Aurelian
By: BittyBlueEyes
HARRY POTTER MILIK JK. ROWLING
Chapter 37. The Fay stone
"Aku tidak bisa cukup berterima kasih untuk ini, Pansy," kata Draco tulus.
"Oh, diamlah, Draco," jawab Pansy murung. "Aku bahkan tidak tau kenapa kau kemari."
"Karena aku membutuhkan bantuanmu," jawab Draco.
"Tidak, Granger yang membutuhkan bantuanku. Aku tidak mengerti kenapa kau perlu kemari," kata Pansy, menaikkan hidungnya ke atas. Dia membelai ikal rambut pada rambut panjang hitamnya sekali lagi sebelum memutar menjadi kelip di belakang kepalanya.
Bahu Draco merosot putus asa. "Oh, jangan seperti itu."
"Seperti apa? Kesal?" kata Pansy mengejek.
"Mendramatisir," Draco mengoreksi dengan tampilan jijik.
"Mendramatisir? Mendramatisir?" bentak Pansy tidak percaya, mengayun dari cermin. "Kau pikir bahwa aku mendramatisir? Gods, Draco! Kau muncul suatu malam bersama Potter dan tidak mengatakan apapun! ayahku membatasiku untuk di rumah saja dan semua yang aku dapatkan darimu adalah surat yang mengatakan bahwa kau bekerja bersama Potter dan tidak bisa mengatakan apapun pada siapapun! Hanya kalimat sialan! Sekarang seluruh keluargaku diperintahkan untuk tinggal dirumah dan aku masih tidak tau apa-apa! Aku berpikir kita dalam semacam bahaya, tapi aku tidak tau dari mana, dan kau pikir aku mendramatisir?"
"Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa mengatakan apapun. aku tidak bisa mengatakan apapun!" Draco membalas berteriak.
"Aku yakin kau bisa mengatakan lebih dari itu," Pansy beragumen. "Granger, misalnya."
"Ada apa dengannya?" tanya Draco.
"Damn itu, Draco! kau bahkan tidak mengatakan apapun tentang ini?" Pansy merengut dengan jijik, tapi Draco bisa melihat bahwa Pansy terluka lebih dari apapun. Pansy berjalan ke mejanya dan melempar ke atas tempat tidur agar Draco melihat. Itu adalah majalah Witch Weekly dan di cover depan adalah gambar dirinya dan Hermione di acara jamuan makan malam. Dengan semua hal yang terjadi beberapa hari ini, dia lupa tentang acara jamuan itu. Dia mencoba membaca headline tapi Pansy merebutnya. "Bayangkan betapa terkejutnya aku melihat ini? aku harus memaksa Blaise, dan dia bilang bahwa kau sedang dekat dengannya, ini bukan hanya kencan sekali seperti yang lain. Bagaimana bisa kau bilang padanya dan tidak padaku?"
"Aku hanya..." Draco memancing mencari alasan, tapi Pansy belum selesai mengomel.
"Dan Granger, Draco? Bagaimana bisa ini terjadi. Granger. Gadis yang selalu kau benci sejak pertama kali kau melihatnya," Pansy mengingatkan Draco.
"Aku tidak mengenalnya, kalau begitu," jawab Draco, merasa sedikit bersalah lagi.
"Lalu? Kau merengek padaku hanya sebulan yang lalu karena kau harus bekerja dengannya mengenai Kerjasama Sihir Internasional. Aku tidak tau kapan kau mulai bekerja dengannya dan Potter dalam ini-ini, entah apa ini," kata Pansy, melambaikan tangannya tak acuh sambil memutar matanya.
"Sesuatu berubah."
"Tidak secepat ini," Pansy beragumen.
"Memang begitu. Dia bukan orang yang aku pikirkan. Sekarang aku mengenal Her.."
"Bukan orang yang kau pikirkan? Maksudmu dia bukan kutu buku, Tahu-segala yang menyebalkan?" Pansy menyerigai, menyilangkan lengannya di dada.
Draco membalas menyerigai, "Tidak dengan bagian menyebalkannya."
"Tidak juga dengan tahu-segala sepertinya, karena dia datang kesini untuk belajar," kata Pansy tertawa. Suasana hatinya tidak lagi kesal, setidaknya untuk saat ini. "Aku hanya berharap kau memberitahuku. Dan aku masih berharap kau mengatakan sesuatu sekarang. Aku takut Draco, apa yang terjadi?"
"I love you, Pansy," kata Draco menempatkan tangannya di pundak Pansy. "Kau adalah salah satu sahabat tersayangku. Aku akan mengatakan jika aku bisa. Hanya percayalah padaku.. please?"
Pansy menghela nafas dan mengalihkan matanya. Itu mudah di ucapkan daripada di lakukan. Dia merasa bergitu sendiri dan takut dan terus tidak tau pada semua orang yang peduli padanya. "Kapan dia sampai disini?" tanya Pansy.
"Segera," jawab Draco melihat arlojinya. Itu hampir pukul empat sore hari minggu. Hermione mungkin menunggu tidak sabar di dekat perapian Grimmauld Place. Draco tau bahwa Pansy mungkin lebih suka dan meminta sedikit waktu bicara dengannya secara prifat. "Dia akan tiba menggunakan jaringan floo."
"Kita lebih baik turun, kalau begitu," jawab Pansy. "Tidak ingin gadismu menangkap basah kau ada di kamarku, kan?"
"Dia mempercayaiku," kata Draco. Itu adalah fakta yang menghangatkannya. Hermione mempercayainya dan Draco tidak akan memberinya alasan untuk berhenti.
"Granger mempercayai Malfoy? Apa yang terjadi dengan dunia?" Pansy tertawa saat dia memimpin turun ke bawah.
"Dan Potter dan Weasley, gila, bukan?"
"Serius. Bisakah kau bayangkan waktu kita di sekolah?"
"Aku? Tidak. tapi kau.. aku tidak berpikir ini akan banyak mengejutkanku," Draco mengakui.
Pansy tampak tersanjung dan geli. "Kau akan membenciku untuk ini."
