Disclaimer: All related things to Persona belong to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. All things that have similiarities with character or name from other game, movie, anime, etc belong to their respective; And also my friends belong to themselves.


Chapter 34 Backfire

Rabu, 16 September 2009
Dark Hour
Tartarus BS Basement ke-64

Kami berlima berjalan menuju tangga. Hadi dan Nana berada di depan. Aku dan Shadow di tengah. Sementara Helda berada dibelakangku. Suasana tegang meliputi kami semua, membuatku ingin berteriak dan meledakkan suasana tidak menyenangkan ini. Dan aku pun mulai berbicara kepada sang pemburuk suasana.

"Shadow, what are you thinking? Why did you say such thing to her?" tanyaku kesal kepada Shadow. "Nothing in particular." jawabnya singkat. Tidak puas dengan jawabannya, aku kembali bertanya. "Don't give me that crap! Tell me what's you plotting right now!" kataku meningkatkan nada suaraku. Shadow hanya diam, menghiraukanku.

Aku pun menjadi makin kesal dan mulai berteriak. "You really-!" tiba-tiba Shadow menutup mulutku dan berkata. "Can't you just shut up? We already arrived at the stairs." aku pun membatalkan ucapan yang hampir aku keluarkan.

Tidak mau membuang waktu, kami segera menuruni tangga. Sebuah cahaya menyinari kami sebelum kami tiba di basement berikutnya. Saat aku membuka mataku, aku hanya melihat Hadi dan Shadow bersamaku. "Huh, Helda sama Nana mana?" tanyaku panik.

"Teman-teman! Kalian terpisah ya? Hati-hati, di basement ini terdapat grup shadows yang lebih banyak dari biasanya!" jelas Feby memperingatkan kami. "Bagus deh, bisa buat peningkatan latihan." kata Hadi justru merasa senang.

"Hei, kita 'kan harus cari Helda sama Nana! Kalo mereka terkepung gimana?" tanyaku kuatir. "Ah, kalo soal itu sih aku nggak kuatir... Nana cukup kuat untuk menghadapi mereka sendirian. Plus, kita bisa tau kemampuan temanmu itu." jelas Hadi tidak peduli.

"Terserah deh..." kataku kesal. "There two big shadows over there. Who goes first?" tanya Shadow. "Oh, tipe Gigas ya? Aku duluan deh. Aku pengen adu otot sama mereka." kata Hadi maju duluan. "Go ahead, ku mau nonton aja dari sini." kataku malas.

Hadi segera memanggil Rai-Oh sambil berlari mendekati kedua shadows bertubuh kekar itu. Kedua makhluk itu menyadari kehadirannya dan bersiap untuk melawannya. "Rai-Oh, Vicious Strike!" perintah Hadi sambil memukul shadows di depannya.

Sang Persona User bersama Personanya menghajar kedua lawan mereka dengan pukulan yang sangat kuat. Kedua shadows itu pun terpental akibat serangan mereka, tetapi mereka masih bisa bertahan dan balik menyerang.

Makhluk yang tadi Hadi serang segera berlari menghampirinya. Saat makhluk itu mengayunkan tinjunya, Hadi segera menunduk dan memukul perutnya dengan tinju kanannya. Membuat shadows itu rubuh karena kesakitan dan akhirnya hancur.

"Rai-Oh, Ziodyne!" perintah Hadi menghabisi shadows yang tersisa. Persona miliknya segera menyerang makhluk itu dengan petir raksasa. Sayangnya makhluk itu berhasil menghindar meskipun nyaris terkena serangan tersebut. Tetapi Hadi telah membaca gerakannya dan berdiri tepat di hadapannya sebelum memukul dagu shadows itu hingga terpental ke udara.

"Finish it, Rai-Oh!". Rai-Oh segera meluncur dan menabrakkan dirinya dengan shadows tersebut hingga makhluk itu hancur. "Gimana Gir, keren nggak?" tanya Hadi selesai bertarung. "Ah, nggak seru! Terlalu cepet!" komentarku. "Ya mau gimana lagi, mereka terlalu lemah sih!" kata Hadi.

"Awas! Aku merasakan tiga shadows mendekati kalian!" jelas Feby memperingatkan kami. "Oh... a surprise party huh? This gonna be fun!" kataku bersemangat. Kami segera melihat tiga shadows berbeda tipe yang mendekati kami. Yang paling depan tipe Hand, di sebelah kirinya adalah tipe Knight, dan yang terakhir bertipe Raven.

"Just sit down and relax. Now, witness my new power!" kataku kepada Hadi dan Shadow. "Heeaahh!" teriakku mulai berlari sambil menggenggam Dual Sword.


Sementara itu Helda dan Nana berada di sisi lain basement yang sama. Mereka berdua baru saja memperoleh informasi dari Feby tentang keadaan area tersebut. "Bagus deh. Kenapa aku bisa kejebak di sini sama kamu sih?" kata Nana dengan sarkasme. "Mana aku tau? Jangan protes ke aku dong!" komentar Helda membela dirinya.

"Harus dong! Ini semua 'kan gara-gara kamu!" tuduh Nana kepada Helda. "Aahh! Kenapa sih kamu nggak suka sama aku?" tanya Helda mulai merasa kesal. "Bukannya udah jelas ya? Kamu 'kan mata-mata Strega!" jelas Nana sambil mengarahkan Rapier miliknya ke Helda.

"Oke, kalo gitu apa yang harus aku lakuin buat buktiin kalo aku udah nggak sama mereka lagi?" tanya Helda menepis senjata Nana dengan busurnya. "Hoo... jadi kamu mau nerima tantangan nih sekarang. Boleh juga... kalo gitu gimana kalo kamu lawan grup shadows yang di sana sendirian?" tantang Nana setelah melihat tiga shadows tipe Snake yang berada di ujung lorong.

"Baik, kalo emang itu maumu!" jawab Helda menerima tantangan Nana. Helda segera berjalan mendekati grup shadows tersebut. Tiba-tiba dia berhenti sebelum ketiga shadows itu menyadari kehadirannya. Helda menutup kedua matanya seakan-akan sedang berkonsentrasi. "Heh, ngapain diem di situ? Cepet lawan mereka!" perintah Nana tidak sabar.

"Sabar dikit dong!" kata Helda agak kesal. "Lumina, Stealth on!" kata Helda memanggil Personanya. "Stealth apanya? Kamu masih keliatan tuh!" komentar Nana. "Itu karena kamu udah liat aku dari tadi. Tapi mereka pasti nggak akan bisa merasakan keberadaanku." jelas Helda menyiapkan busurnya dan mengarahkannya ke salah satu shadows.

*whoosh* Helda melepaskan anak panahnya yang melesat dan mengenai musuhnya dengan telak. Makhluk itu belum mati, tetapi serangan barusan cukup membuatnya kesakitan. Ular itu hanya bisa berputar-putar mencari sang pemanah yang masih bersembunyi di balik dinding.

"Bagus, sekarang yang satunya." kata Helda kembali mengarahkan busurnya ke shadows lainnya. *whoosh* Sekali lagi serangannya berhasil dan membuat bingung lawannya. "Oke, tinggal satu lagi!" kata Helda mulai bersemangat.

