Disclaimer : I do not own Naruto
a/n
Will be contain some of explicit scene.
ooOoo
Tiga ribu warga dinyatakan hilang. Lima ribu meninggal dunia. Dua ribu luka-luka.
Mayoritas di antaranya shinobi, entah disengaja atau tidak.
Enam belas ribu pasukan yang sudah dalam proses persiapan telah berkurang drastis. Sebagian di antaranya mendapatkan trauma besar atas penyerangan yang terjadi. Entah karena melihat bahaya yang amat mematikan ataupun karena terpukul setelah kehilangan anggota keluarga.
Markas Aliansi Shinobi tidak tersentuh. Ruang bawah tanah tersebut benar-benar mampu menahan ledakan besar bijuu-dama.
Meskipun begitu, keutuhan markas tidak menutupi kerugian yang diterima mereka. Trauma besar akan sulit diobati. Kedamaian selama hampir sembilan tahun menumpulkan ketahanan mental. Mereka tak lagi terbiasa dengan kematian. Lupakan saja pembantaian masal. Perdamaian telah membuat mereka melupakan semua mimpi buruk di masa lalu. Hanya para shinobi berpengalaman yang mampu menghadapi dengan wajah tegar.
Kepala Sasuke sedikit berdenyut ngilu. Data yang diberikan empat desa yang lain hanya memperburuk keadaan. Mereka semua kehilangan banyak sumber daya.
Pria berkucir tinggi yang berdiri di sisi Sasuke menginjak sisa rokoknya yang ke sekian. Pedih di sorot mata terkamuflese oleh rasa penat. Hidungnya pun seolah tak mampu merasai sesuatu selain aroma anyir darah dan aroma mayat yang mulai mengurai.
Nafsu makan hilang. Hanya batang nikotin yang mampu meredakan kemuruh pikiran.
"Informasi baru yang kau dapatkan?" tanya Shikamaru dengan suara parau akibat terlalu banyak isapan tembakau. Ia meraih gulungan yang dikembalikan Sasuke padanya.
"Tidak ada kebocoran portal, kemungkinan besar mereka masuk lewat portal lain. Aku belum memastikan jalur yang mana." Pandangan Sasuke mengedar, menatap kumpulan jasad yang ada. Mereka seperti baru terlibat perang besar ketika yang terjadi hanya penyerbuan brutal. Apakah ini semua merupakan awal dari hujan berdarah yang akan menghadang? "Kakashi menggunakan kekuatan Sora dan menghilang. Kemungkinan besar dia menyusup ke sana. Harapan kita hanya bergantung padanya sekarang."
Batin Shikamaru hampir mendengkus keras ketika mendengar kata harapan. Sejak dulu ia jauh dari kata optimis. Tolong, jangan salahkan kebiasaan buruknya.
Ketika menoleh, Shikamaru menatap Sasuke penuh tanya.
"Apa yang kau rencanakan?"
Terdapat jeda sesaat. Pandangan Sasuke masih kosong, ia bahkan menjawab dengan nada mengambang, tak terlalu yakin.
"Orochimaru. Dia mempunyai obat doping yang bisa mengopi kekuatan Sora. Jumlahnya terbatas, tergantung energi yang disediakan. Jika kita bisa mengaplikasikan ini untuk para shinobi yang tersisa, masalah kekurangan sumber daya mungkin bisa diatasi."
Ide tersebut terdengar salah--menggunakan cara yang digunakan lawan ...
Inikah cara kerja Sasuke? Efektif namun mengandung banyak resiko. Terdapat banyak hal yang dipertaruhkan.
"Bagaimana dengan mereka yang tidak mau berperang? Kau sudah melihat keadaan mereka kemarin."
Ketika mereka bersitatap, Shikamaru tahu apa yang bisa dilakukan Sasuke dengan kedua matanya. Para bijuu bertekuk-lutut dalam kendali Uchiha Sasuke kala ia masih berusia enam belas. Mengendalikan manusia yang notabennya lebih lemah dari para bijuu bukanlah masalah besar untuk Sasuke. Meski jumlah mereka ribuan, chakra semua orang tersebut takkan melebihi jumlah yang dimiliki para bijuu.
Sekitar satu dekade lalu, Uchiha Sasuke pernah membutakan para bijuu dan menyegel mereka semua hanya dalam beberapa detik saja. Ia hampir menggunakan mereka untuk menciptakan dunia ninja yang menurutnya ideal.
Shikamaru sempat lupa betapa berbahayanya Sasuke jika dijadikan lawan.
Terima kasih untuk Naruto yang sudah memadamkan ancaman besar mereka ini.
"Sebagian chakra kesembilan bijuu berada dalam Susano'o milikku. Mengendalikan orang-orang yang tak mau mengikuti perang takkan terlalu berat dengan jumlah chakra sebesar itu," gumam Sasuke sepelan udara malam.
Aura Sasuke begitu pekat. Ia hampir menyerupai dirinya yang dulu dipenuhi oleh banyak kegelapan. Shikamaru tak bisa menyangkal bagaimana ia meremang kala mendengar suara tersebut.Memikirkan bahwa orang ini bisa mengontrol tubuh ribuan orang demi kepentingannya ...
Hanya monster yang akan menang melawan monster yang lain. Sudah seharusnya Sasuke menghadapi para Ōtsutsuki.
"Aku akan menunjukan letak bekas Pohon Shinju. Di sana terdapat cukup banyak Zetsu Putih yang terjebak di antara api hitamku," lanjut Sasuke. Ia memberi tahu rencananya pada Shikamaru tanpa ragu. Telah mengerti bahwa sang penasihat takkan mengomentari segala indikasi menyimpang dari rencananya. "Kalian akan membawa mereka pada Orochimaru. Barrier desa akan kupasok dengan chakra para bijuu untuk sementara waktu. Sedangkan jangka panjangnya akan menggunakan teknologi pengumpul chakra. Kita menyumbangkan chakra tiap harinya hingga memenuhi kapasitas untuk meningkatkan kekuatan barrier."
Mata sehitam tinta kembali menerawang, menatap udara kosong dan langit tanpa bintang.
"Kita akan menunggu Kakashi memberi ... informasi dari sana. Jika ia memang bisa bertahan ..."
"Kau ingin membalas serangan dari dalam? Mengirim para shinobi ke dunia mereka setelah Kakashi memberi tahu lokasinya?"
Anggukan Sasuke mengonfirmasi pertanyaan Shikamaru. Rencana ini sudah pernah dibicarakan oleh mereka. Resiko tidak kembalinya para shinobi yang dikirim ke sana sangatlah besar. Singkat kata, mereka harus siap mati--merelakan nyawa begitu memasuki dimensi asing yang merupakan markas lawan.
Adakah yang mau melakukannya jika semangat juang mereka bahkan sudah pudar sebelum perang dimulai?
Shikamaru tahu jawaban Sasuke. Mereka hanya punya satu pilihan; harus mau. Jika tidak, Sasuke akan membuat mereka mau.
"Bagaimana jika ... Rokudaime tidak selamat?"
Jeda selama tiga menit menandakan Sasuke yang sedang berpikir. Keningnya mengerut samar, namun tak mengubah ekspresi datarnya secara signifikan.
"Jika selama dua bulan Kakashi masih tidak diketahui keberadaannya, aku akan melacak markas lawan secara berkala dengan bantuan seseorang yang memiliki rinnegan dan chakra tak terbatas."
Tidak ada shinobi hidup yang memiliki rinnegan selain Sasuke. Tidak ada pula yang memiliki chakra tak terbatas, Naruto sekalipun.
Jawabannya hanya ada satu.
Shikamaru menatap Sasuke dengan tidak percaya. Hampir terperangah karena ide gilanya.
"Uchiha Madara," ujar Shikamaru masih dengan nada tidak percaya. Kedua matanya menyipit. "Kau akan menghidupkannya lagi? Dia berbahaya dan tidak bisa dikontrol."
Sasuke mengembuskan napas rendah. Ia mengerling. Tatapan mata terlihat kelam, tak terbaca. Shikamaru tiba-tiba merasa was-was. Sasuke bisa sangat mengintimidasi di saat-saat tertentu. Lagi-lagi ia lupa akan fakta ini.
"Uchiha takkan bisa dikendalikan selain oleh seseorang yang juga Uchiha."
"Kau bermaksud untuk mengendalikannya?"
Bibir Sasuke tiba-tiba melengkungkan senyum miring samar. Ia mendengkus kasar.