"Lebih dari yang kau bisa bayangkan," Draco terkekeh. "Ayolah." Dia menarik siku Pansy, mereka menuruni tangga. Mereka berdiri di depan perapian bersama dan Pansy tampak tak nyaman dan sedikit gugup. Ketika Draco sepertinya menyadari, Pansy membuang muka bangga.
Lonceng berbunyi mengumumkan, Hermione melangkah keluar dari floo dan segera membersihkan jelaga di jubahnya. Dia menatap ke atas dan menemukan mata Pansy menatapnya. Gadis itu tampak berbeda dan masih sama seperti di sekolah.
"Er, Pansy," Hermione mengangguk menyapa.
Pansy agak terkejut di sapa dengan nama depannya, tapi menyambut dengan sama ramahnya. "Hermione."
"Aku sungguh berterima kasih kau bersedia bertemu denganku, hari ini," Hermione melanjutkan.
"Tentu, sejujurnya cukup bagus mendapatkan pengunjung," kata Pansy kaku, melihat ke samping, matanya menyipit pada Draco, Draco memutar bola matanya lagi. "Well, seperti yang aku tau kau tidak ke sini untuk menjawab pertanyaanku. Aku rasa kita seharusnya menjawab milikmu. Aku membawa beberapa untuk diskusi di halaman. Peri rumah kami akan membawakan teh sebentar lagi."
Pansy memimpin jalan, menyebrangi lorong menuju ke halaman dan Hermione mengikuti dengan Draco, menatapnya bertanya. Hermione tidak tau apa yang membuat sikap Pansy. Dia tampak campuran aneh dan ringan ramah dan ringan tidak ramah. Meskipun tidak mengetahui dimana dia berdiri dengan mantan teman sekelasnya, Hermione senang bahwa gadis itu tidak melakukan tindakan yang aneh.
Saat mereka melangkah ke halaman, Hermione berhenti mengagumi karangan bunga yang indah berjajar. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk melakukan pertemuan di sana. Udaranya hangat, tapi masih nyaman dan matahari cukup tinggi untuk masih bersinar mengelilingi mereka, tapi cukup teduh untuk mereka menemukan bantuan berteduh.
Pansy berhenti di meja di bagian kanan halaman dan Hermione mengambil kursi di seberangnya, tapi tidak sebelum dia memperhatikan tumpukan besar buku-buku yang Pansy susun di bagian ujung meja. Draco tersenyum. Dia penasaran jika dia akan berhenti untuk menjadi geli pada cara mata Hermione yang menyala ketika dia melihat buku-buku.
"Jadi, Draco. Katakan padaku apa yang menarik perhatianmu tentang Morgana le Fay," kata Pansy, melipat tangannya di atas meja di depannya. "Apa yang ingin kau ketahui?"
"Sejujurnya, aku tidak terlalu yakin apa yang aku cari," Hermione mengakui.
Pansy agak tertegun. Dia mengira Hermione akan datang dengan daftar rinci pertanyaan yang akan menantangnya.
"Aku- aku berpikir bahwa apakah kau bisa mengatakan padaku tentangnya, semua yang kau ketahui," kata Hermione, merasa sedikit konyol.
"Itu bisa memakan waktu bertahun-tahun," balas Pansy. Hermione merasa sedikit terhibur ketika Pansy mengatakannya. Dia tidak terdengar sombong, hanya termenung. "Well, bukan berarti aku akan pergi ke manapun. Aku rasa aku akan memulai dengan dasar dan kau bisa menanyakan sesuatu yang menarik bagimu."
Hermione mengangguk.
"Okay, aku percaya bahwa Morgana lahir antara tahun 486 dan 493 AD dari orangtua Lady Ignraine dan Gorlois, Duke of Cornwall. Jelas dia adalah kelahiran muggle dan bahwa saudara tiri dari muggle yang terkenal, Arthur Pendragon, lebih dikenal sebagai King Arthur."
Hermione mengangguk lagi dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Itu jelas untuk memulai, bahwa Pansy memiliki pengetahuan yang luas."
"Sekarang untuk benar-benar mengerti tentangnya, kau perlu untuk mengerti waktunya. Disana belum ada Undang-undang Kerahasiaan Sihir Internasional. Bahkan, hampir tidak ada komunitas sihir sama sekali, apalagi pemerintahan untuk penyihir. Muggle masih percaya sihir pada masa itu, tapi mereka mulai menjadi sedikit waspada. Mengatakan bahwa itu adalah setan atau semacam omong kosong, jadi beberapa penyihir mulai dianiaya. Lebih lagi beberapa keluarga mulai tidak menyembunyikan kemampuan sihir pada tetangganya.
"Morgana menyadari lebih dulu bahwa dia memiliki kemampuan sihir, tapi itu dipandang rendah dalam masyarakat. Dia tidak ingin menekan dan melupakan seperti yang di perintahkan oleh ibunya, jadi ibunya kebanyakan berusaha menyembunyikannya. Dia tidak tau apa-apa. Dia tidak tau satupun mantra verbal, tapi masih bisa mengasah keterampilan sihirnya. Dalam usianya yang ke-sepuluh, Uther Pendragon membunuh ayahnya dan memaksa ibunya untuk menikah. Karena gabungan itu, Arthur lahir. Kemudian ayah tirinya, Uther, mengetahui bahwa dia adalah seorang penyihir. Menjijikan, dia mengirim Morgana pergi untuk bersembunyi di sebuah biara. Disanalah dia mulai belajar tentang penyembuhan. Dari semua sihir yang dia lakukan, ramuan adalah yang paling banyak diterima. Bahkan beberapa muggle berlatih juga. Morgana mengetahui bahwa dia cukup berbakat. Saat itulah kemudian, Merlin menemukannya dan itu pertama kalianya Merlin menyebut nama Morgana dalam sejarah."
"Dia tidak pernah disebut sebelum itu?" tanya Hermione terkejut.
