Sudah lama sekali ia memutuskan untuk meninggalkan semua kenangan-kenangan menyenangkan, kemudian membalut dirinya sendiri dalam perasaan sakit dan terluka. Hermione bersama Draco adalah suatu hal yang mustahil. Tak bisa diwujudkan. Menyalahi aturan. Bukankah mereka sama-sama manusia? Kenapa harus ada dinding pemisah? Persetan dengan darah penyihir yang mengalir di dalam nadi, Hermione tidak bisa menerima semua alasan yang memisahkan mereka berdua.

Tapi, air mata itu jatuh untuk semua alasan itu. Mengalir membasahi tekstur pipinya. Ia menggigit bibir menahan semua kemarahan yang memaksa keluar dari tenggorokannya. Kedua tangannya mengepal erat. Hermione menutup kuat kedua matanya.

Perasaan cinta dan sayang yang menyatu di dalam hatinya adalah kesalahan Draco. Seharusnya mereka tidak berubah. Seharusnya mereka tidak memutuskan untuk berjalan di jalan takdir yang menghubungkan mereka berdua. Tapi, Draco yang sok dan Hermione yang tidak mau kalah berani bermain-main, sedikit demi sedikit memberikan jejak. Sejak awal, semuanya adalah kesalahan Draco.

Tapi, senyum Draco ada karena takdir yang merubah perasaan mereka. Tatapannya yang hangat. Sentuhannya yang lembut dan jahil. Membagi lirikan isyarat. Dan pertemuan rahasia. Tawa dan senyum itu seolah ada dalam musik latar yang tenang. Seperti ketika Draco memejamkan kedua matanya saat menggenggam pipinya. Hermione hanya bisa tertegun dan berpikir bahwa saat itu ia tengah bermimpi. Karena, Draco...menjadi sosok yang sangat berbeda dari sebelumnya.


"Aku tidak peduli lagi dengan masa lalu, saat ini aku benar-benar sangat mencintaimu! !"

"Kau benar-benar jujur hari ini, Draco."

"Hermione, Hermione, katakan apapun yang kau inginkan, aku tidak peduli lagi."

"Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan pedui lagi."

"Jadi, kau juga akan mengatakannya?"

"Ya, Draco. Aku sangat mencintaimu. Kau tidak bisa melihat sebesar apa perasaanku. Ah! Mungkinkah seukuran biji ek ini?"


Mungkin, Hermione terlalu egois, menimpakan semua kesalahan pada Draco seorang. Karena, dia pun ikut bertanggung jawab. Semuanya hanyalah benih tertuai. Mereka hanya bisa menyalahkan diri sendiri.

Dan Draco...apa kau muak?

Dan Hermione...apa kau juga muak?


"Terserah. Aku tak peduli lagi. Hiduplah sesukamu, mudblood."

"Lebih baik begini..."


Butuh waktu lama bagi Draco untuk bisa melupakan perpisahan itu. Butuh waktu lama agar ia bisa bersikap cuek dan dingin ketika bertemu dengannya. Di sepanjang waktu yang lama itu, Draco mengutuk diri sendiri. Marah terhadap keegoisannya dan kekasarannya. Marah terhadap semua perlakuan kasar yang ia berikan pada gadis itu. Marah terhadap dirinya yang lemah dan memutuskan hubungan mereka. Semua kemarahan itu hanya untuk dirinya saja. Untuk meratapi kepingan-kepingan yang tersisa di jalan takdir. Ketika ia tahu bahwa

Hermione tidak pernah menoleh setelah beranjak pergi, menuju jalan yang berbeda.

"Aku bertanya, Hermione, apa kau muak?" (Hermione, aku muak dengan semua rahasia-rahasia baru yang tak pernah kau ceritakan, yang biarpun dengan kesabaranku, aku tak yakin mampu menunggu lebih lama lagi.)

Hermione tidak melihat apa yang Draco lihat. Dia tidak memahami apa yang Draco pahami.

"Katakan, Hermione, kenapa kau berubah?" (Hermione, aku berusaha sebisa mungkin agar tidak berubah terlalu jauh hingga perasaanku hilang seperti yang apa yang terjadi pada dirimu saat ini.)

Tatapan dingin. Ucapan kasar. Draco terluka di setiap hinaan yang keluar dari bibirnya sendiri. Tapi, Hermione tidak merasakannya. Tidak melihatnya. Gadis itu memilih diam atau memalingkan wajahnya.

"Hermione..."

Waktu berjalan, tapi Draco memilih tetap tinggal. Bersama keyakinan semu bahwa suatu saat nanti Hermione akan datang kembali padanya. Akan meminta perhatiannya kembali. Akan bersama dengannya lagi. Dan waktu terus berjalan. Akan tetapi, Hermione masih memunggunginya.

"Jawablah, Hermione..."

Draco tidak melihat apa yang Hermione lihat. Dia tidak memahami apa yang Hermione pahami.

Bersama hari yang berganti, senyum gadis itu perlahan memudar kemudian berubah. Kini ada topeng di wajah cantik itu. Sedikit demi sedikit ia melangkah menjauh dengan hati-hati. Kini ada tabir yang menyamarkan keberadaannya. Biarpun ia tahu ada orang-orang yang menunggunya untuk menoleh, Hermione tidak akan melakukannya. Ia tidak boleh goyah.

"Draco... kau pasti muak, 'kan?" (Maaf.) —Hermione tidak menjelaskan alasannya.—

Draco tidak merasakan apa yang Hermione rasakan.

Tatapan dingin. Ucapan kasar. Hermione menahan kegetiran dan denyut menyakitkan di dadanya. Kehadiran gadis lain di sisi Draco menambah perih luka di hatinya. Membuatnya berdarah setelah menaburkan garam di dalamnya. Kini ia tahu, Draco tidak menunggunya. Atau mungkin tidak pernah menunggunya.

Hermione tidak tahu.

Dia tidak tahu. Draco meniti jejaknya dan memunguti setiap serpihan perasaan yang ia tinggalkan. Agar suatu saat nanti, ketika Hermione berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali, Draco bisa mengembalikannya dan mengisi wadahnya hingga penuh dan tanpa celah.

Dan kemudian,

"...kita masih bisa bersama, 'kan?"

Hermione akan mencintainya lagi.

.

.

Four Souls

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

Line 37: TheQuestion and The Truth

.

.

