Balas Review! :D

BlueAhoge: Mungkin seharusnya kau pakai kartu cadangan jika tidak ingin itu terjadi lagi... ^^/ Yah, selamat membaca Chapter ini! :D

RosyMiranto18: Yah, gimana bilangnya ya? Aku sebenarnya sedikit risih dengan pairing yang kubuat di sini... ^^a

Saphire: "Aku tidak tau apa itu Maragidyne, tapi sepertinya boleh juga demo ke publisher server dengan bom nuklir!" *nyengir.*

Daren: "Idemu itu sadis, oy!"

Terima kasih hadiahnya, tapi sejujurnya nama marga Flamy itu salah! ^^a

Alexia: "Nama lengkapnya Flamy Phoenixia, bukan Mercowlya! Kalau Mercowlya mah nama margaku!" -.-'

Sebenarnya itu hanya aura kemarahannya saja sih... -v-a

Teiron: "Inkubator? Elemenku tanah, bukan api..." =w='

Ahaha, Thanks for Review! :D

AriFuKi28423: Yap! Bahkan gambar untuk penampilan para OC juga berjibun di memori HP, tapi sayangnya belum semua yang dipost ke album FB... :V a

Thundy: "Kalau dibandingkan dengan Chapter 'Malam Minggu Spesial 3', ini nggak terlalu panjang sih..." -.-/

Terima kasih Review-nya! :D

Happy Reading! :D


Malam Minggu Spesial: It is Our Prom Night!


Malam itu adalah malam yang paling ditunggu berapa orang di Heroes Gakuen karena akan ada Prom Night yang diadakan di sana.

"Teiron-nii beneran nggak mau pergi?" tanya Teira sambil memperhatikan kakaknya yang sibuk berkutat dengan kumpulan buku di meja belajarnya.

"Nggak, terima kasih! Sebaiknya kau pergi saja dengan Emy-chan!" balas Teiron tanpa memalingkan perhatian dari bukunya. "Lagipula aku harus mengerjakan tugas bulan ini yang menumpuk gara-gara nggak masuk kemaren, makanya itu aku nggak mau pergi!"

"Baiklah! Semoga menikmati malammu~" Sang adik pun langsung keluar dari kamar.


Di gudang olahraga yang dijadikan tempat penyelenggaraan Prom Night, banyak orang yang berkumpul di sana. Para cowok memakai tuksedo dan para cewek memakai gaun warna-warni.

"Yo Tei-chan!" sapa Elemy (yang memakai gaun coklat) saat melihat sang gadis Earth Mage dalam balutan gaun kuningnya.

"Kakakmu mana?" tanya Elwa (dengan gaun merah) yang tak melihat keberadaan Teiron.

"Teiron-nii nggak mau pergi, katanya mau ngerjain tugasnya yang menumpuk! Dia kan waktu itu nggak masuk karena sakit!" jawab Teira seadanya.

Kedua gadis Mage itu pun hanya ber-'oh' ria mendengarnya.


Back to Teiron...

"Kau benar-benar tak mau pergi, Teiron?" tanya Thundy dengan tuksedo hitam yang berniat mengajak anak itu pergi.

"Nggak!" balas Teiron singkat.

Thundy pun hanya bisa menghela nafas. "Ya sudahlah..."

Ketika dia baru keluar dari kamar itu dan berniat menutup pintu, tanpa diduga datanglah Alpha yang memakai tuksedo abu-abu dan Ikyo yang memakai Epic Samurai Robe. (Alpha: "Etto, kenapa Ikyo malah pakai baju itu?" owo/Me: "Katanya dia nggak nyaman pakai tuksedo!"/Alpha: *sweatdrop.*)

"Yo Thun, nggak bareng Teiron?" tanya Alpha.

"Anaknya nggak mau pergi!" jawab Thundy singkat. "Katanya mau ngerjain tugas yang menumpuk!"

