncle Oscar katakan.

Hermione memerhatikan bahwa wadah Roh Tanah tidak mengatakan kebenarannya secara langsung. Tapi, gadis itu memilih tidak mendesak dan terkesan gila urusan. Ia kembali bertanya, "Aku tidak mengerti," Hermione menelan ludah, "apakah hanya untuk alasan itu kau melindungi adikmu?"

Pemuda Ravenclaw di sampingnya menatapnya dalam diam. Ia takjub karena gadis itu bisa menarik satu hal yang ganjil. Pemuda itu tersenyum sembari bangkit dari duduknya, berdiri dan menatap Hermione dari sana.

"Adikku, satu hal yang ingin kupastikan darinya adalah dia tidak tercemar. Dia tidak mengerti apa arti sebenarnya dari kebencian atau kemarahan. Aku melindunginya dari ketidaktahuannya tentang bagaimana pandangan kakekku terhadapnya." Giginya bergemeretak, mengingat tatapan dingin itu tepat di hadapan Oz. Ia merentangkan kedua tangannya seraya memandang langit.

"Adikku adalah segala sesuatu yang bukan diriku. Dan aku akan menjaganya untuk tetap seperti itu. Dia tidak boleh menjadi sepertiku."

Hermione terpatri pada sosoknya dengan jalinan rambut kuning cerahnya yang bergoyang bersama angin.

Sinar matahari yang cerah menimpa kedua permata emerald.

"Senyumnya tidak boleh tercemar."

Hermione Granger berpikir,

apakah yang ia maksud dengan senyum yang tidak tercemar? Ataukah dia merujuk pada dirinya sendiri tentang bagaimana ia tersenyum tanpa ketulusan yang sewajarnya?

Gadis itu berpikir bahwa mungkin maknanya lebih dalam dari apa yang ia duga.

xxx

"Dilihat dari kelakuanmu tempo hari, sepertinya kau sudah tahu kalau aku bukanlah Sqiedefs Knightsroot." Hermione menegang. Jack mengabaikannya.

"Ya, kau benar," lanjut pemuda itu, "nama asliku adalah Jack. Dan adikku..." Dia mendadak diam. Hermione buru-buru mencegatnya.

"Kau tidak perlu mengatakannya. Kau tahu, kau bilang itu hanya masa lalumu, 'kan? Kau tidak perlu mengatakannya kalau kau tidak ingin."

Jack hanya tersenyum, "Aku malah ingin kau tahu. Karena, adikku ini adalah satu-satunya hal yang kubanggakan di dalam hidupku...dulu."

Kemudian, pemuda itu memejamkan kedua matanya dengan air mukanya yang berubah damai. Dan angin berhembus pelan membelai rambut pirangnya. Bersama nada suaranya yang tenang seperti air, ia mengatakannya.

"Oz. Adikku bernama Oz."

Hermione tercengang, kehilangan kata-kata untuk membalas laki-laki itu. Karena, ini adalah pertama kalinya dia melihat wadah Roh Tanah berekspresi seperti itu. Dan penyebabnya adalah adiknya sendiri. Biarpun kenyataannya, saat ini, adiknya tidak tahu bahwa dia memiliki kakak yang hebat seperti Jack.

"Nama yang bagus," puji Hermione seraya tersenyum lepas untuk pertama kalinya di hari itu. Jack tertawa. Dan mungkin, Hermione hanya berimajinasi saat melihat air mata bergenang samar di manik emeraldnya.

xxx

"Lalu, apakah kau juga akan menceritakan tentang Sqiedefs Knightsroot?"

Jack tidak melihatnya, tapi Hermione menandai senyuman simpul di bibirnya. Seolah Jack tahu bahwa pertanyaan itu memang tidak terelakkan.

"Kau ingat kasus tentang Ifle Dilost dan Pansy?"

Hermione menggangguk pelan sembari menjalankan kembali memorinya tentang peristiwa itu.

"Aku kira," ucap Jack," ada yang menanyakanku."

Hermione langsung mengangkat wajah menatapnya. "Y—ya! Aku ingat... dia memang menanyakan Jack...Oh! itu kau!" Samar-samar gadis itu mengingatnya walaupun tidak sepenuhnya. Pantas saja saat ia tidak merasa asing saat mendengar Viktor menyebutkan nama itu. Hermione memendam rasa penasaran terhadap kenyataan bahwa Jack tidak menyebutkan marganya, walaupun sebenarnya dia sudah tahu.

"Perempuan itu—"

Hermione mengingatnya seorang gadis dengan dua warna mata yang berbeda.