Malam itu badai salju melanda kota. Hermione menutup paksa payungnya sembari mendorong pintu dengan punggungnya. Segenggam salju terjatuh ke lantai dan meleleh karena pemanas yang dinyalakan.

"Aku pulang, dad, mooom!" serunya saat menggantung mantel merah favoritnya. Sepatu botnya ditaruh di rak. Tangannya menarik muffler yang melilit di lehernya. Waktu itu, semuanya berjalan biasa seperti rutinitas sebelumnya. Akan tetapi, ia menyadari bahwa keheningan asing merayap di dalam rumahnya. Lalu, ia melihat ayah dan ibunya memandangnya penuh dengan antisipasi dan kecemasan yang jelas. Kemudian, keluarga lain yang tak pernah ia harapkan berada di dalam kediamannya.

Malfoy.

Lucius Malfoy tetap tidak berubah dimanapun ia berada. Dengan dagu terangkat tinggi dan sorot mata yang angkuh. Istrinya, —itu pertama kali Hermione bertemu muka— Narcissa Malfoy, walaupun gerak-geriknya agak tegang, walaupun dengan kearoganan Malfoy yang tidak asing, masih memiliki kendali untuk menyambutnya dengan senyum kecil. Dan terakhir, Draco Malfoy. Menatapnya tajam dan dingin dari sudut matanya. Hermione berpikir warna matanya mencerminkan awan kelam di atas langit malam itu.

Semuanya begitu dingin dan menyesakkan.

Semuanya begitu hening dan menyumbat pernafasannya.

Rasanya mengerikan.

Lucius Malfoy menarik pandangannya, tatapannya berpaling pada kedua orangtuanya. Hermione menyadari bahwa sinar mata sang ayah mendadak lenyap dan raut wajahnya pasrah. Seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh Mr. Malfoy di sana. Tentu saja. Karena, laki-laki sombong itu hanya mengulang ucapannya. Agar Hermione mendengarnya.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya," katanya, "untuk membayar seluruh uang yang kalian pinjam, anak kalian harus menikah dengan anakku."

Hermione membeku. Jutaan batu-bata seolah tanpa henti menimpa dan menimbunnya ke dalam tanah. Ia menganggap bahwa Lucius sudah gila. Ayah Malfoy perlu dibawa ke rumah sakit jiwa. Ada virus berbahaya yang menjangkiti seluruh keluarga Malfoy. Satu keluarga ini perlu cuci darah dan disterilkan dengan disinfektan. Sekalian saja dimusnahkan!

Saat itu, kepalanya cukup pusing untuk membuatnya pingsan di tempat. Ia tidak tahu apakah ini yang namanya lari dari situasi dengan cara yang alami dan tak terduga. Tapi, setidaknya, keluarga Malfoy memutuskan untuk pulang sampai kedua orangtuanya menjelaskan duduk perkara pada sang anak.

Yang saat itu masih berumur 13 tahun.

Yang akan dinikahkan pada seorang anak laki-laki (ya ampun, kenapa harus dia!?) yang berumur 1 tahun lebih muda darinya.

Kini ia tahu kenapa tatapan Malfoy lebih tajam dan berbahaya dari biasanya.

.

.

Semua kenyataan yang keluar dari mulut orangtuanya bukanlah hal yang mudah terima olehnya. Hermione menangis dan meraung di pelukan ibunya. Ia tahu bahwa ayah dan ibunya tidak rela. Rasa sakit di hatinya semakin menjadi ketika tahu bahwa dirinya sendiri pun tak bisa menemukan jalan keluar dari keabsurd-an keluarga Malfoy.

Hingga akhirnya keluarga Malfoy berpikir bahwa waktu yang diberikan sudah lebih dari cukup. Mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mereka tidak pernah menjelaskan alasan. Seluruh alasan seolah hanya diketahui oleh kedua orangtua mereka saja. Hermione tahu alasan yang ada hanyalah tentang utang, tapi ia rasa alasannya lebih serius daripada itu.

Kemudian, Janji Ikat itu terjadi. Hermione merasakan Malfoy mencengkeram lengannya lebih kuat dan kasar. Geretakan giginya dan tatapan mengerikan itu dipersembahkan padanya. Sihir telah mengikat mereka berdua untuk tetap bersama. Setelah itu, Malfoy sekalipun tidak melihatnya, seperti halnya Hermione padanya. Mereka menjadi merasa lebih asing daripada sebelumnya. Dan melanjutkan tahun kedua di Hogwarts seolah mereka tidak saling mengenal.

Berbulan-bulan lamanya mereka saling menghindari. Di setiap kelas, Hermione selalu yang pertama keluar ruangan, kemudian Draco menunggu beberapa saat sebelum ikut keluar ruangan. Sebisa mungkin mengambil tempat duduk terjauh. Sejarang mungkin bertemu di lorong. Hingga suatu ketika, Polyjuice menjelma menjadi satu hal yang menghubungkan mereka berdua.


"Ap—apa, Granger! ? Ini kau! ? Ahahaha!"

"AAAH! Malfooyy!"


Senyum yang hilang. Tatapan yang sirna. Dulu, Draco tak pernah menunjukkan senyum ataupun tawa rileks itu di wajahnya. Namun, sekarang adalah kejutan berkat ramuan Polyjuice sialan yang memberinya rupa kucing. Draco habis-habisan menggodanya, sementara Hermione menyembunyikan wajah merah, air mata, dan rasa terhina itu di balik jubahnya. Selama itu, ia menyadari bahwa Draco tidak meninggalkannya. Seolah bersama-sama menjaga rahasia itu dari mata orang lain.

Walaupun ketika ramuan itu menghilang, walaupun kedua orang itu kembali bersikap dingin, mereka berdua tahu bahwa ada yang bergerak di hati. Dan bisikan-bisikan ilusi yang terus mengingatkan, di setiap pertemuan setelah kejadian itu, 'semua tak akan sama lagi.'

Dan memang benar, sejak saat itu perbuahan-perubahan manis itu terjadi. Di setiap pertemuan tak sengaja yang merekahkan senyum tipis penuh rahasia di bibir. Sentuhan-sentuhan dan gestur-gestur isyarat. Kemudian, Hermione mengusulkan dengan nada bercanda agar sekalian saja mereka memperbarui perjanjian. Draco lantas menanggapinya dengan serius, berpikir bahwa itu adalah ide yang bagus. Dan dia berpikir bahwa mereka memang membutuhkannya.

