Persona 3: Petualangan Sang Kakak
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus
Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.
Summary: Saatnya Fullmoon dan ternyata keberadaan Shadow yang S.E.E.S cari ada di Hotel Boulevard.
Tok Tok Tok!
Terdengar suara kamar Fuuka di ketuk oleh seseorang yang ternyata adalah Yukari. Yukari minta ijin kepada Fuuka untuk memasuki kamarnya dan gadis berambut hijau lumut itu mengijinkannya. Setelah itu Yukari mulai meminta tolong kepada Fuuka untuk suatu hal. Fuuka kemudian menyanggupinya dan Yukari akhirnya keluar dari kamar Fuuka.
Beberapa hari kemudian Mitsuru datang ke kamar Fuuka untuk memintanya mengakses beberapa data yang ada di Kirijou Groub dan memberikannya ID serta Password Kirijou Groub. Fuuka berpikir sebentar karena dirinya ragu-ragu. Namun atas sedikit paksaan dan suap uang 2.000.000 rupiah dia akhirnya mau menerimanya.*Author hanya bisa Facepalm*
Reizato dan Sayu berjalan-jalan di sekitar Tatsumi Port Island dengan santainya namun Reizato tetap menjaga jarak antara satu sama lain. Tiba-tiba mereka berdua kemudian tidak sengaja mendengar percakapan seseorang tentang meningkatnya jumlah aparthy Syhdrom di sebuah hotel. "Hei Rei-kun, bagaimana kalau kita mengunjungi sebentar hotel yang di katakan oleh mereka?" bisik Sayu kepada Reizato. "Hm... baiklah, tapi kita kesana hanya untuk melihat sebentar" ucap Reizato. "OK!" jawab Sayu dengan nada bahagia yang mengerti.
Mereka berdua akhirnya pergi menuju hotel tersebut.
~Chapter 35: Misteri di Hotel Cinta~
"Jalan sendirian memang tidak enak..." gumam Yoshino yang tengah berjalan di Paulownia Mall sendiri. Tidak lama setelah itu dirinya tidak sengaja menatap ke arah Tatsuya yang tengah menanyai orang-orang. Terlihat raut wajah Tatsuya yang serius dan membuat Yoshino heran hingga dirinya menghampirinya. "Terima kasih" Tatsuya akhirnya selesai bertanya dan orang yang ditanyai akhirnya pergi. "Kelihatannya serius amat, ada apa?" tanya Yoshino yang berada di samping Tatsuya. Tetsuya sedikit kaget karena keberadaan Yoshino yang tiba-tiba ada di sampingnya, "Eh... saya hanya bertanya tentang tempat yang di rumorkan orang-orang tersebut" jelasnya."Rumor? Oh! Rumor yang beredar saat ini ya? Jadi dimana tempatnya?" Yoshino semakin penasaran. "Tidak jauh dari sini, mau ikut?" tawar Tatsuya. "Ya, mumpung diriku ini sendirian dan tidak sibuk" sahut Yoshino. Akhirnya mereka berdua pergi menuju tempat Rumor tersebut beredar.
"Di semua tempat, kenapa harus tempat ini?" tanya Reizato yang bersama Sayu tengah berada di depan sebuah hotel berlantai 3, "Dan ini benar-benar sesuatu" lanjutnya. "Rei-kun, kita lihat dari dalam yuk." Sayu mulai melangkahkan kakinya masuk ke tempat tersebut namun dengan cepat Reizato menarik tangan Sayu untuk menghentikannya. "Sayu berhenti!" teriak Reizato. "Ada apa?" tanya Sayu yang memasang expresi wajah heran. "Bukankah kau sudah janji hanya melihat sebentar, apalagi inikan hotel, jika ada orang lain yang melihat kita di sini maka akan timbul Fitnah..." jelas Reizato sok alim. "Itu tidak akan terjadi, memangnya di sini yang kenal kita siapa?" tanya Sayu. "Bagaimana jika kakakmu melihat kita berdua berada di sini? Mungkin dia akan jadi salah paham" jelas Reizato lagi, berusaha menghentikan Sayu. Tiba-tiba orang yang di sebut namanya muncul.
