Hello!

Sebelumnya saya mau meminta maaf karena baru mengumumkan pemenang untuk GA pembaca Golden Cage, dan bersama ini saya umumkan daftar pemenangnya.

Untuk juara 1, karena saya tidak bisa memilih salah satu diantara kedua nama di bawah, jadi saya putuskan untuk mengambil keduanya sebagai pemenang juara 1.

Dan untuk GA kali ini, saya juga memutuskan menambah special reward.

Berikut daftar para pemenangnya (hadiah sudah termasuk ongkos kirim dari Bandung ke alamat rumah masing-masing pemenang) :

1. Juara 1 : Light Novel Golden Cage 1bh

- Koizumi Shou (FFN)

- Octvlss (Wattpad)

2. Juara 2 : 1 bh novel & hadiah hiburan

- Watashi wa Mai (FFN)

3. Special reward : Hadiah hiburan

- Shirube Hikari (Wattpad)

Sebelum menutup pengumuman ini, saya juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk segala kekurangan dalam setiap cerita saya maupun dari sikap pribadi saya selama ini yang cenderung sangat keras. Terlepas dari semua, saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Sebagai seorang penulis, saya sadar memiliki kewajiban yang harus dipenuhi untuk para pembacanya. Sebaliknya, pembaca tidak berhak melarang penulis untuk membuat karya baru sebelum karya-karya lama penulis tersebut selesai dirampungkan. Biarlah imaginasi kami terus tertuang, karena hal itu merupakan salah satu kebahagian tersendiri bagi para penulis, setidaknya itu yang dirasakan untuk saya pribadi. (:

Kembali ke topik sebelumnya, pengiriman hadiah secepatnya akan saya kirim apabila LN Golden Cage sudah berada di tangan saya. Oleh karena itu mohon untuk kesabarannya. Sebagai catatan tambahan, untuk pembeli LN Golden Cage, buku akan dikirim secara bertahap ke pembeli mulai akhir bulan Agustus 2017. Untuk yang ingin tahu sample buku yang sudah selesai dicetak, silahkan lihat di akun wattpad saya, cari di cerita Golden Cage : Pengumuman Pengiriman LN Golden Cage.

Demikian saya sampaikan, terima kasih!

With love,

F.H

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Tragedy, hurt/comfort, fantasy

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian atau pun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya! Yang tetep bandel saya kutuk ngejomblo seumur hidup!

Golden Cage

Chapter 34 : Rahasia yang Terkuak

By : Fuyutsuki Hikari

Kegelapan yang menyelimuti wilayah hutan timur Konoha menjadi perbincangan hangat di ibu kota sejak kemarin. Penduduk Kerajaan Konoha merasa khawatir sekaligus resah, terlebih udara menurun drastis bahkan terasa lebih dingin dari musim dingin yang selalu datang setiap tahun.

Jalanan ibu kota yang biasanya ramai kini terlihat lenggang, penduduk memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah hingga kondisi aman.

Hal yang sama terjadi di istana. Para pejabat dan petinggi istana berkumpul untuk mendiskusikan apa yang sebenarnya tengah terjadi? Ketiadaan kaisar di istana membuat mereka semakin cemas. Terlebih saat mereka mendapat laporan jika terjadi penyerangan saat di perkemahan.

Di tempat lain, Nawaki berjalan cepat, setengah berlari untuk mencari keberadan permaisuri di kuil utara istana. Pemuda itu melewati lorong-lorong panjang istana yang kini terlihat gelap. Angin yang berhembus kencang seolah tidak mengizinkan cahaya dari lentera-lentera yang terpasang di atas langit-langit lorong untuk menyala.

Nawaki sekilas menatap langit di kejauhan. Hari sudah beranjak siang, namun kegelapan membuatnya terlihat seperti tengah malam. Para dayang dan kasim yang berpapasan dengannya segera memberi salam, namun Nawaki mengacuhkan mereka dan memilih untuk terus melanjutkan perjalanannya.

Hampir setengah jam Nawaki berjalan. Ia sedikit lega karena kuil berbentuk pagoda tingkat delapan itu sudah terlihat oleh matanya. Nawaki terdiam sejenak untuk mengambil napas. Untuk mencapai kuil kini ia harus menaiki tiga ratus anak tangga yang semakin menyempit saat menuju puncaknya.

