Intro: Pernah membayangkan rasanya jadi tokoh fantasi? That's what I'm thinking when I searched informations about Epping Forest. Tapi, dalam kisah ini, Epping Forest menjadi salah satu setting yang crucial. Seperti apa? Enjoy this chapter! - author

PART THIRTY-SIX

(ROBBIE)

Kalian bisa membayangkan bagaimana acara setelah makan siang berlangsung. Aku tidak mau repot-repot menceritakannya. Karena pertama, aku terlalu lelah untuk mengingat apa yang terjadi. Kedua, aku merasa kerja timku cukup mengecewakan. Hah? Apa? Kalian ingin tahu mengapa aku menganggap kerja timku tidak memuaskan?

Baiklah, jadi permainan di pagi hari yang dibilang Shane 'adu ketangkasan' padahal sebenarnya melatih otak berpikir absurd itu tidak apa-apanya dengan permainan yang kami lakukan pada siang hari setelah makan siang. Ya, benar. Itulah yang dinamakan outbond dalam beberapa istilah. Kami full beradu fisik antar tim, tanpa keterlibatan guru pendamping kecuali sebagai penyemangat. Masing-masing tim dari masing-masing sekolah diberi undian dengan siapa kami akan bertanding dalam pos-pos yang sudah disiapkan. Pos-pos itu dijaga oleh panitia. Kami harus menyelesaikan permainan dalam pos-pos tersebut dan pemenangnya akan mendapatkan medali perunggu. Menurutku, semuanya berjalan lancar ketika timku memenangkan permainan estafet dalam suatu pos yang dijaga Joe melawan tim dari Stone Towers, atau saat kami berhasil menangkap bebek putih bercorak hitam melawan tim dari Hazeland, walaupun akhirnya kami menyerah dalam permainan lompat batu melawan tim dari Northern Cloud. Artinya, tinggal satu kesempatan lagi untuk mendapatkan pedali perunggu ketiga dan meng-upgrade-nya menjadi medali perak. Namun, semua berubah saat kami mendapat kertas yang menyatakan bahwa kami—lagi-lagi—harus menghadapi tim Everett dalam permainan memperebutkan bola emas.

Sebetulnya, permainan itu sederhana. Kami harus mempertahankan bola emas yang kami miliki, jangan sampai lawan mengambilnya untuk melengkapi bola emasnya. Syukur-syukur kalau kami bisa menembak lawan dengan bom air—yang baunya seperti sigung diperas—sekaligus mengambil bola emasnya. Dengan demikian, 'perang air' dalam rangka melindungi harta berharga kami itu telah merubah kami menjadi seonggok manusia yang baru diangkat dari pembuangan sampah. Callan telah menyusun strategi pertahanan kami sebaik mungkin. Dia menyuruhku menjadi tameng Chloe sementara dia menyerang dari belakang. Tapi rupanya, tim Everett—yang ketuanya jelas si setan merah itu—punya rencana lebih licik. Dengan memanfaatkan kelengahan kami, dia menyuruh anggota timnya berbalik mendesak Callan. Akibatnya, terjadi perubahan rencana mendadak. Dan karena itu, kami kehilangan satu bola emas kami. Tak mampu kami membalikkan keadaan hingga peluit panitia berbunyi. Dan itu sekaligus mengakhiri rangkaian empat permainan yang kami laksanakan. Sementara tim Everett ber- high five merayakan keberhasilan mendapatkan medali perak, tim kami terduduk di rumput; lemas, kecewa, dan berbau sigung. Sampai saat kami mengadu pada Mr Grace, ia hanya menepuk bahu kami satu per satu dan berkata, "Tidak apa-apa. Kalian sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Ingat, ini hanya permainan. Kalau kalian selalu bersikap sportif dalam permainan apapun, itu sudah lebih dari sekedar pemenang."

"Tapi, dari Leaf High belum ada yang meraih medali apapun, Mr Grace," keluhku. "Dua perunggu tak ada apa-apanya dengan satu medali perak."