"Lha, kan bisa dikerjain minggu de-"

BLETAK!

Perkataan Ikyo langsung dipotong oleh lemparan batu bata yang sukses mendarat telak di wajahnya.

"Lu nggak tau ya?! Gara-gara jatuh dari tangga plus kena flu pas kejebak di gudang waktu itu, gue jadi dapet banyak tugas tau!" jelas Teiron emosi.

"Ya elah, tugas kan bisa ditun-"

"Nggak, pokoknya gue nggak mau pergi!" potong Teiron sebal dan...

BRAK!

Dia pun langsung membanting pintu kamarnya.

"Jiiiir, mode sensi-nya kumat lagi!" celetuk Ikyo sambil mengusap wajahnya.

Kreeet!

Pintu kamar itu terbuka lagi dan...

BLETAK!

Sang Gumiho pun kembali mendapat hantaman batu bata di wajahnya.

"Diem aja lu, Rubah Kampret!" bentak Teiron kesal dan kembali membanting pintu.

BRAK!

"Yah, sensi lagi dia! Lu sih, Kyo!" tuduh Alpha.

"Napa jadi gue?!" balas Ikyo nggak terima.

"Udah, udah!" lerai Thundy. "Sekarang kita biarin aja dia dengan urusannya sendiri, kalau digangguin lagi entar malah kita yang babak belur!"

"Tapi kita nggak bisa pergi tanpa Teiron!" ujar Alpha.

"Terserah, lakukan saja sesuka kalian!" Thundy pun langsung pergi meninggalkan kedua orang itu.

"Oy, Al..." panggil Ikyo.

"Kenapa?" tanya Alpha.

"Gue punya ide nih, jadi..." Ikyo membisikkan sesuatu ke telinga temannya dan Alpha pun langsung nyengir jahil.


"Yakin nih nggak mau pergi? Entar gue traktir deh!" seru Alpha dari luar kamar.

"Nggak!" balas Teiron yang berusaha untuk tetap fokus ke arah bukunya.

"Bahkan kalau ada Lisa di sana?"

Tiba-tiba wajah Teiron langsung memerah mendengar Alpha menyebut nama itu.

"Sekali nggak tetap nggak!"

"Oke..." bisik Alpha yang entah gimana caranya langsung nongol di belakang Teiron. "Jika kau yang meminta..."

Sebelum Teiron sempat menengok, dia udah keburu diseret duluan sama Alpha dan Ikyo. Alhasil, cowok berkacamata itu langsung menjerit keras saat kedua orang itu menyeretnya keluar kamar.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!"


Sementara itu...

"Lha, Teiron mana?" tanya Alexia yang memakai tuksedo coklat saat melihat Thundy datang sendiri.

"Dia nggak mau pergi, kalaupun iya pasti dipaksa sama Ikyo dan Alpha..." balas Thundy datar dan sukses membuat Alexia sweatdrop.

"Please deh, nggak usah seret-seret bisa nggak sih?!"

Kedua cowok itu langsung menengok dan mendapati Teiron (dengan tuksedo putih yang dipakaikan Alpha) yang mencakar lantai karena diseret oleh kedua kawan(blangsak)nya.

"Nah, benar kan..." Thundy menunjuk ke arah ketiga orang itu dan sukses membuat Alexia tambah sweatdrop.

"Kalau nggak diseret lu nggak bakalan mau pergi kan?" tanya Ikyo yang masih menarik kaki Teiron.

"Oh ayolah, maso amat sih sama tugas!" celetuk Alpha yang juga ikut menarik kaki cowok berkacamata itu.

"Halah, lu sendiri juga maso pas mecahin gelas sampe tangan lu berdarah terus bikin panik para cewek!" balas Teiron sewot.

"Memang gue pernah semaso itu?" tanya Alpha bingung.

"Jangan bilang kalau lu udah lupa soal itu, Al..." timpal Ikyo agak risih.