"Mengendalikan Madara? Dia pernah membunuhku sekali dan kemungkinan akan berusaha melakukannya lagi."
Kalimat Sasuke menyiratkan bahwa tidak mungkin Madara bisa dikendalikan, bahkan oleh Sasuke sendiri. Shikamaru mengerti maksudnya, ia menunggu Sasuke melanjutkan.
Jawaban yang terucap sudah cukup diantisipasi sang penasihat.
"Dia akan membantuku atas kehendaknya sendiri."
Dari kejauhan mereka melihat Konohamaru yang datang selagi membopong korban yang lain. Jumlah mereka seakan tidak ada habisnya. Mayat-mayat ini akan terus bertambah sampai semua lokasi selesai diperiksa. Saat ini, mereka baru menyelesaikan seperenamnya saja.
Konohamaru sedang meletakan jasad yang meninggal dengan tubuh hangus kala Sasuke kembali angkat bicara. Menjelaskan alasan mengapa ia yakin bahwa Madara akan membantu mereka.
"Musuh dari musuhmu adalah temanmu. Rencana besar Madara gagal karena bangkitnya Ōtsutsuki Kaguya. Dia punya urusan dengan mereka."
Penjelasan Sasuke terdengar masuk akal. Shikamaru mengangguk dan kembali menghampiri Kiba yang sedang sibuk mengurus ninken dan anggota klan Inuzuka. Proses pengumpulan korban ini memang dipimpin oleh Sai dan juga Neji. Namun, sumber daya terbanyak berasal dari para ninja pelacak yang didominasi keluarga Inuzuka.
Sebelum benar-benar beranjak, Shikamaru sempat menyinggung tentang Naruto. Ia berujar bahwa kemungkinan besar Naruto akan memprotes rencana Sasuke.
Nama Naruto mengingatkan Sasuke pada kontroversi mereka beberapa saat lalu. Ia meminta Shikamaru untuk tidak memberi tahu Naruto sebagian besar rencananya. Jika ditanya macam-macam, lebih baik Shikamaru menyuruh Naruto bertanya langsung pada Sasuke.
Selepas selesai berbicara dan merasa tak ada lagi kepentingan yang harus dikerjakan, Sasuke melenggang pergi. Kedua kaki menuruni anak tangga yang akan mengantarkan ke bawah tanah. Ia sempat mampir ke rumah sakit untuk melihat kondisi korban yang terluka. Mereka semua terlihat memprihatinkan. Semangat hidup di tiap mata yang menatap tampak redup. Sasuke sempat mendapati seorang ibu muda yang terbaring sakit sementara anaknya yang berusia enam bulan terpaksa dijaga oleh orang lain. Perempuan itu amat beruntung karena masih terselamatkan meski suaminya yang seorang shinobi tewas dalam serangan.
Pemandangan lain yang membuat Sasuke tak mampu menahan perih adalah banyaknya anak-anak yang kehilangan orangtua mereka. Sasuke sempat melihat beberapa ratus anak yang masih menginap di gedung pertemuan. Tadi pagi, Sasuke sempat bertanya pada Kurenai perihal panti asuhan. Ia diberitahu bahwa mereka belum selesai mempersiapkannya.
Panti asuhan bukanlah tempat yang diidamkan. Terutama jika si pengelola tidak bisa mengawasi anak-anak dengan baik. Contohnya adalah panti yang dulu dihuni Naruto. Sasuke jadi ingat betapa giatnya Naruto ikut campur dalam masalah pembangunan panti dulu. Berkat Naruto, sistem panti yang dulu tidak becus merawat anak-anak kini menjadi lebih baik.
Helaan napas terembus pelan dari bibir. Memikirkan keadaan desa pun masih menyeretnya pada nama wanita itu. Apakah tadi harusnya ia memaksa Naruto dan memakinya saja karena sangat keras kepala?
Tidak mungkin. Mereka hanya akan kembali bertengkar.
Rumah yang dituju sudah berada di depan mata. Sasuke hendak membuka segel pengaman ketika melihat nyala cahaya dari dalam rumah. Kedua mata mengerjap. Ia memikirkan Sarada, namun segera teringat bahwa putri kecilnya masih bersama Ino.
Memikirkan bahwa terdapat penyusup pasca tragedi ini sangatlah lucu. Sasuke memastikan siapa kehadiran orang di rumahnya dengan mencoba mengenali chakra. Ia termangu begitu merasakannya; chakra hangat yang meredam dingin chakra seekor bijuu.
Kenop pintu segera diputar. Sinar redup cahaya akibat terbatasnya pasokan listrik tak mengganggu Sasuke sedikit pun. Ia segera melesat ke sumber chakra yang berada di dapur. Aroma masakan yang tercium mengingatkan Sasuke bahwa ia belum makan selama dua hari. Matanya kemudian terpaku pada apa yang ia lihat di sana.
Naruto yang dengan kasual sedang mencicip hasil masakan. Keningnya sedikit mengerut ketika menyesap kaldu daging sapi yang ia buat. Ia berdiri sedikit menyerong dari Sasuke, dengan rambut pirang yang digelung tidak rapi dan sebuah handuk yang tersampir di bahu kanan. Pakaian lengan panjang yang kebesaran membalut tubuhnya. Warna baju itu hitam dengan simbol Uchiha di bawah tengkuk. Ia mengenakan celana yang sewarna. Kemungkinan besar sama-sama milik sang Uchiha. Tingginya menggantung tepat di atas lutut, sedikit memperlihatkan paha serta kaki jenjangnya.
Sasuke tak tahu harus bereaksi apa. Ia terpaku terlalu lama sampai handuk yang tersampir di bahu Naruto dilempar ke arahnya. Memunggungi orang yang diajak bicara, Naruto berujar, "Jangan hanya berdiri seperti orang idiot, Sasuke. Lakukanlah hal yang berguna seperti mandi."
Masih dengan rasa terkejut yang menguasai, Sasuke beranjak ke kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan singkat dan menghampiri Naruto seusai berpakaian, tidak sempat mengeringkan dengan benar sampai-sampai air di rambutnya masih sedikit menetes. Ketiadaan ruang makan membuat Naruto mengalihkan semua peralatan makan ke ruang tengah. Ia menata makanan di atas meja, tengah menuangkan nasi ketika Sasuke menghampiri.
Tanpa mengucapkan apa pun, mangkuk berisi nasi yang sudah ditambah dengan lauk segera disodorkan pada Sasuke. Hanya tatapan kosong yang didapat Naruto.
Ia berdecak ringan, menarik tangan Sasuke dan membuatnya menggenggam mangkuk tersebut. Sekalian membuat sang Uchiha duduk di sofa yang juga sedang ia duduki.
"Aku lapar sekali dan kebetulan belanjaan lusa masih kusimpan dalam gulungan penyimpan. Jadi, kumasak saja di sini," ujar Naruto lugas. Ia memasukan sumpit yang mengapit nasi dan lauk ke dalam mulut. Mengunyah pelan dan kembali makan, baru berhenti ketika sadar bahwa Sasuke masih menatapnya tanpa menyentuh makanan. Mata safir mengerling, kunyahan terhenti. "Kau tidak lapar? Berikan padaku kalau--"
Sasuke segera melahap porsinya.
Naruto melengkungkan senyum. Ia beringsut mendekat dan bertanya dengan was-was, "Aneh tidak rasanya? Aku jarang masak sendiri akhir-akhir ini."
Kunyahan ditelan.
"Tidak."
Senyum Naruto melebar. Mata jernihnya seolah berbinar.
"Bagaimana rasanya?"
Sasuke mengerjap, menatap makanan di dalam mangkuk dan menatap Naruto yang tengah memandangnya penuh harap.
"Biasa saja."
Sumpit yang mengapit daging dimasukan ke dalam mulut. Sasuke mengunyahnya selagi melihat rengutan yang tercipta di wajah Naruto. Gerutuan tentang Sasuke yang keji terucap dari bibir merahnya. Sasuke tak mengindahkan itu semua. Ia hanya terpaku pada pemandangan yang ia lihat dari dekat.
Rambut yang tak terikat menggantung di sekitar dahi, kulit karamel bersih yang terlihat begitu halus jika dibelai dengan jemari ...
Sasuke mendapati bibir penuh Narutoyang berwarna kemerahan, juga rona wajahnya secara keseluruhan. Pakaian panjang warna hitam yang dikenakan Naruto kebesaran hingga menelan kedua tangan. Naruto perlu menggulung lengan pakaian agar bisa menggenggam sumpit dengan benar.
