WARRIOR FROM THE HEAVEN

Chapter#37

TEKAD SEORANG HINATA

Rate: T

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Don't Like Don't Read

Jangan lupa review, favorite follow!

Summary:

Kehilangan kedua orang tuanya menyebabkan dampak besar bagi kemampuan Naruto. Dia kini dirawat oleh salah 1 dan 4 klan sihir terbesar di Kerajaan Konoha, klan Hyuuga dan demi membalas kebaikan klan, mampukah ia membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat.

.

.

.

.

.

.

Chapter sebelumnya:

BUAAAAAAKKKKHHH

Laki laki itu mendapat pukulan keras dari Toneri…

"Arrgghhh!"

Naruto yang menyadari kehadiran Toneri segera melangkah maju namun dalam sekejap Neji sudah berdiri di hadapannya dengan posisi membelakanginya. Tujuan Neji sebenarnya ialah untuk menghentikan gerakan Naruto… Dia tidak ingin ada bentrokan disini. Sama halnya dengan Toneri yang segera menghajar murid Kumo yang berbuat tidak sopan.

"Maafkan kami karena telah berbuat tidak sopan," kata Toneri meminta maaf kepada Naruto dan Neji.

Murid murid Kumo yang berada di sekeliling Naruto dan Neji masih berada dalam posisi siap menyerang Naruto. Namun begitu Toneri menatap ke arah mereka, mereka segera kembali ke posisi semula..

"Lama tak jumpa, Toneri…" sapa Neji.

Toneri menatap Neji kemudian tersenyum hangat kepadanya lalu arah lirikan matanya berpindah kepada Naruto yang berada di belakang Neji…

"Ya… Lama tak jumpa.."

.

.

.

.

.

.

Kejadian ini membuat suasana di antara Konoha dan Kumo semakin menegang. Beruntungnya Neji dan pemuda bernama Toneri yang berada di pihak Kumo sudah mengendalikan pihak masing masing untuk tidak bertindak semakin jauh. "Sialan kau, Toneri… Biarkan aku selesaikan urusanku dengan dia, Toneri…" kata pemuda yang mendapatkan pukulan dari Toneri barusan sambil memegang bagian tubuhnya yang terkena pukulan.

"Diamlah.. Kau hanya membuat malu Kerajaan Kumo.. sikapmu barusan sangatlah tidak sopan, ingat kita sedang berada di Konoha!" kata Toneri langsung memberikan tatapan tajam kepada pria yang langsung terdiam seketika itu.

Toneri kembali menatap Neji yang sudah tepat berada di hadapannya sambil membungkukkan badannya 45 derajat. "Maafkan atas kelakuan salah satu siswa kami," kata Toneri meminta maaf kepada Neji dan Naruto.

Dalam berbagai pandangan, Toneri sudah jelas terlihat seperti seorang pemimpin bahkan tanpa harus adanya campur tangan sensei dari pihak Konoha ataupun Kumo, dia sudah bisa menyelesaikan masalah. Begitu pula Neji, mungkin dia memang lebih terlihat memiliki jiwa kepemimpinan dibanding Naruto. "…Kami mengerti, jika kalian sudah meminta maaf, berarti masalah kuanggap selesai dengan ini.."

Sejujurnya Naruto yang berada di belakang Neji sangat tidak menyukai saat dimana Neji memaafkan mereka namun apa boleh buat. Dia juga tidak boleh bertindak sembrono di pertemuan ini. 'Cih.. kalau bukan karena pertemuan formal semacam ini, aku pasti sudah menghajarnya..'

Jelas saja, karena hanya Naruto lah yang dirugikan dalam kejadian ini. Dia dipermalukan dan pakaian yang ia kenakan juga basah akibat laki laki itu yang dengan sengaja menumpahkan minuman ke atasnya.

"Hmm.. sudah selesai rupanya? Kenapa singkat sekali?" tanya seorang wanita berambut pendek yang merupakan murid dari Akademi Kerajaan Iwa.

"Sangat memalukan…" kata seorang laki laki berkacamata yang duduk di deretan meja siswa Kerajaan Kiri membawa pedang besar.

