Tales Of Darkness And Light
By : Razux
.
.
.
.
Disclaimer : Gakuen Alice belong to Higuchi Tachibana
Chapter XXXIV
"Tidak ada gerakan sedikit pun dari pihak Theoden di perbatasan kota Lixir." Lapor seorang prajurit IsSengard kepada Ruka, Tsubasa, Kazumi, Sakurano, Shiki, Nogi dan para petinggi kerajaan Issengard, Arathorn dan Edoras yang berada dalam ruang rapat istana Issengard.
"Bagaimana dengan kondisi perbatasan Orca di Orthanct?" tanya Sakurano tiba-tiba sambil menatap prajurit tersebut dengan kedua mata violetnya. Dia mencemaskan keadaan Subaru, Pangeran Kerajaan Orthanc sekaligus sahabat sejak kecilnya yang masih berjuang mempertahankan perbatasan kerajaannya.
"Gencatan senjata di perbatasa Orca masih berlansung, sebab Kerajaan Orthanc dan juga Kerajaan Rohirrim sudah kehilangan banyak orang mereka. Hanya saja, kami tidak bisa mempredeksi berapa lama keadaan itu akan terus berlansung."
"Apakah bala bantuan dari kerajaan Theoden untuk Kerajaan Rohirrim masih belum tiba di perbatasan Orca?" tanya Tsubasa. Dia merasa cukup lega dengan berita yang dia dengar sekarang. Setidaknya mereka masih belum kehilangan perbatasan Orca yang merupakan perbatasan antara Kerajaan Orthanc dan Rohirrim.
"Bala bantuan dari Kerajaan Theoden beserta meriam sihir mereka masih belum tiba di perbatasan Orca, Yang Mulia Raja Tsubasa. Sampai sekarang Kerajaan Theoden sama sekali tidak melakukan apapun."
Semua yang mendengar penjelasan prajurit tersebut langsung diam membisu. Pikiran mereka semua penuh dengan apa yang sedang dipikirkan Kuonji, Raja Theoden. Goshima, Sang Raja Rohirrim pasti tidak akan mungkin berdiam diri saja melihat keadaan sekarang, dia berani menyerang Orthanc pasti disebabkan dia berpikir Kuonji akan membantunya.
"Terima kasih untuk kerja kerasmu. Kembalilah ke tugasmu." Ujar Kazumi pelan. Prajurit itu segera mengangguk kepalanya dan berjalan keluar meninggalkan ruang rapat yang berisikan para orang penting dari tiga Kerajaan besar di dunia.
Sepeninggalan prajurit tersebut, Kazumi langsung menolehkan kepalanya menatap semua yang ada di dalam ruangan. "Kita memang tidak tahu apa yang direncanakan Kuonji, tapi aku merasa kita tetap perlu berwaspada dan bersiap diri setiap saat."
Tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun, sebab mereka semua tahu sekali apa maksud ucapan Kazumi. Ruangan rapat menjadi sunyi senyap sampai akhirnya Nogi membuka mulutnya. "Kazumi, Tsubasa, apakah bala bantuan kita sudah tiba di Orca?"
"Akira berserta seratus ribu pasukannya sudah tiba di Orca dua hari yang lalu…" Jawab Tsubasa. Dia terdiam sejenak seakan sulit sekali merangkai kata untuk melanjutkan kalimatnya. "Begitu juga dengan sepuluh batang meriam sihir yang berhasil kita dapatkan dari Theoden di Lixir.."
Ruang rapat kembali sunyi senyap. Wajah semua yang ada di sana langsung berubah, mereka tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan khawatir dan juga sedih yang ada di dalam hati mereka.
"Aku sangat berharap bahwa kita tidak perlu menggunakan senjata itu dalam perang ini…" Lanjut Tsubasa lagi seakan mengutarakan arti pandangan semua yang dalam ruangan.
Meriam sihir.
Semua orang tahu dengan jelas kekuatan penghancur dan kerusakkan yang diakibatkan meriam sihir saat ditembakkan. Mereka semua sebenarnya sudah berusaha semampu mereka untuk tidak menggunakan senjata penghancur tersebut, namun itu adalah sesuatu yang mustahil. Mereka tidak akan mungkin bisa mengalahkan Rohirrim dan Theoden yang pasti akan menggunakan meriam tersebut jika tidak menggunakan meriam itu juga.
"Kurasa rapat hari ini cukup sampai sini saja." Ucap Kazumi tiba-tiba mengakhiri rapat. Tidak ada gunanya mereka semua memikirkan itu semua sekarang, yang harus mereka sekarang hanyalah berusaha dan berjuang untuk memenangkan perang yang berlansung. Perang sudah pecah, kematian, kehancuran dan penderitaan sudah tidak bisa dihentikan lagi.
Semua yang ada mengangguk kepala menyetujuhi apa yang dikatakan Kazumi. Sudah tidak ada yang bisa mereka bahas lagi. Dengan pelan semua yang ada dalam ruangan rapat pun bangkit dari kursi mereka, memberi hormat pada Kazumi, Tsubasa, Nogi, Ruka serta Sakurano dan berjalan keluar.
"Shiki-san.." Panggil Ruka yang dari tadi diam membisu sambil menolehkan wajahnya menatap Shiki yang telah bangkit dari tempat duduknya. "Aku tahu, kau pasti lelah karena baru saja tiba di Ibukota Iserth, tapi, jika kau tidak keberatan, maukah kau menjenguk Mikan terlebih dahulu.."
.OXOXO.
Shiki berjalan dengan pelan mendekati sebatang pohon sakura yang tidaak berdaun dan berbunga dalam taman istana Issengard. Mata violetnya menatap sosok seorang anak laki-laki berambut abu-abu dan seorang gadis berambut coklat yang sedang duduk di bawah pohon tersebut.
Mata hijau anak laki-laki itu menatap gadis di sampingnya yang sedang tertidur pulas dengan menyandarkan badannya pada batang pohon sakura. Kedua mata gadis itu tertutup dengan rapat dan angin yang bertiup meniup rambut coklat panjangnya dengan lembut. Meski wajah anak laki-laki itu terlihat tidak berekspresi, dia tetap saja tidak bisa menyembunyikan sinar kekhawatiran dan kesedihan yang terpancar dalam matanya, sebab gadis di depannya sekarang terlihat begitu rapuh.
"Yoichi..." Panggil Shiki pelan.
Anak laki-laki tersebut segera menolehkan wajahnya menatap sumber suara yang memanggil namanya. Wajahnya tetap saja tidak berekspresi saat melihat Shiki, namun dia menganggukkan kepalanya dengan pelan memberikan salam padanya.
Shiki berjalan mendekati Yoichi. Saat dia tiba di sampingnya, dia juga mengarahkan mata violetnya pada gadis di depan mereka itu. "Bagaimana dengan keadaan Mikan akhir-akhir ini, Yoichi?" tanya Shiki pelan.
"Sama dengan sebelumnya." Jawab Yoichi tanpa menolehkan wajahnya pada Shiki. Kedua matanya masih terus menatap Mikan.
Shiki tidak bertanya atau mengatakan sepatah katapun lagi begitu mendengar jawaban Yoichi. Dengan pelan dia mengangkat kepalanya menatap pohon sakura di atas mereka. Pohon sakura sudah tidak berbunga lagi, musim gugur sudah tiba.
"Apakah perang memang tidak dapat dihindari lagi, Shiki-san?" tanya Yoichi tiba-tiba sambil menolehkan kepalanya menatap Shiki.
Mata Shiki terbelalak mendengar pertanyaan Yoichi, namun dengan cepat ekspresi wajahnya berubah menjadi ekspresi penuh kesedihan. "Iya, sudah tidak bisa dihindari lagi.."
Yoichi tidak bertanya apapun lagi. Dia kembali menolehkan wajahnya menatap Mikan. Dia merasa sangat sedih sekaligus takut mendengar jawaban Shiki. Apa yang akan terjadi di kedepannya? Jika keadaan terus seperti ini, bagaimana dengan Mikan? Apa yang akan terjadi pada Natsume?
Lamunan Yoichi terhenti saat mata coklat Mikan yang sedang tertidur tiba-tiba terbuka. Kedua mata itu langsung terbelalak saat melihat siapa yang ada di depannya. Dia segera bangkit dari sandarannya akan batang pohon sakura dan menatap Shiki.
"S-Shiki-san, kapan kau tiba di sini?" tanya Mikan terbata-bata.
"Aku baru saja tiba, Mikan." Jawab Shiki sambil tersenyum tipis.
"Begitu ya…" Balas Mikan pelan. Dia sama sekali tidak menolehkan wajahnya sedikitpun dari Shiki, mulutnya terbuka sedikit seakan sedang mencari kekuatan untuk mengeluarkan suaranya, sedangkan mata coklatnya bersinar penuh ketakutan walau tidak dapat dipungkiri adanya sinar pengharapan di sana.
Melihat ekspresi wajah Sang Cahaya yang ada di depannya, Shiki tahu sekali apa yang akan ditanyakannya, sebab pertanyaan itu tidak pernah berubah sedikitpun, gadis di depannya akan menanyai siapa pun dengan pertanyaan yang sama jika ada yang datang dari luar ibukota Iserth menemuinya.
"S-Shiki-san… A-Apakah kau menemukan Natsume?"
Shiki menggeleng kepalanya dengan pelan. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa berdiri diam membisu melihat sinar penuh harapan di wajah Mikan menghilang dan digantikan dengan kesedihan yang sangat mendalam.
"B-Begitu, ya…" Ujar Mikan pelan sambil menundukkan kepalanya ke bawah, berusaha menyembunyikan kesedihan dan juga air menahan air mata yang sudah hampir jatuh membasahi pipinya.
'Apakah kau menemukan Natsume?'
itu adalah pertanyaan yang kerap Mikan tanyakan pada siapa pun yang menemuinya. keberadaan akan Natsume, Sang Kegelapan, musuh abadinya.
Tiga bulan yang lalu, saat Natsume menghilang dari hadapan Mikan —Betapa kacaunya gadis itu jadinya. Bagaikan orang gila, dia terus menangis dan akan berjalan tanpa tujuan dalam Kota Lixir tidak peduli itu siang atau malam untuk mencari Natsume jika tidak dihentikan. Dia bahkan ingin meninggalkan Kota Lixir untuk mencari Natsume saat dia yakin Natsume tidak berada di dalam kota itu lagi.
Semua yang melihatnya sangat khawatir, mereka sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, Mikan sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi, hingga akhirnya Narumi menyarankan Ruka, Hotaru, Tsubasa dan yang lainnya untuk membawanya kembali ke Ibukota Iserth.
Mikan sebenarnya menolak saran itu dengan sangat keras. Dia tidak mau kembali ke Ibukota Iserth. Namun, Ruka, Hotaru, Tsubasa dan yang lainnya akhirnya berhasil juga membuatnya setuju untuk kembali ke Ibukota Iserth dengan satu janji, "Kami akan menemukan Natsume untukmu." . Janji yang dipercayai Mikan dan belum terpenuhi sampai sekarang.
"Idiot, ayo kita masuk ke dalam, cuaca dingin ini sama sekali tidak bagus. Bisa-bisa kau sakit lagi." Ujar Yoichi tiba-tiba menghancurkan keheningan yang ada. Dia bangkit dari atas tanah dan mengulurkan tangannya pada Mikan
Mikan mengangkat kepalanya menatap Yoichi, dengan pelan dia megangguk kepalanya dan menerima uluran tangan Yoichi. Kesedihan yang terlihat dengan begitu jelas dalam matanya membuat hati Yoichi yang melihatnya merasa sangat sakit dan sedih. Jika keadaan Mikan sekarang seperti ini, bagaimana dengan keadaan Natsume sekarang? Dia yakin, keadaan Natsume pasti sama kacau atau mungkin lebih kacau. Namun, dengan sifat, sikap dan keputusan yang telah diambilnya, dia pasti akan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Dia pasti akan tetap terlihat kuat tidak tersentuh, padahal di dalam hatinya, dia telah hancur. Betapa pentingnya Mikan bagi Natsume di dunia ini, mungkin sekarang hanya Yoichi seorang saja yang tahu. Namun, dia tidak memberitahu siapapun akan itu, dia hanya bisa berdiam diri karena janjinya pada Natsume.
"Shiki-san, kau tidak ingin masuk ke dalam?" tanya Yoichi sambil menolehkan wajahnya menatap Shiki saat melihatnya tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Shiki kembali tersenyum kecil, "Tidak, Yoichi. Aku ingin menikmati taman ini sebentar lagi. Kalian masuk saja dulu."
"Baiklah." Balas Yoichi dengan wajah tanpa ekspresi, sedangkan Mikan yang berada di sampingnya hanya menganggukkan kepalanya sedikit pada Shiki untuk memberikan jawaban atas ucapan laki-laki itu barusan.
