Mari melayang menjelajahi dunia-dunia yang kaya akan ciri khas yang bertolak belakang. Tutup matamu dan biarkan aku menuntunmu ke arah sana.

Pertama ada sebuah dunia dengan warna putih terbentang di seluruh penjuru. Area yang dipenuhi kebahagiaan dan ketenangan.

Di dunia ini biasa disinggahi oleh para manusia yang menghimpun kebaikan ketika ia hidup di dunia. Atau pun oleh para malaikat yang diciptakan God untuk membantu menjalankan dalam mengatur kedamaian.

Dunia ini dinamakan dunia atas atau umat manusia menyebutnya dengan surga.

Ke sisi satunya ada sebuah dunia yang dipenuhi oleh cahaya tamaram dengan warna tak mencolok. Dunia yang penuh nuansa hangat dan dingin bercampur menjadi satu.

Di dunia ini disinggahi oleh para malaikat jatuh yang menolak berada di sisi God. Namun juga menolak berada di sisi Satan.

Dunia ini dinamai dunia tengah atau dunia tempat para fallen angel berada.

Di sisi lain ada satu dunia lagi. Tempat yang paling dikutuk God dan seluruh penghuni dunia atas. Tempat yang penuh dengan nuansa hitam yang pekat dan panasnnya api.

Dunia yang dipenuhi sosok iblis dan mahluk kutukan lainnya. Dunia dengan kekacauan luar biasa dan penyesat manusia.

Inilah dunia bawah atau neraka.

Ketiga dunia yang saling berlawanan ini tak mungkin akur bukan? Bagaimana pun ketiga dunia itu terlalu berbeda.

Suatu saat terjadi sebuah perang. Perang antar tiga dunia yang tak bisa terelakkan.

Berharap dengan perang ini ketiga Lord akan mengetahui siapa yang paling benar, siapa yang paling berkuasa, dan siapa yang paling kuat.

Namun suatu saat, perang tiada akhir itu terhentikan. Terhentikan oleh sebuah sosok yang muncul tiba-tiba di tengah perperangan.

Sosok yang mengibarkan bendera perang ke tiga dunia.

Hanya satu sosok. Sosok yang para Lord ketahui sebagai manusia terkotor yang pernah ada. Manusia yang menyembah seluruh Lord namun akhirnya mencampakannya.

"Apa maumu?"

Pertanyaan yang God tanyakan.

Sosok itu tersenyum miring.

"Aku yang paling benar. God, kau memang yang pertama diciptakan. Tapi kehampaanlah yang menciptakanmu."

Sosok itu menunjuk God dengan telunjuknya. Telunjuk yang akhirnya terpotong oleh pedang angel Michael.

"Jaga tata lakumu!" Kata Michael saat itu.

Sosok itu semakin melebarkan senyumnya. Dengan jari mengacung ke atas ia berteriak kencang…

"God, Azazel, Satan. Aku mengutuk kalian! Tak akan ada dari kalian yang meninggalkan dunia kalian. Tangan kalian tak akan bisa menyentuhku, untuk selamanya..."

Bersamaan dengan itu kilat menyambar. Kehampaan yang menjadi tempat ketiga dunia berperang yang memang kacau telah menjadi makin kacau. Sosok- sosok aneh mulai bangkit dari aliran sungai pekat di bawah sana.

Seperti ada yang menarik diri mereka, Ketiga Lord tertarik keluar dari dunia itu. Menuju ketiga penjuru tempat dimana dunia mereka berada.

Para pasukan yang masih berdiam di tempat itu melawan sebisa mungkin.

Dan kala ketiga jendral masing-masing dunia meniup terompet tanda mundurnya pasukan, kehampaan masih dalam keadaan berkembang.

Sejak saat itu ketiga Lord sama-sama mengutus tangan kanan mereka untuk bertemu. Percayalah bahwa God, Azazel, dan Satan sama-sama mencoba untuk keluar dari dunia mereka. Namun sebuah jeratan tak kasat mata mengekang mereka dan menarik mereka dengan kuat.

Banyak hal yang dibicarakan dan diputuskan di pertemuan itu.

Mereka akan berdamai untuk saat ini. Memikirkan cara terbaik untuk melawan sosok yang mereka sebut 'kegelapan'.

Kegelapan sebenarnya nama lain Satan. Namun Satan menganggap dirinya benar. Begitupula dengan Azazel dan God. Mereka adalah cahaya di persepsi mereka masing-masing.

Saat itulah diputuskan untuk menciptakan manusia-manusia pilihan dengan kekuatan khusus. Dimana setiap sosok dari satu dunia akan menjadi sumber dari satu keluarga.

Keluarga master, begitulah mereka disebut.

Mereka memiliki tugas utama untuk menghancurkan kegelapan yang muncul dalam bentuk abstrak mau pun dalam bentuk sebuah keluarga master. Mungkin sebagai contoh adalah keluarga Lamnabuste yang Preator kalah kan saat itu.

