Chapter 36

Restrain


"Uuuhhhh... Noshiro-chan, Yahagi-chan... Aku takut"

Itulah yang diungkapkan oleh Agano kepada Noshiro dan Yahagi setelah cedera parah paska operasi kecil mereka sebelumnya. Pada saat itu yang memimpin jalannya operasi tersebut bukanlah Laksamana mereka, Viltus Amarov, melainkan salah satu krunya Frederich Willhelmson.

Sebenarnya setelah sampai di dermaga, Frederich berkata bahwa dirinya yang akan bertanggunjawab atask kejadian ini. Tetapi hingga saat ini, belum ada sedikit pun laporan dari Frederich. Hal tersebut membuat Agano sangat khawatir Viltus akan memarahi dirinya.

"Itu salahmu sendiri tidak fokus pada saat operasi saat itu." ujar Yahagi

"Aku tahu... Uuuuhhhh..." balas Agano

Mereka bertiga berjalan ke arah ruangan Viltus untuk melapor dan melewati seorang pria. Pria tersebut berhenti sebentar dan melihat ke arah ketiga Gadis Kapal tersebut. Setelah itu, ia berkata,

"Sepertinya operasi tersebut gagal, ya ?"

"Ah... Kapten Okada !" balas mereka bertiga sembari memberi hormat kepada pria tersebut.

Pria tersebut adalah Kapten Okada Hayate, pemimpin dari Polisi Militer di Markas Angkatan Laut Kure. Ia merupakan salah satu staff yang dipilih langsung oleh Yanagi Shiro dalam rangka membangun Kure dan akhirnya dipilih oleh Polisi Militer di Yokosuka untuk menjadi pemimpin di sana.

Jika membicarakan mengenai Polisi Militer, semuanya melihat mereka merupakan orang yang paling disiplin dengan peraturan dan juga sangat menakutkan bila ada yang melanggar. Namun, itu berbeda dengan di Kure. Mereka semua terlihat cukup ramah, walaupun terkadang mereka masih menakutkan bila ada yang melanggar.

Hayate memperhatikan pakaian Agano yang sedikit robek dan kemudian melepas jaket polisi militernya. Ia kemudian memberikan jaket tersebut kepada Agano untuk menutupi tubuhnya yang terlihat dengan jelas. Hayate kemudian berkata,

"Setidaknya itu dapat menutupi tubuhmu pada saat memberi laporan kepada Viltus."

"Terima kasih banyak, Kapten Okada." balas Agano

"Bukan masalah."

"Kapten Okada, jika boleh tahu apakah Laksamana Amarov ada di dalam ruangannya ?" tanya Yahagi

"Beberapa menit yang lalu diriku melihat dirinya di dalam ruangannya dan terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan Kapten Kouga dan Laksamana Yanagi. Mungkin mereka sudah selesai sekarang."

"Terima kasih banyak atas informasinya, Kapten Okada."

Yahagi, Noshiro dan Agano langsung pamit dan kemudian berjalan ke arah ruangan Viltus. Hayate memperhatikan mereka bertiga dan kembali berjalan. Saat ini, sudah satu bulan berlalu semenjak kelompok Viltus mulai bekerja di Kure dan selama itu dirinya melihat sesuatu yang berubah dari suasana di Kure. Suasana layaknya keluarga yang dipancarkan oleh Viltus kepada seluruh Gadis Kapal di Kure.

Hayate tersenyum sedikit dan kemudian berkata,

"Sepertinya... Kau benar-benar berhasil mengubah dirinya Kimura."

Tidak berapa lama, salah satu staffnya menghampiri dirinya dan memberi laporan mengenai satu kejadian di Kure yang baru saja terjadi.


Di dalam ruangan Viltus

Viltus sudah bertemu dengan Frederich yang melapor hasil operasinya dan juga Haruto dengan Shiro yang memberitahukan langkah selanjutnya. Ia memperhatikan dokumen di hadapannya sebentar dan kemudian meminun teh yang dihidangkan oleh Taihou yang sedang membaca buku di sofa di dekat mejanya.

Setelah menaruh gelasnya, ia tersenyum sebentar dan kemudian berteriak,

"Kenapa diriku menerima ini semua tadi ?!"

Taihou sedikit terkejut pada saat mendengar Viltus berteriak seperti itu dan kemudian hanya tertawa saja. Ia kemudian berdiri dan memeluk Viltus dari belakang sembari berkata,

"Tadi yang berkata akan melakukannya siapa ?"

