Bah, maap, saya jadi berdusta di chap sebelumnya.

Saya mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mengetik nih, di karenakan..

Saya mendapat 3 ancaman. Dua ancaman langsung bicara pada saya, dan satu ancaman terdapat di mail-box HP saya. Mereka mau saya membuat chap 37 minggu ini!

Hhhh, setress. Ada UTS, deadline ngetik, butuh tidur (soalnya udah hampir flu), dan jari manis kiri saya di hansaplas 2 biji! Bayangin aja seberapa gendutnya jari manis saya! Gak di doble, berjejer manis.

Kenapa? 1. Tergores kayu, suakitnya mak nyoss! 2. Tergores kertas UTS, sialan banget ya! Eh, saya jadi berpikir, apa si kertas UTS marah gara-gara pernah saya plesetin kepanjangannya? Jujur lho, saya dari dulu hingga kemarin, masih tak percaya kalau kertas dapat melukai. Nah, kualat saya. Anyway, gara-gara 2 luka itu, saya jadi agak repot mengetik, soalnya jadi tak bisa di tekuk jari saya! Jadi, tolong maklum kalau di chap ini akan ada huruf yang tak ter-pejet, ya?

Ih, kok saya curcol segala..? Oke, saya bakal update chap ini sekarang.

Tapi, janji ya, kalian akan memberikan saya waktu istirahat.

Sedikit-dikitnya seminggu!

Sampe tanggal 9!

Janji, ya! Yah, mari mulai...


7.47... The sun already comes up..

Brrrr, apa ya mimpiku semalam?

Aku sudah tersadar dari alam mimpi. Namun, aku belum mau membuka mata atau bahkan bergerak. Sendi-sendiku masih kaku dan mati rasa. Aku bahkan belum mau menguap. Posisiku masih sama saat terakhir aku sadarkan diri. Hmmm, omong-omong, terakhir aku sadar itu di mana ya?

Aku sibuk memikirkan mimpiku semalam. Aku bermimpi...

Yukiko di lecehkan.. Lalu saat tengah malam, Yukiko... Sekasur denganku..

Hph, kenapa bahkan aku bisa memimpikan..

B-cup miliknya?

Dan darimana aku bahkan tahu ukuran bra Yukiko?

Bermenit-menit sudah berlalu. Aku akhirnya bergerak tanpa membuka mata.. Eh..? Aku merasa sedang memeluk sesuatu.

Sesuatu.. Bukan, seseorang. Seseorang dengan rambut panjang dan wangi. Ternyata daguku menempel di kening orang ini. Aku merasakan tangannya di dadaku. Aku juga bisa mendengar desahan nafas yang teratur dari orang ini. Dan... Wajahnya halus...

Aku tak tahu siapa orang yang sedang kupeluk ini. Namun, aku ingin terus memeluknya. Ia sangat enak. Wangi, lembut, dan terkesan sedikit rapuh. Aku bahkan belum membuka mata, tapi sudah bisa membuat kesimpulan seperti ini..? Aku memang mesum sejati..

Aku mendekatkan diri padanya. Entah bagaimana, aku tahu ia bukan orang asing. Selimut bergesek di atasku. Tangan kananku ada di rambutnya, karena aku tidur di bagian kiri kasur. Dan tangan kiriku menyetuh sesuatu yang agak kasar.

...

...

...

Tiba-tiba, ingatan akan kejadian kemarin menerobos masuk ke benakku.

Aku membelakkan mata. Dan mataku langsung menemukan gadis yang paling kucintai di seluruh jagat raya ini sedang kupeluk. Ia tidur dengan damai, syukurlah. Aku membelai rambutnya. Aku kembali melamun.

Kalau kemarin itu nyata.. Berarti... Apakah kejadian tengah malam itu betulan atau hanya mimpiku? Sungguh, saat itu aku sudah seperti zombie. Tak tahu apa-apa, pokoknya mau tidur. Berjalan gontai, pikiran separuh berkabut, dan aku tak menyerap kejadian apa-apa sama sekali. Itu bisa di definisikan sebagai zombie, kan?