"Huh?" raut wajahnya berubah saat dia tidak melihat satu shadows yang belum diserang olehnya. "Ke mana makhluk itu pergi? Jangan-jangan dia kabur... ah, biarlah." kata Helda tidak mau ambil pusing. "Lumina, Magarula!" perintah Helda sambil keluar dari persembunyiannya. Kedua shadows yang kebingungan masih belum menyadari kehadirannya. Mereka hanya bisa berteriak kesakitan sebelum hancur akibat serangan angin dari Lumina.

"Lumayan buat permulaan." komentar Nana. "Tapi aku masih-!" ekspresi Nana berubah drastis ketika dia melihat Helda mengarahkan senjatanya kepada Nana. "Udah aku duga, ternyata kamu emang nggak bisa dipercaya!" teriak Nana kembali kesal. "Bisa diem nggak sih? Kalo nggak, kamu bisa kena panahku." jelas Helda dengan raut wajah serius. "Ugh...".


"Got ya!" kataku setelah tombakku menembus tubuh shadows tipe Raven dan menghabisinya. "Ternyata enak juga bisa ganti-ganti senjata." kataku mulai terbiasa. "Udah selesai main-mainnya?" tanya Hadi. "Yup, sekarang kita cari yang lain yuk! Udah nggak ada shadows lagi 'kan di sekitar sini?" ajakku sambil melihat sekelilingku.

"Ya udah... tapi mendingan kita ketemu di tangga aja. Palingan Feby udah kasih tau mereka tempat tangganya." usul Hadi. "Okelah, toh ujung-ujungnya ketemu lagi." kataku setuju.

"Teman-teman! Gawat! Terjadi sesuatu sama Nana!" suara Feby tiba-tiba muncul. "What's wrong?" tanya Shadow bersiaga. "Aku nggak tau. Entah kenapa aku nggak bisa liat keadaan di sana. Kayak ada penghalangnya." jawab Feby panik. "Ini pasti ulah temenmu si penghianat itu!" tuduh Hadi. "Hey, jangan asal tuduh dong!" protesku.

"Tapi Gir, aku nggak bisa merasakan keberadaan Helda sekarang. Makanya aku kuatir. Jangan-jangan mereka berdua terpisah." jelas Feby. "Nggak terasa ya?" kataku sambil berpikir. 'Mungkin Helda lagi pake skill Stealth dia, tapi... ku ke sana aja deh!'. "Feb, tolong tunjukin tempat terakhir mereka berada!" kataku memutuskan.

"Tempatnya cukup jauh dari kalian. Lagipula banyak—Ah!" tiba-tiba Feby terkejut sebelum dia selesai berbicara. "Now what?" komentarku. "Aura ini... ini gawat! Cepat pergi dari sana!" teriak Feby makin panik. "Anggir! Do you feel it?" tanya Shadow kepadaku dengan wajah tegang. "Feel what?-!" tanyaku sebelum menyadarinya. "Not again!" kataku merasakan tubuhku mulai bergetar. "Ada apaan sih Gir?" tanya Hadi kebingungan.

"I sense Death Arcana, The Reaper!" kata Feby, Shadow dan aku bersamaan. "APA?" teriak Hadi shock. "Cih, apa boleh buat. Plan B! Shadow, find Nana and Helda! Hadi and I will clear the path to the stairs. Feby, cepet tunjukin jalan menuju tangga! Abis itu arahin Shadow buat nemuin Nana dan Helda!" perintahku segera membuat keputusan. "Baik!" jawab Feby mengerti. Sementara Shadow segera berlari mencari kedua temanku.


"Seharusnya aku bunuh aja kamu dari tadi." kata Nana menyesal karena lengah. "Aku bilang diam!" tegas Helda melepaskan anak panah dari busurnya. Nana hanya bisa menutup mata dan memalingkan wajahnya dari Helda. "Tsshhaahh!" tiba-tiba Nana mendengar jeritan yang mirip dengan suara shadows yang tadi Helda lawan dari arah belakangnya.

Nana pun membuka matanya perlahan dan menoleh ke belakang. Dia melihat sosok seekor shadows tipe Snake yang terjatuh karena tertusuk panah Helda. "Lumina, Garudyne!". Persona tersebut segera menyerang makhluk tidak berdaya itu hingga musnah.

"Fyuh, hampir aja..." kata Helda lega. "Jadi... kamu tadi arahin panah kamu ke shadows itu? Bukan ke aku?" tanya Nana salah paham. "*sigh* Udah aku bilang 'kan... aku tuh niat berubah tau!" jelas Helda meyakinkannya.

"Hmph…. baiklah, aku percaya deh…. lagian kamu udah nolong aku barusan." kata Nana mulai mengakui Helda. Wajah Helda pun berubah menjadi riang. "Yang bener nih?" tanya Helda memastikan. "Iya…. tapi cuma buat sementara aja lho!" jelas Nana agak ragu dengan perkataannya sendiri.

"Wah, thanks banget ya Na!" teriak Helda tiba-tiba memeluk Nana. "He-hei! Apa-apaan sih? Udah ah! Sesak nih!" protes Nana berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Helda. Sadar akan perbuatannya, Helda segera melepaskan pelukannya sambil tersenyum.

"Huh, kamu ini…. 'kan aku bilang untuk sementara. Udahlah, kita cari yang lain yuk! Sekalian abisin shadows yang kita lewatin. Lagian aku masih penasaran sama kemampuan kamu." kata Nana mulai berjalan ke lorong yang ada di sebelah kirinya.

"Hei, kamu mau ke mana?" tanya Helda menghentikan Nana. "Ya cari yang lain lah. Emangnya mau ngapain kita lama-lama di sini?" jelas Nana. "Iya, tapi bukan ke situ jalannya. Yang bener tuh ke sini." jelas Helda menunjuk ke arah sebaliknya. "Ah, masa sih? Tau dari mana kamu? Coba aku tanya Feby dulu…. Feb, kamu bisa denger aku nggak?" kata Nana berusaha memanggil Feby.

"Feb, Feby! Kamu denger nggak sih?" panggil Nana berkali-kali. "Oh iya! Aku lupa matiin Stealth mode-ku, jadinya Feby nggak bisa denger deh. Bentar ya..." kata Helda kembali memanggil Personanya. "Pantesan…. jadi repot deh…." kata Nana menunggunya. "Oke, udah beres! Hm…?" kata Helda tiba-tiba terdiam.

"Eh? A-apa ini? Aku baru kali ini ngerasain ada shadows yang lebih kuat dari Powerful shadows yang biasanya muncul. Ini nggak mungkin!" kata Helda terkejut merasakan sesuatu. "Apa kamu bilang? Jangan-jangan….". *criingg,criingg* Belum selesai Nana berbicara, muncul sosok monster yang paling ditakuti di dalam Tartarus di hadapan mereka berdua.

"Hah? Jadi dia pemilik aura yang sangat berbahaya ini?" tanya Helda memastikan. "Udah jelas 'kan? Kabur!" teriak Nana segera berlari. Helda pun segera mengikutinya. "Nana, tunggu! Aku yang tau jalan menuju tangga. Harusnya kita belok ke kanan!" teriak Helda berusaha menghentikannya. Tetapi Nana tetap berlari lurus, entah karena panik atau dia memang tidak mendengar peringatan Helda.

