Maaf rada telat ya update-nya, biasanya siang/sore udah update, tapi tadi siang saya les dari jam 1 sampai jam 3... Lalu gara-gara kecapean jadinya malah tidur sampai jam 6 baru bangun, terus edit-edit chapter ini segala. Maafkan daku ya huhuhu...

Sebelum ke cerita, mari reviews yg sudah masuk dibalas dulu...

Blue Moon Crystalized

iya kan? mereka berdua mirip kan? :"D iya, mungkin mereka bisa dijadikan anak kembar #diinjeqJiangWei #dilemparXunYu

Ma Dai: tolong, kakek horor ini menghantuiku QAQ

Ma Chao: selesaikan saja sendiri.

Ma Dai: QAQ *lempar kuas*

Makasih review-nya ya~ XD

CullyLingz

coba aja dilihat baik-baik, mirip kok XD makanya Xun Yu jadi ekstraknya Jiang Wei (?)

Jiang Wei: EKSTRAK?!

Xun Yu: ...

terima kasih sudah review~ :3

Yuuki moon chan

kabar gembira untuk kita semua, si Jiang Wei kini ada ekstraknya~

Jiang Wei: NOOOOOOOOO- *Author dimusou*

Tenang, bukan aku pairing-kan kok. Mereka tidak akan jadi kekasih lol. #dibuang

btw makasih reviewnya~

Ya sudah, langsung saja ya, silahkan~ maaf kalau ada kesalahan lol.


Acara keakraban antara murid SMA terpilih dengan murid SMP terpilih yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Han, membuat mereka-mereka yang kelas tiga minggat dari pelajaran untuk mengikuti acara tersebut. Nggak masalah, masih awal-awal juga, nggak minggat juga sih, Author-nya aja yang lebay. SMA yang terpilih adalah keempat SMA peringkat atas, SMA Shu, Wei, Wu, dan Jin. Sedangkan SMP, entahlah aku harus menamakan SMP apa, haruskah sama dengan SMA? Sudah, sebut saja SMP U, Q, W, dan R. Susah? Iya deh saya ganti A, B, C, dan D. Maunya anti mainstream, tapi karena susah ya sudah.

Author-nya berisik banget, ya?

Emang.

"WOY, YANG BENER!" Lu Xun sampai lemparin sandal swallow ke Author.

Perwakilan setiap SMA? Setiap SMA memiliki enam murid yang menjadi perwakilan untuk acara keakraban. SMA Shu dulu saja. SMA Shu ada Zhao Yun, Ma Chao, Xing Cai, Bai Jiaoju, Guan Ping yang akhirnya muncul lagi, dan Jiang Wei yang punya ekstrak kayak kulit manggis.

"THOR, JANGAN BAHAS EKSTRAK DONG."

"YEEY! AKU MUNCUL LAGI~" Guan Ping tebar bunga bangkai.

Bagaimana bisa mereka terbentuk? Berikut flashback-nya.

Saat itu, Zhao Yun dan Ma Chao sedang jalan-jalan di lorong SMA. Tiba-tiba mereka disamperin Jiang Wei dan Bai Jiaoju dengan tampang bahagia selangit.

"Darling~ lihat kami menemukan hal bagus~" Bai Jiaoju melangkah dengan penuh kegembiraan kearah Zhao Yun.

"DEMI JENGGOT GUAN YU—JANGAN MENDEKAT! ENYAHLAH—"

"Hoo… Zhao Yun punya selingkuhan, hayoloh…" Ma Chao toel-toel Zhao Yun genit.

"DEMI RED HARE, APA INI TOEL-TOEL?! JIJIK."

"Hei, kalian berdua, mau ikut nggak, nih?" Jiang Wei datang kemudian menyerahkan selembar poster.

"Huh? Apa ini? Surat cinta?"

"… Yun, lupakan apa yang sudah kamu lihat di internet."

"Wah, selingkuhannya dua. Gawat…"

"WOY, GUE NGGAK HOMO. GUE JAMBAK ITU RAMBUT UBANAN LO."

"INI WARNA COKLAT TERANG. BUKAN UBANAN."

"BAGIKU ITU UBAN, RAMBUTMU HAMPIR MEMUTIH SELURUHNYA, DASAR TUA."

"DEMI KETAWA SIMA YI, KAMU NANTANG?!"

"DEMI LANDAK MINI, IYA, GUE NANTANG LO DUEL."

"DEMI COWOK CANTIK, AYOK SINI DUEL, GUE PASTI MENANG!"

KALIAN KELUAR DARI SKENARIO, KEMBALILAH KE JALAN YANG TERANG!

"Kembalilaaaah~ Kembaaalii paaadaakuu~" Jiang Wei malah nyanyi, bukannya menyelesaikan masalah.

"Darling~ baca dulu apa yang dikasih si pemilik ekstrak!"

