.
Chapter 36 – Alive
.
Kija mempertanyakan keputusan Haku "apa maksudmu, Haku? melanjutkan perjalanan kita dan meninggalkan Sakuya-Hime bersama Ji Min...".
Haku melipat tangan dan menghela napas "ingat pesan yang ditinggalkan pendeta pada kita?".
"sekali saja kalian bertemu dengan pihak istana, minta Ji Min untuk membawa kembali ke kuil milik Ji An dan merawat Sakuya-Hime disana, lalu lanjutkan perjalanan kalian tanpa membawa Sakuya-Hime demi keselamatan Sakuya-Hime sebab perjalanan kalian setelah itu akan menjadi lebih berbahaya".
Haku dan Yona juga sebenarnya keberatan meninggalkan Sakuya bersama Ji Min tapi mereka tak punya pilihan. Mereka mengerti, setelah mereka bertemu Soo Won, Joo Doh, Lily dan para pengawal mereka saat menangani isu Nadai, seharusnya mereka meninggalkan Sakuya setelah kejadian di Sensui namun mereka tak ingin meninggalkannya.
Ini keputusan yang sangat berat bagi Yona dan Haku, tapi kejadian baru-baru ini menyadarkan mereka bahwa apa yang dikatakan Ik-Su benar, mereka tak bisa membawa Sakuya sementara mereka masih melakukan perjalanan yang berbahaya ini. Mereka terpaksa meninggalkannya bersama Ji Min di kuil bersama Ji An.
Tentu saja Sakuya menangis keras saat ia akan ditinggal, Ji Min yang menggendongnya merasa tak tega melihat Sakuya yang terus menangis lalu meminta Haku dan Yona untuk memeluknya barang sekali. Berbeda dengan Yona yang memeluknya sambil mengecup keningnya; Yona berusaha keras untuk tak menangis, ia tersenyum sedih saat menggendong Sakuya, sedangkan Haku memilih untuk tak menggendongnya karena ia merasa akan sulit untuk berpisah jika ia menggendongnya sehingga Haku hanya mengelus kepala Sakuya sambil mengecup keningnya.
Saat mereka pergi meninggalkan Sakuya, Yona menoleh ke belakang dengan wajah yang ingin menangis, Haku bahkan tak menoleh ke belakang namun saat Sakuya menangis semakin keras dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Yona dan Haku, anak itu akhirnya mengucapkan kalimat pertamanya "ayah... ibu...".
Mendengar ucapan Sakuya, Yona dan Haku berhenti. Keduanya kembali dan memeluk Sakuya secara bergantian.
"maaf, ya... maaf, karena kami harus meninggalkanmu, tapi percayalah, kami menyayangimu... karena itu, kami terpaksa meninggalkanmu..." isak Yona menggendong Sakuya, mendekapkan kepala Sakuya ke dadanya dan mencium kening Sakuya.
Haku memeluk Yona dan Sakuya, memegang wajah Sakuya yang berlinang air mata "kami tak meninggalkanmu dengan senang hati, tapi kami ingin kau tetap hidup, kami ingin kau bisa tumbuh besar seperti anak-anak pada umumnya, bermain, tertawa dan tersenyum dengan tulus, karena kami sangat menyukai senyumanmu... jangan menangis... selama masih hidup, selama masih ada di bawah langit yang sama, kau pasti bisa bertemu dengan kami lagi suatu hari nanti, karena itulah tetaplah hidup dan tunggulah kami, kami pasti kembali untuk menjemputmu... sampai saat itu tiba, bersabarlah, jadilah anak yang baik...".
Melihat perpisahan Haku dan Yona dengan Sakuya, Yun dan Kija menangis deras, Jae Ha, Ji Min dan Zeno tersenyum hangat, Shina merasa sedih dan terharu.
Ucapan Haku berhasil mempengaruhi Sakuya. Sakuya akhirnya berhenti menangis meskipun ia masih tersedu sedan saat Yona dan yang lain meninggalkannya. Yona tersenyum, mungkin yang lain bahkan Haku sendiri tak sadar, tapi kata-kata Haku selalu berhasil mempengaruhi Sakuya, seperti kata-kata Haku selalu bisa mempengaruhinya meski alasannya baru ia sadari saat ia bertemu kembali dengan Lily.
