FINAL FANTASY VERSUS


037

NYX


02.09.756 M.E. | 01.16 PM

"Lama sekali tidak berjumpa, Yang Mulia," sapa Lunafreya ketika dia sudah berada di ruang takhta Raja. Selama perjalanan pendek dari gerbang komplek Citadel tadi Nyx menyetir mobil dalam diam. Lunafreya duduk anggun di belakang, sesekali Nyx melihat Putri melalui cermin yang tergantung di atas dasbor. Kali ini akhirnya Nyx mendengar langsung suara Lunafreya dengan telinganya sendiri. Suara itu terdengar halus dan ada nuansa kerajaan klasik tersisip dalam setiap patah kata.

Tampaknya Raja telah menunggu kehadiran Lunafreya semenjak tadi pagi karena jika dia tidak tahu bahwa sang mempelai wanita berkunjung ke Insomnia, tak mungkin Nyx ditugaskan untuk mengawal Putri untuk menghadap Raja di Citadel. Senyuman lebar merekah di wajah Raja, matanya sedikit menyipit hingga kerutan di kedua sisi matanya menjadi semakin berkerut. Rambut, kumis dan jenggot berubannya tidak mengurangi sedikit pun keagungannya. Malah semakin tua sang Raja, dia terlihat semakin berwibawa. Berdiri tegap di sisi singgasana dan diterpa cahaya matahari dari jendela tinggi, Raja membalas halus, "Iya. Terlalu lama."

Nyx menggiring Lunafreya ke tepi undakan tangga beberapa meter dari takhta Raja. Sesampainya di sana, Nyx mundur sepuluh langkah dan memasang pose siaga ketika dia menonton kedua bangsawan itu saling berbicara.

"Pangeran Noctis tidak ada di sini, ya?" tanya Lunafreya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan seolah sedang mencari keberadaan calon suaminya di kursi-kursi Royal Council yang berada di kedua sisi takhta Raja di tingkat dua.

Raja sudah duduk santai di kursi takhta. Punggungnya disandarkan ke bantalan merah, kedua tangannya diletakkan di pegangan kursi. "Tidak, Sayangku. Noctis tidak ada di Insomnia. Seperti isi surat yang kukirimkan padamu, Noctis bersama tiga temannya telah berangkat ke Altissia kemarin pagi," jawab Raja. Dia tampak risau untuk melanjutkan kalimat berikutnya, "Aku terkejut menerima kabar bahwa kamu datang kemari bersama Kekaisaran. Aku terlalu tua untuk meladeni perang ini. Aku tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Kekaisaran dan tunduk pada aturan mereka. Meski begitu, aku ingin mengadakan pernikahan di tempat lain, di tempat yang aman." Dahi Raja mengerut, garis-garis keriput tercetak jelas pada parasnya yang pucat pasi. Dia menggeleng-geleng kepalanya seolah kehilangan harapan dalam kesepakatan ini. "Aku telah mengirim seorang Glaive untuk menemuimu di sana, tapi entah apa yang terjadi padanya."

Mendengar pengakuan Raja, kecemasan menerjang jantung Nyx seperti tinju yang begitu keras. Jika Kapten Drautos dan Raja Regis yang berpangkat tinggi saja tidak memperoleh kabar mengenai Crowe, apa yang bisa dia lakukan untuk memastikan temannya baik-baik saja? Ingin rasanya dia memotong pembicaraan mengenai pernikahan antara kedua orang di hadapannya, tapi tidak sopan jika dia bertingkah lancang di momen yang tidak tepat ini. Keganjilan ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut lagi. Begitu keluar dari ruangan itu, dia akan memaksa Kapten untuk menelusuri lebih dalam keberadaan Crowe.

"Sekarang belum terlambat," intonasi Raja terdengar mendesak, sebuah dorongan kuat merasuki suaranya yang berat, "aku masih bisa menyiapkan pengawalan. Kumohon, temuilah putraku."

