Disclaimer: Kuroko no Basuke bukanlah milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi

Warning: AU, Slash, OOC, OC, typo, etc

Rating: M

Pairing: Akakuro

Genre: Adventure, Supernatural


THE EMPEROR

By

Sky


Kedua belas penjaga gerbang Mistis adalah dua belas makhluk Celestial yang juga merupakan ciptaan kaisar pertama untuk melindungi dunia dari serangan makhluk-makhluk dunia supernatural yang mencoba untuk menyerang manusia, mereka menjaga kedua belas gerbang mistis yang ada dan tidak membiarkan siapapun untuk masuk maupun keluar sesuai dengan perjanjian kuno beribu-ribu tahun yang lalu, kecuali bila mereka memang memiliki kunci khusus seperti yang dimiliki oleh Klan naga ungu. Menurut cerita yang tertera dari jurnal milik salah satu ksatria sang kaisar, mereka diciptakan dari energi terakhir sang kaisar bermarga Hiwatari itu dan diberikan tugas-tugas yang sangat berat dalam kurun waktu yang lama. Meski sang kaisar pertama tidak bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan kedua belas makhluk Celestial itu secara lama karena kehidupan terakhirnya ia berikan pada mereka, tapi ia sangat mencintai kedua belas penjaga seperti seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, sampai maut pun menjemputnya dan menyegel tugas kedua belasnya menjadi nyata. Sejak kematian itu, kedua belas makhluk Celestial tersebut menghilang untuk kembali ke tempat yang telah ditentukan untuk melaksanakan tugasnya, menjaga dua belas gerbang yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia supernatural, sampai sebuah kejadian yang mengubah kehidupan pun terjadi, dimana kedua belas sang makhluk ciptaan tiba-tiba lenyap dan tidak lagi berada di tempat yang semestinya. Menghilangnya mereka dari gerbang yang seharusnya mereka jaga tentu membuat keseimbangan yang sebelumnya tercipta menjadi berantakan, membuat beberapa makhluk supernatural memasuki dunia manusia dan menimbulkan kekacauan yang secara terang-terangan menyerang manusia.

Dari legenda yang diturunkan secara turun temurun sejak ribuan tahun yang lalu, para hunter mengetahui kalau kedua belas penjaga gerbang mistis itu memiliki nama sesuai dengan kedua belas zodiak nyata yang digunakan dalam ilmu astrologi, bagaimana sang kaisar pertama menamai mereka dengan nama zodiak dan bagaimana ia juga menciptakan makhluk kuat tersebut melalui energinya masih menjadi rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali sang kaisar pertama tentunya, yang mana rahasia tersebut dibawanya ke liang kubur. Namun, bukan berarti para hunter berhenti untuk menguak misteri kekuatan tersebut. Manusia itu memang menarik, mereka memiliki rasa keingintahuan yang begitu besar sehingga pertanyaan singkat maupun besar seperti penciptaan kedua belas makhluk Celestial pun terus diperdebatkan dan diselidiki sampai mereka semua menemukan jawaban yang memuaskan.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini sejak menghilangnya kedua belas penjaga gerbang mistis 100 tahun yang lalu, baru empat penjaga gerbang mistis yang terlihat di muka bumi. Dan mereka pun muncul saat konflik antara Black Lily dan Kiseki no Sedai terjadi dan berlangsung secara berkepanjangan seperti ini sampai hampir hancurnya kota Tokyo, entah apa yang memicu beberapa muncul di antara kedua grup tersebut juga masih menjadi tanda tanya. Sagitarius, Virgo, Pisces, dan Scorpio adalah keempat penjaga gerbang yang berhasil dilihat serta berhasil disegel oleh kedua belah pihak. Namun, pertanyaan semua orang mengenai fenomena ini adalah, mengapa mereka muncul secara terpisah dan kenapa baru muncul ketika konflik dua grup itu terjadi juga masih belum terjawab, bahkan orang-orang jenius layaknya Akashi Seijuurou, Imayoshi Souichi, dan yang lainnya pun tidak mampu menjawab teka-teki ini.

