Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Inspiride by : OreImo

Summary : Semua masih sama. Adiknya masih menjengkelkan seperti biasa. Tapi semua makin rumit saat banyak gadis yang menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya dan ditambah lagi sebuah bahaya besar mengancam kedamaian dunia shinobi. Bagaimanakah Bolt menghadapi semua ini?. Simak saja ceritanya. . .

Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family

Rate : T

Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan

Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Rabu, 30 Maret 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya . . . .

'Kejadian yang baru berakhir ini, bagaikan proses berkaca bagi kami berdua sebagai saudara. Dan cuma ada satu hal yang bisa ku katakan padamu untuk membalas apa yang sudah kau lakukan untukku, Hima...'

"Arigatou, Imouto" kata Bolt.

"He? Kau ini bicara apa sih, tiba-tiba jadi aneh begitu?"

"Memangnya aneh ya, kalau aku berterima kasih padamu"

"Heheheee,, iya iyaa,,, maaf deh" Himawari lalu menegakkan badannya, "Ekhhemmm,,,, Doittashimashite, Aniki" kata Himawari dengan senyum tulus yang sarat akan kebahagiaan.

'Dan apa yang kurasakan setelah mendengar perkataan adikku ini, begitu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata'

.

My Cute Sister? Season II

By Si Hitam

Chapter 35. Ajakan Kencan Amaru.

Kurang dari seminggu lagi, event besar yang akan diikuti oleh banyak ninja dari seluruh dunia, ujian kenaikan pangkat Jounin Exam akan segera di mulai. Event ini menjadi ajang pembuktian diri bagi para shinobi dan kunoichi dari desa-desa ninja tersembunyi untuk menunjukkan apa yang telah mereka capai selama ini, bagaimana jati diri dan jalan ninja mereka, dedikasinya sebagai ninja untuk desa masing-masing, mengharumkan nama desa, serta yang pasti untuk menunjukkan superioritas dan dominasi atas yang lain sebagai ninja terkuat.

Karena event besar ini sudah sangat dekat, banyak sekali pamflet, banner, serta media-media komunikasi lainnya baik media cetak maupun media elektronik yang mempromosikannya. Jika dahulu ujian kenaikan pangkat bagi ninja adalah kegiatan serius dan rahasia untuk mencetak generasi-generasi ninja hebat dan berbakat, maka sekarang event ini diperuntukkan lebih kearah komersil dan hiburan.

Antusiasme penuh dari publik terhadap ajang adu kekuatan antar ninja tampak jelas dari animo masyarakat yang sangat menantikan ajang ini. Biasanya ujian kenaikan pangkat ninja hanya diperuntukkan bagi kalangan militer Konoha saja, baik penontonnya apalagi peserta, namun sekarang ajang itu sudah dilepas oleh Hokage untuk konsumsi publik. Jika ada pertandingan antar peserta, akan ada banyak masyarakat yang rela ke stadion untuk menonton. Begitu pula jika hak siar pertandingan diberikan pada stasiun televisi, mereka pasti tertarik.

Oleh karena itulah, Hokage Ketujuh memanfaatkan hal ini untuk menambah devisa Konoha. Dan tentu saja, Naruto secara pribadi mendapat keuntungan tidak sedikit sebab sudah ada 8 stasiun TV dari dalam dan luar Konoha yang datang pada Nanadaime Hokage untuk mendapatkan hak siar itu. Jika masing-masing stasiun TV memberikan 50 milyar ryo sebagai 'uang pelancar urusan' jika tidak mau dibilang suap, dan masuk rekening pribadi Naruto, maka totalnya cukup untuk diinvestasikan sebagai saham di beberapa perusahaan besar. Naruto sudah dikuasai otak bisnis.

Lupakan hal tidak jelas tadi,,,!, pada pagi sabtu ini, tim 7 mengadakan sesi latihan terakhir bersama. Mereka mengadakan sesi ini sebagai penutup latihan yang sudah mereka jalani selama tiga bulan, dan selama seminggu kedepan sebelum Jounin Exam resmi dimulai, semua anggota tim 7 akan istirahat total setelah menjalani latihan berat masing-masing.