Malam itu, Lily tidur bersama Yona di kamarnya. Tentu saja ada keterkejutan tersendiri saat mereka kembali bertemu, tapi keduanya merasa lega melihat kondisi satu sama lain yang baik-baik saja. Setelah pembicaraan mereka merembet pada Soo Won, Lily menyadari sesuatu yang ia anggap aneh. Yang Lily rasakan dari Yona bukanlah kebencian, hanya kesedihan yang besar. Yona memberitahu hal yang dikatakan mendiang Yohime padanya tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan setelah mereka berhasil mengumpulkan ke-4 ksatria naga termasuk perdebatan yang ia alami dengan mendiang Yohime (Chp 16 – Dark Clouds Of The Sky).
Sekarang Yona sudah mengerti apa maksud Yohime saat itu, tapi masih ada satu hal yang tak Yona ketahui karena itu adalah sesuatu yang disembunyikan oleh Yohime darinya dan Yohime berjanji bahwa ia akan memberitahu Yona hanya saat Yona tak lagi ragu untuk menghunuskan pedangnya.
"tak peduli seberapa besar keinginanku untuk bertanya dan bertemu dengannya lagi, aku sudah tak bisa menemuinya lagi... padahal, aku ingin selalu bersamanya..." ujar Yona menyeka air matanya yang mulai berjatuhan saat ia teringat senyuman mendiang Yohime, tersenyum lebar saat ia memanggil namanya "ini membuatku menyesal, kenapa aku tak memaksanya bicara? Kenapa aku tak bisa mendengar keluh kesah meski sekedar untuk meringankan perasaannya? Sekarang aku hanya bisa merindukannya...".
Lily tak tahu bagaimana cerita lengkapnya karena tak satupun dari kelompok mereka terutama Yona dan Haku, tentang apa yang terjadi sampai kedua kakak kembar mereka meninggal, yang ia tahu hanyalah kakak kembar mereka berdua sudah mati. Lily merangkul bahu Yona sambil menepuk-nepuk punggung Yona, di dalam pikirannya terlintas rasa penasaran dan kekaguman terhadap Yohime yang bisa berpikir sejauh itu, ia berharap bisa bertemu dan berbincang dengan Yohime juga.
"apa yang dikatakan kakakmu mungkin benar, tapi...".
"pernah sekali... dulu aku pernah berpikir bahwa aku harus membalas dendam demi mendiang ayahanda, demi mendiang kak Yohime dan Hakuya, demi Sakuya yang mereka tinggalkan pada kami... tapi sebenarnya... meski aku tak akan pernah bisa memaafkan Soo Won... aku tak pernah benar-benar menginginkan kematiannya..." ujar Yona mengepalkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya "sama seperti kak Yohime, tak peduli apapun yang telah terjadi, kami tak bisa menganggap kebaikan yang ditunjukkannya pada kami selama ini palsu sepenuhnya... dulu aku takut kalau kakak membenciku karena aku berpikir begitu, tanpa kusadari kalau ternyata kak Yohime juga merasakan hal yang denganku tapi bedanya denganku, kak Yohime mencintai Hakuya dan ia masih menyayangi Soo Won yang ia anggap sebagai kakak kami, sehingga ia terjepit antara harus membenci dan tak bisa membenci meski ingin karena melihatku dan Haku... sekarang setelah kak Yohime tiada, aku lebih merasa takut dan bingung, apa aku harus membalas dendam jika mengingat kematian kak Yohime dan Hakuya... aku takut kak Yohime takkan memaafkanku jika aku tak membalas dendam hanya karena aku masih tak bisa membuang perasaanku".
Menyadari perasaan Yona pada Soo Won, Lily merangkul bahunya "Yona, mungkin ucapanku hanya penghiburan kosong bahkan terdengar sok tahu mengingat aku tak mengenal kakakmu... tapi menurutku, jika kakakmu bahkan masih menyayangi Soo Won yang ia anggap sebagai kakak kalian dan terjepit antara kondisi ingin membenci tapi tak bisa, tak mungkin dia akan membencimu... kau adik kembarnya, kau yang paling tahu bagaimana kakakmu, kan?".