Shiki hanya menatap kedua sosok di depannya berjalan menjauh. Dia kemudian menolehkan kepalanya menatap sekelilingnya dengan pelan. Dia sudah menyadari keanehan yang ada sejak dia melangkahkan kakinya memasuki taman ini. Taman ini adalah taman istana Issengard yang terkenal dengan keindahannya. Bunga dari segala musim di tanam dan dijaga oleh para tukang kebun yang sangat lihai, karena itu, tidak mungkin taman ini tidak berbunga walau terjadi penggantian musim. Namun, sekarang, tidak ada setangkai bunga pun yang bermekar lagi. Semua tumbuhan yang ada layu dan menguning. Para tukang kebun sudah menyerah, mereka sama sekali tidak menemukan penyebabnya tidak peduli betapa keras mereka mencari. Lalu, seiring dengan hari yang berlalu, semua orang pun akhirnya menyadari penyebab keanehan itu dengan sendirinya, yakni; Mikan, Sang Cahaya.
Mikan yang selalu berada di taman itu setiap hari semenjak kedatangannya di Istana Issengardlah yang membuat bunga tidak mau bermekar dan layu. Tidak ada senyum dan tawa lagi di wajahnya, kesedihannya telah membuat semua bunga yang ada tidak mau mekar. Semua tumbuhan yang ada ikut bersedih bersamanya. Kondisi taman ini adalah kondisi hati Sang Cahaya yang sebenarnya sekarang.
Shiki tidak bisa mempungkirinya lagi, dia bisa melihat dengan jelas sekarang, betapa penting dan apa artinya Sang Kegelapan bagi Sang Cahaya. Melihat Mikan sekarang, dia yakin sekali, Mikan tidak akan pernah sanggup mengangkat pedang sihir Shire untuk membunuh Natsume jika saatnya tiba. Dia sudah mendengar dengan jelas alasan Natsume meninggalkan Mikan, ternyata apa yang dipikirkannya sama sekali tidak salah, Sang Kegelapan berada disamping Sang Cahaya, menjaga serta melindunginya, hanyalah untuk membuat Sang Cahaya melupakan tugasnya. Dan kini, Sang Kegelapan benar-benar telah berhasil. Namun, Shiki bersumpah, selama dia masih hidup, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
.OXOXO.
"Tidak ada sedikit pun pergerakkan dari kerajaan Theoden di dekat perbatasan Lixir, Jendral Kaname." Lapor seorang prajurit Kota Lixir pada Kaname.
"Baguslah kalau begitu. Teruskan pengintaian dan penjaga kalian, laporkan secepatnya padaku jika terjadi sesuatu." Perintah Kaname pelan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kota ini lagi, dia yangtelah menerima tugas sebagai jendral di perbatasan Lixir ini tidak akan mungkin membiarkan kota ini jatuh ke tangan kerajaan Theoden, sebab kota ini adalah pintu masuk yang yang sangat penting bagi Kerajaan Issengard.
"Siap!" Balas prajurit di depannya dengan sigap sambil mengangguk kepalanya.
"Kembalilah ke tempat posmu."
Prajurit itu kembali mengangguk kepalanya mendengar perintah Kaname, dia segera memberi hormat padanya dan berjalan meninggalkan ruangan tempat mereka berada.
Sesaat prajurit itu meghilang dari hadapannya, Kaname menarik napas dan berjalan keluar dari ruangannya. Dia memutusan untuk mencari udara segar, sebab dia benar-benar membutuhkannya sekarang. Keadaan sekarang memang sangat tenang sebab tidak ada pergerakkan sedikitpun dari pihak Theoden, namun dia tahu, tidak ada ketenangan dalam perang, musuh mereka pasti sedang merencanakan sesuatu.
Meski pun mereka kini juga telah memiliki meriam sihir seperti Kerajaan Theoden, Kerajaan Theoden pasti tidak akan takut, sebab mereka memiliki meriam sihir yang jauh lebih banyak. Satu-satunya alasan mengapa kerajaan Theoden tidak berani menyerang mereka pasti disebabkan karena ketakutan akan Natsume, Sang Kegelapan.
Natsume.
Kaname hanya bisa menghela napas lagi begitu teringat akan Sang Kegelapan. Tidak ada yang tahu bahwa Sang Kegelapan sesungguhnya sudah tidak lagi berada di kota ini sejak tiga bulan yang lalu. Dia menghilang tanpa jejak sedikit pun dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Hanya beberapa orang saja yang tahu akan hal itu, mereka mengrahasiakan kehilangannya dari siapa pun, sebab mereka tidak mau menunjukkan kelemahan mereka pada pihak Theoden yang bisa saja menyerang mereka kapan saja serta pihak mereka. Mereka membutuhkan sosok Natsume Sang Kegelapan untuk mempertahankan semangat pasukan mereka.
Lucu juga jika dia memikirkannya lagi, dia ingat sekali akan perlakuan beberapa penduduk kota pada Natsume saat mengetahui siapa dan apa yang dilakukannya dulu, namun sekarang mereka semua bersembunyi dan mendapatkan ketenangan dengan menggunakan namanya.
Kaname memang tidak begitu mengenal baik Natsume, saat dia pertama kali melihatnya, dia memang merasa sangat takut, sebab dia adalah makhluk yang sangat mengerikan dan menakutkan. Namun, saat dia melihatnya yang ketakutan dan berteriak meminta pertolongan untuk Mikan saat kembali ke sosok manusianya, saat melihatnya yang terus mengenggam tangan Mikan yang tidak sadarkan diri, melihat bagaimana dia menghawatirkan Mikan, dia merasa dia bukanlah makhluk tanpa perasaan yang diceritakan.
Mikan.
Sejak pertama kali melihat Natsume dan Mikan, Kaname sudah tahu, ada suatu hubungan yang tidak dapat dijelaskan di antara mereka meskipun mereka adalah makhluk yang bertolak belakang dan ditakdirkan untuk menjadi musuh. Dari cara mereka saling menatap, semua orang sudah tahu apa arti keberadaan mereka antar satu dan lain. Karena itulah, tidak ada yang mengerti, kenapa Natsume meninggalkan Mikan sendirian? Mikan yang terus menangis menceritakan bahwa Natsume membencinya dan tidak ingin melihatnya lagi sama sekali tidak dapat diterima mereka. Pasti ada alasan lain kenapa Natsume meninggalkannya, hanya saja tidak ada seorangpun yang tahu.
Meski Mikan sudah tidak berada di kota Lixir, Kaname tidak pernah berhenti mencari informasi akan dirinya. Dia tahu, sampai sekarang, kondisi gadis itu masih sama, tidak tahu harus berbuat apa, ketakutan dan menanti janji yang mereka buat kepadanya terwujud; janji untuk memepertemukannya lagi dengan Natsume. Dia sama sekali tidak bisa melupakan ekspresi penuh kesedihan di wajah gadis yang biasanya selalu tersenyum saat dia berusaha menghentikannya yang ingin menjelajahi Kota Lixir untuk mencari Natsume. Mereka tidak bisa membiarkannya berada di kota ini lagi, sebab mereka takut rahasia akan hilangnya Natsume akan terbongkar dan mengakibatkan kerugian pada pihak mereka.
Apa yang sedang dipikirkan Kaname tiba-tiba terhenti saat dia melihat sosok seorang gadis yang duduk di dalam taman kediaman Walikota Lixir. Kaname tidak dapat melihat wajah gadis itu karena dia duduk membelakanginya. Namun, dia tahu siapa gadis itu.
Sambil tersenyum, dia berjalan dengan pelan mendekati sosok di depannya. Gadis berambut pirang dengan mata berwarna violet itu segera menoleh kepalanya ke belakang saat menyadari ada yang mendekatinya. Sebuah senyum manis langsung merekah di wajahnya. "Selamat siang, Kaname-san." Salam gadis itu.
"Selamat siang, Luna-chan. Sedang ap—" ucapan Kaname itu langsung terhenti dan matanya terbelalak saat dia melihat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangan Luna.
"A-Ada apa, Kaname-san?" tanya Luna terbata-bata dengan wajah penuh kebingungan.
"Jangan bergerak!" Perintah Kaname pelan. Dengan hati-hati dia mendekati Luna dan duduk disampingnya, kedua mata violetnya menatap lurus kupu-kupu yang hinggap di lengan Luna tanpa berkedip sedikit pun.
"A-Ada apa, Kaname-san?" tanya Luna lagi, kebingungan di dalam hatinya semakin membesar. Namun perasaan bingung itu segera berubah menjadi perasaan curiga dan waspada. Apa dia telah menyadarinya? Apakah ada sesuatu hal yang membuat jendral di depannya mengetahui siapa dirinya sebenarnya?
"Kupu-kupu.. Ada kupu-kupu di lenganmu.." Jawab Kaname pelan. Kedua matanya masih menatap lurus kupu-kupu di lengan Luna. Dengan pelan dia mengangkat tangannya untuk menangkap kupu-kupu itu. Namun, sebelum dia berhasil menangkapnya, kupu-kupu itu telah terbang menjauh.
Kaname berdiri dan berusaha untuk menangkapnya walau tidak berhasil. Luna yang melihat sikap Kaname langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa, Luna-chan? Apakah begitu lucunya kau melihatku berusaha untuk menangkap kupu-kupu? " tanya Kaname sambil menatap Luna dengan wajah cemberut.
"B-Bukan.. Bukan seperti itu! Aku hanya tidak menyangka anda bisa juga bersikap kekanakan seperti itu." Jawab Luna sambil menahan tawanya. "Seingin ituhkah anda menangkap kupu-kupu?"
Kaname tersenyum mendengar pertanyaan Luna. Dia kembali berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya. "Aku selalu menyukai kupu-kupu, Luna-chan."
"Kenapa?" tanya Luna kebingungan, ekspresi tertawanya dengan cepat berubah menjadi ekspresi kebingungan lagi.
"Bagiku, kupu-kupu itu sangat cantik dan anggun. "
"Apakah anda adalah seorang kolektor kupu-kupu, Kaname-san?" tanya Luna tiba-tiba.
Kaname kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku bukan seorang pengkolektor kupu-kupu, Luna-chan. Aku menyukai kupu-kupu yang hidup. Aku suka melihat mereka mengepakkan sayap mereka yang kecil."
"Kalau begitu, kenapa anda ingin menangkapnya tadi?" tanya Luna lagi sambil menatap Kaname.
Kaname tertawa mendengar pertanyaan Luna."Karena aku ingin melindunginya."
"Melindunginya?"
"Iya. Kupu-kupu adalah makhluk yang lemah. Karena itu, aku ingin menangkap dan membawa mereka ke tempat yang aman. Kau tahu, kan? Sayap kupu-kupu sangat rapuh, mereka bukan makhluk yang kuat. Hanya sayangnya, kupu-kupu tidak menyukaiku. Mereka pasti akan segera terbang menjauh jika aku mendekatinya." Jelas Kaname sambil tersenyum kecil dan menarik napas.
Luna tidak menemukan satu kata pun untuk membalas apa yang baru saja dikatakan Kaname. Dia terus menatapnya dengan penuh kebingungan. Namun, tiba-tiba Kaname menolehkan wajahnya menatap Luna.
"Kau tahu, Luna-chan? Jika suatu saat nanti ada seekor kupu-kupu yang mau hinggap di badanku, aku pasti akan menjaganya selalu, dan aku juga pasti akan mengabulkan apapun permintaannya. Ya, kalau mereka bia memberitahuku." Tawa Kaname gembira.
"Anda aneh, Kaname-san," Balas Luna sambil tersenyum kecil. "Anda benar-benar orang aneh."
Senyum di wajah Kaname semakin melebar saat melihat senyum Luna. Dia sama sekali tidak tersinggung akan komentarnya, malahan dia sesungguhnya menyukainya. Dia menyukai suasana tenang dan damai di antara mereka sekarang.
"Kau juga orang aneh, Luna-chan. Kenapa kau tidak mau meninggalkan kota ini? Kau seharusnya mengikuti Tsubasa, Ruka dan yang lainnya ke ibukota Iserth, sebab kau tahu, kan? Hanya tinggal menghitung hari saja tempat ini akan menjadi medan perang." tanya Kaname sambil menatap Luna dengan lembut. Para anak-anak, orang tua dan juga wanita telah diungsikan dari kota yang menjadi medan perang ini, namun dia tidak menegrti sebab Luna tetap bersikap keras tidak mau meningalkan kota ini tidak peduli apa yang dikatakannya.
Tetap tersenyum, Luna mengangkat kepalanya menatap langit biru di atasnya. "Aku tidak bisa meninggalkan kota ini, Kaname-san. Kota ini memiliki arti yang sangat penting dalam hidupku."
"Mengapa?"
"Tahukah anda? Dulu-dulu sekali, sebelum kota Lixir ada, di tanah kota ini, ada sebuah desa kecil bernama Vellenth."
"Vellenth?" tanya Kaname kebingungan.
"Iya. Vellenth. Desa kecil dengan penduduk yang tidak banyak dan selalu hidup dalam kedamaian. Namun, pada suatu hari, desa itu hancur dan tidak ada seorang pun penduduk desa yang hidup. Desa itu menghilang dari atas tanah dan akhirnya nenek moyang penduduk kota Lixir pun membangun kota di sini dan menamai tanah ini Kota Lixir." Jelas Luna dengan mata menerawang.
"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, Luna-chan. Aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita i—" ujar Kaname bingung. Namun ucapannya langsung tehenti saat dia melihat sebuah senyum menyeringai penuh keusilan di wajah Luna. "Hei! Kau sedang mempermainkan aku, ya?"
