Lanjut...
WARNING: Slight violence, CHARACTER DEATH
Setelah perjalanan panjang yang menyiksa itu, Yangmei akhirnya tiba di kemah Wu. Meski begitu, ia sama sekali tidak berharap akhirnya ia harus sampai di sana. Justru sebaliknya, ia berharap bisa dimana saja asal tidak perlu bertemu dengan orang-orang Wu. Apa yang harus ia katakan pada mereka? Apa ia harus mengaku lagi bahwa kali ini Lu Xun tertangkap gara-gara dirinya? Bahkan kalau boleh, Yangmei memilih saat ini untuk berada bersama Lu Xun, dimana pun ia berada, bahkan jika ia berada di neraka sekalipun. Selama perjalanan itu ia berusaha mengambil jalan terjauh dan terpanjang, tetapi juga yang teraman yang ia tahu tidak mungkin ada musuh yang berjaga.
Namun, alangkah kagetnya menemukan kemah itu kosong melompong. Yang ada hanya beberapa gelintir prajurit penjaga yang memang sengaja ditugasi untuk menjaga kemah itu kalau-kalau ada penyerangan mendadak dan mereka harus menyampaikan pesan. Putri Wu itu kaget melihatnya, tetapi prajurit-prajurit itu terlihat lebih kaget lagi.
"Putri?" Seru prajurit-prajurit itu seraya menghampirinya. Dari mata mereka Yangmei tahu sesuatu yang buruk telah terjadi. Belum habis kesedihannya, sekarang ia akan mendengar kabar buruk lagi.
"Ada apa?" Tanya Yangmei sambil menoleh sekelilingnya. "Mana yang lain? Mana papa dan mama?" Kepanikan semakin terdengar di suaranya.
Belum prajurit-prajurit itu akan menjawab, mereka mendengar suara derap kaki di luar. Derap kaki yang lambat dan sama sekali tidak bersemangat. Semuanya langsung menoleh ke arah gerbang perkemahan, dan begitu melihat angkatan perang Wu yang masuk, Yangmei langsung berlari menghampiri mereka. Di depan adalah Zhou Yu yang terlihat lelah sesudah perang itu. Namun yang lebih terlihat adalah kesedihan dan keputusasaan. Bukan hanya Zhou Yu, semua orang di sana pun memiliki ekspresi yang sama.
"Paman Zhou!" Seru Yangmei. Saat Zhou Yu mengangkat kepalanya, ia kaget bukan buatan melihat putri yang deminya sampai seluruh angkatan perang Wu digerakkan sekarang selamat di kemahnya. "Ada apa? Mana papa dan mama?"
Begitu melihatnya, tentara dalam angkatan perang itu saling berbisik. Yangmei tahu mereka marah ketika melihatnya, tetapi tidak tahu alasannya kenapa, dan tidak mau tahu kenapa. Zhou Yu sendiri hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Yangmei berusaha berpikiran positif. "Paman Zhou, papa dan mama dimana?" Ulangnya.
Penasihat itu hanya bisa menghela nafas. Ia mati kata. Ingin rasanya ia menyalahkan keponakannya itu atas apa yang terjadi. Tetapi ia tahu Yangmei sendiri sekarang butuh penghiburan. Terutama sesudah dilihatnya Lu Xun tidak bersamanya. Dugaannya tepat. Lu Xun pasti tertangkap saat menyelamatkan Yangmei. Dengan begini, Yangmei sudah kehilangan tiga orang terpenting dalam hidupnya.
"Paman?" Melihat Zhou Yu yang tidak berkata apa-apa, Yangmei seperti bisa menebak apa yang terjadi. Matanya mulai berair. "Ada apa sih sebenarnya?"
Akhirnya, Zhou Yu mulai menjelaskan dengan suara yang serak dan berat. "Meimei... Tahukah kau? Saat kau tidak ada di sini, Lu Xun telah meninggalkan kemah tanpa sepengetahuan siapapun untuk menyelamatkanmu?" Sesudah Yangmei mengangguk, baru Zhou Yu melanjutkan. "Tindakan Lu Xun yang sungguh berani dan tidak mementingkan dirinya sendiri itulah yang menggerakkan ayahmu untuk memimpin penyerangan besar pada Wei. Tapi penyerangan itu sama sekali tanpa persiapan."
Sampai di situ Zhou Yu berhenti. Untuk pertama kalinya, Yangmei sudah bisa menebak apa yang ada dalam kepala pamannya itu. Tapi ia tidak mau mempercayainya, tidak sebelum ia mendengarnya dengan telinganya sendiri. "Lalu... dimana papa dan mama sekarang, paman?"
Dari sudut mata Zhou Yu, air mata mengalir. Tetapi penasihat itu cepat-cepat menyekanya sebelum Yangmei melihatnya. Meskipun begitu, Yangmei tidak sebodoh itu. Gadis itu sekarang sudah tahu. Gadis itu tahu benar pamannya yang pintar mengendalikan emosi tidak akan menangis, kecuali jika ada sesuatu yang berat yang menimpanya. Terutama jika seseorang yang dikasihi telah tiada. Hanya itu saja.