"—adalah kekasih Sqiedefs Knightsroot,"

Sepasang manik coklat melebar. Dan entah kenapa, seorang laki-laki albino dengan wajah aristokrat yang begitu familiar tiba-tiba terlintas di pikirannya. Hermione buru-buru mengenyahkannya.

"yang pertama kubunuh setelah kedatanganku ke Hogwarts."

Mungkin pada dasarnya laki-laki ini adalah orang yang dingin.

"Ein mengatakan bahwa Sqiedefs Knightsroot pernah bersekolah di Hogwarts dan meninggal 3 tahun sebelum kedatanganku. Lalu, aku mengambil namanya, karena orang ini sangat sesuai dengan apa yang kuinginkan."

Dia bisa menjadi hebat dan mengerikan di saat yang bersamaan.

"Oleh karena itu, aku akan menjadi Sqiedefs Knightsroot."

Tanpa keraguan sedikitpun, ia mengambil milik orang lain.

Hermione menarik nafas gemetar seraya menenangkan diri agar tidak ketakutan dan marah karena pemuda itu begitu dingin. Tidak berperasaan. Kesan yang ditimbulkan begitu berbeda ketika ia berbicara tentang dirinya dan Oz dengan dirinya sendiri.

"Apa tujuanmu menggunakan nama itu?" tanyanya gemetar.

Jack menatapnya, dan menjawabnya tanpa sedikitpun perubahan di dalam nada suaranya. Dengan begitu alami seolah ia hanya menjawab pertanyaan ringan mengenai cuaca.

Hermione berpikir bahwa cerita masa lalu pemuda bernama 'Jack' tidak cukup untuk membuatnya mengerti,

kenapa laki-laki ini bisa menjadi begitu kejam.

"Aku hanya ingin menjadi seperti orang normal."

Pernyataan itu datang begitu saja. Dengan polos dan ringan. Seolah Jack hanya berbicara tentang cuaca. Tanpa sedikitpun mempengaruhinya dengan kerumitan. Hermione tidak mengerti bagaimana harus melihat Jack.

Bagaimana harus menilai Jack.

Sementara ia adalah segala bentuk kerumitan yang tidak memiliki jalan keluar.

Hermione Granger sama sekali tidak menyadari bahwa Jack Vessalius tidak menyembunyikan kepribadian yang sebenarnya. Bahwa saat itu Jack memperlihatkan siapa dia. Seluruh sifat dan idealismenya.

Sayangnya, Hermione tidak menyadarinya.

Kecuali, seseorang lainnya, yang menonton dalam diam, menyadari satu hal tentang pemuda itu.

Bahwa Jack Vessalius belum 'terbentuk' dengan sempurna.

xxx

Pansy mengayun-ayunkan kakinya saat ia duduk di dahan Willow yang kokoh. Senyumnya gembira ketika kedua matanya tak lepas dari dua rekannya. Gadis itu melambai dan membuka mulut tanpa suara, mengikuti gerakan Jack. Saat dua wadah itu tersisa untuk urusan mereka, sepasang permata emerald bergulir ke ekor mata.

Dan Pansy hanya menelengkan kepalanya dengan senyum lebar.

"Nah, Pansy," suara licin itu senada dengan kelopak matanya yang merendah dengan ancaman yang pasti, "rahasia apa yang akan kau pertaruhkan di meja judi, hm?"

Pansy Parkinson tersenyum jenaka, "Aku tidak ingat menjanjikan waktu untuk berjudi denganmu."

Jack tertawa kecil di tangannya, kemudian menatap gadis itu dengan iris emerald-nya yang mencemooh.

"Semua orang," katanya, "berjudi denganku."

Senyum Pansy berubah tertarik ketika mencondongkan badannya ke bawah. "Dengan taruhan nyawa," sambungnya dengan nada yang sama dinginnya, meniru pemuda itu. Jack tersenyum palsu, membenarkan ucapannya.

"Kau sangat paham cara kerjaku." Jack menekan nada suaranya, berniat menunjukkan maksud sesungguhnya. Pansy lantas tersenyum santai, namun Jack lebih tahu bahwa gadis itu kembali bermasa bodoh. Mengacuhkan kenyataan pasti bahwa Jack tak lagi menunggu balasan dalam pernyataan konotasi.

Kemudian, gadis itu mendadak berhenti menggerakkan kakinya di udara. Ia mengangkat tangannya, mendekatkan ujung jarinya ke mata. Sepasang permata emerald berkilat, mengenali gerakan itu dalam ingatannya.