"Oi, sedang apa kalian berdua di sini?" tanya Yoshino yang muncul bersama Tatsuya. "MUNCUL BENERAN!" teriak Reizato histeris. "Eh Nii-chan, kok ada di sini?" tanya Sayu yang tersenyum gugup. "Aku cuman nemenin Suou untuk menyelidiki rumor saat ini, kalau kalian?" jelas Yoshino dan bertanya kepada Reizato dan Sayu. "Kami juga menyelidiki rumor tersebut, jangan salah paham ya." ucap Reizato. "Begitu ya," Yoshino lalu memperhatikan bangunan hotel tersebut, "Padahal hotel ini ada kasus kematian, tapi kenapa banyak yang menginap ya?" tanyanya sambil memperhatikan sekitar. "Benar banyak yang menginap, apalagi yang meningap di sini kelihatannya para pasangan..." sahut Reizato. "Dari info yang ku dapat di kantor polisi ini, hotel ini namanya hotel Shirakawa Boulevard yang di juluki hotel Cinta" Tatsuya menjelaskan dan berhasil membuat Reizato kaget. "Ho-hotel cinta?" badan Reizato merinding ketakutan membuat Tatsuya menoleh ke arahnya. "Kau kenapa?" tanya Tatsuya. "ti-tidak... mungkin aku kedinginan..." ucap Reizato yang menyembunyikan ketakutannya.
Hari-hari telah berlalu dan bulan purnama yang di tunggu telah tiba. Tim SEES semuanya termasuk Tatsuya sedang berada di Command room, bersiap menunggu dark hour beberapa menit kemudian. Sambil menunggu, Ikutsuki berusaha mengeluarkan lawakan garingnya untuk menghibur Tim SEES namun tak berhasil. Beberapa menit kemudian akhirnya Dark hour tiba. Fuuka mencari tempat yang cukup luas untuk memanggil Lucia agar bisa melacak keberadaan Shadow yang muncul saat ini, namun dia membutuhkan suatu petunjuk agar bisa melacaknya. Yukari lalu mulai berbicara tentang rumor yang dia dengar tentang sebuah hotel yang berhasil di temukan oleh Lucia.
"Rumor ya, Tentang dua pasangan yang masuk ke sebuah hotel untuk melakukan hm-hm... if you know what i mean" Junpei mengutarakan pikiran negatifnya dengan memasang wajah Pleasure dan berhasil membuat pipi para gadis merona merah. "JUNPEI!" Yukari membentak Junpei. "Tidak sopan berkata hal seperti itu di depan semua orang" ujar Ikutsuki. "Ya-ya... tapi sepertinya Yuka-tan takut..." sindir Junpei. "APA KAU BILANG? "Yukari yang mendengar hal itu marah. "TIDAK KALI INI STUPEI!" bentak Yukari, "Karena Aku juga akan ikut untuk membasmi Shadow dan tidak ada satupun yang boleh melarangku!" kata Yukari dengan serius.
"Aku lebih baik tidak ikut." sahut Reizato yang dari tadi merasa ketakutan saat dirinya mendengar kata hotel dan di tambah perkataan Junpei tentang rumor tersebut. "Huh?" semua orang yang mendengar hal itu memasang wajah penuh pertanyaan. "Reizato-kun kenapa? Apa mungkin sakit?" tanya Sayu yang memegang dahi Reizato, namun Reizato segera menjauhi Sayu. "A-aku memang sakit, sungguh! Jadi sepertinya aku tinggal di sini saja ya." ujar Reizato yang bersandar di dinding dengan badan yang gemetaran. "Yang benar Nii-san sakit?" tanya Yukari pada Sayu. "Sepertinya, Tapi tadi siangkan dia sehat-sehat saja setelah melihat hotel yang ada rumornya tersebut, apa jangan-jangan..." Sayu langsung menatap ke arah Reizato dengan curiga, Yukari yang mengetahui maksud perkataan Sayu juga menatap kakaknya dengan curiga. "Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Reizato. "Kau takut masuk ke hotel itu ya?" tanya Yukari dan Sayu bersamaan. "Eh? Si-siapa yang takut?" tanya Reizato, "A-aku benar-benar sakit!" lanjutnya. "Aku membenci orang yang berbohong!" ucap Sayu. "Aku membenci punya Onii-san yang penakut!" ucap Yukari. "Siapa yang pembohong dan penakut?" Reizato mulai marah meski kakinya masih gemetaran, "Baiklah jika kalian mau bukti, ayo kita masuk ke hotel itu untuk melawan Shadow!" teriaknya.
