Tittle: Elf

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Genre: Supernatural, Crime, Friendship

Rate: T

Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD

Enjoy...

Chapter 34,5: Case 5, Information Gathering

(Saturday, 07.00 a.m.)

Ketika pagi menjelang, biasanya Kuroko langsung bangun dan membersihkan diri. Kegiatannya dilanjutlkan dengan menyiapkan sarapan dan membereskan rumah (meski sebenarnya tidak ada yang perlu dibereskan). Setelahnya barulah ia berpakaian dan pergi ke sekolah.

Tetapi pagi ini berbeda, karena kali ini ia tidak bangun di kasur rumahnya. Begitu membuka mata, ia lebih memilih untuk tetap berbaring, mencoba mencerna segala hal yang terjadi belakangan ini. Rumahnya terbakar habis, ia terluka, bertengkar dengan Akashi—hanya bicara sebenarnya—dan penculikan. Setelah kejadian berurutan tersebut, kini dirinya terbangun di kamar besar di rumah keluarga Akashi. Pemuda itu menyuruhnya tinggal di tempat ini bersama teman-temannya yang lain, karena keadaan yang mulai genting bagi Divisi Keajaiban.

Kuroko ingat ia dan Akashi sempat pingsan dan mengalami pengalaman supranatural dengan si anak di dalam kristal. Anak itu terlihat ingin memberitahukan sesuatu, tetapi sepertinya tidak bisa. Belum lagi pertemuannya dengan sang teman lama, dan beberapa hal lain. Banyak sekali informasi yang ingin ia beritahukan serta tanyakan kepada Divisi Keajaiban. Sepertinya ia harus siap capek mulut karena teman-temannya juga pasti menginginkan penjelasan.

Pemuda bersurai langit itu sudah merasa puas melamun. Ia segera bangkit dan membersihkan diri, kemudian keluar dari kamar kelewatan besar itu untuk menemui yang lain.

Semua Divisi Keajaiban beserta Akashi dan Kuroko kini berkumpul di ruang makan. Beruntung hari ini adalah akhir pekan, jadi mereka bisa sedikit bersantai. Hanya ada mereka bertujuh di ruangan itu, karena ayahnya Akashi sedang—masih—bekerja, dan para pekerja di rumah ini memilih untuk meninggalkan para pemuda itu sendirian.

"Kau baik sekali memperbolehkan kami menginap di sini, Akashi." Ujar Kagami setelah menelan rotinya yang ke tiga.

"Keadaan mulai genting sekarang. Musuh kalian juga sepertinya semakin agresif. Akan lebih baik jika kita terus bersama." Jawab Akashi. "Dan untukmu, Tetsuya, ini tidak gratis." Tunjuknya kepada pemuda yang lebih pendek.

"Sudah kuduga." Gumam Kuroko tidak ikhlas.

"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Dan pasti banyak hal yang perlu kau beritahukan kepada mereka." Sambung Akashi sambil memandang semua Divisi Keajaiban satu persatu.

"Kalau dipikir-pikir, kau juga harus memberitahukan beberapa hal kepada kami, Akashi." Celetuk Aomine sambil memainkan alisnya, yang secara tidak langsung membongkar rahasia yang ingin Akashi sembunyikan. Komentarnya itu tentu saja menarik perhatian yang lain kepada yang disebutkan namanya.

Oh, terkutuklah Aomine dengan kemampuan sensenya. Pikir Akashi.

Pemuda beriris dwiwarna yang kini menjadi perhatian memejamkan matanya sejenak sebelum bicara. "Ya, ada hal yang ingin kuberitahukan pada kalian, dan hal itu berhubungan dengan apa yang akan Tetsuya bicarakan dengan kalian."

"Pintar sekali ngelesnya." Gerutu Kuroko di tengah kunyahannya.

"Aku dengar itu, Otouto!" Ucapan Akashi sedikit membuat Kuroko berjengit.

Si pemuda bersurai langit menghembuskan napasnya panjang. "Lebih baik kita selesaikan dulu makannya. Lalu ke tempat yang tidak bisa dicuri dengar. Karena beberapa hal hanya boleh diketahui oleh kalian."

.

.

.