Gemini tertawa kecil dan penuh akan kepuasan melihat drama yang terjadi di muka bumi yang harusnya ia jaga seperti yang diperintahkan oleh sang 'ayah', tapi ia cukup bosan harus berada di satu tempat yang sama selama ribuan tahun lamanya, dan yang bisa menemani kebosanannya itu tidak lain adalah belahan jiwanya yang sekarang ini tidak tahu tengah berjalan-jalan ke mana. Dan dua orang Gemini yang memiliki jiwa penuh akan keusilan dan disatukan dalam tempat yang sama, maka hal itu tidak akan menjadi hal yang menarik kecuali keributan belaka.

Sang penjaga mistis yang mengambil wujud seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dengan rambut berwarna pirang keemasan serta mata secerah warna emerald itu pun melayang-layang singkat di langit, tubuhnya yang berwarna biru langit itu tentu memudahkan dirinya dan belahan jiwanya tersebut untuk menyamar dan berbaur dengan langit tanpa orang lain ketahui, selain itu hanya beberapa orang tertentu saja yang bisa melihat kedua Gemini.

Perhatian dari Gemini pun teralih ketika ia mendengar suara tawa dari sang belahan jiwa, merasa penasaran dengan apa yang bisa membuat belahan jiwanya itu tertawa tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak sang Gemini, sehingga ia pun terbang melayang menuju ke arah sang belahan jiwa berada untuk melihat akan apa yang terjadi. Rasanya begitu membosankan di sini, ia berharap dirinya bisa bertemu dengan saudara-saudaranya, mungkin saja dengan begitu kebosanan yang melanda dirinya bisa hilang dengan mudah. Terutama bila ia bertemu dengan Leo maka kebosanannya akan selesai, sebab bagaimana pun juga Leo adalah satu-satunya saudara Gemini yang menyenangkan untuk dikerjai, terlebih ia masih ingin menghajar bokong Leo karena sang Celestial itu berani-beraninya mendahului Gemini dan belahan jiwanya untuk berpamitan dengan sang 'ayah' sebelum laki-laki itu pergi dari dunia ini untuk melanjutkan petualangan terbesar di kehidupan selanjutnya. Dendam kesumat Gemini terhadap Leo adalah mutlak, dan ia akan mengambil kesempatan apapun untuk membalas dendam pada 'adiknya' tersebut.

Perhatian dari Gemini teralihkan lagi untuk yang kedua kalinya pada malam itu, hal ini dikarenakan ia mendengar sebuah suara yang begitu merdu muncul dari balik bukit yang baru saja ia lalui. Sebuah suara biola yang digesek itu terdengar begitu merdu dan sedikit ada perasaan melankolis yang menyertainya, dan tanpa sadar sebagian hati yang Gemini miliki bergetar begitu hebat, rasanya seperti ia begitu mengenal senandung serta musik kecil yang dimainkan lewat dawai dari sang biola, sebuah melodi yang dulu sempat dimainkan ketika orang-orang mengawal sang ayah menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Baik Gemini mauapun belahan jiwanya mengenal lagu ini adalah lagu ciptaan sang kaisar pertama, lagu pengiring dan lagu penuh kerinduan kepada keluarganya.

Suara yang memanggil namanya dan belahan jiwanya itu bertambah semakin keras, dan tanpa sadar gerakan Gemini yang awalnya ingin menuju ke tempat sang belahan jiwa pun langsung berbalik menuju ke balik bukit yang ada di sana, menuju ke arah sumber melodi yang berasa dari gesekan biola yang dimainkan oleh seseorang itu.

Sebuah energi yang cukup besar pun muncul dari arah belakang, seketika itu pula dengan dirinya yang masih mengambang di udara pun Gemini dapat melihat sang belahan jiwa terbang mengikuti alunan suara biola tersebut, tepat di belakangnya. Sang belahan jiwa adalah Gemini juga, namun ia tidaklah mengambil wujud seperti anak laki-laki namun sebagai seorang anak perempuan dengan perawakan serupa dengan sosok laki-lakinya, dan kedua Gemini yang merupakan penjaga dari gerbang mistis di pusat Bumi itupun saling terbang beriringan untuk menuju ke arah sumber suara tadi.

Baik Gemini dan belahan jiwanya tersebut pada akhirnya sampai pada sebuah tempat yang dimaksud karena undangan dari lagu yang begitu merdu, menyuruh mereka untuk datang dan bertemu dengan sang penggesek biola. Dan kedua jiwa yang menjadi satu itu pun memenuhi panggilan tersebut, keduanya pun tidak lagi terkejut ketika menemukan sang pemain biola yang memainkan Lullaby of Pure Love itu adalah seorang remaja laki-laki yang berusia tidak lebih dari 18 tahun, sangat muda untuk ukuran manusia seusianya mampu memainkan dawai-dawai musik yang melibatkan sihir di dalamnya untuk mengundang salah satu penjaga gerbang mistis untuk datang ke hadapannya.

