Sasuke dan Itachi memandangiku.
"...what?"
Mereka saling bertukar tatapan.
"Diaー"
"Itachiー"
Alisku naik.
"ーtidak melakukan apapun padamu, kan?"
BRUSHH!
Dua tangan yang mengelus punggungku dalam gestur menenangkan tidak membantu keadaanku yang baru saja memuntahkan gelas berisi air putih. Selimut wool milikku basah dan kehilangan fungsinya sebagai penghangat. Batukku tidak dapat berhenti sampai ketika tanganku menampik tangan mereka pergi.
"Ohok! Ohok! Apa yangーkalian ngomong apaー"
"Well, aku yakin 100 persen aku tidak 'mengambil'-nya saat kita bercinta, tapi tidak semua orang bisa menahannya seperti aku." sanggah Itachi tanpa tanda-tanda rasa malu merayapinya.
Sasuke sepertinya tidak terima tuduhan tidak langsung dari Itachi.
"Aku baru saja tiba di Kitanagasuku beberapa hari lalu, dan melihatmu hari ini. Dan tidak mungkin aku memaksakan diriku pada orang yang sakit."
Tepukan putus asa telapak tangan kiri ke wajahku seolah menjadi tanda bagi perseteruan Itachi dan Sasuke yang akan berlanjut.
"Melakukan 'sesuatu' pada seseorang tidak selalu berarti seks. Menyentuh, mengelus, dan lainnya juga memiliki arti melakukan 'sesuatu'."
Memang berlanjut.
"Entahlah. Kalau ada orang yang melakukan hal itu pada Tenten saat aku berada di sisinya di saat ia tidak berdaya, aku pasti sudah membunuhnya di tempat."
Ya Tuhan...
Sasuke membalas tatapan Itachi sama dinginnya.
"Lagipula, bukan aku yang meninggalkan bekas ciuman dan gigitan di leher Tentenー"
Mataku melebar.
"ーmelihat usia memarnya, tidak mungkin aku yang pergi selama 3 tahun bisa meninggalkan cupang berusia tiga hari."
Itachi baru akan membuka mulutnya lagi ketika aku memotong.
"Aah! Kepalaku!"
"Kenapa? Ada apa?"
"Kau mau ke rumah sakit? Akan kupanggilkan Kakashi."
PLAK!
Dua keturunan Uchiha di depanku termangu. Mereka tidak menyangka akan dipukul kepalanya oleh orang yang sedang sakit.
"Kalian. Berisik."
Itachi dan Sasuke memegangi kepala mereka, ekspresi masam karena sadar perhatian mereka terbuang karena alarm palsu diberikan padaku.
"Kalian bukan anak kecil lagi, dan bukankah kalian sudah sepakat tidak akan bertengkar?!"
"I never said that." jawab Itachi.
"Neither did I." imbuh Sasuke.
Aku memijat keningku kesal.
"Dengar, kalian sudah pernah mendapatkan kesempatan menyentuhku, kan? Tidak ada alasan untuk meneruskan perseteruan bodoh ini." ujarku mencoba berpikir rasional, rasa malu coba kuacuhkan.
Itachi dan Sasuke bertukar pandang, sebelum kembali menatapku.
"Aku tidak pernah berpikir perasaanku padamu itu bodoh."
Pipiku memanas seketika. "Apaー"
"Aku juga serius soal perasaanku."
"Tung-Sasuke, Itachiー" sergahku panik, kedua kakakku mendekat, membuatku terpojok di kasur.
"Masih berpikir perasaan kami padamu konyol?" bisik Sasuke.
"Kau tahu bukan itu maksud-"
"Tenten." panggil Itachi, tangannya menarik rambut coklatku.
"Kau tahu kami berdua sedang menahan diri, kan?"
Jantungku berdetak kencang. Perasaan bersalah dan adrenalin yang kurasakan setiap berada di dekat mereka dan melakukan hal-hal yang diperbuat pasangan kekasih kembali menyerang, padahal aku sudah membuangnya jauh-jauh agar reuni kami tidak terasa canggung. Padahal aku sudah berupaya untuk menghindari topik ini!
"Aーhaha hahaha...ini sungguh tidak lucu, berhenti menggodaku."
Itachi dan Sasuke bertukar pandangan untuk entah keberapa kalinya, seolah membaca pikiran lawan tatapnya. Aku hanya bisa melihat dari kanan ke kiri seperti menonton pertandingan badminton.
Bagaimana bisa reuni yang mengharukan berubah menjadiーmenjadi entah apapun ini namanya?!
"Kau tahu, aku tidak suka berbagi." kata Sasuke.
"H-ha?"
"Aku juga tidak." kata Itachi.
"Tapi malam ini malam spesial, bukan?" bisik Sasuke lagi, tangannya menyusupi piyamaku.
"H-HEIーmmph?!" tangan Itachi membungkam jeritanku. Aku bertambah panik, kedua tanganku digenggam mereka berdua.
