Chapter 36

An..guys, jangan lupa baca side story cerita ini ya, one hour with Harry Potter. Di jamin ga nyesel hahaha

Btw, enjoy

-dhdhdhdh-

Harry mengerang, bangun karena pinggangnya sakit. Memang saat pertama menyakitkan ya, tapi jelas tak semenyakitkan deskripsi yang Parvati berikan padanya yang hiperbola. Harry merasakan tangan Draco memeluknya erat, seolah takut dia Akan kabur saja. Gerakannya membuat Draco terbangun juga.

"Hei," bisik Harry, saat melihat mata kelabu itu terbuka perlahan.

Draco tersenyum malas. "Hei you..."

Mereka hanya bertatapan sambil tersenyum. Tangan Draco mengusap pipinya sayang.

"Sakit?" Tanya cowok itu.

Harry meringis. "Sedikit."

Draco mengangguk. "Nanti akan hilang sendiri kok. Kali kedua Akan lebih baik."

Harry tertawa. "Bagaimana kau bisa tahu? Kau kan juga sama perawannya denganku."

Draco nyengir. "Kekuatan telinga."

Harry Makin terbahak. "Kau menguping pembicaraan cewek-cewek?!"

Cowok itu mengangkat bahu. "Mereka berbisik keras sekali di dekatku. Wajar dong kalau aku penasaran."

"Apa yang kau dengar? Parkinson di gilir oleh Tim Quidditch Ravenclaw?" Dengus Harry.

Draco mengangkat sebelah alis. "Jangan bicara ngawur. Pansy tak seperti itu..."

Harry menatapnya heran. "Kau tak tahu berita itu?"

Draco tergagap. "Tak mungkin kan? Ada 5 cowok di tim Quidditch Ravenclaw!"

Harry menatapnya prihatin. "Draco, seriusan, kau harus hangout dengan teman-temanmu!"

Draco meringis. "Yeah, aku tahu," desahnya. Dia menyibakkan rambut Harry yang super berantakan ke belakang, menatap punggung terbuka Harry.

Harry merasakan tangan Draco turun ke punggungnya, dia bergidik bersemangat. "Mau coba lagi?"

Draco nyengir. "Tidak sekarang..."

"Oh ayolah Malfoy, dimana staminamu? Masa kalah dengan Parkinson?!"

"Kau kuras habis-habisan..." Tawa Draco. "Lagian, pasti masih sakit sekali kan? Tak perlu terburu-buru, malam masih panjang..." Dia melirik jam di mejanya. Jam 9 malam. "Bagaimana kalau besok pagi? Kalau kau siap..."

Harry mendesah, membiarkan Draco memeluknya erat lagi. "Try me," gumamnya, tubuh hangat Draco membuatnya mengantuk lagi.

Draco terkekeh, mengecup kepalanya sayang.

Dan mereka kembali tertidur.

-dhdhdhdh-

Blaise mendesah panjang di ruang rekreasi Slytherin. Dia sedang duduk di depan perapian, hanya dengan Theo, yang dengan tekun membaca buku tentang perampokan muggle. Theo sangat suka fiksi muggle, membuat Blaise dan Draco terheran-heran karenanya.

Ngomong-ngomong soal Draco...

"Sudah lima Hari tak ada kabar darinya," kata Blaise, bertopang dagu. "Kemana sih dia? Apa susahnya sih memberitahu Kita kemana dia pergi?"

Theo mengernyit, meletakkan bukunya di pangkuannya. "Tapi Snape merasa Kita tak perlu cemas..."

Blaise mendengus. "Tak perlu cemas? Setelah hampir setahun dia bersikap aneh, tidak makan, kurang tidur, dan selalu menghilang untuk entah melakukan apa?"

Theo mendesah panjang. "Mungkin dia sudah di kamarnya sekarang," katanya penuh harap.

"Kau tidak mengecek pagi tadi?" Tanya Blaise, Theo selalu rajin mengecek kamar Draco (mereka selalu tahu password kamar Draco, tapi berpura-pura tidak tahu agar sahabatnya itu tak menggantinya). Sejak Draco menghilang entah kemana Lima Hari yang lalu, setiap pagi Theo selalu melongok kamar Draco dengan optimisnya.

Theo mengangkat bahu. "Buat apa? Aku sudah menyerah melakukannya..."

"Hai guys," Sapa Miles Bletchley, kiper tim Quidditch mereka. "What's up?"

"Draco masih hilang," tandas Blaise tidak mood.

Miles mengernyit. "Masa? Tadi siang aku melihatnya di sini kok. Dia jalan buru-buru ke kamarnya..."

Belum selesai miles bicara, Theo Dan Blaise langsung melompat berdiri, berjalan nyaris berlari ke kamar Cowok Ajaib yang Mendadak Hilang itu.

"Ironi kehidupan," kata Blaise cepat, memberikan kata Sandi ke pintu Draco, yang langsung membuka. Betapa leganya dia saat melihat jubah tergeletak di atas meja, sepatu di bawah tempat tidur, dan kelambu tertutup. Dia mendengar Theo masuk dan menutup pintu di belakangnya.

"Dia tidur ya? Jam sepuluh malam?" Tanya Theo. "Tumben."

"Ayo Kita balas dendam. Kita kagetkan dia, sama seperti dia membuat Kita jantungan tiap hari dengan kelakulannya yang menyebalkan," ketus Blaise, menarik terbuka kelambu, berseru, "Oi, Draco! Kau anak sialan membu... OH MY GOD!"

"APAAN?!"

Blaise membelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat.

