Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ To Be A Princess ~
[ Chapter 36 ]
.
Universitas A
Penerimaan mahasiswa baru.
Hari ini ada pengarahan dari senior di fakultasku, berbaris dengan rapi dan sesuatu sedikit mengganggu, tidak, bukan aku, tapi sepertinya mengganggu para senior.
"Kalian yang di sana! Apa kalian mahasiswa baru? Kenapa memakai pakaian setelan jas dan kacamata hitam!" Tegur seorang senior, aku sudah tahu ini akan terjadi, mereka pasti akan marah jika kedua pengawal ini terus menempel padaku.
Melihat ke arah mereka, salah satu senior berbisik pada senior yang katanya dia adalah ketua dan dia lah yang sedang menegur kedua pengawalku ini.
"Mau dia seorang anak presiden, putri mahkota atau apapun, tetap saja di sini aku yang berhak mengatur segalanya, jika tidak suka, keluar dari fakultas ini!" Tegur senior itu.
Aku sudah katakan pada Sasuke jika tidak perlu membawa pengawal, sekarang aku jadi sorotan mahasiswa lainnya, ini membuatku semakin malu, berbicara pada kedua pengawal itu dan meminta mereka untuk berjaga di tempat lain saja, setidaknya tidak begitu jauh dariku, untung saja mereka mau mendengar perintahku, aku tahu mereka takut pada Sasuke apalagi jika dia memberi mereka hukuman.
"Repot juga yaa jika seperti ini." Ucap Rin, aku satu fakultas dengannya, senangnya.
"Kau benar, ini gara-gara perintah Sasuke." Ucapku, aku sangat malu sekarang. Untung saja ada Rin yang masih menyemangatiku, di samping itu.
"Sasuke benar-benar keterlaluan, dia seharusnya memberimu sedikit kebebasan dengan tidak perlu ada pengawalan seperti ini." Ucap Seon.
Demi apa! Aku tidak menyangka jika dia masuk ke universitas ini dan jurusan yang sama denganku.
Menatapnya sejenak dan tidak memperdulikannya, apa dia tidak sadar jika aku tidak menyukainya? Hmmpp! Aku masih tetap tidak suka padanya.
Setelah pengarahan dan istirahat selama 30 menit, aku dipanggil ke ruangan himpunan, aku sudah melakukan kesalahan apa sampai harus di panggil? Mengetuk beberapa kali dan suara seseorang dari dalam membiarkanku masuk.
Membuka pintu dan lagi aku melihat senior yang teriak-teriak tadi, aku sedikit takut padanya, dia benar-benar tegas.
"Kau-"
"I-iya, senpai." Ucapku, terkejut, aku sampai tidak berani menatapnya.
"Kau harus dengar ini baik-baik, kau bukan anak sekolahan lagi, maka aku akan menegurmu di sini, jangan membawa pengawal seperti itu lagi, aku mengerti jika ini semacam keamanan untuk statusmu, tapi mereka cukup mencolok." Ucapnya.
"Maaf, aku tidak akan membawa mereka." Ucapku, Sasuke saja yang terlalu berlebihan.
"Ya sudah, siapa namamu?" Tanya senior itu.
"Uchiha Sakura."
"Kembali istirahat, dan jangan lupa ucapanku."
"Baik." Ucapku lesu dan berjalan keluar ruangan itu, serasa baru saja di marahi, belum resmi menjadi mahasiswa saja seperti sudah membuat masalah, sebelumnya aku sudah berdebat dengan Sasuke gara-gara masalah membawa pengawal itu, mereka memang mengganggu dan terlalu mencolok.
Berjalan di sepanjang koridor, beberapa pasang mata menatapku, aku sudah terbiasa akan hal ini, status sebagai putri mahkota tidak begitu enak hingga sekarang.
"Ada apa? Kenapa senpai itu memanggilmu?" Ucap seseorang.
Menoleh dan moodku semakin buruk.
