Warning : T rate, OC, banyak tokoh minor Naruto, chara death.

Genres : Action/Adventure/Romance/Friendship/Humor/Angst/Tragedy.

Pairing : SasoSaku/KaoMa/ReiSasa.

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto (kecuali OC).

This Story belong to Riyuki18.

Dedicate to all reader, please enjoy it!

.

Neverland Side Story

Chapter 35

(Letting You Go!)

.

.

Mobil itu kini tengah berhenti tepat menghadap ke arah mobil Rei. Seketika Rei menghentikan laju kendaraannya begitu juga dengan mobil yang ada di belakangnya. Mobil itu tepat berhenti di sebelah Rei.

'Mereka… Sudah mengetahuinya… ' desis Rei dalam hati yang akhirnya apa yang dia khawatirkan terjadi juga.

Izky segera turun dari dalam mobil bersama dengan Raijin dan Fujin. Pemuda itu tampak berjalan sambil memegang sebuah senjata.

"Kau yang ada di dalam sana, cepat keluar!" Izky dengan suara yang keras menyuruh Rei yang berada di dalam mobil untuk keluar.

"Ah, lama sekali! Biarkan kami yang turun tangan!" Raijin yang sudah tidak sabar langsung saja berjalan mendekati mobil yang sedang dikendarai Rei tersebut. Kedua peria besar itu kini berada di kiri dan kanan sisi pintu mobil dan menghantamkan tangan mereka dengan kasar ke arah pintu tersebut.

.

.

"CEPAT KELUAR! KALAU TIDAK AKAN KAMI HANCURKAN PINTUNYA!" Fujin kali ini menggoyang-goyangkan mobil tersebut menyuruh agar Rei keluar.

"CEPAT BUKA!" Raijin disisi lainnya berusaha untuk membuka pintu mobil. Akhirnya Rei mau tak mau keluar dari dalam.

"Ternyata kau? Masih berani kau mengikuti kami? Sudah bosan hidup, ya?" kata Izky sambil memandang sinis pada Rei. Dia benar-benar tak menyangka kalau pemuda yang mereka sandera dan nyaris mereka bunuh masih memiliki nyali untuk mengikuti mereka.

"Apa semua ini karena gadis itu?" tanyanya lagi sambil melirik ke arah belakangnya dimana Sasame berada di dalam mobil itu.

"Lepaskan Sasame! Kalian sudah mendapatkan laptopnya, kan? Jadi semua ini sudah tak ada hubungannya lagi dengan Sasame!" balas Rei yang meminta agar Izky membebaskan Sasame yang sedang mereka sandera.

"Kau ini banyak bicara! Lebih baik kita bawa saja dia!" sambar Raijin yang langsung mendekati Rei bersama dengan Fujin. Keduanya langsung memegangi tangan pemuda itu.

"Ide bagus. Cepat bawa dia masuk ke dalam mobil!" balas Izky yang menyuruh Raijin dan Fujin untuk juga membawa Rei ke dalam mobil.

Raijin dan Fujin segera memaksa Rei untuk masuk ke dalam mobil, setelah itu Izky kembali berbalik dan menatap mobil yang satunya dengan tajam.

"Ini juga termasuk untukmu… " tiba-tiba saja pemuda itu mengarahkan sebuah senjata tepat ke arah mobil dimana pengawal Jun sedang berada di dalamnya. Tentu sang pengawal langsung panik apalagi dirinya sekarang terancam dalam bahaya.

"Selamat tinggal… " sebuah seringai tampak menghiasi wajah Izky dan pemuda itu melepaskan timah panasnya ke arah kaca depan mobil itu.

'Gawat!' dengan reflek pengawal itu menekan tombol perlindungan.

BANNG!

Timah panas itu melesat dan menembus kaca mobil tersebut. Kaca mobil itu mengalami retakan dan terlihat cairan merah yang mewarnai kaca mobil hitam tersebut. Izky yang melihatnya langsung tersenyum puas dan segera masuk ke dalam mobil lagi. Akhirnya mereka meninggalkan tempat tersebut.

o0o

Beberapa menit kemudian…

.

.

