Disclaimer: One Piece adalah milik Oda-sensei.


XXXV

THIS TIME, AGAIN

Part 2

Chopper

Di usianya yang baru menginjak lima belas tahun, Chopper sudah termasuk jajaran dokter top. Menjadi murid dari Dokter Kureha dan sukses menemukan vaksin untuk penyakit langka membuat nama Chopper melambung dalam dunia kedokteran.

Chopper tak mempedulikan bisikan-bisikan iri yang mengikutinya. Ia sudah kebal. Hatinya sudah mati saat orang tuanya membuangnya beberapa tahun yang lalu karena menganggapnya anak yang aneh dan menakutkan.

Memang, semenjak kecilnya Chopper berbeda dengan anak biasa. Ia tak suka bermain di luar dan lebih suka membaca buku di dalam rumah. Saat berusia tujuh tahun, ia sudah selesai membaca seluruh buku-buku yang ada di perpustakaan tak jauh dari rumahnya.

Orang tuanya memang tidak membuangnya ke jalanan, tapi mereka meninggalkannya di sebuah panti asuhan dengan alasan mereka akan menjemputnya suatu hari nanti.

Tentu saja mereka tak datang, dan setahun kemudian Chopper diadopsi oleh pasangan eksentrik, Hiluluk dan Kureha.

Hiluluk adalah seorang ilmuan yang menghabiskan harinya untuk meneliti hal-hal yang kelihatannya tidak penting, seperti bagaimana mengubah salju menjadi pink, bagaimana mengubah warna daun di musim gugur menjadi biru, atau bagaimana caranya menggabungkan kemampuan hewan dengan manusia.

Kureha adalah seorang dokter yang terkenal. Kemampuannya tidak diragukan lagi, tapi ia dikenal memiliki kepribadian yang unik. Ia hanya akan mengobati siapapun yang menarik baginya atau bisa memberinya bayaran yang tinggi.

Tapi, walaupun menurut orang-orang mereka aneh, Chopper menyayangi orang tua angkatnya. Ia tahu Hiluluk sering meninggalkan makanan di depan pintu kamarnya saat Chpper sedang bekerja di malam hari, dan Dokter Kureha sering membelikannya permen kapas.

"Dokterin! Lihat reaksi ini! Aku berhasil menyempurnakannya!" Chopper memperlihatkan dua tabung yang sedang dipegangnya. Yang satu mengeluarkan asap pink, yang satu lagi mengeluarkan asap biru. "Dan aku juga yakin, aku bisa menggunakan serum kemampuan yang dibuat Dokter Hiluluk sebelumnya dengan aman."

Hiluluk sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan sejak itu Chopper mengambil alih semua penelitiannya. Meskipun Dokterin berkata itu sia-sia, tapi Chopper tak menyerah.

"Kau yakin akan menggunakan serum itu, Chopper?"

Chopper mengangguk.

"Orang-orang akan menganggapmu semakin aneh nantinya."

"Aku tak peduli! Aku hanya ingin bisa berguna!" baginya . . .

Apa? Siapa –nya yang baru saja Chopper pikirkan? Dia ingin menyempurnakan penelitian dokter Hiluluk, bukan ingin berguna bagi siapapun yang entah siapa dan tak dikenalnya.

'Dia juga monster, kau tahu.'

Siapa yang monster?


Robin

"Profesor Robin, bisakah anda memberikan penjelasan tentang reruntuhan kuno yang baru saja tim anda temukan?"

Robin tersenyum (senyum bisnis tentu saja), dan menjawab semua pertanyaan yang dilemparkan padanya oleh para wartawan. Ia dan timnya baru saja menemukan sebuah reruntuhan kuno di tengah padang pasir. Mereka menggali dan pada kedalaman lima meter menemukan reruntuhan sebuah kota lengkap. Penggalian lebih jauh juga menemukan sebuah ruangan jauh dibawah tanah. Ruangan itu sudap separo hancur, tapi isi di dalam ruangan itu masih utuh.