Luna tertawa terbahak-bahak dan segera berdiri sambil menatap Kaname. "Anda ini mudah sekali dibohongi, Jendral Kaname. Bisa-bisanya kau percaya dengan begitu mudah terhadap kebohonganku."
Mulut Kaname terbuka, dia ingin sekali mengatakan sesuatu untuk membalas ucapan Luna. Namun, akhirnya dia menutup mulutnya dan mengurung niatnya itu. Wajah Luna yang tertawa lepas di depannya membuatnya merasa nyaman, dan mungkin memang inilah yang diperlukannya, sesuatu untuk melepaskan ketegangannya akan perang.
"Aku harus pergi, Kaname-san. Aku tidak boleh bersantai saja terus di sini sementara tugasku terbengkalai." Ujar Luna mempermisikan dirinya tiba-tiba sambil tersenyum.
Kaname mengangguk kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun saat dia melihat sosok Luna yang semakin menjauh darinya, dia berteriak. "Luna-chan! Besok, pada jam seperti ini juga, temani aku mengobrol ya?"
Luna menolehkan kepalanya pada Kaname dan mengangguk sambil tersenyum menerima undangan pria di depannya. Senyum lebar langsung terukir di wajah tampan Kaname, dia tidak mengatakan apa pun lagi dan membiarkan gadis di depannya berjalan menjauh. Tapi, tiba-tiba saja Luna yang ada di depannya itu berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya sedikt ke belakang dan mengucapkan sesuatu sambil tersenyum.
"Ah, aku lupa menyampaikannya pada anda, Kaname-san. Kupu-kupu tidak lemah, kau akan meyesal suatu hari nanti jika menganggap kupu-kupu itu lemah."
"Eh? Apa maksudmu, Luna-chan?"
Luna tidak menjawab pertanyaan Kaname. Dia kembali menolehkan kepalanya ke depan sambil tertawa dan berlari meninggalkan Kaname yang kebingungan seorang diri.
.OXOXO.
Seorang gadis berkerudung putih berjalan dengan pelan di dalam Ibukota Iserth. Cahaya dari rumah para penduduk kota serta cahaya obor yang ada di sekeliling jalan membuat dia dapat melihat jalan di depannya dengan jelas. Dia menghela napas, akhirnya dia tiba juga di Ibukota Kerajaan Issengard ini setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan lama. Mata birunya menatap sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan, dengan langkah kakinya yang pelan, dia berjalan menuju istana Kerajaan Issengard.
Dia berdiri mematung saat dia sudah tiba di depan istana Kerajaan Issengard. Dia ingin masuk ke dalam istana tersebut, dia ingin menemui seseorang yang kini berada di dalamnya. Namun, gadis itu tidak tahu bagaimana cara untuk masuk sebab dia bisa melihat dengan jelas penjagaan yang sangat ketat di sekeliling istana.
"Hei! Kau yang ada di sana! Ada perlu apa kau di sini?" tanya seorang prajurit di depan istana Issengard saat menyadari kehadiran gadis itu.
Perasaan terkejut dan takut langsung menyerang gadis itu, tanpa membuang waktu dia langsung membalikkan dirinya dan berlari menjauh. Namun, dia sama sekali tidak menyangka sikapnya ini justru membuat para prajurit yang ada di depan istana Issengard bertambah curiga.
"HEI! BERHENTI!" teriak para prajurit di depannya tadi dan berlari mengejarnya.
Gadis itu terus berlari tanpa mempedulikan perintah para prajurit itu. Saat dia menolehkan kepalanya ke belakang sejenak sambil berlari, dia melihat para prajurit itu berlari mengejarnya dengan wajah menyeramkan. Ketakutan di hatinya semakin membesar hingga diapun berlari semakin cepat lagi. Namun, tiba-tiba langkah kakinya terhenti.
Dia tidak seharusnya lari. Bukankah kedatangannya ke kota ini adalah untuk bertemu dengan seseorang yang kini berada di dalam istana Isengard? Jika dia melarikan diri seperti ini, bagaimana dia bisa bertemu dengannya? Apa arti perjalanan panjangnya itu?
Dengan membulatkan tekadnya dan mengesampingkan perasaan takutnya, dia memutar badannya menghadap para prajurit yang tadi mengejarnya. Para prajurit yang melihat gadis berkerudung putih itu memutar badan menghadap mereka segera berhenti berlari, kebingungan melanda mereka. Ada apa dengan orang di depan mereka ini? Kenapa dia tiba-tiba berlari dan berhenti seperti ini?
Dengan pelan gadis itu membuka kerudung putih yang menutupi rambut hitam gelombangnya dan mempelihatkan wajah cantiknya pada prajurit di depannya. Kedua mata birunya bersinar penuh ketakutan. "A-Aku adalah Nobara. Aku adalah Putri Kerajaan Rohirrim. A-Aku ingin bertemu dengan Mikan-chan…"
.OXOXO.
Mikan yang sedang duduk di atas tempat tidur dalam kamarnya di istana Issengard menatap langit malam penuh bintang melalui jendela di samping tempat tidurnya. Dia tidak berani menutup matanya dan tidur, sebab dia takut akan memimpikan kejadian itu lagi, mimpi di mana sepasang mata berwarna merah darah yang biasanya selalu menatapnya dengan lembut berubah dan menatapnya dengan penuh kebencian.
Sejak Natsume meninggalkannya, dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa. Sedih, takut, hancur dan bingung bercampur aduk jadi satu di dalam hatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hari esok lagi. Natsume tidak ada di sampingnya lagi, tidak akan ada yang menghapus air matanya, menenangkannya saat dia ketakutan, memeluknya saat dia kedinginan pada malam hari. Dia sudah tersesat, kehilangan arah.
"Idiot.." Panggil suara seorang wanita tiba-tiba dari belakangnya.
Mikan sebenarnya sudah tahu siapa yang memanggilnya walau tidak menolehkan wajahnya melihat pemilik suara itu, namun dia tetap menolehkan wajahnya menatap seorang wanita berambut hitam pendek dengan mata violet dan juga Yoichi yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Hotaru.. Yoichi..," panggil Mikan pelan.
Hotaru terdiam melihat ekspresi wajah gadis di depannya, begitu juga dengan Yoichi, mereka hanya diam melihatnya dengan wajah tanpa ekspresi walau dalam hati mereka terasa sangat sakit.
Melihat Hotaru dan Yoichi yang tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan wajah tanpa ekspresi di depannya. Sebuah harapan tiba-tiba muncul di dalam hati Mikan. Dia segera berdiri dan berjalan mendekati mereka, dengan pelan dia mengangkat tangannya menatap wajah Hotaru. Kedua mata coklat madunya bersinar penuh harapan bercampur ketakutan. Sebuah senyum penuh harapan terlukis di wajahnya. "H-Hotaru, a-apakah kalian telah menemukan Natsume?" tanyanya pelan.
Pertanyaan yang sama. Hotaru dan Yoichi sudah tidak tahu lagi ini ada keberapa kalinya Mikan bertanya seperti ini pada mereka. Mereka membenci pertanyaan yang ditanyakannya ini, sebab jawaban mereka tetaplah sama dengan sebelumnya, yakni; Tidak.
Hotaru menggeleng kepalanya. Dia dan Yoichi bisa melihat dengan jelas sinar penuh harapan di mata coklat madu itu segera meredup dan digantikan sinar penuh kesedihan, begitu juga dengan senyum di wajahnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Mikan menundukkan wajahnya ke bawah.
Hotaru tahu, Mikan pasti sedang berusaha menahan tangisnya. Sudah berapa kali dia melihat gadis ini menangis sendirian dalam kamarnya. Dia bukanlah lagi gadis ceria yang dijumpainya di hutan terlarang lagi.
Yoichi yang tidak tahan melihat kesedihan itu lagi segera mengangkat kedua tangannya memeluk Mikan dengan erat. Hatinya terasa luar biasa sakit. Betapa rapuh dan menderitanya gadis di depannya ini sekarang.
Mikan mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Yoichi dan menangis terisak-isak. "Yoichi.. Natsume ada di mana? Aku merindukannya, Yoichi. Aku ingin bertemu dengannya…"
Melihat Mikan yang seperti ini setiap hari, betapa inginnya Yoichi membuka mulut dan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada Mikan. Dia ingin memberitahu Mikan alasan mengapa Natsume meninggalkannya dan mengatakan hal sekejam itu padanya. Namun dia, tidak bisa, sebab dia telah berjanji pada Natsume untuk mengrahasiakan semuanya, demi keselamatan Mikan. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah satu, yaitu menemani Mikan dan berpura-pura seakan tidak tahu apa-apa.
Hotaru tidak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri diam di tempatnya melihat adegan di depannya dengan wajah tanpa ekspresi yang sudah tidak bisa dipertahankannya lagi.
"K-Kenapa Yoichi? P-Padahal dia sudah berjanji padaku bahwa dia tidak akan meninggalkanku dan akan pulang ke rumah kami di hutan terlarang bersama.."
Hutan terlarang.
Sebenarnya Hotaru, Ruka dan yang lainnya pernah memikirkan untuk membawa Mikan kembali ke hutan terlarang. Mungkin jika mereka membawanya ke sana, dia akan lebih tenang, sebab saat dia sakit, dia selalu meminta untuk pulang. Namun, mereka tidak bisa. Perang masih berlangsung, bahkan hutan terlarang di kerajaan Arthorn kini telah berada di bawah jajahan Kerajaan Theoden.
Pintu kamar Mikan tiba-tiba terbuka. Hotaru menolehkan kepalanya ke arah pintu dan melihat Ruka, Tsubasa dan Shiki berjalan masuk. Namun mata violetnya langsung terbelalak saat dia melihat sosok seorang gadis berambut hitam gelombang dengan mata berwarna biru yang berjalan dengan wajah takut-takut di belakang mereka.
"Nobara.." Ujar Hotaru pelan tidak percaya dengan siapa yang dilihatnya.
Mendengar nama yang diucapkan Hotaru, Mikan segera mengangkat wajahnya menatap mereka yang baru berjalan masuk ke dalam kamarnya. Mata coklat madunya langsung terbelalak karena terkejut saat melihat Nobara.
"H-Halo.. M-Mikan..." Sapa Nobara pelan dengan kikuk, sebab dia benar-benar sangat kebingungan saat melihat air mata yang mengalir menuruni pipi Mikan.
Mikan tidak membalas sapaan Nobara, tiba-tba saja dia melepaskan dirinya dari pelukan Yoichi dan berlari ke arah Nobara. Dia tidak mempedulikan, Ruka, Tsubasa dan juga Shiki yang dilaluinya, dia mengangkat kedua tangannya dan mengenggam lengan Nobara dengan kuat. "N-Nobara.. A-Apakah kau melihat Natsume?" tanyanya terbata-bata.
"Eh!" kebingungan menyerang Nobara. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan gadis di depannya sekarang.
"Kau melihatnya, bukan? Bisakah kau memberitahuku di mana dia berada sekarang?" tanya Mikan lagi sambil tersenyum dengan wajah berurai air mata.
"A-Apa maksudmu, Mikan? Aku sama sekali tidak mengerti?" tanya Nobara membalas pertanyaan Mikan yang bertubi-tubi itu.
"A-Aku membuat Natsume marah, Nobara. D-Dia marah dan meninggalkanku. A-Aku ingin mencarinya dan meminta ma—" jawabMikan sambil tertawa kecil. Namun dia tidk berhasil menyelesaikan jawabannya itu, sebab tiba-tiba saja Shiki mengangkat tangannya menarik lengan Mikan hingga genggamannya pada lengan Nobara terlepas
"SUDAH CUKUP MIKAN! HENTIKAN SEMUA INI!" teriak Shiki sambil menatap tajam Mikan.
Semua yang ada di dalam kamar itu sangat terkejut melihat reaksi Shiki yang tiba-tiba ini, mata mereka semua terbelalak karena terkejut menatapnya, termasuk Mikan.
"Sampai kapan kau mau dibohonginya terus? Bukankah dia sudah mengatakan padamu semuanya? " lanjut Shiki sambil menatap lurus wajah Mikan yang kini ada di depannya.
"Lepaskan aku Shiki-san.." Balas Mikan pelan sambil berusaha melepaskan lengannya yang digenggam Shiki.
"BUKA MATAMU! JANGAN KAU BIARKAN DIRIMU DITIPU LAGI!" teriak Shiki penuh kemarahan. Dia benar-benar tidak bisa menahan emosi dan amarahnya lagi. Betapa salahnya ini semua, Sang Cahaya tidak seharusnya menangis dan meminta maaf kepada Sang Kegelapan.
"KAU BOHONG!" teriak Mikan tiba-tiba dengan badan gemetar. Air matanya mengalir semakin deras menuruni pipinya dan dia berusaha mengangkat tangannya menutup telinganya walaupun gagal karena genggam Shiki yang kuat.
"Shiki-san! Hentikan!" Ujar Ruka serta Tsubasa panik dan berusaha melepaskan tangan Shiki yang mengenggam lengan Mikan. Namun, Shiki tidak peduli, dia tetap mengenggam lengan Mikan dengan kuat. "DIA HANYA MEMANFAATKANMU SAJA SELAMA INI!"