Saat aku melamun, mataku bertemu dengan badan Yukiko. Aku menahan nafas, dan wajahku memanas. Segera, aku membuang muka sambil menggigit bibir.

1 kata, bra.

Oh, aku ingat! Pada tengah malam, ia lupa menutupnya! My god... Aku baru menyadari, barang itulah yang kurasakan menyentuh tangan kiriku..

...

...

...

Aku mulai risih. Dengan salah tingkah, aku menutup kancing baju Yukiko.

Remember guys, once you a pervert...

You'll always be a pervert. *Sound of teacher voice in Author head*

...

...

...

Fuuuuh, sudah. Aku bisa merasa wajahku tak bisa berhenti memanas. Aku segera menyingkirkan tanganku dari bagian-bagian dekat situ. Tak sengaja, tangan kananku masuk ke rambut Yukiko. Yukiko menggerang.

Butuh tiga detik untuk Yukiko membuka mata. Matanya langsung bertemu dengan mataku. Ia membelak, terkesiap, dan mendorongku menjauh. Tenaga yang cukup keras hingga membuatku terjengkang jatuh dari kasur. "Hei hei, tenang. Ini aku!" Ucapku. Aku menunggu.

"Oh oh ow maaf, Souji-kun!" Yukiko menarikku naik ke kasur lagi. Aku mengangguk, "Yep, tak apa." Ujarku. Tangan Yukiko masih berada di tanganku. Sekarang kami saling bertatapan. Deg.. Deg... Aku tak sanggup menahan debaran jantungku. Kami tak melepas pandangan satu sama lain, hanya menatap hinga beberapa detik kemudian.

Wajahnya kosong. Ia menatapku, seakan ingin menyampaikan sesuatu. Dari matanya, aku bisa melihat perdebatan dalam diri Yukiko. Aku larut dalam warna mata Yukiko. Di sini begitu hening, aku bahkan bisa mendengar desahan nafas gadis di hadapanku ini.

Butuh semenit lebih hingga Yukiko memutuskan fikirannya, tentang entah apa.

"Terimakasih, Souji." Kata Yukiko padaku. Aku meremas tangannya, "Sama-sama." Jawabku. Suasana kembali hening. Kami masih bertatapan. "Apa yang kau pikirkan, Souji?" Tanya Yukiko setelah beberapa saat. "Kau." Ujarku. "Apa yang kau pikirkan tentang aku?" Pancingnya. "Segalanya." Aku menjawab. Yukiko berkedip sekali, "Apa yang kau maksud dengan 'segalanya'?" Yukiko kembali bertanya.

"Segala yang terjadi, dan yang tak terjadi." Jawabku. Suasana kembali hening.

...

...

"Souji." Dan "Yukiko."

Kami memanggil satu sama lain pada detik yang sama. Kami terkejut, sendiri-sendiri. Tapi lalu aku terkekeh. Yukiko tersenyum. Ada apa ya dengan ketegangan ini? Kok rasanya aku tak kenal diriku sama sekali.

"Kau duluan." Kata Yukiko perlahan. Aku mengangguk dan duduk merapat padanya, "Apa yang menganggu pikiranmu?" Tanyaku. Yukiko menatapku, "Kau." Jawabnya. Aku sedikit kaget, "Ada apa? Apa yang kulakukan?" Tanyaku lagi. Yukiko membuang muka dan memilin-milin jarinya.

"Apa.. Yang kau pikirkan. Tentang.. Kau tau.. Beberapa jam yang lalu...?" Yukiko mencoba bicara dengan sikap acuh tak acuh, namun gagal, karena wajahnya menjadi pucat. Aku mengeratkan genggamanku, "Aku sendiri bingung." Jawabku sepenuhnya jujur. Yukiko mendesah, "Aku ternoda." Yukiko berbisik.

