"Barnes? I bring you some ice cream," kata Anna sambil mengetuk pintu kamar Bucky.

"Tidak dikunci," balas Bucky dari dalam. Anna masuk ke dalam dan ternyata Bucky sedang duduk di meja dekat jendela sambil membaca buku.

"Aku bawa cokelat, kopi, dan ini... rasa limau, siapa tahu kau mau coba," kata Anna tersenyum ramah.

"Sini saja," Bucky meminta Anna untuk duduk bersamanya di sofa. "Kau tidak perlu repot-repot begini," tambah Bucky setelah Anna duduk di sofa dan meletakkan semua es krim yang dibawanya.

"Ini hari Sabtu, Barnes. Kau tidak seharusnya sendirian di malam minggu."

Bucky tidak menyanggah perkataan Anna. Ia hanya tersenyum tipis lalu membuka es krim rasa cokelat pesanannya.

"Mau coba mencampurnya dengan rasa lain? Nih, coba ini," kata Anna sambil menyodorkan es krim limaunya.

"Rasanya agak asam, tapi kalau dicampur sama cokelat, rasanya unik."

Bucky mengambil satu sendok es krim limau dan mencampurnya dengan es krim cokelat yang sedang dipegangnya. Bucky langsung memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya setelah memasukkan campuran tersebut ke mulutnya. "Apa-apaan, Anna? Asam sekali!"

Anna tertawa, "Namanya juga rasa lime , Barnes."

" Leave my chocolate alone," Bucky ikut tertawa kecil.

" So , bagaimana pendapatmu tentang gedung ini?" tanya Anna.

" It's … really hi-tech . Rasanya aku ketinggalan banyak."

"Tenang saja, Steve pasti bisa membantumu. Aku dengar dia juga kesulitan pada awalnya," Anna tertawa kecil lagi.

" Yeah , lalu, semua perlengkapan di ruang kontrol… Aku tidak mengerti cara kerjanya. Maksudku, bagaimana kau menyentuh dan membentuk sesuatu yang terbuat dari hologram, tidak masuk akal," tambah Bucky.

Anna sempat tersenyum tipis sebelum menjawab, "Teknologi sekarang memang makin canggih, malah sampai ada beberapa hal yang memang sulit dimengerti. Tapi kita pun juga dituntut untuk lebih maju dari segala ancaman di luar sana. Stark-lah yang membuat segalanya mungkin."

"Dia tidak mau aku di sini."

" Yeah , aku tahu. Sebaiknya kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Suatu hari dia pasti akan mengerti. Stark memang keras kepala, tapi sebenarnya dia baik," Anna tersenyum lagi, namun Bucky hanya menatap diam es krim di tangannya, seperti sedang berpikir.

"Masih ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Anna dengan lembut. Ia tidak mau Bucky menganggapnya terlalu kepo . Mereka baru kenal berapa hari, ya kan?

"Mmm, kau dan Steve…," Bucky menghentikan kalimatnya. Tapi Anna cukup tahu apa yang ingin ditanyakan Bucky.

"Apa? Kau mau tahu kalau aku dan Steve ada apa-apanya?" tanya Anna langsung tanpa basa basi.

Bucky hanya mengangguk pelan.

" Gosh , apa itu yang kau dengar?"

Bucky mengangguk lagi.

"Kau sudah tanya Steve?"

"Dia tidak mengiyakan ataupun menyangkalnya."

"Hah? Tidak ada apa-apa antara aku dan Steve. Kita cuma teman. Sumpah deh," balas Anna.

"Tapi sepertinya dia menyukaimu," kata Bucky sambil mencuri pandang ke arah Anna. Bucky tidak perlu Wanda untuk memberitahunya kalau Anna jelas mulai kesal dengan pertanyaannya. Dalam hati Bucky mencemooh dirinya sendiri karena sudah berani membuka topik ini.

" Seriously? Kalau kau mau membicarakan hal ini, lebih baik aku keluar, Barnes," Anna langsung berdiri dari tempat duduknya.

Bucky kaget dengan reaksi Anna, namun dengan cepat ia meraih tangan teman barunya itu untuk mencegahnya pergi. "Ah, jangan pergi. Please … Maaf, aku sudah kelewatan. Tapi ku mohon, stay …"

Anna merasa ia mengalami deja vu. Reaksi Bucky yang seperti itu mengingatkannya akan reaksi Steve yang memintanya tinggal di ruang santai untuk menemaninya tidur beberapa waktu yang lalu.

"Oke. Tapi jangan ada pembicaraan tentang 'Steve dan Anna' lagi ya."

" I promise ," jawab Bucky dan Anna pun kembali duduk ke posisi semula.