Tim 7 sedang berkumpul di training ground milik mereka, membahas kesiapan masing-masing untuk menghadapi Jounin Exam. Tidak ada latihan fisik berarti, hanya peregangan otot saja ditambah mendengarkan nasehat-nasehat dari Mirai selaku jounin pembimbing tim 7. Training ground ini adalah milik pribadi tim 7, tidak ada orang lain selain mereka yang menggunakan tempat ini sebab hak penggunaannya sudah diberikan secara penuh oleh Hokage pada tim 7. Naruto tidak akan bisa untuk tidak mengabulkan keinginan manja malaikat kecilnya. Di area training ground itu juga berdiri sebuah log cabin (rumah kayu) mewah sebagai tempat bersantai mereka. Ini juga dihadiahkan Naruto untuk peri kecilnya itu.

"Jadi bagaimana? Sudah mengerti tips-tips yang ku sampaikan tadi?" tanya Mirai pada ketiga muridnya.

Mirai sedang berdiri sementara ketiga muridnya duduk di rumput menghadap padanya. Mereka berkumpul dibawah pohon rindang disamping log cabin yang ada di area training ground itu.

"Mengerti sensei" jawab ketiganya,,, Amaru, Ryuzetsu, dan Himawari.

"Sampai sekarang belum ada pemberitahuan resmi tentang mekanisme dan tahapan-tahapan Jounin Exam dari panitia. Mungkin akan seperti ujian ninja biasanya, mekanisme dan tahapan ujian hanya akan diberitahukan kepada semua peserta sesaat sebelum ujian di mulai. Berpatokan pada ujian yang sudah lewat, selalu ada mekanisme ujian baru yang belum pernah ada sebelumnya. Ini artinya, setiap peserta dituntut untuk berpikir cepat mengerti situasi, yang lambat maka tertinggal. Kemudian setiap tahapan ujian pasti ada tujuannya, dan jika kalian bisa memperkirakan tujuan setiap tahapan lalu kalian mengikuti prosedur itu dengan baik, aku jamin kalian pasti akan lulus"

"..." ketiga murid Mirai mendengarkan dengan seksama.

"Dan satu lagi, yang paling penting adalah improvisasi. Walaupun misalnya kalian gagal mencapai target ujian, namun ketika apa yang kalian lakukan saat ujian mampu menarik afeksi para juri dan penguji, maka itu menjadi pertimbangan penting dalam penilaian untuk lulus dan dipromosikan menjadi jounin"

"Pasti kami ingat, Mirai-nee" sahut Himawari disertai anggukan kedua teman setimnya.

"Nah, apa ada yang masih kalian belum mengerti?, atau ada yang ingin kalian tanyakan?"

"..." Hanya gelengan kepala jawaban yang didapat Mirai.

Mirai menoleh kesampingnya, "Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan juga, Bolt-kun"

Nah, tambahan satu orang lagi yang ikut sesi ini, berdiri tepat disamping Mirai. Bolt di ajak oleh Mirai untuk ikut dalam kegiatan terakhir tim 7 sebelum mengikuti ujian. Bolt di ajak karena menurut Mirai, Bolt memiliki pemikiran matang dan punya visi jauh kedepan walau Bolt sendiri masih seorang chunin yang bahkan tidak ikut event Jounin Exam. Saran yang diberikan Bolt pasti berguna.

"Kurasa tidak ada lagi Mirai-nee." jawab Bolt lalu menoleh pada ketiga anggota tim 7, "Hima, Amaru, Ryuzetsu, aku hanya bisa sedikit memberi saran mengenai potensi, bakat, dan trik-trik seperti yang sudah ku katakan pada kalian bertiga, tapi tidak ada yang bisa menduga bagaimana situasi saat ujian nanti. Jadi tetap, yang paling menentukan adalah bagaimana kalian berpikir dan mengambil keputusan."

"Iyaa,, aku mengerti, arigatou Bolt-niisan" sahut Amaru.

"Kalau tidak ada lagi, kita sudahi saja untuk hari ini" kata Mirai, "Kalian jangan lupa, istirahatkan tubuh kalian agar benar-benar fit saat ujian nanti. Kalau mau latihan, cukup lakukan olahraga ringan saja ketika pagi hari, jangan sampai ada cedera akibat latihan, mengerti?"

"Oke" jawab Ryuzetsu.