Penjanjian yang baru.

Walaupun tidak benar-benar melibatkan sihir, tapi mereka berusaha semirip mungkin. Dan menguncinya dengan Draco yang mengecup lembut kening Hermione, di bawah bintang yang bertaburan. Di bawah gugusan-gugusan bintang yang indah. Di bawah bulan yang melingkar penuh di langit. Saat itu, kunang-kunang serempak menampakkan diri dari dalam kegelapan. Hutan Terlarang mungkin bukan pilihan yang tepat, tapi mereka berdua menghargainya sebagai saksi bisu yang berharga.


"Akan kuingat ini untuk upacara pernikahan kita."

"Aah! Hentikaan, memalukan sekali saat kau membahasnya!"


Hermione merasakan apa yang Draco rasakan.

Draco memahami apa yang Hermione pahami.

Satu dua tahun setelahnya adalah kenangan yang berharga. Hingga tahun keempat datang dengan hari-hari dimana keganjilan perlahan muncul dan menyadarkan mereka bahwa semuanya akan berubah. Draco berusaha. Hermione berusaha. Sendiri-sendiri. Masing-masing. Tanpa sadar, mereka berjalan terpisah terlalu jauh.

Draco menyadari bahwa Hermione sudah pergi terlalu jauh dari jangkauan tangannya.

Hermione menyadari bahwa Draco sudah pergi terlalu jauh sesuai apa yang ia inginkan.

Draco tidak merasakan apa yang Hermione rasakan.

Hermione tidak memahami apa yang Draco pahami.

Mereka sudah berubah. Hermione tidak menoleh ke jalan takdir mereka berdua. Ia tidak menyadari bahwa Draco menunggunya di sana, menatap punggungnya penuh rindu. Penuh kesabaran yang tidak biasa. Yang berbeda dari yang terakhir. Hermione tidak tahu Draco meniti setiap jejaknya. Sambil terus berharap.

Mereka telah berubah. Draco telah memutuskan solusi atas kebimbangannya. Hermione tidak bisa berbuat apa-apa ketika pewaris Malfoy itu memutuskan hubungan, walaupun sama sekali tidak memutuskan perjanjian sihir yang mengikat mereka berdua. Hermione tahu cepat atau lambat, perjanjian sihir itu juga akan dikikis habis ke akarnya. Dan mereka akan kembali bersikap seperti orang asing. Draco tidak tahu Hermione harus bersikap tegar demi mereka berdua. Tidak goyah agar tidak perlu mengorbankan siapa pun. Tidak perlu melukai siapapun seperti halnya Cecilia Lovegood ketika ia meninggalkan Xenophilius dan Luna dengan kematiannya. Hermione mendekap tekadnya demi keselamatan semua orang dan Draco sendiri.

Draco tidak tahu itu.

Atau sebenarnya dia sudah bisa menebaknya?

Karena, Valerie Reverie membeberkan rahasia di setiap lelehan es beku di musim yang tidak biasa. Memberikan kenyataan-kenyataan tidak masuk akal tentang wadah Roh, Pencuri Roh, Pemakan Roh, dan segala hal yang tidak ia mengerti. Hingga ia sadar bahwa semua kejadian-kejadian aneh, perubahan sikap Pansy, Hermione yang menjauh, dan kemunculan dua orang yang tak pernah ia lihat sebelumnya, semua itu saling terhubung.

Kebenaran itu adalah rahasia-rahasia Hermione. Draco tidak mungkin tenang setelah tahu bahwa Hermione sengaja menjauh agar dirinya tidak terlibat. Valerie Reverie membuka identitasnya. Memberitahukan tujuan keberadaannya dan apa yang diperintahkan padanya. Valerie Reverie pun memberikannya pilihan.

Nyawa Hermione.

Atau nyawanya sendiri.

Draco merelakan jiwanya untuk dipermainkan oleh Valerie Reverie. Saat itu Valerie tertawa kecil dengan nada penuh ironi. Dengan nada rendah yang sama sekali tidak mirip dengan suara perempuan.


"Semua karena perempuan itu egois."


Valerie selalu mengatakan hal yang sama. Tapi, Draco tidak pernah menanyakannya. Hingga lama akhirnya ia setuju dengannya. Mungkin Hermione memang terlalu egois. Kini Draco pun menjadi orang yang egois. Mereka sudah berdiri di jalan yang berbeda.

Hermione berusaha sendiri.

Draco berusaha sendiri.

Mereka sudah menjadi orang yang egois.

Dan Draco tak perlu seseorang, terlebih Valerie Reverie, untuk mengatakan kenyataan itu padanya. Kenyataan itu menamparnya dengan keras, berusaha menyadarkannya agar membiarkan salah satu dari mereka untuk berhenti.

Menyerah. Agar semua usaha-usaha itu tidak berakhir sia-sia. Tapi, Hermione tidak akan menjadi pihak yang menyerah. Hermione tidak tahu apa-apa. Akan tetapi, Draco Malfoy berpikir akan lebih sia-sia lagi jika ia membiarkan Hermione berjuang sendiri.

Valerie Reverie seolah berperan sebagai pengamat. Ia bertanya dan Draco tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa arti dari semua usaha kalian berdua,

jika salah satunya mati?"


Draco Malfoy tidak menemukan jawaban. Sementara waktu terus bergerak. Valerie Reverie terus mengonsumsi jiwanya seperti ciuman Dementor. Sedikit demi sedikit. Hingga rasanya mau mati saja.

Ketika Draco menatap kanopi ranjangnya dengan tatapan tidak fokus. Ia berpikir,

"Kalau aku mati, siapa yang akan mengembalikan perasaan terbuang yang telah kukumpulkan ini? Jika ini tidak kembali pada pemiliknya, maka Hermione tidak bisa mencintaiku."

.

.

Tangan hangat yang menyentuh pipinya saat itu, yang menangkup tangannya saat itu...

Hermione,

"...kita masih bisa bersama, 'kan?"

xxx

"Malfoy!"

Entah sejak kapan, Eternity memutuskan untuk menjadi pengamat. Dengan keberadaan samar dan tidak terasa, ia menonton semua drama antara seorang laki-laki dan perempuan. Mungkin ia tertarik dengan Draco Malfoy dan wadah Roh Udara. Atau mungkin mereka berdua mengingatkannya pada masa lalu mengenai dirinya dan 'gadis itu'.