"Untung saja aku masih selamat… " kata sang pengawal tersebut sambil bernapas lega. Ternyata saat Izky melepaskan peluru kearahnya, dengan tanggap dia menekan tombol perlindungan yang memang merupakan salah satu dari keistimewaan mobil tersebut. Begitu menekan tombol tersebut maka sebuah bantal yang dilapisi baja anti peluru keluar dan melindungi sang pemakainya, sedangkan bagian belakang bantal tersebut terbuat dari kapas-kapas yang tebal sehingga tidak melukai sang pengguna. Berhubung mobil tersebut menggunakan kaca gelap dan anti sinar matahari, maka Izky tentu tidak bisa melihat ke bagian dalam mobil. Kesempatan itu digunakannya untuk mengelabui Izky dengan menyemprotkan cairan saus yang memang disediakan oleh Jun. Dengan itu Izky bisa dikelabui yang mengira saus tersebut adalah darah.

"Aku berhutang pada anda tuan muda Jun… " gumam pengawal itu sambil menggenggam semprotan yang berisi saus tersebut dan mengingat perkataan Jun saat memberikan benda itu kepadanya.

Flashback…

"Taka-san tunggu dulu!" terlihat Jun yang baru tiba di depan gerbang sekolah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini untukmu!" kata pemuda itu sambil menyerahkan sebuah botol semprotan yang entah apa isinya.

"Tuan muda… Ini apa?" tanya Taka dengan bingung sambil memperhatikan benda tersebut.

"Ini semprotan saus… Bawalah! Kurasa ini akan berguna untukmu!" balas Jun memberitahukan isi dari botol tersebut.

"Tidak usah, saya tidak membutuhkan ini." Taka menyodorkan kembali benda tersebut kepada Jun, tapi tampaknya Jun bersikeras menyuruh Taka untuk membawanya.

Akhirnya Taka mengalah dan memasukkan benda tersebut ke dalam mobil. Semenjak hari itu botol tersebut selalu ada di dalam mobilnya.

End flashback.

Sementara itu Nathan dan yang lainnya sudah melewati wilayah perbatasan antara Sunagakure dan Otogakure.


In the forest…

.

.

Sedangkan di hutan terlihat Marie akhirnya terpojok oleh ketiga orang tersebut.

"Lebih baik anda menyerah tuan putri… " kata Atsui penuh dengan percaya diri.

"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?" balas Marie sambil mendengus kesal. Sepertinya dia masih bertekad untuk melawan ketiga orang itu.

"Kami tak ingin menyakiti anda tapi sepertinya kami memang tak memiliki pilihan lain selain menyingkirkan anda… " Samui kini semakin mendekati gadis itu bersama dengan Atsui dan Haku. Ketiganya semakin memojokkan posisi Marie.

Atsui, Samui dan Haku mengeluarkan sebuah serangan yang langsung mereka gabungkan tepat mengarah pada Marie. Gadis berambut panjang itu segera berusaha menghalangi kekuatan yang melesat ke arahnya itu dengan payungnya. Tapi ketiga kekuatan yang digabungkan itu sangat besar dan mengoyak perlindungan yang dibuat oleh Marie.

Gadis itu terlempar ke belakang dan terjatuh ke bawah tebing curam yang ada di hutan itu. Disaat yang bersamaan Kaoru, Fei dan Kuromizu baru tiba disana dan menyaksikan kejadian itu langsung.

"MARIE!" Fei dan Kuromizu berteriak memanggil gadis itu secara bersamaan. Sementara itu Kaoru menatap tak percaya pada Samui dan Atsui dengan apa yang mereka lakukan barusan terhadap Marie.

"Apa yang harus kita lakukan? Marie terjatuh kesana!" kata Kuromizu dengan panik dan kebingungan bagaimana caranya menolong Marie.

"Akan kubalas kalian nanti… " kata Kaoru sambil menatap tajam kepada Atsui, Samui dan Haku. Kemudian pemuda itu berlari ke arah tebing tersebut dan melompat ke dalamnya.

"KAORU!" Kuromizu dan Fei segera berlari dan berhenti tepat di tebing itu sambil melongok ke bawahnya.

"Dia... Benar-benar nekad sekali... " gumam Fei yang tidak percaya melihat Kaoru benar-benar melompat ke bawah sana untuk menolong Marie.

"Kurasa urusanku sudah selesai… " kata Haku yang kemudian menghilang dari sana.