Sedangkan di sudut yang lainnya, tempat duduk siswa Kerajaan Suna, seorang laki laki bersurai merah menatap dingin ke arah Naruto, Neji dan Toneri sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Sudah kuduga akan begini jadinya…, hah~.." keluh Shikamaru sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepala sebagai bantalan untuk kepalanya.

"Apa tidak sebaiknya kita ikut kesana?" tanya Sai menoleh ke arah Sasuke sambil tak lepas dari buku gambar yang dibawanya.

Sasuke yang sedang mengamati keadaan disana hanya menghela nafas kesal setelah Sai bertanya kepadanya. "Hah~.. Biarkan mereka selesaikan sendiri urusan mereka.."

SREK

Suara kursi yang terseret ke belakang dan sebuah langkah kaki seorang yang hendak berdiri segera membuat Sasuke, Sai dan Shikamaru menoleh ke arah datangnya suara tersebut. "Mmm.. Kau mau kemana?" tanya Shikamaru kepada Shion yang sudah mengambil langkah pertamanya menuju tempat Naruto dan Neji.

"Dia akan kesana…" kata Sai menjawab pertanyaan Shikamaru yang diajukannya untuk Shion.

Sasuke awalnya tidak peduli dengan tindakan gadis yang duduk di sebelahnya tapi setelah melirik ke arah pusat perhatian utama, ia terlihat sedikit panik. "Oi, oi…"

Disana gadis berambut pendek dari Kerajaan Kumo yang menjadi bahan percakapan mereka tadi, terlihat menghampiri Naruto yang sedang berdiri di belakang Neji.

"Apakah kau yang bernama Naruto?" tanya Samui yang muncul di samping Naruto.

Naruto dan Neji yang mendengar suara itu langsung menoleh ke arah Samui begitu pula dengan siswa Kumo yang ada di hadapan mereka. "Samui…" kata Toneri memanggil nama gadis itu.

"…Sebelum kau menanyakan siapa aku? Bukankah seharusnya kau perkenalkan dulu siapa dirimu?" tanya Naruto balik.

Mendengarnya Samui segera meminta maaf dan memulai perkenalannya. "Namaku Samui, aku adalah murid dari Kerajaan Kumo.. orang orang juga memanggilku sebagai salah satu bakat surga,"

"Namaku Naruto.. murid dari Kerajaan Konoha, dan entah bagaimana caranya.. aku juga mendapat julukan yang sama sepertimu," jawab Naruto terlihat malas dengan matanya yang dia alihkan ke arah lain di sudut ruangan.

Dan baru saja Naruto akan menanyakan hal apa yang membuat Samui menghampirinya dan berkenalan tapi tiba tiba Shion sudah berada di samping Naruto lalu memeluk tangan Naruto seolah mengatakan kalau Naruto adalah milik gadis itu.

GREPPP

Semua mata langsung tertuju kepada Shion dan Naruto. Apalagi sejujurnya wajah Naruto sudah memerah merasakan sesuatu yang kenyal menekan tangannya. "Hmm.." Neji yang menyadari respon Naruto hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil tersenyum.

"Apa maksudnya 'hmm' darimu itu?" tanya Naruto menoleh ke arah Neji.

Shion kembali mengeratkan pelukannya pada tangan Naruto. Samui yang memperhatikan Shion yang terlihat mesra dengan Naruto hanya menganggukkan kepalanya paham. "Jadi kalian berdua memiliki hubungan seperti itu? Kukira hubungan kalian berdua sangat buruk… mengingat kau sudah.." ucapan Samui terhenti disana. Dia menoleh ke arah Shion yang hanya menatapnya datar.

Sedetik kemudian, Samui terpejam lalu tersenyum dengan sedikit tertunduk. "Maafkan aku… Kalau begitu…, kalian bertiga… sampai jumpa di battle royale dua hari lagi.." kata Samui.

.

.

.

.

.

.

NARUTO POV

Seperti yang diucapkan oleh gadis itu barusan, tepat dua hari lagi.. Kami akan bertarung dalam ajang battle royale. Saat ini Konoha sebagai pemilik bakat surga terbanyak tentu merasa di atas angin. Tapi yang kudengar akan ada pergantian format pertandingan yang akan diumumkan setelah acara makan malam ini selesai. Sejujurnya aku juga penasaran akan jadi seperti apa format pertandingannya. Karena setelah diubah, ada kemungkinan aku tidak akan berpartisipasi atau justu mungkin kesebelas bakat surga akan berada dalam pertempuran.