Tidak beberapa menit mereka sampai di depan hotel yang di maksud. Reizato kembali ketakutan ketika melihat gedung hotel tersebut yang kemarin siang telah di lihatnya. ("Kenapa dari semua tempat, harus tempat seperti ini?") batinnya sambil menangis di dalam hati. "Ayo Nii-san, buktikan!" ucap Yukari, "Adiknya saja berani masuk ke sini." Lanjutnya yang menyindir kakaknya. "Oke-oke, tapi kalian masuk dulu ya, aku ganti baju menjadi Kamen Rider Joker dulu." Reizato berjalan pergi dari hotel tersebut, namun Yukari langsung mencubit dan menarik kuping kakaknya dengan cepat. "JANGAN BANYAK ALASAN!" ucap Yukari. "Aduh-aduh-aduh! Sakit!" teriak Reizato kesakitan namun tidak di pedulikan oleh Yukari. "Mangkannya, kalau Pakai kostum itu di rumah saja kayak aku nih!" ucap Yoshino yang dari tadi di command room sudah memakai kostum, "Eh Arisato, kenapa kau tidak memakai kostum?" tanya Yoshino pada Minato. "Oh itu, masih di laundry" ucap Minato dingin.
"Baiklah, kita masuk. Sementara itu Mitsuru-senpai dan Minako menjaga Fuuka di luar." Pintah Minato. "Mengerti" jawab Mitsuru dan Minako. "Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu kalian dari sini" Fuuka kembali mengeluarkan Lucia dan akhirnya sebagian tim SEES masuk ke hotel tersebut. Dengan waspada mereka menjelajahi lorong hotel Cinta tersebut layaknya maling ayam(?). Tapi tidak bagi Reizato yang bersembunyi di punggung Yoshino dengan badan yang gemetar dan sedikit menjauhi Sayu. "Kau ini apa-apaan sih sembunyi di belakangku? Kau inikan laki, laki itu harus berani!" ucap Yoshino yang gerah dengan tindakan Reizato. "Aku begini karena di sini tuh hotel cinta dan aku takut jika terjadi hal yang tidak aku inginkan di sini..." jelas Reizato. "Pengecut." Ucap Sayu dan Yukari bersamaan. Anggota tim SEES lain yang melihatnnya hanya sweatdrop.
"Sifatnya kakak Yukari memang mirip sama Yukari ya" bisik Junpei pada Minato. "Ya-iyalah, diakan kakaknya." Jelas Minato. "Kalian sedang bicara apa?" tanya Yukari yang melotot ke arah Junpei dan Minato. "Ti-tidak kok, mungkin kau salah dengar..." kata Junpei dan Minato dengan gugup. Mereka akhirnya kembali menyelusuri lorong dan menaiki tangga dengan hati-hati untuk mencari Shadow yang di tuju. Tapi anehnya, Reizato merasakan sesuatu yang benar-benar tidak enak untuk dirinya. Badan Reizato semakin gemetaran layaknya blender yang sedang membuat bubur ayam(?). [Aku merasakan Shadow di lantai 3, berhati-hatilah semuanya...] ucap Fuuka kepada anggota tim yang lain. Tim SEES yang ada di dalam hotel menaiki tangga untuk menuju ke lantai 3. Tidak lama menelusuri lorong di lantai tersebut, mereka menemukan sebuah pintu besar yang sepertinya di dalamnnya ada kamar VVVVIP(?). Minato kemudian menghubungi Fuuka untuk memberitahukannya hal tersebut dan Fuuka dapat merasakan keberadaan Shadow yang mereka cari.
