King of Shinobi
By…Ksatria
Rate : M
Genre : Adventure, Family, Romance, Mysteri
Disclaimaer : Bukan punya saya
Pair :Naruto x ?
Warning : Masih pemula dan cerita abal, gaje dan banyak lagi….
Chapter 35:
Summary : Naruto adalah anak yang di abaikan oleh kedua orang tuanya dan di anggap aib bagi seluruh desa Konoha sejak dia berumur kurang dari 4 tahun, setelah insiden terjadinya penyerangan pria bertopeng dengan mensumonkan kyubi ekor Sembilan pada Konoha dan disegel oleh Namikaze Minato kedalam tubuh Menma kakak dari Naruto dan mereka yang dipuji oleh warga desa dianggap sebagai keluarga pahlawan desa. Naruto yang berusaha mendapat perhatian mereka, kini merekalah yang menyesal atas perbuatan mereka dan ingin memulai kembali bersama Naruto untuk membuat keluarga yang bahagia.
^Ruang Pertemuan Para Shinobi^
"beberapa diantara kalian mungkin sudah mendengarnya, namun, mayat Gekko Hayate telah di temukan di dekat Puri Kikyo..." ucap Hokage di dalam rapat pertemuan para shinobi yang di hadiri banyak shinobi dari Anbu dan Jounin.
"apa...?Hayate...?tidak mungkin...?itu konyol..." ucap para shinobi yang ada di dalam ruangan tersebut dalam keterkejutannya.
"apakah lawannya Orochimaru...?" tanya Anko yang penasaran.
"tidak, kita tidak boleh mengambil kesimpulan semudah itu, seseorang yang Hayate buntuti kemungkinan besar seorang mata-mata Desa Otto bernama Kabuto, ya...pastinya bahwa Orochimaru sedang mencoba melakukan sesuatu, tapi..." jawab Kakashi memberitahu kesimpulan dari analisanya.
"jadi, kita akan membatalkan Ujian Chunin dan mengejar Orochimaru..." ucap Yamato.
"tidak, dia telah mengungkapkan identitasnya kepada Anko dan mengirimkan kepada kita sebuah ancaman untuk tidak membatalkan Ujian Chunin dimana semua Aliansi Ninja berkumpul..." ucap Hokage menjelaskan.
"apa artinya itu...?" tanya Homura Mitakado yang merupakan Dewan Penasihat Konohagakure.
"Orochimaru memiliki cukup kekuatan untuk menjatuhkan negara kecil dengan caranya sendiri, dia adalah seorang ninja yang kemungkinan setiap negara telah memperhatikannya, selain itu, dia mudah menyimpan dendam terhadap Konohagakure No Sato, negara manapun menginginkan dia..." jawab Hokage menjelaskan secara rinci.
"jadi mungkinkah, bahwa ada negara dalam aliansi yang bersengkongkol dengan Orochimaru dan menghancurkan Konohagakure..." ucap Yamato dengan penjelasan secara analisanya, membuat Hiruzen Sarutobi sang Sandaime yang juga berada di ruangan tersebut ikut terkejut, begitu juga dengan Hokage dan Anko.
"ya, perjanjian Aliansi berada pada tingkat yang sama seperti perjanjian lisan, seperti dalam Perang Ninja Besar sebelumnya..." ucap Kakashi, yang membuat kaget salah satu dari Jounin di sebelahnya yang memiliki bekas luka mengkerut di wajah bawah matanya.
"dalam hal apapun, ada sedikit informasi sekarang, mari kita akhiri kecurigaan ini yang tidak perlu..." ucap Hokage.
"kami sudah mengirimkan Anbu Hitam kepada masing-masing negara untuk mengumpulkan informasi, ini berbahaya jika bertindak ceroboh, itu bisa jadi seperti apa yang di inginkan musuh..." ucap Koharu Utatane yang merupakan Dewan Penasihat Konohagakure, memberi tahu secara jelas dan pasti dengan rinci.
"dan juga..." ucap Hokage tersenyum tipis.
"aku mempercayai kalian semua..." ucap Hokage yang membuat para Jounin semakin teguh dengan pendirian untuk mempercayai Hokage.
Mendengar perkataan Yondaime Hokage dan melihat keteguhan para Jounin, Sandaime hanya dapat tersenyum tipis dalam keheningan. "Minato, kau tidak pernah berubah..." pikir Sandaime tersenyum tipis
"ketika saatnya tiba, kita akan membawa semua kekuatan Konohagakure bersama-sama dan mengadakan perlawanan..." ucap Hokage dengan tatapan serius.
^Tiga Minggu Kemudian^
Setelah tiga minggu kejadian itu berlalu. Naruto yang berlatih terus bersama Jiraya, sedikit demi sedikit Jiraya mulai mengetahui kekuatan tersembunyi milik Naruto. Dan Naruto terus bertambah kuat dengan memperkuat jutsu dasar miliknya dan jutsu elemen utama dan elemen pendukung yang lainnya seperti elemen angin, api, dan petir sebagai elemen utama. Dan elemen air, dan tanah sebagai elemen pendukung. Serta kemampuan penggabungan elemen lainnya seperti Mokuton yang merupakan Jutsu Kekkei Genkai, bahkan sampai menuju tahap ke Kekkei Tota yang merupakan lanjutan dari Kekkei Genkai atau lebih tepatnya Jutsu terkuat yang menggabungkan ketiga elemen.
^Kediaman Namikaze^
Sementara di tempat kediaman Namikaze, Menma terus berlatih sangat keras dan telah mencapai penyempurnaan jutsu control miliknya, serta menaikkan tingkatan Hiraisin menuju level 2. Ada beberapa jutsu lainnya yang sudah ia kuasai. Dan meningkatkan Ninjutsu lainnya seperti elemen miliknya.