"Shigehiro," gumam Gemini dengan wujud anak perempuannya, suaranya yang merdu tersebut begitu ringan seperti denting bel yang bergema, namun pada saat yang sama juga terdengar sangat kuat ketika ia mengucapkan nama sang pemain biola, menyambutnya sebelum tersenyum manis pada manusia yang telah mengundang mereka untuk datang.

Sang pemain biola yang dikenal dengan nama 'Shigehiro' tersebut akhirnya menghentikan permainannya, kedua matanya yang sedari tadi terpejam meski telah merasakan kedatangan sang penjaga pun akhirnya terbuka untuk pertama kali, menatap sang kedua belah jiwa Gemini yang menjelma menjadi dua wujud tersebut dengan kalem. Meski demikian, kedua jiwa gemini tersebut dapat menilik kilatan bahagia yang tersembunyi dari sepasang mata berwarna orange kegelapan tersebut, dan kedua bola mata yang jernih milik sang pemain biola tidak berpaling dari sosok sang penjaga.

Tak menunggu lama seusai namanya disebut, akhirnya sang pemain biola yang bernama Shigehiro itupun menempelkan salah satu lututnya di lantai hutan, berlutut layaknya seorang ksatria kepada raja dan ratunya yang tengah berdiri di hadapannya.

"Senang bertemu dengan anda berdua, Lord dan Lady Gemini, saya sudah menunggu anda berdua cukup lama di tempat ini," ujar Shigehiro dengan bahasa Celestial yang cukup mahir, membuat kedua jiwa Gemini tersebut menyeringai tipis di balik raut wajah jenaka nan kalem milik mereka berdua.


Pertama kali Seijuurou mendengarkan senandung itu dari ibunya, hal tersebut terjadi ketika suatu malam pada ulangtahunnya yang keenam dan ia tidak bisa tidur sehingga sang ibu pun harus menidurkannya menggunakan sebuah senandung yang sangat indah. Seijuurou masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana melodi serta nadanya bercampur menjadi satu, membentuk deretan sebuah lagu yang begitu melankolis serta terdengar begitu indah, mengundang sang penjaga mistis untuk datang ke tempat sang penyenandung melodi tersebut. Lullaby of Pure Love adalah senandung yang lebih dari sebuah senandung biasa, Seijuurou baru menyadarinya setelah ia menemukan catatan harian milik ibunya, dari sana ia pun mempelajari arti dibalik dibuatnya melodi tersebut dan mengapa para makhluk Celestial begitu tertarik dengan alunan yang begitu indah tersebut.

Kedua mata pemuda berambut merah darah tersebut terpejam untuk beberapa saat lamanya, mendengarkan senandung yang dibawa oleh roh angin tersebut semakin mendekat ke tempatnya seolah-olah roh angin yang membawa dawaian senandung tersebut tengah menggodanya secara tidak langsung, membuatnya yang semakin mendengarkannya secara jelas meski jarak dirinya dengan sumber yang bersangkutan cukup jauh itu ingin mendekat untuk mencari siapa yang tengah memainkannya. Meski demikian Seijuurou memiliki firasat kalau senandung tersebut adalah alunan yang dibawa oleh dawai biola yang ditujukan untuk salah satu penjaga gerbang mistis, mengundang mereka untuk datang ke tempat sang pemain biola tersebut. Dan melihat siapa dirinya, Seijuurou tidak pernah salah dengan firasat yang ia miliki, meskipun firasat tersebut sangat kecil dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Meski demikian, ada sebuah pemikiran yang muncul di dalam benaknya, ia tidak tahu kalau ada orang lain selain keturunan keluarga Hiwatari yang tahu akan melodi tersebut, sungguh... itu membuatnya sangat penasaran dan ingin menyelidikinya.

"Siapa yang memainkannya?" tanya Seijuurou pada dirinya, tangan kanannya yang memegang Eternal mengerat secara otomatis dan kedua matanya yang telah terbuka pun menyipit, merasakan hal yang tidak ia sukai terjadi untuk beberapa saat kemudian.