Tanpa mempedulikan orang-orang yang melihat wajahnya sekarang berderai air mata, Yangmei menjerit sekuat-kuatnya. "TIDAK! PAPA! MAMA!"
Pekarangan benteng Wei masih hening.
Sun Ce tidak berkata apa-apa, begitu juga Cao Pi, Sima Yi, dan semua orang yang ada di dalam benteng itu.
Mirip, mirip sekali. Tatapan mata Sun Ce yang menantang itu mirip dengan mata Yangmei, pikir Cao Pi dalam hati. Buah memang tidak mungkin jatuh jauh dari pohonnya. Mengapa Pangeran Wei itu masih diam saja, tidak ada yang tahu. Pada faktanya, seluruh anak buahnya sepertinya tidak ada yang berani dengan Kaisar Wu ini, mungkin karena auranya yang penuh otoritas sebagai kaisar masih terasa meskipun ia sekarang sudah tertangkap.
Sesudah menghancurkan jembatan Xiao Shi, untuk beberapa waktu yang tidak lama terjadi pertarungan mati-matian antara Sun Ce beserta para prajurit Wu yang terjebak dalam istana itu dengan prajurit Wei yang sudah bersiap di benteng. Tak bisa dihindari lagi, akhirnya Sun Ce pun berhasil ditawan dan dibawa ke benteng utama Wei di sebelah barat laut. Cao Pi hanya bisa diam sambil berpikir, betapa mirinya cara Sun Ce tertangkap dengan Lu Xun. Bedanya, Lu Xun melakukannya dengan sengaja. Jangan-jangan, rencana Sima Yi ini pun idenya berdasarkan apa yang terjadi pada Lu Xun.
Sementara Kaisar Wu itu, entah apa yang dirasakan Sun Ce sekarang, tetapi ia akhirnya buka mulut juga. "Jadi," Katanya dengan nada bosan, sama sekali tidak ada ketakutan. "Kau mau apa? Membuang waktu saja."
"Kau jangan seponggah itu." Balas Cao Pi sama-sama santainya. Ia sempat kaget melihat kesantaian Sun Ce yang sama sekali tidak peduli kalau ia bisa dibunuh sewaktu-waktu. "Sebaiknya kau jaga mulutmu, Kaisar Sun Ce dari Wu."
Menanggapinya, Sun Ce tertawa. "Menjaga lidahku? Buat apa? Dasar manusia tidak tahu adat. Apa kau kira aku yang seorang kaisar ini harus tunduk padamu? Potong lidahku kalau kau mau, tapi kau tidak akan pernah bisa memerintahku!"
Cao Pi hanya menyeringai saja tanpa berkata apa-apa sambil menyembunyikan kedongkolannya. Berhadapan dengan orang-orang Wu yang pemberani dan tidak takut mati ini ternyata susahnya seperti mengeringkan sungai Huang He. Ia berbalik, kemudian bergumam cukup keras sehingga Sun Ce dapat mendengarnya. "Sebenarnya aku berharap akan lebih banyak lagi orang yang tertawan, tetapi rupanya sekarang hanya kau seorang saja yang ada di sini. Biarlah. Toh cukup kau yang melihatnya."
"Melihat?" Sun Ce bertanya ulang, memastikan apakah pendengarannya salah atau tidak. "Melihat apa?"
Kali ini, gantian Cao Pi yang tertawa. Tetapi dalam tawa itu ada sesuatu yang mengerikan, yang bisa membuat siapapun merinding mendengarnya. Untunglah yang ada di tempat itu adalah Sun Ce, seorang Kaisar Wu yang pemberani. "Tentu saja melihat sesuatu yang menarik, Yang Mulia Kaisar Sun Ce dari Wu." Katanya dengan nada mengejek. "Seumur hidup kau menjadi kaisar, berapa banyak tontonan yang sudah kau saksikan? Apakah semuanya menarik?" Tanyanya, yang hanya ditanggapi Sun Ce dengan dahi mengerut karena bingung. "Percayalah, dari seluruh yang pernah kau lihat itu, tidak mungkin ada yang semenarik ini."
"Kau sebenarnya ingin menyampaikan apa?" Tanya Sun Ce tidak sabar. "Cepat perlihatkan pertunjukkan yang kau bangga-banggakan itu! Di Wu kami punya segudang pertunjukan yang pasti lebih menarik!"
"Oh!" Cao Pi pura-pura terkejut. "Rupanya anda sudah tidak sabar, bukan? Baiklah, tidak perlu membuang waktu lagi." Kemudian ia memanggil Sima Yi, kemudian membisiki sesuatu pada penasihatnya itu sebelum penasihatnya berlalu dan masuk ke dalam bangunan benteng Wei. Semakin lama Sun Ce semakin penasaran saja.
Akhirnya, kecurigaannya itu terjawab juga saat melihat Sima Yi akhirnya keluar. Tetapi apa yang dilihatnya tentulah bukan apa yang ingin dilihatnya. Sun Ce menatap dengan mata tidak percaya bercampur ngeri saat melihat siapa yang digiring keluar dan dalam kondisi apa ia sekarang.