Bucky terdiam. Ia tidak mau kata-kata selanjutnya yang terlontar dari mulutnya membuat Anna marah lagi sampai-sampai meninggalkannya sendiri. Mau tidak mau, Bucky mengakui dalam hati kalau ia cukup senang dan terhibur dengan kehadiran Anna. Anna pun sebenarnya tidak bermaksud untuk mengancam Bucky seperti barusan, namun ia merasa sudah bosan jika ditanya terus menerus tentang hubungannya dengan Steve.

"Kata Steve, kau cukup playboy ya, dulu di tahun 40an?," kata Anna untuk mencairkan suasana.

" What ? That punk ," Bucky lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

" Benar ya?" Anna nyengir lebar.

"Umm. Aku tidak pernah berpikir demikian sebelumnya. Namun Steve selalu menyebutku demikian, jadi ku rasa hal itu benar," jawab Bucky malu-malu.

" Anyone special back then?" tanya Anna lagi.

"Mmm, seingatku tidak ada. Aku ingat sebelum aku berangkat ke Inggris, aku mengajak Steve untuk double date . Tapi ia malah pergi untuk mendaftar jadi tentara untuk kesekian kalinya. Dasar Steve memang keras kepala. Tidak peduli aku berkata apa, ia tidak pernah menyerah untuk terus mencoba. Jadi,... sepertinya aku memang tidak punya pacar saat itu," jawab Bucky dengan senyum tipis.

Anna menggumamkan "oh" pelan.

"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tahu lebih banyak mengenai dirimu. Masa kecilmu mungkin?" ujar Bucky.

" Well, let's see … Kau tentu menyadari kalau aku tidak lahir di US kan?"

"Iya. Terkadang aku bisa mendengarmu berbicara dengan aksen yang lain," jawab Bucky dan Anna tertawa kecil.

"Ayahku lahir di Atlanta, beliau bertemu dengan mom saat perjalanan dinas keliling Asia Tenggara. Mereka menikah di sana dan dad memutuskan untuk pindah bersama mom . Sampai aku berumur 9 tahun, atau 10 ya, aku lupa tepatnya, ada kerusuhan besar di negara asalku. Ayah langsung membawa kami ke Atlanta lalu menetap di sana. Aku menyelesaikan pendidikanku, lalu bergabung dengan SHIELD. Sebenarnya, aku tidak ingat terlalu banyak tentang masa kecilku. Namun mom and dad sering membawaku jalan-jalan. Aku tahu itu karena di rumah ada sekitar 20 lebih album foto," Anna tertawa kecil.

"Mereka masih di Atlanta?"

"Iya. Tapi belakangan ini mereka sering liburan. Sesekali mereka kembali ke negara mom , namun beliau tidak mau tinggal lama-lama di sana. Mungkin tempat itu membangkitkan kenangan yang buruk. Aku sendiri belum pernah kembali kesana. Tapi dari berita yang ku dengar, keadaannya masih… complicated . Mom bilang kalau mau kesana, lebih baik aku menetap di Bali saja. Lebih indah dan lebih damai."

"Ah, aku pernah mendengar tentang pulau itu. Seems like a perfect place for a long holiday ."

" I know right . Mungkin suatu hari kita bisa kesana. Tidak ada salahnya bermimpi kan?" kata Anna sambil tersenyum.

Bucky terdiam sesaat, namun karena tidak mau merusak suasana, ia pun menjawab dengan senyum tipis, "Iya. Boleh juga."

Sebenarnya Anna dan Bucky sama-sama tahu. Kemungkinan Bucky untuk kembali ke dunia luar sana hampir mustahil jika melihat kembali apa yang sudah dilakukan oleh Winter Soldier. Namun Anna ingin Bucky tetap memiliki harapan, tidak peduli seberapa kecilnya. Hal terakhir yang Anna inginkan adalah jika Bucky sampai putus asa dan menyerah. Steve juga pasti berpikir demikian.

Anna mengalihkan topik. Ia mulai bercerita tentang teman-temannya di SHIELD dan bagaimana akhirnya ia bisa berakhir di Avengers Tower. Misi yang tidak berjalan dengan seharusnya sudah mengubah hidup Anna. Raut wajah Bucky terlihat langsung berubah begitu ia mendengar Anna menyebut HYDRA. Ada gejolak amarah yang berkecamuk di dalam dirinya. Tanpa sadar, ia mengepalkan kedua tangannya.

"Mereka… bisa melakukan hal-hal keji yang tidak terbayangkan sebelumnya," kata Bucky pelan. Anna yang menyadari perubahan drastis pada lawan bicaranya harus bertindak cepat untuk membuatnya tenang kembali. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk malam ini, Anna tidak akan memaafkan dirinya karena sudah bertindak ceroboh dengan menyebut organisasi terkutuk itu di hadapan Bucky.