"Kalau kalian terus berkata seperti itu," kata Mr Grace, "kalian tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Kerjasama kalian cukup memuaskan, kok. Kalian malah terlihat seperti tiga sahabat daripada sekedar tim sekarang."

Kata-kata terakhirnya membuat hatiku mencelos. Aku melihat wajah kotor Chloe terangkat menatap mata Mr Grace dengan perasaan yang sama. Sementara Callan, meskipun dia tetap diam tanpa ekspresi, dia mengedipkan mata sekali seraya mengangguk. Memang benar. Perkemahan ini telah mengubah ikatan diantara kami bertiga—lebih lagi antara aku dan Callan. Aku sampai lupa berapa lama kami saling beradu mulut, saling mengejek, dan berkelahi sampai kami mencapai kerjasama tim. Perasaan baru tadi pagi kekompakan kami diuji dalam pencarian telur.

Malam harinya, panitia mengadakan pesta api unggun lagi. Di pesta itu, kami dibebaskan boleh berbuat apa saja. Alexander, saudara Everett, menampilkan pertunjukan boneka kayu bikinannya sendiri di tengah-tengah keremangan cahaya api. Anak-anak yang lain menikmatinya. Yang amat mengejutkan adalah Doug, setelah insiden pengejekan itu, dia ternyata sudah memaafkan anak-anak Cloud. Dia memainkan lagu kepahlawanan Celtic yang merdu lewat alat musik tiupnya. Iramanya syahdu tapi juga membuat kaki gatal ingin menari. Jeremy dan Akamaru juga memamerkan kebolehan mereka. Anak-anak perempuan dari sekolah lain pun berebut ingin menyalami Akamaru. Pendek kata, anjing itu mendadak jadi populer. Kehangatan tercipta dalam lingkaran api unggun. Tapi, hanya aku dan Callan yang tak mau memaksakan diri bergabung, meskipun Chloe terus menerus mendesak.

"Ayolah, kalian jangan terlalu mengambil hati semua ini," katanya. "Ingat, lho, semua ini hanya permainan."

"Memang hanya permainan," akhirnya Callan angkat bicara, "tapi tetap saja, mau permainan atau tidak, nafsu seseorang untuk meraih kemenangan selalu ada. Dan nafsu itu kelihatan sekali di mata anak-anak Sandcastle itu."

Mendengarnya, aku jadi mengidentifikasikan perkataan Callan sebagai manifestasi perkataan Bree. Anak perempuan itu memang selalu curiga dengan Everett dan saudara-saudaranya, karena mereka juga memiliki keterkaitan dengan Mr Wormwood—kemungkinan terlibat dalam permainan kotor Mr D juga—dan bagiku itu sama sekali tidak aneh. Tapi kalau Callan yang curiga, itu baru namanya aneh.

"Ya sudah kalau kalian tidak mau," kata Chloe. "Aku akan ke sana dan bergabung dengan anak-anak yang lain."

"Nikmati pertunjukannya!" kataku saat Chloe berjalan meninggalkan kami menuju lingkaran api. Kini, pertunjukan sudah berubah menjadi sumber cerita horor. Aku menguap lebar-lebar, tapi Callan kelihatan belum atau sama sekali tidak lelah.

"Hei," aku memanggilnya, "kalau kau masih di luar, bilang pada yang lain kalau mereka balik ke tenda, aku sudah tidur duluan. Oke?"

Callan tidak menjawab. Entah dia mendengarku atau tidak. Yah, sekalipun kami sudah akrab seperti sahabat, tetap saja ada sifatnya yang mengganjal. Ini salah satunya. Jadi, aku hanya mengangkat bahu lalu masuk ke tenda. Kutarik keluar sleeping bag-ku karena udara malam itu cukup dingin. Aku sudah sangat mengantuk, tapi pikiranku tidak bisa diam. Satu jam berlalu. Acara api unggun belum berakhir juga. Callan juga masih di luar tenda. Aku mencoba memejamkan mata untuk malam ini. Dengan begitu memaksa.

