Mendekati akhir "Prom Night arc"!
Selamat membaca!
Note: Sedikit OOT di sana-sini... tapi, ini demi perkembangan plot, hehe.
One Piece © Eiichiro Oda
Two Schools, Two Worlds
Chapter V
Left for Dance – Part 8
F.E.A.R
Setelah diingat-ingat, ini semua salah Zoro sendiri.
Dia sekarang ada dalam posisi rawan terlibat baku tembak antara 2 cewek yang sekarang menemaninya, Tashigi dan Robin. Walaupun jika bertarung tidak ada masalah, entah kenapa dia merasa hidupnya akan ada dalam masalah kalau dia berusaha menengahi mereka... yang sekarang sedang melakukan perlombaan membantai pasukan zombi.
Ya. Ini salahnya sendiri... karena waktu itu menerima tantangan Tashigi tanpa berpikir panjang.
...
Semua berawal dari keputusan Zoro mampir ke klub kendo di penghujung liburan musim panas.
Ckleeek...
Zoro membuka pintu ruang klub dengan wajah malas. Dia menguap sekali, lalu segera berjalan menuju lokernya. Ruangan itu tampak sepi, tapi... dia melihat Tashigi yang sedang termenung di depan beberapa peralatan kendo yang berkilauan, sepertinya cewek berkacamata itu baru membersihkannya.
Meskipun tengah liburan, SMU Seifu masih cukup ramai karena ada tambahan pelajaran, latihan klub, dan proyek-proyek murid. Karena itu, Zoro tidak heran waktu dia melihat sang kapten klubnya itu. Mungkin dia mengurus camp musim panas bagi anggota baru klub...
"Yo, kapten," Zoro menyapanya singkat. Di klub kendo SMU Seifu, ada suatu kepercayaan bahwa penghormatan terhadap klub akan membuatmu bertambah kuat. Sebagai kapten, tentunya Tashigi termasuk orang yang harus dihormati.
Tashigi terhenyak mendengar sapaan itu, dan langsung panik. Sepertinya sejak tadi dia melamun karena tidak mendengar Zoro masuk.
"... h-halo, Zoro-kun," sapa Tashigi tanpa membalikkan badannya. Tangannya lalu mengarah ke wajahnya dan tampak seperti mengusap sesuatu di sana. "K-kenapa kamu ada di sini?"
"Pinjam peralatan kendo. Punyaku dihancurkan Mihawk waktu latihan."
"O-ooh..."
Srek... srek...
Untuk beberapa saat, hanya terdengar bunyi Zoro mengobrak-abrik lokernya, tak ada perbincangan lain yang terjadi. Sebenarnya Tashigi adalah cewek yang aktif berbicara, tapi entah kenapa hari ini dia diam saja.
"Mungkin bukan tempatku ikut campur, tapi..." Zoro menutup pintu lokernya. "Kenapa kau... menangis, sendirian di sini?"
"!" Tashigi terhenyak lagi. Kenapa Zoro bisa mengetahui kondisinya?
Tapi... sebenarnya ini tidak terlalu mengejutkan.
Zoro memang cuek jika dibandingkan anggota klub lainnya yang menggilai Tashigi, tapi instingnya amat tajam. Termasuk dalam membaca perasaan. Kalau ada anggota klub yang sedang down, Zoro akan menyadarinya lebih dulu... baru setelah itu Tashigi yang mengatasinya.
Tashigi menghela napas. Mungkin... Zoro bisa mengerti?
"Uhh. Zoro-kun... kamu bisa jaga rahasia 'kan?"
Tentu saja. Sebagai kapten klub, Tashigi mendapat imej sebagai seorang cewek tangguh yang telah mengeringkan air matanya demi meminjam kekuatan Dewa Kendo. Karena itulah dia amat dihormari sekaligus disukai. Tapi jika teman-teman klubnya tahu dia menangis di sini...
Zoro menghentikan putaran kenop pintu yang dipegangnya. Dia menoleh ke Tashigi yang masih membelakanginya, dan menggaruk kepalanya sebelum menjawab, "Sudah, katakan saja."
Tashigi pun membalikkan badan, dan Zoro bisa melihat matanya yang membengkak. Sepertinya dia sudah cukup lama menangis...
"Aku... tidak mau meninggalkan klub ini, Zoro-kun. Tidak... dengan pencapaian kita yang sudah setinggi ini."
Tanpa sadar, Zoro segera melayangkan pandangannya ke dalam ruangan klub. Di sana terpampang berbagai piala dan penghargaan, hasil jerih payah semua anggota klub. Dulunya, klub kendo SMU Seifu tidaklah diperhitungkan dalam turnamen karena hanya mengandalkan Tashigi. Tapi, sejak Zoro bergabung, prestasi mereka meroket. Zoro membawa kepercayaan diri dan sifat kompetitif bagi para anggota cowok... dan tanpa sengaja juga menarik beberapa anggota cewek untuk bergabung. Kini, mereka adalah salah satu SMU terkuat.
"... dengar," Zoro menatap Tashigi. "Semua orang harus pergi ketika sudah waktunya dia pergi. Jadi... persiapkan hatimu untuk saat itu."
Cklek.
Kemudian Zoro segera keluar dari ruangan.
Tanpa dia sadari, jawaban dingin itu memberikan inspirasi untuk Tashigi.
...
Seminggu setelah duel Zoro dengan Koshiro...
"Ingatkan lagi kenapa aku berada di sini," kata Zoro dengan nada suara malas.