Masih mengamati si perempuan, Sasuke mendapati gundukan sintal yang tetap tercetak di balik pakaian panjang yang kebesaran. Ia pernah dengar bahwa wanita hamil akan mengalami beberapa perubahan fisik. Salah satunya payudara yang membesar. Tidak heran jika dua gundukan sintal itu tetap tampak meski pakaian yang dikenakan terlalu longgar. Sasuke bertanya-tanya bagaimana bentuknya jika ia melihat secara langsu--
Ia mengumpat dalam hati dan mengalihkan pandangan. Harum yang menguar dari Naruto membuatnya memikirkan hal yang membuatnya gerah. Ia mengenali wangi sabun yang biasa digunakan olehnya. Namun, campuran khas dari aroma tubuh sang perempuan menambah keunikan harumnya. Sasuke sudah bisa membayangkan aroma jeruk di surai keemasan Naruto. Begitupula dengan kulit leher jenjang yang mengundang untuk dicecap ... rasa citrus yang menggelitik lidah ...
Makanan Sasuke tinggal setengah. Ia menghabiskannya cepat-cepat sebelum menenggak dua gelas air putih. Tiba-tiba saja ia merasa sangat haus untuk alasan lain.
Apa tujuan Naruto kemari? Bukankah ia sudah menolak tawarannya?
"Apa yang membuatmu ke sini?" tanya Sasuke langsung, tidak mau berbasa-basi.
Nasi di mangkuk Naruto tinggal sekali suap. Ia menyelesaikannya kilat, meminum air putih, dan baru menjawab. Air muka rileks yang tadi ditunjukan sedikit memudar. Ia kelihatan bersalah dan gugup. Was-was jika Sasuke sudah terlalu muak padanya sampai tak mau mendengarkan.
"Menyelesaikan kesalahpahaman."
Wajah datar Sasuke menjadi sedikit kaku. Ia mengembuskan napas kasar, hendak beranjak--terlalu malas untuk berargumen di malam yang semakin pekat. Keberadaan Naruto di sini memang membuatnya senang. Terlebih dengan masakan yang disiapkan Naruto untuk mereka--masakan rumah yang sudah lama tidak dirasakan Sasuke. Ia ingin Naruto di sini, bersamanya. Keinginan tersebut pudar begitu mendengar kalimat yang terucap dari bibir sang perempuan.
Ia sedang ingin tidur tanpa bayang-bayang mereka yang saling membentak.
Keinginan Sasuke untuk enyah tidak dibiarkan Naruto. Ia mencekal lengan Sasuke, menahannya pergi. Rasa bersalah yang kental dalam dada membuatnya nyeri. Dulu Sasuke akan mengajaknya berkelahi jika ia marah ataupun kesal. Didiamkan seperti sekarang terasa lebih buruk dari mendapatkan ribuan pukulan.
"Kumohon, dengarkan dulu. Aku tidak bermaksud menghindarimu lagi," ujar Naruto pelan. Binar mengharap terpantul di iris birunya. Sasuke masih belum bicara. Balik menatap pun tidak. Naruto kini dikuasai dorongan untuk membuat Sasuke mengerti. "Aku takkan lagi sok tidak mengenalmu. Aku akan mencoba berbicara dengan Sarada. Tapi, tidak dengan tinggal bersama. Aku masih bisa berkunjung, bahkan kalau kau tidak di rumah. Kau takkan kubiarkan sendiri, aku berjanji. Kau bisa membagi beban itu padaku seperti dulu. Tapi, tinggal bersama ..."
Sasuke menatapnya sekilas. Ia tampak terbujuk selama sedetik, namun kembali memalingkan wajah tidak peduli.
"Bicara besok saja," balasnya tak acuh, kembali hendak beranjak pergi. Tangannya mengalihkan cekalan Naruto, tapi tidak berhasil. Jemari itu menggenggamnya erat sekali sampai mungkin akan meninggalkan bekas memerah. Dengan suara menahan emosi, Sasuke berujar, "Kau hanya tidak ingin orang lain tahu tentang kita. Kau masih merasa bersalah pada Sakura."
Dua batu yang sama kerasnya akan pecah jika terus menerus dibenturkan. Pihak yang lain harus menghentikan terlebih dulu sebelum rambat retakan melebar dan menghancurkan mereka.
Naruto menekan egonya. Kalimat Sasuke bagaikan hantaman keras tepat di ulu hati. Selama ini memang rasa bersalah yang mengendalikan Naruto agar terus menyangkal apa yang ia rasa. Meski ia sudah mengakuinya di depan Sasuke, ia tampak belum siap untuk membuat orang lain tahu.
Naruto dan Sasuke memang sangat dekat. Tanpa diumumkan pun orang-orang akan tahu bahwa sesuatu telah terjadi di antara mereka. Tapi, itu dulu ketika keduanya belum terikat dengan orang lain.
Secara kasar, sekarang pun Sasuke sebenarnya tidak terikat. Naruto saja yang masih merasa begitu. Bayang-bayang ingatan Sakura yang ia lihat masih sering menerpa pikiran, seolah mengingatkan Naruto bahwa Sasuke adalah milik-nya. Bukan kepunyaan si pirang. Ialah yang telah merelakan Sasuke pada Sakura dulu. Mengambil kembali apa yang telah ia relakan seolah seperti mencuri barang milik orang lain.
Mengakui di depan Sasuke sudah sangat berat. Ia harus dihadapkan dulu pada situasi genting seperti halnya mendapatkan serangan dari musuh. Mengakui secara terang-terangan? Membiarkan orang lain mengetahui hubungan serta calon anak yang dikandungnya?
Dibutuhkan rasa 'tega' dalam jumlah banyak. Ia harus menyingkirkan rasa bersalah dan seolah tidak menganggap jejak yang ditinggalkan Sakura.
Suara Naruto menjadi lebih pelan ketika ia kembali berkata-kata.
"Maaf ..." Cengkeramannya mengendur. Naruto mengembuskan napas rendah, berharap Sasuke setidaknya balas melihat sorot menyesal di matanya. "Maaf untuk masalah yang kutimpakan padamu ketika semua musibah ini terjadi."
Sasuke mungkin tidak membalas, namun ia tak lagi berniat untuk beranjak, seolah ingin mendengar. Ekspresi kaku di wajahnya masih belum hilang. Naruto hanya minta maaf tanpa memberi solusi. Tak ada kesepakatan yang tercapai di sini.
Ia memang meminta maaf. Lalu ... apa?
Naruto menyadari kekosongan dari penyesalannya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia benar-benar belum siap membeberkan fakta ini pada orang lain. Pada Shikamaru, Ino, Sai, Neji, Gaara, dan mereka yang disebut teman olehnya. Belum lagi jika berita kehamilan menyebar hingga ke telinga anak-anak ...
Meski fisik Naruto menyokong penyamaran kehamilan, tetap saja berita gosip macam ini akan menyebar dengan cepat. Terlebih dengan keputusasaan yang dirasakan orang-orang akibat serangan kemarin malam. Mereka butuh bahan pembicaraan yang menyenangkan; seperti kasus perselingkuhan pemimpin mereka, mungkin.
Naruto menahan desah frustrasi. Bagaimana ia menjelaskan semua ini? Sasuke tidak akan peduli dengan anggapan orang lain. Naruto sebenarnya juga begitu kalau saja ucapan mereka tidak mempengaruhi Sarada. Ia khawatir jika Sarada ikut terganggu.
"Aku akan tinggal malam ini," ujar Naruto setelah jeda beberapa lama. Ia tidak mendapatkan respon yang baik. Sasuke masih mengabaikannya. Tidak peduli.
Cara untuk meredam rasa marah Sasuke hanya satu; beri ia waktu.
Naruto tak bisa melakukannya. Ia tahu berbagai tingkat kemarahan seorang Uchiha Sasuke. Jika ia menyentak dan berkomentar pedas artinya ia hanya sedang kesal. Jika ia berdecak dan menatap tajam artinya ia sedang geram. Jika ia diam, tidak menatap, dan menolak berbicara--ia marah.
Kesal dan geram bisa didinginkan dengan memberinya waktu. Berbeda dengan kemarahan. Memberi jeda berpikir takkan membuat otaknya mendingin. Sasuke mungkin malah akan semakin meledak.
Pasca perang melawan Kaguya, Sasuke tidak pernah marah pada Naruto. Ia hanya kesal dan geram. Bukan marah. Kasus ini tergolong baru. Naruto tak punya pengalaman untuk menghadapinya. Ia tak tahu cara meredakan kemarahan itu ...