"Tidak. Merlin bukanlah apa-apa sebelum Morgana," jawab Pansy menyerigai. "Dia kuat, ya, tapi dia sebelumnya hanyalah orang yang berdiri dalam bayangan. Dia tidak pernah disebutkan sebelum itu, usianya masih sebuah misteri. Diperkirakan dia antara empat puluh sampai enam puluh tahu lebih tua dari Morgana. Bertemu dengan Morgana sekitar Morgana berusia dua puluh, Merlin enam puluh tahun, paling tidak. Dia membawa Morgana untuk dilatih. Itu cukup lama sampai mereka berdiri sejajar dan mereka bekerja bertahun-tahun untuk mengembangkan sihir baru. Selama masa itu, Merlin juga mulai diajari Arthur dalam hal-hal muggle. Meskipun Arthur agak takut dengan saudaranya, dia mempercayai Merlin dan menyetujui Morgana kembali atas saran dari Merlin."
"Setelah bekerja bersama selama lebih dari satu dekade, Morgana dan Merlin berhenti bertemu. Sementara itu, pengetahuan saat itu membawa Morgana ke sihir-sihir gelap," kata Pansy jijik. "Cukup diperdebatkan oleh kalangan cendekiawan karena tidak ada catatan yang jelas bahwa dia menggunakan sihir hitam. Menurut pendapat para cendekiawan, dan diriku sendiri, bahwa lebih kepada banyaknya perbedaan pendapat yang meyebabkan mereka berpisah. Dalam kepercayaan Merlin, seharusnya penyihir menggunakan sihir untuk menolong muggle dan dunia yang lebih baik. Morgana, bagaimanapun, merasa terhina oleh keduanya; muggle karena cara mereka yang memandang rendah padanya dan penyihir yang pengecut menyembunyikan kemampuan sihirnya. Dia hanya berusaha untuk mendorong dirinya sampai batas kemampuan sihirnya. Saat itulah, Morgana meninggalkan Arthur dan datang untuk tinggal di pulau Avalon dimana saudara perempuannya adalah seorang ratu. Saudaranya terkejut melihatnya, meskipun masih takut, dia dihormati di kalangan masyarakat. Di Avalon dia dikenal dengan nama Morgan le Fay. King Arthur terluka parah dalam pertempuran Mons Badonicus; bukan pertempuran Camlann, seperti yang ditulis dalam beberapa cerita muggle. Pertempuran Camlann adalah akhir dari hidupnya." Kata Pansy sengit. Hermione curiga dari nada Pansy yang berapi-api bahwa sepertinya Pansy sudah mencari di buku-buku cerita muggle tentang legenda Arthurian. "Dia dibawa sebelum dalam keadaan sekarat pada Morgana dan Morgana menyembuhkannya kembali dalam kondisi penuh hanya dalam waktu beberapa menit."
"Hanya beberapa menit?" tanya Hermione kagum. "Dari luka yang fatal?"
"Ya. Beberapa mengatakan dia membuat ramuan dan menggunakan dittanty tapi ada juga yang mengatakan itu tentang legenda batu Fay "Fay Stone'," Pansy menjelaskan.
"The Fay Stone?"
"Ya, banyak perbedaan pendapat, tapi itu dikatakan sebagai bagian yang paling luar biasa dari alkimia, kecuali batu bertuah. Batu Fay, bagaimanapun, dianggap mitos yang tidak diketahui jelas."
"Apa yang diketahui tentang batu itu?" tanya Hermione.
"Pertama kali diketahui karena menyembuhkan Arthur. Morgana cukup dikenal sebagai penyembuh setelah itu. Arthur memohon padanya untuk kembali, untuk menerima penghormatan sebagaimana dia pantas dalam penyembuhan yang dilakukannya. Morgana menerima dan menyediakan ramuan untuk menyembuhkan pasukan Arthur. Ada beberapa orang yang ditemukan dimana orang-orang itu membantu Morgana dalam menyedu dan merekonstruksi ramuan, tapi gagal beberapa kali. Mereka mengatakan bahwa itu karena batu kecil yang selalu dia masukkan ke dalam kuali. Bahkan diketahui ada salah satu asisten yang coba memanggil batu itu dari kuali, dan ketika Morgana menangkap mereka, dia membunuh asisten itu ditempat."
"Apa ada catatan yang mendeskripsikan tentang batu itu?" tanya Hermione penasaran.
"Itulah alasan kenapa ini masih dianggap mitos. Mereka menyepakati bahwa batu itu cukup kecil, tapi bahwa yang bilang bahwa itu batu onyx hitam, sementara yang lain menyarankan itu berkilau kuning transparan," jawab Pansy.
Mata Draco bertemu dengan mata Hermione dan dia melihat pertanyaan diantara mereka. Batu yang ada di cincin keluarga Draco adalah kuning kecoklatan, dianggap sebagai berlian cognac. Hermione menolak langsung mengambil kesimpulan dan sederhana menunggu untuk mendengarkan yang Pansy katakan pada mereka.
"Bahkan setelah semua yang aku pelajari tentangnya. Aku tidak bisa memahami kenapa Morgana bisa kembali pada Arthur. Banyak yang bilang itu adalah kebanggannya. Tapi aku pikir kebanggaannya akan membawanya untuk menolak Arthur. Akhirnya aku berpikir, dalam banyak hal, Morgana hanya mencari penerimaan, dia ingin orang-orang yang memandang rendah padanya untuk melihat seperti apa dia. masih ada spekulasi, tentu. Apapun alasannya, dia kembali ke Camelot dan menjadi penyembuh dan penasihat Raja. Dia dihormati di Avalon, tapi tidak semua orang menyambutnya kembali. Merlin juga sebagai penasehat Raja dan sementara Arthur menganggap mereka berdua bersekutu, mereka dianggap sebagai musuh, kasarnya tidak setuju lebih sering dibandingkan tidak. jika pernah disana ada orang yang membencinya, itu adalah Guinevere, istri Arthur atau Ratu. Ratu tidak suka pada Morgana awalnya karena sihir, dan lebih karena Arthur membelanya, tapi itu semua.. well, ketika Morgana kembali ke Camelot, dia membuat semacam hobby, meniduri para ksatria-ksatria Arthur. Guinevere jijik dan mencoba membuatnya di keluarkan. Arthur merasa berhutang budi dengan apa yang telah Morgana lakukan padanya dan memutuskan untuk mengampuni semua kesalahannya, meskipun itu tidak membuat Morgana bertobat. Meskipun Raja dan Ratu berpikir itu memalukan, para Ksatria terus mengunjungi Morgana. Mereka menganggapnya sebagai kehormatan untuk berlutut di hadapannya dan mencium cincinnya, sementara dia menggunakan kewanitaannya untuk membujuk mereka untuk berada di pihaknya dalam pertemuan rapat-rapat. Tidak, ditegur tidak menghentikan Morgana, justru sebaliknya.."