Aku membelak, syok. Aku tak menyangka ia bahkan mau mengucapkan hal semacam ini. Aku separuh bangun dan menaruh kedua tanganku di wajahnya, "Hei! K-kau tidak ternoda! Ia belum melakukan bagian selanjutnya padamu, kan?" Suaraku meninggi karena rasa takut yang terasa asing. Yukiko menunduk. "Tidak." Jawabnya pelan.

"Nah, kalau begitu, kau tak ternoda. Kau sepenuhnya bersih." Ucapku dengan nada sedikit frustasi. Aku melepas tanganku dari wajahnya. Namun, Yukiko menangkap tangan kananku, ia menggenggamnya, "Tapi Souji.. Tetap saja." Kata Yukiko dengan nada terluka. Jantungku rasanya mengkerut hingga sesak, aku mengelus wajahnya dengan tangan kiri. "Mintalah apapun padaku. Kalau itu akan membuatmu merasa baikan, akan kulakukan." Aku setengah memohon.

Yukiko hanya menatapku, tatapannya kosong. "Setidaknya, aku mau kau merasa lebih baik. Ayolah, lakukan apa saja. Pukul aku, tendang dinding, frustasi, marah, apapun!" Aku malah jadi yang frustasi. Sungguh, aku berharap Yukiko mengerti kekhawatiranku ini.

Yukiko mendesah, "Well, inilah yang ingin kubicarakan denganmu. Ada banyak yang harus di luruskan, lagipula. Mari bicara." Akhirnya Yukiko menetapkan pilihan. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku duduk menyender ke dinding dengan kaki menganga terbuka, Yukiko duduk di depanku. Aku memeluknya, ia bersender di dadaku.

"Pertama, aku berterimakasih kau datang tepat waktu semalam." Kata Yukiko. "Aku terlambat, kau tahu. Kalau aku datang lebih cepat, keadaanmu mungkin akan lebih baik hari ini." Potongku dengan suara sedikit sumbang. "Sudah cukup kau menyalahkan dirimu, Souji. Hadapilah, kita harus membiarkan yang paling tak penting dilupakan." Ujar Yukiko, aku hanya diam.

"Kedua, kau melihat bra-ku. Kuanggap itu sebagai pelecehan." Kata Yukiko dengan nada menuduh. Aku menunduk. Sedikit malu, sedikit senang, dan banyak salah tingkah. "Serius, dari sekian lamanya aku pakai bra, hanya kau satu-satunya laki-laki yang kukenal melihatku. Sungguh tak terduga." Yukiko medecakkan lidah dengan main-main, aku mulai terkekeh. "Merah pas untukmu." Godaku. Seketika, wajah Yukiko jadi semerah tomat. Bahkan telinganya juga ikut merah. Dahsyat, ya. Tawaku makin menjadi-jadi. "M-mesum.." Gerutu Yukiko. Aku mengeratkan pelukanku, Yukiko membalasnya dengan menaruh tangan di kepalaku.

"Ketiga... Tentang beberapa jam yang lalu." Ucap Yukiko. Tubuhnya menegang, tangannya sudah melayang pergi dari kepalaku, dan aku mendengarnya menelan ludah. Aku butuh setidaknya 4 detik lebih untuk mencernanya. Akupun ikut menegang. "Mmmm.. Anggap saja, aku sedang mabuk. Makanya.. Aku.. Tahulah.." Yukiko berbicara terbata-bata. Aku mengangguk, "Apa dengan alasan kau mau melakukannya? Bahkan sekalipun kau mabuk, itu tetap misteri." Kataku. Wajah Yukiko masih merah, atau lebih merah ya..? Susah membedakannya. Ia menelan ludah lagi, "Well.. A-aku hanya.. Terpikir. Kalau.. Labih baik... ." Yukiko bicara buru-buru, tapi aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas karena dia dekapanku. Namun, aku tak bisa tak terkjut. ".. S-serius..?" Tanyaku ragu-ragu. Yukiko mendengus, "Kau memilih lebih baik bajingan itu?" Tanyanya tak percaya. Aku menggeleng, "Tidak dong. Maksudku.. Ummm... Serius kau mau..?" Aku mulai salah tingkah. "T-tidak sekarang. Beberapa.. B-bulan? Tahun kedepan?" Yukiko ikutan salah tingkah. "Errr.. Tak usah di pikirkan dulu." Kataku menyudahi aura aneh ini.