Tapi... kenapa aku merasa diriku juga ikut diundang? Seperti sang pemain memanggilku untuk datang? Pikir Seijuurou pada dirinya sendiri, eratannya pada Eternal pun sedikit merenggang meskipun itu tidak banyak. Kedua mata milik sang tuan muda Akashi tersebut masih menatap bulan dengan perasaan bercampur aduk, antara khawatir dan penasaran menjadi satu.

Pemuda berambut merah darah yang merupakan satu-satunya pewaris dari keluarga Akashi tersebut dengan segera memasukkan Eternal ke dalam saku jubah yang ia kenakan, dan dengan segera pula ia pun melanjutkan perjalanannya untuk menuju kediamannya yang ada di Tokyo. Meski perasaannya memberikan intuisi yang tidak enak pada saat yang sama, Seijuurou memilih untuk menghiraukan hal tersebut karena ia harus segera kembali ke tempat orang-orang yang telah menantinya sejak beberapa waktu yang lalu, sejak ia pergi meninggalkan Tokyo untuk mendapatkan kesadarannya kembali.

Kedua mata yang berwarna merah ruby tersebut beralih dari sosok langit malam yang tergambar dengan jelas di atas dan kembali menatap ke arah jalanan gelap yang terbentang di hadapannya, ia tidak memiliki waktu untuk ini dan apapun yang terjadi ia sudah siap untuk menghadapinya. Hanya satu yang Seijuurou inginkan untuk saat ini, ia ingin bertemu dengan Tetsuya. Sesuai dengan janji yang sudah ia ucap saat berbicara dengan tunangannya tersebut, Seijuurou pun akan kembali ke sisi remaja pemegang kristal Gem tersebut.

Perjalanan singkat Seijuurou pun akhirnya terbayarkan, dan satu jam kemudian ia pun sudah berdiri tepat di ambang pintu gerbang kokoh yang melindungi Akashi manor, tempat dimana Kiseki no Sedai tinggal untuk beberapa saat lamanya. Pemuda berambut merah darah tersebut memejamkan kedua matanya untuk kedua kalinya saat ia merasakan sihir penjaga yang ia gunakan untuk menyembunyikan keberadaan tempat ini mengenali dirinya, menyapu kulitnya dengan lembut sebelum memberinya akses masuk ke dalam tanpa memiliki agresi yang liar, dan hal ini cukup membuat Seijuurou berterima kasih. Sihir yang mengelilingi tempat ini adalah sebuah sihir yang tua, diciptakan oleh leluhurnya untuk menghalau penyusup dan tamu yang tak diundang untuk masuk ke dalamnya, tentu saja sihir tersebut juga telah dimodifikasi oleh sang ayah agar memudahkan anggota Akashi serta aliansinya untuk masuk ke dalam dengan ijin sang Akashi tentunya.

Merasa tak ada halangan maupun alasan untuk tidak masuk, Seijuurou pun membuka pintu gerbang tersebut dan kemudian masuk ke dalam. Melihat waktu kedatangannya, bisa dipastikan orang-orang sudah pada tidur di kamar masing-masing.

"Hal itu tidak bisa dipungkiri tentunya," gumam Seijuurou pada dirinya sendiri, merasa terkesan pada pikirannya sendiri seraya memasuki Akashi manor dengan santai.

Meski sudah sebulan ia tidak mengunjungi tempat ini, ia tidak melihat adanya perubahan yang signifikan pada tempat ini. Semuanya masih terlihat sama mulai dari sususan bunga yang ada di taman sampai aliran sihir yang menyelubungi tempat ini, mungkin kehadiran beberapa orang baru seperti Momoi dan Takao lah yang membuatnya sedikit terkejut, namun hal itu tidak cukup untuk menghancurkan ekspresi kalemnya sebab jauh sebelumnya Seijuurou sudah memprediksikan hal tersebut akan terjadi, dengan Momoi yang akan mengikuti Aomine sementara Takao yang mengikuti Midorima. Berdiri di depan dua pintu kokoh setinggi empat meter di hadapannya itu, Seijuurou pun meletakkan kedua telapak tangannya pada permukaan pintu tersebut sebelum ia mendorongnya dengan keras, membuatnya terbuka dan memberikan jalan bagi sang tuan muda Akashi untuk masuk ke dalamnya.