"Oh iya,,, semuanya, aku duluan ya" kata Himawari pamit, "Papa baru saja mengirimiku pesan singkat, tidak tahu untuk apa, tapi sepertinya aku harus cepat-cepat kesana"

"Hati-hati dijalan, Hima" kata Bolt.

"Aku tidak perlu ucapan seperti itu, dadaaahhhh aniki. . . . ."

Zzsshhhtttt.

Himawari lenyap, dengan hiraishin langsung saja dia ketempat ayahnya. Pasangan ayah-putri ini terhubung oleh tanda segel Hiraishin, jadi mudah sekali bagi mereka untuk saling mengunjungi kalau ada apa-apa.

"Bah,, mentang-mentang punya hiraishin, seenaknya saja nyelonong pergi" gerutu Bolt. Sumpah,,, bagi Bolt, menghadapi tingkah Himawari harus memiliki kesabaran ekstra.

"Hihihiiiiii. . . ." Mirai ketawa cekikikan, tapi sedikitpun keanggunannya tidak luntur. "Sabar ya, Bolt-kun. Kau sendiri kenapa tidak bisa menggunakan hiraishin? Padahal hiraishin itu didasari oleh teknik fuinjutsu, yang notabene sangat memerlukan kecerdasan otak untuk mempelajarinya. Kenapa kau yang jenius tidak bisa, sedangkan Hima-chan yang bodoh itu sanggup melakukannya?"

"Hiraishin itu teknik teleport yang memanfaatkan fuin perpindahan dimensi. Untuk bisa berteleport dengan hiraishin, tidak cukup hanya dengan bisa menguasi tentang fuinjutsu dan segel-segelnya tapi juga perlu chakra yang lumayan banyak dan afinitas chakra terhadap elemen fuin perpindahan dimensi. Jadi tidak bisa sembarangan orang bisa menguasainya walaupun sudah menjadi master pengguna fuinjutsu sekalipun. Contohnya saja guru dari ayah dan kakekku, mendiang Jiraiya-sama, beliau adalah seorang master fuinjutsu, tapi tidak bisa menguasai teknik hiraishin."

"Ooohh..."

"Iya, hanya mendiang kakek Minato, Papa, dan Hima yang mempunyai semua bakat itu. Kakek Minato memang terkenal jenius, tapi Papa dan Hima, semua orang tahu kalau mereka berdua bodoh tapi ajaibnya mereka bisa memahami teknik fuinjutsu yang memiliki tingkat kerumitan tinggi. Yah, harus ku akui, Papa dan Hima seperti fenomena kelahiran ninja abnormal. Kalau aku, tidak punya bakat sama sekali. Walaupun aku mengerti semua tentang fuinjutsu perpindahan dimensi, tapi tubuhku ini lebih mewarisi gen dari Mama yang tidak memiki jumlah chakra banyak dan kurang pada afinitas chakra elemen, namun sayangnya aku tidak mewarisi mata nya. Makanya, jadi lah aku yang lemah ini. Tidak seperti Hima yang mewarisi tubuh sekuat Papa serta mata sehebat Mama"

"Kau tidak iri kan dengan semua itu, Bolt-kun?"

"Buat apa? Aku senang dengan keadaanku yang sekarang. Aku sudah pernah bilang padamu kan Mirai-nee, tanpa semua bakat itu, aku bisa memiliki kehidupan damai yang ku impikan, dan kau tahu sendiri kan kalau aku lebih tertarik pada sains dan teknologi ketimbang ninja"

"Iya iyaaa, kau memang hebat kalau sudah berurusan dengan duniamu"

"..."

"Oh iya, Bolt-kun. Sebenarnya hari ini, aku mengajakmu kemari selain untuk hal tadi, aku juga ada keperluan lain." kata Mirai dengan ekpresi serius

"Aaaa,,,," Bolt menanggapi dengan ekpresi yang sama.

"Ada hal yang harus kita bicarakan berdua saja, iya kan?"

"Iya. Tentu saja."

"..." Mirai menunggu Bolt yang berkata lebih dahulu.