"Aku adalah mata Yang Mulia."

Gadis itu, Pansy Parkinson, melakukan hal yang sama seperti sang Raja.

Jack Vessalius menatap udara kosong setelah gadis itu melemparkan senyum santai kemudian menghilang entah kemana. Pemuda itu menarik nafas tanpa suara. Kuku-kukunya menggores di telapak ketika tangannya terkepal erat.

Ah, darah bisa saja mengalir jika goresan terlalu dalam.

Akan tetapi, wadah Roh Tanah tak merasakan apapun, kecuali gejolak yang membuncah di hatinya. Senyumnya merapat, menahan perasaan senang yang begitu licik keluar di permukaan begitu saja. Satu kalimat dari wadah Roh Air sangat mengerikan, dengan mudah memberinya sedikit perasaan menang yang tak bisa ia tahan. Kedua matanya sedikit terpejam dengan senyum hati-hati di bibirnya.

Kini semua menjadi jelas.

Kepribadian ganda si wadah Roh Air.

Tingkah laku tidak wajar si wadah Roh Udara ketika ia ditugaskan untuk mengawasinya.

Semuanya mengarah ke sumber yang sama. Pada orang yang sama. Seorang gadis dengan rahasia di setiap sela-sela jarinya. Yang tatapannya begitu dingin dan menusuk.

Dengan iris merah yang sama manipulatif.

.

.

"Einen Kleird tidak membuka rencananya, tapi dia membiarkanmu menebaknya."

xxx

Theo melirik dari balik bahunya, "Kau dengar?"

Blaise tak menanggapinya. Tempo langkahnya tak berubah biarpun Theo memperlambat sedikit langkah untuk kembali berbicara dengannya. Theo memajukan bibir bawahnya.

"Blaise! Kau dengar ceritaku, 'kan?"

"Kusarankan kau untuk diam, Nott," balas Blaise tak tertarik. Langkah berhenti. "Kita sudah sampai."

Theo ikut menghentikan kakinya, kemudian menoleh ke samping. "Aa, ya."

Blaise menatapnya tidak sabar. Teman Slytherinnya meringis minta maaf. Mengajak Blaise ke asrama Hufflepuff memang bukan keputusan yang bagus mengingat bagaimana dia memandang strata sosial baik di dalam maupun di luar sekolah. Dan sebagai tambahan yang sangat tidak membantu: Blaise tidak suka pacar baru Draco. Yang adalah alasan kenapa mereka berdua kini berdiri di depan jalan asrama berlambang Musang yang dipenuhi oleh tong-tong, yang tentu saja, berperan sebagai ranjau.

Hidung Blaise melirik galak ketika Theo menggaruk-garuk pelipisnya dengan sorot mata seperti anak hilang. Dan Blaise Zabini cukup tahu apa yang bisa terjadi di otak teman yang kini paling ingin ia kutuk karena memaksanya ke tempat ini.

"Ketuk tong kedua dari bawah, tengah dari baris kedua, dalam irama 'Helga Hufflepuff'," ucap Blaise dingin. Theo tertawa gugup.

"Oke, oke. I got it!" katanya, sedikit meloncat menjauh seolah mata Blaise sewaktu-waktu akan memancarkan sinar laser mematikan. Jari telunjuknya bergerak menghitung tong-tong besar yang menutup pintu masuk.

"Oh! Yang ini!"

"Theo..."

Sejengkal tongkat sihir keluar dari saku jubah teman aristokratnya.

"Aku hanya bercanda! ! Seriously, Blaise!" Theo merentangkan tangannya, "santailah sedikit." Blaise menatapnya dingin, dan Theo, dengan berani, membalasnya dengan tatapan jenaka. Baginya ini adalah kesempatan langka untuk menggoda Blaise, karena, yaah, dia bukan orang yang gampang dipicu amarahnya. Tapi, Theo hanya berniat bermain-main di tengah-tengahnya saja. Dengan kata lain: dia tidak berani menghadapi amarah Balise, tapi senang memicu amarahnya. Laki-laki yang rumit.

Glutuk-glutuk!

Tong-tong raksasa mendadak berguling-guling membuka jalan. Theo, yang posisinya tepat berada di depan, lantas meloncat ke belakang. Ia sedikit terkejut dan mentalnya ikut terguncang karena baru saja menyaksikan adegan tong-tong bergerak yang pertama dalam hidupnya. Blaise berpikir untuk menjadi psikiaternya. Dengan demikian, dia bisa mencuci otaknya dan menjadikannya sebagai budak.

