Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

"Well, siapa yang akan mengira kalau aku sedang asyik minum teh dengan musuhku?" pikir Gil selagi dia menyeruput isi cangkirnya. "Semua orang pasti berpikir kalau aku sedang bertarung mati-matian."

Duduk bersila di hadapannya, Glen juga sedang menghirup cangkirnya. Satu-satunya alasan Gil meyakini kalau tehnya tidak diracuni adalah karena Glen minum dari teko yang sama dengannya.

Gil meletakkan cangkirnya di lantai di sebelahnya. "Jadi," Gil memulai, "apa yang kau rencanakan?"

"Untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati tehku," jawab Glen dengan nada datar. "Lagipula, kesepakatan akan lebih mudah dicapai pada saat minum teh daripada dalam duel, kan?"

"Kau ada benarnya juga," komentar Gil.

Glen meletakkan cangkirnya dan melipat tangannya, "Kau mau kita mulai dari mana?" tanyanya.

"Terserah kau saja," jawab Gil. "Lagipula, kau yang mengundangku minum teh, walaupun aku tidak terlalu suka pengaturan tempatnya," tambahnya sambil melirik ruangan tempat mereka berdua berada, ruangan yang sama tempat Alyss dan Jack kehilangan nyawa mereka.

"Ah, maafkan aku," kata Glen, walaupun Gil sama sekali tidak bisa mendengar nada penyesalan dalam suaranya. "Tempat ini terlalu membawa kenangan buruk, huh?"

"Dua orang sahabat kami kehilangan nyawa mereka di sini, di tanganmu dan Lacie," balas Gil. "Tidak mungkin aku menyebut itu sebagai kenangan yang indah, bukan?"

"Kurasa begitu. Jujur saja, aku juga tidak bisa menyebutnya sebagai kenangan yang indah," ucap Glen. "Membunuh itu perbuatan yang kotor dan melanggar aturan yang ada. Bahkan kami, Dark Sabrie, juga mengetahui itu."

"Kalau begitu, kenapa kau tetap melakukan itu semua?" tanya Gil.

"Karena jalan damai sudah tidak bisa ditempuh lagi," jawab Glen singkat. "Kalian tidak mungkin menyerahkan Kotak Pandora milik kalian kepada kami walaupun kami telah memintanya secara baik-baik bukan? Begitu juga sebaliknya. Tidak ada cara lain lagi selain bertempur habis-habisan."

"Setelah beberapa pertempuran, aku menyadari kalau akan membutuhkan waktu lama untuk mencapai kemenangan kalau kita hanya mengandalkan pertenpuran terbuka saja. Jadi, ketika adikmu bergabung dengan kami, aku menugaskannya untuk memata-matai Pandora, sementara aku dan yang lain menyusun rencana untuk mengalahkan kalian. Kemudian, kami memutuskan untuk menghabisi kalian satu-persatu. Pertama Alyss dan Jack, kemudian Reo, lalu Echo. Seperti yang kau lihat, kami hanya berhasil membunuh Alyss dan Jack, sementara Reo dan Echo lolos."

"Kami juga memutuskan untuk membakar markas kalian, dengan harapan bahwa kehancuran markas kalian ditambah dengan menghilangnya Reo dan Vincent akan membuat kalian kacau dan membuat celah tempat kami bisa menyerang. Walaupun aku cukup yakin kalau rencana itu tidak akan berhasil, tidak ada salahnya mencoba. Yang sama sekali tidak kami kira adalah kalian malah bersekutu dengan Reinhart, yang membuat semuanya lebih sulit tapi juga lebih mudah."

"Well, kuakui kalau kalian mempunyai taktik yang lumayan," komentar Gil sambil mengernyitkan dahinya. "Tapi aku tetap tidak bisa memaafkanmu karena memanfaatkan adikku dan, secara tidak langsung, aku, seperti itu," tambahnya dingin.

"Kau tidak bisa menyalahkanku dalam hal ini," balas Glen dengan nada yang tak kalah dinginnya. "Vincentlah yang bersedia menjadi anggota Dark Sabrie, dan dia juga bersedia ketika aku menanyakan apakah dia mau menjadi mata-mata atau tidak, walaupun dia agak tidak senang karena harus melibatkan dirimu dalam semua ini."

"Vincent bersikeras agar kau tidak dilibatkan lebih jauh dalam ini semua, termasuk menjadikanmu anggota DS, walaupun pada akhirnya kau bergabung dengan Pandora, yang sama saja resikonya. Dia berusaha keras agar kau tidak mengetahui rahasianya."

"Pantas saja dia sering menghilang begitu saja," gumam Gil. "Jadi, kalian mendapatkan informasi-informasi internal Pandora darinya, huh?"

"Tentu saja. Bahkan kalian punya mata-mata, kan?" tanya Glen.

"Oh, Lily?" tanya Gil. Glen mengangguk.

Gil mendesah pelan, "Walaupun kami memiliki mata-mata, kami tetap tidak mendapatkan informasi yang cukup darinya. Bahkan kalian berhasil menipu Lily agar memberikan informasi yang salah kepada kami, bukan? Kalau bukan karena kecurigaan Oz, kalian pasti sudah menghabisi kami pada hari itu."

"Semuanya benar dalam perang," kata Glen. "Itu namanya strategi."

"Omong-omong, kurasa kita sudah agak melenceng dari topik utama," kata Gil. "Aku cukup yakin tujuan kita berada di sini bukanlah untuk mendiskusikan strategi maupun adikku, tapi sesuatu yang lebih penting, kan?"

"Kau benar. Kurasa aku terlalu terbawa suasana," balas Glen. "Baiklah, bagaimana kalau kita langsung ke topik utama."

"Terdengar bagus untukku," jawab Gil.

"Kau pasti tahu apa yang kuinginkan," kata Glen. "Apa aku perlu mengulang apa yang sudah sering kami, Dark Sabrie, katakan?"

"Silahkan," jawab Gil.

"Apa kau mau menyerahkan Kotak Pandora alpha kepada kami dengan damai?" tanya Glen. "Tidak akan ada korban yang jatuh apabila kau melakukannya dengan sukarela."

"Apa kau mau menyerahkan Kotak Pandora beta kepada kami secara damai?" Gil balik bertanya. "Tidak akan ada korban yang jatuh apabila kau melakukannya dengan sukarela."

Mereka berdua menatap satu sama lain dan tersenyum kering. "Kau benar," Gil mengakui. "Sampai kapanpun, kita tidak akan bisa menyelesaikan ini dengan cara damai."

Glen mengangguk menyetujui. Dia melepaskan ranselnya dari punggungnya dan membuka resletingnya sebelum tangannya merogoh ke dalam. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan Kotak Pandora dari dalamnya. Dia meletakkan benda itu di depannya.

Tidak seperti Kotak Pandora alpha yang Pandora punya yang dilapisi perak, Kotak Pandora beta dilapisi oleh emas yang sudah sedikit terkelupas di beberapa tempat. Ukiran-ukiran rune yang terukir di badan dan tutupnya sama persis dengan yang terukir di Kotak Pandora alpha, sama-sama tidak bisa Gil pahami. Bahkan Gil ragu Oz atau Glen bisa membacanya.