"O-oke." Ujar Yukiko. Tubuh kami berdua kembali rileks. Yukiko bersender lagi di dadaku. Aku mencium lehernya. Desahan tertahan yang biasa kudengar, membuatku ingin bertanya. "Yukiko. Apa yang membuatmu mendesah setiap aku mencium lehermu?" Tanyaku polos. Yukiko merona dan menelan ludah, "A-ada semacam.. Rasa.. Hangat dan geli." Jawabnya gugup. Aku tertawa, "Kau sungguh tak pernah berbohong ya?" Tanyaku sedikit menggoda.

Pukulan pelan di pipiku di susul suara tertawa Yukiko, "Memang tidak." Jawabnya. Kami bertatapan. Senyum jenaka kami berubah menjadi senyum bahagia. Bukan girang, tapi bahagia. Sekali lagi, dalam beberapa jam terakhir, aku menciumnya. Sedang enak-enaknya memeluk dan mencium Yukiko, suara jam berkukuk mengagetkan kami.

Kami tersentak dan manjauhkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul 9.

"Aku mandi dulu ya." Ucap Yukiko dengan muka merah dan bangun.

9.30...

Yukiko membangunkan anak-anak lain. Ia juga katanya mau menceritakan apa yang terjadi nanti. Sedangkan aku, sedang menunggu Rise dan Teddie sadar. Kemarin, si chef bilang mereka pasti bangun hari ini.

Tak lama, harapanku terkabulkan. Teddie bangun.

"Hei, tukang tidur. Kau membuat kami khawatir semalaman, Ted." Ucapku dengan nada marah bohongan. "Ahhh, Senpai. Kepalaku kenapa sakit ya?" Tanya Teddie saat ia bangun dari kasur. Aku membantunya berjalan, "Ingat kemarin? Kepalamu di benturkan sesuatu yang keras?" Tanyaku. Teddie berfikir sebentar sebelum mengangguk-angguk. Lalu, ia menunduk. Menunduk sangat dalam.

"Ada apa? Kepalamu sakit lagi?" Tanyaku prihatin. Teddie menggeleng, "Maaf, Senpai. Aku memang sangat tak berguna." Katanya sedih, persis anak kecil yang mau mengaku habis mencuri permen. "Apa maksudmu?" Tanyaku bingung. Air mata Teddie merebak.

"Souji Senpai sangat pandai bertarung. Kau keren. Kalau Kanji, sudah brandalan, ia kuat. Dan Yosuke Senpai, aku yakin ia mau mempertaruhkan segalanya demi menjaga keselamatan orang yang di cintainya. Sedangkan aku..? Bahkan menjaga Rise dan Yukiko Senpai saja tak becus." Suara Teddie pecah. Aku memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.

"Sudah sudah. Siapa bilang kau tak becus? Ada kalanya, kau akan kalah. Kalau Teddie mau pandai bertarung, kenapa tak minta di ajarkan Kanji?" Tanyaku menenangkannya. "K-Kanji, selalu.. T-ak mau." Ia terisak-isak. "Kalau begitu, berlatih saja denganku." Tawarku dengan nada baik-baik. Tangisan Teddie memelan, tapi belum berhenti. "S-serius, Senpai?" Tanya Teddie. "Yap." Jawabku.