"Dia berbeda dari dia yang dulu…" kata Shion tiba tiba.

Aku menoleh dengan tatapan menanyakan tapi dia tak memberiku jawaban cepat. Baru setelah beberapa saat, dia melanjutkan penjelasannya. "Dia terlihat berbeda.. bukan hanya penampilan yang terlihat lebih yakin dan tegas namun auranya juga jadi jauh lebih kuat sejak terakhir kali aku bertarung dengannya.."

Jawaban Shion barusan sedikit membuatku khawatir entah kenapa…, namun kekhawatiran itu digantikan sebuah senyuman ketika Shion menatapku sambil berkata, "Tenang saja… Aku masih lebih kuat darinya…, Naruto-kun!"

"Kalau begitu, aku juga permisi… Neji, Shion, Naruto.." kata Toneri kemudian.

"Humm.." kami hanya menjawabnya dengan anggukan.

Bukan… Bukan itu yang membuatku khawatir. Ada hal lain dari kedua bakat surga dari Kumo ini yang membuat perasaanku tidak enak.. Mereka berdua.. Samui dan Toneri… Aku masih memandang Samui dan Toneri yang sudah berjalan membelakangiku dan semakin menjauh dari kami.

NARUTO POV END

.

.

.

.

.

.

Skip Time

Dan pada akhirnya saat saat yang ditunggu tunggu oleh Naruto tiba… Saat dimana pengumuman tentang bagaimana format pertandingan yang akan diadakan dua hari lagi. Tsunade beserta keempat Kaisar Sihir lainnya segera naik ke atas panggung, dan dengan beberapa lingkaran sihir yang berguna sebagai sihir pengeras suara dan sebuah layar sihir.

"Sesuai yang telah direncanakan sebelumnya.. Pada tahun ini kelima Kerajaan juga tak hanya mengadakan pertemuan di Konoha namun juga mengadakan sebuah turnamen battle royale bagi murid murid tahun pertama dari Akademi Lima Kerajaan,"

Semuanya terlihat mendengarkan apa yang akan dikatakan Tsunade sebagai perwakilan dari kelima Kaisar Sihir terutama Naruto.

"Setiap Kerajaan akan mengirim 10 murid untuk bertanding di dalam battle royale yang akan diadakan di hutan kematian Konoha!"

Jumlahnya benar benar mengejutkan Naruto dan teman temannya yang berdiri tak jauh darinya. "Setiap perwakilan tak hanya harus bertarung melawan murid dari Kerajaan lain namun juga harus bertahan hidup dari Magical Beast yang ada di dalam hutan.."

"Hmm.. jadi total 50 orang di dalam wilayah hutan kematian Konoha," gumam Sai sambil mencubit dagunya.

"Hutan itu bukannya wilayah hutan berdiameter 4 km yang berada di bagian dalam Akademi..? Bahkan wilayahnya diberi sebuah pagar besar sebagai pembatas keluar masuk hutan tersebut…"

Naruto langsung membayangkan bagaimana hutan itu… Dan sejujurnya dia sedikit malas juga bila harus dipilih untuk berpartisipasi dalam battle royale semacam ini. Apalagi battle royale itu diadakan selama dua hari. Otomatis dia tidak bisa bersantai santai seperti hari hari biasa. "Sungguh menyebalkan… Aku sudah bisa menebak siapa saja orang orang yang akan berpartisipasi, setidaknya 6 orang dari jumlah 10 orang yang dikirimkan Konoha sebagai perwakilan.." kata Naruto sambil menatap kelima temannya yaitu Neji, Shikamaru, Sasuke, Shion dan Sai.

Mereka berenam termasuk Naruto langsung menghela nafas malas seperti yang biasa dilakukan Shikamaru namun dengan gaya dan ciri karakter mereka masing masing, (Bayangin sendiri).

"Dan berikut adalah nama nama dari setiap perwakilan yang akan turut serta memeriahkan battle royale…"

Muncul 5 layar sihir yang masing masing menunjukkan nama para peserta…

.

