I Chanbaek You fanfic event present

Don't Take It Seriously!

.

Chanyeol x Baekhyun

.

.

"Yang benar itu begini Baek,"

Deg!

Baekhyun yakin saat itu juga jantungnya kembali terasa hampir meloncat keluar. Dia menelan ludah gugup dan tangannya sedikit gemetar kala detak jantungnya tidak bisa ia atur. Bagaimana pun juga ia belum terbiasa dengan hembusan nafas berat Chanyeol menyentuh lehernya, memberi perasaan hangat itu kembali dalam jumlah yang tak terkalkulasi, serta remasan tangannya melingkupi jemarinya ketika memegang kendali dari senapan di hadapannnya.

"A-ah, be-begitu."

Dan tanpa harus Baekhyun ketahui lelaki yang tengah merangkap tubuhnya dari belakang itu mengulas senyum geli karena mendapati sang 'incaran' merona. Ya ampun! Dia tampak seperti domba yang jika melenceng sedikit saja bisa habis di tangannya!

"Posisinya sudah pas lalu kokang disini, dan tarik pelatuknya." Titah Chanyeol mengintruksi Baekhyun, karena Baekhyun hanya bergeming maka itu semakin menarik minat Chanyeol untuk kembali menggoda si mungil agar segera sadar.

"Tunggu apalagi Baekhyun?" bisiknya yang refleks membuat Baekhyun langsung menarik pelatuk dari senapannya tanpa membidik terlebih dahulu papan sasaran dari tembakannya.

Dorr!

Dan amunisinya meleset menemui titik papan, nyaris hampir keluar batas. Chanyeol terkekeh, lalu melepas rengkuhannya. Baekhyun menganga, setengah malu dan juga lega dalam bersamaan.

Baekhyun mendengus, "Ya, dan kau si sombong Park Chanyeol."

Ia berdiri dari duduknya lalu mendapati Chanyeol tengah mempersiapkan senjatanya, setelah memasukkan peluru lelaki itu lalu mengarahkan revolver-nya hanya dengan menggunakan satu tangan. Diperhatikan sedemikian jeli oleh Baekhyun nyatanya tak membuat ia gugup layaknya lelaki mungil itu rasakan barusan.

Chanyeol membidik sasarannya lalu menoleh pada si cantik yang kebetulan berdiri cukup dekat dengannya, tengah menanti tembakan Chanyeol yang nyaris tidak pernah menyentuh kata gagal untuk menemui titik tepat sasarannya. Dan sial! Baekhyun merutuk ia mengulas senyum begitu tampan sampai...

Dorr!

...,bagaimana bisa dia? Menciumnya saat itu juga?!

.

Don't Take It Seriously!

.

3 bulan sebelumnya...

"Misi barumu,"

Amplop bersampul cokelat itu di lempar ke meja Baekhyun yang tengah asik memainkan salah satu aplikasi game di ponselnya. Ia tak terkesiap sama sekali, malah masih tetap dalam posisi santainya.

"Kau memilih mendengarku atau di pecat?"

Dan Baekhyun mendengus, ia mengeluarkan dirinya dalam permainan dan menatap lawan bicara yang wajah dan omongan selalu datar-datar saja.

"Oke, oke. Baiklah aku mendengarmu Oh Sehun."

Baekhyun menambah kekehan di akhir kalimat bernada maafnya, dia duduk dengan manis sambil membuka amplop yang diberi Sehun, atasannya. Sehun ikut menarik kursi di depannya dan mengamati ekspresi Baekhyun ketika memahami sebaris demi baris yang tertulis rapih dalam lembarannya.

Baekhyun menggangguk paham, "Disini aku di tugaskan untuk mengamati segala aktivitas di Elyxion Shooting Club? Baiklah,"

Sehun merangkul tangannya, lalu menatap serius Baekhyun. "Tidak, bukan hanya itu Baekhyun, kali ini lebih serius."

Baekhyun memasuki mode seriusnya, lalu ikut membenarkan posisinya dan menatap Sehun menunggu lanjutan dari perkataan lelaki berpakaian formal itu.

"Dia berbahaya,"

Baekhyun mengangguk, dia tidak terlalu terkejut dengan fakta berikut Sehun tuturkan karena ya, dia sudah biasa menghadapi berbagai macam 'klien' dan juga berbagai macam tipe yang mesti ia kelabui.

Sehun menggeleng, "Dia berbahaya dalam artian sesungguhnya Baekhyun, aku tidak tahu bagaimana menggambarkan bagaimana spesifiknya. Tapi untuk saat ini kau cukup memperhatikan aktivitas yang terlihat mencurigakan darisana lalu melaporkannya padaku."

Baekhyun menggumam pelan sembari menggangguk, "Baik, lalu?"

Sehun menaikkan kacamatanya, hingga membentuk kilatan misterius dari lensanya. "Aku berharap kau berhati-hati untuk tugas kali ini Byun."

Baekhyun mengangkat bahunya tanpa ambil pusing dengan peringatan yang Sehun coba tekankan dalam kalimatnya, toh hal ini sudah menjadi konsumsi nya sehari-hari sebagai agen pengintai. Dia hanya dibayar ketika menerima Job, selebihnya tidak. Dan yang membuat Baekhyun bisa bertahan bekerja seperti ini adalah karena tawaran akan uang yang mereka tawarkan tidak main-main.

Maka dari itu Baekhyun menyetujuinya, semua karena ia butuh uang dan tentu saja motivasinya ini tidak ia beritahukan kepada siapapun, tak terkecuali Sehun. Sehun pun sebenarnya hanyalah media, begitu sebutannya. Karena ia hanya menjalankan perintah demi perintah dari atasan-nya.

Ini adalah badan agen rahasia, dan mempertaruhkan nyawa terkadang diperlukan dalam menjalaninya, tentu saja Baekhyun mengetahui pasti konsekuensinya jika sampai ia yang malah balik tertangkap oleh si 'incaran' maka tidak ada yang akan bertanggung jawab.

Serta kebanyakan orang yang harus Baekhyun kelabui berasal dari bangsa-bangsa tertentu, contohnya konglomerat yang memiliki banyak bisnis kotor di belakangnya. Mereka menyebutnya, bisnis gelap si tikus berdasi. Dan banyak lainnya.

Baekhyun tidak ambil pusing bagaimana mereka menyebutnya, yang terpenting adalah bagaimana cara ia menghadapinya. Awalnya Baekhyun sulit di terima oleh agen rahasia ini karena ketidakpercayaan mereka akan skill yang Baekhyun miliki, namun karena ia diberikan waktu untuk menunjukkan kemampuan yang ia bisa dalam menyamar, maka Baekhyun menunjukkannya.

Dia berhasil membuat para penyeleksi memberi pertimbangan, kala Baekhyun bisa menunjukkan kepiawaiannya. Baekhyun berhasil memenuhi beberapa syarat yang di ajukan, seperti menguasai banyak bahasa asing dan memiliki keahlian bela diri. Namun ada satu syarat yang gagal ia penuhi, dan dengan keberaniannya Baekhyun menunjukkan salah satu keunikan yang ia miliki. Crossdressing.

Ugh, kalau di ingat-ingat itu cukup memalukan. Dia memakai dandanan khas perempuan yang sialnya dia malah terlihat seperti wanita sungguhan karena wajahnya yang imut dan cantik, itulah point sebenarnya yang tidak bisa diterima namun Baekhyun yang cerdik memikirkan cara bagaimana kekurangan itu bisa menjadi investasi baginya jika ia pandai menempatkannya.