"SHIKI-SAN! HENTIKAN!" teriak Ruka dan Tsubasa lagi, sedangkan Hotaru yang tadi hanya berdiri diam membisu juga segera berlari mendekati mereka untuk menghentikan Shiki.
"TIDAK! TIDAK!" Dengan mengumpulkan segenap tenaganya yang ada, Mikan menarik lengannya yang digenggam Shiki hingga terlepas. Dia meloncat ke belakang sambil menatap semua yang ada di depannya. "NATSUME TIDAK AKAN MUNGKIN SEPERTI ITU! NATSUME SUDAH BERJANJI PADAKU! DIA TIDAK AKAN MENGINGKARI JANJINYA!"
Shiki langsung terdiam begitu melihat ekspresi wajah Sang Cahaya. Air mata, ketakutan, kesedihan, penderitaan di wajah itu mengingatkannya pada wajah satu-satunya wanita yang dicintainya. Sedangkan Ruka, Hotaru, Tsubasa, Nobara dan Yoichi hanya bisa berdiri di tempat mereka tanpa bisa melakukan apapun karena terkejut sekaligus bingung.
Mikan tiba-tiba menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan seakan mencari seseorang. Dia mengangkat tangannya menyusuri rambutnya. "NATSUME! NATSUME! KAU ADA DI MANA? NATSUME AKU MOHON! MAAFKAN AKU! JANGAN MEMBENCIKU! AKU MOHON! JANGAN TINGGALKAN AKU!"
Hotaru segera berlari mendekati Mikan untuk memeluknya. Namun, Mikan tidak mau, dia segera mendorong badan Hotaru. Ruka dan Tsubasa juga tidak tinggal diam lagi, mereka berdua berlari mendekatinya dan berusaha untuk menenangkannya.
"NATSUME! DI MANA KAMU? NATSUME! NATSUME!" teriak Mikan terus dengan air matanya yang tidak berkesudahan.
Tsubasa yang tidak bisa menghentikan Mikan lagi segera mengangkat tangannya untuk memukul belakang lehernya dan membuatnya pingsan. Ruka dan Hotaru segera menangkap badan Mikan yang kehilangan kesadarannya dengan cepat. Tidak ada seorangpun yang mengucapkan sesuatu, mereka semua hanya bisa diam membisu melihat wajh Mikan yang tidak sadarkan diri.
Yoichi yang dari tadi berdiri tanpa bergerak sedikit pun melihat apa yang terjadi hanya bisa mengepal tangannya dengan erat menahan kepedihan dalam hatinya.
'Dia bisa hidup tanpaku.'
Yoichi teringat lagi akan ucapan yang Natsume katakan padanya saat dia akan meninggalkan gadis di depannya sekarang. 'Dia bisa hidup tanpaku.' Betapa salahnya Natsume akan hal itu. Jika saja Natsume melihat keadaannya sekarang, apakah dia masih akan berkata bahwa Mikan bisa hidup tanpanya? Natsume sendiri mungkin tidak pernah menyadarinya, tapi keberadaannya di dalam hati Mikan adalah sesuatu yang tidak dapat tergantikan. Apa artinya Mikan bagi Natsume pasti sama dengan apa artinya Natsume bagi Mikan.
Takdir yang menyelimuti mereka benar-benar sangat lucu dan kejam. Meski mereka merupakan makhluk yang ditakdirkan untuk bermusuhan dan saling membunuh, mereka berdua malah saling mengasihi dan menyanyangi setulus hati mereka. Namun, kini mereka dipisahkan. Dipisahkan karena keegoisan dan ketamakkan manusia.
.OXOXO.
Gadis kecil berusia sembilan tahun itu berjalan dengan riang sambil tersenyum di dalam istana Kerajaan Theoden. Mata merah darahnya yang berbinar-binar karena kegembiraan menatap lurus ke depan .
"Aoi!" panggil seseorang tiba-tiba.
Gadis kecil itu langsung berhenti dan menoleh kepalanya ke arah orang yang memanggil namanya. Senyum di wajahnya bertambah lebar saat dia melihat seorang pria berusia pertengahan tiga puluh dengan rambut hitam dan mata biru tua tersenyum kepadanya.
"Yang Mulia Kuonji!" panggil Aoi gembira dan berlari ke arah pria itu memeluknya.
Kuonji tertawa dan mengelus rambut Aoi dengan pelan. "Kau mau ke mana, Aoi?"
Aoi mengangkat kepalanya menatap Kuonji. "Aku mau menemui Kakak, Yang Mulia."
"Kakak, ya? Baiklah, aku tidak akan menganggumu kalau begitu. Tapi, jika kau beretmu dengannya tolong sampaikan padanya aku ingin berbicara dengannya."
Aoi mengangguk kepalanya dengan cepat sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Pergilah. Kudengar dia sekarang ada di taman istana." Senyum Kuonji lembut.
Aoi kembali mengangguk kepalanya. "Sampai ketemu nanti, Yang Mulia." Ujarnya dan berlari meninggalkan Raja Theoden sendirian.
Kuonji hanya diam menatap sosok Aoi yang berlari meninggalkannya. Sebuah senyum lebar terukir di wajahnya saat melihat sikap Aoi yang begitu dekat dengannya. Meski agak berbeda dan tidak sekuat apa yang diinginkannya, Aoi tetap sangat berharga baginya. Dia adalah senjata ciptaannya yang berharga. Tanpa Aoi, pintu segel meriam sihir yang ada di bawah istana kerajaan Theoden tidak mungkin terbuka. Dengan menggunakan kekuatan Sang Penjaga Cahaya, Persona dan Aoi setengah tahun yang lalu, dia berhasil membuka segel kuat dan rumit tersebut.
Sejak saat pintu segel itu terbuka, semuanya berubah, kerajaannya bukanlah kerajaan yang lemah lagi, kerajaannya telah berubah menjadi kerajaan terkuat di dunia ini. Dan meski sekarang lawannya juga telah memiliki senjata meriam sihir yang direbut darinya, dia tetap tidak takut. Kerajaannya tetap merupakan kerajaan terkuat sebab dia memiliki Luna, Persona dan Aoi di pihaknya. Namun, dari semua itu, dia memiliki makhluk paling berbahaya dan terkuat di sisinya, dia memiliki Sang Kegelapan.
.OXOXO.
Aoi menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk mencari sosok yang dicarinya dalam taman istana Theoden. Semua daun yang telah gugur dan menguning membuat musim gugur terasa dengan begitu kental dalam taman ini. Dia tidak menemukan sosok yang dicarinya, karena itu dia menutup matanya dan mencoba mencari aura makhluk hidup yang ada.
Tidak sulit baginya untuk menemukan aura dari orang yang dicarinya. Sedetik saja, dia sudah bisa menemukan aura itu. Aura yang mirip dengannya, namun terasa sangat kuat dan juga mengerikan dari pada auranya.
Dia membuka matanya dan dengan gembira berlari ke aura tersebut. Sebuah senyum langsung terukir di wajahnya saat dia melihat seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun berbaring di bawah pohon sakura yang telah mengering tanpa daun sedikit pun dengan mata terpejam. Dengan pelan dan hati-hati tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun, dia berjalan mendekatinya.
"Ada apa, Aoi?" tanya pemuda itu tiba-tiba tanpa membuka matanya.
"Bagaimana kau tahu aku mendekatimu?" tanya Aoi cemberut. Dia telah berusaha mendekatinya tanpa diketahuinya karena ingin membuat pemuda di depannya terkejut. Namun, sepertinya dia gagal lagi seperti hari-hari sebelumnya.
"Jika kau benar-benar ingin mendekatiku tanpa kuketahui, hilangkan dulu auramu." Jawab pemuda itu sambil membuka kedua matanya yang berwarna merah darah seperti mata Aoi.
"Akan aku coba, lain kali, Kakak," balas Aoi sambil tertawa kecil dan duduk di samping pemuda itu. "Walau aku merasa, kau pasti tetap akan mengetahui aku mendekatimu. Sebab kau yang merupakan Sang Kegelapan sebenarnya pasti bisa merasakan auraku dengan mudah."
Pemuda itu, Sang Kegelapan alias Natsume tidak mengatakan apa pun, dia hanya menatap gadis kecil di depannya dalam keheningan.
Aoi.
Dia sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasan terkejutnya saat dia pertama kali melihatnya. Sebab, tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa Aoi ada di dunia ini, dirinya yang satu lagi.
Dari darahnya yang mereka ambil sepuluh tahun yang lalu, mereka menciptakan dirinya lagi. Bukan dengan menanamkan darahnya yang merupakan makhluk sihir pada manusia hidup seperti yang dulu para murid penyihir Azumi menciptakan Sang Penjaga Cahaya atau cara Kuonji dulu menciptakan Persona. Tapi dengan darahnya mereka mereka membuat kloning dirinya, kloning Sang Kegelapan.
Namun, kloning tetaplah kloning. Meskipun dia hidup, dia tetap bukanlah Sang Kegelapan. Aoi berjenis kelamin wanita, berbeda dengannya, dan juga, Aoi tidak sekuat dirinya. Sebenarnya, Aoi lebih mirip dengan manusia daripada makhluk sihir. Dia memang memiliki aura seperti Sang Kegelapan dan bisa menggunakan sihir tanpa mantra dan lingkaran sihir, namun, dia tidak memiliki wujud lain seperti dirinya, Luna maupun Persona. Wujud manusianya sekarang adalah wujud aslinya.
"Kakak, kenapa kau selalu di sini? Musim gugur yang tiba sudah membuat taman ini tidak berbunga. Bukankah lebih baik kau masuk ke dalam istana?" tanya Aoi lagi.
Natsume tetap tidak menjawab pertanyaan Aoi dan menutup matanya. Dia tidak ingin masuk ke dalam istana, sebab dia tidak ingin meninggalkan pohon sakura yang telah mengering di atasnya sekarang. Pohon sakura selalu mengingatkannya akan kecantikan, kepolosan serta kehangatan Mikan. Ada kenangan akan Mikan jika dia menatap pohon sakura. Karena itu, saat dia menatap pohon sakura ini, dia selalu menyadari, dia harus meninggalkan Mikan. Mikan akan jadi seperti pohon ini jika dia bersikap keras ingin berada di sampingnya. Mikan akan kehilangan cahayanya, mengering dan akhirnya— mati.
Di tempat ini, pohon sakura inilah satu-satunya hal yang membuat dia bisa menahan perasaan rindu, keputusan serta kewarasannya.
Melihat Natsume yang tidak menjawab pertanyaannya, Aoi tidak bertanya apapun lagi. Dia diam membisu dan menatap Sang Kegelapan di depannya dengan saksama. Wajah mereka sungguh mirip, jika saja dia terlahir sebagai laki-laki, maka dia dan Natsume pasti akan sangat sulit dibedakan kelak saat dia besar. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, mungkin tidak akan sulit bagi siapa pun untuk membedakan mereka walau wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua kelak. Cukup dengan sifat mereka saja, semua orang pasti langsung dapat membedakan mereka. Natsume begitu dingin, kalem dan juga penyendiri, sedangkan dia selalu ceria, tidak bisa diam serta suka bersosialisasi.
Saat dia pertama kali membuka matanya setengah tahun yang lalu, dia telah diberitahu oleh Kuonji akan siapa dirinya. Dia bisa menerima itu semua dengan baik, sebab semua yang ada disekelilingnya selalu memperlakukannya dengan baik, terutama Kuonji. Tidak peduli betapa sibuknya Kuonji sebagai Raja Kerajaan Theoden, dia pasti tetap akan menyisakan waktu untuknya.
Aoi tidak pernah mengerti kenapa Natsume meninggalkan Kuonji sepuluh tahun yang lalu dan bersembunyi darinya selama itu. Bahkan sampai sekarang juga, mata merah darah Natsume saat menatap Kuonji selalu penuh kebencian dan niat membunuh. Dia tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi di antara mereka berdua, karena itu, dia hanya bisa berharap kesalahpahaman yang ada di antara dua orang yang sangat disayanginya itu bisa segera terselesaikan.
Dia sangat menyayangi Natsume. Saat dia mengetahui keberadaan Natsume dari Kuonji, dia selalu merasa penasaran dengannya. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat Kuonji memerintahnya untuk menjemput Natsume di kota Lixir tiga bulan yang lalu. Dia masih ingat dnegan jelas ekspresi terkejut pada wajah Natsume saat dia memperkenalan dirinya. Namun, yang paling membuatnya kegembiraannya semakin sempurna adalah Natsume menerimanya. Natsume tidak menolaknya meski dia tahu dia adalah kloning dirinya.
Kakak.
Aoi tidak memanggil Natsume 'Kucing Hitam' , tapi Kakak. Dia memang bukan adiknya, tapi, tidak tahu mengapa dia tidak bisa menghentikan mulutnya yang telah terbuka sendiri dan memanggilnya 'Kakak' seminggu setelah mereka bertemu. Memanggilnya Kakak terasa sangat benar dan dia tidak bisa menghentikannya lagi, apalagi Natsume kelihatan tidak keberatan dengan itu.
"Jangan menatapku seperti itu terus, Aoi." Perintah Natsume tiba-tiba sambil membuka matanya menatap gadis di depannya.
Aoi tertawa. "Baiklah, Kakak. Aku tidak akan menatapmu seperti itu lagi."