"Bangun, Malfoy! !"

Ia melihat wadah Roh Udara menjerit di depan tubuh Draco Malfoy. Jika ditanya apakah wadah Roh Udara sama seperti 'gadis itu', maka Eternity akan diam seribu bahasa. Jika ditanya apakah Draco Malfoy mirip dengannya, maka dia akan menjawab tidak. Draco tidak ingin menyerah terhadap keputusan wadah Roh Udara, sementara Eternity menyerah terhadap keputusan 'sang gadis'.


"...elstein."


Beberapa murid laki-laki yang lebih tua mengangkat dan membawa Draco Malfoy ke Hospital Wing. Wadah Roh Udara menyusul di belakang. Dengan kepanikan luar biasa di setiap gerak-geriknya. Menggigit bibirnya seolah akan menangis. Dengan mata berkaca-kaca.

Eternity menonton adegan itu dengan tatapan nanar. Berpikir, apakah ini yang ingin dihindari oleh 'sang gadis'? Apakah dulu keadaannya sendiri juga memang sama seperti wadah Roh Udara saat ini?


"...Edelstein."


Sepasang permata beku tak teralih dari adegan selanjutnya. Dengan setting tempat yang berbeda. Wadah Roh Udara yang menunggu dengan sabar ketika matron rumah sakit memeriksa Draco Malfoy. Sorot mata khawatir itu. Apakah 'gadis itu' akan memperlihatkan wajah yang sama jika... jika.


"...sh Edelstein."


Draco Malfoy tak pernah menjawab pertanyaannya tentang kemungkinan jika salah satu dari mereka mati. Eternity tahu bahwa anak itu tak pernah memikirkan konsekuensinya. Mungkinkah dia lupa apa yang sebenarnya dia dan wadah Roh Udara perjuangkan? Mungkin iya. Dan pertanyaan itu menyadarkan Draco Malfoy tujuan sebenarnya dari usaha mereka. Yakni demi keselamatan kedua belah pihak.


"Aku... namaku... Vash Edelstein. Frau...?"


Eternity tertarik untuk melihat akhir apa yang menunggu di ujung cerita mereka. Ia menunggu dan bayangan akan dirinya di masa lalu terus terlintas di dalam pikirannya. Draco Malfoy tidak menyerah, tapi konsekuensinya begitu besar. Eternity ingin melihat konsekuensi apa yang ia lewatkan di masa lalu, jika ia memilih hal yang sama seperti Draco Malfoy. Apa yang akan terjadi? Apakah semua akan berakhir dengan bahagia?


"Vivianna Revërie, Herr Edelstein."

Gadis blonde berpita hitam itu tersenyum tipis dan misterius.


forte piano, perdendosi, crescendo, sforzando, allegratto, smorzzande, andante, adagio. Apakah musik bisa menggambarkan drama ini? Eternity menggerakan jari-jemarinya. Memainkan piano imajiner dengan mata terpejam. Kemudian, sepasang manik biru pucat melankolis perlahan terbuka di dalam kegelapan.

"Nah, Frau Vivianna-ku tersayang, Vivianna-ku yang egois... biar kuceritakan kisah kita. Tentang keegoisanmu. Tentang pilihanku. Tentang dunia yang berbeda." Ia merentangkan kedua tangannya, menatap langit dalam kehampaan. "Agar kita tahu apakah kisah itu memang terulang hari ini. Atau tidak."

Seratus tahun yang lalu.

Ruang musik nomor 3 di sayap barat sekolah putri Bloomswetcher, Wina.

Ruangan yang menyimpan kisah dan membalutnya dalam lantunan nada piano.

Bermula dari kisah Piano Terkutuk.

Hantu Piano dan Pianis-jenius-eksentrik.

Selanjutnya,

Hantu Piano dan wadah Roh Air.

Dan terakhir,

Pemakan Roh Air.

"Anda sangat menarik, Herr Edelstein."

"...Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi jika apapun yang kau katakan itu adalah pujian, aku berterima kasih, Frau."

"Anda...ah, baiklah, kau boleh memanggilku 'Vivianna'—"

"Frau! Hal itu—"

"—dan aku akan memanggilmu 'Vash'."

"—tidak baik un...tuk..."

"Tenang, Vash. Kau tak perlu mencemaskan pandangan masyarakat tentang sikapku. Lagipula, kau juga sudah tidak hidup, 'kan?"

"...Kau benar, tapi..."

"Tapi?"

"...Aku tidak mengerti. Kau benar-benar Fräulein yang aneh."

Gadis itu tersenyum samar, "semua orang mengatakannya, Vash."

.

.

Bagaimana kita harus memulai kisah itu, hm? Ah, benar. Kita mulai saja dari penyebab pertemuan kita. Piano kesayanganku yang tetap kumainkan tak peduli dengan kenyataan bahwa aku tak lagi hidup. Juga sikap acuh yang membawaku dalam kemalanganku sendiri—ralat, kemalangan kita berdua. Meine Vivianna, maafkan aku. Meine liebe...

"Jadi, bunyi piano itu... ah, aku memang sudah menduganya. Cerita hantu konyol ini tidak menarik lagi."

"Kau...bicara padaku?"

"Tentu saja. Siapa lagi yang bisa kuajak bicara di ruangan muram ini selain Anda, Herr?"

"...Kau bisa..melihatku?"

"Pertanyaan klise. Aku tidak lagi melayani pertanyaan seperti itu. Guten Nacht, Herr."

Gelombang rambut blonde berombak itu hilang di balik pintu yang tertutup. Meninggalkan satu sosok transparan tertegun di bangku piano.

.

.

Aku sudah mati sejak kapan? Ah, aku tak lagi ingat semuanya. Kita mulai saja kisah kedua, yang kupikir paling kau suka, karena di kisah yang satu ini, sama sekali tak ada keresahan yang mengganggu hatimu. Kita baik-baik saja. Kau yang eksentrik, kau yang jenius, permainan pianomu sangat indah. Aku nyaris terbawa ke masa lalu, karena begitu miripnya dengan permainan seorang pianis tersohor di zamanku dulu. Kapan? Ah, aku sudah lupa kapan tepatnya. Maafkan aku, meine liebe...

