28 Desember, Takigakure
Malam hari…
Shibuki yang tertidur dengan posisi duduk bersila dibangunkan pengawal tempat tinggalnya bahwa ada 4 ninja yang ingin menemuinya. Saat penjaga itu mengatakan salah satunya adalah wanita bersurai pirang dengan pakaian Jounin Kumogakure, Shibuki langsung berlari cepat menyambut 4 ninja tersebut. Yugito bersama 3 ninja berwajah asing berdiri di depan teras Shibuki dengan wajah kelelahan. Shibuki menatap rembulan yang bersinar lembut, sayangnya, hari ini di Taki sedang mengalami badai salju tingkat menengah.
"Kalian tidak apa-apa?! Silahkan masuk ke dalam, Anzo..kabari pelayan rumah untuk menyiapkan satu teko coklat panas, oh ya…hidupkan pemanas ruangan…" Yugito sedikit tumbang ketika Shibuki memberikan instruksi kepada ninja penjaga kediamannya, Shibuki dengan cepat menangkap Yugito yang terlihat kelelahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Shibuki dengan wajah cemas. Nagato yang sedang membopong Yahiko memandang Shibuki, di mana Shibuki balas memandangnya ingn tahu.
"Kami harus sampai ke Taki dari Ame secepatnya, walaupun sewajarnya perjalanan memakan waktu dua hari…tetapi kami memaksa untuk tetap sampai di desa anda hanya dalam waktu satu hari, Shibuki-sama. Apalagi baru selesai bertarung dan di perjalanan kami terkena badai salju-ohok-tetapi...tetapi ini instruksi dari Yondaime Uzukage…" kata Nagato menerangkan. Kondisinya pun cukup buruk walaupun dia memanggul Yahiko yang benar-benar pucat. Tampaknya pemuda bersurai merah jingga jabrik itu terkena Hipotermia, dia harus dihangatkan segera.
Whussshh….suara angin badai salju sangat mengerikan malam itu. Yugito dan ketiga Uzumaki lainnya sudah memasuki kediaman Kepala Desa Taki yang hangat. Shibuki menutup pintu luarnya dengan wajah berpikir.
'Apa lagi rencanamu, wahai Pemimpin Uzu?'
THE UZUKAGE
BY DONI REN AND ICHA REN
NARUTO IS ALWAYS BY MASASHI KISHIMOTO
THE UZUKAGE PROJECT
STORYLINE PART 2, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE
Arc Pernikahan Shion (IwaSuna Arc)
"Rencana besar, dimulai!"
WARNING: OUT OF CHARACTER, OUT OF CANON, IMAGINATION, SOME HARD LANGUANGE AND 18+ LANGUANGE, A LITTLE BIT 18+ SCENE (NO SEX SCENE), A LITTLE BIT GORE AND H-AUTHOR
GENRE: ADVENTURE-ROMANCE-DRAMA
PAIR: UZUMAKI NARUTO x SHION
POV: NORMAL POV
HAVE FUN READ, BRO AND SIS!
.
.
.
The Rise of Uzushiogakure
Chapter 35
28 Desember, Takigakure
Yugito meminum segelas coklat panas yang diberikan Shibuki beberapa kali teguk. Betul-betul nikmat. Dia meletakkan gelas itu di piring kecil dan mengeratkan selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Di ruangan tamu Shibuki yang hangat duduk Nagato dan Konan dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuh mereka. Yahiko dibaringkan di kamar tamu karena kondisinya memburuk. Para pelayan Shibuki dan seorang dokter desa sedang merawatnya di kamar. Shibuki memasuki ruang tamu bersama Uzumaki Sara yang setengah mengantuk, jelas saja…waktu di jam dinding ruangan tersebut menunjukkan pukul 10 lewat 3 menit malam. Waktu yang nyaman untuk tidur.
"Sara-chan?!" kata Nagato dengan nada senang. Saat Sara mendengar suara yang dikenalnya, dia langsung menoleh ke arah sumber suara, Nagato berlari ke arahnya dengan tangan terbuka lebar ingin memeluk. Wajah Nagato sumringah seperti om-om pedofil yang menemukan mangsa, senyumannya sangat amat lebar.
"Berisik!" Duakh! Sama seperti nasib Naruto, Nagato menungging di lantai sambil mengusap-usap anu-nya yang kesakitan. Sara duduk bersama Shibuki masih dengan mata mengambang. Konan menyesap coklat panasnya saat Nagato bangkit dan protes kenapa Sara menendang P-chan miliknya.
"Itu adalah kebiasaan Sara-sama semenjak beliau berumur 4 tahun. Siapa saja yang berani membangunkan beliau saat beliau masih tertidur, maka legacy-nya akan diremukkan…" kata Konan, non-ekspresif dan kembali menuangkan coklat panas dari teko ke gelasnya lagi.
"Sudah kubilang jangan mengatakan P-chan itu legacy! Itu terdengar seolah-olah P-chan itu harta warisan yang bisa dicabut dari tempatnya!" kata Nagato dengan nada yang sedikit meninggi, masih dalam posisi menungging nista.
