Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ A DREAM ~
[ Chapter 35 ]
.
.
.
Pekerjaan Sasuke telah selesai, dia sangat jahat mengunciku di ruangannya, aku sempat bertemu dengan Ino lagi, tapi Sasuke memintaku untuk mengabaikannya dan cepat-cepat pulang.
"Tolong jangan datang ke rumah sakit lagi dan bertemu Ino." Ucap Sasuke, kami baru saja masuk ke dalam mobil.
Mengangguk pelan, aku sudah katakan jika tidak sengaja bertemu Ino dan dia sama sekali tidak percaya.
"Dan ini." Sasuke memegang tanganku dan memasangkan sebuah cincin di jari manisku. "Jangan sampai menghilangkannya lagi." Ucapnya.
Menatap cincin itu, ini cincin pertunangan kami, tiba-tiba teringat akan terapi yang di berikan dokter Orochimaru, cincin ini bukan aku yang memakainya, tapi mayat itu.
Haruki!
Sebuah ingatan samar-samar yang aku lihat, aku masih tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Ada apa Sakura?" Ucap Sasuke.
Aku harus berbicara dengan Ino, membuka pintu mobil dan berlari keluar.
"Tunggu, Sakura! Kau mau kemana!" Teriak Sasuke dan aku tidak peduli, terus berlari kembali ke dalam rumah sakit.
Ino, dimana Ino? Aku harus mencarinya, dia tahu sesuatu tentang Haruki.
"Dimana dokter Ino?" Tanyaku pada seorang perawat.
"Dokter Ino, aku melihatnya berjalan ke arah ruangannya." Ucap perawat.
Bergegas ke arah ruangannya, membuka pintu dan Ino terlihat terkejut.
"Ino katakan segalanya, aku akan mendengarkanmu." Ucapku.
"Sakura, kau datang lagi?"
"Hentikan Ino!" Teriak Sasuke, dia berhasil menyusulku kesini.
"Tidak Sasuke, biarkan aku berbicara dengannya." Ucapku.
"Ino akan berbohong, apa kau masih percaya dengannya?"
"Apa maksudmu Sasuke? Aku tidak akan berbicara bohong kali ini." Tegas Ino.
"Kita pulang." Ucap Sasuke, dia sampai menarikku untuk pergi.
"Jangan menyentuh Sakura seperti itu! Apa hakmu!" Teriak Ino, dia sampai marah menatap Sasuke.
Lenganku terasa sakit, Sasuke terus menggenggamnya kuat dan menatapku, dia ingin aku segera pergi.
"Aku suaminya, aku berhak padanya." Tegas Sasuke.
"Kalian bahkan belum menikah." Ucap Ino.
"Gara-gara siapa kami tidak menikah! semuanya karena kau! Kenapa kau tidak bisa berubah! Aku sudah menganggapmu sebagai teman!" Sasuke jadi sangat marah dan nada suaranya meninggi.
Aku hanya bisa terdiam menatap keduanya, karena Ino, aku dan Sasuke tidak menikah dan ada hal lain apa lagi yang tidak aku ketahui?
"Kau harus memberitahukan yang sebenarnya pada Sakura tentang kecelakaan yang terjadi pada Haruki!"
"Sakura tidak bersalah, kaulah penyebab mereka hampir mati."
"Aku tidak melakukan apapun!"
"Cukup Ino! Sakura kita harus pulang."
"Kau harus tahu Sakura, kematian Haruki itu karena mu!"
Deg!
"Jangan dengarkan Ino, dia berbohong."
"Mau sampai kapan kau menyembunyikannya Sasuke! Kau harus memberitahukan yang sebenarnya pada Sakura!"
"A-apa itu benar Sasuke?" Ucapku, tanganku sampai gemetaran, bagaimana bisa aku yang menyebabkan Haruki mati?
Aku?
Sungguh?
"Tidak, semua yang Ino katakan tidak benar, kau harus pulang dan tenangkan dirimu." Ucap Sasuke.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, Sasuke membawaku pergi, dia mengajakku pulang dan aku seperti orang yang kebingungan, sesuatu yang membuatku lupa, kecelakaan itu, Haruki dan aku.