Apakah di toko buku terdekat ada kiat-kiat meluluhkan seorang Uchiha?
Otak Naruto terasa berasap karena tak kunjung menemukan jawaban. Ia mencoba mengingat berbagai trik. Mengenai cara membujuk--sebuah tipu daya ...
Ingatannya berlari pada saat ia mencoba mengelabui Okumura Shouta.
Sial. Sial. Sial.
Si hitam di belakang kepala Naruto tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
Dia memang Uchiha, Naruto. Tapi, dia tetap lelaki. Tahu apa kelemahannya? Kau. Hanya kau yang jadi celah dalam kekuatan yang dia miliki.
Sudah tiga bulan sejak malam di penginapan itu terjadi. Memikirkannya saja membuat Naruto meremang. Ia harap wajahnya tidak merah sampai ke akar rambut. Jika orangnya bukan Sasuke, ia akan langsung melakukan tanpa pikir panjang. Naruto tidak segan pada target misinya. Berbeda dengan ... Sasuke.
Dilema yang dirasakan Naruto tidak dilihat Sasuke. Ia malah menganggap Naruto menyerah dan ingin mengembalikan kondisi ke sedia kala; menyatakan bahwa tak ada apa-apa di antara mereka.
Kekecewaan sudah tak bisa ditahan Sasuke lebih lama lagi.
"Kau mendengarku, Naruto. Kita akan bicara besok."
Naruto mengerjap. Ia tersentak dan mengeratkan cekalan yang memang sudah erat.
"Tidak. Tidak. Kau hanya akan menyibukkan diri lagi dan aku takkan sempat menemuimu."
Memang itu yang direncakan Sasuke.
Ia tak membalas ucapan dan malah menggunakan tenaganya untuk melepas cekalan Naruto sehingga ia bisa beranjak pergi. Percikan chakra di tangannya tidak diantisipasi Naruto. Ia sedikit membeliak dan ikut berdiri. Kedua tangan segera mendorong bahu Sasuke hingga ia kembali duduk. Kening Sasuke mengerut tidak suka begitu punggungnya menabrak senderan sofa. Ia bisa langsung pergi atau menghindari Naruto kalau saja perempuan itu memukulnya--
--bukan duduk di pangkuannya dan menatapnya lurus-lurus dengan iris biru kristal yang menampakan kilat memohon. Masing-masing kaki Naruto berada di tiap sisi tubuh Sasuke. Kedua tangannya masih bernaung di bahu sang lelaki. Sasuke terpaku akan kedekatan mereka, akan selangkangan yang bersentuhan dengan perutnya, akan dada yang seolah hendak bertabrakan, akan bibir yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.
Naruto tahu cara paling efektif untuk melumpuhkan Sasuke.
"Aku akan tinggal malam ini," ujar Naruto rendah. Ia menyingkap rambut Sasuke yang masih sedikit basah di dahi. Mata hitam dan ungu ditatap dengan lekat. Tubuh didekatkan hingga hela napas saling menerpa. Naruto merona hingga ke telinga. Suaranya pun sedikit gemetar. Namun, Naruto tidak beranjak dan malah berucap, "Setelah itu, tolong pertimbangkan tawaranku," dan memiringkan kepala untuk menyatukan bibir mereka.
Cukup sering berciuman dengan lelaki ini membuat Naruto tahu apa yang harus dilakukan. Ia meraih belakang kepala Sasuke, meremas pelan rambutnya selagi tangan yang lain menangkup rahang agar mampu bergerak leluasa. Jemari sedikit membelai sisi wajah sang pria, mengirimkan rasa panas yang mulai tercipta. Bibir melumat dengan telaten. Ia menyapukan lidah pada bibir bawah dan atas Sasuke, mencecap sisa rasa makan malam yang barusan mereka nikmati.
Pagutan Naruto tidak hati-hati ataupun lembut. Tidak sama sekali. Ia belajar dari Sasuke--dan sebagian besar ciuman mereka memang kasar dan basah seperti ini. Jika ingin menyalahkan, silakan lakukan pada si Uchiha yang senang mencium bak orang kelaparan.
Untuk itulah sekarang Naruto juga melakukannya. Ia menyesap bibir sang lelaki dengan sepenuh hati,seolah mengharapkan rasa manis cokelat dari sana. Padahal Sasuke tak pernah mencicip manis cokelat.Naruto terlihat tidak peduli. Ia masih terus melakukannya; sesap, lumat, gigit. Lidahnya bahkan sudah menyapu deretan gigi Sasuke.
Ciuman yang tak terduga membuat Sasuke kelepasan. Tanpa sadar, tangannya sudah melingkari pinggang dan punggung Naruto. Ia membuka mulut, membiarkan lidah perempuan tersebut melesak masuk.
Izin yang seolah diberikan membuat Naruto semakin berani. Ia membiarkan dirinya mengeksporasi rongga mulut yang selalu mendominasinya. Lidah saling meraih, langit-langit mulut digelitik, saliva bertukaran.
Tangkupan di rahang merayap hingga ke belakang kepala, ikut meremas rambut halus yang masih lembap. Dalamnya cumbuan membuat Sasuke menutup mata rapat. Batinnya meraungkan peringatan bahwa Naruto hanya bermain-main agar kehendaknya disetujui. Sasuke harusnya mengakhiri.
Tidak sulit untuk mengenyahkan Naruto dari pangkuannya. Yang sulit adalah menghentikan gelenyar panas yang sudah merayapi tubuh sejak bibir mereka bertemu.
Naruto yang tidak merasakan perlawanan Sasuke pun menjadi lebih bebas. Ia menyesap lidah sosok di depannya selagi memastikan dada mereka bersentuhan, bergesekan. Ia sengaja menggoda Sasuke dengan menekankan payudaranya. Tak peduli dengan rasa nyeri yang sedikit mengganggu akibat hormon bawaan hamil.
Kemudian, ketika lidah manggelitik langit-langit mulut, Naruto mendapatkan remasan di pinggang. Ia tidak berhenti dan malah kembali melumat bibir tersebut semakin dalam. Kali ini mencoba untuk memegang kendali, tak membiarkan Sasuke untuk mengaturnya.
Deru napas beradu. Naruto mendengar erang tertahan Sasuke kala tangannya merambat ke dalam pakaian lengan panjang yang juga dikenakan lelaki ini. Oksigen membuat mereka memutuskan pagutan, namun tak membuat Naruto berhenti menyiksa lelaki di depannya. Ia menempelkan bibir lembap di sepanjang garis rahang tegas, mencumbu dan sesekali menyapukan lidah.
Deru napasnya menerpa dan menggelitik telinga Sasuke. Ia menghujani kecupan selagi tangannya yang berada dalam pakaian membelai pahatan perut dan dada, tak menyangkal seruak rasa puas kala merasakan tekstur kencang tubuh atletis yang dirasakan jemarinya.
Entah dari mana pengetahuan yang didapatkan Naruto sampai ia bisa bertindak sejauh ini. Mungkin novel-novel buatan Jiraiya yang dulu dieditnya benar-benar melekat dalam memori. Naruto tahu apa yang harus ia lakukan agar tak mendapatkan penolakan. Itulah mengapa ia dengan sengaja menggerakan pinggul, menggoda sesuatu yang sudah mengeras dan berdenyut panas di bawahnya. Tangan Naruto tak tanggung-tanggung untuk meraih benda vital tersebut. Ia menggenggam dan menekannya dari balik celana kain yang dikenakan Sasuke, merasa takjub dengan ukuran yang bahkan tidak muat dalam genggaman tangan.
Kefamilieran terhadap lelaki membuat Naruto tidak lagi segan melanjutkan apa yang ia mulai. Ia memijat kejantanan Sasuke yang sudah terbangun sempurna. Tangannya digerakkan naik turun dengan ritme pelan hingga menciptakan erang tertahan dari tenggorokan si pria. Ia merasakan bagaimana tubuh Sasuke yang sedikit gemetar dan juga deru napasnya yang semakin berat. Terlebih ketika ibu jari Naruto mengitari ujung ereksi yang sudah lembap dan menekannya.
Tangan Sasuke mengepal di rambut Naruto. Kedua matanya terpejam, napasnya pun terengah. Wajah pucat telah dihiasi rona merah. Dalam hati, ia mengumpat keras karena begitu menikmati semua ini. Mengenai bagaimana Naruto dengan suka rela menyentuhnya ... dengan terampil membuat Sasuke tak bisa menahan hasrat yang telah ia tahan di waktu yang tidak singkat. Naruto tidak tahu seberapa sering Sasuke membayangkan situasi ini, terlebih sejak kejadian di penginapan.
