Icha and Michi-san Present:
The Girl with One Hope
.
.
.
Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya, keduanya adalah karya besar dari Masashi dan Ichibumi
Rate: M
Genre: Adventure, Fantasy, Drama, Romance
Warn: Latar Original. Lolicon (maybe)
Naruto (18) x Hinata (12), Lolicon khan?
.
.
.
Kuoh 10
Pedang Naruto yang berhenti di udara jatuh ke tanah bersamaan dengan debu yang bergerak ke segala arah. Bunshin Naruto yang terkena asap dari kotak tamatebako Urashiki kembali bergerak. Asap pembeku waktu menghilang seiring kematian Ootsutsuki Urashiki. Yang tersisa darinya adalah sebuah pecahan tanduk, menandakan tubuh salah satu dari 4 jenderal itu hancur akibat ledakan Cho-Odama Rasenshuriken Naruto. Kawah dengan diameter cukup besar terbentuk. Sang Chasseurs memandang kawah itu dengan tatapan datar.
"Rencanamu berhasil kawan…" kata bunshin Naruto. Sang Chasseurs tersenyum tipis.
"Kau membuat satu bunshin lalu meminta Killer Bee-san mengirimku untuk mengecoh Urashiki, lalu kau akan muncul di belakangnya dengan jutsu mengerikan tersebut…tipuan yang baik."
"Pujian dariku untuk diriku."
Naruto dan bunshin-nya tertawa. Sang bunshin menghilang setelah Naruto membuat segel release. Dia memandang ke arah pusat kota. Dapat terlihat ratusan kotoran jatuh dari langit seperti hujan dan mengotori pusat kota dengan keganasan. Beberapa kelompok pasukan Ootsutsuki bergerak cepat ke sana.
'Mereka tidak tahu sang pemimpin Urashiki sudah tewas…' Naruto memandang ke arah Poveglia Glory House yang mulai dihiasi suara ledakan dan munculnya kobaran api. Sang Chasseurs mengambil pedangnya lalu menyarungkan di balik jubah.
'Sepertinya pertarungan di sana sudah dimulai…' Naruto berlari kencang menuju Poveglia Glory House.
Di utara Pulau Poveglia.
Terumi Mei memimpin 12 Magician ahli sihir teleportasi untuk membuat teleportasi skala besar yang bisa memindahkan orang dalam jumlah banyak. Perlahan-lahan cahaya sihir berwarna merah muncul mengelilingi 13 orang tersebut. Sekarang pertaruhan sebenarnya akan datang, karena mereka kedatangan tamu tak diundang.
"Bersiap-siaplah…" gumam Saji yang telah memasang mantera Turbato Meta. Dia dapat merasakan dua sosok berkekuatan besar melewati dinding pendeteksi lawan tersebut. Kaneki sebagai pemimpin para Ghoul memerintahkan pemakan daging manusia itu berjejer paling depan untuk menyambut tamu mereka. "Kami para Ghoul akan melindungi Magician yang sedang melakukan ritual, Terumi-Kouchou.", begitulah yang dikataka Kaneki kepada Terumi Mei sebelum ritual sihir teleportasi itu dimulai dan mereka-Ghoul-akan berjuang sekuat tenaga.
"Seberapa bahaya mereka, Saji-san?" tanya Deidara.
"Aku tidak tahu. Yang kutahu, berdasarkan mantera Turbato Meta, mereka benar-benar berbahaya…"
"Tidak bagus kau mengatakannya dengan wajah dan tegukan ludah seperti itu." Kata Deidara dengan nada sedikit kesal.
"Ritualnya cukup merepotkan ya…?" kata seorang pria hebat terkenal dengan nada menyindir halus namun penuh ketajaman makna dalam. Semuanya terkejut melihat sosok tersebut. Saji-lah yang pertama kali menanggapi dengan mata bergetar pelan.
"Kau…kau adalah leluhur para Monyet di Gunung Buah dan Bunga, Sun Wukong of King Monkey?!"