Peluh dan keringat membasahi kening dan punggung Nawaki saat ia tiba di pelataran kuil. Nawaki mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ia berlari saat melihat seorang wanita paruh baya—pendeta Tao yang terlihat tergesa dengan mulut terus merapalkan doa-doa.

"Pendeta?!" panggilnya penuh hormat. Nawaki memberi salam yang dibalas anggukan oleh sang pendeta. "Pendeta, dimana permaisuri melakukan ritual doa?" tanyanya langsung pada pokok permasalahan.

Nawaki memutuskan untuk menjemput Sara pulang karena merasa khawatir. Ia memang tidak terlalu akrab dengan ibunya, mereka seringkali tidak satu pendapat, ia bahkan sering menentang keinginan ibunya. Tetapi Nawaki tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia peduli. Bagaimanapun Sara ibu kandungnya, yang mengandungnya selama sembilan bulan dan nyaris meregang nyawa saat melahirkannya.

Untuk beberapa alasan Nawaki merasakan kecemasan luar biasa. Mungkin akan terdengar tidak masuk akal, namun ia tetap berkeyakinan jika kejahatan besar tengah mengintai Konoha.

Pendeta Tao itu menekuk keningnya dalam. "Permaisuri?"

Nawaki mengangguk. "Ditingkat berapa permaisuri melakukan ritual doa?" tanyanya lagi, tidak sabar. "Aku akan menjemputnya kembali ke istana." Nawaki menjeda, tatapannya kembali terarah ke langit mendung di kejauhan. "Kegelapan di wilayah timur itu menggangguku," sambungnya.

"Pangeran Nawaki, Permaisuri Sara tidak datang untuk berdoa," jawab pendeta. "Permaisuri tidak pernah menginjak tempat ini selama beberapa tahun belakangan," sambungnya saat Nawaki menatapnya dengan kening ditekuk dalam.

Nawaki terlihat tidak percaya. Ia berbalik meninggalkan pendeta untuk mencari ke dalam kuil. Nawaki harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri. ibunya tidak mungkin berbohong. Permaisuri dengan jelas mengatakan akan melakukan ritual doa selama beberapa hari ke depan di kuil utara istana.

Ibunya tidak mungkin berbohong.

Nawaki mencondongkan tubuh setelah membuka pintu kuil lantai pertama. Bau harum dupa menggelitik indra penciumannya saat ia melangkah masuk ke dalam kuil. Ia tidak bisa menemukan sosok ibunya disana, hanya ada sepuluh pendeta yang terlihat tengah khusyuk merapalkan doa-doa.

Nawaki kembali melanjutkan pencariannya. Pria itu tidak patah arang saat tidak menemukan sosok ibunya hingga di lantai ketujuh. Tinggal satu lantai lagi. Ibunya pasti ada di sana. Permaisur pasti merahasiakan kedatangannya dari para pendeta hingga pendeta-pendeta itu tidak menyadari jika wanita nomor satu di Konoha tengah berdoa di dalam kuil.

Sayangnya harapan Nawaki pupus. Lantai delapan kuil itu kosong. Tidak ada satu orang pun yang duduk bersimpuh di depan altar doa. Tubuh Nawaki merosot. Kedua matanya terpejam.

Ibunya berbohong. Permaisuri membohongi orang-orang di dalam istana untuk menyembunyikan ketiadaannya di istana selama beberapa hari.

"Kemana ibunda pergi?" tanya Nawaki lirih pada dirinya sendiri. Pria itu berpegangan pada sebuah meja persembahan untuk berdiri. Nawaki setengah menyeret kakinya, berjalan menuju jendela kuil yang berukir naga dan feniks, ia kembali menatap langit wilayah utara dengan pandangan nanar, petir yang terus menyambar di wilayah itu membuatnya semakin was-was. Ini bukan perubahan alam biasa, dan hal ini terjadi setelah kepergian permaisuri dari istana.

Wajah Nawaki memucat. Ia kembali berlari menuruni satu per satu anak-anak tangga. Pikiran buruk mulai meracuni benaknya. Nawaki berusaha untuk mengenyahkan pikiran-pikiran itu dan berharap jika apa yang tengah terjadi tidak ada hubungannya dengan Permaisuri Sara.

.

.

.

Kegelapan seketika menyelimuti Sara saat Kaguya merampas kedua indra penglihatannya dengan paksa. Darah mengalir dari balik kelopak matanya yang terpejam. Sara tersungkur, menjerit sejadinya saat rasa sakit menyerangnya hebat.