And he did it. Baekhyun nyatanya bisa diterima dengan gagasan yang cukup memuaskan, selanjutnya ia di latih banyak hal sebelum di lepas menjadi 'prajurit' yang siap bertarung. Termasuk bagaimana cara menyusun strategi yang mantap beserta rencana A dan B seterusnya, maka sejauh ini lelaki bernama keluarga Byun itu telah di lepas ke lapangan secara bebas dan terorganisir, dia pun kerap menunjukkan ke-profesionalisnya sebagai agen yang tidak boleh melibatkan perasaan.

"Baekhyun?"

"Ya?" Sejurus kemudian ia tersadar bahwa ia baru saja melamunkan hal yang tidak penting. Dan satu lagi pertemuan dirinya dengan Sehun sebagai atasannya bisa lebih sesantai ini juga karena sikap Sehun yang tak di duga Baekhyun, ia...ya sedikit lebih friendly dibanding pembimbing lainnya yang kebanyakan berwajar sangar tanpa emosi, walaupun terkadang respons yang Sehun berikan cukup datar.

"Kau tidak mendengarkanku, Baekhyun." itu pernyataan, bukan pertanyaan. Baekhyun menggaruk belakang kepalanya dan sedikit meringis memohon maaf.

"Apa ada yang menganggumu?"

"Tidak juga," jawab Baekhyun cepat, dia mengibaskan tangannya membentuk gesture 'bukan apa-apa' dan diangguki Sehun kemudian. Di dalam hati ia mendesah lega, beruntung Sehun tidak menangkap sinyal yang mencurigakan darinya.

"Aku mendengarnya kok, ini mungkin akan menghabiskan waktu cukup lama jadi aku harus membuat strategi sebaik mungkin itu menyelesaikannya."

Satu lagi hal yang menjadi daya tarik Baekhyun, untungnya ia cepat memahami dan mampu menangkap dengan cepat arahan dari Sehun. Sehun pun mengangguk puas, dia bangkit dari kursi dan melonggarkan sedikit dasinya.

"Aku harap kau bisa menyelesaikan tugas kali ini, Byun Baekhyun."

Entah mengapa Sehun seperti menyiratkan sesuatu, dan Baekhyun menjadi agak waspada. Apakah dia pernah membuat kesalahan dalam setiap cara kerjanya? Baekhyun rasa tidak, namun dengan demikian pun ia tetap harus berjaga-jaga karena sebaiknya Sehun kelihatan, Baekhyun juga tidak bisa mempercayainya begitu saja.

Baekhyun ikut berdiri mengambil amplop lalu menatap balik Sehun, "Mungkin adakah dari kinerjaku yang kurang memuaskan sehingga kau terlihat meragu begitu?" tanya Baekhyun untuk memastikan.

Sehun berdehem, dan melirik ke arah lain lalu terkekeh pelan. "Aku tidak meragukanmu Baekhyun, hanya saja..." Sehun menjeda kalimatnya lalu mencondongkan tubuhnya ke Baekhyun,

"...berhati-hatilah dan jangan libatkan perasaan. Kau tahu betul konsekuensi yang terjadi jika kau melakukannya."

Dan Baekhyun terhenyak untuk beberapa saat, memaknai perkataan atasannya secara perlahan. Sehun kembali ke posisinya sebelum kembali berdehem singkat untuk menyadarkan Baekhyun.

"Sampai jumpa kembali."

Sehun berlalu dari sana sembari memasukkan tangannya ke saku. Selepas kepergian Sehun dari gudang tempat pertemuan sembunyi mereka, Baekhyun pun ikut bergegas melewati jalan lain. Di perjalanan ia terus memikirkan apa maksud perkataan itu tadi, mungkinkah sebagai peringatan? Atau sebagai suatu hal yang akan Baekhyun lakukan? Apakah ia akan melanggarnya?

e)(o

"Hm, aku rasa ini cocok."

Baekhyun mematut dirinya di cermin, saat ini dirinya tengah berada di department store. Hanya membeli baju saja, dia butuh sesuatu yang mendukung penyamarannya maka ia memutuskan untuk membeli beberapa.

"Mari saya bungkuskan," seorang pria yang kebetulan berjaga di salah satu display pakaian menyahut ramah.

Baekhyun menoleh sekilas lalu kembali menatap cermin, sebelum benar-benar memastikan bahwa itu pakaian yang akan dibelinya. Kemudian kedua iris matanya menangkap salah satu dress wanita. Dia mendekati rak nya lalu mengangkat gaun berbahan lembut dengan warna pastel itu.

Dirinya menimang lalu mengambil pakaian itu dan menunjukkannya kepada si sales promotion boy, "Bagaimana menurutmu?" tanyanya dan langsung mendapati tatapan bertanya dari lelaki berpakaian semi-formal itu.

"Itu cantik,"

Baekhyun termangu, merutuk betapa bodohnya dia, demi menghanguskan suasana kikuk yang aneh ia tertawa, "Maksudku, ini untuk seseorang ya."

Baekhyun hendak kembali meletakkan gaun tersebut namun urung dan kembali mendekati si pelayan, "Baiklah, bungkuskan juga sekalian dengan ini." Cicitnya merasa sedikit malu, dan diangguki oleh si pelayan toko.

"Tentu."

Kemudian Baekhyun diarahkan untuk menuju konter pembayaran, sesuai prosedur biasanya ia menerima bungkusan paperbag-nya dan berlalu dari sana. Baekhyun kembali mengitari seisi gedung dan mencari banyak hal termasuk kebutuhan bulanannya di rumah.

Merasa lelah, Baekhyun duduk di salah satu kursi umum yang tersedia. Dan baru saja dia duduk ada seorang bocah bersama sang ayah duduk disampingnya, itu menjadi hal biasa jika saja sang anak tidak sengaja menumpahkan ice cream di genggamannya hingga mengenai bagian celana jeans Baekhyun.

Baekhyun terlonjak dan memekik pelan, lalu buru-buru menghapus sisa eskrim yang sialnya banyak mengenai bagian dari celananya. Mendapati sang anak yang berulah, sang ayah langsung sigap menarik sapu tangan dari sakunya dan mendekati Baekhyun.

"Ya ampun! Maafkan saya, maafkan saya." Dia berujar dengan nada memelas lalu mengusap ketumpahan eskrim itu di celana Baekhyun. Baekhyun hanya menelan ludahnya gugup, posisi lelaki itu yang berlutut dan ia yang berdiri membuatnya terkejut. Buru-buru ia menahan tangan sang ayah dari bocah,

"Ti-tidak apa-apa. Saya bisa bersihkan sendiri."

"Sungguh maafkan saya. Biarkan saya membantu,"

Dan Baekhyun menahan napasnya kala tanpa sengaja tangan lelaki itu mengenai bagian privasinya, namun ia seolah bertingkah tidak mengenai apapun. Baekhyun langsung mengambil sikap, kali ini ia mencekal tangan pria itu dan mengambil sapu tangannya.

"Tidak apa-apa, sungguh tidak apa-apa. Aku akan lebih nyaman jika membersihkannya sendiri, dan-"

Tanpa sengaja Baekhyun mengalihkan pandangannya pada si bocah tadi yang pergi entah kemana, "-lihat anak Anda menghilang!"

Lelaki tadi menoleh dan benar mendapati kebenaran dari perkataan Baekhyun, maka ia langsung berdiri dan menoleh ke seluruh penjuru untuk menangkap keberadaan anaknya. Dia kembali menoleh pada Baekhyun, berkata sungguh menyesal dan membungkuk sopan sebelum bergegas mencari keberadaan sang anak.

Baekhyun menghela nafas, lalu membawa seluruh belanjaannya menuju toilet. Dia perlu membersihkan ini sedikit lagi, lalu bergegas pulang. Sesampainya di toilet, Baekhyun mendesah lega, toilet yang ia masuki cukup sepi. Dia menaruh bawaannya di atas wastafel berbahan granit hitam itu, menarik ke atas kran air dan membasahi sapu tangan milik pria tadi.