Gil juga mengeluarkan Kotak Pandora dari ranselnya. Sekarang kedua kotak yang sudah terpisah sejak entah berapa ratus tahun lamanya berada di ruangan yang sama.

"Ini pertama kalinya aku melihat Kotak Pandora alpha," kata Glen sambil mengamati kotak berwarna perak itu.

"Oh, ya? Kukira kalian punya segala macam informasi."

"Sayangnya, kamera baru ditemukan beberapa tahun yang lalu."

"Memangnya tidak ada ilustrasi atau apapun?"

"Tidak ada. Omong-omong, kita kembali melenceng dari topik." kata Glen. "Karena kita tidak bisa menyelesaikan ini secara damai, berarti kita harus menyelesaikannya dengan cara lain."

.

"Roger," gumam Ada. Dia melepaskan headsetnya dan berkata. "Sepertinya duel antara Reinhart dan Clockwork juga sudah mulai memanas."

"Kita ketinggalan berita apa?" tanya Break.

"Lumayan banyak," jawab Ada. "Kau tahu kasino yang sering kita lewati itu?"

"Kasino yang itu? Yang aku dan Jack sempat dikejar-kejar karena mencoba mengintip?" tanya Oz. "Memangnya ada apa dengan kasino itu?"

"Ternyata kasino itu dikelola oleh Clockwork. Sekarang Aire, Esther dan Will sedang bernegosiasi dengan pimpinan Clockwork di sana." Ada menjelaskan.

"Bukannya melakukan negosiasi di wilayah musuh itu agak, beresiko?" tanya Reo. Dia sudah cukup pulih sehingga dia bisa berjalan sendiri, walaupun kadang-kadang Elliot harus membantunya.

"Kita sedang membicarakan dua keluarga mafia, yang menyelesaikan masalah pelik dengan janken. Sedikit resiko bukan apa-apa bagi mereka," kata Alice.

"Omong-omong tentang pemecahan masalah, sekarang cara apa yang mereka lakukan untuk menentukan pemenangnya?" tanya Sharon. Dia baru saja sadar dari pingsannya dan ingin berjalan sendiri, tetapi Break bersikeras untuk tetap menggendongnya.

"Biar kutebak. Mereka menggunakan cara yang beresiko tinggi dan mengandalkan keberuntungan, seperti janken," tebak Elliot.

"Yup. Tetapi sekarang resiko dan taruhannya jauh lebih besar, dan hasilnya mutlak." kata Ada.

"Sesuatu yang berisikp tinggi, dan hasilnya mutlak. Russian Roullete?" tebak Echo.

"Binggo!"

"Tunggu! Aku tidak salah dengar, kan?" kata Reo dengan nada ngeri. "Russian Roulette katamu? Mereka tidak segila itu, kan?"

"Harus kuakui, itu cara yang cukup efektif untuk mengurangi korban," kata Oz. "Nekat? Memang. Tapi efektif. Lagi pula, menurutku, kita juga sedang memainkan Russian Roulette sekarang, hanya saja dengan metode yang berbeda."

"Cukup dengan filosofi-filosofimu, Oz," gumam Break. "Kau membuatku pusing!"

"Maaf!"

"Apa masih jauh?" tanya Sharon sambil mengintip dari balik bahu Break.

"Sebentar lagi," janji Oz.

"Memangnya kau tahu mereka ada di mana? Bisa saja mereka sudah pindah!" gerutu Elliot.

"Mereka pasti meninggalkan jejak. Kita tinggal mengikuti jejak itu. Mudah, kan?" ujar Oz. Alice memutar bola matanya.

"Entah kenapa itu terdengar seperti rencana orang idiot, atau orang yang sudah kehabisan akal!" komentar Alice.

Tiba-tiba, Echo yang berjalan di samping Alice menghentikan langkahnya, membuat Elliot dan Reo yang berjalan di belakangnya nyaris menabraknya.

"Ouch! Jangan berhenti tiba-tiba seperti itu, Echo!" protes Reo.

Echo mengabaikan protes dari Reo. Dia mendongak sedikit dan menyipitkan matanya, seakan-akan dia sedang mencoba melihat sesuatu dengan lebih jelas. Yang lain berhenti berjalan dan menatap gadis itu dengan cemas.

"Echo? Ada apa?" tanya Sharon cemas.

Echo mengangkat tangannya dan menuding sebidang langit di atas mereka. Di sana, dua buah titik hitam menari-nari di antara awan-awan.

"Kurasa kita tidak perlu mengandalkan jejak lagi," Echo berkata dengan nada datarnya.

.

Bangunan itu terlalu kecil untuk pertarungan chain, apalagi kalau kedua chain itu berukuran raksasa, dan merupakan dua dari lima Black Wings. Jadi, Raven dan Owl menemukan cara instan untuk mengatasi ketidaknyamanan mereka. Mereka meledakkan atap bangunan dan terbang menuju dunia luar, lengkap dengan kontraktor mereka yang sedang berpegangan erat kepada bulu-bulu di punggung mereka, berusaha untuk tidak terjun bebas dari jarak 100 meter dari tanah.

"Tuan! Jangan mencabuti bulu-buluku!" protes Raven ketika Gil tanpa sengaja mencabut beberapa helai bulu Raven karena mencengkramnya terlalu erat.

"Maaf!" seru Gil. "Aku bukan burung dan aku tidak memiliki sayap, jadi terang saja ketinggian ini membuatku sedikit gugup!"

"Adikmu saja bisa menunggangi Demios dengan baik. Masa kakaknya tidak bisa?" sindir Raven.

"Pertama, aku bukan Vincent. Kedua, Demios tidak terbang dengan kecepatan segila ini!" protes Gil. Hembusan angin yang sangat kuat yang disebabkan oleh kecepatan terbang Raven membuat rambut hitamnya berkibar tidak terkendali, walaupun Esther sudah memotongnya. Dia menoleh ke belakang dan melihat Owl dan Glen yang sedang mengejar mereka. "Dan dia tidak dikejar-kejar musuh!"

"Yah, sebentar lagi kau juga akan terbiasa." kata Raven. "Sekarang aku akan menukik, oke?"

"Kau akan apa?" Gil bertanya, tetapi Raven sudah memulai gerakannya. Gil berteriak ketika Raven tiba-tiba menukik tajam, jarak antara mereka dan permukaan tanah menyusut dengan cepat.

"Berhenti berteriak seperti perempuan!" kata Raven kesal. "Kau punya pistol, kan? Lebih baik kau gunakan itu!"

Gil menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak berteriak. Dia meraih ke saku jaketnya dan mengeluarkan sepucuk handgun. Sekali lagi, dia menoleh ke belakang. Owl dan Glen berada sekitar dua puluh meter di belakang mereka. Gil senang ketika dia melihat Glen juga sedang mati-matian berusaha mempertahankan posisinya di punggung Owl. Sepertinya anak laki-laki itu juga tidak memiliki pengalaman dalam hal menunggang burung raksasa.