"Mirai, saat ini aku dan Hima sudah sepakat, aku tidak akan pacaran dengan siapapun untuk sekarang ini"

"Ummm,," Mirai mengangguk dan menunduk, tangannya bergetar, seperti yang pernah ia katakan pada Bolt, apapun yang terjadi, perasaan cintanya untuk Bolt tidak akan berubah. Besar harapan di hati Mirai agar kenangan indah bersama Bolt saat masa pacaran singkat mereka kembali berlanjut, namun apa boleh buat. "Aku mengerti, ini yang paling baik bagi kita semua. Seperti yang ku impikan dimana kau dan Hima-chan akur tanpa ada saling benci, dan aku serta Amaru-chan dan Ryu-chan ikut senang dan bahagia didalamnya"

"Ya,"

"Kalau begitu, aku duluan yaa... setengah jam lagi aku ada pertemuan panitia Jounin Exam karena aku di ikutsertakan dalam kepanitiaan."

"Iyaaa,,, hati-hati dijalan Mirai-nee"

"Baiklah, sampai jumpa"

Mirai pun berjalan meninggalkan Bolt,

"Haaaaahhh" Bolt membuang nafas lega, agak berat juga rasanya berhadapan dengan Mirai dengan kondisi yang seperti tadi.

"Heii, Bolt-niisan" sapa Amaru dengan suara nyaring.

"Eh?" Bolt sedikit terkejut. Tiba-tiba saja ada Amaru disampingnya, tadi seingatnya setelah Himawari pergi dengan hiraishin, Amaru dan Ryuzetsu sudah berjalan menjauh.

"Kenapa kau seperti orang yang habis marathon gitu?"

"Bukan urusanmu" sahut Bolt.

"Hohoooo,,, jadi seperti itu yaaa tingkah seorang pemuda yang berbicara dengan mantan. Apalagi yang belum lama putus,,,"

"Bisa diam tidak? Jangan mengejekku, Amaru!" Bolt jadi kesal. Pastilah malu kalau membahas tentang mantan yang baru putus, apalagi masalah yang menyebabkan dia dan Mirai putus sudah selesai dan gampang saja berbaikan lagi, tapi semuanya tidak akan pernah bisa kembali seperti awal. Biar bagaimanapun, kecanggungan antara ia dan Mirai tetap ada.

"Hihihiiii..." Amaru malah cekikikan karena tingkah malu-malu Bolt.

"Jadi,,,,, kenapa kau masih ada disini? Ku kira kau sudah pulang dengan Ryuzetsu."

"Halaaaahh,,, aku dan Ryu-chan mana ada di dunia kalian berdua" ucap Amaru dengan nada mengejek.

"Ck,,,, mana Ryuzetsu hah?"

"Tuh disana," jawab Amaru sembari menunjuk Ryuzetsu yang berdiri menunggu di bawah pohon tidak jauh dari dirinya. Tadi dia dan Ryuzetsu berdiri disana memang sengaja untuk memberikan privasi pada Bolt dan Mirai bicara. Setelah Mirai pergi, baru sekarang dia menghampiri Bolt.

"Ohhh,,, aku tahu, pasti ada sesuatu kan?,, jadi apa keinginanmu sebenarnya? Katakan saja...!"

"Eheheheeee,,," Amaru tertawa hambar sambil melihat kesamping dengan wajah merona malu, ketahuan ada maksud terselubung di hatinya "Ummm, pagi minggu besok kau sibuk tidak, Bolt-niisan?"

"Tidak,, kenapa memangnya?"

"Mau tidak menemaniku membeli beberapa perbekalan ninja dan senjata untuk persiapan ujian?"

"Hanya itu? Tidak masalah, aku punya banyak waktu kok"

"Yeeii,,, arigatou Bolt-niisan. Kalau begitu, aku pamit yaaa"

"Iyaaaa"

Setelah itu, Amaru berlari menghampiri Ryuzetsu seperti bocah kegirangan yang baru saja dikasih permen lolipop. Hingga akhirnya semuanya membubarkan diri dan pergi untuk urusan masing-masing.

.

.

.

Seperti yang sudah di janjikan kemarin, hari minggu pagi ini Bolt dan Amaru sedang jalan bersama. Tidak usah mendeskripsikan tentang cuaca atau suasana lainnya, karena pada intinya cuaca dan suasana saat ini sangat cocok jika dihadapkan pada acara kencan. Tidak, tidak, tidaaaaak,,, Bolt dan Amaru tidak sedang kencan, tapi kalau salah satu di antara mereka menganggap ini kencan, tidak jadi masalah dan terlihat wajar sebab kedua orang orang ini memang telihat seperti pasangan yang sedang kencan.