Lunafreya mengangguk sekali. Tapi apa yang dia katakan bertolak belakang dari gestur kepalanya. "Tidak," tukasnya, membuat mata Raja melebar karena terkejut. "Ke manapun aku pergi, Kekaisaran pasti akan membuntutiku. Aku harus pergi tanpa pengawalan yang mencuri perhatian khalayak umum agar tidak membahayakan Noctis. Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi Pangeran dan memuluskan jalan takdirnya. Dua belas tahun ini tidak mengubah apapun. Begitu pula dengan perasaanku padanya."

"Dan apa yang menjadi takdirmu?" tanya Regis.

Tak perlu berpikir panjang, wanita itu langsung menjawab, tegas dan lantang seperti orang yang mengikrarkan sumpah setia. "Takdirku adalah kewajiban yang kuemban, Yang Mulia. Aku siap menerima apapun risikonya."

Raja menatap empatik pada sang Putri untuk beberapa saat. Pembicaraan mengenai takdir ini membuat Nyx serasa terasingkan. Seharusnya dia tidak perlu mendengar pembicaraan privat ini, tapi tugasnya mengawal Lunafreya membuat dia secara langsung ikut terlibat dalam hal yang tidak dia pahami. Jika pernyataan Lunafreya benar mengenai takdir setara dengan kewajiban, maka dia tahu apa takdir Raja Regis, yaitu menjamin keselamatan Lucian di bawah pemerintahannya dengan menjaga keamanan Kristal Agung dan Ring of Lucii. Namun bagaimana dengan Pangeran Noctis dan Putri Lunafreya? Apa sebenarnya kewajiban mereka berdua? Apa yang mewajibkan mereka menikah? Semakin banyak dia bertanya, kepalanya semakin pening.

"Tinggallah di sini sampai perjanjian ini selesai, Sayangku. Aku ingat pernah berjanji padamu untuk mengenalkan tempat tinggal Noctis dan kehidupan pribadinya di Citadel. Kurasa aku akan sungguh menyesal jika aku mengingkari janjiku padamu," Raja menawarkan diri. Dia bangkit dari kursinya, menuruni tiap anak tangga dan berhenti di depan Lunafreya. Satu tangannya disandarkan pada bahu sang mempelai wanita. "Apa kau masih tertarik mengitari isi Citadel seperti dua belas tahun yang lalu?"

"Tentu saja, Yang Mulia," jawab Lunafreya, tersenyum pada Raja. "Aku masih benar-benar mengingat perbincangan kita di malam itu."

Raja tertawa dan mengulurkan tangan, menepuk-nepuk kepala Lunafreya. "Sepertinya semakin tua, aku semakin sentimentil," katanya, bercanda. "Tahu-tahu kau akan melihatku menangis di pojokan kamar ketika tidur di malam hari."

Lunafreya tertawa ringan, bahunya yang tadi tampak tegang mulai mengendor di balik gaun putihnya yang bersih. "Aku akan memastikan Yang Mulia tidak melakukan apapun yang sekonyol itu. Anda masih terlihat segar dan aku yakin Anda akan berumur panjang."

"Kuharap begitu, Luna. Aku mengharapkan kau dan putraku menikmati kebahagiaan, sesingkat apapun itu setelah pernikahan kalian di Altissia."

Entah mengapa Lunafreya tampak gelisah setelah mendengar perkataan Raja. Bibirnya berkedut dan dia seolah ingin mengatakan sesuatu pada Raja. Dia menoleh ke belakang, dan saat melihat Nyx dia memasang ekspresi sungkan. Nyx menjadi tidak nyaman berada di sana seolah dia adalah tamu tak diundang.