"OH MY GOD!" teriaknya lagi, jantungnya mencelat ke mulutnya.

melompat duduk dari kasur Draco, bukan hanya Draco Malfoy mereka, tapi juga Harria Potter. Harria Potter yang memekik kaget, buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya yang sepertinya seratus persen tanpa pakaian...

"OH MY GOD!" seru Blaise lagi, matanya nyaris copot, Tak bisa mengalihkannya dari wajah cewek itu. Rambut luar biasa berantakan, dengan bekas ciuman di hampir seluruh lehernya, muka merah padam, mata hijau indah membelalak lebar...

"OH MY GOD!" cewek ini sungguh luar biasa seksi!

Draco akhirnya sadar dari kekagetannya, buru-buru bangkit, menunjukkan bahwa dia setidaknya tak memakai Satu lembar pakaianpun...

"Oh my God," kata Theo, antara menahan tawa dan hasrat saat melihatnya. Blaise bergidik, memilih mengembalikan matanya ke Harria Potter yang super seksi daripada melihat Draco berjuang memakai boksernya.

"What the hell?" Bentak Draco akhirnya saat bokser sudah menutupi segala fantasi terliar Theo, memelototi Blaise dan Theo bergantian. "Apa yang kalian lakukan disini?! Bagaimana kalian bisa tahu kata Sandi kamarku?!"

Blaise mengalihkan matanya dari Potter yang tampak berusaha menenggelamkan dirinya di balik selimut tebalnya. "Kami yang harusnya bilang kan? What the hell?! Kau menghilang tanpa jejak selama Lima Hari, tanpa memberitahu sahabat-sahabatmu sejak bayi, Dan muncul kembali tanpa kata, ditemani HARRIA POTTER yang telanjang bulat di tempat tidurmu!"

Draco berjengit. Dia melirik Potter, memastikan tak Ada bagian tubuhnya yang bisa dinikmati oleh mata Blaise, lalu mendesah panjang. "Dengar, aku akan menceritakan semuanya nanti oke? Bisakah kalian keluar dulu?"

Blaise menatapnya tak percaya. "No way! Kau Akan menjelaskannya sekarang juga! Kenapa kau pergi? Kenapa kau bisa tidur dengan Potter? Merlin, Potter! Dan selama ini kukira kau berkencan dengan Lisa Turpin! Atau kau mengencani keduanya sekaligus? Kau tahu itu sungguh biadab..."

"Aku tak mau diceramahi soal biadab oleh manusia Paling biadab di dunia," tandas Draco, memelototinya. "Dan sudah berapa kali kubilang, aku tidak pernah dan Tak Akan pernah berkencan dengan Lisa Turpin!"

"Karena kau berkencan dengan Potter?"

"Iya!"

"Oh my God! Kurasa aku harus duduk," Blaise duduk di kursi, otomatis melihat Potter yang wajahnya masih merah. Cewek itu sedang bertukar pandang dengan Draco, tampak bingung. Draco mengedik kamar mandi, Dan cewek itu langsung bangkit, hati-hati menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, membuat Blaise sedikit kecewa...

"Bisakah kau berhenti menatap dia?" Ketus Draco. Blaise meringis. Potter berlari masuk ke toilet. Theo terkekeh, duduk di bekas tempat tidur Potter. Blaise mengernyit melihat ini.

"Kau tidak kelihatan kaget!" Tuduhnya, menunjuk Theo, yang mengangkat bahu.

"Aku tahu mereka akan balikan akhirnya..."

"Balikan? Apa maksudnya balikan?"

"Tapi aku tak menyangka mereka akan langsung menikmati hasilnya..."

Draco melemparnya dengan bantalnya saat dia duduk di sebelah Theo. Theo tertawa lagi.

Blaise tergagap. "Kau... Aku... Apa maksudnya ini? Apa cuma aku disini yang tak tahu apa-apa?!"

"Yup," kata Theo, nyengir menyebalkan. Blaise memelototi Draco.

"What?" Tandas Draco. "Aku juga tak pernah cerita padanya. Dia memergokiku sedang berduaan dengan Harry..."

"Harry? Harry?" Blaise rasanya mau pingsan. "Sejak kapan kau memanggilnya 'Harry'?!"

Draco memutar bola matanya. "Harry kan memang namanya. Jadi harus kupanggil apa?"

"Potter? Scarhead? Cewek gila?!"

Draco meringis. "Yah, itu panggilannya kalau kami lagi berantem..."

Blaise sangat, sangat terguncang. Draco mendesah.

"Dengar, Blaise, aku tak bermaksud menyembunyikan apapun. Kami memang tak suka PDA, dan memang tak menceritakan pada siapapun..."

"Jadi kau sungguhan pacaran dengan Potter? Potter, Draco?! Gryffindor? Darah campuran? Pembela muggle? HARRY POTTER?"

Draco mengangkat sebelah alisnya. "Kau tadi lihat sendiri orangnya kan?"

Blaise mendengar shower dinyalakan. "Sejak kapan?"

*Well, resminya sih kelas 4..."

"Oh my God! Kelas 4?!"

"Tapi kami dekat sejak kelas 1."

Blaise tergagap. "Enam tahun? Kalian menyembunyikan ini selama enam tahun?!"

Draco mengangguk. "Karena Satu dan Dua Hal. Kau tahu soal Pangeran Kegelapan kan..."

"Aku tahu tentu saja! Tapi bukan berarti kau tak bisa memberi tahuku kan? Kau Kira aku Akan bocor kemana-mana..."

"Weasley dan Granger juga tidak tahu."