Akhirnya, aku memutuskan bahwa aku ingin buang air kecil. Sewaktu aku bangun, suasana sudah gelap gulita. Tak ada lagi cahaya remang-remang api unggun yang menjangkau bagian luar tenda. Aku juga melihat anak-anak laki-laki bergelimpangan di dalam tenda seperti sarden dijemur, termasuk Callan. Masing-masing dalam posisi tidur yang berbeda. Jeremy adalah yang paling parah. Kepalanya mendongak ke atas sementara mulutnya terbuka lebar, mendengkur seperti kerbau. Aku berjalan perlahan-lahan keluar tenda, memakai sepatu dalam diam. Sewaktu melakukannya, aku melirik sedikit arloji Daryl menunjukkan pukul tiga pagi. Hm, berarti tadi aku berhasil tidur? Mungkin. Meski demikian, kepalaku pusing sekali.

Di depan tenda, Akamaru juga mendengkur dengan nyenyak. Telinganya sedikit bergerak-gerak tapi matanya tetap terpejam. Mungkin dia sedang bermimpi mengejar tukang pos? Hanya Jeremy yang tahu. Sekarang, tinggal mengandalkan kakiku yang masih sempoyongan untuk mencari tempat aman untuk buang air kecil. Di mana lagi kalau bukan di kamar mandi dekat hutan?

Bintang-bintang di langit cukup membantuku mencari jalan. Akhirnya, seusai buang air kecil, aku bersiap kembali ke tenda saat suara gemerisik di belakang mengagetkanku.

Datangnya dari belakang kamar mandi. Aku menajamkan mata dan telinga secara spontan. Suara gemerisik itu datang lagi. Apakah itu si penyusup? Aku mengendap-endap ke belakang kamar mandi dengan kuda-kuda karate. Dia takkan bisa lolos lagi sekarang, batinku. Aku akan menangkapnya kali ini, lalu mengadukannya pada panitia.

"KENA KAU!" aku menerjang.

Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada tumpukan kayu dan tambang yang teronggok tak terpakai. Ah, tapi pembuat suara itu pasti sudah kabur sekarang! Aku memutuskan kembali saja daripada berpikiran yang tidak-tidak.

Baru satu langkah, suara gemerisik yang sama kembali terdengar. Rupanya kali ini berasal dari kumpulan pepohonan di hutan. Aku teringat sewaktu Chloe bertemu dengan orang misterius yang mengejarnya di hutan. Apakah itu orang yang sama—yang berjalan di hutan dengan berisik untuk mengintai perkemahan? Pertanyaan terus menghujam kepalaku. Ugh, mau bagaimana lagi? Naluri mata-mataku telah kembali seperti sediakala. Sebetulnya, aku tidak takut, tapi aku cemas kalau-kalau menemukan sesuatu yang tidak enak dilihat—seperti mayat Kolonel Finchler. Aku menoleh sedikit ke arah perkemahan, kemudian membulatkan tekad. Aku ingin tahu betul siapa yang membuat suara itu.

Memang bodoh kalau pergi keluar perkemahan tanpa membawa senter. Dan aku bisa dibilang bodoh karena melakukannya saat itu. Aku hanya mengandalkan cahaya bintang di langit dan pendengaran untuk melacak si penyusup. Suara gemerisik berubah menjadi lebih keras. Mungkin si penyusup itu sedang berlari panik sekarang. Aku juga mempercepat langkah.

Melewati lorong demi lorong yang dibuat pohon-pohon, melompati akar yang mencuat, dan terus berlari. Si penyusup itu rupanya memimpinku ke sebuah pondok tua di tengah hutan. Pondok yang begitu tua sampai-sampai bisa terbakar dalam sekali percobaan. Aku mengawasi sosok bermantel hitam itu berhenti di depan pondok, seperti menunggu sesuatu. Sejenak kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya. Sebuah suluh. Kalian tahu kegunaan suluh itu, kan? Itu, lho, yang suka digunakan di film-film bertema survivor untuk mencari bantuan lewat sinyal SOS, dan biasanya berwarna merah. Sosok itu mengangkat tinggi suluh ke atas kepalanya. Aku merapatkan persembunyianku di balik pohon terdekat. Siapa yang dia panggil?

