Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM and Nitroplus

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. Maaf kalau ada karakter yang out of character.


Mitsutada dan Ookurikara terdiam. Mereka sudah tak merasakan energi spiritual Tsurumaru dan Uguisumaru. Namun tak ada waktu untuk berduka karena wakizashi Masakuni menghadang mereka. Wakizashi itu menatap mereka semua dengan tatapan meledek.

"Ayo bertarung." kata Masakuni.

"Jangan sembarangan meremehkanku lho. Aku jauh, jauh, lebih kuat berkali-kali dari Souza and Yagen bergabung." kata Masakuni memperingatkan.

Yasusada menatap kesal akan wakizashi itu.

'Pengganggu.' Batin Yasusada.

"Captain." panggil Mitsutada.

Otomatis seluruh toudan melihat ke arah Mitsutada.

"Yang begini serahkan padaku dan Kurikara." katanya.

"Tidak." Aizen menatap mereka semua.

"Posisi Kapten akan kuserahkan pada Kurikara. Sebagai gantinya, aku dan Hotaru yang akan melawannya." kata Aizen.

Hotarumaru memilih diam namun dia mengangguk.

"Ketahanan kalian kan lebih tinggi. Dalam pertahanan maupun serangan." tambah Hotarumaru.

Ookurikara hanya diam.

"Baiklah. Kami serahkan pada kalian." jawab Yasusada.

"...Mitsutada, ayo." kata Ookurikara.

Yasusada mengajak seluruh timnya untuk maju. Ookurikara dan Mitsutada menyusul mereka setelah mengangguk kepada dua anggota Rai clan.

Aizen mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. Hotarumaru tertawa kecil.

"Kamu sepertinya tak sabar." komentar Hotarumaru yang mengeluarkan pedang oodachinya.

"Tentu saja! Festival akan dimulai!" teriak Aizen.

Masakuni mendecak kesal.

"Ayo maju, bocah!" teriaknya sambil menyerang duluan.

Hotarumaru menggunakan oodachinya, mengambil kuda-kuda namun Masakuni hampir mendapatkan Hotarumaru bila bukan karena Aizen yang melompat dari belakang Hotarumaru, melemparkan tantounya dan melukai lengan wakizashi itu. Tantou itu berhasil kembali ke tangan Aizen yang mendarat di belakang Masakuni.

"Hmph!" Masakuni menatap kedua toudan itu.

'Eh?'

Aizen melirik kakinya. Kakinya tersayat cukup dalam dan darah mengalir keluar.

'Aku...kapan dia menyayat kakiku?!' Aizen mengerang kesakitan.

Masakuni tertawa.

"Hanya ini, kekuatan Rai klan? Lemah sekali." ejeknya.

Hotarumaru mengayunkan oodachinya, gerakan yang mudah terbaca Masakuni dan pedang yang lebih gesit.

Masakuni menghindar dengan mudah namun tidak bagi Aizen yang masih terluka. Insting Aizen membuat tantou itu berguling menghindar. Beda sedikit saja, Aizen mungkin akan terpotong dengan mudah. Hotarumaru menggigit bibir bawahnya. Dia hampir saja melukai Aizen...

"Kau..." mata hijau Hotarumaru menyimpan amarah.

Wakizashi itu tertawa seolah dia hanya mengerjai mereka.

"Salah kalian sendiri tidak mengira-ngira dalam menyerang. Terlebih oodachi. Kalian menyerang tanpa sadar kalau kekuatan kalian bisa dipakai untuk menyerang teman sendiri?"

Hotarumaru makin kesal. Dia ingin rasanya menghancurkan pedang wakizashi itu.

'Sial...kalau saja Kuniyuki masih disini...' batin Hotarumaru.

Aizen merobek bajunya dan memakainya sebagai pengganti perban. Masakuni hanya mendecih pelan.

"Kau masih ingin maju, rupanya." kata Masakuni yang tahu kalau kedua pedang Rai itu tak akan menyerah sebelum menghabisinya atau, mencoba sampai mati.

Aizen menyerang. Gerakannya yang gesit sulit dihindari Masakuni namun wakizashi itu dengan mudah menangkis dan menyerang balik tantou itu.