.

.

.

.

.

NARUTO POV

Sudah kutebak untuk enam nama teratas.. berisi namaku, Neji, Shion, Sasuke, Sai dan Shikamaru… dan untuk empat sisanya… Temujin… hmm, dia memang pantas.. Kimimaro lalu Rock Lee.. hmm, bukankah dia… yang waktu itu.. sisanya…

…Eh!?

Kenapa namanya ada disana!? Hinata?

"Shion-sama.. Naruto-sama… Neji-sama.." panggil Temujin kepada kami bertiga yang kebetulan berdiri bersebelahan.

Orang ini… Sudah pernah kubilang jangan panggil aku dan Neji dengan tambahan –sama di belakang nama. Setelah dia tahu bahwa Sara-neesan adalah neesan ku, dia segera menghormatiku dan juga Neji, yang otomatis menjadi petinggi dalam kelompok kami. Di belakang mereka.. Kimimaro dan Rock Lee itu… Dan juga…? Hinata!

Aku memang terkejut dengan kehadiran Hinata disana, terlebih lagi aku benar benar tak menduga bahwa dia dipilih untuk menjadi perwakilan Konoha dalam battle royale semacam ini. Di lain sisi juga, hubunganku dengannya masih belum membaik sejak kejadian itu…

"Ehm.."

"A-A.. Huh…"

Kami berdua saling mengalihkan pandangan mencoba untuk menghindari adanya kontak mata di antara kami. Dan menurutku itu wajar untuk saat ini mengingat apa yang terjadi terakhir kali. Aku melirik ke arah Sasuke, Neji, Shikamaru dan Sai yang menatapku dengan ekspresi wajah yang berbeda beda namun seakan satu makna dan pengartian.. Intinya mereka sama sama curiga dan ingin tahu apa yang terjadi antara aku dan Hinata.

"Apakah kita melewatkan hal penting?" tanya Neji kepada ketiga laki laki lain yang berada di sebelahnya.

"Hmm.. entahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi antara siscon pirang itu dengan adiknya," jawab Sasuke dengan nada datar namun menggunakan kalimat yang tajam.

"Jadi, Naruto-kun itu benar benar seorang siscon ya.." tambah Sai dengan senyum tak bersalahnya.

Oi! Siapa yang kalian panggil siscon barusan? Jika yang kalian maksud adalah aku? Bisakah kalian sedikit berpikir untuk tidak bicara secara blak blakan di depan orang yang kalian maksud…

"Hmm…" sedangkan gadis bersurai pirang pucat di sebelahku ini Nampak meneliti apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Hinata dengan tatapan mata yang sedikit disipitkan.

Kupikir lebih baik tidak usah mempedulikan mereka karena aku sendiri juga malas untuk mempermasalahkan masalah ini menjadi lebih rumit. Bahkan kepalaku langsung pusing ketika sedikit saja melirik ke arah Hinata yang masih saja mengalihkan pandangannya dariku dengan ekspresi wajah sedih yang sulit diungkapkan dengan kata kata.

Hah~… Lebih baik aku kembali memperhatikan apa yang menjadi masalah baruku saat ini. Yap tepat sekali, kesebelas bakat surga akan berpartisipasi di dalam battle royale ini. Kuharap hutan itu tidak musnah dalam pertarungan kami lusa.

"Masing masing perwakilan dari lima Kerajaan harus memilih leader atau pemimpinnya masing masing… bagi para pemimpin dari setiap perwakilan akan ada pertemuan besok sore setelah latihan pagi dan latihan siang.."

Aku yakin arena latihan Konoha.. mulai dari arena latihan 1 hingga 7 akan terpakai semuanya besok. Latihan pagi dan latihan siang… mendengarnya saja, aku sudah malas terlebih lagi ketika tiap perwakilan diharuskan memilih pemimpin masing masing perwakilan… aku segera menoleh ke arah kesembilan orang yang merupakan perwakilan Konoha.

"Wah, hari ini cerah ya?" kata Neji sambil melihat ke langit langit yang sebenarnya adalah atap ruangan.

"Kau benar… bahkan tidak ada awan gelap sedikitpun.." jawab Shikamaru.