Suara berderak yang lebih berat terdengar dari kejauhan. Suasana begitu sunyi, bahkan tak ada jangkrik yang berbunyi. Aku melihat sosok lain berjalan mendekati pondok, begitu pelan tapi juga cepat di saat bersamaan. Cahaya begitu minim. Aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi begitu sisa-sisa suluh menerangi wajahnya, aku bisa melihatnya sekilas. Dia adalah Mr Wormwood.

"Kau sudah siapkan semuanya?" Mr Wormwood bertanya dengan suara pelan pada sosok misterius itu. Sosok itu mengangguk singkat, lalu mengulurkan tangannya pada Mr Wormwood.

"Oh, iya, aku lupa imbalanmu," kata Mr Wormwood sambil merogoh sakunya. Diberikannya sebuah amplop putih kepada sosok misterius itu. Kemudian, sosok misterius itu memberi isyarat pada Mr Wormwood untuk mendekat. Ia membisikkan sesuatu di telinga Mr Wormwood.

Orang Sandcastle itu tersentak. "Apa?! Ada orang lain di hutan ini?" Aku menelan ludah. Habislah riwayatku. Sosok misterius itu ternyata tahu bahwa aku mengikutinya. Aku semakin merapatkan diri ke pohon. Berdoa Mr Wormwood tidak akan mengecek keberadaanku dari pohon ke pohon.

Oh, tidak, doaku tidak berhasil. Dia sudah mulai mengecek sekarang. Berbekal senter kecil di sela-sela jemarinya yang bengkok. Aku semakin panik. Harus bagaimana sekarang?

"Keluar kau!" teriak Mr Wormwood. Dia kini semakin mendekat. Bisa kudengar langkah kakinya menggesek dedaunan yang gugur di tanah. Semakin mendekat.

Dia sampai di pohon tempat aku bersembunyi dan mengintip ke baliknya.

Tak ada siapapun yang dia temukan.

Beruntung sekali, bukan? Pohon yang kugunakan sebagai tempat sembunyi memiliki batang yang cukup kokoh. Untung aku ingat metode memanjat pohon-nya Callan di saat kepepet begini. Jadi, saat Mr Wormwood datang untuk mengecek, aku sudah naik ke atas pohon dan meringkuk diantara dahan yang gelap. Mr Wormwood takkan berpikir untuk mendongak. Kuawasi cahaya senter terpantul di permukaan kepalanya yang licin. Dia berbalik pada rekannya yang misterius untuk melaporkan.

"Tak ada siapa-siapa," katanya. "Mungkin dia sudah pergi. Kau juga boleh pergi sekarang."

Sosok misterius itu mengangguk singkat, lalu melangkah pergi. Ia menghilang di kedalaman hutan. Sementara Mr Wormwood juga berbalik menuju perkemahan. Aku menunggu sampai dia benar-benar jauh, lalu turun dari atas pohon dengan perlahan-lahan.

Bagus, Robbie Uzumaki! Aku menyoraki diriku sendiri. Sekarang jelas bahwa pengkhianatan ini telah memiliki ekor!

Aku kembali ke tenda dan tidur tak lama kemudian.

Tapi, tiba-tiba, aku terbangun oleh suara sirine dari luar tenda.

"WAKTUNYA BANGUN, SAUDARA SEPERKEMAHAN! WAKTUNYA SARAPAN DAN BERSINAR!"

Itu suara Shane. Aku menggeliat dengan malas di dalam sleeping bag-ku. Sebagian anak laki-laki Leaf High sudah bangun, dan diantaranya yang paling bersemangat adalah Ryan.

"Ayo, Pal, segera cuci muka dan lanjut ke misi selanjutnya!" dia berteriak kencang-kencang.

"Misi, eh?" kata Derrick setengah menguap. "Kau bercanda, ya?" Cukup mengherankan melihat rambut panjang Derrick sama sekali tidak kelihatan berantakan sehabis bangun tidur.

