Lampu-lampu blitz kamera menghujani Sasuke secara bersamaan ketika lelaki itu tampil di hadapan para wartawan yang telah menunggu di depan gedung TJO Entertainment, label yang menaungi Sasuke.
Sasuke menarik nafas dan menghembuskan perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Meski sudah beberapa kali melakukan konferensi pers sendiri, Sasuke masih merasa tidak nyaman dengan sorotan kameran para wartawan yang ditujukan padanya. Sasuke tak pernah merasa nyaman dengan dirinya yang menjadi pusat sorotan, karena itulah ia merasa senang karena berada di posisi belakang yang paling jauh dari para penonton.
Sebetulnya Sasuke tak ingin menghadapi wartawan sendirian seperti saat ini. Ia masih merasa lelah setelah beberapa kali konferensi pers dan mendapat pertanyaaan-pertanyaan mengenai banyak hal.
Namun para wartawan itu begitu keras kepala dan menunggu sepanjang hari di depan TJO Entertaiment. Mereka bahkan menguntit Sasuke sepanjang hari dan memaksa Sasuke memberi komentar terkait keputusan pengadilan yang menjadikan direktur T Company sebagai tersangka.
Sasuke tak ingin para wartawan itu bertindak lebih jauh dan menganggu ibunya maupun tetangga-tetangganya sehingga ia memutuskan untuk menemui para wartawan itu.
"Shu-san, bagaimana perasaanmu setelah hasil persidangan terhadap direktur T Company?" tanya salah seorang wartawan.
"Seperti apa reaksi ibumu ketika mengetahuinya?" tanya wartawan lainnya.
"Kau benar-benar merupakan korban fitnah dari direktur T Company. Bagaimana perasaanmu terhadap para fans yang mendukungmu, Shu-san?"
Beberapa wartawan menanyakan beberapa pertanyaan yang serupa dan membuat Sasuke mulai merasa pusing karena kewalahan.
Sasuke segera membuka mulutnya dan para wartawan itu seketika berhenti bertanya dan kini mulai sibuk mengambil gambar, dan ada pula yang mengambil video.
"Sejujurnya aku merasa lega karena bukti-bukti berhasil ditemukan. Aku ingin berterima kasih pada semua orang yang telah membantuku selama ini. Aku berterima kasih pada direktur maupun para fans yang tetap percaya padaku dan mendukungku setiap saat."
Sasuke meneguk ludah sejenak. Sampai sekarang, ia masih tidak nyaman berbicara panjang lebar begini. Tetapi ia harus melakukannya dan berharap ini adalah yang terakhir.
"Aku juga berterima kasih pada para personil Black Ash, teman, maupun keluargaku yang telah bersama denganku dan mendukungku di titik terendah dalam hidupku. Dan khususnya aku ingin berterima kasih dengan seseorang yang telah membantuku sehingga kasus itu bisa cepat selesai. Aku bahkan tidak pernah bertemu denganmu dan aku juga tidak mengenalmu, tapi kuharap aku bisa bertemu denganmu untuk berterima kasih secara langsung. Atau setidaknya aku ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih atau mengucapkan terima kasih padamu melalui pesan padamu."
Sasuke dengan sengaja mengatakan hal itu dan berharap agar sang hacker terpancing sehingga bersedia menemuinya atau setidaknya menghubunginya.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau berniat membantuku. Aku sungguh berterima kasih padamu."
Sasuke kembali mengatakan hal itu untuk menunjukkan jika ia berterima kasih dengan sang hacker yang bahkan membantu pihak kepolisian untuk mengungkap berbagai bukti mengenai kejahatan yang dilakukan direktur T Company. Seandainya sang hacker ternyata tak terpancing, maka ia telah berterima kasih dengan orang itu saat ini.
"Seseorang? Siapa yang kau maksud, Shu-san? Apa yang kau maksud adalah orang yang membantu mengungkap kejahatan yang dilakukan direktur T Company?" tanya salah seorang wartawan.
"Hn. Aku juga bersimpati dengan keluarga korban 'pemusnahan' yang dilakukan direktur T Company."
Salah seorang wartawan kembali bertanya, "Bagaimana dengan kelanjutan kariermu di dunia hiburan? Apakah kau akan segera kembali beraktifitas dengan Black Ash? Atau kau memiliki rencana lain?"
Sasuke menjawab, "Kelanjutan karierku bergantung pada keputusan para direktur, juga para fans. Aku menerima keputusan apapun yang terbaik bagi Black Ash dan juga para fans. Dan saat ini aku ingin mengumumkan jika aku telah memiliki kekasih."
Ucapan Sasuke seketika menimbulkan kegaduhan. Para wartawan seketika mengambil lebih banyak foto dan mulai bertanya pada Sasuke.