Sun Wukong membungkukkan tubuhnya penuh gaya. Penampilannya seperti seorang anak sekolah dasar (tinggi sekitar satu meter), ditutupi bulu emas dan mengenakan jubah biarawan, wajah berkerut dengan warna kulit hitam. Dia sedang merokok memakai pipa dan mengenakan tasbih di dahi. Sopan namun mematikan. "Sungguh terhormat anak muda sepertimu masih mengenaliku."
"Anda sangat terkenal! Anda adalah Raja Monyet pertama dan dikenal sebagai The Great Victorious Fighting Buddha dan Great Sage Equaling Heaven!" kata Saji setengah berteriak. Deidara sendiri menelan ludahnya. Dia tahu Raja Monyet mengerikan tersebut. Kekuatan Sun Wukong dikatakan setara dengan Jenderal Penguasa Dunia. Tidak disangka dia berafiliasi dengan pihak rezim Penguasa Dunia.
"Hanya monyet ini yang dikenal…ma ma. Aku kecewa…"
Satu sosok lainnya kembali mengejutkan Saji dan Deidara. Kokabiel menyeringai tipis sembari berdiri angkuh di samping Sun Wukong. Dia adalah seorang pria dengan rambut hitam, mata merah, telinga runcing dan memiliki senyum mengerikan. Kokabiel memakai jubah kebesarannya sebagai salah satu petinggi Bangsa Magic yang loyal kepada bangsanya. Tambahan, dia juga adalah Magician yang pro dengan Baraqiel.
"Kokabiel…" gumam Saji pelan. Dia melirik ke arah Terumi Mei. Kepala Sekolah tetap fokus membuat mantera teleportasi walaupun dua sosok berkekuatan besar berada di dekat mereka. Para siswa-siswi, anak-anak serta lansia sudah lebih dulu dilindungi para guru dan Magician lainnya serta membuat mantera Kekkai 20 lapis. Di luar Kekkai ada para Ghoul, Saji, Deidara dan Alandelon. Kaneki, sebagai pemimpin para Ghoul memberi kode kepada Rize, Touka, Gourmet dan Jason untuk membagi kelompok menjadi dua.
"Aku tak percaya anda memihak kepada rezim Penguasa Dunia, Sun Wukong-sama. Anda adalah Yokai terkuat dan Pejuang Gunung Meru yang sangat terampil. Anda juga dikabarkan berkontak langsung dengan para Dewa-Dewi…" Alandelon mengelus kumisnya "Mengapa anda berpihak kepada Ootsustuki Toneri?"
"Sebenarnya aku ingin berwisata di Poveglia sambil menemani Bikou. Ah…saat aku sedang bersantai, di pusat kota kulihat banyak sekali kotoran jatuh ke tanah. Aku tersinggung…" Sun Wukong menggelengkan kepala sambil berwajah sedih "Kalian sepertinya mengejek Yokai Monyet sepertiku. Tahukah kalian legenda bahwa seekor monyet suka melempari kotorannya untuk menunjukkan kasih sayang? Jorok memang, tetapi itu adalah bukti kasih sayang para monyet. Apa kalian kira para monyet adalah Jugemu Jugemu Unko…" Sun Wukong terdiam "…Dan sebagainya! Aku sangat TERSINGGUNG!"
"Aku tak percaya alasan bodoh itu membuat Yokai sekelas anda turun tangan." Alandelon berjalan menyejajarkan dirinya dengan Saji dan Deidara "Lebih ke arah politik dunia yang kacau ini?"
"Benar." Sun Wukong tersenyum "Ootsutsuki Toneri menawarkan kerja sama denganku lewat Baraqiel soal dunia ideal yang ditawarkannya. Bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada ras-ras lainnya. Selain menghilangkan Bangsa Ninjutsu yang membuat dunia tidak seimbang, Toneri juga menjanjikan akan membantai ras-ras menjijikkan yang hanya menjadi parasit di dunia ini. Contohnya…"
Mata Kaneki menajam.
"Ras Ghoul pemakan daging manusia, hihihi…"
Kata-kata itu jelas memicu pantik kemarahan menjadi api murka bagi para Ghoul. Wukong kembali berucap "Hanya Ras Yokai yang pantas sejajar bersama manusia dan Ras Dragon. Selebihnya seperti Ghoul, Ogre, Cyclops, Unicorn, Pegasus dan lainnya. Semuanya pantas lenyap!"