"Uuuh... Diriku..." jawab Viltus

"Maka dari itu, jangan mengeluh seperti itu."

"Aku tahu..."

Taihou melihat ke arah wajah dari Viltus dan kemudian berkata,

"Jika kau selesai, aku akan memberikanmu hadiah."

"Huh ? Apakah itu ?" tanya Viltus

"Rahasia... Jadi, selesaikan tugasmu dahulu."

"Baiklah jika demikian..."

Viltus kembali memperhatikan seluruh dokumen tersebut dengan seksama, sementara Taihou mengambil gelas milik Viltus dan mengisinya kembali. Tidak berapa lama, mereka berdua mendengar ketukan pintu.

Viltus langsung mengambil topi laksamana miliknya, sementara itu Taihou berdiri di sebelahnya sembari tersenyum ke arah Viltus. Viltus langsung melihat ke arah pintu dan berkata,

"Kalian diijinkan untuk masuk."

Pintu terbuka dan di sana berdiri Yahagi, Noshiro, dan Agano. Memberi hormat kepada Viltus yang dibalas olehnya. Viltus memperhatikan mereka bertiga dan kemudian melihat jaket yang dikenakan oleh Agano. Ia diam sebentar dan kemudian mengambil sebuah buku. Setelah itu, ia berkata,

"Baiklah, berikan laporan kalian."

"Baik." balas Noshiro

Noshiro kemudian memberitahukan hasil operasi kecil mereka. Mereka melakukan penyisiran dengan jarak 500 km dari Kure dan menemukan satu divisi Abyssal yang berisi empat Kapal Perusak kelas I dan juga dua Kapal Penjelajah Ringan. Mereka melakukan penyerangan ke arah Abyssal tersebut dan menenggalamkan mereka ditambah dengan dua Kapal Selam Abyssal yang berusaha mengalihkan perhatian mereka.

Catatan tambahan yang diterima oleh Viltus adalah mereka menggunakan setidaknya enam belas torpedo dan menggunakan setengah dari peluru mereka untuk pertempuran kecil tersebut. Dan korban paling besar dari pertempuran tersebut adalah Agano yang cedera parah.

Viltus memperhatikan dokumen yang diberikan oleh Frederich sebentar dan mengeceknya dengan apa yang dilaporkan oleh Noshiro. Ia mengangguk sebentar dan kemudian bertanya kepada Agano,

"Jika boleh tahu, mengapa dirimu dapat cedera parah ?"

"Mengenai itu..." jawab Agano kurang yakin

"Kau tidak perlu khawatir. Beritahukan saja diriku alasannya kenapa agar diriku dapat mengubah kompisisinya pada saat operasi selanjutnya."

"Ummm... Itu karena diriku tidak terlalu fokus." jawab Agano

"Tidak fokus ?"

"Iya. Dikarenakan adanya kapal selam yang mendadak muncul, diriku tidak menyadari hal tersebut."

Viltus memperhatikan dokumen yang diberikan oleh Frederich dan itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Agano. Kedua Kapal Selam Abyssal tersebut mendadak muncul dari sonar yang ditangkap oleh Anastasia.

Viltus melihat sebentar ke arah Agano dan kemudian berkata,

"Itu bukan salahmu. Diriku sama sekali tidak memperkirakan Kapal Selam akan berada di daerah tersebut."

"Eh ?"

"Seharusnya diriku menyiapkan setidaknya empat Kapal Perusak untuk menemani kalian, bukannya dua saja. Ini dapat menjadi pembelajaran untukku." lanjut Viltus

"..."

"Sebaiknya dirimu sekarang pergi menemui mekanik atau Elisa."

"Ah... Baik."

Mereka bertiga melihat satu sama lain dan kemudian langsung memberi hormat. Tepat sebelum keluar, Viltus bertanya kepada Agano,

"Jika boleh tahu, siapakah yang memberikan jaket tersebut ?"

"Ah... Ini... Yang memberikannya Kapten Okada." jawab Agano

"Huh ? Hayate ?"

"Iya."

Viltus diam sebentar dan langsung tersenyum. Ia kemudian membiarkan mereka bertiga untuk menemui Elisa. Sementara itu, Taihou melihat ke arah Viltus dan bertanya,

"Ada apa, Viltus ? Kau terlihat cukup senang."