"Kenapa berhenti? Tak usah pedulikan aku. Anggap saja aku bagian dari perabotan atau alat musik sekalian. Silahkan Anda lanjutkan, Herr...ah, tidak, bukankah kita sudah sepakat untuk mengabaikan formalitas. Benar, 'kan, Vash?

"Fraulëin aneh, kau tidak cukup sopan untuk gadis seusiamu. Kau bahkan tidak pantas lagi disebut anak-anak. Dan jangan mengarang cerita, aku tidak pernah menyepakati apa pun denganmu."

"Kau boleh bicara jelek tentangku di belakang, tapi jangan di depanku. Hatiku terlalu sensitif untuk mendengarnya."

"Sifatmu benar-benar buruk. Kau sangat mengganggu."

"Aku tidak terkejut kau mengatakannya. Baiklah, apakah aku harus mencekikmu hingga kata-kata manis keluar dari mulutmu seperti yang kulakukan pada semua orang?"

"Itu tidak berguna, aku sudah mati."

"Vash, kau terlalu cepat menyimpulkan. Aku pasti sudah dipenjara kalau melakukannya. Kalimat konotasi memang menyenangkan, aku bisa membuat semua orang tampak bodoh dan konyol."

"Frau Revërie, apa kau sedang menguji kesabaranku?"

"Kau sudah mati, memangnya apa yang bisa kau lakukan? Ah, baiklah, biarkan aku mainkan piano itu, dan membungkammu dengan kemampuanku."

"Tak ada yang ingin mendengar permainanmu!"

"Aku tidak menawarkan diri, Vash. Pertama bertemu kau tidak sefrontal ini. Apa laba-laba ikut bersarang di otakmu?"

"Jaga ucapanmu, Frau Revërie!"

"Kau membentak seorang gadis terhormat sepertiku? Mengerikan. Tak heran kau mati muda."

"Segera selesaikan urusanmu, lalu enyah dari hadapanku!"

"Lanjutkan permainanmu, biarkan aku berbuat sesukaku, panggil aku dengan nama depanku. Tidak susah, bukan?"

"Kau memerintahku, Frau?"

"Kenapa kau tidak mengapresiasinya? Aku sudah bersikap baik dengan mengisi waktu kosongmu yang membosankan. Vash, kau sudah lama mati. Katakan padaku, kapan terakhir kali kau melakukan interaksi sosial?"

"Apa urusannya denganmu! ?"

"Jangan membentakku, Vash. Kau hanya akan membuatku kesal."

"Hentikan itu, Frau Revërie! !"

"Bagus, kau sudah sangat menyebalkan. Nah, mulai sekarang, Vash, kau jadi budakku. Tak peduli kau lebih tua dariku atau sudah tak hidup lagi.

Sejak awal—"

"Frau!"

"—aku tidak menganggap makhluk astral lebih bernilai dari sampah."

.

.

Kisah ketiga, kisah ketiga... Vivianna-ku yang tersayang, kau senang mengutarakan apa yang ada di pikiranmu. Kau tidak memendam kebencianmu. Kau berbuat seenaknya dan tidak ada seorang pun yang berani menegurmu. Karena kau adalah pianis jenius dengan kemampuan di atas rata-rata dan juga dengan sejarah kompetisi yang memuaskan. Kau membuat orang-orang berkata manis dan berubah menjadi penjilat. Tapi, Vivianna, saat kau berbicara tentang Roh, wadah Roh, Pencuri Roh, apapun omong kosong itu, kau berubah menjadi seseorang yang lebih privat dan terasing. Meine liebe, apa yang terjadi padamu...

"Jika penampilanku begini, maka tak ada manusia yang bisa melihatku. Artinya, aku jadi sama sepertimu, makhluk astral."

"Aku tidak mengerti, bukankah kau tidak suka 'kami'?"

"Anggap saja aku berubah pikiran, Vash. Kenapa kau tak bisa melakukan hal sesimpel itu?"

"Entah sampai kapan kau bisa berhenti bersikap seolah aku ini budakmu."

"Bukankah kau memang iya. Atau kau mau kuperlakukan dengan lebih manis dan mesra, hm?"

"Vivianna...lanjutkan saja ceritamu."

"Oh, wajahmu merah. Jadi, kau memang ingin... ah, kau memang vulgar, memikirkan hal-hal semacam itu."

"Vivianna..."

"Fur Elise, Vash. Mainkan Fur Elise untukku."

"Fur Elise...Fur Vivianna... Fur Vivi? Terlalu kekanak-kanakan. Fur Anna? Inggris sekali. Bahkan mengingatkanku pada feline berbulu."

"..."

"Vivianna?"

"Sudah 5 tahun sejak pertemuan pertama kita di ruangan ini. Kau terikat pada piano-mu, dan aku terikat padamu. Aku bisa bekerja untuk kerajaan

atau pindah ke Perancis, tapi aku malah bekerja di sini agar bebas bersamamu."

"...?"

"...Sekarang, aku adalah wadah Roh Air. Aku tinggal di istana dan tak bisa pergi lama-lama. Banyak pekerjaan yang tak bisa dikatakan. Waktuku...mungkin tak akan tersisa untukmu."

"Wadah Roh, wadah Roh, aku tidak mengerti apa pun tentang hal itu, tapi jika sampai membuatmu sibuk, kurasa itu adalah sesuatu yang buruk."

"Karena itu, jangan berubah. 'Hal itu' akan jadi buruk kalau kau berubah."

"Vivianna?"

"Aku khawatir, Vash. Hatiku tidak tenang."

.

.

Vivianna, perasaanku tidak berubah, tapi keberadaanku berubah. Di kisah keempat, kita dipermainkan oleh takdir karena kebodohanku. Keacuhanku. Seandainya aku tidak tergiur dengan tawaran Irvina, maka kemungkinan besar kita masih bisa bersama. Tapi, aku terlalu naif dengan berpikir bahwa kita berdua selamanya akan bersama. Kau masih hidup, dan aku sudah mati. Vivianna tercinta, ruang musik itu sudah lama sekali tidak kau kunjungi, tapi aku masih menunggumu. Kau benar-benar sibuk. Hingga anak kecil berwujud sama denganku datang dan memberikan tawaran. Menyerahkan argumen-argumen logis bahwa arwah gentayangan sepertiku tidak selamanya bisa ada di dunia. Irvina, memberikan satu jiwa di tangannya untuk dikonsumsi olehku. Saat itu, aku telah menjadi bagian dari mereka. Pencuri Roh yang pernah kudengar darimu.