"EKSTRAK LAGI—" Jiang Wei jambakin Bai Jiaoju.

"B-BERANINYA SAMA CEWEK! HIEEEE—"

"Hmm? Acara keakraban dari Dinas Pendidikan Han. SMA yang mendapat poster ini harus mengirimkan enam orang sebagai perwakilan SMA. Besok, ya? Kita nggak ada ujian apa-apa, 'kan?"

"Seinget gue sih, nggak. Tapi besok ada pelajarannya Fa Zheng. Ogah banget ketemu dia."

"Ya udah kita ikut ini aja! Biar nggak ketemu om-om satu itu!"

"Sip! Gue bangga sama lo, Yun!"

"Iya, makasih pujiannya, ubanan."

Kemudian Zhao Yun dan Ma Chao pun jambak-jambakan.

"Oy, oy, udahan! Mau ikut nggak, nih?"

"MAUUU!" Zhao Yun dan Ma Chao paling bersemangat saat itu.

"Kalau darling ikut, aku juga ikut!" Bai Jiaoju ikutan angkat tangan.

"Kalau begitu, aku juga ikut, deh. Baru empat, kurang dua orang, siapa?"

"Oh, mungkin Xing Cai mau."

"Eciee… Sana ngomong sama Xing Cai!"

"Darling—lebih baik jangan!"

"Berisik, jangan panggil aku darling! Sudah, aku ke kelas dulu. Jiang Wei, tolong cari satu anggota lagi, ya?" Zhao Yun berlalu, diikuti Ma Chao di belakangnya.

"Baiklah… Kalau begitu, siapa ya yang akan jadi anggota satunya…? Jiaoju, bisa bantu a—huh?" Jiang Wei menatap Bai Jiaoju yang dari tadi terdiam setelah Zhao Yun pergi kembali ke kelasnya.

"Selalu saja…"

"Eh?"

"H-Huwaa?! A-Apa yang kau dengar, Jiang Wei?!"

"H-Hah? A-Apanya?"

"E-Err… L-Lebih baik aku ke kelas saja! Aku lupa kalau ada tugas yang belum kukerjakan! Kuserahkan satu anggota lagi padamu, ekstrak!"

"JANGAN PANGGIL AKU EKSTRAK—AH! TUNGGU DU—"

Bai Jiaoju terlanjur pergi meninggalkannya.

Dengan segala kebingungan Jiang Wei, akhirnya kelompok enam orang dari SMA Shu itu terbentuk.

Kemudian, untuk SMA Wei. Cao Pi, Guo Jia, Wang Yi, Yue Jin, Li Dian, dan Zhang He. Bagaimana mereka bisa terbentuk? Mereka mengadakan rapat untuk memilih perwakilannya. Kebetulan yang ingin ikut pas enam orang. Cao Pi sebagai ketua rapat ikut, Guo Jia ikut karena disuruh Cao Pi, Wang Yi ikut karena dengar kalau Ma Chao juga ikut, Yue Jin dan Li Dian ikut karena ingin cari cewek cantik, dan yang terakhir… Zhang He ikut karena dia ingin memperlihatkan keindahannya kepada para anak SMP. Ngeri sumpah.

SMA Wu mah nggak usah diceritain gimana, pokoknya ada Zhu Ran, Lu Xun, Sun Quan, Gan Ning, Ling Tong, dan Da Qiao. Sekarang giliran SMA Jin. Yang ikut, Duo Sima, Zhong Hui, Wang Yuanji, Jia Chong, dan Zhuge Dan yang mirip tokoh antagonis anime mecha sebelah[1]. Bagaimana bisa mereka terbentuk? Duo Sima, mereka disuruh oleh emaknya yang super menyeramkan, tentunya dengan paksaan luar biasa sampai-sampai Sima Yi sendiri nggak bisa mengatasinya. Lalu, Zhong Hui ikut karena ingin cari eksis sama anak SMP, Wang Yuanji dan Jia Chong ikut karena Sima Zhao ikut, lalu Zhuge Dan ikut karena Author nggak tahu harus masukin siapa lagi yang lawakan dikit wajahnya.

Saat ini, mereka tengah berkumpul di sebuah gedung yang telah disiapkan Dinas Pendidikan Han untuk acara tersebut, tentunya dengan anak-anak SMP A, B, C, dan D.

"Sst! Ada yang cantik nggak?" Li Dian berbisik kepada Yue Jin yang mencoba kalem dihadapan murid SMP.

"Sementara ini belum ada." Yue Jin masih mencoba kalem.

"Halah, badan kekar sok kalem gitu. Nggak bakal dilirik!"

"Kamu ngajak ribut?"

"Boleh juga deh ribut sama kamu!"

JDUAGH!