Itu adalah Lu Xun, kekasih Yangmei dan calon menantu sekaligus ahli strateginya. Alangkah kacau hatinya saat melihat Lu Xun diseret keluar. Ahli strategi muda itu berjalan dengan langkah tertatih-tatih, matanya terus menatap ke bawah. Dengan kondisinya yang seperti itu, Sun Ce bingung akan dua hal. Pertama, bagaimana Lu Xun masih bisa bertahan hidup dengan tubuhnya yang seperti itu. Kedua, bagaimana para prajurit itu, atau siapapun orang Wei yang ada di sana, tega memperlakukan Lu Xun seperti itu?
Sebelum Sun Ce sadar dari lamunannya, Lu Xun sudah didorong ke hadapan Sun Ce hingga ia jatuh berlutut. Prajurit-prajurit itu menertawakannya. "Bagaimana? Bukankah kau sendiri yang bilang hanya akan berlutut dihadapan kaisarmu sendiri?" Mereka melontarkan ejekan-ejekan lainnya.
Lu Xun tetap diam, tidak membalas maupun melakukan perlawanan apapun. Bahkan orang bodoh sekalipun tahu Lu Xun tidak akan sanggup melakukannya dengan tubuh seperti itu. Bisa tetap hidup saja sudah luar biasa. Sun Ce melihat Lu Xun di hadapannya. Tubuhnya berdarah kiri-kanan, sungguh tidak seperti manusia lagi. Tangannya diikat di belakang punggungnya menggunakan sulur tanaman berduri, yang akan bergesekan dan menusuk kulitnya jika ia bergerak barang sedikitpun. Ujung-ujung rambutnya basah oleh darah, dan meneteskan cairan merah itu sampai mengalir membasahi wajahnya atau langsung jatuh ke tanah. Rambut yang tadinya berwarna coklat hampir menjadi merah.
"Lu Xun..." Sun Ce menghampirinya, tetapi dua orang prajurit menyilangkan tombak di antara dirinya dan Lu Xun. Saat mendengar namanya disebut, Lu Xun memberanikan diri menatap Sun Ce. Wajah Lu Xun saat itu... bahkan mungkin di kehidupan mendatang akan tetap terbayang di kepala Sun Ce. Dari pelipisnya darah mengalir, membuat separuh wajahnya tertutup darah. Bibirnya pecah, wajahnya kotor oleh tanah, debu, keringat, dan sebagian besar adalah darah. Namun yang paling menusuk adalah tatapannya. Dalam sorot matanya ada berbagai macam perasaan yang ingin diutarakan. Penyesalan, kekecewaan, perasaan gagal dan bersalah, perasaan dipermalukan. Tetapi pada saat yang sama juga adalah ketulusan, kelegaan... Bagaimana sesuatu yang ironis seperti ini bisa terjadi? Apa yang dipikirkan Lu Xun sebenarnya?
Kesempatan Sun Ce untuk menatap Lu Xun tidak lebih dari sedetik saja, namun ia sudah menangkap banyak hal. Sekali lagi Lu Xun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sun Ce yang melihatnya tidak dapat menahan amarahnya lagi. Giginya menggertak, tangannya ia kepalkan sampai putih seluruhnya. "Cao Pi!" Bentaknya. "Kau bajingan busuk! Bagaimana ada orang yang sebiadab kau di dunia ini? Apa yang membuatmu melakukan hal begini kejam pada Lu Xun? Apa salahnya padamu? Yang menolakmu adalah aku! Bukan dia!" Volume suaranya meningkat, tetapi Cao Pi tidak terintimidasi.
"Memang dia tidak salah apa-apa." Balasnya ringan. "Kuberitahu. Yang membuat semua kesalahan adalah kau dan putrimu itu, tetapi dia yang menanggung resikonya. Jadi, jangan menyalahkan kami."
Sun Ce sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menghela nafas sambil menatap Lu Xun dalam-dalam. "Aku ini seorang kaisar, harusnya bisa menjadi pengayom bagi Wu. Tak tahunya sekarang Lu Xun sendiri yang mengalami ini semua..." Gumamnya. "Kenapa harus Lu Xun yang mengalami? Kenapa bukan aku saja? Dia masih begini muda, masih banyak hal yang bisa diraihnya..." Keluhnya penuh penyesalan.
"Kesalahan yang kau perbuat sudah banyak hingga menyebabkannya begini." Sahut Cao Pi lagi. "Kau berani menginjakkan kaki di Xu Chang, kau telah berani menolakku, kau membunuh utusanku, bahkan kau berani menantangku untuk perang!" Suaranya keras, namun tetap bernada merendahkan. "Tetapi di atas segalanya, kesalahanmu yang terbesar adalah memilih menantu seperti dia!"
Kata-kata itu menusuk baik Sun Ce maupun Lu Xun. Saat mendengarnya, Lu Xun semakin menunduk, matanya ia tutup rapat-rapat, takut memandang sekelilinya. Sun Ce, sebaliknya, menuding Cao Pi penuh amarah. "Biadab! Kenapa harus menyesal memiliki menantu seperti dia?"