"Tebing itu cukup dalam… Kemungkinan mereka tak akan berhasil menyelamatkan diri. Ayo kita pergi." Samui dan Atsui juga merasa sudah tidak ada lagi yang perlu mereka lakukan, dilihat dari kekuatan Kaoru yang belum sepenuhnya kembali. Keduanya juga ikut pergi dari sana.

o0o

Marie terlihat setengah sadar saat dia terjatuh. Dia merasa semuanya akan segera berakhir. Gadis itu menatap ke atas dan dia melihat sosok seseorang yang memang sangat ingin dia lihat. Dia adalah Kaoru. Pemuda itu berteriak memanggil namanya dari kejauhan.

"Marie… Marie sadarlah!" pemuda itu memanggil-manggil gadis tersebut untuk menyadarkannya.

"Kaoru… ? Kau… Kenapa kau melakukan ini?" gadis itu akhirnya benar-benar sadar dan melihat Kaoru yang entah sejak kapan berada disisinya dan memeluknya dengan erat.

"Bodoh… Aku sudah mengingat semuanya!" balas Kaoru sambil setengah menghela napas dengan pertanyaan Marie yang menurutnya agak konyol, karena alasannya sudah sangat jelas dan tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Ja-jadi kau sudah mengingatnya? Syukurlah… Aku sangat lega mendengarnya… " Marie yang bahagia mendengar perkataan Kaoru tanpa sadar jadi menangis.

"Aku sudah kembali mengingatmu bukan untuk melihatmu menangis seperti ini… " Kaoru kembali menghela napas saat melihat Marie menangis dan menyeka air mata yang mengalir pada wajahnya itu.

"Lalu sekarang bagaimana… Kita terjatuh dan di bawah… " Marie menguatkan pelukannya pada Kaoru sambil melirik ke bawah.

"Tenang saja… " balas Kaoru dengan tenang. Pemuda itu seperti merapalkan sebuah mantra dan tubuhnya diselimuti aura hitam yang berkilatan. Tak lama muncul seperti lubang hitam yang sangat besar tepat di atas mereka dengan kilatan hitam yang saling menyambar seperti petir.

Dari dalam lubang hitam itu keluarlah sosok naga terbang berwarna hitam. Naga itu langsung terbang melesat ke bawah sehingga Marie dan Kaoru mendarat tepat di punggung naga itu.

"Long time no see Joker… " kata naga tersebut sambil melirik ke arah punggungnya.

"Yea… " balas Kaoru dengan singkat. Naga itu kini terbang menuju ke bawah.

.

Akhirnya mereka sudah sampai di bawah. Naga hitam itu menurunkan Marie dan Kaoru.

"Just call me again if you need anything to help… " kata sang naga yang kemudian kembali terbang ke atas dan masuk kembali ke dalam lubang hitam besar itu.

"Kita juga harus kembali, Marie… " kata Joker yang pada akhirnya keduanya mencari jalan untuk sampai ke atas. Fei dan Kuromizu pasti sedang sangat cemas saat ini.


Otogakure…

.

.

Sementara itu di Otogakure akhirnya Nathan dan kawan-kawan sampai juga di tempat Takashi, pengawal Jun berada sekarang. Melihat Takashi berdiri di pinggir jalan dengan wajah yang bingung, mereka segera turun dari mobil dan menghampirinya.

"Taka-san!" Jun orang pertama yang mendekati pria tersebut dan memanggilnya dari kejauhan sambil berlari ke arahnya.

"Tuan muda, Jun! Syukurlah kalian semua sudah datang!" balas sang pengawal yang menatap Jun dengan perasaan lega.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau disini hanya sendiri? Kemana Rei?" tanya Jun yang langsung memberondong sang pengawal dengan banyak pertanyaan.

"Kami ketahuan dan aku nyaris saja terbunuh… " Takashi menceritakan kejadian yang cukup mengerikan dan tak bisa terlupakan baginya. "Mereka membawa Rei pergi dan sepertinya mereka menuju ke pegunungan… " sambungnya sambil menatap ke ujung jalan yang menuju ke atas pegunungan.

"Baiklah, ayo cepat kita kesana!" sambar Nathan yang sudah tidak sabar lagi. Dia bergegas kembali masuk ke dalam mobil.