Hmm.. apa apaan ini!? Woy, apa maksud kalian berdua dengan mengalihkan pandangan kalian dariku? Terlebih kita ini ada di dalam ruangan, bodoh! Lalu bagaimana pula dengan kalian? Kenapa kalian semua mengalihkan pandangan kalian dariku seakan tidak mau tahu apa yang barusan diumumkan?

"Wah.. Bagaimana ini? Kita diharuskan memilih salah satu pemimpin.." kata Neji sambil menepukkan tangannya sok terkejut.

"Menurutmu kriteria seperti apa yang harusnya dipenuhi oleh seorang pemimpin, Sasuke?" tanya Shikamaru sambil menepuk pundak Sasuke.

"Hmm.. Dia haruslah yang katanya paling kuat di antara kita, yang memenangkan turnamen empat asrama…" jawab Sasuke dingin sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Kalau menurutmu, bagaimana Sai?" tanya Shion kali ini kepada pemuda berkulit pucat di sebelahnya.

Sai terlihat berpikir sejenak lalu kemudian dia mengangkat tangannya lalu menyatakan pendapatnya mengenai pemimpin menurutnya. "Ehmm… mungkin laki laki berambut pirang?"

Hoi, apa apaan kriteria pemimpin menurutmu yang barusan? Sangat tidak masuk akal? Aku memberikan tatapan konyol sekaligus serius kepada mereka tanpa mengucapkan apapun dan hanya mendengarkan mereka.

"Ah… Kau benar Sai! Ah, tapi siapa kira kira.. pemimpin kita yang berambut pirang itu?" kata Shikamaru.

Dalam hati aku hanya bisa mengucapkan 'sandiwara yang bagus untuk kalian berlima'.

Dan seketika pula, mereka berlima seperti sudah direncanakan untuk seolah menatap ke arahku secara bersamaan. "Wuoohh.. Naruto! Rambutmu pirang!" kata Neji sambil menunjukku.

"Kau sangat cocok jadi pemimpin kami!" kata Shikamaru menambahkan. Lalu Shikamaru menepuk pundakku sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Aku masih memberikan tatapan yang tak bisa diartikan dengan kata kata sambil melirik tajam ke arah pria berambut nanas itu. "Langsung saja… tak usah bawa bawa rambut pirangku ini…! Kalian mau menunjukku secara paksa bukan?" tanyaku dengan nada dingin yang malas.

"Hmm.. Itu karena kau sangat cocok dengan kriteria pemimpin yang ideal.. rambutmu pirang!" kata Shikamaru mengulangi apa yang sudah mereka bicarakan tadi.

"Sudah kukatakan… jangan bawa bawa rambut pirangku ini! Warna rambut jelas tak ada hubungannya dengan kriteria pemimpin ideal, dasar kau rambut nanas.." kataku lalu menatap ke arah Neji, Sai, Sasuke dan Shion yang sudah tersenyum dengan gaya mereka masing masing seolah olah mengatakan bahwa sudah pasti bahwa akulah yang akan mengemban posisi merepotkan itu.

Dan pada akhirnya aku hanya bisa menghela nafas pasrah karena bagaimanapun, Lee, Temujin, Kimimaro dan Hinata juga pasti akan menuruti saja apa yang telah diputuskan oleh yang lainnya.

"Baiklah akan kuambil posisi itu…"

NARUTO POV END

.

.

.

.

.

.

Dan setelah penjelasan lebih lanjut pada akhir acara makan malam. Akhirnya acara pada malam itu ditutup…

Naruto dan yang lainnya segera kembali ke asrama mereka untuk istirahat agar besok bisa terbangun di pagi hari dan langsung memulai latihan pagi mereka sebelum battle royale yang akan diadakan dua hari lagi…

Keesokan harinya…

"Hmm.."

Seakan malas untuk bangun, Naruto tetap teguh memeluk gulingnya meski tangan mulus seseorang telah membukakan jendela kamarnya. Dan tak seperti yang diharapkan Naruto, dia yang masih ingin berada dalam mimpinya kini terbangun karena sapaan matahari pagi yang hangat. Di samping tempat tidurnya, terdapat sebuah foto yang mana terdapat dirinya, Neji dan Hinata. Gadis yang ada di dalam kamar Naruto itu kini melihat baik baik foto tersebut, dan entah kenapa sebuah senyuman muncul di wajah gadis tersebut…

"Ehmm…"

Mencoba untuk mengembalikan kesadarannya, Naruto mengusap usap matanya beberapa kali sebelum akhirnya dia terkejut karena kehadiran gadis itu di kamarnya. "Hmm..?"