"Bego! Jaga sikap dong! Kita murid SMA peringkat empat besar! Jangan malu-maluin!" Guo Jia berhasil mengomeli mereka karena merasa terganggu.

"MANA MEATBUN?!" Sima Shi teriak kayak manggil tukang bakso dari jauh.

"Ssst! Diam, kak! Nanti juga datang meatbunnya!" Sima Zhao segera menenangkan kakaknya yang cinta mati sama meatbun, pantesan nggak punya pacar.

"Hehehe… Kakakmu bersemangat sekali, Zhao…" Jia Chong dengan tampang vampire yang lebih kece dari Etdah Culun[2] meringis seram.

Wang Yuanji saat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, Zhong Hui malah sibuk mainan poni sambil ngaca, sementara itu Zhuge Dan ngomong sendiri, marah-marah sendiri, ngomel nggak jelas juga sendiri.

Ambulans mana ambulans, Zhuge Dan butuh pertolongan pertama pada kejiwaan. Kemudian Author kena deathglare-nya Zhuge Dan yang entah kenapa bikin Author ngakak sampai sakit perut.

"Eh, ada ekstrak!" Zhu Ran godain Jiang Wei.

"EKSTRAK?! SIAPA YANG EKSTRAK—"

"Idih, godain cowok lain!" Bai Jiaoju seperti tengah membalaskan dendam Jiang Wei yang dipanggil ekstrak sama Zhu Ran.

"APA? KAMU GODAIN SIAPA, RAN?" Lu Xun dengan tampang bete langsung keplakin bahu Zhu Ran pakai buku.

"Adududuh, apaan sih tiba-tiba gitu?! Sakit, tahu!"

"Sakitmu mending, hatiku lebih sakit karena kamu deketin cowok lain!"

"… Thor, ada yang nggak beres dengan Lu Xun."

Huh? Mana? Di skenario gitu, kok.

Kemudian Author dibakar hidup-hidup sama Zhu Ran.

Tak lama kemudian, acara pun dimulai, sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan Han, Mr. Q(?), kemudian lanjut dengan isi acara, yaitu perkenalan dari perwakilan masing-masing SMA dan SMP. Setelah itu mereka melakukan kegiatan dengan name tag yang disematkan di seragam mereka.

Acara pertama adalah sesi tanya jawab, pertanyaan dari murid SMP kepada murid SMA. Tapi sesi tanya jawab ini agak berbeda dengan tanya jawab sebelumnya, jadi mereka, murid SMA akan mendirikan pos untuk melakukan tanya jawab dengan murid SMP yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai SMA terpilih.

"Huwaah… Pagi-pagi begini udah panas aja…" Zhao Yun kipas-kipas di pos SMA Shu.

"Ah, iya. Lagian juga, SMA kita yang pertama kali diincar oleh kebanyakan anak SMP. Mungkin karena ranking…" Ma Chao bersandar pada kursinya.

"Jangan bersantai-santai! Kita masih kedatangan banyak orang nanti!" Jiang Wei memberikan segelas air mineral kepada Zhao Yun dan Ma Chao yang sudah tepar duluan.

"Jiang Wei benar, kita harus semangat!" Bai Jiaoju ikut menyemangati Zhao Yun dan Ma Chao.

"Lihatlah Xing Cai, walau dia dinobatkan sebagai senpai tergalak, tetap saja dia melayani adik-adik SMP dengan sopan! Masa' Zhao Yun kalah dari Xing Cai?!"

"H-Habis aku capek… Tempatku lebih banyak dari Xing Cai!"

"Ya sudah, istirahat sebentar lalu kerja lagi, oke?"

Sedangkan keadaan SMA Wu, Gan Ning dan Ling Tong seperti biasa, berantem, gara-gara Gan Ning nggak mau kerja.

"Haah… Dua anak itu, bagaimana menghentikannya, ya?" Da Qiao sampai pusing memikirkan mereka berdua.

"Sudahlah, nanti juga berhenti sendiri!" Sun Quan geleng-geleng kepala.

"Haah… Lelah…" Zhu Ran dengan sengaja membuka seluruh kancing seragamnya, tapi tenang saja, dia pakai kaos hitam di balik seragamnya itu.

"Ran, kamu mau jadi anak nggak bener buka-buka begitu?"

"Apanya yang nggak bener?! Panas, tahu!"

"A-Aku tahu kalau panas, hanya saja—"

"Permisi."

Seorang gadis berambut hitam lurus panjang sepinggang dengan mata biru mendatangi Lu Xun dan Zhu Ran. Wajahnya yang terlihat lembut dengan suaranya yang kecil itu membuat Lu Xun dan Zhu Ran melongo.

"U-Umm… Bolehkah saya bertanya tentang SMA Wu…?"

"O-Oooh! Boleh! Tentu saja! Silahkan duduk!" Lu Xun langsung mengambil kursi.