Gil berusaha membidik Glen, tapi angin yang menerpa tubuhnya terus menerus membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Dia mendecakkan lidahnya dengan kesal. "Bagaimana caranya aku bisa menembak dalam kondisi seperti ini? Apa kau tidak bisa berhenti sejenak?"

"Kalau kita berhenti barang sejenak saja, kita pasti tersusul," kata Raven datar. "Asal tembak saja! Bisa saja kau beruntung!"

Gil tidak percaya dengan yang namanya keberuntungan, tapi dia menggertakkan giginya dan melalukan seperti apa yang Raven katakan. Dia menekan picu dan menembak.

Rupanya Gil tidak terlalu beruntung, karena tembakannya meleset jauh dari targetnya. Sisi baiknya, tembakan itu membuat Glen dan Owl mengalihkan perhatian mereka dari Gil. Raven menghentikan tukikannya dan kembali melesat ke angkasa.

"Sekarang apa?" tanya Gil.

"Tahu tidak? Seharusnya orang waras tidak meminta petunjuk chain, terutama dalam pertempuran, kecuali kalau kau mau menghancurkan seluruh Kota Sabrie."

Gil menggigit bibirnya, berusaha menemukan jalan keluar. Beberapa saat kemudian, dia melepaskan ranselnya dengan ekstra hati-hati, dia nyaris tidak berani melepaskan cengkramannya pada bulu Raven, dan membuka resletingnya, mengambil dua buah granat.

"Mereka masih berada di bawah kita, kan?" tanya Gil. Sebenarnya dia bisa mengeceknya sendiri, tetapi dia tidak yakin dia bisa menoleh tanpa kehilangan keseimbangannya.

Raven segera mengetahui rencana Gil. "Rencana gila, tapi kurasa bisa berhasil. Namun semua orang di Sabrie akan melihatnya."

"Aku yakin semua orang yang ada di kota sudah melihat kita sekarang. Lagipula, dengan banyaknya duel dan chain yang berkeliaran di bawah sana, kurasa ledakan di udara bukan suatu kejutan, kan?"

"Pemikiran yang bagus. Mereka sekarang berada tepat di bawah kita, omong-omong. Kau punya waktu beberapa detik sebelum mereka menyusul dan melumat kita."

Gil melirik ke bawah dan melihat Owl sedang melaju ke arah mereka. Raven benar, mereka punya waktu beberapa detik sebelum Owl mencapai mereka. Dilihat dari belati-belati yang kini ada di tangan Glen, sepertinya itu tidak akan menjadi pertemuan yang menyenangkan.

Gil menarik picu kedua granat itu. Menurut Esther, granat itu membutuhkan waktu dua detik untuk meledak. Gil berharap granat itu akan meledak tepat di wajah Glen, walaupun rasanya itu tidak mungkin terjadi. Gil akan cukup puas kalau ledakannya hanya membakar ekor Owl.

Sesaat kemudian, kedua granat itu sudah meluncur dari tangan Gil.

"Raven, bisa lebih cepat?" tanya Gil.

"Aku akan berusaha, oke?" jawab Raven. Chain itu menambah kecepatan terbangnya, membuat gigi-gigi Gil sakit karena kecepatannya.

Gil menoleh ke belakang ketika dia mendengar suara ledakan. Rupanya Glen sama sekali tidak mengantisipasi rencana gila Gil, karena dia sama sekali tidak menghindar. Kedua granat itu meledak di punggung Owl, tepat di belakang Glen. Bahkan dari jarak yang cukup jauh, Gil bisa mencium bau daging terbakar.

Jeritan kesakitan Owl membuat Gil refleks melepaskan kedua tangannya dari bulu Raven untuk menutup telinganya. Gil baru menyadari akibat dari tindakannya ketika dia merasakan tubuhnya tergelincir dari punggung Raven. Ketika Gil selesai mencerna apa yang dia alami, tubuhnya sedang terjun bebas di udara.

"Tuan!" Raven menjerit di dalam kepala Gil. Gil melihat Raven melipat sayapnya dan menukik untuk menyelamatkan kontraktornya, tapi jarak mereka berdua sudah terlalu jauh, padahal permukaan tanah sudah tinggal beberapa puluh meter lagi.

"Padahal sudah sejauh ini, tapi sebentar lagi aku akan mati kesalahan kecil. Tragis sekali!" pikir Gil pahit. "Apa yang akan dikatakan oleh Alice dan yang lain kalau aku mati dengan cara yang sama sekali tidak heroik seperti ini?"

Gil menutup kedua matanya. "Inilah akhir hidupku," pikirnya.

Tiba-tiba, Gil bisa merasakan sesuatu melingkarkan diri di lengan dan kakinya, dan tiba-tiba laju jatuhnya berhenti. Terkejut, dia membuka matanya. Dia melirik ke bawah dan menyadari kalau tubuhnya melayang sepuluh meter dari tanah.

"Apa yang terjadi?" pikirnya bingung.

"Fuh, hampir saja!"

Suara itu membuat Gil menolehkan kepalanya. Di sana, berdiri dengan santai di atap sebuah bangunan, berdiri seorang gadis berambut hitam pendek. Di belakangnya berdiri seorang chain berwujud wanita raksasa dengan rantai yang tak terhitung banyaknya. Gadis itu tersenyum tipis kepada Gil.

Gil mengedipkan matanya dengan tidak percaya, "Zwei?"

"Kau kira siapa lagi?" tanya Zwei dengan santai. Dia menjentikkan jarinya, dan benang-benang Doldam yang melilit kedua kaki dan lengan Gil mulai menariknya dengan lembut ke arah atap tempat Zwei berada.

"Jadi, bagaimana kabarmu dan yang lain?" tanya Gil ketika dia sudah mendarat dengan selamat di samping Zwei.

"Sedikit patah kaki," kata Zwei sambil menunjuk kakinya. Benar saja, Gil bisa melihat kalau kakinya dibebat seadanya. "Yang lain baik-baik saja, kurang lebih…"

"Apa yang terjadi?" tanya Gil menuntut jawaban.

"Sharon mengalami pemutusan dengan Eques. Reo ditusuk pisau beracun. Ada diserang oleh Miranda. Oz jatuh dari ketinggian entah berapa meter."

"Apa?" tanya Gil, kebingungan mencerna semua informasi yang disampaikan oleh Zwei.

Gadis di depannya mengibaskan tangannya dengan tidak sabar, "Dengar! Kita bisa berbagi cerita nanti, oke? Lebih baik kau selesaikan tugasmu saja! Glen jatuh di sekitar sana, omong-omong," Zwei memberitahu sambil menunjuk ke arah barat. "Oiya, mana alat transmisimu? Kami sudah berusaha menghubungimu sedari tadi, tetapi tidak ada jawaban!"

Gil meraba daun telinganya dan mendapati kalau alat transmisinya tidak ada di sana, "Sepertinya terjatuh ketika aku sedang terbang tadi. Kau tidak ikut?" tanya Gil.

