Unexceptionable

Disclaimer: It's sad, but I just own the plot

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.

A/N: Inspired from"Dangerous Twin" written by aninkyuelf

.

.

Enjoy!

.

.

Sasuke menghembuskan napas panjang. Ia mengarahkan pandangan ke pintu kamar yang baru saja ia kunci sebelum mengalihkannya ke sosok yang tengah bersandar di sisi pintu balkon. Setelah menghembuskan napas panjang untuk yang kedua kali, pemilik rambut raven itu memutuskan untuk kembali duduk di atas tempat tidur sang pemilik kamar.

"Apa yang kau lakukan di sini, Gaara?"

"Itu yang kau katakan setelah kita lama tidak berjumpa? Ouch, that hurts."

Sang Uchiha mengerlingkan mata dan meraih bantal yang sempat ia lepaskan. Dengan santai ia menyandarkan punggung di kepala tempat tidur, kedua lengannya melingkar di benda empuk yang ada di pangkuannya.

"Apa yang sedang kita lakukan di sini?" tanya Gaara yang kini mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. "Sudah lama sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di kamar adikku."

"Kau tahu ini kamar Naruto?"

"Aku menjadi kakaknya bukan tanpa alasan, Uchiha. Mana mungkin aku tidak mengenali kebiasaan adikku."

Sasuke memang kekasih Naruto, tapi itu tidak berarti ia mengetahui segala hal yang berkaitan dengan si pemuda pirang. Selain kebiasaan Naruto menumpuk pakaian yang sudah terpakai di salah satu sisi ruangan, ia sejujurnya tidak tahu lagi apa kebiasaan si pemuda pirang. Di saat seperti inilah ia tidak bisa menahan kecemburuan terhadap Gaara.

Dengan tenang Sasuke memperhatikan semua gerak-gerik Gaara yang kini sudah melangkah menjauhi pintu balkon. Kalau saja ia tidak bisa membedakan, saat ini ia pasti mengira sosok yang sedang mengelilingi ruangan sebagai kekasihnya. Kalau saja ia tidak memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, ia pasti akan terkecoh dan membiarkan pemuda pirang itu menciumnya beberapa saat yang lalu.

"Apa kau pernah berpikir kenapa kau bisa jatuh cinta kepada Naruto, Sasuke?"

"Hn?"

Sasuke bisa menangkap pandangan singkat yang dilemparkan Gaara dari sudut matanya sebelum pemuda itu kembali memfokuskan pandangan ke beberapa frame foto yang ada di atas meja belajar sang Uzumaki.

"Aku ingin tahu apa yang bisa membuatmu bersikeras mempertahankan adikku meskipun kau tahu kalau dia tidak normal seperti orang kebanyakan."

"Aku tidak tahu siapa diantara kau dan Naruto yang sebenarnya tidak normal."

"Easy there, honey. Naruto menjebakku di sini, jadi dalam hal ini kau bisa menyimpulkan kalau dialah yang tidak normal."

"Menjebakmu? Apa yang kau maksud dengan menjebakmu?"

Sasuke menatap sosok yang kini duduk di kursi belajar sang kekasih. Dahinya berkerut ketika putra sulung keluarga Namikaze-Uzumaki itu menyandarkan punggung dan melipat kedua lengan di depan dada.

"Apa kau tahu kenapa aku ada di sini, Sasuke?"

Sang Uchiha berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalannya. Kalau saja ia tahu alasan kenapa Gaara terus muncul, ia tentu tidak akan kesulitan membantu Tsunade dalam sesi terapi.

"Tanyakan kekasihmu, kenapa dia tidak bisa melepaskanku. Tanyakan kenapa dia tidak bisa meluapkan kemarahannya dan malah berbuat hal bodoh dengan memaksaku muncul. Tanyakan—"

Ucapan sang Namikaze terputus saat lawan bicaranya mengangkat sebelah tangan, memberikan tanda untuk berhenti. Berhadapan dan berbincang dengan Gaara setelah sekian lama membuat Sasuke kesulitan memahami maksud dari perkataan yang disampaikan pemuda itu.

Setelah memastikan rasa sakit di kepalanya sedikit mereda, Sasuke berhenti memijat pelipisnya dan kembali melemparkan tatapan pada pemuda yang kini sudah berdiri tepat di sisi tempat tidur yang tengah ia tempati.