Melihat tawa Aoi. Natsume hanya bisa berpikir, betapa miripnya keceriaan dan ketidak tahuan Aoi akan sekelilingnya dengan Mikan. Mungkin inilah salah satu penyebab kenapa dia membiarkan Aoi berada di dekatnya dan memanggilnya Kakak. Aoi bisa mengingatkan dirinya pada Mikan.
Gadis kloning dirinya ini sama sekali tidak tahu siapa Kuonji itu sebenarnya serta apa yang telah dia lakukan selama ini. Kuonji ternyata belajar lumayan banyak dari pengalamannya. Melihat gadis kecil di depannya ini, dia tahu, gadis kecil ini tidak lagi mengalami hidup bagaikan binatang tanpa kebebasan sedikitpun sepertinya dulu. Kuonji memperlakukan gadis ini sebaik yang dia bisa, tujuannya tidak lain pasti untuk mendapatkan kepercayaannya, supaya gadis kecil ini tidak akan melarikan diri dari cengkraman tangannya seperti dirinya sepuluh tahun yang lalu.
"Oh, iya! Kakak, aku lupa memberitahumu, Yang Mulia memanggilmu. Sepertinya ada yang ingin beliau katakana padamu." Ujar Aoi tiba-tiba saat teringat permintaan Kuonji tadi.
.OXOXO.
"Aku sudah menunggu kedatanganmu, Kucing Hitam." Sambut Kuonji sambil tersenyum saat melihat Natsume dan Aoi berjalan memasuki ruang tahta istana Kerajaan Theoden. Mereka bisa melihat dengan jelas Persona dan juga seorang pria berusia dua puluhan berambut hitam dan mata hijau serta perban yang menutupi leher dan mata kanannya. Namun, Natsume hanya diam membisu, kedua mata merah darahnya menatap dengan tajam penuh kebencian pada Raja Theoden, dia sama sekali tidak mempedulikan kedua orang lainnya yang juga berada di depannya. Sedangkan Aoi, dia langsung tersenyum lebar saat dia melihat pria di samping Persona.
"Kak Yakumo! Kapan kau pulang?" tanya Aoi gembira sambil berlari mendekati pria berperban itu. Namun, langkah kakinya langsung terhenti saat dia melihat Persona menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi yang langsung membuatnya merasa tidak enak.
"Aku baru saja pulang, Aoi. Tapi, bukan itu yang akan kita bahas di sini sekarang. Ada hal lebih penting yang akan disampaikan Yang Mulia pada kita." Jawab Yakumo kalem sambil menolehkan wajahnya menatap Aoi sejenak.
"M-Maaf.." Ujar Aoi pelan saat dia menyadari kesalahannya.
"Sudah!Sudah! Tidak apa-apa. Dan karena semuanya sudah berkumpul di sini, aku sudah bisa menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan pada kalian semua." Ujar Kuonji tiba-tiba sambil tersenyum.
Semua mata yang ada dalam ruangan itu langsung tertuju pada Kuonji. Dengan pelan Kuonji berjalan menduduki tahtanya. Mata biru tuanya menatap lurus ke arah mereka yang ada di depannya. "Tiga bulan sudah berlalu. Aku sudah cukup memberikan mereka waktu untuk bersiap-siap, karena itu, aku ingin mulai penaklukkan kita lagi."
Natsume, Persona dan juga Yakumo tidak mengatakan sepatah kata pun mendengar ucapan Kuonji, sebab mereka sudah bisa menduga itulah yang akan disampaikannya dengan mengumpulkan mereka di ruang ini. Sedangkan Aoi yang tidak begitu mengerti dengan ucapan Kuonji hanya bisa berdiri menatapnya dan berpura-pura seakan mengerti.
"Persona, Yakumo, kalian berdua pergilah ke Rohirrim dan bantu mereka menaklukkan Orthanc. Sedangkan Kucing Hitam, pergilah kau ke kota Lixir. Taklukkan kota itu dan jemput Luna."
.OXOXO.
Seorang gadis kecil berusia sembilan tahun berlari sambil memeluk bunga di tangannya dengan riang ke arah sebatang pohon sakura yang bermekaran dengan indah di samping sebuah danau. Mata coklat madunya bersinar penuh kegembiraan saat menemukan sosok seorang anak laki-laki berambut hitam seusianya yang berbaring di bawah pohon itu. Meski mata anak laki-laki itu tertutup kain putih hingga tidak terlihat matanya, dia tahu, anak laki-laki itu tidak tertidur.
"Natsume." Panggil gadis kecil itu sambil tertawa. Dia langsung duduk di samping anak laki-laki itu, meletakkan bunga yang dipeluknya dan mengangkat tangannya membuka kain yang menutup mata anak laki-laki itu.
Mata merah darah anak laki-laki itu terbuka. Dia tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya diam membisu menatap gadis kecil berambut coklat di depannya.
"Natsume, Lihat! Aku menemukan banyak sekali bunga di depan gua. Cantik sekali, kan?" tanya gadis itu gembira sambil memeluk kembali bunga yang tadi diletakkannya di atas tanah.
"Jangan menganggu tidurku hanya untuk hal seperti ini, idiot." Jawab Natsume cuek.
"NATSUME! NAMAKU BUKAN IDIOT, TAPI MIKAN!" teriak gadis itu penuh kemarahan.
Natsume tetap cuek dan tersenyum menyeringai menatapnya. Mikan yang tidak tahan lagi melihat senyum menyeringai penuh godaan itu segera mengangkat tangannya untuk memukul dada anak laki-laki di depannya, walaupun akhirnya gagal, sebab Natsume berhasil menangkap tangannya dengan mudah.
"Lepaskan tangaku Natsume!" Perintah Mikan dengan wajah cemberut. Dia ingin sekali melakukan sesuatu untuk menghilangkan senyum penuh godaan di wajah Natsume sekarang.
Natsume tidak menuruti perintah Mikan, dia tetap mengenggam tangan Mikan dengan erat. Namun, tiba-tiba senyum menyeringai di wajahnya itu berubah jadi sebuah senyum lembut begitu juga dengan mata merah darahnya. Mata itu menatapnya dengan begitu lembut.
Kemarahan dalam hati Mikan langsung menghilang begitu dia melihat senyum serta pandangan mata lembut itu. Tanpa diketahui mengapa, tiba-tiba hatinya terasa sangat hangat dan gembira. Wajah cemberutnya di wajahnya pun menghilang dan digantikan dengan sebuah senyum lebar.
"Natsume.." Panggil Mikan pelan sambil menutup matanya.
Saat dia membuka matanya lagi, dia tidak menemukan dirinya berada di bawah pohon sakura samping danau lagi. Kebingungan menyelimutinya, dia tidak tahu di mana dia berada sekarang, sekelilingnya sangat gelap. Usianya juga telah kembali ke seharusnya, dia tidak lagi berusia sembilan tahun, begitu juga dengan Natsume.
"Natsume.." Panggilnya lagi dengan penuh kebingungan sambil mengangkat wajahnya menatap pemuda yang sedang mengenggam langsung menyerang hati Mikan saat mata coklat madunya bertemu dengan mata merah darah itu. Mata itu tidak menatapnya dengan lembut lagi, tatapan mata itu sekarang kelihatan begitu dingin dan penuh kebencian.
Natsume tiba-tiba melepaskan tangan Mikan yang digenggamnya dan membuka mulutnya. "Enyahlah dari hadapanku."
"TIDAK!" teriak Mikan. air mata langsung mengalir menuruni pipinya. Dia mengangkat tangannya untuk memeluk Natsume seerat yang dia bisa. "JANGAN TINGGALKAN AKU! MAAFKAN AKU! JANGAN MEMBENCIKU!"
Tiba-tiba saja Mikan merasakan Natsume mengangkat tangannya dan melepaskan pelukannya dengan pelan. Dengan pelan dan penuh ketakutan, Mikan mengangkat kepalanya menatap pemuda di depannya. Air matanya langsung berhenti dan ketakutannya langsung diganti dengan kebingungan. Tidak ada lagi kebencian dan kedinginan dalam mata itu. Mata itu kini telah kembali menatapnya dengan lembut, sangat lembut namun juga penuh kesedihan.
"Natsume… A-Ada apa?" tanya Mikan pelan sambil mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi Natsume.
Natsume tidak mengatakan apa-apa, dia mengangkat tangan kirinya menyentuh tangan Mikan yang ada di pipinya dengan lembut sambil menutup matanya. Dan saat dia membuka matanya lagi, sebuah senyum kecil terukir di wajahnya yang tampan. Namun, itu bukanlah senyum yang biasa dilihat Mikan dari wajah Natsume. Senyum dan pandangan mata itu adalah sebuah senyum dan pandangan yang menyiratkan kesedihan serta kepedihan yang tidak terucapkan.
"Selamat tinggal, Mikan…" Ujar Natsume pelan sambil melepaskan tangannya yang menyentuh tangan Mikan dan berjalan menjauh.
"Natsume.. NATSUME! TIDAK! NATSUMEEEE!"
"NATSUMEE!" teriak Mikan sambil membuka matanya yang penuh air mata.
"MIKAN! SADARLAH! MIKAN!" teriak Hotaru dan Ruka sambil menahan tubuh Mikan yang bergemetar hebat.
"TIDAK! KEMBALI! KEMBALI NATSUME! JANGAN TINGGALKAN AKU!" teriak Mikan terus.
Hotaru yang melihat keadaan Mikan itu segera mengangkat tangannya dan menampar pipi gadis itu dengan kuat untuk menyadarkannya dari mimpi buruk. "SADARLAH IDIOT!" teriak Hotaru yang tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya lagi.
Merasakan kesakitan di pipinya, Mikan segera tersadar. Air matanya langsung berhenti dan dia mengangkat tangannya menyentuh pipinya yang telah memerah.
"Bangun dan jangan berteriak seperti orang gila terus, idiot!" lanjut Hotaru lagi dengan pelan.
Mikan mengangkat kepalanya menatap sekelilingnya, dia pun sadar, dia berada dalam kamarnya di istana Issengard dengan Hotaru, Ruka dan Nobara yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
"Hotaru.. Natsume mana?" tanya Mikan pelan. Air mata kembali mengalir menuruni pipinya. Dia benar-benar tidak bisa menahan kepedihan, kesakitan dan juga ketakutan yang kerap menyerangnya. Dunia terlihat sangat menakutkan baginya sekarang, dia ingin pulang ke rumahnya.
Rumah.
Dia ingat akan janji Natsume untuk pulang ke rumah mereka di hutan terlarang bersama walau semua itu kini telah pupus. Rumah. Ruka, Hotaru dan yang lainnya memang pernah berkata padanya akan membawanya pulang ke rumahnya yaitu Hutan Terlarang jika perang telah selesai, namun sebuah keraguan tumbuh besar di dalam hatinya, hingga akhirnya diapun sadar, di mana rumahnya yang sebenarnya.
Hutan Terlarang memang seharusnya merupakan rumahnya sejak dulu. Di tempat itulah dia membuka matanya dan tumbuh besar selama ini. Namun, kata rumah yang ditujukan semua orang dan dirinya pada Hutan Terlarang terasa sangat janggal dalam hatinya sekarang. Dan akhirnya diapun menyadarinya…
Bukan Hutan terlarang. Hutan Terlarang sama sekali bukan rumahnya yang sebenarnya. Jika dia kembali ke Hutan Terlarang sekarang, dia pasti akan tetap seperti ini. Kesakitan, kepedihan dan ketakutan tetap akan mengikutinya. Rumah adalah suatu tempat di mana kita bisa merasa tenang dan damai, karena itu Hutan Terlarang jelas-jelas bukanlah rumahnya yang sebenarnya. Rumahnya yang sebenarnya hanyalah satu. Hanya ada satu tempat di mana dia bisa membebaskan dirinya dari semua kesakitan, kepedihan dan ketakutan ini. Hanya di dalam pelukkannyalah satu-satunya tempat dia bisa merasa tenang dan dan damai. Di dalam pelukan Natsume yang selama ini ada di sampingnya.
Natsumelah rumahnya yang sebenarnya.
"Di mana Natsume berada sekarang?" tanya Mikan terus dalam tangisnya.
Hotaru tidak menjawab pertanyaan Mikan. Dengan pelan dia mengangkat tangannya dan memeluk gadis itu dengan erat. Ruka hanya diam menatap Mikan dalam keheningan. Dia tahu, mereka harus melakukan sesuatu, jika mereka membiarkan gadis ini seperti ini terus, tidak lama kemudian, dia pasti akan menjadi gila dan mati.
Nobara tidak bergerak sedikit pun melihat semua yang terjadi. Melihat dan mendengar teriakkan serta tangis Mikan yang tidak berhenti-henti, dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya terjadi. Dia telah mendengar dari Ruka, Hotaru dan Tsubasa apa penyebab Mikan jadi seperti ini.
Natsume meninggalkan Mikan? Dia membenci Mikan dan keberadaannya selama ini disamping gadis itu hanyalah untuk mengawasi serta memanfaatkannya hingga melupakan tugasnya sebagai Sang Cahaya untuk membunuh dirinya, Sang Kegelapan.