"T-tapi aku ini pengecut. Kemarin saja, s-saat aku baru m-asuk ke ruangan g-gelap itu, aku takut. Dan aku juga l-lemah." Ujar Teddie. Aku melepas pelukanku dan menggosok-gosok rambutnya hingga berantakan, "Masa bodoh. Pokoknya aku akan membuatmu kuat!" Kataku berapi-api. Teddie menatapku kagum dan berterimakasih. "Kau yang terbaik, Senpai! Makasih!" Kata Teddie sambil tersenyum. Ia menghapus air matanya.

Aku mengangguk dan menyuruh Teddie mandi. Sementara aku menunggu Rise.

9.50...

Teddie sudah mandi, sekarang ia tengah berkumpul dengan yang lain. Aku masih menunggu sendirian di kamar 2 ini. Tak lama kemudian, Rise bangun. "Nggghhhh.. Senpai?" Panggilnya. Aku mendekati Rise dan duduk di kasur Teddie, "Ya? Kau baik-baik saja?" Tanyaku. Rise duduk perlahan.

"Apa yang terjadi?" Rise bertanya padaku. Aku menggeleng, "Aku juga tak tau banyak." Ucapku. Dengan lemas, Rise mengangguk. Kondisi Rise sangat buruk, ia tampak setengah mati. Pucat, loyo, bahkan matanya belum terbuka sempurna. "Kau baik-baik saja?" Tanyaku lagi. Rise menggeleng.

Aku kaget, dan segera duduk di sampingnya, "Ada apa? Ada yang masih sakit? Kepalamu?" Tanyaku cepat. Rise menggeleng, "Tidak. Aku baik-baik saja." Jawabnya lemah. Aku menaikkan alis, "Lantas?" Aku tak berhenti bertanya. Rise memandangku, "Bagaimana dengan Yukiko Senpai? Apa ia baik-baik saja?" Tanya Rise menggebu-gebu padaku.

Aku terdiam beberapa saat, lalu menaikkan bahu, "Aku.. Semacam itulah." Desahku. Lalu Rise mulai menangis, "M-maaf.. Senpai.. Aku.. S-sebetulnya, aku bisa saja menolong Yukiko Senpai.. T-tapi.. Aku.." Aku terkejut melihat tumpahan perasaannya. Aku memeluk kepala Rise, "Shhh, tak apa." Aku berbisik.

Rise terisak, "Aku takut, Senpai!" Ia terus menangis. Aku mengelus rambutnya, "Ya. Aku tahu. Sekarang, kau sudah aman. Shhh, kami akan ada untukmu." Aku mencoba menenangkannya. Butuh beberapa menit, ternyata. Barulah Rise kembali tenang.

"Aku.. Saat aku nyaris pingsan, aku separuh sadar." Rise melepas pelukanku dan menatapku nanar, "Aku mendengar, pelayan itu mengancam Yukiko Senpai. Ia bilang, kalau Yukiko Senpai berani bergerak barang sedikitpun, ia akan membunuhku atau Teddie. Itulah sebabnya, menurutku.. Yukiko Senpai menderita luar biasa. Aku yang mendengar jerit tertahan Yukiko Senpai waktu itu, sangat ingin menangis. Begitu aku mau bergerak, aku terlanjur pingsan." Mata Rise kembali berkaca-kaca.

Aku mengelus rambutnya, "Ya, tak papa kok. Yang penting, kita semua sudah selamat sekarang." Ucapku. Rise menunduk. Ada jeda. "Bolehkah aku meminta sesuatu darimu, Senpai?" Tanya Rise, masih menunduk. Aku mengangguk, "Tentu." Kataku.

"Kumohon, maukah kau melakukan apapun agar Yukiko Senpai tak sedih lagi? Karena... Samar-samar, aku mendengarnya membisikkan namamu sebelum ia di apa-apakan. Ia.. Sungguh menyayangimu. Dan.. Ia mau berkorban begitu banyak untukku dan Teddie. Hik, Se-Senpai.. Aku bisa sedikit merasa sakitnya. Kumohon, bantulah ia menghilangkannya." Rise menatapku dengan mata yang lebih berkaca-kaca.