"Kalian..." suara feminim menarik perhatian mereka, "...apa yang Slytherin lakukan di sini?"

Sudut bibir Blaise berkedut tidak suka, sementara Theo menarik-narik rambut depannya dengan canggung.

Hannah Abbott melangkah maju dan secara otomatis menutup pintu masuk. Dua orang asing di depannya sadar bahwa gadis itu sengaja. Theo berdehem.

"Kami hanya ingin bertemu dengan seseorang."

"Salah satu dari asramaku." Hannah menegaskan. Theo mengangguk. Gadis itu diam sejenak, memandang Theo dengan sorot mata menilai. "Well, aku akan membantumu. Siapa namanya?"

"Terima kasih, namanya—"

"—Valerie Reverie," sambar Blaise dengan nada tidak sabar. Tidak sabar terhadap Theo, dan perbincangan lama dua orang itu. Hannah menekuk alis.

"Siapa?" tanyanya lagi. Mencoba meyakinkan diri dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Valerie Reve—hmpp!"

Blaise melebarkan kedua matanya ketika, tanpa aba-aba, Hannah Abbott menerjang Theo dan membekap mulutnya. Tepat di saat tong-tong kembali berguling. Dua orang anak laki-laki tahun kedua agak terkejut melihat mereka, terutama situasi Hannah dan Theo yang sangat mencurigakan. Mereka menatap Hannah dengan tidak yakin, tapi hanya dibalas dengan senyuman kecil.

"Temanku," katanya ringan. Adik-adik kecilnya mengangguk paham sebelum melanjutkan perjalanan.

Hannah menghela nafas lega. Dengan agak kasar dan tergesa-gesa, ia menarik Theo dan Blaise menyudut ke tembok. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum menatap tajam dua laki-laki yang kini menatapnya seolah ia adalah orang paling aneh di dunia.

"Aku tidak tahu di mana kalian mendengarnya, tapi jangan pernah menyebut nama itu di sini!" desisnya. Blaise menyipitkan kedua matanya.

"Ada apa dengan gadis itu?" tanyanya hati-hati, ingin membenarkan kecurigaannya bahwa pacar Draco adalah orang aneh dan tidak pantas untuk sahabatnya. Namun, ia yang dapat hanyalah: tatapan horor Hannah Abbott.

"Apa yang kau bicarakan, idiot! ?" Kedua mata gelap gadis itu melirik liar, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar ucapan Blaise. Yang tengah membelalak tak percaya pada gadis itu. Baru pertama kali dalam hidupnya ia dikatai 'idiot'. Theo merapatkan bibir, menahan tawa di tenggorokannya.

"Dengar," bisiknya dengan nada menekan, "jangan pernah menyebut nama itu, dan—" raut wajahnya berubah kecut, "—menyandingkannya dengan kata 'gaxxx'. Mengerti?"

Blaise dan Theo saling pandang tidak mengerti. Tidak mengerti dengan peringatannya serta kenapa ia harus menyensor kata 'gadis'. Hannah menjambak rambutnya sendiri.

"Honestly! Dia bukan perempuan, paham tidak! ?"

Dua laki-laki di sana merasa baru saja disiram air dingin. Blaise yang pertama sadar dan langsung menarik lengan gadis itu.

"Apa maksudmu?" serangnya cepat.

"Apa yang tidak kau mengerti dari kalimat 'dia bukan perempuan', Zabini?"

Blaise memicingkan kedua matanya, tidak senang dengan jawaban gadis itu. Hannah agak takut dengan tatapannya, "di—dia laki-laki, tentu saja!"

"Kau tidak bohong, 'kan?" Gadis itu menoleh ke arah Theo.

"Untuk apa aku bohong! ?" serunya tidak terima. Blaise menarik tangannya dan berpikir dalam-dalam tentang kenyataan ucapannya.

"Ceritakan apa yang kau tahu," ujarnya pada akhirnya, merasa lebih baik mendengarkan penjelasan gadis itu untuk menghilangkan semua kebingungan yang ada. Hannah diam sesaat sebelum memejamkan kedua matanya lelah seraya menghela nafas. Dilihat dari kepolosan pertanyaan Blaise dan Theo, jelas dua orang itu tidak tahu siapa yang mereka bicarakan. Hannah jadi merasa bersalah bersikap kasar dan terburu-buru pada mereka.

"Nama itu, nama yang kalian sebutkan tadi, adalah candaan untuk nama asli dari orang yang kalian cari. Sekali lagi, dia adalah laki-laki," tekannya memperingatkan, "dan dia satu tahun di bawah kita."