Kepala Jeremy muncul dari pintu belakang tenda dan berteriak, "AHOY! AYO, BANGUN! BANGUN! KALIAN MELEWATKAN BANYAK HAL!" Akamaru menyusulnya sambil menyalak mengiyakan, "GUK! GUK!"

"Ya ampun, kau dari mana saja?" tanyaku pada Jeremy.

"Jalan-jalan dengan Akamaru," sahut anak penggemar anjing itu, agak kaget mendengar pertanyaanku. "Memangnya aku seperti kalian, para pemalas?"

"Jeremy benar, mana nih semangatnya anak-anak Leaf High?" kata Ryan lagi. "Ayolah, siapa yang nggak mau sarapan dan memulai hari baru di perkemahan?"

"Sarapan?!" mendadak Doug terbangun dengan mata mendelik. "Tidur membuatku sangat lapar! Ayo, ayo, aku sudah tak sabar akan sarapan!"

"Bukannya kau sudah makan banyak jagung bakar, ya, semalam?" kata Daryl sambil melemaskan badannya.

"Energiku terbawa saat aku bermimpi, Kawan!" kata Doug. "Kalian seperti tak mengerti diriku saja!"

Derrick menguap lagi sambil menggaruk-garuk punggungnya. "Uh, perkemahan merekatkan antar sekolah! Lucu sekali!"

"Aku lebih memilih berada di tenda seharian," kata Connor pelan, "tapi serangga-seranggaku juga butuh makanan, jadi apa salahnya bangun lebih pagi?"

"Tunggu dulu," tiba-tiba Derrick berkata. "Jeremy, kau melihat Callan?"

Aku baru sadar. Callan tidak ada di tempatnya. Hanya ada bekas selimut yang belum dirapikan. Ke mana anak jutek itu pergi?

"Eh, apa?" Jeremy juga tampaknya bingung. "Aku sedari tadi di luar tapi tidak bertemu dengannya."

"Wow, dia punya semangat yang lebih tinggi kalau begitu!" kata Ryan. "Ayo, ngapain berlama-lama di sini? Masa muda itu harus dimanfaatkan! Wahooo!"

Ryan segera keluar menyusul Jeremy, diikuti Doug, Derrick, kemudian Connor. Daryl menanyaiku, "Kau tidak ikut keluar juga?"

"Dan kau?" balasku. Daryl mengangkat bahu, lalu kami keluar tenda bersama-sama. Ternyata, anak-anak dari seolah lain juga sudah berkumpul di lingkaran bekas api unggun. Di sana sudah berjajar kotak-kotak berisi roti panggang dengan selai kacang, susu, juga telur dan daging asap. Baru melihatnya saja, perutku sudah bergemuruh. Kurasa memang sudah waktunya aku menangkupkan lima roti dengan selai kacang itu, lalu memakannya bulat-bulat. Anak-anak perempuan Leaf High datang tak lama setelah anak-anak laki-laki mengambil jatah sarapan mereka.

"Uwah, mereka baik sekali!" kata Nicola excited.

"Ya, mereka tahu betul apa yang dibutuhkan peserta perkemahan," timpal Isa. "Hm, omong-omong bagaimana tidur kalian, Boys?"

"Mimpi indah," sahut Jeremy. "Tapi, nggak seindah dengan memburu tupai pagi tadi. Ya, nggak, Akamaru?"

"Guk!" gonggong si anjing setuju.

"Lho, kalian cuma berlima? Ke mana Callan?" tanya Chloe padaku.

"Nggak tahu," sahutku. "Dia pergi ke mana juga tidak ada petunjuk."

"Apakah ke hutan?" tanya Chloe, matanya berkilau cemas.

"Ehm, Chloe, bisa kita bicara berdua saja?" kataku cepat-cepat. "Sebentar saja."

Kami menghabiskan roti secepat mungkin. Lalu, aku menarik Chloe ke belakang sebuah karavan. Aku menceritakan padanya bahwa aku memergoki Mr Wormwood di hutan itu.