Adik Uchiha Itachi itu mendongakkan kepala untuk mempertemukan pandangan mereka dan entah kenapa pandangan yang ditujukan Gaara membuatnya merasa sesak. Napasnya kembali terhenti saat Gaara mencondongkan tubuh, mengeliminasi jarak di antara wajah keduanya.

"Tanyakan padanya," Gaara mengusap sisi wajah pemuda di hadapannya dengan lembut, "kenapa dia tidak bisa berhenti mencintaiku."

.

..

-0-0-0-

..

.

"Pergi sekarang juga atau aku tidak akan segan meminta bantuan Lee untuk menyeretmu ke ruang kesehatan."

Sakura dan Kiba saling membalas tatapan dengan dahi berkerut karena khawatir. Setelah suara pintu ruangan yang ditutup sampai ke telinga mereka, kedua anggota klub drama itu bergegas menarik kursi kosong dan duduk mengapit ketua klub mereka.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Shika? Ini pertama kalinya aku melihat kantung mata seorang Uchiha Sasuke," Kiba mencondongkan tubuh ke arah pemuda yang ia lemparkan pertanyaan.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Sakura sembari melakukan hal yang sama dengan sang Inuzuka.

Shikamaru menghela napas panjang dan kembali memfokuskan pandangan pada naskah yang sedang ia pelajari. Ia harus membaca tiap lembar yang ada di hadapannya sebelum memutuskan untuk mengangkatnya ke atas panggung untuk diperankan.

"Dia hanya butuh tidur, kurasa. Dia tidak mengatakan apapun, tapi dari keadaannya saja kita bisa tahu kalau saat ini dia tidak sedang dalam keadaan yang baik," papar sang Nara dengan tenang.

"Apa itu artinya kita akan mencoret namanya dari daftar calon pemeran utama?"

"Apa kau bercanda? Dia sudah menghabiskan waktu dua minggu penuh untuk mendalami karakter."

Shikamaru menggelengkan kepala mendengar pertengkaran dua orang di sebelahnya. Ia mengangkat kertas di tangannya untuk menghalangi adu pandang keduanya dan kembali menghela napas.

"Terlalu cepat untuk memutuskan hal itu, Kiba. Aku tidak mungkin mencoretnya tanpa persetujuan anggota yang lain," ucapnya sembari menatap lawan bicaranya. "Kalau dia bisa kembali ke keadaan terbaiknya, aku tidak akan ragu memberikan peran. Untuk saat ini sebaiknya kau memastikan kalau dia baik-baik saja," lanjutnya kepada sang Haruno.

Tanpa membuang waktu Sakura langsung bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan kedua rekannya.

"Ah, sensei. Konichiwa."

Sang Haruno menghentikan langkah dan membungkukkan tubuh ketika berpapasan dengan kakak dari orang yang sedang ia kejar.

"Konichiwa," Itachi menganggukkan kepala dan melemparkan pandangan ke arah pintu klub drama yang ada beberapa meter di belakang sang gadis.

"Apa kau ingin menemui Sasuke, sensei?" tanya Sakura ketika menyadari kemana fokus lelaki di hadapannya mengarah.

"Hn. Apa dia sedang di ruang klub?"

Sakura menggelengkan kepala dan memberitahukan 'pengusiran' yang dilakukan Shikamaru beberapa menit yang lalu. Tanpa ragu ia mengajak sang dosen untuk ikut bersamanya ke ruang kesehatan dimana Sasuke seharusnya berada.

"Tidak biasanya dia terlihat selelah itu. Aku yakin jadwalnya tidak begitu padat dan tidak ada satu pun ujian di kelasnya, tapi aku tidak tahu kenapa dia bisa sampai memiliki kantung mata seperti itu," papar Sakura kepada sosok yang kini melangkah di sebelahnya.

Koridor kampus yang sepi menandakan bahwa jam perkuliahan benar-benar sudah berakhir. Beberapa mahasiswa yang mengikuti klub olahraga terlihat berlari melakukan pemanasan di sekeliling gedung fakultas, sementara mahasiswa yang mengikuti klub seni terlihat sedang membuat sketsa pemandangan yang dihiasi sinar oranye dari matahari yang sedang terbenam.

