PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung

WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul

THE PROPOSITION

(The Propotition #1)

By

KATIE ASHLEY …

ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..

YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !


Bab 35

Setengah jalan menuju kantor Yunho, Jaejoong memikirkan Taepoong terjebak di Doggy Daycare. "Sial!" Dia memotong dua jalur sampai mendengar suara klakson berbunyi. Pikirannya sudah begitu disibukkan dengan adanya bayi dalam kandungannya, dia telah melupakan tentang bagaimana teman lamanya.

Ban mobilnya berdecit ketika masuk ke tempat parkir dan bergegas keluar dari mobil. Saat Taepoong melihatnya melalui sela-sela pagar, seluruh tubuh Taepoong mulai menggeliat di segala penjuru, membuat wajah Jaejoong tersenyum. "Hiya boy, kau pikir aku sudah melupakanmu?"

Dia menggonggong dengan apresiatif dan berlari ke pintu masuk untuk menunggunya. Minho, pemilik tempat ini, menyambut Jaejoong dengan tersenyum. "Aku baru saja mulai berpikir mungkin Taepoong akan menghabiskan malamnya dengan kami."

"Tidak, aku sangat menyesal. Aku harus melakukan USG sore ini, dan hal itu yang membuat aku jadi terlambat datang."

"Dan apa jenis kelaminnya?" tanya Minho.

"Seorang anak laki-laki."

"Oh, sungguh luar biasa!" Dia membuka pintu dan menarik tali kekang Taepoong. "Kau dengar itu? Kau akan menjadi seorang kakak."

Taepoong mengabaikannya dan langsung menuju Jaejoong. Dia menyenggol perut Jaejoong dengan hidungnya yang basah seakan menyapa pada bayinya. Mata Minho melebar. "Betapa manisnya!"

Jaejoong tertawa. "Dia baru mulai melakukan hal itu beberapa hari terakhir ini. Ironisnya, setelah aku merasakan gerakan bayi ini untuk pertama kalinya." Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Sepertinya dia akhirnya merasakan sesuatu yang berbeda, dan itu bukan hanya sekedar lemak di bagian dalam perut ini!"

Minho tertawa. "Dia mungkin tidak menyadari sesuatu karena perutmu hampir tidak terlihat!"

"Ah, aku menghargai itu. Aku merasa tubuhku seperti menggelembung."

Taepoong menyentak tali kekangnya. "Baiklah, boy, kita akan pulang dan bertemu dengan Daddy." Telinganya berdiri begitu mendengar nama Yunho. "Selamat malam, Minho."

"Malam!" jawabnya, sambil melambaikan tangan.

Jaejoong bergulat dengan Taepoong saat menuju mobil dan menempatkannya ke dalam. "Tidak mungkin aku akan membawamu ke kantor Daddy. Kurasa lebih baik aku menurunkanmu di rumah sebelum aku pergi menemuinya."

Taepoong melolong pada kemungkinan itu saat mereka keluar dari tempat parkir. Karena rumah Yunho lebih dekat, Taepoong pikir Jaejoong akan membawanya kesana.

Saat melihat mobil Yunho di halaman, jantung Jaejoong bergetar hingga berhenti. Karena melihat Audi perak parkir di sebelahnya yang menyebabkan paru-parunya mengerut. Dia berjuang untuk bernapas.

Sebuah pemikiran melintas di benaknya seperti badai petir. Dia mengatakan meeting-nya membutuhkan waktu yang lama. Dia seharusnya masih berada di tempat kerja. Tapi dia ada di rumah.

Dengan tangan gemetar, dia mematikan mesinnya dan membuka pintu mobil. Taepoong menerjang keluar, tapi Jaejoong tidak perlu repot- repot memegang talinya. Sebaliknya dia fokus pada usahanya untuk berjalan dengan hati-hati menyusuri trotoar.