"Tantou hanyalah penyerang yang mengandalkan kecepatan tinggi dan serangan mendadak. Dalam ruangan besar begini, seranganmu benar-benar lemah."

Aizen hanya diam. Pedang tantou yang dilempar Aizen menancap ke arah pilar dekat Masakuni. Namun pedang itu mampu membuat kerak di pilar itu. Hotarumaru menggunakan seluruh kekuatannya, dia melempar oodachinya ke arah Masakuni. Masakuni mendecih sebelum menghindari oodachi itu.

"Payah!" ejek Masakuni.

"Yang payah tuh, engkau." kata Hotarumaru.

Di belakang, oodachi dan tantou itu membuat retakan pilar yang menjalar ke seluruh pilar.

Pilar itu roboh dan jatuh ke arah Masakuni. Aizen cepat-cepat menarik oodachi Hotaru sebelum seluruh pilar itu roboh. Keduanya terjungkal ke belakang dan pilar itu langsung menimpa wakizashi Masakuni tanpa ampun, hampir mengenai Hotarumaru dan Aizen sebelum membuat lubang yang cukup besar ke lantai di bawah mereka.

"Kita menang?" tanya Aizen.

"Belum." jawab Hotarumaru.

"Tantoumu?!" tanya Hotarumaru.

"Akh! Tertimbun di bawah reruntuhan!" Aizen menatap reruntuhan itu dengan wajah bingung.

"Kenapa tadi yang kamu ambil malah oodachiku dulu?" tanya Hotarumaru dengan kesal.

"Karena oodachi itu lebih panjang jadi gampang di ambil!" balas Aizen yang memberikan oodachi itu kepada pemiliknya.

"...itu logika masuk akal sih..." Hotarumaru tak bisa membalas.

Reruntuhan pilar itu terbang akibat energi kegelapan. Kedua pedang Rai itu menatap Masakuni yang lukanya pulih. Mata kuning keemasan Masakuni bersinar berbahaya.

"Tadinya kupikir mesti main-main saja. Tak menyangka, aku harus serius." ucapnya.

Masakuni bergerak dengan cepat. Dia menyerang Aizen yang tidak bersenjata. Aizen tak sempat menghindar. Aizen berteriak kencang.

Masakuni berhasil mengalahkan Aizen sampai pingsan. Serangan itu lebih cepat dari gerakan yang biasa di lihat Hotarumaru.

'Bahkan Sayo tidak bergerak secepat itu...' batin Hotarumaru.

Tak perlu diingatkan, Sayo adalah tantou tercepat.

Aizen berteriak kesakitan. Serangan Masakuni berhasil melukai Aizen meskipun tidak cukup dalam. Tapi tetap saja, kulit yang robek itu kan sakit. Hotarumaru mulai panik. Dia tidak bisa melihat gerakan musuh. Jenis pedangnya tidak menguntungkan di saat begini. Luka Aizen terus menitikkan darah.

Mereka berdua hanya bisa diam, mata mereka mencoba mengikuti gerakan musuh. Insting Hotarumaru berteriak dan dia merasakan keinginan membunuh yang kuat.

"...Kunitoshi! AWAS!" peringatan Hotarumaru terlalu lambat.

Punggung Aizen sudah tertusuk wakizashi. Hotarumaru mulai ketakutan. Dia mungkin memang oodachi. Namun oodachi jauh lebih lambat dari wakizashi, belum lagi wakizashi musuh memiliki kecepatan tinggi. Wakizashi itu menarik pedangnya dari tubuh Kunitoshi yang ambruk. Wakizashi itu berlari ke arah Hotarumaru, bersiap menyerang oodachi gesit itu.

Hotarumaru bisa merasakan nafasnya yang mulai tidak teratur karena panik dan marah. Dia ingin merusak wakizashi itu dan memotong tubuh wakizashi itu sampai menjadi serpihan kecil layaknya kunang-kunang. Namun Hotarumaru juga bisa merasakan kalau tangannya gemetar.

"Hotarumaru, jangan panik."

Suara itu terdengar familiar dan menenangkan layaknya seorang ayah.

Tubuh Masakuni terlempar ke dinding. Seseorang muncul dari arah berlawanan.

"...Kuni...yuki?" bisik Hotarumaru.

"Ya? Hotarumaru memanggil?"