"Yang Mulia..." Rintih Lu Xun pelan. Suaranya bergetar. Ia sudah tidak tahan mendengar kata-kata itu. Pembelaan dari kaisarnya sendiri hanya akan membuatnya semakin malu saja. "Cao Pi memang benar... aku... aku telah mempermalukan Wu... aku gagal menjaga Meimei... aku... mengecewakan Yang Mulia..." Suaranya tersendat-sendat. Untuk setiap perkataan, ia harus menghirup nafas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Bahkan dia sendiri mengakuinya..." Celetuk Cao Pi.
Sun Ce sama sekali tidak menghiraukannya. Kali ini ia tidak takut dengan dua tombak yang disilangkan di depannya. Segera ia singkirkan kedua prajurit yang menghalanginya, kemudian mendekati Lu Xun dan berlutut di atas satu lutut.
Mula-mula ia melepaskan ikatan di tangan Lu Xun. Ketika tangannya tertusuk sebuah duri, sadarlah ia betapa tajamnya duri tanaman tersebut, dan betapa sakitnya pergelangan tangan Lu Xun yang terikat erat dengan tanaman itu. Membayangkannya saja membuat Sun Ce merinding.
Setelah melepaskan tangannya, Kaisar Wu itu meletakkan kedua tangannya di kedua belah pipi Lu Xun yang basah, kemudian mengangkat wajahnya. Sun Ce memandang sepasang mata emas Lu Xun. Entah kenapa saat itu, untuk pertama kali setelah waktu yang sangat lama, ia ingin menangis. Apa yang dialami Lu Xun sebenarnya tidak pantas untuk ia jalani, tetapi ia bersedia menanggung semuanya itu. "Lu Xun..." Dengan satu tangan Sun Ce menahan tubuh Lu Xun agar tidak roboh. "Kau... kenapa bisa begini?"
Lu Xun menggeleng lemah, kemudian menjawab dengan suara yang sama lemahnya. "Yang Mulia... aku tidak pantas... menerima belas kasihan Yang Mulia... ini... salahku semuanya..."
Di tengah keadaan seperti itu, bukan hanya Cao Pi saja yang mengejek, bahkan Sima Yi pun ikut-ikutan. Hinaannya itu seperti racun yang tersembur dari mulut ular berbisa. "Syukurlah kau sadar, bocah! Kaisarmu itu tentu saja kecewa melihatmu seperti ini. Tidak hanya mempermalukan diri saja, tetapi juga seluruh Wu! Jadi, apa hanya ini saja kemampuan Wu?"
Tanpa menghiraukan komentar-komentar dari seluruh pasukan Wei, Sun Ce meraih Lu Xun, kemudian memeluknya seperti seorang ayah memeluk anaknya sendiri. Lu Xun terkejut bukan main, tetapi membiarkan tubuhnya ditopang oleh Sun Ce. Untuk sesaat lamanya, ia merasakan bagaimana rasanya punya seorang ayah.
Kejadian ini mengingatkannya pada kejadian tiga belas tahun yang lalu...
Kejadian waktu itu mirip. Ia sendirian di tengah musuh. Dan dalam kesendiriannya itu, ia ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Bahkan sampai mati pun mereka tidak pernah memberinya pelukan untuk menenangkannya. Jangankan memeluk, menyentuhnya saja tidak.
Tetapi kali ini beda. Dalam kesendiriannya, dalam perasaannya yang hancur akibat dipermalukan, dalam sekujur tubuhnya yang sakit, ia merasakan figur seorang ayah yang berusaha melindunginya. Tiga belas tahun lamanya ia menunggu seorang 'ayah', dan baru hari ini ia merasakannya. Tangisnya pun pecah saat itu juga.
"Kalian semua binatang!" Seru Sun Ce penuh kemarahan. "Apa kalian pikir aku harus menyesal punya seorang menantu sepertinya? Justru aku sangat bangga! Aku benar-benar bangga dan kagum, bahkan terharu melihat pengorbanan Lu Xun hari ini! Dia begitu melindungi Yangmei sampai disiksa begini pun ia tidak menolak! Bahkan dia begitu setia pada Wu! Memiliki menantu sepertinya adalah suatu berkah terbesar dari Tian! Apakah berkah harus kita tampik?" Suaranya yang menggelegar itu membuat seisi benteng Wei terkejut. Lu Xun yang mendengarnya sendiri tidak kalah terkejutnya, tetapi yang pasti hatinya menghangat karena kata-kata Sun Ce yang masih meninggikannya, walaupun orang-orang di sekelilinya merendahkannya begitu rupa.
Belum sempat Lu Xun mengucapkan terima kasih, lagi-lagi kali ini bajunya ditarik dan seketika itu juga ia lepas dari pelukan Sun Ce. Rupanya beberapa orang prajurit lagi-lagi ingin mempermainkannya, dan kali ini di depan kaisarnya pula. Sun Ce masih terkejut saat melihat Lu Xun yang tubuhnya sudah selemah itu masih dipaksa untuk berdiri, terutama kakinya yang berdarah-darah itu sepertinya tidak sanggup lagi kalau harus dipakai. Para prajurit itu membawa sulur tanaman berduri yang lain. Pada ujung tanaman itu sudah dibuat melingkar.