Aku sangat ingin percaya pada Ino, tapi aku tidak ingat akan hal itu, jika aku punya sebuah bukti yang membenarkan akulah pelakunya, Ino tidak mungkin berbohong.
"Sakura."
Menatap pria di hadapanku, aku mulai sadar jika Sasuke pun mulai sering berbohong padaku.
"Katakan semuanya." Ucapku.
"Aku akan menceritakannya." Ucap Sasuke, dia begitu tenang, sorot mata itu membuatku sulit tahu apa dia mencoba membuat cerita karangan lagi atau ini adalah kebenaran yang terjadi. "Tapi tidak sekarang." Lanjutnya.
"Aku akan membunuhmu sekarang juga." Ucapku dan berusaha menggapai leher si pria menyebalkan ini, bagaimana bisa dia bersikap seperti ini? Aku sudah sangat penasaran dan sangat kesal sejak tadi, meskipun usahaku sia-sia aku terus mencoba hingga lelah sendiri, Sasuke terlalu kuat untuk menahan kedua tanganku.
"Kau masih dalam tahap pemulihan, mungkin jika aku menceritakannya sekarang, kau akan hilang kendali lagi atau kau benar-benar ingin membunuhku?" Ucapnya, dia sedang tidak bercanda.
"Aku akan menahan diri." Ucapku, aku tidak mungkin melukainya lagi, siapa lagi yang akan berada di sisiku selain dia? Hanya Sasuke yang terus bersamaku selama ini.
.
.
.
.
Restoran steak.
"Aku senang sekali kau menghubungiku dan kau sudah kembali ke Konoha." Ucap Kiba, senyumnya terlalu lebar, apa rahangnya tidak pegal? Sejak bertemu, senyumnya tidak bisa memudar.
Aku hanya mengubunginya sekali dan dia terus-terusan menghubungiku untuk bertemu, aku jadi harus menunggu Sasuke pergi bekerja dan bisa bebas keluar, entah mengapa aku merasa seperti sedang pergi selingkuh, padahal hanya bertemu teman saja.
"Kau tidak perlu mengajakku makan, aku hanya ingin berbicara santai." Ucapku.
"Tidak-tidak, kau harus makan yang banyak, lihatlah, kau kurus sekali setelah keluar dari rumah sakit." Ucapnya dan sudah memesan daging steak berkualitas untukku.
"Karena aku sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku ingin membalas kebaikanmu padaku." Ucapku, aku tidak lupa hal itu, aku harus membayar apapun yang sudah Kiba lakukan, dia sampai membantuku seperti ini.
"Tidak perlu, aku hanya bercanda tentang membalas bantuanku." Ucapnya dan aku sangat ingin menonjok wajahnya, dia terus-terusan berbicara seperti inilah, itulah, dan akan menyuruhku menemaninya dan saat bertemu kembali dia tidak peduli dengan semua hal yang sudah ucapkannya. "Jadi, sekarang kau tinggal dimana?" Tanyanya.
"Aku tinggal bersama dokter Sasuke di apartemennya." Ucapku.
Senyumnya seketika memudar, akhirnya dia berhenti tersenyum, ada apa? Aku rasa tidak ada yang masalah, lagi pula dulunya dia calon suamiku dan hanya Sasuke yang paling bisa memahamiku untuk saat ini.
"A-aku akan membelikanmu rumah, atau kau mau sebuah apartemen? Akan aku carikan untukmu, sekarang berkemaslah dan kita pergi mencari tempat tinggal."
"Ada apa denganmu? Tidak perlu, aku akan tetap tinggal bersama dokter Sasuke." Tegasku, apa dia sudah gila?
"Jadi benar, kau dan dia telah menikah? Kau menyukainya?" Ucap Kiba dan wajahnya muram.
"Kami tidak menikah, jika di tanya masalah perasaan, aku tidak bisa berbohong, aku menyukai Sasuke." Ucapku.
"Sejak kapan kau menyukainya? Aku pikir kau benci padanya."
"Aku tidak tahu sejak kapan, tapi cukup sulit untuk melepaskan Sasuke, aku selalu ingin bersamanya."