Akashi Kuniyuki tersenyum. Dia memegang sebilah tachi dan sebilah tantou. Mata hijau Hotarumaru membesar. Tantou Aizen yang seharusnya terkubur di bawah reruntuhan entah kenapa bisa ada di tangan Akashi.

"Tantou Kunitoshi! Kenapa bisa?!" Hotarumaru tak bisa menahan diri untuk menanyakannya.

"Saat aku menyusul ke sini, ada pedang jatuh dari lantai atas. Jadi aku pungut saja karena familiar." jawab Akashi santai.

Dia mendekati Aizen yang terluka parah dan tak bergerak.

"Maaf ya, aku telat." Akashi mengecup dahi Aizen seraya menyelipkan tantou itu dalam dekapan Aizen.

"...Kuniyuki..." bisik tantou berambut merah itu dengan lemah.

Akashi melepas sarung pedangnya. Mata emas Akashi terlihat beda dari biasanya, seolah termotivasi—berbeda dari biasanya yang malas.

"Bukannya kamu sudah mati?!" tanya Hotarumaru.

"Sebenarnya, saniwa menyuruhku untuk pura-pura mati sebagai bantuan di saat darurat. Selama ini aku hanya sembunyi dan malas-malasan di sebuah tempat rahasia." jawab Akashi.

"..." Hotarumaru tak ingin bertanya lebih lanjut.

"Omong-omong, Hotarumaru, itu siapa?" tanya Akashi sambil menunjuk ke arah musuh.

"Itu muusuuuuh!" Hotarumaru tak bisa percaya akan 'wali'-nya.

"Bukan, maksudku, pedang yang mana?" tanya Akashi.

"Bukannya tadi kamu menendangnya?" Hotarumaru menghela nafas.

"Itu Doudanuki Masakuni. Wakizashi." jawab Hotarumaru.

"Yare, yare, masa wakizashi saja tak bisa kalian berdua lawan?" komentar Akashi.

Masakuni bangun dan langsung menyerang Akashi yang dengan mudah menangkis serangan Masakuni. Masakuni terus menyerang membabi buta sementara Akashi terus menangkis tiap serangan dengan kecepatan yang mengimbangi Masakuni. Hotarumaru menatap Akashi baik-baik.

Tiap serangan Masakuni membuat Akashi kelelahan dengan cepat. Entah karena Akashi memang pemalas...atau...? Hotarumaru menggunakan kesempatan ini untuk membuat serangan dua arah. Akashi kembali menangkis serangan Masakuni dan Hotaru melompat, menyerang musuh. Masakuni mendecih karena terluka akibat serangan Hotarumaru.

Masakuni menegakkan tubuhnya. Otot-ototnya menegang dan aura kegelapan menyelimuti dirinya. Luka Masakuni menutup dengan cepat. Dia tersenyum kegirangan layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah natal.

"GYAHAHAHAHAHAHAHA...! HAHAHahahahahah...!" Masakuni puas tertawa namun nafasnya masih agak terengah-engah.

"Baiklah kalau begitu. Menghadapi kalian berdua benar-benar seru. Pangeran memang benar. Aku memang seharusnya berjaga disini ketimbang di dekat dirinya." Masakuni memasang kuda-kuda.

Akashi mengeraskan rahangnya. Dia tahu kuda-kuda itu.

"Doudanuki Masakuni toku."

Kekuatan kegelapan menyelimuti wakizashi musuh dan Masakuni bergerak lebih cepat. Akashi hanya bisa mengandalkan instingnya untuk menahan serangan Masakuni. Keadaan berubah tidak imbang. Akashi mulai lelah menahan seluruh serangan Masakuni yang lebih cepat.

Belum lagi, Masakuni menyerang Akashi dengan serangan yang persis milik Ichigo Hitofuri.

'...Jangan katakan...Masakuni toku adalah...ilusi hewan?'

Ilusi hewan, ilusi yang diibaratkan harimau kertas yang menyerupai asli. Biasanya trik seperti ini dimiliki tiga hewan khusus Jepang yaitu musang, rubah dan rakun (itachi, kitsune dan tanuki). Tentu saja ini artinya, Masakuni memiliki kekuatan lebih dari pedang berinsignia rubah*.