Baekhyun hanya membasahi bagian yang terkena tumpahan makanan manis itu agar baunya menghilang lalu menoleh sekilas kala clearning service memasuki toilet. Dia hanya melakukan tugasnya, lalu berdiri disamping Baekhyun untuk membersihkan permukaan kaca dengan alat-alatnya.

Begitu Baekhyun selesai membasuh wajahnya, pintu berdebum pelan meninggalkannya sendiri kembali. Baekhyun mengambil barang belanjaannya lalu hendak keluar dari toilet sebelum matanya menangkap sebuah tulisan di diinding kaca. Matanya menyipit lalu membacanya, yang bertuliskan,

See u again.

e)(o

Baekhyun bersiap untuk bertugas kali ini, setelah semalam suntuk memikirkan banyak strategi ia memulai hari ini untuk memasuki tahap; mengamati, sama seperti yang Sehun intruksikan. Dia berpakaian sesuai dengan tema sudah ia tentutan, karena penampilan adalah hal yang turut menunjang dalam melakukan setiap tugas. Seperti contohnya, kemarin ia diharuskan untuk memasuki daerah perjudian kelas para petinggi, maka pakaian yang ia gunakan pun formal untuk menyesuaikan tempat agar tidak terlihat mencolok.

Baekhyun jadi teringat kemarin itu ia diharuskan untuk menjebak seorang wanita cantik yang sangat ahli dalam bermain poker, sama seperti halnya ikan yang diumpan oleh ulat, dia memakannya. Baekhyun tentunya sudah menguasai teknik curang bermain poker yang dilakukan wanita itu.

Maka Baekhyun membalas sama halnya, dan betapa marahnya dia ketika Baekhyun berhasil menerapkan hal serupa. Baekhyun memberi penawaran yang kemudian dengan bodohnya wanita itu terpancing, akhirnya ia Baekhyun arahkan ke sebuah hotel dan ia ditangkap disana oleh divisi yang betugas untuk melanjutkan kasus Baekhyun.

Selebihnya Baekhyun tidak lagi ikut campur tangan, entah mau diapakan mereka, lalu dia menerima bayaran dari Sehun. Bukannya ia tidak berperasaan namun mengetahui catatan kriminal dari setiap korban jebakannya terasa setimpal untuk dilakukan.

"Percayalah ini akan menjadi yang terakhir, tunggu aku."

Terdengar sambungan di seberang sana memutus panggilan sebelum sebuah panggilan sayang ia sematkan pada Baekhyun. Baekhyun menyimpan ponselnya lalu bergegas menuju Elysion Shooting Club, sebuah klub olahraga menembak yang cukup diminati karena lengkapnya fasilitas serta senjata yang menunjang.

Sebelumnya Baekhyun sudah mencari berbagai informasi terkait tempat ini, dan kemarin Sehun dudah mengirimkan data personal dari incarannya, serta ciri-cirinya namun belum bisa menemukan foto dari incaran mereka.

Dan dari ciri-cirinya dia terlihat tinggi, memiliki tato di beberapa tempat dan baru baru ini ia sering berkunjung ke tempat itu. Salah satu lagi yang harus ia waspadai, ialah dia seorang penembak handal. Sebenarnya Baekhyun takut dengan fakta yang satu itu tapi apa boleh buat dia tidak boleh mundur dalam tugasnya dan sejauh ini dia tidak pernah dari setiap tugasnya, lagipula dia sudah memikirkan matang-matang bahwa ini akan menjadi tugas terakhirnya sebelum mengakhiri segala pekerjaan rahasia ini.

Akhirnya Baekhyun sampai di tempat itu, ia memasuki secara wajar dan merekam segala sudut ruangan di dalam otaknya, tak lama seorang staff bertanya padanya, dan Baekhyun memesan sebuah pistol untuk 35 peluru, karena waktu yang tidak batasi maka Baekhyun sekalian memilih untuk menghabiskan waktu cukup lama untuk mengawasi setiap pergerakan.

Baekhyun dituntun ke tempat yang disediakan, dan Baekhyun memilih untuk berada di paling pojok sembari memerhatikan dibalik topi hitamnya. Seseorang mengantarkan jenis pistol yang Baekhyun pesan beserta amunisinya, Baekhyun bukanlah baru dalam hal tembak-menembak, dia pernah diberi pelatihan jika suatu saat diperlukan ketika mendesak.

Baekhyun memakai sarung tangannya, sembari melirik ke segala arah. Dia mengisi amunisinya dan mulai membidik. Satu peluru berhasil masuk lingkaran sasarannya, dilanjutkan dengan sesi kedua dan berikut ketiga, sembari menembak Baekhyun sembari mendengarkan para penembak lainnya yang asik bercakap-cakap.

"Nice shoot,"

Baekhyun hampir terlonjak ketika suara berat itu mengomentari tembakannya, Baekhyun mendongak dan mendapati seorang pria tinggi dengan senyum menawan menatapnya. Mungkinkah dia? Baekhyun melarikan pandangannya kepada ciri-ciri orang tersebut yang menyerupai dari ciri-ciri yang Sehun berikan.

Namun sayangnya ia memakai jersey yang menutupi tubuhnya, jadi dia tidak bisa melihat benarkah pria ini yang dimaksud Sehun. Jika benar itu dia, mengapa dia menghampiri Baekhyun?

Baekhyun tersenyum tipis sebelum kembali memasukkan peluru, "Terima kasih."

Si pria itu sekarang berdiri di sampingnya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, "Ngomong-ngomong apa kau butuh bantuan?"

"Ya?" Baekhyun membeo, tidak mengerti.

Lelaki itu terkekeh, "Kau tentu tidak mengerti, karena aku belum mengatakannya."

Baekhyun semakin dibuat tidak mengerti, lalu dia menyodorkan tangannya, "Kenalkan, aku Park Chanyeol. Aku salah satu staff disini, aku bisa mengajarkan kau menggunakan shotgun, sniper, dan lainnya jika kau membutuhkan bantuanku."

Baekhyun mengangguk paham sekarang, dia kira tadi apa. Maka ia menyambut uluran tangan besar Chanyeol. Chanyeol menatapnya lalu meremas singkat jemari Baekhyun sebelum melepaskannya.

Baekhyun menatap jemarinya, merasa seperti disengat sesuatu saat berjabatan dengan lelaki asing ini.

"Kau mau ku ajarkan cara menembak memakai pistol hanya dengan satu tangan?" Chanyeol menawarkan, dan Baekhyun masih mendengar setiap perkataan Chanyeol mengenai kiatnya.

"Ah, bagaimana kalau kau bergabung saja menjadi anggota? Kami menyediakan kelas menembak setiap tiga kali seminggu, dan juga-"

"Mengapa kau menhampiriku diantara pengunjung lainnya?" tanya Baekhyun to the point, merasa sanksi sekaligus penasaran.

Chanyeol tersenyum, "Kau sungguh ingin tahu?"

"Ya,"

Chanyeol menarik topi yang Baekhyun kenakan, sehingga surai pinkish-nya kelihatan dengan jelas, ah sial dia lupa mengganti warna rambutnya yang mencolok itu.

"You beautiful hair make me remember somethin'."

Baekhyun tertegun, rambutnya? Ada apa dengan rambutnya? Dia hendak bertanya kembali namun getaran disakunya terlalu penting untuk diabaikan. Dan benar itu Sehun yang menghubunginya.

"Perubahan rencana Baekhyun, cepat kembali."