"Siapkan Evoker kalian!" pintah Minato dan setelah itu Tim SEES memasuki kamar tersebut hingga akhirnya mereka berhadapan dengan Shadow Arcana Hierophant. Bentuk Shadow tersebut seperti orang gemuk yang di belakangnya ternyata ada makhluk yang mirip dengan sosok wanita sedang membelai topeng Shadow tersebut, di tambah dengan di temaninya 2 bintang aneh yang berada di sisi kiri dan kanan Shadow tersebut. Tapi setelah di teliti oleh Fuuka, makhluk yang ada di belakang Shadow itu ternyata adalah bagian badannya. Hal itu hampir saja membuat Reizato menutup mata jika tidak di beri tahu oleh Fuuka secepatnya. "Aku ingin cepat pulang!" Reizato langsung mengeluarkan Personanya bersama dengan yang lain untuk memusnahkan Shadow tersebut.
Dari luar Hotel tadi, 3 orang aneh baru datang dan mulai mengawasi kegiatan SEES yang tadi telah memasuki Hotel Shirakawa Boulevard dari atap gedung lain yang berada di depan hotel tersebut. "Mereka sudah memulainya..." ucap salah seorang dari mereka yang ternyata seorang gadis berambut merah panjang sebagian di kuncir dan memakai baju Ghotic lolita. "Meskipun begitu, kita hanya melihat saja." Sahut laki-laki berkacamata berambut biru yang memegang koper putih di tangannya. "Biarlah, kita hitung seberapa cepat mereka melakukannya." Ucap laki-laki telanjang dada berambut abu-abu panjang dengan paras yang terlihat tua namun sebenarnya masih mudah. Mata laki-laki tersebut berwarna kuning terang tengah menatap arah Gedung yang di masuki SEES sampai sebuah cengiran tersirat di wajahnya.
Namun, mereka tidak menyadari kehadiran seseorang tidak jauh di belakang gedung yang lebih tinggi dari mereka, orang itu memakai pakaian Shogun hitam dengan topeng Bushido yang menutupi seluruh wajahnya. Rambut kuning pirangnya terlihat dengan jelas bahwa dia adalah orang barat. Dia tak lain adalah Mr. Bushido. "Time is never await..." gumamnya sampai sebuah kupu-kupu bersayap hitam legam mendarat di bahu kirinya. "I can see, this feeling" sebuah cengiran nampak di wajahnya meski tertutupi oleh topeng Bushido, mata hijaunya menatap ke arah langit hijau dimana Bulan Purnama kuning berada.
Kembali ke dalam hotel, anggota SEES hampir berhasil mengalahkan Shadow Arcana Hierophant. "Sedikit lagi aku bisa keluar dari tempat ini!" gumam Reizato dengan senangnya karena tinggal menghabisi Shadow tersebut dia bisa keluar dari tempat yang tidak ingin dia jumpai sampai kapanpun. "Polydeceus!" serangan pukulan dari Poyldeceus milik Akihiko langsung membuat Shadow tersebut terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Minato yang langsung melancarkan serangan All-Out-Attack bersama yang lain. Tidak berselang lama setelah All-Out-Attack, Shadow tersebut hancur dan sebuah cahaya dari Shadow tersebut masuk ke dalam tubuh Reizato. "HAHAHAHAHAHA! AKHIRNYA AKU BISA KELUAR DARI NERAKA INI!" teriak Reizato yang begitu sangat senang sekali untuk pergi dari tempat tersebut hingga tidak memperdulikan kejadian barusan. Yukari menghelah napas karena merasa malu memiliki kakak yang takut terhadap hal-hal romantis. Sedangkan Sayu, gadis berambut merah muda panjang itu dari tadi terlihat gelisah seperti memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa?" tanya Yoshino sang kakak yang menyadari ada yang aneh pada adiknya. "Ti-tidak Nii-chan... mungkin hanya perasaanku saja..." ucap Sayu yang tersenyum simpul. "Saatnya kita pergi!" ketika Reizato mendekati pintu untuk membukanya, pintunya terkunci. "Hah?" Reizato merasa kebingungan dan mencoba untuk membuka pintu tersebut. "Ada apa?" tanya Tatsuya. "Pi-pintunya tidak bisa di buka" ujar Reizato yang membuat semua yang mendengarnya terkejut. Minato yang tak percaya berusaha mencoba membuka pintu tersebut tapi gagal, "Pintunya tidak bisa di buka, kenapa jadi begini?" tanyanya. "You don't say" semua langsung memasang wajah Nicholas kidman kepada Minato. "Fuuka, kami terkunci di sini, apa kau tahu penyebabnya?" tanya Tatsuya. [Kawan-kawan, pintu itu tidak bisa terbuka karena ada suatu kekuatan yang menahannya.] jelas Fuuka, [Oh ya satu hal lagi, Lucia merasakan di tempat kalian masih ada Shadow] lanjutnya dan semua yang mendengar kembali terkejut. "Apa? Di-dimana?" Junpei panik.