Akashi tak sempat menangkis serangan Masakuni yang sudah toku. Layaknya menabur garam di atas luka, Akashi kesal karena Masakuni menggunakan kuda-kuda serangan Ichigo Hitofuri dari klan Awataguchi.

Akashi ingat bagaimana Ichigo bersikeras dan kukuh, berniat menjadikan Aizen sebagai adiknya.

"Kalau anda tidak menyayanginya, bagaimana kalau dia untukku saja?" tanya Ichigo.

"Anak manis seperti itu akan lebih bahagia kalau dia bukan anggota klanmu." Ichigo menyerang harga diri Akashi sebagai seorang "kakak"—lebih tepatnya, "insting pelindung" dari Rai klan—dan seenaknya saja mendekati Aizen menggunakan Atsushi dan Yagen.

Ya, benar.

Yagen, Midare, Akita, Gokotai dan bocah Awataguchi lainnya memang menyukai Aizen. Mereka menginginkan anak itu sebagai adik atau kakak baru. Bedanya, Atsushi dan Hotarumaru memandang Aizen sebagai seseorang yang bisa menerima perasaan mereka. Karena itu, keduanya saling tidak menyukai.

Akashi sendiri ingin rasanya berteriak balik kepada Ichigo, menyuruhnya untuk diam dan tak usah ikut campur dalam urusan klan Rai. Namun Akashi memang dasarnya tidak bermotivasi melakukan macam-macam. Dia memilih diam.

"Akashi Kuniyuki toku."

Akashi melepas kekuatan toku. Kekuatan dan kecepatannya jauh diatas Masakuni namun Masakuni cukup cerdik untuk terus menghindar. Kekuatan toku Masakuni juga keterlaluan curang. Meniru kekuatan pedang lain itu termasuk sulit. Namun Masakuni memilih milik Ichigo dan toku dari Ichigo Hitofuri adalah...

"Hotarumaru toku."

Kekuatan Hotarumaru yang cukup besar berhasil menghancurkan ruangan tempat mereka bertarung hingga tersisa reruntuhan. Dua kekuatan toku yang saling bertemu bisa meluluh-lantakkan sebuah pulau kecil atau kira-kira sebuah kota sebesar Hong Kong namun kekuatan Rai yang beresonansi harusnya bisa menghancurkan tiga kota sekaligus. Aizen melirik ke arah kedua 'keluarga'nya.

"..."

Dia ingat bagaimana saniwa menyelamatkan nyawanya saat ritual.

Namun Aizen tahu kalau meskipun Hotarumaru dan Kuniyuki berhasil toku, mereka tak berdaya melawan Masakuni kecuali bila toku Masakuni tersingkap. Aizen tahu kalau Akashi sengaja menyelipkan tantounya dalam dekapannya karena, itu cara Akashi meminta maaf karena selama ini tidak pernah menunjukkan perasaannya dan memilih Hotarumaru sebagai favorit.

Tantou itu diselipkan agar tidak terlihat musuh dan, supaya, meskipun tubuh Aizen rusak, pedang itu tidak rusak. Aizen menghela nafas. Dia ingin tertawa karena Akashi tak pernah melindunginya. Hanya Hotarumaru.

Aizen tak pernah akrab dengan teman sekelasnya sampai Imanotsurugi, Sayo, si kembar Maeda dan Hirano hadir dalam hidupnya. Kebaikan dan cinta yang tak pernah dia dapat diberikan oleh orang yang bukan 'keluarga'nya.

Tapi jauh di lubuk hati, klan Rai saling menyayangi satu sama lain.

'Maaf, Aizen Myou'ou-sama...' batin Aizen.

"Aizen Kunitoshi...toku."

Ledakan energi bisa terdengar dari belakang Akashi dan Hotaru. Ilusi yang di miliki Masakuni lepas bersamaan dengan kekuatan toku mereka semua.

'Kunitoshi toku...?'

Hotarumaru cepat-cepat menyambar oodachinya dan menebas wakizashi Masakuni yang kaget karena efek tokunya hilang. Tak mau kalah, Akashi menebas leher Masakuni dan lengan wakizashi itu. Mayat Masakuni terjatuh dan menghilang sebagai asap hitam. Tak lama, kedua pedang Rai itu terduduk lemas.

"...Kuniyuki!" wajah Hotarumaru memucat.