Ketujuh pemuda dengan rambut bak pelangi itu memilih untuk berkumpul di kamar Akashi. Alasannya sederhana, kamar Akashi sangat nyaman untuk bersantai, juga memberikan privasi yang cukup untuk mereka berbincang. Mereka memilih posisi wuenak masing-masing, Kise di atas ranjang Akashi, berdekatan dengan Murasakibara yang duduk di sofa ujung tempat tidur; Midorima memilih duduk di sofa di sudut ruangan dekat beranda, bersebelahan dengan empunya kamar (Aomine protes kalau kamar Akashi bahkan lebih luas dari rumahnya); Kagami memilih menyenderkan diri di meja belajar, dengan Kuroko duduk di kursi belajar yang sedikit berjarak dengan nakas; dan Aomine lebih merasa nyaman tengkurap di karpet di tengah ruangan.

"Ehem." Deham Kuroko tanda ia akan memulai penjelasannya. "Sebelumnya akan kuperkenalkan pemimpin kalian. Akashi-kun." Tangannya mengarah ke pemuda yang duduk bersidekap tangan. Seketika semua mata membola ke arah Akashi.

"Kau tidak harus memulainya dari sana, Tetsuya." Protes Akashi dengan suara tenang namun berbahaya. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membuka rahasianya. "Ya, aku adalah Vier. Pemimpin kalian. Dalam tanda kutip."

"Wah! Selamat bergabung Akashicchi!" Salam Kise yang entah kenapa riang.

Akashi yang heran memandang si pemuda kuning itu dan bertanya. "Kalian tidak kaget?"

"Kaget! Aku kaget!" Seru Kagami sambil mengacungkan tangan. Hal yang sama juga diucapkan oleh Midorima dan Murasakibara.

"Pantas saja auramu begitu berbeda." Ujar Aomine dengan meletakan jarinya di dagu. "Aku merasakan auramu itu panas."

"Tunggu! Aku tidak kaget kalau Aomine tahu, nodayo. Karena dia punya sense yang hebat." Sanggah Midorima. "Tapi, darimana kau tahu, Kise?"

"Baru-baru saja ssu. Ketika Kurokocchi masuk rumah sakit. Waktu membicarakan liontin yang menyebabkan kebakaran itu, entah kenapa kuperhatikan raut wajah Akashicchi berubah. Dan sekilas aku melihat ada percikan api di ujung jarinya ssu. Jadi kutanyakan soal itu ke Kurokocchi dan dia mengiyakan." Jelas Kise yang menggaruk pipinya.

"Baiklah, akan kulanjutkan." Kuroko menyambung penjelasannya setelah disela. "Akashi-kun memiliki kemampuan api dan kemampuan alternatif melihat visi."

"Karena itulah dia menjadi pemimpin." Gumam Murasakibara yang mulai memahami alurnya.

"Aku tidak pernah mengiyakan untuk menjadi pemimpin kalian!" Sanggah Akashi.

"Mohon bantuan kalian untuk membujuknya." Canda Kuroko sambil menunduk, sedikit menyindir si pemimpin. Merasa disindir, si rambut merah hanya mendengus tidak suka. "Cukup sampai di situ perkenalan Akashi-kun. Kalau ada yang ingin ditanyakan, silakan bertanya kepada yang bersangkutan." Sambungnya. "Selain Akashi-kun, aku juga ingin memperkenalkan Eins dan Zwei secara resmi kepada kalian."

"Itu juga kami sudah tahu. Haizaki Shougo dan Ogiwara Shigehiro kan?" Sahut Aomine.

"Benar. Tapi perlu diwaspadai, meski mereka merupakan bagian dari kalian, tapi mereka berdua adalah musuh kita yang sebenarnya." Jawab Kuroko.

"Ogiwara memang sudah jelas musuh kita." Sambut Kagami. "Tapi Haizaki tidak memihak siapapun kan?"

"Disitulah intinya, Taiga." Akashi menyahut. "Aku dan Tetsuya sempat membicarakan ini, dan nyatanya Haizaki Shougo adalah bos dari Shigehiro sendiri, Odin."

"Yang benar!?" Seru mereka yang tidak tahu.

"Ya." Kuroko mengangguk. "Kami secara resmi bertemu pada kejadian di hotel itu."

"Tapi kenapa dia malah melawan kita?" Tanya Murasakibara.