Raja dan Putri saling pandang dengan ekspresi berbagi rahasia yang sulit terbaca. Kemudian Raja merangkul Lunafreya, merengkuhnya erat. Lunafreya tenggelam dalam pelukan Raja. "Aku menyayangimu, Luna. Seperti aku mengasihi Noctis," kata Raja, mengecup lembut dahi Putri. "Aku akan selalu sayang kalian berdua dengan caraku sendiri. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri sejak kau merawat putraku dulu. Kalau saja Ratu Sylva ada di sini, aku yakin dia akan bahagia mendengar kabar pernikahan kalian berdua."

"Yang Mulia, bisakah kita berbicara empat mata saja? Ada sesuatu yang penting ingin kuutarakan pada Anda dan aku tidak ingin orang lain mendengarnya" balas Lunafreya.

Bersamaan dengan itu, Raja melepas pelukannya dan keheranan untuk sejenak. Tapi dia akhirnya meminta Nyx untuk meninggalkan tugas pengawalan sang Putri sementara waktu. Raja dan Putri berdua keluar dari ruang takhta, dikawal oleh dua orang Crownsguard di belakang.

Nyx berpisah dengan mereka di persimpangan empat koridor. Dia berjalan ke koridor yang berseberangan, menuju pos jaga dia di beranda Citadel. Puluhan lampu di langit-langit menyala terang, menyinari dinding dan lantai koridor yang berwarna gelap. Pada persimpangan tiga yang pertama, dia mendengar Kapten Drautos berkata seraya mendekatinya, "Sepertinya reuni mereka berjalan bahagia, ya?" Langkahnya diperlambat ketika Kapten berjalan berdampingan dengan dia. Mata mereka saling bertemu.

"Apa Putri selama ini menjadi sandera Niflheim?" tanya Nyx. Aneh sekali melihat keadaan Putri baik-baik saja kalau setiap pergerakannya diawasi Kekaisaran yang telah membunuh ibunya, Ratu Sylva. Setiap jengkal bagian tubuh Lunafreya yang terbuka terlalu mulus untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang sandera. Orang bodoh pun tahu bahwa Niflheim tidak segan melakukan kekerasan, bahkan kepada sosok penting seperti Oracle.

"Dia itu simbol perdamaian. Begitulah yang kudengar," timpal Kapten. Dari nada bicaranya, sepertinya dia tidak ingin membahas ini terlalu panjang lebar.

"Kedengarannya tidak begitu," balas Nyx, kepala menoleh kepada Kapten di kirinya, "kurasa dia kemari untuk sesuatu yang lebih besar."

Mata Kapten memicing. Nada suaranya meninggi. "Tugasmu adalah melindungi dia." Jari telunjuk teracung ke dada Nyx, bergerak-gerak seperti majikan yang memberi aba-aba pada anjingnya untuk melakukan sebuah trik. Beep, beep, beep. Terdengar bunyi dering telepon genggam. Nyx merogoh saku jubah seragamnya, tapi ternyata panggilan itu datang untuk telepon Kapten. Bosnya mengambil smartphone dari saku celana hitamnya. Amanatnya tetap berlanjut kepada Nyx ketika dia mengangkat panggilan itu. "Bukan menatap, mendengar atau berpikir. Mengerti?"

Kalau kau menuntutku begitu berarti aku tidak ada bedanya dengan MT. Menjadi robot yang bergerak demi kepentingan pemimpin. Aku ini manusia yang berbudi pikir. Mustahil bagiku untuk bekerja tanpa menggunakan panca inderaku. Dia ingin protes, tapi memilih bungkam seribu bahasa daripada terlibat pertengkaran mulut dengan Kapten. Sudah terlalu sering mereka berdebat karena perbedaan pendapat dan idealisme.

"Ini Drautos. Iya, lapor," jawab Kapten. Tangan kanannya yang berlapiskan sarung hitam menempelkan telepon ke telinga. Mendadak dahi Kapten berkerut. Dia menoleh kepada Nyx. Raut wajahnya awalnya terkejut, tapi lambat laun berubah menjadi pucat. Bibirnya terkatup dan dia jelas sekali ingin mewartakan berita buruk kepada Nyx, tapi menahan diri untuk mencari cara yang tepat untuk mengucapkannya.