Dalam kekagetannya, Sun Ce mendengar Sima Yi bergumam pelan. "Pertunjukan yang benar-benar menarik, bukan?" Tanyanya pada Sun Ce. "Kurasa kau sangat menikmatinya." Sun Ce ingin sekali menolong Lu Xun, namun beberapa prajurit lain sudah mengepungnya dan membuatnya hanya bisa menyaksikan saja tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menolong.
Lu Xun menatap tanaman berduri yang dibuat seperti kalung itu dengan mata penuh ketakutan. Kedua tangannya direntangkan kuat-kuat oleh dua orang prajurit di sisi kiri dan kanannya, sementara seorang prajurit yang membawa kalung berduri itu berdiri di depannya. Dari balik prajurit itu, Lu Xun dapat melihat prajurit-prajurit lain membawa beberapa kantung, kemudian menaburkan isinya di atas tanah.
Dengan cepat prajurit itu mengalungkan tanaman berduri itu di leher Lu Xun, seperti seekor anjing yang lehernya diikat dengan tali. Sesaat sesudah itu, prajurit yang memakaikan kalung itu padanya menarik kuat-kuat ujung tanaman itu, dan tepat bersamaan dengan itu kedua prajurit yang lain melepaskan pegangan tangannya.
"Lu Xun!" Sun Ce berteriak saat melihat Lu Xun terjatuh ke tanah dan memekik pelan karena kesakitan. Kulitnya yang sobek akibat duri langsung mengeluarkan darah. Sementara Sun Ce melihatnya dengan penuh keterkejutan, para prajurit itu malah menertawakan Lu Xun yang berusaha untuk berdiri. Mereka sepertinya merasa asyik saat menarik tanaman itu agar Lu Xun berdiri.
"Ayo! Kau jangan malas begitu!" Ejek seorang prajurit. "Kalau aku punya anjing semalas kau, sudah kupotong dari awal kepalamu itu!"
Sun Ce tidak bisa mempercayai telinganya. Anjing? Apa itu sebutan mereka untuk Lu Xun? Kenapa mereka bisa sekejam itu? Pantaslah kondisi Lu Xun sampai seperti itu, rupanya mereka memperlakukannya lebih rendah daripada seekor anjing.
Mereka menyeretnya ke bagian tanah yang sudah ditaburi awalnya, dan tahulah Lu Xun bahwa yang telah ditaburkan di atas tanah itu adalah pecahan kaca dan paku serta benda kecil yang tajam lainnya. Belum pulih dari kekagetannya, kalung itu ditarik lagi. "Merangkak!"
Lu Xun menjatuhkan lututnya di atas tanah, kemudian tangannya ia gunakan untuk menyangga tubuhnya. Di hadapannya sekarang adalah hamparan tanah yang di atasnya telah ditaburi berbagai benda tajam, yang siap menusuk apapun yang mendarat di atasnya. Perlahan ia memberanikan diri untuk melirik ke arah Sun Ce yang masih belum pulih dari keterkejutannya, sementara Cao Pi dan Sima Yi menyaksikannya dengan wajah tertarik.
"Ayo! Jalan!" Seorang prajurit menyentak ujung tanaman itu hingga Lu Xun merintih kesakitan. Selama kalung itu masih diikatkan di lehernya, ia harus tunduk pada perintah prajurit itu, seperti seekor anjing yang dihukum jika tidak menurut. Pada akhirnya, Lu Xun memberanikan diri. Salah satu tangannya ia letakkan di atas tanah bertabur pecahan kaca dan paku itu. Begitu mendarat di atas tanah, telapak tangannya sobek, kemudian darah mengalir dan terserap ke dalam tanah.
Saat mendengar rintihan Lu Xun, Sun Ce jatuh di atas kedua lututnya. Kali ini, apa lagi yang akan dialami Lu Xun? Apa mereka belum puas menyiksanya? Dan... kenapa Lu Xun yang diperlakukan demikian dan bukannya dia saja? Tak terasa kedua tangannya mengepal kuat-kuat hingga kuku jarinya menusuk telapak tangannya, sepertinya ia pun berusaha merasakan kesakitan yang dialami Lu Xun. Di depannya, ia melihat Lu Xun berusaha tetap merangkak maju sementara prajurit-prajurit itu melontarkan sumpah serapah padanya.
Di tengah jalan, salah satu prajurit menarik tanaman itu, terlalu keras hingga Lu Xun jatuh tertelungkup di tanah. Tangannya tidak sempat lagi melindungi tubuh dan wajahnya dari benda-benda berujung runcing itu.
"Ini... gila..." Gumam Sun Ce. Matanya masih terbelalak lebar melihat kejadian di depan matanya itu. tanpa terasa olehnya, air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya, kemudian turun membasahi wajahnya sampai jatuh ke tanah. Semakin lama aliran air mata semakin deras, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya.
Saat Lu Xun mengerahkan segenap tenaganya untuk kembali dari posisinya semula, matanya bersirobok dengan mata Sun Ce yang menatapnya dengan mata berair. Lu Xun menutup matanya erat-erat, dan dirasakannya matanya pun mulai mengeluarkan air mata lagi. "Yang Mulia..." Desah Lu Xun dengan suara yang pelan. Syukurlah suara itu sampai ke telinga Sun Ce. "Tolong... jangan tangisi aku... aku melakukan ini semua... demi Meimei..."