Sudah banyak manusia-manusia yang disebut master itu. Namun kegelapan belum juga musnah.

Setiap 500 tahun, kekuatan kegelapan akan mencapai puncak. Itu yang ketiga Lord tangkap dari beribu tahun yang telah mereka lewati. Puncak kegelapan ini lah yang dinamakan The Last.

Ketika keluarga master bernama Delhi, Redfield, dan Swakhurtarap terpilih untuk The Last, ketiga keluarga itu berhasil mengunci master kegelapan dalam segel terlarang. Segel itu telah menghabiskan 17 nyawa. Hanya 4 sosok yang tersisa yang kembali ke dunia manusia dengan selamat.

Namun tetap saja, kegelapan tersegel bukan lenyap.

"Aku sudah menciptakan master yang baru, God, Azazel. Ini dari benihku sendiri." Ucap Satan.

Ketiga Lord berkomunikasi lewat cermin besar. Cermin yang terletak di belakang ketiga tangan kanan mereka yang duduk di sebuah meja bundar.

Hanya ada tiga sosok disana namun meja itu amat sangat kekurangan orang untuk ditempati.

"Entah mengapa aku punya sebuah ide gila, Satan, God." Kata Azazel kini.

Ide yang dimaksud adalah menggabungkan seluruh elemen ketiga Lord untuk master baru ini.

"Mereka sudah spesial karena adalah anakku sendiri. Namun jika kekuatan kita digabungkan, tubuh Arch lah nantinya yang akan rusak oleh energi setiap anggota. Kita harus mencari wadah jiwa untuk Arch master yang baru." Kata Satan.

"Kita harus mencari jalan keluar." Kata God.

Di tengah perundingan itu muncul sosok yang sama sekali tak terduga.

Ia yang dijuluki sosok tertenang, teradil, dan terbijaksana di seluruh dunia. Manusia yang diangkat menjadi hakim tertinggi di persimpangan 5 dunia.

"Maafkan kedatangan hamba yang mengejutkan Lord sekalian…" Ucap sang hakim dengan penuh hormat.

"Jelaskan kedatanganmu, Hakim Preator." Kata Angel Michael.

Sang hakim yang tak banyak berekspresi itu mengangguk.

Ia mengatakan hal yang luar biasa membuat keenam sosok disana berpikir dua kali.

"Kau yakin, hakim Preator? Aku tahu Sasaeng telah mengutukmu menanggung bibit kegelapan, tapi hal ini akan membuat kewenanganmu menurun dan terbagi dengan Arch master ini." Kata iblis Astaroth.

Sang hakim mengangguk tanpa keraguan.

"Dengan menjadikan tubuhku wadah, aku yakin dengan keputusanku. Ditambah bukankah akan lebih mudah nantinya untuk keluarga ini menghancurkan kegelapan? Yang akan memimpin penghakiman adalah arwahku. Namun tubuhku akan menjadi wadah baginya."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kita akan mulai pemberkatan untuk anak pertama…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terdapat tujuh buah kristal bening di hadapan Satan kini. Namun ia hanya memanggil enam iblis yang selalu menemaninya untuk bertemu di singgahsana kerajaan.

"Astaroth. Kau akan menjaga putra tertuaku. Lindungi dia dengan segenap jiwamu.

Belphegor, anak keduaku adalah Joker dan ia akan mendapatkan berkah dari Azrael. Buat kemalasan dalam dirinya muncul agar tidak semena-mena menggunakan kekuatannya.

Amon, jaga anak ketigaku. Sebagai The Important kemarahan akan sangat diperlukan. Tolong jaga ia.

Mammon… Kau akan menjadi penjaga untuk anak kelimaku. Kau iblis keserakahan, buat ia memiliki passion dalam bertarung.

Behemoth, kekerasan akan sangat dibutuhkan oleh anak keenamku. Ia adalah Guardian, buat ia memiliki keterampilan yang hebat dalam melaksanakan tugasnya.

Dan Asmodeus, kau akan menjadi pemicu passion untuk anak bungsuku."

Masing- masing iblis memberikan setengah jiwa mereka. Memberikan dengan sukarela ke dalam kristal- kristal itu.

"Nah, putraku… Silakan menuju dunia tengah…"

Dengan itu ketujuh kristal itu melayang terbang. Menghilang di antara gelapnya langit.

Mereka melayang hingga sampai di depan singgahsana sosok dengan tujuh sayap agung berwarna kelabu.

"Oh, jadi ini?"

Sosok itu tersenyum tipis lalu mengenggam salah satu dari ketujuh kristal itu.

"Kristal keempat… Kuberikan kau kekuatanku langsung. Jadilah sumber ilmu pengetahuan yang hebat."

Ketujug kristal itu melayang lagi menuju ke dunia atas.

Sejenak, sosok penuh cahaya tanpa bentuk yang jelas itu terdiam memandang ketujuh kristal.

"Michael… Panggil Seraphin, Raphael, Azazel, Gabriel, Uriel, dan… Raziel."