Meskipun begitu, ia tetap mencoba mengambil alih kesadarannya.
Sampai ia berhasil dan memutuskan bahwa kesenangan Naruto akan berakhir. Ia menatap Naruto dengan mata menggelap yang berkabut sebelum meraih tangan yang sedang memainkan kejantanannya. Takkan ia biarkan Naruto membuatnya datang hanya dengan tangan. Jika Naruto menginisiasi, Sasuke akan memberitahu bagaimana cara mengakhiri ini dengan benar.
Kerjapan tak bersalah di mata Naruto membuat Sasuke geram. Perempuan ini jelas tak tahu apa yang baru saja ia bangunkan. Ia tidak tahu betapa besar keinginan Sasuke untuk melampiaskan perasaannya melalui sentuhan semacam ini. Sejak perseruan mereka dimulai, sejak ia tahu Naruto menyembunyikan kandungan, sejak Naruto kembali menolaknya di hutan.
Sasuke punya banyak momen ketika ia terdorong untuk menaklukkan Naruto tanpa peduli perasaannya.
Kini, ketika Naruto sendiri yang mengawali, Sasuke takkan membiarkannya lepas begitu saja.
Tangan yang sejak tadi hanya bernaung di pinggang kini memegang masing-masing bahu Naruto. Bibir kembali disatukan, bersamaan dengan tubuh yang beranjak menghadap sofa. Sasuke mendorong Naruto hingga ia telentang dalam kukungannya. Tangan yang tadi menyentuhnya dipiting ke atas, tak menghawatirkan perlawanan yang seberapa karena Sasuke tahu bahwa segel chakra masih terpasang di sana.
Selama ini Naruto menggunakan chakra Kurama karena ia menghindari Sasuke dan tak punya keberanian untuk meminta pelepasan segel.
Sekarang Naruto merasakan akibat. Ia jadi tak bisa melawan balik karena Sasuke jelas lebih kuat darinya. Lagi pula, mana mungkin Kurama mau membantu Naruto untuk hal semacam ini?
Naruto tahu keadaan telah berbalik. Ia mencoba untuk tetap tenang ketika Sasuke membalas dengan tidak main-main.
Setelah beberapa lama, Naruto sadar akan sesuatu; ia tidak bisa tenang.
Bibir Naruto dicium kasar. Ia diisap habis-habisan dengan jeda berupa gigitan. Pangkal tenggorokannya disodok dalam hingga ia hampir tersedak. Saliva terselip keluar dari bibir. Sesekali, hidung mereka pun bertabrakkan.
Naruto tak bisa bergerak kala Sasuke menggerayanginya. Payudara yang membesar akibat hormon bawaan diremas terlalu keras sampai nyeri. Tubuh Naruto menggeliat tidak nyaman, ia mencoba melepaskan cekalan di atas kepala, namun tidak mampu. Napasnya terengah. Ia belum bisa berucap karena mulutnya dibungkam oleh bibir yang masih mencumbu dalam. Meskipun nyeri dan sakit, Naruto kelepasan desahan kala puncak dadanya distimulasi dengan jemari. Padahal bra yang ia kenakan masih terpasang rapi. Sasuke mampu menjepit dan memelintirnya karena puncak tersebut memang sudah mengeras dan tercetak pada bra.
Ciuman Sasuke dibalas sebisanya sebelum mereka melepaskan pagutan. Keduanya sama-sama kehabisan napas dan terbakar. Gelenyar panas di mana-mana. Hasrat tak lagi dapat dibendung.
Ketika dua manik bertemu, Sasuke terpaku. Ia melihat sesal yang terkamuflase oleh kabut gairah. Naruto memandangnya lekat.
"Kau memaafkanku?" Suara Naruto bahkan terdengar sedikit bergetar. Dadanya naik turun akibat deru napas yang tak karuan. Senyum lemah melengkung di bibir ranumnya. "Aku lebih senang melihatmu begini daripada kau yang tetap diam. Marah dan lampiaskan. Jangan mengabaikanku."
Kalimat Naruto terdengar familier. Terlalu familier. Sasuke seperti pernah mendengar ini sebelumnya. Saat ketika ia meminta Naruto untuk berhenti menjauh dan bersikap seolah mereka tak saling mengenal.
"Aku ingin menutupi apa yang terjadi pada kita agar Sarada tidak mendengar gunjingan. Aku tak ingin dia dikatai dan dijauhi seperti kita dulu." Naruto masih mengoceh, tak sempat melihat iris hitam yang melunak meski masih terpaku. "Itulah kenapa aku belum ingin mengikuti keinginanmu. Aku mungkin masih merasa bersalah pada Sakura, tapi mana bisa aku juga membiarkanmu sendirian dan menderita? Sudah susah payah aku meyakinkanmu untuk pulang. Mana mungkin aku malah meninggalkanmu?"
Kalimat Naruto diserap Sasuke secara spontan. Terutama tentang alasan mengapa mereka sempat bertengkar beberapa saat lalu. Ia mengembuskan napas pelan dan meraup Naruto ke dalam pelukan selagi mengembalikan posisi awal mereka; saling duduk menghadap dengan Naruto di pangkuannya.
"Idiot," desis Sasuke jengkel. Ia menatap Naruto kesal. Sangat kesal. "Hanya itu masalahmu?"
"Aku mengkhawatirkan Sarada."
"Menurutmu aku tidak?" tukas Sasuke dengan nada yang cukup parau. Ia mengulurkan tangan, mengurai gelungan rambut Naruto yang sudah berantakan. "Sudah kupikirkan semuanya. Dia akan baik-baik saja karena aku akan membuat semua orang diam tentang kita."
Naruto mengerjap--kemudian membeliak.
"Kau akan mengancam mereka?"
"Mulut sampah perlu dibungkam," tandas Sasuke tanpa rasa peduli.
Fokusnya tak berada di sini. Ia kelewat terganggu dengan denyutan menyiksa di pangkal paha dan juga wajah merona Naruto di depannya.Selagi mencoba menjelaskan, Sasuke sudah menyurukkan kepala di lekuk leher sang wanita. Aroma jeruk yang amat ia damba dihirup dalam. Tidak menyadari bagaimana embusan napas panasnya yang menerpa kulit berhasil membuat Naruto meremang.
"Selain itu, mereka takut padaku. Sejak dulu, bahkan setelah aku memimpin desa. Tidak akan ada yang macam-macam pada Sarada karena aku bukan Sandaime yang akan membiarkan seorang anak tak bersalah ditatap dengan sosot jijik dan penuh hina," gumam Sasuke dengan suara sedikit teredam.
Leher jenjang sang kekasih dikecupi. Tangannya telah merambat ke dalam pakaian, menyentuh perut yang entah mengapa masih terasa kencang meski kandungan telah memasuki trimester pertama. Naruto tak pernah gagal membuat Sasuke takjub. Payudara penuh yang cukup berlebih di tangannya ia tangkup dan remas pelan. Tangan yang lain tidak berdiam diri. Ia sudah bergerak menyusuri pinggang ke bawah, mengusap bongkahan kenyal pipi bawah Naruto, diremas pelan mengikuti ritme di atas sana.
Sesap dan jilat dilakukan di leher jenjang favoritnya. Sasuke mencecap dengan sepenuh hati, menikmati tekstur lembut yang membelai lidah. Sebelah tangan Naruto merangkul kepala Sasuke. Sedangkan tangan yang lain meremas punggungnya. Deru napas kian kentara. Naruto merasa lebih sensitif akibat kondisi kehamilannya. Tiap sentuhan Sasuke meninggalkan jejak panas yang membuatnya menggeliat. Ia tidak ingat rasanya semenyiksa ini. Kedutan menjengkelkan telah tercipta di dalam kewanitaannya. Di bawah sana juga sudah lembap. Naruto bergerak dengan tidak nyaman ketika Sasuke masih saja menyentuhnya dari di luar. Sangat lambat sekaligus intens, membuatnya gila.
Apa yang terjadi dengan ritme kerasnya? Apakah ia benar-benar sudah tidak marah?