Kenapa...? Sun Ce hanya bisa tertegun mendengar jawaban itu. Kenapa kau sampai melakukan itu? Mungkin kalau kau tidak keluar dan berusaha menyelamatkan Meimei, kau tidak akan mengalami hal-hal seperti ini. Dalam pikirannya, timbul berbagai macam tanda tanya.
Prajurit yang memegang ujung tanaman itu mulai tidak sabar, terutama saat mendengar kata-kata Lu Xun. Ia menarik kuat-kuat tanaman berduri itu, sampai membuat Lu Xun berdiri. Lu Xun memegangi tanaman itu kuat-kuat agar tidak mencekiknya. Kali ini Lu Xun berteriak kesakitan, hentakan yang tiba-tiba itu memaksa tubuhnya berdiri kalau tidak mau lehernya putus. "Ahhh...! J-jangan...!"
"Kau rupanya lebih suka dikerasi begini daripada yang gampang, ya?" Bentak prajurit itu sambil tetap menarik tanaman tersebut. Beberapa orang prajurit lain berusaha melepaskan genggaman tangan Lu Xun dari tanaman itu, dan dengan begitu membuat lehernya benar-benar tercekik oleh kalung berduri tersebut, yang tidak hanya dapat mencekiknya, namun melukai lehernya.
"T-tolong... lepas... lepaskan..." Erang Lu Xun lemah. Ia terbatuk-batuk, tangannya ditarik ke dua sisi oleh dua orang prajurit sementara dari belakang seorang yang lain menarik tanaman itu. Rasanya tubuhnya akan terlepas dari setiap tulang-tulangnya.
Sun Ce sudah tidak tahan lagi menyaksikan ini semua. Seberapa pun mereka menyiksa Lu Xun, mereka tidak akan puas sampai melihat ahli strategi dari kerajaan musuh itu mati. Sun Ce langsung bangkit berdiri, membuat beberapa orang prajurit yang mengepungnya tersentak kaget. Dengan sepenuh kekuatan, meskipun bertangan kosong, kaisar yang sedang kalap itu mendorong dan meninju setiap prajurit yang menghalanginya untuk menolong Lu Xun.
"Y-yang Mulia...!" Lu Xun berseru, tetapi seruannya itu nyaris tidak terdengar lagi.
"Lu Xun!" Sun Ce berlari menghampirinya.
Hampir. Hampir sekali...
Mata emas Lu Xun terbuka lebar saat melihat kejadian itu. Seorang prajurit menusuk Sun Ce dari belakang dengan tombaknya. Saat itulah gerakan Sun Ce terhenti. Mata tombak itu menembus baju perang Sun Ce, kemudian menancap di punggung kaisar itu sampai menembus lewat dadanya. Seketika itu juga darah tersembur dari tubuh dan mulutnya.
"YANG MULIA!" Saat itu juga, para prajurit melepaskan Lu Xun, dan tanpa perlu disuruh lagi Lu Xun mendekati Sun Ce, dengan sisa-sisa kekuatatannya. Sun Ce roboh ke tanah saat itu juga, tetapi mata dan mulutnya masih terbuka, menatap Lu Xun seolah masih ingin menyampaikan pesan terakhir padanya. Lu Xun mendekatinya, kemudian menopang kepala Sun Ce di atas satu lengannya. Air matanya berjatuhan membasahi baju Sun Ce.
Dalam saat-saat terakhirnya, Sun Ce tersenyum sambil menahan sakit. Tangannya ia angkat pelan-pelan, kemudian menggengam kalung berduri yang telah berlumuran darah yang masih melingkar di leher Lu Xun. Ia mengangkatnya, kemudian melemparkannya jauh-jauh. "Hei, Lu Xun..." Suaranya tersendat-sendat. "Aku... benar-benar tidak tahu harus berkata apa..." Katanya. "Aku benar-benar malu... Kau berbuat demikian banyak untuk Meimei,dan untuk Wu..."
"Yang Mulia!" Lu Xun menggelengkan kepalanya perlahan. "Kumohon jangan berbicara lagi... tusukan tombak itu tentulah sangat sakit..."
"Sakit?" Sun Ce tertawa, seolah ia baru saja mendengar sebuah lelucon. "Memang sakit, Lu Xun... tapi apa bisa dibandingkan dengan yang kau alami?" Tanyanya. Lu Xun hanya bisa menunduk dalam-dalam. "Kau sampai dihajar habis-habisan begini... padahal itu sama sekali bukan salahmu..."
"Tolong Yang Mulia jangan bicara begitu..." Balas Lu Xun. "Aku yang gegabah... aku berusaha menyelamatkan Meimei dengan kekuatanku sendiri... aku memang ceroboh... kalau aku tertangkap... aku pantas mendapatkan ini semua..."
Sun Ce menggeleng. "Samar-samar, Lu Xun, aku bisa merasakan sesuatu... Kami, aku dan seluruh angkatan perang Wu, tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan Meimei... Hanya kau seorang yang bisa... Membawa kami tidak ada faedahnya sama sekali..." Katanya dengan suara bergetar. "Tapi kau kan bisa memilih untuk tidak menolong Meimei? Bukankah lebih mudah bagimu?"