"...kurasa ini hukuman karena memaksa memakai toku." kata Kuniyuki yang tersenyum lemah.

Kuniyuki menggendong Hotarumaru dan berjalan tertatih-tatih mendekati Aizen yang makin lemah. Akashi menurunkan Hotarumaru dekat Aizen sebelum Akashi juga duduk begitu saja di samping mereka berdua.

"Kunitoshi...!" Hotarumaru memeluk Aizen.

"Hotaru..." Aizen tersenyum lemah.

"Si bodoh ini...Kuniyuki sudah sengaja mewanti-wanti untuk tidak toku..." bisik Hotarumaru.

Aizen memaksa memberi senyum cerianya kepada Hotarumaru. Mata emasnya menutup.

"Festivalnya...selesai...sepi ya...?" bisik tantou buatan Niji Kunitoshi.

Tantou dalam dekapannya mulai retak.

Akashi hanya diam.

'Lagi-lagi...aku gagal sebagai orang yang seharusnya mengurus mereka...'

"Maaf ya...Kunitoshi..." bisik Kuniyuki.

Tantou Aizen pecah dan menghilang.

Kuniyuki mengelus kepala Hotarumaru. Tachi itu retak dan Akashi tertawa kecil.

"Terima kasih terus menjaga Kunitoshi saat aku tidak ada, Hotarumaru." kata Kuniyuki.

"Maaf ya, Hotarumaru...aku...tidak bisa pulang...denganmu..." Kuniyuki menutup matanya dan berbaring seolah dia malas-malasan.

"Bodoh." bisik Hotarumaru.

Tachi itu pecah dan menghilang, sama seperti tantou Aizen.

Simbol pedang di tubuh Aizen dan Akashi menghilang bagai asap.

Hotarumaru terdiam. Dia menatap langit langit yang sudah gelap dan...apakah itu bintang? Bukan?

'...begitu banyak kunang-kunang...bersinar...indah sekali...' batin Hotarumaru sebelum oodachi itu retak dan menghilang bersama simbol pedangnya.


Ookurikara dan Mitsutada menahan nafas sejenak.

Mereka sempat merasakan toku Rai klan yang kuat dan...energi ketiganya menghilang layaknya kembang api yang langsung redup. Seluruh pedang di tim satu juga berhenti. Yasusada menggigit bibir bawahnya. Apakah undangan dari si pangeran ini hanya jebakan?

Namun Yasusada ingat kalau saniwa meminta mereka untuk tetap pulang hidup-hidup. Yasusada tak menjanjikan hal itu namun dia hanya berkata,

"Aku akan berusaha, membawa pulang rekan yang masih hidup."

Dalam artian, Yasusada tak akan pulang membawa mayat. Apa mau dikata, Uguisumaru, Tsurumaru, Hotarumaru, Aizen dan Akashi menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk melepas energi toku. Kanesada mengeraskan rahangnya akibat geram.

"SESEORANG! JELASKAN PADAKU KENAPA MEREKA BISA KALAH!" teriak pedang yang usia tempaannya paling muda itu.

"..."

Seluruh toudan terdiam.

Yasusada, Ichigo dan Monoyoshi karena tidak tahu. Kogitsunemaru, Namazuo, Mitsutada dan Ookurikara karena tak ingin memberi tahu. Namazuo menghela nafas.

"Lebih baik kita beritahu?" tanya Namazuo.

Kogi menggeleng.

"Jangan."

"..." Namazuo terlihat murung.

"Mereka kalah, karena mereka lemah." suara itu menarik perhatian mereka semua.

Naginata Nakigitsune duduk di pegangan tangga seolah sudah menanti mereka sejak lama. Rubahnya—rubah milik Naki—entah kenapa membesar dan berekor sembilan layaknya rubah dalam legenda Tamamo-no-Mae*. Nakigitsune tidak memakai topeng penutup mulutnya. Wajahnya polos tanpa siluet merah di bawah matanya.

"Yo." Nakigitsune berdiri.

"Nakigitsune! Seharusnya tadi kau tetap sembunyi agar kelihatan dramatis!" seru rubah berekor sembilan itu.

Nakigitsune menghela nafas.

"Ya, ya." jawabnya pendek.