Tidak lupa pula Jiraya juga mengajari Menma, beberapa Ninjutsu lainnya seperti Kuchiyose meskipun masih terbilang baru, tapi ia cukup hebat dalam mempelajari setiap jutsu.
Setelah latihan selesai sejenak, mereka sedang beristirahat sambil memakan cemilan.
"menurutmu, bagaimana...?" tanya Minato sambil meminum air putih.
"Menma sangat berkembang, ia sangat cerdas untuk memahami setiap jutsu yang di ajarkan padanya, meskipun jutsu itu terbilang yang ia sukai..." jawab Jiraya.
"begitu ya..." ucap Minato pelan sambil tersenyum tipis.
"jika di bandingkan dengan Naruto, Menma jauh lebih pintar dalam segala hal, tapi, jika dalam hal berbakat, Naruto sangat lah mengerikan, Naruto itu adalah orang yang sangat bekerja keras, ia tidak akan menyerah dalam melakukan suatu hal, salah satunya adalah latihan, ia tidak akan pernah berhenti sebelum tubuhnya terluka parah, bahkan ia tidak pernah puas akan sesuatu hal untuk mencapai keinginannya..." ucap Jiraya yang penuh dengan keseriusan.
Sedangkan Minato hanya menatap penuh keterkejutan mendengar perkataan Jiraya. Ada perasaan khawatir dan gelisah di dalam dirinya. "Naruto..." gumam Menma pelan dengan perasaan khawatir.
"Tou-san, Sensei aku latihan dulu..." ucap Menma lalu segera ke tempat latihan.
Sedangkan di dalam dapur, Kushina dan Naruko terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. "Kaa-chan, kapan Naruto Nii-chan pulang...?" tanya Naruko tertunduk sedih sambil meletakkan piring di meja makan.
"Naruko adalah gadis yang baik, maka harus bersabar, Naruto pasti akan pulang, tidak lama lagi kok..." ucap Kushina tersenyum ke arah Naruko sambil mengadukkan makanan di dalam panci.
"hmmmp..." ucap Naruko tersenyum mengangguk.
^Ruang Hokage^
Terlihat kedua orang di dalam ruangan tersebut. Seorang pria tua duduk di kursi sofanya sambil menatap pajangan foto para Hokage di dinding, tidak jauh dari meja dan kursi yang merupakan tempat Hokage untuk duduk dan mengerjakan pekerjaannya.
"Sandaime-sama..." ucap seorang wanita yang berdiri membelakangi pria tua itu yang tidak lain adalah Sandaime Hokage.
"apa itu, Anko...?" tanya Sandaime menoleh ke belakang.
"maafkan aku, aku..." ucap Anko yang tidak dapat meneruskan ucapannya.
"menyesalinya, mengembalikan hidup dari Hutan Kematian...?" ucap Sandaime terhenti sesaat.
Anko yang mendengar perkataan Sandaime hanya dapat tertunduk sedih dengan perasaan bersalah. "itu adalah suatu hal yang tidak perlu, karena kau dan Orochimaru tidak memiliki hubungan sama sekali, tidak ada shinobi yang bisa bersaing melawan orang itu di Konoha, bahkan jika aku lah orang yang menghadapinya..." ucap Sandaime.
"Yondaime Hokage sedang sibuk mengurus beberapa hal, jadi aku tidak bisa menganggunya..." ucap Anko pelan.
"jangan berkata seperti itu..." ucap Sandaime.
"sudah menjadi kewajiban bagi para Hokage menjalankan tugasnya, yaaaa, seharusnya ia juga bisa beristirahat sejenak, karena memiliki masalah berat salah satunya masalah internal dalm keluarganya, meskipun ia adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan desa ini, itu adalah cerita 13 tahun yang lalu dan tidak dapat di lupakan begitu saja, kita harus melakukan sesuatu dengan kekuatan kita, tanpa harus bergantu pada sesuatu..." ucap Sandaime lalu berdiri dari tempat duduknya.
"ya..." ucap Anko mengangkat wajahnya yang mengerti maksud dari Sandaime.
"aku akan mencari udara segar..." ucap Sandaime lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut.
"jangan menyalahkan diri sendiri..." ucap Sandaime yang berhenti sesaat sambil menghembuskan asap cerutunya, lalu berjalan keluar dari pintu.
"Minato, semoga kau dapat melakukannya..." pikir Sandaime. Sedangkan Anko yang menatap kepergian Sandaime segera membungkukkan badannya memberi hormat.
^Di Atap Akademi^
Siang hari yang sejuk dengan hebusan angin segar membawa selembar daun berterbangan kemana-mana. "hari ini, kita akan mendapatkan pelajaran sejarah di luar, sepertinya yang kalian tahu, wajah batu ini adalah wajah milik para Hokage..." ucap Iruka menjelaskan pada murid-muridnya.
"di mulai dari kiri, mereka berjajar dari yang pertama, yang kedua, ketiga, dan keempat..." ucap Iruka menjelaskan sambil menunjukkan ke arah patung monumen para Hokage.
"sangat berbeda dari orang tua itu, terutama rambutnya yang rontok..." pikir Konohamaru tertawa cengingisan membayangkan Sandaime Hokage yang merupakan Kakeknya.
"Iruka sensei, siapa yang Kelima..." tanya salah seorang murid.
"eemmmm, itu belum di tetapkan, tapi ada kemungkinan adalah Menma anak dari Yondaime Hokage, atau mungkin itu adalah Senseimu yangada disini..." jawab Iruka dengan canda tawa girangnya.