Perubahan inilah yang kau takutkan, dan aku sama sekali tidak tahu. Maafkan aku... Vivianna, aku bahkan tidak bisa mengingat tatapanmu saat itu. Maafkan aku...

"Aku sudah bilang..."

"Vivianna, apa aku melakukan kesalahan? Aku sudah menjadi Pencuri Roh, aku sudah terlepas dari ruangan itu. Aku bisa mengunjungimu setiap saat. Apa itu salah?"

"Vash..."

"Aku senang bisa melihatmu selain dari ruangan itu, meine liebe."

"...Ya, aku juga senang."

xxx

"Sudah berapa tahun kita bersama? 6 atau 7? Vash, aku punya permintaan."

"Katakan, Vivianna. Dengan senang hati akan kukabulkan."

"Vash," dia tersenyum, "hiduplah...tetaplah ada untuk selamanya."

"Vivian...na?"

"Vash, aku tidak bisa membunuhmu."

"Kenapa kita tidak seperti ini saja selamanya! ?"

"Itu tidak mungkin. Vash, aku tidak pernah meminta padamu sebelumnya..."

"Jangan seperti ini, Vivianna! !"

"Vash, kau bilang akan kabulkan permintaanku."

"Diam. Aku tidak menyangka permintaan seperti itu...Ah, hentikan pembicaraan ini!"

"Vash—"

"Vivianna—"

"—makanlah jiwaku..."

"—hentikan pembicaraan ini!"

"..Jangan berkata seperti itu."

"Vivianna, jangan memelas padaku. Kau tahu aku tak bisa menolakmu. Vivianna, meine liebe, kenapa kau harus mengungkitnya lagi? Kumohon,

jangan seperti ini! !"

"... Vash, aku tak ingin kau lenyap..."

"Kenapa kau begitu egois, Vivianna! ?"

"Jangan menangis...

Vash."

.

.

"Tidakkah kau tahu?

Itu permintaan yang egois."

.

.

"Perempuan memang egois."

Wadah Roh Air yang melukaiku lebih dalam dari apa yang bisa ia sembuhkan.

Tapi, ia adalah musikku.

Satu-satunya kesayanganku.

.

.

"Nah, apakah

kisah itu memang terulang hari ini?"

Atau tidak?

.

.

xxx

Di saat yang sama, seperti ketika pewaris Malfoy itu terjatuh di atas lantai batu yang dingin, atau seperti ketika gadis Granger itu menjeritkan namanya, di tempat yang berbeda, seseorang menatap botol tinta yang berguling dan mengotori kertas-kertas berserakan di atas meja. Manik hitamnya menyorot dingin seperti biasa. Mungkin seharusnya ia memberikan sedikit ekspresi agar orang-orang tahu apa yang ada di benaknya, apa yang tengah dipikirkannya. Namun, tiba-tiba ia berdiri dari kursinya. Tangannya terangkat ke udara, membelai sesuatu tak kasat mata di atas pundaknya.

Cheshire lantas bermaterialisasi di sana dan langsung menghilang pada detik berikutnya, seolah Ein telah memberikannya perintah tanpa suara. Dan benar saja, tanpa menunggu lebih lama kucing itu telah kembali menampakkan diri di atas meja, bersamaan dengan pintu yang menjeblak terbuka. Memperlihatkan wadah Roh Tanah yang sepertinya menyadari aura di sekitar sang Raja yang tidak biasa. Jack sudah lama bersamanya, mungkin karena itulah, ia merasa bahwa aura kali ini memperlihatkan keresahan. Walaupun raut wajah Einen Kleird sama sekali tak menegaskan apa pun.

"Buka pintu segel ke Hogwarts."

"Baik," sahut Jack dengan cepat membentuk formasi segel. Kemudian, bersama setetes darah yang menyentuh permukaan, lingkaran segel yang dilingkupi oleh sinar biru yang berpendar menyala cepat bagai kilat dan membeku di udara. Ein tidak menunggu, dengan langkah tegas dan agak tergesa-gesa gadis itu melangkah masuk dan tertelan ke dalam lingkaran. Jack mengikut di belakangnya.

Formasi segel bukanlah sesuatu yang mudah dikendalikan. Terlebih, sisi lain dari pintu segel bisa saja membawa mereka ke berbagai tempat yang bukan mereka harapkan. Namun, saat itu, Einen Kleird hanya memikirkan bahwa adik-adik yang ia tinggalkan di Hogwarts kembali berbuat ulah, atau sedang dalam masalah. Dan ketika ia mengedarkan pandangannya, dan mengingat ia tengah berada di bagian—atau lebih tepatnya, di koridor yang menghubung ke mana.

Kedua matanya menangkap kisruh yang melintas tepat di pintu lorong. Salah satu adiknya berlari dengan mata berkaca-kaca. Dan di belakangnya….. beberapa orang yang mengangkat Draco Malfoy.

Iris hitam kelam melebar.

"Hermione….Draco Malfoy?" Jack mengerutkan kedua alisnya tidak mengerti, sekaligus penasaran. Tanpa bisa dicegah kakinya telah melangkah mengikuti kehebohan itu. Melewati dan meninggalkan wadah Roh Api di belakangnya. Sebelumnya Jack tidak pernah melakukannya. Tapi, kali itu, mungkin saja karena rasa pedulinya terhadap Hermione adalah penyebabnya.

Sedangkan, wadah Roh Api membeku dalam kesunyiannya.

"Apa... yang terjadi?" Suaranya lirih bergetar. "Cheshire, apa yang tidak kusadari?"

Cheshire duduk di dekat kakinya, tapi Einen tidak melihatnya. Kedua mata wadah Roh Api hanya terpaku pada pintu lorong yang kini kosong.

"Apa yang tidak kusadari! ?"

Pupil yang mengecil itu membelalak entah kepada apa, entah kepada siapa. Angin dingin menghembus helaian-helaian gelap di punggungnya. Serpihan-serpihan salju meleleh sebelum sempat menyentuhnya.

Giginya bergemeletuk.

"Apa aku lengah, Cheshire! ! ?"

*"Apa yang kau katakan? Jangan bertanya pada Cheshire, pewaris."

"Ingatanku tidak selalu baik, seharusnya Cheshire tahu apa yang kulewatkan!"

"Einen, jangan tinggikan suaramu."