Kali ini Lu Xun tidak berani menjawab apapun. Sun Ce melanjutkan lagi. "Sebelum aku menutup mata, Lu Xun... tolong beritahu... kenapa kau melakukan ini? Kenapa... demi Meimei saja...? Pengorbananmu... untuk seorang Meimei... apa dia pantas mendapatkannya? Tolong katakan alasannya..."
Lu Xun menggigit bibirnya. Hal ini sama sekali belum pernah ia sampaikan. Yang ia sampaikan biasanya tidak bisa sepenuhnya menggambarkan isi hatinya. Kali ini sebelum Sun Ce pergi selamanya, ia akan mengakuinya, mengakui semuanya. "Yang Mulia... aku... aku benar-benar sayang pada Meimei... Aku tidak peduli apa yang dia lakukan untukku. Aku melakukannya bukan karena ia pantas mendapatkannya, tetapi karena aku menyayanginya! Itu saja! Itu yang membuat aku bersedia menyelamatkannya walau tahu resikonya..."
Sun Ce menghela nafas sambil mengangguk. Sepertinya ia sangat kagum dan puas akan jawaban Lu Xun. Sun Ce kemudian menatap langit yang tinggi, seolah jiwanya sekarang terbang ke sana. "Luar biasa, Lu Xun... Aku percaya... Meimei akan bahagia bersamamu... Kau sama sekali tidak memikirkan dirimu..." Kemudian sang kaisar menggenggam tangan Lu Xun erat-erat. "Tolong jaga Meimei... jaga Meimei baik-baik... Aku percayakan dia padamu..."
"Yang Mulia..." Lu Xun balik menggengam tangan Sun Ce yang mulai melemah genggamannya. Tangan itu semakin dingin, semakin kehilangan kehidupan. Lu Xun mengikuti mata Sun Ce yang memandang ke atas, ingin melihat apa yang dilihat Sun Ce.
Sun Ce sepertinya tahu apa yang Lu Xun inginkan. Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke atas langit senja yang berwarna emas kemerahan. Dalam benak Sun Ce terlintas lagi mimpinya beberapa tahun silam... sembilan tahun yang lalu... "Aku melihat, Lu Xun... Kau juga lihat, kan?" Katanya sambil melayangkan tangannya, semakin ke arah selatan. "Seekor Phoenix... terbang melintasi langit, membelah cakrawala... Kau dan Meimei... di atas punggung Phoenix itu..." Perlahan tangannya jatuh ke sisinya. "Ah... aku lelah sekali... sekarang aku bisa beristirahat..."
Saat ini, yang ingin dilakukan Lu Xun hanya berteriak, menangis sejadi-jadinya atas kepergian kaisarnya itu. Sun Ce sekarang sudah tiada... apa lagi yang akan terjadi sekarang? Kenapa? Kenapa ini semua harus terjadi? Lu Xun hanya bisa bertanya dalam hati, mengenang setiap hal yang telah dilakukan Sun Ce baik untuk Wu maupun untuk dirinya sendiri.
Kenapa semua orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya? Di dalam kesendirian dan ketakutan tengah sarang musuh pula?
Mula-mula para prajurit Wei hanya bisa tertegun, namun lama-lama mereka mulai melihat kemenangan besar dibalik kematian sang Kaisar Wu. Mereka mulai bersorak, kemudian tertawa menang sementara Lu Xun masih belum bisa menghentikan tangisannya. Tubuhnya sampai bergetar karena menangis. Luka-lukanya yang masih baru terasa perih tersentuh oleh air matanya.
"Kami sudah menepati janji kami, bukan?" Sahut Sima Yi tiba-tiba dari belakang Lu Xun. "Kami tidak akan membunuhnya perlahan, tetapi langsung dengan cepat saja." Suaranya santai sekali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun, atau setidaknya sedikit rasa empati.
"Kenapa?" Lu Xun masih menatap lekat ke arah Sun Ce yang telah menutup mata. "Kenapa Kaisar mempercayakan Meimei padaku? Aku sudah sangat ingin mati... rasanya aku gagal... satu-satunya yang tersisa untukku hanya kematian..."
Cao Pi berdiri di depan Lu Xun yang masih berlutut memegangi mayat Sun Ce. Pangeran Wei itu mengarahkan mata pedangnya tepat di leher Lu Xun, kemudian berkata sinis padanya. "Tugasmu sudah selesai, Lu Xun. Kau bisa menyusul kaisarmu sekarang." Ia tersenyum mengejek memandang Lu Xun yang hancur, bukan hanya tubuhnya tetapi juga hatinya. "Sayang sekali kau tidak bisa menjaga Yangmei sesuai keinginan kaisarmu."
Sima Yi yang dari tadi mengekor di belakang Cao Pi tiba-tiba membisikkan sesuatu padanya. Cao Pi kelihatannya mendengar dengan tertarik setiap kata-kata Sima Yi. Selesai berbicara, Sima Yi mengeluarkan sebuah botol dibalik jubahnya, kemudian memamerkannya pada Cao Pi. Cao Pi mengangguk senang melihatnya. Entah apa yang direncakan mereka sekarang.