"TARIK KATA-KATAMU MONYET SIALAAAAAAN!"
Belasan Ghoul berlari ke arah Sun Wukong dengan wajah murka. Senyuman manis Wukong berganti dengan ekspresi mengerikan nan menakutkan.
"Kalian berlari ke arah neraka…" katanya tenang. Dengan cepat, belasan Ghoul yang menyerangnya terpental ke segala arah. Mengerikannya lagi, tubuh-tubuh Ghoul itu menyemburkan darah segar sehingga memerahkan tanah di sekitar mereka. Teriakan ketakutan dari para wanita dan anak-anak yang melihat adegan sadis itu membuat semuanya menjadi tegang.
"Kau mengerikan saat marah, Sun Wukong-sama. Tidak salah dirimu menjadi Buddha pertama yang berani menentang dewa kemudian berkontak langsung dengan dewa." Kokabiel menyeringai. Dia berjalan lima langkah sambil mengeluatkan lingkaran sihir tanpa tongkat "Jika Kaguya-sama masih hidup, kau mungkin bisa sepadan dengannya…"
"Heh, jangan menyetarakanku dengan beliau, Kokabiel. Kekuatanku masih sejumput kulit pisang dari kekuatan Kaguya-sama."
"Kalau begitu…" puluhan lingkaran sihir berwarna ungu gelap muncul di belakang Kokabiel "…Mari kita tes kekuatan para bajingan di hadapan kita!"
Ratusan bulu hitam besar dengan bagian calamus yang meruncing melesat ke arah para Ghoul, Saji, Dei dan Alandelon. Semuanya berteriak cemas karena melihat hujaman-hujaman bulu mengerikan Kokabiel. Kaneki memerintahkan semuanya untuk memunculkan Kagune mereka. Jason dan Gourmet menjadi tameng utama karena kelincahan mereka menghalau serangan bulu hitam tersebut.
"Jangan sampai kalah!" teriak Rize. Dia mengibas lima bulu hitam yang mengarah kepalanya. Dia melirik ke arah Kaneki "Kaneki-kun, kita harus mencari celah untuk menyerang!"
"Serahkan kepada kami!" kata Dei dan Saji yang menembakkan mantera serangan kepada Kokabiel. Bulu-bulu hitam Kokabiel menahan serangan sihir Saji dan Dei.
Alandelon mengetuk tongkat sihirnya dua kali ke tanah dan dua sapu terbang keluar dari dalam tanah. Dia bersiul kepada Saji, memberi kode untuk naik ke atas sapu terbang.
"Biarkan Dei-chan yang menyerangnya dari jarak jauh, kita akan menyerangnya dari jarak dekat." Alandelon melompat naik ke atas sapu terbang. Saji berlari ke sana sambil dilindungi Touka dengan Kagune-nya.
"Terus maju!" kata Touka.
"Terima kasih, Kirishima-san." Saji berguling ke depan sekali lalu naik ke atas sapu terbang. Dia dan Alandelon melesat maju mendekati Kokabiel dengan tongkat sihir teracung ke depan. Para Ghoul juga mulai merangsek masuk setelah Kagune mereka bisa menangkis serangan Kokabiel.
"KAU KALAH, MAGICIAN SIALAN!"
"SERANGANMU LEMAAAH!" begitulah teriakan-teriakan semangat dan penuh amarah membara dari para Ghoul.
"Hooo…aku sangat kesal mendengarnya." Kata Kokabiel yang memasang wajah masam. Dia menjetikkan jarinya dan bulu-bulu hitam itu tiba-tiba meledak. Tiap Ghoul yang menepis bulu tersebut menggunakan Kagune mereka, bulu itu meledak hebat sehingga para Ghoul terkena dampaknya.
"Argghhh!"
"KE-KENAPA SERANGANNYA MENJADI SERANGAN LEDAKAN?!"
Para Ghoul perlahan-lahan mundur karena mereka menghindari serangan bulu hitam Kokabiel. Mereka tidak menangkisnya, karena ditangkis akan membuat bulu itu meledak. Kaneki mendecih pelan melihat teman-temannya terdesak dan mundur ke belakang.