"Begitukah ?"

"Iya. Aku dapat melihatnya dari dirimu yang tersenyum seperti itu."

"Ahahahahaha."

"Viltus..." ujar Taihou sembari menatap tajam ke arah Viltus

"Maaf... Maaf... Hanya saja diriku cukup senang dirinya pun dapat berubah."

"Eh ?"

"Atau mungkin dirinya masih dihantui oleh hal tersebut. Entahlah."

Taihou melihat Viltus yang tersenyum kecil sembari melihat ke arah pintu dan kemudian langsung kembali mengerjakan dokumennya. Taihou hanya dapat menghela nafas saja dan ia kembali duduk di sofa untuk melanjutkan membaca bukunya.


Setelah selesai semuanya, Viltus dan Taihou keluar dari ruangan tersebut dan berjalan bersama ke arah kantin. Taihou berkata bahwa dirinya harus menunggu kembali untuk menerima hadiahnya. Viltus sendiri hanya tersenyum saja pada saat mendengar hal tersebut.

Tidak berapa lama, dirinya melihat Hayate yang sedang memperhatikan staff di Kure yang sedang dilatih oleh Anastasia dan juga Shiro. Viltus langsung berjalan ke arah Hayate dan memanggilnya,

"Hayate !"

"Huh ? Kazuki ?" balas Hayate

"Memperhatikan anak buahmu yang sedang berlatih ?"

"Iya."

Viltus kemudian berhenti di sebelah Hayate bersama dengan Taihou dan memperhatikan latihan mereka. Hayate kemudian berkata,

"Daripada disebut sebagai latihan, ini lebih ke arah hukuman."

"Apa yang kau harapkan dengan meminta Anastasia dan Shiro untuk menjadi pelatih mereka ?" tanya Viltus

"Kau ada benarnya, Kazuki." jawab Hayate sembari menutup matanya

"Ahahahahaha..."

"Tetapi, kenapa Anastasia-san dan Shiro-nee yang terpilih untuk menjadi pelatih mereka ?" tanya Taihou

"Karena mereka yang paling ahli dalam urusan ini." jawab Hayate

Viltus langsung melihat ke arah Hayate dan kemudian berkata,

"Entah mengapa... Kita sebagai pria seperti kalah dengan mereka..."

"Aku tidak ingin memberi komentar lebih lanjut lagi dengan fakta bahwa Gadis Kapal yang berjuang di lini depan..." jawab Hayate

"..."

Hayate dan Viltus langsung melihat satu sama lain dan itu membuat Taihou bingung. Setelah itu, Hayate langsung merenggangkan badannya sedikit dan berkata,

"Kau tahu... Diriku sudah lama tidak melakukan sesuatu..."

"Huh ? Jangan bilang dirimu sudah lama tidak melakukan olah raga bela diri lagi ?" ujar Viltus

"Iya..."

"Kenapa ? Apa karena usia sudah memakan tubuhmu ? Ahahahahahaha."

"..."

"Ada apa, Hayate ?" tanya Viltus sedikit mengejek Hayate

"Tidak apa-apa... Hanya saja..."

"Hanya saja apa ?"

"Hingga hari ini diriku tidak menemukan lawan sepadan untuk latih tandingku..."

"Kebetulan sekali diriku sedang lowong." ujar Viltus sembari merenggangkan badannya

"Bagaimana jika kita berlatih tanding sekarang ?"

"Boleh saja. Aku ingin melihat seberapa lemahnya dirimu sekarang."

Viltus dan Hayate tersenyum satu sama lain dan kemudian langsung berjalan. Sebelum berjalan, Viltus berkata bahwa Taihou tidak perlu khawatir mengenai hal tersebut. Tetapi, Taihou yang melihat itu sedikit panik dan khawatir, sehingga setelah kedua pria tersebut pergi, ia langsung berlari ke arah Shiro yang sedang melatih seluruh polisi militer di Kure.


Hayate dan Viltus beristirahat sebentar setelah mereka berlatih tanding. Daripada disebut sebagai latih tanding, mereka bertengkar satu sama lain untuk meluangkan rasa rindu atau kesal mereka ke satu sama lain. Jika saja Shiro tidak datang, pasti keadaan akan semakin kacau.