Bibir kembali diklaim. Sasuke kemudian berdiri dengan Naruto yang ia dekap erat. Kedua kaki Naruto dilingkarkan di pinggang. Ia beranjak ke satu-satunya ruangan yang menjadi tujuan; sebuah kamar. Rasionalitas menyuruhnya untuk tidak mengacaukan sofa. Pintu kamar ditutup dengan dorongan kaki. Ia merangkak dan bersandar di kepala ranjang selagi masih merengkuh Naruto dan mempertahankan ciuman dalam.
Kala pagutan terlepas, manik obsidian bertubrukan dengan manik safir yang berkabut. Sasuke melihat Naruto yang segera meloloskan pakaiannya melalui kepala dan mengenyahkannya begitu saja entah ke mana. Mereka kembali berciuman kala Sasuke membantu Naruto melepaskan celana pendeknya. Dua tangan merambat ke punggung Naruto, meraih kaitan bra dan melepasnya. Kini, hanya garmen tipis di bawah sana yang melingkupi tubuh indah itu.
Sasuke masih belum ingin menyobeknya. Belum.
Ia menunduk, menciumi leher depan dan juga belahan dada yang tadi sempat menganggu pikirannya. Tangan yang satu meremas dan memijat selagi mulutnya menikmati puncak dada yang telah mengacung tegak. Ia menyapukan lidah naik turun dan tak tanggung-tanggung mengisap. Erangan rendah Naruto mengalun menggelitik telinga. Sasuke mengusap paha sang wanita dengan tangan yang lain, mulai merambat ke area vital yang sudah basah sejak entah kapan. Jari tengah diselipkan melalui liang hangat Naruto, mengirimkan geletar ke seluruh tubuh kekasihnya itu.
Remasan di rambut Sasuke mengencang. Naruto terengah dengan kepala menengadah. Kedua mata terpejam, merasakan siksa kenikmatan yang seolah membuatnya buta. Distimulasi di atas dan bawah secara bersamaan ...
Desahan terselip dari mulutnya. Ia memajukan pinggul ke arah jari Sasuke yang tengah menyodok dalam, mengobarak-abriknya, menggesek titik paling sensitif di dalam sana yang sudah membengkak dari ukuran normal. Sasuke menemukan titik tersebut tanpa banyak usaha, seolah ia sudah mengenal tiap lekuk tubuh Naruto.
Isapan di payudaranya berhenti. Sasuke kembali mencumbui rahang lancip yang menyusun rupa jelita wanita dalam dekapannya.
"Rapat sekali ..." gumam Sasuke dengan suara parau. Ia menambah jari telunjuk di sana, merenggangkan dinding kewanitaan yang mengisap dua jemarinya kencang, tak mau lepas. "Selain aku, tidak ada yang menyentuhmu? Katakan ya."
Naruto sibuk menahan gelenyar nikmat yang bersumber dari dua jari panjang di dalamnya. Napas tersengal-sengal dengan tak karuan, mata masih tepejam kuat, pinggang bergerak-gerak gelisah, mencari sumber siksaan. Ia berantakan di tangan Sasuke. Tapi, pria itu masih mengajaknya mengobrol begini?
"Mmh--ya. Aku--ngh--kasian pada mereka yang ingin melakukannya. Mereka--" Jari manis menyusul di dalam sana. Naruto mengumpat dan meremas punggung Sasuke kuat-kuat. Deru napasnya meningkat. "--mmh--dibunuh. Akan dibunuh oleh--ngh--mu."
Sodokan makin menjadi. Naruto tak bisa lagi menguasai otaknya untuk mengontrol tiap kata yang ia ucapkan. Ia mendorong kedua bahu Sasuke selagi menarik pakaian yang masih membalut tubuh atletis sang lelaki. Dalam desahan, ia masih menyempatkan diri untuk memaki.
"Pakaianmu, Berengsek. Tidak adil."
Sasuke tidak menjawab dan malah kembali melahap gundukan sintal di depannya. Penjarian semakin gencar, napas Naruto semakin berat, geletar tubuhnya semakin kentara. Kemudian, Sasuke mengisapnya keras selagi menyodok dalam dan memelintir titik sensitif di bawah sana. Naruto mengejang selagi menekan kepala Sasuke yang tengah ia dekap erat di dadanya. Lelehan hangat membanjiri jemari Sasuke ketika ia menarik jarinya keluar.
Tubuh Naruto kemudian ia dorong hingga berbaring. Ia lalu mengecupi belahan dada hingga perutnya, sengaja berlama-lama di perut selagi mengisap dan menggigit guna meninggalkan jejak kemerahan yang menyerupai memar. Tanpa mengindahkan protes Naruto, ia masih terus menciumi hingga mencapai pinggang. Garmen tipis yang sudah basah ia tarik dan gigit hingga sobek. Nasibnya naas karena dibuang begitu saja ke lantai.
Naruto masih sedikit terengah. Ia menumpu pada siku dan membeliak melihat Sasuke yang membenamkan wajah di antara kedua pahanya.
"Oh, tidak, tidak lagi di sana. Demi Rambut Ayammu yang dulu, Sasuke, jangan lakukan lagi!"
Kedua kaki Naruto memaksa menutup. Tangannya pun hendak mendorong Sasuke menjauh dari sana--hingga kemudian ia tak bisa bergerak ... ketika bersitatap dengan manik merah menyala.
"Berengsek!" seru Naruto keras-keras ketika pahanya direnggengkan dengan mudah. Ia benar-benar berada dalam posisi submisiv sempurna. Tanpa sedikit pun kekuatan untuk melawan. "Lepaskan genjutsu sialan ini!"
"Lepaskan sendiri."
Sasuke membuat ilusi seolah kedua tangan Naruto dirantai hingga tak bisa bergerak, begitu juga dengan kakinya.
Dari banyaknya pertarungan yang mereka lakukan, Sasuke memilih untuk memanfaatkan genjutsu pada hal keji semacam ini? Ketika Naruto tak bisa melepas ilusi karena ketiadaan Kurama?
"Berengsek-mesum-gila!" maki Naruto kala puncak kewanitaannya dicumbu tanpa segan oleh sang lelaki.
Selagi menyapukan lidahnya di sana untuk membersihkan area lembap yang telah basah akibat pelepasan, Sasuke menahan senyuman miring,kemudian berujar, "Kau suka 'kan?"
Naruto menggeliat tidak karuan. Kedua kakinya ingin sekali menendang-nendang karena tak tahan pada gelenyar yang menerpa. Lidah Sasuke dengan kurang ajar mencicip bagian terdalamnya. Ia menyesap kasar Naruto, menenggelamkan diri pada rasa wanita yang dikasihinya, menikmati rintih dan jerit tertahan yang selalu membayangi mimpi panasnya.
Sasuke sudah sangat ingin kembali merasakan Naruto. Ia mampu bertahan untuk tidak segera memuaskan hasratnya hanya karena keinginan besar untuk membuat Naruto merasakan rasa putus asa yang sama sepertinya. Ia ingin memberi tahu bahwa mereka saling membutuhkan dan tak ada gunanya untuk saling menyiksa diri satu sama lain ketika mereka bisa saling melengkapi.
Di tiap detiknya, suara Naruto terdengar semakin parau. Sasuke bisa mendengar bagaimana suara Naruto gemetar, bagaimana desah tercampur dengan isakan akibat tak mampu menahan gelombang nikmat. Tangan yang seharusnya tak terkekang itu berada di masing-masing tubuh, meremas seprei. Pinggulnya terangkat jika tidak ditahan oleh Sasuke. Naruto melengkungkan punggung selagi menengadah. Napasnya menderu. Dadanya naik turun, menyajikan pemandangan paling sensual yang pernah dilihat Sasuke. Kilap tubuh yang dihiasi peluh menambah kejelitaan Naruto. Rongga dada Sasuke penuh oleh keinginan untuk memiliki. Ia sepertinya sudah diambang batas untuk tetap menahan diri.
Cumbuan di bawah sana ia selesaikan. Titik sensitif yang bengkak diisap keras. Gelenyar hasrat langsung mengalir ke pusat gairahnya kala ia mendengar erangan Naruto yang tengah merasakan gelinjang hebat. Pinggulnya mengejang. Lelehan cairan mengaliri bibir kewanitaan, segera ditelan Sasuke tanpa segan.
Ilusi yang menjerat Naruto dilepaskan. Sasuke berdiri di kedua lutut, mengamati sosok wanita yang tergolek di bawahnya. Dalam keremangan cahaya, Sasuke bisa melihat wajah yang merona merah hingga ke telinga. Rambut keemasan panjang membingkai dengan berantakan. Mata biru kristal jernih terlihat sayu, penuh gejolak rasa yang seolah membakar Sasuke.