"Apa kata orang di telepon itu?" desak Nyx. Dia memandang Kapten, semua pikiran tentang Lunafreya lenyap. Tentunya Kapten memikirkan apa yang Nyx takutkan sejak tadi pagi. Mulut kapten bergerak, membentuk bulatan kecil seperti orang yang ingin melontarkan huruf O. Dia tak tahan lagi melihat ekspresi kepedihan di wajah Kapten. "Kapten?" tanyanya, pelan.

"Crowe… Kami sudah menemukannya, tapi…"

Kumohon, kumohon, kumohon. Jangan katakan apa yang ada di dalam pikiranku!

"… dia sudah tidak bernyawa lagi. Crowe tewas terbunuh dalam misinya."


02.09.756 M.E. | 03.22 PM

Dia tidak bisa tenang selama perjalanan ke rumah sakit di Distrik B sesuai arahan Kapten. Sepatu botnya terus bergerak-gerak ketika dia duduk di kursi penumpang MRT yang membawanya ke tempat tujuan itu. Crowe tewas terbunuh. Kata-kata Kapten terngiang di telinga Nyx. Sejujurnya dia telah memikirkan kemungkinan terburuk itu sejak Libertus tampak cemas bukan main. Ketika kau menjalin hubungan intim dan lama bersama orang lain, entah itu anggota keluarga dekatmu, sanak saudara, kekasih, sahabat, dan orang-orang yang tak ada hubungan darah denganmu, secara psikologi ada ikatan batin yang kuat di antara kalian. Libertus telah menyadari firasat buruk ini dari jauh hari.

Bagaimana aku bisa begitu naif? pikir Nyx, memandang keluar jendela kereta yang melaju kencang melewati terowongan bawah tanah. Aku terlalu meremehkan bahaya yang mengancam Crowe dalam misi pengawalan Putri Lunafreya. Sang Putri adalah sandera Niflheim bertahun-tahun. Tentu saja Kekaisaran tidak akan berdiam diri melepaskan Putri begitu saja ke tangan Crowe. Apakah Crowe tidak sengaja tertangkap Kekaisaran? Kalau iya, kenapa dia tidak menggunakan sihirnya untuk melawan mereka? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Crowe adalah seorang mage yang mahir. Tidak mungkin dia bisa tewas begitu mudah setelah melewati beratus-ratus pertempuran di Tembok.

Pertanyaan itu terus berseliweran sementara Nyx berdiri menunggu pintu kereta terbuka, berhimpitan dengan para penumpang lain. Sekarang semua menjadi sangat masuk akal: telepon yang tidak diangkat dan kabar yang tidak Crowe sampaikan kepada mereka selama berhari-hari. Begitu pintu terbuka, Nyx berlari secepat yang dia bisa, mendaki tangga stasiun menuju bagian kota yang lebih tinggi, menyusuri trotoar demi trotoar, menyeberangi zebra cross di saat panas matahari menyengat ke pori-pori kulitnya. Dalam setengah jam, dia sampai di rumah sakit tujuannya.

Tanpa membuang banyak waktu, dia langsung menghadap meja resepsionis dan menanyakan kamar jenazah atas nama Crowe Altius. Masih ada secercah harapan yang tersisa dalam dirinya yang mengatakan bahwa dokter mungkin saja salah melakukan otopsi, mungkin Crowe mengalami koma. Tapi tak mungkin pekerjaan seprofessional dokter tidak bisa membedakan orang hidup dan mati. Setelah memperoleh letak ruangan itu, dia berderap ke lift dan turun ke lantai B2.