Blaise makin cengo. "Bagaimana bisa Gryffindor itu menyimpan rahasia seperti itu selama 6 tahun? Mereka kan tak terpisah kan!"

Draco mengangkat bahu. "Dia memang pintar menyimpan rahasia."

"Tapi Theo tahu..."

"Yah, Theo Tak sengaja memergoki kami sedang berduaan..."

"... Di kamar ganti Quidditch Slytherin, saat kelas 3," sahut Theo, menjatuhkan tubuhnya ke kasur Draco. "Entah apa yang sedang mereka lakukan saat itu..."

"Well, thanks atas inputmu Theo," tandas Draco lagi. "Intinya, dia tahu sendiri, bukan kami yang cerita..."

"Pansy tahu kan!" Seru Blaise, teringat percakapan dengan Pansy dulu. "Dia bilang Theo dan Potter bercanda berdua di perpus! Kupikir saat itu dia berdelusi!"

Draco mendesah. "Memang Harry dan Theo entah bagaimana menjadi sobat sekarang."

"Dan kau selalu uring-uringan ketika Potter jadian dengan Thomas!"

Draco cemberut. "Aku tidak uring-uringan!"

"Dan kau selalu marah kalau ada yang bicara tak senonoh soal Potter dan tubuhnya yang super seksi!"

"Tentu saja kan..." Draco mengangkat bahu.

"Kami pikir kau membenci dia, ternyata kau cemburu!"

Draco baru mau menjawab saat pintu kamar Mandi terbuka lagi. Potter keluar dengan handuk kimono milik Draco, rambutnya yang basah tergerai. Cewek itu meringis pada Draco, yang mengedik lemarinya. Potter langsung melesat ke lemari Draco, mengambil baju tanpa memilihnya lagi, seolah dia sudah tahu pakaian Mana yang harus dia ambil, lalu buru-buru kembali ke kamar mandi.

Blaise menatap Draco lagi. "Enam tahun!"

Draco terbahak akhirnya. "Enam tahun, termasuk putus selama sembilan bulan sejak Juni tahun lalu."

"Bagaimana kau bisa balikan?" Tanya Theo penasaran.

Saat itulah Blaise melihatnya. Bekas Luka yang membujur dari dada sampai perut bawah Draco, yang Blaise tahu persis tadinya tak ada.

"Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya cemas, sejenak lupa pada Potter.

Draco mengikuti arah pandang Blaise. "Oh yeah, Satu Dua Hal terjadi..."

"Yang tak Akan kau ceritakan pada kami?" Blaise mengernyit dalam.

Draco mendesah, menatap pintu kamar mandi. Blaise menatapnya bingung, tapi tak bisa berkomentar lagi karena sekali lagi Potter keluar dari toilet, dengan Jersey quidditch Draco saat kelas 3 mungkin, dan salah Satu boksernya...

Blaise tak bisa mengalihkan matanya dari kaki panjang, paha mulus, dan apakah cewek ini ngga pakai bra?!

Draco mengernyit menatap Blaise. "Woi, jaga matamu, Zabini!" Tukasnya.

Potter tampak sangat malu. "Kurasa aku akan kembali ke menara Gryffindor..."

Draco mengibaskan tangannya. "Nah, kau menginap Hari ini. Mereka berdua yang akan keluar sekarang," tandasnya, memberi Theo dan Blaise tatapan penuh ancam.

Blaise memutar bola matanya. "Kurasa sahabat harus kalah demi tidur dengan cewek kan."

Potter tampak tak enak hati. "Hei seriusan, aku tak apa-apa. Mereka pasti ingin menghabiskan waktu dengamu," katanya, tersenyum pada Draco, yang tampak sangat kesal. "Besok aku akan kesini lagi..."

Draco menggeleng, menarik Potter duduk di sebelahnya. "Kau bisa hangout dengan kami."

Potter memberi Draco tatapan yang benar saja. "Draco..."

"What?"

Mereka bertukar pandang, saling mengernyit, tapi kemudian Draco mendesah panjang. "Yeah, yeah, oke, pergilah."

Potter memutar bola matanya. "Sampai ketemu besok," katanya, tersenyum. Draco mengangguk. Blaise bersiap berpaling untuk memberi mereka moment ciuman perpisahan super panas setelah seks yang biasa dilakukan pasangan. Tapi anehnya, momen itu tak pernah terjadi. Blaise mengangkat sebelah alis saat melihat Potter berhighfive dengan Theo, melambai padanya, lalu menyelampirkan jubah perak ke tubuhnya, Dan menghilang...

"Dia punya jubah gaib?" Kata Blaise kagum.

"Kalau tidak, bagaimana caranya dia kesini tanpa seluruh asrama tahu," kata Draco, mengantar Potter yang tak kelihatan ke depan pintu. Dia meraih cewek itu, entah bagaimana dia melakukannya, lalu membisikan sesuatu. Blaise bisa mendengar Potter tertawa, lalu sepertinya dia sudah pergi karena Draco menutup pintunya.

"Well," desah Draco, kembali duduk di sebelah Theo di kasurnya. "Kurasa tak Ada lagi yang perlu dibicarakan kan?"

Blaise menggerutu. "Jangan ngawur. Tunggu di sini, aku akan ambil stok fire whiskey di kamar. Kita ngobrol, kalau perlu sampai pagi."

"Merlin, aku lelah sekali kau tahu..." Erang Draco, menjatuhkan dirinya ke kasur.

"Setelah beronde-ronde seks dengan Potter? Tentu saja,"ketus Blaise.