Setelah mengetuk, Sakura mendorong pintu dan menyembulkan kepalanya. Ia mengangguk sopan saat pandangannya beradu dengan sepasang iris perak milik seorang Hyuuga Neji.

"Sasuke, daijobu desuka?"

Sakura menghentikan langkah tepat di sisi tempat tidur dengan pandangan mengarah pada plester demam yang menempel di dahi sahabatnya. Ia menggelengkan kepala dan meleparkan tatapan tajam.

"Persiapan belum juga dimulai dan kau sudah tumbang seperti ini. Aku tidak akan membiarkan namamu dicoret dari daftar pemain, kau tahu?"

Sang Uchiha mendengus geli dan mengulurkan tangan untuk mengacak rambut sang gadis. Ia menolehkan kepala dan menaikkan alis ketika menyadari keberadaan sang kakak di ambang pintu.

"Kau mencariku?"

"Hn." Itachi menutup pintu ruangan dan melangkah mendekati sang adik. "Kaasan memintamu pulang dan mengajak Naruto makan malam di rumah kita besok—Dia tidak menerima penolakan," tambahnya cepat saat menyadari sorot tidak setuju di mata Sasuke.

"Apa yang mereka rencanakan sekarang?" tanyanya dengan dahi berkerut.

Gelengan kepala yang diberikan Itachi membuat kerutan di dahi Sasuke tampak semakin jelas. Ibunya tidak mungkin memintanya pulang tanpa alasan. Wanita anggun itu juga tidak mungkin mengajak Naruto jika tidak ada hal yang ia rencanakan.

"Karena Shikamaru tidak mau melihatmu di ruang klub, kurasa lebih baik kau pulang, Sasuke. Aku akan mengabarimu jika ada kabar terbaru mengenai casting para pemain."

"...hn," Sasuke menganggukkan kepala, menyetujui usulan teman gadisnya. "Kau juga sebaiknya cepat pulang. Minta Kiba untuk mengantarmu."

Sakura mengulaskan senyum dan mengangguk. Pemilik rambut berwarna merah muda itu segera pamit dan melangkah meninggalkan ketiga pemuda yang belum menunjukkan keinginan untuk pergi.

"Kurasa aku juga harus pergi."

Sasuke menatap lelaki yang tidak sengaja ia temui di koridor beberapa menit yang lalu dengan kedua alis terangkat. Neji menggelengkan kepala, mengulaskan senyum dan membungkukkan tubuh pada mantan asisten dosennya sebelum mengikuti langkah Sakura.

Itachi menahan helaan napas yang hampir meluncur dari mulutnya. Sejak dulu suasana canggung selalu muncul ketika kedua putra Uchiha ditinggalkan berdua di satu ruangan, dan hal yang sama pun terjadi hari ini.

"Apa yang terjadi? Tidak biasanya tubuhmu menyerah seperti ini," ucapnya membuka percakapan.

Sasuke mengangkat bahu dengan sebelah tangannya melepas plester di dahinya perlahan, berusaha menghindari rasa perih yang ditimbulkan perekat dari alat pereda demam itu.

"Kurasa kurang tidur dan jam makan yang tidak teratur berhasil mengacaukan pertahanan tubuhku. Mungkin aku harus mulai mengonsumsi vitamin seperti yang disarankan si Dobe itu."

"Hn. Kurasa sebaiknya kau menuruti perkataannya. Bagaimanapun juga dia tinggal bersamamu dan dia tahu apa yang kau sembunyikan di balik pintu apartemen kalian."

Dukungan yang diberikan sang kakak berhasil membuat Sasuke mengerutkan dahi untuk yang kedua kalinya. Itachi yang menyadari gestur sang adik melangkah mendekati sang Uchiha bungsu.

"Aku merestui hubungan kalian."

.

.

TBC

.

.

Review Reply

.

.

Yuu: 'jangan-jangan'-nya sudah terjawab(?) kan? ^^

Kicchan: kemana aja dirimu, nak?*lipet kedua lengan di depan dada* Eto... nanti kejawab kok pertanyaannya, tunggu aja ^^ Ne, Ganbarimasu!