"justru karena aku tahu bagaimana kakakku, aku tahu kalau dia pasti hanya akan memintaku untuk tak lagi berpikir bahwa aku akan membencinya dan memelukku sambil berkata bahwa ia menyayangiku, karena itu aku sangat menyayanginya... semarah apapun kakak pada orang lain, aku tak pernah melihatnya bisa membenci orang lain... kebaikan hatinya, kelembutannya dan kecantikannya, itu sebabnya Hakuya mencintainya...".
Saat Lily bertanya bagaimana dengan Haku, Yona tentu tahu jawabannya. Bagi Haku, Hakuya adalah satu-satunya keluarga yang sedarah dengannya, kakak kembar yang sedarah dengannya dan ikatan darah yang kental membuatnya begitu mirip. Sama seperti Hakuya yang takkan bisa memaafkan Soo Won, Haku juga takkan bisa memaafkan Soo Won karena Haku mempercayai Soo Won. Bagi Haku yang menganggap pengkhianatan Soo Won telah menyebabkan kematian kakaknya dan Yohime, tentu saja Haku mendapat luka yang mungkin takkan bisa disembuhkan seumur hidupnya, itu yang dipikirkan Yona setelah ia melihat bagaimana Haku mengamuk di Sensui dan bagaimana Haku menangis saat ia terlelap malam itu.
.
Setelah melihat teman-temannya tertidur akibat kelelahan pasca perang bantal yang berlebihan, Haku tersenyum geli mengingat ulah teman-temannya. Ia memutuskan untuk keluar karena ia ingin menghirup udara segar. Langit malam itu begitu indah, bulan sabit terlihat kontras dengan kerlap-kerlip bintang di langit. Saat duduk di atas batu yang ada di taman, Haku teringat pada Sakuya yang terpaksa mereka tinggalkan di kuil. Sesuai ucapannya, selama masih hidup dan selama masih berada di bawah langit yang sama, setidaknya mereka masih bisa bertemu dengan Sakuya tapi ia merasa sedikit bersalah pada Yona karena Yona terlihat sangat sedih setelah ia harus berpisah dengan Sakuya. Meskipun mereka tak lagi membawa Sakuya, Haku tetap harus tidur satu tenda dengan Yona karena PTSD yang Yona derita akibat kematian kakak kembarnya kembali berlanjut, padahal kondisinya sudah jauh membaik selama Yona tidur bersama Sakuya tapi sekarang, Haku menyadari betapa Yona membutuhkan Sakuya. Lamunan Haku terhenti saat ia menyadari Yona menghampirinya.
Malam itu mereka sama-sama tak bisa tidur. Setelah Yona keluar dan menemukan Haku yang masih terbangun duduk di taman sambil menatap bulan sabit, Yona berbincang sebentar dengan Haku sebelum teringat ada yang ingin ia berikan pada Haku, jimat berupa liontin batu Lapis Lazuli. Sama seperti Haku yang tak menyangka akan hadiah yang diberikan Yona, Yona juga tak menyangka kalau perasaannya terhadap Haku sudah berubah, entah sejak kapan, yang jelas kata-kata Haku malam ini menyadarkannya akan perasaannya pada Haku.
"Langit selalu menghubungkan kita, selama masih hidup dan selama berada di bawah langit yang sama, kita pasti bisa bertemu lagi jika takdir menghendaki".
Itu kata-kata yang pernah diucapkan wanita berambut Sakura yang kehidupan dan kematiannya berguguran layaknya bunga Sakura.
Kata-kata itu yang menopang Yona untuk tetap berlari, menggandeng tangan Lily agar ia tetap hidup sehingga ia bisa bertemu lagi dengan Haku, teman-temannya, orang-orang yang berharga baginya termasuk Sakuya. Sakuya, malam ini ia begitu merindukannya dan ia berharap ia bisa selamat kali ini agar kelak, ia bisa kembali bertemu dan memeluk Sakuya dengan kedua tangan ini. Yona tak menyangka kalau ternyata ia begitu membutuhkan keberadaan Sakuya.