"Lepasin kaki gue!" seru Teiron emosi karena masih diseret.

Keduanya pun langsung melepaskan kaki Teiron. Anak itu langsung bangun dan duduk sambil membersihkan badannya.

"Sekarang apa?" tanya cowok berkacamata itu sambil menatap kedua kawannya.

"Yah, sebaiknya kita tunggu aja acara uta-"

"Ikyooooooo~"

JLEB! GUBRAK!

Yang bersangkutan langsung pingsan begitu mendengar panggilan dari Eiuron.

"Kenapa dia pingsan?" tanya Eiuron bingung.

"Entah..." balas Alpha dan Teiron sambil angkat bahu.

"Wah sayang, padahal Adelia nungguin lho..." gumam Eiuron sambil meninggakan mereka.

'Pantesan...' batin kedua anak itu sweatdrop.

Rupanya Ikyo masih nggak kuat sama Adelia.

"Kayaknya gue mesti bawa dia deh, lu mau tunggu di sini?" tanya Alpha.

"Terserah..." balas Teiron datar.

Alpha pun langsung menyeret Ikyo pergi ke tempat lain, sementara Teiron pergi mencari camilan selagi menunggu.

Tapi ketika sedang memilih makanan, dia melihat Lisa yang memakai gaun pink sedang ngobrol dengan Bianda dan Frida. Karena terlalu malu, akhirnya Teiron langsung ngumpet di bawah meja plasmanan (atau entah apa namanya).


Beberapa saat kemudian...

"Lex, liat Teiron nggak?" tanya Alpha kepada Alexia.

"Nggak, dari tadi gue di sini..." jawab Alexia datar.

"Kenapa, Al?" tanya Thundy.

"Teiron ngilang..." balas Alpha.

"Ngilang?" tanya Thundy bingung.

"Tadi kan gue suruh dia nunggu pas gue bawa Ikyo yang pingsan (gara-gara dipanggil Eiuron yang minta dia temenin Adelia), terus pas balik udah nggak ada orangnya..." jelas Alpha.

"Dia nggak mungkin keluar, kan?" tanya Alexia yang langsung membuat kedua anak itu menengok ke arahnya. "Maksudku, pintu depan kan lagi dijagain sama Lance-sensei, nggak mungkin dia diizinin keluar..."

"Kalau nggak keluar pasti ngumpet..." ujar Thundy menyimpulkan.

"Tapi ngumpet dimana?" tanya Alpha.

"Mending panggil yang lain aja deh, suruh mencar buat nyari dia..." usul Thundy.

Alexia segera mengeluarkan HP-nya untuk menghubungi beberapa orang yang bisa membantu.


Di sisi lain, Andreas Trio yang sedang bermesraan dengan pacar masing-masing tiba-tiba mendapat pesan.


Kumpul di depan meja plasmanan, GC!


"Kayaknya darurat nih..." gumam Daren.

"Kenapa, Ren?" tanya Kaila.

"Alexia, kita disuruh ke meja plasmanan..." jawab Daren.

"Jiiiiir, padahal gue masih mau gombalin Vivi-chan!" balas Vience sambil memeluk kekasihnya.

"Itu bisa entar aja, Vie-nii..." sahut Saphire sweatdrop.

"Dia benar, Vience! Lagipula aku bisa menunggu, kok!" timpal Vivi sambil mencium pipi kekasihnya.

"O-oke, ayo kita temui dia..." Vience pun langsung pergi diikuti kedua adiknya.

"Hati-hati, Sap-kun~" ujar Lira.

"Kalian berdua juga!" seru Kaila dan Vivi.


Sementara itu...

"Kuharap mereka bisa ke sini secepatnya..." gumam Alexia.

Beberapa detik setelahnya, beberapa orang pun langsung mendatangi ketiga anak itu.

"Oy Lex, memangnya ada apaan sih?" tanya Zeptrun.

"Teiron ngilang..." jawab Alpha singkat.