"Hei, Barnes, … HYDRA sudah tidak ada, semuanya sudah lewat, sudah selesai, tidak ada lagi yang bisa menyakitimu di sini," kata Anna sambil mendekatkan diri ke samping Bucky untuk menggenggam tangannya. " Please …" Anna memohon, "Maaf, aku yang salah. Kau tenang ya," tambah Anna. Pelan-pelan Bucky melepaskan kepalan tangannya.

"Lebih baik kau pergi, Anna," Bucky tiba-tiba berdiri. Ia tidak sanggup menatap Anna, tidak setelah ia hampir kehilangan kendali seperti tadi. Anna menghela nafas sepelan mungkin sebelum mendekati Bucky.

" Don't push me away , Barnes. Jangan pernah minta kami untuk menjauh. Tidak peduli seberapa sulitnya, kami di sini akan membantumu. I promise ," pinta Anna, sambil berdiri di belakang pria itu. Rasa takut dan iba bercampur jadi satu dalam diri Anna. Pikirannya terus menerus berandai-andai kalau sampai ia harus menghadapi Winter Soldier sendirian di tempat ini. Namun di sisi lain, Anna tidak mau menyerah begitu saja. Bucky membutuhkan seseorang yang tidak hanya sekedar ada di sampingnya, tapi juga peduli dengan kondisi mentalnya.

Pelan-pelan Bucky berpaling ke arah Anna dan menatapnya. Tidak. Ia tidak bisa. "Kumohon, pergilah. Aku tidak ingin membuatmu terluka."

"Kau tidak akan melakukannya, Barnes. Kau sudah berhasil sejauh ini. Kau bisa mengendalikannya."

"Yuk, duduk," pelan-pelan Anna menarik tangan Bucky untuk mengikutinya ke sofa.

"Kau mungkin mau makan ini lagi," Anna menyodorkan es krim cokelat yang sudah hampir setengah dimakan Bucky, "Katanya cokelat bisa memperbaiki mood yang buruk," tambah Anna lagi. Bucky yang awalnya ragu-ragu akhirnya mau menerima es krim tersebut dan mulai memakannya.

Beberapa menit berlalu, Bucky hampir menghabiskan es krimnya tanpa bicara sepatah katapun pada Anna. Akhirnya Anna memberanikan diri untuk bertanya sambil bercanda, "Kau mau nonton film? Rasanya kita tidak usah mengobrol lebih panjang lagi ya, it didn't end well for both of us. " Dalam hatinya, ia memohon agar Bucky mau menanggapi dirinya yang sudah hampir putus asa. Pleaseee.

Betapa senangnya Anna ketika mendengar Bucky berkata, "Kemarin Steve membuatku menonton 6 film non-stop. Um, apa ya judulnya... Katanya masih ada 2 film kelanjutannya, tapi belum sempat nonton sebelum dia pergi."

"Star Wars ya?"

"O iya, itu dia," jawab Bucky semangat. Steve kehabisan pilihan ya, batin Anna.

"Kita bisa nonton sekarang. FYI, Steve sudah nonton film itu ratusan kali lho, jadi ku rasa dia nggak akan keberatan kalau kau menontonnya bersamaku sekarang," Anna tertawa kecil.

Bucky tidak dapat menahan tawa mendengarnya lalu menjawab, "Oke, boleh deh."

Setelah meminta FRIDAY untuk memutar Star Wars VII, film pun dimulai. Sepanjang film, Anna tidak terlalu berniat untuk menontonnya. Ia lebih tertarik pada ekspresi Bucky. Beberapa kali Anna sukses mencuri-curi pandang ke arah pria itu. Sulit dipercaya kalau orang yang duduk di sampingnya sekarang ini adalah orang yang sukses menjatuhkan SHIELD beberapa tahun yang lalu. Orang yang baru saja menganggap dirinya adalah monster beberapa saat yang lalu. Star Wars VII, dengan special effect yang jauh lebih mutakhir dari film-film sebelumnya, sungguh membuat James Buchanan Barnes terpukau. Anna dapat melihat kalau Bucky sungguh menikmati film tersebut.

"Wah, aku tidak mengira filmnya jadi makin seru," kata Bucky setelah film berakhir. Bucky mengalihkan pandangan ke arah Anna. Ternyata wanita itu sudah tertidur dengan bersandar di lengan sofa. Tanpa sadar, Bucky tersenyum. Ia mencoba membangunkan Anna, namun tampaknya Anna sudah terlalu pulas. Kemudian tanpa ragu-ragu, Bucky menggendong Anna dan memindahkannya ke ranjang.

" Thank you, doll ," bisik Bucky setelah menyelimuti Anna, lalu ia mengambil selimut cadangan di lemari dan berjalan keluar dari kamar. Ia juga membawa es krim yang tersisa untuk disimpan kembali di kulkas ruang makan. Sekembalinya ke lantai kamarnya, Bucky langsung merebahkan diri di sofa yang terletak di seberang kamarnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Sepertinya, malam ini ia tidak akan diganggu mimpi buruk.