"Tenang, Tenten. Tidak perlu panik. Lagipula, ini hanya wujud dari perasaan kami yang bodoh. Kau juga bilang begitu, bukan."
Jadi ini tentang itu?!
Aku menggeleng panik, berusaha melepaskan bekapan Itachi. Entah karena ia sengaja melonggarkan tangannya atau bagaimana, aku berhasil berteriak.
"ーAーHAHAHAHAHAHAHAHA! AHAHAHAHA! GELI!"
Itachi menyengir. Rencananya dengan Sasuke sukses.
"AHAHAHAHA! STOP! SASUKE!"
"Apa? Apa? Aku tidak bisa mendengarmu." balasnya datar. Tapi aku tahu betul, ia menikmati setiap detik menggelitiki aku.
"ITACHIIIII! AHAHAHA! STOP HIM!"
"Maaf, tapi malam ini malam berbagi. Aku tidak punya hak untuk menghentikan Sasuke."
Air mata memenuhi pandanganku. Orang sakit tidak boleh diperlakukan begini!
"Ya, cukup sampai di situ."
Tanpa peringatan, gelitikan Sasuke berhenti menghujaniku, dan dua sosok baru muncul di belakang kursi mereka.
"Maaf, Sasuke-san, tapi nona Tenten sedang sakit. Tolong hentikan."
Aku berseru senang karena diselamatkan. "Juugo!"
Kakashi melepaskan tangan Itachi sebelum menghela nafas tidak habis pikir. "Kalau aku tidak mengenal kalian dan Tenten tidak tertawa keras, aku pasti sudah berpikir kalian sedang threesome."
"Well, kami hampir melakukannya, kalau kalian tidak datang. Terima kasih banyak." jawab Itachi dingin.
"Itachi!" seruku dirundung malu. Di sisi lain kasur, Juugo tampak merona.
Kakashi mengangkat alisnya. "Ara ara, kenapa kalian bersikap seolah kami ini kompetitor kalian?"
"Dude, kau menginterupsi sesi pemanasan kami." jawab Sasuke seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini.
"Pe...manasan?" ucap Juugo hati-hati, ia jelas tidak nyaman dengan semua ini.
"Tsk tsk, Sasuke-kun. Aku tidak yakin menggelitik sebagai foreplay membuat bergairah ratu harem-nya."
"KAKASHI!" seruku lagi, ekspresi horor Juugo membuatku merasa bersalah membuatnya berada di situasi ini. "KALIAN BERTIGA! HENTIKAN!"
Kakashi memutuskan untuk mengabaikanku. "Lagipula kami tidak berniat merusak suasana; lebih banyak lebih ramai, bukan?"
Aku mengadopsi tatapan horor Juugo.
SERIOUSLY?
Sasuke mendengus. Itachi menggeleng dengan senyuman tersungging di sudut bibirnya. Reaksiku adalah tanda berhasilnya candaan bodoh mereka.
"Kau yang terbaik, Kakashi." puji Itachi sambil beranjak dan pergi menuju pintu, tangannya menepuk bahu dokter keluarga kami itu.
Kakashi mengedikkan bahu. "You're welcome."
Sasuke menyusul di belakang Itachi, sekilas, ia tersenyum padaku. "Bisa berteriak seperti itu berarti kau akan baik-baik saja. Jangan nakal dan dengarkan kata Kakashi."
Butuh beberapa detik untukku mengerti apa yang coba mereka lakukan. Dan Kakashi harus memperjelasnya saat mereka berdua tidak ada di ruangan lagi.
"Melontarkan lelucon kotor demi melihatmu tertawa? Kedua kakakmu itu benar-benar sayang padamu."
Aku menghela nafas lelah. Tentu, mereka berdua menggodaku demi melihat reaksiku adalah hal yang menggemaskan saat kami kecil, tapi sekarang?
Aku merasa kalau kesucianku tengah terancam!
"Aku tidak yakin mereka akan mau berbagi." komentar Juugo.
"Tentu saja. Mereka bahkan akan saling bunuh jika waktunya tiba." respon Kakashi dengan nada misterius, seakan ia tahu pasti apa yang akan terjadi.
"Eh?" desahku gelisah, mata mencari penjelasan dari Kakashi dan Juugo.
Suasana di kamarku mendadak berubah jadi tegang.
Juugo menatap Kakashi yang tengah mengecekku dengan stetoskop penuh aura kecurigaan, sebelum mengalihkan perhatiannya padaku.
"Saya akan berjaga di luar. Jika ada apa-apa, berteriaklah."
"Eh?" desahku lagi. Apa itu artinya...Juugo tidak mempercayai Kakashi?
Kakashi menggeleng. "Maaf, hime-sama, aku tidak seharusnya mengatakan yang barusan."
"Ukh...ada apa dengan semua orang? Kepalaku sakit." keluhku tidak mau tahu lagi.