Selesai Sehun mengkomandonya, Baekhyun kembali ke menemui Chanyeol, "Boleh aku minta kembali topi ku?" Tanya Baekhyun sopan, dan Chanyeol menyerahkannya kepada si lelaki mungil itu.

Baekhyun sebenarnya hendak menanyakan sesuatu namun urung, jadi dia hanya menatap ragu Chanyeol dan memilih berlalu dari sana, sebelum Chanyeol mencekal tangannya dan berujar sesuatu yang tidak asing,

"Kita akan berjumpa lagi."

e)(o

Setelah menjumpai Sehun di tempat yang lelaki itu inginkan, ia diberitahu banyak informasi lagi mengenai si target. Baekhyun pun pulang dan kembali mentelaah informasi yang Sehun berikan.

Loey.

Begitu namanya, dia memiliki keturunan darah campuran dan merupakan seorang pembunuh bayaran!

Astaga, Baekhyun tidak menyangka. Dan diketahui bahwa ia memiliki banyak relasi menyangkut persenjataan illegal, dan ini bisa berupa ancaman bagi negara. Memang benar, badan rahasia yang menaungi Baekhyun ini bukan bagian dari polisi. Mereka memang menangkap kejahatan tapi juga menangkap keuntungan yang bisa diperoleh secara bersamaan dari si oknum criminal. Baekhyun sendiri tidak tahu bagaimana detailnya, yang pasti ia hanya diberi misi dan segera menyelesaikannya.

Dan sekarang, dia berhadapan pada orang yang rumit. Ini mungkin menjadi tantangan tapi Baekhyun masih menyayangi nyawanya jika dijadikan taruhan. Sebersit kata menyerah lewat dalam pikirannya, namun perkataan Sehun akan menawarkan bahwa gaji kali 2 kali lipat lebih besar membuatnya urung.

Dan Sehun memberi solusi yang cukup nyeleneh dari biasanya, jatuh cinta. Awalnya ini terdengar konyol namun Sehun menjelaskan bahwa jika Baekhyun berhasil membuat ia memiliki kelemahan maka saat itu juga mereka bisa mengambilnya.

Karena lawan kali ini cukup serius, dia hampir tidak memiliki celah. Baekhyun dilemma, harus bagaimana? Sementara dia yang tidak boleh melibatkan perasaan malah berbalik melawan menggunakannya sebagai senjata.

Lagipula mana mungkin pria yang telah menghabiskan banyak jeritan korban mengenal yang namanya jatuh cinta, yang ada malah Baekhyun mungkin dijadikan korban selanjutnya.

"Aishh! Bagaiamana ini?" rutuknya frustasi.

e)(o

Baekhyun memilih bersembunyi saat itu, dia hanya menatap dari kejauhan bagaimana tindak tanduk dari Loey, atau sebut saja Chanyeol karena ia juga tidak tahu yang mana nama asli pria itu. Semua direkamnya selama enam hari berturut-turut, sembari memikirkan solusi lain mengatasinya.

Beruntung Chanyeol belum memilih berpindah lokasi, jadi dia masih bisa mengawasinya, hingga hari ketujuh dia tak menemukan solusi lain selain rencana Sehun, dan Baekhyun memberanikan diri untuk kembali datang. Lelaki itu tengah asik mengobrol santai dengan temannya.

"Hey, kau datang kembali."

Chanyeol mengingatnya, dan Baekhyun yakin mungkin sebentar lagi dia akan di ingat sebagai korban lelaki itu selanjutnya. Ya, ampun apa yang dia pikirkan?

"Y-ya kita berjumpa kembali." Baekhyun menggaruk belakang kepalannya, dan berusaha bersikap sewajar mungkin.

"Kau sudah memikirkan tawaranku?"

"Yang mana?"

Chanyeol menggeleng, "Menjadi kekasihku, mungkin?"

"Apa?!" Baekhyun terlonjak kaget, dan Chanyeol terkekeh bersama teman-temannya. Lelaki itu menepuk pundak Baekhyun dan turun dari kursinya.

"Ikut aku," titahnya, dan Baekhyun hanya mengekorinya.

"Pendaftarannya di sebelah sini." Chanyeol memberi Baekhyun lembaran formulir bagi yang ingin ikut mendaftar di kelas menembak. Baekhyun kembali meragu namun sudah di putuskannya bahwa dia harus melanjutkan ini sampai akhir, dan dia berharap nyawanya masih aman sampai saat itu tiba.

"Byun Baek-hyun." Ejanya lalu menyimpan formulir itu, dia kembali menyodorkan tangannya sebagai sambutan.

"Selamat bergabung di Elyxion Shooting Club, Baekhyun."

Baekhyun menatapnya, mata itu terlihat teduh dan nyaman tidak tercium sedikitpun aroma khas seorang oenjahat dari pria ini, dia merasa bahwa pria ini sangatlah normal dan...senyumannya cukup manis.

Baekhyun menggeleng, apa yang barusan dia pikirkan? Dia tidak bisa mengingkari bahwa foto-foto yang Sehun tunjukkan padanya itu benar bahwa dia si pembunuh bayaran. Namun apa iya seseorang sekejam itu bisa bersikap begitu ramah seperti saat sekarang ini?

Kamuflase Byun, kamuflase!

Banyak sandiwara dimana-mana, jadi jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Baekhyun berdehem singkat sebelum menyambut uluran tangan hangat Chanyeol yang begitu pas melingkupi jemari lentiknya.

"Kau terlalu banyak berpikir," ungkap Chanyeol dengan senyumannya yang seolah mengartikan sesuatu. Baekhyun ingin menyela namun tangannya sudah di tarik lebih dulu oleh Chanyeol menuju suatu tempat.

e)(o

Waktu berjalan begitu cepat, tentunya Baekhyun masih dalam masa bertugasnya. Dia masih melaporkan gerak-gerik Chanyeol kepada Sehun. Dan mulai mencurigai jika sepertinya bukan Chanyeol sosok dibalik pembunuh bernama Loey.

Sehun mencerna semua informasi Baekhyun dan mengatakan untuk terus mengawasinya, nanti saat waktunya tiba dia akan diberi misi baru.

Baekhyun menyanggupinya dan tidak melewatkan bahwa Chanyeol itu lumayan friendly, sudah banyak informasi yang ia ketahui seperti ia mempunyai keluarga jauh disana. Begitu pun ketika Baekhyun menyinggung tentang seorang pembunuh bayaran yang handal, respon Chanyeol pun biasa, malah ia mempunyai ketertarikan juga mengenai pembunuh bayaran.

"Ah apa kau pernah mencoba shotgun* Baekhyun?"

Baekhyun menggeleng, dan Chanyeol mengembang senyum lima jarinya. "Ayo, ikut aku!"

Baekhyun entah mengapa kali itu bisa sesantai biasanya, melihat senyum Chanyeol ia jadi merasa nyaman walaupun seharusnya Baekhyun tetap berjaga-jaga. Bisa saja Chanyeol memanipulasinya.

Baekhyun diajak Chanyeol ke tempat biasa mereka berlatih, ia meminta Baekhyun menunggu sembari ia mengambil shotgun miliknya.

"Ini dia, salah satu benda yang paling kusayang."

Baekhyun mengamati benda itu, dan Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk mendekat dan coba memegangnya.

"Mari kita coba, apakah dia masih menjadi sehebat dulu." Chanyeol berkata penuh arti, namun sayang Baekhyun tidak terlalu menangkap pembicaraannya.

"Kau ingin mencoba lebih dulu?" tawar Chanyeol yang diangguki Baekhyun semangat, tampaknya ia tertarik dengan salah satu senjata jenis itu.

"Ini akan sedikit berat, aku akan membantumu menaruhnya di posisi yang benar."