Semua yang ada di sana melihat seluruh sudut kamar tersebut namun tidak ada tanda Shadow satupun. Tiba-tiba Yukari yang berada dekat dengan cermin di sebelahnya tak sengaja menatap cermin tersebut. Diapun kaget saat mendapati bahwa di cermin tersebut tidak ada bayangannya. "Semua ke sini! Ada yang aneh dengan cermin ini!" teriak Yukari dan semuanya menatap cermin tersebut. "Wah, bayangan kita tidak nampak di cermin ini, benar-benar sesuatu" ucap Yoshino. "kayaknya cerminnya rusak sehingga bayangan kita tidak muncul" ucap Junpei yang membuat semua yang mendengarnya sweatdrop. "Loe kira TV!" ucap Akihiko. Minato lalu menyentuhnya dan sebuah cahaya terang menyilaukan mata para anggota SEES sampai membuat mereka tidak sadarkan diri.
.
Reizato membuka matanya kemudian bangkit untuk duduk sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing, "Apa yang terjadi?" tanyanya pada dirinya sendiri. Kemudian telinganya samar-samar menangkap suara seseorang yang sedang mandi dan tak lama kemudian pendengarannya mulai jelas. "Ada yang sedang mandi?" lalu melihat sekitar. Saat melihat sekitarnya, dia terkejut karena dia sedang berada di dalam kamar hotel yang berbeda dan duduk di atas sebuah ranjang besar. "A-apa yang terjadi?" Reizato berdiri dan menggosok matanya berulang kali namun yang dia alami bukanlah mimpi. "Ke-kenapa aku di sini? Aku harus cepat pergi!" dia lalu berlari mendekati pintu dan membukanya tapi sayang terkunci, "Pi-pintunya terkunci? TIDAK!" dia mendobrak pintunya namun gagal, memukul juga gagal, menendangnya juga tidak berhasil, apalagi memanggil Joker untuk menghancurkan pintu tersebut sambil berkata "DEMI TUHAN!" namun gagal. "Aku terjebak..." laki-laki itu duduk bersandar di pintu. Tidak lama setelah itu, terdengar di telinganya lagi suara keran air di matikan dan pintu kamar mandi terbuka.
Krek!