Di sisi lain, Alandelon mengarahkan tongkat sihirnya ke tanah di sekeliling Sun Wukong dan muncul lima belas sabit yang berputar lalu melesat ke arah Raja Monyet tersebut.
"Aku ahli dalam penggunaan sihir ruang! Aku bisa menyimpan alat atau senjata dalam dimensi sihirku!" kata Alandelon dengan nada penuh kebanggaan. Sun Wukong menepukkan kedua tangannya dan lima belas sabit itu berputar tertahan di udara. Saji menggerakkan tongkat sihirnya dan membuat lima belas sabit itu meledak.
'Kami telah menggabungkan mantera sehingga saat kau menahan pergerakan sabitku, maka Saji akan menggunakan mantera peledaknya pada sabit.' Batin Alandelon. Asap tebal mengepul tinggi di udara. Saji dan Alandelon mengangguk pelan. Mereka salah…serangan seperti itu tidak akan mengalahkan Raja Monyet yang pernah berkontak dengan Dewa.
Bwuuung!
Dari kepulan asap, Sun Wukong keluar bersama dengan awan emasnya yang familiar disebut Kintoun. Dia tertawa pelan lalu melesat di antara Alandelon dan Saji. Dengan pukulan kedua telapak tangannya pada kedua perut Magician tersebut, Wukong membuat mereka berdua terpelanting jauh ke belakang hingga menabrak Kekkai 20 lapis yang melindungi siswa-siswi dan lansia. Semuanya berteriak kaget karena Saji-Alandelon kalah.
"Ini bukan apa-apa jika dibandingkan saat aku melawan Ba Xian (Delapan Dewa)." Kata Wukong misterius. Dia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya di depan wajah, seperti membentuk segel, lalu mengarahkan kedua jarinya ke arah para Ghoul yang terus mundur ke belakang akibat serangan bulu peledak Kokabiel.
"HAAAA!" teriaknya, seketika para Ghoul terlempar ke udara dengan cipratan darah dari luka sabetan yang tiba-tiba muncul di tubuh mereka. Kagune Gourmet dan Jason yang melindungi tubuh mereka putus. Sementara Rize dan Touka terpelanting ke belakang dengan luka sayatan di dada mereka. Napas keduanya tidak teratur dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Salah satu Kagune Kaneki juga terputus akibat serangan tak terlihat Sun Wukong.
Deidara yang dilindungi oleh Kaneki meneguk ludah perlahan melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Semua Ghoul…semua Ghoul…
Semua Ghoul tumbang!
"Ini tidak bisa dibiarkan…kita harus tetap bertahan." Gumam Gourmet dengan nada geram "Kaneki-kun…jika sesuatu terjadi pada kami, jagalah para Magician hingga akhir. "
Kaneki melebarkan matanya saat Gourmet dan Jason berlari ke arah Wukong dan Kokabiel. Serangan bulu peledak Kokabiel berhasil dihindari keduanya dengan lincah. Saat beberapa langkah lagi hampir menjangkau kedua lawan tersebut, Wukong mengarahkan telunjuk dan jari tengahnya ke arah kedua Ghoul tersebut. Gourmet maupun Jason berputar di udara dengan cipratan darah dari tubuhnya. Keduanya tergeletak tak berdaya di tanah.
Kaneki menahan napasnya. Dia sangat marah, hanya saja pikirannya masih berkata bahwa dia harus tetap tenang. 'KAU HARUS TENANG,KANEKI! WALAUPUN KAU MARAH! MARAH! MARAH! MARAH! MARAH! MARAH! TETAPI KAU HARUS TENANG!' Kaneki memandang tajam Wukong yang terjun dari awan Kintoun-nya dan berdiri di samping Kokabiel. Masalah utama memang sang Raja Monyet. Sun Wukong benar-benar Overpower bahkan mendekati kekuatan Dewa.
"Sudah kuduga Ghoul memang lemah. Tidak ada tempat untuk ras seperti kalian. Kalian hanya mengotori dan membuat sumber daya alam dunia ini menurun…"
"Apa maksudmu?!" Kaneki membunyikan jari telunjuknya dengan geram. Krek!