"Tunggu," kata Hermione. "Kau menyebut cincin.."
Pansy tampak terkejut ketika Hermione bicara, hampir seperti professor Binns dalam beberapa kesempatan bahwa pidatonya terputus, hanya Pansy yang bicara penuh semangat dan Hermione benci menghentikannya. Pansy tersenyum ketika dia menyadari, "Ya, cincin Morgana. Dikatakan itu adalah kehormatan besar untuk menciumnya. Seperti yang kau tau, itu kebiasaan saat bertemu seorang wanita berdiri, untuk mencium pada tangannya. Morgana, meskipun begitu, berpikir yang lain ada di bawahnya sehingga dia membiarkan siapapun untuk menyentuhnya. Dikatakan bahwa para pria itu mencium cincinnya untuk diberkati."
"Tapi cincin, apa ada hal yang nyata signifikan? Kau bilang bahwa siapapun yang menciumnya seperti di berkati. Apakah itu adalah benda sihir?" tanya Hermione.
"Wel,, dia itu diperdebatkan. Cincin itu dikatakan dalam banyak tempat dan setiap kali di gambarkan sebagai yang di berkati. Sangat mungkin bahwa itu adalah benda sihir yang memberkati orang, tapi itu hanya kemungkinan yang sederhana karena mereka diberkati karena mereka mendukung Morgana," Pansy mengangkat bahu.
"The Fay Stone.. kau bilang itu kecil. Mungkinkah batu itu ada, disembunyikan di dalamnya?" tanya Hermione.
Hermione agak bingung dengan serigai di mulut Pansy. "Oh, Izella akan menyukaimu." Kata Pansy terkekeh.
"Sorry?" tanya Hermione agak bingung.
"Izella adalah seorang wanita yang aku tau cukup tertarik dengan Morgan le Fay. Dia agak tegas dan percaya cincin batu Fay. Itu sesuatu yang aku percaya juga, tapi tidak cukup bukti. Satu-satunya bukti yang mendukung adalah lukisan."
"Apa maksudmu?" tanya Draco.
"Well, aku katakan tadi. Batu Fay diketahui sebagian adalah hitam dan kuning di lain waktu. Dalam lukisan.." kata Pansy, membalik dengan cepat salah satu bukunya, "Cincin Morgana hampir selalu berwarna kuning." Pansy meletakan buku diatas meja di depan mereka untuk Hermione dan Draco agar melihat sementara Pansy membuka-buka buku lain. Hermione menyipitkan mata untuk melihat duplikat lukisan tua dimana seorang penyihir wanita cantik dengan rambut panjang pirang keriting itu mengangkat piala dari kuali. Tangan kirinya terdapat cincin sederhana berwarna perak dengan berlian berwarna kuning di tengahnya.
"Di jari kirinya," kata Hermione keras. "Tapi dia tidak pernah menikah, ya kan?"
"Hampir, karena ayah tirinya, tapi tidak. jelas sekali cincin itu diletakkan di jarinya. Temanku.. er,.. kenalan.. rekan, menerangkan yang terbaik, aku kira.. rekanku, Paul, dia bilang bahwa Morgana mengenakan cincin itu karena dia menikahi sihir," Pansy tertawa. "Mereka bilang bahwa vena langsung ke jantung. Jelas, dia adalah yang lainnya yang dia percaya itu adalah benda sihir, tapi dia, seperti aku, berpikir Izella mencoba terlalu keras untuk menyesuaikan potongan-potongan teka-teki itu, tapi tidak cukup bukti. Disini," Pansy meletakan buku lain membuka dan menunjuk gambar di bagian kiri halaman. "Ini adalah alasan dia bersumpah itu harusnya adalah Batu Fay."
"Batunya hitam," jawab Hermione.
"Ya," kata Pansy. "Total ada 21 lukisan yang ditemukan dimana Morgana memakai cincinnya, kombinasi dari lukisan sihir dan muggle, dan 19 dari lukisan itu cincinnya berwarna kuning. Dua, yang ini dan satunya lain, keduanya oleh seniman Ecgric Morahais, berwarna hitam. Semua lukisan yang memunculkan cincin, selalu dilukis hanya dua warna sebagai Batu Fay. Itu kenapa Izella percaya bahwa itu adalah BATU itu. Aku pikir mungkin lebih bahwa cincin itu kuning dan Ecgric Morahais melukisnya dengan hitam karena dia tidak tau kuning yang di lukis seniman lain pilih atau dia memilih hitam karena Morgana diperkirakan berhubungan dengan sihir hitam. Apapun alasannya, satu seniman hitam tidak cukup meyakinkanku."
"Apa ada orang yang tau apa yang terjadi dengan cincinnya?" tanya Draco.
"See, sekarang ini adalah jenis pembicaraan yang kita mulai; pertanyaan dengan jawaban dan banyak perdebatan," Pansy tersenyum cerah. Ini pertama kalinya Hermione mengingat Pansy bisa benar-benar tersenyum. Dia agak cantik ketika melakukannya. "Hanya ada satu catatan yang bisa dipercaya bahwa disebutkan cincin itu dan ketika Morgana berada di ranjang kematiannya, dia memberikan cincin itu pada keponakannya, Mordred."
"Mordred?" tanya Hermione. "Tapi aku pikir dia terbunuh di pertem-"
"Pertempuran Camlann? Aku tau itu. Aku tau bahwa kau mengetahui versi muggle," kata Pansy, menggeleng geli.
"Siapa Mordred?" tanya Draco, cukup ketinggalan.