"hmmm, membuat sebuah lelucon sesekali membuat pelajaran menjadi santai, Iruka..." ucap seorang pria tua yang tiba-tiba datang menghampiri dan menganggu pelajaran Iruka.
"Sa-Sandaime-sama..." ucap Iruka tersenyum malu-malu karena ketahuan mengatakan hal yang seperti itu.
"Sandaime..." ucap salah seorang murid yang menoleh kebelakang melihat pria tua yang menghembuskan cerutunya tidak lain adalah Sandaime Hokage Hiruzen Sarutobi.
"hey, orang tua, apa yang kau lakukan datang kesini...?" tanya Konohamaru dengan tidak sopan menunjuk ke arah Sandaime.
"aku juga ingin melihat wajah-wajah batu itu..." jawab Sandaime.
"anda telah datang pada saat yang tepat, silahkan kemari, Sandaime-sama..." ucap Iruka mempersilahkan.
Mendengar permintaan dari Iruka, Sandaime langsung melangkahkan kakinya, berjalan kedepan, anak-anak murid tersebut melihatnya dengan perasaan kagum. "ini adalah wajah sesunggunya dari wajah batu ketiga, Sandaime Hokage, Sandaime Hokage di kenal sebagai yang terkuat dan seorang jenius yang di panggil 'Profesor' di antara Hokage sebelumnya..." ucap Iruka yang membuat para muridnya terkagum.
"apa...?" ucap salah seorang murid merasa terkagum.
"hah..." ucap salah seorang murid yang juga ikut merasa kagum.
"hey, Iruka, jangan bilang begitu, itu masa lalu..." ucap Sandaime.
"go-gomenasai..." ucap Iruka malu-malu.
"apa kau benar-benar kuat...?" tanya salah seorang murid.
"yeah, kau tidak terlihat seperti itu..." ucap salah seorang murid lagi.
"apa kau lebih kuat dari Yondaime Hokage...?" tanya salah seorang murid lagi yang membuat Iruka dan Sandaime terdiam untuk sesaat.
"yup, itu benar..." gumam Konohamaru mengangguk-angguk saja.
"hey, kalian cukup mengatakan hal itu, untuk menyandang gelar Hokage itu berarti kau adalah yang terkuat di desa ini..." ucap Iruka dengan sedikit membentak muridnya yang tidak sopan dan semangat yang berapi-api.
"okay, aku akan menjadi Hokage yang selanjutnya setelah Menma nii, lagi pula aku benar-benar kuat dan juga tampan..." ucap salah seorang murid yang berdiri dengan beraninya sambil mengangkat lengan nya yang terkepal dan semangat yang luar biasa.
"tidak akan berhasil dengan skor yang kau miliki sekarang..." ucap Iruka yang membuat para murid lainnya tertawa lebar, begitu juga dengan Sandaime yang ikut tertawa lebar.
"kau punya banyak keyakinan, kalian semua benar-benar masih muda, tidak sepertiku, ada kemungkinan seseorang yang akan menyandang gelar Hokage itu berada di kelompok ini, kalian hidup hanya sekali, jangan memilih jalan yang mustahil, tidak masalah jika kalian hidup sesuka kalian dan mati sesuka kalian, bagaimanapun..." ucap Sandaime berhenti sesaat, menghisap dan menghebuskan asap dari cerutunya, lalu memulai perkataanya lagi.
"tidak perduli apapun jalur yang kalian ambil, tapi ingat lah agar melindungi orang-orang yang penting bagi kalian..." ucap Sandaime.
"orang yang penting...?" ucap salah seorang murid mengulangi perkataan Sandaime.
"ketahuilah oleh kalian bahwa, kepercayaan dan cinta berasal dari hati kalian, apa kalian memiliki seseorang yang seperti itu...?" ucap Sandaime lalu bertanya.
"y-yeah, Kaa-chan dan Tou-chan, dan aku sedikit membencinya, tapi Nii-chan juga, dan anjingku Gonta..." ucap salah seorang murid dengan wajah bersemu merah yang mengenakan topi warna pink di kelapanya.
"buatku itu adalah teman-teman..." ucap salah seorang murid yang mengenakan topi warna abu-abu yang menutupi dahi dan telinganya seperti earphone dengan tertawa bahagia.
"hahahah, aku juga..." ucap salah seorang murid yang rambutnya di hembus oleh angin sambil tertawa kegirangan.
Mendengar jawaban dan pendapat dari para murid di Akademi membuatnya tersenyum bangga.
"Sandaime-sama, apakah anda juga punya orang yang seperti itu...?" tanya salah seorang murid yang rambutnya keriting ikal.
"ya, tentu saja..." jawab Sandaime sambil tersenyum.
"benarkah...?siapa, siapa...?" tanya para murid beramai-ramai.
"aku mempunyai seorang cucu, Konohamaru yang berada di sana dan semua orang di desa ini, termasuk seseorang yang sangat penting bagiku..." jawab Sandaime yang membuat para murid termasuk Konohamaru terdiam dalam kekaguman.
Sedangkan Iruka yang mendengarnya hanya tersenyum senang. Sandaime tersenyum tipis dan menoleh ke arah monumen patung Yondaime Hokage. "seperti kau juga Minato..." pikir Sandaime.
"semoga kau baik-baik saja Naruto..." pikir Sandaime kembali seolah mengingat kenangan masa lalunya bersama Naruto saat latihan.
^Penginapan^
Tidak jauh dari penginapan tersebut, seorang bocah dengan corak keungunan di wajahnya dan ikat kepala yang berlambangkan Sunagakure.