Aku mengangguk, "Tentu. Jangan khawatir." Aku berkata dengan pelan. Rise menghapus air matanya, "Terimakasih, Senpai." Sedikit keceriaan yang nyaris di paksakan dapat kudengar dari suara Rise. Aku hanya tersenyum dan menatapnya. "Hufff, sepertinya aku harus mandi. Baunya aku." Rise mendesah. Aku tertawa kecil, iapun berjalan menuju kamar mandi.

10.12..

Kami sudah berkumpul di tempat bersantai lantai 2. Sarapan tersedia, namun kali ini kami memutuskan untuk makan sedikit dan makan di atas. Hanya roti panggang, sereal, dan susu. Kami setengah makan dan setengah mendengarkan cerita.

Yukiko menjadi pusatnya. Di sampingnya, Rise dan Chie menggenggam tangan Yukiko. Semenjak Rise keluar kamar mandi tadi, ia jadi dekat dengan Yukiko. Dan ceritapun di mulai..

-Flashback-

Yukiko, Rise, dan Teddie berjalan menembus salju. Mereka kedinginan dan ingin segera kembali masuk. Mereka berjalan cepat menuju ruang istirahat di samping villa itu. Rise memimpin di depan, karena ia yang memegang kunci.

Ruangan itu gelap.

KLIK

Suara pintu terbuka setelah Rise memutar kuncinya. Ketiga remaja itu buru-buru masuk. Ketika Rise mau menghidupkan lampu, Rise dan Teddie terjatuh nyaris bersamaan. Yukiko yang baru menutup pintu terkesiap mendengar bunyi tubuh yang roboh , "Hei!" Ia mencoba memanggil Teddie dan Rise yang tak terlihat di ruangan gelap itu.

Seperti yang ia takuti, tak ada respon. "Rise? Tedd-?" Mulutnya di bekap. Yukiko meronta, namun kekuatan orang itu terlalu besar. "Diam atau kubunuh temanmu." Suara serak yang terasa asing terdengar. Yukiko membeku. Orang asing itu terkekeh, "Mati kutu, hah?".

Ia menarik Yukiko kasar menjauhi pintu. "Siapa kau?" Tanya Yukiko dengan gugup. Karena lampu yang tak kunjung di nyalakan, Yukiko tak melihat wajah orang itu memberenggut, "Kan sudah kubilang, kalau kau tak diam, kubunuh mereka!" Bentaknya kasar. Yukiko langsung diam.

Tiba-tiba, Yukiko merasakan sebuah tangan dingin membuka kancing bajunya. Ia menjerit dan mendorong orang asing itu, "Kau mau mereka di bunuh?" Tanya suara yang sama namun lebih dingin. Yukiko pucat pasi. "Kau mau mereka kubunuh?" Ujar suara itu sambil menarik sebuah benda hitam yang semua manusia akan tau apa itu. Pistol.

Yukiko menelan ludah, "Jangan." Yukiko mendesis. Wajah itu menyunggingkan senyum kemenangan. "Kalau begitu, diamlah." Katanya sambil mendekati Yukiko. Yukiko terdorong hingga menubruk dinding. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang tengah meringgis, "Souji.. Tolong.." Ucap Yukiko tanpa suara.

Yukiko menyudahi cerita versinya (bukan yang di atas) dengan wajah pucat. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Chie dan Rise menggenggam tangannya erat-erat. Sementara yang lain, sudah tak sanggup makan. Kami semua terdiam.

Hening..

"Yang penting, sekarang semuanya sudah selamat." Naoto membuat kami kaget. Kami mengangguk angguk. Tak lama kemudian, aku di panggil oleh salah satu bodyguard. Ia bilang, aku harus mengurusi masalah si pelayan bajingan itu, agar dia bisa di.. Emmm... Hakimi atau semacamnya.