Lorong lantai itu suram dan gelap, dan beraroma pengawet mayat yang membuat lambung Nyx bergejolak. Lampu-lampu temaram menyinari koridor yang serasa tidak berujung. Setiap langkah Nyx menjadi begitu berat ketika dia semakin dekat ke ruangan jenazah.

"Minggir!" Nyx mendengar teriakan Libertus di penghujung lorong. Di kejauhan, dia melihat temannya berteriak kepada seorang dokter. Sahabatnya tampak memaksa masuk ke dalam ruangan di kala dokter yang mengenakan pakaian serba biru itu menghentikan Libertus di ambang pintu. "Itu temanku, brengsek!"

"Pak, kau tidak boleh masuk sebelum otopsinya selesai," timpal sang dokter.

"Otopsi apa? Apa yang terjadi?" desak Libertus. Kruknya berketuk di lantai marmer ketika dia berusaha mendorong dokter itu hingga punggung dokter menimpa pintu di belakang.

Langkah Nyx semakin lebar dan sebelum ada kekerasan terjadi, dia menarik lengan besar Libertus. Dokter itu terenyah ke dinding seberangnya, nyaris terjatuh ke lantai. "Hei, tenanglah, kawan."

Sekejap sepasang sahabat itu bertemu pandang, lalu Libertus mengintip ke sela pintu yang sedikit terbuka. Keningnya mengerut dan seketika itu juga Nyx tahu bahwa Libertus sebenarnya sudah menyadari bahwa Crowe telah tiada. "Para bajingan itu yang menugaskan mereka padahal dia baru kembali. Lalu sekarang mereka tidak mengizinkanku menemuinya!"

Nyx menarik sepasang pundak Libertus, mencoba untuk menjauhkannya dari ruang jenazah. Libertus, dengan berat fisik yang lebih besar daripada Nyx, mendorong dada Nyx dan maju selangkah ke dalam ruangan, lalu selangkah lagi, setiap langkahnya lebih cepat daripada langkah terakhir. "Tunggu, Libertus!" seru Nyx. Sebaiknya temannya itu tidak perlu melihat pemandangan mengerikan berupa jenazah Crowe yang membusuk. Tapi dia tidak mampu menahan dorongan temannya yang kuat. Dia menatap putus asa saat Libertus sudah membanting pintu ruangan dengan kasar.

Langkah Libertus mendadak berhenti. Di dalam, ada dua orang suster sedang mengurus sebuah kantung jenazah berwarna biru. Wajah Libertus menjadi sepucat susu basi. Aroma formalin semerbak tertiup angin keluar ruangan. Dua suster itu menjauh dari meja otopsi, memberi ruang bagi Libertus untuk mendekati jenazah Crowe yang warna kulitnya sudah memutih dan pembuluh darahnya membuat urat-urat kebiruan seperti sarang laba-laba di wajahnya. Nyx bisa melihat leher hingga ujung rambut Crowe menyembul keluar dari kantung jenazah di kejauhan. Rambut hitam Crowe tampak kotor karena debu dan tanah. Di saat itu, Libertus terseok-seok menghampiri kekasihnya yang tidak lagi bernyawa. Kedua kruk dia jatuhkan ke lantai dan dia melompat-lompat pincang menghampiri apa yang tersisa dari Crowe di meja itu.

Libertus jatuh berlutut di tepi meja, tangan kanannya mengelus-elus rambut Crowe. Mata Crowe membuka lebar, di kantung mata kanannya ada noda bekas eye liner yang menetes bagaikan air mata tinta. Di dahinya ada bekas tembakan peluru hingga membuat lubang yang cukup lebar. Alkohol dioleskan di bekas luka mematikan itu, menyebabkan dahi jenazah Crowe tampak berkilau. Sambil menunduk, Libertus berjuang keras untuk menerima kenyataan pahit di hadapannya. Tak ada lagi yang istimewa dari sorotan mata Crowe. Tak ada lagi pemikat dari matanya yang kini membuka lebar penuh kematian ke langit-langit ruang mayat.