"Aku sudah melihat kebenaran yang disembunyikan para Dewa. Ketika aku melawan para Dewa Buddha, aku diperlihatkan bagaimana dunia ini bekerja. Dunia mempunyai 50 ras mahluk hidup yang berprilaku dan mempengaruhi keseimbangan serta perkembangan dunia. Hanya saja pada prinsipnya mahluk hidup akan selalu mengambil sumber daya alam hingga dunia yang mereka tinggali habis, kemudian hancur. Itu-lah mengapa para Dewa selalu berusaha menjaga keseimbangan tersebut dengan kekuatannya. Li Tieguai, Dewa Buddha Tiongkok yang meringankan beban penderitaan umat manusia menceritakan kepadaku bahwa Dunia ini memiliki sumber daya alam terkaya dari dunia lainnya, tentu saja dengan ras terbanyak juga. Ketika Ootsutsuki Kaguya-sama berkuasa, maka dunia ini masih bisa ia kendalikan. Ketika Kaguya-sama disegel oleh kedua anaknya, maka…" Wukong tersenyum tipis "…Tidak ada DEWA di dunia ini. Mahluk hidup yang terdiri atas 50 ras terus mengambil energi Dunia ini tanpa adanya pengendali. Akhirnya dunia ini akan lenyap dan hancur…"
Kaneki membunyikan jari tengahnya sambil mendengarkan tuturan Sun Wukong. Trek!
"Ootsutsuki Toneri sebagai Penguasa Dunia yang baru hanya bertitel sebagai 'Penguasa Dunia'. Dia belum sampai ke titel seperti nenek moyangnya yakni sebagai 'DEWA'. Memerintahkan untuk membantai Bangsa Ninjutsu adalah klise belaka, sebenarnya ada tujuan pasti dari pembantaian tersebut, hehehe…yang pasti, tujuan itu akan mengarah pada naiknya status Ootsutsuki Toneri sebagai 'DEWA' dengan mendapatkan emblem. Bagaimana caranya mendapatkan emblem? Kalian pasti sudah tahu apa yang Ootsutsuki Toneri inginkan."
"Mengapa, mengapa anda menceritakan hal ini kepada kami, Sun Wukong-sama?" tanya Deidara.
Wukong terkekeh pelan. Dia memeriksa isi dalam tembakau pipa rokoknya karena tidak lagi mengeluarkan asap. Setelah itu dia kembali berbicara "Aku hanya memberikan alasan jelas mengapa aku menginginkan hanya ada 3 ras di dunia ini yang mesti bertahan. Yokai, Manusia dan Dragon. Heh…walaupun Toneri berkisah perlunya 7 Ras agar tidak terjadi kekacauan pada keseimbangan dunia tanpa DEWA ini. Salah satu dari 6 pusaka Kaguya, yakni dua hati High-Beast, Great Red sebagai Dragon sejati dari ras Dragon dan Trihexa dari Ras Hydra menunjukkan eksistensi ras yang perlu dipertahankan. Ras lemah seperti Ghoul, Ogre, Cyclops, Unicorn, Pegasus, Fairy Flower, Dryad, Banshee, Nymph dan yang lainnya harus dilenyapkan demi menjaga sumber daya alam atau energi dunia ini, dunia tanpa adanya DEWA…"
Kokabiel tertawa melihat wajah was-was dari lawan di hadapannya. Sun Wukong benar-benar memberikan tekanan psikis yang hebat.
"Mungkin tujuanku datang ke sini untuk menghabisi kalian, wahai Ghoul…"
"Seperti kau mudah mengalahkanku saja…" kata Kaneki sambil membunyikan jari telunjuknya. Trek!
Shion, Kiba, Hidan, Taruho dan Koneko terus berlari menaiki tangga darurat untuk sampai ke lantai paling atas. Mereka terus bertarung dengan pasukan Ootsutsuki yang menghadang laju mereka. Setelah mendapatkan informasi dari salah seorang pasukan bahwa Miroku-sama disekap di ruangan paling utara lantai paling atas, kelimanya langsung bergerak cepat menuju lantai ke sana. Lift tidak bisa digunakan karena akan sangat berbahaya, mengingat Pasukan Ootsutsuki sudah bersiaga di setiap lantai.