*"Kau hanya lupa keberadaan penyusup yang pernah dilaporkan wadah Roh Udara padamu."

"Kau akan menemukan jalan, jadi jangan tunjukkan kepanikanmu."

"Penyusup ini pintar. Auranya tersembunyi dengan sangat rapi."

"Biarkan wadah Roh Air mengurus anak itu. Segera selesaikan masalah ini sebelum kau mencemarkan nama kita semua."

*"Einen, teteskan darah wadah Roh Tanah—"

ᴽ"—dan lepaskan energinya ke seluruh wilayah."

"Sebanyak apa?"

"Einen, kau tidak punya pilihan lain."

"Aku menghindari pilihan itu sejak 3 tahun yang lalu."

*"Kau tidak punya pilihan lain untuk kali ini."

"Aku membutuhkan dia untuk tetap hidup."

"Kalau begitu,

provokasi wadah Roh Udara."

"Apa maksudmu?"

"Ini mungkin terdengar jahat. Apalagi kita sudah sepakat untuk tidak menggunakan wadah Roh Udara sampai saat yang ditentukan."

ᴽ"—dan kau sudah menolak pilihan pertama—"

"Einen, biarkan wadah Roh Udara melepas Raven dan menghadapi penyusup ini. Dan jika dia terbunuh,

segera alihkan kepemilikan Raven."

.

.

Einen Kleird, perundingan itu akan selalu berakhir dengan pemikiran mengenai kemungkinan terburuk. Apakah wadah Roh Udara akan selamat? atau tidak, fokus pembicaraan bukanlah pada salah satu adikmu; Hermione Granger.

Melainkan Raven. Selalu Raven.

Einen, kau tahu bahwa mereka tahu apa saja yang wadah Roh Udara korbankan agar bisa berdiri di belakangmu. Tapi, semua itu seolah hanya angin lalu yang tidak akan disinggung sampai kapanpun. Bahkan oleh para perunding itu sekalipun—biarpun mereka menyadarinya. Tapi, Ein, apakah kau akan diam saja?

Apakah kau akan mengorbankan nyawa lagi?

Ein, kau yang paling tahu bahwa pengorbanan bukanlah sesuatu yang mudah.

Hidupmu telah ditopang oleh banyak orang. Pengorbanan. Kesukarelaan. Harapan.

Nyawa.

Kau adalah jiwa yang ditopang oleh pengorbanan banyak orang.

"Einen, apa keputusanmu?"

Apa jawabanmu?

"Darahnya mengalir bersama darahku."

"..."

"Kalian sudah meragukanku."

"..."

Riak-riak di atas permukaan air perlahan menghilang, menyisakan dirimu sendiri sebagai penyebab dari riak di bawah kakimu.

Kegelapan dan kesunyian kembali menyelimuti dimensi kesadaranmu.

.

.

"Yang mulia."

Pansy Parkinson berlutut. Tangan sang Raja terulur, membelai puncak kepalanya.

"Angkat wajahmu, wadah Roh Air."

Bola mata hitam kelam wadah Roh Api bergulir ke bawah, menatap sang adik dengan wajah meninggi. Kelopak matanya merendah tajam, memahami informasi yang tertinggal di kedua mata wadah Roh Air. Kemudian, ia menarik tangannya dan berjalan melewati adiknya.

"Kau tahu apa yang harus dilakukan," katanya tanpa menoleh. Pansy mengangguk pasti dan bangkit, mengikuti jejak sang Raja. Saat itu, kedua bibir merah wadah Roh Api terbuka dan memperinci tugasnya. Menekankan apa yang harus dilakukan. Pansy yang berbeda ini, yang terus menguasai permukaan kesadaran, memasang senyum kecil di wajahnya. Meperlihatkan boneka bermata bulat dengan senyum manis yang akan abadi di wajah porselennya.

Ini Pansy yang berbeda.

Ini mata Yang Mulia.

Tangan gadis itu mengeluarkan tongkat sihir dari jubahnya. Dengan sekali layang ke satu arah, pintu Hospital Wing terbuka lebar, menyambut wadah Roh Api dan dirinya yang mengekor dengan setia. Tanpa berkedip Einen Kleird memasuki ruangan.

Jack cepat tanggap. Saat ketika ia merasakan aura sang Raja yang 'anehnya' telah tenang, ia lantas mempersilahkan orang-orang tidak penting untuk kembali ke kelas atau melanjutkan segala urursan mereka. Dengan kata lain: mengusir mereka. Madam Pomfrey masih bekerja keras mengecek penyakit atau kutukan yang menimpa Draco Malfoy. Hermione menatap, terpaku di jarak aman. Kedua matanya membeku, terpatri pada sosok Draco.

"Madam Pomfrey," Jack berbisik sopan, "biarkan kami yang mengurusnya." Ekspresi Pomfrey menunjukkan ketdaksetujuan yang jelas, tapi Jack mengerling ke belakang. Pomfrey menoleh dan mengatupkan bibirnya rapat.

Einen Kleird sedang berjalan ke arah mereka.

"Baiklah," ia mendesah, "aku akan ada di kantorku kalau kalian butuh sesuatu." Wanita itu tersenyum lemah pada Ein, yang dibalas dengan anggukan kecil yang tidak kentara. Seolah Ein hanya ingin menundukkan wajahnya dan menoleh ke arah lain. Senyum boneka Pansy masih terplester. Madam Pomfrey langsung mengalihkan matanya. Tanpa ragu-ragu, ia segera menutup pintu kantornya.

Einen menatap Draco tanpa menundukkan wajahnya, seperti halnya ketika menatap Pansy sebelumnya. Pansy menelengkan kepalanya, menjatuhkan rambutnya ke sisi wajahnya. Kedua bola matanya menjadi agak bulat, dan senyumnya melebar. Dia sekarat, pikirnya.

"Tunggu di luar, Jack."

"Baik."

Hermione masih terguncang. Ia tidak menyadari bahwa sang Raja berdiri tepat di seberang ranjang. Mungkin ia sadar, ada yang ganjil di dalam lingkupan pandangannya yang buram dan mengabur seperti air keruh. Hingga ia benar-benar sadar dan terkejut ketika melihat wadah Roh Api menatapnya. Dengan sorot mata datar, tanpa ekspresi. Hermione menarik nafas gugup. Apakah dia akan dimarahi?