Gadis itu menoleh ke arah Naruto dengan ekspresi sedikit terkejut. Wajahnya yang memerah dan dia terlihat sedikit gugup di hadapan Naruto yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sedangkan pemuda pirang yang ada di hadapannya terlihat heran dengan kehadiran gadis itu di kamarnya. Dia meneliti dengan kedua matanya sambil beberapa kali berkedip sebelum akhirnya mengeja nama gadis yang berada di hadapannya saat ini. "H-Hinata?"

Hinata… Nama yang disebutkan oleh Naruto barusan tentu saja membuat Naruto sendiri bertanya tanya kenapa gadis ini ada disini sedangkan sebelumnya dia tidak ingat kapan dia dan Hinata sudah berbaikan… Ya, mereka belum berbaikan sama sekali.

"Niisan.." panggil Hinata dengan wajahnya yang memerah.

"K-Kau.. Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Naruto.

Naruto melihat ke sekitar kamarnya yang entah bagaimana sudah terlihat rapi dan bersih. Dia berpikir apa mungkin Hinata yang membersihkan kamarnya? Tapi kapan? Sekarang bahkan masih jam 6 pagi tapi Hinata terlihat sudah rapi dan siap. Sejak jam berapa gadis itu sudah berada di kamarnya?

"Niisan… Aku sudah membuat keputusan," kata Hinata pelan sambil menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang terlihat sedikit memerah. Mendengar ucapan Hinata barusan, Naruto memiringkan kepalanya bingung bahkan dia sempat kembali mengedipkan mata beberapa kali sebelum akhirnya dia menanyakan apa maksud perkataan Hinata,

"Apa maksud dari ucapanmu barusan, Hinata?" tanya Naruto dengan nada sedikit serius.

Ditatapnya kembali gadis itu. Dengan sedikit keyakinan, akhirnya gadis itu mengatakannya, "Aku tidak akan memandang niisan sebagai kakakku lagi dan mulai menganggap niisan layaknya laki laki yang kucintai.."

Yakinlah… Untuk beberapa saat Naruto terdiam karena mencoba memahami apa maksud perkataan Hinata. Dan setelah ia sadar, perlahan lahan dia membulatkan matanya terkejut dengan pernyataan Hinata barusan. Dia ingin berucap namun pernyataan Hinata barusan terlalu mengejutkannya sampai sampai lidahnya terasa kaku.

"Aku akan tetap memanggil niisan dengan 'niisan'… tapi aku akan menganggap niisan bukan kakakku melainkan laki laki yang kucintai, dan kuharap niisan sendiri tidak menganggapku sebagai imouto mu tapi menganggapku sebagai gadis dewasa.."

Perkataan Hinata barusan hanya menambah tingkat keterkejutan Naruto yang membuatnya semakin sulit untuk berkata kata. Naruto kembali mencoba mengucapkan sebuah kata namun lagi lagi Hinata mendahuluinya sebelum ia sempat mengeluarkan suara, "Aku pasti… aku pasti.. akan membuat niisan menyatakan lagi… kalau niisan mencintaiku…"

Inilah kebulatan tekad seorang gadis… Dan sekarang entah harus bagaimana Naruto meresponnya.. mungkin bahkan dia tidak bisa berkomentar karena kenyataannya…, sejak tadi dia memang terdiam membisu saking terkejutnya. Sekarang, Hinata…, dia mendekatkan wajahnya ke Naruto yang masih terdiam dalam keterkejutannya… Wajah gadis itu semakin dekat dengan wajah Naruto. Lalu saat kedua wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter, dia merapikan rambutnya ke belakang telinga sehingga rambutnya tak menghalangi wajahnya yang semakin dekat dengan wajah Naruto.