"Tidak ada habisnya!" kata Kiba sambil menembakkan mantera Iaculat ke salah seorang pasukan Ootsutsuki. Shion menerbangkan lima pasukan Ootsutsuki keluar dari gedung menggunakan kemampuan PK-MT nya.
"Kita harus maju, tersisa 5 lantai lagi…" ucap Taruho. Dia menembakkan mantera Explosa sehingga dua pasukan Ootsutsuki yang ingin menyerang terpental akibat ledakan. Koneko menendang dada seorang pasukan Ootsutsuki lalu mengikatnya dengan mantera Ventum.
"HEAAAH, AYO TERUS MAJU SIALAAAAN!" Hidan menembakkan mantera Iaculat dengan cepat sehingga setiap Pasukan Ootsutsuki yang menghadang langsung tergeletak di lantai akibat terkena mantera serangan tersebut. Kiba menjaga belakang rombongan dengan terus menembak setiap Pasukan Ootsutsuki yang ingin menyerang dari belakang.
"Sedikit lagi…" kata Taruho. Mereka berlari berputar di tangga darurat. Sisa 4 lantai, menyerang pasukan Ootsutsuki, naik ke tangga darurat lagi, sisa 3 lantai dan begitu seterusnya. Saat sudah berada di lantai paling atas, kelimanya terengah-engah. Masih belum. Mereka harus menuju bagian paling utara untuk mencapai ruangan penyekapan Miroku-sama. Shion memberi kode agar teman-temannya terus berlari maju. Pasukan Ootsutsuki yang menghadang terus mereka hajar dan tumbangkan.
Shion, Kiba, Koneko, Hidan dan Taruho berhenti di depan pintu ruangan paling utara. Mereka tidak kelelahan, hanya saja di depan pintu tersebut bersandar seorang pria bersurai putih dengan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka serta memiliki pandangan tajam. Dia terlihat sangat kuat.
"Kau…?" Hidan mendecih pelan. Dia melangkah maju dengan berani "Sepertinya kau sedikit berbeda dengan pasukan yang lainnya. Kau terlihat sedikit lebih kuat." Hidan melompat salto ke kanan dua kali dan siap melayangkan tendangan ala Capoiera-nya. Lesatan tendangan kaki kanannya dihindari pria itu dengan mudah, dan dengan sekali pukulan tangan kanan, tubuh Hidan terpental menabrak dinding hingga membuar retakan bentuk tubuhnya. Kekuatan yang luar biasa mengerikan…
"HIDAN?!" teriak semuanya dengan cemas. Hanya Shion yang tetap memasang wajah datar walaupun getaran matanya menandakan bahwa dia sedikit ketakutan. Shion dapat merasakan aura kekuatan hebat dari sosok pria di hadapannya tersebut. Sebagai wanita yang memiliki ESP, atau sensori yang kuat, jelas rasa atau aura dari pria di hadapannya ini tidak salah. Pria ini sangat amat kuat.
"Maaf atas sambutan saya yang buruk, Shion-sama. Saya di sini bertugas membantu Jenderal Ootsutsuki Urashiki menjaga ibu anda. Saya diperintahkan untuk: TIDAK MEMBIARKAN SATU ORANGPUN MEMBUKA PINTU INI, terkecuali Urashiki-sama. Jika anda ingin berkunjung, sebaiknya anda pulang…" pria itu kembali menyandarkan punggungnya ke pintu "Atau anda ingin membuat cetakan tubuh anda di dinding seperti teman anda…" canda pria tersebut santai. Taruho tidak suka Shion-sama diejek seperti itu. Antara berani dan nekat, dia menembakkan mantera Iaculat tanpa henti ke arah pria tersebut. Sang pria menjetikkan jarinya dan muncul lubang vortex yang menelan cahaya sihir Iaculat. Tiba-tiba muncul lubang vortex di samping kanan Taruho dan rentetan tembakan Iaculatnya mengenai Taruho sendiri sehingga pengasuh Shion itu terpelanting ke kiri dan menabrak dinding. Itu adalah mantera Ratio. Taruho tertelungkup di lantai dan kacamatanya patah serta lensa-nya pecah.