Zwei meringis, "Sebenarnya aku ingin ikut, tapi…" dia melambaikan tangannya ke gang di bawah mereka. "Coba lihat ke bawah!"

Gil menuruti saran Zwei dan terkejut ketika dia melihat beberapa orang laki-laki berdiri di bawah sana. Mereka sama sekali tidak bergerak, kecuali mata mereka yang bergerak-gerak dengan panik, tidak berdaya melawan benang-benang Doldam yang mengikat tubuh mereka.

"Mereka akan bebas apabila aku dan Doldam berada dalam jarak lebih dari lima puluh meter," kata Zwei. "Dan kurasa mereka akan dengan senang hati mengejar kita apabila itu terjadi."

"Mereka dari Clockwork?" tanya Gil. Zwei mengangguk mengiyakan.

"Hati-hati! Dark Sabrie bukan satu-satunya musuh yang ada!" Zwei memperingatkan.

"Aku akan mengingat itu."

.

Kedua pistol di tangan Elliot memuntahkan peluru ketika anak laki-laki itu berusaha menghalau lima orang Clockwork yang menyerang dia dan teman-temannya.

"Sial," umpat Elliot ketika dia pelurunya meleset. "Itu peluru terakhirku!"

"Kita bisa menggunakan ini," saran Break sambil mengangkat granat suara yang dipegangnya.

"Jangan!" seru Oz dan Elliot bersamaan.

"Kita akan kalah terlebih dahulu sebelum kita berhasil mengambil penyumpal telinga kita!" kata Oz. "Dan bagaimana dengan Sharon dan yang lain?"

"Aku kan hanya memberikan saran!"

"Apa tidak ada cara lain?" tanya Elliot yang sedang mengintip keluar dari tempat persembunyian mereka. "Mereka semakin dekat, dan aku sama sekali tidak menyukai senapan yang mereka bawa!"

"Perlu bantuan?"

Suara itu membuat ketiga anak laki-laki itu terlonjak. Mereka menoleh dengan serempak dan melihat Zwei yang sedang menyeringai ke arah mereka.

"Zwei! Sejak kapan kau ada di situ?" tanya Elliot terkejut. "Bagaimana keadaan Gil?"

"Aku baru saja sampai. Gil? Dia baik-baik saja. Dia sedang mengejar Glen sekarang," jawab Zwei. "Jadi, kalian perlu bantuan?"

"Iya, tolong?" pinta Oz.

"Serahkan saja padaku!"
.

Gil sudah mengetahui tempat Kotak Pandora beta berada bahkan tanpa Zwei memberitahunya. Sejak dia melihat benda itu dengan mata kepalanya sendiri, Gil bisa merasakan aura yang dipancarkan olehnya bertambah kuat. Merupakan hal mudah baginya untuk mengikuti aura itu.

"Sudah dekat," gumam Gil kepada dirinya sendiri. Dia mempercepat langkahnya, ingin cepat-cepat menyelesaikan semua ini.

"Jangan ke sana!" Raven memperingatkan ketika Gil hendak berbelok ke gang yang lain. Chain itu melayang beberapa puluh meter di atas Gil untuk memantau keadaan.

"Tapi ini jalan tercepat," protes Gil tanpa menghentikan langkahnya.

"Memang, tetapi jalan ini sama sekali tidak aman!" balas Raven dengan nada putus asa.

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Gil bingung. Dia menghentikan langkahnya dan menatap sekelilingnya dengan waspada.

"Ada sepasuk… Oh, sial! Di belakangmu!"

Gil terlambat merespon. Ketika dia memutar tubuhnya, dia melihat sesuatu terbang ke arahnya.

Detik berikutnya, peluru itu menembus bahu Gil.

"Argh!" jerit Gil kesakitan. Refleks, dia segera mencengkram bahu kanannya yang disambar peluru dan membungkuk kesakitan. Ketika dia melepaskan tangannya dari bahunya dan mengangkatnya, dia bisa melihat bahwa telapak tangannya diselimuti oleh darahnya.

"Sial!" umpat Gil.

Anak laki-laki itu mendongak dan mendapati kalau dirinya benar-benar sudah dikepung oleh orang-orang Clockwork. Sedikitnya ada dua puluh laki-laki bersenjata yang mengepungnya dari segala arah. Gil merutuki dirinya sendiri karena mengabaikan peringatan Zwei. "Bukankah gadis itu sudah bilang kalau banyak anggota Clockwork yang berkeliaran di sini? Dasar bodoh!"

"Tuan!"

"Kembali ke Abyss, Raven!" gumam Gil.

"Tapi,"

"Kau harus berada dalam kondisi prima agar kita bisa menghancurkan benda terkutuk itu, kan?"

"Memang benar, tapi!"

"Kembalilah! Aku bisa menangani masalah ini sendiri!"

Gil tidak perlu mengangkat kepalanya untuk mengetahui kalau Raven telah mematuhi perintahnya. Dia tetap menatap orang-orang yang mengepungnya dengan tatapan menantang.

"Kalian mau membunuhku? Coba saja kalau bisa!"

.

Pada dasarnya, Alice adalah orang yang tidak bisa diam.

Jadi, ketika Oz menyuruhnya tetap tinggal untuk menjaga Reo dan Sharon bersama Ada sementara dia, Break, dan Elliot akan melawan orang-orang Clockwork yang mereka temui, Alice sama sekali tidak mematuhinya. Begitu ketiga anak laki-laki itu lenyap dari pandangannya, dia segera pergi mengejar Glen, mengabaikan protes dari ketiga temannya yang lain.

"Bahkan Zwei diizinkan untuk membantu Gil. Masa aku tidak boleh sih?" gerutu Alice kesal sementara dia berlari ke arah barat, tempat dia memperkirakan Owl dan kontraktornya jatuh.

Beberapa kali dia bertemu dengan anggota Clockwork dan Reinhart, yang masih bertarung dengan sengit di seluruh penjuru kota. Anggota-anggita Reinhart yang ditemuinya hanya mengangguk dan membiarkannya lewat, sementara yang dari Clockwork langsung berusaha menghentikannya begitu mereka mengenali gadis itu. Tapi Alice bisa melewati mereka bahkan tanpa harus menoleh, karena Cheshire berlari mendampinginya dan langsung menyerang setiap anggota Clockwork yang muncul.

"Apa?" Alice tiba-tiba menghentikan larinya. Dia menatap pemandangan di depannya dengan terpana.

Kehancuran, itulah yang Alice lihat.

Di tempat Owl terjatuh, terdapat kawah dengan diameter sekiat lima puluh meter. Semua bangunan yang berada di dalam kalah itu kini hanya tinggal reruntuhan, dengan yang paling parah berada di pusat kawah,

"Tidak kukira seekor burung hantu raksasa memiliki bobot yang seberat itu sehingga mampu meluluh lantakkan tempat ini," gumam Alice dengan nada tidak percaya.