"Sial, jalan buntu!" umpat Nana mengetahui dirinya terjebak. "Nana! Kamu gimana sih? Kenapa malah lari ke sini?" tanya Helda setelah menyusulnya. "Ya aku 'kan nggak tau jalan keluarnya di mana!" jawab Nana panik. "Makanya dengerin omongan orang lain!" kata Helda menasehatinya.

Selagi mereka berdua berdebat, shadows yang berusaha mereka hindari telah berdiri di depan mereka sambil mengarahkan senjatanya ke udara. "*dor,dor,dor* Torrent Shot!" kata the Reaper mulai menyerang. "Ugh…. Nana, cepat menghindar ke depan dia. Cuma di situ daerah yang nggak kena serangannya!" jelas Helda mulai bergerak.

Tanpa pikir panjang, Nana segera mengikuti perintah Helda. Mereka berdua berhasil menghindari hujan tembakan yang diberikan shadows tersebut. "Mau nggak mau kita harus lawan dia. Yukina, Bufula!". Yukina segera muncul dan menyerang the Reaper. Karena jarak mereka cukup dekat, serangan es tersebut berhasil mengenai shadows terkuat itu dengan telak.

Makhluk itu sedikit terluka dengan serangan barusan, tetapi hal itu tidak menghentikannya untuk membalas serangan. "Lumina, Garudyne!" Helda segera melancarkan serangan sebelum the Reaper mulai menyerang mereka lagi. Pusaran angin raksasa segera muncul dari bawah dan mementalkannya ke belakang. "Sekarang!" kata Helda melihat kesempatan untuk kabur. Mereka berdua kembali berlari mencari jalan keluar.

"*criingg,criingg* Vorpal Chain!" rantai yang melingkari tubuh the Reaper bergerak dan mengejar kedua Persona User yang berusaha melarikan diri darinya. Rantai tersebut segera menjalar dan menangkap kaki mereka dari belakang. "Huuahh!" teriak Nana dan Helda terjatuh.

"Ugh…. gimana nih?" kata Helda melihat the Reaper kembali mendekati mereka. "Yukina, Mabufula!" Nana mengarahkan serangannya ke rantai yang mengikat kaki mereka. Rantai tersebut segera membeku hingga ke tubuh the Reaper. Gerakan shadows tersebut pun melambat.

Nana segera memutuskan rantai dengan Rapier, dan membantu Helda berdiri. "Da, kamu punya skill kayak Feby 'kan? Kamu bisa manggil yang lain ke sini nggak? Kalo begini terus kita nggak akan bisa kabur dari makhluk ini." tanya Nana sambil melihat the Reaper yang bergerak makin dekat.

"Maaf Na, aku nggak bisa manggil yang lain kayak Feby. Aku cuma bisa merasakan keberadaan sama serangan mereka aja." jelas Helda meminta maaf. "Duuh…. kirain kamu bisa…." kata Nana kecewa. "Yah, satu-satunya jalan kita lari dari kejaran dia sampe kita nemuin tangganya." jelas Helda sambil memanah the Reaper, tetapi ditepis dengan rantai shadows tersebut.

Merasa kesal dengan ulah lawannya, the Reaper mengarahkan pistolnya ke udara. "Grr…. Maziodyne!" sambaran petir-petir besar mengguncang tempat mereka berdiri dan menyambar kedua Persona User yang tidak sempat menghindar. "Huuaahh!" teriak mereka berdua tersambar petir.

"Hosh, hosh…." Nana hampir kehabisan nafas untuk bergerak. Serangan petir barusan membuatnya terluka cukup parah. Tetapi tidak separah luka yang dialami Helda hingga membuatnya pingsan. "Helda! Bangun Da!" teriak Nana berusaha menyadarkan Helda. "Die!" kata the Reaper mengarahkan senjatanya di depan mata Nana.

Nana yang ketakutan hanya bisa pasrah menutup matanya sebelum merasakan tembakan yang dapat mengakhiri hidupnya. *dor* Suara tembakan telah terdengar. "Eh?" tidak merasa sakit, Nana segera membuka matanya dan melihat sosok landak hitam yang berhadapan dengan the Reaper.

"You guys okay?" tanya Shadow sedikit menoleh ke belakang. "Ye-yeah…. I'm fine, but Helda…." kata Nana melihat Helda yang masih pingsan. "Stay back. I'll try to stop it." perintah Shadow. Nana berusaha bangkit dan membopong Helda menjauhi Shadow dan the Reaper.

Tidak ingin membiarkan mereka lolos, the Reaper kembali mengarahkan rantainya untuk menangkap mereka. "I won't let you do that!" kata Shadow menangkap rantai tersebut. Dia segera menarik rantai itu dan melempar the Reaper ke sisi dinding *dhuuakk*. Makhluk itu pun berteriak kesakitan dan semakin marah.

"I'm not finish yet." kata Shadow mengeluarkan senjatanya dan dua Arcana Card, Devil dan Tower. Lalu dia memasukkan kedua kartu tersebut ke dalam pistolnya. "Duo Arcana Trigger, Spark Shot! *dor,dor*". The Reaper berusaha menghindari tembakannya, tetapi tembakan kedua berhasil mengenainya. Sebuah petir segera menyambarnya dan membakar lantai tempatnya berdiri.

"Now, run!" teriak Shadow menggendong Nana dan Helda sambil berlari menjauhi musuhnya. "Huah! Hati-hati dong, Dow!" kata Nana terkejut saat Shadow menggendongnya. "Sorry, but we must escape before it starting to chase us!" jelas Shadow terus berlari.

"Grooaarr!" kekesalan the Reaper semakin menjadi-jadi begitu mengetahui mangsanya melarikan diri. Dia berusaha melewati kobaran api yang membakar tubuhnya. Meski terluka, luka bakar yang dideritanya tidak dapat menahan dirinya. Sang teror pun kembali mengejar targetnya.

"Oh no! It chasing us again!" teriak Nana melihat the Reaper dari balik pundak Shadow. "Tsk, I didn't expect that thing to after us this fast! I hope Anggir and Hadi already cleared the path for us." kata Shadow meningkatkan kecepatan berlarinya.


Tidak terlalu jauh dari posisi Shadow berlari, dua pemuda sedang menghadapi dua grup shadows bertipe Raven dan Tiara. "Cih, mereka banyak banget sih?" protesku sambil menebas salah satu shadows Raven yang menyerangku dengan Excalibur. Burung itu terpental akibat seranganku, menabrak dinding Tartarus hingga tubuhnya hancur.

"Kok protes? Katanya mau banyak-banyakan bantai shadows?" komentar Hadi yang juga sedang menghindari serangan Bufula dari salah satu shadows Tiara. Sesaat setelah dia menghindar dengan memutar badannya, Hadi segera memukul shadows yang berada di sisi kirinya. Membuat makhluk itu terpental ke arah kawannya yang baru saja menyerang Hadi.

Kedua shadows tersebut pun terjatuh dan salah satu dari mereka hancur, tidak mampu bertahan dari pukulan Hadi. "Oke, satu ilang. Tinggal dua lagi!" kata Hadi memperhatikan keberadaan musuhnya yang tersisa. Satu berada di kirinya, masih terjatuh dan yang satunya lagi berada di belakangnya, mencari celah untuk menyerangnya.