Chloe meninju tangannya sendiri dengan keras. "Sudah kuduga, rencana busuk itu pasti akan segera terlaksana. Bagaimana ini?"

"Dan kuduga yang bersamanya itu orang yang sama dengan yang pernah mengejarmu," kataku. "Apa jangan-jangan dia Mr D?"

"Aku meragukannya," kata Chloe. "Mr D kan pincang! Dia nggak mungkin bisa berlari dengan cepat."

"Oh, iya," kataku. "Kalau bukan dia, berarti ada orang lain yang terlibat?"

"Mr Shikuya bisa jadi!" kata Chloe, matanya melebar. "Dia nggak ikut perkemahan karena sedang melaksanakan sesuatu di luar sana."

"Apa jangan-jangan dia juga yang ditembak oleh Mr Bee?" gumamku.

"Mr Bee?"

"Itu, lho, yang membuat keributan dengan suara ledakan kemarin. Dia ternyata saudara angkat kepala sekolah Northern Cloud. Kemarin dia diinterogasi oleh panitia dan guru-guru, tapi berdalih melakukannya karena melihat penyusup. Dan katanya, penyusup itu mengincar anak-anak Leaf High."

"Tapi, apa yang sebetulnya mereka rencanakan—maksudku Mr Wormwood dan sosok misterius itu?"

"Aku nggak bisa mendengar obrolan mereka. Soalnya mereka pakai acara bisik-bisik."

"Jadi, bagaimana?" kata Chloe. "Kita beritahu Mr Grace sekarang?"

"Jangan, jangan sekarang," kataku. "Kalau Mr D mengincar diriku, dia tak boleh curiga dengan tingkahku. Ingat, dia bersama para guru sekarang. Tapi, dia sedang mencoba supaya rencananya tidak diketahui, kan? Itu sebabnya dia tidak ikut menginterogasi Mr Bee. Justru kita sekarang harus mencari Callan dan mengungkapkan semua yang kita ketahui padanya."

Chloe mendesah. "Robbie, tidak bisa begitu."

"Kenapa? Kalian yang bilang kalau entah aku atau dia dalam bahaya, kan? Kita harus memperingatkannya juga!"

"Tidak, kau tidak mengerti."

"Apanya?"

"Bree yang menyuruh untuk tidak melakukannya," jawab Chloe. "Jangan sampai Callan tahu tentang semua ini."

"Apa? Sejak kapan dia punya keputusan seperti itu?"

"Kau bisa menanyakannya sendiri pada Bree kalau sudah selesai perkemahan," kata Chloe.

Aku memicingkan mata dengan curiga dan mendengus. "Oke, oke, aku mengerti. Kalian membantuku mengungkap rahasia tapi masih juga bersikap rahasia padaku?"

"Bersikap rahasia bagaimana?"

Aku dan Chloe sama-sama kaget. Callan menghampiri kami dari balik karavan. Baik aku maupun Chloe jadi salah tingkah.

"Eh, anu," kata Chloe cepat-cepat, "dia baru saja curhat padaku—si Robbie."

"Hm, ya, benar," jawabku meringis. "Hanya masalah yang sepele, tapi… yah, kau tahulah. Kenapa kau tidak sarapan saja?"

"Aku sudah makan, kok," jawab Callan. "Jauh sebelum kalian semua bangun."

"Lalu, selama ini kau ke mana saja?" tanyaku.

Callan merogoh sakunya dan mengeluarkan segenggam lumut berwarna hijau. "Aku mengumpulkan ini," jawabnya. "Banyak di dalam hutan. Aku mendengar kalian bicara, jadi aku kemari. Siapa tahu kalian membicarakan acara kita hari ini."

"Oh, begitu," kata Chloe, tampak lega.

"Hari ini kita tidak bermain-main, kudengar," kata Callan. "Kita akan menjelajah Epping bersama guru pembimbing kita."

"Ah, sungguh?" aku bersemangat mendengarnya. Bagaimana tidak? Aku takkan menghargai perkemahan kalau isinya cuma permainan konyol.