Ia merasakan kantong matanya kosong. Seumur hidupnya Sara tidak pernah membayangkan akan merasakan rasa sakit sehebat ini, dalam kegelapan total ia meraung-raung, menangisi kemalangannya.

Sara kembali berharap jika pengorbanannya ini benar-benar setimpal dengan apa yang akan didapatkannya nanti.

Kaguya yang baru saja mendapat dua bola mata tersenyum puas. Ia menatap kedua tangannya dengan bola mata milik Sara. Tawanya menggelegar, memantul pada dinding-dinding batu gua yang semakin pengap.

Aura kegelapan menguar semakin kuat dari dalam diri sang dewi. Kekuatannya memang belum kembali sepenuhnya, namun Kaguya merasa puas karena setidaknya kini ia memiliki mata serta tubuh baru untuk ditumpanginya yang akan membantunya keluar dari dalam penjara busuk ini.

"Persembahanmu membuatku senang, Permaisuri Sara," tukas Kaguya diakhiri tawa melengking hingga menggetarkan bumi disekitarnya. "Aku akan meminjamkanmu sepuluh ribu pasukanku, kau bisa memimpinnya untuk menghancurkan apa pun." Kaguya kembali tertawa puas, sementara Sara meringkuk, menggigil.

Bagaimana bisa Sara memimpin pasukan iblis dengan kondisinya saat ini?

"Kau tidak perlu khawatir!" seru Kaguya seolah bisa mendengar apa yang ada dalam benak Sara. "Aku akan bersatu dengan tubuhmu, dan selama penyatuan itu kau akan bisa melihat dengan kedua mataku," sambungnya dengan kekehan jahat.

Sekuat tenaga Sara kembali mendudukkan diri lalu duduk bersimpuh. Ia bersujud sebanyak tiga kali. Suaranya bergetar saat ia kembali bicara, "Hamba patuh akan perintah Dewi!"

Bumi yang dipijak oleh Sara kembali bergetar hebat. Hawa dingin menyentuh kulitnya yang kini seputih kapas. Wanita itu bisa merasakan aura kegelapan semakin menguat dalam ruangan itu saat Kaguya merubah wujudnya menjadi asap hitam pekat.

Sang Dewi Kegelapan terbang dengan kecepatan tinggi dan akhirnya masuk ke dalam raga Sara, menyatu dengan wanita itu untuk keluar dari tempat terkutuk yang telah menahannya selama puluhan ribu tahun.

.

.

.

Kebangkitan Kaguya mempengaruhi diri Naruto yang terbekati oleh sihir feniks. Rasa panas pada simbol di bahu kanannya semakin memburuk hingga membuat Naruto terbaring tak berdaya di atas ranjang selama satu hari penuh.

Peluh yang muncul di dahi serta rona wajahnya yang semakin pucat membuat Sasuke khawatir bukan kepalang. Naruto bernapas putus-putus, tubuhnya sedikit demam dan dia nyaris kehilangan setengah dari kesadarannya.

"Apa yang terjadi padanya?" Sasuke bertanya pada Temari dengan nada cemas.

Putri dari Suna itu meletakkan kembali tangan Naruto di sisi ranjang lalu bergerak untuk berdiri menatap Sasuke lekat. "Saya tidak menemukan sesuatu yang janggal di dalam tubuh Putri Naruto," lapornya membuat Minato yang juga berada di dalam tenda milik Sasuke berjalan ke depan.

Pria itu menghardik keras, "Bagaimana bisa tidak ada yang salah? Apa kau tidak bisa melihat jika Naruto begitu kesakitan?"

Temari membungkuk hormat. Sejujurnya ia juga merasa bingung karena selain demam, tidak ada yang salah pada diri Naruto. Baru pertama kali Temari mendapatkan kasus seperti yang dialami Naruto dan itu membuatnya bingung. "Yang Mulia, saya sudah memeriksa Putri Naruto hingga berkali-kali, namun saya tetap tidak menemukan ada yang salah pada diri putri."

"Omong kosong!" bentak Minato membuat suasana di dalam tenda itu menjadi semakin menegangkan. "Apa kalian tidak memiliki tabib lain untuk emmeriksa Naruto?" tanyanya pada Obito.

Obito berjalan satu langkah ke depan dan menjawab tenang, "Tabib Nara sudah memeriksanya, tapi hasilnya sama dengan apa yang dikemukakan oleh Putri Temari."

"Apa benar begitu?"