Dia sekarang tengah berada di ruang latihan klub kendo, lengkap dengan peralatan dan shinai di tangan kanannya. Di hadapannya sudah berdiri seorang lawan, dengan peralatan lebih kecil dan ramping. Tentu, lawannya ini cewek.
"Untuk melawanku!" jawab si lawan penuh semangat. Mendengar itu, anggota klub lain bersorak mendukung. Dialah kapten dan idola klub kendo SMU Seifu, Tashigi.
Pagi itu, anak-anak klub menyergap Zoro di perjalanan menuju sekolah dan menyeretnya ke ruang klub. Setelah sampai, dia berhadapan dengan Tashigi yang sepertinya amat bersemangat untuk memulai sesuatu. Dan tebak, apa yang akan dia mulai?
Duel untuk memperoleh ketua klub baru, tentunya!
"Aku nggak mau."
Tentu saja Zoro menolaknya. Dia bukan orang yang senang berdiri di atas orang lain untuk memimpin dan memberi komando. Walaupun kata orang-orang terdekatnya, dia punya potensi untuk jadi pemimpin yang hebat. Dia hanya tidak mau terbebani tugas sebagai pemimpin.
Zoro melangkahkan kakinya, bermaksud meninggalkan pertarungan itu, tapi...
"Roronoa! Kau sudah berdiri di arena, jadi kau harus melanjutkan pertandingan!" teriak wasit pertandingan itu, seorang anggota senior klub.
"... kau nggak bisa menahanku," Zoro menatapnya tajam, membuat si pengadil mencucurkan keringat dingin. Cowok malang itu menoleh ke Tashigi, meminta pertolongan.
"Sayang sekali Zoro-kun, kamu nggak bisa kabur. Pak Mihawk sudah memberikan persetujuan untuk duel ini... masa' kamu mau menolak permintaan dari gurumu?" kata Tashigi.
"Cih."
Tentu saja Zoro tak bisa menolak. Sebagai salah satu bayarannya berlatih pada Mihawk, sang guru sekaligus penanggungjawab klub kendo memintanya untuk mematuhi segala perintah di klub.
Akhirnya dia hanya bisa menghela napas panjang dan segera memasang kuda-kuda.
"Oke... bagaimana peraturannya?"
"Jika aku menang, kamu harus jadi ketua klub."
"Heh?" Zoro mengangkat sebelah alisnya, heran. Kenapa Mihawk memberika persyaratan semudah itu? Siapapun tahu, tak mungkin Tashigi bisa mengalahkan Zoro!
Dia mendengus. Ini akan jadi pertandingan termudah selama hidupnya...
"Baiklah. Ayo."
"Mu-lai!" sang wasit memulai pertandingan, dan saat itu juga wujud Zoro menghilang.
Dia muncul di depan Tashigi, langsung menghajar kepalanya telak.
Bletakk!
"... kepala."
"A-ah?" Tashigi hanya bisa melongo.
"Aku takkan menahan diri." Zoro memancarkan semangat bertarung yang luar biasa. Wajah Tashigi merona di balik helmnya, dan konsentrasinya kacau.
Bam! Trak! Buagh!
...
"Pertandingan... berakhir. Skor 3-0 untuk Roronoa."
Singkat cerita, Tashigi kalah telak. Dia memang bisa memasukkan beberapa serangan di sana-sini, tapi Zoro tetap berada satu tingkat di atasnya.
"Fuih," Zoro membuka helmnya, lalu menatap Tashigi yang masih telentang di tengah arena. Dia pun menjulurkan tangan sebagai bentuk penghormatan kepada lawan.
"Ah-hahaha... kurasa ini batasku sebagai seorang wanita," kata Tashigi lemah sambil menerima uluran tangan Zoro. Tapi, Zoro malah menampiknya.
"Aku nggak mau menerima alasan kekalahan hanya karena kau seorang wanita," kata Zoro tegas. "Lihat saja Kuina. Dia selalu mengalahkanku! Yang kau perlukan hanya tekad dan latihan."
Kedua mata Tashigi melebar. Tentu saja... dia takkan bisa menang kalau saingannya adalah Kuina. Dia pun bangkit dengan kekuatannya sendiri sambil senyuman pahit.
"Aku tahu. Tapi... sepertinya aku tidak bisa berlatih lagi, Zoro-kun."
"?!"
Tashigi membuka helmnya, dan menunjukkan sepasang mata yang mulai basah.
"Setelah lulus, aku akan masuk Akademi Kepolisian atas rekomendasi pak Smoker. Jadi... ini adalah pertandingan kendo terakhirku."
"EEEEEH?!" Seisi aula berteriak kaget (kecuali Zoro).
Kemudian, anggota klub pun segera mengerumuni Tashigi, walaupun kebanyakan dengan airmata buaya dan cari kesempatan memeluk sang mantan kapten. Tapi, tetap saja Tashigi tak mampu membendung air matanya karena itu. Imejnya sebagai cewek tangguh pun pudar seketika. Dia ikut menangis tersedu-sedu.
Adegan ini tak memiliki efek pada Zoro.
"Aaah... kenapa kalian ini. Tashigi masih ada di sekolah ini sampai akhir tahun, tahu," Zoro menggaruk kepala hijaunya, kesal..
"Berisik, marimo tak punya hati!" teriak kawan-kawan klubnya kompak.
Zoro terhenyak. Berani benar mereka... setelah menculiknya, mereka juga berani mengejeknya?! Tapi dia memendam kekesalannya karena menyadari kalau saat itu mereka benar-benar sedih. Lain kali saja menghukum mereka, pikirnya.