"Aku sudah tak sabar menghancurkan mereka." jawab Nakigitsune pendek.

Dingin.

Nakigitsune yang ini sangat dingin dan mata emasnya menatap mereka seolah mereka tak layak mendapatkan waktu darinya. Jauh berbeda dari Nakigitsune uchigatana yang mereka kenal sebelum-sebelumnya. Uchigatana yang tak banyak bicara namun lembut dan baik hati meskipun rubah miliknya sungguh berisik. Naginata Nakigitsune bersinar memantulkan cahaya bulan.

Atap bangunan itu memang sudah rusak akibat toku Uguisumaru dan Tsurumaru jadi tentu saja sinar bulanlah yang menerangi pertarungan mereka. Nakigitsune berdiri dan mengayunkan naginatanya. Yasusada dan seluruh timnya langsung merasakan tekanan kekuatan Nakigitsune meskipun dari jauh. Nakigitsune tersenyum dingin. Yasusada berkedip dan...

Nakigitsune sudah berada di belakang mereka, membanting Monoyoshi dan Namazuo yang otomatis melepas wakizashi dari tangan mereka.

"Hm. Lemah." komentar Nakigitsune.

Nakigitsune melirik rubahnya. Rubah itu langsung menerjang, duduk di pintu menuju ke atas.

"Kalian, tak boleh ke atas." Nakigitsune memposisikan tangannya, melepaskan angin serangan api.

"!"

"Awas! Itu api rubah!" Kogitsunemaru menarik Ichigo yang hampir tersembur api.

"Apa efeknya selain membakarmu?" tanya Yasusada.

"Api rubah itu, panasnya bisa lebih dari api biasa dan bisa mengendalikan tubuhmu!" kata Kogitsunemaru.

"Tak ada yang akan keluar hidup-hidup." kata Nakigitsune.

"Naki, bagaimana kalau kau lepaskan mereka?" tanya Kogi.

"Tidak. Kalian semua...akan mati disini." jawab Naki.

"Naki. Lawan yang kamu mau itu aku kan?" tanya Kogi.

"...Tidak. Aku, diperintahkan untuk...menghalangi kalian semua." kata Naki.

"Rekan tim-ku sekalian...aku akan membuka jalan bagi kalian. Jadi, tak ada yang mencampuri pertarunganku." kata Kogi.

Yasusada mengangguk. Mitsutada dan Ookurikara menyarungkan pedang mereka.

Kogi bergerak. Dia menyerang naginata Naki yang hanya mengayunkan sedikit naginatanya dengan anggun, dengan mudah menangkis serangan Kogitsunemaru. Pedang Sanjo itu mengerahkan tenaga, berusaha membuat Naki bergerak dari tempat dia berdiri.

"Tsk!" Naki bergerak menghindari serangan Kogitsunemaru.

Nakigitsune kembali melepaskan serangan api. Kogi tersenyum licik. Dia menggunakan salah satu reruntuhan tembok untuk melindungi dirinya dari api dan serangan api rubah itu mengarah ke arah rubah milik Naki. Rubah itu langsung menghindar namun pintu keluar itu langsung terbuka, dilalap api. Nakigitsune menyadari trik Kogi. Yasusada menyuruh timnya untuk segera bergerak.

"!"

Pintu keluar mereka langsung tertutup oleh api yang membentuk pintu.

Wajah Naki masih tanpa ekspresi. Namun mata emasnya terlihat menyimpan amarah. Naginata diayunkan dan Kogi, yang tidak menyangka kalau gerakan Naki akan semakin cepat, menahan serangan naginata Naki yang cukup kuat, menghancurkan reruntuhan yang sempat melindungi tachi Sanjo itu. Naki mengerahkan tenaganya, berhasil melempar tachi rubah itu ke arah rekan timnya.

Tanpa banyak bicara, Nakigitsune kembali melepas energi spiritual, mengintimidasi mereka.

"Nakigitsune! Jangan boros!" rubah miliknya mewanti-wanti.

Telinga Kogi mendengar itu. Dia mulai berpikir cepat.

"Naki. Apa jangan-jangan, kamu masih lemah karena sudah lama tidak dipakai? Payah sekali. Hanya barang pajangan sih!" ejek Kogi.