"Taka-san kau tunggu disini, sebentar lagi polisi Otogakure akan datang kemari. Kau bisa menjelaskan kejadiannya pada mereka." Jun menyuruh Takashi untuk berjaga di tempatnya sambil menunggu polisi Otogakure yang sedang berada dalam perjalanan untuk menjelaskan kejadiannya secara rinci.

"Baiklah, kalian semua hati-hati!" Taka mengangguk mengerti dan mematuhi apa yang dikatakan Jun. Sebelum mereka semua pergi, Taka meminta agar mereka semua berhati-hati.


In the forest…

.

.

"Marie! Kaoru! Kalian berdua tidak apa-apa?" Kuromizu dengan cepat menghampiri kedua temannya disusul oleh Fei yang mengikutinya dari belakang.

"Kami tidak apa-apa… " jawab Marie sambil tersenyum tipis.

"Ngomong-ngomong mahkluk apa barusan?" tanya Fei dengan takjub saat melihat naga besar berwarna hitam yang keluar masuk melewati lubang besar yang muncul di atas tadi.

"Itu adalah black knight dragon, salah satu dari guardian yang kumiliki," jawab Kaoru menjelaskan perihal mahkluk yang muncul itu.

"Jadi… Kau sudah ingat semuanya?" tanya Fei dengan penasaran. Dia lihat Kaoru sepertinya sudah bisa menggunakan kekuatannya apakah itu artinya dia sudah sepenuhnya ingat siapa dirinya.

"Tidak juga… Aku hanya mengingat Marie… Tapi masih belum sepenuhnya bisa kuingat… " jawab Kaoru yang kelihatannya masih sedikit bingung dan tersenyum canggung sambil mengangkat bahunya dengan cuek. "Kurasa aku akan segera mengingatnya… Mungkin kalau aku melihat festival itu semuanya akan menjadi jelas untukku… " katanya lagi dengan santai. Setelah itu mereka semua memutuskan untuk kembali ke kampus.

.

.

Sementara itu Jun dan kawan-kawan kini sedang mengejar Izky yang pergi menuju ke wilayah pegunungan. Mungkin mereka berniat untuk bersembunyi di wilayah yang terpencil. Kemudian para polisi Otogakure juga sudah tiba dan mendengarkan semua informasi dari pengawalnya Jun.

"Aku harap Rei dan Sasame baik-baik saja… " kata Serena dengan cemas sambil mengeratkan kepalan tangannya. Gadis itu terlihat begitu khawatir.

"Kita berdoa saja semoga mereka baik-baik saja… " sambar Nathan yang sedang menyetir di depan dengan serius dan berharap semoga keduanya dalam keadaan baik.

o0o

Anko's apartment…

.

.

Sedangkan di dalam apartemen tersebut Sakura merasa begitu gelisah. Entah mengapa gadis itu merasa tidak tenang, dia seperti merasakan akan adanya sesuatu hal yang buruk akan segera terjadi.

"Kau kenapa Sakura? Wajahmu terlihat resah?" tanya Tsunade yang menyadari sikap Sakura yang seperti mencemaskan sesuatu.

"Aku hanya merasa sedikit cemas saja… Mungkin aku terlalu tidak sabar untuk menunggu hari besok!" jawab Sakura yang sebenarnya dia sendiri juga sedang tidak yakin apakah benar rasa cemasnya itu karena dia yang sudah tidak sabar ingin melihat festival itu dan bertemu Sasori.

"Benarkah? Apa bukan karena pacarmu itu tidak membalas pesanmu?" sambar Anko setengah meledek Sakura. Tampak guru itu langsung menyeringai senang saat melihat wajah Sakura yang memerah seketika.

"A-Anko sensei jangan menggodaku! Sasori itu bukan pacarku!" balas Sakura yang langsung jadi salah tingkah. Anko semakin terkekeh melihat sikap Sakura yang jadi gelagapan itu. "Su-sudahlah, aku mau ke kamar saja, daripada disini diledek terus!" akhirnya Sakura memutuskan untuk pergi ke kamarnya.

.

.