Akan tetapi, wadah Roh Api berbalik, melangkah menuju pintu yang tengah dibuka wadah Roh Tanah. Hermione perlahan mengalihkan tatapannya pada satu orang yang masih tinggal. Pansy meliriknya sekilas. Dengan senyumnya yang aneh...seperti boneka. Hermione merasakan bulu lengannya berdiri semua.

"Kita lihat keadaannya..." Tangan Pansy menapak di bagian dada Draco. Lalu, menariknya ke atas.


"Adikku,"


Sepasang permata hazel melebar tak percaya. Jantungnya merosot. Nafasnya tercekat. Apa yang ia lihat lebih buruk dari apa yang bisa ia bayangkan.


"pastikan wadah Roh Udara melihat—"


Berkas-berkas cahaya yang melayang dengan pelan seperti debu.


"—apa yang telah terjadi pada Draco Malfoy."


Jiwa Draco Malfoy tidak lagi utuh seperti sewajarnya. Seolah-olah...seseorang telah menghisapnya dan berniat tak akan berhenti sampai habis.

Tak bersisa.

Hermiona membuka mulutnya. Suaranya terdengar parau dan seolah sdeang tersedak. Kedua matanya membesar horor.

"DRACO! DRACO! DRACO!"

Jiwa yang tercabik terjatuh lemas ke dalam mediumnya, tubuh sang pemilik. Hermione mengguncang-guncang histeris. Air mata menganak sungai di pipinya. Teriakan pilu itu terdengar sama seperti lolongan anjing yang terinjak ekornya. Senyum Pansy berubah gelap dan sadis.

Ini Pansy yang berbeda.

Yang menikmati tiap tetes kepedihan Hermione Granger. Bagai tetes madu dari sarang lebah yang berbahaya.


"Pansy,"


"Dia akan mati. Semua ini karena penyusup itu!" Pansy menjerit, dengan jelas menarik perhatian Hermione. Membuang wajahnya ke belakang, menutupinya dengan kedua tangannya. "DRACO AKAN MATI—"


"kau tahu apa yang harus dilakukan."


"—KARENA PENYUSUP SIALAN ITUUU! !"

Manik hazel menyorot tajam dengan pupil mengecil yang mengerikan. Rambut keriting di punggungnya melayang, mengembang seperti tertarik angin. Kedua tangannya mengepal erat. Suaranya berubah parau. Serak karena jeritan dan isak tangis.

Drrk! Drrkk!

Badai makin parah. Kini angin di luar sana menggedor-gedor kaca jendela hingga dalam tahap yang mengkhawatirkan. Sinar mata Hermione Granger meredup dan kepalanya bergoyang lunglai. Ia berjalan ke arah yang berlawanan. Helaian rambutnya menempel di pipi yang basah.

Manik coklatnya berubah gelap dan kosong.

"Dimana...dimana...dimana..."

Pansy memandang dari sela-sela jarinya. Senyumnya lebar dan menakutkan.

"Hermione." Entah darimana, Jack Vessalius masuk ke dalam adegan. Tidak menyentuh, namun berdiri dekat di belakang wadah Roh Udara. "Lepaskan energi Raven, maka kau akan mendapatkan apa yang kauinginkan."

Sontak sinar keemasan menyala dari tubuh penunggang Raven. Ia tak lagi menggunakan pertanyaan-pertanyaan atau rasa penasarannya. Jack merubah wujudnya, melesat menembus tembok seperti yang dilakukan oleh gadis sebelumnya.

Tidak ada yang melihat

keganjilan wadah Roh Tanah itu sendiri.

Bahkan Pansy, yang menonton seluruh adegan itu dengan kesenangan tak terkira.

.

.

.

Tidak ada yang menyadari,

bahwa hari itu,

Sang Raja telah meredupkan

cahaya ketiga adiknya.

.

.

"Kami adalah pembawa sial."

.

_to be continued_

Alhamdulillah,, selesai juga chapter ini. Oh iya, tanda (*, , dan ) maksudnya yang bicara tuh orangnya beda. trus yang di-bold (tanpa tanda *) itu maksudnya ketiga orang itu bicara bersama-sama. Yoshaa,, balas review dulu dah! !

Mrs. D : Lohaa! Iya, yang deketin Draco mah genderuwo #tampar,, oke deh, itu Hermione. Jack pulang ke Manor lain, bukan Vessalius. Iya, nanti saya satukan 'Mione ama Draco pakai operasi trus saya buat Dark Wood Circus,, penyatuan gitu'kan yang kamu maksud #ditendang,,oke, oke, nanti saya coba berunding dengan pihak yang bersangkutan :3. Sori, pupi eyes gak mempan buat saya, kalau pulpy orange baru boleh. 'Taruhan nyawa' itu cuma permainan kata doang, maksudnya bang Jack itu orangnya gak segan-segan untuk membunuh kalau ada yang tidak dia suka (makanya disebut perjudian/taruhan), trus Pansy hanya menegaskannya saja. Maaf juga, saya banyak jawab,, m(_ _)m ,, Yup, Hermione udah ninggalin Harry ama Ron,, Yosha, sankyu sudah mampir ke sini, Mrs. D! ! =D

CallyxCorolla : Lohaaa! Salam kenal juga…tapi, umur saya masih 5 tahun, kaka. Jadi, panggil ade caja, yaaah! #najis cuih cuih!... uhuk, oke, CxC (panggil gitu aja, ya :v) sankyu, saya memang keren #digampar,, ahaha, gak perlu minta maaf, soalnya saya juga orangnya kayak gitu. Dengan kata lain, hobi kita sama #hei, siapa yang lemparin tomat! ? (TwT). Maaf, ya, apdet-nya tergantung waktu dan ide, dan sepertinya saya hanya bisa updet sekali sebulan #udah kayak gaji pegawai aja. Agak sepi? Jangan heran, CxC. Kuburan memang selalu sepi setiap tahunnya, kecuali…ya, kecuali aja. :v #nah loh! siapa lagi nih yang lemparin batu! ? Yoshaa! sankyu sudah mampir ke sini, CorollaxCally (kok, kayaknya ada yang aneh? ah sudahlah, pasti itu hanya ilusi :v) –iya, iya, love juga deh,,, =D

Yoshaaa! ! Thanks for reading! !

\(^v^)/

-Another Laurant in the Valley of Clouds_ (no, it's not Laputa.)

Rozen91