Shikamaru mengangkat kedua tangannya, lalu merangkap tangan di depan dada. Dengan nada penuh hormat ia menjawab, "Hamba tidak menemukan hal yang aneh dalam tubuh Putri Naruto," ia terdiam, sejenak meragu. Shikamaru telah mengetahui apa yang disembunyikan Temari dan Naruto, namun ia bingung apa harus mengatakannya atau tidak.

Melihat kegelisahan pada ekspresi Shikamaru membuat Sasuke menyipitkan mata padanya. "Kau menyembunyikan sesuatu, Shika!" ujarnya dingin, membuat Shikamaru semakin serba salah. "Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku?" tanyanya penuh penekanan.

Sekilas Shikamaru melirik pada Temari yang menganggukkan kepala samar padanya. "Lapor, Pangeran Sasuke, Putri Naruto tengah hamil."

Keheningan merayap dengan cepat. Laporan yang disampaikan oleh Shikamaru membuat semua pandangan terarah pada Naruto yang terbaring setengah sadar di atas ranjang nyamannya. Sasuke menjadi orang pertama yang bergerak untuk duduk disisi ranjang dan menggenggam erat tangan istrinya.

"Apa kau yakin?" Sasuke bertanya dengan nada serak. Kebahagiannya membuncah dalam dada. Ia mengecup punggung tangan Naruto yang terasa hangat dalam genggamannya.

"Hamba sangat yakin," ujar Shikamaru.

"Selamat atas kehamilan Putri Naruto!" seru Kakashi, Neji, Temari dan Shikamaru kompak.

Sasuke tersenyum lembut. Ia meletakkan keningnya pada punggung tangan Naruto. Rasanya seperti mimpi. Naruto hamil? Wanita yang dicintainya tengah mengandung buah kasih mereka. Dewa Langit akhirnya mengabulkan doa yang selalu dipanjatkan oleh Sasuke setiap malamnya.

Disisi lain Minato berdiri mematung. Rasanya ia ingin berlari keluar dan memberitahu pada dunia jika putrinya tengah mengandung. Kaisar Minato akan memiliki seorang cucu dari putrinya.

Berita apa lagi yang lebih membahagiakan dari ini?

"Apa kehamilannya membuat kondisi Naruto melemah hingga seperti ini?" tanya Kurama, memutus keheningan di dalam tenda itu. Kurama menatap wajah adiknya dengan penuh kebanggaan, sementara Ino berdiri di samping Kurama sembari menyenderkan kepalanya pada lengan atas kakak sulungnya.

Setelah kejadian di perkemahan kemarin, hubungan Ino dan Kurama sedikit membaik. Ino menjadi memiliki keberanian untuk bermanja pada kakak sulungnya, sementara Kurama berusaha membuka hati dan mengingatkan dirinya jika Ino dan Sara merupakan dua orang yang berbeda.

Shikamaru menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Tidak biasanya wanita hamil menunjukkan gejala seperti yang dialami Putri Naruto saat ini."

"Lalu apa yang terjadi pada Naruto?" tanya Minato cemas. Pria itu bergerak mendekat saat Naruto membuka kedua kelopak matanya dengan perlahan. "Kenapa dia terlihat begitu tersiksa?"

"Naruto mengeluh sakit setelah muncul awan hitam di wilayah timur hutan Konoha," terang Sasuke. Minato mengernyit dalam, sama sekali tidak mengerti hubungan sakitnya Naruto dengan perubahan cuaca di wilayah timur Konoha.

"Awalnya dia baik-baik saja," sambung Sasuke. Ia mencondongkan tubuh untuk melap keringat pada kening Naruto dengan menggunakan ujung lengan bajunya. "Tadinya saya tidak percaya, namun kondisi Naruto semakin memburuk saat kegelapan di wilayah tersebut semakin meluas."

Minato berbalik untuk bicara dengan Kakashi. "Apa Ebisu dan Konan sudah kembali?"

Kakashi menggelengkan kepala pelan. "Lapor Yang Mulia, seharusnya siang ini keduanya sudah tiba di wilayah timur dan kembali tengah malam nanti untuk melapor."

Minato mengangguk paham, walau terlihat jelas jika ia sudah tidak sabar untuk mendengar laporan dari dua anggota Pasukan Bayangan tersebut.

Rintihan sakit Naruto membuat suasana di dalam tenda itu kembali menegang. Napas wanita itu menderu. Hawa panas pada bahu kanannya semakin menyiksanya. Naruto ingin menenggelamkan diri di dalam air sungai yang dingin untuk meredakan panas yang semakin dahsyat setiap detiknya.