"Itulah yang ingin kubahas. Dari gerak-gerik mereka, sepertinya ada hal besar yang mereka rencanakan. Kelompok mereka bukan sekedar kartel narkoba, human trafficking, ataupun penelitian ilegal. Dari yang kuselidiki, cara mereka menjalankan 'bisnis' itu seperti setengah matang dan hanya main-main. Kemungkinan itu hanyalah pengalih perhatian agar tujuan utama mereka tidak terendus oleh kita." Jelas si rambut langit. "Yap. Semua kasus yang kita tangani berhubungan dengan Hebi Nii-san."

"Tunggu, siapa? Hebi?"

"Maksudku Haizaki Shougo." Deham Kuroko malu-malu. "Dulu aku sering memanggilnya begitu."

"Hee.. jadi kau sudah lama kenal dengan Shougo?" Tanya Akashi dengan nada santai.

"Iya. Aku, Ogiwara-kun dan Heb—Haizaki-kun sering bermain bersama ketika kami kecil."

"Dan kau tidak pernah memberitahu kami, Tetsu." Sungut Aomine.

"Aku sudah pernah memberitahu kalian kalau Ogiwara-kun adalah anak angkat dari Nijikata-san—pemimpin generasi sebelumnya. Secara otomatis kami sudah saling mengenal sejak kecil. Dan untuk Haizaki-kun, aku tidak mengenalinya karena penampilannya berubah drastis, dan dia tidak menua."

"Memang dulu dia seperti apa ssu?" Tanya Kise penasaran. Sedikit banyak ia berdoa agar penampilannya dulu sangat jelek agar bisa menjadi bahan ejekan.

Kise bisa jahat juga ternyata.

"Dulu dia rambutnya gimbal berwarna hitam. Makanya kupanggil Hebi(Ular). Selain itu dia jauh lebih tua dari kita, entah berapa tahun." Kuroko mencoba mengingat-ingat. "Dan kami tidak pernah menyebutkan nama asli. Kami saling memanggil dengan nama kecil."

"Jadi itu alasan dia memanggilmu Sora? Karena warna rambutmu, nodayo." Gumam Midorima yang sejak tadi tidak banyak bicara.

"Begitulah." Jawab Kuroko sambil mengangkat bahu.

"Lalu, kau bilang tadi kerjaan mereka selama ini cuma setengah-setengah. Gimana dengan penculikan kali ini?" Murasakibara yang mulai mengikuti arus pembicaraan pun bertanya.

Kali ini bukan Kuroko, melainkan Akashi yang menjawabnya. "Tujuan mereka memang murni untuk merekrutku menjadi bagian dari mereka. Seandainya saja mereka tidak salah culik waktu itu, aku mungkin masih berada dalam genggaman mereka."

"Mengingat tindakan mereka cukup berani, mereka pasti akan melakukan segala cara agar kau tidak bisa pergi." Sambung Kagami.

"Maksudmu dengan mencuci otaknya?" Tanya Aomine sangsi. "Lucu sekali, padahal Akashi adalah keluarga yang mampu memberi perintah kepada para Demon. Dan mereka malah ingin memerintahnya."

"Tapi, kalau mereka menggunakan narkoba yang pernah diberikan pada Murasakibara bisa saja itu terjadi, nodayo." Ucap Midorima yang membuat mereka semakin merenung.

"Tapi bukannya narkoba itu terbatas pada tubuh manusia seperti darah, daging, dan organ, ssu? Sedangkan Akashicchi adalah pemakan jiwa."

"Tapi kalau Hebi dan Ogiwara-kun bisa menyempurnakannya, maka hal itu mungkin saja."

Ketujuh pemuda itu terhenyak dengan spekulasi yang mereka diskusikan. Tidak disangka, keadaan ini jauh lebih berbahaya dari yang mereka duga. Bahkan musuh mereka bukanlah orang sembarangan. Bisa dibilang mereka seharusnya rekanan.

Di tengah renungan itu, Akashi menggumam. "Tidak ada pilihan lagi selain mencari anak itu dan mengungkapkan segalanya."

"Anak… itu?" Tanya Midorima dengan mata menyipit.

"Ketika aku pingsan setelah menyentuh Tetsuya, aku mendapatkan visi mengenai seorang anak yang berada di dalam kristal. Dia mengatakan sesuatu seperti jawaban atas segala pertanyaan." Jawab Akashi memandang teman-temannya satu persatu. "Anak itu juga mengatakan aku telah memasuki alam bawah sadar mereka. Dan saat itu hanya ada aku, dia, dan Tetsuya." Kali ini pandangannya fokus kepada Kuroko.