Dengan hati-hati, Alice mulai berjalan melintasi kehancuran tersebut. Dalam hati, dia benar-benar berharap tidak ada orang yang ada di daerah ini ketika Owl jatuh. Kalau sampai ada, Alice tidak berani membayangkan apa yang terjadi kepada orang itu.

"Cheshire? Apa kau merasakan keberadaan Owl?" bisik Alice kepada Cheshire yang sedang berjalan di sampingnya.

"Cheshire tidak bisa merasakan aura Owl, nyaa! Sepertinya dia terpaksa kembali ke Abyss, nyaa," jawab Cheshire.

"Kalau Glen?"

"Dia ada di depan sana, nyaa!" kata Cheshire sambil menunjuk ke depan mereka. Alice menoleh ke arah yang ditunjuk Cheshire dan melihat tubuh seseorang tergeletak beberapa meter di depannya.

"Glen," desis Alice. Dia segera mempercepat langkahnya hingga nyaris berlari. Dalam waktu singkat, dia sudah berada di sana.

Glen sama sekali tidak bergerak ketika Alice mendekat. Bahkan dengan pengetahuan Alice tentang medis yang pas-pasan, dia bisa mengetahui kalau Glen terluka cukup parah. Pakaiannya hangus,terutama di bagian belakang. Alice bisa melihat luka bakar parah yang di derita anak laki-laki itu di punggungnya dengan jelas.

"Apa dia masih hidup?" gumam Alice. Cheshire berjongkok dan mengendus udara di sekeliling Glen.

"Dia masih hidup, nyaa," Cheshire melaporkan.

"Sebenarnya apa sih yang Gil lakukan sampai dia bisa membuat Owl jatuh?" Alice kembali bergumam. Kedua iris violetnya mulai melirik ke kanan dan kiri, mencari benda yang dia yakin ada di situ.

"Ah, ketemu!"

Alice segera melangkah ke arah Kotak Pandora tergeletak begitu saja beberapa langkah dari tempat Glen berada. Kemungkinan besar benda itu terlempar dari ransel Glen ketika Owl dan kontraktornya jatuh.

Gadis itu berlutut dan dengan hati-hati mengangkat kotak berlapis emas itu. Dia memperhatikan benda itu dengan seksama, berusaha menyerap setiap detailnya sebaik mungkin.

"Jadi, inilah Kotak Pandora beta yang kita cari selama ini," bisik Alice takjub. "Benar-benar mirip dengan Kotak Pandora yang dimiliki oleh kita, eh?"

"Alice!" teriakan peringatan Cheshire membuat Alice tersentak dari lamunannya. Gadis itu menoleh ke belakang dan melihat kalau Glen sudah mulai sadar.

Cheshire, yang masih berjongkok di samping Glen, mengangkat cakarnya dan melempar pandangan penuh tanya kepada Alice. Tetapi Alice menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Biarkan saja dia bangun," katanya pelan.

Glen terbatuk dan dengan perlahan membuka kedua matanya. Dia menoleh dan mengerjapkan kedua iris violetnya ketika dia melihat Alice.

"Lacie?" bisiknya.

Alice bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya hingga kini dia menghadap Glen, "Aku bukan Lacie," jawabnya.

"Benarkah?" gumam anak laki-laki itu. Dia menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas. "Ah, kau Alice rupanya."

Alice menunjukkan Kotak Pandora yang dipegangnya kepada Glen, "Dark Sabrie sudah kalah, Glen," katanya pelan. "Dalam waktu setengah jam ke depan, kedua benda terkutuk ini tidak akan ada lagi di dunia ini!"

Glen tersenyum kecil, "Apa kalian akan benar-benar akan menghancurkan kedua kotak itu, Alice?"

"Tentu saja kami akan melakukannya! Omong-omong, kalau kau memiliki niat untuk mencoba meyakinkanku agar tidak melakukannya, lupakan saja!" geram Alice.

Tawa pelan keluar dari mulut Glen, "Sepertinya rencanaku ketahuan, eh?"

Alice kembali membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi. Cheshire segera melompat dan bergabung dengan kontraktornya. Mereka sudah berjalan cukup jauh ketika tiba-tiba Glen memanggil Alice.

"Alice, apa kau yakin kalau kau berada di pihak yang benar?" seru Glen.

Alice tidak mau repot-repot berhenti, jadi dia menjawab pertanyaan Glen sambil terus berjalan. "Apa kau yakin kalau berada di pihak yang benar, Glen? Jujur saja, aku tidak tahu apakah Pandora atau Dark Sabrie yang benar dalam hal ini. Apa membiarkan dunia kita dan Abyss tetap terpisah adalah keputusan yang tepat? Atau sebaliknya?"

"Tetapi aku memilih untuk mempercayai pilihan yang pertama. Setiap orang berjuang untuk mempertahankan kepercayaan mereka, bukan? Itulah yang aku dan Pandora lakukan. Kami percaya kalau dunia ini dan Abyss harus tetap terpisah, dan kami berjuang untuk mempertahankan kepercayaan kami. Kalian juga mempertahankan kepercayaan kalian, bukan? Sayangnya, kepercayaan kita bertolak belakang dan kita tidak mungkin bersatu, seperti air dan api. Pada akhirnya, hanya satu yang bisa bertahan. Bukankah seperti itu dunia berjalan?"

Dan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Alice meninggalkan tempat itu.

.

Gil yakin dia bisa melawan seorang laki-laki dewasa bersenjata sendirian, lima dengan sedikit keberuntungan.

Tapi dua puluh? Well, Gil hanya bisa berharap akan ada kejaiban yang datang.

Pistol-pistol Gil sudah kehabisan peluru, dan Gil tidak akan bisa mengisinya kembali tanpa diberondong oleh peluru musuh. Jadi, dia membuang pistolnya dan beralih ke belati. Tetapi bertarung melawan dua puluh orang yang bersenjatakan senjata api dengan beberapa bilah belati sama sekali bukan pilihan yang bijak.

Gil merunduk untuk menghindari hujan peluru yang mengincar dirinya. Dia berjengit ketika sebuah peluru berhasil bersarang di lengan kanannya, membuatnya terpaksa melepaskan belati yang dipegangnya di tangan kanan.

"Sial," umpat Gil, entah untuk yang keberapa kalinya. Dia sudah berhasil mengalahkan dua orang Clockwork, tetapi masih ada 18 orang yang harus dikalahkannya, dan sekarang dia hanya bisa menggunakan tangan kirinya. Selain itu, beberapa peluru dari rentetan tembakan yang terjadi selama lima menit terakhir telah menemui sasarannya, sehingga gerakan Gil tidak selincah sebelumnya, sementara lawan-lawannya bahkan tidak berkeringat!

Laki-laki di depan Gil menodongkan senjatanya ke arah Gil dan berkata dengan dingin, "Kata-kata terakhir?"

"Sepertinya aku terpaksa memanggil Raven," pikir Gil ketika jari telunjuk laki-laki itu mulai bergerak.

Tiba-tiba gerakan laki-laki itu berhenti. Gil bisa melihat dengan jelas bagaimana mata laki-laki itu dan teman-temannya melebar ketika mereka mendapati kalau mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka.