"Baiklah, pokoknya kau harus makan banyak." Ucapnya dan senyum kali ini secara terpaksa, aku masih bingung akan sikap pria di hadapanku ini. "Tapi apa aku bisa menagih jalan-jalan bersama itu?" tanyanya, dia masih membahasnya, katanya tidak perlu, dasar plin-plan.
"Tentu, kau boleh menagihnya, aku merasa tidak enak jika terus-terusan meminta bantuan padamu."
"Aku senang mendengarnya, apa setelah ini kita masih bisa bertemu? Be-berteman maksudnya."
"Asal kau tidak bosan padaku, aku hanya sulit keluar dan lagi Sasuke itu tipe tukang cemburu yang parah." Ucapku.
"Aku tahu, dia bahkan dengan mudah melakukan apapun untuk menjauhkanku darimu."
"Aku juga minta maaf atas sikapnya padamu."
"Semua sudah lewat, apa kau tidak perlu bantuan apa-apa lagi dariku?"
"Sebenarnya masih ada, tapi aku merasa tidak enak."
"Jangan seperti itu, kau bisa minta bantuanku kapan saja, aku akan membantumu." Tegasnya. Dia benar-benar pria yang unik.
"Ini agak sulit, tapi jika kau tidak bisa, tidak apa-apa." Ucapku, aku hanya tak sabar menunggu hingga Sasuke mengatakan segalanya.
"Tenang saja, memangnya hal apa yang tidak bisa aku lakukan?" Ucapnya, lagi-lagi berbicara sangat sombong seperti itu.
"Mengganggu Sasuke?" Ucapku.
"I-itu jangan di bahas, aku tidak ingin bermasalah dengan ayahku lagi." Ucapnya dan mengalihkan tatapannya.
Tertawa mendengar ucapannya, tetap saja masih menyombongkan diri di saat seperti ini.
.
.
.
.
[Sasuke pov]
Securty apartemen mengatakan jika Sakura pergi keluar, dia masih belum pulang dan tidak mengatakan apa-apa padaku, berapa kali pun aku menegurnya, Sakura seperti biasa akan keras kepala.
Terdengar passrword pintu yang sedang di pencet.
"Ka-kau sudah pulang?" Ucapnya, bahkan tatapan terkejut itu tidak bisa di sembunyikannya.
"Dari mana saja kau?" Ucapku dan menatap tajam padanya, selalu saja tidak mendengarkanku.
"Hanya bertemu teman." Ucapnya dan terdengar sedang mencoba berbohong.
Teman? Siapa yang di temuinya? Aku tahu jika dia tidak pernah akrab dengan siapapun, bahkan itu teman sekolah, dan juga Sakura sudah koma dalam cukup waktu lama dan tidak ada yang tahu keberadaannya selama tinggal di rumah sakit, jika itu Ino, tapi seharian ini Ino ada operasi dan aku melihatnya.
Menghela napas, Sakura memang akan seperti ini, semakin aku menekannya, dia akan semakin memberontak, aku tidak bisa terus-terus menegurnya.
"Baiklah, lain kali katakan padaku saat kau keluar." Ucapku.
Gadis itu berjalan lebih dekat ke arah dan memperhatikan wajahku.
"Ada apa?" Tanyaku bingung.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya dan membuatku semakin bingung.
"Apa kau melihat aku sedang dalam masalah?"
"Aku hanya tidak ingin kau marah." Ucapnya dan wajah cemas itu cukup menggemaskan, aku tak tahan melihatnya seperti itu.
Memeluknya.
"Aku akan menahan diri untukmu, tapi jangan pergi tiba-tiba seperti ini." Ucapku.
Sakura mengangguk pelan, dia tidak mendorongku atau memaksaku melepaskan pelukan ini, Sakura juga membalas pelukanku, cukup erat, entah apa yang terjadi padanya hingga membuatnya seperti sedang membutuhkanku, aku sangat senang akan sikapnya seperti ini.
Beberapa hal membuatku harus tutup mulut untuk sementara waktu, aku masih belum bisa mengatakan banyak hal padanya, dia masih dalam tahap pemulihan dan bisa saja menjadi pemicunya untuk lepas kendali lagi.
"Hey, bagaimana jika kita menikah besok?" Ucapku.
Segera saja Sakura melepaskan pelukannya dan menjauh dariku.