Kata-kata itulah yang menopang Haku untuk tetap bertahan, berharap Yona selamat, berusaha untuk menahan amarah dan kebenciannya setelah ia mengetahui kalau Soo Won juga berada di tempat ini, sampai ia memastikan kalau Yona selamat. Malam ini Haku kembali disadarkan, bukan hanya Yona yang membutuhkan Sakuya, ia juga membutuhkan keberadaan Sakuya.
Keesokan harinya, saat Yun, Kija dan Shina berpencar selagi Haku menghancurkan benteng menggunakan bahan peledak, tak disangka ia akan bertemu lagi dengan Mundok, Tae Woo dan Han Dae di benteng Hotsuma ini.
Haku teringat perdebatannya dengan Yona dan yang lain saat mereka akan menitipkan Sakuya pada Ji Min, sempat ada usulan dari Yona dan yang lain, bagaimana jika mereka menitipkan Sakuya bersama Ji Min dan Ji An ke Fuuga untuk memastikan keselamatan mereka tapi Haku menolak usulan tersebut sebab jika mereka menitipkan Sakuya bersama Ji Min dan Ji An ke Fuuga, itu berarti mereka harus menceritakan siapa orang tua Sakuya dan apa yang terjadi pada orang tua kandungnya sampai mereka harus menitipkan Sakuya ke Fuuga.
Apa yang telah terjadi pada orang tua kandung Sakuya bukanlah sesuatu yang bisa diceritakan pada orang lain terutama oleh Yona dan Haku. Mereka tak punya pilihan selain menghindari pilihan tersebut namun sepertinya dewa berkehendak lain, takdir selalu nyata dan dewa selalu bekerja dengan mengatur takdirnya meski bagi manusia takdir itu begitu kejam.
Sekarang apa yang harus ia lakukan? Sebenarnya pertemuannya dengan Mundok secara tidak sengaja ini tidak berarti buruk sepenuhnya, ia bisa saja bertanya pada Mundok mengenai suku penunggang naga mengingat Mundok yang mengadopsinya dan Hakuya namun situasi genting seperti saat ini tampaknya tak memungkinkannya untuk bertanya, tidak seperti Mundok yang punya alasan untuk bertanya mengenai keberadaan Yona, Yohime dan Hakuya.
Setelah memberitahu Mundok bahwa Yona diculik dan dibawa ke benteng di Sei, tampaknya Haku bisa menghindari pertanyaan mengenai Yohime dan Hakuya namun setelah memberitahu bahwa ia kini memiliki beberapa rekan yang bisa dipercaya dalam menjaga Yona.
"aku tak percaya ini... meski sudah ada beberapa orang yang menjaga Hime-sama bersamamu, bagaimana bisa kau membiarkan Hime-sama diculik? Apa kata Hakuya dan Yohime-sama jika mereka tahu kau membiarkan Yona Hime diculik!?" ujar Mundok melemparkan bom ke arah Haku.
Haku menurunkan tombaknya, teringat apa yang terjadi pada Yohime dan Hakuya terakhir kali dan menundukkan kepala, sorot matanya menunjukkan kesedihan dan keputusasaan. Tae Woo dan Han Dae terkejut saat Haku tak berusaha menghindar dari bom tersebut, mereka berdua refleks berlari untuk mengelakkan bom itu ke tempat lain agar bom itu tak mengenai Haku tapi seseorang mendahului mereka. Dengan trisula di kedua tangannya, Ji Min membelah bom itu menjadi dua dan melontarkan pecahan bom tersebut ke tempat lain sebelum bom itu meledak.
Ji Min berbalik, mencengkram baju Haku dan menamparnya bolak-balik "kenapa anda malah bengong dan sengaja tak menghindar? jangan buru-buru mau mati begitu".
"kau sendiri kenapa malah ada disini?!" pekik Haku setelah otaknya yang sempat membeku sesaat berhasil memproses apa yang terjadi barusan.