"Sa-Sara-chan…kau kejam…" Nagato menoleh ke arah Sara yang tertidur di pundak Shibuki. Nagato berusaha duduk bersila sambil sesekali meringis kesakitan karena lega-maksudnya P-chan-nya masih terasa panas "Kau punya kebiasaan yang buruk Sara-chan, apa Naruto juga sering diremukkan P-kun nya olehmu?" Nagato menghela napasnya dan menutup mata tenang. Tiba-tiba tanda seru muncul di kepalanya dan dia memandang Shibuki kebingungan.
"Ma-matte! Kau kan membangunkannya Shibuki-sama, kenapa kau anteng-anteng saja?!" Tanya Nagato sambil menunjuk Shibuki yang duduk bersila dengan wajah cool.
"Heh…aku sudah berteriak sepuas-puasnya di toilet tadi setelah membangunkan anak ini…" kata Shibuki sambil mengusap rambut Sara "Ojii-P ku sudah puas menerima penderitaan seperti ini, adik Yondaime Uzukage memang hebat, The Buster P!"
'Julukan apa itu?' batin Yugito yang menempelkan bibir gelasnya ke bibirnya dari tadi semenjak pembicaraan tentang P terus berlangsung 'Kapan pembicaraan ini masuk ke tahap serius? Kenapa banyak sekali macam P…P-kun, P-chan dan apa itu Ojii-P..P yang berkerut?! Ayolah serius sedikit dan ingat instruksi dari Naruto-sama, tidakkah kalian malu bahwa ada dua wanita di sini yakni aku dan Konan-san?!" alis Yugito berkedut kesal, karena Nagato dan Shibuki malah berdebat soal gaya rambut P-chan dan Ojii-P.
"Tapi aku yakin P-chan ku lebih cocok bermodel Mohawk daripada gaya romeo!"
"Tetapi kau harus mengikuti model Ojii-P yang kupakai sekarang…yakni GUNDUL SEGUNDUL KEPALANYA!"
"Jika kau mengunduli rambutnya, maka V-san tidak akan tahu bagian kepala itu yang mana!"
"V-san pasti tahu Nagato-kun…memangnya bagian berambut di pangkal dan kepala itu terlihat sama saat bagian berambut itu digunduli…kau pikir V-san tidak terlatih soal membedakan mana pangkal mana ujung?!"
"Makanya, coba kau lihat gaya P-aniki dan P-amaru, kau pasti takjub dengan model mereka…bergelung-gelung seperti-"
Dhuaarhh! Konan menjitak kepala Nagato hingga berasap. Dia mengangkat kepalan tangan kanannya dan membuat jari-jari tangannya berbunyi. Masih non-ekspresif, Konan menatap tajam Shibuki sambil mengatakan pelan dengan suara datarnya.
"Masih mau berdebat tentang olimPi? Akan kuhancurkan olimPi kalian sehingga menjadi olimVi…sekarang kita masuk ke pembicaraan serius soal pesan Uzukage-sama, Shibuki-sama…" Shibuki tersenyum kikuk dengan setetes keringat keluar di dahinya. Konan masih melanjutkan omongannya.
"Pesan dari Taki tergantung darimu, kau pernah berbincang dengan Yondaime Uzukage-sama soal kekuatanmu dan pemimpin kami telah merekam di memorinya, beliau meminta tolong dengan segala hormat kepadamu untuk membantu kami menyelesaikan masalah terberat saat ini…Yondaime Uzukage-sama meminta tolong kepadamu dengan segala kehormatan pribadinya sebagai seorang Uzukage…"
Shibuki tersenyum sambil mengusap kepala merah Sara. Dia memandang Konan dengan ramah.
"Tenang saja…Naruto-sama adalah orang yang baik, pemimpin yang baik…dan juga suami yang baik," Shibuki menghela napas pelan "Tanpa kehormatannya, aku pasti akan menolongnya dengan segala kehormatanku."
.
.
.
Seperti yang dikatakan Naruto, Shibuki pernah berdiskusi bersama Yondaime Uzukage tentang kekuatan mereka masing-masing. Di sana Naruto merekam kemampuan tersebut di memori-nya dan memasukkan dalam item rencananya. Pemimpin Taki itu mempunyai dua kuchiyose burung walet yang bernama Reijin dan Sanjin. Reijin dan Sanjin berukuran burung wallet sebenarnya, kecil dan bukan tipe penghancur atau monster. Kedua burung walet ini sangat cepat dan merupakan sokongan kekuatan bertarung Shibuki melalui udara jika dia merencanakan serangan tiba-tiba ala Kamikaze. Selain digunakan untuk mendukung pertarungan, kedua Kuchiyose ini digunakan Shibuki untuk mengantarkan surat. Kedua burung ini sangat cepat dan bisa lolos dari pengejaran musuh karena selain cepat, keduanya juga lincah.