"Apanya yang beronde-ronde, ini pertama kalinya tahu," tandas Draco.

Blaise melongo. "Kau memacari cewek dengan bodi Paling hot se-Hogwarts selama enam tahun Dan baru menidurinya sekali?!" Katanya tak percaya.

Draco mengangkat bahu. "Aku tak berharap kau akan mengerti..."

"Tentu saja aku tak mengerti. Aku melihat Potter, Dan ngiler di tempat..."

Draco duduk kembali, menatapnya Tajam. "Aku dan dia tidak melakukan hubungan inI hanya untuk seks, kau tahu. I love her."

Blaise tergagap luar biasa lebar, menatap Draco syok. Lalu menatap Theo untuk mencari penjelasan..Theo hanya terkekeh, mengangkat bahu.

"Reaksiku jauh lebih baik saat pertama mendengarnya dulu," komennya.

Blaise menutup mulutnya, kembali menatap Draco tak percaya. "Love? Apa yang terjadi padamu Draco? Berubah menjadi Gryffindor?"

Draco terbahak mendengar ini. "Kau tahu, kurasa iya. Perlahan-lahan dia mengubahku jadi seperti dirinya!" Dia bergidik. "Merlin!"

Blaise masih tampak Tak percaya. "Dan kau yang... Mencintai dia... Membuatmu tak bisa melakukan seks?"

Draco mengangkat bahu. "Dia belum siap sebelumnya. Yah, sejujurnya dia mengajakku melakukannya sejak kelas 3."

Reaksi Blaise membuat Draco dan Theo tertawa terpingkal.

"Tapi aku tahu persis bagaimana caranya berpikir kan, kau tahu Gryffindor, serang dulu berpikir belakangan. Aku tak mau dia menyesal melakukannya, Dan membuat hubungan kami berantakan. Jadi aku memutuskan untuk menunggu," jelas Draco. "Kau tak tahu betapa susahnya menahan diri..."

Blaise masih menatapnya penuh rasa heran.

Draco mengibaskan tangannya. "Sudah tak usah kau pikirkan. Aku tahu kau tak mungkin memahaminya." Katanya enteng.

Blaise cemberut. "Firewhiskey!" Ketusnya, lalu keluar dari kamar itu, tapi sempat mendengar Theo berkata,

"Dia bereaksi lebih baik dari dugaan Kita kan?"

Blaise hanya mendengus.

-dhdhdhdh-

"I don't care who you are..." Lisa bersenandung pelan, menatap bayangannya di kaca kamar Mandi, mengeluarkan kotak make up dari tas nya. "Where you're from..." Dia tahu yang dia senandungkan adalah lagu muggle. Dean Thomas membuat lagu itu populer di seluruh Hogwarts beberapa bulan yang lalu. Liriknya sesuai dengan Lisa saat ini. Cewek itu tersenyum pada bayangan cantiknya. Hanya tinggal sedikit sentuhan.

Sudah semingguan dia tak bertemu Draco. Cowok itu tak pernah ke perpus sejak mereka terakhir Kali bermesraan, dan Tak mungkin hari-hari ini menghampirinya di tempat umum, karena seluruh sekolah akan menyoraki mereka. Lisa mendengar dari seluruh orang bahwa cowok itu memilih nya sebagai yang Tercantik di seluruh Hogwarts, membuat Lisa Tak bisa berhenti tersenyum tiap mengingatnya.

Draco bisa jual mahal sesukanya, tapi dia tak bisa mengelak lagi. Dia pasti menyukai Lisa. Seluruh sekolah tahu itu. Lisa tahu itu.

Yang menghalangi mereka hanya mantan pacar yang sepertinya berkesan sekali. Lisa penasaran siapa orangnya. Tapi rasanya tak Ada cewek di Hogwarts yang punya pesona lebih dari dirinya.

Lisa mendesah, hari-hati menggunakan eye linernya. Dia tak peduli siapapun mantan Draco, cowok itu jelas setidaknya menyukai Lisa walaupun sedikit. Lisa Akan terus berjuang sampai Draco tak bisa lepas darinya...

Pintu toilet dibuka, Dan masuk ke dalam Harry Potter. Lisa berusaha tidak memutar bola matanya. Cewek itu memakai celana jeans Dan kaus berwarna biru. Rambutnya masih basah, mungkin dia baru selesai latihan Quidditch. Body Potter memang bagus sekali, Lisa mau Tak mau mengakui. Cewek itu agak terkejut saat melihat Lisa, tapi lalu mengangkat dagu nya tinggi. Dasar sok.

"Hei," Sapa Lisa basa-basi.

"Hei," jawab Potter malas-malasan. Lisa Tak tahu apa dosanya, tapi saint Potter jelas menganggap dirinya Tak layak bahkan untuk berbasa-basi. Geram, Lisa memutuskan untuk tak mengacuhkannya. Dia fokus mengaplikasikan maskaranya.

Potter mengeluarkan tongkatnya, mengeringkan rambutnya di kaca sebelah Lisa. Shampoo vanilla. Lisa penasaran merk apa yang dia pakai. Mungkin muggle, karena semua tahu Potter Pecinta muggle. Potter menyisir rambutnya, menggerainya. Lisa mengangkat sebelah alisnya. Jarang-jarang Potter menggerai rambutnya. Lalu cewek itu mengeluarkan kotak make up nya, membuat Lisa sangat heran. Dia bahkan tak tahu Potter bisa berdandan.

Tapi Potter tampak santai saat mengambil foundation, lalu memakai sedikit maskara, merapjkan alisnya... Potter sadar Lisa menatapnya tercengang dari cerminnya. Cewek itu mengangkat sebelah alis. "Apa?"