"Yep," sahut Callan. "Sebentar lagi acaranya dimulai. Sebaiknya kita bersiap-siap membawa apa saja yang dibutuhkan."

Aku melirik sneakers jingga yang kupakai setiap hari sudah kotor kena noda lumpur. "Hm, oke, kurasa kau benar. Acaranya pasti akan sangat menyenangkan!"

Semua tim kini berkumpul dengan pembimbingnya masing-masing.

"OH, YA! PETUALANGAN DIMULAI!" suara lantang Mr Guy membahana saat timnya bersiap untuk berangkat memasuki Hutan Epping. Ryan menyambutnya dengan mengacungkan jempol penuh semangat, sementara Isa dan Derrick menatap keduanya dengan pandangan heran. Di kelompok delapan, Mr Shaw memberi pengarahan pada anak buahnya mengenai hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam hutan. Sementara kelompok Jeremy, Akamaru, dan Connor juga tampak sama excited-nya dengan guru Biologi kami, Miss Dennings, yang siap dengan kamera Nikon-nya untuk memotret sampel flora dan fauna.

Di kelompok kami, Mr Grace menyambut dengan seragam ala penjelajah hutan lengkap, dengan masker hitam dan rompi hijau bersaku empat.

"Apa kabar, Anak-anak," sapa Mr Grace. "Kalian siap?"

"Siap!" sahutku.

"Siap!" kata Chloe.

"Hng," ujar Callan seraya mengangguk.

Dan penjelajahan pun berjalan seperti yang kuharapkan. Hutan Epping adalah sebuah tempat konservasi yang cantik dengan berbagai jenis pohon tertanam di sana. Tapi, paling banyak jenis ek, beech, dan hornbeam. Mr Grace menjelaskan dengan seru. Dia lebih jago masalah pohon dari perkiraanku.

"Ayahku dulu juga suka menjelajah hutan," dia memberitahu kami. "Dia adalah seorang pria yang penuh semangat. Sampai dia meninggal, aku masih bisa merasakan semangatnya."

"Wah, apakah dia pernah masuk National Geographic?" tanyaku.

"Hm, belum," jawab Mr Grace. "Tapi dia mendedekasikan hidupnya untuk hal-hal mulia, dan dia berjuang demi kebaikan. Dia adalah ayah terbaik yang pernah kumiliki."

Mendengar nostalgia Mr Grace, aku jadi berpikir, andaikan aku tahu seperti apa pekerjaan ayahku sendiri. Menjadi mata-mata bukan pekerjaan yang mudah dan bertaruh banyak nyawa, termasuk saat dia mengorbankan dirinya untuk melindungi putranya.

Tiap kami melangkah, ada saja suara burung berkicau di dahan-dahan yang mulai gundul. Dan sewaktu kami melewati lingkaran pohon birch, kami melihat seekor rusa yang awas sedang mencari-cari rumput. Chloe bermaksud mendekati rusa itu, tapi dia malah lari. Namun bagiku, pemandangan paling indah adalah saat Mr Grace memandu kami mengunjungi tempat favoritnya waktu kecil di Hutan Epping, yakni padang bunga liar. Ribuan bunga berwarna kuning cerah bermekaran di sela-sela rumput. Bunga-bunga itu akan semakin banyak saat musim semi. Keindahan bunga-bunga itu dipadu dengan pemandangan pepohonan penuh lumut, semak-semak, dan dedaunan merah benar-benar luar biasa.

"Hutan adalah sumber kehidupan," kata Mr Grace. "Itulah kenapa keindahan seperti ini patut dilestarikan."

"Wah, Anda sudah seperti guru Biologi saja sekarang," celetuk Chloe. Ia berlutut di sekat rumpun bunga liar tersebut sambil membelainya penuh sayang.

"Kau tak perlu menjadi guru Biologi untuk menyampaikan hal seperti itu," tawa Mr Grace. "Oh, lihat di sana! Apakah itu seekor elang?"