"situasi darurat?! Nanti saja saya ceritakan kejadian lengkapnya, yang penting sekarang dimana Yona-Hime?".
Tentu saja Mundok mengenali Ji Min sebagai dayang merangkap pengasuh Yohime sejak kecil terlebih Ji Min sebagai dokter pribadi Yohime sering terlihat di sisi Yohime dan Hakuya. Saat Mundok merasa ada yang tak beres, Tae Woo yang mengenali Ji Min sebagai tabib istana di kastil Hiryuu (setelah Kai-En terbunuh, Soo Won mengangkat Ji Min sebagai tabib istana sebab Ji Min dokter yang paling handal di kastil Hiryuu setelah Kai-En) tentu curiga, apa hubungan Ji Min dengan semua ini sehingga Ji Min berada disini.
"dimana Hakuya dan Yohime-sama?" tanya Mundok.
Ji Min terlihat siap membuka mulut namun Haku menahannya. Meski yang ada di hadapannya kini adalah kakek angkatnya dan anak-anak suku angin, keluarganya, ia tetap tak bisa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yohime dan Hakuya. Justru karena mereka keluarganya, Haku semakin tak bisa mengatakan yang sejujurnya sehingga ia memberitahu mereka, tentang apa yang terjadi pada Yohime dan Hakuya, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama teman-temannya.
"Hakuya dan Yohime-sama sudah meninggal" ujar Haku menundukkan kepala, mengepalkan kedua tangannya yang gemetar, suaranya pun terasa bergetar "Hakuya tertangkap saat menahan para pasukan pengejar demi melarikan Yohime-sama dan Yona-Hime bersamaku dan Yohime-sama... Saat kami berada di pegunungan Utara, sebelum aku dan Yona Hime jatuh dari jurang... setelah Kan Tae Jun memberitahu kami bahwa Hakuya sudah meninggal setelah menyerahkan potongan rambut Hakuya ke tangan Yohime-sama, Yohime-sama mengiris urat nadi lehernya sendiri sebelum menjatuhkan diri ke bawah jurang...".
Mundok menjatuhkan bom yang tadinya ingin ia nyalakan untuk ia lemparkan pada Haku, Han Dae dan Tae Woo bahkan menjatuhkan tombak mereka, terlalu shock atas apa yang mereka dengar dari Haku.
"tidak mungkin..." ujar Tae Woo mencengkram jubah Haku dan menggelengkan kepala, dari suaranya yang bergetar akibat shock, jelas ia menahan tangisannya "Haku-sama, kau bohong, kan? katakan kalau itu bohong?! tak mungkin Hakuya-sama...".
"Haku-sama tak berbohong... aku sendiri yang menyaksikan kematian Hakuya-sama... saat aku ingin membantunya kabur dari kastil Hiryuu, usahaku diketahui oleh mendiang atasanku tapi saat aku akan dihukum atas usahaku membantu Hakuya-sama, Hakuya-sama melindungiku dan..." ujar Ji Min menurunkan tangan Tae Woo dan menundukkan kepala "maafkan aku...".
"aku akan sangat senang sekali... jika saja itu semua memang bohong... tapi inilah kenyataan..." ujar Haku memegang pergelangan tangan Tae Woo, tersenyum getir dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan saat menatap Mundok "maafkan aku, kakek. Seharusnya akulah yang menahan para pasukan itu karena kemungkinanku melarikan diri lebih tinggi dari Hakuya... meski aku tak bisa selamat saat itu, tak masalah... sebab jika aku yang menahan para pasukan itu dan bukan Hakuya, mungkin Yohime-sama takkan berakhir seperti itu dan Yona-Hime juga tak perlu kehilangan kakaknya".
Saat Mundok menghampirinya dengan tangan terkepal, Haku bersiap menerima pukulan tapi Mundok memeluknya erat "kau dan Hakuya cucuku... kalian sama berharganya bagiku... jadi jangan katakan tak masalah jika salah satu dari kalian tak ada!? jangan lagi beranggapan siapa yang lebih baik hidup dan siapa yang lebih baik mati di antara kalian berdua!? apapun yang terjadi, tetaplah hidup?!".