"HAAAAAAAH?!"

"Gimana ceritanya?" tanya Icy.

"Dia pasti ngumpet di suatu tempat, soalnya nggak mungkin keluar kalau pintu depannya ada yang jagain..." jelas Alexia sambil menunjuk pintu depan.

Mereka semua langsung mangap lebar melihat Lance yang berpakaian ala Mafia sedang menjaga pintu itu.

"Benar juga sih..." gumam Exoray cengo.

"Jadi intinya, lu mau kita cariin dia ke seluruh ruangan gitu?" tanya Maurice menyimpulkan.

"Genau (Tepat sekali)!" balas Thundy.

"Thun, bisa nggak pake bahasa yang kita semua ngerti? Satu kata itu bikin kepala gue pusing, tau!" keluh Saphire.

"Salah siapa lu nggak buka kamus Jerman?" tanya Thundy sinis.

"Udahlah, mending kita cari Teiron aja!" lerai Ikyo.

"Errr, Kyo... Lu udah baikan?" tanya Alpha yang hanya dibalas dengan helaan nafas plus anggukan dari Ikyo.

"Yosh, ayo cari dia sampai ketemu!" perintah Exoray.

"Baik!" koor yang lainnya.


Alhasil, misi pencarian pun dimulai.

Tapi masalahnya, mereka nggak tau kalau selama ini Teiron berada di dekat mereka, lebih tepatnya di bawah meja plasmanan.

"Sepertinya aku takkan keluar untuk sementara..." gumam anak itu di bawah meja.


Mari kita lihat kondisi para cewek!

"Jadi gini lho, menurut kalian aku mesti ngajak dansa siapa?" tanya Lisa meminta pendapat.

"Yang menurutmu paling baik, lha!" jawab Frida spontan.

"Aku tak mengerti..." balas Lisa bingung.

"Kalau kau suka seseorang, ajaklah dia dansa! Gitu aja kok repot?" usul Bianda.

"Begitu..."


Sementara itu...

"Dia ngumpet dimana sih?" tanya Alpha sambil celingukan.

"Nggak tau, cari aja terus!" balas Ikyo.

"Gimana?" tanya Thundy sambil menghampiri kedua orang itu. "Kita udah cari ke setiap sudut ruangan, tapi masih belum ketemu juga!"

"Nggak sekalian cari ke langit-langit?" usul Saphire.

"Eh Sapu Ijuk, ngapain juga ngumpet di situ?! Kan gampang keliatan kalau ada yang nengok ke atas!" timpal Alexia sewot.

"Terus dimana?"

Mereka semua langsung berpikir keras untuk mencari tau dimana tempat persembunyian yang tidak pernah dipikirkan orang lain.

Zeptrun tak sengaja melirik meja plasmanan dan langsung memasang seringai kecil. Dia pun diam-diam pergi untuk melakukan sesuatu.

"Tino-sensei!"

Sang personifikasi Finland yang merasa terpanggil langsung membalas, "Ah, ada apa, Zeptrun-kun?"

"Boleh kupinjam anjingnya?" pinta sang Researcher.

"Hanatamago ada di sana, ajak saja dia main!" Tino menunjuk seekor anjing kecil berbulu putih di dekat ring basket.

"Terima kasih!" Zeptrun pun pergi ke tempat Hanatamago.

Nah lho, ada apa dengan Hanatamago? Dan apa hubungannya dia dengan pencarian Teiron?


Ah sudahlah, mari kita lanjutkan saja!

"Hmm..." Lisa terlihat celingukan.

"Kenapa, Lisa-senpai?" tanya Teira bingung.

"Aku tidak lihat Tei-kun..." jawab Lisa to the point.

"Teiron-nii nggak bisa datang, senpai!" balas Teira.

"Begitu ya..."

"Senpai mau makan sama aku?" tawar Teira tulus.

"Tidak, terima kasih..." balas Lisa seadanya.