Chanyeol berdiri di belakang Baekhyun sementara tangannya, membawa Baekhyun untuk memegang di titik-titik tertentu. "Nah ya bagus, letakkan jemarimu disini."

Chanyeol mengarahkan jemari Baekhyun di bawah pelatuknya, "Omo! Jarimu lentik sekali Baek, tampaknya kau tidak cocok memegang benda seperti ini." Komentarnya yang langsung disambut tawa oleh Baekhyun.

"Tidak apa-apa aku sudah sering mendengarnya, jadi menurutmu aku cocoknya memegang apa?"

"Kau cocoknya tidak memegang sesuatu yang berat, seperti mengurus bayi kita contohnya."

Baekhyun menginjak kaki Chanyeol, "Apa-apaan kau ini? Gini-gini aku masih lelaki tahu!"

Baekhyun membalas guyonan Chanyeol, yang alhasil menarik kekehan lelaki itu semakin lebar, "Ah masa? Mana coba buktikan padaku, kau benar-benar lelaki atau tidak."

Dan Baekhyun tertawa sebelum menyikut perut lelaki itu yang kebetulan masih berada di belakangnya, "Serius Chanyeol!"

"Okay, okay calm down Baekhyunee."

Baekhyun menahan senyumannya agar tidak mengulas cukup lebar, karena demi apa lelaki barusan menyebut namanya cukup manis. Dan dia entah untuk alasan apa menyukainya.

Chanyeol menaikkan shotgun-nya kembali kedepan bahu kanan Baekhyun, "Jadi sekarang kau tinggal letakkan jemarimu disini, lalu jangan lututmu disejajarkan depan lebar posisi bahumu." Baekhyun mengikuti petunjuk Chanyeol dan memasang posisi hampir serupa dengan posisi kuda-kuda.

"Begini?"

Chanyeol mengangguk, "Ahh jangan lupa pipimu tempelkan di gagang senapannya Baekhyun. Sejajarkan tatapanmu pada arah bidikan senapan."

"Seperti ini?" Baekhyun menaruh pandangannya pada titik fokus bidikan dia atas senjata yang cukup panjang itu.

"Ya seperti itu, kau sudah membidiknya?" Baekhyun bergumam pelan, lalu terdengar Chanyeol memasukkan amunisi di sisi samping shotgun-nya.

"Usahakan tarik secara perlahan pelatuknya, dan jangan tutup matanya karena jika melakukannya tekanan yang dihasilkan senjata ini malah menekan kuat bahumu dan kau juga bisa kehilangan fokusmu, megerti?"

Baekhyun mengangguk mantap setiap arahan yang Chanyeol berikan, walaupun awalnya ia agak sedikit takut.

"Oke, tarik pelatuknya ketika kau rasa bidikannya sudah seimbang."

Dorr!

Hentakannya sama seperti yang Chanyeol katakan, dan untungnya itu tidak terlalu sakit karena Chanyeol berada disana. Membantunya menetralisir. Baekhyun menurunkan senjatanya dan memberikannya kepada Chanyeol. Dia berlari mengamati papan tembakannya, dan lihat dia hampir menyentuh kata sempurna.

"Chanyeol, astaga mengapa kau tidak mengenalkannya lebih awal dariku?" tanya Baekhyun gemas ditambah raut gembiranya yang terlihat seperti anak kecil.

Chanyeol tersenyum, "Aku bahkan baru mau bertanya, apakah kau merasa sakit?"

"Tidak, sama sekali. Awalnya aku hampir ingin menutup mataku tapi kau benar aku bisa kehilangan fokus jika melakukannya."

"Baguslah, mari kita berlatih lagi lain kali." Chanyeol mengusak surai Baekhyun, membuat pria yang lebih mungil tertegun.

"Ngomong-ngomong aku suka rambut pinkish mu itu," ujar Chanyeol tulus dan kembali menebar senyum.

"Ayo, kita makan di luar!"

Sembari menyimpan kembali shotgun miliknya ke tempat semula. Sementara Baekhyun masih setiap dalam keterdiamannya. Sampai Chanyeol selesai berkemas ia menarik tangan Baekhyun untuk ikut bersamanya.

"Ya! Ya, tunggu."

e)(o

Malam itu Baekhyun pulang dengan perasaan baru menyergap dirinya, seperti sebuah perasaan hangat yang tak dikenal. Sekalipun asing, namun itu menyenangkan, tadi dia menghabiskan banyak waktu bersama Chanyeol.

Dimulai dari makan disebuah restoran cepat saji, lalu Chanyeol mengajaknya beradu ketangkasan di game center, dan terakhir menikmati malam sejuk di sungai Han. Tu-tunggu! Apakah ini termasuk kategori kencan?

Ya apum pipinya kembali memanas, ada apa dengannya?

Tak lama kemudian Baekhyun sampai di apartmentnya, dan saat itu juga Sehun kembali menghubunginya. Dia meminta Baekhyun datang ke sebuah café yang terletak tidak jauh dari sini.

"Apa kau baru pulang?"

Pertanyaan Sehun cukup lucu terdengar, bagaikan seorang Ayah yang menanyai kabar kepulangan putrinya yang demikian larut. Putri? Ya ampun pemikirannya!

"Ya, begitulah." Jawab Baekhyun seadanya, lalu duduk di depan Sehun. Baekhyun mengamati sekeliling, "Tidak apa, memilih tempat seterbuka ini?" tukasnya mengacu pada keadaan sekitar yang cukup ramai dipadati para pemuda-pemudi.

Sehun mengangkat bahu, "Aku tidak membawa informasi yang cukup serius Baekhyun,"

Baekhyun mengangguk, tidak masalah lagipula terkadang ia juga agak takut jikalau terus berjumpa dengan Sehun dalam keadaan tempat yang tertutup.

"Atasanku memberi pesan padamu untuk cepat-cepat menyelesaikan ini."

"Tapi aku masih punya waktu tiga minggu lagi bukan?" Sehun menggeleng lalu menyesap kopinya,

"Sebenarnya ada satu hal lagi yang harus kuberitahu padamu Baekhyun. Namun sebelum itu, bagaimana perkembangan Park Chanyeol?"

Baekhyun menggigit bibirnya sembari berpikir kondisi seperti apa yang harus ia laporkan pada Sehun, "Sejauh ini masih sama seperti yang aku laporkan, dia tidak terlihat mencolok dan sangat santai." Bahkan dia mengajakku kencan tadi, ugh.

"Menurutmu apa benar dia adalah Loey?"

Pertanyaan serupa yang kerap muncul dibenak Baekhyun ketika setiap waktu ia menghabiskan waktu dengan Chanyeol. Dia merasa bahwa lelaki itu hanyalah lelaki biasa pada umumnya, tidak terdeteksi sama sekali bau pembunuh ada didalam dirinya. Entah mungkin karena ia terlalu pandai bersandiwara atau apa yang ia khawatirkan sebenarnya tidaklah benar adanya?

"Aku mempertanyakan hal serupa,"

Sehun mengangguk paham, "Oke Baekhyun kau sudah melakukannya semampumu. Jika lawan yang kita incar terlalu licin maka kita harus kembali merundingkannya. Atasanku akan menemuimu besok, bersiaplah."

"Maksudmu, Mr. Kris?"

"Ya, kau tentu siap bukan?" Baekhyun sebenarnya meragu, karena ia belum pernah bersitatap langsung oleh petinggi pemilik agen yang di naunginya. Tapi apa boleh buat, dia akan mengatakan segalanya yang ia ketahui besok mengenai Park Chanyeol.

e)(o

Siang itu Chanyeol dan Baekhyun tengah mencoba senapan angin yang berbobot sekitar 3 kiloan, maka mereka hanya perlu mengaturnya diatas meja yang disediakan.