"Rai-Oh, Mazionga!" perintah Hadi memanggil Personanya. Rai-Oh mengeluarkan dua petir yang menyambar kedua lawannya. Tetapi shadows yang berada di belakangnya berhasil menghindar dengan melompat dan bersiap menerjang Hadi yang sedang lengah karena sedang memanggil Personanya.

"Hadi, behind you!" teriakku memperingatkannya. Hadi segera berguling ke depan sesaat setelah dia menoleh dan melihat shadows yang hampir menusuk dirinya. Aku segera berlari menghampiri shadows tersebut. Makhluk tersebut tidak menyadari keberadaanku hingga tubuhnya tertebas pedangku. Hadi, kamu nggak apa-apa?" tanyaku kuatir. "Cih, ternyata aku kena…. untung cuma luka kecil." kata Hadi melihat betis kanannya berdarah.

"Masih bisa berdiri 'kan? Di depan musuhnya masih banyak lho." tanyaku memastikan. Hadi berusaha mengangkat tubuhnya sendiri. "Ugh... iya, nggak terlalu sakit kok." jawabnya sambil menghentakkan kakinya yang terluka. "Bagus deh..." kataku lega mendengar jawabannya.

Mendadak aku melihat raut wajah Hadi berubah. "Anggir, jangan bilang kalo kamu belum selesai bertarung." kata Hadi sambil menunjuk ke belakangku. Aku melirik sesaat ke arah yang dia tuju tanpa mengubah posisi kepalaku. Lalu aku mengangkat pedangku di hadapan Hadi yang terlihat agak panik.

"Weapon Change, Dual Sword!". Seketika itu juga, aku mengarahkan ujung pedangku ke belakang dan mengayunkannya ke belakang dari dua sisi yang berlawanan *slaassh*. "Ggaaakkk!" teriak dua shadows tipe Raven di belakangku yang terkena tusukan senjataku. Aku pun tersenyum kecil mendengar teriakan mereka. "Good bye! Mazionga!" kataku sebelum dua petir menghabisi kedua burung tersebut. "Ya, ku baru aja selesai." kataku menjawab pertanyaan Hadi tadi.

"Huh, gayamu itu... belagu amat sih!" komentar Hadi setelah melihatku menghabisi kedua shadows barusan. "Abisnya... kalo ku balik badan pasti nggak akan sempet nyerang mereka." jelasku membela diri. "Yeah, right..." kata Hadi mengabaikan alasanku.

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari arah kami datang tadi. "Huh? Suara siapa tuh? Histeris banget." komentar Hadi begitu mendengarnya. Aku segera melihat Shadow berlari sambil membawa Nana dan Helda di kedua pundaknya. Dan ternyata yang dari tadi berteriak adalah Nana.

"Aaahh! Shadow, slow down a bit, will you?" teriak Nana panik. "Could you stop telling me what to do? I can't focus if you keep shouting like that!" protes Shadow juga berteriak. Ralat, suara mereka berdualah yang meramaikan basement ini. "Heh, kenapa mereka malah debat sih?" tanya Hadi sweatdropped. Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan.

"Hey you two! Have you guys finish your job?" tanya Shadow menyadari keberadaan kami. "Not yet! They're just too much for us." jawabku. "Hmph, slowpoke." ejek Shadow berlari melewati kami berdua. Dia segera melepaskan Nana dan Helda dari pundaknya ke tangan kami dalam sekejam mata.

"Whoa!" kataku terkejut melihat Helda tiba-tiba berada di kedua tanganku. "Ugh, kamu berat banget sih Na!" komentar Hadi yang segera mendapat tamparan dari Nana. "Aow!" Hadi segera mengelus pipinya yang sakit. Akibatnya, Nana pun terjatuh. "Aduuhh... kok aku malah dijatuhin sih?" protes Nana kesakitan.

"Siapa suruh nampar aku?" kata Hadi kesal. "Hei... berantemnya nanti aja. Kenapa Helda bisa sampe pingsan begini? Kirain kamu yang dalam bahaya." tanyaku penasaran sambil melihat Helda yang masih pingsan. "Duh, jelasinnya nanti aja deh! mendingan sekarang kita lari aja dulu!" kata Nana panik.

Kembali kami mendengar suara teriakan, tetapi kali ini suara tersebut bukan suara manusia. Merasa tidak perlu bertanya siapa pemilik suara tersebut, aku pun segera bersiaga. "Hadi, Nana, ku mohon saat ini aja, tolong bawa Helda! Biar ku yang nahan the Reaper." kataku memohon, mengingat mereka berdua belum bisa menerima Helda.

"Oke Gir, tapi kamu jangan sampe mati ya!" jawab Nana langsung setuju. Hadi pun terkejut. "Kamu mau bawa dia?" tanya Hadi tidak percaya. Nana tidak menjawabnya, dia malah berjalan ke arahku dan membopong Helda. "Kami duluan ya Gir." kata Nana berjalan secepat mungkin sambil membopong Helda.

"Kalo gitu aku di sini!" kata Hadi masih bersamaku. "Kamu nggak denger permintaanku barusan? Dengan kakimu yang terluka kayak gitu, kamu nggak bakal bisa bergerak cepat." jelasku. "Tapi Gir!—". "Udah cepat pergi! Mendingan kamu bantuin Nana atau Shadow." kataku memaksanya pergi. "Cih, apa boleh buat... jangan ilang lagi ya!" kata Hadi sebelum berlari menyusul Nana.

Aku hanya tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Hadi barusan. "Don't worry, this time will be different. Weapon Change, Excalibur!" kataku sambil mengganti senjataku. "Grraaahh!" kini sosok makhluk yang paling ditakuti di dalam Tartarus telah terlihat olehku. Jarak kami masih jauh, tetapi aku tidak mau ambil resiko.

"Shine, Excalibur!" teriakku mengayunkan pedangku. Seberkas sinar keluar dari pedangku dan mengarah ke shadows terkuat dihadapanku. Anehnya, serangan barusan tidak melukainya sedikitpun. "No way!" kataku shock. "Anggir, shadows tersebut tidak bisa diserang dengan elemen cahaya dan kegelapan. Cepat lari!" jelas Feby menginformasikan status musuhku.

"Great, another useless attack." gerutuku. "Grrr..." the Reaper terlihat marah dan mulai menembakiku. "Cih!" aku segera berguling ke depan untuk menghindar, lalu berlari dengan pedang yang menutupi sebagian tubuhku untuk menangkis tembakannya. 'Kalo serangan jarak jauh gagal, ku coba serang dari dekat.' pikirku terus mendekatinya.

Merasa tembakannya tidak bisa menghentikanku, the Reaper mulai mengganti serangan. "Primal Force!". Aku melihat kilatan cahaya yang mengarah kepadaku. 'Uh oh, this is bad!' pikirku panik. Aku segera mengganti senjataku menjadi tombak lalu menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompat lebih tinggi. Tepat saat serangan tersebut meluncur ke posisiku berada tadi.