"Cih... oi, Tashigi," Zoro memanggil sang mantan kapten. Cewek itu mengangkat wajahnya dari tengah kerumunan dan menatap Zoro dengan mata sembab. "Jangan bilang kalau ini pertandingan terakhirmu. Aku nggak suka itu. Karena itu, sekarang aku... akan jadi lawan bertandingmu, sampai kau puas."
"S-sungguh?"
Zoro tak pernah melihat wajah Tashigi segembira itu. Tanpa sadar wajahnya terasa sedikit menghangat. Dia pun menoleh untuk menutupi wajahnya, dan itu dianggap Tashigi sebagai konfirmasi.
"Un!" Dengan kekuatan entah dari mana, Tashigi melemparkan para cowok yang mengerumuninya. Dia kembali menghadapi Zoro dengan penuh semangat.
"Baiklah... pertandingan perpisahan Tashigi-chan dan klub kendo SMU Seifu, dimulai! Tidak ada pemenang dalam pertandingan ini; ini adalah pertandingan sampai Tashigi-chan puas!"
Crassh!
Beda dari pertandingan sebelumnya, sekarang gerakan Tashigi lebih gesit. Tapi, Zoro sudah siap. Dia menangkis serangan pembuka dari Tashigi dengan mudah.
"Hmh. Penuh semangat. Ini kau yang biasanya."
Tashigi dapat merasakan seringai Zoro di balik helmnya, dan dia ikut menyeringai. Dia menyerang sekali lagi, dan setelah Zoro menangkisnya, segera melompat mundur.
"Ngomong-ngomong, Zoro-kun. Aku belum memberitahumu tentang perjanjian dengan pak Mihawk, apa yang akan terjadi kalau kamu menang."
"Hmmm?"
Benar juga. Tadi dia cuma mengatakan apa yang terjadi kalau Zoro kalah, karena Zoro keburu menyerangnya habis-habisan sehingga dia tak sempat berbicara. Tapi, sekarang karena ini cuma sparring, dia bisa berbicara dengan leluasa...
"Kalau kamu menang, kamu nggak perlu jadi ketua klub. Tapi! Kamu... harus menemaniku ke prom."
"Haaaah?!" Semua orang di ruangan itu berteriak kaget.
"?!"
Serangan Zoro meleset, dan Tashigi memanfaatkannya untuk tebasan cepat ke daerah bahu.
"Bahu!"
Zoro memandang Tashigi dengan wajah tak percaya, dia menggunakan cara licik untuk membuatnya lengah! Tapi Tashigi cuma menjulurkan lidah dari balik helmnya.
"Satu poin untukku, tehee..."
"O-oi, apa-apaan dengan perjanjian itu?! Kenapa keduanya merugikan aku?!"
"Merugikan?! Itu hadiah, tahu!" teriak para anggota lain.
"Diajak Tashigi-chan ke prom... nggak ada hadiah lain sebagus itu!"
...
Ya, gara-gara semua kejadian itu, sekarang dia terjebak di sini.
"Haaah..." Zoro menghela napas panjang. Dia lalu kembali melayangkan pandangannya ke Tashigi dan Robin di depannya yang masih sibuk menghabisi zombi. Padahal dengan anggota tim 3 orang, mereka sudah tidak bisa menang. Ini cuma persaingan pribadi...
"Duapuluh tujuh!"
"... aku sudah 29..."
Zoro menghela napas lagi. Kenapa sih, kedua cewek itu? Dia selalu memperhatikan, kedua cewek itu selalu masuk mode bersaing kalau ada dirinya di dekat mereka. Padahal, Tashigi hanya bereaksi kalau sudah berurusan dengan kendo dan pedang. Kemudian Robin? Dia sangat tidak reaktif. Tapi, lihatlah sekarang... keduanya bertarung dengan penuh energi.
Buagh!
Dengan tebasan Shigure dan pukulan telak Robin, kedua zombi terakhir di area itu roboh.
"Ah. Sepertinya sudah selesai," pikir Zoro. Dia lalu menghampiri kedua cewek yang terengah-engah itu. "Oke. Kalian berdua sama-sama sukses menghabisi 30 zombi. Selamat, selamat..."
Tapi, mereka malah menatap si marimo dengan wajah amat serius.
"Apa kamu tidak salah hitung, Zoro-kun? Jelas-jelas aku unggul 1 angka!" teriak Tashigi.
"Zoro, sebagai juri kamu harus teliti..." sambung Robin.
"Sejak kapan aku jadi juri... mungkin sejak aku mengatakan jumlah zombi yang sudah mereka kalahkan tadi?" Zoro menepuk dahinya. Kemudian dia mendeteksi sesuatu. "..."
Ada gerakan di belakangnya, gerakan suatu makhluk yang amat ketakutan. Sepertinya ada zombi yang terlewat dari pembantaian!
Tapi, tentu saja kedua cewek itu juga merasakannya. Mereka segera menoleh dan menyiapkan serangan... siapapun yang mengalahkan zombi itu, dialah pemenang pertandingan ini! Karena itulah Zoro merasakan sesuatu yang luar biasa gawat akan menimpanya kalau salah satu dari kedua cewek itu keluar sebagai pemenang.
Tangannya pun bergerak sendiri, menghunus Shuusui. "Sanjyuuroku Pondo-hou!"
Menyabetkan katana ke udara, Zoro menciptakan pusaran udara yang mengenai zombi malang yang sudah pincang itu... dan mengalahkannya seketika.
Dengan ini, pertandingan Tashigi dan Robin berakhir seri. "Fuuuh..."