"Kau takut dengannya?"

Hannah lantas menatap tajam Theo, "tentu saja. Dia itu liar. Tidak kenal laki-laki atau perempuan, siapapun berani dia hajar."

"Hei, bahkan senior di atas kita juga?" tanya Theo main-main. Sayangnya, Hannah tak menganggapnya begitu.

"Sebagian takut, dan sebagian lagi menghormatinya," nada berubah ragu, "sebagian yang tersisa agak...aneh. Mereka... mungkin mengaguminya."

Blaise menaikkan alisnya, "kalau cuma mantra—"

"Kau pikir aku berbicara tentang mantra! ?" desisnya agak histeris. Semakin lama berbicara dengan dua orang itu membuat stressnya naik.

"Tunggu dulu—"

"—Dia lebih menggunakan ini," Hannah menunjuk kepalanya, "dan ini," lalu lengannya. "Dia berhasil lolos karena tidak pernah mengutuk orang sembarangan."

Theo kembali bertanya setelah sebelumnya ia tak sempat karena gadis itu memotong ucapannya. "Jadi, namanya?"

Sinar mata Hannah mengeras.

"Valerius—"

Penutup pintu terbuka,

"—Reverie."

dan si topik utama keluar dari sana.

Hannah melirik sekilas, kemudian mendesis, "itu dia, dan jangan menatapnya."

Blaise lantas mencubit Theo yang sepertinya terpaku pada remaja yang berjalan dengan wajah dingin, melalui mereka tanpa peduli apapun. Kemudian, beberapa siswa yang sepertinya berada di tahun yang sama mengikutinya dari belakang.

"Mereka adalah sebagian pengikutnya," tambah Hannah ikut memandang punggung gerombolan itu. "Kau tahu, dia sudah membentuk geng berandalan di asrama."

"Dia... manis..." Theo tersenyum dengan sorot mata terpana.

Si gadis Hufflepuff tersenyum miris, "itulah penyebabnya. Wajahnya benar-benar seperti perempuan. Dia sering digoda dan dipermainkan, tapi kau tahu, dia sepertinya sudah memperhitungkan hal itu akan terjadi. Dia banyak menghajar orang karena hal itu, dan senior cewek melindunginya."

Blaise diam sejenak. "Pantas saja..." gumamnya tidak jelas. Hannah meliriknya.

"Oh, ya, kenapa kalian menanyakannya?"

Lagi-lagi Theo dan Blaise saling lirik.

"Aah, itu... kami dengar ada.. kau tahu...cewek cantik yang bisa digoda. Hehe," bohong Theo seadanya. Hannah menatapnya jijik. Murid Slytherin di depannya lantas meringis. "W—well, kita sudah tahu kebenarannya. Terima kasih dan sampai jumpa..."

"Abbott." Air muka Hannah berubah kesal.

"Yeah, Abbott, tentu saja. Sampai jumpa!" pamit Theo buru-buru. Berjalan cepat-cepat di samping Blaise yang tak lagi bersikap cool sejak mendengar cerita gadis Hufflepuff di belakang mereka.

"Kau dengar itu, Blaise? Dialaki-lakidialaki-laki! Selama ini Draco pacaran dengan laki-laki! !"

"Diam."

Blaise cukup jeli untuk tidak menyimpulkan semuanya begitu saja. Kedua mata dan model rambut Valerius Reverie memang berbeda dengan 'Valerie'. Walaupun ciri-ciri lainnya benar-benar bagai pinang dibelah dua. Namun, aura yang dibawa masing-masing dari mereka adalah masalah lain yang juga berbeda.

Valerius Reverie tidak menakutinya, akan tetapi

Valerie Reverie membuatnya berfirasat buruk.

"Blaise! Aku tidak tahu entah harus menangis atau tertawa! !"

"Mati sana."

xxx

Jack melepaskan tudung jubahnya. Berdiri tegak di hadapan gerbang baja yang perlahan terbuka lebar menyambut kedatangannya. Jejeran orang-orang dengan tailcoat hitam yang seragam membungkuk di dua sisi jalan besar halaman depan.

Pemuda berambut kuning cerah menyibak bukaan jubah merahnya.

Langkahnya pasti dan penuh percaya diri, dengan keanggunan di setiap gerakannya. Bersama senyum palsu yang menunjukkan keramahannya.

Pintu utama dengan ukiran emas melingkar yang indah dibuka.