"Mordred adalah keponakan Morgana. Dalam cerita muggle, di sebutkan dalam Pertempuran Camlann, Arthur membunuh Mordred dan Mordred melukai Arthur. Ini ketika muggle mengatakan bahwa Arthur di sembuhkan oleh Morgana, tapi sementara itu Arthur dibawa ke Avalon, Morgana tinggal di medan pertempuran dan menyembuhkan Mordred. Arthur meninggal sebelum pagi berikutnya dan Mordred dan Morgana kembali ke Avalon bersama. Akhirnya, Morgana sekali lagi diketahui sebagai Morgan le Fay, menjadi penguasa, ketika anak Morgause, Gaheris membunuhnya. Itu di Isle Avolon, Morgana le Fay dan keponakannya, Mordred, keduanya tinggal. Dan seperti yang aku katakan, dalam rajang kematiannya, dia memberikan cincin itu pada Mordred."
"Kau bilang masih ada perdebatan," Hermione mengingatkannya. "Itu seperti fakta untukku."
"Itu fakta bahwa cincin itu di berikan pada Mordred, tapi misteri dan spekulasi apa yang terjadi setelah itu," Pansy menjelaskan. "Paul, yang percaya bahwa cincin itu di kubur bersama Mordred karena dia tidak memiliki istri dan juga keturunan. Alih-alih mengambil liburan yang santai seperti orang waras, Paul menghabiskan waktu liburnya untuk mencari kuburan Mordred. Kemudian ada Izella yang sangat hebat dalam mencari, tapi dia menghabiskan waktunya mencari melalui silsilah keluarga-keluarga kuno."
"Apa maksudmu? Dia berpikir itu diturunkan ke generasi berikutnya?" tanya Draco.
"Bagaimana bisa?" tanya Hermione.
"Banyak perdebatan. Cincin itu jatuh ke Mordred, tapi dalam sejarah, ada tiga penyihir wanita yang mengklaim bahwa mereka memiliki cincin Morgana. Ketiga-tiganya, kebetulan, menjadi seorang penyembuh. Itulah alasan lain Izella mempercayai itu adalah batu Fay. Izella sekarang mencoba menelusuri garis keturunan satu dengan yang lain dan mencoba membuat pola sehingga bisa menunjukkan padanya ke tempat terakhirnya."
"Lagi, bagaimana batu itu bisa diturunkan dari Morgana, dia juga Mordred tidak memiliki keturunan?" tanya Draco.
"Aku tidak pernah bilang dia tidak memiliki keturunan," kata Pansy marah. "Hanya Mordred yang tidak punya."
"Morgana punya anak? Tapi aku pikir dia-"
Pansy mendengus geli dan memotong Hermione. "Aku bilang dia tidak pernah menikah, tapi dia punya banyak dan cukup kekasih. Luar biasa bahwa dia hanya memliki satu orang anak, jika kau tanya aku. Dia memiliki anak perempuan, Morfydd, dan meskipun Morgana punya banyak kekasih, di duga ayah Morfydd adalah Lancelot atau Accolon, tapi itu tidak penting, keberadaan Morfydd hampir tak tersentuh."
"Tapi, jika Morgana memiliki keturunan, kemudian kenapa dia memberikan cincin pada Mordred?" tanya Hermione.
"Kita hanya bisa berspekulasi motif dibalik itu, tapi sepertinya hanya untuk menyenangkan Mordred," kata Pansy mengangkat bahu.
"Bagaimana orang pertama yang mengklaim memiliki cincin Morgana? Apa garis keturunannya bisa di telusuri kembali ke Morfydd? Aku tau bahwa cincin itu diberikan pada Mordred, tapi dia tidak memiliki keturunan. Bagaimana jika dia memberikan cincin itu kepada Morfydd atau salah satu anaknya?" tanya Hermione.
"Well, menurutku itu agak menarik, Mordred memberikan cincin ke keluarga Morfydd," balas Pansy mengerucutkan bibirnya berpikir. "Jika itu terjadi maka aku pikir itu mungkin, itu bisa dikatakan sebagai klaim yang benar. Tidak ada catatan, baik pada keturunan penyihir waktu itu dan tidak banyak catatan tentang Morfydd, tapi klaim pertama itu terjadi pada abad ke-8 oleh wanita bernama Glaxon dan dicatat bahwa Glaxon tinggal di Isle Avalon di abad ke enam... jika Morfydd menikah kedalam keluarga itu, itu cukup mungkin terjadi."
"Bagaimana dengan klaim berikutnya?" Hermione melanjutkan
"Well, seperti yang aku bilang, Izella mencoba mencari tau apakah dia bisa. Bahkan jika klaim pertama itu benar, aku agak skeptif dengan yang lainnya. Dalam laporan, dan ya ada laporan –jangan berpikir bahwa klaim itu akan dianggap enteng- semua cincin dianggap agak moderen. Cincin Morgana pada waktu itu sangat sederhana dan dibuat dengan cara muggle," Pansy menjelaskan.
"Ta, tapi bagaimana jika itu bukan cincinnya yang diturunkan?" pertanyaan Hermione dengan perasaan intens yang tak bisa dia jelaskan. Kecurigaannya tentang cincin itu bertambah. Menurut Pansy, dia hanya skeptikal, tapi dalam posisinya, semua bisa bertambah. "Jika cincin Morgana awalnya adalah tempat batu Fay, bagaimana jika batu-nya dan bukan cincinnya yang diturunkan turun-menurun? Batunya bisa ditempatkan di semua cincin."
Pansy berhenti berpikir dan bicara lembut sebelum dia menjawab, masih memikirkan kemungkinan di dalam kepalanya. "Kau tau, aku tidak pernah memikirkannya.." senyum kecil bersungging di ujung mulutnya. Dia tampak jauh termenung, tapi senyum itu menjadi kekecewaan. "Itu tidak tidak berarti akan membantu menemukannya kembali. Klaim terakhir dibuat pada abad ke 14 oleh seorang perempuan bernama.. aku lupa namanya. Dia punya nama belakang Cordell. Bahkan jika dia memiliki yang asli, dimana tidak ada bukti, itu bisa dimana saja. Itu bisa dikubur bersama seseorang atau itu bisa saja masih berada entah dimana, masih tetap diturunkan ke generasi berikutnya. Jika masih ada diluar sana, kemungkinan batu itu tidak diketahui atau mungkin ada lagi klaim sejak 1300. Dan, karena garis keturunan sering melintas, bisa siapa saja penyihir dalam sejarah menjadi pemiliknya." Pansy terdengar cukup sedih, seolah-olah dia mendapatkan harta tak ternilai dan kemudian di ambil kembali. Itu bukan harta yang dia miliki, tapi solusi dari misteri itu.