"Ya, aku sering bertemu dengannya dalam mimpi. Kukira itu pengaruh sihirku yang terkunci, jadi kubiarkan saja. Awalnya kami bahkan tidak bisa saling berkomunikasi, tetapi semakin lama suaranya jadi semakin jelas. Dan itu bersamaan dengan bangkitnya kekuatan kalian semua."

"Dia juga mengatakan bahwa semuanya sudah bangkit, dan aku yakin yang dia maksud adalah semua Divisi Keajaiban." Sambung Akashi. "Tetsuya, mungkin dia memang sengaja menunggu kami semua membangkitkan kekuatan hingga akhirnya bisa memberikan jawabannya."

"Tapi kenapa harus menunggu selama itu, nodayo? Kenapa tidak langsung diberikan kepada Kuroko, kemudian disampaikan kepada kita?"

"Sepertinya itu karena dia tidak bisa ssu." Tanggap Kise. "Dia pasti membutuhkan kekuatan besar untuk menghubungi Kurokocchi. Dan kekuatan kita yang dekat dengan Kurokocchi memungkinkannya untuk mengontak dunia luar secara bertahap."

"Tapi kalian bilang dia terjebak di dalam kristal." Ucap Aomine. "Bagaimana caranya dia bisa menghubungi kalian menggunakan pemikiran seperti itu? Tidak, bahkan meski tidak terkurung pun aneh sekali seseorang selain keturunan Akashi bisa memasuki pikiran orang lain. Bahkan Akashi pun hanya bisa sampai membaca pikiran, bukan saling bicara." Pemuda tan itu menjelaskan asumsinya panjang lebar.

"Masih ada dua kemungkinan." Kali ini Kagami yang memberikan pendapatnya. "Dia bisa menggunakan sihir, atau itu kemampuan alternatifnya. Tapi kita semua tahu kalau Kuroko adalah satu-satunya penyihir yang tersisa."

"Kalau kemampuan alternatif, berarti maksudmu dia salah satu dari kita?" Tanya Aomine.

"Bisa saja kan?" Seru Kagami. "Jika dihitung-hitung, ada Eins, Zwei, Vier, Fünf, Sechs, Seiben, Neun, dan aku, Zehn. Masih ada dua yang kurang."

"Benar juga. Dan seharusnya jumlah kita ada sepuluh." Gumam Aomine.

"Tapi—"

Murasakibara terlanjur memotong ucapan Kuroko. "Jadi dia menghubungi Kuro-chin menggunakan kemampuannya agar kita menyelamatkannya? Dan agar kita bisa mendapatkan jawaban kita."

"Aku yakin alasan dia dikurung di dalam kristal itu karena dia tahu segalanya ssu. Bahkan anggota terakhir kita juga mungkin dia tahu ssu!" Seru Kise semangat. "Baiklah, jadi judul misi kita selanjutnya adalah 'Menyelamatkan Sang Putri dari Menara'!"

"Sejak kapan misi kita punya judul?" Gumam Aomine.

"Semuanya—"

"Jangan girang dulu, Kise. Kita bahkan tidak tahu dimana dia dikurung dan oleh siapa, nodayo."

"Odin."

Ucapan singkat Akashi lantas membuat yang lain terkejut.

"Hah?"

"Anak itu sempat menyebutkan nama Odin. Artinya dia ada di tangan si Shougo itu."

"Ja-jadi, Selama ini Haizaki terus mengurungnya di dalam kristal?" Gagap Kagami. "Sial! Ternyata dia berada selangkah di depan kita." Geramnya.

"Masuk akal. Kristal tempat anak itu terkurung pun pasti dibuat oleh Ogiwara menggunakan kekuatannya." Sahut Aomine.

"Baiklah!" Ucap Akashi tiba-tiba dengan suara lantang, membuat seluruh perhatian tertuju pada pemuda bermata dwiwarna itu. "Mulai sekarang kita akan memfokuskan misi kita untuk mencari keberadaan Odin dan anak di dalam kristal. Kami keluarga Akashi akan membantu Divisi Keajaiban semaksimal mungkin, dan aku akan berperan aktif bersama kalian.