Di dalam kamar Sakura langsung membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Sesaat tatapannya menerawang ke langit-langit atap, kemudian dia berbalik dan menatap ponsel yang masih berada di genggamannya. Gadis itu sedikit menghela napas saat melihat layar ponselnya kosong. Beberapa pesan yang dia kirim untuk Sasori belum dibalas oleh pemuda itu. Tak lama ponselnya bergetar dan ternyata ada panggilan masuk dari Sasori.

"Ha-hallo?" Sakura dengan cepat menerima panggilan tersebut.

"Sakura, maaf aku baru menghubungimu… Aku sedikit banyak urusan disini," balas Sasori yang langsung meminta maaf karena baru sempat menelpon Sakura.

"Tidak apa-apa… Yang jelas aku sekarang lega karena kau menelponku. Tadinya aku cemas sekali! Kupikir terjadi hal yang buruk padamu!" balas Sakura yang kini tengah mengembungkan pipinya karena kesal kalau pemuda itu sama sekali tidak mengabarinya dan membuatnya agak khawatir.

"Sakura… Kuminta padamu untuk segera meninggalkan Sunagakure secepatnya dan apapun yang terjadi jangan datang ke festival besok," kata Sasori secara mendadak dan membuat Sakura jadi bingung.

"Eh? Tapi kenapa? Aku ingin sekali melihatnya dan bisa- " Sakura tampaknya tidak mau menerima karena Sasori tidak menginginkannya datang pada acara tersebut. Tapi belum selesai gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Sasori sudah keburu menyela.

"Pokoknya jangan datang!" balas Sasori dengan cepat setengah membentak Sakura, membuat gadis itu tersentak kaget karena ini pertama kalinya Sasori membentaknya. "Aku tak ingin melihatmu… Makanya aku tak ingin kau datang. Maafkan aku, Sakura… " sambil menggigit bibirnya Sasori terpaksa harus mengucapkan kata-kata yang menyakitkan untuk Sakura. Setelah itu Sasori memutuskan komunikasi dengan Sakura.

"Tidak… Mungkin… Aku tidak percaya Sasori mengatakan hal itu… Pasti ada yang dia sembunyikan, aku harus mencari tau besok!" Sakura yang masih shock dengan perlakuan Sasori memutuskan untuk mencari tau, ada apa sebenarnya dengan Sasori, kenapa sikap pemuda itu tidak seperti yang biasanya.


Sunagakure University…

.

.

Marie dan yang lainnya kini sudah berada di halaman kampus dengan wajah yang kelihatan lelah tapi bercampur lega sekaligus.

"Marie, kau tadi terjatuh… Apa ada yang terluka?" Fei adalah orang pertama yang menanyakan keadaan Marie setelah sampai di kampus. Dia masih ingat betul kalau gadis itu terluka dan sekarang dia ingin memastikan keadaan Marie.

"Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menanyakan!" balas gadis itu dengan riang. Yah, luka yang dia alami rasa sakitnya langsung menghilang begitu saja ketika dia tau kalau Kaoru sudah benar-benar ingat pada dirinya lagi.

"Kalau begitu aku permisi dulu… " Kaoru tiba-tiba saja segera berpamitan dari sana. Hal ini tentu membuat Marie menjadi bingung dibuatnya. Beberapa saat yang lalu pemuda itu begitu mencemaskannya tapi kenapa sekarang dia malah terkesan cuek dan tak peduli padanya.

"Kaoru, kau mau kemana?" Marie langsung saja mencegah Kaoru yang sudah mau pergi dari sana.

"Benar! Kenapa tiba-tiba sikapmu jadi dingin begini? Harusnya kau menjaga Marie saat ini!" sambar Fei yang juga ikut geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap temannya yang begitu cepat.

Kaoru sempat menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Marie juga Fei, dan seketika pemuda itu tersenyum pada keduanya.

"Fei… Tolong jaga Marie untukku… " katanya secara tiba-tiba, setelah itu dia pergi dengan menyisakan sebuah tanda tanya besar atas perkataannya barusan. Fei dan Marie hanya bisa saling memandang dan Kuromizu mengangkat bahunya dengan pasrah.

.

.

Tak jauh setelah dia meninggalkan kampus, Kaoru bertemu kembali dengan Darui yang sudah muncul dihadapannya.