Tanpa berbicara, Sasuke melepaskan semua pakaiannya, menyamakan keadaan seperti Naruto yang tidak mengenakan sehelai benang pun. Ia meminta Naruto berbalik sebelum ia kembali meraihnya dari belakang. Naruto kini kembali duduk di pangkuan Sasuke, membelakangi. Tubuh rampingnya didekap erat selagi ia menyampirkan helaian pirang ke bahu, mengekspos punggung terbuka dan bahu yang lain. Sebelah tangan Sasuke kembali menangkup kedua buah dada Naruto. Ia juga menghujani kecupan basah di sepanjang tengkuk hingga bahu.
Tangan Naruto meraih rambutnya di belakang, ia menoleh, dan memanggil namanya pelan, membuat Sasuke mendongak dan menatap safir yang balik menatap sayu. Bibir mereka kembali disatukan oleh Naruto. Sasuke tengah menyusuri perut kencang sang perempuan ketika ia memutuskan untuk segera meraihnya. Kedua tangan sedikit mengangkat pinggang sang wanita. Sasuke memegang kejantanannya sendiri sebelum melesakkannya dalam liang hangat yang begitu ia damba.
Pinggang Naruto diturunkan, seketika menelan keseluruhan ukuran Sasuke. Dua insan tersebut mengerang tertahan dalam ciuman. Mereka berhenti mencumbu bibir dan memilih untuk mencurahkan rasa lewat penyatuan di bawah sana. Sasuke sendiri masih sempat menghujani kecupan basah di leher Naruto. Ia menggerakan pinggul Naruto berlawanan dengan pinggulnya. Awalnya pelan dan hati-hati, namun semakin lama semakin kasar dan cepat.
Desah napas bersahutan, suara penyatuan seolah mengiringinya. Pinggang Naruto diangkat sebelum diturunkan keras guna menghantam alat vital yang tertanam di dalam sana. Milik Sasuke menancap dalam sekali hingga menimbulkan erang tak karuan dari tenggorokan Naruto. Sasuke tak perlu lagi memegangi pinggang Naruto ketika pemahaman merasuki diri sosok tersebut.
Naruto menggerakan pinggulnya sendiri, mencari kenikmatan yang membuat mereka berdua tenggelam semakin dalam. Kepala Naruto bersandar pada bahu Sasuke. Ia kembali mencium sang lelaki selagi masih bergerak di depannya. Sedangkan Sasuke mendaratkan tangannya di perut serta payudara penuh sang kekasih, menyentuh dan menambah rangsang yang semakin membuatnya menggelinjang.
Mereka berdua sama-sama masih jauh dari pelepasan karena ingin saling melengkapi di waktu yang lebih lama. Segala resah sirna untuk sementara ketika hantaman demi hantaman membawa gelenyar nikmat yang tak tertahankan.
Untuk sesaat, mereka tidak takut untuk kembali berpisah. Untuk sesaat, mereka tidak khawatir akan bahaya yang menghadang. Percintaan ini membuat Naruto terenyuh. Ia merasakan luapan rasa Sasuke selagi namanya terucap pelan dari bibir sang lelaki.
Sasuke berbisik rendah dengan nada yang membuat Naruto semakin meremang meski tubuhnya sudah terasa panas di mana-mana. Mereka kembali berciuman ketika Sasuke membawanya berbaring miring tanpa melepaskan penyatuan.
Naruto direngkuh dari belakang. Sebelah paha diangkat untuk memudahkan gerakan. Sasuke sedikit menurunkan pinggulnya sebelum mendorong dalam ke liang hangat sosok terkasih. Seprei tempat tidur menjadi korban cengkeraman Naruto. Kedua mata tertutup rapat, detak jantung bertalu-talu. Peluh telah membasahi wajah karena meski mereka telah bergerak cukup lama, kepuasan itu tak kunjung datang. Gairah Sasuke tidak akan terpuaskan hanya dalam waktu yang sebentar, sedangkan Naruto, ia terdorong oleh hormon bawaan kandungan. Nafsu seksualnya entah mengapa melejit begitu dirangsang dengan sedemikian rupa oleh Sasuke.
Rasanya seolah sudah berada di ambang batas, namun batas tersebut semakin menjauh tiap kali jaraknya sudah dekat.
Pipi Naruto menekan bantal keras-keras. Kakinya sedikit kebas karena direnggangkan di belakang. Hingga kemudian Sasuke memutuskan untuk mencari cara lain agar mereka selesai. Rasanya amat menyiksa.
"Lama sekali, 'Ske. Hah. Aku--hhh-bisa pingsa--apa yang kau lakukan?!"
Sasuke bertumpu di kedua lutut. Mereka masih menyatu dan ia memegang bahu Naruto, membaliknya hingga ia tengkurap. Wajah Naruto semakin menekan bantal sementara pinggulnya berada di atas sana, tepat di depan Sasuke.
Sasuke mulai menghantam, lebih keras dan dalam selagi sebelah tangannya menggenggam rambut panjang Naruto, menariknya ke belakang.
"Ohh, shit. Kenapa tidak dari tadi?!"
Di belakang Naruto, Sasuke mendesis, merasakan bagaimana dinding-dinding kencang mengapitnya dengan lebih ketat. Pinggul Naruto digenggam dengan sebelah tangan, digerakkan maju mundur. Sebelah mata Sasuke menyipit, ia melebarkan kedua kaki, menghantam lebih dalam. Naruto meremas bantal sampai kusut. Tubuhnya sedikit terdorong ke depan akibat hantaman. Rasa perih dirambutnya pun tak begitu mengganggu. Sasuke memastikan Naruto ikut menggunakan tenaganya untuk bergerak.
"Aku awalnya ingin hati-hati," ucap Sasuke dengan nada serak. Ia menahan gertakkan gigi. "Mengingat kondisimu ... sedangkan sekarang--persetan. Kau takkan mati karena kusetubuhi."
"Mulutmu!"
"Apa? Kau ingin menciumnya?"
"Dasar berengsek mesum tidak tahu malu--nghh--sialan kau."
Bekas memerah tercetak di pantat mulus sang wanita akibat tamparan tangan. Sasuke tergelak rendah sebelum membungkuk dan mencium Naruto dari belakang. Ia merengkuhnya dan memainkan dua bongkahan sintal di dada selagi terus menggangahi sosok di bawahnya. Mereka kemudian tak lagi mampu berbicara karena tenggelam dalam gelombang nikmat. Pinggul Naruto bergerak menyambut untuk memudahkan percintaan mereka. Kemudian, ketika hantaman demi hantaman semakin gencar mengobrak-abrik titik sensitif yang sudah membengkak, Naruto merasakan gelombang yang familier hendak mendatanginya.
Remasan seprei semakin erat, tubuh menggeletar hebat. Beban yang mengumpul di perut bagian bawahnya seolah terangkat, meluruh melalui lelehan yang keluar dari liang senggama yang masih digagahi. Tak selang berapa lama, gelombang yang sama menerpa Sasuke. Sodokan dalam dilakukan untuk terakhir kali. Pelepasan kuat yang dilalui Naruto membuat dinding-dinding kewanitaannya memijit milik Sasuke semakin kencang. Sasuke segera berbaring miring sebelum ia jatuh menimpa Naruto. Miliknya mengosongkan isi di dalam sana, memenuhi Naruto yang juga telah mengeluarkan cairan kepuasan.
Napas mereka masih menderu. Tubuh diliputi peluh. Panas masih melingkupi. Aroma penyatuan yang teramat khas pun seolah menggantung di udara. Detak jantung masing-masing masih bertalu tak karuan. Sasuke kemudian membalikan tubuh Naruto sehingga ia berhadapan. Mereka yang masih menyatu membuat milik Sasuke sedikit terpelintir kala Naruto berbalik. Ia menahan diri untuk tak langsung kembali menggerakkannya--dan berhasil.
Binar hangat di mata Naruto membuat Sasuke bertahan. Rahang Naruto ditangkup. Kecupan lembut mendarat di dahi, mata, hidung, dan bibirnya. Sudut mata Naruto yang sedikit berair diseka oleh Sasuke, kemungkinan besar karena ia yang tadi tak mampu menahan gejolak nikmat.
"Jangan berbuat bodoh lagi." Sasuke berucap setelah mereka kembali saling menatap. Ia masih mengeluskan jemari di wajah jelita sang kekasih."Percayakan padaku. Kau tidak perlu membahayakan diri selagi mengandung putra kita."