"Weapon Change, Excalibur!" teriakku kembali menggunakan pedang. Sambil melayang di udara, aku mengayunkan pedangku sekuat tenaga ke arah kepala makhluk tersebut. *trraangg* the Reaper menyadari seranganku dan menahan pedangku dengan kedua pistolnya. "Agi!" kobaran api keluar dari pedangku dan membakar kepala shadows tersebut. "Grrooaarr!" teriaknya kesakitan.

Aku segera melompat mundur untuk menjaga jarak darinya. 'Ku rasa udah cukup.' pikirku berjalan mendekatinya. "Sorry, I would like to play some more, but my friends waiting. So…. good die!" kataku memberi salam dengan sebuah tebasan keras yang membuatnya terjatuh dan makin terbakar. Aku segera berbalik dan berlari menyusul teman-temanku.

*dor,dor,dor* Aku mendengar suara tembakan dari belakangku, dan aku pun melihat beberapa peluru melewatiku. "Cih, still persistent, aren't you?" kataku menoleh ke belakang dan melihat the Reaper yang berusaha menembakiku meskipun tubuhnya masih terbakar.

Tetapi aku tidak mau mengahadapinya lebih lama lagi. Aku pun berusaha berlari secepat mungkin sambil menghindari tembakan bertubi-tubi darinya. Sepertinya dia menembakiku dengan membabi buta, sebab semua tembakannya tidak ada yang benar-benar tertuju kepadaku, sehingga aku masih bisa berlari dengan aman.

"Hoo... marah ya? Ku janji deh lain kali kita terusin sampe selesai. Tapi kali ini biarin ku kabur dulu ya!" kataku segera melompat ke tangga menuju basement berikutnya. "Grrooaarr!" aku sempat mendengar raung kekesalan the Reaper sebelum aku meninggalkan basement ini.


Tartarus BS Basement ke-65

Setelah aku berhasil turun di basement ke-65, aku melihat teman-temanku tidak jauh dari tempatku berada. Mereka sedang berkumpul membicarakan sesuatu. 'Kayaknya mereka lagi diskusi. Semoga aja bukan sesuatu yang buruk.' pikirku berjalan menghampiri mereka.

"Yo, what's up?" sapaku mengejutkan mereka. "Ah, Anggir! Ini Gir..." kata Nana dengan wajah murung. "Ada apa? Jangan bilang kalo Helda masih belum sadar." kataku penasaran. "Aku udah sadar kok." kata Helda tiba-tiba muncul dari belakang Nana. "Oh, bagus deh. Terus kenapa pada murung?" tanyaku makin bingung.

"Dia emang udah sadar, tapi kita punya satu masalah lagi..." jelas Hadi sambil menggeser tubuhnya ke kiri, menunjukkan sosok landak hitam yang mengalami luka di bagian perutnya. "No way... Shadow!" teriakku panik. Aku segera berjongkok dan memeriksa keadaannya.

"How could this happened? It's unlike you to easily took damage from those monsters!" kataku tidak percaya. "That's true... except from the powerful one." jawab Shadow berusaha menahan luka dengan kedua tangannya. "You mean the Reaper? How?" tanyaku masih tidak bisa mempercayai penglihatanku saat ini.

"Dia terkena tembakan the Reaper demi melindungiku dan Helda." jelas Nana merasa bersalah. "Lalu udah tau kayak gini kenapa kalian nggak heal dia?" tanyaku agak kesal. "Udah! Tapi karena lukanya udah keluar dari tadi jadi nggak bisa langsung sembuh!" kata Nana.

"Masa sih?" tanyaku tidak mempercayainya. "Iya! Skill Diarama cuma bisa sembuhin luka yang baru diderita seseorang. Salah Shadow juga sih nggak bilang dari tadi! Udah gitu dia malah lari terus sambil nyerang shadows lainnya." jelas Nana justru menyalahkan Shadow.

"Kamu nggak bisa sembuhin Shadow, Da? Skill healing kamu lebih tinggi 'kan?" tanyaku penuh harap kepada Helda. "Uhh... maaf Gir, bukannya aku nggak mau, tapi rasanya kekuatanku belum pulih. Mungkin gara-gara aku baru sadar." jawab Helda mengecewakanku.

"Don't worry, this is just a little scratch... ugh!" kata Shadow berusaha berdiri, tetapi rasa sakit di perut membuatnya kembali terduduk. "Yeah, just a little scratch you said. Even you can barely stand!" kataku dengan nada sarkasme. "Well... then just give me some time to rest. I'm sure you guys should be able to finish those creature without me." jelas Shadow sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.

"I guess you right." kata Hadi melihat tiga sosok yang berada jauh di ujung lorong. Kami juga dapat melihat alat transporter yang berada di belakang mereka. "Kalo aja transporternya nggak di belakang mereka, kita pasti bisa bawa Shadow ke atas." keluhku.

"Kenapa nggak suruh Shadow balik aja ke pikiran kamu Gir?" tanya Nana. "Bad idea. If he do that, both of us will be hurted since our body became one." jawab Shadow. "Oh, gitu ya..." kata Nana baru paham.

"Ya, mau gimana lagi? Shadow, you stay here until we beat them! Helda, kamu di sini aja, temenin Shadow. Kalo kekuatan kamu udah pulih, tolong sembuhin Shadow ya! Abis itu, kalian bantuin kita ngabisin guardian di sana." kataku kepada Shadow dan Helda.

"Itu juga kalo mereka belum selesai kita abisin." tambah Hadi. 'Dasar Hadi...' keluhku dalam pikiran. "Kaki kamu udah sembuh belum?" tanyaku. "Iya, udah di-heal sama Nana kok!" jawab Hadi sambil menghentakkan kakinya yang sudah sembuh. "Bagus deh, tapi jangan anggap remeh musuh kita!" jelasku memperingatkan Hadi.

"Oke, kalo gitu kita maju duluan ya!" kataku mempersiapkan senjataku. "Heh, jangan coba-coba menyerang kami dari belakang ya!" ancam Hadi masih belum mempercayai Helda. Aku hanya bisa menghela nafas mendengarnya. "Udah deh, nggak usah cari gara-gara. Mendingan kita fokus dulu sama musuh yang di depan." jelasku sambil menepuk pundak Hadi. Kami bertiga pun segera berlari untuk menghadapi shadows yang menjaga area ini.

Begitu Hadi, Nana dan aku pergi, Helda duduk di samping Shadow yang bersandar di dinding sambil memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Helda pun melirik Shadow sesaat lalu melihat ke depan. Mulutnya sedikit terbuka seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia mengurungkan niatnya.

Shadow membuka matanya perlahan. "What do you want?" tanya Shadow menyadari gelagat Helda. "H-huh? No-nothing!" kata Helda terkejut sambil memalingkan wajahnya. Shadow memperhatikan Helda yang terlihat gugup untuk sesaat, lalu dia kembali memejamkan kedua matanya.

"I won't force you to talk. You can talk or just keep on silence, whatever you like." jelas Shadow masih memejamkan matanya. Helda kembali menoleh ke arah Shadow. "Um, Shadow…." rasa penasaran yang ada di pikiran Helda berhasil membuatnya berani berbicara. Shadow membuka salah satu matanya dan melihat ke arah Helda.