Wanita itu mengangkat satu tangannya yang bebas ke udara. Ia mengulurkannya, sementara tatapannya terarah lurus pada Minato. "Ayahanda?!" panggilnya setengah berbisik.

Ucapannya mengagetkan semua orang yang berada di sana. Ino bahkan menekuk keningnya dalam, lalu menatap wajah Kurama dan Minato bergantian. Ada sesuatu yang tidak diketahuinya, namun Ino yakin jika ayah dan kakak sulungnya mengetahui sesuatu.

"Ada yang ingin kukatakan," sambung Naruto susah payah.

Melihat hal itu Sasuke mendesah panjang. Ia meletakkan tangan kanan Naruto yang digenggamnya di sisi ranjang. Waktunya akan tiba untuk Sasuke bertanya mengenai kehamilan istrinya. Naruto pasti memiliki alasan kuat hingga tidak mengatakan berita sepenting itu padanya.

"Sebaiknya kita keluar dan memberikan kesempatan pada Naruto untuk bicara dengan Kaisar Minato," Sasuke bicara dengan nada tenang. Minato menatapnya dengan ekspresi terkejut. Pria itu terlihat sangat kaget karena Sasuke sepertinya sudah mengetahui mengenai hubungan Minato dan Naruto.

"Sejak kapan kau tahu tentang—" Kurama mengibaskan tangannya. Ia menelan kembali kalimat yang sudah berada diujung lidahnya. Kurama memejamkan mata, menghitung dalam hati untuk meredakan kemarahannya pada Sasuke. "Aku meminta penjelasan darimu, Pangeran Sasuke!" kata Kurama sebelum berbalik untuk keluar dari dalam tenda dengan kedua bahu menegang karena marah.

.

.

.

"Naruto?!" panggil Minato merdu saat ditinggalkan berdua dengan putrinya di dalam tenda. Pria itu duduk disisi ranjang putrinya, menatap penuh kerinduan Naruto yang balas menatapnya nanar. "Apa yang sakit? Ayahanda akan memikul seluruh kesakitan untukmu."

Naruto menggelengkan kepala pelan. Ia mengernyit sakit. Wanita itu berpikir: mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya pada ayahnya karena Mukade sudah mati. Namun siapa yang menyangka jika ayahnya sudah tahu siapa jati dirinya yang sebenarnya?

"Anda sudah tahu siapa saya sebenarnya?" tanya Naruto dengan napas yang terdengar berat. Hal itu membuat Minato bertambah cemas, ia memaksa putrinya untuk kembali berbaring, namun Naruto terlalu keras kepala dan bersikeras untuk duduk, bersandar pada kepala ranjang.

"Sejak kapan?" tanyanya saat Minato mengangguk.

Minato membelai pipi putrinya yang pucat. Lalu mengecup pucuk kepala Naruto. "Sejak aku menemukanmu di bukit itu," jawabnya, tercekap. Minato memalingkan muka, melepas napas panjang lalu menyeka air mata yang turun dari sudut matanya. "Ibumu memanggilku, dan aku sadar jika kau putriku—Naruto."

"Syukurlah," bisik Naruto, lega. "Anda masih bisa mengenaliku." Wanita itu terisak di dada ayahnya. Naruto meluapkan kesedihan dan kerinduan yang membelenggunya selama puluhan tahun ini. Hari ini akhirnya ia bisa menumpahkan segalanya dan mengenyampingkan rasa takutnya saat berhadapan dengan Minato.

"Kau ketakutan saat melihatku," kata Minato. Sebuah senyum getir terukir diwajahnya yang terlihat muram. Ada luka yang tersirat dikedua bola matanya saat ia mengatakan hal itu. "Dosaku sangat besar padamu, hingga aku sendiri tidak tahu apa aku bisa menebus dosaku padamu di kehidupan ini?"

Minato menjeda. Ia mendongakkan kepala untuk menghalau air matanya turun. Pria itu kembali menyunggingkan sebuah senyum yang kini terlihat begitu lembut. "Apa suamimu baik padamu?"

Naruto mengangguk.

"Bagus," kata Minato. "Bagaimana dengan ayah dan ibu mertuamu?"

Naruto menelan ludahnya dengan susah payah saat bahu kanannya kembali terasa panas. "Keduanya sangat menyayangiku. Yang Mulia Kaisar Fugaku bahkan memperlakukanku seperti putrinya sendiri."