"sebuah hadiah karena sudah berlatih dengan sungguh-sungguh..." ucap bocah itu yang tidak lain adalah Kankuro, yang melihat rombongan Shikamaru yang baru saja memasuki kedai makanan.
"aku pikir kau diminta untuk tidak membiarkan Gaara keluar dari pengawasanmu..." ucap seorang anak perempuan dengan ikat rambut yang di ikat menjadi empat. Tidak lain adalah Temari.
"janga khawatir, bahkan seseorang seperti dia, tidak akan berani melakukan apa pun di siang bolong, yang lebih penting lagi, bahwa orang itu, Shikamaru atau siapalah itu, dia adalah orang yang pertama yang akan kau lawan, bukan...?bukankah kau seharusnya menyusun rencan pertempuran..?" ucap Kankuro dengan santainya.
"humph, tidak mungkin aku akan kalah untuk orang dengan level itu, lagi pula..." ucap Temari pelan namun terhenti dengan perkataan Kankuro.
"kau sudah gagal, bukan...?" ucap Kankuro.
"hah..." bingun Temari.
"jika kau sudah mengambil ujian itu satu tahun sebelumnya, kau akan menyelesaikan ujian Chunin dengan mudah..." ucap Kankuro dengan santainya.
"jangan bilang begitu..." ucap Temari yang menundukkan kepalanya sambil mengingat masa lalunya.
^FlashBack^
Negara Kaze, Desa Sunagakure, di dalam ruangan yang cukup luas terdapat empat orang yang berkumpul di dalam ruangan tersebut. Dan tidak lain adalah Temari, Kankuro, Gaara dan seorang pria yang memilik corak di pinggiran pipi kanan dan matanya tertutup oleh kain putih yang merupakan pemimpin dari team Gaara.
"apa itu...?" tanya Temari.
"ujian Chunin yang akan datang, aku meminta kalian bertiga dari Desa Sunagakure untuk mengikuti ujian itu, tapi alasan untuk melakukan itu bukanlah untuk memenangkan Ujian Chunin, menggunakan kesempatan dari Ujian Chunin untuk menghancurkan Konohagakure..." jawab pria itu menjelaskan secara rinci.
"tapi kenapa...?bukankah kita memiliki perjanjian dengan Desa Konohagakure...?" tanya Temari.
"perjanjian itulah masalahnya..." jawab pria itu agak pelan.
"hah..." kaget Temari yang merasa agak cemas.
"apa maksudmu...?" tanya Kankuro yang agak kebingungan.
"kalian adalah Genin yang tidak mengetahui secara detail tapi, pada saat ini perjanjian tersebut telah di akhiri, bahwa penguasa Feodal yang bodoh dari Negara Kaze tidak hanya di kucilkan secara agresif, gedung senjata Desa Suna, dia limpahkan pada Konoha hal-hal yang seharusnya di tangani oleh negara kita, dan terlebih lagi, secara signifikan memotong anggaran negara kita dan memagkas sejumlah shinobi, ketika kita memiliki pemimpin yang bodoh, kita sebagai lengan dan kaki dari negara itu, menderita, satu-satunya pilihan yang kita miliki adalah meningkatkan kualitas dari setiap shinobi untuk mempertahankan kekuatan militer negara kita, itu sebabnya shinobi seperti kalian di ciptakan, Gaara..." ucap pria itu berhenti sesaat dan melirik ke arah Gaara.
"keamanan Negara Kaze berada dalam bahaya yang ekstrim sekarang, namun ajudan penguasa Feodal bodoh itu tidak punya petunjuk..." ucap pria itu sambil memukul dinding di belakangnya dengna perasaan kesalnya hingga sebingkai foto terjatuh namun tidak sampai ke lantai dan masih menggantung di atas.
"Kazekage-sama yang telah menditeksi kelemahannya dalam kekuatan militer Desa Sunagakure, bekerja sama dengan Desa Ottogakure dan memutuskan untuk menghancurkan Konoha, selain memulihkan otoritas Desa Suna, ini perlu di lakukan dalam rangka untuk membuat penguasa Feodal yang bodoh itu sadar akan pentingnya persiapan krisis..." ucap pria itu lagi, sambil menghentakkan tangan kanannya begitu keras ke arah papan yang berisi sket peta negara hingga foto tersebut jatuh ke lantai.
"jika mengulur-ulur waktu lagi, Desa Suna kita benar-benar akan kehilangan kemampuan militernya terhadap Desa Konoha, sekaranglah kesempatan satu-satunya, keberhasilan misi itu, Gaara, tergantung pada pekerjaanmu..." ucap pria itu yang kembali tenang.
Mendegar hal itu baik Kankuro dan Temari yang hanya menatap terdiam. Dan tatapan Gaara yang begitu tajam dan dingin. "yeah..." jawab Gaara.
"jika strategi ini di lakukan, itu tentu akan menyebabkan perang dengan Desa Konoha..." ucap pria itu.
"kita akan berperang lagi, biaya untuk kehidupan manusia dalam melaksanakan perjanjian itu sangat besar dan jika pecah, sekali lagi, banyak orang yang akan mati..." ucap Temari pelan yang tertunduk merasa sedih.
"h-hey, Temari..." ucap Kankuro yang mulai merasa gelisah dengan perkataan Temari.
"ini adalah kehendak Kazekage-sama..." ucap pria itu yang membuat Temari terkejut mendengarnya.
"dari Kazekage-sama...?" kaget Temari seolah tidak percaya dengan yang dia dengar.
"namun demikian, shinobi hanya alat untuk berkelahi, perjanjian itu tidak berubah hal selain membahayakan keberadaan kita..." ucap pria itu yang membuat Gaara, Temari, dan Kankuro terdiam dalam tempatnya.