"Tapi!" Akashi berseru. "Tugasku hanyalah sebagai perwakilan Akashi, bukan pemimpin kalian." Ujar Akashi memperingatkan.

"Meski begitu, Kami akan selalu menunggumu memimpin tim ini, Vier (Empat)." Kuroko menyahut mantap, yang dibalas anggukan yakin oleh yang lain. "Aku akan mengumpulkan bantuan lain, kita membutuhkan informasi sebanyak mungkin dalam waktu singkat."

"Tolong ya, Tetsu."

"Akhirnya semua ini segera mencapai klimaksnya, nodayo."

.

.

.

Ketika Divisi Keajaiban membicarakan rencana mereka, di suatu lorong panjang seorang pemuda bersurai perak berlari dengan cepat menyusuri lorong sepi dan dipenuhi warna putih itu. Pemuda itu berlari dengan napas terengah, dari raut wajahnya terlihat bahwa ia merasa panik dan kesal.

Ketika sampai di ujung lorong, tanpa menunggu lama Odin, pemuda itu, memasukkan kunci kombinasi yang rumit pada dua buah pintu besar dengan sangat cepat. Pintu tersebut otomatis terbuka dan ia segera melesat ke tengah ruangan tersebut, mendekati kristal besar dengan tidak sabar. Sesaat ia berdiri mematung menatap anak yang terkurung di dalamnya. Anak itu diam, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tetapi hal itu sepertinya malah membuat Odin semakin murka.

Dengan tangan berubah menjadi logam, Odin meninju kristal itu dengan penuh amarah—meski hal itu tidak memberikan efek apapun pada kristal tersebut. Giginya bergemelatuk dan mata tajamnya tidak lepas memandang wajah seperti-tidur anak itu.

"Apa yang kau lakukan, berengsek?" Tanyanya dengan menggeram.

Anak itu diam, tetap dalam posisinya selama terkurung di dalam kristal tersebut. Seolah dia sebuah boneka yang dipajang di dalam museum.

"Kekuatanmu merembes banyak sekali. KAU PIKIR AKU TIDAK MENYADARINYA!? DASAR TIDAK BERGUNA!" Teriak Odin murka, sekali lagi meninju kristal yang mengurung sekaligus melindungi si anak.

Tetap diam dan terpejam. Anak itu tetap melayang di dalam krsital tidak peduli sekasar apapun Odin mengeluarkan sumpah-seapahnya.

"Kau memanggilnya kan?" Nada Odin kembali turun. "Kau pasti memanggil peri kecil itu. Heh! Ingin menyelamatkan diri ya?" Wajah pemuda itu mendekat, seolah-olah membisikkan sesuatu. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih bahkan meski terlapisi besi "Tidak akan kubiarkan kau dan dirinya bertemu, tidak hingga aku selesai denganmu. Meski itu artinya aku harus membunuhnya dan anggota Divisi Keajaiban, meski itu akan mengacaukan seluruh rencanaku. Oh, tidak. Aku masih bisa menjalankannya meski mereka mati. Dan percayalah, itu adalah hal terakhir yang ingin kau lihat ketika kau membuka matamu lagi."

Setelah mengatakan ancaman bertubi-tubi tersebut, Odin berpaling dan meninggalkan anak itu sendirian. Tanpa menyadari bahwa dada anak itu memancarkan bulatan cahaya yang kemudian terbang menghilang.

Case 5: Finished

.

.

.

TBC

A/N:

Chapter ini saya kategorikan sebagai sub-chapter karena pendek dan cuma sebagai penjelasan chapter sebelumnya.

Kali ini saya double update, jadi saya ngemeng panjang lebar di chapter satunya.

Akhirul kata…

RnR please…

Balasan untuk yang tidak pakai akun

SakuraiKonami

Waaaai! senangnya.. lama tidak jumpa…

Yah.. namanya juga Ogi.. dia gak pernah serius emang..

Iyup! Dari awal sudah saya rencanain. Bedanya usianya saya ubah dikit..

EmperorVer

Terima kasih… selamat datang di Elf…

Kebetulan hubungan antara keduanya akan terungkap di kasus ini..

Gak apa-apa… yang penting Emperor-san senang… (emot senyum sambil kedip)

(Re: tinggal gambar emotnya aja kan? Gak perlu ditulis..

Nozo: Males ane)

Name rara

Ini dia lanjutannya… (lope lope)