"Nah, aku sudah memasukkan amunisinya. Cobalah."

Baekhyun duduk di kursi yang tersedia dan mulai memegang kendali senapannya, karena lagi-lagi Baekhyun salah dalam mengambil posisi maka Chanyeol mendekatinya dan hampir membuat Baekhyun terlonjak kaget ketika mendapati lelaki itu tiba-tiba di belakang, nyaris persis seperti kemarin namun kali ini bedanya ia dalam posisi duduk.

"Yang benar itu begini Baek,"

Deg!

Baekhyun yakin saat itu juga jantungnya kembali terasa hampir meloncat keluar. Dia menelan ludah gugup dan tangannya sedikit gemetar kala detak jantungnya tidak bisa ia atur. Bagaimana pun juga ia belum terbiasa dengan hembusan nafas berat Chanyeol menyentuh lehernya, memberi perasaan hangat itu kembali dalam jumlah yang tak terkalkulasi, serta remasan tangannya melingkupi jemarinya ketika memegang kendali dari senapan di hadapannnya.

"A-ah, be-begitu."

Dan tanpa harus Baekhyun ketahui lelaki yang tengah merangkap tubuhnya dari belakang itu mengulas senyum geli karena mendapati sang 'incaran' merona. Ya ampun! Dia tampak seperti domba yang jika melenceng sedikit saja bisa habis di tangannya!

"Posisinya sudah pas lalu kokang disini, dan tarik pelatuknya." Titah Chanyeol mengintruksi Baekhyun, karena Baekhyun hanya bergeming maka itu semakin menarik minat Chanyeol untuk kembali menggoda si mungil agar segera sadar.

"Tunggu apalagi Baekhyun?" bisiknya yang refleks membuat Baekhyun langsung menarik pelatuk dari senapannya tanpa membidik terlebih dahulu papan sasaran dari tembakannya.

Dorr!

Dan amunisinya meleset menemui titik papan, nyaris hampir keluar batas. Chanyeol terkekeh, lalu melepas rengkuhannya. Baekhyun menganga, setengah malu dan juga lega dalam bersamaan.

"Berlatihlah lebih banyak dariku."

Baekhyun mendengus, "Ya, dan kau si sombong Park Chanyeol."

Ia berdiri dari duduknya lalu mendapati Chanyeol tengah mempersiapkan senjatanya, setelah memasukkan peluru lelaki itu lalu mengarahkan revolver-nya hanya dengan menggunakan satu tangan. Diperhatikan sedemikian jeli oleh Baekhyun nyatanya tak membuat ia gugup layaknya lelaki mungil itu rasakan barusan.

Chanyeol membidik sasarannya lalu menoleh pada si cantik yang kebetulan berdiri cukup dekat dengannya, tengah menanti tembakan Chanyeol yang nyaris tidak pernah menyentuh kata gagal untuk menemui titik tepat sasarannya. Dan sial! Baekhyun merutuk ia mengulas senyum begitu tampan sampai...

Dorr!

...bagaimana bisa dia? Menciumnya saat itu juga?!

Baekhyun tersadar di detik kelima dan refleks mundur selangkah dari Chanyeol, matanya terbelalak kaget dan Chanyeol lagi-lagi memasang senyumnya.

"Kau terkejut?" Dia meletakkan senjatanya, lalu melangkah mendekati Baekhyun yang termangu dengan jemarinya menyentuh bibirnya.

"Maafkan aku," Chanyeol berujar setengah memelas lalu kembali memperlebar senyumannya. Lalu ia mengernyit lucu dengan bola mata besarnya itu,

"Baek? Baekhyunnee?"

"Ya?" Baekhyun menatap Chanyeol yang berhenti mengibaskan tangannya.

"Soal tadi aku—"

Telunjuk Baekhyun menyuruhnya untuk berhenti berbicara lebih lanjut, "Ti-tidak apa, j-jangan dibahas lagi,"

"Sungguh?"

Chanyeol memiringkan kepalannya ke satu sisi, berusaha menatap Baekhyun yang memilih berpaling darinya, "Ya..." cicit Baekhyun, pipinya seperti di rebus, benar-benar panas.

"Sungguh-sungguh tidak apa?"

"Ya! Ya! Chanyeol—"

"Jangan menoleh Byun, jika kau tidak ingin mendapatkannya untuk kedua kali," Kembali jantungnya berdegup kian kencang, Chanyeol bisa dirasakannya begitu dekat di depan wajahnya, bisikannya pun tak kalah membuatnya merinding sekaligus meledak dalam sebuah perasaan yang berusaha ia ingkari.

Maka untuk sekali saja, biarkan Baekhyun merasakannya kembali. Sebuah kehangatan yang tercipta dari kesemuan yang tidak tahu kapan bisa kembali ia rasakan. Ia berbalik dan menarik Chanyeol dalam sebuah persatuan bibir yang mengejutkan.

Chanyeol tersenyum di dalamnya, tak bisa menyembunyikan perasaan yang membuncah kala Baekhyun yang lebih dulu memulainya. Mereka saling berpagutan cukup lama, dan Baekhyun melepasnya ketika merasakan oksigen benar-benar menipis di sekitarnya.

Chanyeol kembali mengecup singkat bibir Baekhyun, sebelum kembali berdiri tegak. Baekhyun mengipasi wajahnya yang semula terasa direbus maka sekarang terasa seperti di bakar.

"Apa disini, tidak memiliki pendingin ruangan?" ujarnya berbasa-basi dan berlalu dari sana.

Namun sebelum Baekhyun merencanakan untuk kabur Chanyeol sudah lebih dulu menarik lengannya untuk kemudian ia sembunyika di dada bidangnya.

Tangannya bergerak mengelus surai lembut Baekhyun, "Jam 8 malam, aku jemput di apartment-mu, apakah kau punya waktu saat itu tiba?"

Baekhyun tersenyum dan mengangguk tak kentara dibalik dekapan hangat Chanyeol, tanpa harus repot-repot mendeteksi adanya sebuah keanehan dibalik perkataannya.

e)(o

Untungnya pertemuanya dengan atasan Sehun diadakan sore ini, Sehun yang mengabarinya tadi pagi maka ia bisa dengan mudah menyetujui ajakan Chanyeol. Baekhyun bersiap dalam stelan jas formalnya dan tanpa harus berlama-lama berangkat menuju tempat yang di alamatkan Sehun.

Tentunya ia dijemput, begitu sampai disana Baekhyun keluar dari limousine yang ia tumpangi, sebuah tempat yang kurang Baekhyun ketahui seperti apa isinya. Awalnya para pengawal Kris menuntunnya ke sebuah bar, lalu mereka melewati banyak gadis-gadis seksi berpakaian minim menuju sebuah lift yang tersedia, dan disana Baekhyun disuguhkan oleh berjejer pintu kamar layaknya hotel.

Sebuah pintu berkusen rumit dibukakan untuknya hanya dalam sebuah gesekan card, Baekhyun memasuki dengan langkah pelan namun terdengar tegas, disana ada beberapa orang berpakaian formal seperti dirinya, mereka sebagian duduk di meja yang tersedia sembari menerima tuangan wine dari para petugas, serta ada juga yang bercumbu dengan gadis-gadis berpakaian seksi.

Baekhyun mencari keberadaan Sehun, namun ia tidak menemukannya.

"Mencariku, eh?" dan dia disana memberi sebuah tepukan di pundak Baekhyun,

"Mari kita langsung bertemu Mr. Kris,"

Baekhyun mengangguk dan Sehun menuntunnya ke sebuah ruangan. Ia mengetuk tiga kali sebelum membuka ruangan itu.