"Kau tau tasmu bersinar?"
Hermione berkedip karena kebingungan Pansy. Dia sendiri, masih tenggelam dalam pikiran oleh cincin, sehingga komentar Pansy membuatnya lengah dan tidak tau apa yang dibicarakan.
"Itu sudah bersinar sejak kau tiba disini, dan aku tidak bermaksud kasar, tapi itu sedikit menganggu," kata Pansy melanjutkan.
Hermione mengikuti mata Pansy ke kursi diantara mereka dan dimana tas tangannya berada. Tas tangan Hermione sudah hancur oleh api, Narcissa meminjamkan satu untuknya, jadi dia masih bisa membawa perkamen mantra pemantau bersamanya. Itu adalah tas Narcissa yang ada di kursi kosong dan berkas cahaya mengalir kuat dari ikat longgar di bagian atas. Jantung Hermione melompat. Dia mengambil tas itu dari kursi dan membukanya lebar. Cahaya itu bersinar dan Hermione harus menghindar meraih ke dalam. Setelah jarinya menemukan tumpukan kertas, cahaya itu menghilang. Cahaya itu adalah mantra yang dia berikan pada setiap perkamen untuk memberikan peringatan ketika disana ada aktifitas baru. Dia membalik-balik tumpukan lima lembar sementara Draco menunggu dengan cemas. Alis Hermione bersatu khawatir dan dia tersentak ketika dia menemukan apa yang dia cari.
"Itu mereka... di rumah orang tuaku!" Hermione mendorong perkamen ke tangan Draco dan matanya melihat cepat.
"Kita harus pergi," kata Draco, berdiri. Hermione dan Pansy berdiri mengikutinya.
"Apa yang terjadi?" Pansy khawatir.
"Ayo, Hermione," kata Draco, memimpin Hermione ke pintu dan menuju kedalam. "Maafkan aku Pansy. Ini daru-"
"Pelahap maut," kata Pansy ketakutan. Draco dan Hermione berhenti dan menatap Pansy. "Aku melihat namanya. Lestranges dan Summers dan yang pelahap maut, ya kan? Itu yang-?"
"Lupakan, Pansy," perintah Draco. "Aku tidak tau apa yang kau lihat, tapi lupakan. Sekarang, aku minta maaf, tapi kami harus pergi."
"Draco!" teriak Pansy. Draco melemparkan beberapa jumput bubuk ke dalam api dan memberi isyarat untuk Hermione.
"Aku minta maaf Pansy. Lebih dari yang kau tau.." kata Draco. Banyak yang ingin dia katakan. Dia tidak ingin meninggalkan Pansy dalam kekhawatiran. Dia tau disana ada sesuatu yang bisa dia katakan, tapi dia tidak punya waktu. Mereka harus pergi. "Aku minta maaf," ulang Draco. Menyebutkan tujuannya dengan pelan dan pusaran dalam lidah api, Draco menghilang dan Pansy berdiri sendiri di hall keluarganya. Walaupun hari panas, dunia tiba-tiba terasa dingin dan kosong lagi.
"HARRY!" teriak Hermione sesampai di rumah dan melangkah keluar perapian. Dia terkesiap ketika Mr Weasley berdiri dari tempat duduknya. Molly dan Ginny menengok dari konter kaku, membeku waspada.
"Hermione! Apa yang terjadi?" taya Mr Weasley panik. Hermione hanya berdiri diam. Dia tidak yakin kenapa dia terkejut melihat mereka padahal dia tau mereka ada disana. Dia hanya terlalu intens mencari Harry dan sejenak melupakan yang lain. Harry adalah pemimpin, tidak ada yang berani bergerak tanpa dia.
"Pelahap maut. Mereka ada dirumah orang tuaku," kata Hermione. Dia entah bagaimana menjadi tenang dalam hiruk pikuk kepanikan. Dia berdiri di dapur merasa sangat kewalahan. Dia berbalik dimana Draco tiba dibelakangnya. Pikirannya berkabut. "Aku perlu Harry. Kreacher, pergi amb-"
"Hermione?" teriak Harry masuk ke dalam ruangan, Ron kemudian. Dia lupa bahwa dia berteriak ketika masuk. Rupanya, Harry mendengarnya.
"Harry!" kata Hermione lega.
"Apa yang terjadi?" tanya Ron, keduanya dia dan Harry menjadi protektif terhadapnya.
"Mereka ada di rumah orang tuaku," kata Hermione, melirik pada kertas yang masih ditangannya.
"Sekarang?" tanya Harry terkejut. "Berapa banyak? Jangan pikirkan. Kreacher dan Pernie, kumpulkan semua orang ke ruang duduk sekarang."
Harry berbalik dan menaiki tangga dan segera semua mengikutinya. Rumah seperti bergemuruh sebagaimana kaki-kaki bergegas ke ruang duduk. Harry melihat seolah-olah dia menanyakan, tapi terganggu dengan orang-orang yang masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Narcissa, masuk ke dalam ruangan bersama Aurelian di dalam gendongannya. Si bocah memegang buku gambar di tangannya dan menatap ragu pada yang lain.
"Apa yang terjadi?" teriak Fred dari belakang.
"Ouch!" tangisan di sebelahnya.
"Maaf, Katie," kata George. Katie datang untuk melakukan pengukuran untuk jubah pelindung.
"Pelahap maut, di rumah Granger," jawab Arthur.
"Sekarang?" tanya Blaise, memiringkan kepalanya agar bisa melewati Ginny. Ginny melangkah menjauh.
"Ya," jawab Harry. "Kapan mereka di sana, Hermione?"
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu," kata Hermione memberikan dua lembar perkamen di tangannya. "Mereka masih ada didalam sekarang. Mereka hanya memerlukan dua puluh menit untuk melepas mantra perlindungannya."