Hati Minato mencelos mendengarnya. Ia kembali membelai rambut hitam panjang putrinya pelan. "Bagus," ujarnya parau. Pria itu berusaha menyembunyikan rasa cemburu saat Naruto memuji Fugaku. Putrinya terlihat menyayangi Kaisar Ame, dan hal itu entah kenapa membuat Minato merasa tersaingi.

"Selama di Ame tidak ada yang membuatmu kesulitan, bukan?"

Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Permaisuri Mikoto bahkan jatuh sakit karena mengkhawatirkanku."

Minato kembali mengangguk. Sorot matanya berkilat sedih. "Putriku sangat mudah untuk dicintai. Setelah apa yang kau lalui selama ini kau pantas mendapatkannya."

"Ayahanda—"

Minato menepuk-nepuk punggung tangan putrinya untuk memotong ucapan Naruto. "Banyak hal yang ingin kukatakan padamu, namun aku bingung untuk memulainya darimana."

Hening kembali meraja.

"Kau harus bisa menjaga dirimu demi anak yang sedang kau kandung dan demi dirimu sendiri."

Naruto terbelalak. "Ayahanda tahu?"

Minato tersenyum lembut. "Kekaisaran Konoha dan Kekaisaran Ame akan segera memiliki cucu kekaisaran," tukasnya membuat Naruto tersenyum malu. Minato mencubit hidung putrinya yang tersipu. "Suamimu terlihat terkejut saat mendengar berita itu. Kau belum memberitahunya?"

Naruto menggelengkan kepala cepat. "Aku berencana memberitahunya saat kembali ke Ame." Ia berdeham, sedikit lega karena panas pada bahu kanannya sedikit mereda. "Apa dia terlihat senang?"

Minato merasa senang karena putrinya berbicara dengan menanggalkan keformalan. Rasanya sama seperti dulu saat Naruto masih kecil. "Kau harus melihatnya dengan mata kepalamu sendiri," ujar Minato dengan nada bergurau. "Rambutmu…" ujarnya kemudian, kembali mengganti topik pembicaraan.

Kaisar Konoha itu kembali teringat akan mimpinya di masa lalu, dimana Naruto memintanya untuk mengenalinya saat mereka bertemu nanti. Jika dipikir-pikir satu orang wanita yang ada di samping Naruto dalam mimpinya itu pasti Permaisuri Mikoto, sementara kelima pria dalam mimpinya pastilah Sasuke, Itachi, Obito, Sai dan Fugaku.

Tidak mungkin salah. Keenam orang yang menjaga Naruto selama ini tidak lain merupakan anggota keluarga Kekaisaran Ame.

Naruto melirik pada rambut hitamnya. "Semuanya karena sihir feniks. Sang feniks yang menyelamatkanku saat berada di Hutan Kegelapan dan beliau yang mengubahku hingga seperti ini," jawabnya memutus lamunan singkat Minato.

Minato mengangguk paham. Ia merengkuh tubuh putrinya ke dalam dekapannya. "Mulai sekarang kau tidak perlu menyembunyikan jati dirimu lagi. Kau putriku, putri Kaisar Minato dan Selir Kushina. Putri dari Kekaisaran Konoha. Aku akan mengumumkan statusmu setelah kita pulang ke istana."

Naruto tersenyum dalam pelukan Minato.

"Kau akan mendapatkan jati dirimu lagi setelah kita pulang ke istana," janji Minato ditutup sebuah kecupan manis dipucuk kepala putrinya.

.

.

.

Kurama mengambil napas dan memandang berkeliling. Tenda miliknya terasa panas, berbanding terbalik dengan udara dingin yang meremukan tulang di luar. Atau mungkin karena saat ini Kurama tengah emosi hingga merasa udara terasa panas? Entahlah.

"Katakan, sejak kapan kau tahu mengenai identitas Naruto!"

Sasuke berjalan tenang melewati Kurama yang berdiri dengan sikap menantang. Putra bungsu Fugaku itu mendudukkan diri di kursi lalu tanpa beban ia menuangkan teh untuk dirinya sendiri dan menyesapnya pelan.

Sikap tenang Sasuke membuat Kurama gemeretak. Ia nyaris menerjang untuk menghajar Sasuke andai saja Obito tidak menahan pergelangan tangannya dengan sekuat tenaga.