"Lu Xun, kamu yang tangani dia, ya. Aku mau ambil minum dulu." Zhu Ran langsung berdiri dari kursinya dan mengambil minuman gelas di belakang Lu Xun.

"A-Ah… Kalau begitu, mau tanya apa?"

"A-Anu, sebenarnya… Saya ingin bertanya tentang salah satu murid yang ada di SMA Wu."

"Hmm? Siapa itu?"

"A-Apakah ada seorang laki-laki yang bernama Zhu Ran di SMA Wu?"

Lu Xun terkejut, sedangkan Zhu Ran yang berada di belakangnya, yang sedang minum segelas air putih pun tersedak hebat sampai tumpeh-tumpeh.

"A-Ada apa? S-Saya salah, ya?"

"Bukan! Bukan begitu… Orangnya… Persis di belakangku, kok."

Gadis itu menatap Zhu Ran yang masih tersedak hebat itu. Matanya melebar melihat Zhu Ran, seperti berhasil menemukan sesuatu.

"R-Ran, kamu nggak apa-apa?"

"UHUK! UHUK! A-Aduh… Err… Ada perlu apa ya?" Zhu Ran segera duduk di dekat Lu Xun dengan suara serak-serak sok ganteng.

"U-Umm… Ng-Nggak… S-Saya permisi, maaf mengganggu!" Gadis itu kabur dengan cepat.

"E-Eh?! Tunggu!"

Lu Xun dan Zhu Ran hanya diam.

"Ran, kamu kenal gadis itu?"

"Hnn…? Nggak, tuh?" Zhu Ran menjawab masih dengan suara seraknya.

"A-Ah, mana dia lupa mengisi namanya di data murid yang konsultasi…"

"Tapi dia nggak konsultasi, hanya menanyakanku…"

"Iya juga, ya… Beneran nggak ada apa-apanya sama kamu?"

"Iya, beneran kok!"

"Jangan-jangan, dia ngefans sama kamu, Ran!"

"DEMI APA…?!"

"Kalau begitu, aku akan membantumu! Tenang saja!" Lu Xun menepuk pundak Zhu Ran.

"A-Apa?! Bantu apa?!"

Selesai konsultasi, mereka melanjutkan ke acara keakraban yang sebenarnya, yaitu bermain permainan papan. Oh, bukan, maksudku, permainan berkelompok. Dalam satu kelompok, ada satu perwakilan dari satu SMA dan SMP.

"Hai Xun, kita sekelompok!" Zhao Yun mendekati Lu Xun sambil membawa kertas bertuliskan nomor kelompok.

"Iya, kita kelompok satu 'kan ya… Sama siapa, ya?"

"Heh, ketemu kalian lagi…" Cao Pi datang sambil menunjukkan kertas nomornya.

"Yoo~ Zhao Yun~" Sima Zhao melambai girang.

"H-Hebat, kita sekelompok. Kelompok orang hebat!" Mata Zhao Yun berbinar.

Bukan hanya mereka berempat, tapi juga anak-anak SMP A, B, C, dan D. Mari kita lihat kelompok lain…

"Kelompok tiga siapaaa?!" Zhu Ran harus teriak-teriak, padahal suaranya masih serak gara-gara syok tadi.

"Oh, temannya Lu Xun!" Guo Jia melangkah mendekati Zhu Ran.

"Kamu nomor tiga?"

"Iya, yang lain mana?"

"Ah! Hei, aku nomor tiga!" Jiang Wei ikut gabung dengan Zhu Ran dan Guo Jia.

"Hah! Demi apa, aku nggak mau sama kalian!" Zhong Hui datang dengan wajah kesal.

"Yaelah, si narsis… Hey, anak-anak SMP-nya mana, nih?"

Datanglah segerombol anak SMP dengan kertas bernomor tiga di tangan mereka. Dua cowok, dua cewek. Tapi, mata Zhu Ran terhenti pada seseorang, orang yang tadi menanyakan dirinya saat di pos dengan Lu Xun.

"Wuah, untung saja ada ceweknya, kukira bakal garing kalau cowok semua!" Guo Jia menghela nafas lega.

"Bilang aja ada yang bisa digodain!" Zhong Hui mainan poni.

"Heh, nggak gitu! Btw, siapa yang mau jadi ketua?"

"Kamu aja, Jiang Wei!"

"Nggak mau, Guo Jia aja."

"Err… Zhong Hui aja!"

"Aku tidak mau jadi ketua kalau anggotanya kalian!"

Semuanya hening menatap Zhong Hui.

"Aaahh… Kalian kelamaan! Aku saja yang jadi ketua!"

"Ketua kita landak? Yang benar saja!"

"Hei, ikan hiu, diam kamu!"

"AKU BUKAN HIU! AKU ZHONG HUI!"