Tanpa menghiraukan apapun lagi, pemuda itu pun segera memasuki ruangan depan yang begitu besar tersebut sebelum menelusui koridor panjang yang menghubungkannya dengan ruang tengah, dan di sanalah ia menemukan seseorang yang sangat ia rindukan. Orang tersebut tengah duduk di depan perapian yang tengah menyala, memberikan rasa hangat pada tubuh orang tersebut meski sebuah selimut telah menutupi tubuhnya, sungguh pemandangan yang Seijuurou lihat itu sangat mirip dengan pemandangan seorang anak kecil yang tengah menantikan sang nenek untuk membacakan dongeng sebelum ia tidur.

Pemuda berambut merah yang juga merupakan pemimpin dari Kiseki no Sedai tersebut terlihat begitu nyaman memperhatikan sosok sang tunangan dari tempatnya berdiri di ambang pintu, Tetsuya terlihat begitu kalem dengan tubuh berbalut oleh selimut berwarna abu-abu dengan secangkir cokelat panas ia pegang di kedua tangannya, tatapannya terlihat begitu menerawang seperti ia tengah melamunkan sesuatu di dalam benaknya, namun yang terpenting adalah sosok melankolisnya itu mampu menyihir Seijuurou secara sekilas dan membuatnya tak mampu untuk menemukan satu pun kalimat yang tepat dalam menggambarkan sosok Tetsuya.

Sebuah mahakarya, mungkin itulah yang Seijuurou ingin katakan untuk menggambarkan bagaimana sosok sang tunangan, namun lidahnya yang kelu dan tak mampu untuk mengucap sepatah kata apapun memaksanya untuk diam di tempat dengan kedua matanya terus menatap sosok Tetsuya untuk beberapa saat lamanya. Jarak yang membentang di antara mereka berdua pun perlahan-lahan terhapuskan, membuat sosok Seijuurou dengan Tetsuya yang masih menatap perapian yang menyala di hadapannya itu semakin mendekat sampai jarak satu meter di antara keduanya lah yang tersisa. Sepertinya Tetsuya masih belum menyadari sosok Seijuurou yang mendekat tersebut, kedua matanya pun terlihat masih fokus pada warna merah dengan sedikit orange yang menyulut api panas tersebut, dan berkali-kali bibir mungil Tetsuya tersebut menyesap cokelat hangat yang tengah ia pegang dengan kedua tangannya.

Tetsuya sungguh mempesona, bahkan ketika remaja itu pun tidak pernah mencoba untuk melakukannya, namun sihir aneh yang mengelilingi remaja berparas manis tersebut selalu mampu untuk menyihir orang-orang yang ada di sekelilingnya tertarik padanya. Bahkan Akashi Seijuurou yang terkenal begitu kebal terhadap sihir macam ilusi pun tak mampu untuk menahan pesona anggun dari sang tunangan tersebut. Begitu lugu dan begitu rapuh, begitu mudah untuk dipatahkan serta dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, namun semuanya itu tidak akan terjadi kalau Seijuurou terus berada di dekat Tetsuya seperti yang pernah ia janjikan pada dirinya sendiri beberapa saat yang lalu. Derap langkah kaki Seijuurou begitu pelan dan hampir tak mengeluarkan suara, saat itulah sang tuan muda Akashi tersebut mengambil kesempatan untuk duduk di samping sosok mungil milik Kuroko Tetsuya.

"Ah..." gumaman singkat yang dipenuhi oleh keterkejutan pun keluar dari dua belah bibir milik Tetsuya, sepertinya ia pun mulai menyadari kalau ada orang lain yang bergabung dengannya di depan perapian tersebut, dan kepekaan Tetsuya pun cukup membuat Seijuurou terkesan.

Untuk beberapa saat lamanya Seijuurou tidak mengutarakan satu kalimat apapun, bahkan saat dirinya menemukan Tetsuya menoleh padanya dan kedua mata biru langit milik sang tunangan pun terbuka dengan lebar karena keterkejutan yang Seijuurou ciptakan. Untuk mengantisipasi sebuah kejadian yang tidak diinginkan, pemuda berambut merah darah itu pun mengambil alih cangkir yang tadinya dipegang oleh Tetsuya dan meletakkannya di atas lantai tepat di sampingnya sebelum ia kembali memfokuskan tatapannya pada sosok kecil sang tunangan.

"A-Akashi...-kun?" Ucap Tetsuya, suaranya sedikit parau karena keterkejutannya masih belum meninggalkan sosoknya, namun Seijuurou maklum akan hal tersebut.