Naruto menghela napas.
"Bahkan di keadaan darurat?"
"Ya."
"Ketika desa diserang dan tidak ada kau ataupun ninja yang berpengalaman? Mereka; anak-anak, orang tua, wanita hamil yang lain, akan meninggal sia-sia ketika aku masih bisa bertindak?"
Obsidian Sasuke meredup sesaat. Ia mencubit pipi Naruto gemas.
"Kau dan mulut licikmu."
Naruto mengerjap. Memandang Sasuke polos. "Apakah barusan berarti kau setuju?"
Yang didengar hanya gumaman malas. Sasuke memeluknya dan membuat Naruto bersandar di salah satu lengannya, menikmati kebersamaan yang membuat rongga hatinya penuh oleh rasa syukur. Terdapat banyak musibah di depannya. Ia hanya butuh Naruto dan Sarada untuk merasa tenang--Naruto yang juga tengah mengandung putranya.
Takkan Sasuke biarkan musuh menghancurkan impiannya yang baru. Ia harus memenangkan perang ini. Tidak ada pilihan untuk kalah. Dunia yang nanti ditinggali Naruto dan putra mereka--dunia tersebut harus aman.
"Jangan mati karena aku tidak bisa membantu," gumam Naruto. Ia mendongak, menyingkap rambut hitam Sasuke yang sudah semakin panjang. Rahang tegas yang membingkai wajah rupawan itu ia tangkup. "Awas saja kalau meninggalkanku sendiri dengan seorang anak."
"Tentu saja tidak. Aku sudah punya alasan kuat untuk hidup."
"Apa?"
"Untuk membuatmu berteriak dan mendesah keras setiap malam."
Sasuke mendorong maju pinggulnya, kembali merangsang kewanitaan Naruto yang masih menelannya dalam-dalam. Paha Naruto diangkat dan direnggangkan, ia melesakkan dan menarik miliknya berulang kali hingga percikan gairah kembali menerpa. Naruto menggigit lengan yang dijadikan sandaran selagi memaki, menahan erangan yang membuat tenggorokannya parau.
"Kau ... benar-benar maniak!"
Leher Naruto kembali dicumbunya. Ia bergumam, "Hanya padamu." Pantat Naruto sudah diremas pelan selagi ia membuat Naruto menggerakkan pinggul. Tidak peduli jika Naruto menggigitnya sampai berdarah. "Selagi masih bisa. Sebelum Sarada kembali. Atau kau mau melakukannya waktu Sarada sudah di sini?"
"Ngh--mana sudi. Aku akan tidur di kamar Sarada."
Sasuke kemudian membaringkan Naruto selagi ia mengungkungnya. Tubuh menawan yang ia kagumi kembali disentuh dan dimanjakan, berhasil menciptakan alunan suara yang begitu ia sukai. Gerakan Sasuke tidak beringas sekarang, tapi cukup mengirimkan gelenyar nikmat yang membuat Naruto memejamkan mata rapat-rapat. Ia tak bisa menahan diri untuk tak berbicara.
"Aku tidak menawarkan servis ganda," gerutunya. Meskipun begitu, ia tetap mengimbangi ritme gerakan Sasuke. "Bayar aku dengan informasi terkini yang kau dapat."
"Ganda dikali lima. Baru kuberitahu."
Sasuke sedang menciumi perutnya. Tak ingin repot bergerak cepat-cepat meski kedutan dalam diri Naruto sudah sangat ia rasakan.
"Tidak adil," erang Naruto selagi menahan siksa kenikmatan. "Aku bisa pingsan!"
Telapak tangan Naruto diraihnya. Segel chakra sedikit dikendurkan. Aliran energi yang terkekang sedikit mengalir keluar, mengirimkan percikan hangat di seluruh tubuh. Naruto kini tak lagi lelah--hanya bergairah. Lagi.
Oh, Sasuke Sialan.
Desahannya lepas. Tangannya meremas rambut sang kekasih.
"Kenapa tidak dilepas semua ... " Ia merajuk selagi menggerakkan pinggulnya sendiri. "Selain itu--sial--bergeraklah, Berengsek! Untuk--uh--malam ini dua kali saja. Jangan minta tambah--"
"Kau harus membayar tiga bulan yang berlalu sia-sia." Sasuke bertumpu di kedua tangannya selagi memandang Naruto lurus-lurus. Ia masih belum bergerak meski keningnya dilapisi peluh, menandakan ia yang juga menahan diri dengan sangat keras. "Selain itu, selagi dia belum semakin tumbuh di dalam sana dan membatasi posisi yang kuinginkan."
Selanjutnya Naruto tidak bisa protes karena toh ia juga menikmati. Sasuke benar-benar memanfaatkan janji 'Naruto yang bermalam di sini' dengan baik. Ia menyentuh Naruto hingga mereka mengulang semua kegiatan tersebut entah berapa kali. Naruto sudah tak sanggup hanya untuk bersuara. Ia ingin menagih janji Sasuke untuk memberi tahu informasi terbaru, tapi sudah terlalu lelah untuk sekedar membuka mata. Rasanya aneh sekali, ia bisa berjam-jam sparring tanpa mengeluarkan banyak keringat. Tapi, dengan durasi yang sama, ia sudah tepar begini. Apakah ini berkaitan dengan tenaga asli tanpa chakra?
Naruto tidak tahu. Ia kelewat lelah untuk bisa memikirkan hal yang memusingkan. Kedua matanya sudah terpejam ketika selimut menutupi tubuh telanjangnya. Ia berbaring dengan Sasuke di sampingnya. Ketika sang Uchiha menyenderkan kepala Naruto di lengannya, mencium kening, dan berbisik rendah, Naruto tampak terlelap.
Tenaga Sasuke sama-sama terkuras. Tapi, ia tak bisa untuk tidak memandang ekspresi damai di hadapannya. Tidur dengan tenang tanpa beban pikiran. Jejak kemerahan yang menghiasi leher, bahu, dan hampir sebagian besar tubuh Naruto membuat Sasuke tersenyum geli. Ia melingkarkan sebelah tangan di perut Naruto, membayangkan bagaimana sosok putra yang akan hadir di kehidupannya nanti.
Uchiha bermata biru cerah dengan cengiran lebar terdengar cukup janggal, tapi tetap membuat dadanya menghangat. Ia harus berhenti membayangkan jika tak ingin kelewat bahagia dan lupa pada kewajiban yang harus dilaksanakan.
Pelipis Naruto dikecup penuh kasih. Ia mengeratkan dekapan, lalu berbisik pelan meski merasa bahwa suaranya tidak didengar oleh si perempuan.
"Terima kasih, Naru. Aku mencintaimu. Sangat."
Darahnya seolah berdesir kala menatap sosok yang berada di dekapan lama-lama. Tersadar bahwa semua ini bukan hanya ilusinya semata. Bukan lagi mimpi. Bukan lagi imajinasi.
Sasuke tersenyum samar, menikmati rongga dada yang seolah penuh dengan rasa suka cita dan bahagia.
Naruto benar-benar menjadi kekuatan sekaligus kelemahan terbesarnya.
Netra obsidian kemudian tertutup perlahan dengan napas teratur. Ia yang memang sudah lelah sejak kemarin pada akhirnya langsung terlelap tanpa mimpi, tak menyadari safir yang terbuka dan menggenggam tangan yang melingkar di perutnya. Ia terlihat berkaca-kaca selagi menoleh dan menatap pria rupawan di sampingnya. Mendengar pasti bisikan yang terlalu tulus dan murni. Buncahan rasa yang tak terdefinisi sedikit sulit diatasi. Tiba-tiba saja sudut matanya sudah lembap.
Bibir sang terkasih dikecup pelan, ia mengeratkan pelukan.
Dalam hati, ia berdoa pada Sang Kuasa.
Izinkan kami untuk menang tanpa harus saling kehilangan. Setidaknya, di kehidupan ini. Di dunia ini. Dengan sebuah keluarga yang begitu kami inginkan. Kali ini saja, Tuhan, beri kami sebuah masa depan yang senantiasa bisa selalu kami syukuri. ]
TBC
a/n
apa ini--
maaf jika lemonnya kurang asem. jika quality time mereka kurang dapat feels. maaf kalau jatuhnya terlalu menye:v aku kayaknya lebih pandai bikin mereka marah-marahan, deh, rasanya lebih menyenangkan wakakaka xD
tapi semoga chap ini sedikit ngobatin konflik batin setelah sekian lama yak.
salam.