Pemandangan naas Libertus yang ditinggalkan wanita yang dicintainya membuat hati Nyx sakit sekali. Nyx hanya bisa diam dan berdiri di ambang pintu, menyaksikan Libertus menangis deras sambil terus mengelus-elus rambut Crowe. Ketika Nyx bernapas, rasanya seolah dia menghirup pisau-pisau tajam yang mengoyak paru-parunya. Ujung-ujung jari kakinya mati rasa, dan kesemutan menjalar sampai seluruh bagian tubuhnya hingga membuat dia nyaris hilang keseimbangan sekedar untuk berdiri tegap.

Hanya suara tangisan Libertus yang dapat Nyx dengar di ruangan itu dan ketika dia membawa pulang temannya ke markas Kingsglaive. Sepanjang perjalanan di dalam kereta, Libertus tampak depresi, seperti orang yang kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup. Langit siang itu berangsur menjadi mendung. Awan-awan tebal menutupi sinar matahari sebelum menerpa permukaan. Tampaknya langit pun turut berduka atas kematian Crowe yang begitu brutal.

Nyx masih memikirkan kata-kata dokter yang mengurus otopsi Crowe. Tadi siang jasad Crowe ditemukan dalam kerumunan ribuan lalat yang menggerogoti daging yang tersisa. Dua orang pengemis menemukannya di pinggir selokan di Leide, tepatnya di pertigaan antara Tembok Insomnia dan Hammerhead. Jenazah Crowe yang telah membusuk menandakan bahwa perempuan malang itu sudah mati sekurang-kurangnya empat hari. Ini menandakan bahwa Crowe tewas sebelum meninggalkan Lucis untuk ke Tenebrae. Berarti siapapun yang membunuh Crowe waktu itu kemungkinan besar adalah Lucian di luar Tembok, walau ada juga kemungkinan Niflheim yang tahu akan rencana Crowe bergerak cepat ketika bertemu dengan perempuan itu di perjalanan di Leide.

Bersama Libertus, mereka duduk termenung di pinggir lantai ruang-luar latihan di markas Kingsglaive. Kesakitan serasa mengoyak Nyx. Kesakitan terparah yang pernah dia rasakan, dan kesakitan yang sekarang sepertinya melekat di jantungnya. Mendekap dadanya, dia memejamkan mata. Matanya berkunang-kunang, berdenyut-denyut seirama dengan detak jantungnya yang melambat. Dengan mata terpejam rapat, dia membayangkan satu malam ketika Crowe mengutarakan isi hatinya akan Libertus kepada dirinya. Kalau saja waktu itu Nyx langsung menyarankan Libertus menembak Crowe, atau Crowe yang menembak Libertus, barangkali tragedi ini tidak akan terjadi. Nasi telah menjadi bubur. Semua telah terlambat. Merasa berdosa, Nyx tahu bahwa dirinya tidak jauh berbeda dari pembunuh Crowe. Dia telah membunuh perasaan Libertus dengan menutupi perasaan Crowe yang sesungguhnya. Sekarang untuk selamanya Libertus tidak akan tahu bahwa Crowe sungguh mencintainya.

Nyx tidak sanggup membicarakan malam itu kepada Libertus saat ini. Itu hanya akan menambah kesedihan temannya. Dalam keheningan yang serasa membeku, dia mendengar suara-suara rekan Glaive di markas yang membicarakan kematian Crowe sebagai berita yang menggemparkan. Tentu saja berita itu membuat mereka semua terkejut bukan kepalang. Crowe adalah satu-satunya Glaive perempuan di sana. Mereka telah kehilangan kartu As untuk pertempuran di Tembok. Tanpa kehadiran Crowe sebagai mage, dapat dipastikan tingkat kasualtis Glaive akan meroket. Nyx tidak tahu apakah ada pengganti Crowe yang mampu menggunakan sihir selihai perempuan itu. Tapi untuk sekarang, dia tidak memedulikan itu. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan pertempuran lanjutan di Tembok. Dia perlu menemani Libertus ketika meratapi kematian Crowe.