"Reizato-kun~ aku sudah selesai mandi~" Terdengar suara Sayu di tempat pintu kamar mandi terbuka. Di saat itu pula badan Reizato gemetar ketakutan karena dirinya menyadari tengah berduaan di kamar hotel tersebut bersama Sayu. Reizato tidak ingin menoleh ke arah Sayu karena instingnya menyuruhnya agar jangan menoleh. Laki-laki kakak kandung Yukari itu akhirnya menutup kedua matanya sambil memeluk kedua lututnya dan bergumam dengan badan yang masih gemetar ketakutan, "Aku mohon jangan ambil nyawaku...". *Author Facepalm*
.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Cupid?" Reito yang masih berada di tempat berpasir dengan di temani oleh ribuan pintu beraneka bentuk dan warna sedang memandang seorang laki-laki yang muncul entah dari mana. Laki-laki itu berotot, memakai kaos kutang dan celana panjang serbah putih. Di punggungnya memiliki sayap putih kecil dan membawa busur panah dengan ujung berbentuk hati di tangan kanannya. "Uh~ ternyata kau~, si wanita yang sangat kejam dan haus akan darah, Keres. kenapa kau menjadi laki-laki? Bukannya kau itu perempuan?" tanya orang yang di panggil Reito dengan panggilan Cupid dengan nada banci sambil nari rempong dan ternyata dia adalah BANCI! Alias BENCONG. "Hm, sudahlah, lupakan hal itu. Mumpung hanya kau yang bisa masuk di pikiran tubuh yang diriku hinggapi ini. Aku ingin bertanya kepadamu bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?" tanya Reito. "Uh~ eke nggak tahu caranya cyin." Ucap Cupid. "Ciyus, Miapa, Enelan, Cungguh, jujul, Tumpeh Loe?" tanya Reito dengan Alay. "Bocor-bocor" sahut Cupid yang makin alay. "Haaahh... ya sudah, lalu kenapa kau di sini?" tanya Reito. Cupid tersenyum, "mengendalikan pikiran laki-laki ini untuk melakukan If you know what i mean pada gadis yang dekat dengannya." Ucap Cupid sambil memasang wajah Pleasure yang baru saja di pakai oleh Junpei.
Tidak lama setelah itu aura hitam menyelimuti tubuh Reito. "Cupid, sebaiknya kau hentikan rencanamu pada tubuh laki-laki ini." Ucapan Reito terdengar dingin di telinga Cupid. "Kenapa?" tanya Cupid yang pura-pura tidak tahu. Sebuah Scythe hitam muncul di tangan kiri Reito dan langsung ia gunakan untuk menebas Cupid, namun serangan Reito dapat di hindari oleh Cupid dengan cara terbang tinggi dilangit. "Bukannya kau tahu, AKU ALERGI TERHADAP HAL BEGITUAN!" Reito berteriak dengan keras pada Cupid di langit. "Uhh~ maaf~, kalau begitu aku pergi~, dah~ Keres-chan~" Cupid kemudian menghilang. "Hm dasar. Meski aku dulunya adalah dewi kematian yang haus akan darah dan suka menyiksa demi kesenangan, tapi... aku yang sekarang adalah bagian dari pemuda ini." Scythe hitam di tangan Reito lenyap setelah dirinya selesai berkata begitu. "Dan karena pemuda ini, aku jadi memiliki sebagian perasaan yang telah di buatnya dalam suka maupun duka." Reito menundukan kepalanya dan tersenyum. Setelah itu dia kembali mengangkat kepalanya, "Apakah kau juga merasakan apa yang diriku rasakan, Saudaraku?" tanyanya kepada langit bagai bertanya kepada saudaranya.
~To Be Continue~
Maafkan saya jika saya telat update, soalnya laptop saya sedang di perbaiki selama berminggu-minggu dan juga di tambahn dengan UAS. Tolong Sekali lagi maaf ya... dan terimakasih untuk yang telah membaca cerita ini, juga doakan semoga UAS saya lancar dan lulus dengan nilai yang memuaskan.
Wheel of Fortune (Chapter 1): Terima kasih untuk Reviewnya. Jika anda ingin menjadi Author caranya gampang kok, tinggal daftar di . caranya ketika kalimat cara daftar menjadi author di selesai. Karena itu caranya saya menjadi Author.
Luciano Fyro (chapter 34): tidak apa jika batal untuk mengajari Fuuka memasak, yang penting jangan sampai memakan masakan Fuuka yang social Link Priestessnya belum MAX. *Di lempar kare dari Fuuka*
KagaHinaSato (Chapter 34): thanks untuk reviewnya dan ya begitulah.
IarIz (Chapter 34): Pokoknya bukan saya yang nyuruh para gadis pakai High Cut Armor.
Sekian membalas reviewnya dan juga tolong di review ya. oh ya bagaimana cara penulisan saya? Jika jelek ya saya kembali yang seperti dulu dan kalau bagus, akan saya lanjutkan. Dan jangan lupa untuk...
~Review~