Permainan kali ini adalah mencari scroll sesuai dengan nomor kelompoknya. Mereka akan berpetualang, dengan menemukan scroll, mereka akan mendapat petunjuk ke sebuah tempat yang sudah disiapkan untuk acara setelah permainan. Tentunya mereka akan melewati sungai, hutan, dan jalanan yang sepi agar lebih menantang. Mereka harus menemukan scroll untuk mengetahui letak scroll berikutnya, sampai pada sebuah scroll yang menunjukkan ke sebuah tempat yang kusebutkan tadi.

Permainan pun dimulai, mereka berpencar mencari scroll dengan nomor kelompok masing-masing.

Kita tengok kelompoknya Ma Chao, deh, biar seru…

Ada Wang Yi soalnya.

"Hei, Ma Chao, peta mengatakan apa?" tanya Ling Tong yang masuk ke kelompoknya Ma Chao.

"Lo kira petanya bisa ngomong kayak di Dorah Da Explorah?"

"Ya, siapa tahu gitu, tanyakan pada peta…"

"Hei, sebenarnya ini ke mana, sih…?" Wang Yi bertanya dengan tampang bete.

"Hmm… Hah! Yang benar saja?! Petanya nggak jelas begini!" Ma Chao melempar peta yang ia bawa saking kesalnya dengan peta tersebut.

"Heh! Jangan dibuang! Ambil lagi!" Zhuge Dan ngamuk.

"APA KAMU?! Mentang-mentang jadi ketua kelompok, seenaknya! Kamu paling dekat dengan peta itu! Ambil dong!"

"Siapa yang buang?! Kamu 'kan? Ambil sendiri sana!"

"Hei," Wang Yi menepuk pundak Zhuge Dan, "Ambil, kalau tidak, kupenggal kamu."

Zhuge Dan berbalik dan menatap tampang horror Wang Yi.

"A-Apa sih… Aku nggak takut sama kamu! Kamu hanya seorang wanita!"

"Terus kenapa kalau wanita? Kau mau bilang kalau aku lemah?"

"Iya… M-Maksudku, nggak, bukan begi—"

"IYA KATAMU…? OH, AKU LEMAH, IYA, AKU SANGAT LEMAH," Wang Yi langsung mengambil ranting pohon yang tergeletak di dekatnya dan siap memukul Zhuge Dan dengan ranting tajam itu, "AKAN KUTUNJUKKAN SIAPA YANG LEMAH."

"NOOOOOOOOOOO—"

"Hah! Mampus kamu, ketua jelek!"

"Haah… Aku lelah berada di kelompok ini, jalan lagi, yuk!" Ling Tong langsung berjalan mendahului Zhuge Dan yang tadinya berada di depan.

Sepertinya Zhuge Dan dihajar habis-habisan sama Wang Yi.

Keadaan Zhu Ran...

"Bilang ya kalau kalian melihat scroll!" Zhu Ran memimpin perjalanan mereka dengan peta di kedua tangannya.

"Hutan, sungai, tempat akhir~" Guo Jia nyanyi dengan girangnya.

"Oy, ganggu, berisik." Zhong Hui dari tadi terlihat bete berada di kelompok itu.

"Lho? Kenapa? Asyik kalau kita berpetualang sambil nyanyi."

"Tapi nggak lagunya Dorah Da Explorah juga kali."

Dua kelompok sudah main sebut Dorah Da Explorah aja…

"Hei, kenapa lama-lama jalannya jelek begini?" Jiang Wei berhenti sejenak sambil melihat sekitarnya.

"Nanti juga sampai, sudahlah, ikuti saja yang pegang peta!"

"Bukan itu masalahnya, Zhong Hui, tapi… Mana mungkin panitia memilih jalan yang sulit dilalui? Makin ke sini makin sulit dilalui…"

"Hmm, benar juga. Di sini kita belum menemukan scroll apapun juga. Atau jangan-jangan," Guo Jia menarik nafas panjang, "kita tersesat?"

"DEMI KUDA PONI, JANGAN SAMPAI! HEI, LANDAK, BAGAIMANA? INI JALANNYA CIYUS ENELAN, 'KAN?!" Jiang Wei mulai panik.

Si landak terdiam.

"H-Hei, landak bodoh, jawab dong!" Zhong Hui asal main jambak rambut Zhu Ran.

"ADUUDUDUDUDUH SAKIT OY! APA DEH APA?!"

"Ini jalannya bener, 'kan?"

Zhu Ran menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan cepat, "Sejujurnya, aku tidak paham dengan peta blur begini. Kita ada dimana…?"

"… BODOH! LANDAK BODOH! BILANG SAJA NGGAK BISA BACA PETA! BODOH! JENDRAL MACAM APA KAMU HAH?!" Zhong Hui saking emosinya sampai injek-injekin Zhu Ran.