"Maaf, aku harus pergi." Ucapku dan berjalan lebih cepat, aku tidak peduli harus meninggalkan putri itu, meskipun kami sama-sama seorang putri, aku tidak pernah akan akrab dengannya, apalagi dia punya masa lalu dengan Sasuke, aku masih saja tetap merasa cemburu padanya.
.
.
Kegiatan berakhir dan akhirnya, ranjang empuk, terlalu banyak pengarahan, bokongku sampai pegal untuk duduk dan bosan mendengar semua pengarahan itu, para senior itu jadi begitu mengenalku, jika ada apa-apa, mereka terus memanggilku, mereka bahkan tidak memanggil namaku tapi.
"Putri mahkota!"
Ya ampun! Apa mereka sengaja? Mereka pasti sedang mengejekku, itu bukan sebuah panggilan yang terdengar mereka menghormatiku, aku jadi malas untuk kuliah dan moodku terus buruk dengan adanya Seon di sana, aku pikir dia akan kuliah di luar negeri, apa ini namanya kesialan? Mungkin saja.
"Aku pulang."
Menatap ke arah pintu, Sasuke sudah pulang, aku tidak menghampirinya dan tetap berbaring.
"Ada apa? Apa kau sakit?" Tanya Sasuke dan berjalan ke arahku.
"Tidak, aku hanya sedang istirahat." Ucapku, bangun dan duduk di sisi ranjang.
Wajah Sasuke mendekat, aku tahu dia akan melakukannya, sebuah kecupan di bibir. Setelahnya aku hanya terdiam, wajah Sasuke tidak menjauh dan seperti sedang memperhatikanku.
"Alismu berkerut, apa terjadi sesuatu?" Tanyanya.
"Aku di tegur untuk tidak membawa pengawal, aku sudah katakan padamu jika tidak perlu seperti itu, aku masih bisa menjaga diri." Ucapku.
"Aku akan memberi hukuman orang yang mengatakan itu, katakan, siapa dia?"
"Kau hanya memperkeruh keadaan!" Ucapku.
"Baiklah, tidak akan ada pengawal, tapi mereka akan tetap mengawasimu di tempat yang tidak mencolok."
"Ya itu jauh lebih baik." Ucapku, memeluk kedua lututku. "Dan Seon juga ada di fakultas yang sama denganku." Tambahku.
"Aku sudah tahu." Ucap Sasuke.
"Eh? Kau sudah tahu dan tidak mengatakannya padaku? Kenapa?" Ucapku, sampai sekarang seakan Sasuke masih tetap peduli pada putri itu.
"Seon yang mengatakannya sendiri padaku, dia tidak jadi kuliah di luar negeri dan memilih kuliah di sini." Jelas Sasuke.
Terdiam, untuk apa putri perfect itu repot-repot memberitahu Sasuke? Apa itu penting? Seharusnya Dia mengatakan hal itu pada pacarnya, tapi apa dia punya pacar? Atau orang yang di sukainya? Atau mungkin saja dia masih menaruh perasaan pada Sasuke.
"Ahk!" Rintihku. Sasuke tiba-tiba menyentil jidatku.
"Lagi-lagi alismu berkerut."
Menggosok jidatku dan menatap kesal padanya. "Apa putri Seon begitu berarti untukmu?" Ucapku, selalu saja ingin memastikan perasaan Sasuke padaku.
Kini Sasuke yang terdiam dan menatap ke arahku.
"Kau akan terus bertanya hal itu?" Tanyanya.
"Jangan membuat pertanyaan baru, kau harus menjawab pertanyaanku." Ucapku.
"Tidak, dia tidak berarti apa-apa untukku sekarang." Ucap Sasuke.
Tetap saja, aku masih tidak tenang jika kalian masih berhubungan seperti ini, Sasuke sangat pandai menyimpan rahasia apapun, aku sampai sulit membaca pikirannya.
"Jadi, jika kau tetap berhubungan dengan putri Seon, apa aku bisa berteman baik dengan pangeran Izuna?" Ucapku, aku pun ingin bebas seperti dia, bebas dekat dengan pria lain, meskipun hanya sebatas teman, bukannya itu terkesan sama, dia dan putri Seon, aku dan pangeran Izuna.