Di pertigaan jalan didepan sebuah toko mainan anak-anak, tempat itulah mereka janjian untuk bertemu,

"Heii, Amaru. Memangnya perbekalan apa saja yang kau cari? Terus juga, untuk apa mencari senjata ninja. Aku tidak pernah melihatmu bertarung dengan senjata" Bolt sudah cukup banyak tahu dengan gaya bertarung Amaru selain sebagai ninja medis. Jadi agak heran dengan ajakan Amaru yang tidak biasa.

"Iisshhh,,,, Bolt-niisan ini. . . . . Ada dong,,, nanti kau juga tahu sendiri. Sedangkan senjata, biarpun aku tidak terlalu mahir bertarung dengan senjata, tapi yang namanya senjata itu alat wajib untuk ninja dimanapun berada." jawab Amaru

"Iya juga sih,, Hehee. . . ."

"Kalau kunai tidak dipakai untuk bertarung, paling tidak bisa digunakan untuk memotong atau mengupas makanan kan misalnya nanti ada survival test?"

"He? Ga segitunya juga kali..."

"Bisa saja kan, kunai itu senjata ninja paling serbaguna tahu"

"Iyaa, tidak usah sok mengajariku begitu,, aku juga tahu. Ingat, aku ini senior mu...!" kata Bolt lalu menepuk pucuk kepala Amaru, mengusap pelan surai merahnya.

"Heh,, sok tua..." ejek Amaru, tapi dia tampak salah tingkah dengan pipi merona karena perlakuan Bolt...

Bolt menatap Amaru sesaat, baru kemudian dia tersadar,,, "Ternyata badanmu pendek sekali ya". Begitulah kenyataannya, tinggi badan Amaru tidak sampai ke bahu Bolt, kalau tinggi Bolt sekitar 170 cm lebih, maka Amaru kira-kira lebih pendek sekitar 25 cm.

"Hmmppph. . . . ." Amaru jadi cemberut,

"Apa yang bisa kau lakukan jika bertarung dengan tubuh seperti ini" ejek Bolt.

"Ck,, diam!... singkirkan tanganmu dari kepalaku..!"

"Iyaaa,, jangan marah gitu dong..." kata Bolt sambil nyengir, "Jadi kita mau kemana? Ke Tenma Weapon Shop milik Bibi Tenten?"

"Tidak, nanti saja. Sebelum kesana kita akan jalan-jalan dulu"

"Loh,,,? Katanya cuma mau ditemani membeli perbekalan dan senjata ninja saja kemarin?"

"Yah,, Bolt-niisan ini. Kau gagal paham ternyata. Aku ini selama hampir tiga bulan penuh latihan untuk persiapan Jounin Exam tanpa istirahat. Aku ingin merelakskan badanku, sekalian merefresh pikiran"

"Ooohh,, tapi kok Hima biasa saja, Ryuzetsu juga tidak terlihat ada apa-apa"

"Cih,,, kau ini. Peka sedikit kek pada gadis…!"

"Apaan? Jangan ngomong yang ambigu begitu."

"Hmmpph" Amaru tidak mau menatap Bolt.

"Lagipula kau yang berpenampilan tomboi itu, mana bisa disebut gadis"

"Kau tidak percaya kalau aku masih gadis, perlu bukti hah?"

"Ahh,, bukan i-itu maksudku"

"Cih"

Ada rasa kesal di hati Amaru. Memang niatnya mengajak Bolt hari ini bukan hanya untuk minta di temani membeli perbekalan dan senjata ninja saja, tapi sebenarnya juga ada maksud lain. Merefresh pikiran dengan jalan-jalan bersama orang yang disukai bukan hal yang salah kan? Maka dari itu, Amaru tidak ingin cepat-cepat menghabiskan kebersamaan hari ini dengan langsung membeli apa yang dicarinya, jalan-jalan dahulu atau sekedar bermain dan makan-makan itu sudah lebih dari cukup untuknya.

"Jadi?" tanya Bolt.

"Apa?" tanya balik Amaru.

"Maksudku kita kemana dulu?"

"Oh,, eheheee... Kita keliling saja dulu, nanti kalau ada tempat yang menarik, baru kita singgahi"

"Haaaahh,, susah banget yaa mengerti jalan pikiran gadis itu. Tadi mau ngajak jalan-jalan dan tidak mau langsung ke toko senjata, ku kira kau sudah ada rencana, tidak tahunya kau malah tidak memikirkan mau kemana?"