"Tch."
Kedua cewek itu berdecak kecewa, membuat Zoro meragukan pendengarannya sendiri. Tapi, dia mengabaikannya, karena saat ini ada yang lebih penting. "Setelah kalian puas... ayo kita segera keluar dari tempat ini. Sebelum si idiot Luffy itu menjebak kita lagi dalam permainan aneh."
Zoro segera melangkahkan kakinya ke dl kegelapan, tapi dalam sekejap 2 tangan menahan pundaknya.
"Pintu keluar di arah sana," kata Tashigi dan Robin kompak. Mereka berdua lalu saling menoleh, dan segera berperang dengan tatapan mata, menciptakan percikan cahaya.
"Aaaah! Terserah!"
...
Pertempuran melawan pasukan zombi sudah berlangsung selama 20 menit, dan para survivor melaluinya tanpa kesulitan. Jumlah korban di pihak zombi sudah mencapai angka ratusan... padahal musuh mereka "cuma" 8 orang.
Delapan orang... dan 7 orang di antara mereka adalah murid-murid terkuat SMU Seifu (dan satu orang anak SMP). Salah satu dari mereka adalah sang ketua OSIS yang menyusup ikut permainan, Luffy...
"Yosssha, menang!" Luffy mengacungkan tinjunya ke atas setelah zombi terakhir di areanya tumbang.
Yang didampingi sang ratu geng Kuja, Hancock.
"Hmph. Mereka pikir bisa mengalahkan kombinasiku dan Luffy-sama? Kalian masih terlalu cepat 1000 tahun!" kata Hancock sambil memandang tumpukan zombi di bawah kakinya dengan angkuh. Tapi para zombi malah meliriknya dengan mata mesum.
Beberapa detik kemudian bekas sepatu hak tinggi mewarnai badan mereka.
Hancock melayangkan pandangannya ke Luffy yang masih asyik berpose. "Waktu yang tersisa tinggal 15 menit... tapi kelihatannya tim lain juga sukses mengalahkan pasukan zombi. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Apa yang terjadi dengan tim Zoro dan Ace ya?" tiba-tiba Luffy berkomentar, dia memandang ke suatu arah, sepertinya lokasi kedua orang itu.
"Portgas itu cowok yang cuma punya otot, dia tidak akan mengalami masalah," Hancock menghampiri Luffy. Tapi, ketenangannya seketika hilang ketika Luffy menolehinya dengan senyuman lebar. "Awawawawa... jangan memandangku dengan senyuman semanis itu, Luffy-sama! Jantungku yang masih deg-degan setelah bertarung bisa meledaaak!"
"Itu nggak bagus," kata Luffy, sekarang dia menyentuh dagunya. "Aku ke sini karena ingin menang dari mereka! Jadi, mereka harus diganggu!"
"... ah."
Kata-kata itu membuat Hancock tersentak.
Aku ke sini...
"Ha... hahahaha," Hancock tertawa lemah. Tapi, dia merasa ada beban berat yang terangkat dari benaknya. "Begitu rupanya..."
Sejak awal permainan, Hancock mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelah mereka menang. Menghabiskan malam berdua di sebuah kamar hotel... saat itu dia yakin, bahkan Luffy yang polos itu akan melakukan sesuatu berdasarkan instingnya sebagai lelaki.
Karena ingin menang dari mereka!
Tapi, dengan perkataan Luffy tadi, semua sudah jelas. Ternyata, tujuan Luffy menemaninya dalam permainan ini bukanlah untuk merebut hadiah utamanya, yaitu semalam di Hotel Poseidon. Dia kemari karena keinginannya bersaing dengan kedua kakaknya dan Zoro. Bukan karena ingin melewatkan malam bersama Hancock!
Walaupun untuk orang yang benar-benar mengenal Luffy, hal itu sudah jelas.
"Luffy... kamu benar-benar cowok yang berhati polos. Hatiku tidak salah," pikir Hancock, tangannya mendarat di dada, lega. Dia kemudian tersenyum, manis sekali... yang tentunya tidak diperhatikan Luffy. "Ayo, kita ganggu mereka, Luffy."
"Sip! Kita serang yang mana dulu? Aku ini bodoh, jadi rencananya kuserahkan padamu, Hancock!"
Sekarang mereka bisa ngobrol dan beraksi layaknya sepasang partner. Bagi Hancock, itu sudah menjadi hadiah terbaik.
"Fufufufu. Pertama-pertama sebaiknya..."
...
"Permainan termudah selama hidupku," kata Ace sambil menepuk-nepuk sarung tangan pembakarnya. Di depannya ada tumpukan mayat gosong... pemandangan yang brutal, apalagi pelakunya adalah seorang anak SMU.
Yang kebetulan punya senjata pembakar.
"Woah, Ace... kau benar-benar tidak berbelas kasihan ya," Sabo menusuk zombi dengan ujung tongkatnya, dan terdengar bunyi 'kres' dari makhluk malang itu. "M-hmm. Meminjam istilah steak, mereka ini matang rare. Krispi di luar, lembut dan basah di dalam."
Moda menjulurkan lidahnya, jijik mendengar guyonan itu.
Ace tersenyum bangga, lalu menoleh ke Sabo dan Moda. "Oke, setelah ini, apa yang harus kita lakukan?"
"Keluar dari aula," kata Sabo. Ace langsung pasang tampang malas. "Oi, kau mau kalah nggak?"