"Shadow, can I ask you something?" tanya Helda yang sudah tidak ragu lagi untuk berbicara dengan Shadow. "What is it?" kata Shadow balik bertanya. "Before that…. can you speak Bahasa Indonesia? I'm not really confident with my English. Hehe…." kata Helda tersenyum malu.

"Well…. I guess I can... even though I prefer using English. Jadi, kamu mau tanya soal apa?" tanya Shadow lagi. "Eh?" Helda terkejut saat mendengar Shadow berbicara dengan Bahasa Indonesia. "Kenapa? Kok kaget?" tanya Shadow bingung.

"Ah, nggak kok…. aku cuma kaget aja dengernya. Kirain kamu nggak bisa ngomong pake Bahasa Indonesia." jawab Helda polos. "Yah, ku juga nggak tau kenapa ku bisa. Mungkin sejak ku ketemu Anggir ku jadi bisa ngomong kayak gini." jelas Shadow.

"Oh…. emang sebenarnya kamu itu apanya Anggir sih? Kamu bukan Persona dia 'kan? Dari tadi aku penasaran sama kamu." kata Helda mengutarakan rasa penasarannya. "Hm…. sebenarnya ku juga nggak tau. Selama ini Anggir menganggapku sebagai kepribadian dirinya yang lain. Tapi kalo dipikir-pikir lagi…." jawab Shadow sambil berpikir.

"Thanks to you, sejak ku tau kalo Darkness berada di dalam dirinya dan merupakan perwujudan dari sisi gelap yang ditahan olehnya selama ini. Ku jadi nggak yakin kalo ku adalah kepribadian lain dirinya." jelas Shadow meneruskan jawabannya. "Uh, jadi ini gara-gara aku juga ya…." kata Helda merasa tersinggung.

"Siapa bilang? Justru kalo kamu nggak ada, Darkness akan tetap bersembunyi di dalam Anggir dan menjadi semakin kuat, seiring dengan semua pikiran negatif yang terus dipendam Anggir. Kamu itu bagaikan kunci yang melepas Darkness dari dirinya. Menurutku itu lebih baik daripada dia harus terus menahannya." kata Shadow menerangkan. Helda pun kembali tenang.

"Yah, meskipun akibatnya bisa sampe ngerusak jalanan sih." tambah Shadow tersenyum sinis. Merasa kesal, Helda langsung menggembungkan pipinya. "Tuh 'kan, ujung-ujungnya jelek juga!" protes Helda. "Hee, tapi 'kan itu masih mending daripada dunia yang ancur." kata Shadow mempermainkan Helda.

"Jadi kamu tuh sebenarnya apa?" tanya Helda belum puas. "Ku cuma landak hitam yang terdampar di dunia ini." jawab Shadow singkat. "Huuh…. maksudku kamu itu apanya Anggir?" kata Helda kesal merasa dipermainkan. "Entahlah, mungkin suatu saat nanti kita akan menemukan jawaban itu dengan sendirinya." jawab Shadow kembali menutup matanya.


Saat kami berhadapan dengan shadows yang menjaga basement ini, kami terkejut melihat wujud mereka yang berbeda dari musuh-musuh kami sebelumnya. Kali ini mereka berwujud wanita yang duduk bertapa di atas sebuah piramid terbalik yang melayang.

"Oke, ku akui makin aneh-aneh aja bentuk mereka. Terkadang ku penasaran kenapa mereka wujudnya bisa kayak gini." kataku sweatdropped. "Mereka adalah shadows tipe Idol. Arcananya Priestess. Aku akan coba scan kemampuan mereka, sementara itu tolong hadapi mereka dengan hati-hati." jelas Feby menginformasikan jenis musuh yang kami hadapi kali ini.

Karena kami terlalu fokus mendengarkan penjelasan Feby, kami tidak sadar kalau lawan kami mulai menyerang. "Thou... Pulinpa!". Tiba-tiba aku melihat bintang-bintang di sekitar kepalaku. "Duh, kepalaku kok tiba-tiba pusing ya?" kataku sambil memegangi kepalaku.

"Tuh 'kan! Baru aja dibilangin harus hati-hati, eh kamu malah kena duluan!" komentar Nana. "Uhh... jangan salahin ku dong! Uhh... kalian maju duluan deh... ku mau duduk sebentar." kataku berusaha menahan rasa pusing. "Ah, Anggir emang paling susah kalo disuruh hati-hati. Biar aku yang urus mereka." jelas Hadi mulai menyerang.

Tidak mau bertindak gegabah, Hadi pun memanggil Personanya untuk menyerang. "Rai-Oh, Mazionga!" Persona miliknya segera mengeluarkan tiga petir yang menyambar ketiga lawannya. Serangan barusan berhasil mengenai ketiga shadows tersebut, tetapi serangan tersebut tidak cukup untuk menghabisi mereka.

"Hm... jadi mereka bisa kena serangan listrik ya... baguslah kalo begitu." kata Hadi menganalisa musuhnya. Merasa terganggu dengan serangan barusan, ketiga shadows pun menyerang Hadi secara bersamaan dengan Bufula. "Oh, no..." kata Hadi panik. Dia segera mundur, berusaha menghindar dari serangan yang merupakan kelemahan Persona miliknya.

"Yukina, Mabufula!" perintah Nana kepada Personanya. Yukina segera muncul di hadapan Hadi dan membalas serangan ketiga shadows dengan serangan yang sama. Serangan mereka pun saling bertabrakan dan terpecah menjadi kepingan-kepingan es tajam yang terpental ke semua arah.

"Cepat berlindung di belakang Yukina!" perintah Nana kepada Hadi yang beresiko terkena pecahan es tersebut. Hadi segera mendekat kepada Yukina yang melebarkan kedua tangannya untuk menahan pecahan-pecahan es. "Fyuh, trims Na!" kata Hadi lega berhasil menghindar.

'Oke, ku rasa kepalaku udah mendingan.' pikirku mulai bangkit. Aku segera berlari ke arah shadows terdekat dan menebasnya dengan Excalibur. "Heaahh!" seranganku berhasil mementalkan musuh yang telah membuatku pusing. Makhluk itu pun terjatuh tidak kuat menahan seranganku. Tetapi tubuhnya belum hancur. "Rasain! Makanya jangan coba-coba bikin ku pusing!" kataku merasa puas.

"Teman-teman, aku berhasil memeriksa status mereka! Mereka tidak memiliki kelemahan, dan mereka tahan menghadapi elemen angin dan es. Selain itu serangan elemen cahaya dan kegelapan tidak berpengaruh kepada mereka." jelas Feby yang tiba-tiba terdengar suaranya. "Lalu apa skill mereka?" tanya Hadi.

"Maaf, kalo itu aku nggak tau. Kayaknya mereka punya kemampuan untuk menyembunyikan skill mereka." jawab Feby merasa kecewa. "Ya udah nggak apa-apa. Setidaknya kita bisa tau status mereka, itu udah cukup buat ngabisin mereka. Rai-Oh, Vicious Strike!" kata Hadi sambil memerintahkan Personanya untuk menyerang shadows yang telah kujatuhkan. Rai-Oh pun berhasil menghabisi makhluk itu tanpa perlawanan.