"Aku menyelamatkan hidupmu dua kali hari ini, eh, Gil?"

"Kau bisa datang lebih awal, Zwei," gumam Gil ketika dia melihat Zwei muncul dari sudut matanya, diikuti oleh yang lain.

"Maaf kami terlambat!" kata Oz meminta maaf. "Apa kau baik-baik saja?"

"Apa kau buta, Oz? Tentu saja dia tidak baik-baik saja!" seru Alice ketika dia melihat keadaan Gil yang berantakan.

"Aku baik-baik saja, sungguh!" protes Gil, walaupun dia yakin kalau teman-temannya tidak akan mendengarkannya. Lagipula, dia juga tahu kalau dia sama sekali tidak baik-baik saja.

"Kita harus merawat luka-luka itu segera!" kata Ada. Bagaimana caranya gadis itu ada di sana, padahal seharusnya dia ada di markas, Gil sama sekali tidak tahu.

"Itu bisa menunggu nanti," potong Gil sebelum Ada mulai berbicara kembali. "Kita harus mengambil Kotak Pandora dulu!"

"Itu sih sudah dilakukan," kata Break sambil menunjuk Alice. Yang ditunjuk mengangkat benda yang dipegangnya dengan bangga.

Gil menatap Kotak Pandora beta yang dipegang Alice dengan tidak percaya, "Bagaimana? Kau?" tanyanya terbata-bata.

Alice tersenyum lebar, "Ceritanya panjang! Intinya, kita tidak perlu repot-repot untuk mencarinya lagi!"

"Zwei? Kau baik-baik saja?" tanya Elliot khawatir ketika tiba-tiba Zwei kehilangan keseimbangannya dan terpaksa bersandar ke tubuh Elliot.

"Tenagaku hampir habis," gumamnya. "Mereka akan terbebas dalam waktu lima menit kalau kita tidak segera pergi dari sini!"

Gil melirik ke arah orang-orang yang tadi mengepungnya. Benar saja, dia bisa melihat jari-jari mereka mulai bergerak, tanda kalau pengaruh benang doldam mulai memudar.

"Kalau begitu, lebih baik kita pergi dari sini sekarang," kata Oz. "Reo, kau bisa jalan sendiri, kan? Jadi Elliot bisa memapah Gil."

.

"Biar aku yang melakukannya," Reo menawarkan diri ketika Gil hendak menyegel Kotak Pandora yang dibawa Alice.

"Tapi," Gil sudah mulai memprotes, tetapi Reo memotongnya.

"Kau membutuhkan seluruh kekuatan Raven untuk melakukan 'penghancuran'. Lagipula, Wocky bilang kalau kau tidak perlu menyegel kedua kotak itu tidak harus disegel oleh orang yang sama. Kau akan tetap bisa menghancurkannya walaupun aku adalah Penyegel yang beta!" Reo menjelaskan sambil mengambil Kotak Pandora dari tangan Gil.

"Kau yakin?" tanya Gil skeptis. Reo mengangguk yakin. Gil pun melangkah mundur dan membiarkan Reo mengambil alih tugasnya.

Mereka semua sekarang berada di tempat Break menemukan Sharon satu jam yang lalu. Mereka sengaja memilih tempat itu karena tempatnya cukup luas dan, menurut B-Rabbit, tidak ada manusia yang berkeliaran di sekitar situ.

Gil membiarkan Ada merawat lukanya sementara dia dan yang lain melihat Reo melakukan penyegelan. Reo melakukan hal yang persis sama dengan yang dilakukan oleh Gil dua minggu yang lalu. Irisan di tempat yang sama, rune yang sama, ucapan yang sama. Satu-satunya perbedaan adalah sekarang Elliot dan Echo berada di dekatnya, siap untuk menyadarkannya sebelum Jabberwock mengamuk.

Sebelum Reo sempat membuka matanya setelah dia selesai mengucapkan apa yang perlu dikatakan, Elliot dan Echo segera meninju anak laki-laki itu.

"Hei, jangan mengamuk sekarang, oke?" gumam Elliot pelan.

Reo mengerjapkan matanya ketika Jabberwock meninggalkan tubuhnya, kemudian tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Elliot segera menahan tubuhnya sebelum dia terjatuh ke tanah. Entah bagaimana, Reo berhasil mempertahankan kesadarannya.

"Selesai," katanya dengan nada letih. Oz menghela nafas lega. Sepertinya dia senang karena tugas yang sudah diembannya sejak kecil akan selesai sebentar lagi.

"Apa kita harus menghancurkannya sekarang juga?" tanya Alice. "Gil tidak berada dalam kondisi prima sekarang. Tidak bisakah kita melakukannya besok, setelah Gil beristirahat?"

"Sebenarnya, lebih cepat lebih baik. Tapi, itu terserah Gil," jawab Oz, kemudian dia menatap Gil. "Kalau kau mau melakukannya nanti, aku tidak akan mencegahmu!"

Tatapan semua orang kini mengarah ke arah Gil, menunggu jawabannya.

"Aku akan melakukannya sekarang," jawab Gil mantap.

"Baiklah kalau itu maumu," kata Oz. "Apa yang harus kami lakukan sekarang."

Gil menatap delapan orang di depannya, kemudian membuka mulutnya, "Jauh-jauh dari sini!"

"Eh?" seruan Break seakan-akan mewakili keterkejutan teman-temannya. "Tapi, Gil! Kami ingin melihat kau melakukannya!"

Yang lain juga mulai menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Hanya Reo yang tetap diam, dan Gil tahu alasannya. Reo tahu konsekuensi apa yang harus dihadapi oleh Gil, dan dia menghormati keinginan Gil untuk tetap merahasiakan soal konsekuensi itu.

"Proses ini akan menimbulkan ledakan yang setara dengan Pemutusan," akhirnya Reo angkat bicara ketika protes yang lain mulai mereda. "Mungkin malah lebih besar. Jadi lebih baik kalau kita pergi dari sini."

"Kalau begitu, apa yang akan terjadi dengan Gil?" tanya Alice dengan nada menuntut.

Elliot menatap Reo dan Gil dengan tatapan curiga, "Kalian merahasiakan sesuatu dari kami berdua, ya?"

"Aku akan baik-baik saja," kata Gil sambil tersenyum tipis. "Ledakan itu tidak akan mempengaruhiku. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, Alice!"

"Apa kau yakin?" tanya Oz. "Kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri! Lebih baik aku gagal menyelesaikan tugasku daripada aku kehilangan seorang teman lagi!"

"Tidak akan terjadi apa-apa, sungguh!" Gil sendiri heran bagaimana dia bisa mengucapkan kebohongan itu dengan lancar.

Oz menghela nafas. "Baiklah, kami akan menjauh. Kalau kau sudah selesai, kami menunggumu di markas. Tetaplah hidup, oke?" katanya sebelum dia membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi.

"Semoga beruntung, Gil!" bisik Sharon sebelum dia dan Break mengikuti Oz.