Ia menunjuk ke atas dahan sebuah pohon sycamore yang tingginya puluhan meter dari tanah.

"Itu adalah red kite," kata Callan.

"Spesies yang sangat langka," kata Mr Grace. "Indah sekali, bukan? Masih ada lagi jenis burung predator lain yang bisa kita temui di sini."

Kami melanjutkan perjalanan sejenak, lalu beristirahat di sebuah tunggul pohon yang berlumut sambil menenggak air minum. Chloe tampaknya sibuk mengamati seekor tupai sementara Callan mengeluarkan pisau kecil untuk mengambil lumut dari pohon. Aku pikir ini adalah saat yang tepat untuk iseng-iseng bertanya.

"Mr Grace, apakah sewaktu kecil Anda pernah berburu di daerah sini bersama ayah Anda?"

"Well, aku tidak terlalu ingat," jawab Mr Grace. "Tapi kurasa pernah, itu pun kami hanya mencari seekor pheasant."

"Jadi, Anda tak pernah mengunjungi pondok berburu apapun di sini?"

"Oh, kalau maksudmu pondok Ratu Elizabeth, memang ada," jawab Mr Grace. "Tapi selama bertahun-tahun karena merupakan konservasi, perburuan tak pernah lagi diadakan di sini. Kisah horor tentang hantu pondok pemburu itu hanya mitos, tak lebih dari isapan jempol."

"Tapi, apakah bukan di Epping—melainkan di tempat lain—Anda tak pernah melihat pondok berburu lainnya?"

"Ada sesuatu yang ingin kaubicarakan?" Mr Grace balik bertanya.

Aku baru saja akan mengatakannya saat tiba-tiba Callan sudah kembali. "Sebaiknya kita lanjut, Mr Grace," katanya. Dia tampak puas dengan banyaknya lumut yang berhasil dia kumpulkan. Entah apa gunanya. Chloe juga sudah kembali.

"Aku menemukan keluarga tupai kelabu tinggal di dalam pohon elm lima meter dari sini," katanya. "Apakah kita akan lanjut lagi?"

"Tentu saja, masih banyak area yang belum kita jangkau!" kata Mr Grace. "Ayo, jangan jauh-jauh dariku supaya kalian tidak tersesat!"

Baru saja mau melangkah, kakiku keserimpet tali sepatuku sendiri dan aku jatuh terjengkang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Mr Grace kaget.

"Eh, ya, kalian duluan saja," kataku sambil berlutut. "Aku mau membetulkan tali sepatu sebentar."

"Huh, salahnya kenapa kau tidak membawa sandal gunung untuk bepergian," kata Chloe. "Sepatumu terlihat sangat menderita."

"Trims atas pujiannya," kataku. Bagaimana tidak, tali sepatuku ternyata copot dua lubang. Aku segera menalikannya kembali lalu menyusul mereka.

Mr Grace memperkenalkan kami pada sebuah sungai yang mengalir di tengah hutan. Sungai itu tak bernama, tapi airnya sangat jernih. Melihat air, aku jadi kebelet pipis lagi. Udara dingin musim gugur menjadi salah satu faktor mengapa aku jadi keseringan buang air kecil.

"Ya sudah, silakan cari tempat yang aman!" Mr Grace berpesan padaku. "Jangan lama-lama, ya!"

"Pasti!" sahutku. Aku segera meninggalkan kedua rekanku bersama Mr Grace di tepi sungai. Menahan pipis boleh saja tapi jangan keterusan, karena nanti kau bisa kena batu ginjal. Aku segera menemukan sebuah semak-semak yang cukup tersembunyi, di tepi sebuah jeram yang dangkal. Tempat yang cocok sekali untuk buang air. Apalagi dengan nyanyian burung yang merdu. Mood pipisku langsung meningkat drastis.

Selesai buang air, aku bersiap kembali pada teman-temanku. Namun mendadak sebuah pukulan menghantamku dari belakang, lalu segalanya menjadi gelap. Mataku berkunang-kunang dan tak lama kemudian, aku jatuh pingsan.

TO BE CONTINUED