Namanya yang dipanggil untuk beberapa saat lamanya itu pun membuat Seijuurou mengukirkan sebuah senyum kecil yang terletak pada bibirnya, dan gerakan itu pun cukup untuk membuat sebuah respon yang ia berikan untuk Tetsuya. Jemari tangan kanannya pun terangkat sedikit sebelum mereka memegang pipi kiri Tetsuya dengan lembut, menggeletik kulit lembut tersebut dengan kulit jemari yang sedikit kasar namun kuat itu dan pada saat yang sama Seijuurou pun menganggukkan kepalanya.

"Aku pulang, Tetsuya," ujarnya pelan.

"Akashi-kun..." gumam Tetsuya lagi.

Namanya terus terucap dari bibir Tetsuya seolah-olah remaja tersebut tidak percaya kalau orang yang duduk di sampingnya, tepat di hadapan perapian bersamanya, adalah Seijuurou sendiri. Tapi kehangatan yang ditunjukkan lewat sentuhan singkat tersebut membuatnya tersadar dan yakin kalau orang itu adalah Akashi Seijuurou.

Layaknya sebuah reuni yang singkat, Seijuurou pun tak banyak mengucapkan beberapa kalimat sebelum dirinya pun menemukan Tetsuya memeluknya dengan sangat erat sebelum hidungnya menangkap bau vanilla yang lembut menguar dari tubuh Tetsuya ketika remaha itu menenggelamkan wajahnya pada leher Seijuurou.

"Akashi-kun bodoh," ujar Tetsuya dengan nada yang bercampur emosi. Sedih, marah, lega, serta bahagia pun mewarnai setiap nada yang Tetsuya ucapkan.

"Maaf sudah membuatmu lama menunggu, Tetsuya," jawab Seijuurou, tangannya pun tenggelam pada surai biru langit milik Tetsuya seraya bibirnya pun mengecup kecil puncak kepala milik sang kekasih.


Location: Unknown

Kedua mata hijau emeraldnya tersebut menatap tempat itu dengan tatapan yang begitu tersembunyi, emosi yang menyertainya pun terasa begitu familiar meski dirinya tidak mengungkapkan apapun dari bibirnya, hanya menatap dan menerawang ke depan tanpa perlu mengomentari akan apa yang ia lihat. Rambut pirangnya yang panjang tersebut menari seiring dengan angin kencang yang menerpa tubuh tingginya, ia pun juga menghiraukan bagaimana petir yang menyambar di langit terus bermunculan dan meledakkan beberapa pohon yang mengelilinginya secara berurutan, bahkan rasa takut yang seharusnya muncul di dalam diri orang normal pun tidak pernah muncul.

Ia bukanlah orang normal seperti kebanyakan manusia meskipun ia meyakini dirinya adalah manusia, mungkin sedikit berbeda dari kebanyakan tapi hal itu tidak pernah menjadi masalah semenjak dirinya masih kecil. Tatapan wanita itu terus menatap ke arah sosok tinggi yang berdiri tidak jauh di hadapannya, diselumuti oleh kabut tebal yang berselimut oleh api berwarna orange, sebuah pemandangan yang tidak lazim untuk dilihat oleh orang normal.

Emosi yang tersembunyi dari balik kedua mata yang dibingkai oleh kacamata tersebut bisa diartikan sebagai rasa kagum serta bangga, bangga pada orang yang tengah mengeluarkan sihirnya tersebut di hadapannya. Sangat menarik untuk dilihat.

Untuk beberapa saat kemudian wanita berambut pirang itu masih bergeming dan tak berpindah dari tempatnya berdiri, masih mematung di sana dengan tangan kanannya bertumpu pada pinggang langsingnya, begitu angkuh dan juga menandakan sosoknya yang regal. Bibirnya yang sedari tadi terlihat begitu datar pun kini melengkung sesaat, membentuk sebuah seringai tipis yang menandakan penuh akan kemisteriusan.

"My cute little student, my Taiga..." wanita berambut pirang panjang itu pun akhirnya mengucapkan sesuatu, yang tentu saja ia tujukan pada sosok yang masih diselimuti oleh kabut berapi tersebut.


AN: Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan untuk mampir dan memberikan review, memfavoritkan serta memfollow fic ini. Dan chapter ini pun memulai "Gemini Arc". Semoga tidak mengecewakan

Author: Sky