"Yondaime Uzukage-sama ingin memastikan semua ninja Kumo berada di Amegakure tanggal 31 Desember." Yugito yang Naruto berikan amanah untuk membeberkan rencana sang Uzukage lebih lanjut memaparkannya dengan tenang. Mereka berempat, Yugito…Nagato…Konan dan Shibuki duduk melingkar mengelilingi sebuah kain putih berukuran 2 kali 1 meter. Sudah ada tertulis dengan tinta hitam di pojok kanan atas (di mana Yugito duduk di bagian atas kertas, arah jam 12) tulisan 'Tanggal 31 Desember' yang ditulis oleh Yugito. Semuanya mendengarkan baik-baik paparan Yugito selanjutnya.
"Sedangkan untuk bantuan dari Kiri dan Negeri Iblis, dua pasukan tersebut harus berada di perbatasan antara Iwa dan Suna tanggal 1 Januari, tepat di pagi harinya…"
"Kenapa ada perbedaan tanggal dan lokasi pasukan di rencana Uzukage-sama?" tanya Shibuki penasaran. Yugito menganggukkan kepalanya. Dia menulis 'Tanggal 1 Januari' di bawah tulisan 'Tanggal 31 Desember', lalu di samping tulisan 'Tanggal 31 Desember' dia tulis 'Pasukan Kumo di Ame'…sedangkan di samping tulisan 'Tanggal 1 Januari' dia tulis 'Pasukan Kiri dan Negeri Iblis di Perbatasan antara Iwa dan Suna'.
"Nah, begini…Uzukage-sama yang sudah melakukan perjalanan dari Kiri sampai ke Kumo dan sekarang menuju ke Iwa, serta mendapatkan informasi tambahan dari pengawalnya yakni Utakata si Jinchuuriki pengembara mengolah data dan informasi tersebut menjadi rencana besarnya menghadapi berbagai kemungkinan yang ia pikirkan. Jarak untuk Kumo ke Ame memakan waktu 3 hari 2 malam…itu pada normalnya,"
Dahi Shibuki mengerut. Dia harus memasang konsentrasi untuk penjelasan dari Yugito. Sepertinya akan sedikit lebih panjang…
"Jika pasukan Kumo bisa memaksakan sedikit pergerakan mereka menuju Ame, maka perjalanan bisa dipangkas menjadi 2 hari 2 malam. Nah, saat anda mengirim Reijin atau Sanjin membawa pesan ke Kumo malam ini, di tanggal 28 Desember…burung walet itu pasti sampai di Kumo keesokan harinya, tanggal 29 Desember pagi menjelang siang. Raikage-sama bisa mempersiapkan bala bantuannya dengan cepat dan tanggal 29 Desember pasukan bantaun dari Kumogakure bisa berangkat menuju Ame dan sampai di sana tanggal 31 Desember malam harinya…"
"2 hari 2 malam…" gumam Nagato sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "Kami tidak tahu maksud harus datang di Ame tanggal 31 Desember itu, tetapi Naruto berpesan bahwa para Uzumaki di Taki harus bergabung dengan para Uzumaki di Ame dan semua Uzumaki berkumpul di desa hujan itu tanggal 31 Desember. Ini-lah kenapa dia menyuruh kami berempat ke Taki dan menghubungi anda secara langsung, Shibuki-sama. Sara-chan juga punya andil besar untuk mengumpulkan seluruh Uzumaki di Taki dan sekaligus berangkat menuju Ame besok hari."
"Jadwal kalian padat ya.." gumam Shibuki takjub. Yugito tersenyum kecil. Benar kata Shibuki, mereka seperti mengejar-ngejar sesuatu…entah kenapa Naruto-sama bersikeras bahwa seluruh pasukan, mau bantuan maupun dari Uzumaki sendiri harus bersiap di dua lokasi pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari.
"Untuk Kiri dan Negeri Iblis, keduanya pasti akan datang pada waktu yang tidak bersamaan. Perbatasan Iwa dan Suna bisa ditempuh dari Negeri Iblis selama 2 hari, sedangkan dari Kiri bisa ditempuh dalam waktu 3 hari lewat jalur selatan…dengan kata lain jika burung walet anda yang tidak dikirim ke Kumo, atau burung walet yang satunya dikirim malam ini juga ke Kiri, pemimpin Kiri akan menerima pesan itu di tanggal 29 Desember besok…"
"Matte, coba ulangi…aku agak tidak fokus." Pinta Shibuki, otaknya mulai mumet. Dia mengelus rambut merah Sara untuk kembali memfokuskan pikirannya dari paparan Yugito yang mulai rumit. Yugito pun mengulanginya sampai di bahasan pesan sampai di Kiri tanggal 29 Desember.
"…Pemimpin di desa Kiri akan bisa menyiapkan pasukannya dan akan langsung berangkat, mereka akan sampai di perbatasan Iwa-Suna sesuai perhitungan waktu perjalanan adalah tanggal 1 Janurai. Uzukage-sama mengharapkan pasukan ini datang tidak sampai siang hari-nya…" Yugito memaparkan rencana tersebut sambil tetap membuat konsep-nya di kain putih yang dikelilingi mereka berempat "…Negeri Iblis akan menerima pesan yang dibawa Kuchiyose anda dari Kiri di tanggal 29 Desember malam harinya, atau 30 Desember pagi harinya…pasukan bantuan dari Negeri asal Shion-sama ini akan berangkat di tanggal 30 Desember dan sampai di perbatasan Iwa-Suna 1 Januari. Uzukage-sama memperkirakan Negeri Iblis-lah yang lebih dulu sampai ke lokasi daripada pasukan Kiri yang memang agak sedikit jauh."