Nobara tidak bisa mempercayai itu, meski tidak mengenal baik Natsume, meski dia hanya pernah bertemu dengannya sebentar, dia merasa ada yang salah dengan sikap Natsume itu. Dia masih ingat dengan jelas, bagaimana dia pertama kali melihat Sang Kegelapan. Senyum dan pandangan matanya saat menatap Mikan yang berhasil ditemukannya setelah mencari sekian lama begitu tulus dan lembut. Itu bukanlah pandangan dari seseorang yang berada di samping Mikan untuk mengawasi dan memanfaatkannya. Ada yang salah dengan semua ini, namun dia tidak tahu apa itu.
Semua berubah. Tujuan utamanya melakukan perjalanan panjang dari Rohirrim ke Issengard untuk menemui Mikan bukanlah untuk melihat penderitaan serta kesedihannya. Dia datang menemuinya adalah untuk bertanya padanya, berbicara dengannya, meminta bantuan darinya akan Rei.
Rei.
Satu-satunya pria yang ingin ditemuinya selama ini telah berhasil dia temukan. Namun, dia bukanlah lagi Rei yang ada dalam kenangannya dulu. Dia tidak mengenalnya lagi, tidak ada tawa dan senyum serta sikap hangatnya yang dulu dimilikinya lagi. Dia kini bernama Persona, Jendral besar kerajaan Theoden yang terkenal kejam dan tidak berperasaan. Apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini? Benarkah itu Rei? Ke mana perginya Rei yang sangat disukainya dulu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar dalam kepalanya, menyiksanya. Mana yang benar? Mana yang salah? Namun, sekarang, setelah dia bertemu dengan Mikan, melihat keadaanya, teringat akan Natsume. Dia tahu apa yang harus dia lakukan dalam menghadapi ini semua, demikian juga dengan Mikan.
Sambil menarik napas dan memberanikan dirinya, Nobara berjalan medekati Mikan. "Mikan… Apakah kau mempercayai Natsume?" tanya Nobara pelan.
Pertanyaan Nobara berhasil merebut perhatian Mikan, Hotaru dan juga Ruka. Hotaru melepaskan tangannya yang memeluk Mikan dan menolehkan kepala mereka menatap Putri kerajaan Rohirrim yang berada di depannya , begitu juga dengan Mikan dan Ruka.
"Selama kebersamaan kalian, kau pasti tahu bagaimana dan siapa dia sebenarnya, bukan? Menurutmu, mana dia yang sebenarnya?" tanya Nobara lagi.
"Natsume yang sebenarnya…" Ujar Mikan tiba-tiba dengan pelan. Pertanyaan Nobara yang berturut-turut membuatnya berpikir, mana Natsume yang sebenarnya? Sejak hari di mana Natsume mengatakan dia membencinya, dia tidak bisa berpikir dengan baik lagi. Dia telah melupakan bagaimana Natsume yang dikenalnya karena kesedihan dan ketakutannya kehilangan pemuda bermata merah darah itu.
Mimpi yang tadi dialaminya tiba-tiba terlintas dalam kepalanya. Natsume yang tersenyum menyeringai menggodanya saat kecil, Natsume yang tersenyum lembut padanya saat kecil, Natsume yang menatapnya penuh kebencian dan kemarahan, serta Natsume yang tersenyum dan menatapnya dengan lembut penuh kesedihan…
Mana Natsume yang sesungguhnya? Mimpinya barusan itu, apa maksud mimpinya itu? Mengapa dia bisa memimpikan itu?
Nobara tiba-tiba mengangkat tangannya memeluk Mikan. "Tanya pada dirimu sendiri, Mikan. Mana Natsume yang sesungguhnya? Bisakah kau mempercayainya?" tanya Nobara lagi, air mata mengalir menuruni pipinya. Pertanyaan ini adalah pertanyaan kepada dirinya sendiri, mana Rei yang sesungguhnya? Apakah dia bisa mempercayai Rei?
"A-Aku.. Aku.." Ujar Mikan terbata-bata dan membelas pelukan Nobara. "Aku mempercayainya..."
Ya. Dia akan selalu mempercayai Natsume. Dia tidak mau memikirkan semuanya lagi, apa arti mimpinya barusan, mengapa Natsume bisa menatapnya dengan penuh kebencian, dia tidak peduli lagi. Itu bukan Natsume yang sesungguhnya, Natsume yang sesungguhnya adalah Natsume yang tersenyum menyeringai penuh godaan seperti saat mereka kecil dulu, Natsume yang sesungguhnya adalah Natsume yang selalu menatap dan tersenyum dengan lembut terhadapnya.
"Aku mempercayai Natsume." Ulang Mikan pelan sambil menangis teriak-isak dan membenamkan kepalanya dalam rambut Nobara .
"Ya, aku juga. Aku juga akan mempercayai Rei…" Balas Nobara.
.OXOXO.
"Kenapa kau terus tersenyum Luna?" tanya Kaname sambil menatap Luna yang ada di sampingnya dalam taman kediaman walikota Lixir.
Luna membalikkan wajahnya menatap Kaname dengan senyumnya yang semakin melebar. "Aku hanya merasa tidak lama lagi hal baik akan terjadi."
Kaname tersenyum mendengar jawaban Luna. "Ya, kuharap seperti itu."
Luna tertawa dan mengangkat kepalanya menatap langit biru di atasnya. "Pasti. Tidak lama lagi."
Kaname tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menatap Luna yang tersenyum melihat langit. Cantik. Itulah satu-satunya kata yang terlintas dalam hatinya melihat gadis di sampingnya sekarang. Dia ingin melihat dan melindungi senyum itu selalu, dan dia tahu dengan jelas sekali dalam hatinya kenapa dia bisa berpikir seperti itu.
Dia telah jatuh hati pada gadis bermata violet ini.
.OXOXO.
Malam sudah tiba. Langit biru telah berubah menjadi gelap tanpa bulan dan bintang. Namun, cahaya obor di jalan serta cahaya dari jendela rumah-rumah yang ada membuat Kota Lixir tidak diliputi kegelapan malam. Cahaya obor dan lilin rumah penduduk berhasil mengusir kegelapan yang ada.
Natsume berdiri di depan pintu gerbang Kota Lixir. Mata merah darahnya menatap lurus pintu gerbang besar yang tertutup rapat itu. Dia bisa merasakan dengan jelas aura-aura manusia yang ada di dalam gerbang itu.
"Taklukkan kota Lixir, Kucing Hitam. Taklukkan kota itu sendirian, sebab aku ingin semua yang ada di dunia ini tahu, bahwa kau sekarang adalah bawahanku, bukan lagi sekutu mereka."
Perintah Kuonji terlintas dalam pikirannya. Kuonji memerintahkannya menaklukkan Kota yang pernah dilindunginya dan Mikan sendirian. Tidak ada seorang pun yang akan membantunya melakukan misinya ini, sebab Kuonji yakin, dengan kekuatannya yang sebebenarnya, Sang Kegelapan pasti dapat menaklukkan dan menghancurkan Kota Lixir dengan mudah.
"HEI! Kau yang berada di depan pintu, jangan bergerak!" perintah seseorang tiba-tiba dari belakang Natsume.
Tanpa melihat ke belakangpun Natsume tahu siapa itu. Itu adalah penjaga pintu gerbang ini. Dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, Natsume pun memutar badannya hingga bertatap muka dengan prajurit itu. Mata prajurit itu langsung terbelalak karena terkejut saat melihat siapa yang ada di depannya.
"N-Natsume-sama…" Panggil prajurit itu terkejut.
Natsume hanya diam membisu. Ternyata berita mengenai Kerajaan Issengard yang terus menggunakan namanya untuk mempertahankan semangat prajurit serta menakuti musuhnya memang benar. Sampai sekarang, selain petinggi kerajaan, sepertinya tidak ada yang tahu jika dia telah meninggalkan kota ini sejak tiga bulan yang lalu. Namun, mulai malam ini semuanya akan berakhir, kebohongan itu sudah tidak dapat mereka pertahankan lagi.
"Natsume-sama, a-ada apa dengan anda? K-Kenapa anda ada di sini?" tanya prajurit itu dengan terbata-bata karena gugup sekaligus takut, sebab dia tahu dengan jelas siapa yang ada di hadapannya sekarang.
Natsume tetap tidak menjawab pertanyaan prajurit itu. Dia kembali memutar badannya menghadap pintu gerbang Kota Lixir. Dengan pelan dia mengangkat tangannya, sebuah lingkaran sihir merah besar terbentuk di depan tangannya dan berputar. Sebuah bola api yang luar biasa besar berwarna merah kebiruan pun muncul di depan tangannya itu dengan tiba-tiba.
"NATSUME-SAMA ! APA YANG ANDA LAKUKAN?" teriak prajurit dibelakang Natsume penuh kepanikan.
Tanpa mempedulikan apa pun, Natsume melemparkan bola api biru kemerahan besar itu ke arah pintu gerbang di depannya. Suara ledakan saat bola api itu mengenai pintu gerbang terdengar dengan jelas. Pintu gerbang besar itu sama sekali tidak bisa menahan sihir yang dilemparkan Natsume, pintu itu langsung terbanting dan terbuka dengan sebuah lubang yang sangat besar di tengahnya.
Tetap di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun, dengan pelan dia menutup kedua kelopak matanya. Dia bisa merasakan prajurit di belakangnya telah mengarahkan ujung tombak yang ada di tangannya pada dirinya, begitu juga dengan para prajurit yang telah berlari keluar dari dalam pintu gerbang kota Lixir yang telah terbuka. Ketakutan, kewaspadaan terlihat dengan jelas di setiap pasang prajurit yang menatapnya.
"Natsume.."
Wajah Mikan yang sedang tersenyum manis terlintas dalam benaknya. Dia hanya bisa tersenyum kecil mengingat senyum itu. Dia sudah tidak bisa merubah haluan lagi, dia sudah tidak bisa mengubah jalan yang telah dipilihnya lagi, keputusannya, semuanya telah dimulai.
Saat dia membuka mata merah darahnya lagi, diapun meloncat ke depan untuk menyerang para prajurit di depannya dengan tangannya yang telah berubah bentuk menjadi cakar binatang buas.
Dia sudah tidak punya jalan untuk kembali lagi.
.OXOXO.
"Berapa jumlah musuh yang menyerang kita?" tanya Kaname dengan wajah serius sambil berlari menyusuri jalan di Kota Lixir pada Narumi yang ada di sampingnya serta sejumlah besar prajurit Kota Lixir di belakang mereka. Langit kota ini kini telah berubah menjadi merah membara, dia bisa mendengar dengan jelas suara teriakan serta ledakan yang terdengar di dekat pintu gerbang kota.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang aku dengar— satu." Jawab Narumi penuh keraguan.
"Satu?" tanya Kaname penuh kebingungan tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya.
"Kurasa lebih baik kita memastikannya dengan mata kita sendiri saja." Jawab Narumi sambil menatap Kaname.
Kaname mengangguk kepalanya. Narumi benar, lebih baik mereka memastikannya deNgan mata mereka berapa jumlah musuh mereka. Tidak ada gunanya mereka kebingungan dan menebaknya sendiri sekarang.
Saat mereka tiba di depan pintu gerbang, mereka benar-benar tidak bisa menyembunyikakn perasan ngeri dan juga takut yang ada dalam hati mereka. Api yang menyala membakar pintu gerbang dan rumah para penduduk kota. lalu, genangan darah serta tangan, kaki, kepala dan juga organ dalam para prajurit yang tercabut dari badan mereka tergeletak di mana-mana. Bau anyir darah yang sangat pekat dan menusuk hidung tercium dengan begitu jelas bagi mereka.
"A-Apa yang terjadi di sini?" ujar Narumi terbata-bata, tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Dia sama sekali tidak melihat seorang pun musuh mereka di tempat ini. Kota ini baru diserang lima menit yang lalu, namun pemadangan di depan mereka jelas bukanlah pemandangan yang dapat dicitakan dalam jangka waktu sesingkat itu, tidak peduli berapa banyak musuh mereka.
Kaname berdiri mematung dengan wajah pucat. Pemandangan ini tidak asing baginya, dia pernah melihat pemandangan ini, dan bukan hanya dia, beberapa prajurit di sini juga pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Pemandangan neraka. Hanya ada satu orang yang dia ketahui pasti sanggup melakukan ini dalam waktu sesingkat ini.
"J-Jendral.." Panggil seseorang dengan pelan tiba-tiba.
Kaname dan juga Narumi segera menolehkan kepalanya menatap sumber suara itu. Mereka melihat seorang prajurit yang berbaring lemah dalam genangan darah dengan tangan terputus menatap ke arah mereka dengan mata yang sudah mulai tidak fokus.
Mereka segera berlari mendekati prajurit itu. Narumi segera berjongkok di sampingnya dan berusaha menghentikan pendarahannya walau tidak berhasil. Luka prajurit ini sudah tidak bisa di sembuhkan lagi, begitu juga dengan nyawanya, mereka tidak bisa menyelamatkannya lagi.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Narumi pelan.
"J-Jendral.. L-Lapangan.. Lapangan.." Ujar prajurit itu pelan dengan tertatih-tahih sambil menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.
"Lapangan?" Ujar Kaname dan Narumi bingung. Namun, mata mereka langsung terbelalak saat mereka menyadari maksud ucapan terakhir prajurit itu.