Naruto yang dibuat terdiam, menjadi semakin terkejut dan membisu seketika saat Hinata dengan beraninya mencium lembut bibir Naruto dengan wajah memerah. Momen itu berlangsung cukup cepat…

Akhirnya Hinata kembali menjauhkan tubuhnya dari Naruto. Kemudian tersenyum dengan wajah memerah kepada laki laki di hadapannya. Sedangkan laki laki tersebut masih terdiam tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa melakukan apa apa…

"Kalau begitu… sampai jumpa di latihan pagi ini, niisan…"

Setelah mengucapkannya, Hinata membalikkan tubuhnya lalu keluar dari kamar Naruto tanpa mengucapkan apapun setelahnya. Sedangkan Naruto yang sudah ditinggal Hinata selama beberapa detik, sampai sekarang masih mematung di tempatnya dan tak bergerak sedikit pun. Saat saat dia terdiam cukup lama hingga menghabiskan beberapa menit… hingga akhirnya dia perlahan paham apa yang terjadi. Tubuhnya ambruk atau memang sengaja dijatuhkan olehnya di tempat tidur. Lengan kanannya dia gunakan untuk menutupi kedua mata dan kepala bagian atas. Dia kembali terdiam sebelum akhirnya dia bergumam, "Gawat…"

Wajahnya perlahan memerah ketika mengingat apa yang terjadi barusan..

"Kalau begini… mustahil bagiku untuk melupakannya…"

.

.

.

.

.

.

Skip Time

Mencoba melupakan kejadian pagi hari tadi, sekarang Naruto sudah berjalan menuju ke arena latihan 1, tempat dimana dia akan berlatih dengan sembilan anggota perwakilan lainnya. Dan yang membuat orang lain curiga dengan dia di pagi hari ini, jelas dari sikapnya. Orang orang dari asrama Holy Knight pagi ini banyak yang menyapanya dan memberikan semangat karena berita mengenai dirinya yang terpilih menjadi pemimpin dari perwakilan Konoha dalam battle royale untuk murid tahun pertama sudah menyebar. Namun dia tak menjawab sapaan mereka dengan baik… dia hanya melambaikan tangannya sedangkan wajahnya terfokus pada langkah kakinya meski orang orang tahu kalau pikirannya tak ada disana melainkan di tempat lain. 'Aku harus bagaimana ini…? Setelah ini aku akan bertemu dengannya lagi… apa yang harus kulakukan? Harus bagaimana aku bersikap?' batinnya yang sejak tadi terus terpikirkan mengenai pernyataan mengejutkan Hinata serta keberaniannya pada pagi hari ini.

"Hoi, Naruto! Selamat pagi! Kau mau ke arena latihan satu ya?" sapa Kiba yang kebetulan melintas disana bersama Shino yang bersamanya.

Tapi sayangnya sapaan Kiba tak mendapat balasan dari Naruto. Naruto hanya terdiam dan bersikap sama sejak awal keberangkatannya tadi dari asrama. Otomatis sikap aneh Naruto membuat Kiba dan Shino bertanya tanya. Kiba dan Shino saling menatap dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Hmm.. Kenapa dia?" tanya Kiba kepada Shino dan hanya mendapat sebuah jawaban berupa bahu terangkat yang mengisyaratkan bahwa Shino tak tahu apa yang terjadi kepada Naruto.

.

.

.

.

.

.

Arena Latihan 1

Disana sudah berkumpul sembilan anggota perwakilan Konoha dan enam senpai yaitu Yahiko, Sara, Itachi, Shisui, Nagato dan Koyuki yang sudah siap melatih perwakilan Konoha bersama dengan Kakashi yang ikut sedikit melatih mereka. Pada tahun Itachi dan kawan kawan, Konoha juga memenangkan turnamen lima Kerajaan ini dengan telak, tak satupun dari mereka kalah di battle royale. Mereka benar benar membuktikan diri mereka sebagai yang terbaik di generasi mereka… tak hanya di Konoha namun juga di lima Kerajaan.

"Dimana Naruto-kun?" tanya Shizuka yang menonton dari tempat duduk bersama murid murid Konoha dari empat asrama.