Tim Ace, Sabo, dan Moda memang bermain dengan tujuan kalah. Tujuan yang aneh... tapi apa boleh buat. Ini karena kedua cowok itu lebih sayang nyawa dibandingkan kesempatan bermalam di Hotel Poseidon bersama Moda. Kakek mereka, Garp, akan mengeksekusi mereka di tempat jika ketahuan berbuat macam-macam dengan cewek... apalagi yang di bawah umur seperti Moda.
Tambahan dari Sabo, dia lebih baik jadi pecundang daripada dianggap berkomplot dengan seorang lolicon seperti Ace!
"Untungnya, selama pertarungan tadi aku sempat mengecek keadaan sekitar. Kita sudah dekat pintu keluar. Jadi, ayo," kata Sabo sambil berjalan ke suatu arah. Ace dan Moda pun mengikutinya.
Tentu saja rencana Sabo takkan terlaksana dengan lancar. Baru saja beberapa langkah...
"Aaaah!"
Blaaaar!
Terdengar erangan dari dalam kegelapan. Zombi? Tapi erangan ini sepertinya lebih cempreng. Bersama erangan itu, terdengar sesuatu yang hancur.
"... dia dekat."
Ace dan Sabo memicingkan mata mereka, berusaha melihat wujud asal suara itu. Sementara Moda langsung bersembunyi di balik Ace sambil memejamkan matanya.
"Apa lagi sekarang?" gumam Sabo.
Rasa penasarannya langsung terjawab sedetik kemudian, dengan kemunculan wujud seseorang yang berlari kencang sambil membuka lebar-lebar kedua lengannya. Mencium bahaya, mereka merunduk.
"Aceeee! Sabooo!"
BUAGH!
Kedua orang yang dipanggil itu menanamkan tinju mereka di perut si penyerang, membuatnya langsung berguling-guling kesakitan. Sudah jelas siapa pemilik perut itu.
"Luffy!"
Suara itu membuat telinga Ace dan Sabo bergerak. Apa itu zombi juga? Tapi, tidak mungkin ada zombi dengan suara semanis itu!
"Hancock-chaaa-"
Wajah mereka disambut dua kepalan tangan.
Krakkk... blarrrr!
Terdengar bunyi sesuatu yang retak, dan merekapun terpental.
"A-Ace-saaaan!" Moda menghampiri pasangannya itu dengan wajah panik.
"Bagaimana denganku?!" teriak Sabo.
"Lu-Luffy! Kamu tidak apa-apa?" tanya Hancock sambil membantu cowok itu berdiri. Dia memang sudah berani menyentuh Luffy setelah menyadari kalau anak itu ikut dalam permainan karena semangat bersaingnya, bukan karena ingin bermalam bersama Hancock. "Kenapa kamu maju sendirian? Rencana kita jadi gagal 'kan?"
"Shishishi. Aku ingin mengejutkan mereka!"
"Tapi..." Hancock menghentikan perkataannya saat merasakan Ace dan Sabo bangkit. Tapi, ekspresi mereka amatlah kacau. Hancock tertawa kecil. "Fufufu. Sepertinya kita berhasil, Luffy."
Ya. Akibat serangan balasan dari Hancock yang (masih) mereka cintai, mental Ace dan Sabo langsung hancur... lebih hancur dari wajah mereka yang menerima pukulan berlapiskan Haki itu.
"Hancock-chan... kenapa...?"
"Hatiku... lebih sakit dari wajahku...!"
Melihat kondisi itu, Moda hanya bisa menatap mereka dengan wajah iba. Luffy dan Hancock pun menghampiri mereka. Kali ini, Moda mencoba menghadang mereka.
"Yo," tapi Luffy hanya menyapanya dengan senyuman lebar.
Dia tidak menganggap Moda sebagai penghalang, matanya hanya tertuju pada sosok hancur kedua kakaknya itu.
"S-sudah... habisi saja..."
"Akhiri penderitaan kami..."
Luffy dan Hancock memiringkan kepala mereka kompak. Apa yang terjadi dengan 2 orang yang tadinya penuh semangat bersaing itu? Kenapa mereka sepertinya tidak ada niatan hidup lagi?
"GRAAAAAAH!"
Graaaakkk!
Erangan kencang itu menjadi satu-satunya peringatan sebelum lantai di sekitar mereka bergetar kencang. Ini bukan gempa, ini... adalah getaran karena sesuatu yang besar mendarat di dekat mereka.
"Grrrh..."
Luffy dan yang lainnya menoleh ke asal erangan itu, dan melihat... Urouge.
Bukan. Wujudnya memang mirip Urouge, anggota Supernova berbadan besar dan berpenampilan mirip biksu dengan kepala plontos itu. Tapi, ada yang berbeda. Pandangannya kosong, air liurnya menetes deras... dan liukan urat tampak menjalari seluruh bagian badannya. Tak salah lagi, itu adalah...
"Zombi beneraaaaan!" teriak Luffy dengan mata berkilauan. Ace dan Sabo di belakangnya juga begitu, melupakan sakit hati mereka dan ikut-ikutan mengagumi Urou-ah, bukan zombi itu.
Dasar para maniak zombi!
Tapi zombi tidak suka dikagumi. Zombi raksasa itu pun menyapukan tangan besarnya ke lantai, meretakkannya dan menciptakan gelombang kejut... untungnya Luffy dan yang lain dengan sigap menghindarinya. Belum usai, si zombi segera berlari menerjang mereka dengan badan besarnya . Dia nyaris menghantam Luffy, sebelum Hancock mengalihkan jalurnya dengan tendangan berlapiskan Haki.
BLARRR!