"ini adalah misi peringkat A, perhatikan itu baik-baik..." ucap pria itu memperingati.
"okey..." ucap Kankuro
.
"ya..." ucap Temari pelan tertunduk sedih dengna perasaannya yang bercampur gelisah dan cemas.
END
Kembali ke apartemen penginapan, yang saat ini di tempati oleh Kankuro dan Temari.
"sehari saja terasa lama ketika seseorang tidak melakukan apapun..." ucap Kankuro yang menguap sambil melihat sinar mentari dan hembusan angin segar dari balik jendela tempat ia duduk.
"kupikir begitu..." ucap Temari.
^Training Ground^
Tidak jauh dari aliran sungai dekat dengan beberapa pohon yang lebat. Terlihat Naruto terus berlatih, begitu juga dengan Jiraya yang menemani latihan Naruto. Keduanya sedang melakukan pertarungan kecil namun terlihat tidak begitu seimbang.
"ahhhaaaa...hhhaaaahhhh...hhhhaaahhh...c-cukup, Naruto, kita istirahat dulu..." ucap Jiraya yang begitu kelelahan.
"i-ini masih belum, ahhhhaaa...hhhaaaahhh...hhhaaahhh..." ucap Naruto yang juga begitu kelelahan.
"tapi, ini sudah sampai di jam makan, apa kau yakin kita akan terus bertarung seperti ini..." ucap Jiraya, mencoba untuk menenangkan Naruto yang begitu keras kepala.
"s-sialan, hhhaaaaahhh...hhhhaaaahhh...baiklah..." ucap Naruto yang begitu kelelahan sambil menahan air liurnya yang menetes sedangkan perunya terus berbunyi.
"aahhhaaaa, dompetku pasti habis lagi..." pikir Jiraya yang mengeluh.
Pelatihan yang barusan mereka lakukan dari pagi hingga siang tanpa ada istirahat, ini di lakukan untuk menambah stamina dan meningkatkan kemampuan dasar ketimbang jutsu lanjutan lainnya. Karena menurut penilaian Jiraya mempelajari jutsu lanjutan hanya akan membawa beban dan menjadikan tingkatan dasar tidak berguna atau menurun karena terlalu fokus ke arah jutsu lanjutan. Seperti memfokuskan aliran chakra ke tubuh, jika fokus mempelajari jutsu yang merupakan tingkatan level rank A atau S, akan menjadi tidak berguna jika tidak di imbangi dengan control yang baik. Tidak sampai di sana saja, Jiraya juga telah memikirkan pelatihan selanjutnya yaitu, fisik tingkat atas, karena kemampuan Naruto juga di dominasi dengan kemampuan yang sama seperti Tsunade. Meskipun Naruto telah berlatih sendiri meningkatkan kemampuan fisik dan jutsunya, Naruto yang mulai sadar ketika ia berlatih bersama dengan Jiraya, dan mulai meningkatkan ketajamannya, karena selama ini ia terlalu fokus dengan misinya hingga membuat nya jarang untuk latihan dengan giat.
^Warung Ramen Ichiraku^
"Naruto, aku tidak menyangka kau dapat berkembang sangat cepat, bahkan kau bisa menguasai semua yang telah aku ajarkan padamu..." ucap Jiraya tersenyum lebar.
"benarkah...?aku tidak berpikir sampai ke sana, karena semuanya memang terlihat sangat mudah bagiku..." ucap Naruto datar sambil terus memakan ramennya.
"sangat mudah ya, hahahahhaha...kau memang sangat berbakat dalam hal ini, kurasa tidak ada lagi yang dapat ku ajarkan padamu..." ucap Jiraya tertawa, yang sedikit terkejut dengan penuturan Naruto.
"hmmmppp, begitu ya, tapi, kurasa, aku masih ingin berlatih lagi sampai hari Ujian Ketiga di mulai..." ucap Naruto berhenti sesaat, lalu memakan ramennya lagi dengan sangat lahap.
Paman Teuchi dan Ayame yang memperhatikan Naruto dan mendengar perkataannya, hanya dapat tersenyum tipis dengan perasaan senang. Sedangkan Jiraya hanya dapat melebarkan mata untuk sesaat dan diam membisu di tempat duduknya.
"entah kenapa baru kali ini, aku merasa sangat senang..." pikir Jiraya.
"yoshhh, makan lah yang banyak, akan ku traktir, karena setelah ini akan ada latihan berat yang menuggumu..." ucap Jiraya dengan suara yang keras dan lantang sambil tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Naruto mempercepat makannya, hingga mangkok ramen bertambah tinggi.
^Kaze No Kuni^
Di negara Kaze tertutupi oleh hembusan pasir yang cukup tebal. "kerja bagus Baki..." ucap suara dari dalam ruangan Kazekage.
"Kazekage-sama, aku berhasil memindahkan tiga bidak ke pertempuran yang sebenarnya seperti yang di rencanakan..." ucap seorang pria dengan corak di pinggiran pipi kanannya dan kain putih menutupi mata kirinya, yang duduk bersila sambil menundukkan badannya.
"hmmmp, perjanjian dengan pihak Desa Ottogakure telah mengalami perkembangan tanpa masalah juga..." ucap Kazekage yang di tutupi oleh tirai dan memakai topi Kazekage miliknya.
"ha'i Kazekage-sama, ini, tindakan yang di tetapkan dari Desa Ottogakure..." ucap pria itu yang bernama Baki menyerahkan gulungan rahasia yang di letakkannya di lantai tidak jauh darinya.
Seorang pengawal mengambil gulungan itu dan membawanya serta menyerahkannya pada Kazekage.