Orang-orang yang telah bersiap di aula depan lantas membungkuk menunjukkan rasa hormat terhadap sang pemuda.

"Yang Mulia Jack Vessalius Baskerville!"

Pengumuman itu,

menandakan keberadaan wadah Roh Tanah di dalam Manor Baskerville.

.

.

Manor agak putih hari ini.

Hujan salju di malam sebelumnya memberikan paduan putih dan ungu pucat di saat yang bersamaan. Danau lebar yang menamengi pintu gerbang kini membeku menyisakan beberapa orang berpikir untuk bersenang-senang di sana. Dinding benteng yang dibuat lebih dari 5 kaki mengirimkan sensasi dingin yang lebih daripada hari-hari biasanya. Beberapa pelayan membersihkan jalan utama dan jalan kecil di halaman depan. Membiarkan beberapa formasi salju yang menggembung menggantikan taman bunga warna warni di musim-musim sebelumnya.

Teras beratap serta beberapa undakan anak tangga di pintu masuk adalah yang paling pertama dibersihkan. Walaupun beratap, ada saja beberapa genggam salju nakal mencoba membuat lantainya menjadi licin. Berbeda dengan suhu di luar, di dalam ruangan, ketika pintu berukiran emas telah dibuka, aula depan yang berfungsi sebagai ballroom dan penyambutan tamu terasa lebih baik. Karena, aula tersebut memiliki 4 perapian di setiap sisi dan letaknya pun sejajar.

Dua tangga di sisi yang berlawanan melengkung menyatu naik menuju lantai dua, yang lebih banyak dipenuhi koridor dan ruangan dengan pintu oak hitam. Namun, jika mengikuti lurusan tangga pertama, maka panorama taman dalam di bawah tangga yang menurun akan tampak di balik pintu dua daun yang sama seperti di lantai dasar.

Taman dalam (courtyard) juga dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan salju yang memeluk beberapa rumah kaca mini yang digunakan untuk acara minum teh. Jalanan yang licin karena salju, memaksa orang-orang rumah untuk melewati taman itu melalui koridor luar beratap yang mengelilingi taman dalam bentuk persegi yang luas. Bangunan berlantai 3 —yang merupakan ekor dari aula depan— dengan koridor luar ikut memberikan panorama taman dalam lewat jendela dan koridornya. Bangunan yang mengelilingi taman dalam ini seolah berperan sebagai pagar dinding saat orang-orang melihat bingkai gerbang di 3 sisi bangunan. Masing-masing dihubungkan oleh koridor beratap menuju paviliun.

Dua gerbang yang berhadapan menuju paviliun-paviliun pribadi, sementara satu yang tersisa menuju bangunan privat yang digunakan untuk pertemuanresmi. Bangunan privat tersebut ditempeli koridor di sisi kanan dan kirinya menuju dua paviliun pribadi yang masing-masing memiliki koridor beratap yang terhubung dengan masing-masing paviliun pribadi yang pertama. Dengan kata lain: ada empat paviliun pribadi di dalam manor. Dua taman air mancur yang berada di masing-masing bagian kanan dan kiri —South dan North Fountain Courtyard— telah membeku sejak semalam, dan si pagi hari memberikan semacam penghias taman yang praktis.

Setelah itu, ada beberapa bangunan tersebar yang berfungsi sebagai asrama pelayan dan dapur, istal-istal dengan kuda terbaik, tempat latihan, dan bangunan untuk keperluan-yang-tidak-disebutkan. Jalan-jalan utama menuju tempat-tempat tersebut telah dibersihkan dari salju. Walaupun begitu, para pelayan tidak menyentuh halaman belakang yang keseluruhannya dipenuhi pepohonan yang jarang dan tak berdaun. Bukan hanya karena aura suram dan misterius yang menaunginya, namun juga karena hanya orang-orang berkepentingan yang diperbolehkan ke sana. Jika pun di sana ada bangunan lain, mereka tidak tahu.

Pelayan-pelayan manor telah memulai hari dengan seragam yang lebih tebal. Berlalu lalang mengantarkan makanan dan minuman hangat pada penghuni manor. Nampan-nampan aluminium ditopang oleh tangan-tangan dengan glove putih. Badan-badan tegap butler dan kepiwaian maid menyulap manor untuk hidup dalam keheningan. Aula depan telah bersiap dengan meja perjamuannya.

Manor Baskerville agak putih hari ini.

Jack Vessalius menelusuri jalan utama. Berjalan santai dengan senyum ramah yang tidak mencapai kedua matanya. Dan menerima segala bentuk penghormatan yang diberikan padanya.