"Baiklah~" Teira pun langsung pergi dari situ.

'Aku hanya ingin bersama Tei-kun...' batin Lisa sedih.


Back to Zeptrun and the gang...

"Zep, lu ngapain main sama Hanatamago?" tanya Daren saat mendapati Zeptrun yang asik bermain bola dengan anjing itu.

"Pssst, gue lagi konsen nih!" balas Zeptrun.

"Konsen apaan?"

"Liat aja nanti!"

Zeptrun pun melempar bola yang dipegangnya ke bawah meja plasmanan dan langsung dikejar oleh Hanatamago.


Di bawah meja plasmanan, Teiron terkena lemparan bola barusan.

"Kenapa ada bola di sini?" tanya Teiron bingung sambil mengambil bola itu.

"Auk auk!"

Entah kenapa, Teiron langsung merinding ketika mendengar suara yang dikenalinya dan mendapati sesosok makhluk berbulu putih yang dibencinya berada tepat di depannya.

'Demi para nenek moyang Gumiho (?), mimpi apa gue sampe makhluk itu nongol di sini?!' batin Teiron shock.


Entah kenapa, Ikyo malah bersin di tempat.

"Kenapa?" tanya Vience di sebelahnya.

"Nggak tau nih, kayaknya ada yang ngomongin nenek moyang gue deh!" balas Ikyo sambil mengusap hidungnya.


Teiron berusaha sebisa mungkin untuk tidak teriak ketika Hanatamago berjalan mendekatinya, bahkan sampai nyaris ngompol di celana.

"A-a-a-anjing baik, b-bi-bisa menjauh d-dariku?"

Tapi anjing kecil itu semakin mendekat dan ketika mendapati kalau bola yang dipegangnya merupakan sumber masalah, cowok berkacamata itu langsung melemparkan bola itu ke arahnya.

"Ambil ini!"

Hanatamago langsung menangkapnya dan Teiron buru-buru menjauh sebisanya.

Tapi entah kenapa, Hanatamago malah berlari menghampirinya dengan bola di mulutnya dan sebuah terjangan pun langsung membuat kehebohan di bawah meja itu.

"HUWAAAAAAAAAAAAAA!"


Sontak, satu ruangan pun langsung jantungan sesaat mendengar teriakan barusan.

"Tei-kun?" tanya Lisa yang mengenali suara itu.

'Gotcha, sudah kuduga!' batin Zeptrun sambil tersenyum bangga.

Jadi begitu toh rencana Zeptrun! Rupanya dia memanfaatkan ketakutan Teiron untuk memaksanya keluar.

Benar saja! Teiron pun langsung keluar dari bawah meja plasmanan sebelum akhirnya kepeleset dan jatuh tepat di depan Lisa.

"Tei-kun, kau tidak apa-apa?"

"Ugh..." Teiron menengadah sedikit dan mendapati Lisa berjongkok di depannya. "Li-Lisa?"

"Mari kubantu..." Gadis Medic itu langsung menarik tangan Teiron untuk menolongnya bangun.

"Terima kasih..." gumam cowok berkacamata itu dengan wajah memerah.

"Teiron!"

Kedua anak itu menengok dan mendapati beberapa orang mendatangi mereka.

"Kalian?"

"Kami cari kemana-mana malah ngumpet di bawah meja, nggak ada kerjaan banget!" gerutu Icy sebal.

"Tadi lu kenapa sampai bisa teriak begitu?" tanya Maurice.

"A-ada anjing putih kecil di bawah meja!"

Webek, webek...

Mendengar perkataan Teiron barusan, yang lainnya langsung melirik Zeptrun yang berusaha menahan tawanya. Teiron yang menyadari sesuatu langsung men-summon batu bata di tangannya dan...

BLETAK! GUBRAK!

Dia pun melemparnya ke wajah Zeptrun.