"Kurasa kau benar… Sudah seharusnya Marie melanjutkan kehidupannya tanpa aku… Dan aku juga harus bisa melupakannya… Ugh… Uhuk… " sepertinya Kaoru setuju dengan pendapat Darui mengenai hubungannya yang sangat mustahil untuk dilanjutkan meskipun keduanya memiliki perasaan yang sama.

"Kau tidak apa-apa? Ah, pasti racun itu bereaksi… " Darui dengan cepat menghampiri Kaoru yang terbatuk seperti menahan rasa sakit pada tubuhnya. Dia menyadari penyebab dari keadaan Kaoru seperti sekarang ini pasti karena racun dari bunga yang menempel pada tubuhnya.

"Dengarkan aku Joker… Kalau kau bisa melupakan Marie kau akan terbebas dari rasa sakit yang ditimbulkan dari racun itu… Selain itu racun tersebut malah bisa menjadi kekuatanmu!" kata Darui yang membujuk pemuda itu untuk melupakan Marie.

"Aku akan mencobanya… Tapi bukan karena aku menginginkan kekuatan, melainkan karena aku ingin Marie memiliki masa depan yang pasti… Aku sadar, tak baik baginya untuk mengharapkan orang yang sudah mati seperti aku ini… " balasnya sambil menghela napas dengan berat.

"Baguslah… Kalau begitu ayo kita pergi… " Darui akhirnya bisa bernapas dengan lega. Setidaknya pemuda itu jauh lebih dewasa dan mulai memikirkan masa depan untuk Marie, meskipun dia tau Marie pasti akan marah kalau mengetahui hal ini. Tapi dia yakin, suatu saat nanti Marie akan menyadari kalau semua ini demi kebaikannya.


Sementara itu Nathan dan yang lainnya kini berhasil mendekati mobil yang sedang dibawa oleh K. tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu langsung melesat tepat ke samping mobil tersebut dan menabrakkan mobilnya ke mobil yang sedang dikendalikan K dengan sangat keras, sehingga mobil yang berwarna hitam itu tergeser ke samping dan keluar dari jalur jalan.

Akhirnya Nathan berhasil menggulingkan mobil yang sedang dikendarai K ke samping, kemudian kedua mobil itu terperosok ke samping jalan. Melihat adanya kesempatan Rei langsung menyambar laptop yang sedang dipegang Izky, kemudian pemuda itu dengan cepat menarik Sasame keluar dari dalam mobil melalui kaca jendela yang ada di sebelah kanannya dan langsung lari masuk ke dalam rerimbunan pepohonan. Nathan dan yang lain juga segera keluar dan langsung menyusul Rei begitu melihat pemuda itu melarikan diri masuk ke dalam hutan. Tak berapa lama Izky dan yang lainnya juga keluar.

"Kurang ajar! Mereka benar-benar merusak semua usaha kita!" desis Nathan sambil menendang mobil yang sudah hancur itu.

"Aku akan segera mengirimkan orang untuk datang kemari sementara kalian kejar mereka semua!" kata K yang sepertinya bersiap-siap untuk memanggil bala bantuan.

"Baiklah, ayo ikut aku Raijin, Fujin!" tanpa banyak protes pemuda itu mengejar Rei dan kawan-kawan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam hutan. Tentu saja dia masuk dengan membawa peralatan dan senjata. Sementara itu K langsung menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk membantunya. Setelah itu dia juga ikut masuk mengejar ke dalam bersama dengan Manma.

Bagaimana dengan nasib mereka semua? Apakah Rei dan kawan-kawan dapat meloloskan diri dari kejaran Izky Cs? Apakah Sakura dapat menemukan jawaban atas semua kekhawatirannya? Bagaimana kelanjutan hubungan Kaoru dan Marie? Apakah pemuda itu berniat untuk menyerahkan Marie pada Fei?

TBC…


A/N : Akhir-akhir ini saia kebingungan menentukan judul per-chapternya karena kurang bisa konsentrasi. Maaf kalau jadi sering telat, saia lagi kurang bisa fokus. Saia gak bisa banyak komentar, yang jelas saia akan berusaha untuk menamatkan cerita ini yang kemungkinan tersissa 3-4 chapter lagi atau mungkin 2 chapter. Saia mau mengucapkan untuk semua pembaca yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini dan juga dukungannya serta semua masukannya.

.

.

"Thanks for reading".