Lisa mengangkat bahu. "Nah, aku hanya tak pernah tahu kau bisa berdandan. Kau selalu terlihat polosan."

Potter mendengus. "Semua cewek bisa dandan," katanya. "Tapi aku memang jarang melakukannya. Selalu punya hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada menghabiskan berjam-jam menatap cermin."

Lisa merasakan sangat tersindir dengan kata-kata ini. "Sungguh? Apa hal penting yang kau lakukan? Jelas bukan belajar..." Dia balas menyindir.

Potter tersenyum dingin. "Ada banyak hal yang jauh lebih penting dari membaca buku, tapi aku tak berharap Ravenclaw bisa mengetahuinya," tandasnya. Dia mengambil parfum, menyemprotnya ke tubuhnya. Vanilla lagi.

"Dan Kali ini kau perlu berdandan?" Tukas Lisa. "Untuk merayu cowok-cowok malang macam Thomas?"

Potter tertawa. "Nah, aku mau berkencan dengan pacarku. Kami baru balikan setelah beberapa saat putus."

Lisa mendengus. " Yeah?" Jadi Potter Akan balikan dengan dean Thomas?

"Em hm, walaupun sudah Lima tahun pacaran, bukan berarti Kita Tak bisa menikmati kencan kan?" Kata Potter, tersenyum dingin.

Lisa menatapnya cepat. "What?"

"What?" Ulang Potter, menyisir rambutnya lagi.

"Kau sudah pacaran dengannya... Lima tahun..."

"Oh iya, sejak kelas Satu," kata Potter, nadanya berubah riang. "Kami putus setelah owl, tapi balikan beberapa Hari yang lalu. Kurasa dia baru sadar bahwa tak Ada cewek lain yang bisa membuatnya tetap tertarik." Potter memasukkan semua peralatannya ke dalam tas nya lagi. "Bye, Turpin." Katanya, tersenyum mengejek, lalu pergi dari toilet itu.

Meninggalkan Lisa yang hanya terpaku di tempatnya, dengan mulut terbuka Dan mata membelalak lebar.

-dhdhdhdh-

Blaise melirik Draco. Sudah empat Kali sejak mereka masuk ke aula besar untuk sarapan, sahabatnya itu menatap meja Gryffindor. Potter sesekali balas menatapnya, seolah dia merasakan kalau Draco sedang menelanjanginya dengan matanya...

Blaise cemberut. "Apa dia selalu begini?" Tandasnya pelan pada Theo. Theo menatapnya bertanya..Blaise mengedik Draco lalu Potter.

"Oh yeah, setiap pagi, siang, malam, di kelas, lapangan Quidditch," kata Theo, kembali memakan pancakenya.

"Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?" Desis Blaise kesal.

Theo mengangkat bahu. "Mereka berdua jago menutupinya. Kau tak akan melihatnya kalau tidak benar-benar melihatnya kan?"

Blaise bertopang dagu, melirik Draco yang tampak bosan memakan roti panggang nya, jelas berharap dia berada di sebelah Potter saat ini, menggerayangi cewek itu...

"Tak bisakah kau menahannya sedikit," kata Blaise padanya.

"Menahan apa?" Tanya Draco bingung.

"Sexual tension." Jawab Blaise, memutar bola matanya.

Draco nyengir malas. "Why?"

"Why? Kau membuat kami semua gerah tahu!"

Draco menyesap tehnya. "Mungkin kau harus Cari pacar juga agar tidak sirik."

Blaise menatapnya tak terkesan. "Ha ha. Lucu sekali. Makanya aku benci pasangan, mereka bersikap seolah dunia hanya milik bedua Dan menganggap orang-orang lain yang Tak seberuntung mereka..."

Tapi tatapan Draco sudah kembali pada Potter. Gadis itu berdiri dari bangkunya, berjalan keluar aula bersama Granger. Cewek itu tersenyum kecil pada Draco saat mereka melewati meja Slytherin. Draco nyengir puas pada roti panggang nya.

Blaise berusaha keras untuk tidak muntah di tempat.

"Jangan pasang wajah begitu, kau tak mau Draco kembali suram dan menyedihkan seperti saat mereka putus kan," kata Theo bijak, tampak sama sekali tak terganggu.

Blaise mendengus. "Menjijikan. Begitu terpuruk hanya karena diputusin cewek. Dimana harga dirimu Draco?"

Draco tak menjawab, hanya mengambil roti panggang lagi, dan, setelah berpikir sejenak, telur mata sapi. Blaise menatapnya.

"Tumben telur di pagi Hari? Butuh ekstra energi?"

Theo mendengus, Draco hanya memutar bola matanya.

"Oh shut up Blaise. Aku tak pernah berkomentar soal ribuan cewek yang kau tiduri kan? Aku hanya punya Satu, Dan kau bersikap seolah aku cowok mesum yang hanya memikirkan seks..."

Blaise dan Theo mengangkat sebelah alis mereka kompak menatapnya. Draco terbahak.

"Oh, oke, aku memang cowok mesum yang hanya memikirkan seks! Puas?"

Blaise dan theo mengangguk.

-dhdhdhdh-

Harry bangun mendadak, menatap jam. Sudah jam 6! Harusnya dia sudah di menara Gryffindor setengah jam yang lalu. Sepuluh menit lagi Hermione akan bangun, dan pasti bertanya-tanya dimana Harry.