Hayate langsung mengeluarkan kotak rokoknya dan kemudian mengambil satu batang. Viltus melihat hal tersebut dan terdiam saja. Hayate kemudian menyalakan rokok tersebut dan bertanya kepada Viltus,

"Pada akhirnya dirimu pun dapat melepasnya, ya ?"

Viltus yang mendengar itu dari Hayate langsung melihat ke arah dirinya. Ia sangat terkejut mendadak Hayate mengangkat masalah tersebut secara tiba-tiba. Hayate tersenyum dan kemudian berkata,

"Kazuki, selama ini diriku mengira dirimu akan dihantui oleh hal tersebut dan tidak pernah dapat maju."

"..."

"Terutama setelah mendengar dirimu mendaftar untuk menjadi seorang Laksamana, seperti melanjutkan impian dari Kaede."

"Mengenai itu..."

"Diriku mengira dirimu masih terikat dengan Kaede karena bergabung dengan Angkatan Laut. Namun, sepertinya kau berubah setelah masuk ke dalam sini."

"Dapat dikatakan demikian."

"Apakah ini semua karena Gadis Kapal tersebut ?"

"Kau sudah mengetahui jawabannya... Untuk apa dirimu bertanya kembali pada diriku ?"

"Ahahahaha... Kau ada benarnya sih."

Hayate tersenyum sebentar dan kemudian bertanya kepada Viltus,

"Lalu... Bagaimana kabar dari Noguchi-san ?"

"Berdasarkan dari berita yang kudengar, dirinya meninggal karena serangan dari Abyssal di daerah Jepang." jawab Viltus

"Eh ? Sangat disayangkan..."

"Ya. Sangat disayangkan dari kita berempat dahulu sekarang menjadi hanya kita berdua saja."

Viltus melihat Agano yang baru saja lewat bersama dengan Akatsuki dan Hibiki. Ia tersenyum sebentar dan kemudian berkata,

"Namun, diriku pun tidak menyangka dirimu pun dapat melepaskan dirinya."

"Apa maksudmu ? Aku sudah melepas kepergiannya dari dahulu."

"..."

"Aku bukan dirimu yang terpuruk dalam waktu lama setelah kejadian tersebut."

Viltus memperhatikan Hayate yang kembali menghirup rokoknya dan kemudian berkata,

"Itu semua mudah..."

"Aku tahu... Kau kehilangan ibumu dan juga adikmu... Lalu kehilangan Kaede." lanjut Hayate

"Tepat sekali... Dan kau tahu... Pada saat Kaede meninggal, aku melihat dirimu yang sedikit menjauh dariku dan Makoto. Aku tahu kau kesal pada diriku."

"Ya. Aku menuduh dirimu membunuh dirinya. Dapat dikatakan dirikulah yang paling depan dalam urusan ini."

"Aku tahu... Karena kau pun mencintai Kaede, benar ?"

Hayate melihat ke arah Viltus yang menutup matanya pada saat berkata seperti itu. Hayate hanya diam saja dan kemudian melihat ke arah kemudian berkata,

"Namun, sepertinya diriku salah."

"Eh ?"

"Kau belum dapat melepasnya."

"Aku sudah..."

"Kau masih terbelunggu dengan hal tersebut, benar ?"

"Tidak... Aku..."

"Aku mengetahui... Eh !?"

Viltus melihat ke depannya dan kerah bajunya ditarik oleh Hayate. Ia dapat melihat wajah marah dari Hayate dan mendengar dirinya berkata,

"Aku sudah dapat melepasnya ! Aku berbeda dengan dirimu !"

"..."

"Apa yang..."

"Jika kau benar-benar sudah melepasnya... Mengapa..."

"Eh..."

Viltus langsung mencengkram rokok milik Hayate yang masih menyala. Hayate sangat terkejut karena Viltus sama sekali tidak merasakan sakit setelah menggenggam rokok tersebut. Viltus langsung melanjutkan,

"Mengapa dirimu mempercepat kematianmu sendiri secara perlahan seperti ini ?"

"..."

"Kau berkata bahwa dirimu sudah dapat melepasnya, tetapi kenyataannya tidak."

"Aku..."

"Ya... Kau mengatakan itu... Tetapi, tubuh dan pikiranmu berkata lain."

Viltus langsung melepas tangannya dan membiarkan rokok tersebu terjatuh ke tanah. Viltus langsung berkata,

"Jika dirimu sudah dapat melepaskan dirinya, seharusnya dirimu tidak membunuh dirimu secara perlahan seperti itu."