Si zombi pun menabrak sebuah meja telak, menghancurkannya seketika... tapi, sesuai dengan namanya, dia segera bangkit lagi seolah tidak terjadi apa-apa!
"Kuat bangeeeeet!" teriak Luffy bersaudara dengan kompak. Mereka hendak maju mengetes kekuatan si zombi, tapi Hancock menghalangi mereka.
"Jangan. Kita lari dulu!" kata Hancock. "Kita perlu ruang yang lebih luas untuk musuh sebesar ini!"
"Sip!" teriak para cowok. Ace pun bergegas menggendong Moda karena dia takkan bisa mengikuti kecepatan orang-orang terlatih itu. Jadilah Ace sebuah kereta api, karena dia berlari sambil Moda terus mengeluarkan asap dari wajahnya yang memanas.
"Guooooh!"
...
Sementara itu, di sisi lain aula, pertarungan yang tak kalah serunya tengah berlangsung. Ini dimulai dari serangan tiba-tiba pasangan zombi kakek-nenek yang berambut mencolok. Selain sangat tangguh, kedua zombi itu juga pintar, mereka bahkan berhasil tim Zoro!
"Apa maumu, Jewelry?!" teriak Tashigi sambil menyabetkan Shigure ke zombi nenek berambut pink itu. Tapi, beda dengan zombi-zombi lemah yang dia hajar tadi, gerakan nenek itu sangat cepat.
"Menghalangi kalian memenangkan permainan ini dengan Zoro!" teriak si nenek sambil mengangkat sebuah meja dengan entengnya.
Wuuuush...
"Ara ara... satu lagi," Robin menghindari lemparan meja dari Bonney dengan anggun.
Di dekat mereka, samurai berambut marimo sedang melawan zombi kakek beralis pelintir. Benar-benar pertarungan yang absurd...
"Apa-apaan narasi tadi?!" teriak kedua petarung dengan marah.
Ups, maaf. Lanjutkan saja deh.
"Dasar..." Zoro melayangkan pandangan ke lawannya. "Sekarang apa maumu, alis pelintir?!"
"Menghentikanmu dari permainan ini," jawab Sanji dengan tenang.
Zoro menggaruk kepala hijaunya dan berkata dengan malas, "Silakan saja... aku sebenarnya nggak mau ada di sini, dengan 2 cewek yang bertengkar," Zoro melihat badan Sanji bergetar mendengar kata '2 cewek', tapi dia mengacuhkannya. "Heh. Meskipun begitu, jangan harap aku akan mudah kau hentikan begitu saja!"
"Pfft. Aku nggak akan kalah semudah itu oleh orang yang nggak mempedulikan perasaan cewek," Sanji mengangkat sebelah kakinya. Lalu, wujudnya menghilang...
TRANGGG!
Pedang bertemu dengan kaki, hantaman kedua petarung itu menimbulkan getaran di sekitar mereka. Bagi orang yang tak sengaja menyaksikan ini, ia pasti berpikir kalau ini adalah pertarungan hidup-mati antara 2 rival abadi.
Tidak, ia salah.
Pertarungan serius seperti ini adalah pemandangan biasa di tengah acara makan siang bersama Straw Hats. Biasanya mereka selalu bisa dihentikan Nami sebelum bisa melancarkan jurus pamungkas masing-masing, tapi... kali ini tak ada Nami di sekitar, jadi mereka bisa bertarung sepuas hati!
"Ittoryu..."
"Collier..."
Bwesh!
"Shishi Sonson!"
"Shoot!"
Blarrrrr!
Gerakan mereka bedua sangat cepat, begitu tabrakan itu terjadi, mereka sudah berpindah posisi. Tabrakan pembuka itu tampak berakhir imbang... tapi tidak menurut Zoro. Walaupun enggan mengakuinya, dia merasa si pirang itu sedikit lebih kuat.
Benar saja, terlihat ada bekas sepatu yang mengenai lengannya, sepertinya menyerempet.
"Cih, peduli amat. Akulah yang akan menang, seperti biasanya!" Zoro mengacungkan Shuusui ke depan sambil memegangnya erat dengan kedua tangan. Ini dia, jurus yang telah mengalahkan sang shishou pada duel tempo hari... "Ittoryu, Daishinkan!"
"Mutton Shot!"
BLARRR!
"... cih."
Lagi. Zoro merasakan serangannya sedikit lebih lemah dari rival abadinya itu. Bahkan kali ini, Sanji berhasil mengenai bahunya dengan tumit kaki! Apa yang terjadi? Padahal, selama ini dia hampir tak melihat orang itu melatih fisiknya...
"Sekali lagi!"
Tapi, Sanji mengangkat kedua tangannya sambil menghela napas panjang. "... cukup," katanya. "Aku nggak mau buang-buang waktu."
"Apa?!"
"Kau, saat ini kau belum pantas melawanku," kata Sanji dengan penuh wibawa, seolah dia adalah boss terakhir di sebuah video game.
"Haaah?!" kata-kata itu membuat amarah Zoro memuncak. Dia pun mengenakan penutup kepalanya, pertanda dia benar-benar serius ingin menghancurkan sang rival. "Katakan itu lagi pada Shuusui!"
BWESH!
Zoro menyerang Sanji dengan kecepatan yang luar biasa... tapi cowok pirang itu menghindar dengan mudah dan meloncat menjauhi Zoro.
"Percuma..." katanya lagi. "Saat ini, kau takkan bisa menang."