Kazekage menerima gulungan tersebut. "apa kau masih memiliki sesuatu yang kau inginkan...?" tanya Kazekage.
"ya..." jawab Baki.
"apa itu...?katakan..." ucap Kazekage.
"ya, Kazekage-sama, aku ingin tahu apakah kau dapat memposisikan beberapa prajurit dekat perbatasan dengan alasan untuk melakukan latihan siasat, hanya dengan kami berempat..." ucap Baki.
"Desa Konoha tidak bodoh juga, Ops Anbu Hitam mereka sedang bergerak, jika kita melakukan itu, mereka akan melihat melalui apa yang kita rencanakan..." ucap Kazekage yang merasa permintaan Baki terlalu berat.
"tetapi dengan hanya kemampuan militer kita saat ini..." ucap Baki menjelaskan.
"itu sebabnya aku mengirim Gaara dan yang lainnya di luar sana, pemulihan otoriter Desa Sunagakure yang bertumpu padamu, baik, pergilah..." ucap Kazekage yang menjelaskan penolakannya.
"ha'i..." ucap Baki mengerti lalu menghilang meninggalkan kepulan asap tebal.
"huukkkhuuukk...hhhuuuuhhkkk...banyak sekali asap nya, tidak di luar maupun di dalam sama saja, dasar merepotkan sekali..." ucap Kazekage-sama yang terbatuk-batuk.
"ahhhhaaaa, kenapa sih ada saja orag yang mengeluh, padahal mereka sudah tahu kalau ninja menghilang pasti meninggalkan asap..." gumam salah seorang di dalam ruangan mengeluh, dan tiba-tiba berkeringat dingin karena merasakan tekanan dan tatapan dingin dari Kazekage.
^Training Ground^
Setelah beristirahat sejenak, latihan tampak telah mulai di lakukan lagi, waktu yang berlalu hanya tertinggal 9 hari lagi yang tersisa. "Naruto, kita mulai kembali ke latihan jutsu Kuchiyose..." ucap Jiraya, sebelum memulai latihannya.
"hhahahaha...kenapa Kuchiyose lagi...?" ucap Naruto mengeluh dengan wajah datarnya.
"kau pasti lelah kan kalau hanya latihan biasa saja, dan melakukan pertarungan biasa denganku, kalau begitu, bagaimana jika kau mencoba dengan Kuchiyose...?kurasa kau bisa mendapatkan hewan Kuchiyose milikmu di sini..." ucap Jiraya menjelaskan maksudnya.
"aku tidak mau, nanti aku dapat katak yang tua lagi, seperti waktu itu yang lalu..." ucap Naruto menolak sambil mengingat kejadian saat memanggil Ogama Sannin. Begitu juga dengan Jiraya yang juga mengingat kejadian itu.
"dasar baka, seharusnya kau beruntung bisa bertemu dengan Ogama Sannin..." ucap Jiraya yang menjitak kepala Naruto.
"go-gomenasai..." ucap Naruto.
"kau dengar, tidak semua katak itu ada yang tua, pasti ada yang masih muda dan remaja..." ucap Jiraya menjelaskan.
"jadi kau suka juga dengan katak muda...?" tanya Naruto.
"baka, yang aku suka Cuma cewek manusia..." ucap Jiraya sambil menjitak Naruto.
"go-gomenasai..." ucap Naruto.
"ahhhhaaaaa...kalau begitu kenapa tidak kau coba lagi..." ucap Jiraya yang menghela nafasnya lalu menjentikkan jari telunjuknya ke dahi Naruto hingga membuat Naruto terpental cukup jauh.
"si-sialan, aku lengah..." teriak Naruto yang terdorong cukup jauh hingga sampai ke jurang dalam yang begitu gelap tidak jauh dari air terjun tempat air sungai itu mengalir.
"gomenasai Naruto, aku hanya ingin tahu, kekuatan apa yang ada di dalam dirimu, seperti yang aku dengar dari Minato, jika kau ingin selamat, maka tunjukkan lah kekuatanmu yang sebenarnya..." ucap Jiraya dengan ekspresi wajah yang serius, berdiri di pinggiran jurang tempat Naruto terjatuh.
Naruto dengan cekatan segera mengalirkan chakranya ke tangan dan kaki, dan menuju ke dinding yang terjal penuh dengan bebatuan yang terlihat seperti duri. Namun saat Naruto menggapai bebatuan itu, tangannya tergelincir begitu juga dengan pijakannya. Beberapa kali Naruto melakukannya, malah bebeatuan yang dia gapai dan di jadikan pijakan hancur karena tekanan chakranya begitu kuat.
"itu tidak mungkin, permukaan batu licin ini berasal dari rembesan air terjun, selain itu, jatuh dalam kecepatan itu dengan control chakra yang kau miliki, kamu tidak akan bisa berpegangan pada batu, Naruto setelah ini, kau Cuma bisa bergantung pada dirimu sendiri, gunakanlah caramu..." ucap Jiraya dengan perasaan agak khawatir.
"cih, sialan, tidak ada pilihan lain, jika aku tidak melakukan sesuatu, aku pasti akan segera mati..." Gumam Naruto yang bergema dalam jurang.
Dengan segera Naruto menggigit jari jempolnya, dan membentuk handseal.
Kuchiyose No Jutsu
Teriak Naruto yang bergema, asap tebal mengepul keluar hingga keluar jurang. Setelah asap tebal mulai menghilang, baru terlihat seekor katak dengan pakaian seperti kimono dan cerutu di mulutnya. Luka bergaris lurus di mata kirinya hingga sampai ke dagu bagian lehernya.