Aku mengajak Yosuke untuk ikut ke kantor polisi, aku berpamitan dengan yang lain. "Tolong, jangan berpencar. Jaga diri masing-masing ya." Ucapku sambil melambaikan tangan. Si bodyguard bilang, ini akan butuh waktu lama. Secepat-cepatnya, mungkin akan memakan waktu hingga jam 4.

Time past slowly..

In the night, finally, Souji and Yosuke come back..

Aku dan Yosuke menemukan mereka sedang makan malam. Tanpa ba-bi-bu kami langsung ikut makan. Aku dan Yosuke kelaparan, di sana kami belum sempat makan siang. Sungguh repot ternyata. Kami harus tanda tangan, pergi ke sini, ke sana, membawa bukti ini-itu, dan bicara pada beberapa orang tertentu.

Aku bertanya apakah mereka semua baik-baik saja, mereka segera mengangguk. Yosuke bertanya apa saja yang mereka lakukan saat aku dan ia pergi. Mereka menjawab, sedari tadi mereka hanya ngemil, nonton, main, dan tidur-tiduran. Aku dan Yosuke menggeleng-geleng.

Setelah makan, jam sudah menunjukkan jam 8. Aku dan Yosuke kelelahan, kami pamit tidur duluan.

10.30...

Bunyi pintu terbuka membuatku terbangun dan duduk. "M-maaf Souji-kun. Aku membuatmu bangun ya..?" Suara Yukiko membuatku mendesah lega. Mataku baru separuh terbuka, aku bisa melihat Yukiko dengan bersalah berjalan ke ranjang kami yang belum di pisahkan. "Tak apa." Kataku sambil kembali merebahkan diri.

Yukiko melepas jaketnya dan ikut tiduran di kasurnya. Kami berhadapan, aku setengah menutup mata. Yukiko tersenyum, "Tidurlah." Katanya sambil menyingkapkan selimut di atasku. "Tapi.. Aku mau menemanimu." Kataku sambil mengucek-ngucek mata dan mencoba bangun. Yukiko menghentikan tanganku, "Jangan. Kau sedang kecapaian." Katanya.

Aku menurunkan tanganku. "Kemarin, kau sudah terluka habis-habisan. Lalu menunggu kami bangun, tadi aku sudah di beritahu. Lalu, paginya kau meladeniku padahal kau sangat ingin tidur. Dan hari ini, kau baru sibuk mengurusnya." Ucap Yukiko sambil meletakkan kepalaku kembali bersender di bantal. Aku diam saja.

Yukiko ikut tiduran lagi. Kami berpandangan. "Kau masih takut?" Tanyaku hati-hati. Yukiko membuang muka, "S-sudah tidak kok. Tidur saja." Ucapnya. Aku mengerutkan kening dan memeluknya. Yukiko kaget dan tubuhnya menegang. Butuh dua detik agar Yukiko kembali tenang.

"Nah kan. Jangan bohong." Ucapku sambil menarik Yukiko mendekat. Yukiko bergelung di pelukanku. Aku menyingkapkan selimut agar kami berdua terselimuti. "Kalau kau takut, bilang saja. Aku pasti akan menemanimu. Mengerti?" Tanyaku. Dengan sedikit malu karena ketahuan bohong, ia mengangguk.

"Kau tak mimpi burukkan?" Tanyaku. Aku merasakan Yukiko menggeleng di pelukanku, "Kalau kemarin tidak." Jawabnya. Tiba-tiba, aku yang separuh tidur ini terkekeh, "Karena tidur denganku, ya?" Ucapku jahil. Aku bisa tahu, wajah Yukiko merah. Karena daun telinganya ikut merah. Ia tak menjawab.

"Kalau begitu, aku akan membuatmu tak mimpi buruk malam ini." Ucapku sambil memejamkan mata. "Baik." Yukiko tersenyum dan ikut tidur. Hal terakhir yang kuingat, cincin dingin di jari manis Yukiko menyentuh pipiku.