"Kita akan merayakan kemenangan kita nanti malam, oke?" sambung Break. "Aku tahu kita belum cukup umur untuk minum-minum, tapi kurasa aku tahu dimana Revis menyimpan persedian minuman kerasnya."

"Break!" Sharon memukul kepala anak laki-laki itu.

"Ampun, Sharon! Intinya, tetap hidup, oke?" Break mengedipkan sebelah matanya, kemudian dia juga pergi.

Ada membantu Echo berjalan. Gadis itu menoleh ke arah Gil, "Cepat selesai agar aku bisa merawat luka-lukamu dengan benar, oke?" katanya kepada Gil.

"Zwei bilang kalau dia mau mengucapkan "semoga beruntung" untukmu," kata Echo dengan nada datar. "Jangan mati, oke?"

"Kenapa semua orang mengatakan hal-hal seperti itu, sih?" protes Gil. "Aku akan baik-baik saja!"

Kedua gadis itu memandang Gil dengan skeptis, tetapi mereka berdua mengangkat bahu mereka bersamaan dan pergi.

Yang berikutnya pergi adalah Reo.

"Hati-hati," katanya. Kemudian dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Gil, "Kau yakin dengan semua ini?"

Gil mengangguk dengan tidak kentara. "Bilang ke Oz untuk menjaga Alice untukku, oke?" dia balas berbisik. Reo mengangguk mengerti sebelum menyusul yang lain.

Elliot berlutut di depan kakaknya. "Tahu tidak? Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai mati!" desisnya.

"Aku akan baik-baik saja,"jawab Gil.

"Aku tidak percaya itu," balas Elliot. Dia bangkit berdiri dan mulai melangkah pergi, tetapi kemudian dia menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Kita belum menyelesaikan masalah kita dengan Vincent. Tadi aku berduel dengannya, dan aku mengatakan kalau aku tidak akan mengizinkannya mati begitu saja. Kalau misalnya kalian berdua benar-benar mati, aku akan membangkitkan kalian agar aku bisa menghajar kalian sampai mati, paham?"

Gil tergelak, "Aku mengerti, dik! Tenang saja, aku akan baik-baik saja!"

Elliot kembali menatap lurus ke depan. "Hati-hati, kak," katanya lirih sebelum dia kembali melangkah.

Orang terakhir yang pergi adalah Alice. Dia melangkah menghampiri Gil dan menyerahkan Kotak Pandora yang berlumuran darah Reo kepada Gil, yang Gil terima. Gadis di depannya menatapnya sebentar sebelum dia mendesah pelan.

"Kau harus tetap hidup agar kau bisa memberitahuku apa maksud ciuman kemarin malam, oke?" pintanya sebelum dia bangkit berdiri dan menyusul yang lain.

Gil menatap punggung teman-temannya yang semakin menjauh dengan pandangan sedih. Beberapa dari mereka sesekali menoleh ke belakang, seakan-akan entah bagaimana mereka tahu kalau mereka tidak akan melihat Gil dalam keadaan masih bernafas lagi.

"Maaf semuanya," bisik Gil. "Aku tidak akan bisa menepati janjiku."

Beberapa saat kemudian, dia tidak bisa lagi melihat teman-temannya ketika mereka menghilang ke suatu gang kecil. Dalam hati, dia menghitung sampai seratus untuk memberi teman-temannya waktu untuk menjauh dari tempat itu.

Setelah dia yakin kalau teman-temannya telah berada cukup jauh, Gil meletakkan Kotak Pandora beta di tanah dan mengeluarkan yang alpha dari ranselnya. Kemudian, dia meletakkannya di tanah juga, berdampingan dengan pasangannya.

Gil bisa merasakan aura kedua kotak itu semakin menguat ketika dia mendekatkan kedua kotak itu. Aura itu bertambah kuat lagi ketika mereka bersentuhan dan Gil membuka kedua tutupnya tanpa melihat agar kesadarannya tidak terhisap ke Abyss.

"Raven," Gil memanggil chainnya. Sedetik kemudian, dia bisa merasakan kehadiran chain itu di benaknya.

"Waktunya telah tiba," gumam Gil. Dia memungut belatinya yang tergeletak di atas tanah dan bersiap untuk menyabetkannya ke pergelengan tangannya.

Dia sudah menjulurkan tangannya di atas kedua Kotak Pandora ketika dia mendengar suara seseorang memanggilnya.

"Kakak!"

Seseorang menubruk Gil dari belakang, membuat anak laki-laki itu kaget setengah mati. Dia menoleh dan kedua iris emasnya segera beradu dengan iris emas-merah yang dikenalnya dengan baik.

"Vincent?" gumamnya tidak percaya.

"Kakak," suara itu menjawab pertanyaan Gil. Orang itu memang milik Vincent. Pengkhianat Pandora, sekaligus adik Vincent.

"Kenapa kau ada di sini?" gumamnya, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Vincent menundukkan kepalanya, seakan-akan dia tidak berani melihat wajah Gil. Samar-samar, Gil bisa mendengar Vincent membisikkan sesuatu.

"Huh?" kata Gil bingung.

"Maaf," Vincent mengulang apa yang barusan dikatakannya dengan sedikit lebih keras.

"Maaf karena mengkhianati Pandora… Maaf karena aku telah membuat Kakak dan Elliot menderita… Maaf karena aku hidup…" gumamnya.

Gil menepuk kepala Vincent dengan pelan, "Tahu tidak? Kurasa itu semua sudah tidak masalah sekarang!"

Gil melambaikan tangannya di atas kedua Kotak Pandora, "Benda ini akan hancur sebentar lagi. Aku tidak tahu kenapa kau bersedia menjadi mata-mata Dark Sabrie, Vincent, tetapi aku tidak bisa membiarkanmu mengambil Kotak Pandora. Aku tidak akan membiarkan Abyss dan dunia ini bersatu!"

Vincent mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya. Gil nyaris tidak pernah melihat Vincent menangis sejak ibu mereka meninggal, tetapi sekarang dia bisa melihat air mata yang ditahan oleh Vincent dengan jelas.

"Kakak memaafkanku?" tanyanya pelan.

"Kurang lebih," balas Gil. "Walau begitu, aku tetap tidak bisa memaafkanmu terhadap apa yang kau lakukan kepada yang lain, terutama Alyss dan Jack!"

Vincent tertawa hampa, "Aku tidak berharap untuk dimaafkan dalam hal itu."

Sekali lagi, Gil menepuk kepala Vincent. "Kau juga harus minta maaf kepada yang lain, oke? Terutama Echo dan Zwei!"

"Aku akan melakukan itu, kalau aku masih diizinkan hidup," kata Vincent. Gil baru memperhatikan perban-perban berlumuran darah yang membungkus tubuh adiknya di beberapa tempat. Dia menautkan alisnya.

"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya.

"Itu tidak penting. Lagipula, bukannya keadaan kakak sama parahnya denganku?" Vincent bertanya balik.