"Taruhoo?!" kata Shion. Kini suara sang pemimpin Poveglia berubah, tidak lagi datar. Kecemasan tinggi benar-benar menjalari hati Shion.
"Sebaiknya anda pergi, Shion-sama.." pria itu menepuk-nepuk sisi kanan kepalanya dengan tangan kanan. Benar-benar santai dan tak acuh "Oh ya…atau kuhitung dari satu sampai sepuluh saja…jika anda tidak pergi sampai hitungan kesepuluh," wajah pria itu berubah menjadi seorang psikopat bermata dingin "Maka anda akan mati."
"SATU!"
"Shion-sama, bagaimana ini?!" tanya Kiba. Dia sebenarnya ingin menghajar pria tersebut, namun rencana matang harus mereka buat karena pria di hadapannya adalah sosok yang sangat kuat.
"DUA!"
Koneko menggepalkan tangannya. Dia menggigit bibirnya dengan geram.
"TIGA!"
Shion memandang pria tersebut. Dia menghembuskan napas, ketika itu konsentrasi PK-LT, kemampuan Psikokinesis yang bisa memengaruhi mahluk hidup lain, ia arahkan ke pria tersebut, tiba-tiba pria itu melesat ke arah Shion dan mencekiknya dengan kuat.
"SEPULUH! AHAAA! KAU BERUSAHA MENYERANGKU SEHINGGA HITUNGANMU DIPERSINGKAT. Sayang sekali Shion-sama, anda menggali lubang kubur anda…"
"Kehhhh!" Shion tidak bisa konsentrasi saat lehernya tercekik. Kedua kakinya bergoyang-goyang karena paru-parunya sesak mencari oksigen. Napas Shion tercekat saat cekikan pria itu semakin kuat.
"SHION-SA-!"
Muncul lilitan tanaman merambat berduri yang mengikat tubuh Kiba dan Koneko, lalu keduanya dilempar ke dinding hingga membuar retakan di sana. Mereka terbelit oleh mantera Ventum. Koneko langsung jatuh tergeletak ke lantai dan sepertinya pingsan. Kiba memegang kepalanya yang meneteskan darah sambil bergumam "Di-dia bisa mengeluarkan mantera tanpa tongkat sihir…si-siapa sebenarnya dia…?"
"Tahukah Shion-sama, jika seseorang tercekik rata-rata membutuhkan 6 menit 30 detik hingga pernapasannya berhenti total. Pada detik ke-13 pertama, orang itu kehilangan kesadaran. Dua detik kemudian mulai kejang-kejang. Pada detik ke-21, orang itu mengalami rigiditas dekortikasi dan disusul dengan rigiditas desebrasi—lengan dan tungkainya bergerak secara spontan. Tubuhnya meronta dan menarik sesuatu yang mencekiknya. Dalam 1 menit 38 detik, orang itu kehilangan fungsi ototnya. Gerakan pernapasan perlahan turun dan akan berhenti pada menit ke-6." Pria itu terkekeh melihat wajah Shion yang mulai membiru. Mata Shion tertarik ke atas dan lidahnya sedikit terjulur keluar "Tetapi aku ingin membuat seseorang mati tercekik dalam waktu 1 menit saja…apa bisa ya…?
Mata pria itu melirik ke arah belakang Shion "Ohohoho…"
"Bisa kita mulai ronde kedua kita, Naruto?"
"VALIIIIIIIIIIIIIIII!"
Sebelum pingsan, Kiba mengingat nama orang itu adalah Vali. Dia juga dapat melihat wajah penuh api kebencian dari seorang Naruto.
Vali menembakkan mantera Comprima-mantera pembunuh-tanpa tongkat sihir ke arah Naruto di hadapannya, namun sang Chasseurs menghilang.
'Silent Technique?!'
Vali menoleh ke belakang dan Naruto tiba-tiba melesat di antara dua kakinya lalu mencengkram tangan kanan Vali yang mencekik leher Shion dan memelintirnya hingga patah. Naruto menendang dada Vali dengan tendangan lurus Taekwondo sehingga mantan Chasseurs itu terseret ke belakang. Punggungnya menghantam pintu ruangan. Naruto memeluk Shion, berputar lalu berdiri tegak sambil tetap memeluk erat sang pemimpin Poveglia.