"Draco, aku harus kembali ke Gryffindor," kata Harry, berusaha melepaskan dekapan Draco di pinggangnya. Cowok itu hanya menggerutu. Harry mengerang. "Draco please... Lepaskan dulu..."

Jawaban Draco adalah menarik Harry kembali tidur dan mencium lehernya. Harry merasakan tubuhnya mulai lemas. Tapi dia tetap berjuang.

"Draco, Hermione akan bangun sepuluh menit lagi..."

Tangan Draco mengelus paha nya, nyengir lebar saat Harry otomatis meregangkan kakinya, memberi akses pada tangan itu. Jemari Draco mengelus selangkangan Harry, mendekati vaginanya yang mulai basah oleh gairah. Harry menggigit bibirnya, menahan desahan yang pastinya akan lebih menyemangati Draco.

"Malfoy..." Erang Harry, saat jari-jari Draco memainkan. "Draco please..."

"Hmm, nope." Cowok itu melompat, menindih Harry, manatap Mata Harry penuh hasrat. "Let me love you first."

"Astaga Draco! Kita tak punya waktu... Uugghhh... Yeah..."

Draco terkekeh, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, Dan mulai beraksi.

-dhdhdhdh-

"Draco, bisakah kau membantuku soal yang ini?" Pansy duduk di depan Draco, yang sedang mengerjakan pr di dekat jendela. Draco melirik soalnya.

"Oke. Sebenarnya cukup simpel..." Dia menjelaskan ulang konsep Transfigurasi untuk nomor itu. Pansy mengernyit penuh konsentrasi, tapi tampak Tak kunjung paham. Akhirnya gadis itu mendesah.

"Aku tak tahu apa yang kupikirkan mengambil kelas ini," katanya, akhirnya memilih melihat jawaban Draco di perkamennya.

Draco nyengir. "Tenang saja. Theo juga kesulitan di nomor itu."

Pansy mendengus. "Jangan samakan aku dengan cowok asosial itu."

Draco hanya menggeleng. Theo dan Pansy rasanya Makin kesini makin saling benci. Draco curiga kebencian itu awalnya ditanamkan oleh Harry dipikiran Theo. Ngomong-ngomong soal Harry...

"Jadi, kau tahu apa yang mereka katakan soal dirimu dan Tim Quidditch Ravenclaw?" Tanya Draco to the point, berekspektasi Pansy akan kebingungan, karena absurd sekali rasanya kalau Pansy sampai di gilir oleh Lima cowok...

Tapi wajah Pansy merona, Dan cewek itu tak menjawab. Draco melongo.

"Wow," gumamnya. "Just wow."

Pansy menatapnya terluka. Draco mengangkat kedua tangannya defensif.

"Aku tidak bermaksud menghakimi mu, sori," tawanya. "Aku tadinya tak percaya saat seseorang memberitahuku..."

Pansy mendengus. "Seseorang? Maksudmu Potter?"

Draco meringis. "Well, yeah..."

Pansy cemberut. "Jadi akhirnya kalian balikan? Itu yang membuat moodmu luar biasa bagus semingguan ini?"

"Yup. Balikan seminggu yang lalu," kata Draco enteng. "Membuatku ingat, darimana kau bisa tahu soal aku Dan dia?"

Pansy tersenyum kecut. "Setahun lalu, di ruang rekreasi, aku melihatmu dan Potter berciuman..."

Draco terkekeh. "Oh yeah, memang waktu-waktu itu kami sering melakukannya. Tak kusangka Ada yang melihat. Thanks karena tak ember pada siapapun. Kami merahasiakannya karena Pangeran Kegelapan... Kau tahu..."

Pansy mendesah. "Apakah ini layak?" Tanyanya setelah mereka lama terdiam.

"Hm?"

"Kau mempertaruhkan keselamatanmu dengan berkencan dengannya kan? Apa kah dia layak?"

Draco tersenyum kecil. "Kurasa."

"Kau rasa?"

Draco mengangkat bahu. "Dia satu-satunya cewek yang bisa membuatku tergila-gila..." Katanya, menerawang. "Spesial..."

Dan Pansy hanya tak tahu mau menjawab apa lagi. Dia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berair karena patah hati...

-dhdhdhdh-

Lisa melabrak kursi di depan Draco di sudut cowok itu di perpus. Cowok itu mendongak kaget.

"Oh hei," sapanya ragu, jelas melihat ekspresi Lisa yang penuh marah, sakit hati, Dan air Mata. "Kau baik-baik saja?"

Lisa mendengus tanpa humor. "Baik-baik saja? Bisa-bisanya kau bertanya begitu!"

Draco mengernyit. "Apa maksudnya sih?"

Lisa mengibaskan rambutnya ke belakang, berusaha menguasai emosinya. "Aku kemarin bertemu Potter di toilet."

"Dan?" Tanya Draco, tampak sungguh bingung.

"Dan dia berkata bahwa dia telah 'balikan' dengan cowok yang sudah LIMA TAHUN dikencaninya!" Bentak Lisa marah sekali. "Mantan pacarmu Harria Potter?!"

Draco mendesah. "Aku tak mengerti apa hubungannya inI denganmu."

Lisa tergagap. "Apa hubungannya denganku?" Ulangnya berbahaya. "Kau bertanya apa hubungannya denganku? Setelah kau memberiku harapan demi harapan! Setelah orangtua Kita sudah setuju!"

Draco mengernyit. "Memberimu harapan? Aku jelas-jelas berulang kali bilang padamu bahwa aku tidak menyukaimu seperti itu. Aku bilang dengan jelas bahwa aku masih menyukai mantanku, dan Tak berniat melupakannya. Bahkan sejak dulu, aku ingat selalu mengingatkan mu untuk tidak jatuh cinta padaku karena kau tak punya kesempatan," tandasnya, bersedekap.