"H-Hei, gara-gara tersesat begini, lihatlah anak-anak SMP kelompok kita…" Guo Jia langsung menunjuk keempat anak SMP yang paniknya bukan main gara-gara nyasar.

"Y-YA MAAF! TAPI INI CUKUP MEMBINGUNGKAN!"

"Sudahlah! Biar ahli strategi yang menjawab semua kebingunganmu, Ran!" Jiang Wei langsung menyerahkan petanya kepada Guo Jia.

"He? Kamu juga ahli strategi, Jiang Wei."

"Tapi aku lagi malas baca peta."

"Aku juga malas baca peta. Zhong Hui mungkin mau coba?"

"Nggak, makasih, aku terlalu keren buat pegang peta sesat itu!"

"Terus, siapa yang mau pegang? Anak SMP ada yang mau pegang?"

"M-Mungkin saya bisa membantu, kak…" Gadis berambut hitam panjang dengan mata biru laut itu mengajukan diri.

Semuanya terdiam menatap gadis itu.

"Kamu yakin?" Guo Jia menyerahkan peta kepada gadis itu.

Gadis itu menganggukkan kepala, kemudian mulai menatap peta itu dengan seksama.

"Umm… Sepertinya jalan yang diambil Kak Ran salah, seharusnya tadi kita belok ke kiri."

"Oooh…! Untung kita punya gadis ini! Hei, siapa namamu?" Guo Jia dengan girang merangkul gadis itu.

"Heh! Lebih baik kita cari scroll-nya! Jangan godain cewek dulu!" Zhong Hui jambakin Guo Jia.

"GYAAH—KENAPA KAMU SUKA MENJAMBAK ORANG?!"

Sudah sekitar dua jam, kelompok Zhu Ran berhasil memperoleh scroll yang banyak, tinggal satu scroll yang harus mereka cari untuk bisa sampai di tempat tujuan.

"Duh, gawat, kita udah dua jam di jalan, waktu tinggal satu jam lagi, 'kan?" Jiang Wei melirik jam tangannya yang penuh pasir.

"Tinggal satu lagi, tidak masalah, asalkan ada gadis ini."

"Kakak-kakak, bolehkah kita istirahat dulu? Kami lelah…"

"Ah, benar juga, kita belum istirahat dari tadi… Istirahat lima belas menit, deh!"

Kelompok Zhu Ran memutuskan untuk beristirahat sekitar lima belas menit. Terlihat para anak SMP saling berkenalan dengan anak-anak SMA, termasuk Zhu Ran yang duduk dekat dengan gadis pembawa peta.

"Hei, kau hebat, padahal petanya aneh begitu bentuknya."

"Ah, tidak juga, memang sih ada yang aneh, hanya saja… Aku bisa membacanya, kok."

"Oooh… Kamu kayak Lu Xun, deh."

"H-He..?"

"Itu, lho! Yang tadi pagi!"

Gadis itu mencoba mengingat kembali kejadian Zhu Ran yang tersedak tumpeh-tumpeh, kemudian menyembunyikan wajahnya dengan peta yang ia bawa.

"Ahahaha! Sudah, nggak usah malu! Ngomong-ngomong, kamu kenapa mencariku?"

Gadis itu terdiam sejenak.

"Apakah… Apakah kau mengenalku?"

"Hmm? Sebelumnya, aku belum pernah melihatmu."

"Benarkah…?"

"Iya, ah, lebih baik kita kenalan dulu, deh! Namam—"

"Tidak perlu," Gadis itu langsung berdiri, "lebih baik tidak tahu namaku…"

"Hei, jangan begitu. Kenapa harus menyembunyikan namamu segala?"

"Karena memang seharusnya kamu tidak perlu tahu."

"E-Eh…? Gini deh! Aku salah apa sampai-sampai aku tidak boleh tahu namamu? Kau mencariku, itu berarti kalau kau ingin aku mengenalmu, aku harus tahu namam—"

Gadis tadi langsung pergi berlari, membuang peta yang ia bawa.

"O-Oy! Cewek peta! Kau mau kemana?!" Guo Jia sampai harus berlari menyusulnya.

"Ah! Guo Jia?!"

"Jiang Wei, Zhong Hui! Kalian jaga di sini! Kami akan kembali! Zhu Ran, ikut aku!"

"B-Baik!"

Hari semakin sore. Guo Jia dan Zhu Ran sampai harus berpencar mencari si gadis peta. Sampailah di sebuah sungai besar, dengan arus yang lumayan deras dan bebatuan yang besar untuk menyeberangi sungai.

"Aku tidak mengerti sama sekali dengan yang namanya cewek," Zhu Ran duduk di pinggiran sungai, "apa sih yang mereka mau…? Huh?"

Dari kejauhan, terlihat sebuah scroll bertuliskan angka tiga di seberang sungai. Zhu Ran langsung berdiri dan mencoba menyeberangi sungai itu.