"aku sudah gagal melindungi Yohime-sama dan aku bahkan tak bisa melindungi satu-satunya keluarga yang sedarah denganku, kakak kembarku... itu membuatku merasa bahwa seharusnya akulah yang mati... mungkin lebih baik jika aku mati setelah jatuh dari jurang itu... rasa sakit akibat kehilangan orang yang kusayangi dan rasa bersalah yang menggerogotiku bagaikan duri terasa lebih sakit ketimbang luka apapun yang diterima tubuhku... sampai aku lupa bahwa berada di samping orang yang kusayangi, rasanya sehangat ini..." pikir Haku menggenggam erat jubah di punggung Mundok, balas memeluk Mundok setelah menyembunyikan wajahnya ke bahu Mundok "...baik...".
Setelah Mundok melepaskan pelukannya dari Haku, Mundok memeluk Ji Min "aku tahu betapa berat bagimu kehilangan Hakuya dan Yohime, karena aku tahu betapa kau sangat menyayangi Yohime dan Hakuya... seperti kau yang menyayangi mereka berdua, mereka berdua juga pasti menyayangimu, jadi jangan lagi merasa bersalah pada mereka berdua sebab aku tahu Hakuya dan Yohime-sama menyayangimu, seolah kau ibu mereka... tapi jika kau tetap merasa bersalah pada mereka berdua, tetaplah hidup demi mereka berdua".
Apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Haku barusan juga dipikirkan dan dirasakan oleh Ji Min. Mendengar ucapan Mundok barusan, Ji Min merasa rantai yang mengikatnya selama ini hancur. Perasaan bersalah, penyesalan dan kesedihannya melebur dengan kasih sayang yang ia miliki pada Yohime dan Hakuya, membuatnya tak bisa menahan air matanya saat ia memeluk erat Mundok. Andai mereka tak sedang berada di medan pertempuran, pasti mereka bisa lebih leluasa mengutarakan apa yang mereka rasakan satu sama lain.
.
Ketika Joo Doh menghunuskan kedua pedangnya dan berniat membunuh Haku, Yona yang ada di belakang Haku langsung melemparkan batu ke arah Joo Doh karena itu satu-satunya senjata yang bisa ia lemparkan saat itu.
"harus dibunuh karena terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup? karena itu... kalian membunuh keluarga kami? apa salah orang tua dan kakak kami sampai mereka harus mati terbunuh?" ujar Yona dengan sorot mata penuh amarah, meski air matanya berjatuhan, alih-alih berusaha untuk menghentikan air matanya, Yona mengeluarkan amarahnya, kata-kata yang pernah terlintas di pikirannya dan hanya ia simpan selama ini di dalam hatinya dengan maksud bahwa ia tak akan mengatakan hal ini pada siapapun, semuanya keluar tanpa bisa ditahan lagi "kami hanya ingin hidup?! apa yang salah dengan itu... sampai kakak kami harus mati?! jika sejak awal kalian tak melakukan hal itu... kalian sama sekali tak bisa menyalahkan Haku atas reaksinya begitu ia bertemu dengan kalian karena ini semua takkan terjadi jika sejak awal kalian tak mengkhianati kami?! Secara tak langsung, kalianlah yang telah membunuh kakak kami?! kembalikan kakak kami, pembunuh!?".
"Hime-sama, tenanglah... tenang, kau sudah aman" ujar Haku menutupi kedua mata Yona yang berlinang air mata dengan tangan kirinya dan melingkarkan tangan kanannya melewati bahu Yona.
Mengejutkan bagi Haku, meski terlihat jelas kalau Yona kelelahan akibat dehidrasi dan luka di tubuhnya tenaganya, ia bahkan harus menggunakan kedua tangannya untuk menahan Yona yang lepas kontrol namun ia heran, apa yang membuat Yona lepas kontrol kali ini mengingat Yona biasanya bisa bersikap lebih tenang darinya?