Naki tidak berkomentar namun mata emas itu siap melemparkan ratusan makian kalau saja Naki lebih cerewet. Kogi tersenyum. Dia tahu apa saja yang bisa membuat Naki kesal. Kogi mulai melemparkan lagi kata-kata provokasi.

"Oh iya. Pedang aneh sepertimu pasti tidak mengerti seperti apa bertarung itu. Kurasa pedang pajangan memang hanya pajangan. Tidak cocok bertarung." Nakigitsune kembali melempar serangan api bertubi-tubi.

Kogi menghindar, berguling ke arah tempat yang lebih aman. Dia mulai bisa membaca gerakan Naki. Setiap kali Naki melepas energi spiritual, gerakannya akan menjadi lebih lambat. Kogi kembali berlari menyerang naginata yang tengah cool down akibat melepas serangan api rubah bertubi-tubi. Kogitsunemaru berhasil memotong lengan Naki yang tengah memegang naginatanya. Naki berteriak kesakitan. Kogitsunemaru menendang jatuh Nakigitsune dan menodongkan tachinya ke arah leher Nakigitsune.

"Lepaskan pintu apinya." perintah Kogitsunemaru.

Naki tidak berhenti berteriak kesakitan.

"...Lakukan!" perintah Kogi.

"Nakigitsune!" rubahnya mulai panik melihat keadaan berbalik.

Naki melirik ke arah rubahnya. Rubah itu mengangguk.

"Nakigitsune toku." kata rubah itu.

Nakigitsune menyerap asap hitam pekat, membuat Kogitsunemaru melepas ancamannya karena banyaknya asap hitam yang mengerubungin tubuh Naki. Rubah Naki menghilang. Lengan naginata itu beregenerasi dan dia berjalan ke arah lengannya yang lepas, mengambil naginatanya. Kogi yang kembali menyerangnya di tahan dengan perisai spiritual. Naki menatap Kogi dengan mata emasnya.

"Aku membencimu." bisik Naki.

Hanya kalimat simpel namun emosi Kogitsunemaru terlihat bercampur aduk. Sosok Naki berubah, sembilan ekor rubah terlihat jelas.

"Kalian yang hanya menonton, kuberi tahu satu hal." kata Naki.

"Salah satu dari kalian, adalah pengkhianat. Orang yang menusuk dari belakang." kata Naki yang matanya terlihat puas memecah kepercayaan mereka terhadap rekan setim.

"Kogi-dono, ayo kita selesaikan dengan cepat." Nakigitsune tersenyum kejam.

"...Kogitsunemaru toku."

Kogi melepaskan energi putih keemasan. Sosok Kogi berubah. Dia juga memiliki sembilan ekor namun sosok Kogi terlihat lebih gagah. Dia langsung menyerang Nakigitsune, menebas leher naginata itu. Ekor Nakigitsune langsung menghilang satu. Naginata itu mulai menyerang balik.

Dentingan pedang bisa terdengar.

Darah kembali tumpah begitu salah satu dari mereka melukai daerah vital.

Namun kedua rubah itu terus bertarung bagaikan menari.

Mata keduanya berkilau berbahaya, menyemburkan keinginan membunuh yang menusuk nafas.

Kimono kuning keemasan Kogi ternoda darah.

Seragam khas Awataguchi Naki robek dan kemeja putih Naki terbuka akibat serangan spiritual mereka yang intens.

Keduanya saling membunuh dan melukai, berusaha mengurangi jumlah ekor satu sama lain.

Ekor keduanya hanya tersisa tiga.


*) Peribahasa jepang mengatakan kalau "Rubah memiliki tujuh samaran, rakun memiliki delapan dan musang memiliki sembilan samaran".

*) Legenda Tamamo-no-Mae : legenda tentang siluman rubeh berekor sembilan yang menyamar menjadi wanita cantik dan merayu raja sebelum akhirnya disegel atau dibunuh (tergantung versi mana yang kalian baca).

AN : Mengenai hal ini, yang tahu Samurai X harusnya tahu kalau trio Megumi, Kaoru Misao itu berdasar tiga hewan. Megumi rubah, Kaoru rakun (tanuki) dan Misao musang (itachi). Kalau ada komentar, kritik dan saran, tolong jangan segan di tinggal di review. Terima kasih ^^