"Apa?" Ron berseru ngeri. Dia bukan satu-satunya yang terganggu dengan berita itu. Semua orang tampak terkejut dan khawatir. Hermione tidak bisa melepaskan matanya dari kertas. Ide itu datang setelah dia mendatangi rumah Lestrange. Di memberikan mantra pemantau ke rumah orang tuanya; satu di luar dan satu di dalam. Untuk memperingatkan jika mereka masuk. Dia tidak pernah membayangkan mereka memecahkan mantra sebegitu cepat.
"Ada yang tidak aku mengerti," kata Hermione pada Harry. "Jika mereka bisa memecahkan mantranya begitu cepat, kenapa rumah orang tuaku? Kenapa bukan Malfoy Manor? Kita tau mereka ingin ke sana."
"Aku tidak tau, tapi kita mungkin bisa mengetahuinya. Sekarang, siapa yang pergi?" tanya Harry.
"Kita semua, Harry," kata Katie, melihat ke semua. Mereka mengangguk.
"Aku akan tinggal dengan Narcissa dan Aurelian," jawab Molly melihat suaminya. "Katie bisa memakai jubahku."
Katie mengangguk.
"Punya Hermione sudah selesai," kata George, memanggil jubah sutra dari ruangan lain dan menyerahkannya ke Hermione.
"Blaise jika kau mau ikut, kau bisa mengambil jubah cadanganku," kata Harry.
"Ya," jawab Blaise. Hermione menatap ke sekeliling ruangan. Semua wajah menjadi kaku mereka memakai topeng untuk bertempur. Mereka memerlukan topeng itu untuk menjaga mereka tetap tegak dan fokus, tapi mereka masih terlihat terluka.
"Semua panggil jubah kalian sekarang," kata Harry memberikan jubah wol kepada Blaise. "Setengah dari mereka tau kemana harus pergi. Yang tidak tau, temukan teman yang tau. Setiap orang akan bersama pasangannya setiap saat. "Harry melihat sekeliling meyakinkan setiap orang mendengar dan mengerti. Dia berhenti pada Hermione. "Apa apa?"
"Mereka pergi," jawab Hermione, alisnya berkerut sambil mengamati.
"Mereka pergi?" tanya George. "already?"
"Bagus," kata Harry tegas.
"Bagus?" tanya Blaise tak percaya. "Bagaimana itu bisa bagus?"
"Karena kita belum siap untuk melawan mereka. Aku hanya ingin ke sana untuk menakuti mereka. Kapanpun kita siap melawan mereka, itu harus direncanakan," jawab Harry. "Mereka berempat sudah pergi?"
'Ya, hanya lima menit yang lalu," jawab Hermione. "Mereka berempat yang melewati mantra di dalam dan juga mantra yang di luar tidak sampai semenit yang lalu. Tapi itu bukan u-"
"Tapi bukan berarti mereka tidak di sana," Harry mengakhiri. "Jika mereka melepaskan mantra anti-apparate maka mereka bisa saja sudah berapparate kembali ke dalam rumah. Kita pergi dengan dugaan mereka di sana dan jika mereka memang di sana, aku ingin kalian melempar mantra pelindung dan menghindar, dan kembali ke sini secepatnya. Kita hanya ingin melihat mereka dan memberitahu mereka bahwa kita tau mereka di sana. Jika mereka tidak ada di sana, kita akan mengambil kesempatan untuk menilai kerusakan dan mencoba mencari tau kenapa mereka ke sana. Kau tidak boleh meninggalkan sisi rekanmu. Mengerti?" semua kepala menganguk dan Harry mempimpin jalan keluar.
"Mummy! Daddy!" teriak Aurelian, meraih tangan mereka dari lengan Narcissa saat mereka akan ke pintu.
"Tak apa, Aurelian," kata Molly. "Mereka akan segera kembali."
Bagian dalam Hermione terasa berputar. Dia benci bagaimana Aurelian menderita dari semua ini. akankah ada hari dimana si bocah tidak merasa takut lagi karena orang-orang pergi? Hermione tidak bisa melihat ke dalam matanya atau dia mungkin merasa runtuh.
Harry membuka pintu Grimmauld Place dan membawa mereka ke halaman berumput dimana mereka bisa berdisapparate. "Kelompok Ron dan Blaise ke pintu. Lihat rumahnya, Arthur dan George di bagian kanan, Fred dan Ginny bagian kiri. Jika kalian sudah jelas dimana kalian bergerak melalui belakang. Hermione, Malfoy, katie dan aku akan lewat depan. Jika sudah jelas, kita bergerak masuk dan menyelidiki. Hermione ke atas, Ron dapur, Arthur ruang makan, Ginny ruang keluarga. Katie dan Aku akan ke Basement. Mengerti?" semua orang mengangguk, Harry hanya memberi perintah terakhir. "Tongkat sihir siap setiap saat dan kau jangan menginggalkan partner kalian.. siap? Sekarang!"
Hermione meremas tangan Draco dan berbalik, bayangan tentang rumah masa kecilnya tegas di pikirannya. Dia muncul di halaman depan orang tuanya dengan mata masih terbuka dia melirik pada Katie dan Harry yang berdiri di sebelah kiri mereka. Semua tongkat sihir mengacung ke depan dan mereka dengan cepat menilai lingkungan sekitar. Hermione terkesiap saat melihat pintu depan tertiup angin. Harry mengambil lirikan lagi ke sekeliling.
"Ayo," kata Harry, memimpin jalan ke dalam rumah.
Hermione menguatkan dirinya sebagaimana dia berjalan masuk melewati pintu. Seolah-olah itulah yang dia harapkan; sudah dihancurkan. Dia melihat kelompok yang lain memasuki rumah dari pintu belakang, tapi tidak berhenti. Hermione langsung menuju tangga. Kehadiran Draco menambah kenyamanan dan memberi keberanian. Hermione tidak takut menghadapi pelahap maut sepeti dia takut dengan apa yang mungkin dia temukan. Tangannya menyentuh handel dari pintu kamarnya dulu ketika Ginny memanggilnya dari bawah, "Hermione! Hermione, Harry, kesini!" meskipun teriakan Ginny terdengar darurat, Hermione merasa sedikit perasaan lega. Beberapa detik saja, dia takut kalau pelahap maut kembali, tapi itu bukan tipe teriakan seperti itu. Masih, dia takut apa yang mungkin di lihatnya. Draco mengusap punggungnya dengan lembut dan dia menuruni tangga bersamanya.