"Ah...kau sudah sampai rupanya." Begitu pula Sehun yang membungkuk hormat pun Baekhyun lakukan.

"Duduklah," lelaki yang tampaknya memasuki usia pertengahan tiga puluh itu menyuruh pelayan menuangkan wine dan dia yang didampingin asistennya.

"Irene, tolong mapnya bawa kemari." Perempuan itu menyerahkan dokumen berwarna hitam kepada Kris yang langsung diberi tatapan meneliti darinya.

"Kau yang menangani kasus Loey kan?"

"Ya, benar."

Kris mendesah tidak puas lalu kembali menyerahkan dokumen itu ke tangan Irene, asistennya. Kacamatanya yang bertengger di atas hidungnya ia lepaskan sembari menerawang.

"Dia sebenarnya anak dari kakakku yang sudah meninggal." Kris membuka cerita, "Namun sayangnya keberadaannya sungguh sulit dicari, hingga kita kembali menemukan nya disana. Eksistensinya kerap berubah, dan sepertinya laporan darimu yang ku dapatkan dari Sehun adalah sebuah ketidaksesuaian."

Lelaki itu memangku tangannya, "Dan dari foto yang terus kau berikan menguatkanku berkata sepertinya itu dia, namun juga bukan dia."

Perkataan Kris sedikit membingungkan dan Baekhyun memilih untuk tetap diam dan kembali mendengar dengan seksama sama halnya Sehun disampingnya.

"Aku ingin melepasnya dan merasa ini tidak perlu kembali di tangani."

Dan itu sebuah kelegaan entah mengapa menjadi hal yang patut Baekhyun syukuri, sepertinya benar dugaannya, bahwa Chanyeol tidaklah berbahaya atau dia bukanlah Loey yang mereka maksud. Dengan begini dia rasa dia masih bisa memperpanjang hubungan yang baru dimulainya dengan lelaki itu, ahh ia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengannya.

"Namun ada satu hal yang sangat aku kenal darinya, saat kecil ia tidak memiliki banyak teman lalu hubungan kedua orangtuanya memburuk saat ia beranjak remaja. Dan pertengkaran mengerikan datang dari kedua orang tuanya yang semakin menjadi, entah apa yang merasuki si bajingan itu hingga berani menancapkan pisau dijantung kakakku."

Baekhyun tertergun, "Dan Loey melihat semuanya, dan kau tahu apa yang selanjutnya ia lakukan?"

Hening.

"Ia malah berlari ke kamarnya, mengambil pistol yang entah bagaimana teknisnya bisa ada disana. Dia menembak ayahnya sendiri bahkan tembakannya akurat menghunus jantungnya langsung."

Baekhyun menelan ludah, berbeda dengan Sehun yang senantiasa berwajar datar. "Dan setelah itu ia menghilang, dan sempat tertangkap olehku kembali namun kepribadiannya banyak berubah. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya." Kris mengusap wajahnya.

"Dan ketika aku mendapatkan eksistensinya, aku sengaja tidak ikut campur tangan langsung menghadapinya karena aku takut ia bisa kembali menghilang."

"Lalu bagaimana dengan julukannya yang disebut 'Pembunuh Bayaran' itu?" Baekhyun memberanikan untuk bertanya.

"Dan itulah akibat dari depresi serta traumanya, seharusnya ia di tangkap dan di rehabilitasi sebelum berubah menjadi semakin parah, namun kami terlambat dia ternyata sangat gesit dalam melarikan diri. Ia menghabiskan waktunya untuk menjadi seorang penjahat tak berhati."

Namun itu berbeda sekali dengan perlakuan Chanyeol kepadanya, dia bahkan menciumnya siang tadi, bagaimana bisa seseorang yang tak berhati bisa melakukan hal romantis seperti itu?

"Psycho, mungkin itulah manifestasi yang ia tuai dari perlakuan kejam belasan tahun ketika kedua orang tuanya meninggal. Seringkali ia tertangkap membunuh targetnya dengan meninggalkan pesan-pesan tertentu bernada sama."

Dan juga Chanyeol mengatakan padanya bahwa ia masih mempunyai keluarga yang jauh disana.

"Entahlah hanya sebatas ini yang bisa ku beritahu padamu Baekhyun, kita belum tahu pasti apakah benar dia Park Chanyeol adalah Loey yang ku cari."

"Permisi tuan," Irene yang semula tenang berdiri di samping Kris menyela setelah sebelumnya ia menerima telepon. Dia berbisik pelan pada Kris. Kris sedikit terkejut membuat Sehun dan Baekhyun saling bertukar pandangan.

"Ada apa?"

"Tadi siang aku mendengar kabar dari salah satu mata-mataku di Amerika mengatakan bahwa ada seseorang yang terlihat seperti Loey menuju sebuah rumah lama yang dulu menjadi tempatnya tinggal bersama kedua orang tuanya, mereka belum benar-benar yakin namun baru saja kembali ku dengar bahwa seseorang kerabat dari Ayahnya meninggal karena di tembak."

Baekhyun mencerna semua informasi ini, dia tidak tahu harus berbahagia entah itu karena Chanyeol yang kemungkinan 80% bukanlah Loey, ataupun bersedih karena ternyata nyawa manusia bisa menjadi sebegitu mudahnya bagi mereka yang bertangan dingin.

"Baiklah Baekhyun, Sehun kalian boleh pergi aku akan menyelidiki ini kembali."

Sehun berdiri di ikuti Baekhyun, mereka membungkuk hormat sebelum berpamitan. Baekhyun melirik jam tangannya dan ia masih punya waktu satu jam lagi sebelum berjumpa dengan Chanyeol. Sehun telah lebih dulu mendahului dan Baekhyun mengekori, namun langkah Baekhyun di interupsi Kris.

"Baekhyun,"

Baekhyun kembali berpaling dan menatap atasannya itu, "Berhati-hatilah, kita masih belum mengetahui yang mana dan berada dimana sosok Loey itu. Aku berterimakasih kau sangat berjasa dalam setiap misi yang kau tempuh,"

Baekhyun mengulas senyumnya, "Yang saya lakukan bukanlah apa-apa."

Dan Kris berjalan mendekatinya, "Aku memperingatimu Baekhyun, sebaiknya menjauhlah dahulu dari Park Chanyeol. Sampai semua ini jelas."

Baekhyun terdiam, dia bingung harus menjawab disaat buncahan kesemangatannya dalam menjumpai Chanyeol tinggal di depan mata namun ia malah di berikan peringatan seperti ini, bukankah sudah jelas bahwa Chanyeol itu bukan Loey? Lalu mengapa mereka masih mengkhawatirkan perihal tersebut?

"Karena sebuah kejahatan bisa menjadi sebuah motivasi yang menguntungkan jika kau pandai menempatkannya. Sama seperti perusahaan kita ini dan juga cara kau yang unik itu bisa menjadi salah satu agen rahasia ini."

Deg!

Dan Baekhyun tidak bisa menahan keterkejutannya dengan bahasa Kris yang terlampau gambling. Pria itu terkekeh lalu menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun dan menepuk pundak lelaki mungil itu.

"Intinya berwaspadalah, jangan terlalu lama bermain api jika kau tidak ingin terbakar." Semuanya membuat Baekhyun kembali dilemma dengan semua perkataan tersirat mereka.

e)(o

Baekhyun sudah sampai di kediamannya lima belas menit yang lalu. Entah kenapa jantungnya bertalu untuk sesuatu yang tidak bisa ia artikan, seperti janji Chanyeol lelaki itu akan datang mungkin sekitaran dua puluh menit lagi.