Terlihat disana tak hanya Shizuka namun juga ada Karin, Sakura, Suigetsu, Juugo, Ino, Choji dan yang lainnya. Sedangkan sepuluh anggota terpilih yang enam di antaranya merupakan bakat surga dan empat di antaranya merupakan siswa yang terpilih dari empat asrama kini juga tengah menanyakan kemana pemimpin mereka.

"Merepotkan… Kemana perginya Naruto?" tanya Sasuke menggerutu kesal karena dia sudah menunggu selama lima belas menit. Begitu pula yang lainnya yang ikut menunggu pemimpin mereka yang terlambat.

"Neji! Kamarmu bersebelahan dengan Naruto-kun, kan?" tanya Shion menoleh ke arah Neji yang sedang berkonsentrasi pada aliran sihirnya.

Neji yang merasa terpanggil segera menoleh dengan wajah yang terlihat tak tahu apa apa. "Entahlah… Aku tidak sempat membangunkannya tadi.. mungkin dia terlambat bangun atau semacamnya,"

Dan tanpa mereka semua sadari, sebenarnya sejak tadi ada seorang gadis disana yang terlihat gelisah tentang kenapa Naruto bisa terlambat pergi ke arena latihan. Akhirnya Neji yang memang lebih peka dari yang lainnya sadar akan Hinata yang sejak tadi gelisah. Dia membulatkan matanya dan mengedipkan matanya beberapa kali mencoba mengira ngira apa yang terjadi. Akhirnya ia tiba pada suatu kesimpulannya yang entah darimana asalnya, "Hmm… Jadi begitu.." gumam Neji tersenyum usil ke arah Hinata.

Dan tak lama setelahnya. Akhirnya pemuda berambut pirang yang mereka tunggu tunggu akhirnya datang memenuhi kewajibannya. "Selamat pagi, semuanya.." sapa Naruto dengan nada datar yang aneh.

Semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arah Naruto dengan ekspresi kebingungan. "S-Selamat pagi.." jawab mereka yang merasakan keanehan pada Naruto.

Sara, Nagato dan Koyuki yang memperhatikan Naruto juga terlihat mengedipkan mata mereka beberapa kali melihat penampilan Naruto yang nampak… hmm.. seperti itulah…

Kembali kepada Naruto… Dia terlihat melirik ke sekitar mencari cari seseorang. Dan akhirnya lirikannya jatuh kepada gadis yang membuatnya jadi seperti ini tadi pagi. Dalam beberapa detik, keringat bercucuran dari tubuhnya menandakan bahwa ia benar benar gugup menghadapi situasinya saat ini. Hmm, tentu saja teman temannya memperhatikan Naruto yang tiba tiba berkeringat deras itu. Tatapan mereka seketika berubah jadi tatapan bingung yang sulit di artikan.

"N-Naruto-kun.." panggil Shion yang kebingungan.

Naruto tak menjawab panggilan Shion dan sibuk menundukkan kepalanya…

Dan dikarenakan kebingungan mereka harus berbuat apa… pada akhirnya Shisui menghampiri mereka dan bertindak.

"Ehmm… etto.. kalau begitu.. mari kita mulai saja latihannya sekarang," kata Shisui yang juga jadi sedikit terkejut melihat Naruto yang berada tak jauh darinya.

Semuanya dengan serempak dan masih dalam keadaan sama sama memperhatikan Naruto, mereka menjawab, "H-Ha'i.."

TBC

.

.

.

.

.

.

Yo, minna… ane kembali dari hiatus tiga bulan. Maaf gak kasih kabar… tenang, fic ini masih lanjut dan semoga masih ada yang mau baca dan meninggalkan reviewnya. Sorry klo balik dari hiatus dan chap ini Cuma 4000 word. Chap depan pasti lebih banyak, karena chap depan udah masuk ke Battle Royale.

Pertama tama, maaf kalo semisal alur kecepetan atau justru terlalu lambat. Terus maaf kalo ada typo. Ane niatnya pengen update kemaren tapi, ane lagi kurang motivasi…

Dan oh iya bagi siapa yang mau kenal author, ane ada WA atau LINE, untuk nomer WA: 085713157861, tolong jangan diteror, LINE ada juga.. tapi klo yang mau tau yg LINE.. ntar silahkan PM ane.. ane kasih ID LINE nya

See you in next chap!

Jangan lupa tinggalkan review