Lisa melongo. "Oh my! Aku tak percaya kau bisa berkata begitu! Setelah menciumku dan menggerayangiku! Kau memanfaatkanku!"

Draco mendengus. "Yang benar saja. KAU yang memanfaatkanku, Lisa Turpin. KAU tahu bahwa pertahananku sedang lemah karena baru putus dari pacarku. KAU yang berulangkali menghampiri ku disini, duduk di depanku, menunjukan payudaramu. KAU yang selalu melompat untuk menciumku, membuatku lemah. KAU yang memintaku menggerayangimu." Dia memutar bola matanya. "Dan aku masih selalu mengingatkanmu kalau aku Akan selalu lebih memilih mantan pacarku daripada kamu."

Lisa merasakan air matanya tumpah. Cowok brengsek ini, dia sungguh tak peduli pada perasaan Lisa. Dia tahu apa yang Draco katakan benar, tapi cowok itu tak berhak... Dia tak berhak memperlakukan Lisa seperti ini...

Draco mendesah panjang. "Misalnyapun aku tidak balikan dengan Harry, apa kau mau bersama cowok yang 90% pikirannya tak pernah untukmu?" Tanyanya, mengusap rambutnya. "Aku minta maaf jika kau merasa aku hanya mempermainkanmu. Aku tahu kau menyukaiku, dan aku tak pernah menyangka akan bisa balikan dengan Harry. Aku seriusan ingin move on saat itu, Dan aku mencoba... Tapi ternyata aku hanya tak bisa menghapus Lima tahun begitu saja..." Dia menarik napas. "Harry adalah seluruh hidupku. Maafkan aku, tapi aku tak akan pernah bisa bersama orang lain selain dia..."

Lisa tersengguk tak bisa mengendalikan tangisnya, berbalik, lalu berlari pergi dari situ.

Dia benci Draco Malfoy!

Dia benci...

-dhdhdhdh-

Dean sedang memainkan gitarnya saat merasakan seseorang duduk di sebelahnya. Wangi vanilla ini. Tentu saja, gadis idamannya.

"Hei," Sapa Dean, menoleh menatap Harry. Cewek itu tampak sangat cantik, walau hanya dengan celana pendek dan jumper kebesaran warna biru. Rambutnya dia ikat dengan kuncir hijau...

Kuncir yang sama dengan yang dipungut Malfoy di perpus waktu itu...

"Hei," jawab Harry, meregangkan tubuhnya. Ron duduk di depan mereka, menggerutu.

"Aku tak percaya seberapa banyak pr yang harus Kita kerjakan. Maksudku, kalau tahun ini saja begini, bagaimana dengan tahun depan?"

Dean mengangkat bahu. "Salahmu sendiri mengambil banyak kelas sulit."

Ron mendesah panjang. "Demi auror... Masa remajaku hilang sudah..."

Harry tertawa. "Setidaknya tinggal Ramuan saja untuk minggu ini..."

"Besok ada Transfigurasi. Kau tahu McGonagall tak akan absen memberi pr."

Harry mendesah muram. "Yeah..."

Mereka terdiam sejenak, merutuki semua guru dalam hati.

"Oke, kurasa Kita perlu sedikit suntikan semangat," kata Dean, menggenjreng gitarnya. "Ayo nyanyi bareng."

Ron mengangguk. "Oke. Lagu apa?" Hampir seluruh Gryffindor sudah dicuci otak oleh ke-amazingan lagu muggle, Dan sedikit demi sedikit mulai hafal.

"Britney..."

"Tidak Britney!" Seru Dean sebelum Harry menyelesaikan kata-katanya, membuat cewek itu tertawa.

"Oke, bagaimana dengan..."

"Tidak penyanyi America!" Sahut Dean cepat.

Harry mengangkat sebelah alisnya. "Darimana kau tahu aku akan mengusulkan penyanyi America?"

Dean hanya membalas mengangkat alisnya. Harry terbahak.

"Oh ok, aku memang mau bilang Michael Jackson."

Dean memutar bola matanya. "Aku tahu persis seleramu, penghianat bangsa. Kita akan memilih penyanyi Inggris. Bagaimana dengan Westlife?"

"Mereka kan Irlandia."

"Setidaknya mereka lebih Inggris dari Michael Jackson," kata Dean asal, mulai memetik gitarnya. "Oo oo...oo oo oo..." Senandungnya. "Uptown girl..."

Harry dan Ron tertawa dan mulai bertepuk tangan. Segera, hampir semua anak di ruang rekreasi mengerumuni mereka untuk ikut menyanyi bersama. Beberapa hafal, beberapa bisa mengikuti reff nya. Semua bertepuk Dan bersorak girang, jelas butuh pengalih perhatian dari segala kepenatan sekolah.

"You know I'm in love with an uptown girl... My uptown girl..." Semua bernyanyi keras.

"You know I'm in looveee..." Suara Dean menutup lagu. "With an uptown girl..."

"Yeey!" Anak-anak bersorak heboh. Setelah itu mereka kembali ke pr masing-masing dengan semangat yang baru. Ron ikut berdiri.

"Ayo har, waktunya kembali ke kenyataan..."

Harry bersandar, menempelkan kepalanya ke punggung sofa, menutup matanya. "Sebentar lagi. Kau duluan saja. "

Ron berjalan ke tempat Hermione duduk. Harry mengerang. "Badanku sakit dimana-mana."

