Epilog

Cast :

VIXX N as Yeonie & Cha Hakyeon (GS)

VIXX Leo as Leo & Jung Taekwoon

JYJ Junsu as Jung Junsu (GS)

VIXX Hongbin (GS)

VIXX Hyuk

DBSK U-Know

Wu Yifan/Kris

VIXX Ravi

EXO Chanyeol (GS)

~ AERIAL ~

Sebuah taman di kota Seoul, South Korea, malam hari.

Hakyeon membeli chili dog favoritnya di kios Hotdog Valley yang sudah mau tutup. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dan ia baru saja tiba di taman kota ini, di-drop temannya seklub pecinta alam setelah kemarin mendaki.

Tiga minggu berlalu sejak pengalaman ajaib nan menakjubkan di Aerial, dan kini setelah kembali ke kehidupannya yang normal, hubungannya dengan Taekwoon kembali jadi normal juga, alias nggak saling kenal lagi. Kecewa dengan kenyataan itu, Hakyeon pun langsung mengiyakan ketika temannya mengajaknya naik gunung, berharap dapat 'melarikan diri' kea lam, ke tempat yang paling disukainya.

Setelah menghabiskan makanannya dan mencari tempat sampah terdekat, Hakyeon baru menyadari ada tiga bayangan yang mengikuti gerak-geriknya.

"Siapa?!" Hakyeon berbalik badan cepat.

"Malam-malam begini sendirian aja, Neng…" orang pertama muncul sambil memainkan pisaunya di tangan.

"Kita temenin deh." Sosok kedua nggak mau kalah aksi.

"Atau Neng aja yang ikut ama kita—ADDAWW!" belum selesai sosok ketiga ngomong, orang ini mengaduh kesakitan. Hakyeon dapat melihat siluet tangan sosok ini dipelintir dari belakang—ada sosok lain, sosok keempat yang kini muncul!

"Jangan beraninya ama cewek, Bung!"

Hakyeon kaget—dan seneng abis mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenalnya.

"Taekwoon!" Tanpa sadar sahutan Hakyeon terdengar sangat bahagia, memanjakan telinga Taekwoon yang masih menikmati peran jadi pahlawan sepulang dari Aerial.

Langsung aja nih cewek berlari ke belakang tubuh Taekwoon. "Oom-oom yang baik, pacarku ini baru aja keluar dari penjara, ketahuan gebukin orang kayak oom-oom sampe jadi setengah mati. Dari luarnya aja dia keliatan tenang, padahal dalemnya sakit jiwa," Hakyeon berkata sambil senyum-senyum. Tangannya dengan kasual mengamit lengan Taekwoon.

"Jangan main-main sama kita ya!" Si preman pertama mengacungkan pisaunya… dengan tangan gemetaran.

"Heeeh? Jadi nggak boleh main-main." Taekwoon maju selangkah, membuat ketiganya mundur serentak. "Atau lu pada takut main-main ama gue? Ayo maju satu-satu atau sekalian aja tiga-tiganya… CEPETAN!"

Suara menggelegar Taekwoon membuat ketiga preman itu lari kocar-kacir.

Hakyeon memperhatikan itu serya bertolak pinggang. "Awas, jangan balik lagi!"

Melihat lagaknya, Taekwoon mengulu senyum geli. Sekilas ia memperhatikan apa yang menarik perhatian mereka hingga ingin mengganggu Hakyeon (selain karena body Hakyeon yang lumayan semok). Ternyata jam tangannya. Hakyeon memakai arloji emas gaya androgini dengan aksen patent-leather cokelat tembaga yang sangat menarik perhatian. Dan di tengah kegelapan, butir-butir berlian yang menghiasi jam tangan itu terlihat berkilauan.

Taekwoon tahu soalnya Junsu, kakak perempuannya, juga memiliki jam tangan serupa.

"Arloji lu tuh nggak Cuma ngundang copet, tapi juga perampok, tau?!" komentar Taekwoon, ketus dan asal-asalan.

Hakyeon sempat cemberut. Dibentak lagi, dibentak lagi.

Lalu pandangan matanya tertumbuk pada lengan kanan Taekwoon yang sejak tadi tampak frigid, tidak bebas bergerak. Hakyeon teringat peristiwa di Porta Illusia, saat mereka di hadang ikan pari raksasa.

"Lengannya masih sakit, ya?" Hakyeon meyentuh perlahan.

Taekwoon berusaha tidak terbawa suasana sentimental walau susah. Ia mengangguk sok cool. Sikap yang sebenarnya ia tampilkan untuk menyembunyikan wajah blushing-nya.

"Waktu itu aku belum sempat bilang makasih… kamu benar-benar ngajagain aku, selamat sampai di sini lagi—"

"Udah deh. Berisik!" Taekwoon berbalik badan, berhadapan muka dengan muka dengan gadis ini.