"Me-menikah? Besok?" Ucapnya dan sangat terkejut.
"Hn, aku tidak ingin orang-orang membicarakan kita yang tinggal satu atap."
"Apa kau sungguh-sungguh padaku?"
"Bagaimana jika aku menanyakan hal yang sama, apa kau akan menolakku."
"Tidak!" Bahkan nada suaranya terdengar tegas, aku tahu Sakura, kau hanya menyembunyikan perasaanmu saja.
"Aku akan menyiapkan segalanya, kita hanya perlu satu saksi untuk kita." Ucapku, aku sudah sangat yakin untuk hal ini, kali ini aku tidak akan melepaskan Sakura lagi.
"Tapi ini terlalu mendadak, bagaimana tanggapan orang tuaku dan orang tuamu?" Ucapnya dan terdengar ragu.
"Aku akan menjelaskan segalanya." Tegasku.
Sakura terdiam dan dia hanya mengangguk dengan wajah yang merona malu, dia mengikuti ucapanku dan aku sangat-sangat senang, kembali memeluknya erat dan mengecup bibirnya.
"Aku mencintaimu." Ucapku.
"Ti-tidak perlu ucapkan, aku sudah tahu!" Ucapnya dan malah memukulku. Seperti inilah Sakura, dia hanya gadis polos dan kasar yang aku cintai.
.
.
.
.
Esoknya.
Gaun pengantin yang sederhana, itu adalah pilihannya, aku tidak akan memilihkan apapun untuknya, kami akan menikah hari ini, hanya seorang penghulu yang menikahkan kami, dan juga berperan sebagai saksi untuk kami, tidak ada kedua orang tua dan tidak ada yang perlu datang dan hanya akan mengusik rencana bahagia kami.
"Sekarang sekalian sah menjadi seorang suami dan istri, apa seperti ini tidak apa-apa?" Ucap seorang pria yang tengah menjadi saksi untuk kami.
"Tidak apa-apa, terima kasih." Ucapku.
"Baiklah, surat-surat kalian juga sudah lengkap." Ucapnya lagi dan kami bisa pergi sekarang, ini jauh lebih baik, pernikahan yang sudah cukup lama aku tunggu.
"Apa sebaiknya memberi tahu pada keluargamu dan keluargaku?" Ucap Sakura padaku.
"Jika itu yang kau inginkan, kita akan ke kediamanmu dan setelahnya aku akan mengajakmu ke kediamanku."
"Apa mereka tidak akan marah?" Ucapnya, khawatir.
"Tidak, mereka tidak akan marah, karena aku akan menjelaskan segalanya." Ucapku.
Tatapan itu, Sakura masih terlihat ragu, membawanya ke dalam mobil.
"Apa kita akan langsung pulang?" Tanyanya.
"Tidak, aku sudah memesan resort untuk berlibur, lagi pula aku sudah mengambil cutiku, jadi aku tidak perlu ke rumah sakit lagi."
"Ka-kau sungguh repot, tiba-tiba mengajak menikah seperti ini dan malah mengambil cuti." Ucapnya dan wajah merona itu membuatnya semakin cantik.
"Hari ini adalah hari untuk kita, jangan protes apapun padaku." Ucapku dan akhirnya dia menatap kesal padaku, dia sangat cepat mengubah sikapnya, sedikit lucu dan aku senang melihatnya.
Mulai melajukan mobil kami ke jalan raya, sebuah resort yang memakan waktu 2 jam dari tengah kota, aku sudah memesan segalanya untuk bulan madu dan liburan bagiku, tidak perlu pergi jauh, Sakura juga akan banyak protes jika dia tahu aku membuang-buang banyak uang hanya untuknya, sejak pertemuan awal kami, aku tahu jika dia gadis yang sangat mandiri.
"Aku belum mengucapkan hal ini." Ucap Sakura, melirik sejenak ke arahnya dan kembali fokus pada jalanan, wajahnya tertunduk. "Terima kasih untuk segalanya, hari ini dan hari-hari yang telah kau lakukan padaku, kau bekerja keras untukku, berusaha membuatku bisa berobat hingga benar-benar sembuh, kadang aku sedikit keras kepala memikirkan untuk apa harus bersama orang sepertimu? Bahkan sejak pertemuan awal kita, aku sedikit membencimu, selalu seenaknya, tidak mendengarkanku dan-uhm,maaf." Ucapannya tiba-tiba terhenti, aku tidak akan pernah marah pada ucapannya.