"Sejak kapan kalian menjadi sepasang kekasih?"
"Dimana kalian bertemu?"
"Siapakah kekasihmu? Apakah dia berasal dari kalangan artis?"
Sasuke sengaja memberitahu hal ini karena ia tak berencana menyembunyikan hubungannya dengan Sakura. Ia tak ingin Sakura ikut menerima hujatan dari para fans atau menjalani hubungan diam-diam yang menyiksa.
Sasuke tersenyum tipis secara refleks ketika membayangkan wajah Sakura yang mendadak terlintas di benaknya saat membahas wanita itu dan berkata, "Mohon dukungannya."
Sasuke segera menundukkan kepala dan berbalik badan untuk masuk ke dalam gedung TJO Entertainment tanpa menjawab satupun pertanyaan para wartawan yang kini mencecarnya dengan lebih banyak pertanyaan.
.
.
Kakashi meringis dan menatap Sasuke dengan tajam tepat ketika lelaki itu masuk ke dalam gedung label. Ia mengacak rambutnya karena frustasi dengan Sasuke yang bertindak seenaknya.
"Kenapa kau mengumumkan kalau kau punya kekasih?! Padahal kita baru saja berhasil menyelesaikan kasusmu dan memperbaiki image-mu dihadapan para fans."
Sasuke menatap Kakashi dan berkata, "Apakah aku masih harus menjaga image ketika aku sudah berusaha keras dan masih menjadi korban fitnah, hn?"
Kakashi tak mengerti mengapa Sasuke bertindak seenaknya begini. Jangan-jangan lelaki itu mulai bertindak impulsif karena cinta.
"Aku tahu kau sedang jatuh cinta. Tapi setidaknya pikirkan kariermu. Padahal direktur baru saja menyuruhku untuk memanggilmu dan membahas kegiatanmu bersama Black Ash."
Sasuke tidak menjawab dan Kakashi kembai berkata, "Kau tahu, sekalipun kau sudah berusaha keras menjaga image, tetap saja kau bisa menjadi korban fitnah. Apalagi kalau kau bertindak seenaknya begini."
Sasuke tahu jika apa yang ia katakan akan menyebabkan masalah bagi label, juga kariernya. Namun kini ia tak lagi peduli. Setelah berjuang keras bertahun-tahun, ia pikir ini adalah saatnya untuk mengejar kebahagiaannya. Ia bahkan tak peduli dengan para fans yang hanya mengagumi penampilannya dan ia tidak mau hidup dengan memenuhi ekspektasi para fans yang hanya menyukai sosok khayalaan akan dirinya, bukan dirinya yang sesungguhnya.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau bertindak begitu? Setidaknya diskusikan hal ini dulu padaku sebelum memutuskan mengumumkan hubunganmu dengan kekasihmu. Aduh… aku harus bagaimana menghadapi para direktur?" Kakashi kembali meringis. Ia takut jika para direktur menilainya sebagai manajer yang tidak kompeten dan ia akan kehilangan pekerjaannya.
Sasuke menepuk bahu Kakashi dan berkata, "Aku akan mengurus semuanya. Akan kupastikan kau tidak kehilangan pekerjaan."
Kakashi hanya diam dan ia segera menekan tombol lift untuk menuju ruangan rapat dimana para direktur telah menunggu. Lift segera terbuka dan ia segera masuk ke dalam bersama Sasuke.
Lift itu mulai bergerak naik dan jantung Kakashi berdebar keras. Ia membayangkan dirinya akan mendapat makian dari para direktur terkait kinerjanya.
Pintu lift terbuka dan ia menarik nafas serta menghembuskan perlahan, mempersiapkan diri menghadapi para direktur yang telah menunggunya di dalam ruang rapat.
"Selamat siang," ucap Kakashi dengan suara parau karena gugup.
Kakashi menundukkan kepala, begitupun dengan Sasuke. Mereka berdua memutuskan duduk di kursi kosong yang berdampingan dan bersebrangan dengan Orochimaru, Jiraiya dan Tsunade. Wajah Kakashi terlihat tegang, berbeda dengan Sasuke yang tampak santai.
"Aku sudah melihatmu yang menjawab pertanyaan para wartawan melalui CCTV di depan gedung," ujar Tsunade tanpa berbasa-basi.
"Maaf. Aku melakukannya tanpa memberitahu siapapun sebelumnya," ucap Sasuke.
"Kenapa harus minta maaf? Itu keputusanmu, kan? Aku tidak keberatan walaupun aku lebih suka jika kau memberitahu kami terlebih dulu," jawab Tsunade seraya tersenyum.
Jiraiya menatap Sasuke dan berkata, "Yah, sejujurnya aku tidak tahu seperti apa reaksi para fansmu terhadapmu atau Black Ash. Menurutku, setidaknya lebih baik kau jujur ketimbang kau menikah diam-diam dan membuat fansmu semakin kecewa. Aku tidak mau bawahanku berakhir seperti aku, kecuali kalau kau seperti si Orochi ini."