Lapangan. Meriam sihir. Sepuluh batang meriam sihir yang berhasil mereka dapatkan dari Theoden berada di lapangan kota Lixir sekarang. Tujuan musuh mereka pasti merebut kembali meriam sihir itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Kaname, Narumi dan prajurit yang ada segera berlari menuju lapangan Kota Lixir. Yang pertama kali mereka lihat saat tiba di lapangan adalah pemandnagan yang sama dengan pemandangan di pintu gerbang. Genangan darah merah serta mayat-mayat prajurit yang hancur berantakan. Namun, ada perbedaannya, mereka bisa melihat dengan jelas penyerang mereka sekarang.
Penyerang mereka berdiri membelakangi mereka. Berdiri menatap lurus ke arah sepuluh batang meriam sihir yang ada di depannya. Dia berpakaian serba hitam dengan darah yang telah membasahi seluruh badan serta rambut hitamnya. Tangannya yang besar dan berbentuk cakar binatang buas terus meneteskan darah para prajurit yang dibantainya ke atas tanah.
Penyerang mereka menolehkan kepalanya dengan pelan ke arah mereka. Tidak ada seorangpun yang bisa bergerak saat melihat sepasang mata berwarna merah darah di wajah tanpa ekspresi yang sama sekali tidak asing bagi mereka.
"N-Natsume…" Panggil Kaname pelan dengan terbata-bata.
Natsume tidak mempedulikan panggilan Kaname. Dia kembali membalikkan kepalanya ke depan dan mengangkat kedua tangannya yang penuh darah itu. Sebuah lingkaran sihir besar berwarna hitam tiba-tiba muncul di depannya dan berputar dengan cepat, saking besarnya hingga mengejutkan semua yang ada di sana. Dari dalam lingkaran sihir itu tiba-tiba melesat berpuluh-puluh cahaya hitam pekat yang melaju dengan kecepatan luar biasa cepat ke arah meriam sihir di depannya.
Ledakan besar terjadi saat cahaya hitam itu menyentuh meriam sihir. Badan dari semua meriam sihir itu langsung hancur berantakan dan terlontar ke mana-mana. Namun, Natsume tetap saja berdiri tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya berada.
"NATSUME! APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Narumi yang tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejut bercampur marahnya lagi.
Tetap diam membisu, Natsume pun akhirnya membalikan badannya menghadap semua yang ada di belakangnya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun semua yang ada di depannya bisa merasakan aura berbahaya dari dirinya dengan jelas. Mereka semua mengangkat senjata yang ada di tangan mereka ke arahnya dengan penuh kewaspadaan.
"A-Apa yang kau lakukan Natsume?" tanya Kaname tegas dengan wajah serius. Dia bisa merasakan keanehan dari Natsume sekarang, pemuda di depannya sama sekali bukan pemuda yang dulu dilihatnya menatap, menemani dan menjaga Mikan dengan pandangan mata yang lembut lagi.
"Menaklukkan kota ini.." Jawab Natsume singkat dan bergerak maju dengan kecepatannya yang luar biasa untuk menyerang Kaname, Narumi serta para prajurit yang ada di depannya.
Kaname, Narumi dan para prajurit tidak tinggal diam. Para penyihir segera membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra sihir, para pemanah segera melepaskan anak panah yang sedari tadi telah siap dilepaskan ke arah Sang Kegelapan. Mereka semua tahu betapa berbahayanya pemuda yang ada di depan mereka sekarang, makhluk apa sebenarnya pemuda itu.
Natsume dengan mudah meloncat menghindari anak panah dan juga sihir yang dilancarkan ke arahnya. Tanpa membuang waktu dan kesempatan yang ada, dia segera meloncat tinggi ke tengah-tengah kerumunan prajurit. Dia tahu, para penyihir dan juga pemanah pasti tidak akan berani sembarangan memanahnya sekarang karena takut salah mengenai sasaran mereka.
Para prajurit berpedang, tombak ataupun kapak segera bergerak maju untuk menyerang Natsume. Tidak ada kegetiran atau pun ketakutan dirasakannya, dengan cepat juga, dia mengangkat tangannya untuk menyerang mereka sambil menghindar serangan mereka. Kukunya yang panjang serta tangannya yang besar tidak memberikan sedikit pun pengampunan pada lawannya. Dia mencakar, merobek, mencabut dan menghancurkan semua yang bersentuhan dengannya, tidak peduli itu adalah senjata para penyerangnya atau badan para penyerangnya.
Api yang berkobar di mana-mana, darah merah, tubuh-tubuh manusia yang hancur berantakan, bau anyir darah serta teriakan kesakitan dan bau anyir darah yang menyegat hidung— Natsume bagaikan melihat masa lalunya lagi. Namun, dia tahu, ini bukanlah mimpi akan masa lalunya, ini adalah kenyataan. Darah yang ada ditangan serta badannya terasa sangat hangat, dia sudah kembali membantai manusia seperti yang selalu dia lakukan dulu.
"Natsume…"
Wajah Mikan terlintas lagi di dalam benaknya. Wajah, senyum serta suara yang selalu diingat dan tidak bisa dilupakannya. Satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Satu-satunya yang ingin dia lindungi dalam keberadaannya. Karena itu, dia tidak akan pernah ragu untuk menggerakkan tangannya kini untuk menyerang, meneghancurkan mau pun membunuh lagi.
Sebuah anak panah tiba-tiba melesat ke arah Natsume dengan cepat. Anak panah itu mengarah ke mata Natsume dengan tepat meski dia kini berada dalam kerumunan prajurit –prajurit yang berusaha menyerangnya.
Natsume dengan tangkas meloncat menghindar panah itu, namun sedetik kemudian dua batang anak panah telah kembali melesat menyerangnya, mengincar pundak kanan dan kaki kirinya. Natsume berhasil menghindari kedua anak panah itu, dia segera meloncat menjauhi kerumunan prajurit dan mendarat pada salah satu atap rumah penduduk. Mata merah darahnya mengarah pada pemanah yang melepaskan anak panah dengan tepat dan akurat itu.
Kaname berdiri di sana, di tempat yang cukup jauh darinya dengan sebatang busur besar berwarna perak dan tiga anak panah yang sudah siap untuk dilepaskan. Mata violetnya menatap lurus ke arah Natsume, ada kemarahan tidak terucapkan yang terpancar dari dalamnya.
"PARA PENYIHIR DAN PEMANAH SERANG DIA SEKARANG! SISANYA MUNDUR!" teriak Kaname sambil melepaskan tiga anah panah yang ada pada busurnya menyerang Natsume.
Semua prajurit yang ada segera menuruti perintah Jendral mereka. Para penyihir dan pemanah melancarkan serangannya ke arah Natsume. Kaname yang melihat kemampuan Natsume tahu, pertarungan jarak dekat tidak akan menguntungkan pihak mereka. Jumlah mereka yang banyak tetap tidak dapat menjamin kemenangan mereka, sebab kekuatan dan kemampuan Sang Kegelapan benar-benar merupakan kekuatan yang tidak dapat diterima akal sehat manusia. Pertarungan jarak jauhlah satu-satunya cara yang mungkin bisa menyelamatkan mereka walau dia tahu persentase kemenangan tetap masih kecil, sebab sihir yang ditunjukkan Natsume barusan saat menghancurkan meriam sihir jelas bukan sihir sembarangan.
Natsume tidak bergerak, dia hanya diam di tempatnya melihat semua yang ada menyerangnya. Ketakutan, kebencian, kemarahan terlihat dari wajah para penyerangnya dengan jelas. Mati. Itulah yang semua penyerangnya inginkan sekarang, kematiannya.
"Natsume…"
Wajah tersenyum itu kembali terlintas lagi dalam benaknya, wajah tersenyum Mikan. Sambil menutup matanya Natsume pun meloncat ke bawah, bergerak menyerang para penyhir dan pemanah sambil menghindar serangan yang tertuju padanya.
"PRAJURIT BERPEDANG DAN TOMBAK! SERANG!" teriak Kaname sambil melepaskan anak panahnya.
Prajurit berpedang dan tombak segera bergerak menyerang. Narumi yang menjadi pemimpin bergerak maju sambil mengangkat pedang di tangannya untuk menyerang Natsume tanpa keraguan sedikit pun.
Natsume berhasil menghindari serangan yang dilancarkan Narumi, tapi Walikota Lixir itu tetap tidak menyerah, dia tetap melancarkan serangannya untuk menyerang. Natsume terus menghindar sambil mengamati pria yang menyerangnya sekarang. Ternyata apa yang dipikirkannya dulu memang benar, meski pria ini kelihatan sangat lemah lembut seperti wanita, dia adalah seorang petarung yang sangat hebat dan kuat.
Para prajurit yang bergerak menyerang Natsume bersama Narumi menjadi terhenti. Mereka tidak bisa ikut campur dalam pertarungan yang sedang berlangsung, sebab tidak ada celah sedikit pun bagi mereka untuk masuk ke dalam pertarungan untuk menolong Narumi. Mereka semua akhirnya hanya bisa berdiri dengan penuh kewaspadaan membentuk sebuah lingkaran besar mengelilingi mereka berdua.
Sebuah anak panah tiba-tiba melesat dengan cepat ke arah Natsume saat dia menghindari serangan Narumi. Anak panah itu mengincar kepalanya. Bagi seorang manusia, anak panah itu pasti hanya memberikan dua pilihan, yaitu, menghindar anak panah dan menerima serangan pedang Narumi atau menghindar serangan Narumi dan menerima anak panah, kedua pilihan yang mengakibatkan kematian. Namun, Natsume bukanlah seorang manusia, sambil menghindar serangan Narumi, dia mengangkat tangannya dan menangkap anah panah yang melesat ke arahnya.
Natsume tahu siapa yang menembakkan anak panah itu. Tidak ada orang lain lagi yang dapat menembak panah dengan setepat dan akurat ini kecuali Kaname. Dia adalah seorang pemanah yang sangat luar biasa. Natsume mengakui, alasan Kerajaan Issengard mempercayakan kota ini padanya meski sesungguhnya berasal dari Kerajaan Arathorn ternyata memang tidak salah. Meski terlihat biasa-biasa saja, Kaname adalah seorang Jendral yang sangat hebat. Dia kuat dan bisa mengambil keputusan dengan tenang dalam menghadapi sesuatu.
Narumi mulai merasakan keraguan dalam hatinya. Dia tidak tahu lagi berapa lama dia dapat mempertahankan keadaan mereka sekarang. Dia telah menyerang terus menerus, begitu juga dengan Kaname yang membantunya dari belakang. Kondisi mereka memang kelihatan lebih menguntungkan. Tapi, itu hanya disebabkan Natsume belum menyerang. Natsume terus menerus menghindari serangannya dan Kaname, dia sama sekali tidak mengangkat tangannya untuk membalas serangan mereka. Apa yang akan terjadi jika Natsume memutuskan untuk berhenti menghindar dan menyerang? Tidak! Dia tidak boleh memberikan Natsume kesempatan.
"SEMUA PRAJURIT MENJAUH DARI KAMI!" teriak Narumi tiba-tiba sambil menarik mundur pedangnya dan meloncat ke belakang.
Semua prajurit yang mengelilingi Natsume dan Narumi segera mundur ke belakang begitu mendengar perintah yang tiba-tiba itu. Tanpa membuang waktu Narumi langsung mengangkat tangannya untuk membuat sebuah lingkaran sihir berwarna coklat besar dan membaca mantara sihir. Kaname yang melihat lingkaran sihir itu segera tersadar dengan apa yang direncanankan Narumi.
"PARA PENYIHIR! BACA MANTRA DAN BUAT LINGKARAN SIHIR KALIAN!" teriak Kaname keras sambil mengangkat tangannya membuat sebuah lingkaran besar berwarna merah keungguan.
Tanah tempat Natsume berdiri tiba-tiba bergerak. Natsume tahu apa yang direncanakan Narumi, dia segera meloncat ke atas menuju atap penduduk kota. Namun tiba-tiba tanah dibawahnya berubah menyerupai sebuah tangan besar dan menangkap kakinya, menghentikan loncatannya.
"SERANG!" teriak Kaname sambil melancarkan sihirnya, begitu juga dengan para penyihir yang ada.
Natsume tahu dia tidak akan dapat menghindar sihir-sihir yang melancar ke arahnya sekarang meski dia dapat melepaskan sihir tanah Narumi yang menangkap kakinya, sudah terlambat. Karena itu, dia pun mengangkat kedua tangannya membuat sebuah dinding sihir gabungan dari sihir sihir yang dikuasainya untuk melindunginya.
Ledakan keras terdengar saat sihir yang dilancarkan bertabrakkan dengan dinding sihir yang dibuat Natsume. Percikan api, tanah yang terlontarkan ke atas serta asap hitam mengepul pun memenuhi tempat di mana sang Kegelapan berada tadi.
Keheningan tercipta. Tidak ada seoarang pun yang berani bergerak atau mengeluarkan suara. Kaname dan Narumi berdiri tegak menatap tempat Natsume tadi berada yang terus mengeluarkan asap hitam pekat dengan penuh kewaspadaan. Mereka tahu, serangan mereka tadi pasti berhasil mengenainya, tapi, masalahnya adalah, apakah serangan tadi sanggup membunuh Sang Kegelapan?