"Sip! Tinggal dua lagi!" teriak Hadi senang berhasil menghabisi salah satu lawan kami. "Curang... itu 'kan karena udah ku serang duluan..." protesku. "Biarin, abis kamu lama sih!" ejek Hadi menjulurkan lidahnya kepadaku. "Udah nggak usah ributin hal kecil kayak gitu! Masih ada dua lagi yang harus kita abisin!" jelas Nana tidak ingin mendengar ada perdebatan antara aku dan Hadi.

"Grr... Magarula!" kedua shadows yang merasa kesal melihat temannya mati oleh kami mulai melakukan serangan balasan. Pusaran-pusaran angin muncul di sekitar kami dan mementalkan kami ke udara. "Guuhh!" teriakku saat terjatuh. "Tuh 'kan... gara-gara ngurusin kalian berdua kita jadi kena deh!" komentar Nana sambil berusaha berdiri.

"Iya, iya... sorry deh..." kataku juga berusaha bangkit. "Awas, mereka mulai menyerang lagi!" kata Feby memperingatkan kami. "Thou... Magarula!" mereka kembali menyerang kami dengan elemen angin. "Ku nggak akan kena serangan yang sama untuk kedua kalinya! Weapon Change, Dual Sword!" kataku mengganti senjata.

Aku segera berlari menuju kedua shadows. Pusaran angin mulai bermunculan dan menghadang jalanku, aku pun menghindari serangan tersebut dengan melompat ke tiang penyangga. Lalu aku kembali melompat ke tiang yang lainnya. Jarak antara kedua tiang tidak terlalu jauh sehingga aku bisa melompat zigzag hingga aku berada di depan targetku.

"Heaahh!" dengan cepat aku menebas kedua shadows yang berada di depanku. "Mazionga!" dan dua petir langsung menyambar mereka setelah tebasanku barusan. "Gggaakk!" teriak mereka kesakitan. "Apa mereka ancur?" tanya Nana penasaran. Sayangnya jawaban yang kami dapatkan tidak sesuai keinginan kami. Kedua shadows masih bisa bertahan dari seranganku.

"Cih, lumayan kuat juga..." kataku segera menjaga jarak dari mereka. "Yah, setidaknya mereka mulai melemah." kata Nana melihat gerakan musuh kami melambat. "Kalo gitu kita langsung hajar mereka aja sekarang!" usul Hadi. "Wait, kayaknya mereka mau melakukan sesuatu." kataku menahan Hadi.

Salah satu shadows mulai menggunakan skill mereka. "Marakukaja!" cahaya keunguan bersinar di sekeliling tubuh mereka. "Masukunda!" shadows yang satu lagi juga melakukan hal yang sama, tetapi kali ini cahaya kehijauan muncul di sekeliling tubuhku dan teman-temanku.

"Euh... cuma perasaanku aja atau skill mereka barusan emang nggak ada pengaruhnya ke kita? Kok ku nggak ngerasa aneh sama sekali?" tanyaku bingung. "Entahlah, mendingan kita abisin mereka sekarang sebelum mereka melakukan sesuatu lagi!" kata Hadi mulai berlari.

Hadi pun mengayunkan tinjunya kepada shadows yang berada di hadapannya, tetapi makhuk tersebut dapat menghindari pukulannya dengan mudah. "Huh?" Hadi kembali mengayunkan tinjunya, tetapi shadows itu masih bisa menghindar. "Apa-apaan ini?" kata Hadi mulai kesal. Dia berusaha memukul lawannya berkali-kali, tapi tidak ada satu pun pukulan yang berhasil mengenai lawannya.

"Aneh…. nggak biasanya pukulan Hadi selambat ini…." gumamku memperhatikan Hadi. "Ah, ini gawat! Gerakan kalian melambat gara-gara efek sinar tadi!" jelas Feby menyadari sesuatu. "Apa kau bilang?" kata Hadi tidak percaya.

Karena perhatiannya terfokus kepada suara Feby, dia tidak sadar kalau musuh yang berada di dekatnya mulai menyerang. "Hadi, di depanmu!" teriak Nana panik. "Huh?" tepat saat Hadi menoleh ke depan, piramid yang yang menjadi tempat duduk shadows tersebut melayang ke arahnya. Tidak sempat menghindar, Hadi pun terpental ke belakang. "Ghuuhh!" teriaknya kesakitan.

Tubuh Hadi terjatuh di depan kami. "Hadi! Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanyaku kuatir. "Ugh, sakit juga serangan mereka…." kata Hadi memegangi pundaknya. "Apa di antara kalian berdua ada yang punya skill yang bisa ilangin efek status dari lawan?" tanya Nana kepadaku dan Hadi.

Kami berdua saling berpandangan sejenak, lalu menoleh ke Nana. "Nggak ada." jawab kami bersamaan. "Huh, payah deh…. kalo begini nggak mungkin kita bisa serang mereka secara langsung." keluh Nana.

"Kalo gitu biar aku yang urus mereka." kata Nana mulai berjalan melewati kami berdua. "Hey, aku gimana?" protes Hadi meminta Nana untuk menyembuhkannya. "Kamu bisa healing ke diri sendiri 'kan?" jawab Nana sambil terus berjalan. "Iya juga sih…." kata Hadi baru sadar.

"Yukina!" Nana segera memanggil Personanya dari Empress Arcana Card miliknya. Lalu dia kembali menggunakan kartu itu menjadi Rapier. Mereka berdua segera berlari menerjang musuhnya yang sudah siap menyambut mereka dengan serangan Mabufula. Untungnya mereka belum tahu kalau Nana dapat menahan serangan tersebut.

Nana segera mengayunkan pedangnya, berusaha menebas musuh yang berada di depannya. Tapi hasilnya sama seperti Hadi, shadows itu menghindar dengan mudah. "Yukina!" mendengar perintah dari 'dirinya', Yukina segera menangkap lengan shadows yang baru menghindari serangan Nana.

"Bagus! Rasain nih!" teriak Nana menusukkan pedangnya ke tubuh lawannya. Makhluk tersebut berteriak kesakitan. Melihat temannya berada dalam bahaya, shadows yang satu lagi menyerang Nana dengan melempar piramidnya. Sadar akan bahaya yang mendekat, Nana segera menendang shadows yang ditusuknya. Yukina pun melepaskan pegangannya kepada shadows tersebut sehingga makhluk itu terpental ke arah piramid yang dilempar kawannya. Secara tidak terduga, shadows itu hancur oleh serangan temannya sendiri.

"Nah, tinggal satu lagi deh!" kata Nana tersenyum puas. Dia segera menghadang musuhnya yang tersisa dan bersiap menusukkan pedangnya. "Grr…. Garula!" merasa terpojok, shadows itu menyerang Nana dengan pusaran angin. Nana berusaha menghindar, tetapi gerakannya masih terlalu lambat. "Huuaah!" teriak Nana terpental bersama Personanya.

"Nana!" teriakku panik. Untungnya Yukina berhasil menyeimbangkan dirinya dan menangkap Nana. Mereka berdua pun mendarat dengan aman. "Uuh…. padahal tinggal satu lagi tapi masih susah juga!" gerutu Nana kesal. "Yah, tapi usaha kamu udah lumayan juga kok." kataku berusaha menyemangatinya.