Kali ini, dia tampak amat tenang. Padahal, biasanya kalau sudah berurusan dengan si marimo, cowok itu meledak-ledak. Zoro tidak suka suasana ini. Ketenangan Sanji biasanya berarti 1 hal: dia benar. Sebenci-bencinya dia dengan idiot pirang itu, dia harus mengakui bahwa anak itu adalah cowok jenius yang biasa jadi ahli strategi kedua di SH setelah Robin.
Dengan kata lain... untuk saat ini, Zoro benar-benar lebih lemah dari Sanji. Dia tak mau mengakui ini, tapi dia bukan orang bodoh yang terus melanjutkan pertarungan walaupun hasilnya sudah jelas. Selain itu, kalau dia nekad dan kalah sungguhan, rivalnya yang berisik itu tidak akan melupakan ini dan akan terus menyombongkan diri. Padahal, hanya menang dari Zoro yang sedang tidak fit...
Zoro kemudian menarik nafas panjang, dan menurunkan Shuusui. "Apa maksudmu?"
"Kau sudah siap mendengarkan? Oke," Sanji menyobek jenggot palsunya, dan perlahan-lahan rambut pirangnya mulai berdiri, memasuki mode super saiyan. "Ini karena... sekarang aku berdiri di sini dengan menggunakan bahan bakar kecemburuaaaaan!"
BLAAAAR!
Sanji meledak. Setelah ledakan itu usai, di tengah pusaran debu tampak badannya memancarkan cahaya mirip api.
"Salah power-up, oi," Zoro menepuk udara.
"Berisiikkk! Aku kesal karena Robin-chwan dan Tashigi-chwan menempel padamu, bukan akuuu! Kenapa, marimoooo?!"
Zoro mengangkat sebelah alisnya, dan menjawab tanpa berpikir panjang, "... uh, karena tingkahku lebih bisa ditolerir daripada kau yang genit?"
Sanji menatap Zoro dengan mata merah.
"Bukan. Itu karena... mereka menyukaimu!"
Zoro melongo, lalu mendengus. "Kahh, kukira apa. Mereka temanku, jadi itu wajar. Kalau mereka nggak menyukaiku, mereka nggak akan berteman denganku 'kan?"
Kali ini giliran Sanji melongo. Oke... Zoro memang bodoh dan bebal, tapi dia tidak menyangka si marimo itu memiliki jalan berpikir yang sama (idiotnya) dengan ketua geng mereka, Luffy!
Dia harus melakukan sesuatu sebelum dia menyakiti perasaan Robin dan Tashigi dengan kebodohannya...
"Kau... aaah," amarah Sanji perlahan memudar. Aura yang menyelimuti badannya memudar dan rambutnya perlahan turun. "Bukan begitu maksudku."
Pada saat itulah Zoro merasakan ada sesuatu yang aneh. Dan gawat. Kenapa si koki meredakan amarah semudah itu? Dia pasti merencanakan sesuatu yang berbahaya!
Perkiraannya benar, karena Sanji kemudian mengatakan sesuatu yang (cukup) mengejutkan. "Suka sebagai teman berbeda dengan suka sebagai cewek."
Zoro memiringkan kepalanya karena tidak mengerti... dan Sanji menepuk dahinya. Keras.
"Oke, akan kupakai kata-kata yang lebih, sederhana sehingga bisa dicerna otak algamu..." Sanji mengacuhkan umpatan Zoro, dan menyalakan rokoknya. "Simpelnya, mereka berdua... uh, grrrh. Sebenarnya aku nggak mau mengakui ini... mereka..."
"Katakan saja, idiot."
"Mereka mencintaimu! Puas, marimo?!"
Zoro memiringkan kepalanya ke sisi lain.
"Aaah? Apa bedanya suka dan cinta?"
Sedang Sanji terjatuh komikal.
"Gah! Memangnya kau manusia gua dari mana?! Yang aku bicarakan ini hal yang wajar buat anak SMU, tahu!" teriak Sanji, mulai frustasi. "Cinta! Cinta! Perasaan paling indah, ketika sepasang manusia menjalin hubungan dekat penuh kasih!"
Zoro diam saja.
"Cinta, yang datang dan pergi bagai tornado! Cinta, yang mempersatukan ayah dan ibu, dan melahirkan manusia baru di dunia ini! Cinta yang menginspirasi orang-orang besar! Bahkan, bisa dibilang, cintalah yang membuat dunia berputar!"
Blaaaar!
Bersamaan dengan itu, terdengar suara ledakan dari kejauhan. Entah apa penyebabnya... tapi itu benar-benar pas untuk mengakhiri kata-kata puitis dari Sanji.
Tapi, Zoro tidak peduli.
"Berisik! Cinta, cinta... jangan samakan aku dengan koki mata jelalatan sepertimu! Aku ini atlit dan petarung, aku nggak bisa membiarkan perasaan mengacaukan ritme pedangku!"
Krak.
Terdengar sesuatu yang retak dari arah Sanji...
Kesabarannya.
Sanji pun bangkit, menghampiri Zoro, dan menudingnya sambil berteriak kencang, "Karena kau tidak tahu apa itu cinta, kau takkan bertambah kuat melebihi sekarang!"
"?!"
Itu dia. Satu-satunya yang ada dalam kepala Zoro adalah kekuatan. Dia ingin menjadi atlit yang lebih kuat, yang suatu hari bisa mewarisi gelar Mihawk sebagai atlit kendo terkuat di dunia. Karena itulah, Sanji harus menyerangnya di bagian itu!
"... !" Zoro melongo.
Oh, ini benar-benar efektif.
"K-kuh... kau, ngomong seperti itu... apa buktinya hah?!"