Mengangkat pandangan, Nyx melihat Kapten Drautos berjalan ke arahnya. Wajahnya tampak murung, dan bibirnya terkatup rapat, cenderung cemberut. Di tangannya ada satu kotak barang berbahan karton coklat. Mereka saling bertatap wajah dalam keheningan beberapa detik. Dari sorot mata Kapten, Nyx tahu bahwa pemimpinnya itu juga benar-benar merasa kehilangan Crowe. Akhirnya, Kapten memberikan kotak barang itu sambil berkata, "Ini barang-barang pribadi Crowe." Ada jeda tiga detik sebelum dia melanjutkan, "Kamu saja yang simpan."

Nyx menerima kotak yang tertutup rapat itu dengan kedua tangan. Ternyata ringan. Sepertinya tidak banyak barang di dalam kotak itu. Dia menidurkan kotak itu di atas pahanya sambil duduk berdampingan dengan Libertus di kanan.

"Misi seperti apa yang sebenarnya Kapten bebankan padanya?" tanya Libertus. Mata tetap tertuju ke lantai berbatu di bawah undakan lantai. Suaranya terdengar berat dan parau. Dia menggeleng sekali. "Belum pernah ada Glaive yang sampai gugur menjalankan misi penyusupan standar."

Memang benar pernyataan Libertus. Para Glaive telah mempelajari seluk-beluk menjadi penyusup yang lihai. Mereka telah menyusup ke dalam markas-markas tentara Niflheim yang tersebar di Lucis tanpa ada korban jiwa. Mereka memiliki sihir pengurai tubuh menjadi transparan dan itu benar-benar membantu mereka tidak terdeteksi lawan. Crowe bisa melakukan sihir itu, bahkan dalam jangka waktu lebih panjang daripada para Glaive pria. Kejadian ini sungguh di luar perkiraan mereka.

"Sepertinya gencatan senjata tidak ada kaitannya dalam investigasinya," balas Kapten. Kepalanya menunduk ke arah Libertus yang masih menatap lantai dengan murung. "Dia adalah prajurit yang baik. Penyebab kematiannya akan diusut tuntas." Suara Kapten melembut dan meredup, sampai akhirnya dia berbalik dan meninggalkan mereka berdua lagi.

Mata Libertus masih berkaca-kaca. Jejak tangisan menempel di kedua pipinya. "Inilah hidup, ya?" Nyx menoleh kepada sahabatnya. Libertus menggigit bibir bawah dan mulai bertutur, "Aku sudah menceritakan padamu pertemuan pertamaku dengan Crowe. Sebagai seorang yatim piatu, Crowe tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Aku telah mengabdikan diriku untuk memberikan dia kebahagiaan sepanjang hidupku. Aku mencintai dia sepenuh hatiku. Tapi kini dia telah pergi untuk selamanya…" Air mata baru menetes dari mata kanannya, lalu mata kiri, dan lambat laun wajahnya banjir akan air mata. "Aku merindukan sorotan matanya yang spesial. Sial. Aku benar-benar ingin melihat lagi sorotan mata Crowe." Dia terisak dan menundukkan wajahnya, menepis tangisan yang meledak dengan punggung tangannya. "Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari ini. Dan aku akan lakukan apapun untuk itu…" Kata-katanya terbata-bata dan bergetar begitu kencang karena isak tangis. Dia tidak mampu untuk melanjutkan impian indah yang telah direnggut darinya.