"Gimana kalo kita coba pojokin dia? Dengan begitu dia nggak bakal bisa menghindar lagi." usul Hadi. "Boleh juga tuh!" kataku setuju. "I…. summon!" tiba-tiba kami terkejut saat melihat satu-satunya musuh kami berhasil memanggil temannya. Jumlah mereka kembali menjadi dua.

"Eh? Aku baru tau kalo mereka bisa manggil temen!" kata Hadi shock. "Sia-sia deh usahaku tadi!" komentar Nana merasa lemas. "This couldn't get any worse than this right?" kataku tidak percaya. "Of course it can." kata suara di belakangku.

Kami bertiga segera membalik badan kami dan melihat Shadow berlari sambil memegangi perutnya, diikuti Helda yang menuju ke arah kami. "Shadow, what are you doing here?" tanyaku terkejut. "We have a surprise for you guys." jawab Shadow sambil menunjuk ke belakangnya.

Samar-samar aku dapat melihat sosok makhluk hitam mulai mendekati kami. Aku pun mulai mendengar suara rantai lagi. "Don't tell me…." kataku tidak ingin meneruskan tebakanku. "Yes, that's 'him'. The one who shot me. The one who we tried to escape from." jawab Shadow mengetahui apa yang aku pikirkan.

"The Reaper."


Ahh... akhirnya ku berhasil update juga...
Udah lama nggak ngetik chapter yang full battle jadi repot sendiri deh. Dan lagi-lagi ku nggak bisa selesaiin cerita di Tartarus ini. Oh well... lagian kalo ku singkat kayaknya malah jadi nggak enak deh.

Udahlah, waktu ku cek Review's Respond Time!

1st, Shinichi kuroba:
Ah, itu sih bukan rencana... lebih tepat disebut "bencana"
Ku nggak niat bikin FF Yugioh, nggak bisa ceritain alur pas duel plus combo-combo IMBA berbagai deck. Mendingan ku duel langsung aja deh. Lebih fun and unexpectable.

2nd, Mocca-Marocchi:
Siapa yang nggak bakal kebakaran jenggot? Masa ku biarin ada kejadian temen bunuh temen? Btw, tau dari mana ku udah tumbuh jenggot? :v

3rd, Satia Vathi:
Baik, Avathi! Saya akan bilang ke mereka! *plaakk*
Udah coba main game dance-nya? Nggak nyasar ke hutan 'kan? :v

4th, Sistha 'Shaneeta:
Lho, kenapa jadi ku yang harus tanggung jawab? Ku tanggung aja deh, tapi nggak pake jawab :p
Oh iya! Night time yang mana nih? *secondplaaakk*

5th, Kirazu Haruka:
Updatenya udah cukup lama 'kan? Ku emang masih beginner sih dalam hal deskripsi perasaan plus penggambaran suasana. Ku bukan tipe orang yang suka merhatiin keadaan sekitar sih...

6th, Sync The Dragon Tempest:
Ku malah kasih cliffhanger lagi tuh! Makin penasaran 'kan? Abis ku juga udah nggak sabar pengen update sih...

7th, LucyLucielle:
Ku baru tau kalo FF ku bisa dijadiin cerita pengantar tidur. Apa perlu ku coba lebih tenang lagi ya biar lebih efektif?

8th, yosukegalih:
SELAMAT! Anda telah membaca semua chapter ANPersona dalam waktu 3 hari! Rekor yang tak terduga!
P3 itu game IMBA, kalo nggak main itu ku nggak bakal bikin FF ini... intinya, wajib main dan selesaikan! (tapi santai aja tamatinnya)
Soal Andjar... sikap dia sih udah cukup dewasa. Tapi entah kenapa ku lebih suka kalo dia tetep jadi Adik kecilku yang bisa diandalkan.
Ah... hint, how much trouble I got from this...

9th, Aria Panda Chan:
Salam kenal! Yup, dipanggil Anggir-senpai juga boleh.
Ah, bacanya santai aja... justru terkadang ku malah stress kalo cerita favorite baru ku udah abis.
Dan kamu beruntung, baru kemarin review, sekarang udah update lagi. Thanks for the compliment!


Dan ku baru sadar kalo FF ini udah diketik selama 2 tahun! Sebagai perayaan, gimana kalo kita baca wawancara tentang FF ini. Untuk permulaan, ku mulai dari author sendiri ya! *thirdplaakk*

Oke, yang namanya wawancara pasti butuh pewawancara dan narasumber 'kan? Berhubung ku nggak mungkin wawancara diri sendiri (ku juga nggak bisa nyuruh Shadow, karena kami udah tau jawabannya) dengan ini ku "summon" chara yang pernah muncul di FF ini (meskipun cuma bentar).
Marilah kita sambit, Arif!

Arif: Huh? Aku yang wawancara? Ok deh, sebagai permulaan...
Arif:apa motivasi anda dalam menulis ff ini? motivasi pas pertama kali menulis maksud saya
Anggir: karena waktu ku pertama kali main P3, ku langsung tertarik sama gameplay-nya yang bisa dibilang cukup mendekati real world activities.

Arif:I see... lalu kenapa mengambil setting IPB sebagai background cerita anda?
Anggir: Soalnya Persona 3 ceritanya fokus ke kehidupan siswa (dalam FF ini mahasiswa) dan karena ku udah mahasiswa ya mau nggak mau ku pake IPB sebagai background-nya. Tapi IPB emang pas sih buat alur cerita P3.

Arif: hmmm... lalu... anda menentukan persona party berdasarkan sifat mereka atau suka suka anda?
Anggir: hm... karena mereka sahabat-sahabatku. Kalo ku buat chara random, pasti ceritanya nggak bakal jadi kayak gini sekarang. Lagian sifat mereka itu yang nambah seru FF ini. Meskipun ada beberapa yang sifat aslinya beda dikit.

Arif: selanjutnya... chapter mana yang paling berkesan buat lu?
Anggir: Ada banyak sih... Chapter 5, saat-saat pertama kalinya Shadow muncul. Chapter 13, pas lawan Powerful shadows di kereta. Chapter 21, pas Hadi dapet Ultimate Persona. Terus chapter 28-29, pas Darkness keluar (sebenernya yang ini bahaya).
Oh iya, chapter 23 (Andjar's main role) juga bagus semua!

Arif: Satu aja, yang paling favorit Gir...
Anggir: Oohh... yang mana ya... bagus semua sih.
Kayaknya ku paling puas pas chapter 21. Soalnya banyak hal yang terungkap di chapter itu.

Arif: ok. next question... apakah jalan ceritanya 100% ngikutin P3 atau bakal terjadi banyak plot twist?
Anggir: Intinya sih tetep sama. Tapi ku bakal bikin banyak perkembangan dari event-event yang ada di P3.

Arif: hmm... btw mau berapa pertanyaan nih?
Anggir: Kurasa cukup. Oh, mau tanya Shadow juga nggak?
Shadow: Me too?

Arif: hmm... gw cukup tanya 1 pertanyaan buat om Shadow... bagaimana kesan lu soal ceritanya si Tunggir?
Shadow: Ku sih nggak masalah dia mau cerita apa. Dan untungnya dia masih bisa mempertahankan "my coolness"

Arif: Hoo... ok, cukup :3
Anggir: Thanks ya udah bantuin!

Shadow: I guess this should be enough. See you on next chapter.