"Aku baru tahu setelah Naruto melarikan diri dan kami kembali ke perkemahan," terang Sasuke tenang. Pria itu menoleh pada Kurama yang dengan terang-terangan memperlihatkan ketidakpercayaannya. "Anda memberiku lukisan Putri Naruto saat kecil. Apa Anda ingat?"

Kurama mengernyit, berusaha untuk mengingat. Benar. Ia pernah memberikan sebuah lukisan Naruto pada Sasuke saat tengah mabuk.

"Saat itu saya sadar jika wanita yang saya cintai tidak lain merupakan putri dari Kaisar Minato Yang Agung."

Sai yang terlihat bingung akhirnya angkat bicara, "Maksudmu adik iparku tidaka lain merupakan putri kandung Kaisar Minato?" tanyanya untuk memastikan. Sai mengumpat pelan saat Sasuke menganggukkan kepala, membenarkan. "Ternyata itu alasannya kenapa Naruto mengancam akan memotong alat kelaminku saat mengatakan jika aku tidak mau menikah dengan Putri Ino."

Ino terbelalak. "Apa maksudmu?" tanyanya membuat Sai kembali mengumpat pelan lalu menyisir rambut dengan jari tangannya. "Jadi kau terpaksa mengikuti sayembara ini?" Ino mendelik, terlihat kesal mendengar penuturan Sai.

Wanita itu berjalan maju lalu mendaratkan satu tamparan keras pada pipi Sai hingga membuat Obito dan Kurama mengaduh, seolah bisa merasakan sakit yang dirasakan Sai saat ini. "Brengsek!" maki Ino kasar sebelum meninggalkan tenda Kurama dalam keadaan marah sementara Sai segera menyusul untuk mengejarnya.

Kurama menggelengkan kepala, tidak percaya. "Naruto jelas sudah mempengaruhi sifat Ino," ujarnya, merinding. "Menurutmu apa yang akan terjadi jika Ino tinggal dengan Naruto lebih lama?"

"Penderitaan Sai tentu saja," Obito menimpali dengan kikikan pelan. Ia lalu berdeham saat ingat jika pembahasan mengenai identitas Naruto masih belum selesai. "Menutup telinga saat mencuri lonceng(1)," bisiknya pelan.

Ia menjeda, menatap Sasuke dengan serius. "Katakan, apa ayahanda tahu mengenai identitas Naruto?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia memilih kalimat yang akan diucapkannya dengan hati-hati. "Ayahanda tidak pernah mengatakan apa pun padaku," jawabnya membuat Kurama dan Obito tertegun.

Kurama berdiri, berpunggung tangan. "Rasanya sangat aneh jika beliau tiba-tiba menikahkan Naruto denganmu," katanya penuh penekanan. "Kaisar Ame pasti mengetahui sesuatu hingga nekad menikahkanmu dengan Naruto yang pada saat itu hanya berstatus sebagai gadis gurun."

Obito berdesis, terlihat tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Kurama. "Ayahanda melakukan itu karena berhutang nyawa pada Naruto, dan jika benar ayahanda mengetahui status Naruto yang sebenarnya, kenapa beliau tidak menikahkan adikmu dengan Pangeran Itachi yang berstatus Putra Mahkota Ame?" serangnya membuat Kurama bungkam seribu bahasa.

"Jangan pernah mencibir rasa sayang Kaisar Ame untuk Putri Naruto, karena rasa sayang beliau pada Naruto bukan isapan jempol." Obito terengah saat mengatakannya. Kedua tangannya terkepal erat. "Beliau sangat menyayangi Naruto melebihi rasa sayangnya padaku atau Sai yang merupakan putra kandungnya."

"Kau berlebihan, Pangeran Obito," sanggah Sasuke cepat. Pria itu menatap kakak keduanya lekat. "Ayahanda menyayangimu sama seperti dia menyayangi Pangeran Itachi, aku dan Naruto. Kenapa kau berpikir jika ayahanda membedakan kasih sayangnya padamu?"

Obito tidak menjawab.

Sasuke menghela napas pendek dan kembali bicara dengan sikap tenangnya, "Jika beliau tidak menyayangimu, kepalamu pasti sudah terpisah dari badanmu sejak lama."

"Kau—"

"Apa kau ingat masalah yang kau buat dengan utusan dari Iwa?" potong Sasuke.

"Tentu saja aku ingat," jawab Obito ketus. "Ayahanda mengurungku di dalam paviliunku selama dua tahun penuh."