"Itu scroll terakhir! Ah, aku harus mencari tahu yang lain!" Zhu Ran dengan cepat mengambil handphone-nya, tapi sayang sekali, hapenya mati gara-gara baterai habis.

"Ah, sialan… Sial banget gue hari ini, ga ngerti lagi—Hmm?"

Terlihat si gadis peta mengambil scroll di seberang sungai sana. Dengan cepat Zhu Ran melangkah menyeberangi sungai dengan melompati bebatuan, hanya saja…

"H-HUWAAH?!"

BYURR!

"Kak Ran?!" Gadis itu mendekati Zhu Ran dengan membawa scroll yang ia ambil.

Kini Zhu Ran jadi landak kehujanan.

"D-DINGIN BANGET AIRNYA—AHCHOOO! B-Bantuin berdiri, dong!"

"… Nggak mau, sampai kau ingat siapa aku."

"H-HAH?! Yang benar saja! Percuma kalau kamu suruh aku ingat-ingat masa laluku!"

"Tapi, masa' kamu nggak ingat siapa aku?!"

"Seriusan! Aku tidak ingat apa-apa!"

Gadis peta langsung melempar scroll yang ia bawa ke wajah Zhu Ran.

"ANJRIT, SAKIT OY— UNTUNG AJA NGGAK KEBAWA ARUS INI SCROLL—"

"Payah! Aku benci padamu!"

"H-Hei! Tunggu dulu! Setidaknya bantu aku berdiri!"

Gadis itu membuang muka.

"Dih… Awas aja kau…" Zhu Ran dengan sengaja langsung menarik tangannya dan otomatis gadis itu ikut tercebur ke sungai.

"D-DINGIN—A-APA YANG KAU LAKUKAN, SIH?!"

"Jawab pertanyaanku dulu, siapa kamu sebenarnya? Kalau kau tidak mau jawab, akan kusiram air lebih banyak lagi!"

"U-Uhh…"

"Jadi, siapa namamu?"

Gadis tadi terdiam dengan wajah kesal.

"Y-Yuan…"

"Yuan? Yuan siapa?"

"Tuh 'kan bodoh!"

"APA SIH, SEBUTKAN NAMA LENGKAPMU KEK BIAR GUE INGET…"

"U-Uh… Kakak bodoh."

"He?"

"IYA, KAKAK BODOH! KAKAK LANDAK! KAKAK LANDAK PAYAH!"

"APA SIH, JAWAB AJA SUSAHNYA MINTA AMPUN INI ANAK SATU, KAMU ANAKNYA SIAPA, SIH…?!"

"ANAKNYA ZHU ZHI!"

Keduanya hening. Si gadis peta itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara si landak, matanya melebar menatap si gadis peta.

"Oy! Zhu Ran! Cewek peta! Kalian ngapain di sana?!" Jiang Wei dan rombongan pun datang menghampiri kedua orang yang tengah dipertemukan kembali.

"Waah… Basah-basahan berdua, itu ngapain tuh?" Guo Jia godain si landak dan si gadis peta.

Kemudian Guo Jia dijambak Zhong Hui.

"A-Ah… maaf mengkhawatirkan kalian… Ini, kami sudah dapat scroll-nya." Si gadis peta yang mengaku bernama Zhu Yuan itu menyerahkan scroll-nya kepada Jiang Wei.

"Huwah?! Hebat! Terima kasih, kalian berdua! Hei Guo Jia, baca scrollnya!"

"Gue lagi?! Iya deh, iya…"

"Zhu Ran, kau bisa berdiri?" Jiang Wei mengulurkan tangannya, kemudian digapai oleh Zhu Ran.

"Huwahahah, lihat, dia jadi landak kehujanan sekarang!" Zhong Hui tertawa dengan puas melihat Zhu Ran basah kuyup.

Zhu Ran terdiam, mengabaikan ejekan yang dilontarkan oleh Zhong Hui. Ia melangkah mendekati Zhu Yuan.

"A-Ada apa…?"

"… Setelah selesai permainan ini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ayo, kita ke tempat berikutnya."

"Uwaah! Lihat, api unggunnya besar sekali!"

Seluruh kelompok sudah berada di tempat tujuan mereka, yaitu sebuah lapangan yang luas dengan api unggun yang besar. Api unggun sudah dinyalakan karena saat itu hari sudah mulai gelap.

"Zhu Ran," Lu Xun mendekati Zhu Ran yang saat itu masih bertampang tidak percaya, "Lihat! Apinya besar, lho! Biasanya kamu bersemangat sekali kalau kayak begini!"

"Ah… Benar… Apinya besar…"

"… Hei? Kamu tidak apa-apa? Kalau tidak enak badan, istirahat saja dulu."

"Tidak apa-apa. Oh, ya. Aku harus mencari si gadis peta."