Jubah merahnya terlihat sangat mencolok di tengah-tengah pemandangan salju.

xxx

"Yang Mulia."

Jack berlutut menundukkan wajahnya. Wadah Roh Api meliriknya dari balik bahu.

"Kupikir kau tidak akan sempat," ujarnya seraya menyibak ujung cape-nya dari kelopak-kelopak bunga musim dingin yang berjatuhan. "Berdiri, Jack."

Jack menyilangkan tangannya di belakang dan tersenyum simpul seperti biasa. Sang Raja mengacuhkannya saat ia berjalan duluan, sementara Jack mengikuti instruksi diam itu dengan berjalan satu langkah di belakang. Empat orang berjubah merah dengan setia mengekor.

"Saya tidak tahu, Yang Mulia, apakah saya harus mengganti pakaian terlebih dahulu?" usul Jack, sedikit memperhatikan penampilannya ketika menyadari bahwa mereka menuju bangunan privat yang menjulang tinggi dengan kubah di atasnya. Gadis berambut panjang di depannya tidak menoleh.

"Penampilanmu sudah pantas," balasnya dengan nada acuh. Jack Vessalius tertawa kecil.

"Saya pikir Yang Mulia tidak memperhatikannya," ungkapnya tersenyum jenaka. Dengan main-main, merentangkan bukaan jubah merahnya, memperlihatkan mantel dan rompi hijau dalam gradasi warna yang berbeda, serta cravat, kemeja, dan celana putih, dan sepatu bot coklat. "Saya tahu jamuan resmi selalu diadakan setiap Yang Mulia kembali ke manor."

"Kau terdengar luar biasa senang, Jack."

"Saya selalu berusaha ceria di sekitar Yang Mulia."

Jack tidak tahu apa yang dipikirkan sang Raja saat itu. Tapi, Yang Mulia tidak menggali informasi lebih dalam darinya. Jack berpikir bahwa Yang Mulia lebih tahu apa yang sedang terjadi.

Senyumnya mendadak lenyap.

Mungkin sebenarnya, Yang Mulia lebih tahu apa yang sedang terjadi.

Suara langkah mengisi keheningan yang tiba-tiba menyeruak di antara mereka berdua. Jika sang Raja menyadari perubahan suasana di belakangnya, ia tidak menunjukkannya. Jack memaksa senyum rapat di bibirnya, kemudian mengembangkannya menjadi senyum palsu yang lebih terlihat ramah, ketika pintu dibuka pada saat yang bersamaan dari dua sisi.

Orang-orang berpakaian resmi di dalam aula lantas berdiri menyambut kedatangan sang Raja dan bawahannya. Namun, pemuda berambut kuning cerah di sana terlalu rumit untuk dikatakan sebagai salah satunya. Dia lebih terlihat sebagai pendamping. Selalu dan selalu terlihat di samping sang Raja.

Sang Raja dan pendampingnya menaiki undakan anak tangga menuju panggung teratas dengan pendulum raksasa tengantung di dinding. Dan dialah sang Raja yang dengan wajah terangkat tinggi menatap ke depan.

Di lehernya melilit cravat putih bersama kemeja putih yang tersembunyi di dalam rompi hitam. Kemudian, mantel velvet hitam kemerahan yang terjulur hingga di atas lututnya. Ujung-ujungnya menggesek celana hitam yang kakinya dimasukkan ke dalam sepatu bot kulit yang mencapai lututnya ketika ia berjalan. Walaupun begitu, yang paling menonjol dari penampilannya ialah bagaimana ia mengenakan cape velvet hitamnya. Cape tersebut agak unik dengan kerah bagian kirinya yang lebih panjang dari lainnya. Sang Raja menyampirkan bagian kirinya di bahu, namun bagian kanan ia apit di perpotongan lengannya—nyaris menggunakannya seperti selendang.

Rambutnya terurai bebas di punggungnya seperti biasa, dengan perhiasan emas bermandikan mutiara di atas puncak kepalanya. Helaian-helaian hitam mengikuti gerakan sang gadis ketika ia membalikkan badannya.

Selanjutnya, sepasang permata merah dingin yang menunjukkan kekuasaannya.

Saat itu, Yang Mulia memandang ke bawah dari atas singgasananya.

xxx

.

.

xxx

Draco tidak tahu apa yang terjadi. Atau sebenarnya dia sudah tahu dan lupa akan semua hal yang ia lakukan selama ini? Ia tidak yakin. Ia bahkan tak tahu bagaimana caranya hingga ia bisa mengenakan seragam dan jubahnya. Udara sangat dingin hari ini, pikirnya.