"..."

Viltus melihat ke arah Hayate dan merasakan Hayate melepas cengkramannya. Hayate langsung menghela nafas dan kemudian berkata,

"Aku sama sekali tidak menyangka... Dirimulah yang mengatakan hal tersebut kepada diriku."

"Begitukah ?" balas Viltus sedikit mengejek Hayate

Hayate sendiri hanya tersenyum saja pada saat mendengar balasan dari Viltus. Ia kemudian berkata,

"Kazuki, apa yang menyebabkan dirimu tertarik terhadap Taihou ? Apakah karena dia menyerupai Kaede ?"

"Mengapa kau bertanya seperti itu ?"

"Diriku penasaran saja."

"Mungkin dapat dikatakan seperti itu. Dia terlihat seperti Kaede. Bahkan Taihou pun memiliki sifat yang menyerupai Kaede."

"Apa kau bermaksud untuk..."

"Tidak. Taihou adalah Taihou. Aku tidak ingin mengubahnya menjadi Kaede. Mereka adalah orang yang berbeda, hanya kebetulan saja mereka memiliki penampilan yang sama."

Hayate melihat ke arah Viltus sebentar dan langsung terdiam. Ia tahu, bahkan Viltus pun masih terikat dengan hal tersebut walaupun disembunyikan. Ia langsung tertawa keras dan berkata,

"Kau pun sama saja..."

"Tetapi, diriku berbeda dengan dirimu. Aku sudah tidak ingin membunuh diriku untuk menemui dirinya." balas Viltus

"Sudah ? Tunggu... Kau bermaksud untuk..."

"Sebelum diriku bertemu dengan Taihou, sudah berkali-kali diriku ingin membunuh diriku sendiri. Semua memori tersebut dan fakta terkait ayahku... Benar-benar menjadi beban bagi diriku."

"..."

"Tetapi, setelah bertemu dengan Taihou dan juga seluruh Gadis Kapal di Kure ini... Diriku merasakan bahwa mereka masih membutuhkan diriku. Dan aku pun membutuhkan mereka semua untuk maju."

Hayate langsung tersenyum pada saat mendengar hal tersebut. Ia kemudian berkata,

"Sudahlah... Tidak ada gunanya membahas masalah ini kembali."

"..."

"Ah... Salah... Diriku yang salah membuka masalah ini."

"Hei, Hayate..."

"Ada apa, Kazuki ?"

"Jika kau memiliki masalah lain, katakan saja kepada diriku atau salah satu kruku... Atau jika kau berani kepada Shiro. Kami pasti akan membantu dirimu."

Hayate hanya tersenyum tipis dan mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan Viltus dikarenakan dirinya memiliki tugas lain yang harus dikerjakan. Setelah cukup jauh dari Viltus ia langsung bergumam,

"Apa yang dikatakan olehnya memang benar... Aku masih belum dapat melupakan Kaede."

Ia langsung mengeluarkan dua lembar foto dari dalam kantung celananya. Dua foto yang sama. Di sana terdapat seorang gadis dengan rambut putih panjang dan mengenakan kacamata yang terlihat panik dan juga seorang gadis dengan rambut coklat pendek yang berusaha melerai pertengkaran dua pria di belakangnya.

Hayate langsung tersenyum melihat foto usang tersebut dan kemudian menaruhnya kembali ke kantung celananya dan kemudian mengeluarkan bungkus rokoknya. Ia langsung melihatnya sebentar dan melemparnya ke arah tong sampah. Ia langsung berkata,

"Aku salah... Kau benar-benar sudah berubah. Berubah menjadi seseorang yang dapat menyelamatkan orang lain... Tetapi, apakah itu dapat menyelamatkan dirimu sendiri, Kazuki ? Entahlah... Aku akan melihatnya nanti..."


Keesokan paginya.

Hayate berjalan di lorong gedung administrasi dan bertemu dengan Viltus yang baru saja melapor kepada Shiro. Hayate langsung memanggilnya,

"Kazuki !"

"Huh ? Oh... Hayate... Tumben sekali dirimu berkeliaran di sekitar sini." balas Viltus

"Aku sedang melakukan patroli jika ada staff yang mangkir..."

"Dan kau akan mengancam mereka dengan katana yang kau bawa ?"

"Tentu saja."