"Shion, kau tidak apa-apa?"
Shion mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia tidak bisa bicara karena masih shock akibat cekikan kuat Vali. Naruto memandang sedih memar biru di leher Shion akibat tangan kejam Vali. Bahkan tanda 'kecupan' yang Naruto berikan di leher jenjang Shion tertutupi memar biru tersebut. Naruto mengeluarkan tongkat sihirnya lalu menyembuhkan luka memar itu dengan manter Melia sementara Vali melakukan hal yang sama pada tangan kanannya yang patah.
Trek! Vali membunyikan tangan kanannya setelah kembali normal. Vali menyeringai. Dia kembali bertemu dengan teman lamanya sejak pertarungan gila-gilaan di Fuyuki. Kala itu dirinya kalah. Darah Vali mendesir. Darah setengah Dragon-nya terasa panas karena melihat wajah tenang Naruto yang dibaluti kemurkaan.
"Kau semakin brengsek, rambut putih sialan!"
"Rambutku silver, teman lama…"
Naruto menutup matanya "Kalau begitu, akan kubuat rambutmu menjadi putih…tidak," ketika sang Chasseurs membuka matanya, iris itu telah berubah.
Shion memandang ke arah Naruto dengan penuh harap. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi dia terus berdoa agar Naruto memenangkan pertarungan ini. Dia benar-benar bersyukur Naruto bisa mengalahkan Urashiki. Dia terus berdoa agar Naruto adalah cahaya bagi kotanya, seperti yang muncul di Kewaskitaannya.
"Heh…mata biru itu terlihat berbeda. Kau telah menjadi seekor ular hm?"
Naruto menggunakan Sage Mode Ularnya. Perlahan-lahan kulit Naruto memutih dan sedikit tampak bersisik. Bagian sudut mata luarnya muncul goresan warna ungu. Iris matanya berwarna kuning dengan pupil vertikal seperti ular.
"Ya…dan rambutmu tidak akan menjadi silver lagi. Akan kubuat rambutmu berwarna merah karena darahmu sendiri, pengkhianat brengsek!"
TBC
Walaupun pendek, ini menjadi salah satu chap favoritku. Penjelasan Sun Wukong terkait dengan keinginan Toneri saat di chap lalu, pasca kericuhan di Washington DC. Apa yang teman-teman lihat dari ending cerita ini? Sudah nampakkah tujuan tersembunyinya? Hahaha…
Wukong memang sangat kuat. Para Ghoul bukan tandingannya. Sebagai Raja Monyet dari Gunung Buah dan Bunga, jelas kekuatan Wukong di atas para Magician dan Ghoul. Di scene lainnya, Naruto Vs Toneri Ronde kedua akan dimulai. Apakah akan ada yang terbunuh di pertarungan mereka pasca duel di Kota Fuyuki? Saksikan chapter depan, jreng jreng jreng…
Chapter depan adalah kesimpulan dari pertarungan di Poveglia, dan mungkin kita akan langsung menuju konflik utama di Kuoh yang membuka segala rahasia cerita fic ini. Oh ya, Hinata sekarang berada di Desa Bibury karena dia terpisah dengan Naruto saat teleportasi dimensi yang dikirim oleh Killer Bee. Jadi mungkin kita akan melihatnya di chapter depan.
Aku sudah menetapkan ada 50 ras di dunia termasuk manusia, jadi selain ras manusia yang terdiri atas 3 bangsa (Magic, Teknologi dan Ninjutsu), tampaknya rencana Toneri akan berdampak pada ras-ras lainnya.
Terima kasih atas setiap reviews dan semangatnya, terus pantau fic ini sampai selesai ya bagi yang tetap mengikutinya. Kami akan selalu bersemangat menyelesaikannya.
Next Chapter: Kuoh 11
"Kau sangat cepat dan lincah, kau menjadi sangat kuat, Naruto!"/"Ibiki-sensei?!"/"…Satu-satunya cara adalah membuat semua lawan di Poveglia terpengaruh kekuatan PK-LT mu!"/"Bagaimana caranya?!"/"Kami semua akan berpihak kepadamu dan Hinata melawan rezim Penguasa Dunia, Naruto…"