Jiraiya tersenyum miris di akhir kalimat. Ia berpikir jika bandnya telah dikutuk karena tidak ada satupun dari anggota band mereka yang memiliki kehidupan percintaan yang berakhir bahagia meski usia. Dan, mantan anggota band mereka, telah meninggal sebelum sempat menikah dengan Tsunade. Sedangkan Tsunade sendiri patah hati dan memutuskan membesarkan keponakan tunangannya tanpa menikah dengan siapapun. Orochimaru adalah seorang aseksual. Sementara ia sendiri mencintai Tsunade selama bertahun-tahun meski wanita itu tak pernah meliriknya, sehingga ia berakhir dengan tetap melajang.
Tak ada satupun anggota band Jiraiya yang menikah meski sudah berusia lima puluhan, dan sejauh ini juga tak ada satupun artis di bawah manajemen perusahaan mereka yang dikabarkan memiliki kekasih sehingga muncul rumor jika artis manapun yang berada di bawah manajemen TJO Entertainment juga mendapat kutukan yang sama dengan para direktur perusahaan mereka.
Karena itulah Jiraiya sangat mendukung tindakan Sasuke karena berpikir kalau Sasuke mungkin saja bisa menepis rumor tersebut.
Orochimaru hanya mendengus jengkel mendengar ucapan Jiraiya. Yah, sebagai pria dia memang cukup eksentrik. Lelaki itu memiliki rambut panjang dan sering berpakaian seperti wanita saat masih aktif dalam band. Tapi ia merasa dirinya jauh lebih baik ketimbang Jiraiya yang sangat cabul dan berusaha mencari rumah bordil setiap kali band mereka mengadakan tur.
"Kurasa para pemegang saham akan marah. Tapi menurutku Black Ash bukan band rookie, dan seharusnya fans bisa menerima jika idol mereka yang merupakan lelaki dewasa berusia dua puluh lima tahun memiliki kekasih. Itu hal yang normal," sahut Orochimaru.
"Berarti kau tidak normal, Orochi-kun. Kau tidak pernah punya kekasih, padahal umurmu lima puluh," ujar Jiraiya yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Orochimaru.
Tsunade merasa malu dengan sikap rekannya yang sangat tidak profesional. Untungnya rekan-rekannya masih bisa menahan diri ketika sedang rapat bersama para pemegang saham dengan bersikap profesional. Jika tidak, perusahaannya tidak akan berhasil bertahan selama lebih dari dua puluh tahun.
Kakashi merasa lega. Ia sudah bekerja bertahun-tahun di perusahaan ini dan menyadari jika situasi biasanya baik-baik saja jika para direktur tidak bersikap serius.
Tsunade menyadari jika sebaiknya ia segera mengakhiri pertemuan sebelum Jiraiya semakin tidak terkontrol. Ia segera berkata, "Kami sepakat kalau kau bisa tetap beraktivitas bersama Black Ash saat ini hingga kami mendapat informasi terbaru terkait reaksi para penggemar mengenai pengumuman mendadakmu."
"Terima kasih," ucap Sasuke seraya menundukkan kepala.
"Kau boleh pergi sekarang. Beristirahatlah bersama para anggota bandmu," ujar Tsunade.
Sasuke segera bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan. Ia berharap agar tindakan impulsif yang diambilnya tak akan menyebabkan masalah bagi dirinya maupun orang lain di sekitarnya.
.
.
Sakura benar-benar terkejut ketika ia membaca berita online di aplikasi Lime Today. Para wartawan begitu bersemangat memberitakan mengenai Sasuke yang mengumumkan dirinya memiliki kekasih.
Setahunya Sasuke bukanlah orang yang bertindak tanpa berpikir panjang seperti ini. Apakah berita kali ini adalah hoaks?
Sakura menoleh ketika sosok lelaki yang ditunggunya kini berjalan ke arahnya dan ia tersenyum pada sang kekasih.
Kali ini Sasuke dengan sengaja kembali memilih utuk bertemu di salah satu restoran yang berada di hotel bintang lima dengan alasan privasi. Seharusnya tidak akan ada fans yang menganggu jika mereka bertemu di hotel bintang lima.
"Sudah menunggu lama, hn?"
Sakura tersenyum. Jika biasanya Sasuke yang menunggunya, kali ini ia lah yang menunggu lelaki itu.
"Tidak terlalu."
"Sudah pesan makanan?"
Sakura menggelengkan kepala, "Belum. Aku menunggumu datang sebelum memesan makanan."