"Buktinya? Aku bisa lebih kuat darimu saat ini, karena rasa cintaku ke Robin-chwan dan Tashigi-chwan!"
"!"
Zoro menjatuhkan badannya ke lantai dan memukul-mukulnya, frustasi.
"Gaaaah!"
Bukan, ini bukan efektif lagi... ini serangan kritikal! Sanji menyeringai puas.
"Memangnya... apa itu cinta?! Apa bisa dimakan?!" teriak Zoro.
Mendengar itu, Sanji memalingkan wajahnya dan tertawa puas... dalam hati. Akhirnya! Setelah bertahun-tahun selalu imbang dengan si marimo... hari ini dia menang dalam 2 aspek sekaligus, dalam pertarungan fisik dan verbal! Hari ini patut dikenang... bahkan dia merencanakan akan mentraktir Luffy, saking senangnya.
"K-kha-ha... kenapa cowok sekasarmu bisa populer, hanya Pengarang yang tahu," kata Sanji setelah tawanya reda. Dia sebenarnya ingin menikmati kemenangan ini lebih lama, kalau bisa memotret wajah kalah Zoro untuk diberikan ke Nami dan kemudian dipampang di koran sekolah, tapi sekarang sudah tidak ada waktu.
"M-mana kutahu! Aku nggak melakukan apa-apa pada mereka, tapi mereka terus mendatangiku!"
Sanji menepuk dahinya lagi. Dia yakin, besok kepalanya akan sangat sakit.
"Aku nggak mau mengakuinya, tapi kau itu c-cool di mata para cewek. Huek. Urgh, dan mereka menyukai cowok seperti itu," kata Sanji dengan wajah enek.
"Kenapa ada 'huek' di tengah-tengah kalimatmu, hah?!"
"Abaikan."
Zoro tak bisa berkomentar apa-apa lagi setelah itu. Kenyataan dari Sanji itu benar-benar menggoreng otaknya yang sebelumnya hanya dia pakai untuk memikirkan cara bertambah kuat. Disukai cewek? Cinta? Cool? Dia sudah tak mau tahu lagi!
"Gaaaaaah!"
Sanji menghirup rokoknya dalam-dalam. Sepertinya ini sudah cukup... saatnya bagi dia untuk menjalankan rencana tahap B. Diapun menghampiri Zoro.
"G-gah! Tinggalkan aku!"
Sanji menjulurkan tangannya ke depan wajah Zoro. "Sudah kuputuskan. Aku... akan membantumu menghadapi mereka. Anggap saja ini yang pertama dan terakhir, marimo."
Kedua mata Zoro terbelalak. Membantunya? Tidak mungkin! Apa yang ada dalam pikiran si penggila wanita itu, kenapa dia membantu rivalnya untuk menghadapi para cewek?
"Kau..."
"Nggak usah sungkan. Kita 'kan teman 1 geng," Sanji tersenyum. Tapi, dalam hatinya dia bertansformasi jadi iblis. Tentu saja, karena ini sebenarnya adalah rencana yang sangat jahat. "Aku akan membantu si idiot ini dengan menolak mereka sekaligus... lalu setelah Robin-chwan dan Tashigi-chwan mengetahui kebejatannya, mereka akan lari padaku! Fuehehehehe... bunga di kedua tangan..."
Tak mau berpusing-pusing lagi, Zoro pun menerima uluran tangan dari Sanji dengan mantap. Dia tidak menyadari wajah Sanji yang menjadi aneh.
"Jangan salah sangka, aku membantumu karena nggak ingin melihat kau menyakiti hati Robin-chwan dan Tashigi-chwan!" kata Sanji kemudian. "Dan setelah kupikir-pikir, enak banget kau dikelilingi 2 cewek sekaligus?!"
Buagh!
Tendangan melayang ke dada Zoro tanpa bisa dia hindari.
"Brengsek!"
Blaaaaarrrr!
Lantai di sekitar mereka bergetar kencang.
"... aku nggak melakukan itu," kata Zoro. Shuusui memang belum sempat dia hunus. "! Jangan-jangan, para cewek sudah menyusul kemari?!"
Bukan. Dilihat dari ekspresi Sanji yang tampak kaget, yang muncul bukan ketiga cewek itu. Ini sesuatu yang gawat...
"Guoooooooo!"
Belum sempat mereka berdiskusi (baca: bertengkar) lagi, muncullah sesosok zombi raksasa di depan mereka. Dengan rambut kriwul dan badan besar, zombi ini mirip salah satu senior dan anggota gengnya Ace, Jozu.
"Sial!" Sanji mengumpat, dia melupakan para pengawas pesta yang jadi zombi kuat karena sugar rush itu. "Cih... kita diskusikan ini di setelah menyelamatkan Robin-chwan, dan Tashigi-chwan, dan Bonney-chwan!" katanya kemudian.
"Gwooooh!"
Zombi Jozu melempar dekorasi pohon ke arah mereka, dan Zoro segera memotongnya jadi 4 bagian. Walaupun dia yakin bisa mengatasinya, untuk saat ini para cewek adalah prioritas utama.
"Cih. Apa-apaan makhluk itu?!" teriak Zoro, kesal.
"Senjata rahasia OSIS, zombi mutan dengan cake dari toko kue Big Mom."
"Haaaaa?!"
A/N Corner
F.E.A.R adalah singkatan dari F**k Everything And Run. Ini judul game horor yang diplesetkan...
Next in Two Schools, Two Worlds
Chapter V Part 9 – I See Dead People
"... ara? Kenapa Zoro dan Sanji bisa berkomunikasi secara normal?"