"Lanjutkan saja, aku tidak akan marah, lagi pula itu adalah kenyataan bukan?" Ucapku.
"Ah sudahlah, aku yang seharusnya minta maaf, pokoknya terima kasih, terima kasih suamiku." Ucapnya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa dia benar-benar menerimaku, melirik ke arahnya dan sebuah senyum bahagia darinya, hanya sebuah hal kecil seperti ini yang aku harapkan.
"Sasuke, awas!"
Braaaakk!
Membuka mataku, aku rasa sesuatu menabrak kami, kepalaku sedikit pusing dan aku rasa mobil milikku hancur, Sakura! melirik ke samping, dia tidak ada pada kursinya, pintu mobil di sampingnya pun hancur dan entah kemana, kepalaku semakin pusing dan aku sulit untuk melihat lebih baik.
"Cepat angkat dia, cepat."
"Wah, ini sangat parah."
"Anda baik-baik saja?"
"Panggil ambulans! Cepat panggil ambulans!"
"Nona, anda tidak apa-apa? Nona?" Ucap seseorang, aku mendengar suaranya itu, mungkin itu adalah Sakura.
Seseorang seperti menarikku keluar dari mobil, berusaha melihat lebih baik, mobil kami terbalik dan Sakura ada dimana? Aku bisa melihat beberapa orang mengangkatnya, gaun putihnya berlumuran darah dan dia tidak membuka matanya sama sekali.
"Sakura!" Ucapku, meskipun kaki dan tubuh ini merasakan sakit dan lemas, aku harus ke sana.
Seseorang yang memapahku, membawaku ke arahnya, beberapa orang yang mengangkatnya membawanya ke arah trotoar, menjauh dari jalanan beraspal.
"Sakura?" Panggilku, gadis itu sama sekali tidak membuka matanya.
"Tunggulah, kami telah memanggil ambulans." Ucap seorang pria padaku.
"Tenang saja, aku seorang dokter." Ucapku, memeriksa keadaan Sakura, aneh, denyut nadinya tidak terasa lagi. "Sakura, bangun, Sakura." Ucapku dan mencoba memompa jantungnya, memberinya napas buatan, dia harus bangun, dia harus sadar, hari ini adalah hari bahagia kita. "Sakura. Sakura!" Teriakku, apapun yang aku lakukan, dia tidak akan membuka matanya, menatap ke depan, sebuah truck besar membawa bahan bangunan menabrak kami dengan cukup keras, asap masih mengepul dari mobil milikku yang sangat hancur dan truk itu ikut terbalik, semua bahan bangunannya jatuh dan berserakan di jalanan.
"Sakura! Bangun!" Teriakku.
Tidak bisa.
Kenapa dia tidak bangun?
Kau harus bangun!
Sakura!
SAKUURAAA...!
.
.
TBC
.
.
update...~
Lacus Clyne 123 pertanyaan di jawab di chapter semuanya yaa. ehehe. jadi nggak ada penjelasan lewat ucapan author disini XD.
Annis874 di jawab di chapter, itu kayaknya bakalan masuk Ino pov dan Sasuke pov. nanti.
kusina. masih banyak, masih ada ino Pov, dan Sasuke pov, sasuke ini paling banyak nyimpan rahasia XD
sitilafifah989. Bisa jadi, author sudah memikirkan bagian itu XD
dan review lainnya makasih banyak, author balas yang mendekati pertanyaan aja yaa, pokoknya makasih banyak deh.
yang nunggu fic lain yang masih TBC, sabar yaa, author mulai tak mampu untuk fokus pada banyak hal, ehehe, jadi fokus satu fic ini, pokok bakalan update, tapi entah kapan bisa dan lagi, sepertinya jari author agak sedikit pegal dan sakit, *curhat lewat* entah itu karena rajin ngetik atau apa :D :D berpikir positif saja, mungkin hanya lelah ngetik XD nanti sembuh juga, hehehe.
.
.
See U nex chapter!