'Uzumaki Naruto memang benar-benar pemikir yang mengerikan…' Shibuki yang mulai mengerti arah rencana Naruto menelan ludah perlahan "Lalu?"
"Lalu kita akan menyusul…Uzukage-sama sudah membagi kami sendiri berada di pasukan mana, dengan lebih dulunya Uzukage-sama di Iwa, maka beliau bisa melihat kondisi di sana dan lebih bagusnya lagi, menyusup ke Iwa dengan mudah…" kata Yugito bersemangat "Anda sudah mengerti, Shibuki-sama?"
"Aku mengerti betapa mengerikannya otak pemimpin kalian," Shibuki merebahkan kepala Sara perlahan-lahan di pangkuan Konan. Dia sendiri berdiri tegak dan menggigit jempol tangan kanannya, lalu menggerakkan segel pemanggilan hewan.
"Kuchiyose no Jutsu: Reijin-Sanjin!"
Shibuki menapakkan telapak tangan kanannya ke lantai ruang tamu tersebut dan simbol lingkaran fuin muncul di lantai, Poof, bunyi kepulan asap putih tebal muncul di sana dan saat asap itu menghilang…dua burung walet berukuran normal berdiri di lantai dengan kedua kaki mereka. Shibuki duduk dengan lutut kanan menempel di lantai dan kaki kiri tertekuk ke depan, dia memandang serius Yugito, Nagato lalu Konan.
"Sekarang tulis pesannya, Reijin dan Sanjin akan mengantarkan pesan ini secepatnya!"
.
.
.
28 Desember, Sunagakure
Rasa berdiri tertegun di atap rumah sakit sambil memandang badai salju yang mulai datang menerpa Suna. Beberapa warga Suna terlihat menutup rumahnya untuk menyamankan dirinya dari cuaca yang begitu dingin. Beberapa bilah kayu dan triplek terlihat berterbangan di jalan-jalan Suna, beberapa pemabuk terlihat berteduh di pondok kosong sambil terus menegak arak-nya. Rasa menghela napasnya kembali dan membayangkan apa yang akan terjadi di tanggal 1 Januari. Dia berusaha mengingat setiap rinci rencana yang dipaparkan Sandaime Kazekage dengan jelas. Kazekage ketiga tidak akan memaafkan kegagalan, begitulah yang ditangkapnya saat sang pemimpin Suna hanya mengatakan "Rencana ini harus berhasil…", empat kata singkat itu adalah judgement Sandaime Kazekage yang tak bisa dibantah.
Pemuda berambut merah ungu kusam kepirangan itu sedikit terkejut saat mentor-nya datang ke atap Rumah Sakit Suna dengan kumpulan pasir besi yang memanjang. Terlihat dari jauh, Sandaime Kazekage memang memiliki sesuatu yang membuat lawannya terasa diteror.
"Merenung lagi, Rasa?" Tanya sang Kazekage ketika kakinya menapak di lantai atap. Dia memandang ke arah belakang Rasa sementara pasir-pasir besinya secara teratur masuk diantara jubah baju hitamnya. Iris gelap Kazekage mengerling tajam ke arah Rasa yang menghela napas perlahan.
"Pasti anda tahu yang saya pikirkan, Kazekage-sama…"
Kazekage ketiga berbalik dan sama-sama memandang sesuai dengan arah pandangan Rasa. Mereka berdua dapat melihat seorang pemabuk yang berusaha berjalan ke jalan Suna tetapi mundur lagi karena hembusan badai salju begitu kencang. Rasa mengeluarkan suara seperti suara orang pilek di hidungnya dan mengeratkan kedua tangannya di kantong celana hitam yang ia pakai. Kazekage ketiga mengangkat tangan kanannya dan pasir-pasir besi muncul dari bawah lengan bajunya, melesat menuju pemabuk itu dan membawanya terbang entah menuju ke mana.
"Anda tahu rumahnya?" Tanya Rasa.
"Ya, dia si Tua Onizi…beliau menjadi pemabuk semenjak anak tunggalnya tewas dalam misi yang kuberikan. Istrinya sudah lebih dulu meninggalkannya dan dia sekarang sebatang kara…" Kazekage ketiga memiringkan sedikit kepalanya, membuat rambut jabriknya yang bergoyang ke kanan karena arah angin bertiup ke sana sedikit bergoyang ke kiri. Pemimpin Suna terlihat sedikit lebih kalem dan tampan saat itu "…Beliau juga adalah teman Ebizou-sama…heh, Ebizou-sama sering menceritakan kepadaku bagaimana sedihnya hidup si Tua Onizi."