Menggunakan kunci yang Yunho berikan kepadanya, dia membuka pintu depan. Ruang tamu dalam keadaan gelap kecuali lampu gantung yang diredupkan. Yunho duduk santai di sofa sementara si Brunette yang berkaki panjang duduk mengangkang di pangkuannya. Yunho masih berpakaian lengkap kecuali kemejanya tidak dikancingkan dan tidak dimasukkan. Sebaliknya wanita itu, sudah menanggalkan bajunya, dan rok pendeknya naik sampai pahanya. Tangan Yunho berada di lengannya seolah-olah dia hendak mendorongnya menjauh dari dia.

Beberapa saat terasa sangat menyakitkan, Jaejoong hanya bisa menatap dengan tidak percaya. Berkedip, dia mencoba bangun dari mimpi buruk yang ada di hadapannya, meski tidak peduli seberapa keras dia mencoba, tetap saja dia tidak bisa. Semua ini terlalu nyata. Pria yang dicintainya dan ayah dari anaknya tidak datang pada hari yang paling penting dalam hidupnya karena sedang menyetubuhi wanita lain. Sebuah jeritan seperti mencekik meledak dari bibirnya.

Dari suara yang terdengar di belakang mereka, Yunho tersentak.

Ketika dia melihat Jaejoong berdiri disana, matanya melebar dengan ketakutan, dan dia menarik napas. "Apa yang kau lakukan disini?" desaknya.

Air mata menusuk dan menyengat matanya, tapi Jaejoong tertawa dengan histeris. "Apa yang aku lakukan di sini? Kupikir pertanyaan yang lebih baik adalah apa yang kau lakukan?"

Mendengar ada suara lain membuat si Brunette memutar kepalanya.

Tatapannya menyusuri dari wajah Jaejoong turun ke perutnya yang membesar. Suara mendesis keluar dari bibirnya sebelum dia menggelengkan kepalanya. "Sialan aku tidak mempercayai ini." Dia membalikkan kepalanya lagi kemudian marah pada Yunho. "Tidak heran kau tidak bisa ereksi! Rasa bersalah karena berselingkuh dari istrimu yang sedang hamil pasti benar-benar telah mengacaukanmu!"

"Dia bukan istriku...belum," jawab Yunho, suaranya berbisik.

Si Brunette itu memberikan tamparan keras ke pipi Yunho, dan Jaejoong menggigit bibirnya bukannya berterima kasih padanya karena melakukan itu. Pada saat inilah, dia merasa senang ingin menyakiti secara fisik yang jauh lebih buruk kepadanya. "Aku tidak peduli siapa dia! Kau seorang bajingan yang brengsekl!" Dia menjauhkan dirinya dari pangkuan Yunho dan menyambar bajunya. Setelah meluncur melewati atas kepalanya, dia meraih sepatu haknya dan berjalan ke arah Jaejoong. Kemarahan di wajahnya sedikit mencair.

"Aku benar-benar menyesal. Aku mendengar di tempat kerja dia adalah seorang player, dan aku menginginkan permainan itu. Aku tidak tahu ..." suaranya berhenti saat dia melirik perut Jaejoong.

"Terima kasih," bisik Jaejoong saat perempuan itu mulai berjalan melewatinya. Dia melompat mendengar suara pintu depan dibanting.

Dengan kaki gemetar, dia melangkah sedikit maju, menutup

kesenjangan jarak antara dirinya dan Yunho. Yunho bangkit dari sofa, sambil meraba-raba mengancingkan kemejanya.

Ketika Jaejoong berdiri disana, hanya menatap, Yunho menghembuskan napas panjang. "Katakan sesuatu."

Jaejoong mengangkat alis ke arahnya. "Dan kamu ingin apa yang kukatakan?"

"Aku tidak tahu...hanya apapun untuk mencegah kamu memandangiku seperti itu."

"Well, terus terang, Kurasa teman wanitamu sudah mengatakan yang terbaik. Kau seorang bajingan yang brengsek!"

"Aku setuju dengan kata itu."

"Hanya itu yang kau katakan? Bukan kata penyesalan atas penghargaanmu betapa pentingnya hari ini dengan tiba-tiba tidak datang saat USG karena ingin berselingkuh?"

Yunho menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tidur dengannya."