Sasuke menatap jam yang telah menunjukkan pukul setengah satu siang. Ia terlambat untuk bertemu Sakura karena urusan bersama Kakashi dan para direktur sehingga gadis itu menunggunya selama tiga puluh menit atau mungkin lebih.
"Lain kali pesan saja walaupun aku belum datang."
"Bagaimana kalau aku memesan semua menu yang mahal di restoran?" goda Sakura.
Sasuke yakin jika Sakura tak akan berani melakukannya. Gadis itu bahkan mengomelinya karena mengajaknya kencan di restoran mahal dan bersikeras untuk sesekali membayar atau setidaknya membayar bagiannya. Dan pada akhirnya Sakura akan memesan makanan termurah yang tertera di menu.
"Lakukan saja."
"Aku akan benar-benar melakukannya di kencan berikutnya."
Sasuke tersenyum dan kembali meletakkan kedua jarinya di kening Sakura, hal yang begitu sering dilakukannya akhir-akhir ini, "Kau pasti tak akan bisa melakukannya."
Sakura mendengus. Sasuke bahkan menyadarinya sekalipun ia berusaha terdengar meyakinkan.
Sasuke melirik menu yang tersaji di hadapannya dan segera mengangkat tangan untuk memanggil pelayan. Seorang pelayan segera menghampiri mereka.
"Aku ingin pesan mushroom soup dan margherita pizza serta jus tomat," ucap Sasuke seraya menatap Sakura yang sedang melirik menu.
Sakura meringis saat mendengar Sasuke memesan pizza margherita karena pizza jenis itu yang memiliki rasa tomat paling kuat dibanding jenis lain.
"Aku pesan bacon wrapped chicken dan elderflower sour mocktail."
Pelayan segera mengulang pesanan dan meninggalkan meja sesudahnya. Sakura menatap Sasuke dan berkata, "Lihat, kali ini aku pesan yang mahal, kan?"
"Pasti setelah ini kau berniat membayar pesananmu, hn?"
Sakura terbelalak sesaat dan bertanya, "Mengerikan. Bagaimana bisa kau membaca pikiranku?"
"Kau mudah ditebak."
Sakura mengerucutkan bibir karena jengkel, dan Sasuke menyeringai karena sikap Sakura yang menggemaskan. Ia bahkan mulai mengacak rambut gadis itu.
"Hentikan! Kau malah membuat rambutku berantakan."
"Bukan urusanku."
"Dasar seenaknya saja."
Sasuke berhenti mengacak rambut Sakura dan kini ia merapikan rambut gadis itu dengan tangannya, membuat wajah Sakura memerah karena sentuhan lelaki itu di kepalanya lagi dan lagi.
"Omong-omong, kau tidak benar-benar mengaku kalau kau sudah punya pacar, kan? Aku menemukan berita di internet kalau kau mengaku sudah punya kekasih."
"Itu sungguhan, Sakura."
Sakura meringis dan menepuk keningnya, "Aduh. Kenapa kau bertindak seenaknya begitu, sih? Padahal biasanya kau tidak pernah begini selama aku mengenalmu. Kau sudah memikrikan konsekuensinya?"
"Hn."
"Lalu kenapa kau melakukannya?"
"Aku ingin orang-orang mengetahuinya."
"Padahal aku sama sekali tidak keberatan kalau kau ingin merahasiakannya. Aku mengerti jika menjalin hubungan dengan orang sepertimu berbeda dibandingkan jika aku menjadi kekasih orang yang bukan artis."
"Aku tidak ingin melakukannya."
Sakura menghembuskan nafas dan menatap Sasuke dengan khawatir, "Kuharap kariermu baik-baik saja. Aku takut para fans bertindak seperti waktu itu dan membuat Mikoto-basan khawatir."
Sasuke menatap kekasihnya dan berbicara dengan nada yang lebih lembut, "Bukankah kau menyuruhku untuk mengejar kebahagiaanku? Dan inilah yang kulakukan."
Sakura menyadari maksud ucapan Sasuke dan menyadari jika dirinya adalah kebahagiaan yang dimaksud Sasuke. Dan ia tersenyum pada lelaki itu.
-The End-
Author's Note :
Makasih buat kalian yang udah baca fanfict ini dari awal sampai akhir. Beberapa chapter belakangan ini mungkin mulai terasa monoton, sejujurnya aku juga merasa begitu.
Aku berterima kasih buat vote & comment kalian yang jadi penyemangat buat update fanfict ini.
Aku juga berterima kasih buat para pembaca yang selalu komentar setiap ada kesalahan, jadinya bisa kuperbaiki.
Mengenai epilogue, bakal di update secepatnya. Dan selanjutnya aku bakal fokus untuk menyelesaikan fanfict terakhir dari seri tetralogi 4 musim, yakni Melody of Spring. Mohon kritik & saran untuk fanfict baruku.