"Bukankah ideologi yang ditanam di ninja Suna adalah keberhasilan misi nomor satu, Kazekage-sama? Ideologi tersebut yang membuat anak tunggal Pak Onizi tidak memperdulikan nyawanya dan rela berkorban demi keberhasilan misi yang ia emban."
"Kau ingin protes dengan ideologi itu Rasa?"
Rasa melirik sejenak ke arah Kazekage, mata Rasa sedikit membulat terkejut.
Kazekage ketiga yang selalu memasang wajah dingin otoriter kini terlihat lelah dan agak sedikit menua. Bisa dikatakan ini adalah ekspresi paling menyedihkan yang ia lihat semenjak mengenal sang Kazekage. Tidak ada aura teror di sana, tidak ada kekuatan pemimpin mengerikan di sana…yang ada hanya seorang Ossan (orang tua) yang nampaknya lelah dengan kehidupannya.
"Tidak usah dijawab pertanyaanku tadi…jadi, bagaimana dengan anak ketigamu? Dia akan lahir di bulan ini?" Kazekage ketiga tiba-tiba menanyakan tentang anaknya. Rasa sedikit terkejut dengan arah pembicaraan sang Kazekage.
"E-ehm…kata Dokter dia akan lahir sekitar minggu ke-2 Bulan Januari."
"Istrimu baik-baik saja?"
Rasa terdiam sejenak. Karura…istrinya…Rasa berusaha tersenyum walaupun dirasanya pahit. Sepahit obat yang sering kumakan, begitulah Karura terus protes kepadanya saat 8 bulan kehamilan.
"Ya, dia baik-baik saja Kazekage-sama…terima kasih sudah mengkhawatirkannya." Kata Rasa sopan. Kazekage terdiam. Keduanya berdiri di atas atap Rumah Sakit tanpa ada yang berbicara, hanya suara desiran badai salju yang menghiasi gendang telinga mereka ketika udara semakin dingin. Rasa lebih dalam memasukkan kedua tangannya di kantong celana. Istrinya sedang berada di Rumah Sakit Suna sekarang, dan dua hari lagi dia akan berangkat menuju Iwa untuk melakukan misi hidup-mati di sana. Bukannya Rasa takut, lawan mereka adalah si jenius menakutkan Uzumaki Naruto…pemimpin kelas tinggi yang dapat hidup kembali dari kematiannya. Kazekage ketiga yang sudah melawan sang Uzukage juga nampak lebih waspada saat kabar masih hidupnya Uzumaki Naruto disampaikan mata-matanya di Iwa. Dengan begitu, Rasa memikirkan bagaimana jika dirinya tewas saat istrinya melahirkan anak ketiga mereka, siapa yang mendampingi Karura? Temari dan Kankuro tentu saja tidak terlalu mengerti karena mereka masih kecil…Rasa mengerutkan dahinya dan membuat suara seperti suara orang pilek kembali.
"Keadaan Bunkupu, Jinchuuriki kita semakin buruk. Jika kesehatannya semakin menurun, maka kesadaran Bunkupu juga akan menurun…dan Shukaku bisa mengambil kesempatan itu untuk mengambil alih kesadaran Biksu tua itu lalu mengamuk di Suna." Rasa memandang Kazekage yang kini membicarakan Jinchuuriki mereka, seorang Biksu tua yang dikurung di sebuah sel di bawah tanah Suna "Kita butuh wadah baru…Rasa." Kata Kazekage datar. Suaranya terdengar dingin dan agak menekan.
Rasa tidak menjawab. Entah kenapa dia mulai mengerti maksud dari butuhnya wadah baru itu.
"Tenang saja," Kazekage ketiga memandang seorang pemabuk lagi yang nampaknya sudah teler dan ingin pulang ke rumah. Dia langsung mengeluarkan pasir besi-nya dan menolong pemabuk itu menuju rumahnya "Kau akan menjadi Kazekage keempat jika aku tiada,"
Mata Rasa melebar. Dia menoleh cepat ke arah mentornya dengan wajah sedikit terkejut.
"Maka selamat-lah saat misi tanggal 1 Januari Rasa, demi istri dan anak ketigamu…untukmu, ideologi misinya adalah keselamatan diri lebih utama daripada keberhasilan misi!"
Tentu saja Rasa terkejut dengan pernyataan Kazekage ketiga. Pernyataan yang sangat amat berlawanan dengan ideologi yang terus dipancangkannya ke ninja-ninja Suna.
"Lalu temui istri dan anakmu dengan senyuman." Kata Kazekage sambil menatap Rasa dengan senyuman tulus. Baru kali ini Rasa melihat senyuman tak angkuh dari mentornya.
Kazekage ketiga ternyata memiliki apa yang disebut hati nurani…
.
.
.
29 Desember, Kumogakure
Killer Bee sedang melatih rap buruknya di atas atap kantor Raikage yang telah diperbaiki akibat pertarungan Utakata-Haku vs Duo Kin-Gin beberapa waktu yang lalu. Bee membuat tanda metal di jari tangan kanannya dan tangan kirinya bergerak maju mundur seperti rapper professional, padahal pengucapan dan artistik rappernya sendiri sangat buruk. Sangat amat buruk.