Meskipun panggilan Ginny untuk dua orang, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Hermione dan Harry bertemu dengan mereka di lorong dan memasuki ruang keluarga bersama. Sofa dan kursi yang terbalik dan televisi yang tertelungkup di lantai. Hermione mengamati banyak orang berkerumun di tengah ruangan. Mereka semua menatap pada tempat yang sama dan Hermione mengikuti pandangan itu ke dinding di belakang sofa.
Lukisan besar yang tadinya bergantung di sana sudah pergi dan digantikan dengan kata-kata yang di tulis di dinding. "Kami ingin anak itu."
"Anak apa? Creevey?" tanya Blaise dari belakang.
Ginny menggelengkan kepala dan menunjuk, "Lihat."
'Hermione perlahan melangkah ke selembar kertas putih yang ditempelkan ke dinding di bawah pesan itu. Itu adalah kertas yang dia lihat sebelumnya. Dari pandangan pertama itu hanya lembaran tampak seperti coretan acak warna-warna, tapi kemudian membentuk pola, mudah untuk dikatakan disana: wanita dengan rambut coklat, pria dengan rambut kuning, dan anak kecil berambut coklat di tengah. Itu adalah gambar Aurelian yang dia gambar untuknya, Draco dan Aurelian sendiri.
"Aurelian?'' tanya Hermione. "Aku tidak mengerti... ke-Kenapa Aurelian?"
Harry melangkah ke sampingnya dan merenggut pada huruf yang membara. "Aku tidak tau... itu tidak masuk akal. Dia jarang, aku kira, tapi kenapa dia memberitahu kita? Dia tau kita tidak akan memberikan siapapun."
Hermione mengangguk. Dia merasa sakit dan takut jika dia bicara dia mungkin merasa sakit. Bellatrix menargetkannya. Mereka menyiksanya, membakar rumahnya, merusak rumah orang tuanya, dan untuk Aurelian. Hermione takut dari awal, tapi hanya kemudian..
"Jangan memikirkannya, Hermione," kata Fred. "Kami akan di sini bersama. Tidak ada orang yang akan dikorbankan."
"Dia aman di Grimmauld Place," Ginny mengingatkannya.
Hermione mengangguk lagi.
"Baiklah," kata Harry, mengambil alih lagi. "Kembali dari apa yang kalian kerjakan. Kita melihat sekeliling. Jangan membetulkan apapun dan jangan menyentuh apapun. jika ada sesuatu yang terasa salah, bilang padaku. Kita akan meninggalkan tempat ini dalam empat menit, terlepas dari apa yang kita cari. Aku akan mengirim potronus sebagai tanda untuk ber-apparate kembali ke tempatku."
Semua orang mulai bubar, Harry berpaling pada Hermione. "Aku pikir kita seharusnya mengembalikan mantra pelindungannya. Mantra pemantau ganda bekerja sempurna."
"Aku akan melakukannya," kata Hermione.
"Baiklah, selama Malfoy bersamamu. Dan jangan lupa mantra anti muggle."
"Aku tau," jawab Hermione. "Kita tidak ingin tetangga mengetahuinya."
"Kita bisa menyelesaiknnya sekarang, jika kau ingin, tapi-"
"Aku tau, Harry. Jika mereka kembali dan ini diperbaiki, mereka mungkin akan melakukan yang lebih buruk," kata Hermione dengan senyum sedih. "Sejujurnya ini tidak terlalu buruk. Kita akan membetulkannya setelah ini semua berakhir."
"Sebentar, Hermione," Katie menyakinkannya. Senyum sedih Hermione penuh dengan emosi.
"Kita hanya memiliki tiga menit tersisa," Hermione mengingatkan mereka. Draco mengambil tangannya dan mempimpinnya keluar untuk mengawalnya memasang mantra.
"Dia akan aman," kata Draco ketika mereka sendiri. "Kau tau kita tidak akan membiarkan apapun terjadinya padanya."
"Aku tau," jawab Hermione. Api di matanya berkobar. Dia merasa kewalahan dengan keinginan untuk kembali segera, untuk Aurelian dan memeluknya dan sebagian darinya menyala dengan kemarahan yang membuatnya merasa haus untuk membalas dendam seperti dia tidak pernah tau. Dia ingin secara personal mengakhiri Bellatrix Lestrange.
"Ayo segera selesaikan ini," kata Hermione pelan. "Aku ingin cepat kembali."
_TBC_
AN/ Thanks to Asiyah Firdausi, aquadewi, Staecia, ErMalGranger, mrs. delacour, scropryena, ZeZorena, Lippy Candy, Riska662, coco dan guests untuk semangatnya! dan juga para readers, favourites dan follower.
Staecia: banyak yang merasa bingung sama seperti kamu, tapi menurut catatan si Authornya langsung nih ya.. Fred dan George sudah diberitahu Harry bahwa Hermione dan si kembar lah yang menemukan teka-teki mantra fidelius (dalam memori di masa depan) sehingga George merasa kalau mereka bisa menjawab teka-teki mantra Fidelius dimasa depan kenapa sekarang tidak?"
aquadewi: Pansy dibunuh karena Mr Parkinson menolak untuk menjadi pelahap maut dan juga darah Pansy yang diduga digunakan untuk menulis di dinding kamar Draco saat Bellatrix menukar cincin (memori di masa depan) namun di waktu sekarang, karena mereka bisa mencegah hal itu, Pansy masih hidup terlepas ternyata dia memiliki pengetahuan mengenai cincin Morgana dan cincin itu masih dimiliki Draco.
Scorpreya: iya disini dia suami idaman banget, hahaha
Semoga bisa menjawab
Em, saya tau kalau chapter kemarin kebanyakan narasi, tapi narasi itu lebih susah untuk diterjemahin dibandingkan percakapan. Saya juga kesel kok yang nulis, haha. Tapi chapter ini ngk kan ya?