"lepaskan!? Kenapa... aku tak mengerti, kenapa ini semua harus terjadi... untuk apa aku diam saja? apa aku harus tetap bersabar jika mereka berusaha membunuh kita... membunuhmu? jika terjadi sesuatu padamu juga... bagaimana aku bisa bertahan?".
Setelah mendengar ucapan Yona di tengah amukan dan tangisannya, Haku memeluk Yona dari belakang dan berbisik "sudahlah... tidak apa-apa... aku baik-baik saja... karena itu, tak perlu takut lagi dan berhentilah menangis...".
"bagaimana mungkin kau bisa berkata begitu? sementara kau mendapat luka yang hampir tak tertahankan... sampai kau menangis dalam mimpimu dan merasa... kalau lebih baik kau yang mati dan bukan kakakmu... aku sudah kehilangan orang tua dan kedua kakak kita, bagaimana mungkin aku sanggup jika aku harus kehilanganmu juga?" pikir Yona berbalik, melingkarkan kedua tangannya melewati bahu Haku, memeluk erat Haku dan menangis keras.
Saat Haku membopong Yona dan berbalik, ia sempat melirik ke belakang dengan sorot mata tajam yang dipenuhi aura intimidasi "satu lagi, kau tak bisa menyalahkan reaksinya kali ini... mulutmu harimaumu, jadi jaga mulutmu dan lain kali... sekali lagi ada kata-kata atau tindakan kalian yang membuatnya menangis, akan kubunuh kalian...".
Setelah Haku membelakangi mereka, Soo Won dan Joo Doh bisa melihat dengan jelas, Yona yang dibopong oleh Haku terus menangis sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Haku meski ia berusaha menyembunyikan wajahnya ke bahu Haku setelahnya.
Joo Doh memalingkan wajahnya dengan ekspresi menahan pahit, seolah merasa bersalah atas apa yang ia perbuat barusan setelah melihat Yona menangis, ia merasa hatinya seperti dihujam duri. Sambil menggenggam erat kedua pedangnya, ia memunggungi Yona dan yang lain lalu menyusul Soo Won "kenapa melihatnya menumpahkan amarahnya dan menangis seperti itu di depan mataku... membuatku seolah melihat kau yang mengatakan itu semua padaku, Ojou-sama?".
Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, setelah meminta Yona berhenti menangis, Haku yang membopong Yona tersenyum saat Shina menunjuk ke suatu arah. Setelah melihat senyuman Haku, saat Yona menyadari siapa yang Haku lihat dan melihat Mundok bersama Tae Woo dan Han Dae menundukkan kepalanya ke arah mereka seolah mengucapkan selamat jalan, Yona dan Haku tersenyum, menundukkan kepala dan melambaikan tangan mereka.
Begitu mereka menemukan tempat yang aman, kali ini mereka mempertanyakan kenapa Ji Min bisa ada di benteng Sei terlepas dari keterkejutan mereka saat melihat Ji Min ada disana. Ji Min meminta maaf pada Yona dan Haku sebelum memberitahu apa yang terjadi pada Sakuya saat mereka pergi meninggalkan Sakuya dengannya di kuil (rumah Ji An). Peristiwa yang terjadi hanya selang sehari setelah mereka pergi meninggalkan Sakuya.
"apa yang terjadi pada Sakuya, Ji Min? kenapa kau malah minta maaf pada kami?" ujar Yona memegangi bahu Ji Min dan mengguncang bahu Ji Min "kenapa kau diam saja, Ji Min?".
Bukan hanya Yona yang merasa panik dan waswas, namun Haku bisa bersikap lebih tenang, ia memegangi kedua tangan Yona yang ia turunkan dari bahu Ji Min, ia merasa lebih mudah bagi Ji Min untuk bicara setelah Yona melepaskan tangannya "katakan saja apa yang terjadi, kami takkan tahu jika kau diam saja, kan?".
Ji Min mengerutkan keningnya sambil menutup mata sebelum ia menatap Yona dan yang lain "Sakuya-Hime menghilang... malam harinya aku bermimpi, Yohime-sama dan Hakuya-sama menemuiku namun Hakuya-sama hanya diam di belakang Yohime-sama selama Yohime-sama berbicara padaku".