Ada keheningan panjang, yang selama itu tampak seperti awan mendung di atas kepala mereka seperti langit siang itu. Seiring berlalunya tiap detik, Nyx merasa hatinya tenggelam kian lama kian dalam. Kepedihan nyaris menumbangkannya ketika Libertus merobek paksa emblem Kingsglaive dari bahu kanan jubah seragamnya dan melemparkannya jauh-jauh dengan lengan kanannya. Nyx ingat perkataan Kapten bahwa jika ada seorang tentara yang tidak ingin meneruskan tugasnya di Kingsglaive, buang emblem itu jauh-jauh dan jangan pernah menyentuhnya lagi. Dan itulah yang telah Libertus lakukan. Dia tampak tak berniat lagi tergabung dalam Kingsglaive. Kematian Crowe telah meruntuhkan alasan utama dia berjuang selama ini di Kingsglaive. Tak ada lagi orang yang bisa dia lindungi.

Berusaha berdiri, Libertus merintih kesakitan ketika mengangkat kaki kirinya yang masih digips. Dengan terpincang-pincang, dia mengambil sepasang kruk yang terletak di sampingnya. Dia berjalan meninggalkan Nyx tanpa berkomentar apa-apa lagi.

Nyx merasakan firasat buruk lainnya akan menimpa Libertus. Cepat-cepat dia berdiri dan memanggil, "Libertus, tunggu." Namun temannya tidak menghiraukannya, dia terus melangkah dan setiap langkah semakin melebar. Menyentuh satu bahu Libertus, Nyx segera berputar dan menahan laju temannya. Kini dia berhadapan dengan Libertus. "Crowe gugur sebagai Glaive. Kamu masih bisa menghormatinya dengan tetap bertarung sebagai seorang Glaive. Masih banyak alasan untukmu untuk hidup. Ada aku, Pelna, dan Luche yang siap menemanimu setiap saat."

Libertus menyibak tangan Nyx yang menempel di bahunya dengan kasar. Alisnya menegang. Diletakkannya kembali tangan ke kruk yang menyangga beban tubuhnya. "Terkadang kamu itu lebih bodoh dariku, tahu tidak?" Suaranya meninggi, amarah meledak dari dalam dirinya. "Tidakkah kau paham?" Dia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundak. "Lucis-lah yang membunuh Crowe!"

Nyx membuang pandangannya jauh ke undakan batu tempat Glaive berlatih berteleportasi. Dia tidak menerima pernyataan itu. Belum ada bukti kuat bahwa Crowe dibunuh seorang Lucian. Malah lebih besar kemungkinan bahwa Niff-lah yang membunuh wanita itu. Namun seberapa besar dia ingin menyanggah opini Libertus, dia merasa tidak ada gunanya mengucapkan kalimat yang masuk akal bagi temannya yang sedang kalut.

Menggunakan kruk yang dijepit di ketiaknya, Libertus melewati Nyx beberapa langkah. Sebelum dia pergi, dia berpaling sejenak kepada Nyx. "Kembali sana ke Citadel! Bilang pada Raja yang kamu hormati bahwa tidak ada perdamaian yang bisa didapatkan dengan melemparkan kelinci pada serigala yang lapar. Aku tidak bersedia melayani para pembunuh Crowe lagi." Kepalanya kembali tertunduk lesu, dan dia menggeleng dua kali. Lalu dia menatap tajam dan lurus kepada Nyx. "Selamat tinggal, pahlawan."

Untuk beberapa saat, Nyx memandangi Libertus meninggalkan dirinya dengan sedih. Dia berbalik dan melihat Tredd, Axis, dan Sonitus sedang berbisik-bisik di kejauhan. Sepertinya mereka bertiga dari tadi mengamati sambil mencuri dengar percakapan dia dengan Libertus. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa ada sesuatu dengan gerombolan penindas itu yang sangat tidak beres. Dia hanya bisa berprasangka bahwa akan ada keributan parah yang akan terjadi dalam waktu dekat sebagai dampak dari meninggalnya Crowe dan keluarnya Libertus dari Kingsglaive.