"He? Gadis peta?"

"Iya, gadis berambut hitam dengan mata biru lautnya."

"Ah! Benar juga, kalian satu kelompok, 'kan? Sebenarnya dia itu siapa?"

"Kak Ran," Zhu Yuan mendekati Zhu Ran yang saat itu sedang bersama Lu Xun, "apa yang ingin kakak bicarakan?"

Zhu Ran terdiam, menunduk dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Lu Xun hanya kebingungan melihat tingkah Zhu Ran yang lain dari biasanya.

"Maaf… Maafkan aku…"

"Eh?"

Dengan cepat, Zhu Ran langsung memeluk Zhu Yuan. Zhu Yuan terkejut dan mematung, tidak bisa melakukan apa-apa. Kini semua mata tertuju pada kedua orang ini.

"K-Kak Ran?! Apa yang kau—"

"Tolong maafkan aku, aku gagal sebagai kakak. Betapa bodohnya aku tidak mengenal adikku sendiri…"

"Aku yang harus minta maaf, seharusnya aku langsung menyebutkan namaku tadi…"

"Tapi aku yang salah."

"Aku juga salah, kak."

"Terus, kita harus bagaimana kalau kita berdua salah?"

"… Kak, aku malu, kita dilihat orang."

Zhu Ran langsung melepaskan pelukannya setelah sadar kalau orang-orang tengah menatap mereka.

"Ha—HAHAHAHAHA…"

"Ran, jadi dia itu…" Lu Xun masih bertampang kaget.

"Iya, dia adikku, anak kandung Zhu Zhi. Kami memang sudah lama tidak bertemu, jadi… Uhh.."

"Dasar bodoh! Kamu bisa lupa dengan adikmu sendiri?! Bego, landak satu ini emang paling bego." Lu Xun langsung gebukin Zhu Ran secara brutal.

"WOY SAKIT WOY—"

Melihat aksi duo pecinta api itu, Zhu Yuan tertawa lepas.

"Jadi, dia adiknya si landak, hebat ya, adiknya cantik, kakaknya landak." Zhao Yun menatap Lu Xun, Zhu Ran, dan Zhu Yuan dari kejauhan.

"Hmm… Mereka 'kan bukan kakak adik kandung, jadi wajar lah kalau nggak ada mirip-miripnya." Xing Cai juga ikut melihat ketiga bocah yang sedang menjadi tontonan.

Keduanya terdiam menatap tiga bocah di sana.

"Hei, dingin ya." Xing Cai memulai percakapannya dengan Zhao Yun kembali.

"Huh? Iya. Mungkin kamu butuh pelukan?"

"… D-Demi apa…?!" Xing Cai langsung tampar Zhao Yun.

"ADUDUDUDUH, AMPUN, BERCANDA! BERCANDA!"

"Jangan aneh-aneh di keramaian, bodoh…"

"Iya deeeh, iyaa… Oh, ya, Xing Cai, kita harus angkut ini ke tempat panitia."

"Hoo, iya, sampai lupa. Yuk."

Zhao Yun dan Xing Cai pergi membawa perlengkapan yang dibutuhkan oleh panitia sambil saling menginjak kaki entah apa tujuannya.

"Hmm… Mereka makin akur saja, ya…" Jiang Wei geleng-geleng kepala melihat tingkah Zhoa Yun dan Xing Cai yang semakin lama semakin dekat itu.

Bai Jiaoju yang juga ada di sana terdiam, melihat mereka berdua yang sudah jauh dari tempatnya dan Jiang Wei berada.

"Ah, maaf lho, aku bicara begitu. Tapi memang kenyataan kalau mereka semakin akrab."

"Tidak apa-apa, kok… Hei, yang punya ekstrak, aku mau tanya sesuatu. Jawab yang jujur."

"EKSTRAK LAGI—Apa deh, apa?!"

"Aku pengganggu, ya?"


[1] Entah kenapa, Zhuge Dan mirip sama komandan tokoh anime Gundam, yang jahat-jahat itu, komandan yang biasanya jadi musuh. Gaya rambutnya itu, lho. Mengingatkanku akan Gundam.

[2] Etdah Culun? Edward Cullen dari Twilight Saga maksud eyke.

WOW. ZHU RAN WOW. ADIKNYA CANTIK KAKAKNYA LANDAK.

Zhu Ran: *injekin Author beneran*

Baiklah, ingat, Zhu Yuan itu OC saya selain si Jiaoju.

Lalu... Nanggung ya? Pfft sengaja #dibuang

Oke, untuk chapter selanjutnya, Author nggak janji bakalan tepat kayak biasanya... Jadi, mohon maaf ya kalau suka telat update atau apa. :") derita kelas 3 SMA uhuhu #berguling

Sekian untuk chapter ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya XDDD review-nya jgn lupa eaps #ditendang