"Good Job Naruto..." ucap Jiraya tersenyum puas yang melihat Naruto berhasil memanggil katak yang besar.
"dimana aku...?" tanya katak itu, yang menahan dirinya jatuh ke dalam jurang dengan kedua tangan dan kakinya.
"akhirnya aku selamat, tapi ini sangat luar biasa, dia besar sekali..." ucap Naruto datar.
"ini tidak ada kerutan, dan juga ia memakai pakaiannya, ini tidak seperti katak yang waktu itu..." ucap Naruto datar dengan perasaan senang.
"a-aku tidak percaya, dari semua katak yang dia panggil kali ini..." gumam Jiraya dalam keterkejutannya setelah ia melihatnya lebih dalam lagi.
"hey, kau bocah kecil..." ucap katak itu lalu mulai bergerak.
Karena gerakannya membuat Naruto terhuyung dan jatuh berguling hingga di wajah katak itu.
"kau bocah kecil yang menaiki kepala ketua katak, kau pikir kau ini siapa berisik sekali, aku ini adalah petinggi Gamabunta, Ketua Katak, apa kau bodoh...?dasar kau bocah..." ucap katak itu membentak dan berteriak sangat keras.
Membuat Naruto terdorong oleh angin dari teriakan katak yang bernama Gamabunta. Naruto hanya dapat berpegangan dengan cerutu yang besar itu.
"dasar makhluk ini, dia memang besar dan hebat, tapi..." ucap Naruto berpegangan pada cerutu besar milik Gamabunta,namun terhenti sesaat karena gerakan dari Gamabunta.
"yang benar saja, baru saja aku menghirup udara di dunia bebas setelah begitu lama, ada anak aneh yang sedang membuat keributan di atas kepalaku, hey, Jiraya, Minato, dimana kalian...?apa yang kalian pikirkan dengan apa yang kalian lakukan ini...?" teriak Gamabunta dalam mod yang tidak bagus.
Teriakan Gamabunta terdengar hingga ke telinga Jiraya. "ini nampaknya tidak baik, bahkan aku ataupun Minato tidak bisa menangani Gamabunta..." ucap Jiraya yang mulai berkeringat dingin.
"Jiraya, Minato, cepatlah dan tunjukkan dirimu, dasar baka..." teriak Gamabunta yang sudah kesal di ujung kepalanya.
"ini akan jadi masalah jika Gama menemukan aku, aku sebaiknya membelakangi dan pergi dari sini tanpa menunda-nunda lagi..." ucap Jiraya lalu melangkah pergi dari tempat itu.
"hey, bocah kecil..." ucap Gamabunta pada Naruto yang bergelantungan di cerutu nya Gamabunta.
"ya..." ucap Naruto.
"dimana Jiraya...?dimana Minato...?" tanya Gamabunta.
"hah, Jiraya, Minato..." gumam Naruto.
"jika kau mengikuti perintahku, aku tidak akan keberatan menjadikanmu sebagai pengikutku, cepat jawab aku..." ucap Gamabunta lalu berteriak sangat keras.
"aku menolak, aku tidak ingin menjadi pengikut mu, tapi kau lah yang akan menjadi pengikutku, kau akan menuruti segala perintahku..." ucap Naruto menolak dengan beraninya.
"ohhhhh, kau ini benar-benar sangat berani ya bocah..." ucap Gamabunta dengan suara yang keras.
"si Ero Sannin ada diatas jurang ini, kalau untuk Tou-san, aku tidak tahu..." ucap Naruto dengan ekspresi datar memberitahu.
"di atas, ya, hmmmp, baiklah kurasa kau juga bocah nakal karena sampai Tou-san mu sendiri tidak tahu keberadaaannya.
"memangnya perlu apa kau dengan mereka...?" tanya Naruto.
"itu lah yang ingin aku tanyakan kepada orang mesum dan si kuning itu, apa yang dia inginkan dengan memanggilku ke tempat seperti ini..." jawab Gamabunta membentak dengan nada yang kesal.
"hey, yang memanggilmu itu..." ucap Naruto terpotong dengan ucapan Gamabunta.
"apa...?" tanya Gamabunta.
"aku lah yang memanggilmu Gama Oyabin, aku terjatuh dari dalam jurang dan ku pikir kau mungkin bisa datang untuk menolongku..." ucap Naruto datar memberitahu yang sebenarnya.
"hmmmp, hahahahahaha, kenapa seorang bocah seperti mu bisa berpikir untuk mengatakan hal semacam itu...?tidak mungkin bocah culun dan bersisik sepertimu bisa memanggil makhluk seperti ku..." ucap Gamabunta tertawa-tawa meremehkan dan mengejek.
"itu yang sebenarnya, aku lah yang benar-benar memanggilmu, dasar baka..." ucap Naruto yang mulai kesal dengan ejekannya namun wajah datarnya tidak lah hilang.
"hahahahahahahha..." tawa Gamabunta semakin keras dan bergema di dalam jurang itu.
"dasar katak bodoh..." teriak Naruto yang begitu kesal.
"kau sudah merendahkanku dan mengatakan apapun seenaknya sejak tadi, karena aku telah memanggilmu, aku lah tuanmu..." teriak Naruto memberitahu.
"hah, apa itu...?dengan siapa kau bicara...?seorang bocah berisik dan culun sepertimu, yang bahkan tidak dapat bertukar kepentingan sebagai janji persahabatan, mengatakan kepada Petinggi Gamabunta, kalau kau adalah tuannya...?aku bisa saja membunuhmu karena hal itu, apa kau pikir kau hebat karena Tou-sanmu itu..." ucap Gamabunta dengan nada keras dan membentak, lalu lidahnya menjulur ke arah Naruto, tiba-tiba terhenti.