"Kenapa, nama Raikage selalu A? Kenapa namanya tidak panjang-panjang? Cobalah Ariel namanya yo! Cobalah Arman namanya yo! Cobalah Alberqueque namanya yo! Kenapa nama penerus Raikage harus A Bakayaro Kono-ITTAI YO!" Bee mengusap kepalanya yang baru saja dijatuhi sesuatu. Saat dia memandang ke bawah, sebuah gulungan berwarna merah berguling ke kiri ke kanan di dekat kakinya. Bee mengambilnya dan secarik kertas diletakkan diantara kulit gulungan dengan pita pengikatnya yang berwarna senada.
"Untuk Raikage-sama yo...?"
.
.
.
Raikage ketiga membaca gulungan tersebut dengan dahi berkerut. Di ruangan kantornya, berdiri A, Killer Bee (dengan nge-rap tak jelas yang sering ditimpuk A kepalanya), Mabui di samping Raikage, C, Darui serta dua Uzumaki yakni Michiru dan Hachi. Pemimpin Kiri itu meletakkan gulungan yang terbuka di samping kursi panjangnya dan berdiri tegak.
"Jadi apa isi pesan yang disampaikan Yondaime Uzukage, Tou-san?"
"Meminta bantuan…" Raikage memandang sekilas salju yang turun perlahan-lahan di luar kantornya "…Muridku sudah membantu desa ini dan juga memaafkanku, kita harus membalas kebaikannya sekarang!"
Raikage pergi bersama A, Killer Bee dan Uzumaki Michiru beserta 20 Jounin Kumo dengan kemampuan bergerak cepat dan 10 Anbu pilihan melesat menuju Ame. Target mereka sampai di Amegakure adalah tanggal 31 Desember!
"Mabui, kau bersama C dan Darui jaga kantorku…dan juga jaga burung walet ini, dia adalah kuchiyose milik pemimpin Takigakure…jika ada kabar resmi dari Iwa, segera antarkan pesan itu ke Ame menggunakan burung cepat ini!"
Mabui mengusap pelan kepala burung walet itu. Dia memandang Darui yang bersandar di depan pintu sambil bersidekap dada dan C yang berjalan mondar-mandir dengan khawatir.
"Jangan terlalu gugup, C…" kata Mabui lembut. C berhenti berjalan dan menatap Mabui.
"Kuharap Raikage-sama, A-sama dan Bee-sama baik-baik saja…"
"Ngomong apa kau C," Darui menggerakkan bahunya yang sedikit pegal "Yondaime Uzukage ada di pihak kita, tenang saja!"
.
.
.
29 Desember, Kirigakure
Jika Reijin, burung walet yang mengantarkan pesan Uzukage keempat sampai di Kumo pada pagi hari, Sanjin sampai di Kiri pada jam menunjukkan pukul 17.00, sore hari…saat itu Mizukage kelima sedang merendam dirinya di bathup air panas. Cuaca di Kiri semakin mengakhiri musim dingin semakin ekstrim, Mei Terumi merasa bahwa suhu tubuhnya terasa lebih hangat saat dirinya menjadi Leader Rebellion.
'Jangan bercanda..mungkin saat itu panasku muncul akibat sering mendekati tubuh Naruto…' pikir Mei. Agak mesum. Dia merendamkan wajah kemerahannya di bathup air dan lupa kalau air itu memiliki title panas di belakangnya. Sang Mizukage berteriak tidak elit dan posisi merendam terbaiknya sedikit lebih nista di mana kedua kaki jenjangnya terangkat ke atas.
Tok…tok…tok…terdengar ketukan di pintu.
"I-iya…siapa?"
"Mi-Mizukage-sama, maaf mengganggu…a-ada pesan dari Yondaime Uzukage."
YONDAIME UZUKAGE?! Mei melompat dari bathup-nya dan membuka pintu kamar mandinya tanpa mengingat dirinya lupa memakai handuk. Chojuro yang berdiri di depan pintu dengan wajah malu-malu pada awalnya kini pingsan tergeletak tak berdaya di lantai dengan hidung berdarah seperti diserang ribuan shuriken.
"Cho-Chojuro?! Chojuro?!" Mizukage keempat, masih naked, duduk di depan Chojuro sambil menggoncang kepala pendekar pedang Kiri yang polos itu. Saat mata Chojuro terbuka dan berusaha memasang tampang aku baik-baik saja kepada pemimpin yang dicintainya, tak sengaja dan sengaja (maksudnya tak sengaja terlihat tetapi sayang dilewatkan) retina matanya memandang bagian mulus anu-sesuatu di bawah perut bersih sang Mizukage. Chojuro muntah darah dan benar-benar pingsan dengan mata berputar.
"CHO-CHOJUROOO?! SIAPA YANG MEMBERIMU RACUN SAAT MAKAN?!"
Pasang baju dulu woy, Mei Terumi!
.
.
.