Ruangan itu hanya berisi sebuah kubus batu raksasa dengan tulisan yang tidak Robin pahami. Ia sudah memerintahkan timnya untuk tetap menggali sementara ia kembali ke universitas untuk beberapa hari karena ia harus mencari sesuatu di perpustakaan.

"Aku yakin pernah membaca buku yang membahas tentang tulisan ini di suatu tempat."

Robin terus mencari dan mencari, tapi ia tidak menemukannya. Ia akhirnya memutuskan kembali ke apartemennya untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum kembali lagi ke situs penggaliannya.

Robin tak menyangka akan menemukan buku itu di rumahnya. Ia tak menemukannya pada bagian buku-buku arkeologi, apalagi literatur sastra kuno. Ia menemukannya pda bagian novel fiksi koleksinya.

Robin mengambil novel "Petualangan Bajak Laut Topi Jerami di Alabasta" dan membalik-balik novel itu. Ia menemukan apa yang dicarinya pada chapter 25. Chapter itu berjudul 'Poneglyph'.

'Norin menatap poneglyph itu. Tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan kebahagiaan Norin. Akhirnya ia semakin dekat dengan impiannya. Raja Phyton sudah pasrah, ia hanya bersandar ke dinding. Ia terlihat putus asa dan bersiap untuk kejatuhan kerajaannya. Tapi Norin sama sekali tidak berminat dengan senjata. Ia hanya ingin menemukan sejarah.

Norin menegakkan kepalanya. Ia sudah menetapkan pilihannya. Norin tak akan memberitahu Aligator tentang apa yang sudah dibacanya.'

Di halaman itu juga terdapat ilustrasi ruangan rahasia tempat poneglyph itu berada. Ruangan itu benar-benar terlihat mirip dengan ruangan yang Robin gali dengan timnya. Bagaimana pengarang buku ini mengetahui ruangan itu?

Beep..beep..

Robin mengambil ponselnya.

Ah, sepertinya hatersnya memposting sesuatu lagi.

'Nico Robin bukanlah seorang arkeolog. Ia hanya seorang *biiiip*'

'Dia pasti hanya memanfaatkan wajahnya untuk mendapatkan nama.'

Paling tidak orang-orang itu secara tidak langsung mengakui kalau ia cantik. Robin meletakkan ponselnya diatas meja. Ia sudah bosan dengan pesan-pesan seperti itu. Dan tak ada pengaruhnya jika ia membantah orang-orang itu. Lagipula, sampai sekarang belum ada orang yang membelanya. Robin selalu sendirian.

Beep..beep..

Robin kembali mengambil ponselnya. Tampaknya akan lebih banyak postingan hari ini karena wawancaranya barusan.

'Memangnya kalian tahu apa tentang Nico Robin? Kalian tak pantas mencelanya. Kalian pasti tidak lebih baik darinya.'

'Oi..oi.. Kuso-gaki. Bagaimana kalian bisa mengejek seorang lady ha?'

Robin tak percaya. Ini pertama kalinya ada yang berani membelanya secara terang-terangan.

'Robin! Katakan kalau kau ingin hidup!'

Robin mengejapkan matanya. Siapa yang memanggilnya dengan nada penuh harapan seperti itu?

OoO

Robin memutuskan untuk menghubungi novelis itu. Ia ingin tahu apakah ini hanya kebetulan atau novelis itu memang tahu sesuatu.

"Halo? Saya Nico Robin. Bisakah saya bertemu dengan Usopp-san?"

"Ah, arkeolog itu? Maaf Nico Robin, untuk hari ini jadwal Usopp sudah penuh. Tapi anda bisa bertemu dengannya besok."

"Baiklah. Jam berapa saya bisa menemuinya?"

"Usopp bisa menemui anda pukul sepuluh pagi di toko buku Raindust."

"Terima kasih."

"Sama-sama, Nico Robin."