"Apa kau tahu alasannya melakukan itu?"

Obito tidak menjawab. Ada ekspresi terluka saat ia kembali mengingat hal itu. Obito membuat masalah dengan utusan dari Iwa karena pria tua kurang ajar itu berniat untuk melecehkan Rin lalu memfitnah jika Rin yang menggodanya terlebih dahulu.

"Ayahanda melakukan hal itu untuk menyelamatkanmu dari keharusan untuk dihukum sesuai dengan peraturan Iwa," terang Sasuke membuat Obito mengernyit, terlihat tidak percaya. "Utusan itu dengan licik memutarbalikkan fakta dan hal itu dimanfaatkan oleh Raja Iwa untuk mencari keuntungan. Ayahanda tidak memiliki pilihan: menghukummu dengan caranya, memberikanmu pada Raja Iwa untuk dihukum di Iwa atau memberikan kompensasi sangat besar pada Iwa atas perbuatanmu."

Sasuke menjeda untuk mengambil napas. "Dengan mengurungmu di dalam paviliun selama dua tahun, ayahanda mengatakan pada Raja Iwa jika kau telah dihukum cambuk sebanyak seratus kali hingga tidak mampu berjalan keluar selama dua tahun, namun sebenarnya kita tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan?"

Obito terhenyak.

"Karena itu juga ayahanda memerintahkan semua orang istana untuk merahasiakan perihal hukuman kurungan yang dijatuhkan padamu agar berita tersebut tidak sampai ditelinga Raja Iwa yang tamak."

Sasuke tersenyum samar. "Setelah aku menjadi seorang suami, aku menyadari jika ayahanda mencintai kita dengan caranya, karenanya aku memberitahumu tentang rahasia ini."

"Maaf, kau harus mendengar masalah dalam keluarga kami," tutur Sasuke.

Kurama menggelengkan kepala pelan, terlihat kiku. "Tidak masalah," sahutnya cepat. "Jadi, Kaisar Fugaku tidak tahu masalah identitas Naruto yang sebenarnya?"

"Jika kalian tidak bisa mengetahui identitas Naruto lalu bagaimana Kaisar Fugaku bisa mengetahuinya?" tanya Sasuke, berkelit. Ia bersyukur dalam hati karena sepertinya Kurama mempercayai ucapannya.

"Kau benar." Kurama mengangguk setuju.

Sasuke berdiri. "Sebaiknya aku kembali ke tendaku. Kaisar Mianto sudah berada terlalu lama disana," ujarnya membuat Kurama dan Obito memutar kedua bola matanya.

.

.

.

Sasuke menutup mata. Mencoba untuk berpikir. Ia termenung di depan tenda Kurama, dan hanya mengangguk kecil saat Obito pamit untuk ikut berjaga bersama Neji dan Gaara, malam ini.

Naruto mengatakan jika tanda feniks di bahu kanannya terasa panas sejak kemarin, sementara kegelapan yang menaungi wilayah timur hutan Konoha pun terjadi sejak kemarin. Sasuke tahu jika dua hal itu mungkin hanya suatu kebetulan saja. Namun bagaimana jika keduanya ada hubungannya?

Sasuke bimbang. Apa perlu jika ia membahas masalah ini dengan Minato lebih jauh? Simbol yang dimiliki Naruto adalah simbol suci dari sang feniks. Bukankah aneh jika tiba-tiba simbol itu bereaksi?

Bagaimana jika tengah terjadi sesuatu dan sang feniks merasakannya hingga memberi sebuah peringatan lewat simbol yang dimiliki oleh Naruto?

Sasuke menatap langit malam di kejauhan. Sekarang angin bahkan enggan untuk berhembus, walau udara dingin masih terasa meremukkan tulang. Kesunyian yang menyelimuti mereka terasa aneh dan janggal hingga mau tak mau membuat Sasuke semakin yakin jika sesuatu yang jahat tengah mengintai mereka.

"Hentikan Sasuke!" bisiknya pada dirinya sendiri untuk mengingatkan. Ia tidak boleh berpikir sejauh itu. Saat ini istrinya membutuhkannya dan Sasuke hanya bisa berharap jika sang malam akan membawa rasa sakit Naruto pergi bersamanya.

.

.

.

TBC

Keterangan :

Peribahasa China : Kenyataan tidak bisa terus disembunyikan

Sampai jumpa dibab berikutnya!

#WeDoCareAboutSFN