"Baiklah…" Mei menutup matanya perlahan. Kedua tangannya memegang gulungan berwarna merah itu dan memasukkannya ke dalam sela-sela baju bagian atasnya. Dia sudah membacanya. Permintaan bantuan dari Yondaime Uzukage-sama dengan memakai kehormatannya, Mei tentu saja tidak akan menolaknya. Bantuan Naruto saat membebaskan Kiri dari rezim Yagura tidak akan terlupakan oleh dirinya dan semua rakyat Kirigakure.
"Kita berangkat…" kata Mizukage kelima bersama 30 ninja terbaik pilihannya. Chojuro ikut bersamanya dan Ao ditugaskan menjaga Kirigakure. Kirigakure kini berlari menuju pahlawan mereka untuk membalas budi kebaikan yang tak terhingga…kebaikan yang telah ditorehkan Yondaime Uzukage di hati mereka.
Inari, Ruri serta kembar Tanaki-Taneki menatap kepergian pasukan Kiri dengan penuh doa, agar para ninja Kiri bisa membantu Uzumaki Naruto menggapai kebahagiaannya lagi.
"Paman Haruto.." Inari masih suka memanggil sang Uzukage dengan nama samarannya "…Tepati janjimu untuk memperkenalkan istrimu kepada kami!"
"Berjuanglah…" gumam Ruri dengan mata membulat yang imut.
"Karena kau pemimpin yang hebat!" teriak Taneki dan Tanaki bersamaan. Ao tersenyum, dia memandang ke langit dan Reijin melesat menuju utara saat pasukan Mizukage melewati gerbang Kiri.
Tujuan selanjutnya adalah menyampaikan pesan kepada Negeri Sang Ratu Elegan…
.
.
.
30 Desember, Negeri Iblis.
Bagai dibakar seribu kobaran api, tetua Negeri Iblis memerintahkan membawa 1000 pasukan kesatria besi mereka dan 500 tentara hantu yang dilatih sebagai pasukan bayangan Negeri Iblis. Walaupun predikat underdog dipegang Negara ini yang jelas kalah kekuatan militernya melawan 5 Negara raksasa Dunia Shinobi, mereka yakin bahwa keteguhan hati mereka kepada Yondaime Uzukage dan Ratu mereka akan membuat mereka menang.
"Berjuanglah…atas nama Ratu kita.." tetua wanita yang bersuara serak dan tajam mengangkat tangan kanannya di depan istana Negeri Iblis. Semua pasukan yang berbaris rapi menunggu kata-kata mistik dari para petinggi negeri.
"Demi Moryou yang telah tersegel, demi ramalan kebenaran dan demi Elve Vtair…majulah para pasukan Iblis! Majulah para pelayan setia Shion-sama!"
Salju turun di Negeri Kegelapan itu…
"Berjuanglah, dan yakinlah akan kemenangan…karena Uzukage terkuat ada di pihak kita!"
Para pasukan Negeri Iblis pun bergerak sesuai dengan pesan yang disampaikan Yondaime Uzukage-sama melalui tulisan Yugito. Sanjin hinggap di atas sebuah pohon bersalju di dekat gerbang Negeri Iblis sambil memandang 1500 pasukan yang siap bertempur di perbatasan Iwa-Suna.
.
.
.
30 Desember, Konohagakure
Kediaman klan Uchiha…waktu menunjukkan pukul 9 malam.
"Keputusan?"
"100 persen mendukung untuk mengadakan kudeta, tidak ada yang menolak Fugaku-san."
Uchiha Itachi, duduk paling belakang dan memandang datar ayahnya yang sedang memimpin rapat rahasia para Uchiha, bergumam pelan. Tetapi gumamannya terdengar tidak jelas. Iris obsidian-nya memandang Uchiha Shisui yang duduk 3 bangku di depan kirinya. Dia menutup matanya lagi, Konoha sudah benar-benar kacau…benar-benar kacau.
Sandaime Hokage telah tiada dan kematiannya masih kabur. Para warga Konoha hanya tahu bahwa Hiruzen tewas diserang bandit di kamarnya dan informasi itu didapatkan dari tetua paling bajingan di Konoha, Shimura Danzo…
Anbu Konoha juga tidak dapat bergerak karena dibatasi pergerakannya oleh Danzo dan diawasi oleh Anbu Ne, Anbu bentukan orang tua bermarga Shimura tersebut.
Walaupun terlihat tenang di luar, politik Konoha begitu kacau…dan sekarang, seluruh anggota klan-nya ingin menyiram minyak di percikan api Konoha. Itachi memegang keningnya. Berpikir…berpikir…apa yang harus dilakukannya bersama Shisui untuk membuat desa yang ia cintai kembali stabil.
Langkah pertama, kita cari tahu kematian sebenarnya dari Hokage ketiga. Jika kematian beliau yang sebenarnya berbeda dengan apa yang dikatakan Danzo, kita bisa menekan Danzo dengan informasi tersebut juga membuka setiap mata warga Konoha.
Langkah kedua, kita sosialisasikan kepada Uchiha soal kesalahan tindakan jika mereka melakukan kudeta pada saat politik Konoha yang sedang kacau, dan kita beri tawaran ketika Danzo diketahui memakai politik kotor untuk menaikkan dirinya sebagai Hokage, maka Uchiha boleh memberontak lalu menaikkan Fugaku, ayahnya, sebagai Hokage baru karena beliau dianggap paling kompeten di generasinya.