Robin tak yakin dengan pertemuannya besok. Apakah bertemu di toko buku yang ramai tidak akan menimbulkan skandal? Robin tak masalah jika dirinya terkena skandal, ia sudah biasa, tapi ia tak ingin novelis itu terlibat masalah. Robin cukup menyukai karangannya, dan Robin tak yakin apakah ia akan tetap menulis jika terkena skandal yang parah.

Robin menyalakan mesin pembuat kopi sebelum mandi. Begitu ia selesai mandi, ia duduk di depan televisi dengan secangkir kopi panas dan sandwich yang dibelinya dalam perjalanan pulang tadi. Robin menyalakan televisi, mencari channel yang menayangkan berita hari ini.

"Berita hari ini …"

Robin menjatuhkan remote yang sedang dipegangnya saat mendengar berita terbaru.

"Tak mungkin . . . . ." gumam Robin.


Franky

"Franky aniki, ada permintaan dari artis terkenal untuk mendesain vila barunya!"

"Hmmm? Siapa artis itu?"

"Seorang model dan aktor bernama Spandam."

"SUPER!"

"Kita terima, aniki?"

"TOLAK PERMINTAANNYA!"

"Eeh? Kenapa?"

"Aku tak menyukainya!"

Franky tak bisa menjelaskan perasaan marah yang tak tahu datangnya darimana saat mendengar nama Spandam. Yang ia mengerti hanyalah ia membenci Spandam, walaupun Franky yakin ia belum pernah bertemu model itu seumur hidupnya.

Franky meletakkan pensilnya saat mendengar Mozu dan Kiwi memanggilnya untuk makan malam. Ia menyimpan rancangan rahasianya di dalam laci dan mengunci lacinya sebelum turun ke lantai bawah.

Ruang makan selalu ramai seperti biasanya. Franky Family adalah keluarga besar. Tak satupun dari mereka yang memiliki hubungan darah, tapi itu tak mencegah mereka untuk menjadi saudara. Franky sendiri mengumpulkan keluarganya. Setiap kali ia menemukan remaja dan anak-anak yang terlunta-lunta di jalanan, ia membawa mereka pulang.

Ia mencarikan pekerjaan bagi yang sudah cukup umur untuk bekerja dan menyekolahkan yang masih anak-anak. Uang bukan masalah bagi Franky. Bayarannya sebagai seorang arsitek lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga besarnya.

"Aniki, Iceburg-san bertanya apakah pesanan desain kapalnya sudah diselesaikan?"

Franky meneguk cola nya sebelum menjawab, "Sudah. Kau kirimkan langsung ke Galley-La nanti."

"Baik, aniki!"

Franky menghabiskan makan malamnya dengan cepat. Ia ingin menyelesaikan desain rahasia yang dikerjakannya malam ini juga.

'Kau lihat cetak biru ini? Aku akan membakarnya.'

Franky menoleh ke arah Mozu yang sedang bergumam membaca novel sambil menyuap makan malamnya.

"Mozu, apa yang kau baca?"

Mozu mengangkat novel yang sedang dibacanya.

"Jangan membaca saat sedang makan malam, Mozu!"

"Maaf aniki!" Mozu menyimpan novelnya, tapi ia makan dengan cepat. Kelihatannya ia ingin segera membaca bukunya kembali.

Franky berdiri dan kembali ke ruang kerjanya. Ia bertanya-tanya, kenapa kata-kata yang didengarnya tadi terus terngiang di kepalanya.

OoO

Franky mengeluarkan kertas-kertas yang berisi desain senjata dari lacinya.

Ya.

Hobi rahasia Franky adalah mendesain senjata. Dan juga robot. Franky selalu merasa paling bahagia saat ia merancang hal-hal seperti itu, bukan karena ia ingin menggunakannya, tapi karena ia merasa hal-hal seperti ini akan membuat orang-orang kagum.

Tapi anehnya, Franky tak pernah ingin memperlihatkan karya nya ini pada siapapun. Bagaimana ia akan membuat orang-orang kagum jika ia tak memperlihatkan desainnya ini? Franky berani bertaruh, mafia, yakuza, dan pemerintah akan berlomba-lomba memesan senjata buatannya.