Baekhyun menggigit bibirnya lalu meletakkan cangkir berisi susu hangat itu, suasana sedang dingin dan Baekhyun memasuki kamarnya, niatnya hanya ingin membersihkan seprai ranjangnnya yang sedikit berantakan, lalu matanya menangkap paperbag yang tiga bulan lalu ia beli, disana terdapat satu baju kemeja yang ia beli dan satu lagi gaun berwarna pastel. Ah ini adalah hadiah yang akan dia berikan kepada adiknya yang akan berulang tahun tak lama lagi.

Namun ada yang menarik perhatian lainnya di dalam paperbag itu, sebuah sapu tangan? Baekhyun tidak ingat ia pernah mempunyai sapu tangan ini, dia membalik sapu tangan itu dan mendapati sebuah tulisan miring berbahasa inggris yang dicetak di sudut kiri sapu tangan.

See u again.

Begitu pesannya, dan Baekhyun tidak mengerti apa maksudnya ini semua. Dia memutuskan untuk kembali meletakkan sapu tangan itu dan mengambil baju barunya tersebut untuk ia gunakan saat bertemu Chanyeol nanti,

Karena masih baru maka Baekhyun mencabut price list nya dan mendapati sebuah tulisan juga ditulis menggunakan spidol merah dibaliknya, dan kalimatnya bernada sama!

Baekhyun terlihat pucat dan semakin kebingungan apa maksud dari ini? Mengapa bisa bersamaan juga!

Ting Tong!

Bel nya berbunyi dan Baekhyun tanpa kembali ambil pusing langsung mengenakan kemeja itu sebagai pelapis kedua dari kaosnya, ia menghampiri intercom dan benar bahwa itu Chanyeol yang tengah tersenyum menatapnya. Baekhyun menarik napas lalu menghembuskannnya, berharap bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya,

Dia mengambil coat yang tergantung di coatrocks lalu memakai sepatunya, Chanyeol menyambutnya dengan sebuah kopi panas dan senyuman lima jarinya.

"Aku membawa mobil kau tahu!" serunya bersemangat sembari berjalan riang disamping Baekhyun. Dia banyak bercerita hal yang kurang Baekhyun tangkap, karena sesungguhnya hatinya tengah terganggu dengan pecahan memori yang tak bisa ia satukan menjadi sebuah petunjuk.

Chanyeol mengajaknya berjalan-jalan ke namsan tower, lalu menjumpai beberapa outlet yang ramai akan pengunjung dan juga banyak hal lainnya.

"Kau kenapa Baekhyun? Apa kau sakit?" Chanyeol hendak memeriksa suhu tubuh Baekhyun namun refleks lelaki itu malah langsung menghindarinya entah karena apa.

Chanyeol terlihat sedih, dan Baekhyun merutuki betapa bodohnya sikapnya. Apa dia mencurigai Chanyeol, "Jika kau mau pulang, aku bisa mengantarkanmu sekarang."

Baekhyun menoleh, dan mendapati lelaki itu menghidupkan mesin mobilnya dalam wajah murung, Baekhyun jadi merasa bersalah, ia menyentuh tangan Chanyeol ketika lelaki itu hendak menarik persenelling mobilnya, "Tidak aku tidak apa, maaf soal yang tadi. Aku hanya sedang tidak fokus."

"Tidak apa aku akan mengantarmu pulang,"

"Antarkan aku ke Elysion Shooting Club."

Chanyeol mengernyit bingung, "Untuk apa kesana malam-malam begini?"

"Aku...aku hanya ingin memastikan sesuatu." Cicit Baekhyun sedikit terbata.

"Kau yakin semalam ini?" Baekhyun menggangguk mantap menatap lurus mata bulat Chanyeol.

"Baiklah, tapi kita tidak akan lama disana. " Dan entah untuk mengapa nada bicara Chanyeol terdengar aneh di telinga Baekhyun.

Baekhyun meremas dadanya, terasa seperti tercekik sesuatu yang tak kasat mata. Akhirnya mereka sampai disana dan suasana sudah sangat sepi, Baekhyun turun dari mobil lebih dulu diikuti Chanyeol.

Baekhyun berjalan lebih cepat dari biasanya dan Chanyeol terlihat kewalahan mengikutinya, namun tiba-tiba Baekhyun menghentikan langkahnya, "Chanyeol bisakah kau tinggalkan aku sebentar, aku ingin ke toilet."

"Aku akan mengantarmu dan berjaga di pintu."

"Tidak, tidak perlu. Tolong tunggu disini atau pergilah ke suatu tempat."

Tanpa menunggu balasan Chanyeol, Baekhyun bergegas dalam langkahnya. Untungnya letak toilet berdekatan dengan tempat biasa mereka bermain, Baekhyun berbelok kesana ke tempat itu, tempat dimana Chanyeol menyimpan shotgun-nya. Dengan jantung berdegup kencang Baekhyun membuka raknya dan tidak mendapati senjata itu berada disana.

Selanjutnya listrik tiba-tiba padam, Baekhyun terkejut dan terdengar sebuah langkah dari kegelapan mendekatinya, "Baekhyun kau kah itu? Sedang apa disana?"

Suara Chanyeol menggema dalam kegelapan, tangan Baekhyun bergetar dengan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya dan membasahi kedua telapak tangannya. Tangannya hendak meraih senjata itu namun kakinya seolah mengkhianatinya untuk berdiri dengan baik.

Bukk!

Dan dia terpleset jatuh, "Aigoo! Hati-hati Baekhyunee, apa kau terluka?"

Baekhyun menutup mulutnya, dia hampir menangis dengan keras. Chanyeol benar-benar si psikopat itu! Ya ampun seharusnya ia mendengarkan perkataan Kris dan Sehun.

"Kau menerima pesan-pesanku sayang? Ah kau pasti menerimanya bukan? Dan juga baju itu terlihat cocok untukmu." Selanjutnya Chanyeol mengekeh kejam diantara kegelapan.

Baekhyun mengingatnya! Seorang pelayan di Department Store, dia adalah Chanyeol!

"Ahh aku rasa kau lebih manis dari Ice cream yang kuruh tumpahkan oleh Jackson."

Dan lelaki yang menggandeng anak yang memakan Ice cream lalu menumpahkannya pada celanannya.

"Lalu apakah pesan ku buat di kaca kau baca dengan jelas Baekhyun?" dan terakhir office boy itu!

Baekhyun hendak berlari ke suatu arah namun sebuah cekalan di tangannya telah menjadi pertanda seperti apa akhir hidup Byun Baekhyun malam ini.

"Aku mencintaimu Byun Baekhyun."

"Akhhh!"

"Okay! Cut!"

Lampu kembali menyala dan para kru kembali berlalu lalang, "Terimakasih atas kerja sama kalian, semuanya bagus. Aku puas." Sutradara Lee, menjabat tangan Baekhyun dan juga Chanyeol. Kemudian kedua actor itu membungkuk sopan kepada para kru yang menyapa. Akhirnya film ini selesai, mereka hanya perlu menunggu hasil akhir terbentuknya film bergenre Thriller Romance itu di rilis.

"Yeol, akhirnya selesai juga."

"Tentu sayang," Chanyeol menarik tangan sang kekasih untuk ia gandeng kemudian keluar dari lokasi syuting.

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku akan membunuhmu, Baek!" Dan Baekhyun terlihat berpura pura takut, "Ah benarkah?" tanyanya imut.

"Membunuhmu sampai tak bisa berjalan maksudnya."

"Dasar mesum!"

"Ahahaha."

.

.

The End

.

Hello good people! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review ya ^^ Disamping menambah motivasi Author dalam menulis, event ini juga akan mengambil dua readers login sebagai pemenang Readers Tercyduk! Good luck!

.

This fanfic is belongs to the real author. Please give your best support to our writers who have work hard! Thankyou!