"Biarin,,,"

"Ya sudah, bagaimana kalau kau temani aku ke game center dulu... Ada game RPG keluaran terbaru yang ingin ku beli" ungkap Bolt.

". . . . . ." air muka Amaru langsung berubah masam.

"Amaru,,, aku janji setelah itu akan menemanimu seharian penuh"

"He? Benarkah?" dengan mata berbinar-binar, dia menatap antusias pada Bolt.

"Iyaaa..."

"Yeeiii,, ayo kita segera kesana..." dengan cepat Amaru menarik tangan Bolt lalu beranjak pergi dari tempat mereka janjian bertemu.

.

Benar-benar seharian penuh ternyata,,, setelah Bolt membeli kaset game keluaran terbaru yang ia inginkan, yang hanya membutuhkan waktu tidak sampai setengah jam, Amaru mengajak Bolt berkeliling hingga 6 jam lamanya. Tadi setelah membeli game, Amaru mengajak Bolt jalan-jalan di taman hiburan Konoha Disneyland. Pertama nonton dahulu di bioskop yang ada disana, menonton film yang durasinya hampir dua jam, lalu makan siang dan setelahnya bermain mencoba berbagai macam wahana permainan hingga keduanya tampak lelah namun puas. Sekarang sudah hampir sore dan jam sudah hampir pukul empat.

"Amaru, kita ini jadi tidak sih ke toko senjata Bibi Tenten? Dari tadi kita hanya bermain-main saja" tentu saja Bolt heran,,, ini sudah sore dan sebentar lagi toko senjata Tenma Weapon Shop milik Tenten sebentar lagi akan tutup.

"Ya jadi lah,,, ayo sekarang. Aku sudah puas,,, heheeee. . . ."

"Dasarrr anak-anak.."

"Bweeee. . . ." Amaru memeletkan lidahnya, mengejek Bolt.

Keduanya beranjak pergi dari Konoha Disneyland, dan baru saja beberapa saat keluar dari taman hiburan itu, masih berada di jalan besar yang memanjang di antara gedung-gedung pencakar langit di Konoha Atas, mereka berdua berhenti sejenak. Lebih tepatnya, Bolt yang berhenti, Amaru hanya ikut-ikutan. Ada berita terbaru yang menarik bagi Bolt untuk disaksikan dari layar datar berukuran raksasa yang menempel di salah satu gedung bertingkat di dekat jalan itu.

Ada jumpa pers yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi. Jumpa pers seorang pengusahan sukses, bussinesman dari perusahaan telekomunikasi terbesar sedunia, pria paruh baya bernama Souichiro yang merupakan CEO perusahaan Soui Inc. Bolt tertarik karena keluarganya, Keluarga Hyuga memiliki saham yang cukup banyak diperusahaan itu, namun berita ini sama sekali tidak sampai ketelinganya, membuat dia penasaran akan perusahaan yang cukup banyak mengisi pundi-pundi emas Keluarga Hyuga. Berita tentang rencana pelucuran satelit pertama di dunia shinobi.

"Apa anda yakin dengan rencana peluncuran satelit ini?. Ini hal baru di dunia shinobi yang tak pernah ada bahkan tidak terpikir sedikitpun sebelumya" tanya salah seorang wartawan yang hadir pada jumpa pers itu.

"Saya sangat yakin sekali. Ini adalah penemuan terbaru kami di bidang teknologi komunikasi. Proyek besar ini untuk mendukung peningkatan performa pelayanan sarana telekomunikasi dari perusahaan kami demi kepuasan semua pelanggan yang setia." Soiuchirou menjawab degan nada optimis

"Apa saja keuntungan dari satelit yang anda buat? Maksud saya, dari satelit ini apa saja yang pelanggan akan dapatkan?"