Gil tertawa. Vincent benar, keadaannya sama parahnya dengan adiknya. Dia harus cepat-cepat, kalau tidak dia akan pingsan karena kehabisan darah sebelum dia sempat melakukan apa yang harus dia lakukan.

"Pergilah," dia berkata kepada Vincent. "Aku akan menghancurkan kedua kotak itu sekarang. Aku tidak ingin kau terjebak dalam ledakan yang akan terjadi ketika aku melakukannya."

Vincent menatapnya dengan khawatir, "Bagaimana dengan kakak sendiri?"

"Aku akan baik-baik saja," Gil kembali berbohong. "Sekarang, pergilah!"

Dengan enggan, adiknya bangkit berdiri. "Kakak tidak boleh mati," pesannya.

"Kenapa semua orang mengatakan itu?"

.

Matahari sudah mulai terbenam.

Gil menatap langit senja di depannya dengan kagum. Berkas-berkas cahaya terakhir matahari menimpa tubuhnya yang kelelahan karena pertempuran yang panjang, mewarnainya dengan warna jingga.

"Aku kira aku tidak akan melihat matahari terbenam lagi kemarin," katanya pelan. "Aku salah, Ah, kenapa semuanya begitu indah ketika kau akan pergi?"

Dengan berat hati, Gil mengalihkan pandangannya dari langit senja yang dikaguminya ke kedua Kotak Pandora yang berada di depannya. Dia berusaha untuk tidak melihat ke bagian dalam kotak itu terlalu lama. Akan repot kalau jiwanya tersedot ke Abyss pada saat seperti ini.

Gil menjulurkan tangan kanannya di atas kedua benda itu, tangan kirinya menempelkan mata belati ke pergelangan tangannya. Dia menghela nafas, kemudian tanpa ragu mengiris pergelangan tangannya. Darah langsung mengucur dari pergelangan tangan Gil, membasahi kedua Kotak Pandora itu dan mengisi bagian dalamnya.

"Aku siap, Raven," gumamnya.

"Apa kau yakin dengan semua ini, tuan? Kau tahu harga apa yang harus kau bayar, kan?"

"Tentu saja aku tahu," tukas Gil. "Nyawaku, bukan? Ambil saja, aku tidak peduli! Aku sudah tidak punya penyeselan lagi. Aku sudah berbaikan dengan Vincent. Elliot sudah menemukan keluarga baru. Alice sudah bahagia bersama Oz. Apa lagi yang harus aku sesalkan?"

"Ingat, ini hanya pemecahan sementara. Manusia itu makhluk yang memiliki keingintahuan yang besar. Aku yakin suatu hari nanti mereka akan menemukan jalan lain untuk menyebrang ke Abyss, bahkan tanpa menggunakan sihir!"

"Setidaknya, itu tidak akan terjadi pada beberapa generasi ke depan, kan?" tanya Gil.

"Aku tidak bisa menjamin itu. Tapi, mungkin itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?"

"Terserah kau, tuan!"

Gil tersenyum ketika dia melanjutkan ritual The Last Sacrifice, ritual untuk menghancurkan kedua Kotak Pandora dan mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama berabad-abad itu.

"Aku tidak punya penyesalan," pikir Gil sementara mulutnya mulai merapalkan kata-kata finalnya.

.

Alice merasakan ada sesuatu yang salah ketika dia mendengar suara ledakan. Tetapi perasaan itu segera terlupakan ketika rasa sakit menghantam dada Alice.

Rasa sakit itu membuat tubuhnya sempoyongan dan terjatuh ke tanah. Gadis itu mencengkram dadanya yang terasa terbakar dan meringkuk kesakitan di tanah. Jeritan tertahan keluar dari mulutnya. Samar-samar, dia bisa mendengar erangan kesakitan teman-temannya dan teriakan panik seseorang.

Tiba-tiba, dia bisa mendengar suara bisikan di benaknya.

"Cheshire harus pergi, nyaa! Terima kasih karena telah membiarkan Cheshire melihat duniamu, nyaa! Selamat tinggal, Alice!"

Air mata Alice mulai merebak. Cheshire sudah menjadi bagian dari dirinya, dan dia tidak rela membiarkannya pergi. Tapi, dia tahu Cheshire harus pergi, demi kebaikan kedua dunia.

"Selamat tinggal, Cheshire! Terima kasih untuk semuanya!" bisik Alice.

Sedikit demi sedikit, rasa sakit yang dirasakan Alice mulai memudar. Dia menggunakan kedua tangannya untuk membantu tubuhnya agar bisa duduk. Dia melihat teman-temannya juga tergeletak di atas tanah seperti Alice, kecuali Ada dan Sharon tentu saja. Alice adalah orang pertama yang pulih.

"Alice! Kau baik-baik saja?" tanya Ada panik ketika dia melihat Alice berusaha bangun.

"Kurang lebih," erangnya.

Yang berikutnya pulih adalah Oz. Dia menatap ke arah barat, "Sepertinya Gil berhasil melakukannya."

Elliot, Reo, Echo dan Break juga sudah pulih dari Pemutusan paksa yang mereka alami. Mereka semua menatap ke arah barat.

"Aku bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja," gumam Sharon.

Semua orang segera mengalihkan pandangan mereka ke arah Reo, tetapi yang dipandang malah mengalihkan pandangannya, menolak untuk menatap teman-temannya.

"Reo! Apa yang terjadi pada kakakku!" hardik Elliot kepada Reo. Tapi Reo menolak menjawab dan malah menggigit bibirnya.

"Reo," panggil Echo. "Konsekuensi yang pernah kau bicarakan dengan Gil itu, yang aku tidak sengaja dengar, apa maksudnya?"

Kebisuan Reo menjawab pertanyaan Echo dengan cukup jelas.

"Tidak mungkin," gumam Alice. "Aku menolak untuk mempercayai ini!"

Dia menunggu hingga seseorang mengatakan kalau apa yang dia pikirkan salah, tetapi tidak ada yang berbicara. Semua orang mengepalkan tangan mereka, marah kepada diri mereka sendiri karena mereka tidak menyadarinya lebih awal.

Air mata Alice kembali merebak. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia meneriakkan nama orang yang telah mengorbankan semuanya untuk kemenangan Pandora.

"GIL!"

OWARI(?)

A/N:

Minna! I miss you! *ditimpukkarenaupdateyangsupe rlama

Huee, akhirnya, setelah dua tahun tiga bulan, Aoife berhasil menyelesaikan PSC! Tapi, apakah ini benar-benar akhir dari semuanya? Kita lihat saja nanti! *ditimpukpart2

Yo, Aoife gak bakal banyak cuap-cuap kali ini. Tapi nanti, siap-siap dengan curhatan Aoife, oke?

P.S: Oke, bagi anggota Gilbert's Fans Club, please jangan bunuh Aoife, oke?

P.S.S: Ini chapter terpanjang yang pernah Aoife tulis! 6000 kata lebih lho! *bangga *ditimpukpart3

P.S.S.S: Maaf kalau keseluruhan chapter ini aneeeeehhhhh bangeeettt! Terutama bagian perpisahan sama ketemuan Vincentnya…