Siapa yang sebenarnya ingin dibuatnya kagum?

Franky mengambil salah satu desain robotnya yang paling lama.

'Iron Pirate'


Brook

Brook tak pernah mengerti. Ia adalah seorang penyanyi terkenal. Fansnya tersebar dimana-mana. Kemanapun ia pergi, pasti selalu ada yang mengelu-elukannya.

Tapi kenapa Brook merasa kesepian?

Brook tak pernah menemukan jawabannya hingga saat ini.

"Brook, besok ada acara jumpa fans di gedung XX." Manajernya memberitahunya dengan senyum lebar.

Brook hanya mengangguk. Ia menunggu sampai mendengar suara mobil manajernya menjauh sebelum mengambil kotak biolanya dan mengeluarkan isinya.

Brook hanya merasa rasa kesepiannya sedikit berkurang saat bermain biola, piano, atau berlatih anggar. Dua hal yang menyenangkan bagi Brook selain music adalah hipnotis dan anggar.

Ia tak pernah memperlihatkannya dihadapan umum, tentu saja. Ia berlatih diam-diam dan hanya menjadikan hewan-hewan disekitar rumahnya sebagai objek percobaan hipnotisnya. Brook sudah mencoba dengan berbagai instrument music, tapi hipnotisnya lebih kuat jika ia menggunakan biolanya. Karena itulah Brook tak pernah meninggalkan biola dan pedangnya (yang sudah disamarkan sebagai tongkat) kemanapun ia pergi.

Puas bermain biola, Brook menyimpan kembali biolanya. Ia beralih ke piano. Ia sudah lelah, tapi ia tahu ia tak akan bisa tidur dengan tenang jika ia tidak memainkan lagu ini sebelum tidur.

Bink's Sake.

OoO

Setelah acara jumpa fans nya, dua hari kemudian Brook mengadakan konser besar-besaran di stadium paling megah dan paling luas di tempatnya. Tiket konsernya sudah terjual habis enam bulan sebelum konsernya berlangsung, dan menurut kabar yang beredar, banyak permintaan untuk menambah tempat duduk agar orang-orang yang tidak mendapatkan tiket bisa kebagian menonton konsernya.

Brook duduk di ruang tunggunya. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang, seakan tegang dan cemas karena sesuatu. Brook memegang dadanya. Apa yang terjadi hari ini? Apa ia mengalami demam panggung?

OoO

Brook membungkukkan badannya setelah menyanyikan lagu terakhirnya. Tapi hari ini berbeda, Brook ingin menyanyikan satu lagu tambahan sebelum menutup konsernya.

"Baiklah minna-san! Ini adalah lagu penutup konser Soul King Brook untuk kali ini! Aku belum pernah menyanyikan lagu ini dimanapun. Kalian adalah yang pertama kali mendengarnya!"

Terdengar sorakan membahana, dan Brook pun mulai bernyanyi.

"Binkusu no sake wo, todoke ni yuku yo

Umikaze kimakase namimakase

Shio no mukou de, yuuhi mo sawagu

Sora nya wa wo kaku, tori no uta"

Ditengah kerumunan penggemarnya yang menonton, tiba-tiba saja mata Brook tertumbuk pada seorang pemuda. Berbeda dengan penggemarnya yang berteriak atau melambaikan sesuatu, pemuda itu duduk tenang dan mendengarkan lagunya sambil memejamkan matanya.

Brook hampir menjatuhkan mic yang sedang dipegangnya saat melihat pemuda itu meneteskan air mata saat ia mengakhiri lagunya.

Brook tidak tahu siapa pemuda itu, tapi kenapa rasa kesepiannya hilang saat ia menatap pemuda itu?

OoO


Part 2, done!

Masih ada sekitar satu part lagi. Little Chomper berharap bisa segera publish setelah Little Chomper mengeditnya :)

Thanks as always to , sgiariza, Blank, iib. junior, aku, Ramii KY, dan Hikaru Rikou untuk reviewnya~