"Raziel? Anda yakin?" Tanya sang malaikat agung.

"Tentu saja…"

Tak beberapa lama keenam malaikat kelas tinggi itu berkumpul di hadapan God.

Hanya satu yang belum muncul dan itu adalah Raziel.

"Uriel, berikan berkah secerah matahari pada anak ketujuh. Ia akan memiliki cahaya surga di setiap langkahnya.

Gabriel, berikan berkah kekuatan pada anak keenam. Ia harus melindungi keluarganya sehingga ia membutuhkanmu.

Michael, berikan berkah peperanganmu pada anak kelima. Ia akan mendukung anak kedua dan anak ketiga nantinya.

Seraphin, berikan berkah kebajikan kepada anak keempat. Ia harus memilikinya untuk membantu dirinya dan keluarganya.

Raphael, berikan berkah penyembuhan kepada anak ketiga. The Important dan kau adalah perpaduan yang indah.

Azazel, berikan berkah pencabutan nyawa pada anak kedua. Ia akan mendukung Arch dan menjadi hal yang tak terduga bagi keluarganya.

Dan Raziel…."

Sosok Raziel muncul secara tiba-tiba di hadapan keenam malaikat dan sang Lord itu.

"Berikan berkah yang kau inginkan kepada anak pertama."

Setiap malaikat menyalurkan kekuatan mereka. Kala para malaikat usai memancarkan cahaya terang di kristal itu, sebuah detakan teratur terasa di kristal itu.

"Silakan menuju persimpangan, wahai anak-anakku." Ucap God.

Kristal itu kini melayang menuju persimpangan 5 dunia.

Sang hakim memang sudah menunggu kedatangan ketujuh kristal itu. Ia memejamkan matanya. Sekilas ia terlihat kelelahan di kursi agungnya.

Sang hakim menyalurkan dirinya pada kristal pertama. Itu menyebabkan kristal pertama terlapisi oleh sebuah kristal bening lainnya.

"Kembalilah pada ayah kalian."

Dan dengan itu anak pertama siap dilahirkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa hakim dikutuk oleh kegelapan? Aku sama sekali tak mengerti." Kata Jeonghan.

Memang tak terdengar seperti pertanyaan karena Jeonghan tak menggunakan nada yang benar.

Sang malaikat tersenyum. Walau senyumannya hanya tergambarkan pada matanya.

"Dikatakan bahwa yang pertama tercipta adalah God. Namun apakah itu benar?

90% manusia berpikir bahwa pusat segalanya adalah God. Namun kami mengetahui dengan pasti. Pusat segalanya adalah sang hakim. Ia yang menentukan posisi tiap insan. Bahkan mungkin saja ia yang mentukan bahwa God berada di dunia atas, bukan tengah, maupun bawah. Bisa kau bayangkan jika hakim tak ada?"

Jeonghan terdiam.

"Maka keseimbangan akan hancur." Kata Jeonghan seolah melanjutkan kalimat Raziel.

"Aku ingin meluruskan pemahamanmu tentang setengahnya hakim pada dirimu. Pembagiannya bukan benar-benar setengah melainkan pembagian antara raga dan arwah. Raga hakim seutuhnya menjadi ragamu. Dan lagi, hakim telah bersatu denganmu ketika kau menapakan kaki di persimpangan. Jeonghan, aku tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini. Aku hanya ingin mengatakan, pengganti hakim amat sangat susah untuk dicari. Kau mengerti maksudku?"

Jeonghan menatap ke arah lain.

Ia tak punya pilihan selain yang ada di otaknya saat ini.

"Aku hanya memberikanmu pertimbangan. Berkahku adalah bahwa kau bisa bertemu denganku langsung. Walau hanya akan terjadi sekali seumur hidupmu. Jadi gunakan dengan sebaik mungkin."

Jeonghan kini menatap malaikat dengan sepasang sayap agung itu.

"Aku sudah menggunakannya sebaik mungkin, Raziel. Aku telah tahu kenapa aku dilahirkan. Dan kini, aku akan mengakhirinya." Kata Jeonghan.

Malaikat Raziel mengangguk. Ia tak bisa memaksakan kehendaknya kepada sosok di sampingnya ini.

Dan dengan satu gerakan, Jeonghan sudah kembali ke persimpangan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku akan masuk."

Itulah kalimat pertama yang diucapkan Jeonghan kala ia muncul di persimpangan kembali. Kalimat yang membuat Jisoo melontarkan serbuan protes.

Jeonghan tak acuh atas apa yang Jisoo ucapkan. Ia hanya melangkahkan kakinya masuk ke gerbang kehampaan.

Tepat sebelum Jeonghan melompat masuk, Jisoo meraih tanganya ikut masuk ke dunia itu.

Seungcheol dan Samuel hanya saling mengangguk lalu ikut masuk ke dalam gerbang.

"Aku berharap semuanya segera berakhir." Harap Jisoo.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Selamat datang..."