"Lakukan apapun yang kau suka. Aku tidak akan melarangmu kali ini." Ucap Sasuke.
Wah, ini ucapan yang benar-benar langkah aku dengar, Sasuke mengijinkannya, apa benar ini yang namanya kekuatan cinta? Dia jadi begitu pengertian padaku? Atau.
"Sungguh?" Tanyaku, ragu, aku selalu khawatir jika tiba-tiba Sasuke bersikap baik, kadang sikap baiknya itu ada alasannya, di belakang dia mungkin akan marah besar padaku.
"Hn." Dia hanya bergumam dan sedikit gelagat aneh darinya, bahasa tubuh Sasuke, dia tidak menatapku, apa benar dia menyerah begitu saja? Dia ingin aku juga bebas? Aku jadi pusing memikirkannya.
Turun dari ranjang dan menghampiri Sasuke, memeluk erat pria itu dari belakang.
"Katakan apapun jika kau tidak senang, aku tidak ingin kau marah." Ucapku, aku hanya takut jika dia baik seperti ini.
Dia menghela napas, begitu terasa saat aku memeluknya.
"Aku tidak akan marah, hanya saja sedikit khawatir." Sasuke melepaskan pelukanku dan kini berbalik menatapku. "Apa kau hanya mencintaiku?" Kini tatapan serius yang terlihat.
Blussh..~
Aku sampai merona mendengar pertanyaan Sasuke.
"A-aku sungguh mencintaimu!" Tegasku, meskipun gugup karena malu.
"Kau hanya memikirkanku?" Tanyanya lagi.
"Ke-kenapa bertanya seperti itu?" Ucapku, bingung.
"Katakan saja."
Mengalihkan tatapanku, jantungku jadi deg-degan lagi. Mengangguk perlahan, aku semakin malu.
"Ucapkan dan tatap mataku." Ucap Sasuke.
Mengikuti ucapannya, menatap Sasuke. "Iya, hanya kau pria yang aku pikirkan, tapi makanan juga termasuk." Ucapku dan menahan tawa.
Sebuah usapan lembut pada puncuk kepalaku dan kecupan pada keningku.
"Aku sudah memastikannya, sekarang tidak akan membuatku khawatir lagi." Ucap Sasuke.
Eh? Apa hanya itu saja? Dia sedang mengujiku rupanya.
.
.
TBC
.
.
yo...! update lagi.
author emang author yang cukup konsisten untuk masalah update, kecuali fic author yang lainnya yang emang nggak ada janji bakalan update lancar, ehehehe. author tipe pemegang janji XD
sebenarnya author cukup sibuk dan memiliki sedikit waktu, tapi jika sedang senggang author akan melanjutkan fic ini, di kantor jika tidak ngapa-ngapain lagi, selama big bos nggak nongol di ruangan author XD author bakalan update dan setelah update biasanya buat chapter selanjutnya, jika tidak sempat kelar, setelah pulang kerja author bakalan selesaiin lagi pada malam harinya, ini karena author cukup pandai membagi waktu *alah padahal suka kelabakan*, wkwkwkw padahal author punya sebuah kesibukan lainnya saat di rumah, kenapa minggu tidak update? karena minggu adalah hari hadiah untuk author, tidak kerja, jadi di hari itu author bebas malas-malasan, telat bangun, jalan-jalan, ketemu teman-teman dan tidak nyentuh laptop, XD sedikit cerita setelah membaca salah satu review. XD
untuk alasan Sasuke dan seon kembali berhubungan lagi, uhmm...~ mungkin akan di bahas tidak lama lagi XD *spolier* pfff.
dan akhirnya pangeran Izuna tidak perlu menjaga jarak lagi, yeeeyy..., akan kah Sakura berbelok hati? XD *malah spoiler lagi* pfff...
.
okey, segitu aja yaa, nggak balas review lainnya, tapi mau terima kasih pakai banget aja sempatkan nge-review fic ini.
.
See you next chapter.