"Kau merupakan salah satu orang yang tidak ingin kuhadapi mengetahui cara bekerjamu."

"Ahahahahahaha... Begitukah ?"

"Tetapi, apakah kau sudah bekerja dengan benar ? Haruto masih saja kabur..."

"Dia sulit ditangkap mengerti."

Viltus hanya tersenyum saja dan mulai berjalan. Hayate kemudian mengikuti Viltus dari belakang dan berkata,

"Oh..."

"Ada apa ?"

"Apakah nanti malam dirimu kosong ?"

"Dapat dikatakan demikian... Jika mereka tidak melakukan pengecekan ke kamarku sih..." jawab Viltus

"Mereka ?"

"Anggota divisiku..."

"Oh..."

"Jadi... Ada apa ?"

"Kami dari polisi militer akan melakukan acara minum-minum, jika kau tertarik kau dapat datang..."

"Sepertinya itu jebakan..."

"Ada vodka di sana."

"Biarkan diriku masuk." jawab Viltus dengan cepat

Hayate tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Tidak berapa lama, mereka berdua mendengar beberapa Gadis Kapal yang berbisik satu sama lain. Viltus memperhatikan mereka dan mengetahui Viltus melihat mereka, mereka langsung memalingkan wajahnya. Viltus dapat melihat wajah mereka yang merah akan sesuatu dan menyadari sesuatu.

Ia langsung mempercepat langkahnya dan sampai di depan pintu kantornya. Ia langsung membuka pintunya dan melihat Taihou, Yamashiro, Fusou, Shigure, dan Furutaka yang sedang membaca koran dengan wajah merah dan panik pada saat Viltus sudah di sana. Viltus langsung berjalan ke dekat Taihou dan berkata,

"Sesuatu di koran, ya ?"

"Ah... Ini..." jawab Taihou

"Apakah diriku dapat melihatnya ?"

"Ah... Ummm..."

"Taihou ?"

"Tentu saja..."

Taihou memberikan korannya kepada Viltus, sementara Hayate sudah tiba di depan ruangan Viltus dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia dapat melihat tatapan dari Viltus yang berubah menjadi sangat dingin dan juga Taihou yang tertawa kecil. Hayate diam dahulu melihat ke arah Taihou dan kemudian bertanya kepada Viltus,

"Ka... Viltus, ada apa ?"

"Kau harus membaca ini." balas Viltus sembari memberikan koran kepada Hayate

Hayate membaca koran tersebut, sementara Viltus membuka salah satu kabinetnya dan mengeluarkan sebuah senapan dari sana. Hayate melihat ke arah Viltus dan bertanya,

"Kau tahu siapa yang membuat ini ?"

"Tentu saja..." jawab Viltus singkat

"Gadis Kapal ?"

"Iya..."

"Aku khawatir..."

"Elisa berkata bahwa bahkan serangan dari serangan kaliber kecil atau tebasan pedang tidak akan terlalu berpengaruh kepada mereka. Mereka hanya akan cedera parah saja. Cukup dikirim ke dock, maka semuanya kembali normal."

"Mendengar itu... Diriku cukup senang." ujar Hayate sembari menjatuhkan koran tersebut dan menyiapkan katananya.

Hayate dan Viltus tersenyum sadis dan kemudian Viltus berkata,

"Taihou... Aku pergi sebentar."

"Ah... Ba... Baik..." jawab Taihou

Taihou, Yamashiro, Fusou, Shigure, dan Furutaka terlihat sangat ketakutan pada saat melihat senyum dari Hayate dan Viltus yang baru saja keluar. Shigure langsung berkata,

"Taihou... Kau yakin semua akan baik-baik saja ?"

"Tenang saja... Mungkin." jawab Taihou

"Se... Sebaiknya kita mencari Aoba lebih dahulu... Aku khawatir." ujar Furutaka

"Iya... Sebaiknya kalian mencari Aoba dahulu. Diriku akan menunggu di sini." ujar Taihou

Keempat Gadis Kapal lainnya mengangguk dan kemudian keluar dari ruangan tersebut. Taihou melihat ke arah pintu dan mengingat wajah dari Viltus dan Hayate. Ia langsung tersenyum dan berkata,

"Setidaknya... Dia menjadi jauh lebih hidup dari biasanya... Ehehehehe."

Setelah berkata demikian, ia dapat mendengar suara teriakan dari Aoba dan langsung tertawa kembali.