Tiba-tiba saja dari dalam asap hitam yang mengepul itu, Natsume berlari keluar dengan kecepatan yang sangat luar biasa sambil mengangkat tangannya yang seperti cakar binatang buas. Bajunya telah terkoyak di sana sini, darah merahnya mengalir menuruni dahi dan juga badannya. Serangan tadi berhasil melukainya. Namun, wujudnya juga telah berubah. Rambut hitamnya telah berubah menjadi rambut perak panjang, seluruh badan serta wajahnya telah dipenuhi tato hitam. Dia telah berubah menjadi sosok yang dikenal para prajurit ini sebagai makhluk yang membantai seratus ribu prajurit Theoden di depan kota ini beberapa bulan yang lalu.
Semua orang yang melihat kemunculannya sangat terkejut. Namun, yang paling membuat semua yang di sana semakin terkejut dan menatapnya penuh horror adalah tangannya itu berhasil menembus dada Narumi yang tidak bisa menghindar serangannya yang tiba-tiba.
"NARUMI!" teriak Kaname yang tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya lagi.
Narumi sama sekali tidak bisa mempercayai apa yang terjadi, kedua matanya terbelalak karena terkejut menatap wajah Natsume yang tanpa ekspresi di depannya. Dengan pelan dia mengangkat kedua lengannya menyentuh tangan Natsume yang berhasil melubangi dadanya. Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Natsume lagi karena pandangannya yang sudah mulai menggelap. "K-Kenapa Natsume…" Ujarnya lirih sambil menutup matanya, menghembuskan napas terakhirnya.
Natsume tidak bergerak sedikitpun. Kedua mata merahnya menatap lurus ke kedepan. Dia bisa merasakan kepala Narumi ambruk dan kini tersandar di dadanya, begitu juga dengan tangan yang meenyentuh lengannya, kedua lengan itu kini telah jatuh ke bawah tanpa tenaga sedikitpun.
"NATSUMEEEEE!" teriak Kaname penuh kemarahan sambil mengangkat busurnya dan membidikkan panah ke arahnya. Kemarahan dan kebencian memenuhi hatinya. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Narumi telah gugur di depan matanya sendiri dan dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya.
Natsume segera mencabut tangannya yang melubangi dada Narumi dan meloncat menghindar anak panah itu. Dia mengangkat kepalanya menatap Kaname dengan wajahnya yang tetap tanpa ekspresi.
"KENAPA! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA! KENAPA!" teriak Kaname terus. Air mata mengalir menuruni mata violetnya. Kesedihan, kemarahan, kebingungan dan juga kebencian terpancar dengan jelas dari wajahnya. Dia terus melepaskan anak panahnya kepada Natsume, dan Natsume sendiri pun tidak bergerak menghindar anak panah tersebut lagi. Dia membiarkan anak panah itu menusuk lengan serta kakinya.
Natsume tertegun mendengar pertanyaan Kaname,'Kenapa kau membunuhnya?' Pertanyaan Kaname itu mengingatkannya pada sebuah pertanyaan yang dulu pernah didengarnya. Pertanyaan yang dulu dilontarkan seoarang anak kecil dari Desa Arthor yang telah dihancurkannya, 'Kenapa kau membunuhku?'Kedua pertanyaan ini sebenarnya memiliki arti yang sama, yaitu; Kenapa kau membunuh?
Dengan pelan, Natsume menurunkan matanya untuk menatap tangannya. Penuh dengan luka, penuh dengan darah, kotor dan penuh noda. itulah dirinya, inilah dirinya yang sebenarnya.
Sakit.
Dia bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa menyerang hatinya. Sangat sakit hingga dia merasa bagaikan tidak bisa bernapas. Dengan cepat dia segera menutup matanya untuk menahan rasa sakit itu.
"Natsume…"
Senyum dan tawa Mikan kembali terbayang di dalam benaknya untuk kesekian kalinya. Senyum itu membuatnya bisa kembali bernapas serta rasa sakit yang menyerang hatinya menghilang. Dengan pelan dia membuka matanya, mata merahnya bersinar penuh tekad tanpa keraguan. Tanpa mempedulikan apapun lagi, Natsume segera mengangkat tangannya dan berlari untuk menyerang dan membunuh semua yang ada di depannya.
Kenapa kau membunuh? Jawabannya hanya satu, yaitu; untuk melindungi Mikan.
.OXOXO.
Di atas atap salah satu rumah penduduk. Luna menatap pembantaian yang terjadi di bawa sambil tersenyum penuh kegembiraan. Langit malam yang merah membara serta kobaran api di sekelilingnya membuatnya merasa sangat bersemangat. Dengan gembira dia mengangkat tangannya ke atas, mengerakkan bandanna untuk menari sambil bernyanyi.
Terbakar… Terbakar.. Kota Lixir yang hebat terbakar…
Senyum di wajahnya semakin lebar. Kota Lixir telah hancur, Kota Lixir telah takluk.
Semuanya hancur dan mati…
.OXOXO.
Halo semuanya! maaf untuk update yang sangat-sangat lama ini m_(-_-)_m Sungguh-sungguh maaf, sebab aku memang sibuk sekali akhir2 ini, tapi, itu karena perkerjaanku ya, bukan karena aku mau Hiatus atau apa ( hahahaha )
Aku tahu, semua pasti merasa, kenapa tata bahasa fic ini kembali jadi seperti ini? Jawabannya adalah karena chapter ini belum sempat dibeta reader oleh Giselle -_-" Soal aku sudah terlanjur janji untuk update dalam beberapa hari ini pada beberapa pembaca, karena itu maaf ya.. -_-" , tapi aku akan berusaha untuk di beta reader lagi olehnya kok sebab dia adalah beta reader yang luar biasa!
Well, aku tahu, pasti banyak yang berteriak-teriak sekarang, Kenapa Narumi Mati! Well, apa boleh buat, menang itu nasibnya dalam fic ini ( hahahahaha ), dan untuk kedepannya , akan ada beberapa orang lagi yang akan mati, karena itu maafkan aku ya.. Jangan membenciku serta fic ini -_-"
Aduh! Padahal ada banyak sekali yang ingin aku sampaikan pada pembaca, tapi, aku malah lupa lagi -_-" penyakit pikun yang tidak bisa sembuh2 ini -_-" Karena itu, sampai jumpa di chapter berikutnya ya! See ya!^^
Oh iya, hampir lupa aku :
MULAI CHAPTER KE DEPAN, RATING FIC INI AKAN AKU NAIKKAN DARI T KE M, SEBAB AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA MEMPERTAHANKANNYA DI RATING T LAGI!
TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA!^^
Kierra : Iya, Natsume itu memang kompleks dan saking kompleksnya aku merasa aku sendiri terlalu berlebihan saat menciptakannya dalam kepalaku. Apalagi dalam chapter ini, dia itu ntah bodoh atau terlalu bersedia berkorban untuk Mikan , aku tidak tahu lagi ( Author tak bertanggung jawab ya? Hahahaha ), tapi apa boleh buat deh, nasibnya di fic ini memang seperti ini ^^, hahahaha tidak perlu khawatir sebab reviewmu di chapter sebelumnya merupakan review terfavoritku selama ini ^^ mengenai salam untuk Giselle, akan aku sampaikan ^^
Jimi-Li : Thx untuk pujiannya ^^ terkaanmu mengenai Aoi tidak salah kok, sudah terjawab siapa dia sebenarnya di chapter ini ^^ mengenai brp chapter lagi utk the end, jika tidak meleset sesuai dengan rencanaku, mungkin sekitar 10 atau 11 lagi deh ( perjalananku masih panjang -_-" ) hehehehe penderitaan NxM yang sesunguhnya telah dimulai ^^ ( Author kejam tak berperasaan, hahahaha ) See ya, maaf aku tidak sempat membalas PM-mu T_T, sebab jika keasyikan balas PM, aku bisa lupa mengetik fic-ku -_-"
Icha Yukina Clyne : Maaf untuk update yang lama. NxM bersatunya lagi masih lama kok -_-", dan aku sendiri juga pengen banget mereka cepat bersatu dan mengakhiri fic super panjangku ini T_T Siapa Aoi, sudah terjawab ^^ semoga kau menyukai chapter ini ( walau aku merasa kau tidak akan suka sih Ahahahahaha -_-" )
Aoi / Classico Blu : Benar! Dia adalah editor yang handal! ^^ Benarkah syukur deh kalau begitu, dan untuk ke depannya, aku berharap semoga aku tetap dapat seperti itu, dan membuat fic ini jadi seindah mungkin walau dalam balutan… Ya balutan adegan kematian dan penuh darah ( ahahahaa -_-" )
Crimson Brunette : Maaf karena aku updatenya lama sekali ( lebih dari 1 bulan ya? -_-" ) Tenang saja, fic ini pasti akan berakhir dengan NxM tetap bersama ^^, kasihankan kalau mereka tidak bisa bersama T_T. Aku tidak akan mengatakan aku akan update secepat mungkin lagi deh, soal kayaknya aku selalu saja gagal update cepat saat aku mengatakannya -_-", jadi yang bisa aku katakan mungkin hanyalah, Semangat!
Ether Star : nah, kayaknya chapter ini tidak jadi sepanjang yang aku predeksi deh -_-" ku hitung hanya sktr 11ribu saja. Sikap Natsume itu memang over protektif kok terhadap Mikan ( aku paling suka dengan sikapnya ini, soal manis sekali ^^ ) hehehehe endingnya mereka tetap bersama kok ^^ , chapter ini kayaknya kelam ya?
Elven Lady18 : Terima kasih karena bersedia membaca fic-ku ini ^^ aku harus berterima kasih pada Li, ni ^^, semoga kau suka dengan fic-ku yang super panjang dan aneh ini ^^
Xxruuxx : Ya! Terima kasih atas sarannya, karena itu aku akan menaikkan ratingnya mulai chapter ke depan ^^, THX baget ya ^^! Iya. Mereka berpisah T_T, takdir yang membelenggu mereka kejam ya? T_T ( author sesat hahahaha ), terakhir, aku akan berusaha untuk tetap semangat mengtik lanjutan fic ini ! Semangat!
Thiex/ ZamBetJalKecTuDuKanBer : Em… non, ganti namanya kok dari sependek itu jadi sepanjang itu? hahahaha. Strawberry? Hehehehe akan ada sedikit cuplikat mengenai strawberry kok di chap ke depannya ^^ ( tapi tidak semua strawberry asem kok, ada yang manis, tapi harganya… ugh, mahal banget, masa sebutil aja sampai sekitar 10rb -_-" ) hehehehe bagaimana chapter ini? mengejutkan? Sudah mulai sedih ya fic ini? Ya, Aoi sudah muncul! Siapa dia terjawab di chapter ini^^ ya, aku akan berusaha ! Semangat!
SmileUpSunny : Akhirnya aku update! Maaf karena lama, memang karena perkerjaanku menumpuk sih -_-" edit data ini, edit data itu, kerjain ini, kerjain itu, jadinya… well. tapi aku akan berusaha terus untuk menamatkan fic ini secepatnya^^
Rarasati Adinda Putri Ningtias : maaf karena update kali ini lama -_-", sungguh2 maaf dan terima kasih sudah bersedia menreviewnya ^^ , iya, senang berkenalan denganmu, buat saja accountnya^^ dijamin gak nyesal kok, soal semuan yang ada di sini baik-baik dan ramah2^^
Austine Sophie : lama tidak jumpa ^^, iya sudah jauh dan tenang saja, NxM pasti bersama kok pada akhirnya , semoga chap ini tidak mengecewakanmu ^^ ya, aku akan berusaha!^^
Kin No Tsubasa : hahahahah otakku tidak macet la, hanya perkerjaan menumpuk yang bikin aku gak bisa update2 -_-". Jadi orang yang kesepian memang tidak enak kok apalagi kalu jadi Natsume ( ugh.. sampai matipun aku gak mau -_-" ), tapi dalam kehidupan sehari-hari, kadang2 kita juga memerlukan waktu untuk sendiri kok, sesuai katamu, untuk membuat fic ^^ ( hahahahaha ) Siapa aoi itu,tebakanmu benar kok, hanya saja mengenai perannya di fic ini, kuharap bisa menjadi penghibur deh, kalau tidak bisa aku tidak tahu bagaimana jadinya fic ini nanti -_-" , pelan2 saja, kau pasti bisa kok, jangan terlalu sering menganggap diri sendiri newbie, itu bisa membuatmu patah semangat saja nanti! Percaya dong pada diri sendiri ^^ dan jangan melihatku seperti itu, sebab aku juga masih perlu banyak belajar -_-" Untuk ide pnderitaan Natsume buat fic-mu, silakan saja, aku tidak keberatan kok^^. Ehm… kayaknya kau salah liat deh, soalnya chapter sebelumnya 33 kok, bukan 34. Ya, aku akan berusaha keras, Semangat! Untukku dan untukmu!
Ps. Kayaknya caraku membals Review makin lama makin kayak lagi membalas PM deh -_-", semoga kalian tidak merasa aneh ya.. maklum aku ini kadang suka ngomong sesuatu yang mengelantung dan tidak pada intinya -_-"
Razux.