"Satelit yang kami buat ini akan diluncurkan ke luar angkasa dan mengorbit disana. Dengan sumber tenaga dari panel surya yang menangkap sinar matahari sebagai sumber energinya, satelit ini akan berfungsi terus menerus tanpa henti untuk memberikan pelayanan telekomunikasi. Saat ini sinyal-sinyal transmisi gelombang chakra untuk keperluan telekomunikasi hanya bergantung pada tower-tower stasiun relay yang jangkauan jaringannya pendek. Dengan tiga buah satelit yang akan kami luncurkan nanti menuju setiap orbitnya, kami bisa memberikan saranan jaringan telekomunikasi keseluruh dunia tanpa terkecuali dimanapun pelanggan berada, serta dengan arus data yang jauh lebih cepat dan pastinya lebih murah. Hal ini akan dilakukan bertahap karena tidak semua produk alat telekomunikasi portabel saat ini mendukung penerimaan sinyal dari satelit, namun dalam waktu kurang dari tiga tahun lagi, aku yakin semua itu akan terealisasi. Akan tiba jaman dimana jarak tidak lagi menjadi pemisah antar manusia. Perbedaan negara dan benua bahkan tidak akan terasa lagi. Ini semua adalah usaha dan kerja keras yang hasilnya kami persembahkan untuk kemajuan peradaban umat manusia"

"Waaahh,, proyek yang anda rencanakan luar bisa. Apa ada fungsi lain dari satelit yang akan anda luncurkan?"

"Ada banyak fungsi lain dari satelit yang diluncurkan nanti. Selain untuk mempermudah layanan komunikasi, satelit juga bisa memetakan seluruh permukaan bumi untuk sistem penentuan lokasi berbasis GPS, membuat prakiraan cuaca lebih akurat, mengumpulkan informasi tentang tempat-tempat tertentu yang menyimpan barang tambang, dan ada banyak lagi, bahkan kami juga membuat program deteksi titik-titik api jika terjadi kebakaran hutan saat musim kemarau dengan sensor radiasi gelombang inframerah. Satelit ini juga berguna sebagai sarana penelitian"

"Benar-benar hebat, dengan satelit yang akan anda luncurkan nanti, pasti seluruh masyarakat terbantu dalam melakukan banyak hal. Saya yakin, semua masyarakat pasti menyambut hangat dan antusias apa yang anda dan perusahaan anda berikan"

"Benar sekali. Dan dengan diluncurkannya satelit itu nanti, era baru dunia shinobi akan dimulai"

Kelihatan sekali, rencana peluncuran satelih oleh perusahaan Soui Inc., disambut baik oleh seluruh kalangan masyarakat. Jumpa pers tadi tidak hanya disiarkan oleh satu stasiun televisi saja, namun ada banyak stasiun televisi lainnya yang menyiarkan jumpa pers itu pada waktu bersamaan. Dan para netizen di dunia maya serta di sosial media, juga banyak yang menyambut positif hal tadi. Dengan satelit, tentu mereka yang kehidupannya banyak berkecimpung di dunia digital dan internet akan semakin mudah dan nyaman.

Bolt tersenyum, 'Era Baru dunia shinobi kah? Kheh,,, kita lihat siapa sebenarnya yang akan memulai semua itu... Kalian atau aku..' pikir Bolt dibenaknya,

.

.

.

To be Continued. . . . .

.

Note : Update lebih cepat, muehhehehee,,, Walau wordnya agak pendekan daripada biasanya. Wkwkwkwk,,,, Amaru ngajakin nge-date tuh. Tebak aja bagaimana lanjutannya, tapi bagian ini pendek aja kok, chap depan juga udah selesai. Ini cuma sedikit intro sebelum memasuki panggung masalah yang paling besar. Dan,,,, Jounin Exam semakin dekat, masalah besar akan segera datang, aroma permusuhan sudah tercium oleh Bolt,,,, dan tunggu saja cerita selanjutnya.

Ga ada Harem yaa, 2 lebih baik itu bukan gadis, tapi anak, program keluarga berencana. Kalau mau baca fic ku yang berkonten Harem, lihat aja fic satunya. Disana khusus harem berserta miniconflict nya.

Oh iya, up selanjutnya mungkin akan cepat, hari minggu kalau tidak ada halangan bakal update bersamaan fic MC yang satunya.

Karena cerita sudah berlangsung satu tahun sejak season I, maka sekarang umur pemeran cerita ini,

Uzumaki Himawari – 15 tahun

Uzumaki Buroto/Bolt – 18 tahun

Uchiha Sarada – 18 Tahun

Naruto – 38 tahun

Sarutobi Mirai – 21 tahun

Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.

Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.