"Makan tuh batu bata! Makanya nggak usah pake jahilin orang juga, keles!" umpat Teiron kesal setelah berhasil membuat Zeptrun pingsan hanya dengan sebuah 'headshot'.

"Beneran pingsan, dayo! Lemparan Teiron sangat mengerikan!" ujar Musket sambil menoel Zeptrun yang udah tepar dengan tidak elitnya.

"Tei-kun?"

"Hah? Ada a- Hmmph!"

'What The Denmark?!' batin mereka semua yang langsung mangap lebar begitu melihat Lisa dengan beraninya (atau malah nekat?) mencium Teiron di depan umum.

Tapi sayangnya, Teiron langsung melepaskan kontak mereka dan bertanya dengan tampang shock, "Yang tadi itu apa?"

"Aku mencintaimu, maukah kau jadi kekasihku?"

"Eeeh?!" Wajah sang Earth Mage langsung memerah parah mendengar hal itu, bahkan gue sampai nggak bisa bedain warna rambut sama wajahnya. *plak!*

"Ron, terima saja! Aku restuin, kok!" timpal Alpha.

Teiron malah tambah shock. "Alpha?!"

"Teiron-nii semoga langgeng sama Lisa-senpai ya!" sahut Teira dari kejauhan.

"Kau juga, Teira?!" Teiron langsung kena 'Triple Shock'.

"Dukung Teiron untuk menerima Lisa!" seru Exoray yang malah meramaikan (baca: memperkeruh) suasana.

Sontak, seisi ruangan langsung heboh menyoraki Teiron untuk menerima Lisa.

'Aduh, kenapa jadi begini?!' batin Teiron yang meteran shock-nya udah to the max.

Alhasil, dia pun menelan ludah dan memberanikan diri untuk mengatakannya.

"A-aku..."

Semua orang pun terdiam sesaat.

"M-mau, me-nerimamu, se-bagai, kekasihmu..."

"YEAAAAAAAAAAAAAAAAH!"

"Akhirnya keponakanku tercinta punya pasangan, ah indahnya~"

Webek, webek...

Seisi ruangan pun langsung menengok ke arah panggung yang rupanya sudah ditempati oleh seorang wanita berambut merah yang sangat dikenali Teiron.

"WHAT THE DENMARK?! SEJAK KAPAN BIBI RILEN ADA DI SITU?!" pekik Teiron yang meteran shock-nya udah jebol.

"Aku yang mengundangnya..." sahut Mathias pelan sambil memasang tanda 'peace' dengan kedua jarinya plus cengiran lebar yang sukses membuat beberapa orang langsung facepalm (terutama Lukas dan Teiron).

"Biar lebih bahagia, bagaimana kalau kalian berdansa saja? Bagi yang punya pasangan, ayo lakukan waltz!" ujar Rilen.

Musik pun diputar dan beberapa anak yang udah punya pasangan (termasuk Andreas Trio dan Zeptrun) pun langsung menyambar pasangan mereka untuk berdansa bersama, tapi para jones melarat seperti Exoray langsung pundung di pojokan dengan 'epic'-nya.

"Please deh Nii-san..." gumam Alexia yang udah geleng-geleng kepala melihatnya.

"Alexia, dansa sama aku yuk!" ajak Rudya.

"Tidak tidak, dia harusnya sama aku!" timpal Sintya.

Alexia yang tidak perduli dengan pertengkaran kedua cewek itu lebih memilih untuk mengabaikan mereka dan langsung pergi untuk melakukan sesuatu yang (dirasanya) lebih penting.


"Exoray..."

Sang ketos yang sedang pundung langsung menengadah begitu mendapati July sudah berada di depannya.

"J-July?"

"Mau dansa denganku?" tanya July sambil mengulurkan tangannya.

"Tentu saja aku mau!" balas Exoray senang sambil memeluk gadis itu.

Alhasil, mereka berdua pun langsung berjalan ke tengah dan mulai berdansa bersama.