Ekspresi wajah Hakyeon tampak kesal sekali. Kedua tangannya terkepal keras di depan dada, "Aku kan belum selesai bicaraa—hmmph!"

Taekwoon menghentikannya dengan sebuah ciuman. "Kalau begitu nggak perlu bicara…"

.

.

.

"Aargh! Sudah. Cukup, cukup. Aku nggak mau lihat lebih jauh. matikan itu, Linc!" Yeonie memalingkan wajahnya melihat pemandangan yang disajikan si kuda terbang dengan kekuatan bintang emasnya.

Leo, Hongbin, Hyuk, dan Jenderal U-Know tertawa melihat polah Yeonie.

Setelah bersantap malam bersama-sama di bawah terang bulan, mereka pun memohon diri, meninggalkan Yeonie dan Leo yang malam itu memakai mantel dan selimut tebal.

"Kedua jiwa penjaga itu terlihat bahagia… yeah, di dunia mereka tentunya," Leo menambahkan kayu bakar ke dalam api unggun.

"Ya, seperti kita." Yeonie merangkul kekasihnya erat. Matanya tidak bisa lepas dari pesona indah, mistisnya rembulan yang begitu besar dan bulat.

Suara lolongan serigala terdengar menggema keras lalu berubah menjadi sayup-sayup, seperti banshee yang melebur dengan angina.

Yeonie tahu bahwa serigala merupakan binatang yang akrab dengan orang-orang Kegelapan.

"Mereka merindukan Kris dan Ravi," Leo menerjemahkan arti lolongan itu. Sorot matanya sempat terlihat sedih. Seperti diriku juga. Dua sosok yang akan selalu kukenang, tak lekang oleh waktu…

"Mereka akan hidup di hati kita. Kris juga kakakku," Yeonie bersungguh-sungguh. "Oh ya, kudengar Chanyeol ini menetap di Kegelapan?"

Leo mengangguk.

"Ia memutuskan meneruskan penelitian ramuan anti matahari bersama para ilmuwan dari Kegelapan. Sepertinya itu janji terakhirnya pada Kris. Chanyeol sangat mencintai kakakku. Kris beruntung memilikinya."

Yeonie merasa wajahnya panas, ingin menangis. "Jadi semua sudah berakhir?"

"Tidak." Leo berbalik badan, menarik wajah Yeonie mendekat. "Semua baru saja dimulai. Aerial kita."

"Yeah." Mata Yeonie langsung berubah berbinar-binar. "Aerial kta. Terdengar baru dan… penuh harapan."

"Ya. Semua terasa dan terdengar baru karena kita telah melakukan perubahan," Leo, tidak biasanya, berfilosofi.

Yeonie mengangguk setuju.

"Dan perubahan ini untuk masa mendatang yang lebih baik lagi."

Berkat perjuangan Yeonie, Leo, dan teman-teman mereka, termasuk bantuan Taekwoon serta Hakyeon, exitium—atau kehancuran yang sesungguhnya dapat dicegah.

Kini Aerial secara ajaib bersatu dengan Dataran Kegelapan dan Cahaya.

Perlahan-lahan setelahnya, upaya gencatan senjata pun dijalankan.

Sebagai pengganti putra mahkota yang telah tiada, tiga tahun kemudian Leo naik tahta, menarik Yeonie sebagai istrinya. Dengan tegas dan tanpa pengecualian, ia mengharuskan perdamaian di seluruh wilayah Kegelapan-Cahaya, yang kini telah menjadi satu nama: Negeri Aerial.

~ Real End ^^ ~

Akhirnyaaaaaa~~~~~~~~

Dari tahun lalu ff ini gak tamat-tamat, tahun ini akhirnya berhasil namatin juga~ :'D

Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)

Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini, dan berhubung ini sudah selesai, saya mau menyempatkan diri berterimakasih satu-satu kepada kalian yang sudah comment, fav & follow dari awal: 02NiyuchaLeticia || aafnjyh DevilSRK || dpramestidewi || Hesty049 || hirokisasano1 || Hwimang || Jaehyunjayjungie || Kimberlite || ktilaar || Lieyana692 || Lizzy sakurayuki || narang97 || oreocadel || Phee Anee || Rpl Hakyeonah || seorakim99 || sianida42 || TJungN || yeonbin818 || zoldyk || Guests || SilentReaders.

Kalau misalnya ada yang comment, fav & follow setelah chapter ini juga makasih banget-nget-nget, maaf kalau ada yang nggak kesebut atau mungkin salah ketik namanya yaa~ :* dan nama-nama yang saya sebutkan diatas diurutkan sesuai abjad ^^ (ada yang namanya pake '.' saya ilangin, karena kalau dipakai, namanya nggak muncul)

Arigatou gozaimasu~ Thank you very Gamsa~ :*