"T-Tou-sanmu, jadi Minato itu Tou-sanmu..." ucap Gamabunta terbata-bata karena terkejut mendengar penuturan dari Naruto yang menyebut Minato sebagai Tou-sannya.
"aku tidak perduli itu, dasar katak bodoh..." ucap Naruto yang sudah kesal dan banyak perempatarn sudah muncul di kepalanya karena saking kesalnya.
"a-aku baru sadar kalau Minato itu adalah Tou-sanmu, yang aku tahu anaknya Cuma Menma dan Naruko, kau pasti berbohong ya..." ucap Gamabunta dengan suara yang sangat keras.
"urusai, aku tidak perduli dengan itu, siapa pun Tou-san ku, itu tidak akan mengubah apapun kalau aku adalah Tuanmu, dasar katak bodoh..." ucap Naruto dengan keras dan lantang.
"dasar bocah kurang ajar, dari penampilan kau memang mirip dengannya, tapi dari sikap kau benar-benar tidak mirip, dasar bocah aku bisa membunuhmu sekarang juga, aku tidak perduli kalau dia adalah Tou-sanmu..." ucap Gamabunta dengan suara yang begitu keras dan menjulurkan lidahnya ke arah Naruto dan membelitnya lalu melemparkannya ke tubuh bagian belakangnya.
Gamabunta telah mempersiapkan dirinya dan mengencangkan pergelangan tangan dan kakinya, lalu melompat ke atas dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Naruto yang berada di atas bagian punggung Gamabunta, tertekan oleh tekanan angin yang sangat kuat, seolah siap menggepengkan Naruto.
"ooouuuuu, sialannnnnnnnn..." teriak Naruto yang tertekan oleh derasnya angin.
Angin di sekitar dekat jurang terhembus kencang, Gamabunta telah keluar dari jurang dengan cara melompat. Kini tubuh Naruto terhuyung kembali terbawa oleh derasnya angin, di saat Gamabunta ingin mendarat, tubuh Naruto mulai terangkat, mengetahui hal itu, Naruto segera menggapai kimono milik Gamabunta, sebagai pegangannya.
BBBBUUUUUAAAAAAMMMMMMMMMMM...
Angin deras di sekitar membuat pohon dan tanah beterbangan, wanita yang mandi di sungai pun ikut terkena dampak angin deras itu.
"nampaknya dia naik ke atas, Gamabunta..." ucap Jiraya yang melihat di kejauhan dari atas pohon.
Kembali ke Gamabunta dan Naruto, yang kini Naruto telah turun dari punggung Gamabunta.
"l-luar biasa..." gumam Naruto terkagum saat melihat tubuh Gamabunta sangat besar, mekipun ia juga telah melihat katak raksasa yang sama waktu tempo hari, tapi ada kesan yang berbeda.
"hahahahahha, aku benci berbicara denganmu, bocah kecil, tapi bahkan jika aku harus kalau seratus langkah darimu, tidak, kalah seribu langkah darimu dan meskipun jika kenyataannya kau memang benar-benar orang yang memanggilku, jadi karena kau tipe orang yang jatuh dari punggungku dengan mudah, tidak mungkin aku bisa mengakuimu sebagai tuanku, hah...hah..." ucap Gamabunta yang tertawa-tawa sambil mengejek Naruto.
Mendengar hal itu, Naruto sudah sangat kesal. "lalu sekarang, aku disini di dunia yang bebas sudah sejak lama, jika Jiraya ataupun Minato tidak mempunyai suatu urusanpun denganku, kurasa aku akan bermain-main untuk sementara waktu..." ucap Gamabunta lalu beranjak pergi.
"hey, tunggu..." ucap Naruto yang tangannya mengepal, menahan diri.
"kenapa kau tidak pulang saja ke rumahmu dan tidur sambil minum susu sama Kaa-sanmu itu, atau apalah...?karena sepertinya kau tidak akan mampu berbuat apa-apa meskipun sebagai pengikutku..." ucap Gamabunta mengejek Naruto sambil tertawa-tawa.
"si-sialan kau..." teriak Naruto lalu melaju dengan kecepatan yang luar biasa dan melompat ke arah Gamabunta dan memukul tubuh Gamabunta dengan tinjunya.
BUUUUAAAARRRRRRHHHHH...
Angin kencang kembali muncul dengan sangat deras, pepohonan di sekitar menjadi tumbang, beserta tumbuhan yang lain, burung dan hewan lainnya banyak berlarian, dan wanita yang mandi pun juga ikut merasakan dampak dari hembusan angin deras untuk kedua kalinya.
"Uzumaki Naruto, Itu Adalah Nama Dari Tuamu, Orang Yang Akan Menjadi Raja Shinobi, Raja Dari Para Pemimpin Di Seluruh Para Shinobi..." ucap Naruto dengan tatapan tajamnya yang kini bola matanya telah berubah menjadi Sharingan, berdiri lantang di atas tubuh Gamabunta yang terkapar di tanah dengan kawah yang besar.
"dasar bocah kecil sialan, kau akan menerima akibatnya..." ucap Gamabunta lalu kembali bangkit dengan perasaan kesal dan marah karena di remehkan oleh seorang anak kecil.
"aku terima tantangan mu..." ucap Naruto yang tersenyum evilnya seolah ia akan melakukan sesuatu pada Gamabunta.
To Be Continue...
Terima kasih atas reviewnya…
Tetap reviewnya, saran, kritikan, dan komentar tetap di terima demi membantunya cerita ini….
ARIGATOU GOZAIMASU…
LOG OUT