"Baiklah, Lu Xun." Cao Pi menyarungkan kembali pedangnya. "Kau telah berbaik hati sekali mempertontonkan sebuah pertunjukan yang bagus, sehingga kami bisa memperlihatkan sesuatu yang menarik pada kaisarmu itu." Ejeknya dengan sinis. "Karena kami telah mendapat waktu yang menyenangkan bersamamu, kami memutuskan untuk tidak membunuhmu..."
"... tapi bukankah membosankan kalau hanya melepaskanmu begitu saja?" Lanjut Sima Yi dengan sebuah pertanyaan yang menakutkan, yang tidak bisa dijawab oleh Lu Xun sendiri. "Karena itu, kami ingin menghadiahimu sesuatu..."
Sekali lagi rambut Lu Xun dijambak dari belakang, kemudian ia dipaksa berdiri menghadap Sima Yi. Dua orang memegangi lengan atasnya erat-erat. Sima Yi berjalan mendekati Lu Xun, kemudian menunjukkan botol itu padanya. Botol itu tidak begitu besar, mungkin hanya sebesar kepalan tangan manusia yang bagian atasnya dibuat semakin sempit hingga ke bibirnya. Di dalamnya terdapat cairan berwarna hitam kebiruan, entah apa itu. Sima Yi membuka sumbat botol itu, kemudian mendekatkannya ke wajah Lu Xun.
"Kau tahu ini apa, kan?" Tanya Sima Yi. "Aku sangat ahli membuat segala jenis racun. Ini adalah penemuan baruku, sama sekali belum pernah dicoba, tetapi sepertinya kau bisa jadi bahan percobaan." Katanya. "Kalau sampai ramuan ini ternyata berhasil, bisa-bisa kau jauh lebih memilih mati."
Lu Xun menatap botol itu. Apalagi yang akan direncanakan Sima Yi sekarang? Racun yang melukai tangannya belum sepenuhnya hilang efeknya, kini tubuhnya akan dimasuki racun lain lagi. Tatapan matanya yang kosong menatap cairan itu, sepertinya ia sama sekali tidak peduli akan apa yang akan terjadi setelah meminumnya.
Sima Yi menyentuhkan bibir botol itu ke mulut Lu Xun. Lu Xun sama sekali tidak melakukan usaha apapun untuk berontak. Ia seperti anak kecil yang patuh ketika disuruh minum obat yang pahit. Sima Yi mengangkat kepala Lu Xun agak ke atas, kemudian menuangkan cairan itu dalam mulutnya. Benar, ternyata cairan itu sangat pahit, lidahnya sampai terasa mati rasa saat cairan itu memenuhi mulutnya. Tetapi yang paling menyakitkan adalah sesudah cairan itu masuk ke kerongkongannya. Entah kenapa kerongkongannya terasa seperti terbakar, seolah yang dituang itu bukan racun tetapi cairan kanji yang panas meletup-letup.
Saat Sima Yi berserta prajurit-prajuritnya tahu Lu Xun akan memuntahkan racun itu, mereka semakin kuat memeganginya. Lu Xun seperti meronta-ronta agar cairan itu tidak lagi dialirkan ke dalam tubuhnya, tetapi toh mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Sampai beberapa lama, akhirnya cairan dalam botol itu sepenuhnya habis, barulah Sima Yi memberikan isyarat agar mereka melepaskan Lu Xun.
Lu Xun langsung roboh ke tanah. Kepalanya seperti berputar-putar, tubuhnya terasa seperti terbakar. Ia mengerang kesakitan, kemudian batuk-batuk, berusaha memuntahkan apa yang telah diminumnya. Tetapi yang keluar dari mulutnya bukan racun itu melainkan darahnya sendiri. Ia bergulingan di atas tanah, berseru meminta tolong atau apapun yang ada di pikirannya.
Ia masih samar-samar dapat melihat Sima Yi, Cao Pi, dan beberapa prajurit lain memandanginya. Berbagai macam reaksi yang dilihatnya, ada yang tertawa mengejek, ada yang menyaksikannya dengan penuh minat, tetapi ada juga yang mulai merasa sedikit ngeri. Yang pasti, pengelihatannya semakin lama semakin kabur. Warna-warna dari orang-orang itu bercampur menjadi satu, seperti cat berbagai macam warna yang dituang menjadi satu, kemudian diaduk tak karuan, menjadi semakin kehilangan warnanya, menjadi semakin gelap, dan akhirnya hitam sama sekali.
Thnx for reading... ^^
BTW, maaf saya nggak bisa ngasih chap berikutnya... bukannya apa-apa, tapi chap berikutnya tuh menjelaskan apa yang akan terjadi sama Lu Xun. Dan kalo saya kasih tahu, pasti nggak seru lagi... Jadi, yah... tunggu sebentar, ya... ^^ Ntar Minggu saya update, kok... ^^ (soalnya Senin saya nggak bisa update, mau liburan sama temen2... XD)
(weewww... tega2nya saya membunuh Sun Ce n Da Qiao, bahkan sampe menyiksa Lu Xun kayak getu pula... *guilty feeling*)