Jaejoong mengangkat tangannya dengan jengkel. "Kau akan melakukannya sebelum aku mengganggu kalian!"

"Aku bersumpah, aku tidak ingin menidurinya. Aku baru saja bilang padanya bahwa aku tidak bisa melakukan itu, dan dia harus segera pergi. Ya Tuhan, kamu mendengar sendiri saat dia mengatakan aku tidak bisa ereksi!"

"Dan itu seharusnya membuat aku merasa lebih baik tentang fakta bahwa kamu memiliki pelacur yang menaiki kamu ketika aku masuk kesini?"

"Dengar, aku mengaku bahwa aku mengacaukannya. Tapi aku benar- benar minta maaf."

"Oh, kurasa kau juga menyesal karena kau telah berbohong padaku saat kau bilang kau akan berubah. Ya Tuhan, aku begitu bodoh mempercayaimu akan memperlakukan aku secara berbeda dari Uee atau wanita lain. Aku seharusnya menyadari hal ini, siapa kamu dan apa yang kamu lakukan."

"Jaejoong, please, aku sangat menyesal!"

"Benarkah? Apakah kau benar-benar merasakan hal itu atau hanya beberapa kata yang kamu pikir bisa kau katakan untuk memperbaiki keadaan di antara kita?" Suaranya tersedak dengan isak tangis yang meningkat di tenggorokannya. "Apa kau sungguh-sungguh dan betul-betul menyesal karena kau telah mematahkan hatiku?"

Yunho meringis. "Kau tak tahu apa yang sudah aku alami akhir-akhir ini. Aku tidak akan pernah menjadi semua yang kau butuhkan, Jaejoong. Dan tekanan untuk mencoba ke arah sana hanya akan menghancurkan aku."

Jaejoong tidak perlu repot-repot menyeka air mata yang membasahi pipinya. "Jadi apa yang kamu katakan mencoba untuk memiliki hubungan denganku telah mengantarkanmu ke pelukan wanita lain?"

Ekspresi Yunho menjadi sedih. "Bukan, bukan itu yang kumaksud."

Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku mengacaukan apa yang seharusnya aku katakan dan lakukan. Dan kau membuat hal ini menjadi lebih menyulitkan aku. Aku merasa cukup bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan."

"Lebih menyulitkanmu?" Dia mempertanyakan, suaranya naik satu oktaf. "Bagaimana mungkin hal ini bisa membuatmu menjadi lebih sulit? Akulah orang yang membuka diri untuk semua rasa sakit ini meskipun keputusanku yang lebih baik." Jaejoong mengusap air matanya yang keluar dengan kepalan tangannya.

Yunho melangkah ke arahnya, tapi Jaejoong mundur menjauhinya.

"Jangan berani-berani menyentuhku setelah tanganmu berada di seluruh tubuh pelacur itu!"

"Jaejoong, tolong jangan lakukan ini. Aku sudah bilang kalau aku sangat menyesal. Aku akan melakukan apapun untuk menebusnya."

Bahkan tanpa berpikir, Jaejoong berseru, "Katakan padaku bahwa kau mencintaiku."

Yunho menatapnya, tidak berkedip dan tidak bergerak. "Apa?"

"Kau secara emosional sudah menutup diri dariku sejak aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Jadi, kalau kau benar-benar serius mengatakan bahwa kau begitu menyesal dan kau sungguh- sungguh tidak ingin aku pergi, maka ucapkan kata-kata itu. Katakan kau mencintaiku."

Melihat keraguan pada diri Yunho, tikaman rasa sakit yang menjelajahi sampai ke dada Jaejoong. Keheningan bergema menjalari tubuhnya sekeras kereta barang. Dia menggelengkan kepalanya.

"Itulah apa yang kupikirkan," gumam Jaejoong.

Tangannya meraih tas yang ada di sampingnya, dan dia meraba-raba mencari DVD sonogram. Dengan semua rasa sakit hati dan kemarahan yang mengalir dalam dirinya, dia melemparkan DVD itu ke Yunho. Keras langsung mengenai dadanya, menyebabkan Yunho meringis. "Bukan berarti membuat kamu tertarik, tapi itu adalah video dari anakmu. Aku hanya bisa berharap dan berdoa dia tumbuh tidak seperti ayahnya!"