Aku ingin melihatnya, pikirnya lagi.

Kakinya melangkah gontai seperti orang mabuk. Dengan lemah bersandar pada dinding agar setiap gerakan tak membawanya jatuh tersungkur ke lantai batu yang lebih dingin. Lebih dingin hingga menusuk melewati alas sepatunya. Draco tidak mengerti kenapa dinding-dinding batu Hogwarts lebih dingin dan semakin dingin. Atau kenapa semua jendela ditutup rapat padahal hari masih terang.

Namun, pikirannya terpaku pada satu tujuan. Aku ingin melihatnya, ulangnya lagi. Tak mampu menyuarakan seluruh ide di dalam otak atau segala perasaan yang menggerogoti hatinya. Remaja itu berpasrah kepada kedua kakinya yang membawanya kepada sang tujuan.

Ada angin yang menggedor-gedor jendela hingga engselnya rusak dan terbuka.

Ada serpihan-serpihan berwarna putih menghambur masuk dengan gembira. Sepasang permata abu-abu redup dan lemah tertegun.

Salju, batinnya, musim dingin sudah tiba...

Mungkin ia tahu seberapa lama ia dapat bertahan. Atau ia sadar bahwa kakinya kembali gemetar dan ia tahu tak bisa menahannya lebih lama dari yang bisa ia usahakan. Karena itu, ia memejamkan kedua matanya dan berharap.

Di antara keheningan koridor,

bersama suara angin yang menghembuskan salju,

gadis itu berdiri di sana.

Draco merasa bahagia. Ketika melihat sepasang iris coklat familiar yang balik menatapnya.

Aku melihatnya, batinnya,

warna yang hilang sejak lama...

Walaupun senyum itu tidak mampu untuk diperlihatkan, walaupun rasa sayang yang terus bersemayam tak bisa diungkapkan, walaupun semua kebenaran itu tak lagi penting untuk mereka berdua, tapi, Draco sangat bahagia. Hanya dengan melihatnya saja, semuanya menjadi lebih ringan dan bisa ia tanggung.

Semua rahasia-rahasia sang gadis yang kini berlari ke arahnya, apapun yang ia sembunyikan, Draco sudah tahu. Biarpun sedikit, ia ingin ikut menanggungnya.

Dengan begitu, Hermione,

kita masih bisa bersama, 'kan?

.

.

Di antara keheningan koridor,

bersama suara angin yang menghembuskan salju,

laki-laki itu terbaring memeluk lantai dingin.

Ada seorang gadis yang memanggil-manggil namanya.

Ada kepingan-kepingan salju yang menghiasi wajah tirus.

Sepasang tangan hangat itu begitu familiar.

Aa, benar...

Ini tangannya.

.

.

Dengan begitu, Hermione,

kita masih bisa bersama, 'kan?

.

.

_to be continued_

Author Corner! !

Alhamdulillah! Chapter ini berhasil di-up setelah sekian lama,,,

Harry: Yaah, sayang sekali kita tidak muncul di chap kali ini. Tapi, ini menyenangkan, kita diperbolehkan untuk mengisi corner. Apa katamu, Ron?

Ron: *menyortir surat Yup, kesempatan langka bagi kita. Ini dia!

Harry: *Ngambil surat di tangan Ron Well, dari Mrs. D . Banyak pertanyaan tentang Hermione dan Malfoy. Eh, Parkinson pun ada! ? (tapi, kita gak ada?)

Ron: *merengut Si ferret itu?

Harry: Dan juga tentang seseorang yang bernama Ein? Eh? Siapa Ein? dan juga... 'Jack'?

Ron: Siapa juga dramione?

Harry: Bukannya 'apa', ya?

Ron:...aneh. Dramione... kok, rasanya agak familiar...

Harry:...Draco—

Ron:—Hermione?

HnR:... Dramione?

*saling pandang

satu

dua—

HnR: AUTHOOORRR! ! ! *meraung dan berlari mencari seseorang, uhuk

*Sebuah siluet nyembul dari balik tumpukan jerami

xxxxxx: Yosh! Thank you buat seerblood1800, Ysyvya, Jeane Riddle, (maaf, ya, baru sekarang thankyou-thankyou-annya,, -_-"a) dan Mrs.D atas semua review yang sudah diberikan ,and thanks for reading, minna!

Appareo!

#Cling! *menghilang dengan keren

Author Corner ENDS!