"Quidditch akhirnya membuatmu kelelahan?" Goda Dean.

Entah kenapa wajah Harry memerah mendengar ini, bergumam, "bukan Quidditch..."

Dean mengangkat sebelah alisnya. "Well, kau selalu sibuk. Ada baiknya sedikit rileks kan?" Dia ingin sekali menyentuh wajah itu, membelai rambutnya... Harry Potter... Cewek idamannya sejak dulu...

Dia mendesah. "I want her everyday..." Senandungnya pelan sambil memetik gitarnya. Dia bisa melihat Harry tersenyum.

"And if he's beside, I know I need never care..." Sambung cewek itu.

"But to love her is to need her everywhere..." Sahut Dean, menatap lekat Harry.

"Knowing that love is to share..." Harry membuka matanya, nyengir pada Dean.

"Each one believing that love never dies..."

"Watching his eyes, and hoping I'm always there..." Desah Harry, menatap menerawang perapian sambil tersenyum-senyum. Dean mengernyit.

" I will be there... And everywhere... Here there and everywhere..." Tutup Dean, matanya kembali jatuh ke karet rambut hijau Harry.

Harry masih tersenyum pada perapian, mendesah. "Aku suka lagu itu."

"Yeah, the Beatles favoritku," kata Dean.

Harry nyengir pada cowok itu, lalu mengambil tasnya, bangkit Dan siap pergi. Tapi Dean meraih tangannya..Harry menatapnya bertanya.

Dean menelan ludah. Benarkah dia ingin mengetahui soal ini? Mata hijau Harry menunggu nya mengatakan sesuatu.

"Kau... Balikan dengan mantan pacarmu ya?"

Mata Harry membelalak mendengar ini. "Hah?"

Dean melepaskan tangannya dari lengan Harry, mengangkat bahu. "Sori, tak bermaksud penasaran dengan hidupmu. Hanya saja aku melihatmu senyum-senyum sendiri, Dan beberapa Kali melamun..."

Wajah Harry sedikit merona, dia duduk kembali. "Yeah," katanya akhirnya. "Sekitar Dua minggu lalu."

Sakit. "Oh," kata Dean, berusaha terdengar biasa. Dia menunduk, menatap tangannya, lalu menatap Harry lagi, yang sedang menghindari menatapnya. "Aku punya pengakuan," katanya.

Harry menatapnya bertanya.

"Aku tak tahu bagaimana mentransfigurasi kuncir rambut, aku Tak tahu warna favoritemu hijau, Dan kalaupun aku Akan menyihir aku Akan membuatnya berwarna merah Gryffindor," kata Dean, menatap lekat ekspresi Harry. "Karet rambut itu," dia melambai pada rambut harry. "... dari Malfoy."

Harry membelalak, tergagap. Wajahnya merah lagi. "Er... Oke..." Gumamnya, sekali lagi berusaha menghindari tatapan Dean.

Dean mendengus. "Yeah, dan sekarang aku tahu siapa pacar rahasiamu. Misteri terpecahkan," katanya, berusaha terdengar ringan.

Harry berjengit. Dia kembali menatap Dean, wajahnya penuh rasa bersalah. "Dean, maafkan..."

"Hei, bukan salahmu kau menyukai brengsek Slytherin darah murni yang membenci semua Gryffindor," kata Dean, menepuk pundaknya. "Dan bukan salahku aku masih menyukai gadis ini, gadis dengan mata Paling indah sedunia..."

Harry mendengus. "Jangan meledekku," katanya. Lalu mendesah. "Yeah well, dia juga punya banyak Hal positif..."

Dean mengangguk. "Kurasa..." Dia menatap perapian. "Hari itu, aku memperhatikanmu sepanjang hari. Aku melihatmu berkutat dengan rambut yang berulang Kali jatuh ke depan. Tapi tak pernah terpikir sama sekali bahwa kau terganggu, bahwa mungkin karet rambutmu hilang dan kau sendiri sama payahnya denganku dalam Transfigurasi. Sampai saat Malfoy mengulurkan kuncir itu padaku, Dan wajahmu yang berterimakasih..." Dia menarik napas. "Dia mengerti dirimu, Bahkan untuk Hal kecil seperti karet rambut. Aku memikirkannya berulang Kali, dan merasa kalah..."

Harry tertawa. "Itu kan cuma kuncir..."

"Tapi kau tak akan mendapat perhatian yang besar tanpa perhatian kecil kan?" Kata Dean, menatap Harry lagi. "Aku tak Akan pernah paham kenapa kau bisa lebih menyukai Slytherin daripada aku. Tapi setidaknya aku lega mengetahui bahwa Malfoy juga menyukaimu, bukan hanya mempermainkanmu..."

Wajah Harry memerah lagi, mengangguk, tersenyum kecil. "Yeah, dia memang kadang bisa manis begitu..."

Dean meremas tangan Harry. "Aku bahagia kalau kau juga bahagia Harry," katanya, membuat Harry tersenyum padanya. Harry mendekatkan tubuhnya, memeluk Dean singkat.

"Trims Dean, aku berharap kau bisa mendapat yang jauh lebih baik dariku," katanya, meremas tangan Dean sekilas, lalu bangkit sambil membawa tas nya. "See you around." Dia melambai lalu pergi ke arah Ron dan Hermione.

Dean mendesah panjang. Dia mengambil gitarnya, lalu Naik ke kamar anak laki-laki, bersiap menikmati patah hatinya di tempat tidurnya sendiri.

-dhdhdhdh-

Bersambuuung

Please review gaiisss