Sambil menangis, Jaejoong berbalik dan lari dari ruangan. Taepoong mengikutinya keluar pintu, melolong bersamaan dengan tangisan Jaejoong. Saat dia merogoh kuncinya, Yunho memanggil Jaejoong beberapa kali untuk kembali, tapi dia menolak. Lalu Yunho mulai memanggil Taepoong.

"Kembalilah, boy," Jaejoong menginstruksikan, jarinya yang gemetar menunjuk ke arah Yunho. Dia langsung membuka pintu mobil, tetapi Taepoong tetap tidak mau pergi dari sisinya.

"Sialan, Taepoong, aku bilang datang!" teriak Yunho, melangkah dari teras. Dia berjalan menghampiri mereka dan mencoba menarik ke belakang ikatan tali leher Taepoong.

Tapi Taepoong menyentak menjauh. Hidungnya menciumi perut Jaejoong, dan dia melolong. Jaejoong bertemu dengan pandangan Yunho yang terkejut. "Ya, benar. Anjingmu bahkan lebih setia kepadaku dan anakmu daripada kamu!"

Dengan tatapan mengalah, Yunho menunduk dan membebaskan ikatan tali leher Taepoong. "Baik, bawa dia."

"Ayo, boy. Masuk ke mobil," instruksi Jaejoong. Taepoong mengibas- ngibaskan ekor dan bersemangat melompat ke dalam. Tanpa melihat Yunho lagi, dia membanting pintu. Suara decitan ban terdengar saat dia keluar menuju jalan raya, dia mencoba untuk menjaga emosinya terkendali. Tapi itu tidak ada gunanya. Dia butuh setengah blok berkendara di jalan sebelum dia menepi. Air mata membutakan matanya dimana dia tidak bisa melihat jalan di depannya, dan dia tidak bisa bernapas dari isak tangis yang berkecamuk di dadanya.

Sebuah ketukan di jendela mobilnya menyebabkan dia melompat.

Sebuah harapan terpantul di dalam diri Jaejoong bahwa Yunho datang mengejarnya. Mendongak, jantungnya langsung jatuh.

Sungmin berdiri di luar mobil, mengintip penasaran padanya. "Jaejoong?"

Sial. Dia bahkan tidak berpikir tentang kemungkinan akan berakhir dengan bertemu Sungmin di jalan. Orang terakhir yang ingin dia temui adalah salah seorang saudari Yunho. Merasa malu, dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan mencoba untuk menenangkan diri. Akhirnya, dia menekan tombol untuk menurunkan kaca jendelanya.

"Hai," katanya, dengan pasrah.

Sungmin menarik napas. "Oh Tuhan, dia tidak akan melakukannya?"

Air mata sekali lagi memenuhi mata Jaejoong. Tidak bisa berbicara, dia hanya menjulurkan kepalanya.

"Aku sangat, sangat menyesal. Dia mencintaimu, sayang. Aku tahu itu. Seluruh keluarga tahu itu. Dia hanya menjadi seorang bajingan yang sangat bodoh."

Jaejoong terisak diantara tangisan. "Katakan itu padanya dan wanita yang akan dia ajak tidur sebelum aku masuk."

Mata Sungmin melebar. "Aku akan membunuhnya," gumamnya dengan gigi terkatup. Dia menggelengkan kepalanya. "Dan jika aku tidak bisa, salah satu dari gadis-gadis lain yang akan melakukannya.

Tuhan melarang ini untuk kembali pada Pop." Sungmin membuka pintu mobil. "Keluar. Kau ikut denganku."

"Tidak, aku tidak bisa. Aku berantakan. Apa yang akan aku katakan pada anak-anak?"

"Tate mengajak mereka ke bioskop malam ini. Disana hanya aku."

Ketika Jaejoong tetap merasa ragu-ragu, Sungmin menyilangkan lengannya di dadanya. "Dengar, kau akan pulang denganku meskipun aku harus menyeretmu sendiri."