Ikyo yang berniat kabur karena suatu alasan tiba-tiba dipeluk seseorang dari belakang dan rupanya dia adalah Adelia.

"Kyo-kun dansa sama aku ya..." pinta Adelia (yang bagi Ikyo terdengar seperti ancaman).

Ikyo yang ketakutan setengah mampus terpaksa menerimanya dengan sangat tidak ikhlas.

"B-baiklah, te-terserah katamu..."

Keduanya pun ikut berdansa, meskipun Ikyo berusaha untuk tidak canggung karena tidak kuat dengan aura Adelia.


"Tei-kun mau dansa denganku?" tanya Lisa.

"D-dansa?" Teiron malah nanya balik dengan tampang gugup dan Lisa membalasnya dengan anggukan.

"B-baiklah..." Cowok berkacamata itu memegang tangan Lisa dengan canggung, kemudian mereka bangun dan berdansa bersama.


"Thun-"

"Tidak terima kasih, aku sedang tidak ingin dansa!" potong Thundy sambil menatap Elemy dengan tampang sinis.

"Yah, Thun-kun nggak asik nih!" keluh Elemy sambil manyun.

Thundy hanya bisa menghela nafas dan mengulurkan tangannya di depan cewek Sorcerer itu dengan wajah memerah. "Terserah kau saja..."

Elemy yang nyengir kuda laut langsung menerima uluran tangan itu dan menarik kekasihnya untuk berdansa.


Icy yang sedang melihat keramaian itu dari kejauhan didatangi sesosok hantu di sebelahnya.

"Kau di sini juga?" tanya Icy sambil menengok ke arah hantu itu.

"Yah, setidaknya mereka tidak menyadari keberadaanku..." jawab hantu itu seadanya. "Kau ini aneh ya, Icy..."

"Iya, aku memang aneh... Aneh karena mencintai hantu sepertimu, Ashley..." balas Icy sambil tersenyum manis.

Ashley yang melihat senyuman manis itu langsung memalingkan wajahnya yang memerah. "Bu-bukannya itu berarti hubungan kita yang aneh?"

Icy malah tertawa kecil mendengarnya. "Kalau dipikir-pikir memang iya sih!"

Ashley menggenggam tangan Icy dengan malu-malu. "Mau dansa?"

"Tentu..."

Kedua insan berbeda alam itu pun berdansa dengan asiknya sampai tanpa sadar telah membuat jawdrop beberapa orang yang menonton pemandangan absurd berupa 'anak yang dansa sama hantu'.


"I-itu, Icy, dansa sama hantu?" tanya Maurice cengo.

"Kayaknya..." jawab Alpha agak risih.

"Hey kalian!"

Kedua anak itu menengok dan mendapati Alisa mendatangi mereka.

"Ali-chan?" tanya keduanya bersamaan.

SRIIIIIING!

Entah kenapa, tiba-tiba mereka adu death glare, kemudian langsung berantem dengan tidak elitnya.

"Ali-chan dansa sama gue, lolicon maso diem aja sono!"

"Nggak, sama gue aja! Werewolf jejadian nggak usah ikutan!"

"Waduh..." Alisa langsung sweatdrop melihat pertengkaran kedua makhluk itu.

"Ya elah, malah berantem mereka!" celetuk Alexia dengan tampang skeptis sambil menghampiri TKP.

"Tau nih..." timpal Alisa ikutan masang tampang skeptis.

Acara Prom Night tidak pernah senista ini!


The End dengan Asemnya!


Yah, dengan ini aku umumkan bahwa fic 'Malam Minggu' telah tamat di Chapter ini! Yeay! \ :V /

Well, walaupun cuma 35 Chapie, tapi aku cukup senang dengan fic ini karena merupakan fic Weekly Update paling 'kampret' untuk diselesaikan (walaupun kadang sering tertunda karena nggak ada ide)... ^^a

Review! :D