Kakashi menatapku, kemudian pintu kamar yang tertutup.
"Tapi kau tahu apa yang kukatakan itu benar."
"Kakashi..." desahku. Aku benar-benar tidak sedang ingin membahas ini sekarang.
"Tekanan darah agak rendah, suhu tubuh menurun, tapi kau akan bertahan hidup sampai umur 80." gumamnya sambil mencatat sesuatu.
"Mereka tidak akan begitu. Mereka...pasti akan melakukan apa yang membuatku bahagia."
"Dan itu adalah...?"
"Entah! Terus seperti sekarang, mungkin? Kami bertiga? Bersama? Sebagai keluarga?"
"Omong kosong."
"...apa?"
Laki-laki berambut silver itu mendekat. Keseriusannya saat di rumah sakit Chatan kembali.
"Hidupmu tidak sesimpel itu, Tenten-hime-sama. Sekarang mereka berdamai, tapi suatu hari kau akan memilih salah satu dari mereka, dan saat itu terjadi, kau akan berharap kau tidak terlahir sebagai adik mereka."
"Aku tidak akan melakukannya!"
Kakashi tersenyum. "Kau dan aku tahu itu bullshit."
"Apaー"
"Itulah Uchiha, hime-sama."
Aku menatap Kakashi tidak percaya. Tapi ada sesuatu tentang tatapannya yang mengatakan bahwa ia tahu lebih banyak dariku.
"Mereka menguasai, mendominasi, tidak akan mau berbagi. Bahkan dengan sesamanya, mereka tidak ragu untuk membunuh."
"Kau tidak berhak mengatai kakak-kakakku sebagai pembunuh." balasku sambil meremas selimut, upaya putus asaku untuk tetap tenang. Juugo bisa saja masuk dan memperkeruh suasana. Aku tidak ingin ada keributan.
"Jauh di dalam hatimu, kau tahu apa yang kukatakan ini benar."
Aku menggeleng keras kepala. Air mata menggenangi pandanganku.
"Aku mencintai mereka berdua!"
"Teruslah membohongi dirimu seperti itu. Cinta sedarah itu bukan hal remeh; jika aku adalah Sasuke, aku akan membunuh Itachi."
Aku mengeratkan rahang kesal.
"Kukira kau menghadiri pernikahan Rin dengan Obito?"
Kakashi tersenyum. Kedua matanya tertutup senang. Auranya berubah.
"Aku bohong."
Deg!
"Kakashi...apa yang kau lakukan pada mereka?"
Kakashi bergumam pelan, tangannya memainkan gagang kacamata kasual.
"Mendoakan mereka bahagia di surga."
"...ha?"
Kakashi mengedikkan bahunya.
"Aku mengunjungi kuburan mereka."
Tidak...mungkin.
"Kau tidak tahu? Padahal Obito saudaramu."
Aku menggeleng. "Kami tidak terlalu dekat. Apa yang terjadi?"
"Well," Kakashi melepas kacamatanya sambil memijat pangkal hidungnya. "Singkat cerita, para petinggi Uchiha tidak menyukai keputusan Obito yang meninggalkan posisinya sebagai penerus korporasi dan membuat nama Uchiha tercoreng dengan skandal incest, pengejaran terjadi sehari sebelum pernikahan sembunyi-sembunyi mereka dan mereka tewas dalam kecelakaan."
"Ayah tidak memberitahuku."
Kacamata Kakashi telah kembali di hidung dokter itu. "Ia hanya peduli pada keuntungan perusahaan. Kematian Obito dan Rin hanya kerikil kecil di jalannya."
"Tunggu...kapan kejadian ini terjadi?"
"12 tahun lalu."
"...!"
Kakashi tersenyum. "Benar. Setahun sebelum aku menjadi dokter keluarga kalian."
"Kau...memang melihatku sebagai Rin?" tanyaku takut.
Kakashi tidak menyangkal obsesinya. "Itu benar."
"Aku masih sepuluh tahun saat itu! Kau-maniak!" bisikku kasar, masih tidak ingin Juugo masuk ruangan dan memperkeruh suasana.
"Maniak, psikopat, apapun itu, aku tidak bisa menolak keinginan untuk ada di dekatmu."
Lagi, Kakashi menarik sehelai rambut coklatku di udara, membuatku bergidik ngeri.
"Kau seperti reinkarnasi Rin."
"Kau gila." sikerasku. Aku sudah sedekat ini dari meneriakkan nama Juugo, tapi aku tidak merasakan adanya niat buruk dari Kakashi, membuatku berkali-kali urung.
Kakashi tidak tersenyum. Tidak membalas perkataanku. Tidak melakukan apapun.
Hanya memperhatikanku.
Aku memutuskan untuk memanggil Juugo ketika tatapan Kakashi membuatku tidak nyaman, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya menghentikanku.
"Ikutlah denganku ke Swiss."
"...ha?!"