"Aku parkir di sisi jalan."

"Tidak apa-apa." Sungmin melihat Taepoong di kursi belakang. "Apa yang kau lakukan dengannya?"

"Dia tidak akan membiarkan aku pergi."

Sungmin mendengus. "Siapapun mengatakan laki-laki adalah anjing yang merindukan perhatian. Taepoong punya loyalitas yang benar.

Jaejoong tersenyum setengah hati. "Ceritakan tentang hal itu."

Sungmin menarik Jaejoong keluar dari kursinya dan satu lengannya memeluk pinggang Jaejoong. "Dengar, kita akan memesan beberapa masakan Cina atau pizza atau apapun yang kau dan bayimu inginkan. Lalu aku akan memanggil para gadis. Kita akan melakukan pertemuan untuk mengatur strategi tentang Yunho."

Jaejoong mengangkat kedua tangannya. "Dan apa yang ingin kau capai? Mengikatnya dan memaksa dia untuk bersamaku? Jika kau melewatkan catatan itu, dia tidak menginginkan aku! Dia membuat itu sangat jelas tidak hanya hampir meniduri wanita lain, tetapi tidak bisa mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku."

"Hal seperti ini bukan pertama kali dia melakukannya, Jae. Pasti dia sudah bercerita tentang Uee?"

"Ya, bagaimana Yunho tidak akan mengatakan itu, kemudian Uee memergokinya dengan wanita lain dan memutuskan hubungannya dengan Yunho."

"Apakah dia juga memberitahumu bagaimana dia menghabiskan waktu setahun terbaiknya dengan minum sampai mabuk dan keluar masuk terapi karena dia mengalami kegilaan atas apa yang dia lakukan terhadap Uee?"

Jaejoong tersentak. "Tidak, dia tidak mengatakannya."

"Hmm, kurasa dia juga berhasil menghilangkan bagian dimana dia mencoba berulang kali untuk meminta Uee kembali padanya, tapi Uee menolak? Dia akhirnya harus menyerah ketika Uee menikah dengan orang lain."

Jaejoong hampir tidak bisa mempercayai pendengarannya. Yunho telah berbohong kepadanya tentang apa yang telah terjadi dengan Uee.

Dia tidak pernah membiarkan kebenaran tentang perasaannya yang begitu mendalam terhadap Uee untuk diketahui. "Dia tidak pernah mengatakan padaku semua tentang itu."

"Aku mengenal kakakku. Dia melakukan apa yang dia lakukan padamu malam ini mendorongmu pergi, bukan karena dia ingin meniduri wanita lain. Dia telah merusak dirinya sendiri setiap kalinya!" Dia mengguman dengan frustrasi. "Berdasarkan cara dia bertindak tentang suatu hubungan, kau akan berpikir dia dibesarkan di rumah yang disfungsional oleh kekacauan atau sesuatu."

Jaejoong bersandar ke mobil dan meletakkan kepalanya di tangannya.

"Aku tidak berpikir aku bisa menangani semua ini!"

Sungmin menarik tangan Jaejoong menjauh, kemudian menatap matanya.

"Kau harus memutuskan di sini sekarang juga apakah kau akan berjuang untuk dia."

"Aku? Kenapa aku harus berjuang? Dia orang yang sangat brengsek!"

"Aku tidak mengatakan dia bukan orang yang brengsek. Tapi berjuang untuk dia tidak berarti kau bisa diinjak-injak dan berlari kembali ke tangannya yang terbuka, Jae. Ini artinya kau mau bertahan dengan omong kosong apapun itu yang diperlukan untuk membuat dia berjuang mendapatkanmu kembali.

"Kau benar-benar berpikir dia akan berusaha untuk itu?"

Sungmin menyeringai. "Oh ya. Besok pagi, bahkan mungkin malam ini, Jung Yunho akan menyesali saat dimana dia membiarkanmu keluar dari hidupnya, dan kau akan bisa menikmati setiap menitnya!"


player: seseorang yang suka bermain seks

Brunette: seorang gadis atau wanita dengan rambut coklat gelap