Langkah ketiga, setelah Konoha stabil…kita bantu para Uzumaki yang kita selamatkan dari penyerangan 5 desa besar waktu itu, kita beri pendapat kepada Hokage baru soal memperbaiki hubungan para Uzumaki dengan pihak Konoha, dan memberikan jaminan perlindungan mereka dari ancaman 4 desa besar lainnya.
Kita tahu Itachi, pemimpin mereka, Yondaime Uzukage kemungkinan besar masih hidup. Dengan berita tergulingnya rezim Yagura yang memiliki sistematis pemerintahan yang kuat, juga gagalnya rencana Danzo melemahkan Kumo melalui Hachibi yang dikendalikan pacarmu Uchiha Izumi…tidak ada yang dapat melakukan revolusi besar dan kemampuan hebat itu kecuali Uzumaki Naruto, sang Uzukage terkuat di sejarah desanya.
Itachi meletakkan tangannya kembali ke paha dan menghela napas pelan. Itu-lah paparan rencana mereka yang dirangkum Shisui menjadi tiga langkah singkat. Rencana untuk menyelamatkan Konohagakure dan klan Uchiha. Rencana untuk menyelamatkan apa yang ia cintai dan ia sayangi.
Ninja itu…adalah pahlawan yang berada di bayang-bayang, Itachi…
Pesan Shisui yang selalu disampaikan kepadanya. Itachi memandang ayahnya yang balas memandangnya tajam. Putra sulung Fugaku itu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berusaha bersikap sebiasa mungkin.
.
.
.
Di atas kepala Sandaime Hokage dia duduk dengan kaki kiri menjuntai ke bawah. Kaki kanannya tertekuk ke atas dan tangan kanannya terangkat perlahan lalu bertopang di atas lutut kaki kanannya. Tangan kirinya menegak lurus ke bawah. Dia memakai topeng berbentuk Shinigami. Surai coklat keemasannya bergerak lembut ditiup angin sepoi-sepoi musim dingin.
Tangan kirinya bergerak ke arah wajahnya dan membuka topeng Shinigami perlahan, memperlihatkan wajah cantik nan anggun dengan tatapan lentik yang tajam.
Midoru Shizukesa dapat merasakan kegelapan besar ber-mil- mil jauh dari tempatnya dan diperkirakan berada di Iwa. Matanya menyipit tajam.
'Siapa kau…kegelapanmu perlahan-lahan memekat dan membuatku sesak,' Shizukesa memegang tengah dadanya 'Aku akan membunuhmu…tidak. Aku pasti akan membunuhmu!'
Shizukesa menatap tajam ke depan, bermil-mil dari tempatnya, seorang pemuda bersurai pirang jabrik dengan mata safir biru menatap bulan yang terlihat muram di langit. Ternyata suasana di Iwa terasa agak tidak nyaman di hatinya, beberapa kali dia merasakan gemuruh pelan di dadanya seperti ada sesuatu yang terus memanggil namanya entah dari mana.
"Shion…" pemuda itu, Uzumaki Naruto bergumam "…Aku pasti akan menyelamatkanmu!"
TBC
Author Note:
Maaf sudah hampir dua minggu tidak update. Saya memang sedang sibuk dengan New Job yang diberikan bos hingga tidak sempat meng-up fic ini. Saya sedikit menyempilkan waktu saya untuk terus meng-up TU agar para Readers yang menunggu tidak terlalu kecewa dengan keterlambatan saya. Dan juga chap depan juga mungkin agak sedikit lambat karena saya masih berkutat dengan Job tersebut.
Latar belakang dan penguatan chara beberapa chara sudah saya tampilkan di chap ini, terkhusus untuk Rasa dan Sandaime Kazekage yang berbincang di tengah badai salju Suna. Juga paparan rencana besar Naruto sedikit terungkap di chap ini.
Ada beberapa hal penting di chapter 35 ini,
Pertama, Itachi-Shiusi sudah diketahui sebagai ninja yang menyelamatkan para Uzumaki saat insiden 17 Oktober. Dilihat dari poin ketiga rencana mereka.
Kedua, untuk chap-chap ke depannya, teman-teman harus benar-benar melihat tanggal serta waktu yang saya cantumkan sebelum memulai penggalan cerita fic ini. Ini-lah alasan saya kenapa selalu memulai dengan 17 Oktober, Uzushiogakure; 18 Desember, Konohagakure dan sebagainya. Rencana Naruto sangat ditentukan tanggal dan strategi sistematisnya.
Ketiga, chap depan saya agak sedikit memainkan tanggal atau istilahnya memainkan alurnya dengan alur maju-mundur, saya ingin mempertajam chara untuk arc ini agar lebih jelas.
Terima kasih atas semua reviewnya, beberapa yang log in akan saya jawab dengan PM, yang memakai Guest akan saya jawab di chap depan.
Please review for this chap.
Tertanda. Doni Ren
